Hamba Tuhan yang Berintegritas dan Spritualitas
(Tinjauan Biblika, Sistematika, Historika, Praktika, ilmu Agama- agama diperhadakan dengan krisis moral para hamba Tuhan masa kini)
I. Latar Belakang
Kehidupan rohani Hamba Tuhan tidak terjadi dari usaha manusia, tetapi dimulai dari panggilan Allah terhadap dirinya kemudian dilanjutkan dengan respon orang tersebut terhadap panggilan Tuhan dan dinyatakan dalam tindakan untuk bertobat. Manusia rohani yang sesungguhnya adalah dilahirkan dalam Roh, sehingga manusia lama kita, yaitu manusia kedagingan, mati dan dikubur untuk kemudian bersama-sama dengan Kristus dibangkitkan menjadi manusia baru di dalam Kristus. Hidup rohani seorang hamba Tuhan adalah proses pengudusan yang dilakukan oleh Allah dengan usaha manusia secara terus menerus di dalam ketaatan kepada perintah Tuhan. Integritas merupakan suatu hal penting yang harus dimiliki oleh seorang hamba Tuhan. Karena seorang hamba Tuhan dalam melakukan tugasnya dia bertanggung jawab terhadap Tuhan yang telah mempercayakan pelayanan tersebut. Ketika seorang hamba Tuhan melakukan pelayanan tetapi tidak disertai dengan integritas dalam dirinya maka pelayanan yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan organisasi di dunia. Spritualitas merupakan suatu kebangunan rohani yang dimana telah mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan. Menurut Heuken menuliskan bahwa “Spiritual dapat disebut cara mengamalkan seluruh kehidupan sebagai seorang beriman yang berusaha merancang dan menjalankan hidup ini semata-mata seperti Tuhan menghendakinya.”[1] Sehingga dalam hal ini bahwa Integritas dan spritualitas hamba Tuhan haruslah saling seimbang dan tetap kokoh dalam setiap pelayanan kehidupan nya.
II. Pembahasan
1.1. Pengertian Hamba Tuhan
Hamba Tuhan adalah pemimpin rohani. Pemimpin rohani berarti pemimpin yang mengenal Allah secara pribadi dalam Kristus dan memimpin secara kristiani. Pemimpin rohani adalah pribadi yang memiliki perpaduan antara sifat-sifat alamiah dan sifat-sifat spiritualitas Kristen. Sifat-sifat alamiahnya mencapai efektivitas yang benar dan tertinggi karena dipakai untuk melayani dan memuliakan Allah. Sedangkan sifat-sifat spiritualitas kristianinya menyebabkan ia sanggup mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya untuk menaati dan memuliakan Allah. Sebab daya pengaruhnya bukan dari kepribadian dan ketrampilan dirinya sendiri, tetapi dari kepribadian yang diperbaharui Roh Kudus dan karunia yang dianugerahkan Roh Kudus.[2] sebagai seorang hamba Tuhan juga mengawasi berbagai aktivitas orang lain yang juga melakukan sebagian fungsi pastoral, terkadang sebagian anggota yang diawasinya telah terlatih secara profesional dalam bidang keahliannya, tetapi sebagian lainnya secara sukarela tanpa pernah menerima pelatihan. Bila pelatihan sebelumnya masih minim, maka hamba Tuhan sebagai pengawas yang harus memberikan instruksi selain bertindak sebagai konsultan dan membantu mereka merencanakan kegiatan, mengamati serta mengawasi kinerja mereka.
Dalam menjalankan peran sebagai pemimpin rohani ketika bekerja sama dengan orang-orang lain dalam pelayanan. Hamba Tuhan menjadi pembimbing dan pelatih bagi orang-orang yang membantunya termasuk pada sukarelawan. Tentu saja, fungsi pengawasan pastoral ini merupakan kombinasi antara kepemimpinan rohani dan manejerial. Kesatuan antara satu dengan yang lainnya tergantung pada minat serta kemampuan hamba Tuhan maupun kemampuan orang-orang yang bekerja sama dengannya. [3]
Sikap sebagai seorang hamba. Sebagaian orang kesulitan menghubungkan kepemimpinan dengan sikap sebagai seorang hamba, tetapi hal itu menjadi lebih muda ketika seseorang mempelajari teladan Tuhan dalam Yohanes 13 dan pengajaran-Nya dalam Matius 20:28. Melihat pelayanan dan teladan tersebut bahwa yang paling Dia pentungkan adalah kebutuhan-kebutuhan mereka yang dilayani-Nya, dan komitmen total-Nya adalah kesejahteraan mereka. Dan seorang hamba Tuhan takkan pernah melakukan hal itu dengan kekuatannya sendiri, tetapi ketika hamba Tuhan tersebut menerima salib Kristus sebagai prinsip, hal itu menjadi kunci bagi gaya hidup mereka. Hamba Tuhan bukan untuk mencari keuntungan materi maupun non-materi, melainkan untuk pelayanan yang menempatkan posisinya di bawah kontrol Kristus dan bukan menjadi orang nomor satu dalam gereja, sebab Kristus adalah Kepala Gereja. Ia memimpin namun juga dipimpin oleh Pemimpin Agung, yang berdasarkan karakter yang baik dan teruji. Otentisitas hamba Tuhan bergantung pada ketaatannya terhadap Kristus dan meneladani Kristus, dengan otentisitas tersebut maka hamba Tuhan memiliki legitimasi dan otoritas untuk memimpin.[4]Berbicara mengenai karakteristik hamba Tuhan merupakan pokok penting dalam pelayanan. Salah satu karakternya ialah memiliki teladan atau menjadi model yang merupakan cara paling ampuh untk memerangi sesama. Hamba Tuhan dengan kapasitas untuk meniru, dan teladan merupakan salah satu bentuk pengajaran yang paling sederhana. Para hamba Tuhan akan menemukan dirinya lebih diterima jika mereka dapat menunjukkan bahwa mereka menguasai prinsip-prinsip rohani dan dapat menerapkannya secara efektif terhadap kehidupan serta situasi. Dan seorang hamba Tuhan juga perlu menerima tanggung jawab atas pelatihan lebih lanjut bagi mereka yang menjadi tanggung jawabnya.
Ketika seorang hamba Tuhan tidak mempunyai karunia dan tidak mengunjungi para anggota tim, mereka yang berada di bawa merasa ditelantarkan dan mungkin mengembangkan sikap yang negatif, mengeritik, dan mungkin menuntut kepada konflik. Penyebab sesungguhnya mungkin saja komunikasi yang kurang, hal itu bisa terjadi ketika seorang pemimpin tidak mempunyai keterampilan sehingga menuntun kepada beban kerja yang tidak merata, moral yang rendah dan sebagainya.[5] Pentingnya pelayanan seorang hamba Tuhan adalah menjadi dokter rohani dan merupakan pembimbing yang dalam pelayanannya harus mengetahui kebutuhan anggota jemaatnnya, sehingga hal-hal buruk yang sering terjadi dapat dihindari dan dapat terselesaikan. Seorang hamba Tuhan juga harus memiliki prinsip dalam pelayanan yakni, menghargai dan menghormati setiap orang yang datang kepadanya, memiliki iman yang teguh, senantiasa bersimpati dan memiliki pengertian bagi semua orang, serta dengan segenap hati menganalisis secara objektif dari setiap keluhan dari warga jemaat.[6]
1.2. Pengertian Integritas
Kata integritas atau integrity dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin yaitu integer. Sehubungan dengan kata integrity, maka Thatcher menulis dalam bukunya, “integrity from F integritas from L integer, entire). Behavior in accordance with a stricht code of values, moral, artistic, etc; honesty, entirety, the quality of wholeness; something without mark or stain; soundness.”[7] Jadi kata integritas dari bahasa Latin mencakup beberapa aspek yaitu lahiriah, moral, etika, dan karakter yang mulia.Sedangkan kata integritas menurut bahasa Inggris memiliki pengertian berarti menyeluruh, lengkap atau segalanya. Sedangkan menurut kamus Oxford menghubungkan arti integritas dihubungkan dengan kepribadian seseorang yaitu jujur dan utuh.[8] Yosafat B mengutip pendapat K. Prent dalam Kamus Latin – Indonesia, menuliskan demikian, kata integritas (dalam bahasa Indonesia) berasal dari kata integer (bahasa Latin). Kata integer dapat diartikan dalam beberapa pengertian yaitu Selanjutnya Yosafat menuliskan bahwa intergitas memberikan gambaran tentang kualitas diri seseorang yang mencakup berbagai aspek kehidupan seorang manusia yaitu, memiliki pikiran yang utuh, (cerdas, dalam dan luas), emosi yang stabil, kemauan yang teguh, tidak mudah menyerah, mampu berbagi hidup dengan orang lain, menaati peraturan yang ada, berfokus pada nilai-nilai luhur agama dan kemanusiaan.[9] Jadi, integritas berarti memiliki cakupan meliputi beberapa aspek kehidupan manusia yang menyeluruh meliputi moral, etika dan karakter yang mulia.[10] Selanjutnya Peter Salim dalam bukunya mendefenisikan kata integritas dalam dua pengertian yaitu: 1. Jujur dan dapat dipercaya, kejujuran, integritas... 2) kesatuan, keutuhan.[11]
1.3. Pengertian Spritualitas
Spiritual berasal dari kata spirit yang berarti “semangat, jiwa, roh, sukma, mental, batin, rohani dan keagamaan”.[12] Sedangkan Anshari dalam kamus psikologi mengatakan bahwa spiritual adalah asumsi mengenai nilai-nilai transcendental[13] . Dengan begini maka, dapat di paparkan bahwa makna dari spiritualitas ialah merupakan sebagai pengalaman manusia secara umum dari suatu pengertian akan makna, tujuan dan moralitas. Spiritualitas atau jiwa sebagaimana yang telah digambarkan oleh para tokoh-tokoh dan suatu alam yang tak terukur besarnya, ia adalah keseluruhan alam semesta, karena ia adalah salinan dari-Nya segala hal yang ada di dalam alam semesta terjumpai di dalam jiwa, hal yang sama segala apa yang terdapat di dalam jiwa ada di alam semesta, oleh sebab inilah, maka ia yang telah menguasai alam semesta, sebagaimana juga ia yang telah diperintah oleh jiwanya pasti diperintah oleh seluruh alam semesta. ‘Jiwa’ adalah ‘ruh’ setelah bersatu dengan jasad penyatuan ruh dengan jasad melahirkan pengaruh yang ditimbulkan oleh jasad terhadap ruh. Sebab dari pengaruh-pengaruh ini muncullah kebutuhan-kebutuhan jasad yang dibangun oleh ruh. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa jiwa merupakan subjek dari kegiatan “spiritual”. Penyatuan dari jiwa dan ruh itulah untuk mencapai kebutuhan akan Tuhan. Dalam rangka untuk mencerminkan sifat-sifat Tuhan dibutuhkan standarisasi pengosongan jiwa, sehingga eksistensi jiwa dapat memberikan keseimbangan dalam menyatu dengan ruh[14]. Ruh merupakan jagat spiritualitas yang memiliki dimensi yang terkesan Maha Luas, tak tersentuh (untouchable), jauh di luar sana (beyond). Disanalah ia menjadi wadah atau bungkus bagi sesuatu yang bersifat rahasia. Dalam bahasa sufisme ia adalah sesuatu yang bersifat esoterisme (bathiniah) atau spiritual. Dalam esoterisme mengalir spiritualitas agama-agama. Dengan melihat sisi esoterisme ajaran agama atau ajaran agama kerohanian, maka manusia akan dibawa kepada apa yang merupakan hakikat dari panggilan manusia. Dari sanalah jalan hidup orang-orang beriman pada umumnya ditujukan untuk mendapatkan kebahagiaan setelah kematian, suatu keadaan yang dapat dicapai melalui cara tidak langsung dan keikutsertaan simbolis dalam kebenaran Tuhan, dengan melaksanakan perbuatan-perbuatan yang telah ditentukan.[15]
1.4. Arti dan Makna Integritas ditinjau dari Biblika
1.4.1. Integritas Dalam Perjanjian Lama
Perjanjian Lama menggunakan kata תם (tôm) untuk merujuk kepada istilah integritas. Kata תם (ּtôm) memiliki pengertian: completeness; figuratively prosperity; usually (morally) innocence: - full, integrity, perfect (- ion), simplicity, upright (-ly, -ness), at a venture.[16] 15 Jadi, kata Ibrani “tom” mengandung arti “sempurna, kehidupan yang tidak dapat dipersalahkan, hati nurani yang bersih, dan kemurnian.” Tokoh-tokoh dalam Perjanjian Lama yang mempunyai integritas dalam dirinya, biasanya dihubungkan dengan kehidupan yang bergaul karib atau intim dengan TUHAN (Yahwe). Alkitab memberikan gambaran tentang orang yang memiliki integritas adalah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak berjalan dijalan orang berdosa, tidak bergaul dan bersekutu dengan pencemooh (Mzm. 1: 1-2). Sebaliknya adalah merupakan orang yang takut akan Tuhan (Ams. 1:7). Selain orang yang takut akan Allah, orang yang memiliki integritas adalah orang-orang yang menyukai dan merenungkan Firman Tuhan secara terus menerus, berjalan di jalan yang benar dan menjauhkan diri dari kejahatan (Mzm. 1:2,6). Searah dengan hal ini, Bromiley menuliskan bahwa: Makna dasar dari kata integritas dalam Perjanjian Lama adalah “kesehatan karakter dan kepatuhan terhadap prinsip moral.” Mereka adalah orang yang memiliki ketulusan dan kejujuran (Kej. 20:5). Dalam kitab Amsal, integritas dipandang sebagai karakteristik yang penting dari kehidupan yang tulus. Tuhan akan melindungi orang-orang yang berjalan dalam integritas (Ams. 2:7), dan keamanan mereka terjamin (2:21; 10:9; 20:7; 28:18). Mereka yang beritegritas akan dituntun (Ams. 11:3), dan memiliki integritas lebih baik daripada kekayaan (Ams. 19:1; 28:6). Dari penggambaran di atas dapat disimpulkan bahwa integritas dalam Perjanjian Lama, merupakan cermin karakter seseorang. Karakter yang baik terbentuk dari dan akibat pergaulan seseorang dengan Tuhan, yang mengakibatkan sifat-sifat moral Allah dimiliki orang tersebut. Implikasi etisnya adalah ia berusaha hidup benar dalam relasi dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan tempat ia hidup. Berdasarkan pemaran di atas maka, integritas dalam Perjanjian Lama memiliki pengertian bahwa seseorang yang dalam dirinya tidak dijumpai kesalahan karena orang tersebut memiliki kesempurnaan dalam keseluruhan hidupnya. Ayub merupakan salah satu tokoh dalam Perjanjian Lama yang memiliki hal tersebut. Ayub 2 : 3 dan 9 menggunakan kata “kesalehan” dengan “integrity.” Komitmen Ayub untuk tetap hidup dalam kesalehan tidak dipengaruhi oleh segala situasi. Alkitab memberikan penggambaran bahwa ketika anak-anaknya laki-laki dan perempuan ketika selesai melakukan pesta pora, Ayub akan membakar korban persembah di hadapan Tuhan untuk meminta pengampunan dari Tuhan. Ketika Ayub Tuhan menginjinkan untuk mengalami barah yang membusuk dari telapak kaki sampai batok kepalanya, Ayub tetap memiliki komitmen bahwa dia tidak akan meninggalkan Tuhan yang disembahnya. Ayub memiliki prinsip bahwa dirinya harus siap untuk menerima hal yang baik ataupun jahat dari Tuhan. Jadi integritas adalah komitmen yang dimiliki oleh seseorang dalam dirinya dan komitmen tersebut harus dilakukan dalam kehidupannya. Tenney dalam bukunya memaparkan pengertian integritas dalam Perjanjian Lama yaitu “completeness,” “wholeness.”[17] Dari kutipan di atas terlihat bahwa pengertian dari integritas bukan hanya mencakup karakter baik. Dari kutipan di atas terlihat bahwa pengertian dari integritas bukan hanya mencakup karakter baik atau sehat melainkan integritas juga mencakup adanya komitmen dalam diri seseorang untuk setia atau taat pada prinsip-prinsip moral yang berlaku dan hal tersebut akan terlihat dalam kehidupan sehari-hari Yosafat dalam tulisannya mengutip pendapat Bromiley sebagai berikut, makna mendasar dari kata “integrity” dalam Perjanjian Lama adalah ”soundness of character and adherence to moral principle (kesehatan karakter dan kepatuhan terhadap prinsip moral.”[18]
1.4.2. Integritas dalam Perjanjian Baru
Berkaitan dengan pemakaian kata integritas dalam Perjanjian Baru, menurut Tenney hanya dipakai satu kali yaitu dalam Tituts 2:7, yaitu kata αϕоριά (aphoria).[19] Selanjutnya Tenney menuliskan bahwa integritas menunjukkan pada suatu kualitas yang tidak bergantung pada kebaikan atau kebajikan manusia melainkan pada pekerjaan Tuhan yaitu pembenaran dan penyucian seperti yang dinyatakan dalam Alkitab.[20] Searah dengan hal ini, Strong menggunakannya dengan kata αϕθαρσία (aphtharsia) yang artinya incorruptibility; gen. unending existence; genuineness (kesungguhan, keiklasan); immortality (keabadian), incorruption (tidak dapat disuap), sincerity ketulusan hati.[21] Jadi, seseorang yang memiliki integritas bukanlah merupakan hasil dari usaha dirinya karena seseorang bisa memiliki karakter yang baik dan terlihat dalam kehidupannya semuanya berasal dari Tuhan. Atau dengan kata lain seseorang yang memiliki hati yang tulus tidak tergantung oleh situasi apapun melainkan kualitas kehidupan tersebut terjadi karena orang tersebut memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan. Berdasarkan Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, maka dapat dibuat kesimpulan bahwa orang yang memiliki integritas atas orang yang memiliki keadaan hati yang suci. Memiliki hati yang suci akan mendorong seseorang memiliki sikap dan tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam Perjanjian Baru istilah “orang yang suci hatinya” menggunakan istilah katharos yang berarti clean, clear dan pure. [22]
1.5. Arti dan Makna Spritualitas ditinjau dari Biblika
1.5.1. Spritualitas dalam Perjanjian Lama
Kata spiritual memiliki akar kata spirit yang berarti roh. Kata ini berasal dari bahasa latin, spiritus, yang berarti nafas. Selain itu kata spiritus dapat mengandung arti sebuah bentuk alkohol yang dimurnikan. Sehingga spiritual dapat diartikan sebagai sesuatu yang murni. Diri kita sebenarnya adalah roh itu. roh bisa saja diartikan sebagai energi kehidupan, yang membuat kita tetap hidup, bernafas dan bergerak. Spiritual berarti pula segala sesuatu di luar fisik kita, termasuk pikiran, perasaan, dan karakter kita. Kecerdasan spiritual berarti kemampuan kita untuk dapat mengenal dan memahami diri kita sepenuhnya makna dan hakikat kehidupan yang kita jalani dan kemanakah kita akan pergi.[23]Spritualitas menunjuk bentuk kehidupan rohani yang dilandasi oleh bimbingan Roh Kudus sendiri. Spritualitas Kristiani selalu menunjuk hidup rohani yang dipimpin oleh Roh Kudus untuk semakin mengimani dan mencintai Tuhan Yesus Kristus dan semakin berkembang dalam iman, pengharapan, dan kasih. Spritualitas hidup yaitu hidup dalam tuntunan Roh Kudus dalam mengembangkan iman atau umat Allah atau Gereja-Nya.[24]
Spiritualitas berasal dari kata Ibrani ‘Ruach’ atau roh. Kata ini mencakup serangkaian makna termasuk spirit yang luas maknanya yaitu ‘nafas’ dan ‘angin’ (Kej. 1:2; Yeh. 37:1-14; Yun. 1:4; Zak. 4:6). Kalau berbicara tentang spirit berarti kita membahas sesuatu yang memberikan kehidupan maupun semangat bagi seseorang. Maka dari itu, ‘spritualitas’ berkaitan dengan kehidupan iman yakni mendorong dan memotivasinya. Spiritualitas juga mengangngkut apa yang memberi semangat terhadap kehidupan orang beriman serta menolong manusia untuk memperdalam dan menyempurnakan apa yang tidak ia mampu.[25] Ke-Imanenan Allah akan menjadi nyata bila kehendak-Nya dinyatakan oleh-Nya (Mzm. 104:139). Kej. 1:2 adalah pemakaian pertama kata ruakh dengan arti menunjuk kepada Roh Allah. Roh Allah adalah nafas kehidupan dari Tuhan.[26] Ciri-ciri hidup yang dipenuhi Roh adalah memperoleh karunia yang luar biasa, seperti menyembuhkan orang sakit, membuat mujizat, bernubuat, dan berbicara dalam Bahasa Roh. Dalam hal ini Yesuslah memang yang benar-benar dipenuhi oleh Roh Allah. Bagimana mengetahui hidup dipimpin oleh Roh Allah? Yaitu nampak ketika seseorang itu hidup dalam tuntunan Tuhan. Roh Allah bekerja bagi orang-orang yang mau dipimpin oleh Roh Allah. Roh Kudus mengajar kita membawa kepada kebenaran, memberi kuasa untuk bersaksi, dan dituntun untuk hidup kudus Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang hidupnya telah diubah oleh pengaruh Roh Kudus dan firman, sehingga dia menjadi orang yang suka akan kekudusan. Karena dipenuhi Roh Kudus, dengan sendirinya orang tersebut tidak menyukai hal yang palsu, yang tidak benar, yang tidak suci, dan yang menyeleweng. Dan dituntuntun untuk hidup dalam kerendahan hati.[27]
1.5.2. Spritualitas dalam Perjanjian Baru
Spiritualitas adalah agar kehidupan spiritualitas seseorang dapat bertumbuh. Bertumbuh dalam bahasa Yunani menggunakan auxanolauxo;kata ini muncul sebanyak dua puluh kali dalam Perjanjian Baru. Kata tumbuh atau bertumbuh lebih mengacu pada proses alamiah yang terjadi secara natural dan bersifat universal. Kata ini digunakan untuk menjelaskan tentang pertumbuhan tanaman dan pertumbuhan manusia. Dalam suratsuratPaulus kata bertumbuh mengacu pada pertumbuhan iman orang percaya(2 Korintus 10:15), bertumbuh dalam pengetahuan akan Allah (Kolose 1:10), dan bertumbuh dalam kasih karunia (2 Petrus 3: 18), termasuk di dalamnya gereja sebagai tubuh Kristus yang bertumbuh bersama menuju pada kedewasaan penuh. (Efesus 2:12; 4:15-16).Richards (1985) mengatakan bahwasemua pertumbuhan spiritual tersebut dibawah penguasaan Tuhan Allah (1 Korintus 3:6-7; Efesus 2:21; 4:15). Pertumbuhan itu sendiri bukanlah spiritualitas, namun kehidupan spiritual membawa seseorang ke dalam proses pertumbuhan, dan Tuhan terlibat dalam proses ini. Oleh karena itu, pertumbuhan spiritual menjadi nyata ketika seseorang didorong oleh sebuah kerinduan yang mendalam agar kehendak Tuhan itu menjadi nyata dalam kehidupannya. [28] Pertumbuhan spiritual membutuhkan proses yang panjang dan bahkan bisa bertahun-tahun.[29] Pertumbuhan spiritual adalah kombinasi dari nature and nurture yaitu sifat alam dan lingkungan yang membentuknya. Ada banyak cara di mana pertumbuhan ini bisa terjadi, bukan bergantung pada tingkat persepsi kesadaran spiritual tetapi pada keterlibatan masing-masing pribadi dalam proses pertumbuhan spiritual yang terus menerus. Seperti relasi pada umumnya, hidup bersama dengan Allah perlu ditumbuh kembangkan. Tuhan adalah inisiator, tetapi respons manusia juga tidak kalah pentingnya. Respons itu mungkin sesuatu yang natural dalam arti bahwa orang percaya memiliki kapasitas untuk bertumbuh secara spiritual, dan itu berkembang sebagai bagian dari kehidupan yang menuju pada dewasa penuh.[30] Individu dan komunitas spiritual harusnya menjadi agen formasi spiritual, yang mencapai formasinya secara lengkap ketika ada upaya sadar dari setiap individu dalam rangka memfasilitasi pertumbuhan kehidupan spiritualnya. Seperti yang dikatakan oleh Cully bahwa pertumbuhan ini dicapai lewat kombinasi yang tepat antara belajar tentang kehidupan spiritua Di lain pihak, pertumbuhan spiritual mencakup kesadaran akan karya Roh Kudus. Kita bukan Tuhan, dan kita tidak dapat mengetahui bagaimana Roh Allah akan dinyatakan bagi orang orang tertentu walaupun tindakan yang dilakukan seseorang mungkin aneh bagi orang lain.[31] Karya Roh Kudus dalam pertumbuhan spiritual adalah dasar bagi setiap pemahaman tentang kehidupan beragama, salah satu dimensi pertumbuhan itu dapat dilihat dalam gerakan Pentakosta dari generasi pertama gereja hingga saat ini. Hal terlihat dari komunits gereja abad pertama yang hidup dalam kelompok yang menjunjung tinggi akan pentingnya upaya menumbuhkembangkan kehidupan spiritual, artinya setiap orang memberikan dukungan dan saling memotivasi agar dapat bertumbuh bersama. Budaya seperti itu menjadi model dari kehidupan spiritualyang oleh Cully disebutkan bahwa salah satu bentuknya ialah lewat proses pertumbuhan spiritual yang meliputi komunitas, individu, Kitab Suci, dan tulisan-tulisan lainnya, serta tindakan Allah, baik yang transenden maupun imanen.[32] Bagimanapun juga spiritualitas adalah proses yang menuju pada pertumbuhan, yaitu proses yang terus menerus menumbuhkembangkan kedekatan hidup dengan Tuhan. Seperti halnya relasi dengan orang lain, demikian juga relasi dengan Tuhan. Dalam berelasi, Allah adalah inisiator, tetapi respons manusia juga penting.[33] artinya, formasi spiritual tidak boleh hanya berdasarkan sesuatu yang kita lakukan melainkan sebuah proses yang dimulai dan ditopang Allah. Tuhan bekerja melalui agen manusia danoleh karena itu kegiatan dan program manusia dapat membantu atau bisa saja menghalangi tujuan Tuhan bagi komunitas individu dan seluruh dunia, karena formasi spiritual hanyalah respons terhadap inisiatif Allah. Rasul Paulus mengakui sifat keberkelanjutan dari formasi/pembentukan serta pengembangan dari manusia spiritual, dimana seseorang sedang dalam proses dibentuk di dalam gambar Allah melalui Yesus Kristus. Semua itu karena formasi spiritual kita berakar dalam Allah dan di dalam Kristus serta bersikap terbuka terhadap orang lain. Pertumbuhan spiritual itu terjadi secara sederhana melalui ibadah yang berpusat pada Tuhan. Sama halnya dengan makanan yang memberi hidup dan yang menyehatkan serta transformasi yang diterima dari kasih karunia Allah lewat motivasi, penghiburan, dan pertolongan dari orang lain. Itulah sebabnya penting bagi seseorang untuk memiliki hubungan yang benar dan sehat, baik di dalam maupun di luar dirinya.[34]
1.6. Integritas ditinjau dari Sistematika
1. Dapat dipercaya
Hamba Tuhan yang memiliki integritas adalah “dapat dipercaya.” Dengan kata lain Hamba Tuhan memiliki integritas adalah yang memperoleh kepercayaan. Kalau tidak demikian maka tidak akan ada orang yang mau menjadi pengikut.[35] Paulus menasehati Timotius supaya, sebagai seorang pemimpin, ia menyiapkan pemimpin-pemimpin lain yang mendapat kepercayaan. Untuk mempercayai seorang pemimpin, tidak perlu kita setuju dengannya. Kepercayaan adalah keyakinan bahwa pemimpin sungguh-sungguh dengan apa yang dikatakannya. Itu adalah kepercayaan kepada sesuatu yang sangat kuno yang disebut integritas.[36]
2. Hidup Dalam Kekudusan
Dalam 2 Timotius 2:21 dikatakan, bahwa “jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah tangga untuk maksud yang muia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia. “Menurut paulus bahwa seseorang yang dapat dipercaya adalah seseorang yang telah dikuduskan. Dan dalam kontkes kepemimpinan dapat dikatakan bahwa pmimpin yang dapat dipercaya adalah pemimpin yang telah dikuduskan atau yang hidup dalam kekudusan. Dalam kitab Nabi Yesaya psal 6 ayat 3, dikatakan,”Kudus,kudus, kuduslah Tuhan.” Penekanan tiga kali dari ayat ini adalah salah satu dari banyak bagian yang menekankan kekudusan Allah. Kekudusan berasal dari kata dasar “kudus” yang kata ibraninya adalah “qadosy” atau “hagios” dalam bahasa Yunani, yang pada dasarnya berarti “pemisahan” baik pemisahan dari hal-hal yang tidak kudus, maupun pemisahan ke arah hal-hal yang rohani.[37] kekudusan terjadi oleh karena seseorang hidup hari lepas hari di bawah anugerah salib Kristus. Ia bersedia mengaku salah kalai ia memang salah. Hal ini nampak tidak hanya dalam persekutuan, lembaga, atau gereja yang ia pimpin, melainkan juga dalam rumah tangganya sendiri. Anak-anaknya sendiri akan menemukan kekudusannya oleh karena ia hidup di bawah anugerah Kristus. Selain daripada itu, kekudusan juga menuntut kesediaan untuk berlajan dalam terang ilahi setiap hari yang akan menuntun kepada kepribadian dengan kewibawaan rohani yang jelas.[38]
3. Hidup dalam ketulusan
Pada waktu Paulus, mengatakan, “usahakanlah supaya engkau layak dihadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberikan perkataan kebenaran itu” (2 Timotius 2:15). Yang dimaksudkan dengan kata-kata “yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” adalah sikap yang tulus atau ketulusan, bahwa persyaratan lain yang tak kalah pentingnya bagi seorang pemimpin yang dapat dipercayai adalah hidup dalam ketulusan. Harus diperhatikan bahwa pemimpin yang tulus tidak harus mengiklankan fakta. Pemimpin yang tulus akan kelihatan dalam segala hal yang dilakukan dan akan segera diketahui oleh setiap orang secara umum. Demikian pula, ketidaktulusan tidak dapat disembunyikan, disamarkan, atau ditutup-tutupi, tidak peduli secakap apapun seorang pemimpin dalam hal-hal lainnya. Gen Ronald R. Fogleman mengatakan: “Ketulusan adalah perilaku tanpa kepura-puraan dan kesan yang palsu. Pemimpin yang berintegritas bersikap tulus-tindakan mereka sesuai dengan perkataannya.[39]A.B Susanto, mengatakan, “Seorang pemimpin harus secara utuh selalu mau melihat dirinya sendiri dan menelaah kembali apakah pola kepemimpinannya benar-benar dilandasi oleh teladan Yesus.[40]
4. Memiliki Konsisten
Seorang pemimpin yang tidak bersikap konsisten dapat membingungkan anggotanya. Selanjutnya Smith, mengatakan: Hal ini dapat menciptakan sebuah kepemimpinan yang kosong ketika orang-orang yang agresif berjalan sendiri sementara sebagian besar anggota menjadi lumpuh, karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dan takut melakukan kesalahan.[41] Konsisten merupakan suatu keharusan bagi seorang pemimpin yang berintegritas. Martyn Lioyd-jones pernah membuat pengamatan yang sangat berarti tentang kehidupan para pemimpin yang memiliki konsisten.[42]
1.7. Spritualitas ditinjau dari Sistematika
Dalam spritulitas sistematika ada beberapa spritualitas yang dapat dijelaskan bagi hamba Tuhan yaitu:
a. Spiritualitas otonomi.
Wilhoit menegaskan bahwa individu yang memiliki spiritualitas otonom adalah individu yang telah mengendalikan hidupnya sendiri dengan benar, dan dapat mempersembahkan tubuhnya sebagai korban hidup yang kudus dan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1). Tanpa penyerahan diri sepenuhnya, seseorang tidak bisa menjadi dewasa dalam hubungannya dengan Kristus.
b. Spiritualitas yang utuh
Mungkin salah satu bagian Kitab Suci yang penting yang menggambarkan seseorang yang memiliki keutuhan spiritualitas ada dalam Ulangan 6:5, Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu. Wilhoit lebih lanjut menyatakan bahwa penyerahan diri. dengan hati yang tulus kepada Allah adalah kualitas yang mana setiap tingkatan usia atau perkembangan baik fisik maupun mental dapat mencapai.[43] Oleh karena itu, untuk menjadi seseorang yang memiliki keutuhan spiritual adalah memberikan semua yang ia tahu kepada Allah, dan faktor penting dalam keutuhan spiritual bukanlah kuantitas pengetahuan atau pelatihan tapi kualitas dedikasi yang memberikan diri seutuhnya secara totalitas.
c. Spritualitas yang stabil
Ini menuntut pertumbuhan yang terus menerus dengan respons yang tepat terhadap cobaan dan keraguan dalam hidup. Wilhoit menegaskan bahwa mungkin hanya mereka yang mengalami penderitaan akan memiliki rasa empati terhadap mereka yang menghadapi cobaan, dan orang yang demikian adalah orang yang memiliki spiritualitas yang stabil.[44]
d. Penggunaan pengetahuan secara bijak
Orang yang dewasa secara spiritual memahami isu-isu iman secara signifikan dan dapat menggunakan pengetahuannya untuk meneguhkan kehidupan mereka dan mengajar orang lain. Sebagai dikatakan dalam kitab Ibrani 5:14, Tapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai panca indera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat. Orang kristen yang dewasa akan memahami esensi dari iman dan dapat bekerja lewat kebenaran-kebenaran itu untuk membentuk kehidupan, dan pengetahuan mereka bukan untuk membuat orang lain terkagum-kagum tetapi untuk kemuliaan Allah.[45]
1.8. Integritas ditinjau dari Historika
Alkitab mengajarkan manusia berdosa, akibat pembrontakan manusia pertama, dalam ruang dan waktu tertentu di masa lalu (bdg. Kej. 3:1-25). Akibatnya manusia yang membawa gambar dan rupa Allah itu, mengalami dan menghadapi berbagai masalah dalam dirinya, termasuk rasa malu, rasa bersalah, tertolak, tak berdaya dan jauh dari hadirat Sang Pencipta. Dosa membuat manusia tidak mengalami keutuhan dalam dirinya, ia juga melakukan berbagai pelanggaran moral dan spiritual serta pelanggaran sosial terhadap sesamanya. Roh Kudus juga hadir di dunia dan dalam kehidupan orang Kristen (orang percaya) untuk memampukan mereka mengemban tugasnya sebagai bendahara Allah di dunia. Roh itu memberikan hikmat, kebijakan, menuntun orang ke dalam kebenaran sebagaimana dijelaskan Alkitab dan dalam kebenaran yang berada dalam Yesus Kristus (bdg. Yoh. 16:6-13). Tanpa pemulihan oleh pekerjaan Roh Kudus, murid yang walaupun terpelajar, pintar dalam berbagai bidang pengetahuan, tetap tidak berdaya melawan kuasa dosa yang destruktif dalam dirinya. Kemerdekaan batin terjadi dalam kehidupan karena pekerjaan Roh Allah yang menyatakan kuasa Yesus Kristus (bdg. 2 Kor. 3:7-18; Rm. 8:5-11). Filsuf Kristen Francis A. Schaeffer pernah berkata bahwa manusia tanpa Allah melalui Yesus Kristus hidup dalam keputusasaan, tidak mempunyai dasar dan tujuan hidup yang jelas.[46] Dalam keagamaan Israel kata Hamba di pakai untuk menunjukkan kerendahan diri seseorang di hadapan Allahnya. Pemakaian demikian menyatakan rendahnya kedudukan pembicara, juga menyatakan tuntutan ilahi mutlak terhadap seseorang anggota dari umat yang di pilih-Nya, dan kepercayaan yang bersesuaian dengan itu menyerahkan diri kepada Allah, yang akan membela hambanya. Dalam bentuk jama arti kata itu adalah orang-orang saleh (Maz 135:14). Dalam ayat ini gelar itu di berikan Allah sendiri kepada umat-Nya, suatu pemakaian yang khas dalam kitab Yesaya bagian ke dua dengan mengungkapkan pengertian tentang mutlak menjadi milik Yahweh karena kasih karunia (Zimmerlin). Kata ini di pakai juga untuk hamba-hamba Tuhan tertentu, yang ternama secara khas, umpamanya Bapak-bapak leluhur, Musa, raja-raja terutama Daud, nabi-nabi dan Ayub juga. [47]
1.9. Spritualitas ditinjau dari Historika
1. Lecio
Langkah ini adalah langkah pembacaan Kitab suci. Alkitab dibaca dengan lambat, perlahan, berulang-ulang dalam posisi konsentrasi penuh. Baca setiap kata, frasa, dengan penuh perhatian dan penghormatan kepada Allah.[48] Dalam suasana yang hening kita membiarkan kata-kata, frasa dari kitab suci itu masuk ke dalam hati dan pikiran kita.
2. Meditatio
Langkah berikutnya adalah pengulangan pembacaan bagian dari kitab suci, yang akan membawa kita pada mengaktifkan memori kita agar kita dapat masuk kedalam suasana meditasi. Dalam posisi meditasi ini kita merefleksikan dan mempertimbangkan kata kata yang ada dalam pikiran kita. Joseph Tong mengatakan: “dalam bermeditasi, pikiran akan berasosiasi langsung dengan
pengalaman pribadi, dengan mengingat orang- orang dan situasi yang ada dalam teks Firman Tuhan yang kita baca.” [49] Karena itu dalam tingkatan ini terjadi relasi dari kita dengan orang, serta situasi yang ada di dalam konteks dari teks. Penghayatan terhadap Firman Tuhan itulah yang pada akhirnya mempertegas formasi spiritualitas.
3. Oratio
Akibat perenungan dan meditasi kita terhadap teks Firman Tuhan, tentu akan menghasilkan sebuah internalisasi dalam diri kita, yang pada akhirnya memunculkan kerendahahan hati, pujipujian, penyesalan, ucapan syukur dan permohonan atau petisi di hadapan Allah yang diikuti oleh pujian dan penyembahan yang membuat kita dengan leluasa berbicara kepada Allah. Wadah berbicara kepada Allah itulah yang dalam lectio divina disebut sebagai oratio, di mana kita dengan hati yang penuh ucapan syukur kepada Allah karena anugerah-Nya serta refleksi dari apa yang kita pelajari dari bacaan dan meditasi kita terhadap bagian Firman Tuhan ini menjadikan kita datang di hadapan-Nya dengan penuh ucapan syukur lewat momen doa kita di hadapan-Nya.
4. Kontemplasio
Kontemplasio adalah merupakan doa-doa yang dalam, yang dinaikkan dihadap Allah dalam momen-momen penting lectio divina. Dalam momen itu roh kita bersatu dengan Allah. Pada saat hal itu terjadi itulah saatnya di mana kita mengalami apa yang Joseph Tong namakan sebagai sebuah pengalaman di mana kita mengalami keharmonisan dari dalam hati, mengasingkan diri untuk berdiri di hadapan Allah secara terbuka dan tidak ada yang menghalang-halangi. Dan ini adalah apa yang dinamakan semacam penyembahan tingkat tinggi, tanpa kata dan bentuk, karena kita dilayakkan oleh Firman Allah untuk duduk bersama merasakan kebahagiaan dalam kasih Allah yang luar biasa.[50]
1.10. Integritas ditinjau dari Praktika
1. Integritas Rohani
Nilai rohani yang merupakan nilai integritas yang sangat penting, yang harus di perhatikan oleh seorang pemimpin, terkhususnya pemimpin Kristen. Hal ini merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki. Suatu kualifikasi yang tidak dapat ditawar agar kepemimpinan terus berjalan. Karena itegritas rohani berbicara tentangan hubungan antara pemipin yang bersangkutan dengan Allah. Hubungan Pribadi dengan sang Pecipta merupakan sesuatu hal yang sangat penting terkhususnya di era milenial sekarang. Anggota atau masyarakat dalam organisasi lebih melihat kepada tindakan nyata kita dan dengan mudah membandingkan setiap ucapan kita dengan kehidupan nyata kita. Eli Wilson dalam jurnalnya mengatakan, Teladan kepemimpinan para Rasul harus ditiru oleh pemimpin gereja masa kini, dan mengimplementasikan dalam kehidupan pribadi, gereja, dan masyarakat.[51]
3. Integritas Sosial
Mengenai integritas social, seorang pemimpin adalah berbicara tentang. Integritas dalam hubungan dengan orang lain. Bagaimana seorang pemimpin beretika dan bermoral yang baik terhadap orang lain. Terkadang seseorang dapat dengan mudah bertopeng di hadapan orang lain. Dengan meperlihatkan suatu nilai etika atau moral yang palsu baik di depan orang lain, namun ketika dibelakang (tidak bersama) maka seseorang tersebut ingkar terhadap nilai etika atau moral yang dia tunjukkan sebelumnya. Seorang pemimpin yang memiliki nilai integritas social yang baik. Dia akan terus bertingkah laku konsisten baik didepan atau dibelakang orang. Baik ditengah orang banyak maupun ketika tidak ada orang lain yang memperhatikan tingkah lakunya. Yang akan tetap konsisten memegang nilai moral yang di ucapkan dan yang di anutnya. Sepemikiran dengan Fredy yang menuliskana dalam jurnalnya, Penguasaan diri menurut Alkitab khususnya dalam Perjanjian Baru, pada dasarnya adalah buah Roh. Menurut Rasul Petrus kecerdasan emosi atau penguasaan diri merupakan tangga pada perkembangan hati, yang dimulai dengan iman dan mencapai puncaknya pada kasih.[52]
4. Integritas Ekonomi
Seorang pemimpin juga harus memiliki nilai integritas dalam kehidupan ekonominya. Berbicara tentang kehidupan ekonomi begitu banyak pemimpin yang jatuh di bidang ini. Dan akhirnya melakukan suatu tindakan yang melanggar hukum. Berbicara tentang integritas Ekonomi artinya adalah bagaimana sikap seorang pemimpin dalam mengelola keuangan dalam oraganisasi atau lembaga yang dipimpinnya. Seorang pemimpin di dalam tanggung jawabnya terkadang menghadapi begitu banyak cobaan dan ujian ketika diperhadapkan dengan masalah keuangan. Terkhususnya apabila banyak uang yang harus di kelola. Tidak terkecuali dengan kepemimpinan Kristen di dalam lembaga kerohanian gereja. Banyak anak Tuhan yang jatuh dalam praktek penggelapan Uang dan melakukan tindakan KKN dalam lembaga kerohanian karena memiliki nilai Integritas Ekonomi yang rendah. Seperti yang dikatakan oleh A.B Susanto yang di kutip oleh Maria Rukku dalam Tulisannya mengatakan: Seorang pemimpin harus mempunyai integritas yang tinggi dan berusaha untuk membawa kelompoknya ke arah yang benar atau ke arah yang lebih menguntungkan, yang lebih merupakan tujuan bersama daripada tujuan pribadi sang pemimpin.[53]
5. Integritas Kerja
Integritas kerja adalah berbicara mengenai hubungan pekerjaan dengan seseorang yang bekerja (Pemimpin). Jadi tanggung jawab dalam kepemipinan merupakan hal yang sangat penting. Dalam nilai integritas kerja seorang pemimpin harus menjadi pemimpin yang melayani, seorang pemimpin yang dapat di teladani oleh anggotanya. Sepemikiran dengan Arcadius dalam tulisannya yang mengatakan, seorang pemimpin dapat melaksanakan kepemimpinan pelayan jika ia memiliki semangat yang tulus dalam dirinya untuk menjadi yang terdepan dalam pelayanan. Dengan kata lain, keteladanan menjadi faktor kunci bagi keberhasilan model kepemimpinan pelayan.[54] Jadi seorag pemimpin terkhususnya pemimpin Kristen. Harus memiliki semangat yang tinggi dalam bekerja sehingga dapat di tiru dan di teladani oleh anggotanya. Dalam I Timotius 3:1-13, Paulus memberikan kriteria bagi seorang pemimpin rohani, begitu banyak nilai moral dan integritas yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin rohani yang nyata dalam pengajaran Paulus. Termasuk di dalamnya seorang pemimpin terkhususnya pemimpin rohani harus dapat menjadi figure yang dapat dicontoh dan di teladani. Seperti yang dikatakan oleh Thomas dalam karya tulis Ilmiahnya, yang menjadi ciri khas dari seorang pemimpin bukan saja kemampuannya untuk memengaruhi orang lain, tetapi juga sekaligus mengembangkannya. Ia bukan saja sebagai orator atau ahli retorika yang pandai berkata-kata, tetapi harus sekaligus menjadi seorang “creator” alias pencipta.[55]
1.11. Spritualitas ditinjau dari Praktika
1. Berpusat pada Allah
Allah menjadi sumber spirit untuk hidup dalam semua bidang dan aspeknya karena Allah adalah sumber kehidupan manusia dan dunia ini. Itulah sebabnya spritualitas meruakan wujud dan kerinduan hidup dalam keterarahan kepada Allah.[56]
2. Spritualitas bersifat Terbuka
Keterbukaan kepada Allah mempengaruhi dan menentukan keterbukaan terhadap sesama dan dunia ini. Spritualitas mendorong keterbukaan terhadap orang lain yang berbeda, karena dalam perjumpaan dengan Allah, maka dapat menentukan diri kita sebagai manusia yang lemah seperti orang lain. Allah selalu menerima diri kita apa adanya karena itu wujut dari keterbukaan.[57]
3. Menguasai pikiran
Awal mula yang harus dilakukan oleh manusia ketika hendak menjalani kehidupan spiritual adalah upayanya untuk menguasai pikirannya yaitu dengan cara melupakan atau mengosongkan pikirannya (unlearn) dari semua ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya. Mengapa? Karena kehidupan spiritual (metafisika) dan kehidupan dunia (ilmu pengetahuan) adalah dua hal yang berbeda. Kehidupan spiritual tidak bisa diukur secara empiris sementara kehidupan dunia ilmu pengetahuan selalu melazimkan empirisisme. Meskipun kadang kedalaman spiritual bisa diukur melalui sikap-sikap yang dilahirkannya (applied spirituality) seperti misalnya kesalehan sosial, kesalehan politik dan sebagainya, tetapi itu terbatas pada spiritualitas turunannya, sedang spiritualitas asalnya (pure spirituality) tidak bisa terukur sama sekali.
Selain itu belajar ilmu pengetahuan merupakan pembentukan satu titik kesan dalam pikiran. Apapun yang dipelajari, dari buku, pengalaman, atau orang, seseorang telah membuat titik di dalam pikiran, dan banyak titik ditemukan dalam pikiran karena banyak hal yang dipelajari manusia. Titik-titik inilah yang sering mengganggu seseorang dalam prosesnya menjalani kehidupan spiritual.
Tidak belajar (unlearn) adalah membongkar titik-titik pengetahuan yang ada, dan sangat sulit untuk unlearn seperti halnya menguraikan sebuah titik. Perlu banyak usaha untuk melakukan hal tersebut. Untuk menguraikan perlu kesabaran karena orang melakukan dua hal yang berlawanan satu dengan yang lainnya. Membuat titik dan menariknya dari dua sisi yang berbeda. Sehingga diperlukan upaya dan kesabaran menguraikan titik dalam pikiran. Apa yang membuat proses titik tersebut? Penalaran bekerja dengan kekuatan penuh untuk membongkar kesan-kesan mental. Sebuah titik merupakan nalar yang terbatas. Ketika seorang menguraikannya, keterbatasannya terbebas, terbuka.
Unlearn juga dimaknai sebagai pengosongan diri manusia dari kesia-siaan, kesenangan duniawi, dan hasrat-hasrat egoistik. Tujuan pengosongan diri ini adalah agar kehadiran ilahi dapat menyusup ke dalam diri manusia.[58]
Ketika pikiran menjadi tenang dengan unlearn, dan dengan menggali semua yang baik dan buruk, benar dan salah, maka dasar hati bagaikan tanah yang subur, seperti tanah setelah dibajak. Semua tunggul, akar, kerikil dan batu disingkirkan dan sekarang tanah siap untuk disemai bibit. Jika batu, bata, akar-akar tua masih bercokol akan sulit bibit disebar, kalaupun bisa akan menghasilkan tanaman yang tidak berkualitas.[59]
4. Meditasi
Meditasi sebagai bagian dari kehidupan spiritual telah dikenal sejak berpuluh-puluh abad yang lalu. Pada abad berapa meditasi untuk pertama kalinya dilakukan, tidak pernah ada yang tahu. Meditasi juga dikenal sangat mengakar di belahan dunia timur dan menjadi bagian dari kehidupan spiritual dari berbagai agama besar, walaupun dengan istilah yang berbeda. Di tanah air Indonesia, meditasi sudah dikenal sejak zaman kerajaan, dalam bentuk terpadu yang biasa disebut dengan semedi, bertapa atau tapa brata. Namun pada waktu itu meditasi hanya diajarkan khusus dan dilakukan oleh orang-orang yang menganut paham kerohaniawan tertentu dan ingin melepaskan dirinya dari kehidupan dunia. Akan tetapi sejak belasan tahun belakangan meditasi bukan lagi merupakan sesuatu yang asing. Tidak sedikit orang awam yang melakoni hidup bermeditasi, tanpa harus meninggalkan kehidupan duniawinya, tanpa harus meninggalkan keluarga dan kariernya. Bahkan meditasi saat ini tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu dianggap tabu atau sesuatu yang harus diwaspadai oleh aliran agama manapun. Di dunia Barat, di mana orang-orangnya hidup dalam pola pikir yang terfokus kepada logika dan sesuatu yang konkret, ternyata telah mengadakan survei di beberapa tempat, misalnya di Harvard University, ada klinik bernama “Mind and Body Institute” di St Agnes Baltimore dan di Standford University, California, AS, juga diadakan penelitian yang mendalam tentang apa sebenarnya meditasi itu dan manfaat apa yang secara nyata dapat dibuktikan keberadaannya bagi manusia.[60] Meditasi sering diartikan secara salah, dianggap sama dengan melamun sehingga meditasi dianggap hanya membuang waktu dan tidak ada gunanya. Di samping itu, meditasi juga dianggap akan membuat orang menjadi pemimpi tanpa melakukan apapun. Padahal meditasi tidak sama dengan melamun. Meditasi justru merupakan suatu tindakan sadar karena orang yang melakukan meditasi tahu dan paham akan apa yang sedang dia lakukan.
Jika seseorang bermeditasi secara asal-asalan, menutup mata, duduk, dan tidak melakukan apa-apa, ia akan tertidur. Meditasi bukan semata-mata latihan duduk dengan diam. Dalam meditasi jiwa diisi dengan cahaya dan kehidupan yang baru, dengan inspirasi dan kekuatan. Dalam meditasi setiap hal merupakan berkah. Sebagian orang menjadi kelelahan karena belum sampai pada tahap mengalami efek meditasi yang sebenarnya. Hal ini seperti orang yang lelah latihan biola. Mereka kelelahan karena belum memainkan biola dengan benar. Sekali orang memainkannya dengan benar, tidak akan pernah lelah. Kesulitannya adalah memainkan biola serta kesabaran memperhatikan permainannya sendiri.[61]
1.12. Integritas ditinjau dari Agama-agama
1.12.1. Integritas dalam Agama Islam
Dalam khazanah Islam, pengalaman keagamaan tertinggi yang pernah berhasil dicapai oleh manusia adalah peristiwa “mi’raj” Nabi Muhammad SAW., sehingga peristiwa ini menjadi inspirasi yang selalu dirindukan hampir semua orang, bahkan apapun agamanya. Di sinilah muncul salah satu alasan bahwa pengalaman spiritualitas sangat didambakan oleh manusia dengan berbagai macam dan bentuknya. Dan untuk menggapai pengalaman-pengalaman spiritualits itu, maka diperlukan upacaraupacara khusus guna mencapainya. Sebab dari pengalaman keagamaan itu, umumnya muncul hati yang mencintai yang ditandai dengan kelembutan dan kepekaan. Sehingga sifat cinta itu akan melahirkan “kasih” kepada sesama makhluk tanpa membedakan ras serta keberagamaan yang berbeda. Secara substansi (esoterisme) agama-agama pada hakekatnya sama dan satu. Perbendaannya terletak pada aplikasi dari esoterisme yang kemudian memunculkan “eksoterisme” agama. Pada aspek eksoterik inilah muncul pluralitas agama. Di mana setiap agama memiliki tujuan yang sama dan objektif yaitu untuk mencapai kepada Tuhan Yang Maha Esa. Antropologi spiritual Islam memperhitungkan empat aspek dalam diri manusia, yaitu meliputi:[62]
1. Upaya dan perjuangan “psiko-spiritual” demi pengenalan diri dan disiplin.
2. Kebutuhan universal manusia akan bimbingan dalam berbagai bentuknya.
3. Hubungan individu dengan Tuhan.
4. Hubungan dimensi sosial individu manusia.
Jika dalam agama Budha, hidup adalah untuk menderita, namun dalam pandangan Islam hidup adalah sebagai perjuangan, bekerja keras untuk terlibat jihad setiap saat dan dalam berbagai tingkat. Model analisis klasik tentang jiwa manusia meletakkan “hati” manusia sebagai pusat perjuangan, yakni tarik menarik yang ketat antara “spirit” (kebaikan) dan “ego” (kejahatan). Jiwa atau ruh merupakan hakikat pada diri manusia yang abadi, yang perenial, dan tidak akan berubah sepanjang masa, yaitu fitrahnya, yang membuat selamanya merindukan kebenaran, dengan puncaknya ialah kerinduan kepada Tuhan. Seperti yang telah digambarkan dalam al-Qur'an surat al-Fajr ayat 27-30.[63] Oleh karena itu, pengalaman keagamaan, dalam arti merasakan kenikmatan religiusitas sangat didambakan oleh setiap pemeluk agama. Ini terjadi karena pengalaman keagamaan terkait erat dengan pemenuhan kebutuhan (puncak) kehidupan manusia. Kebutuhan tersebut adalah kebutuhan yang bersifat universal, yaitu yang merupakan kebutuhan kodrati setelah kebutuhan-kebutuhan fisik terpenuhi, yakni kebutuhan cinta dan mencintai Tuhan, dan kemudian melahirkan kesediaan pengabdian kepada Tuhan. Hal ini yang kemudian disinyalir sebagai jiwa keagamaan atau kejiwaan agama. Para peneliti saling berbeda pendapat tentang darimana sumber jiwa keagamaan yang menimbulkan keinginan untuk mengabdi kepada Tuhan tersebut. Namun secara umum terdapat tiga teori psikologi agama yang mencoba untuk memberikan jawaban atas persoalan di atas. Diantaranya teori monistik, teori faculty dan Teori the Four Whises.
1. Teori Monistik (mono = satu)
Teori ini berpendapat bahwa hanya terdapat satu sumber kejiwaan (sumber tunggal) dalam keagamaan. Dari teori ini disebutkan sumber kejiwaan agama adalah sebagai hasil proses berfikir oleh Thomas Van Aquino dan Fredrick Hegel, rasa ketergantungan kepada yang mutlak (sense of depend) oleh Fredrick Schleimaceher, perasaan kagum yang berasal dari “yang sama sekali lain” (the wholly other) Rudolf Otto yang kemudian diistilahkan numinous. Proses libido sexuil atas proses odepus complex dan father image oleh Sigmund Freud, dan karena sekumpulan instink pada diri manusia oleh William Mac Dougall. Namun pandangan William ini dipandang lemah oleh para psikolog.[64]
2. Teori Faculti (faculty theory)
Teori ini yang memandang bahwa sumber kejiwaan agama bukan bersifat tunggal, namun terdiri dari berbagai fungsi. Menurut teori ini sumber jiwa keagamaan berasal dari cipta (reason), rasa (emotion), dan karsa (will). Dari teori dasar ini, para psikologi aliran ini menyebutkan bahwa sumber kejiwaan keagamaan adalah adanya konflik pada diri manusia yang diperlopori G. M. Straton, sebagai akibat gabungan dari enam kebutuhan pokok, yaitu rasa kasih sayang, rasa aman, harga diri, bebas, sukses, ingin tahu, dalam hal ini untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itulah manusia memerlukan agama menurut Zakiyah Daradjat.[65]
3. Teori the Four Whises
Melalui teori ini W. H. Thomas mengemukakan bahwa sumber kejiwaan agama adalah karena adanya empat macam keinginan dasar dalam diri manusia, yaitu: keselamatan (security), mendapat penghargaan (recognition), untuk ditanggapi (response), dan keinginan akan pengetahuan atau pengalaman baru (new experience).[66]
1.12.2. Integritas dalam Agama Hindu
Menurut hukum Hindu : Jujur dan benar itu disebut Satya. Yang melaksanakan satya brata berarti orang itu tidak pernah menyimpang dari ajaran kebenaran, selalu : Jujur, dan berterus terang. Di Hindu dikenal 5 kejujuran (panca satya); Panca berarti lima, Satya itu menjungjung tinggi kebenaran, kesetiaan, dan kejujuran.
Jadi Panca Setya itu adalah :
a. Satya Wacana : Harus setia dan jujur dalam berkata, tidak sombong, menjaga sopan santun dalam berbicara, tidak boleh berucap yang dapat menyakiti hati atau perasaan orang lain.
b. Satya hredaya : Setia pada hati nuraninya, selalu konsisten dan berpendirian yang teguh dalam melaksanakan ajaran kebenaran.
c. Satya laksana : artinya harus jujur dan bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnya.
d. Satya mitra : artinya setia kepada teman atau sahabat dan tidak boleh berkhianat.
e. Satya semaya : artinya selalu menepati janji dan tidak boleh ingkar janji.
Jaman ini disebut Jaman Kali, kebenaran/kebajikan tinggal 25%, yang disebut di Slokantara 81.65. “Pada jaman Satya Yuga tapa bratalah yang diutamakan (kebajikan masih 100%), pada jaman Treta Yuga pengetahuan yang diutamakan (Kebajikan surat 25%). Di jaman Dwapara Yuga upacara kurban (yadnya) yang diutamakan (Kebajian surut 50%), dan di jaman Kali Yuga hanya kebendaan yang diutamakan (Kebajikan tinggal 25%)”. Salah satu bait kekawin Niti Sastra menyebutkan: “Yan yuganta kali datang tan hana mengeluwihaning sang Maha Dana, sang Sura Pandita Widagda pada mangayap ring Sang Daneswara” Artinya: “Bila jaman kali datang, tidak ada yang lebih hebat dari orang kaya, Para Ksatria (pejabat), Pendeta dan orang pandai, semua sebagai pelayan orang kaya.[67]
1.13. Spritualitas ditinjau dari Agama-agama
1.13.1. Spritualitas dalam Agama Islam
1. Taubat
Taubat adalah memohon ampun atas segala dosa yang disertai dengan penyesalan dan dengan bersungguh-sungguh berjanji untuk tidak mengulanginya kembali dan diiringi dengan melakukan kebajikan yang dianjurkan oleh Allah.[68] Pada tingkat terendah, taubat menyangkut dosa yang dilakukan jasad atau anggota badan. Pada tingkat menengah, taubat menyangkut pangkal dosa-dosa seperti dengki, sombong dan riya. Pada tingkat yang lebih tinggi, taubat menyangkut usaha menjauhkan diri daei bujukan setan dan menyadarkan jiwa akan rasa bersalah. Pada tingkat akhir taubat berarti penyelesaian atas kelengkapan pikiran dalam mengingat Allah.
2. Zuhud
Zuhud secara harfiah berarti meninggalkan kesenangan dunia. Secara umum zuhud berarti suatu sikap melepaskan diri dari rasa ketergantungan terhadap kehidupan duniawi dan mengutamakan kehidupan ukhrawi. Zuhud dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu pada tingkat terendah zuhud berarti menjauhkan dunia ini agar terhindar dari drhukuman diakhirat. Pada tingkat kedua, menjauhi dunia dengan menimbang imbalan diakhirat. Pada tingkat ketiga, mengucilkan dunia bukan karena takut atau berharap tetapi karena cinta pada Allah.
3. Sabar
Sabar adalah suatu keadaan jiwa yang kokoh, stabil dan konsekuen dalam pendirian. Menurut pendapat Ibnu Taimiyah sabar dalam menjauhi maksiat lebih tinggi tingkatannya dari pada sabar dalam menghadapi musibah. Sedangkan menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sabar dibagi menjadi tiga tingkatan.[69] Pertama, sabar untuk Allah yaitu keteguhan hati dalam melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, sabar bersama Allah yaitu keteguhan hati dalam menerima segala keputusan dan tindakan Allah. Ketiga, sabar atas Allah yaitu keteguhan hati dan kemantapan sikap dalam menghadapi apa yang dijanjikan-Nya seperti berupa rizki dan kesulitan hidup.
4. Wara’
Wara’ secara harfiah adalah menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.[70] Sedangkan pengertian wara’ dalam pandangan sufi adalah meninggalkan sesuatu yang tidak jelas hukumnya, baik menyangkut makanan, pakaian dan lainnya.[71] Wara’ secara lahiriyah tidak menggunakan segala yang masih diragukan dan meninggalkan kemewahan. Sedangkan secara batiniah adalah tidak menempatkan atau mengisi hati dengan mengingat Allah.[72]
5. Fakir
Fakir secara harfiah diartikan sebagai orang yang membutuhkan atau memerlukan.16 Dalam konteks esensi manusia, faqr mengandung arti bahwa semua manusia secara universal membutuhkan Allah.[73]
6. Ma’rifat
Makrifat diartikan sebagai pengetahuan rahasia hakekat agama yaitu ilmu yang lebih tinggi dari pada ilmu yang didapat pada umumnya dan merupakan pengetahuan yang objeknya bukan hal-hal yang bersifat dzahir, tetapi yang bersifat batin yaitu pengetahuan mengenai rahasia Tuhan melalui pancaran cahaya Ilahi. Ma’rifat dalam pandangan Al-Ghazali adalah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan Allah tentang segala yang ada.[74]
1.13.2. Spritualitas dalam Agama Hindu
Dalam agama Hindu dapat dijumpai spiritualiatas dalam konsep yang pertama, yaitu spiritualitas yang berorientasi pada Tuhan (Godoriented). Hal ini didasarkan pada, pertama, keyakinan dan pemahaman umat Hindu bahwa Tuhan (Brahman) adalah sumber dari segala yang ada, awal, akhir serta pertengahan dari segala yang ada. Sebagaimana yang tertuang dalam Bhagawad-Gita VII.6 ; “Ketahuilah bahwa semua insane mempunyai sumber-sumber kelahiran di sini, Aku adalah asal mula alam semesta ini demikian pula kiamat kelaknya nanti”. Demikian juga dalam Bhagawad-Gita X.20 : “Aku adalah jiwa yang berdaiam dalam hati segala insani, wahai Gudakesa Aku adalah permulaan, pertengahan dan penghabisan dari semua makhluk”.[75] Kedua, keyakinan bahwa Atman (jiwatman) yang ada dalam diri manusia adalah percikan kecil dari Paramatman (Brahman/Tuhan). Jiwatman inilah yang menyebabkan manusia itu hidup. Oleh karena atman merupakan bahagian dari Brahman (Tuhan) maka pada hakekatnya atman memiliki sifat yang sama dengan sumbernya, yaitu Brahman itu sendiri. Dan oleh karena itu manusia yang dalam dirinya ada percikan Brahman, yaitu atman maka manusia dapat menuju Tuhan bahkan bersatu dengan Tuhan. Pernyataan di atas senada dengan pendapat Yudiantara.[76] ada lima dimensi dalam spiritualiatas Hindu, yaitu (1). Brahman (Tuhan); (2) Atman (Sang Diri Sejati); (3) Rsi,Weda, Avatara; (4) Karma-phala; (5) Moksa. Kelima dimensi ini adalah dasar hidup seorang Hindu yang memberikan kesegaran secara nyata dan menyeluruh. Kelima dimensi inilah yang dapat membantu manusia untuk kembali kepada hakikat hidupnya di dunia sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial dan makhluk individu. Jalan spiritual Hindu –memakai konsep cara beragama Dale Cannonmerupakan cara beragama mistis. Kata Mistis atau sering disebut mistisisme yang berasal dari kata mistik adalah arus besar kerohanian yang mengalir dalam semua agama. Menurut Annemari Schimmel, mistik berasal dari kata Yunani “myein” yang artinya menutup mata.[77] Dalam artinya yang paling luas mistik dapat didefinisikan sebagai kesadaran terhadap Kenyataan Tunggal yang mungkin disebut Kearifan, Cahaya dan Cinta. Juga dalam kata mistik itu terkandung sesuatu yang misterius yang tidak bisa dicapai dengan caracara biasa atau dengan cara intelektual. Definisi senada juga ditemukan dalam kamus A.S.Hornby-seperti dikutip Simuh- bahwa “mysticism is the teaching or belief that knowledge of Real Truth and God may be obtained througt meditation or spiritual insight, independently of mind and senses”.[78] Artinya, mistik adalah ajaran atau suatu kepercayaan yang didasarkan pada asumsi bahwa pengetahuan tentang Hakikat atau tentang Tuhan bisa diperoleh dengan jalan meditasi atau kesadaran spiritual yang bebas dari campur tangan akal dan panca indera. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa kebenaran yang menjadi tujuan mistik memang tidak bisa dipahami dan dijelaskan dengan persepsi apapun, baik filsafat maupun penalaran. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan mistik tersebut diperlukan suatu pengalaman rohani yang tidak tergantung pada metodemetode indera ataupun pikiran. Dalam agama Hindu, salah satu cara yang bisa dilakukan manusia untuk melaksanakan spritualitas agar dapat mencapai tujuan hidup tertinggi dan kebahagian adalah yoga. Yoga mengandung arti kesatuan bergerak dalam mencari ketidak-terbatasan dan keterbatasan gerak menuju ketidakterbatasan dalam cara mistik.[79] Dalam bahasa Sanskerta Yoga berarti “penambahan”, tetapi dalam dunia mistik, yoga juga berarti “penyatuan”. Penyatuan antara manusia dengan Tuhan sebagai Entitas Tertinggi yang berkedudukan di atas segala yang ada. Penyatuan manusia dengan Tuhan seperti penyatuan air dan gula, dimana entitas masingmasing lenyap yang ada hanya satu entitas dalam satu kesatuan. Yoga sebagai jalan spiritual dalam agama Hindu terbagi kepada empat bentuk, yaitu Karma Yoga, Bhakti Yoga, Jnana Yoga dan Raja Yoga. Keempat yoga ini ada karena menurut analisis Hindu manusia mempunyai kebutuhan keagamaan yang berbeda, memiliki pribadi yang berbeda sehingga setiap manusia memerlukan sebuah cara beragama atau bentuk penghayatan yang sesuai dengan kepribadiannya dan situasi kehidupan.[80]
1.14. Krisis Moral Hamba Tuhan masa kini
Dengan rasa malu dan hati yang pedih, kita harsu dengan jujur dan berani mengakui bahwa tingkat kemerosotan karakter dan integritas para pemimpin gereja makin meningkat. Skandal seks, keuangan, tamak akan harta/fasilitas, haus kekuasaan dan kedudukan, tidak rela posisinya digantikan oleh orang lain dan lain sebagainya. Salah seorang pemimpin rohani yang berpengaruh di Amerika karena keterlibatan secara aktif dalam bidang politik, HAM dan pelayanan gerejawi, akhirnya pada tanggal 18 januari 2001 harus mengakui di depan publik bahwa ia telah memiliki seorang anak diluar nikah berumur 20 bulan.[81]
Pelanggaran dan kegagalan pemimpin lokal harus ditanggapi secara serius, seperti mereka yang jatuh ke dalam dosa seks, mamon, serakah jabatan, penyalahgunaan hak dan kuasa, tidak bisa ditolerir dan dibiarkan menjamur dalam Gereja.[82] Sebalinya, masalah ini harus dipandang serius karena dapat merusak kekudusan gereja dan cita kepemimpinan Kristen. Kejatuhan mereka secara etis, moral dan spritualitas, menimbulkan dampak negatif terhadap organisasi dan jemaat secara keseluruhan.[83]seorang pemimpin yang memiliki spritualitas tidak secara otomatis cakap dalam memimpin, sebaliknya orang yang cakap dalam memimpin tidak otomatis memiliki spritualitas yang baik. Untuk menjadi pemimpin yang spritualitas yang unik dari nilai-nilai, proses kehidupan, motivasi, dan tujuan.[84] Ketika seorang pemimpin rohani kehilangan kepekaan dan ketajaman kepada pimpinan Roh kudus, dan bergantung pada diri sendiri atau cara dunia, saat itu juga akan kehilangan pengaruh spritualitasnya, serta kehilangan wibawa kepemimpinan.[85]
II. Analisa Penyeminar
Jika dilihat situasi dan kondisi para hamba Tuhan yang sering kita lihat di kalangan beberapa gereja saat ini, masih ada hamba Tuhan yang lupa akan panggilan dan tanggung jawab nya sebagai pemimpin jemaat yang dipercaya Tuhan Allah padanya, namun dalam hal ini beberapa hamba Tuhan salah menjalankan tugas nya. sehingga ini menimbulkan problematika di dalam gereja dan bagi jemaat. Terkhususnya pada masa kini yang kita sering dengar beberapa hamba Tuhan yang tidak memiliki moral dalam pelayanan. Jadi ketika para hamba Tuhan tidak memiliki hubungan intim yang benar pada Tuhan Allah, itulah awal kehancuran dirinya sebagai hamba Tuhan yang dapat melukakan Tuhan, integritas dan spritualitas merupakan suatu penerapan yang saling berhubungan dalam hidup hamba Tuhan. Ketika salah satu penerapan ini ada yang tidak dilaksanakan dengan benar maka sia-sia pelayanan yang dilakukan hamba Tuhan dalam tugas dan panggilannnya sebagai hamba Tuhan.
Sebagai hamba Tuhan yang berintegritas dan berspritulitas haruslah benar-benar mampu untuk tetap berfokus pada Allah yang sumber pemelihara dalam pelayanan nya, kedua penerapan ini haruslah dilaksanakan dengan seturut firman Tuhan dan tidak adanya kemunafikan dalam tugas dan panggilannya, agar senantiasa mampu untuk tetap bertahan dalam segala tantangan dan cobaan yang akan dihadapi disetiap kehidupan di dalam gereja, keluarga, dan masyarakat serta negara. hamba Tuhan tetaplah memiliki integritas dan spritualitas yang kokoh dan dipercaya semua umat serta memiliki penyerahan diri agar Tuhan senantiasa memberikan kekuatan dan peneguhan hati untuk tidak goyah dalam menjalankan panggilangnya sebagai hamba Tuhan yang berintegritas dan berspritualitas yang benar.
III. Kesimpulan
Dari hasil pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa, sebagai hamba Tuhan yang dipanggil Tuhan menjadi pelayan haruslah benar-benar memiliki Integritas dan Spritualitas dalam hidup nya. apa yang dikatakan harus itu yang dilakukan dan memiliki hubungan yang benar bersama Tuhan. Integritas dan spritualitas merupakan salah satu kemampuan hamba Tuhan untuk menjadikan diri nya tetap bertahan dalam tugas dan panggilan. Hamba Tuhan itu haruslah mampu menjadi teladan bagi semua orang dan hamba bagi Tuhan nya, serta hamba Tuhan yang berintegritas dan berspritualitas itu mampu memberikan yang terbaik pada Tuhan.
IV. Daftar Pustaka
Adair, John Inspiring Leadership London:Thorogood, 2002
Ahmad Anas, Menguak Pengalaman Sufistik ; Pengalaman Keagamaan Jama’ah Maulid al-Diba’ Giri Kusuma, Pustaka Pelajar, Yogyakarta Bekerja Sama dengan Walisongo Press, Semarang, 2003
Alexander Strauch, Robert L. Peterson Kepemimpinan Agape Yogyakarta: Yayasan Andi, 1995
Annemarie,Schimmel Mistical Dimension of Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986
Anshori Haf. M Kamus Psikologi, Surabaya: Usaha Kanisius, 1995
Banawiratma, Pelayanan Spritualitas 7 Pelayanan Yogyakarta:Taman Pustakan Kristen: 2012
Benawa, Arcadius “Dimensi Spiritual Dalam Kepemimpinan,” Humaniora 5, no. 2 . 2014
Bloomer, George Penyalahgunaan Otoritas Rohani Jakarta: Matanoia, 2004
Cully,Irish V Education for Spiritual Growth San Francisco: Harper and Row Publishers, 1984
Dinne,Stewart You Can Learn to Lead Yogyakarta: Andi, 2009
Donald Crider dan Seth Msweli, Gembala Sidang dan Pelayanannya Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002
Effendi, Tjiptadinata Meditasi; Jalan Meningkatkan Kehidupan Anda. Jakarta: Flex Media Koputindo, 2002
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini jilid 1, Jakrta: Yayasan komunikasi Bina Kasih, 1992
Hawa, Sa’id Jalan Ruhaniah, terj : Drs. Khairul Rafie’ M. dan Ibnu Tha Ali, Mizan, Bandung, 1995
Heuken, Adolf Spiritualitas Kurnia Jakartas: Yayasan Cipta Lokal Caraka, 2002
Holladay, Wiliam L A Concise Hebrew and Aramaic Lexion of the Old Testament.s.v “qadosy” Grand rapids, Michigan: Wm.B.Eerdmans, 1971 Joseph Henry Thayer, The New Thayer’s Greek-English Lexicon of the New testament.s.v. “hagio” Peabody, Massachusetts, 1981; Ensiklopedia Alkitab Masa kini, s.v. “kudus” Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,1992
I Made,Sugana Mistisime Yoga:Polarisasi Gerakan Spritualitas Dalam Masyarakat Lintas Agama, Jurnal Pangkaja vol 14 No:2,2012
Ipaq,Eli Wilson “Kepemimpinan Para Rasul Dan Relevansinya Bagi Pemimpin Gereja Di Era Revolusi Industri 4 . 0” 1, no. December 2019
Ismoyo,Thomas Ulun “Menuju Pertumbuhan Organisasi Berkelanjutan,” no. 45
Jalaluddin,Drs. H Psikologi Agama, Edisi Revisi, Raja Gravindo Persada, Jakarta, 2004
James L. Juduth K.TenElshof Furrow, ―The Role of Secure Attachment In Predicting Spiritual Maturity of Students at a Conservative Seminary‖dalam Journal of Psychology & Theology volume 28 Summer 2000.
Khan,Hazrat Inayat Kehidupan Spiritual, Yogyakarta: Pustaka Sufi
Krishna, Anand Bhagavad Gila Bagi Orang Modern, Jakarta; Gramedia. 2002
Kuswandani, Ana Budi 10 Langkah Meningkatkan Kecerdasan Emosional Spiritual, Jakarta:PT Pustaka Delapratosa, 2003
Martasudjita, Emanuel Spritualits Hidup dalam Konpendium tentang Prodiakon, Yogyakarta: Kanisius, 2010
McGrath, Alister E Spritualitas Kristen Sebuah Introduksi, Medan: Bina Media Perintis, 2007
Merril C. Tenney (GE), The Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible, Grand Rapids Michigan: Zondervan Publishing House, 1980
Michon, Jean-Louis“Praktek Spiritual Tasawuf” dalam Seyyed Hossein Nasr.
Nelson,Alan E Sprituality and Leadership Bandung: Kalam Hidup, 2007
Netra, Anak Agung Gde Oka, Tuntunan Dasar Agama Hindu, Jakarta: Hanoman Sakti, 1997
Nuban Timo, Ebenhaizer Aku Memahami yang Aku Imani (Memahami Allah Tritunggal, Roh Kudus, dan Karunia-karunia Roh Secara Bertanggung Jawab, Jakarta: BPK-GM, 2009
Octavianus, Petrus Manajemen dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah Malang: YPPII dan Gandum mas, 1986
Peter Salim, The Contemporary English-Indonesian Dictionary, Indonesia:Media Eka Pustaka, 2006
Ronda, Rukku “Pemimpin Yang Memiliki Integritas Menurut 2 Timotius Pasal 2.”
Al-qur’an dan terjemahnya, Departemen Agama Republik Indonesia.
Samsul Munir Amin, Totok Jumantoro Kamus Ilmu Tasawuf Jakarta: Amzah, 2005
Sanders, Oswald. J Kepemimpinan Rohani Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1979
Schaeffer,Francis A dalam The God Who Is There (InterVarsity Press, 1998), IV; dan Karya Scaeffer yang lain dalam He Is There He Is Not Silent Wheaton, Ill., Tyndale House Publishers, 1972; dan selanjutnya dalam karya klasiknya yang berjudul Escape from Reason InterVarsity, 1968
Sendjaya,Sen “Kejatuhan Pemimpin Gereja dan cara Pencegahannya” Yogyakrta: ANDI, 2006
Shafwan,M.W Wacana Spiritual Timur dan Barat, Penerbit Qalam, Yogyakarta, 2000
Simanjuntak, Fredy “Kecerdasan Emosi Pemimpin Sebagai Tolok Ukur Gereja Yang Sehat,” Real Didache 2, no. 1. 2017:
Simuh, Tasawuf dan Perkembangan Dalam Islam, Jakarta: Rajawali Press, 1995
Smalley, S.S. Roh dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 2 M-Z, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2005
Swindoll,Charles R. Kepemimpinan Krisiten yang berhasil Surabaya: Yakin
Siregar,Revay Tasawuf dari Sufi Klasik ke Neo-Sufisme Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000
Smith,Fred Memimpin Dengan Integritas JakartaL YPI Immanuel, 2002
Sri Swarmi,Sivananda All About Hinduisme, Surabaya:Paramita,1993
Susanto, A.B Meneladani Jejak Yesus Sebagai Pemimpin Jakarta: PT Grasindo, 1997
Tong, Jumaida Keunggulan Anugerah Mutlak, Bandung: STT Bandung & IOTA Press, 2006
Strong, James Greek Dictionary of the New Testament, McLean, Virginia:nd
Thatcher, Virgina S. Educational Book of Essential Knowledge An Edition of the Webster Encyclopedic Dictionary of the English Launguange, American: Consolidated Book Publisher, 1969
Tualeka,Hamzah Dkk, Akhlak Tasawuf Surabaya:IAIN Sunan Ampel Press, 2012
Walz, Edgar Bagaimana Mengelola Gereja Anda Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2008
Wilhoit,James C. Christian Education and the Search for Meaning Grand Rapids: Baker Books, 1991
Yosafat B, Integritas Pemimpin Pastoral, Yogyakarta:Penerbit Andi, 2010
Yunus, Mahmud Kamus Arab-Indonesia Jakarta: Hidakarya Agung, 1990
Sumber Internet:
www.e Sword.net in Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries
www.e Sword.net in Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries
http://www.lead.sabda.org/?title-menemukan_pemimpin_kompeten Diakses pada 2 Oktober 2020 Pukul 15.00
http://www.lead.sabda.org/?title-kaitan_dan_kepemimpinan diakses pada 9 Oktober 2020 pukul 14:00
https://p2tel.or.id/2019/09/integritas-menurut-hindu/amp. Diakses pada 1 Oktober 2020 Pukul 13:00
[1] Adolf Heuken, Spiritualitas Kurnia (Jakarta: Yayasan Cipta Lokal Caraka, 2002), 12.
[2] J.Oswald Sanders, Kepemimpinan Rohani (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1979),21
[3] Edgar Walz, Bagaimana Mengelola Gereja Anda (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2008),8
[4] John Adair, Inspiring Leadership (London:Thorogood, 2002),344
[5] Stewart Dinne, You Can Learn to Lead (Yogyakarta: Andi, 2009),61
[6] Seth Msweli dan Donald Crider, Gembala Sidang dan Pelayanannya (Bandung: Yayasan Kalam Hidup,
2002),12
[7] Virginia S. Thatcher, Educational Book of Essential Knowledge An Edition of the Webster Encyclopedic Dictionary of the English Launguange, (American: Consolidated Book Publisher, 1969),448
[8]Oxford Learner’r Pocket Dictionarys
[9] Yosafat B, integritas Pemimpin Pastoral, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2010), 87-88
[10] Yosafat B, Integritas Pemimpin Pastoral, (Yogyakarta:Penerbit Andi, 2010), 87-88
[11] Peter Salim, The Contemporary English-Indonesian Dictionary, (Indonesia:Media Eka Pustaka, 2006), 143
[12] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), hlm. 857.
[13] M. Hafi Anshori, Kamus Psikologi, (Surabaya: Usaha Kanisius, 1995), hlm. 653.
[14] Sa’id Hawa, Jalan Ruhaniah, terj : Drs. Khairul Rafie’ M. dan Ibnu Tha Ali, (Mizan, Bandung, 1995), hlm. 63
[15] Ahmad Anas, Menguak Pengalaman Sufistik ; Pengalaman Keagamaan Jama’ah Maulid al-Diba’ Giri Kusuma, (Pustaka Pelajar, Yogyakarta Bekerja Sama dengan Walisongo Press, Semarang, 2003), hlm. 17
[17] Merril C. Tenney (GE), The Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible, (Grand Rapids Michigan: Zondervan Publishing House, 1980), 293
[18] Yosafat B, Intgritas Pemimpin Pastoral, 90
[19] Merril C. Tenney (GE), The Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible, 293
[20] Ibid, 294
[21] James Strong, Greek Dictionary of the New Testament, (McLean, Virginia:nd), 17
[22] www.e Sword.net in Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries
[23] Ana Budi Kuswandani, 10 Langkah Meningkatkan Kecerdasan Emosional Spiritual, (Jakarta:PT Pustaka Delapratosa, 2003), 6
[24] Emanuel Martasudjita, Spritualits Hidup dalam Konpendium tentang Prodiakon, (Yogyakarta: Kanisius, 2010), 27
[25] Alister E. McGrath, Spritualitas Kristen Sebuah Introduksi, (Medan: Bina Media Perintis, 2007), 2
[26] S. S. Smalley, Roh dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 2 M-Z, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2005), 317
[27] Ebenhaizer I. Nuban Timo, Aku Memahami yang Aku Imani (Memahami Allah Tritunggal, Roh Kudus, dan Karunia-karunia Roh Secara Bertanggung Jawab), (Jakarta: BPK-GM, 2009) , 23
[28] Irish V. Cully, Education for Spiritual Growth (San Francisco: Harper and Row Publishers, 1984), 174.
[29] Irish V. Cully, Education for Spiritual Growth, 35.
[30] Irish V. Cully, Education for Spiritual Growth, 38
[31] Irish V. Cully, Education for Spiritual Growth, 39
[32] Irish V. Cully, Education for Spiritual Growth, 43
[33] Irish V.Cully, Education for Spiritual Growth, 38
[34] Judith K. TenElshof, and James L. Furrow, ―The Role of Secure Attachment In Predicting Spiritual Maturity of Students at a Conservative Seminary‖dalam Journal of Psychology & Theology volume 28 (Summer 2000): 99-108.
[35] John C.Maxwell, Mengembangkan Kepemimpinan di sekeliling Anda. (Professional Books, 1997),4
[36] Yakob Tomatala, Kepemimpinan Kristen:Apakah itu?,”x http://www.lead.sabda.org/?title-menemukan_pemimpin_kompeten Diakses pada 8 Oktober 2020 Pukul 15.00
[37] William L.Holladay, A Concise Hebrew and Aramaic Lexion of the Old Testament.s.v “qadosy” (Grand rapids, Michigan: Wm.B.Eerdmans, 1971); Joseph Henry Thayer, The New Thayer’s Greek-English Lexicon of the New testament.s.v. “hagio” Peabody, Massachusetts, 1981); Ensiklopedia Alkitab Masa kini, s.v. “kudus” (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,1992),76
[38] Petrus Octavianus, Manajemen dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah (Malang:YPPII dan Gandum mas, 1986),103
[39] Gen. Ronald R. Fogleman, “Kaitan Integritas dan Kepemimpinan,” http://www.lead.sabda.org/?title-kaitan_dan_kepemimpinan diakses pada 9 Oktober 2020 pukul 14:00
[40] A.B. Susanto, Meneladani Jejak Yesus Sebagai Pemimpin (Jakarta: PT Grasindo, 1997)
[41] Fred Smith, Memimpin Dengan Integritas (JakartaL YPI Immanuel, 2002),163
[42] Robert L.Peterson dan Alexander Strauch, Kepemimpinan Agape (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1995), 113
[43] James C. Wilhoit,Christian Education and the Search for Meaning (Grand Rapids: Baker Books, 1991), 57
[44] James C. Wilhoit,Christian Education and the Search for Meaning, 57.
[45] James C. Wilhoit,Christian Education and the Search for Meaning, 68
[46] Francis A. Schaeffer, dalam The God Who Is There (InterVarsity Press, 1998), IV; dan Karya Scaeffer yang lain dalam He Is There He Is Not Silent (Wheaton, Ill., Tyndale House Publishers, 1972), 148; dan selanjutnya dalam karya klasiknya yang berjudul Escape from Reason (InterVarsity, 1968), 87.
[47] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini jilid 1, (Jakrta: Yayasan komunikasi Bina Kasih, 1992) ,360
[48] Joseph Tong, Keunggulan Anugerah Mutlak, (Bandung: STT Bandung & IOTA Press, 2006),114
[49] Joseph Tong, Keunggulan Anugerah Mutlak, 111-112
[50] Joseph Tong, Keunggulan Anugerah Mutlak, 115
[51] Eli Wilson Ipaq, “Kepemimpinan Para Rasul Dan Relevansinya Bagi Pemimpin Gereja Di Era Revolusi Industri 4 . 0” 1, no. December (2019): 112–122.
[52] Fredy Simanjuntak, “Kecerdasan Emosi Pemimpin Sebagai Tolok Ukur Gereja Yang Sehat,” Real Didache 2, no. 1 (2017): 29–53.
[53] Rukku and Ronda, “Pemimpin Yang Memiliki Integritas Menurut 2 Timotius Pasal 2.”
[54] Arcadius Benawa, “Dimensi Spiritual Dalam Kepemimpinan,” Humaniora 5, no. 2 (2014): 872.
[55] Thomas Ulun Ismoyo, “Menuju Pertumbuhan Organisasi Berkelanjutan,” no. 45 (n.d.):
[56] Banawiratma, Pelayanan Spritualitas 7 Pelayanan (Yogyakarta:Taman Pustakan Kristen: 2012),15
[57] Banawiratma, Pelayanan Spritualitas 7 Pelayanan,16
[58] Jean-Louis Michon, “Praktek Spiritual Tasawuf” dalam Seyyed Hossein Nasr (ed.), Ensiklopedi...363.
[59] Anand Krishna, Bhagavad Gila Bagi Orang Modern, (Jakarta; Gramedia. 2002),65
[60] Tjiptadinata Effendi, Meditasi; Jalan Meningkatkan Kehidupan Anda. (Jakarta: Flex Media Koputindo, 2002), 14
[61] Hazrat Inayat Khan, Kehidupan Spiritual, (Yogyakarta: Pustaka Sufi),36
[62] M.W. Shafwan, Wacana Spiritual Timur dan Barat, (Penerbit Qalam, Yogyakarta, 2000),7
[63] Al-qur’an dan terjemahnya, Departemen Agama Republik Indonesia,1059.
[64] Drs. H. Jalaluddin, Psikologi Agama, (Edisi Revisi, Raja Gravindo Persada, Jakarta, 2004),54-56
[65] Drs. H. Jalaluddin, Psikologi Agama,59-62
[66] Drs. H. Jalaluddin, Psikologi Agama, 184
[67] https://p2tel.or.id/2019/09/integritas-menurut-hindu/amp. Diakses pada 1 Oktober 2020 Pukul 13:00
[68] Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf (Jakarta: Amzah, 2005),268
[69] Samsul Munir Amin, Akhlak Tasawuf (jakarta: Amzah, 2012),174
[70] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia (Jakarta: Hidakarya Agung, 1990),497
[71] Revay Siregar, Tasawuf dari Sufi Klasik ke Neo-Sufisme (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), 118.
[72] Ibid,118
[73] Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf (Jakarta: Amzah, 2005),58
[74] Hamzah Tualeka. Dkk, Akhlak Tasawuf (Surabaya:IAIN Sunan Ampel Press, 2012), 262
[75] Netra, Anak Agung Gde Oka, Tuntunan Dasar Agama Hindu, (Jakarta: Hanoman Sakti, 1997),20
[76] Sugana, I Made, Mistisime Yoga:Polarisasi Gerakan Spritualitas Dalam Masyarakat Lintas Agama, Jurnal Pangkaja vol 14 No:2,2012, 169
[77] Schimmel, Annemarie, Mistical Dimension of Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus,1986),2
[78] Simuh, Tasawuf dan Perkembangan Dalam Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1995), 103
[79] Sugana, I Made, Mistisime Yoga:Polarisasi Gerakan Spritualitas Dalam Masyarakat Lintas Agama,170
[80] Sivananda, Sri Swarmi, All About Hinduisme, (Surabaya:Paramita,1993), 127
[81] Sen Sendjaya, “Kejatuhan Pemimpin Gereja dan cara Pencegahannya” (Yogyakrta: ANDI, 2006),350
[82] George Bloomer, Penyalahgunaan Otoritas Rohani (jakarta: Matanoia, 2004),7
[83] Alan E.Nelson, Sprituality and Leadership (Bandung: Kalam Hidup, 2007), 27
[84] Alan E.Nelson, Sprituality and Leadership,69
[85] Charles R.Swindoll, Kepemimpinan Krisiten yang berhasil (Surabaya: Yakin),9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar