Jumat, 16 April 2021

Sejarah Pertumbuhan dan Praktek Ibadah Umat Allah

 


Sejarah Pertumbuhan dan Praktek Ibadah Umat Allah

(Tinjauan Biblika, Etika, Liturgika, Ilmu Agama-agama dan Agama Suku)

I.                   Pendahuluan

Ibadah adalah cara atau upacara menyembah Tuhan Yesus Kristus. Artinya ibadah adalah sangat erat kaitannya dengan iman percaya kita masing-masing. Kita ketahui bahwa ibadah atau kebaktian selalu disesuaikan dengan keadaan. Baik itu di masa Perjanjian Lama dan juga Perjanjan Baru. Untuk itulah perlu juga kita pelajari sejarah pertumbuhan dan praktek ibadah umat Allah serta kita meninjau dari banyak sudut pandang. Ibadah juga tidak sepenuhnya hanya dilakukan pada hari minggu saja. Melainkan di mana pun serta kapan pun kita berada serta mau memuji nama Allah, kita sudah dapat dikatakan beribadah.

II.                Pembahasan

2.1. Pengertian Ibadah

Kata ibadah secara harafiah berarti bakti, hormat ataupun penghormatan.[1] Dalam bahasa Inggris, kata yang dipakai untuk ibadah ialah worship. Worship atau ibadah dalam konteks Kristen artinya ialah menunjukkan sikap hormat atau mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada Tuhan Allah.[2] Secara umum ibadah diartikan sebagai salah satu wadah dalam kehidupan umat beragama untuk menyatakan puji-pujian, syukur, permohonan, baik dalam bentuk kebaktian maupun dalam bentuk perbuatan yang merupakan bakti pada Allah. Umumnya ibadah diartikan sebagai penghormatan kepada Tuhan yang oleh manusia menurut kodrat sosialnya harus diejawantahkan Bersama-sama selaku makhluk dihadapan sang pencipta.[3] Ibadah Kristen adalah penyataan diri Allah sendiri dalam Yesus Kristus dan tanggapan manusia terhadap-Nya. Artinya dapat dikatakan  bahwa ibadah Kristen adalah “penyataan” dan “tanggapan”.[4]

2.2. Pengertian Umat Allah

Umat dalam PL adalah keseluruhan orang Israel yang dibedakan dari bangsa-bangsa lain di dunia (Bil. 23:9). Ini juga dikemukakan dalam PB (Luk. 1:68; Rm. 11:1-2) tetapi sebutan umat digunakan untuk umat Allah yang baru, yaitu orang-orang Kristen (Tit. 2:14; 1 Ptr. 2:9).[5] Menurut Kamus Ensiklopedia Alkitab Praktis, umat Allah menunjuk pada bangsa Israel atau Yahudi yang dipilih Allah untuk tujuan istimewa, mula-mula Allah memilih Abraham (Kejadian 12:1-3), kemudian meluaskan pilihannya itu kepada seluruh keturunan Abraham (Keluaran 6:6; 19:3-8). Maksudnya ialah agar umat itu memberitakan pengetahuannya  mengenai Dia kepada seisi dunia ini.

Konsep umat Allah berasal dari Perjanjian Lama, yaitu perhimpunan bangsa Israel yang sedang menghadap Tuhan di Gunung Sinai. Allah berfirman “Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku di padang gurun” (Kel. 7:1-6b). Melalui ibadah tersebut janji Allah kepada umat-Nya diteguhkan.[6]

2.2.1.      Umat Allah Menurut PL

Berita Alkitab mengenai umat Allah dimulai dengan panggilan Allah pada Abraham untuk menjadi bapa dari suatu bangsa (Kej. 12:1). Setelah umat Israel keluar dari tanah perhambaan di Mesir dan dipimpin oleh Musa menuju Sinai, secara resmi bangsa itu telah diangkat Tuhan menjadi umat-Nya (Keluaran 6:6-7). Sebagai umat yang dipilih oleh Allah sendiri, secara praktis umat Israel memiliki suatu hubungan yang khusus dengan Allah, di mana Allah mengikat perjanjian dengan mereka serta menjalin persekutuan yang erat dengan mereka. Bagi umat Israel hubungan dengan Allah merupakan suatu hal yang mutlak. Sebab hubungan tersebut menunjukkan kedudukan mereka sebagai umat Allah.[7]

2.2.2.      Umat Allah Menurut PB

Umat Allah yang baru disebut gereja atau jemaat (Kis. 5:11; 7:38; 1 Kor. 1:2). Jadi umat Allah yang baru adalah mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Dalam Perjanjian Baru, gereja adalah umat pilihan Allah, satu keluarga Allah Bapa  (Efesus 4:6), satu dalam tubuh Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus sebagai kepala tubuh umat pilihan-Nya (Efesus 2:14,16; 1 Korintus 10:17; Galatia 3:27; Yohanes 17:20-26), satu dalam persekutuan dengan Roh Kudus (Efesus 4:3; Kis. 4:32). Artinya gereja merupakan inti dari rencana Allah, yaitu umat yang baru yang mengasihi Allah dengan sepenuh hati dan mewujudkan rencana-Nya bagi dunia ini yang dipimpin oleh Roh Kudus, sampai dunia ini mengenal Dia sebagai Raja di atas segala Raja.[8]

2.3. Sejarah Pertumbuhan dan Praktek Ibadah Umat Allah dari PL dan PB[9]

Pada awalnya, ibadah di dalam Perjanjian Lama merupakan ungkapan batin seseorang yang mengakui kedaulatan Allah. Selanjutnya juga ibadah adalah ungkapan batin seseorang yang mengakui bahwa Allah berdaulat serta penuh kuasa (Kej. 4:4 Habel memberi persembahan kepada Tuhan; lihat pula Kel. 24:26). Ibadah juga menunjukkan ketinggian spiritual seseorang yang disertai ungkapan pujian dan syukur kepada Tuhan, karena Ia patut disembah (bnd. Ayub 1:20; Yos. 5:14). Sebab Allah yang menyatakan diri-Nya merupakan cara Allah berkomunikasi dengan umat manusia, maka dari itu Allah menerima penyembahan dari umat-Nya.[10]

Hal yang paling mendasar adalah bahwa dalam perkembangan/pertumbuhan serta praktek ibadah umat Allah Musa lah yang menjadi tokoh peletak dasar ibadah umat Israel. Ibadah umat Israel diorganisasikan di Kemah Pertemuan. Pada perkembangan selanjutnya, lahirlah Bait Suci dan Sinagoge sebagai tempat ibadah Israel. Selain tempat ibadah, orang Israel juga memiliki kalender tahunan untuk upacara agama. Pemimpin ibadah adalah imam dan keturunannya.

Gereja pada masa Perjanjian Baru tetap mengikuti pola ibadah di Bait Suci dan Sinagoge. Tuhan Yesus sendiri turut serta dalam peribadahan di kedua rumah ibadah itu. Ia tidak menolak peribadahan tersebut, tetapi menekankan pentingnya kasih dan implementasi ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perkembangan selanjutnya juga umat Kristen menetapkan ibadah utama pada hari Tuhan, yaitu pada hari Minggu. Serta yang menjadi unsur-unsur dalam peribadahan umat Allah ialah mazmur pujian, doa dan pembacaan kitab suci serta penjelasannya.

Menurut Abineno, ada tiga ciri khas ibadah jemaat Perjanjian Baru. Satu, ibadah umat Kristen tidak sama dengan ibadah kafir. Dua, ibadah umat Kristen tanpa kurban, sebab kurban yang sebenarnya adalah Yesus Kristus. Tiga, ibadah umat Kristen selalu bersifat terbuka. Serta mengenai liturgi jemaat dilanjutkan dalam bentuk pelayanan kepada sesama manusia, melalui diakonia dan penginjilan.

 

2.4. Tinjauan Etika Mengenai Sejarah Pertumbuhan dan Praktek Ibadah Umat Allah

sikap yang dikehendaki Allah dalam penyembahan ataupun beribadah kepada-Nya adalah sikap yang benar sesuai dengan kehendak Allah, penuh penyerahan, permohonan dan sukacita. Etika Kristen tidak dimulai dengan apa yang wajib kita lakukan melainkan apa yang Allah telah lakukan dan akan terus dilakukan. Orang Kristen berbuat baik bukan karena itu merupakan kewajiban melainkan sebagai respon atau jawaban atas kebaikan Allah (Yoh 5:23; 1 Yoh 4:19). Kita merespon perbutan Allah dengan melakukan perintah-Nya. Perintah Allah dinyatakan secara tertulis di dalam Alkitab. Oleh karena itu yang menjadi sumber dari Etika Kristen adalah Alkitab. Artinya ibadah merupakan pertemuan dengan Allah entah itu disertai ritus-ritus atau tidak. Bahkan ibadah tidak pernah dinilai dari ritusnya saja.[11] Penegasan Tuhan Yesus bahwa gereja adalah tempat berdoa dan bukan sarang penyamun (Mat. 21:13). Ungkapan kunci yang dipakai oleh Rasul Paulus ialah ‘supaya ibadah berlangsung dengan sopan dan tertib’. Ibadah yang sopan dan tertib adalah ibadah yang diterima dan memberikan kenyamanan hati kepada semua anggota jemaat.[12]

2.5. Tinjauan Liturgika Mengenai Sejarah Pertumbuhan dan Praktek Ibadah Umat Allah

Dahulu sejak abad-abad pertama digunakan juga istilah-istilah lain sebagai istilah-istilah gerejawi yang resmi untuk ibadah (kebaktian), yaitu: officium, cultus, service, worship, Gottesdienst, dll. Ibadah jemaat adalah pertemuan antara Allah dan Jemaat sebagai umatNya. Ia mencerminkan peristiwa yang berlangsung antara Allah dan manusia dalam perjanjian yang Ia adakan dengan dia. Dalam ibadah Jemaat terjadi dialog antara Allah dan Jemaat. Ibadah Jemaat diadakan pada hari Minggu, “hari Tuhan” yaitu hari kebangkitan Yesus Kristus, hari kemenangan. Dalam ibadah Jemaat Yesus Kristus menempati tempat yang sentral. Ia mengundang dan mengumpulkan kita di situ. Dalam Firman, dalam perjamuan dan persekutuan ibadah, Ia mau hadir bersama-sama dengan kita. Ibadah Jemaat adalah suatu peristiwa kristologis: suatu peristiwa krostologis yang menunjuk kepada Sabat yang kekal. Sebab dalam ibadah Jemaat kesalahan dan dosa merupakan tema yang penting, dan terutama “pemberitaan anugerah” memberikan keberanian dan kekuatan kepada kita untuk terus hidup. Ibadah Jemaat tidak hanya diselenggarakan pada hari Minggu saja. Ibadah hari Minggu memang sentral. Tetapi “pertemuan” antara Allah dan Jemaat bukan hanya berlangsung pada hari itu saja. Pertemuan itu berlangsung juga pada hari-hari kerja. Karena itu ibadah Jemaat tidak tertutup, tetapi terbuka.[13]

 

2.6. Tinjauan Ilmu Agama-agama dan Agama Suku Mengenai Sejarah Pertumbuhan dan Praktek Ibadah Umat Allah

Ibadah merupakan bahagian yang paling aktif daripada agama, karena di dalam ibadah itulah manusia lebih aktif menyatakan apa yang berada dalam kepercayaannya. Di dalam kebaktian itulah manusia secara beraktif dipersembahkan beberapa sikap yang membuktikan tindakan dan perbuatan dan di dalam tindakan dan perbuatan ini menjelmalah isi-isi kepercayaan dengan maksud-maksud tertentu. Ibadah dilaksanakan sesuai dengan dasar, ritus-rituskeagamaan dan kepercayaan masing-masing orang. Setiap agama memiliki ibadah dalam bentuk versi yang berbeda-beda. Dapat dikatakan bahwa ibadah merupakan ciri-ciri khas yang dipunyai oleh setiap agama di dunia. Tanpa suatu ibadah maka agama tidak mungkin berlangsung dengan dengan sempurna. Bahwa isi-isi ibadah itu harus disesuaikan dengan peraturan tatatertib kehidupan masing-masing. Ada beberapa dasar hakiki daripada pelaksanaan ibadah agama -agama, antara lain.

1.      Kepercayaan: setiap ibadah agama-agama suku selalu berdasarkan pada suatu keyakinan bahwa diluar diri manusia terdapat bermacam-macam kuasa kuasa ini diyakini dapat memberi berkat, dan juga kutuk, malapetaka dan kemalangan bagi kehidupan manusia.

2.      Ucapan syukur: dalam segala hal manusia menyadari bahwa dia bergantung terhadap kuasa-kuasa tadi. Hanya apabila manusia mau dengan rendah hati menyerahkan kehidupannya, kurang makannan, kurang keamanan, kurang Kesehatan, dan kurang kebahagiaan.

3.      Manusia menyadari bahwa dirinya dirinya sendiri kurang sempurna, sedang dewa memiliki kesempurnaan, Dialah sumber segala sesuatunya bagi kehidupan manusia.

4.      Takut: perasaan ketakutan inilah yang merupakan puncak pelaksanaan ibadah agama-agama, perasaan takut inilah yang mendorong manusia memuji dan mengagungkan dewatannya. Manusia takut kematian dan hukuman yang terakhir. [14]

III.             Analisa Penyeminar

Dewasa ini kita dapat melihat bahwa ibadah itu adalah hal yang sangat sacral, sebab hal ini menyangkut dengan diri kita kepada Allah. Serta berbicara mengenai umat Allah, sejak dari Abraham hingga sampai sekarang kita yang mana telah hidup dalam perjanjian baru, kita adalah tetap umat Allah, umat Percaya kepada-Nya. Penyeminar melihat bahwa sejarah pertumbuhan dan praktek ibadah umat Allah ini dimulai dari Musa yang sebagai tokoh utama dalam peletak dasar untuk peribadahan umat Israel. Hal ini lah yang menjadi perdana untuk kita sampai saat ini dapat memiliki tempat beribadah yang kita sebut sekarang sebagai “gereja”. Sebagai mana telah kita ketahui bahwa kemah suci lah yang menjadi tempat ibadah umat Allah serta dalam perkembangan selanjutnya juga lahirlah Bait Suci serta Sinagoge untuk tempat ibadah umat Israel. Ibadah Kristen adalah refleksi sistematis dari ajaran Alkitab mengenai ibadah, tentang berbagai macam bentuk ibadah, motivasi dan tujuan beribadah. Sedangkan kualitas penyelenggaraan ibadah dapat dinilai dari perencanaan ibadah, persiapan ibadah, relevansi ibadah, serta berbagai aspek yang berkaitan dengan ibadah. Artinya kita ketahui bahwa ibadah itu adalah respon manusia terhadap Allah.

Penyeminar melihat bahwa dalam situasi yang terjadi saat ini banyak gereja-gereja yang untuk sementara waktu belum bisa di pakai untuk tempat peribadahan, hal ini membuat umat-Nya tidak dapat melakukan ibadah sejatinya kepada Allah di gereja, namun inilah juga yang menjadi tantangan umat percaya pada saat ini. sudahkah mampu serta melaksanakan ibadah dari rumah masing-masing. Terlebih lagi untuk saat ini penyeminar melihat bahwa tatanan baru sudah dimulai, sebab sudah mulai ramai berbagai ibadah-ibadah online yang dapat kita ikutkan di media sosial. Ini lah yang menjadi fokus utama kita dalam melihat perkembangan sejarah dan praktik ibadah umat Allah pada saat ini. Bagaimana pun juga dalam Matius 18:20 “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”. Maka dari itu kita tidak boleh terlalu menutup diri dengan semakin maraknya ibadah online seperti yang telah kita ketahui, untuk itu marilah kita tetap senantiasa melakukan ibadah yang sejati serta yang berkenan kepada-Nya.

 

IV.             Daftar Pustaka

Browning W.R.F., Kamus Alkitab, Jakarta: Gunung Mulia, 2010

Cronbach A., Worship in Old Testament, Nashville: Abingdon Press, 1982

Enns Paul, Buku Pegangan Teologi, Malang: SAAT, 2006

Ginting Edi Suranta, Aku Percaya Maka Aku Beribadah, Bandung: Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus, 2011

Hueken A. S. J., Ensiklopedi Gereja Jilid II (H-Kom), Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1992

Marbun Stefanus M., Umat Allah Sebagai Imamat Rajani, Sidoharjo: Uais Inspirasi Indonesia, 2018

Pasaribu Rudolf, Agama Suku, Medan: Ikip, 1988

Rowley H.H., Ibadah Israel Kuno, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2002

White James F., Pengantar Ibadah Kristen, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009

 



[1] A. Cronbach, Worship in Old Testament, (Nashville: Abingdon Press, 1982), 879

[2] Edi Suranta Ginting, Aku Percaya Maka Aku Beribadah, (Bandung: Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus, 2011), 20

[3] A. Hueken, SJ, Ensiklopedi Gereja Jilid II (H-Kom), (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1992), 59

[4] James F. White, Pengantar Ibadah Kristen, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009), 7

[5] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta: Gunung Mulia, 2010), 469

[6] Stefanus M. Marbun, Umat Allah Sebagai Imamat Rajani, (Sidoharjo: Uais Inspirasi Indonesia, 2018), 1

[7] Stefanus M. Marbun, Umat Allah Sebagai Imamat Rajani, 2-4

[8] Stefanus M. Marbun, Umat Allah Sebagai Imamat Rajani, 6-8

[9] Edi Suranta Ginting, Aku Percaya Maka Aku Beribadah, 24

[10] Paul Enns, Buku Pegangan Teologi, (Malang: SAAT, 2006), 54

[11] H.H. Rowley, Ibadah Israel Kuno, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2002), 196

[12] Edi Suranta Ginting, Aku Percaya Maka Aku Beribadah, 101

[13] James F. White, Pengantar Ibadah Kristen, 45

 

[14] Rudolf Pasaribu, Agama Suku, (Medan: Ikip, 1988), 77-78

Tidak ada komentar:

Posting Komentar