Jumat, 16 April 2021

Sekolah Minggu dan Robert Raikes

 


Sekolah Minggu dan Robert Raikes

(Suatu Tinjauan Historis Praktis Terhadap Kiprah Robert Raikes dan Refleksinya Bagi Sekolah Minggu di GBKP Rg. Batuerdan)

I.                   Latar Belakang Masalah

Gereja adalah tubuh Kristus yang saling melengkapi dan saling membangun untuk mencapai suatu tujuan dan percaya kepada Yesus Kristus. Dalam gereja tidaklah terlepas dari pengajaran, pendidikan dan bimbingan, baik kepada orangtua, penatua, pemuda, remaja, maupun anak-anak. Dalam hal ini, gereja haruslah aktif dalam pengembangan spiritualitas bukan hanya teoritis saja. Sekolah minggu merupakan kegiatan bersekolah yang diadakan pada hari minggu didalam gereja yang ditujukan untuk anak-anak. Bisa dikatakan sekolah minggu adalah wadah pendidikan anak-anak Kristen. Tujuan akhir dari sekolah minggu sendiri ialah menjadikan anak-anak berakhlak mulia (moral yang baik) sesuai dengan ajaran Kristus (Alkitab). Pengajaran sekolah minggu telah muncul dari sebuah gagasan seorang penerbit Gloucester Journal Inggris. Ia bernama “Robert Raikes” yang dikenal sebagai bapak sekolah minggu. Berawal dari sebuah perasaan iba terhadap narapidana dan kelakuan anak-anak nakal di hari minggu,maka tercipta suatu sejarah yang sangat fenomenal.

Robert Raikes (1735-1811), seorang penerbit dari Gloucester, kerap melawat narapidana dan menulis artikel yang memberikan (describe) keadaan mengenaskan para narapidana yang dilawatinya. Raikes akhirnya menarik kesimpulan akhlak orang dewasa tidak akan dapat diperbaiki lewat pelawatan. Pendidikan akhlak harus diawali dari angkatan muda, khususnya anak-anak. Robert Raikes telah mengubah dunia pendidikan anak-anak yang ada pada saat itu dan dampak dari karyanya bukan hanya dirasakan oleh anak-anak, namun juga oleh seluruh warga gereja.  Sebuah usaha yang dimulai dari sebuah desa kecil, namun dampaknya terasa keseluruh dunia dan bertahan hingga saat ini. Pantaslah kalau kita menghargai Robert Raikes sebagai Bapa sekolah Minggu. Sekolah Minggu yang ada sekarang ini sangat berbeda dibandingkan dengan sekolah minggu yang pertama. Contohnya di Sekolah Minggu GBKP Rg. Batuerdan. Dari hasil penelitian penyeminar, penyeminar melihat bahwa di Sekolah Minggu GBKP Rg. Batuerdan ini kurang menggali kreativitas anak dan setiap kegiatan yang dilakukan hanya seperti formalitas dan rutinitas belaka yang dilakukan setiap hari Minggu. Guru yang mengajar pun terkadang lalai dalam tugasnya dan tidak ada persiapan untuk mengajar. Jika tidak ada perkembangan dalam pelayanan sekolah minggu ini maka anak-anak pun tidak mendapat pengenalan akan Firman Tuhan lebih dalam lagi. Anak-anak Sekolah Minggu di GBKP Rg. Batuerdan hanya bisa mendapatkan Pendidikan Agama Kristen di gereja karena dalam sekolah dan keluarga mereka tidak bisa mendapatkan seperti yang seharusnya di dapat di sekolah minggu. Maka dari itu seharusnya pelyanan di sekolah minggu lebih memperdalam lagi pengenalan akan Firman Tuhan.

Dari masalah yang ada maka penyeminar ingin menyoroti hal tersebut sehingga dapat dijadikan bahan perbandingan dan evaluasi untuk perkembangan Sekolah Minggu masa kini khususnya di GBKP Rg. Batuerdan.

 

II.                Pembahasan

2.1. Biografi Robert Raikes

Kegiatan Sekolah Minggu yang pertama dilakukan oleh Robert Raikes. Ia lahir di Inggris pada tanggal 14 September 1735. Ayahnya adalah seorang pekerja di percetakan yang berhasil menerbitkan Koran pada usia 21 tahun. Robert adalah seorang yang baik. Pada usia mudanya, Robert aktif pada bidang sosial, khususnya menolong mereka yang miskin dan berada di penjara.[1] Robert Raikes (lahir 14 September 1736 – meninggal 5 April 1811 pada umur 74 tahun) adalah seorang dermawan Inggris yang dikenal sebagai bapak pendiri Sekolah minggu. Ia dibaptis pada tanggal 24 September 1736 di gereja St. Mary de Crypt di Gloucester. Pada 23 Desember 1767, ia menikah dengan Anne Trigge, seorang wanita yang berasal dari keluarga terhormat, dan dikaruniai tiga anak laki-laki dan tujuh anak perempuan.[2]

2.2.Pendidikan Robert Raikes

Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di sekolah milik Gereja St. Mary de Crypt tempat ia dibaptiskan. Setelah lulus pendidikan dasar, pada usia empat belas tahun, ia melanjutkan studi di sekolah Katedral Gloucester. Suasana sekolah ini begitu ketat. Anak-anak dididik dengan kurikulum yang klasik. Pada pukul 06:00 setiap hari, mereka mengawalinya dengan ibadah. Ibadah dimulai dengan pembacaan mazmur, doa, renungan, dan nyanyian rohani. Di sekolah ini,. kurikulumnya bersifat klasik, dalam arti murid harus membuktikan kemampuannya dalam bahasa Yunani, Latin dan Prancis. Setelah menyelesaikan pendidikan di Katedral Gloucester, Raikes tidak melanjutkan pendidikannya. Ia lebih tertarik pada pekerjaan yang digeluti ayahnya di bidang percetakan. Pada 1757, ia diwariskan perusahaan milik ayahnya yakni Gloucester Journal. Dia bekerja rajin dan mempelajari segala urusan yang berkaitan dengan penerbitan surat kabar dan mempelajari segala urusan yang berkaitan dengan penerbitan surat kabar. Tinjauan itu terbukti dengan kemampuannya mengambil alih seluruh urusan yang berkaitan dengan penerbitan Gloucester Journal sepeninggal ayahnya. Secara praktis, Raikes yang baru berumur 21 tahun menjadi penerbit sekaligus kepala keluarga yang mencakup 5 orang adik dan ibu. Sebagai penerbit Gloucester Journal, Raikes meneruskan keprihatinan ayahnya terhadap nasib buruk rakyat jelata dan narapidana. Pada usia mudanya, Robert aktif pada bidang sosial, khususnya menolong mereka yang miskin dan berada di penjara. Untuk menolong mereka, ia melakukan berbagai upaya, antara lain mengumpulkan dana- untuk peningkatan kondisi kesehatan di penjara dan perlakuan yang lebih manusiawi dan menyelenggarakan pembinaan bagi para narapidana.[3] Ia mengungkapkan keinginannya yang besar untuk membantu umat manusia dan sering mempublikasikan pendapatnya dalam surat kabarnya Gloucester Journal. Upaya pertamanya adalah merehabilitasi narapidana setelah itu membuka sekolah untuk anak-anak terlantar.[4]

 

2.3. Berdirinya Sekolah Minggu di Gloucester

Gerakan sekolah Minggu yang dimulai tahun 1780 di Gloucester oleh Robert Raikes dengan di dirikannya Sekolah Minggu yaitu sekolah untuk anak-anak terlantar, dimana mereka diajar membaca, menulis dan berhitung, juga membaca Alkitab, renungan, berdoa dan menyanyi. Karena pada waktu itu Inggris memang kekurangan sekolah untuk kaum miskin, maka gerakan ini dengan pesat berkembang di mana-mana.[5] Raikes mengumpulkan anak-anak dan mengajarkan mereka dengan membaca, menulis dan pengajaran Agama Kristen. Kemajuan industri di kota-kota di Inggris menyebabkan terjadinya arus urbanisasi. Kota-kota di Inggris dipadati oleh penduduk dan muncullah perkampungan kumuh. Anak-anak tidak dapat menikmati pendidikan karena kemiskinan orangtua mereka.[6] Pada permulaan Revolusi Industri di Inggris pada abad ke 18 ada begitu banyak penemuan yang memperbanyak produksi dengan menggantikan tenaga manusia dan hewan dengan mesin uap. Tetapi hasil sampinganya, perubahan itu cenderung meningkatkan kemiskinan di Inggris, karena keluarga didaerah-daerah pertanian berdiyun-duyun masuk ke kota untuk bekerja dalam pabrik-pabrik. Upahnya sangat rendah, sehingga tindak kejahatan ringan dan berat bertambah.  Alhasil, penjara-penjara pun dipenuhi orang malang, sementara sistem pengadilan yang ada tidak mempertanyakan sebab musabab orang miskin jatuh ke dalam kejahatan.[7] Sekolah yang tersedia saat itu hanya bagi mereka yang mampu membayar uang sekolah, sehingga anak-anak yang tidak berpendidikan menjadi liar, bicara sembarangan tanpa sopan-santun dan melakukan tindak kejahatan. Para orangtua tidak memberikan perhatian yang cukup bagi anak-anak yang tidak berpendidikan karena mereka pun sibuk mencari nafkah.[8] Diperkirakan bahwa di London saja terdapat 30.000 anak yang tidak memiliki rumah yang layak dan perawatan yang memadai. 40 sekolah umumnya tidak disediakan untuk anak-anak ini karena alasan ekonomi, sekolah Minggu muncul sebagai tanggapan atas penderitaan anak-anak miskin yang bekerja. Pada hari Minggu ketika mereka bebas dari tanggungjawab pekerjaan, anak-anak kelas bawah cenderung berkeliaran di jalanan, menimbulkan masalah dan mengganggu bisnis lokal.[9] Banyak anak berhenti sekolah dan bekerja di pabrik dari pagi hingga petang. Mereka diperlakukan dengan keras. Satu-satunya kesempatan bebas adalah hari Minggu. Sebab itu pada hari Minggu mereka berkeliaran di jalan, bermain dan membuat onar. Sebagai wartawan yang sering menulis berita kriminal dan berkunjung ke penjara, Raikes menyadari bahwa anak-anak ini mudah terseret ke dunia kriminal. Sebab itu ia berpikir dan mencari jalan keluar untuk menolong anak-anak ini.[10] Sebagai seorang Gloucester Journal yang berpikiran liberal, ia sangat sadar akan roda kemiskinan dan kriminalitas. Orang-orang yang tidak dapat membayar utang dipenjarkan dan bila mereka keluar, tidak ada kehidupan bagi mereka. Maka mereka terdorong berbuat kejahatan. Selama bertahun-tahun Raikes berupaya bekerja bersama mantan napi, untuk membantu mereka agar tidak berbuat kejahatan, namun sia-sia. “Dunia bergerak maju di atas kaki anak-anak kecil.” Kalimat yang berasal dari Raikes itu mengungkapkan pemikiran sekolah Minggu ini. Para orang dewasa telah berjalan terlalu jauh,  tetapi anak-anak baru memulainya.

Masalah yang dihadapinya ialah ketidaktahuan. Anak-anak (dari keluarga) kurang mampu tidak pernah mendapatkan kesempatan pergi ke sekolah mereka harus bekerja untuk membantu keluarga. Akibatnya, mereka tidak dapat beranjak dari kemiskinan. Namun, jika mereka dapat  belajar pelajaran dasarnya membaca, menulis, berhitung dan moralitas alkitabia pada hari libur satu harinya, suatu saat mereka mungkin mengubah semuanya itu. Ia kemudian memulai sekolah minggu ini di dapur Ny. Meredith di kota Scooty Alley pada Juli 1780. Raikes bahkan membayar Ny. Meredith setiap hari minggu untuk mengajar anak-anak. Anak-anak ini luar biasa bandel. Robert Rikes berharap bahwa “Sekolah Minggu” ini akan mengubah hidup mereka, namun mereka membawa kebiasaan mereka yang menjijikan dan mengerikan itu ke dapur Ny. Meredith. Ny. Meredith tidak sanggup menanganinya. Raikes tidak membiarkan niatnya pupus. Ia memindahkan sekolah Minggunya ke dapur Ny. King tempat May Critchley mengajar mereka dari pukul sepuluh sampai pukul dua belas siang dan dari pukul satu sampai dengan pukul lima pada petang hari. Ia menghendaki anak-anak hadir setelah tangan di cuci dan rambut disisir. Dalam waktu yang singkat, anak-anak itu mau belajar. Tidak lama kemudian terkumpul 90 anak menghadiri Sekolah Minggu. Perlahan-lahan mereka belajar membaca.[11] Anak-anak yang tidak bersepatu diberinya sepatu, anak-anak yang belum makan diberi roti. Disuruhnya anak-anak ini mandi. Setiap hari Minggu pagi Raikes memanggil dan menuntun tangan anak-anak ini, “mari, ikut Sekolah Minggu”. Ia menjemput mereka, “ayo ikut, belajar di Sekolah Minggu”, sambil berjalan dengan mereka, teringatlan Raikes akan ucapan Yesus, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku ….”. Pelajaran yang diberikan di Sekolah Minggu yang pertama ini adalah membaca, menulis, berhitung, mendengar cerita Alkitab, bermain dan beribadah. Buku utamanya adalah Alkitab. Pelajar an berlangsung setiap hari Minggu pukul 10.00-12.00 dan dilanjutkan lagi pukul 13.00-17.30. pada pukul 18.00 Raikes mengajak anak-anak beribadah di gereja. Walaupun banyak kendala, namun Sekolah Minggu di Gloucester ini berkembang. Semakin banyak anak yang tertarik dan semakin banyak orangtua yang melihat perkembangan yang ada pada anak-anak mereka.[12] Banyak anak mulai menunjukkan bakat untuk belajar dan keinginan untuk diajar. Hadiah kecil seperti sepatu, buku, sisir atau beberapa barang lainnya dibagikan kepada mereka yang rajin, ini membangkitkan persaingan. Satu atau dua pendeta memberikan bantuan dan mendengarkan katekismus anak-anak dan menghargai anak-anak itu. Anak-anak ini juga sering kali dinasehati untuk tidak mengumpat. Beberapa anak yang berprilaku baik ditunjuk untuk mengawasi dan memberikan laporan jika ada yang mengumpat ataupun mengganggu kenyamanan. Mereka yang mengganggu akan disuruh untuk meminta maaf dan yang terganggu di suruh untuk memaafkan. Jadi mereka diajarkan untuk saling memafkan. Karena selalu ditanamkan perilaku yang baik maka terjadi perubahan yang luar biasa terhadap tingkah laku anak-anak itu.[13] Walaupun sejumlah awam dan pendeta melibatkan diri dalam urusan Sekolah Minggu, namun pemimpin Gereja Inggris dan para penguasa merasa diri terancam oleh prakarsa untuk mendidik anak rakyat jelata. Kalau anak-anak ini sudah mampu membaca dan menulis, maka mereka akan tidak puas dengan penindasan yang mereka alami setiap hari. Mereka mendorong Perdana Menteri Pitt untuk mempersiapkan perundang-undangan yang akan melarang penyelenggaraan Sekolah Minggu beserta pendirian sekolah baru. Untunglah usaha ini gagal dan Sekolah Minggu menerima dukungan dari raja dan ratu Inggris sendiri.[14] Raikes mulai menceritakan perjalanan pelaksanaan Sekolah Minggu ini ke kota-kota lain. Di korannya yang terbit tanggal 3 November 1783, ia menguraikan tentang gagasan dan pengalaman sekolah minggunya. Tanggapan positif muncul di seluruh Inggris.[15] Orang-orang Kristen yang terpandang mendukung ide tersebut. John Wesley menyukainya, dan kelompok Wesley pun mulai melakukannya. Penulis populer, Hannah More, mengajar agama dan memintal pada gadis-gadis di Cheddar. Seorang pedagang dari London, William Fox, pernah menyumbangkan ide serupa, namun memutuskan menunjang proyek Raikes. Pada tahun 1785,  Fox mendirikan perkumpulan untuk menunjang dan mendukung banyak sekolah Minggu di berbagai kawasan di Inggris. Ratu Charlotte pun membenarkan sekolah Minggu tersebut. Ia memanggil Raikes untuk mendengarkan hal itu dan kemudian ia mengizinkan namanya dipakai untuk upaya pengumpulan dana yang dilaksanakan Fox.[16] Di sana-sini lahir Sekolah Minggu yang baru. 10 tahun setelah Sekolah Minggu pertama berdiri di Gloucester, menyeberanglah gagasan ini ke Amerika dan ke Negara lain yang Nampak berbeda adalah bahwa kebanyakan Sekolah Minggu di Negara lain mengkhususkan diri dalam pelajaran cerita Alkitab. Tradisi lain yang tumbuh di Sekolah Minggu di Amerika Serikat adalah pelajaran untuk pelbagai golongan usia. Kini tidak terbilang lagi jumlah anak dan orang dewasa yang setiap hari Minggu pagi dengan setia belajar dan mengajar suatu bagian Alkitab di Sekolah Minggu. Sekolah Minggu ada di mana-mana. Semua ini berawal dari prakarsa Robert Raikes di Sebuah rumah tua di Gloucester, atau lebih tepat lagi, semua ini berawal dari kegaduhan anak-anak yang bermain di tepi jalan di luar kantor Raikes. Prakarsa Raikes telah menjadi berkat. Pada batu pualam tempat Robert Raikes dimakamkan di Gereja Saint Mary di Gloucester terukir kata-kata Ayub 29:11-13, sebagai berikut:[17]

“apabila telinga mendengar tentang aku, maka aku disebut berbahagia;

dan apabila mata melihat, maka aku dipuji.

Karena aku menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong,

Juga anak piatu yang tidak ada penolongnya;

Aku mendapat ucapan berkat dari orang yang nyaris binasa,

Dan hati seorang janda kubuat bersukaria; ”

Melihat keberhasilan Raikes, gereja kemudian mengambil alih model pelayanan itu menjadi pekabaran Injil. Di abad ke-20 muncul bahan mengajar pelajaran sekolah minggu yang berjenjang, dan mulai terjadi pergeseran dari maksud utama untuk pekabaran Injil menjadi ajang pembinaan. Gereja memakai pembinaan ini menjadi alat yang efektif dalam mengarahkan anak-anak kepada Kristus. Akhir abad ke-19 sampai awal ke-20, muncul kesadaran untuk menangani Sekolah minggu secara lebih professional. Ilmu pendidikan mulai diterapkan. Pada tahun 1922 berdirilah “Internasional Sunday School Council of Religious Education”, yang pada tahun 1924 berubah nama menjadi “The Internasional Council of Religious Education”. Dengan berdirinya ke 2 lembaga tersebut, Sekolah minggu menjadi semakin maju, dengan teori-teori pendidikan yang modern, yang lebih berpusat pada anak.[18]

2.4. Pertumbuhan Sekolah Minggu

            Baru dua puluh delapan tahun setelah Raikes mengumumkan pendirian Sckolah Minggu pertama, 400.000 anak didik sedang belajar dalam Sekolah Minggu yang beriangsung di Inggris saja. Ia bersyukur bahwa Sekolah Minggunya terus bertnmbuh pesat khususnya di dunia berbahasa lnggris, tetapi ia akan Iebih bersyukur lagi kalau ia tahu bahwa gagasan mulia itu disebarluaskan ke mana-mana, termasuk Indonesia sendiri.

1.      Sekolah Minggu di Amerika

      Tahun 1790, Benyamin Rush, Matthew Carey dan William White mendirikan Perserikatan Hari Pertama, untuk mendidik anak-anak dari keluarga miskin.Tahun 1816, Ibu Joanne Bethune mendirikan Perserikatan Wanita bagi Kemajuan Sekolah Sabat di New York. Tahun 1824, para memimpin Sekolah Minggu mendirikan American Sunday School Union (Perserikatan Sekolah Minggu di Amerika) di kota Philadelphia. Dalam sidang raya tahun 1830, ditetapkan tujuan yang berlaku untuk dua tahun mendatang, yaitu untuk mendirikan Sekolah Minggu pada setiap pelosok daerah yang luasnya meliputi seluruh lembah Mississippi.Kurikulumnya berupa pelajaran membaca, menulis, dan pelajaran Alkitab. Hasil Pelayanan Union Sunday School antara lain banyak kelompok anak-anak yang diajar membaca, menulis dan belajar Alkitab. Banyak Sekolah Minggu yang bertumbuh menjadi  sekolah negeri dan jemaat yang beribadah. Ada dua orang pekerja Sunday School yang sangat menonjol dalam mengembangkan Sekolah Minggu. Kedua orang itu adalah John McCullagh dan Stephen Paxson. Selama jangka waktu 20 tahun Stephen Paxson telah mendirikan lebih dari 1200 Sekolah Minggu. Kebanyakan sekolah itu kelak bertumbuh menjadi jemaat.[19]

2.      Sekolah Minggu di Jerman

      Pendirian Sekolah Minggu di Jerman diprakarsai pada tahun 1860 oleh Wilhelm Broeckelmann dan Albert Woodruff. Keduanya adalah wakil dari Perserikatan Sekolah Minggu London. Sekolah Minggu di Jerman hendak mengajar anak-anak miskin untuk membaca, meniulis dan berhitung disamping membimbing mereka ke dalam iman Kristen. Namun, selama Sekolah Minggu itu berkaitan langsung dengan kaum muda miskin, maka pertumbuhannya pun tidak mempergiat usaha dari kaum penyokongnya. Pertumbuhan terjadi tatkala warga Kristen melihatnya sebagai sarana untuk memperbaiki kehidupan rohani dari anak-anak Jerman. Di Jerman, gagasan Sekolah Minggu di-Jermankan menjadi Kindergottesdients (kebaktian anak-anak). Sesuai dengan namanya, maka titik beratnya adalah kebangunan rohani dalam diri anak-anak melalui kebaktian dan bimbingan dari Alkitab.[20]

3.      Sekolah Minggu di Belanda

      Gagasan Sekolah Minggu dibawa oleh Dr. Abraham Capadose ke Belanda dari Swiss, pada bulan Oktober tahun 1836 di kota Grevenhage. Pada tahun 1841 sebuah Sekolah Minggu didirikan di kota Amsterdam dan pada tahun 1847 di kota Rotterdam. Pertumbuhan paling besar terjadi pada tahun 1857, oleh karena keputusan pemerintah Belanda yang melarang penggunaan Alkitab dalam Sekolah Negeri. Awal tahun 1858 sudah ada 50 buah Sekolah Minggu di Belanda. Tanggal 23 Oktober 1865 diadakan mufakat tentang jenis organisasi Sekolah Minggu di Belanda. Organisasi itu di sebut Nederlandse Zondaggschool Vereniging (Perkumpulan Sekolah Minggu Belanda). Akhirnya, jumlah sekolah minggu di Belanda bertambah dan menjadi bagian dari pelayanan gereja.[21]

 

      Melihat keberhasilan Raikes, gereja kemudian mengambil alih model pelayanan itu menjadi pekabaran Injil. Di abad ke-20 muncul bahan mengajar pelajaran sekolah minggu yang berjenjang, dan mulai terjadi pergeseran dari maksud utama untuk pekabaran Injil menjadi ajang pembinaan. Gereja memakai pembinaan ini menjadi alat yang efektif dalam mengarahkan anak-anak kepada Kristus. Akhir abad ke-19 sampai awal ke-20, muncul kesadaran untuk menangani Sekolah minggu secara lebih professional.Ilmu pendidikan mulai diterapkan. Pada tahun 1922 berdirilah “Internasional Sunday School Council of Religious Education”, yang pada tahun 1924 berubah nama menjadi “The Internasional Council of Religious Education”. Dengan berdirinya ke 2 lembaga tersebut, Sekolah minggu menjadi semakin maju, dengan teori-teori pendidikan yang modern, yang lebih berpusat pada anak.[22]

4.      Sekolah Minggu di Indonesia

      Pada tahun 1961 Seksi Sekolah Minggu DGI diubah menjadi Komisi PAK DGI. Sejak itu mulai dikembangkan bidang PAK untuk melayani Sekolah Minggu-Sekolah Minggu di seluruh Indonesia. Baru pada tahun 1963 diselenggarakan sebuah Konferensi Kerja Kurikulum PAK umum Sekolah Minggu maupun untuk SD— SLP — SLA. Konferensi tersebut menghasilkan garis besar bahan-bahan untuk Sekolah Minggu maupun untuk PAK di sekolah. Kami juga beruntung diperbantukan seorang tenaga ahli dalam diri Miss Mildred Proctor untuk waktu satu tahun sejak 1964. DGI sendiri mengadakan latihan-latihan pengkaderan guru Sekolah Minggu/guru Agama di berbagai wilayah setiap tahun, sehingga sampai kini hampir seluruh Nusantara, dan Nias dan Sumatra Utara, sampai Kalimantan Barat/Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, Timor, Ambon, sudah pernah dikunjungi tim kompak DGI[23]

2.5. Sekolah Minggu GBKP Rg. Batuerdan

GBKP Rg. Batuerdan terletak di Kec. Tigalingga Kab. Dairi. Pada tahun 1991 GBKP Rg. Batuerdan memisahkan diri dari GBKP Rg. Tigalingga dan pada 1992  di sahkan menjadi Runggun. Jadi Sekolah Minggu di GBKP Rg. Batuerdan juga ada sejak tahun 1992. Jumlah anak KAKR di GBKP Rg. Batuerdan adalah 93 anak. Pelayanan sekolah minggu yang ada di GBKP Rg. Batuerdan sudah lumayan baik dan anak-anak juga semangat ketika mengikuti paskah dan natal. Runggun juga mendukung dana dan mendukung setiap kegiatan KAKR. Sekolah Minggu GBKP Rg. Batuerdan ini awalnya hanya ada 1 kelas, sejak tahun 2015 lah ada pembagian menjadi 2 kelas, yaitu kelas remaja dan kelas kecil. Ini dikarenakan belum tersedia ruangan khusus untuk anak Sekolah Minggu. Guru Sekolah Minggu yang ada di GBKP Rg. Batuerdan ini tidak menetap karena ada yang menikah, ada yang memang memilih keluar karena tidak tahan dengan komentar dari orangtua anak sekolah minggu, dan ada juga yang pindah ke luar kota. Bahkan pernah tidak ada guru sekolah minggu, akhirnya pertua/diaken lah yang mengambil bagian sebagai guru Sekolah Minggu.  Sejak tahun 2018 ada 3 guru Sekolah Minggu tetapi mereka pun sering selisih paham dan kurang aktif dan yang aktif hanya 1. Jadi, Nora (istri pendeta) beserta pendeta pun turut ambil bagian dalam mengajar Sekolah Minggu. Untuk roster yang sudah di buat pun tidak berjalan dengan baik dan juga beberapa kali guru Sekolah Minggu tidak mengikuti sermon untuk mengajar. Mengenai gaji yang diperoleh, awalnya guru diberikan bingkisan setiap Natal. Sejak tahun 2000 guru Sekolah Minggu mulai diberikan 50.000 setiap Natal dan mulailah sampai tahun 2019 diberikan 100.000 setiap Natal.

Ada beberapa kesulitan yang dihadapi dalam pelayanan Sekolah Minggu, misalnya cuaca yang terkadang membuat anak dan guru Sekolah Minggu malas, guru yang tidak konsisten dalam mengajar dan juga guru yang belum bisa membedakan antara urusan pelayanan sekolah minggu dengan urusan pribadi dan urusan rumah tangga. Tantangan dari luar adalah tantangan dari orangtua. Banyak orangtua yang merasa bahwa sebagai guru sekolah minggu tidak memperhatikan anak-anak, dan mereka merasa kurang puas dengan pelayanan yang sudah diberikan kepada anak-anak. Akhirnya tidak jarang ada kesalahpahaman antara guru dan orangtua. Masalah ini juga seringkali membuat guru Sekolah Minggu memilih berhenti. Ada juga tantangan dari anak-anak itu sendiri, yaitu anak-anak masih senang mengganggu teman, mencari perhatian, membuat keributan dan lain sebagainya. Kegiatan Sekolah Minggu di GBKP Rg. Batuerdan, yaitu: Bernyanyi, doa pembuka, bernyanyi, doa pembuka untuk pembacaan Firman, Pembacaan Firman, doa, bernyanyi, persembahan, doa penutup, pulang. Ketika ada acara PERMATA (pemuda) maka anak remaja juga turut ambil bagian, ini dikarenakan PERMATA yang ada di Klasis Dairi khususnya di Batuerdan hanya beberapa yang masih menetap di Batuerdan, selebihnya sudah merantau ke kota lain. Selain itu, Sekolah Minggu di GBKP Rg. Batuerdan juga beberapa kali mengadakan PA di tempat-tempat rekreasi. Mengenai keaktifan anak Sekolah Minggu, untuk ibadah tiap Minggu kehadiran mereka tidak menentu. Terkadang jumlah mereka bisa sampai 30an, tetapi bisa juga hanya kisaran 15 anak. Terkhusus anak Remaja yang laki-laki hanya 1 yang aktif, bahkan beberapa kali pun tidak ada anak Remaja laki-laki.

 

2.6.Refleksi Pelayanan Sekolah Minggu Robert Raikes Bagi Pelayanan Sekolah Minggu GBKP Rg. Batuerdan

Sekolah Minggu merupakan salah satu sarana untuk memberikan pengajaran iman kepada anak-anak. Gereja sebagai tubuh Kristus yang merupakan kumpulan orang-orang percaya yang dipanggil keluar dari gelap ke dalam terang bukan hanya terdiri dari jemaat yang usianya sudah dewasa, tetapi di dalamnya termasuk juga anak-anak kecil. Itulah sebabnya gereja perlu untuk memberikan perhatian khusus dalam dunia anak. Dengan adanya sekolah Minggu maka anak-anak akan semakin bertumbuh dalam pengenalan akan Firman Tuhan.

Robert Raikes adalah Bapak prakarsa Sekolah Minggu. Pada awal berdirinya Sekolah Minggu hanyalah sebuah usaha untuk menolong anak-anak yang tumbuh liar di masyarakat yang ekonominya menengah kebawah. Sebuah usaha yang di awali oleh Robert Raikes dari tempat yang sederhana ini berdampak terasa ke seluruh dunia dan bertahan hingga saat ini. Belajar dari sejarah Sekolah Minggu merupakan hal yang sangat penting bagi dasar dan pengembangan Sekolah Minggu masa kini. Dengan belajar dari sejarah Sekolah Minggu maka berbagai aspek pendidikan Kristiani untuk anak juga dikembangkan dengan mengetahui bagaimana pendidikan dan psikologi anak namun tetap pada dasar teologis yang kuat. Banyak sekali yang dapat di pelajari dari sejarah sekolah Minggu yang dimulai oleh Robert Raikes ini. Yang pertama adalah sikap optimisnya yang membuat di tetap bertahan dan tidak putus asa untuk mengajar anak-anak yang nakal dan untuk pendirian Sekolah Minggu di Inggris. Penyeminar merasa bahwa semangat pelayanan yang dilakukan oleh Robert Rikes ini bisa menjadi refleksi bagi guru-guru Sekolah Minggu. Guru-guru Sekolah Minggu seharusnya bisa mengikuti semangat pelayanan yang dilakukan oleh Robert Raikes ini karena jika sebagai guru pun tidak memiliki semangat dalam mengajar, maka anak yang akan diajar pun tidak akan memperoleh apa-apa. Guru Sekolah Minggu pun sebaiknya kuat dalam menghadapi tantangan yang ada, jangan langsung memilih berhenti dan menyerah ketika ada tantangan ataupun kesulitan. Penyeminar juga sangat tertarik dengan metode yang dipakai oleh Robert Raikes, yaitu dengan cara menjumpai anak-anak lalu mengajak mereka untuk beribadah. Ini juga dapat sebagai refleksi untuk guru sekolah minggu GBKP Rg. Batuerdan agar bukan hanya menunggu anak datang ke gereja tetapi mengajak mereka untuk bergereja. Khususnya GBKP Rg. Batuerdan berada di pedesaan dan rumahnya masih berdekatan satu sama lain, maka metode ini sangat bisa dipakai untuk anak Sekolah Minggu GBKP Rg. Batuerdan. Karena beberapa anak ada yang masih segan, malu, takut untuk ke gereja, mereka butuh ajakan ataupun dukungan. Selain itu, hal yang menarik dari metode yang digunakan Robert Raikes yang dapat sebagai refleksi untuk pelayanan Sekolah Minggu GBKP Rg. Batuerdan adalah datang kegereja bukan sekedar bernyanyi dan mendengarkan firman Tuhan tetapi juga belajar menulis, belajar membaca, belajar berhitung, mendengarkan firman yang disampaikan dengan alat bantu/alat peraga, belajar bertutur kata dan bertindak, belajar berhitung dan bermain. Bisa juga beberapa kali memberikan hadiah seperti yang di lakukan Robert Raikes sebagai penghargaan kepada anak yang rajin. Jadi anak pun merasa gembira, pengetahuan mereka bertambah, kreativitas mereka juga semakin tergali.

 

III.             Analisa Penyeminar

Pendidikan kepada anak-anak (Sekolah Minggu) sangatlah penting. Gereja harus mampu membentuk mentalitasnya dari sejak anak-anak. Jika lewat Robert Raikes sekolah minggu ada sampai saat ini, kita harus berterimakasih, dan kita harus m  elanjutkan visi misi didirikannya sekolah minggu, jika guru sekolah minggu tidak memiliki visi, maka akan sama seperti pemain olahraga tanpa target (pemain sepak bola tanpa gol). Visi seorang guru sekolah minggu yaitu tidak hanya ingin anak yang diajarnya sekedar mengikuti kegiatan gereja tetapi anak Sekolah Minggu harus mengerti dan berproses menjadi murid Kristus yang setia dan menjadi terang dunia melalui seluruh sikap hidupnya yang baik yang menjadi kesaksian bagi banyak orang. Sekolah Minggu adalah jenis pelayanan yang sangat kompleks. Guru Sekolah Minggu bertanggung jawab untuk mengenalkan Tuhan Yesus kepada mereka, guru Sekolah Minggu harus bisa menjadi teladan yang baik bagi mereka, mengetahui perkembangan anak-anak Sekolah, berdoa bagi setiap anak-anak Sekolah Minggu, dan memiliki tugas untuk menumbuhkan kreativitas dalam mengajar anak-anak. Guru diharapkan membuat anak menjadi pelaku dari firman Tuhan, bukan hanya menjadi pembaca dan pendengar.

Dalam hal pembagian kelas, sebaiknya ada 4 pembagian kelas yaitu: kelas Batita/Balita, Kecil, tanggung dan remaja. Pembagian kelas ini akan memudahkan setiap guru untuk mengajar anak-anak. Contohnya saat mengajar kelas kecil dan kelas remaja tentu berbeda karena daya tangkap anak berbeda, kemampuan maupun ketrampilan anak-anak berbeda, cara mengajar dan menjelaskan kepada anak pun berbeda-beda. Ketika anak kelas kecil bergabung dengan kelas remaja dan diajarkan dengan metode berdiskusi, tentu mereka tidak akan mengerti. Begitu juga ketika  saat digabung, anak remaja disuruh untuk tebak warna dan mewarnai, tentu pengetahuan mereka akan Firman Tuhan tidak akan bertambah. Jadi menurut analisa penyeminar sebaiknya dalam hal pembagian kelas pun harus diperhatikan.

Kepribadian seseorang akan lebih mudah dibentuk pada usia yang dini. Sebab itu, penting sekali gereja memberi perhatian, selain pada pembinaan keluarga (yang merupakan lingkungan inti anak) juga pada Sekolah Minggu. Apabila keluarga dan gereja dapat mendidik anak-anak di dalam terang Firman Tuhan, kelak mereka pasti akan bertumbuh dan menjadi seorang Kristen yang memuliakan nama Tuhan. Selain itu, gereja, melalui Sekolah Minggu, juga mempunyai kesempatan menjangkau anak-anak dari keluarga yang belum percaya untuk dibina dalam lingkungan Kristen yang baik. Jikalau Sekolah Minggu berhasil, berarti gereja telah melatih dan mempersiapkan para pemimpin gereja untuk masa yang akan datang. Memang "anak-anak kecil" yang terlihat hadir di Sekolah Minggu, tapi "anak-anak kecil" itulah yang beberapa tahun ke depan akan menjadi para pemimpin gereja. Kualitas para pemimpin gereja di masa yang akan datang, sedikit banyak dapat dilihat dari bagaimana kualitas Sekolah Minggu yang ada saat ini.

IV.             Kesimpulan

Sekolah Minggu merupakan salah satu kegiatan penting di dalam gereja, karena anak-anak layak untuk mendapatkan perhatian dan pengajaran yang benar. Sejak kecil, anak-anak harus diberikan pengajaran Alkitabiah yang benar, sehingga Firman itu terus berbuah dalam hidupnya. Ide Sekolah Minggu pertama kali dicetuskan dan direalisasikan oleh Robert Raikes (1736-1811). Kelas Sekolah Minggu yang pertama dibuka bukan berada di dalam gereja, melainkan di sebuah dapur di kota Gloucester, Inggris. Baru setelah bertahun-tahun kemudian, ide Sekolah Minggu Robert Raikes dapat diterima oleh gereja. Tentu ada banyak tantangan yang dia hadapi, tapi dengan usaha dan semangat pelayanan Robert Raikes maka Sekolah Minggu dapat berdiri bahkan sampai ke Negara-negara lain. Begitu juga dengan Sekolah Minggu yang ada saat ini, sebaiknya lebih fokus dan inovatif lagi dalam mendidik anak-anak. Karena bagaimana pun juga, anak-anak adalah pemimpin-pemimpin gereja di masa yang akan datang. Jadi jangan merasa remeh saat mendidik anak-anak. Keadaan gereja pada waktu-waktu yang akan datang ditentukan oleh keadaan sekolah Minggunya pada hari ini. Bila melalui pelayanan sekolah Minggu dihasilkan "murid-murid" Yesus Kristus yang sejati dan mempunyai dedikasi tinggi maka kita dapat mengharapkan jemaat yang dewasa dan gereja yang berkembang pada waktu-waktu yang akan datang. 

V.                Daftar Pustaka

Boehlke, Robert R., Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011

Curtis, A.Kenneth, 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kristen, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2007

Ismail, Andar, Ajarlah Mereka Melakukan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998

Ismail, Andar, Selamat Menabur, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008

Kadarmanto, Ruth S., Tuntunlah kejalan Yang Benar, Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2005

May, Scottie, Children Matter: Celebrating Their Place in the Church Family, and Community, Amerika: Wm. B. Eerdmans Publishing, 2005

Paulus, Lie, Mereformasi Sekolah Minggu, Bandung: ANDI, 2008

Power, John Carroll, Rise and Progress of Sunday Schools, New York: Sheldon & Company, 1871

Sexton, Clarence, Big Ideas For a Better Sunday School, USA: Sword of the Lord Publishers, 1987

Wellem, F.D., Kamus Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006

 



[1] Ruth S. Kadarmanto, Tuntunlah kejalan Yang Benar, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2005), 26

[2] Robert R.Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 379-380

[3] Robert R.Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 380

[4] Clarence Sexton, Big Ideas For a Better Sunday School, (USA: Sword of the Lord Publishers, 1987), 6

[5] Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998), 7

[6] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 112

[7]Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 422

[8] Ruth S. Kadarmanto, Tuntunlah kejalan Yang Benar, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2005), 26

[9] Scottie May, Children Matter: Celebrating Their Place in the Church Family, and Community, (Amerika: Wm. B. Eerdmans Publishing, 205), 101

[10] Andar Ismail, Selamat menabur, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2011), 29

[11] A. Kenneth Curtis, 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kristen ( Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2007), 111

[12] Andar Ismail, Selamat Menabur, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 29

[13] John Carroll Power, Rise and Progress of Sunday Schools, (New York: Sheldon & Company, 1871), 44

[14] Robert R.Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 422

[15] Andar Ismail, Selamat Menabur, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 30

[16] A. Kenneth Curtis dkk, 2007, 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 112

[17] Andar Ismail, Selamat Menabur, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 30

[18] Lie Paulus, Mereformasi Sekolah Minggu, (Bandung: ANDI, 2008), 110-111

                [19] Robert R.Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 398-416

                [20] Robert R.Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 418

                [21] Robert R.Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 421

                [22] Lie Paulus, 2008, Mereformasi Sekolah Minggu, (Bandung: ANDI), 110-111.

                [23] Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998) , 16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar