Jumat, 16 April 2021

Teladan Iman Polikarpus

 


"Teladan Iman Polikarpus"

(Suatu Tinjauan Historis Teologis terhadap Teladan Iman Polikarpus serta Refleksi bagi Tugas dan Tanggung Jawab Pendeta GBKP)

I.                   Latar Belakang Masalah

Berbicara mengenai iman setiap manusia atau jemaat memiliki yang namanya iman akan tetapi masih banyak juga jemaat yang belum hidup di dalam iman atau masih sering iman tersebut lenyap dalam kehidupan manusia, hal tersebut terjadi karena mereka belum merasakan jawaban dari iman tersebut atau karena banyaknya pergumlan-pergumlan dan pendertiatan-penderitaan yang dihadapi oleh manusia, sehingga dari hal tersebut iman yang ada menjadi rapuh. Dari hal inilah tugas dari seorang pendeta untuk menumbuhkan dan menggerakkan iman tersebut di dalam kehidupan jemaat. Akan tetapi jika kita lihat pendeta masih ada yang belum kuat secara iman atau belum mampu menumbuhkan teladan iman di dalam kehidupan jemaat. Menurut hasil Penelitian Litbang GBKP, tingkat spritualitas anggota jemaat GBKP belum memuaskan sehingga kehadiran jemaat pada persekutuan belum memuaskan. Situasi seperti ini, penyebabnya antara lain; peran para pendeta yang belum seperti yang seharusnya. Oleh karena itu, para presbiter khususnya Pendeta GBKP harus didudukkan kembali ditempat keterpanggilannya sebagai gembala, guru dan pemimpin, sehingga berdampak terhadap aktifitas jemaat di tri tugas gereja. Dari hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa masih banyak yang harus dilakukan oleh gereja untuk mentransformasi mental para presbiter khususnya para Pendeta di GBKP seperti perubahan pola pikir, pola ucap dan pola pelayanan. Dengan adanya  strategik pembinaan para pendeta diharapkan akan berdampak terhadap komitmen warga GBKP yang missioner untuk berpartisipasi dalam pelayanan.[1] Oleh sebab itu saya sebagai penyeminar mengangkat judul tentang teladan iman Polikarpus yang diamana Polikarpus juga ingin hidup bagi Kristus dengan cara hidup rela berkorban yang dilakukan setiap hari sebagai contoh yang baik bagi yang mereka pimpin. Dalam semua cara terbaik, mereka menujukkan apa pun seputar beraksi bagi Kristus itu. Dengan melakukan disiplin yang sama seperti Kristus, mereka menjadi orang-orang saleh dan berdisiplin. Kekuatan kehidupan satu orang untuk memengaruhi seorang yang lain adalah awal dari kemuridan. Seperti yang Yesus katakana, jika seorang murid telah tamat pelajarannya, ia “akan sama dengan gurunya” (Lukas 6:40). Ketiga uskup mula-mula tersebut menetapkan standar bagi yang lainnya, dan Polikarpus pantas diteladani. Sehingga dari iman Polikarpus dapat menjadi refleksi atau menjadi panutan dalam kehidupan pendeta GBKP serta dari contoh iman yang dipercontohkan dari Polikarpus dapat menjadi pelajaran bagi tugas seorang Pendeta dalam meninggatkan teladan iman dan juga meninggkatkan jemaat.  

II.                Pembahasan

2.1.  Pengertian Teladan Iman

Teladan merupakan sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang perbuatan, kelakuan, sifat, dsb).[2] Keteladanan berasal dari kata teladan yaitu hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh. Keteladanan mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan pribadi seseorang. Secara sederhana keteladanan memerlukan penilaian bahwa perilaku tersebut baik sebelum memutuskan untuk melakukan hal yang sama.[3] Dalam Perjanjian Lama kata iman berasal dari kata kerja aman, yang berarti “memegang teguh”. Kata ini dapat muncul dalam bentuk yang bermacam-macam, umpamanya dalam arti “memegang teguh kepada janji” seseorang, karena janji itu dianggap teguh atau kuat, sehingga dapat diamini, dipercaya. Jika ditepkan kepada Tuhan Allah, maka kata iman berarti, bahwa Allah harus dianggap sebagai yang teguh atau yang kuat.

 Orang harus percaya kepadaNya, berarti bahwa ia harus mengamini bahwa Allah adalah teguh atau kuat. Diterapkan kepada pengertian iman di Perjanjian Baru, iman berarti mengamini dengan segenap kepribadian dan cara hidupnya kepada janji Allah, bahwa Ia di dalam Kristus telah mendamaikan orang dosa dengan diriNya sendiri, sehingga segenap hidup orang yang beriman dikuasai oleh keyakinan yang demikian itu. Jadi, iman di pandang sebagai tangan yang diulurkan manusia guna menerima kasih karunia Allah yang besar. Juga dapat dikatakan bahwa iman dipandang sebagai “jalan keselamatan”. Dalam arti yang demikian jugalah kata iman dipakai di dalam ungkapan “orang benar itu akan hidup oleh imannya atau percayanya” (Hab. 2:4; bnd Rm. 1:17; Gal 3:11; Ibr. 10:38).[4] Ibrani 11: 1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Iman adalah jaminan atas segala sesuatu (apa) yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu (apa) yang tidak kelihatan. (Ibrani 11:1).” Jadi menurut penyeminar teladan iman adalah Giat berdoa, beribadah, memuji dan menyembah Dia. berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, mendoakan hal yang baik sehingga memiliki dorongan tersendiri dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang memuliakan Tuhan dan mengasihi sesama manusia. harus menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan seperti Yesus adalah teladan. Selain itu perlu memahami pribadi Yesus sebagai guru yang harus diteladani. Khususnya dalam pelaksanaan tugas pelayanan. Sebagai konsekuensi dari tugas panggilan, kita harus hidup dalam iman. Untuk menjadi yang patut diteladani, baik dalam perkataan terlebih dalam perbuatannya. Semua kata-kata selalu singkron atau selaras, sejalan dengan perbuatanNya. Sebuah teladan lebih berharga daripada seratus kata nasehat. Perbuatan seseorang lebih berpengaruh daripada perkataannya.

2.2.Biografi Polikarpus

Polikarpus dilahirkan sekitar tahun 69. Menurut Irenaeus, Polikarpus adalah murid rasul Yohanes. Irenaeus sendiri adalah murid dari Polikarpus. Polikarpus bekerja sebagai uskup di jemaat Smirna, Asia Kecil pada pertengahan abad kedua. Ia dikenal sebagai seorang yang memiliki iman yang teguh dan hidupnya sangat sederhana. Polikarpus adalah seorang saksi mata dari tradisi pengajaran gereja yang masih berbentuk lisan. Ia mengenal dengan baik Anicetus, Uskup Roma. Polikarpus dikenal juga sebagai seorang uskup yang sangat membela ajaran gereja yang ortodoks serta sangat membenci ajaran-ajaran sesat. Sebagai seorang uskup di Smirna, Asia Kecil, ia berhadapan juga dengan kelompok Marcion.

Marcion disebutnya sebagai anak sulung iblis. Sikap kerasnya terhadap aliran-aliran sesat nampak dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, antara lain berbunyi sebagai berikut, "Barangsiapa tidak mengakui bahwa Kristus telah datang dalam daging, ia adalah antikristus; dan barangsiapa tidak mengakui rahasia salib, ia adalah jahat dan ia yang berpegang kepada firman Tuhan menurut keinginannya sendiri; dan berkata bahwa tidak ada kebangkitan dan penghakiman, ia adalah anak sulung iblis". Ia sendiri melarang jemaatnya untuk memberi salam kepada para penyesat. Pada tahun 154 Polikarpus pergi ke Roma untuk menyelesaikan pertikaian tentang perayaan Paskah dengan jemaat Roma. Polikarpus diterima dengan hormat oleh Anicetus, Uskup Roma. Polikarpus memperoleh persetujuan dari Anicetus bahwa jemaat jemaat di Asia Kecil boleh meneruskan kebiasaan mereka dalam merayakan Paskah pada 14 bulan Nissan. Tidak lama sesudah kembali dari Roma, Polikarpus ditangkap dan digiring ke Roma.

Ia diminta oleh kaisar untuk menyangkal Kristus serta mengutuk Kristus, namun Polikarpus tidak mau. Sampai tiga kali kaisar bertanya kepadanya apakah ia mau mengutuk Kristus agar sang uskup dilepaskan dari hukuman mati. Namun, dengan imannya yang tegas dan teguh kepada Kristus, Polikarpus menjawab kaisar dengan perkataan sebagai berikut, "Aku telah melayani Kristusku 86 tahun lamanya, namun belum pemah sekalipun Ia berbuat jahat kepadaku. Bagaimana aku dapat mengutuk Kristusku, Juru Selamatku?" Kemudian Polikarpus dibakar dan sisa-sisa tubuhnya dibawa orang dan dikuburkan di Smirna. Terdapat banyak dongeng yang diceritakan tentang mati syahidnya Polikarpus. Cerita tentang mati syahidnya ditulis oleh jemaat Smirna atas permintaan jemaat Philomenium di Phyrigia. Kemudian tulisan ini beredar dalam jemaat jemaat di Asia Kecil. Polikarpus mati syahid pada masa pemerintahan kaisar Antonius Pius, tahun 155/156. Namun, ada juga dugaan bahwa ia mati syahid pada masa pemerintahan kaisar Marcus Aurelius, tahun 167.[5]

Polikarpus dari Smirna mati syahid pada sekitar usia 87 tahun, sekitar 155–167 Masehi adalah uskup Gereja di Smirna (sekarang di daerah Izmir di Turki) pada abad ke-2. Ia ditikam dan mati sebagai syahid setelah usaha untuk membakarnya hidup-hidup pada tiang pancang gagal. Polikarpus dikenal sebagai seorang santo oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur. Menurut kisah, Polikarpus adalah murid langsung dari Yohanes. Yohanes yang dimaksud bisa merujuk pada Yohanes anak Zebedeus yang menurut tradisi merupakan penulis Injil Yohanes, atau Yohanes Sang PresbiterEusebius berkeras bahwa koneksi apostolik dari Papius adalah dengan Yohanes Sang Penginjil yang merupakan penulis Injil keempat. Jika demikian, mungkin ialah orang terakhir yang berhubungan dengan gereja para rasul.

Polikarpus tidak mengutip Injil Yohanes dalam suratnya yang masih dapat ditemukan. Hal itu dapat menjadi indikasi bahwa Yohanes yang dikenalnya bukanlah penulis Injil keempat, atau bisa jadi juga merupakan suatu indikasi bahwa Injil Yohanes belum diselesaikan selama Polikarpus berguru kepada Yohanes. Kira-kira 40 tahun sebelumnya, ketika Polikarpus memulai pelayanannya sebagai uskup, seorang bapa gerejaIgnatius, telah menulis surat khusus untuknya. Polikarpus sendiri telah menulis suratnya untuk orang-orang Filipi.  Meskipun surat tersebut tidak begitu cemerlang ataupun merupakan pendapatnya sendiri, namun mengandung unsur-unsur kebenaran yang ia pelajari dari para gurunya. Polikarpus tidak mengulas Perjanjian Lama, seperti orang-orang Kristen yang muncul kemudian, tetapi ia menyitir para rasul dan pemuka gereja lainnya untuk meyakinkan orang-orang Filipi. Kira-kira satu tahun sebelum kemartirannya, Polikarpus berkunjung ke Roma untuk menyelesaikan perbedaan pendapat tentang tanggal Hari Raya Paskah dengan uskup Roma. Ada cerita yang mengisahkan bahwa ia terlibat dalam perdebatan dengan Marcion, yang ia juluki "Anak sulung setan". Ajaran-ajaran para rasul yang ditampilkannya telah membuat beberapa pengikut Marcion bertobat.[6] Polikarpus adalah sahabat dari Papias (Irenaeus 22) yang termasuk "Pendengar Yohanes" yang lain, seperti interpretasi Ireneus dari kesaksian Papias dan sebuah surat Ignatius dari AntiokhiaIgnatius mengirimkan surat kepadanya dan menyebutkan namanya pada surat kepada jemaat Efesus dan Magnesia. Murid Polikarpus yang paling dikenal adalah Ireneus, yang menulis sejumlah kenangan mengenai Polikarpus dan menjadi mata rantai yang menghubungkannya dengan rasul-rasul terdahulu. Ireneus menceritakan bagaimana dan kapan ia menjadi seorang Kristen. Ia menyatakan pada bagian awal suratnya kepada Florinus bahwa ia bertemu dan mendengarkan Polikarpus secara pribadi di Asia Kecil. Pada keterangan-keterangan selanjutnya, ia mencatat hubungan Polikarpus dengan Yohanes Sang Penginjil dan dengan orang-orang lain yang telah bertemu Yesus. Ireneus juga melaporkan bahwa Polikarpus menerima Kristus oleh ajaran para rasul sendiri, ditahbiskan menjadi seorang uskup, dan berkomunikasi dengan banyak orang yang telah bertemu dengan Yesus. Menjelang mati syahidnya Polikarpus, ia memberitahukan sendiri usia ketika ia mati dengan mengucapkan kalimat, "Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Dia", yang kemudian dimengerti bahwa ia telah berusia 86 tahun pada saat itu dan telah dibaptiskan ketika masih bayi.[7] 

2.3. Karya Polikarpus

Seluruh karyanya yang tersisa adalah suratnya kepada jemaat Filipi, yang merupakan kepingan keterangan kepada Perjanjian Baru. Surat itu dan sebuah catatan Polikarpus mengenai mati syahidnya (Martyrdom of Polycarp) ditemukan sebagai surat berantai dari Gereja Smirna kepada Gereja-gereja Pontus. Surat-surat tersebut membentuk kumpulan tulisan-tulisan dari “Bapa Gereja Apostolik” (suatu istilah untuk menegaskan kedekatan mereka dengan para Rasul dalam tradisi Gereja). Mati syahid diyakini sebagai daftar catatan asli para syahid Kristen yang ditulis paling awal, dan juga merupakan salah satu dari sedikit catatan asli dari tahun-tahun penganiayaan Kristen.[8]

Polikarpus mengajarkan tentang menjadi serupa dengan Kristus. Suratnya kepada Gereja di Filipi menyatakan,

“Let us therefore become imitators of His endurance; and if we should suffer for His name’s sake, let us glorify Him. For He gave this example to us in His own person, and we believed this.” (Filipi 8) (Karena itu, marilah kita menjadi penurut dari penderitaan-Nya; dan jika kita harus menderita demi nama-Nya, marilah kita memuliakan Dia. Karena Dia memberikan contoh ini kepada kita di dalam pribadi-Nya, dan kita mempercayai hal ini).

“Stead fast therefore in these things and follow the example of the Lord, being firm in faith and immovable, in love of the brotherhood kindly affectionate one to another.” (Filipi 10) (Karena itu, berdirilah teguh hal-hal ini dan ikuti teladan Tuhan, teguh dalam iman dan tak tergoyahkan, dalam kasih persaudaraan dengan ramah penuh kasih sayang ke yang lain.)

“Therefore grid up your loins and serve God in fear and truth, forsaking the vain and empty talking and the error of many, for that you have believed in Him that raised our Lord Jesus Christ from the dead and gave unto Him glory and a throne on His right hand; unto whom all things were made subject that are in heaven and that are on earth.” (Filipi 2) (Oleh karena itu kencangkan pinggangmu dan layani Allah dalam ketakutan dan kebenaran, tinggalkan perkataan yang sia-sia dan kosong dan kesalahan banyak orang, karena kamu percaya kepada-Nya yang membangkitkan Tuhan kita Yesus Kristus dari kematian dan memberikan kepada-Nya kemuliaan dan tahta di tangan kanan-Nya; Kepada-Nya segala sesuatu baik yang ada di surga dan yang ada di bumi takluk kepada-Nya).[9]

Polikarpus memegang peranan penting dalam sejarah Gereja Kristen. Dia termasuk di antara orang-orang Kristen perdana yang tulisan-tulisannya masih tersisa. Dia adalah uskup dari sebuah Gereja penting di tempat di mana para rasul bekerja. Dan dia hidup pada masa di mana ortodoksi (nilai-nilai tradisi, ajaran, dan kebiasaan turun-temurun) diterima secara luas oleh Gereja-Gereja Ortodoks, Gereja-Gereja Timur, kelompok-kelompok yang masih menjalankan Sabat pada hari ketujuh, dan kelompok-kelompok yang mirip dengan Protestan dan Katolik. Polikarpus bukanlah seorang filsuf atau teolog. Dari catatan-catatan yang tersisa, ia muncul sebagai pemimpin ibadah dan guru yang berbakat. “Seorang dengan kelas yang lebih tinggi, dan saksi kebenaran yang tabah daripada Valentinus, dan Marsion, dan bidat-bidat yang lain”, kata Ireneus yang mengingatnya sejak masa mudanya. Ia hidup pada masa setelah wafat para rasul, ketika bermacam-macam interpretasi ajaran Yesus diajarkan.

Peranannya adalah dengan menegaskan ajaran asli yang didapatkannya dari Rasul Yohanes. Catatan yang tersisa menunjukkan keberanian di wajah Polikarpus tua saat menghadapi kematian dengan dibakar pada tiang pancang menunjukkan betapa bisa dipercayanya perkataan-perkataan Polikarpus. Kematian syahid Polikarpus sangat penting untuk memahami posisi Gereja ketika Kekaisaran Romawi masih menganut agama kafir. Ketika penganiayaan masih didukung oleh jenderal-jenderal konsul lokal, berbagai penulis mencatat betapa haus darahnya orang-orang yang meneriakkan kematian bagi Polikarpus. Catatan-catatan tersebut juga menunjukkan kebencian tak mendasar pemerintah Romawi terhadap kekristenan, ketika orang-orang Kristen diberikan kesempatan untuk tidak dihukum jika mau mengingkari imannya dan mengaku bahwa menjadi seorang Kristen berarti telah melakukan tindakan kriminal. Sistem pengadilan yang ganjil ini di kemudian hari dicemooh oleh Tertullianus (orang yang pertama kali memperkenalkan ajaran Trinitas) dalam buku Pembelaan (Apologi)-nya.

Polikarpus adalah seorang penyebar dan pemurni wahyu Kristen yang hebat pada masa Injil dan surat-surat mulai diterima secara luas. Meskipun kunjungannya ke Roma untuk bertemu uskup Roma digunakan pihak Gereja Katolik Roma untuk memperkuat klaim keutamaan Roma (sistem kepausan), namun sumber-sumber Katolik menyatakan bahwa Polikarpus tidak menerima kuasa dari uskup Roma untuk mengganti hari Paskah (bahkan, Polikarpus dan Anicetus uskup Roma setuju untuk tidak setuju. Keduanya percaya bahwa praktik Paskah mereka sesuai dengan tradisi Rasuli) Penerus spiritual Polikarpus seperti Melito dari Sardis dan Polikrates dari Efesus sependapat dengan hal yang sama.[10]

2.4. Teladan Iman Polikarpus

Setelah berdoa, Polikarpus naik kedalam kereta. Polikarpus diapit oleh Herodes, seorang yang bertugas menjaga keamanan umum, dan Ayahnya bernama Nisetes. Sementara dalam kereta terjadilah

percakapan berikut:

Herodes           : Apa salahnya jika engkau mengatakan bahwa kaisar adalah  Tuhan dan mempersembahkan kurban agar engkau selamat?

Polikarpus      : (diam saja).

Herodes           : Apa salahnya jika engkau mengatakan bahwa kaisar   adalah Tuhan dan mempersembahkan kurban agar engkau selamat? 

Polikarpus      : Aku tidak akan mengikuti nasihatmu

Karena Polikarpus tidak berhasil dibujuk, maka keduannya marah dan membuang Polikarpus dari atas kreta. Namun demikian Polikarpus tidak cedera sedikit pun. Ia berjalan dengan cepat menuju ke satdiuon. Disana telah berkumpul banyak orang dengan wajah yang berlingas. Ketika memasuki stadium, ia mendengarkan suara langit yang mengakatan: “kuatkanlah dirimu, jadilah seorang laki-laki, hai Polikarpus.”

Kemudian Polikarpus dibawa kehadapan Gubernur. Terjadilah dialog berikut anatara gubernur dan Polikarpus:

Gubernur         : Apakah anda Polikarpus?

Polikarpus       : benar sekali, aku adalah Polikarpus

Gubernur         : bersumpahlah demi Kaisar. Bertobatlah atau katakanlah: “lenyaplah bersama dengan ateis”

Polikarpus       : (sambil melambaikan tangannya kepada orang banyak)

Gubernur         : Bersumpahlah dan aku akan melepaskan engkau. Kutuklah Kristus

Polikarpus       : delapan puluh enam tahun lamanya aku telah melayani Kristus,  namuan belum pernah sekalipun Kristus berbuat jahat kepadaku. Bagaimana mungkin aku menghujat Rajaku dan Juruselamatku?

Gebernur         : Bersumpahlah demi Kaisar

Polikarpus       : karena engkau telah sia-sia mendesak aku dan engkau berpura-pura tidak mengetahui siapa dan apa aku, maka sekarang dengarlah baik-baik “Aku adalag seorang Kristen” jikalau engkau ingin belajar tentang ajaran Kristen, tetapkanlah suatu hari, amak aku akan mengajrkannya kepadamu.

Gubernur         : Yakinlah orang banyak itu.

Polikarpus       ; menurut pendapatku kepadamulah yang tepat untuk   menyampaikan tentang imanku. Sebab kami diajarkan untuk menghormati penguasa dan pemerintah yang ditetapkan oleh Allah.

Gubernur         : aku mempunyai binatang buas disini. Engkau akan dilemparkan kepada binatang buas itu jika engkau tidak bertobat.

Polikarpus       : bawalah kemari. Kami tidak biasa bertobat dari kebaikan kepada kejahatan. Bagiku yang benar adalah beralih dari kejahatan kepada kebaikan.

Gubernur         : karena engkau tidak takut kepada binatang buas, maka aku akan melemparkan engkau kedalam api jika engkau tidak bertobat.

Polikarpus       : Engkau mengancam aku dengan api yang hanya membakar sesaat saja, namun kemudian akan mati. Ketahuilah bahwa ada api penghukuman yang akan datang dan api hukuman yang kekal bagi orang fasik. Mengapa engkau menunda-nundanya? Lakukanlah apa yang kau kehendaki.

Gubernur         : (berseru tiga kali kepada orang banyak) polikarpus telah mengaku bahwa ia adalah seorang krisisten.

Orang Banyak             : Dialah guru orang Asia, Bapa orang Kristen. Ia telah membuang dewa-dewa kami. Ia telah mengajarkan kami supaya tidak mempersembahkan korban dan menyembah dewa-dewa. Filipus, lepaskan binatang-binatang buas itu

Filipus             :           (seorang yang bertugas mengatur acara pertunjukan hiburan umum) aku bersalah melakukan hal itu. pertunjukan binatang buas telah selesai.

Orang banyak              : Polikarpus harus dibakar hidup-hidup.

Orang banyak  itu semakin beringas. Mereka sehari mengumpulkan kayu api yang dikumpulkan menjadi api unggun. Pilokarpus diseret. Mereka meluciti jubah, ikat pinggang dan sepatunya. Kemudian mereka membawa paku untuk memakukannya pada batang kayu agar tidak dapat melarikan diri. Kendati demikian Polikarpus mengatakan bahwa ia tidak dapat melarikan diri. Kendati demikian Polikarpus mengatakan bahwa ia tidak akan melarikan diri. Orang banyak itu mencium bau harum kemenyan dari api unggun dan Polikarpus berdoa kepada Allah. Ia bersyukur kepada Tuhan Allah yang telah memperkenankannya mengambil bagian dalam penderitaan Kristus dan memohon agar Allah menerimannya sebagai kurban yang berbau harum dan yang berkenan kepada-Nya. Karena api tidak membakar tubuh Polikarpus, maka orang banyak itu lalu memerintahkan seorang algajolo supaya menombaknya dengan tombak. Maka tubuh Polikarpus bersimbah darah. Kerena banyaknya darah itu, api pun padam. Setelah itu tubuh Polikarpus dibakar. Anggota jemaat di Smirna mengumpulkan tulang-tulang Polikarpus dan simpan disana. Disekitar tulang-tulang itu jemaat merayakan hari kemartiran Polikarpus. Dialah orang yang kedua belas yang mati sebagai martir Smirna. Demikian Polikarpus, uskup jemaat di Smirna yang telah lanjut usia itu, menyerahkan tubuh dan jiwanya karena Kristus Tuhannya.[11]

Surat Polikarpus kepada jemaat di Filipi berisi informasi menarik. Ia mengisi surat yang pendek ini dengan nasihat-nasihat praktis dan banyak petikan dari Rasul Paulus. Polikarpus juga membicarakan hal-hal biasa tentang pencobaan, kesetiaan dalam pernikahan, perhatian kepada janda-janda, bahaya pengajaran sesat, dan pentingnya pembacaan Alkitab dan doa yang terartur. Setelah kematiannya, ia paling diingat atas dorongannya tentang penguasaan diri, doa dan berpuasa sebagai sarana dan cara agar tidak jatuh kedalam pencobaan. Anggota jemaat Polikarpus di Smirna perlu Bersama-sama saling menolong satu sama lain untuk memelihara komitmen mereka kepada Allah. Perlu komunitas untuk memuridkan satu orang, dan para pemimpin mula-mula seperti uskup ini memulai satu tradisi untuk berbicara secara langsung dan tegas tentang pertarungan yang sedang berlangsung antara daging dan Roh. Melalui kehidupan, kematian, dan pelayanan Polikarpus, kita dapat memastikan bahwa kehidupan seorang murid adalah kehidupan dalam disiplin. Acap kali disiplin yang dibutuhkan itu menyentuh kehidupan seseorang yang hanya jika komunitas orang percaya bekerja sama di bawah otoritas para pemimpinnya. Sangat melegakan mengetahui bahwa selama dua ratus tahun taerakhir ini, para pemimpin rohani telah membicarakan isu kemanusiaan yang sama. Rasul Yohanes mungkin telah berbicara dengan ketiga uskup ini.

Kesederhanaan dan kenyataan menjelaskan resep ketiganya bagi gereja dan para murid. Mereka mendorong doa, puasa, memberi, dan keterhubungan. Secara khusus, Ignatius berkata bahwa uskup harus memberikan tuntunan rohani bagi semua dengan menjadi pemimpin ibadah komunikasi di sekitar meja Tuhan. Ketiga orang ini bersedia mati bagi iman mereka, dan Ignatius dan Polikarpus benar-benar melakukannya. Namun, mereka juga ingin hidup bagi Kristus dengan cara hidup rela berkorban yang dilakukan setiap haris sebagai contoh yang baik bagi yang mereka pimpin. Dalam semua cara terbaik, mereka menujukkan apa pun seputar beraksi bagi Kristus itu. Dengan melakukan disiplin yang sama seperti Kristus, mereka menjadi orang-orang saleh dan berdisiplin. Kekuatan kehidupan satu orang untuk memengaruhi seorang yang lain adalah awal dari kemuridan. Seperti yang Yesus katakana, jika seorang mirid telah tamat pelajarannya, ia “akan sama dengan gurunya” (Lukas 6:40). Ketiga uskup mula-mula tersebut menetapkan standar bagi yang lainnya, dan mereka pantas diteladani. 

Pada masa abad pertengahan para Paus mempunyai anak-anak laki-laki yang mereka sebut keponakan dan mereka mempunyai tentara. Banyak yang benar-benar buruk. mereka sama sekali tidak seperti Clement, Ignatius atau Polikarpus, yang memberikan tuntunan rohani kepada umatnya. Mereka lebih merupakan suatu sindikat kejahatan, menggunakan cara-cara yang jahat agar kendali atas kekuasaan dan kekayaan tetap ada pada mereka.[12] Namun, Polikarpus tetap tegak dalam pediriannya bahwa baginya hanya Yesus Kristuslah Tuhan[13]  

2.5. Tugas Pendeta dalam Keteladanan Iman

Pemimpin harus terbuka namun ia juga menjaga wibawa dalam setiap pelayanan yang dilakukan. Menjadi pemimpin tidak perlu takut untuk mengakui kelemahan namun memberikan teladan bagaimana mengatasi kelemahan tersebut. Ia mengarahkan untuk memandang setiap masalah atau pergumulan ke arah kristus dan menguatkan anggota jemaatnya menghadapi masalah tersebut. dan menjadi seorang pemimpin, ia harus mengedepankan keyakinan pada firman Tuhan dan bahwa dalam Yesus Kristus ada jaminan atas penyelesaian masalah, sehingga membuat anggota jemaatnya terbuka dan menyadari bahwa pertolongan ada di dalam.[14]

Memerintah dalam I Petrus 5:3 ini menyatakan sikap yang lazim bagi orang atasan dalam kekuasaan duniawi, dalam Markus 10:42. Di mana kata kerja yang sama dipakai, tetapi pemimpin Kristen, bukannya mempunyai wewenang tanpa batas dan memeras orang-orang yang dipercayakan kepadanya, melainkan wajib menjadi teladan kepada mereka, segala sesuatu yang dapat dilayankan dalam bidang pengajaran, pembinaan rohani. “Mereka yang telah dipercayakan kepadamu” (Yunani Kleroi) berarti “bagimu yang telah ditentukan”.[15] Rasul Petrus memberikan nasihat kepada para pelayan untuk menjadi teladan. “Janganlah kamu berbuat seolah-olah mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepada kamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu” (I Petrus 5:3).

Keteladanan merupakan suatu sikap yang sangat penting bagi kehidupan pendeta sebagai pemimpin, karena lewat keteladanan hidup seorang pendeta, menjadi salah satu faktor dalam pertumbuhan bagi iman jemaat, dalam hal ini pendeta merupakan figur pemimpin yang mencerminkan keteladanan Allah kepada umat-Nya. Penekanan yang terkandung dalam kata ini adalah pemimpin jemaat haruslah berusaha untuk layak dicontohi bagi semua orang, secara khusus kepada orang yang dipimpinnya. Pendeta sebagai pemimpin tidak dapat dipisahkan dari sikap keteladannya sebagai warna yang indah bagi jemaat dan bagi semua orang, baik dalam hal perkataan, tingkah laku, maupun dalam kasih, kesetiaan, dan kesucian. Berkaitan dengan hal di atas, seorang gembala harus memiliki perkataan yang jujur, berpegang kepada Firman Allah, dan harus dikendalihkan oleh Roh Kudus dan Firman Allah.

Konsep Perjanjian Baru mengenai kepemimpinan, menuntut para penatua agar memandang diri sebagai hamba bagi yang lain…hendaklah menjadi teladan (I Petrus 5:3).[16] Peter Wongso mengatakan, “Di dalam jemaat, pendeta memang seorang pemimpin, sikap dan perbuatan sering kali diteladani oleh jemaat mereka Oleh sebab itu, para pemimpin harus memelihara sikap dan perbuatan jemaatnya dengan sebaik-baiknya, yang terpenting adalah pemimpin harus mampu memberi teladan bagi orang lain.[17] Allah sendiri menghendaki orang yang dipakai-Nya harus menjadi teladan, Allah ingin agar seorang pemimpin jemaat dapat menunjukkan sikap yang baik bagi jemaat sebagai mana Allah lebih dahulu menjadi teladan bagi umat-Nya. Jadi, keteladanan dapat dicapai bilamana pendeta sebagai pemimpin dapat melakukan kelima faktor yang dikatakan dalam (I Timotius 4:12) yaitu dalam perkataan, tingkalaku, kasih, kesetiaan, dan kesucian.

 Karena itu, seorang pendeta haruslah memiliki sifat yang dapat diteladani seperti tersebut di atas. Peranan seorang pendeta sebagai pemimpin dituntut tampil sebagai teladan bagi jemaat, seperti Rasul Petrus menyampaikan nasihatnya kepada para pelayan “janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Tetapi biarlah orang itu menyadari bahwa kedudukannya sebagai seorang pemimpin meliputi kewajiban untuk lebih matang, lebih rohani, lebih setia, lebih bertekun di dalam doa, dan lebih saleh daripada anggotanya. Biarlah setiap pelayan memperhatikan bahwa dia harus menjadi teladan yang baik bagi kawanan dombanya dalam semua hal.[18] Jika seorang pendeta menjadi teladan dalam segala sesuatu yang diperbuatnya kemungkinan besar akibatnya ialah jemaatnya akan menjadi seperti dirinya karena secara normal apa pun yang Anda jumpai dalam jemaat berasal dari mimbar”.[19]

Dari uraian di atas jelas bahwa tanggung jawab dan peranan seorang pendeta sebagai pemimpin dituntut adanya sikap teladan dalam seluruh aspek kehidupannya. Keteladan yang dituntut dari seorang gembal sebagai pemimpin dari sisi kehidupan, Yakob Tomatala mengatakan: Pertama, teladan hidup rohani. Pemimpin Kristen adalah pemimpin rohani yang harus membuktikan kualitas hidup. Ia harus memilki integritas rohani yang dalam dan kuat dan mewujudkan dengan setia dalam ketaatan kepada Allah dan Firman-Nya. Kedua, teladan hubungan dengan orang lain, hal ini diwujudkan secara konsisten memperhatikan orang, mempersatukan orang, membangkitkan semangat, berkomunikasi dengan baik. Ketiga, teladan kerja, pemimpin yang memiliki kecakapan tahu bagaimana memimpin, berpikir positif, sinargetis dan proaktif. Keempat, teladan dalam bersikap tegas, pemimpin yang bersikap tegas akan terbukti rajin atau giat, efektif dan efisiensi serta berorientasi kepada sasaran kerja. Pemimpin Kristen adalah pemimpin yang pragmatis serta produktif yang menghasilkan dalam kepemimpinannya.[20]

Berdasrkan pernyataan di atas, maka peranan pendeta sebagai pemimpin merupakan pola hidup dan teladan yang perlu diperhatikan, diharapkan bahkan diri lebih dominan mempengaruhi serta mengubah pola pikir dan kehidupan orang lain, sehingga realitas kehidupan orang yang digembalakannya adalah cerminan dari hidup yang menggembalakannya. Keteladan hidup seorang pendeta melibatkan juga seluruh anggota keluarganya terutama istri dan anak-anaknya. pendeta sebagai pemimpin harus menjadi teladan kepada jemaatnya dalam hal kekudusan. Ini berarti pendeta sebagai pemimpin harus menghindari hal-hal yang dapat merusak citra diri sebagai pendeta yang dipercayakan oleh Allah kepadanya. Karena apabila pendeta tidak menjadi contoh dalam hal kekudusan itu, maka setiap anggota yang dipimpinnya tidak akan mengindahkan dan mendengar apa yang disampaikan itu. “Jadilah teladan dalam perkataan, dalam tingkah laku, dalam kasih, dalam kesetiaan, dan dalam kekudusan (I Timotius 4:12)”. pendeta sebagai pemimpin dalam jemaat harus memiliki tekad untuk menjadi teladan hidup kudus dan mentaati Allah.[21]

pendeta sebagai pemimpin jemaat harus menjadi teladan dalam hal penguasaan diri. Sebab tanpa penguasaan diri, maka ia akan sangat mudah terjerumus dalam jurang yang dapat menjatuhkan dia sebagai pemimpin dan tidak dapat memotivasi bagi jemaatnya. Jadi, penguasaan diri merupakan suatu kekuatan dalam yang dapat memampukan secara sempurna untuk menghindari segala nafsu duniawi agar tetap berjalan sesuai dengan rencana Tuhan. Oleh sebab itu, pendeta sebagai pemimpin harus mampu untuk menguasai dirinya supaya ia dapat menjadi teladan bagi anggota jemaat yang dipimpinnya. Teladan Dalam Keluarga Betapa pentingnya keluarga pendeta sebagai pemimpin untuk menjadi teladan dalam jemaat, jika ada di antara mereka (Suami) yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya, jika mereka melihat bagaimana kemurnian dan salehnya hidup istri mereka itu (I Petrus 3:1-2).

 Kenyataannya bahwa ada pendeta yang mampu memenangkan banyak jiwa, berkhotbah dengan berapi-api dan bahkan dapat mengembangkan gereja dengan baik, tetapi di dalam keluarganya (rumah tangganya) tidak ada keharmonisan. Anak-anak hidup jauh dari Tuhan, istri kurang menghargai suami dan suami kurang memperhatikan istri dan anak.[22]gembala harus menjadikan rumah tangganya sebagai contoh bagi anggota jemaatnya. pendeta menghadapi bermacam-macam tuntutan untuk dapat menjadi teladan bagi jemaat, harus ikut serta dalam panggilan melayani Tuhan, menjadi teman sekerja yang dewasa, aktif dalam kegiatan gereja, memperhatikan anggota jemaat dan keadaan gereja, mendoakan suami, membantu menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan pasangan dalam pelayannya. menghibur pasangan, memberi semangat.

Anak-anak yang tahu menghormati Tuhan dan orang tuanya dapat menjadi teladan kepada anggota jemaat yang merupakan faktor penunjang bagi gembala. Tetapi apabila anak-anaknya tidak menghormati Tuhan akan mendatangkan kritikan dari anggota jemaat dan bukan untuk menjadi teladan, tetapi menjadi batu sandungan bagi anggota jemaat dan orang-orang yang di sekitarnya.[23] Oleh sebab itu, seorang pendeta harus mampu untuk membina keluarganya terlebih dahulu, sehingga melalui keluarganya dapat menjadi teladan bagi jemaat dan masyarakat yang ada di sekitar di mana ia tinggal.

2.6.Refleksinya Bagi Tugas Pendeta GBKP

 Polikarpus dalam hidupnya adalah merupakan salah satu yang patut kita teladani imannya. Dan dia adaalah orang yang rendah hati. Dalam Roma 4 dijelaskan fakta bahwa menasihati dan mengajari orang jauh lebih mudah dibandingkan dengan menjadi teladan. Ketika kita menasihati orang lain, kita hanya membagikan nilai-nilai kebenaran melalui perkataan saja, sedangkan bila kita hendak menjadi teladan, kita secara langsung menjadi sang pelaku. Hal yang sama berlaku juga dalam kehidupan rohani. Lebih mudah mendorong orang lain untuk menjalankan disiplin rohani dibandingkan dengan memberi contoh bahwa kita sedang menjalankan apa yang kita katakan. Lalu dijelaskan mengenai Abraham dan Daud merupakan model bagi iman kita. Rasul Paulus memberikan beberapa argumen untuk menjelaskan bahwa Abraham dan Daud patut untuk diteladani. Pertama, teladan iman Abraham. Abraham adalah bapa leluhur orang Yahudi yang sangat dihormati (4:1). Ia dibenarkan oleh Allah karena imannya, bukan karena perbuatannya (4:2-5, bandingkan dengan Kejadian 15:6). Pembenaran itu diberikan sebelum ia disunat (4:9-10). Responsnya terhadap janji Allah tentang banyaknya keturunan yang berasal dari dirinya, ditanggapi dengan beriman sepenuhnya kepada Allah. Ia percaya terhadap janji bahwa Allah akan mewujudkan janji-Nya untuk memberikan keturunan, sekalipun mereka berdua Abraham dan Sara telah lanjut usia, dan Sara mandul (4:20-22). Kedua, teladan iman Daud. Sebagaimana Abraham, Daud pun dibenarkan karena imannya, bukan karena perbuatannya. Daud menyebut orang yang dibenarkan oleh Allah bukan berdasarkan perbuatannya sebagai orang yang berbahagia.

Kedua tokoh Alkitab di atas telah mewariskan teladan bagi hidup bagi kita, yang mengajarkan bahwa kita bisa memperoleh pembenaran berdasarkan kasih karunia Allah, bukan dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Walaupun memiliki kepercayaan diri itu tidak salah, kita harus menyadari bahwa kepercayaan terhadap diri sendiri bukanlah jaminan bahwa segala sesuatu yang kita inginkan pasti akan terwujud. Tempatkanlah iman Anda pada Allah yang berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan, bukan pada kekuatan diri atau kepercayaan terhadap diri sendiri. Pendeta harus memberi diri penuh kepada Tuhan melalui pelayanannya. Pelayan seharusnya memiliki keteladanan iman.  Yesus menjadi teladan bagi Pelayan Tuhan sehingga pelayan Tuhan juga haruslah memaknai dirinya dalam mengikut Tuhan. Makna panggilannya menjadi pelayan Tuhan bukan sekedar ucapan semata. Dengan memberikan diri sepenuhnya kepada pelayanan dan dapat merasakan keresahan jemaat dan terbeban atas pergumulan jemaat. Sikap kerendahan hati, ramah serta merangkul adalah hal yang sangat diharapkan jemaat.

III.             Analisa Penyeminar

Analisa yang dapat penyeminar ambil dari bahan bahwa sebagai seorang seorang pelayan Tuhan teladan iman itu sangat penting terutama bagi Pendeta karena itu merupakan gaya hidup setiap orang Kristen. Ketika pendeta memiliki keteladanan dalam iman maka jelas dalam lapangan dia akan mengutamakan kepentingan jemaat (gereja) dari pada kepentingan sendiri, setia dan rela berkorban. Polikarpus mengajarkan tentang menjadi serupa dengan Kristus. Suratnya kepada Gereja di Filipi menyatakan, Karena itu, marilah kita menjadi penurut dari penderitaan-Nya; dan jika kita harus menderita demi nama-Nya, Karena itu, berdirilah teguh hal-hal ini dan ikuti teladan Tuhan, teguh dalam iman. Dalam hal ini dapat kita ketahui bahwa kerendahan hati dan rela berkorban melebihi kemampuan dalam berkata-kata didepan jemaat.  Yesus telah memberikan teladan yang terbuka kepada semua umat, sehingga pendeta juga harus menerapkan hidup meneladani iman untuk memenuhi pelayanannya. Sehingga penyeminar menganalisa bahwa ditengah krisis pelayanan ini maka perlu adanya disiplin rohani seorang pelayan. Mengikuti teladan Kristus dengan menerapkan firman Tuhan, melakukan pendekatan doa pribadi, memernungkan firman Tuhan, memaknai panggilannya sebagai pendeta, ikut merasakan kegelisahan jemaat. Tetaplah menjadi Hamba yang setia dalam melayani Kristus (Markus 10:44-45).

IV.             Kesimpulan

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Polikarpus adalah uskup dari sebuah Gereja penting di tempat di mana para rasul bekerja. Polikarpus adalah murid rasul Yohanes. Irenaeus sendiri adalah murid dari Polikarpus. Polikarpus bekerja sebagai uskup di jemaat Smirna, Asia Kecil pada pertengahan abad kedua. Ia dikenal sebagai seorang yang memiliki iman yang teguh, teladan dalam iman dan hidupnya sangat sederhana. Polikarpus adalah seorang saksi mata dari tradisi pengajaran gereja yang masih berbentuk lisan. Ia mengenal dengan baik Anicetus, Uskup Roma. Polikarpus dikenal juga sebagai seorang uskup yang sangat membela ajaran gereja yang ortodoks serta sangat membenci ajaran-ajaran sesat. Sebagai seorang uskup di Smirna, Asia Kecil, ia berhadapan juga dengan kelompok Marcion. Marcion disebutnya sebagai anak sulung iblis. Sikap kerasnya terhadap aliran-aliran sesat nampak dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, antara lain berbunyi sebagai berikut, "Barangsiapa tidak mengakui bahwa Kristus telah datang dalam daging, ia adalah antikristus; dan barangsiapa tidak mengakui rahasia salib, ia adalah jahat dan ia yang berpegang kepada firman Tuhan menurut keinginannya sendiri; dan berkata bahwa tidak ada kebangkitan dan penghakiman, ia adalah anak sulung iblis". Polikarpus juga membicarakan pentingnya pembacaan Alkitab dan doa yang terartur orang yang bertanggung jawab atas tugas dan pelayan sebagai anak Tuhan. Oleh karena itu perlu adanya teladan untuk mengikuti jejak Kristus. Pelayan Tuhan perlu menerapkan Firman Tuhan dengan doa maupun keteladanan dalam. Sehingga kehadiran pelayan memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi jemaat.

V.                Daftar Pustaka

Sumber Buku

….KBBI

Barclay William, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Wahyu Kepada Yohanes Pasal 1-5 Jakarta: BPK-GM, 2001

 Curtis A. Kenneth, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel, Jakarta: GM, 1999

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1995

Douglas J.D, dkk Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius-Wahyu Jakarta: Yayasan Komunikasih Bina Kasih-OMF, 2003

End Thomas Van Den, Harta dalam Bejana, Sejarah Gereja Ringkas, Jakarta-GM, 2015

Fajar T Haryono and Daniel Panuntun, Andil pemuridan kontekstual Yesus kepada Petrus Yakobus dan Yohanes terhadap keterbukaan konseling mahasiswa pada masa kini. Gamaliel: Teologo dan Praktika 1, 2019.

Hadiwijono Harun, Iman Krsisten, Jakarta: Gunung Mulia, 2014

Hull Bill, Panduan Lengkap Pemuridan Menjadi dan Menjadikan Murid Yesus, Yogyakarta: Yayasan Gloraia, 2001

Narramore Clyde M., Liku-Liku Problem Rumah Tangga Bandung: Kalam hidup

Price Frederic K. C, Saran Saran Praktis untuk Pelayananyang berhasil Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil Immanuel, 1997

Riggs Ralp M. Gembala Sidang Yang Berhasil Malang: Yayasan penerbit Gandum mas,1996

Serin Weinata, Menghidupi Angin Perubahan: Percikan Permenungan Merefleksikan Kehidupan, Jakarta-BPK-GM, 2006

Tissen Henry C. Teologi Sistematika Malang: Gandum Mas,1995

Tomatala Yakob, Kepemimpinan yang Dinamis Jakarta: YT. Leadership Foundation,1997

W.Liegh Ronald, Melanyani Dengan Efektif  Jakarta: BPK - Gunung Mulia, n.d

Wellem F. D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: Gunung Mulia, 2011

Wellem F.D., Hidupku Bagi Kristus, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2003

Wongso Peter, Theologia Penggembalaan Malang: SAAT, 1983

 

Sumber Internet

https://hendisttrii.wordpress.com/2018/07/01/bapa-gereja-polikarpus-dan-teladannya/

 

Sumber wawancara

 Wawancara dengan Pdt Teti Br Sinulingga pada tanggal 10 November 2020, Pukul 11.00 WIB



[1]  Wawancara dengan Pdt Teti Br Sinulingga pada tanggal 10 November 2020, Pukul 11.00 WIB

 

[2] …..KBBI

[3] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), 129

 [4] Harun Hadiwijono, Iman Krsisten, (Jakarta: Gunung Mulia, 2014), 17-18

[5] F. D. Wellem, M. Th, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: Gunung Mulia, 2011), 160-161

[6]  A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel, (Jakarta: GM, 1999), 7-8

[7] Thomas Van Den End, Harta dalam Bejana, Sejarah Gereja Ringkas, (Jakarta-GM, 2015), 66-67

[8]  A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1999), 9

[10]  Weinata Serin, Menghidupi Angin Perubahan: Percikan Permenungan Merefleksikan Kehidupan, (Jakarta-BPK-GM, 2006), 234-237

[11] F.D. Wellem, Hidupku Bagi Kristus, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2003), 81-85

[12] Bill Hull, Panduan Lengkap Pemuridan Menjadi dan Menjadikan Murid Yesus,(Yogyakarta: Yayasan Gloraia, 2001),  64-65

[13] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Wahyu Kepada Yohanes Pasal 1-5 (Jakarta: BPK-GM, 2001), 113

[14] T Haryono and Daniel Fajar Panuntun, Andil pemuridan kontekstual Yesus kepada Petrus Yakobus dan Yohanes terhadap keterbukaan konseling mahasiswa pada masa kini. (Gamaliel: Teologo dan Praktika 1, 2019), 23.

[15]  J.D. Douglas, dkk, Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius-Wahyu (Jakarta: Yayasan Komunikasih Bina Kasih-OMF, 2003), 833

[16]  Ronald W.Liegh, Melanyani Dengan Efektif (Jakarta: BPK - Gunung Mulia, n.d), 222

[17]  Peter Wongso, Theologia Penggembalaan (Malang: SAAT, 1983), 18

[18] Ralp M. Riggs Gembala Sidang Yang Berhasil (Malang: Yayasan penerbit Gandum mas,1996), 67 

[19] Frederic K. C Price, Saran Saran Praktis untuk Pelayananyang berhasil (Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil Immanuel, 1997), 36 

[20] Yakob Tomatala, Kepemimpinan yang Dinamis (Jakarta: YT. Leadership Foundation,1997), 56 

[21] Henry C Tissen. Teologi Sistematika (Malang: Gandum Mas,1995), 327

[22] Clyde M. Narramore, Liku-Liku Problem Rumah Tangga (Bandung: Kalam hidup),13

[23] Ralph M. Riggs, Gembala Sidang Yang Berhasil (Malang: Gandum Mas,1996), 38 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar