Pemikiran Hebat Desiderius Erasmus
(Suatu Tinjauan Historis Teologis Terhadap Pemikiran Hebat Desiderius Erasmus dan Refleksinya Bagi Pendeta Masa Kini)
I. Latar Belakang
Seorang filsuf mengatakan bahwa: “Hidup terlalu singkat untuk berpikir kecil dan berbuat hal yang kecil-kecil” Ada juga yang mengatakan bahwa pemikiran hebat mampu mengubah dunia. Pemikiran hebat hanya akan dimiliki orang yang mau berpikir dan memiliki simpati dan empati terhadap lingkungannya. Para reformator gereja muncul dari keadaan-keadaan yang tidak sesuai atau keadaan yang tidak benar di sekitar mereka. Terjadinya pembaharuan dalam Gereja disebabkan adanya ajaran atau hal-hal yang sudah tidak lagi sesuai dengan ketetapan, atau kebenaran. Penyelewengan pelaksanaan, tindakan atau kegiatan di dalam Gereja yang sudah tidak benar. Sehingga orang-orang yang menyadari dan memiliki keingintahuan serta keterpanggilan untuk tidak ikut serta dalam kesalahan tersebut akan mengambil sebuah tindakan untuk menunjukkan atau menyatakan kebenaran. Sebagaimana dalam sejarah Gereja, tidak terlepas dari gerakan-gerakan reformasi dari berbagai kalangan karena ditemukannya ajaran di dalam gereja yang telah menyimpang dan sudah tidak sesuai dengan yang dituliskan dalam Alkitab sebagai sumber utama dalam pengajaran Kristen. Jika diperhatikan gerakan reformasi yang muncul ada yang akhirnya memisahkan dengan Gereja tersebut dikarenakan Gereja sudah tidak sesuai fungsinya serta pemanfaatan yang menyiksa jemaat, sehingga reformator tersebut memutuskan keluar dari Gereja tersebut. Namun ada juga yang di dalam pembaharuannya memutuskan untuk tetap bertahan dalam gereja tersebut dan melakukan pembaharuan dari dalam dengan lemah lembut, menghindari pertikaian, namun tetap mengupayakan pembaharuan tanpa harus keluar dari Gereja tersebut. Bagaimana keadaan Gereja saat ini, jika kita perhatikan dengan seksama, munculnya aliran-aliran baru dalam Gereja Protestan menunjukkan bahwa gerakan reformasi yang terjadi dominan bersifat radikal, memilih keluar dari sebuah Gereja dan membuat gereja sesuai dengan pahamnya sendiri, sehingga jika dilihat saat ini begitu banyak gereja-gereja yang berdiri dengan ajaran-ajarannya masing-masing. Dari para reformator ini pasti memiliki pemikiran- pemikiran hebat yang akhirnya menghasilkan sebuah perubahan dalam gerakan reformasinya. Bagaisamana pengaruh dari pemikiran hebat para reformator ini sehingga menhasilkan sebuah reformasi bagi gereja. Akan ditinjau secara historis teologis dan dijaikan sebuah refleksi bagi para pendeta saat ini, dalam penerapan pelayanan para pendeta saat ini. Sehingga penyeminar tertarik mengangkat judul “Pemikiran Hebat Desiserius Erasmus” dengan subjudul Suatu Tinjauan Historis Teologis Terhadap Pemikiran Hebat Desiderius Erasmus dan Refleksinya Bagi Pendeta Masa Kini)
II. Pembahasan
2.1. Pengertian Pemikiran Hebat dan Reformasi
Pemikiran dalam KBBI dijelaskan sebagai sesuatu yang diterima seseorang dan dipakai sebagai pedoman sebagaimana diterima dari masyarakat sekeliling. Hebat dalam KBBI dipahami sebagai luar biasa, dahsyat, bagus, aman sangat dsb.[1] Reformasi berasal dari kata “Reformation” dengan kata dasa “Reform” yang memiliki arti perbaikan, pembaharuan, memperbaharui dan menjadi lebih baik. Secara umum reformasi diartikan sebagai melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dengan cara menata ulang hal-hal yang telah menyimpang dan tidak sesuai lagi dengan kondisi dan struktur ketatanegaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.[2] Dalam KBBI reformasi juga diartikan sebagai perubahan radikal untuk perbaikan (bidang social, politik dan agama) di dalam suatu masyarakat atau Negara.[3]Atau pembentukan kembali tatanan yang tadinya rusak karena berbagai –bagai hal.[4] Dari pengertian ini penyeminar menyimpulkan bahwa pemikiran hebat adalah sesuatu yang diterima atau dipakai seseorang seperti pemahaman yang sangat luar biasa atau bagus. Dimana pemikiran hebat ini sehingga memunculkan adanya reformasi. Pemikiran hebat menjadi suatu upaya untuk menjelaskan apa yang seseorang rasakan dan ingin lakukan.
2.2. Biografi Desiderius Erasmus
Erasmus dilahirkan 27 Oktober 1466. Ia adalah anak di luar ikatan pernikahan antara Gerard dan Margaret. Ayahnya ditahbiskan menjadi imam setelah Erasmus dilahirkan. Pendidikan rendahnya dimulai pada sebuah sekolah Latin di Utrecht dan kemudian di Deventer yang di asuh oleh The Brethrehn Common of life (saudara-saudara hidup rukun). Pada Tahun 1486 Erasmus dimasukkan ke dalam biara Agustinus oleh walinya tanpa kehendak Erasmus sendiri, berhubung ibunya telah meninggal. Ia tinggal dalam biara ini selama 5 tahun (1486-1491). Selama masa ini ia menulis sejumlah puisi dan karangan prosa lainnya. Dalam tulisan-tulisannya ini sudah tampak kritiknya terhadap keburukan-keburukan gereja dan keburukan hidup para biarawan. Mungkin keburukan tersebut diihatnya sendiri dalam kehidupan biaranya. Kemudian Erasmus keluar dari biara pada tahun 1492 ditahbiskan menjadi imam, suatu jabatan yang kurang disukainya, oleh Uskup Cambray. Memang seumur hidupnya Erasmus tetap dalam jabatan imam tersebut, namun ia tidak pernah menjadi imam jemaat dan ia juga tidak pernah kawin. Ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada model kehidupan Humanisme. Atas bantuan uskup Cambray, Erasmus meneruskan studinya pada Universitas Paris, tahun 1495. Seterusnya ia hidup sebagai humanis sejati. Tahun 1529 Erasmus meninggalkan Basel dan berpindah ke Freiburg tempat ia tinggal enam tahun lamanya. Ia ingin kembali ke negeri nya sendiri dan dalam perjalanan kembali ke Belanda ia masih singgah di Basel untuk mengawasi percetakan bukunya mengenai Origenes pada percetakan milik Johanis Froben. Di sini Erasmus jatuh sakit dan meninggal dunia di rumah Froben. Kata-katanya yang terkhir adalah “O jesu , Misericordia; Domine librame; Domine fac mie; Domine Miserere mei” (O Yesus, kasihanilah aku; Tuhan selamatkanlah aku; Tuhan, semuanya telah berakhir; Tuhan kasihanilah aku.)[5]Erasmus adalah seorang akademisi klasika dan menulis dengan gaya Latin murni. Di kalangan humanis, ia dijuluki "Pangeran Para Humanis", dan disebut "mahkota kemuliaan para humanis Kristen".[6] Desiderius dari Rotterdam sebagai Guru besar di Basel, seorang sarjana yang berperasaan halus.[7]
2.3.Latar Belakang Reformasi Desiderius Erasmus
Keinginan Erasmus untuk mengubah sistem gereja Katolik dilandasi rasa prihatinnya melihat praktik penjualan surat pengampunan dosa. Menurutnya, gereja hanya memanfaatkan kemiskinan wawasan yang terstruktur di kalangan umat. Erasmus berpendapat gereja tidak seharusnya memonopoli isi Alkitab dan segala bentuk kesusastraan klasik. Di sebagian wilayah Eropa, buku-bukunya dibakar dan sempat masuk ke dalam daftar bacaan terlarang. Erasmus tidak berpangku tangan, ia justru semakin sengit melawan. Melalui tulisan tahun 1494/1495 yang bertajuk Antibarbari, Erasmus mengemukakan kekuatan edukasi untuk memperbaiki sifat manusia dan karakteristik mereka yang disebutnya masih memiliki sifat barbar.David L. Larsen dalam The Company of the Preachers menyebut tulisan Erasmus itu punya peran besar membentuk pemikiran Martin Luther. Tokoh Reformasi Gereja Protestan itu disebutkan banyak membaca karya Erasmus sebelum akhirnya menerbitkan karya terpentingnya yang berjudul "Ninety-five Theses" pada 1517.[8] Desiderius yang beridiri di puncak budaya dan pembelajaran, dalam bukunya tahuan 1509 yang membahas tentang kebodohan, Erasmus melancarkan serangan mendadak terhadap kebodohan utama dan tindakan tidak bermoral yang mencolok dari para pemuka agama.[9]
Pemikiran Desiderius Erasmus tentang “Ad Fontes” tidak lahir dari dirinya sendiri tetapi dalam interaksinya dengan beberapa orang tokoh humanisme Abad pertengahan. Gerakan humanisme yang berkembang pada abad ke-15 tersebut memiliki kerinduan mengembangkan pendidikan, budaya dan harkat manusia. Mereka memiliki motto “ Ad Fontes” atau kembali ke sumber-sumber. Pengajaran Humanisme Renaissance tersebut sangat memikat hati Desiderius Erasmus sehingga dia menjadi salah seorang pengikutnya dan mempengaruhi segala pelayanannya.[10] Humanisme Erasmus adalah campuran pandangan-pandangan Yunani Romawi dengan ajaran Injil.Ia boleh disebut “bapa aliran kekristenan yang serba bebas (liberal). Artinya pada pendapat Erasmus, Injil adalah suatu ajaran yang indah tentang kebajikan manusia, ajaran mana teristimewa terdapat khotbah Yesus di bukit. Yesus ialah kegenapan yang sesempurna-sesempurnanya dari segala perkara yang baik dan benar, yang sudah terdapat juga dalam agama-agama kafir. Sama seperti orang apologet dulu, ia berpendapat bahwa ajaran filsafat kafir tentang logos, hanya disempurnakan saja oleh Injil dan Theologia Kristen. Dengan demikian segala pandangan, takhyul dan adat Gereja dari zaman itu sangat di kritik dan diolok-olok oleh Erasmus, tetapi ia tak sampai turut dalam Pembaruan Gereja, sebab ia membenci segala revolusi dan tindakan radikal. Pada hematnya, sebaliknya Gereja harus makin dipengaruhi oleh semangat Humanis, supaya lama-kelamaan Gereja dapat berbalik pada kesuciannya yang semula.[11]Kaum Humanis ingin mengatasi suasana Abad Pertengahan itu dengan kembali ke ajaran Gereja Lama. Tokohnya yang utama ialah Erasmus, dari Negeri Belanda (1469-1536). Aliran Humanime sudah muncul pada abad yang ke-14. Penganut-penganutnya ingin supaya orang-orang Kristen mencari kebaikan, bukan dengan bermacam-macam upacara dan latihan lahiriah, melainkan dengan mempelajari Alkitab dan dengan mengikuti teladan Kristus dalam kerendahan hati dan pelayanan kepada sesama manusia. Tetapi disamping itu kaum humanis mempunyai cita-cita yang khas: yaitu supaya Gereja kembali ke suasana Gereja Lama. Abad pertengahan, menurut mereka hanyalah merupakan abad kegelapan. Dalam gereja Lama sinar Injil masih bercahaya dengan lebih terang. Anggota-anggota jemaat (demikian pendapat kaum humanis) pada waktu itu belum terikat pada berbagai-bagai takhyul dan pada segala upacara yang, menurut gereja Abad Pertengahan, mendatangkan anugerah. Untuk mendukung ajarannya Erasmus menerbitkan karya-karya Irenaeus , Origenes, Ambrosius dan Augustinus dan lain-lain. Tapi usahanya yang utama ialah menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Asli, yaitu bahasa Yunani (1516). Tokoh-tokoh Humanisme yang lain menghidupkan kembali studi bahasa asli Perjanjian Lama, yaitu bahasa Ibrani. Selama Abad pertengahan kaum teolog pun menempuh ilmu Alkitab Perjanjian Lama berdasarkan terjemahan (dalam bahasa Latin) saja. Berkat usaha-usaha Erasmus, orang dapat kembali ke sumber-sumber sendiri. Lutherlah yang akan memanfaatkan kesempatan itu.[12]Kelompok-kelompok Humanisme Kristen yang menyibukkan diri dengan mempelajari kitab suci, dan karya-karya para bapak Gereja.mereka melakukan peribadatan dengan rasa keagaman yang mendalam, mempersatukan diri dalam dalam berbagai bentuk devotion moderna. Mereka menemukan dalam diri Erasmus seorang teman yang paling cocok untuk menempuh ziarah kerohanian secara bersama-sama.[13]
2.4.Pemikiran Hebat Desiderius Erasmus
Penelitian secara historis menunjukkan bahwa terdapat beberapa peristiwa yang terjadi sebelum Reformasi Abad Pertengahan, yang kemudian sangat bermanfaat dalam menopang Reformasi tersebut. salah satu diantaranya ialah munculnya Humanisme Abad Pertengahan yang mempunyai pemikiran, bahwa ad fontes yaitu kembali kepada sumber-sumber, adalah motto yang berlaku umum untuk budaya, seni dan tulisan-tulisan para cendekiawan yang terkait dengan filsafat Yunani dan Romawi Kuno, yang secara khusus dalam bahasa. Namun, namun oleh salah seorang penganut Humanisme renaisans yaitu Desiderius Erasmus dari Rotterdam, Belanda, mengaplikasikan pemikiran ad fontes tersebut dalam kekristenan, yaitu” kembali kepada Alkitab” yaitu: Perjanjian Lama berbahasa Ibrani dan Perjanjian Baru berbahasa Yunani.[14] Hasil karya Erasmus tersebut telah sangat membantu para reformator abad pertengan.Ditambah lagi dengan tulisan-tulisannya yang diakui sebagai gerakan reformasi yang bergerak dalam Gereja Roma Katolik. Mengamati kondisi tersebut muncul pepatah yang menyatakan: Erasmus menelorkannya Luther menetaskannya”. Seorang wakil kepausan dari Jerman menulis surat ke Roma mengatakan bahwa sindiran-sindiran Erasmus lebih merugikan kepausan daripada dalil-dalil Luther. Dengan demikian nyata bahwa karya Erasmus sangat menolong dalam perjalanan Reformasi Abad Pertengahan bahkan Erasmus dinyatakan sebagai tokoh reformasi dalam Internal gereja Roma Katholik.[15] Erasmus mengatakan:
“ Saya berharap Alkitab bisa diterjemahkan ke dalam semua bahasa…, saya merindukan buruh tani bisa menyanyikannya saat mencangkul, penenun menyenandungkannya saat bekerja, dan musafir meleburkan kelelahan perjalanannya dengan kisah-kisah di dalamnya.”
Erasmus menggali pengetahuan terselubung dalam nas Alkitab berbahasa Ibrani dan Yunani, dengan harapan bisa mengkritisi kembali pemikiran teologi dengan harapan bisa mengkritisi kembali pemikiran teologi dengan sumber asli tersebut. Erasmus melihat dan mengkritik keburukan-keburukan yang ada dalam gereja serta menasihati paus supaya mengambil tindakan-tindakan pembaruan gereja. Erasmus ingin mengadakan pembaruan gereja dengan cara yang lemah lembut, bukan dengan jalan kekerasan. Ia ingin memperbarui gereja dan tetap tinggal di dalam gereja itu. Karya Erasmus tersebut menjadi jembatan harapan-harapan Eropa yang mendambakan reformasi kehidupan. Di akhir Abad Pertengahan terjadi kegelisahan spiritual yang luas di Eropa membuat para raja ingin menguasai gereja dan tanahnya. Para penguasa terus menantang otoritas di Roma se-iring semakin besarnya kekuatan mereka sebagai nation statetunggal. Walaupun tujuan mereka tidak banyak berhubungan dengan masalah reformasi gereja, namun tindakan mereka mendukung reformasi mengakibatkan semakin melemahnya kekuasaan paus.[16]
Tulisan-tulisan hasil pemikiran hebat dari seorang Desiderius Erasmus tidak hanya mendorong orang Kristen untuk menerjemahkan dan mempelajari Kitab Suci dan tulisan-Bapa-bapa Gereja, melainkan juga membangkitkan semangat warga gereja (kaum awam) untuk ikut ambil bagian dalam gerakan adfontes tersebut. dengan kata lain, peluang untuk mendalami sumber-sumber ajaran iman kristiani itu bukan hanya terbuka bagi para rohaniawan atau biarawan, melainkan juga bagi kaum awam. Dengan demikian vitalitas masa depan kekristenan terletak pada kaum awam, bukan rohaniawan. Dengan pandangannya itu Erasmus sedang meletakkan landasan bagi program besar restitution Christianism (pemulihan kekristenan).[17]
Erasmus van Rotterdam mengedapankan anggapan yang menarik. Kesatuan religious dapat dipulihkan kembali dengan jalan kesepakatan tentang beberapa hal substansial. Bagi Erasmus hal-hal yag dapat di diskusikan kembali, misalnya primat paus, asal-usul ilahi pengakuan dosa, dsb. Dalam konteks ini yang dipersoalkan adalah aspek moral, bukan aspek dogma.Anggapan bahwa Kristianisme seyogyanya lebih menitik-beratkan pada kejernihan kualitas hidup daripada ketetapan (rumusan) doktrin.[18] Erasmus mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengadakan pembaruan gereja adalah melalui kesarjanaan yang baik: melalui penyelidikan Akitab dalam bahasa Ibrani dan Yunani dan kembali mempelajari Bapa-bapa Gereja purba. Ia pengarang satire yang piawai. Seorang pengarang modern pernah mengatakan: “hanya kalau humor menerangi otaknya, maka pemikirannya menjadi sungguh dalam. “sindirannya ditujukan pada praktek-praktek yang tidak beres di gereja zaman itu, yakni kehidupan keji paus dan banyak rohaniawan, keadaan biara-biara, dan ketidakjelasan teologi Skolastik Abad Pertengahan. Erasmus sendiri menghendaki pembaruan gereja secara damai. Erasmus bukannya mendukung reformasi Luther tanpa kritik.Ia menyetujui keinginan Luther akan pembaruan, tetapi ia tidak menyetujui tindakan Luther yang memutuskan hubungan dengan kepausan dan memecah belah gereja.[19] Erasmus berpendapat gereja tidak seharusnya memonopoli isi Alkitab dan segala bentuk kesusastraan klasik. Ia kemudian mengusulkan agar gereja Katolik melakukan perubahan mendasar dengan mulai menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa rakyat.“Saya dengan keras menentang mereka yang melarang orang biasa membaca Kitab Suci atau yang melarang menerjemahkannya ke dalam bahasa sehari-hari,” tulis Erasmus dalam bagian bukunya.[20]Erasmus juga mengatakan "Saya membenci pertikaian karena bertentangan dengan ajaran-ajaran Kristus dan bertentangan dengan kecondongan kodrat yang tersembunyi.Saya ragu kalau salah satu pihak dalam perselisihan dapat ditekan tanpa kerugian besar."[21]Bagaimanapun, ia mendukung gagasan bahwa kaum awam seharusnya dapat mengakses Alkitab.[22]
Pada pendapat Erasmus, Injil adalah sesuatu ajaran yang indah tentang kebajikan manusia, ajaran yang indah tentang kebajikan manusia. Ajaran mana teristimewa terdapat kotbah Yesus di Bukit, Yesus ialah kegenapan yang sesempurna-sempurnanya dari segala perkara yang baik dan benar, yang sudah terdapat juga dalam agama-agama kafir.[23]
Pemikiran Hebat Desiderius Erasmus juga terlihat dari karya-karya yang dihasilkan olehnya. Ia mengatakan, Agama sejatinya dengan dengan urusan kemanusiaan, sehingga dari semua karya-karyanya jelas terlihat pengaruh Humanisme yang ditekankan olehnya. Tidak mengetahui apa-apa adalah sumber kehidupan yang bahagia merupakan suatu pernyataan Desiderius Erasmus. Tulisannya Enchiridion Militis Christiani (handbook of the Christian Soldier). Karya yang diterbitkan pertama kali dalam tahun 1503 dan kemudian di cetak ulang tahun 1509, pengaruhnya yang nyata baru muncul dari cetakannya yang ketiga tahun 1515. Mulai dari saat itu dan seterusnya, buku tersebut menjadi karya yang sangat disukai banyak orang. Daya tariknya adalah kepada orang awam (pria dan wanita) yang berpendidikan, yang dianggap Erasmus sebagai sumber yang paling penting yang dimiliki Gereja. popularitasnya yang luar biaa dalam tahun-tahun sete;ah 1515 menyatakan bahwa suatu perubahan radikal dalam persepsi diri dari orang awam telah terjadi sebagai akibat dari tulisan Erasmus, dan hampir tidak dapat diabaikan bahwa gemuruh pembaharuan di Zurich dan Wittenberg dimulai segera setelah Euchiridion menjadi buku yang paling laris. Euchiridion memunculkan ide yang menarik hat, yakni gereja masa itu dapat dibarui dengan cara berbalik kembali secara bersama-sama terhadap tulisan-tulisan dari Bapa-bapa Gereja dan Kitab Suci. Pembacaan yang teratur dari kitab Suci dikemukakan sebagai kunci untuk kesalehan orang awam yang baru. Diatas dasar itulah gereja dapat dibarui dan diperbaiki. Erasmus memahami karyanya sebagai pembimbing untuk orang awam ke dalam Kitab Suci; Dia memberikan suatu penjelasan yang sederhana tetapi ilmiah tentang filsafat dari Kristus. Filsafat disini berarti benar-benar suatu bentuk moralitas praktis, ketimbang suatu filsafat akademis; Perjanjian Baru memusatkan perhatian pada pengetahuan akan yang baik-dan jahat, agar para pembacanya dapat menjauhkan diri dari yang jahat dan mencintai yang baik. Perjanjian Baru adalah lex Christi “Hukum dari Kristus” yang memanggil orang-orang Kristen untuk menaatinya. Kristus adalah contoh bagi orang-orang Kristen untuk diteladani. Namun Erasmus tidak memahami iman Kristen sebagai sekadar ketaatan yang bersifat luaran (ekternal) pada suatu jenis moralitas. Penekanan humanis atas kehidupan batin agama yang menjadi cirinya membawa Erasmus pada pernyataan bahwa membaca Kitab Suci adalah kegiatan yang mentransformasikan pembacanya, yang memberi kepada mereka suatu motivasi baru untuk mengasihi Allah dan sesamanya manusia.
Erasmus memahami akan vitalitas masa depan dari kekristenan yang terletak pada kaum awam, buka rohaniawan. Rohaniawan dilihat sebagai pendidik, yang fungsinya adalah mengarahkan kaum awam agar mencapai pengertian pada tingkat yang sam dengan mereka sendiri. tidak ada tempat bagi sikap-sikap yang memberikan status yang lebih tinggi kepada rohaniawan daripada kaum awam. Erasmus menekankan pemahaman akan kekristenan yang tidak merujuk kepada Gereja- ibadahnya, imamnya atau lembaganya. Menurut Erasmus orang tidak perlu mengaku dosa kepada seorang imam, sebaliknya seseorang dapat secara langsung mengaku dosanya kepada Allah. Agama adalah masalah batin dan pikiran seseorang. Agama berpusat ke dalam (diri manusia). Erasmus dengan tajam menghindari rujukan apapun pada sakramen-sakramen dalam penjelasannya mengenai kehidupan Kristiani. Ia juga mengabaikan pandangan bahwa kehidupan saleh dengan kata lain kehidupan seorang biarawan biarawati adalah bentuk tertinggi dari kehidupan kristiani: orang awam yang membaca kitab suci adalah sama setianya pada panggilannya dengan seorang biarawan. Ciri revolusioner dari karya Erasmus, Enchiridion itu, terletak pada pendapat barunya yang berani bahwa pengakuan akan panggilan Kristen dari orang awam merupakan kunci bagi kebangkitan kembali gereja. kewibawaan rohaniawan dan gerejawi diabaikan. Kitab suci selayaknya dan harus dapaat diperoleh semua orang, supaya semuanya dapat kembali ke sumber asli (Ad FOntes) untuk minum dari air segar dan hidup dari iman Kristen, daripada pergi ke kolam yang mampet dari agama Abad Pertengahan Akhir.[24]
2.5.Karya Desiderius Erasmus
Erasmus adalah seorang tokoh yang berjasa bagi gerakan reformasi gereja yang dipimpin oleh Luther.Luther mempergunakan edisi Perjanjian Baru berbahasa Yunani yang dikeluarkan oleh Erasmus. Erasmus juga mengkritik keburukan-keburukan yang ada dalam Gereja dan menasehati Paus supaya mengambil tindakan-tindakan pembaruan Gereja dengan cara yang lemah lembut, bukan dengan jalan kekerasan. Ia mau memperbarui gereja dengan tetap tinggal di dalam gereja itu.[25]
· Laus Stultitiae (Pujian pada Kebodohan) ditulis pada tahu 1509 di rumah temannya Thomas More, yang dipersembahkan kepadanya. Karya ini berisi sindiran yang cemerlang terhadap para rahib dan teolog. Dari seluruh karya Erasmus, karya inilah yang paling banyak dibaca.
· Pada tahun 1516 Erasmus menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani dengan terjemahan bahasa Latin yang diusahakannya sendiri. inilah pertama kali Perjanjian Baru dicetak dalam bahasan Yunani. Maksud Erasmus adalah agar Alkitab tersedia bagi semua orang. “Demi Allah aku ingin menyanyikan nas dari Alkitab dan penenun menyenandungkannya sambil menennun. “Perjanjian Baru bahasa yunani ini menyebabkan banyak orang berpaling pada aliran Protestan”
· Pada tahun 1517 muncullah suatu karya yang tak mencantumkan nama penulisnya. Buku yang berjudul Julius Exclusus e Coelis (Yulius di tolak di Surga) menceritakan pengalamn Paus Yulius II, yang mempunyai nama sangat buruk. Ia muncul di depan gerbang sorga menuntut masuk, tetapi ditolak. Pendapat umum adalah bahwa Erasmus menulisnya, tetapi ia menyangkal. Kemungkinan besar bahwa ia menulisnya untuk kalangan terbatas, lalu ia panic ketika tulisan itu diterbitkan tanpa seizinnya.
· Erasmus mengawasi penerbitan banyak edisi buah tangan Bapa-bapa Gereja Purba. Ini adalah sebagian dari usahanya mengadakan pembaruan gereja, yakni kembali pada Alkitab dan Bapa-Bapa Gereja.
· Pada tahun 1524 Erasmus menulis de Libero Arbitrio (Kebebasan Kehendak), suatu serangan terhadap doktrin Luther, bahwa kehendak orang berdosa terbelenggu dan tidak mampu berbuat baik.[26]
Erasmus adalah teolog brilian dan pengarang banyak buku terkenal karena kritikan cerdas, satiris dan cermat terhadap buruknya kehidupan gereja.Dua sumbangan utamanya terhadap reformasi adalah edisi kritiknya dalam Perjanjian Baru bahasa Yunani dan penyingkapannya kepada kejatuhan moral dari semua tingkatan biarawan.Edisi Perjanjian Barunya dalam bahasa Yunani adalah karya terbesar yang diterbitkan tahun 1516.Dua edisi pertama kira-kira 3.300 salinan di cetak.Edisi Erasmus membentuk rumusan dasar dari terjemahan Perjanjian Baru untuk Luther ke dalam bahasa Jerman dan Tyndale ke dalam bahasa Inggris.[27]
Secara etimologi kata “Ad Fontes” berasal dari bahasa Latin : “Ad” (to) + “Fontes” kata benda accusative plural dari kata “fons” artinya fountain, Spring , Source, sedangkan arti sumber itu sendiri adalah pancaran air atau mata air.[28]Motto tersebut adalah motto kelompok Humanis Renaissance yang menharapkan penelitian kembali hendaknya diadakan terhadap sumber-sumber klasik/ tulisan-tulisan klasik.Kegiatan ini semula bersifat umum. Pemikiran “ad fontes” tersebut kemudia diaplikasikan dalam kekristenan menjadi adanya penelitian sumber-sumber primer yaitu Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani dan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Tony Lane menyatakan bahwa kata kunci pada waktu itu ialah “kembali pada sumber-sumber”, maksudnya ialah kembali kepada Alkitab bahasa Ibrani dan bahasa Yunani dan tulisan Bapa-bapa Gereja.[29]Penelitian tersebut dilakukan oleh Desiderius Erasmus sepanjang kehidupannya.Dalam reformasi Protestan motto tersebut menjadi “kembali kepada Alkitab sebagai sumber utama iman Kristen”.[30] Dengan demikian tindakan “Ad fontes” terhadap Alkitab berbahasa Ibrani (Perjanjian Lama) dan Yunani (Perjanjian Baru) menjadi alat di tangan Tuhan, untuk menolong memperbaharui gereja, bukan saja secara permukaan/kulit atau sekedar proklamasi karena berkaitan dengan menemukan naskah yang paling asli yang menjadi dasar bagi reformasi dalam Gereja baik secara doktrin maupun secara praxis.[31] Dalam sebuah sumber internet juga ada disebutkan berbagai karya dari Desiderius sekitar 20-an lebih karya yang dikeluarkan Desiderius dalam reformasinya.
2.6.Erasmus Dan Luther
Hingga tahun 1524 Erasmus bersimpati kepada gerakan reformasi Luther, namun sejak tahun itu hingga meninggalnya ia menjadi konservatif-reaksioner. Dalam surat pada tahun 1519 kepada Uskup Agung Mainz, Albrecht, ia menulis, antara lain, “Luther sama sekali asing bagi saya dan saya tidak mempunyai waktu untuk membaca buku-bukunya kecuali membaca sepintas lalu beberapa halaman. Luther telah menulis surat kepada saya dengan nada kekristenan yang sejati an sebagaimana saya pikir. Saya telah membalasnya sambil menasihatkan agar jangan menulis sesuatu melawan kepausan atau menghidupkan sikap intoleran, tetapi mengajarkan Injil yang keluar dari hati nurani yang murni. Demikian pula Erasmus menulis kepada Paus Leo X, antara lain, “Saya tidak mempunyai ikatan persahabatan dengan Luther, saya juga tidak pernah membaca buku-bukunya kecuali 10 atau 12 halaman, tetapi itu pun sepintas lalu saja. Dari apa yang saya lihat, dia adalah seorang yang cakap menguraikan Kitab Suci seperti Bapa-bapa Gereja, suatu karya yang sangat dibutuhkan zaman ini. Menurut hemat saya, saya senang dengan kebaikannya, bukan dengan keburukannya. Saya telah menulis banyak surat kepada sahabat-sahabatku sambil memohon supaya mereka menasihati orang itu (Luther) untuk melaksanakan kelemah lembutan kekristenan dalam surat-suratnya dan tidak merusak perdamaian gereja.
Pada tahun 1524 Erasmus menyatakan perlawanan terbuka terhadap Luther dengan menerbitkan tulisannya, Diatribe de Libero Arbitrio (Uraian tentang Kehendak Bebas).Erasmus berpendapat bahwa sekalipun manusia telah jatuh ke dalam dosa, manusia tetap memiliki kehendak yang bebas.Kehendak bebas ini tidak berhasil mencapai keselamatan jikalau tidak di tolong dengan rahmat Allah. Luther membalas tulisan Erasmus dengan tulisannya yang berjudul De Servo Arbitrio (Kehendak Yang Terikat). Luther berpendapat bahwa manusia ketika jatuh ke dalam dosa tidak lagi memiliki kehendak yang bebas.Manusia diumpamakan seekor kuda atau keledai. Jalannya kuda atau keledai itu ditentukan oleh penunggangnya.Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, penunggangnya adalah Iblis dan Iblis menguasai manusia sehingga tidak ada lagi kehendak yang bebas. Luther memang murid Agustinus yang sejati. Sekalipun demikian Luther tetap menghormati Erasmus dengan kata-katanya dalam sepucuk surat kepada Erasmus pada tahu 1524, antara lain “seluruh dunia menjadi saksi atas kesuksesan Anda dalam kesusastraan klasik yang luar biasa itu yang olehnya kami dibawa pada pengertian yang benar tentang Kitab Suci. Inilah rahmat Allah yang terbesar yang dilimpahkan kepada Anda yang menyebabkan kami harus mengucapkan syukur.Erasmus hanya mengantarkan gerakan reformasi di pertengahan jalan seperti Musa mati di Gunung Nebo tanpa masuk ke tanah Kanaan.[32] Dari ketidaksatuan pemahaman antara Erasmus dan Luther tidak mengakibatkan mereka saling menyerang , mereka masing-masing berusaha membela pemahaman yang mereka pahami dan tidak sampai pada tahap pertikaian, malah diakhir itu mereka masih tetap saling memuji satu sama lain dan menghargai perjuangan satu sama lain.
2.7.Refleksi Bagi Pendeta Masa Kini
Pemikiran Hebat yang menghasilkan sebuah reformasi oleh Desiderius Erasmus dapat menjadi contoh teladan bagi pendeta masa kini. Perjuangan Seorang Desderius Erasmus yang berupaya menerjemahkan Alkitab Kedalam bahasa yang dapat dipahami oleh rakyat biasa pada abad pertengahan, dengan penuh perjuangan mulai mengeluarkan karya-karyanya agar Alkitab bisa diakses oleh semua orang. Karena pemahaman yang dimiliki atau pemikiran hebat yang dimiliki oleh seorang Desiderius Erasmus bahwa masa depan Gereja bukan ditentukan oleh pemimpin saja, atau biarawan saja, orang-orang saleh saja. Namun Desiderius Erasmus sangat memperhitungkan kaum awam, orang berpendidikan untuk menentukan bagaimana masa depan gereja, sehingga pemahaman akan kitab suci dan tulisan bapa-bapa gereja sangat penting membentuk kembali iman Kristiani mereka. Pemulihan Kekeristenan tidak akan bisa hanya dilakukan oleh para rohaniawan namun peran dari orang awam jemaat biasa sangat penting. Sehingga hanya dengan pemahaman yang dilandasi dengan pemahaman kitab suci yang benar lah gereja dapat memiliki masa depan dan kembali kepada sumber, bagaimana Alkitab berbicara sebenarnya tentang aturan-aturan hidupa dan bagaimana seharusnya manusia hidup di hadapan Allah. Pemikiran Hebat Desiderius Erasmus mampu menjadli sebuah jalan atau kesempatan bagi reformator lainnya dalam mereformasi Gereja. Sehingga Desiderius Erasmus juga layak dan pantas disebut sebagai reformator, dari pemikiran hebat yang mampu menjadi jalan bagi reformator lain melanjutkan perjuangannya. Karena Reformasi yang dilakukan Desiderius Erasmus tentang pembaharuan Gereja yang dilakukan dengan lemah lembut. Pemikiran hebat ini menghasilkan sebuah usaha yaitu menerjemahkan Alkitab agar semua jemaat dapat mengakses Alkitab dan dipahami serta di terapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Agara semua bisa mengamalkan perintah Tuhan, dengan benar dan menjadi petunjuk hidup bagi semua jemaat dalam kehidupan, pekerjaan serta kegiatan terkecil sampai terbesar. Perintah Tuhan dapat dijalankan dan terlihat bagaimana mereka menjadikan Tuhan sebagai tempat mereka berharap kana kehidupan mereka. Hal ini menjadi teladan bagi para pendeta masa kini bahwa masa depan gereja tidak sepenuhnya ada di tangan seorang pemimpin gereja ataupu pendeta. Akan lebih baik dan perjuangan tidka akan sia-sia saat seorang pemimpin atau pendeta melibatkan para jemaat dalam perjuangan reormasinya. Selain itu, pendeta saat ini juga mungkin sering mengeluhkan bahwa beban itu hanya ada pada mereka dan tidak akan dipahami oleh jemaat namun itu merupakan sebuah kesalahan sehingga akan menyebabkan beban itu merasa dipikul sendiri oleh pendeta tersebut. Pemikiran Hebat Desiderius Erasmus menjadi Refleksi bagi para pendeta masa kini, bagaimana upaya pendeta masa kini menanamkan atau menjelaskan firman Tuhan yang di dengar, dibaca dan diterapkan dalam kehidupan sehari-sehari mereka. Bagaimana Firman itu bekerja dan dilibatkan dalam kegiatan sehari-hari. Untuk menunjukkan bahwa Firman Tuhan telah tertanam di dalam hati dan mereka laksanakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pendeta masa kini harus memiliki upaya yang dapat menyentuh para hati jemaat bahwa firman Tuhan tidak hanya sebatas di dengar dan dipahami tapi layaknya dapat dipakaikan, diterapkan ke dalam kehidupan jemaat sehari-hari. Dengan selalu mengutamakan kejujuran dalam setiap kegiatan mereka. Seorang pendeta setidaknya memiliki usaha untuk meyakinkan jemaat bahwa dengan kejujuran yang dilakukan oleh setiap jemaat dalam usaha mereka, pekerjaan dansebagainya akan menghasilkan kedamaian bagi mereka dengan selalu berserah kepada Tuhan. Desiderius Erasmus mengatakan bahwa “Saya berharap Alkitab bisa diterjemahkan ke dalam semua bahasa…, saya merindukan buruh tani bisa menyanyikannya saat mencangkul, penenun menyenandungkannya saat bekerja, dan musafir meleburkan kelelahan perjalanannya dengan kisah-kisah di dalamnya”. Ini menjadi refleksi bagai Pendeta masa kini bagaimana mereka juga seharusnya memiliki upaya agar jemaat para petani, pedagang , sopir, pegawai juga dapat menyanyikannya, menyenandungkannya dan meleburkan perjalananya dengan kisah-kisah yang ada di Alkitab. Bahwa sikap jemaat itu seharusnya tercermin dari pemahaman mereka akan firman Tuhan. dengan melibatkan Tuhan dalam setiap kegiatan menunjukkan bahwa Frman Tuhan tidak sia-sia mereka dengarkan. Pendeta masa kini dapat memberikan renungan-renungan bagi setiap jemaat yang berprofesi sebagai pedagang untuk tetap jujur dan tidak serakah, pelatihan memasarkan dagangan agar menarik minat pembeli, pelatihan-pelatihan pada setiap petani untuk tidak memaksa tanah begitu juga pada jemaat-jemaat yang memiliki profesi lainnya. Dari pemikiran hebat dan karya-karya Desiserius Erasmus membawa pendeta masa kini kembali berfikir bahwa tugas mereka tidak hanya berkotbah di atas mimbar tapi bagaimana tindakna setiap pendeta masa kini dapat menyentuh atau menghampiri jemaat untuk dapat menerapkan Firman Tuhan dalam kehidupan mereka. Upaya-upaya apa saja yang dapat di lakukan setiap pendeta masa kini untuk dapat menghadirkan kebenaran dan ketulusan dalam pekerjaan dan profesi setiap jemaat. Disiplin-displin yang ada di dalam Gereja harus menjadi aturan yang menjadikan jemaat maupun pelayan dalam mengatur tindakan, kegiatan maupun pemahaman masing-masing akan Karya kristus dalam hidup manusia. Karena Alkitab sebagai sumber pertama dan utama. Sebagaimana para reformator juga menegaskan bahwa gereja yang dinamis, Tuhan harus menjadi pemimpin gereja, maka gereja harus selalu mereformasi diri Ecclesia Reformata Semper Reformanda.
III. Analisa
Analisa penyeminar terhadap reformasi Desiderius Erasmus dan refleksinya bagi jemaat masa kini adalah, pemikiran hebat yang menghasilkan tindakan reformasi Desiderius Erasmus yang dilatarbelakangi dari semua kejadian yang dilihat, kehidupan biarawan, indulgensia, keuangan Gereja, yang diperhatikan menindas jemaat dan tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Serta bagaimana dilihat orang-orang awam tidak dapat memiliki serta tidak dapat membaca Alkitab sehingga upaya Erasmus menerjemahkan Karena baginya setiap orang dari berbagai kalangan memiliki hak untuk itu. Setiap orang diupayakan dapat mengakses Alkitab dengan mudah agar merekan memahami firman Tuhan dan menerapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga Erasmus memiliki landasan yang jelas dalam tindakan reformasinya. Serta tidak memutuskan untuk keluar dari Katolik, namun dari semua karya berupaya mereformasi dari dalam dengan lemah lembut agar tidak terjadi perpecahan dalam Gereja. Reformasi yang dilakukan Erasmus ini dapat dikataken relevan dengan keadaan pendeta saat ini dimana begitu banyak ditemukan jemaat yang tidak merasa puas dengan ajaran Gerejanya, masalah yang tidak bisa dituntaskan dalam gereja, atau katidakcocokan antara satu jemaat dengan yang lain, sehingga ia memutuskan untuk keluar dari gereja tersebut dan pindah ke gereja lain atau membentuk gerejanya sendiri. Serta tindakan Erasmus menghadapi Luther yang memiliki perbedaan pemahaman dengan dia, namun mereka masih tetap saling memuji dalam tulisan masing-masing menunjukkan dari setiap permasalahan atau ketidak cocokan pasti ada hal positif yang menjadi pembelajaran, yang dapat membawa sebuah gereja itu ke tahapan kedewasaan rohani yang lebih baik lagi, Peran Seorang pendeta memiliki pengaruh besar dari bagaimana setiap jemaat dapat menerapkan Firman Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga Firman Tuhan tetap di terapkan sehingga mereka bisa memperoleh kedamaian. Sehingga Pemikiran Hebat Desiderius Erasmus menjadi sebuah refleksi bagi para pendeta saat ini untuk mengupayakan bagaimana dan hal-hal apa saja dapat mereka lakukan untuk memberikan pemahaman yang demikian pada setiap jemaat, bahwa firman tidak hanya untuk didengar tapi di terapkan dalam kegiatan-kegiatan mereka. Pendeta diharapkan mampu memberikan menunjukkan tindakan-tindakan serta pemahaman dalam upaya mereka memberikan pemahaman pada jemaat akan Firman Tuhan kepada semua jemaat. Sehingga dari kehadiara pendeta dalam kehidupan jemaat, Gereja mampu menunjukkan bahwa gereja sesuai dengan konteks jemaat, artinya gereja selaras dengan kebutuhan jemaat. Ketika gereja hadir dan memberikan perubahan gereja justru memberikan dampak baik. Ketika perubahan dilakukan jemaat dan pemimpin gereja harus merundingkan perubahan dengan baik. Dengan demikian maka di dalam gereja akan memberikan kedamaian bagi semuanya.
IV. Kesimpulan
1. Pemikiran Hebat yang dimiliki Desiderius Erasmus terlahir dari hal-hal atau kesalahan-kesalahan yang dilihta di sekitar yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan.
2. Pemikiran Hebat Desiderius Erasmus terjawab dengan adanya tindakan upaya reformasi yang dilakukan serta upaya menrejemahkan ALkutab agara Alkitab dapat diakses oelah semua jemaat.
3. Reformasi berasal dari kata “Reformation” dengan kata dasa “Reform” yang memiliki arti perbaikan, pembaharuan, memperbaharui dan menjadi lebih baik.
4. Erasmus dilahirkan 27 Oktober 1466. Ia adalah anak di luar ikatan pernikahan antara Gerard dan Margaret.Atas bantuan uskup Cambray, Erasmus meneruskan studinya pada Universitas Paris, tahun 1495. Dan meninggal pada 1536.
5. Desiderius Erasmus adalah tokoh reformator dari kalangan humanis yang memberikan pemahaman tentang reformasi gereja tidak harus keluar dari gereja tersebut namun bisa melakukan reformasi dengan lemah-lembut.
6. Banyak karya Desiderius Erasmus yang mencoba mengkritik kepausan dari tindakan-tindakan yang tidak benar serta mengusulkan pembaharuan, yang berbeda dengan Luther dimana pembaharuannya lebih radikal daripada yang dilakukan Erasmus.
7. Pemikiran Desiderius Erasmus menjadi suatu refleksi bagi pendeta masa kini bahwa seorang pemimpin memiliki pengaruh besar dalam memberikan pemahaman tentang firman Tuhan kepada setiap jemaat.
8. Pendeta masa Kini diajak untuk membuat upaya-upaya dalam mengajak jemaat untuk menerapka firman Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari, dalam setiap kegiatan dalam kehidupan mereka.
V. Daftar Pustaka
Sumber Buku:
Berkhof, H. & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2014.
Galli, Mark, and Olsen, Ted.131 Christians Everyone Should Know. Nashville: Holman Reference, 2000.
Grath, Alister E. Mc., Sejarah Pemikiran Reformasi
Janz, Denis R., A Reformation Reader. Ausburg: Fortress Press, 2010.
K. Prent, J. AdiSubrata, W.J.S. Perwadarminta, Kamus Latin Indnesia. Yogyakarta: Kanisius, 1969.
Kooiman, W.J.,Martin Luther. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986.
Kristiyanto, Eddy.Reformasi Dari Dalam.Yogyakarta: Kanisius, 2004.
Lane, Tony. Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
Lane, Tony. Runtut Pijar. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016.
Latourette, Kenneth Scott. A History of Christianity. New York: Harper & Brothers, 1953.
Opera omnia Desiderii Erasmi Roterodami, vol. V/1, Amsterdam: North-Holland
Poerdarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka, 1995.
Setio, Pandji.Pendidikan Pancasila. Jakarta: Gravindo , 2008.
Siburian, Togardo, Silver And Diamond.Bandung: STT Bandung, 2017.
Soleiman, Yusak.Dari Wittenberg Kita Semua Terpanggil Membarui Dunia 1517-2017. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017.
Van Den End, Thomas.Harta Dalam Bejana. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015.
Wellem, F.D.,Riwayat Hidup Singkat. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015.
Yewangoe, A.A. Gereja Di Era Reformasi .Jakarta: Yakoma-PGI, 1999.
Internet:
https://kbbi.web.id/pemikiran Diakses pada 30 November 2020, Pukul 21.34 WIB,
https://tirto.id/jalan-terjal-desiderius-erasmus-mereformasi-gereja-di-eropa-edvN diakses pada 16 Oktober 2020 pukul 04.34.
[1] https://kbbi.web.id/pemikiran Diakses pada 30 November 2020, Pukul 21.34 WIB,
[2] Pandji Setio, Pendidikan Pancasila (Jakarta: Gravindo , 2008), 76.
[3]Poerdarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), 826.
[4] A.A. Yewangoe, Gereja Di Era Reformasi (Jakarta: Yakoma-PGI, 1999), 16.
[5] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 74-75.
[6](Inggris) Latourette, Kenneth Scott. A History of Christianity. New York: Harper & Brothers, 1953, p. 661
[7] W.J. Kooiman, Martin Luther (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986), 152.
[8]https://tirto.id/jalan-terjal-desiderius-erasmus-mereformasi-gereja-di-eropa-edvN diakses pada 16 Oktober 2020 pukul 04.34.
[9] Denis R. Janz, A Reformation Reader(Ausburg: Fortress Press, 2010),
[10] Togardo Siburia, Silver And Diamond (Bandung: STT Bandung, 2017), 19.
[11] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2014), 100-101.
[12] Thomas Van Den End, Harta Dalam Bejana (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 146.
[13] Eddy Kristiyanto, ReforYmasi Dari Dalam (Yogyakarta: Kanisius, 2004), 100.
[14] Togardo Siburia, Silver And Diamond (Bandung: STT Bandung, 2017), 18.
[15] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993). 127.
[16] Yusak Soleiman, Dari Wittenberg Kita Semua Terpanggil Membarui Dunia 1517-2017 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), 5-6.
[17] Jan Sihar Aritonang, Garis Besar Sejarah Reformasi (Bandung: Jurnal Info Media, 2007), 11-12.
[18] Eddy Kristiyanto, Reformasi Dari Dalam (Yogyakarta: Kanisius, 2004), 120.
[19] Tony Lane, Runtut Pijar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 129.
[20]Togardo Siburia, Silver And Diamond (Bandung: STT Bandung, 2017), 19.
[21]Galli, Mark, and Olsen, Ted. 131 Christians Everyone Should Know. Nashville: Holman Reference, 2000, p. 344
[22]Opera omnia Desiderii Erasmi Roterodami, vol. V/1, Amsterdam: North-Holland, pp. 245, 279
[23] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2014), 101.
[24] Alister E. Mc Grath, Sejarah Pemikiran Reformasi (), 66-68.
[25] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat, 75.
[26]Tony Lane, Runtut Pijar, 130.
[27] Yusak Soleiman, Dari Wittenberg Kita Semua Terpanggil Membarui Dunia 1517-2017 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), 5-6.
[28] K. Prent, J. AdiSubrata, W.J.S. Perwadarminta, Kamus Latin Indnesia (Yogyakarta: Kanisius, 1969), 346.
[29] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993). 124, 268.
[30] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993, 124.
[31] Togardo Siburia, Silver And Diamond (Bandung: STT Bandung, 2017), 41.
[32]F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat, 75-76.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar