Jumat, 16 April 2021

KARAKTERISTIK KENABIAN

 


KARAKTERISTIK KENABIAN

(Ditinjau dari Dogmatika, Ilmu Agama-agama, Agama Suku diperhadapkan dengan fungsi suara kenabian gereja masa kini)

I.                   Latar Belakang Masalah

Siapakah seorang nabi itu?. Nabi-Nabi dalam bangsa Israel banyak dijelaskan di dalam Alkitab, baik  dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Kajian hari ini berisi tentang karakteristik kenabian dalam Pl ditinjau dari dogmatika, ilmu agama, dan agama suku, serta diperhadapkan dengan fungsi suara gereja masa kini. Nabi dan nubuat kenabiannya tidak bisa dipisahkan karena nubuat kenabian berisikan proyek keselamatan Tuhan yang disampaikan ke bumi ini melalui nabi lewat perkataannya, tanpa nabi dan nubuatnya, sejarah tinggal “sebuah nomenclature dari seri kejadian” dan bukan “sejarah keselamatan”, artinya lewat nabi dan nubuatnya, dunia menjadi panggung kairós (keselamatan) dan bukan sekedar panggung chronos (kejadian). Nabi adalah abdi Yahweh yang kerap kali menegur dan mengecam penguasa dan masyarakat yang hidupnya tidak sejalan dengan keadilan dan kebenaran. Nubuat nabi biasanya muncul dari relasi pribadinya yang mendalam dengan Tuhan. Seorang nabi memiliki tugas untuk menerima pesan Tuhan melalui wahyu dan menyampaikan pesan tersebut kepada manusia. Nabi adalah orang yang berbicara atas nama Tuhan dengan keterlibatan perasaan yang kuat, dan juga bagaimana hubungan karakteristik kenabian dengan suara kenabian gereja masa kini.

II.                Pembahasan

2.1.Pengertian Kenabian

Nabi adalah sebutan bagi orang-orang yang diutus Allah menyampaikan rencana terhadap dunia dan umat-Nya. Ada beberapa istilah Ibrani yang sering dipakai untuk pekerjaan seorang nabi. Pertama adalah “navi” (Ibr. נביא , Ing. Prophet) artinya orang-orang yang dipanggil menyampaikan berita atau kehendak Allah. Sebutan nabi diberikan kepada laki-laki sedangkan bagi perempuan disebut nabiah (Ibr. נביאה nebiyah). Sejarah memperlihatkan bahwa kehadiran para nabi sudah ada sejak Israel kuno hingga zaman sesudah pembuangan. Gelar nabi juga diberikan kepada Abraham (Kej. 20:7), Musa (Ul. 34:10), Harun (Kel. 7:1). Perempuan yang pernah disebut nabi diantaranya adalah Miryam (Kel. 15:20). Nabiah lebih sedikit jumlahnya dibanding nabi laki-laki. Nabiah tidak ada meninggalkan nubuat dalam bentuk kitab dan menjadi kanon Alkitab. Meskipun tidak memiliki kitab, tetapi kedudukan mereka tidak boleh dipandang sebelah mata sebab ada banyak nabiah yang berpengaruh dalam kehidupan umat Tuhan, misalnya Miryam, Huldah dan juga istri nabi Yesaya.[1]

Dalam Perjanjian Lama nabi memiliki peranan paling penting dalam kehidupan umat Israel. Nabi merupakan suatu jabatan kepada seseorang yang mengambil tempat utama dan menyolok dalam kehidupan bangsa Israel. Kata navi dapat dikembalikan ke suatu akar kata אׇכָּך akkad yang artinya seseorang yang dipanggil ataupun seorang yang memanggil yakni kepada manusia atas nama Allah. Kedua arti tersebut sangat cocok kepada gambaran nabi dalam zaman Perjanjian Lama.[2]

Dalam Perjanjian Lama nabi memiliki dua ciri khas yang khusus yaitu:[3]

a.      Suatu panggilan dari Allah.

Setiap nabi yang dipanggil Allah diberi tugas untuk bernubuat (Yes 6:1-8). Pemanggilan menjadi seorang nabi tidak berdasarkan keturunan ataupun dilantik kepada jabatan tertentu melainkan ketentuan langsung dari Tuhan.

b.      Sebagai penyampai firman Tuhan kepada manusia lain. 

Berita atau firman yang disampaikan bukan suatu karangan manusia melainkan sesuatu yang diterima dari Allah (bnd. Yer 23:18).

Mengenai kenabian dalam permulaan kerajaan Israel, terdapat tiga penekanan sebutan bagi seorang nabi yakni:[4]

1.      אִשׁ הַ אֶלֹהִם  (Ish ha Elohim: Abdi Allah)

Sebutan ini untuk menyatakan hubungan yang erat dengan Allah yang juga secara bersamaan sebagai penghormatan terhadap nabi untuk membedakan kedudukan yang lebih tinggi.

2.      אִשׁ הַ רֻאַך  (Ish ha Ruakh: Manusia Rohani)

Sebutan ini juga digunakan bagi nabi dikarenakan pekerjaan yang didasarkan atas kuasa Allah (1 Sam 16:13; Yeh 11:5). Dengan demikian seorang nabi telah bernubuat maka roh Allah hadir kepada nabi tersebut.

3.      רֹאֶה  (Ro’eh: Pelihat) dan הֹזֶה  (hozeh: Peramal)

Sebutan ini ditujukan kepada seorang nabi yang memiliki kemampuan dalam melihat masa depan dan meramalkan masa depan (2 Sam 24:11: 2 Raja 17:13, Yes 28:15).

 

2.2.Kenabian dalam Perjanjian Lama

Nabi-nabi dalam Perjanjian Lama adalah hamba-hamba Allah yang kerohaniannya jauh lebih tinggi daripada orang-orang sezamannya. Tidak ada kelompok apa pun dalam dunia sastra yang digambarkan dengan lebih dramatis daripada nabi Perjanjian Lama. Imam, hakim, raja, penasihat bijaksana, dan pemazmur masing-masing memiliki tempat khusus dalam sejarah Israel, tetapi tak seorang pun di antara mereka yang mencapai taraf para nabi atau yang tetap berpengaruh dalam sejarah penebusan selanjutnya.[5] Para nabi mempunyai pengaruh utama dalam susunan Perjanjian Lama itu sendiri. Kenyataan ini tampak dalam ketiga pembagian Alkitab Ibrani: Torah, Kitab Para Nabi, dan Tulisan-tulisan (Lukas 24:44). Kelompok yang dikenal sebagai Kitab Para Nabi tercakup enam kitab sejarah yang ditulis dengan perspektif nubuat: Yosua, Hakim-Hakim, 1 dan 2 Samuel, dan 1 dan 2 Raja-Raja. Sangat mungkin penulis kitab-kitab ini juga nabi. Kemudian, terdapat ke-16 kitab nabi khusus (Yesaya hingga Maleakhi). Akhirnya, Musa penulis ke-5 kitab pertama di Alkitab (Torah), juga seorang nabi (Ulangan 18:15). Jadi, dua pertiga Perjanjian Lama ditulis oleh nabi.[6]

Nabi dalam Perjanjian Lama ialah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Allah dan menjadi orang kepercayaan-Nya (Am 3:7). Nabi memandang dunia dan umat perjanjian dari segi pandangan Allah bukan dari segi pandangan manusia. Karena dekat dengan Allah, seorang nabi sependapat dengan Allah dan ikut merasakan penderitaan Allah karena dosa-dosa manusia, karena ia memahami maksud, kehendak, dan keinginan Allah lebih daripada orang lain, ia mengalami reaksi-reaksi emosi yang sama dengan Allah. Dengan kata lain, nabi bukan hanya mendengar suara Allah tetapi ikut merasakan perasaan hati-Nya.[7]

Nabi dalam Perjanjian Lama memiliki tiga ciri sebagai berikut:

a.       Pengetahuan yang dinyatakan secara ilahi. Seorang nabi menerima pengetahuan yang diberi Allah mengenai orang, peristiwa, dan kebenaran penebusan. Maksud utama pengetahuan ini ialah mendorong umat Allah agar tetap setia kepada Allah dan perjanjian-Nya. Ciri khas nubuat PL yang menonjol ialah bahwa kehendak Allah bagi umat-Nya dijelaskan melalui ajaran, teguran, dan peringatan. Allah memakai para nabi untuk menyatakan hukuman-Nya sebelum itu terjadi. Dari tanah sejarah Israel dan Yehuda timbullah nubuat-nubuat khusus tentang Mesias dan Kerajaan Allah, serta ramalan aneka peristiwa dunia di masa depan.

b.      Kuasa yang diberikan secara ilahi. Para nabi tertarik ke dalam lingkaran ajaib ketika dipenuhi dengan Roh Allah. Melalui para nabi, kuasa dan hidup Allah ditunjukkan secara adikodrati di tengah-tengah dunia yang pada umumnya tertutup untuk itu semua.

c.       Gaya hidup yang khusus. Pada umumnya nabi-nabi meninggalkan kegiatan hidup sehari-hari yang biasa untuk hidup semata-mata bagi Allah. Mereka dengan gigih menentang penyembahan berhala, kebejatan, dan bermacam-macam kejahatan di antara umat Allah, dan juga mengecam korupsi dalam kehidupan para raja dan imam, mereka merupakan aktivis yang mendukung perubahan kudus dan benar di Israel. Para nabi, yang senantiasa giat demi Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, memperjuangkan kehendak Allah tanpa memikirkan resiko pribadi.[8]

Dari catatan penjelasan diatas sebelumnya, dijelaskan bahwa mengenai peranan nabi dalam sejarah kehidupan bangsa Israel dapat diperhatikan dalam Ulangan 18 dimana dimulainya jabatan nabi tersebut. Hal yang paling menarik terjadi setelah pemberitaan perintah kepada raja (Ul. 17), kepada para imam (Ul. 18:18) serta peringatan mengenai kekafiran di negeri tujuan bangsa Israel (Ul. 18:9-14).[9] Pemanggilan seorang nabi dalam situasi kehidupan bangsa Israel berperan untuk mengawasi imam dan raja. Dalam Ulangan 18 juga menyatakan bahwa pemanggilan dan penetapan seorang nabi untuk menyatakan firman-Nya (bnd. Ul. 18:18). Dengan demikian peranan pemanggilan seorang nabi merupakan penyambung lidah Allah kepada bangsa Israel yang memiliki suatu konsekuensi bahwasanya siapa yang tidak mendengar nabi tersebut maka Allah akan meminta dan menuntut tanggungjawab orang itu.[10]

Pemberitaan nabi kepada umat Israel memiliki unsur-unsur sebagai berikut:[11]

a.       Berita yang disampaikan mereka ditujukan kepada masa mereka sendiri dan langsung menyangkut keadaan-keadaan seperti agama, politik, dan sosial yang berlaku.

b.      Pelayanan mereka berisi unsur nubuat yang sering mencakup suatu peringatan mengenai akibat-akibat yang akan datang kemudian hari jikalau mereka bersikeras dalam ketidaktaatan kepada perintah Allah. Pada pihak lain untuk memberanikan hati sisa-sisa masyarakat yang masih beribadah kepada Allah yang senantiasa ada ditengah-tengah bangsa itu, sehingga terdapatlah nubuat tentang hari kemudian yang lebih baik dan mulia, yang termasuk dalam penggenapan janji ilahi yang telah dibuat dengan Abraham dan Musa.

c.       Dalam berita para nabi diumumkan prinsip-prinsip ilahi yang tetap sepanjang masa.

d.      Sedikit banyak cerita mereka itu berisi unsur ke-Mesias-an dan memusatkan perhatian kepada pelepas yang telah dijanjikan.

Pemanggilan dan pengutusan para nabi merupakan suatu inisiatif Allah demi kepentingan umat-Nya. Hal ini seringkali dikatakan dimulai dengan suatu peristiwa yang bersifat rahasia dimana Allah berkenan mengerahkan seseorang menjadi peserta di dalam pelaksanaan karya-Nya.[12] Dengan demikian pemanggilan dan pengutusan nabi ditengah-tengah umat Israel memiliki tiga segi utama dibalik peristiwa pemanggilan itu yakni:[13]

1.        Allah mendatangi orang-Nya, serta menyatakan diri-Nya dengan perkataan maupun dengan penglihatan untuk memberitahukan bahwa Ia bertindak dan sebabnya mengapa Ia bertindak. Penghayatan para nabi terhadap pengalaman kehadiran Allah yang dahsyat perlu ditekankan. Allah sendirilah secara langsung memilih tempat dan cara-Nya bagaimana Ia berkenan datang. Allah juga yang menetapkan siapa yang hendak dilawat-Nya bukan atas prakarsa manusia melainkan Allah sendiri yang mengambil prakarsa. Awal kenabian justru terletak di dalam penerimaan wahyu berupa penglihatan. Melalui apa yang diperlihatkan itu Allah memperdengarkan firman-Nya dengan berisikan berita tegas. Allah juga menyatakan diri-Nya serta memperdengarkan firman-Nya adalah untuk memprakarsai salah satu tindakan yang hendak diambil-Nya.

2.        Allah mempercayakan firman-Nya kepada para nabi yakni dengan menyuruh mengalihbahasakan serta menyampaikan kepada umat yang harus mengetahuinya. Allah menghargai dan mengangkat seseorang serta memberikan kepercayaan yang tidak selayaknya diberi kepada manusia. Dengan demikian melalui berkat kepercayaan Allah yang tidak terduga manusia diperbolehkan hadir dalam dewan musyawarah Tuhan untuk memperhatikan dan mendengarkan firman-Nya (Yer. 23:18 bnd. Ayb. 15:8). Oleh sebab itu Allah mengikutsertakan manusia di dalam penanganan firman-Nya yang berkodrat kuasa-Nya sendiri. Allah sendiri menyatakan firman-Nya dalam bentuk perkataan yang dipahami manusia, namun kerap juga mengiringinya dengan perkataan nabi sendiri. Dengan kata lain perkataan nabi yang disampaikan sesuai dengan bentuk bahasa serta corak tempat dimana ia bernubuat yang juga telah berusaha untuk mengimbangi firman Allah yang mula-mula terdengar oleh nabi sendiri (bnd. Yes. 15:19).

3.        Allah mencukupi ketidakmampuan para nabi supaya dengan pemberian Roh-Nya yang kudus dengan janji penyertaan-Nya atau dengan lain-lain jenis perlengkapan, para nabi diperlengkapi, kekurangan yang ada pada nabi dicukupi. Yang masih muda menjadi matang dan dewasa, yang berat lidah menjadi fasih berbicara sehingga meyakinkan orang. Hal ini diberikan melalui anugerah yang luar biasa dari Tuhan.

Para nabi tidak bertugas sebagi alat yang pasif, namun sebaliknya mereka digerakkan secara aktif. Peranan para nabi juga sebagai pejuang yang memanggil umat Israel kembali pada prinsip-prinsip yang menjadi landasan mereka. Dalam tugas mereka menguraikan makna perjanjian dan makna iman etis serta menerapkan pada situasi zaman mereka.[14] Para nabi dengan jelas berbicara pada situasi di zaman mereka terutama terhadap peringatan-peringatan dan bimbingan mengenai masa depan. Hampir setiap nabi tampil pertama-tama sebagai peramal. Ada tiga dasar praktek-praktek ramalan yang dilakukan para nabi, antara lain:

a.       Bahwa jika orang ingin melakukan pertanggungjawaban moral yang patut pada masa kini, maka harus sadar akan masa depan.

b.      Nubuat timbul karena para nabi berbicara atas nama Yang Maha Kudus, Pemerintah sejarah. Dengan demikian panggilan nabi pertama-tama adalah untuk mengenal Allah. Dari pengalaman itu muncullah kesadaran pada apa yang akan dilakukan-Nya sementara Ia memimpin sejarah menurut asas-asas yang tidak dapat berubah berdasarkan tabiat-Nya yang kudus. Ini berarti bahwa sebagai nabi mereka memiliki segala asas informasi sebab melalui Musa dan keluaran dari Mesir, Allah telah mengumumkan nama-Nya untuk selamanya (Kel. 3:15).[15]

c.       Nubuat tampaknya termasuk gagasan asasi pelayanan kenabian. Ini tampak dalam Ulangan 18:9 ketika Israel memasuki tanah Kanaan bukan hanya diperingatkan tentang keburukan orang Kanaan namun juga tentang para pelaku agama Kanaan seperti peramal. Memang orang-orang seperti itu terlibat dalam apa yang disebut meramal keberuntungan. Mereka menawarkan untuk mengetahui masa depan dengan alat apa saja. Bagi Israel sebagai penggantinya akan ditamplikan seorang nabi yang akan dibangkitkan Tuhan dari antara mereka.

Satu hal yang umum berlaku untuk para nabi ialah bahwa pelayanan-pelayanan mereka dilakukan pada saat-saat kritis dalam sejarah hidup umat, baik dalam bidang politik maupun keagamaan. Panggilan Allah datang kepada beragam orang yang telah diberi tugas untuk menyatakan kehendak dan tujuan-Nya di setiap krisis yang tengah dihadapi bangsa-bangsa. Panggilan itu sendiri dengan berbagai cara. Amos (Am. 7:1-9) dan Yeremia (Yer. 1:11-14) keduanya melihat benda-benda yang sering ditemukan di sekitar mereka yang, di bawah inspirasi Allah, mendadak menjadi berarti bagi mereka; kawanan belalang, seseorang dengan tali sipat, sebuah bakul dengan buah-buahan musim panas, sebuah tongkat dari bunga buah badam atau sebuah periuk yang mendidih. Penglihatan tentang qayis (buah-buahan musim panas) meyakinkan Amos bahwa qes (akhir) zaman sudah datang. Sementara bagi Yeremia, penglihatan tentang sebuah saqed (dahan buah badam) menunjukkan kepadanya bahwa Allah sedang soqed(mengamati terus menerus) terhadap firman-Nya untuk mewujudkannya. Penglihatan Yesaya datang kepadanya, seperti ketika ia sedang berada di dalam Bait Suci. Dan hal-hal yang biasa di sana kini memiliki makna yang baru baginya. Lingkungan sekitarnya menjadi sarana untuk mengungkapkan pengalaman batiniahnya.[16]

Panggilan itu merupakan suatu pengalaman yang sangat pribadi yang terkait dengan berbagai keadaan di sekitar nabi sendiri. Misalnya, Amos dan Yeremia dipanggil langsung dengan penyebutan namanya. Tanggapan nabi terhadap panggilan ini sering kali berupa ketidakpercayaan, keengganan dan perasaan tidak mampu. Perasaan tidak mampu inilah yang membuat para nabi tetap sadar  akan kuasa Allah dan akan ketergantungan mereka kepada-Nya di sepanjang hidup mereka. Pelayanan mereka semata-mata hanyalah merupakan bagian dari rencana agung Allah yang dengannya mereka tidak dapat menghindari diri dari panggilan-Nya. Sebagaimana panggilan nabi itu merupakan pengalaman hidup yang nyata dan konkret, begitu pula pesan yang disampaikannya harus menyentuh hal-hal yang nyata dan konkret di dalam kehidupan umat.[17]

2.3.Karakteristik Kenabian menurut Nabi Perjanjian Lama

1.      Yeremia

Yeremia adalah salah satu nabi yang masa pelayanannya cukup panjang. Dia hidup di zaman 6 raja Yehuda, dan menyaksikan sendiri tiga kali penyerbuan Babel ke Yerusalem hingga kejatuhan kota itu tahun 589 SM. Setelah itu, walaupun tidak dibawa ke pembuangan ke Babel, dia dipaksa oleh orang-orang sebangsanya untuk mengungsi ke Mesir, meskipun ia memperingatkan mereka untuk tidak melakukannya karena melawan kehendak Allah. Menurut Yeremia ada beberapa karakteristik yang harus dimiliki seorang Nabi:

·         Nabi Harus Hidup Lajang (Yeremia 16:1-9)

Melalui tindak kenabian ini Yeremia ingin menyatakan bahwa masa depan bangsa Yehuda seperti tanpa harapan, sehingga tidak ada gunanya lagi membangun keluarga. Bangsa Yehuda digambarkan sebagai bangsa yang tidak memiliki harapan lagi.

·         Nabi Menghancurkan Buli-Buli (Yeremia 19:1-15)

Dengan tindakan kenabian ini, Yeremia ingin menggambarkan kehancuran yang menimpa bangsanya.

·         Nabi Memikul Kuk sebagai Orang Buangan (Yeremia 27:1-22)

Ketika Yeremia memikul kuk di atas pundaknya berarti Ia ingin mengisyaratkan bahwa bangsa Yehuda harus tunduk pada pemerintahan Babel.

·         Nabi Yeremia dan Hananya, Nabi Palsu (Yeremia 28:1-17)

Tindakan nabi Yeremia ini jelas mengingatkan bangsa Yehuda untuk siap menghadapi pengadilan Tuhan, persengkongkolan manusia tidak dapat mengubah rencana Tuhan.

·         Nabi Membeli Tanah (Yeremia 32:6-44)

Dengan membeli tanah ini, nabi ingin menyatakan betapa tidak bergunanya menyimpan harta kekayaan dan milik, sebab tidak dapat menjamin kemerdekaan pemiliknya.

·         Nabi Minum Anggur dengan Kaum Rekhab (Yeremia 35:1-19)

Ini adalah bentuk kritik tegas Yeremia terhadap bangsa Israel yang tidak taat dan tidak tahan terhadap godaan-godaan.

·         Nabi Meletakan Batu Besar di Pintu Masuk Istana Firaun (Yeremia 48:1-13)

Batu besar ini digunakan sebagai tanda penghakiman bagi umat Israel yang tidak mau mendengarkan perintah Tuhan.

·         Nabi Menuliskan Daftar Malapetaka (Yeremia 51:59-64)

Dengan menuliskan daftar malapetaka ini, Yeremia ingin menyatakan bagaimana sebenarnya perasaan dan pemikiran Allah, melihat ketidaksetiaan umatnya.

2.4.Kenabian dalam Ilmu Agama-agama

2.4.1.      Islam

Menurut perspektif agama Islam nabi berasal dari bahasa Arab, naba‟, berarti warta (al-khabar), berita, informasi , laporan.[18] Dalam bentuk transitif (anba' 'an) ia berarti memberi informasi, meramal, menceritakan masa depan, dan istanba'a (meminta untuk diceritakan).[19]Kata nabi ini bentuk jamaknya nabiyyūn dan anbiyā'. Sedangkan nubuwwah adalah bentuk masdar (kata benda, noun) dari naba‟ bermakna kenabian (ramalan atau kenabian), sifat nabi; yang berkenaan dengan nabi.[20]  Secara istilah, kata nabi memiliki banyak definisi. Nabi adalah seseorang yang menerima wahyu dari Allah SWT melalui perantaraan malaikat atau ilham maupun mimpi yang benar. Mereka juga adalah mubasysyir (pembawa berita baik, yaitu mengenai ridha Allah dan kebahagiaan hidup di dunia serta di akhirat bagi orang-orang yang mengikutinya) dan mundzir (pemberi peringatan, yaitu pembalasan bagi mereka serta kesengsaraan terhadap orang-orang yang ingkar) (QS. al-Baqarah [2]: 213)[21]. Adapun beberapa karakteristik dalam agama Islam sehingga bisa disebut sebagai nabi ialah sebagai beriikut:

1.      Wahyu (seseorang yang menerima wahyu dari Allah SWT)

2.      Muji’zat (yang diperkenankan oleh Allah SWT untuk membuat suatu muji’zat)

3.      Ishmaah (terjaga dari perbuatan dosa)

4.      Kecerdasan

5.      Memiliki kepemimpinan yang baik

6.      Ketulusan Niat

7.      Konstruktivitas (Para nabi memberikan energi kepada kekuatan-kekuatan masyarakat dan mengorientasikan mereka agar melatih individu dan membimbingnya, dan membangun masyarakat manusia)

8.      Konflik dan Perjuangan (Tanda lain dari ketulusan seorang nabi dalam klaimnya adalah bahwa ia berjuang menentang politheisme, tahayul, kebodohan, kepalsuan, penindasan, kekejaman dan ketidakadilan)

9.      Manusiawi[22]

Begitu juga pada agama- agama yang lain termasuk Hindu, Umat Hindu memiliki acarya terbesar. Beliau adalah Maharsi Vyasa atau dikenal sebagai Sri Vyasadeva. Dalam agama-agama lain, ada istilah nabi. Dalam Kitab Suci Veda, ada istilah acarya. Maharsi Vyasa adalah acarya teragung bagi umat Hindu. Beliau menulis seluruh Kitab Suci Veda untuk umat manusia di zaman Kaliyuga. sebelum semua agama besar lainnya lahir, Maharsi Vyasa telah menulis sabda-sabda Tuhan Sri Khrisna dalam Kitab-kitab Suci Veda yang tiada batasnya, mulai dari keempat Veda, Upanisad, Itihsa, Purana, hingga Vedanta Sutra. Seluruh kebijaksanaan dan butir-butir pengetahuan yang dikena umat manusia ada dalam Kitab Suci Veda. Sebelum Veda ditulis oleh Maharsi Vyasa 5000 tahun lampau, Veda telah ada di kalangan umat manusia tanpa perlu ditulis karena ingatan manusia pada masa sebelum Kaliyuga sangat tajam. Dari keempat zaman, yakni Satyayuga, Tretayuga, Dvaparayuga dan Kaliyuga, hanya di zaman Kaliyuga saja Veda dijumpai dalam bentuk tulisan. Semua ini berkat jasa besar Maharsi Vyasa.[23]

Acarya adalah pemimpin tertinggi dari sebuah ordo Jain. Acarya adalah salah satu dari lima makhluk tertinggi (Panca-Paramesthi) dan karenanya layak disembah. Mereka adalah otoritas terakhir dalam ordo monastic dan memiliki otoritas untuk menahbiskan biksu dan biksuni baru. Mereka juga diberi wewenang untuk menguduskan berhala baru.[24]

Begitu jugalah karakteristik kenabian menurut ilmu agama-agama bahwa didalam kepelbagaian agama-agama banyan kesamaan konseptual mengenai kenabian seperti pewahyuan dan fungsi kenabian yaitu menyampaikan sabda Tuhan.

2.5.Kenabian dalam Dogmatika

Gereja harus menangkap aspirasi dan menjadikan inspirasi pembelaannya bagi orang yang terpinggirkan dan terendahkan. Di sinilah pentingnya gereja-gereja yang Injili, khususnya di tengah-tengah penganiayaan sekarang, mengingat kembali apa yang dikatakan sebagai “confessing church” yang Bloesch pahami bukan hanya sebatas kredo gereja yang dogmatis-intelektual dari masa tertentu, tetapi juga sebagai suatu pemikiran yang selalu mengaku secara terang-terangan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Injil sebagai suatu yang krusial bagi budaya dan waktu kita.”[25] Mengenai tugas kenabian dan karya-karya Roh Kudus, Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatis  Lumen Gentium tentang gereja mengajarkan, ”Umat Allah yang kudus mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Kristus, dengan menyebarluaskan kesaksian hidup tentang-Nya, terutama melalui hidup iman dan cinta kasih...”. Ajaran Konsili tersebut secara khusus menekankan pentingnya kesaksian hidup. Gereja sebagai tempat persekutuan yang mempertemukan berbagai sifat dan problema kehidupan jemaat diberikan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kesaksian hidup tentang Kristus yang diimaninya, yang disampaikan oleh pelayan Gereja.  Hal itu berarti pula bahwa Pelayan menunjukkan pola hidup Kristus yang berani mengorbankan diri-Nya demi keselamatan orang yang di cintai-Nya.  Pengorbanan tanpa syarat, terutama dalam proses pelayanan meja untuk menumbuhkan iman jemaat menjadi sebuah keharusan. Para Pelayan/fungsionalis Gereja sudah sepatutnya ”menjadi nabi” bagi anggota jemaatnya dengan mempedomani sabda Tuhan sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci.

Gereja sebagai Tubuh Kristus dalam tugas-tugas: pemberitaan firman, ibadah, dan persekutuannya. Konfesi iman adalah bukti mendasar bahwa adanya disiplin doktrinal dan proklamasi Firman. Namun secara ideal “proklamasi gereja bukanlah berdasarkan pada konfesi iman, karena beritanya akan terjatuh sebatas ekspresi iman dan isi gereja.[26] Jadi, “gereja yang mengaku” adalah “kehidupan yang mengaku”, sedangkan pengakuan iman hanyalah salah satu bukti, di mana konfesi sebagai hasil dari kepanitiaan beberapa orang. Konfesi kontemporer harus bernilai kekekalan, karena kalau tidak akan menjadi denominasionalisme. Karena itu “a confession of faith may well involve critique of both society and religion. It will seek not only to hear the word of God in the Scripture but also to discern the hand of God in the tomes. It will proceed from the Word to the world, refusing to drive its agenda from the world but rather endeavoring to apply God’s agenda to the world; yang artinya Pengakuan iman mungkin melibatkan kritik baik terhadap masyarakat maupun agama. Itu akan berusaha tidak hanya untuk mendengarkan firman Tuhan di dalam Kitab Suci tetapi juga untuk melihat tangan Tuhan di dalam buku besar. Itu akan melanjutkan dari Firman ke dunia, menolak untuk mengarahkan agendanya dari dunia melainkan berusaha untuk menerapkan agenda Tuhan ke dunia. ”[27] Anugerah Tuhan dan belas kasihan Tuhan tetap sama dalam hal apapun dan di manapun. Prinsip-prinsip Injili yang digali dari prinsip Alkitab pun tetap sama bagi gereja manapun, tidak boleh dikhianati. Secara keseluruhan, inilah yang disebut sekarang dalam gagasan misional bagi Gereja Profetik era ini. Kenabian Injili di sini dapat dikaitkan dengan misional. John Driver melihat “misi profetik” yang muncul karena gagalnya orang-orang dalam peningkatan aktivitas misi untuk memahami pembaharuan radikal gereja dan hanya menunjukkan ketidakmampuan untuk penyebaran Injil yang otentik. Akibatnya, berbagai komunitas Kristen yang radikal tersebut hanya bertumbuh ke dalam dan hanya melayani dirinya sendiri. Selanjutnya, hal itu terkait dengan misi holistic dalam ajaran Syalom untuk “visi kenabian tentang misi”.[28] Misi kenabian masa kini terkait dengan prinsip “eklesiologi misional” pada gereja-gereja yang mencakup banyak bidang kehidupan kontemporer. Bukan lagi sekedar misi penambahan kuantitas agama, tetapi misi peradaban dunia. Jadi, sifat misional gereja harus diperhitungkan sebagai hal yang penting selain sifat misioner dari gerakan Injili sekarang.

 

2.6.Karakteristik Kenabian dalam Perjanjian Lama diperhadapkan dengan Suara Kenabian Gereja Masa Kini

Seperti yang telah kita bahas mengenai karakteristik kenabian diatas. Bahwasanya nabi Dengan demikian peranan pemanggilan seorang nabi merupakan penyambung lidah Allah kepada bangsa Israel yang memiliki suatu konsekuensi bahwasanya siapa yang tidak mendengar nabi tersebut maka Allah akan meminta dan menuntut tanggungjawab orang itu.[29]

Pemberitaan nabi kepada umat Israel memiliki unsur-unsur sebagai berikut:[30]

e.       Berita yang disampaikan mereka ditujukan kepada masa mereka sendiri dan langsung menyangkut keadaan-keadaan seperti agama, politik, dan sosial yang berlaku.

f.       Pelayanan mereka berisi unsur nubuat yang sering mencakup suatu peringatan mengenai akibat-akibat yang akan datang kemudian hari jikalau mereka bersikeras dalam ketidaktaatan kepada perintah Allah. Pada pihak lain untuk memberanikan hati sisa-sisa masyarakat yang masih beribadah kepada Allah yang senantiasa ada ditengah-tengah bangsa itu, sehingga terdapatlah nubuat tentang hari kemudian yang lebih baik dan mulia, yang termasuk dalam penggenapan janji ilahi yang telah dibuat dengan Abraham dan Musa.

g.      Dalam berita para nabi diumumkan prinsip-prinsip ilahi yang tetap sepanjang masa.

h.      Sedikit banyak cerita mereka itu berisi unsur ke-Mesias-an dan memusatkan perhatian kepada pelepas yang telah dijanjikan.

Pemanggilan dan pengutusan para nabi merupakan suatu inisiatif Allah demi kepentingan umat-Nya. Karakteristik nabi juga meliputi pewahyuan dan pemanggilan Allah. Akan tetapi setiap nabi harus mempunyai sifat dan karakteristik. Suara kenabian adalah  Mandat kultural yang diemban orang percaya adalah menyuarakan kebenaran firman Tuhan sebagai pijakan yang melandasi tindakannya. Yang terjadi justru kebalikannya.  Mereka enggan bersuara ketika ketidak-benaran, ketidak-adilan, kemunafikan berlangsung di hadapan mereka. Dengan kata lain suara kenabian adalah mandat untuk mampu menyuarakan kebenaran firman Tuhan di tengah permasalahan yang ada. Bagaimana apakah karakteristik kenabian jika diperhadapkan dengan suara kenabian? Bahwasanyan karakteristik kenabian haruslah berkesinambungan dengan suara kenabian bahwasanya karakteristik yang meliputi pewahyuan Allah terhadap nabi dan meliputi karakteristik nabi yang harus mengungkap kebenaran firman tuhan mempunyai fungsi yang sama dengan suara kenabian. Jadi setiap pelayan kita pada masa ini haruslah memiliki dan mampu menyuarakan suara kenabian ditengah masalah yang ada di tengah masyarakat dunia.

III.             Analisa Penyeminar

Dalam seminar ini kita telah mengetahui peran Allah dalam pemanggilan nabi ataupun pemilihan nabi. Tetapi Allah juga menilai bahwa siapa yang cocok untuk menjadi nabi dan yang akan mnjadi hamba-Nya. Allah menjumpai, Allah mencukupi setiap nabi dan Allah yang mempercayakan firman-Nya kepada nabi tersebut. Setiap nabi harus memiliki karakteristik kenabian tersndiri seperti Yeremia  yang menyarankan agar nabi harus hidup lajang, dan pada nabi Musa ialah bererah dan setia kepada Tuhan.

IV.             Kesimpulan

Dalam pemaparan ini saya sebagai penyeminar menyimpulkan bahwa karakteristik kenabian dalam perjanjian lama sangat berkesinambuangan dengan fungsi suara kenabian. Suara kenabian haruslah kita tegakkan deitengah-tengah permasalah baik gereja dan dunia karena ketika kita punya mampu menyuarakan suara kenabian berarti kita mampu memenuhi karakteristik kenabian yaitu untuk bernubuat dan menyuarakan firman Tuhan keseluruh dunia

V.                Daftar Pustaka

Baker, David L., Mari Mengenal Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017

Baker, David L., Roh dan Kerohanian, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003

Bart, Chr., Teologi Perjanjian Lama 4, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989

Barth, Christoph, & Marie-Claire Barth-FrommelTheologia Perjanjian Lama 2 (edisi baru), Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012

Bloesch, Donald G., The Church, Sacraments, Worship, Ministry and Mission, Downers Grove: InterVarsity Press, 2002)

Bullock, C. Hassell, Kitab Nabi-Nabi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2002

Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Depag, 1987-1988

Driver, Johnz, Gambaran Gereja dalam Misi, terj. Peter S. Wong, Bandung: Penerbit STT Bandung, 2010

Dyrness, William  A., Agar Bumi Bersukacita, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003

Fahd, T., "Nubuwwa," dalam Bernard Lewis (ed.), The Encyclopedia of Islam, vol. viii Leiden: t.p, 1995

Harry, Mowvley, Penuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006

Jacob, Edmon, Theology of The Old Testament (translate by Arthur W. Heathcote, dkk), London: Hodder And Stoughpon, 1971

Kerr, David A., "Prophethood" in John L. Esposito (ed.), Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, vol. iii

Lasor, W.S., dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000

Lindblom, J., Prophecy in Ancient Israel, Oxford: Basil Blackwell, 1962

Ludji, Barnabas, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama 2,Untuk  Studi Kritis, Bandung: Bina Media Perintis, 2009

Manzhur, Abdullah Ibn, Lisan al-'Arab, vol. VI, Beirut: Dar Sadir, [t.t]

Mowvley, Harry, Penuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006

Rowley, H. H., Ibadat Israel Kuno, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981

Saragih, Agus Jetron, Kitab Ilahi, Medan: Bina Media Perintis, 2016

Stott, John, Isu isu Menghadapi Kepemimpinan Kristen, terj, Jakarta: OMF/YKBK, 1989

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua (Jakarta: Balai Pustaka, 1994

Wehr, Hans A Dictionary of Modern Written Arabic Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1971

 

Sumber Lain:

https://translate.google.com/translate?u=https://en.wikipedia.org/wiki/Acharya&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp&prev=search

https://www.listennotes.com/podcasts/hindu-times-podcast/hindu-menjawab-maharsi-vyasa-nq0OomPNxg8/
Journal uinsgd.ac.id

 

 



[1] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi, (Medan: Bina Media Perintis, 2016), 161.

[2] Barnabas Ludji, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama 2,Untuk  Studi Kritis, (Bandung: Bina Media Perintis, 2009), 8.

[3] David L. Baker, Roh dan Kerohanian, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 20.

[4] Edmon Jacob, Theology of The Old Testament (translate by Arthur W. Heathcote, dkk), (London: Hodder And Stoughpon, 1971), 239. C. Hassell Bullock, Kitab Nabi-Nabi Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 2002), 16-17.

[5] J. Lindblom, Prophecy in Ancient Israel, (Oxford: Basil Blackwell, 1962), 83

[6] J. Lindblom, Prophecy in Ancient Israel, 85

[7] Chr. Bart, Teologi Perjanjian Lama 4, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989), 19

[8] H. H. Rowley, Ibadat Israel Kuno, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981), 119

[9] William  A. Dyrness, Agar Bumi Bersukacita, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 113.

[10]  Umat Israel telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir dan menjadi bangsa merdeka dengan undang-undang dasar dan tanah air. Semuanya itu berdasarkan karya Tuhan Allah yang menciptakan dunia serta menyelamatkan umat-Nya. Hubungan istimewa antara Allah dan umat-Nya di sahkan dengan Perjanjian di Sinai, tetapi umat itu terus menerus menyeleweng, memberontak dan berdosa terhadap Penyelamat mereka. Mereka tidak mengasihi Allah dan tidak mengasihi sesama manusia. Dengan demikian mereka telah melanggar kedua pokok perjanjian yang paling utama (Ul. 6:4-5; Im. 19:18). Itulah latar belakang panggilan para nabi. Para nabi disuruh Allah untuk mengimbau bangsa Israel agar berbalik kepada perjanjian-Nya. Tugas mereka jelas dari ucapan yang sering terdapat pada bibir mereka: “Demikianlah Firman Tuhan”. Hal yang sama tampak pula dalam keterangan para penulis kitab nubuat: “Firman TUHAN yang datang kepada . . . .” (Hos. 1:1; Yl.1:1; dsb.). Tidak mengherankan jika para nabi pernah disebut sebagai “penyambung lidah” Tuhan Allah (Yer. 15:19; Am. 3:3-8). Lihat. David L. Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), 103-104.

[11] Bandingkan penjelasan dalam W.S. Lasor, dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 191-193. Lihat juga dalam Harry Mowvley, Penuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 149-154.

[12] Harry Mowvley, Penuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 23.

[13] Christoph Barth & Marie-Claire Barth-FrommelTheologia Perjanjian Lama 2 (edisi baru), (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 287.

[14] H.H. Rowley, Ibadat Israel Kuno, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 119.

[15] Selain itu juga, hal yang diperoleh dari kenabian Musa sendiri yaitu mengenai etika dan kepedulian sosial Musa sendiri. Bahkan sebelum Musa dipanggil Allah menjadi seorang nabi, ia telah memperhatikan keadaan sosial umatnya (Kel 2:11+17). Dalam panggilannya Musa juga menjadi seorang nabi pemberi hukum yang membentangkan dan memberikan undang-undang yang paling berprikemanusiaan dan filantropis dalam dunia kuno dengan memperhatikan kaum lemah (Ul 24:19-22) dan membasmi penindasan (Im 19:9). Dalam kenabian Musa juga ditemukan kombinasi pemberitaan dan nubuat yang terdapat pada semua nabi. Ini sangat mencolok terperinci sebagai corak kenabian pada umumnya. Musa juga menetapkan suatu norma yang mana bila seorang nabi membicarakan kejadian masa kini juga harus membicarakan kejadian yang akan datang. Dan bahkan juga Musa mengucapkan nubuat akbarnya tentang nabi yang akan datang (Ul. 18:15).

[16] Harry Mowvley, Penuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama, 21-22.

[17] Ibid, 22-23.

[18]Abdullah Ibn Manzhur, Lisan al-'Arab, vol. VI (Beirut: Dar Sadir, [t.t]), 561; Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic (Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1971), 937.

[19] Hans Wehr, A Dictionary, 937.

[20] David A. Kerr, "Prophethood" in John L. Esposito (ed.), Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, vol. iii, 364; T. Fahd, "Nubuwwa," dalam Bernard Lewis (ed.), The Encyclopedia of Islam, vol. viii (Leiden: t.p, 1995), 93; Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), 679.

 

[21] Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam Indonesia (Jakarta: Depag, 1987-1988), 659.

[22] Journal uinsgd.ac.id diakses tanggal 5 Oktober 2020 , Jam 16.32 Wib

[25] Donald G. Bloesch, The Church, Sacraments, Worship, Ministry and Mission (Downers Grove: InterVarsity Press, 2002), 266

[26] Ibid., 269

[27] John Stott, Isu isu Menghadapi Kepemimpinan Kristen, terj, (Jakarta: OMF/YKBK, 1989), 14

[28] John Driver, Gambaran Gereja dalam Misi, terj. Peter S. Wong, (Bandung: Penerbit STT Bandung, 2010), 226.

[29]  Umat Israel telah dibebaskan dari perbudakan di Mesir dan menjadi bangsa merdeka dengan undang-undang dasar dan tanah air. Semuanya itu berdasarkan karya Tuhan Allah yang menciptakan dunia serta menyelamatkan umat-Nya. Hubungan istimewa antara Allah dan umat-Nya di sahkan dengan Perjanjian di Sinai, tetapi umat itu terus menerus menyeleweng, memberontak dan berdosa terhadap Penyelamat mereka. Mereka tidak mengasihi Allah dan tidak mengasihi sesama manusia. Dengan demikian mereka telah melanggar kedua pokok perjanjian yang paling utama (Ul. 6:4-5; Im. 19:18). Itulah latar belakang panggilan para nabi. Para nabi disuruh Allah untuk mengimbau bangsa Israel agar berbalik kepada perjanjian-Nya. Tugas mereka jelas dari ucapan yang sering terdapat pada bibir mereka: “Demikianlah Firman Tuhan”. Hal yang sama tampak pula dalam keterangan para penulis kitab nubuat: “Firman TUHAN yang datang kepada . . . .” (Hos. 1:1; Yl.1:1; dsb.). Tidak mengherankan jika para nabi pernah disebut sebagai “penyambung lidah” Tuhan Allah (Yer. 15:19; Am. 3:3-8). Lihat. David L. Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), 103-104.

[30] Bandingkan penjelasan dalam W.S. Lasor, dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 191-193. Lihat juga dalam Harry Mowvley, Penuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 149-154.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar