Kiprah John Knok
(Suatu Tinjauan Historis-Praktis mengenai Kiprah Jhon Knox dalam Semangat Juang Mengabarkan Injil serta Refleksinya terhadap Para Pendeta GBKP Masa Kini)
I. Latar Belakang Masalah
Semangat juang adalah kepercayaan diri, mempertahankan keceriaan dan semangat menghadapi sebuah peristiwa. Semangat juang juga berarti dalam keadaan pikiran yang positif yang diturunkan oleh pemimpin yang menginspirasi. Semangat juang bertujuan untuk mempertahankan semangat, kebenaran serta keyakinan dalam suatu hal.[1] Dengan demikian, Semangat juang dalam Penginjilan adalah sebuah aktivitas untuk memberitakan Kabar baik kepada semua orang, dan justru penginjilan merupakan buah dari pada gereja itu sendiri. Dengan demikian Gereja adalah alat Tuhan yang hadir untuk memberikan pelayanan kasih bagi semua orang, bukan hanya itu tetapi juga mengajar serta memberitakan Firman-Nya sampai ke ujung bumi. GBKP dalam pekabaran Injil sudah memiliki kerjasama yang baik dengan Lembaga Penginjilan, namun para pelayan Tuhan dalam mengabarkan Injil masih perlu menanamkan jiwa semangat juang dalam mengabarkan Injil. Pekabaran Injil harus dipahami sebagai cara dan perilaku sebagai orang kristen. Sehingga dalam melakukan pekabaran injil terlihat dan terasa adanya satu kesatuan antara perkataan dan perbuatan sebagai orang kristen. Tujuan dari pekabaran injil yang dilakukan GBKP yang saat ini yaitu kepada Suku Karo yang belum memeluk agama/perbegu.
GBKP dalam Pekabaran Injil yang dikenal ialah dalam bentuk evangelisasi, kunjungan ke daerah PI, dan tenaga detaser PI. Namun kenyataannya masih perlu di bangkitkan kembali semangat mengabarkan Injil ke daerah yang menyentuh anak suku dalam dan mereka yang belum mengenal Injil. Sehingga apa yang menjadi akar permasalahan dari semua persoalan pendeta sebagai hamba Tuhan diatas, sangat berhubungan dengan kurangnya pemahaman yang dalam tentang hamba Tuhan menyangkut panggilan, integritas, semangat juang dalam penginjilan, integritas dan pelayanannya. Sehingga pada saat ini kenyataannya kurang tenaga-tenaga pelayan untuk rela dikirim menjadi pelayan Tuhan dalam melakukan Pekabaran Injil. Hal demikian terjadi karena ada akar permasalahan dari semua persoalan pendeta sebagai hamba Tuhan diatas, berhubungan dengan kurangnya pemahaman yang dalam tentang hamba Tuhan yang menyangkut panggilan, integritas, semangat juang dalam penginjilan, integritas dan pelayanannya. Sebab sebagai seorang hamba hendaknya tetap menyadari dirinya sebagai panggilan dari Allah. Pendeta dan panggilannya, perlu menanamkan jiwa semangat juang dalam memberitakan Firman, kebenaran sejati dimanapun ditempatkan. Sehingga Pendeta sebagai hamba Tuhan dapat memperlihatkan integitas, spiritualitas, dan dedikasi kepada jemaat dan tentunya menjadi Gembala yang Baik.
Dari permasalahan ini, penulis tertarik untuk memperkenalkan seorang tokoh John Knox yang memiliki semangat juang dalam melakukan Pekabaran Injil. Sehingga semangat juang ini dapat menjadi suatu refleksi kepada hamba Tuhan dalam melakukan pelayanannya di tengah-tengah dunia ini.
II. Pembahasan
2.1. Pengertian Penginjilan
Kata
penginjilan berhubungan dengan kata misi, dimana misi mencakup penginjilan
sebagai salah satu dimensinya yang esensial. Penginjilan adalah pemberitaan
keselamatan di dalam Kristus kepada mereka yang tidak percaya kepada-Nya, memanggil
mereka untuk bertobat dan meninggalkan hidup yang lama, memberikan pengampunan
dosa dan mengundang mereka untuk menjadi anggota-anggota hidup dari komunitas
Kristus di bumi dan memulai kehidupan pelayanan kepada orang lain di dalam
kuasa Roh Kudus.[2]
2.2. Riwayat Hidup John Knox
John Knox lahir sekitar tahun 1513 di Haddington, tidak jauh dari Edinburgh, kota kabupaten di East Lothian. Ayahnya, William Knox, adalah seorang pedagang. Semua yang diketahui tentang ibunya adalah Sinclair dan dia meninggal ketika John Knox masih kecil. Setelah menyelesaikan studinya di sebuah sekolah tata bahasa di Haddington, Ia melanjutkan pendidikannya di Universitas St. Andrew.[3] Kemudian ia diajar dibawah bimbingan John Major yang mengajar sejak 1531 di Universitas Glasgow. Lalu ia ditahbiskan menjadi imam Katolik di Edinburgh tahun 1536 dan menjadi seorang notaris kepausan tahun 1540.[4] Knox beralih menjadi Protestan pada tahun 1543 (ketika ia umur 30 tahun) karena dipengaruhi seorang oleh reformator di Skotlandia, George Wishart (Calvinis) dan Patrick Hamilton (Lutheran).[5] Selama perjuangannya melawan Mary Stuart, ia menerima pelayanan untuk jangka waktu yang singkat di St. Andrews dan melayani sebagai pendeta di Edinburgh hingga kematiannya pada tahun 1572.[6]
2.3. Awal Perjalanan John Knox dalam Mengabarkan Injil
Sejarah mencatat Knox memulai terlibat pekabaran Injil dimulai sejak tahun 1543 ketika bertemu George Wishart dan melalui karya Roh Kudus ia bertobat ketika membaca Yohanes 17 yang berisi “Doa Imam Besar” Kristus bagi murid-murid-Nya dan bagi orang-orang yang percaya melalui kesaksian mereka. Dari isi pasal ini muncul beberapa tema surat-surat, pamlet dan beberapa khotbah Knox pertama: Keselamatan dalam Kekristenan hanya melalui iman kepada Yesus Kristus; Kedua, orang Kristen dipanggil untuk melayani Kristus; Ketiga, sebagai akibatnya, orang Kristen menjadi musuh dunia, namun mereka memiliki jaminan hidup yang kekal.[7] Wishart dieksekusi oleh gereja di muka St. Andrews. Eksekusi ini memberi pengaruh yang dalam kepada Knox. Lima minggu terakhir bersama Wishart telah mempersiapkan Knok untuk menjadi reformator mendatang. Kematian Wishart menjadi salah satu alasan Knox melanjutkan pelayanannya di sana sebagai “Peniup Terompet Allah”. Berdasarkan latar belakang sejarah pada saat itu dan kehidupan pribadi Knox yang akhirnya terlibat dalam Pekabaran Injil di Skotlandia.[8]
Pandangan Knox tentang Reformasi Praktikal Gereja direfleksikan dalam buku Book Of Discipline and The Scot Confession. Dalam menuju jembatan Reformasi Knox sampai kepada Pengabaran Injil di Skotlandia, ada beberapa nasihat yang berlandaskan Alkitab, yakni bagaimana Allah bereaksi terhadap perzinahan yang telah dilakukan Israel dan apa yang seharusnya dilakukan oleh umat Allah agar diterima hadiran Allah. berikut ini adalah nasihat Knox yang didasarkan pada perspektif biblikannya:
1. Langkah pertama untuk mereformasi gereja adalah pertobatan didalam gereja itu sendiri.
2. Kita tidak boleh mengijinkan seorang Katolik atau mantan penganiaya Protestan ditempatkan dalam posisi apa diantara jemaat kristus. Dengan kata lain, kita tdak boleh mengijinkan orang-orang yang tidak dipanggil oleh Allah dan tidak memiliki pengertian benar tentang firman Allah serta tidak menundukan diri mereka sendiri kepada firman Allah, untuk mengepalai umat Allah.
3. Knox memberi peringatan atas penyalahgunaan-penyalahgunaan yang diakibatkan oleh adanya pendeta yang memegang jabatan rangkap beberapa gereja. Setiap pendeta harus memegang satu jabatan dan berhak memperoleh gaji tetap yang cukup. Seorang pendeta tidak bebas untuk berkhotbah, namun hanya bisa berkhotbah dimana mereka telah ditugaskan oleh gereja, karena hanya ini cara kebutuhan akan adany pengkhotbah di seluruh gereja di Inggris akan terpenuhi.
4. Para Pendeta tidak perlu terlibat dalam urusan sipil, kecuali apabila bila kebutuhan dimana hakim sipil dan para pendeta perlu bersepakat untuk tujuan pelaksanaan disiplin. Dengan demikian disiplin gereja yang telah ditegakkan sesuai dengan firman Allah harus dilaksanakan tanpa memandang muka. Dengan kata lain diaplikasikan kepada setiap orang tanpa ada kekecualian.
5. Knox menekankan bahwa sekolah-sekolah harus didirikan di semua kota, kecil maupun besar, dengan tujuan memelihara iman Protestan, dan pengawasan mereka harus komitmen kepada para hakim dan orang-orang terpelajar yang saleh. Dengan kata lain, sekolah-sekolah harus terbuka bagi siapapun (semua kelas dalam masyarakat tanpa perbedaan).
Berkaitan dengan sakramen, ada beberapa prinsip yang dapat kita pelajari dari Knox, yaitu: Sakramen bukanlah sarana untuk memeroleh keselamatan, namun sarana kasih karunia yang melaluinya, kita, sebagai orang percaya, mengakui iman kita dengan cara mengambil bagian di dalamnya. Sakramen itu adalah meterai dari janji-janji Allah di dalam Yesus Kristus bagi kita. Dengan kata lain, sakramen itu memang bukan sarana yang melaluinya keselamatan dapat diperoleh, kendati demikian, sakramen juga lebih dari sekadar simbol-simbol. Knox memiliki pandangan serupa dengan Calvin mengenai relasi antara firman Allah dan sakramen. Penting bahwa praktik-praktik sakramen dijelaskan oleh firman Allah, sehingga orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya (pelayan dan penerima) memiliki pemahaman yang benar tentang apa yang sedang mereka lakukan, dan mereka melakukannya sesuai dengan firman Allah. Akhirnya, di samping pandangan Knox tentang reformasi gereja dalam hal-hal praktikal dan sakramen, ada hal lain yang dapat kita pelajari dari pribadi Knox sendiri : Ia menggunakan firman Allah sebagai sumber dan standar dari argumentasi dan pendapatnya. Kedua, dengan menjadi "Peniup Trompet Allah", ia menjadi seorang nabi Allah yang berani mengatakan kebenaran di tengah-tengah dunia yang korup. Ia bukan hanya siap untuk berkata-kata bagi Allah di tengah-tengah kekorupan manusia, namun ia juga siap menghadapi konsekuensinya. John Knox bukannya tanpa salah, namun ia telah berusaha untuk memenuhi panggilan dan misi Allah baginya di zamannya. Pada setiap zaman, ada pergumulan dan kebutuhannya sendiri. Apa pun pergumulan dan kebutuhan itu, firman Tuhan tetap harus menjadi tolok ukur tertinggi. Kini, giliran kita untuk menjadi "Peniup Trompet Allah" pada zaman ini.[9]
2.4. Perjalanan Jhon Knox dalam Reformasi Skotlandia
Berbicara mengenai perjalanan Misi yang dilakukan oleh Jhon Knox tidak terlepas dengan pengaruh para reformator sebelumnya seperti Calvin dan Luther termasuk teman sezamannya Wishart di Inggris. Dengan perjalanannya Knox melibatkan diri dalam pergolakan politik, yaitu dalam gerakan kemerdekaan Skotlandia dari Inggris. Kemudian dia terjebak dalam peristiwa gerejawi dan politik yang melibatkan pembunuhan Kardinal David Beaton pada tahun 1546 dan intervensi dari Bupati Mary of Guise. Ia sempat menjadi budak kapal di Prancis selama sembilan belas bulan setelah ikut pemberontakan di St. Andrew yang gagal.[10] Kemudian Pada tahun 1547 Knox ditangkap dan dipenjarakan selama 18 bulan, dia ditawan oleh pasukan Prancis dan diasingkan ke Inggris saat dibebaskan pada tahun 1549.[11]Knox mendapat izin untuk bekerja di Gereja Inggris, di mana ia naik pangkat untuk melayani Raja Edward VI dari Inggris sebagai pendeta kerajaan. Dia memberikan pengaruh reformasi pada teks Kitab Doa Umum (Book of Common Prayer) dari Cranmer pada tahun 1552. Di Inggris, dia bertemu dan menikahi istri pertamanya, Margery Bowes. Pada tanggal 2 Februari 1553 Cranmer diperintahkan untuk menunjuk Knox sebagai vikaris All Hallows, Bread Street di London, menempatkannya di bawah otoritas Uskup London, Nicholas Ridley. Knox kembali ke London untuk menyampaikan khotbah di hadapan Raja dan Pengadilan selama Prapaskah dan dia kembali menolak untuk mengambil posisi yang ditugaskan. Knox kemudian diberitahu untuk berkhotbah di Buckinghamshire dan dia tetap di sana sampai kematian Edward pada 6 Juli. Pengganti Edward adalah Mary Tudor dan ia mendirikan kembali Katolik Roma di Inggris dan memulihkan Misa di semua gereja. Karena negara tidak lagi aman bagi pengkhotbah Protestan, Knox berangkat ke Benua Eropa pada Januari 1554 atas saran teman-temannya. Pada malam penerbangannya, dia menulis: “Kadang-kadang saya berpikir bahwa tidak mungkin itu terjadi, jadi untuk menghilangkan kasih sayang saya dari alam Skotlandia, bahwa alam atau negara mana pun bisa setara dengan saya. Tetapi Tuhan, saya mencatat dalam hati nurani saya, bahwa masalah yang ada (dan tampaknya) di alam Inggris berlipat ganda lebih memilukan bagi hati saya daripada sebelumnya adalah masalah Skotlandia.”
Akhirnya Knox pindah ke Jenewa dan kemudian ke Frankfurt. Di Jenewa, dia bertemu dengan John Calvin, yang darinya dia memperoleh pengalaman dan pengetahuan tentang teologi Reformed dan pemerintahan Presbiterian. Dia menciptakan tatanan baru pelayanan, yang akhirnya diadopsi oleh gereja yang direformasi di Skotlandia. Dia meninggalkan Jenewa untuk memimpin gereja pengungsi Inggris di Frankfurt tetapi dia dipaksa untuk meninggalkan dan mengakhiri hubungannya dengan Gereja Inggris karena perbedaan pola liturgi. Namun pada akhirnya Buku Tata gereja umum Knox (Buku Liturgi Jhon Knox) disahkan pada tanggal 1564. [12] kemudian Pada tahun 1558, Knox menerbitkan pamfletnya yang paling terkenal, “First Blast of the Trumpet against the Monstrous Regiment of Women” yang merupakan sebuah serangan melawan pemerintah wanita. Karya ini bertujuan untuk mengkritik penguasa wanita Mary Tudor Ratu Inggris.[13] Pada tahun 1559, Knox kembali ke Skotlandia dan membantu memperbaharui gereja di sana. Ketika dia berkeliling ke berbagai bagian Skotlandia untuk memberitakan doktrin dan liturgi yang direformasi, dia disambut oleh banyak bangsawan termasuk dua calon bupati Skotlandia, Earl of Moray dan Earl of Mar.
2.5. Semangat Juang John Knox dalam Mengabarkan Injil di Scotlandia
Pada masa Skotlandia masih menjadi negara feodal dengan pola pemerintahan yang korup, gereja dijadikan alat oleh penguasa untuk menyelewengkan kebenaran dan menancapkan kekuasaannya. Orang-orang yang terpanggil untuk menegakkan kebenaran yang bersumber pada Alkitab berusaha dengan tekad dan semangat pantang menyerah untuk melawan dengan taruhan nyawa. Dalam ajaran-ajaran yang disampaikan Jhon Knox banyak membela Wishart di hadapan penentang-penentang ajarannya. Saat itu orientasi gereja hanya pada pembangunan fisik, gedung-gedung mewah, tempat-tempat pemujaan berhala di mana-mana. Penyelewengan ini menimbulkan semangat di hati Knox untuk menegakkan kebenaran yang sesuai Firman Tuhan. Tapi karena sikap dan perlawanannya ini, Knox lalu dipenjara selama 19 bulan. Keluar dari penjara, Knox menyeberang ke Inggris. Di sana ia diangkat menjadi salah satu imam kerajaan oleh Raja Edward VI. Tapi ketika Mary Tudor naik tahta ia menyeberang ke Jerman dan Swiss. Di tempat ini ia melibatkan diri pada kegiatan menentang pemerintahan gereja. Bersama teman-temannya ia memperkenalkan lebih jauh ajaran reformasi sebagai pola ibadah, tapi ia mendapat tentangan yang keras dari kaum konservatif.
Singkatnya, Semangat Juang Jhon Knox terlihat melalui kiprah yang dilakukannya. Adapun kiprah yang berdampak dalam Reformasi Scotlandia yaitu sebagai berikut :
a. Dia memberikan pengaruh reformasi pada teks Kitab Doa Umum (Book of Common Prayer) dari Cranmer pada tahun 1552. Isinya adalah doa pagi, doa sore, litani, dan perjamuan kudus, dan juga layanan sesekali secara penuh: perintah untuk membabtis, pengukuhan, pernikahan, “doa untuk diucapkan dengan orang sakit”, dan layanan pemakaman.[14]
b. Jhon Knox tetap mengadakan hubungan dengan para bangsawan Skotlandia yang berjiwa Calvinisme. Ia menganjurkan agar para bangsawan membentuk sebuah perserikatan untuk pembaruan gereja di Skotlandia. Perserikatan ini didirikan pada tahun 1557. Perserikatan ini yang membuat Knox kembali lagi ke Skotlandia pada tahun 1559.[15] dan membantu memperbaharui gereja di sana. Ketika dia berkeliling ke berbagai bagian Skotlandia untuk memberitakan doktrin dan liturgi yang direformasi, dia disambut oleh banyak bangsawan termasuk dua calon bupati Skotlandia, Earl of Moray dan Earl of Mar.[16]
c. Jhon knox yang melihat kondisi kehidupan masyarakat yang memprihatinkan dirinya. Pola ibadah yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab dan aneka bentuk penyelewengan oleh pejabat gereja merajalela. Di tempat asalnya ini, ia langsung menyerang praktek-praktek penyembahan berhala dan menghancurkannya. Banyak orang yang menanggapi apa yang ia sampaikan dengan terus terang dan tanpa rasa takut itu. Ia mengajak rakyat untuk merumuskan kembali ajaran-ajaran seperti yang Alkitab ajarkan.
d. Khotbah-khotbahnya berkuasa dan mempengaruhi pendengar untuk melakukan perombakan besar-besaran. Bagi Knox, kekristenan tidak bisa diukur dengan banyaknya bangunan megah. Akan tetapi pada pertumbuhan kerohanian dan pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus.
e. Pada tahun 1560, parlamen mengesahkan Pengakuan Iman Calvinis, yang terutama dikarang oleh Knox (Cinfessio Scotica). Sekarang pembaruan segenap gereja dan masyarakat dilangsungkan. theokrasi Jenewa dan diwujudkannya secara besar-besaran. Berdasarkan Pengakuan ini Parlemen Reformasi Skotlandia mereplikasi yurisdiksi paus, membuat kredo Reformed dan ritual wajib, dan melarang perayaan Misa dengan penderitaan hukuman fisik dan penyitaan barang untuk pelanggaran pertama, pengasingan untuk yang kedua, kematian untuk yang ketiga.[17]
f. Knox membuat Buku Tata gereja umum Knox (Buku Liturgi Jhon Knox) disahkan pada tanggal 1564.[18] kemudian Pada tahun 1558, Knox menerbitkan pamfletnya yang paling terkenal, “First Blast of the Trumpet against the Monstrous Regiment of Women” yang merupakan sebuah serangan melawan pemerintah wanita. Karya ini bertujuan untuk mengkritik penguasa wanita Mary Tudor Ratu Inggris.[19]
Semangat yang di lakukan oleh Knox memiliki Pengaruh dimulai sejak diberlakukannya sistem gereja presbiterian di Skotlandia. Hal lain yang dihasilkan adalah makin terbinanya dunia pendidikan yang sebelumnya tidak tergarap dengan baik. Knox sangat menaruh perhatian pada pengenalan akan Yesus dan Injil di segala penjuru Skotlandia. Dengan tegas dan tanpa takut sedikitpun ia menyuarakan ajaran reformasi. Baginya Skotlandia harus dimenangkan bagi Tuhan, gereja harus bergerak dengan dasar pelayanan seperti yang Alkitab ajarkan.[20] Gereja dan rakyat harus takluk tanpa bersyarat ke bawah taurat Allah. Rakyat Skotlandia harus menjadi Israel kedua; Penyembahan kepada Baal di dalam Misa dibasmi dan Izabel patut dilawan. Oleh karena itu Knox tidak berkebaratan menurunkan raja-raja dan takhtanya atau membunuh raja lalim, jikalau ia merasa bahwa kehormatan Tuhan menuntut demikian. Di bawah pimpinan-Nya kaum bangsawan injil merebut kekuasaan di Skotlandia. Patung-patung dipecahkan di gedung-gedung gereja; perang saudara berkobar.[21]
Semangatnya mendorong Reformasi Skotlandia, walau ratu menentangnya. Sehingga terbukti karya yang terbesar adalah History of the Reformation of Religion within the Realm of Scotland (Sejarah Reformasi Agama dalam Kerajaan Skotlandia). Yang baru terbit secara lengkap tahun 1644.[22] Sepanjang ia diangkat sebagai Pendeta, ia selalu berkhotbah kemana saja dengan penuh semangat, ia adalah seorang pengkhotbah yang berkharisma besar sampai diakhir pelayanannya dia meminta agar Alkitab dibacakan. Pada hari terakhirnya, 24 November 1572 Sebuah kesaksian kepada Knox diucapkan di kuburannya di halaman gereja St Giles 'oleh James Douglas, Earl of Morton ke-4 dan bupati Skotlandia yang baru terpilih: "Di sini terletak seseorang yang tidak pernah takut pada daging".[23]
2.6. Tinjauan Historis-Praktis Terhadap Kiprah Jhon Knox dalam Semangat Juang Mengabarkan Injil di Scotlandia
2.6.1. Pada Tahun 1552-1558
Ia berada di Inggris pada bagian akhir pemerintahan Edward VI dan ikut dalam tahap-tahap terakhir penyelasaian Book of common prayer pada tahun 1552 yang berisi:
“BAPA YANG MAHA ESA dan paling penyayang, kami telah berbuat salah dan menyimpang dari cara-Mu, seperti domba yang hilang, kami telah mengikuti terlalu banyak perangkat dan keinginan hati kami sendiri: kami telah tersinggung terhadap Hukum-Mu yang kudus, kami telah meninggalkan hal-hal yang semestinya tidak diselesaikan. yang telah kami lakukan, dan kami telah melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kami lakukan: dan tidak ada kesehatan di dalam kami: tetapi Engkau, ya Tuhan, kasihanilah kami para pelanggar yang menyedihkan: Lepaskan mereka, ya Tuhan, yang mengakui kesalahan mereka : Pulihkanlah mereka yang bertobat, sesuai dengan janji-janji-Mu yang dinyatakan kepada umat manusia di dalam Kristus Jesu Tuhan kami: dan berikan, O Bapa yang paling penyayang, demi dia, agar kita selanjutnya dapat menjalani kehidupan yang saleh, benar, dan sadar, untuk kemuliaan dari Nama-Mu yang kudus,dan keselamatan jiwa kita sendiri. Amin.”
Berikut merupakan Pengakuan Umum Untuk diucapkan oleh semua yang hadir setelah atau bersama Diakon atau Presbiter, semuanya berlutut dengan rendah hati.
Pada tahun 1553 ia melarikan diri ke daratan eropa ketika mary naik takhta.[24] Untuk sementara ia gembala jemaat Inggris dalam pelarian di frankurf, tempat ia terlibat dalam pertikaian. Knox dan lain sudah beranjak lebih jauh dari book of common prayer dan memperkenalkan pola kebaktian yang lebih banyak lagi bersifat calvinis. Akan tetapi pengungsi yang lebih kolot di kota-kota eropa lain tidak senang dan menyuruh Richard Cox dan yang lain untuk menegur knox. Mereka berbantahan dengan dia dan berkata bahwa “mereka ingin mempunyai gereja berwajah Inggris”. Knox menjawab, “semoga Tuhan memberikan, supaya gereja itu berwajah gereja kristus”. Perselisihan ini menjadi menjadi pendahuluan dari konflik puritan yang berlangsung selama permerintahan Elizabeth I, ketika satu pihak menghendaki agar Book of Common Prayer dipertahankan, sedangkan pihak lain menghendaki Reformasi yang lebih jauh sesuai dengan gereja-gereja Calvinis di daratan Eropa. Cox berhasil membuat Knox di usir dari Frankurt (dengan menarik perhatian khalayak pada pandangan politik Knox yang radikal) dan Knox berangkat ke Swiss di mana ia bertemu John Calvin di Jenewa dan Bullinger (pengganti Zwingli) di Zurich. Ia seorang pengagum Calvin yang bergairah. Ia dididik oleh Calvin sendiri di Jenewa dan kesadaran theokratis Calvin sudah memuncak di dalam diri dan pekerjaannya. Pertemuan dengan kedua tokoh reformator itu semakin meneguhkannya untuk terus memerjuangkan reformasi di negaranya. Selama di pengasingan, ia menulis sebuah buku yang menyerang wanita-wanita yang memerintah di Eropa saat itu, yaitu "The First Blast of the Trumpet against the Monstrous Regiment of Women" (tiupan sangkakala pertama Melawan Pemerintah dahsyat wanita, 1558).[25]
Jhon Knox menulis surat kepada Mary of Guise, dia menuntut agar dia mereformasi gereja di Skotlandia atau menghadapi hukuman Tuhan. Dia mengikuti ini dengan seruan kepada para uskup Skotlandia, menyatakan keyakinannya bahwa pendeta dan bangsawan harus bersikeras bahwa raja mengikuti agama yang benar; jika raja menolak, mereka memiliki hak dan kewajiban untuk memberontak. Akhirnya, Knox menulis garis besar untuk usulannya "Second Blast of the Trumpet," di mana dia mengakui kepenulisan The First Blast. Garis besar ini menambahkan empat proposisi lebih lanjut:
”bahwa hak raja untuk memerintah orang Kristen tidak hanya berasal dari kelahirannya, tetapi dari Tuhan; bahwa tidak ada penyembah berhala (seseorang yang menyembah berhala, atau ikon religius) boleh memegang jabatan di kerajaan Kristen; bahwa rakyat tidak bisa dituntut untuk mematuhi para penguasa yang menolak agama yang benar; dan bahwa, jika orang memilih seorang penguasa yang menolak agama yang benar, mereka berhak untuk mencopot dan menghukum penguasa itu.” Gereja dan rakyat harus tunduk tanpa bersyarat ke bawah taurat Allah. Rakyat Skotlandia harus menjadi Israel kedua; penyembahan kepada Baal di dalam misa perlu dibasmi dan Izebel patut dilawan. Oleh karena itu Knox tidak berkeberatan menurunkan raja-raja dan takhtanya atau membunuh raja lalim, jikalau Ia merasa bahwa kehormatan Tuhan menuntut demikian.
karya Knox yang mendapat nama buruk. Serangan terhadap penguasa wanita ini diarahkan kepada Mary Tudor Ratu Inggris. Pemerintah Inggris segera mengecam The First Blast, dan pada bulan Juni 1558 Mary I mengeluarkan proklamasi kerajaan yang melarang tulisan sesat dan pengkhianatan dari luar negeri. Dinyatakan bahwa siapa pun yang memiliki tulisan seperti itu harus segera membakarnya atau berisiko dieksekusi. [26]
2.6.2. Pada Tahun 1559-1644
Pada tahun 1559 Knox kembali ke Skotlandia dan membantu memperbaharui gereja di sana. Pola ibadah yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab dan aneka bentuk penyelewengan oleh pejabat gereja merajalela. Di tempat asalnya ini, ia langsung menyerang praktek-praktek penyembahan berhala dan menghancurkannya. Banyak orang yang menanggapi apa yang ia sampaikan dengan terus terang dan tanpa rasa takut itu. Ia mengajak rakyat untuk merumuskan kembali ajaran-ajaran seperti yang Alkitab ajarkan. Khotbah-khotbahnya berkuasa dan mempengaruhi pendengar untuk melakukan perombakan besar-besaran. Kemudian ia menyusun Book of Discipline (buku disiplin, 1561) dan Book of Common Order (buku aturan umum, 1564). Knox mengatakan bahwa “Disiplin gereja yang telah ditegakkan sesuai dengan firman Allah harus dilaksanakan tanpa memandang muka. Dengan perkataan lain, disiplin gereja harus diaplikasikan kepada setiap orang tanpa ada pengecualian.”[27]
Adapun yang mendukung hal ini dapat dilihat dalam pandangan John Knox dalam sakramen dan hal-hal praktikal di dalam gereja yang paling inti yaitu Knox yakin bahwa sakramen-sakramen dilaksanakan bagi orang percaya dan itu bukan sekadar tanda untuk menunjukkan perbedaan antara orang percaya dan yang tidak, namun juga memiliki makna untuk menyatakan iman kita sebagai anak-anak Allah. Manfaat sakramen adalah untuk memeteraikan jaminan janji-janji Allah di dalam hati orang percaya, dan untuk merefleksikan persekutuan kita sebagai tubuh Kristus dengan Sang Kepala, yaitu Yesus Kristus.[28]
1. Baptisan
Knox menyatakan bahwa melalui baptisan, kita dicangkokkan ke dalam Yesus Kristus dan dijadikan partisipan dalam keadilan-Nya, yang melalui-Nya dosa-dosa kita ditutupi dan diampuni. Tetapi itu tidak berarti bahwa tanda eksternal tersebut lebih berarti dibandingkan dengan iman orang percaya, "for be faith, and not be externall signes doith God purge oure hartis ...."Karena itu, ia tidak mau mengesampingkan unsur kerinduan yang benar dari orang tua yang telah dengan tulus meyakini baptisan Katolik sebagai baptisan yang sah. Ia tidak setuju dengan orang-orang yang berkata bahwa baptisan itu tidak sah. Ia yakin bahwa baptisan Katolik sah karena telah dilaksanakan di dalam nama Allah Tritunggal.[29] Knox mengakui bahwa ada ketidakbenaran di dalam gereja, namun itu tidak membuat baptisan menjadi tidak sah. Roh Kudus telah bekerja untuk menyucikan baptisan itu. Knox yakin baptisan telah ditetapkan untuk dilaksanakan dengan elemen air, yang berarti, seperti air membasuh kekotoran tubuh di bagian luar, demikian juga darah Kristus, membersihkan bagian dalam diri kita dari ketidakbenaran dan racun dosa yang mematikan.
2. Perjamuan Kudus
Knox tidak setuju dengan gagasan transsubstansiasi, yaitu bahwa Kristus benar-benar hadir di dalam roti dan air anggur. Ia mengatakan bahwa pokok persoalannya bukanlah hadir atau tidaknya Kristus di dalam roti dan air anggur, melainkan kehadiran-Nya di dalam diri orang percaya melalui iman.[30] Knox percaya bahwa Kristus hadir secara spiritual di dalam elemen-elemen tersebut, dan karena itu, kita harus menerimanya dengan iman. Dengan kata lain, ketika Yesus berkata: "Inilah tubuh-Ku," tidak berarti bahwa Ia mengartikannya secara harfiah, namun dengan makna atau pemahaman sakramental.
Ada beberapa hal penting untuk pelaksanaan sakramen yang tepat yang harus diikuti dengan cermat: Sakramen harus dilaksanakan oleh para pendeta yang sah secara hukum, dan kita menyatakan bahwa orang-orang ini telah ditetapkan untuk memberitakan firman, yaitu orang-orang yang kepadanya Allah telah memberikan kuasa untuk memberitakan Injil, dan yang dipanggil secara hukum oleh beberapa gereja. Sakramen harus dilaksanakan dengan menggunakan elemen dan dengan cara yang telah ditetapkan Allah. Jika tidak, maka sakramen itu bukan sakramen Yesus Kristus. Apabila sakramen dilaksanakan dengan tepat, maka adalah esensial bahwa tujuan dari institusi sakramen tersebut harus dimengerti, tidak hanya oleh pendeta, tetapi juga oleh orang yang menerimanya.[31] Motivasi ini muncul dipengaruhi oleh keadaan yang ada sehingga hal ini juga dibukukan oleh Knox sebagai salah satu karya terbesarnya. Tentu hal demikian dibuktikan melalui Semangatnya mendorong Reformasi Skotlandia, sampai akhirnya karyanya telah terbit secara lengkap pada Tahun 1644.[32]
2.7. Refleksinya bagi Para Pendeta GBKP Masa Kini
Seorang pemimpin yang perwira perkasa, lagi bertabiat dan bersikap nabi seperti Elia atau Yohanes Pembaptis ada di dalam Jhon Knox. Semangat juang dalam mengabarkan inji yang tertanam dalam hati membuat Knox memiliki jiwa yang cukup kuat untuk menyuarakan dan memberikan pandangan terhadap ajaran gereja melalui pemahaman Alkitabiahnya, penerbitan karya-karyanya, serta khotbah-khotbah yang Berkharisma dan memiliki landasan teologis yang kuat, dan mendirikan sekolah yang disebut “sekolah kristus” selain itu juga hubungan kerjasama yang kuat dengan para bangsawan dan para reformator sejamannya, Yang mampu menyentuh sampai ke pemerintahan Scotlandia. Secara totalitas, ia tidak segan-segan untuk mengkritik ataupun memberikan saran terhadap para uskup dan raja yang terlibat dalam pemerintah, terlebih terhadap ajaran yang tidak Alkitabiah yang dilakukan gereja pada saat itu. Sehingga Knox salah seorang tokoh yang dapat dikatakan menerima Panggilan Allah untuk mengabarkan Injil karena melihat realitas yang ada di tengah-tengah pemerintahan dan juga gereja.[33] Ada beberapa prinsip yang dapat kita aplikasikan dan refleksikan, yaitu:
1. Semangat Juang untuk integritas di tengah ancaman
Integritas Jhon Knox dalam memberitakan kebenaran memberikan kekuatan bagi dirinya menyelesaikan segala tantangan demi tantangan yang dihadapinya dalam melawan pemerintahan Inggris. Ditengah tantangan tersebut tanggung jawab yang dilakukannya terus diembannya sebagai pelayan Tuhan yang memberitakan Injil dimanapun ia ditempatkan. Kejujurannya membuktikan bahwa ia menerima panggilannya untuk menyatakan kebenaran ditengah kebobrokan gereja dalam ajaran dan kepemimpinannya. John Knox telah berusaha untuk memenuhi panggilan dan misi Allah baginya di zamannya. Pada setiap zaman, ada pergumulan dan kebutuhannya sendiri. Apa pun pergumulan dan kebutuhan itu, firman Tuhan tetap harus menjadi tolok ukur tertinggi. Kini, giliran kita untuk menjadi "Peniup Trompet Allah" pada zaman ini. Seorang pendeta tidak lepas dari ancaman dan persoalan maupun tantangan hidup dalam pelayanannya. Seperti Sebagaimana yang dialami oleh Jhon Knox dalam menyuarakan kebenaran Firman Allah banyaknya tantangan yang harus dihadapinya. Begitu juga Seorang pendeta harus tetap setia dalam situasi apapun. Komitmen pada panggilan dan melakukan apa yang dikehendaki Allah akan menghadirkan pertolongan Allah yang memberikan kemenangan di tengah pergumulan pendeta masa kini. Kejadian 39:23 seharusnya menjadi pedoman dan pegangan hidup dalam melayani Tuhan. Ketika Tuhan menyertai pelayan Tuhan, pasti apa yang dilakukannya, dimanapun pelayan Tuhan melayani pasti berhasil karena Tuhan pasti membuat pelayannya berhasil. Roh Tuhan akan memperlengkapi para hamba Tuhan dalam melayani umat Tuhan (Keluaran 31:3).[34]
2. Semangat Juang untuk Integritas dalam misi Allah
Semangat juang dari Jhon Knox inilah yang dapat menjadi perenungan bagi pendeta GBKP masa kini, agar tetap konsisten terhadap misiNya. Berani dan yakin dalam menyatakan kebenaran ajaran Kristus sehingga ia mampu menjelaskan pandangannya terhadap ajaran gereja pada saat itu.[35] Semangat juang untuk integritas dalam misi Allah diperlukan kebenaran yang ditandai dengan kebaikan, keadilan, kemurnian, keteguhan, ketulusan, kejujuran, kesetiaan, bertanggung jawab dan karakter ini yang sesungguhnya diekspresikan melalui sikap, pikiran, kehendak perasaan, pikiran, dan perbuatan yang bernilai positif, sehingga melalui karakter ini, spiritualitas jemaat akan semakin baik dan buah dari pemberitaan Firman yang dilakukan seorang pendeta akan berbuah manis,[36] seperti Firman Tuhan dalam 1 Korintus 15:58 “Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”[37] Jadi dalam konteks ini Para Pendeta GBKP mampu untuk benar memenuhi panggilan misi Tuhan di tengah dunia ini, apa yang telah dibuka oleh John Knox, dapat menjadi teladan bagi para pendeta GBKP dalam meneruskan Misi Tuhan di konteks sekarang ini. Dengan teologi injil yang berakar yang dipahami bersumber dari dalam Alkitab, dan dihidupi oleh gereja dalam Perjanjian Baru. Sebab haruslah ditegaskan bahwa “Firman Tuhan Allah adalah sempurna, seperti Diri-Nya yang Maha Sempurna” (Yohanes 1:1). Kesempurnaan Firman Tuhan Allah ini dinyatakan-Nya sesuai kehendak-Nya yang berdaulat (Ulangan 29:29).[38] Jadi Dalam perkembangan pelayanan khususnya dalam Mengabarkan injil sudah baik dengan melakukan pendekatan budaya sebagai cara untuk mempermudah Injil itu dipahami oleh masyarakat karo. Namun dalam penerapan yang dilakukan masih perlu dibangkitkan kembali semangat serta mutu dari penginjilan itu sendiri di tengah masyarakat karo dan juga diluar wilayah masyarakat karo. Pemahaman Amanah Agung Yesus Kristus dalam Matius 28:19-20 yang intinya adalah: usaha memproklamasikan kabar baik dari Yesus Kristus, mengajak manusia untuk menjadi muridNya, membimbing orang menjadi anggota yang bertanggungjawab dari gerejaNya. GBKP telah mengerjakan Amanah Agung ini yang diartikan sebagai usaha mengubah realitas dengan memakai kata “Transformasi”. Setelah pencanangan Tahun Marturia GBKP (2008) anggota GBKP 289.457 Jiwa (Kehadiran dalam ibadah berkisar 40%) dan hal ini tetap bertambah sampai sekarang. Namun perlu juga diingat apa yang dikatakan Donal Mc Gavran: “Gereja yang mewarisi babtisan massal, perlu diadakan pembinaan ulang, jika tidak, kebanyakan mereka akan kembali pada kepercayaan lamanya.” Melihat gambaran GBKP saat ini, melalui kekentalan Budaya Karo dalam dirinya (Anggota Jemaat) cara kita bermisi harus dibaharui dan harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh.[39] Maka dengan demikian esensi dari pada Misi yang tercatat dalam Tata Gereja GBKP dalam Pasal 5 dapat di realisasikan di tengah-tengah masyarakat pluralisme.[40] Berdasarkan pemaparan diatas dapat diartikan bahwa pemikiran John Knox melalui karya-karyanya dapat menjadi refleksi bagi para pendeta GBKP yang tidak terlepas di dalam gereja sebagai wujud Misi Allah di tengah dunia ini. Ini mejadi tugas dan tanggungjawab bersama bahwasanya gereja perlu memahami makna Injil serta mengajarkan teologi dan doktrin injili yang benar. Dan gereja perlu melaksanakan tugas kesaksian yang menghadirkan Kerajaan Allah yang Shalom melalui Injil Yesus Kristus yang menyelamatkan dan membawa damai sejahtera bagi setiap individu anggota masyarakat.
III. Analisa Penyeminar
Studi Sejarah Gereja selalu menawarkan bagaiman gereja itu mengalami pertumbuhan , perkembangan dan mengalami perubahan-perubahan. Berkaitan dengan reformasi gereja dalam hal-hal praktikal, jelas sekali bahwa pendapat Knox sangat dipengaruhi oleh situasi pada masa itu. Namun, itu tidak berarti bahwa kita tidak dapat mengaplikasikan prinsip-prinsipnya di dalam gereja kita saat ini. Ada beberapa prinsip yang dapat kita aplikasikan dan penyeminar berpendapat hal itu bisa selalu diaplikasikan berkaitan dengan semangat yang dilakukan John Knox dalam mengabarkan Injil, yaitu Kita harus menegakkan administrasi yang baik dalam pemerintahan gereja, sehingga pekerjaan Allah dapat dilakukan dengan efektif. Karena tidak ada orang yang sempurna, maka sangatlah baik jika ada aturan-aturan yang dapat mencegah seseorang menjadi pemimpin absolut dalam pemerintahan gereja, bukan hanya sekadar melakukan apa pun yang ia ingin lakukan. Para pelayan harus komit kepada pemberitaan Injil atau firman Allah. Berita Injil amat penting karena menunjukkan Kasih Allah kepada dunia (Yoh 3:16). Oleh sebab itu maka Injil harus diberitakan kepada semua orang (Mat 28:18-20; Mark 16:15; Kis 1:8). Gereja atau semua orang percaya berkewajiban untuk memberitakan Injil, sehingga tujuan dari pekabaran injil adalah mewujudkan jemaat yang missioner. Ini menjadi Harapan sekaligus refleksi bagi GBKP seutuhnya untuk merealisasikannya.
Menurut penyeminar, Pedeta GBKP memulai terobosan secara totalitas dalam pekabaran Injil yang dimana menyatakan kebenaran sampai keujung bumi agar Misi Allah dapat diwujudkan. Penyeminar melihat para pendeta GBKP perlu berlefleksi juga dari John Knox ini dan juga para tokoh missionaris sebelumnya terkhusus di GBKP. Hal ini juga didukung dalam pemahaman gereja akan pekabaran Injil diperdalam sebab ini menjadi modal untuk mampu bergerak dalam mengabarkan kebenaran Ilahi. Dengan demikian penyeminar melihat dari contoh semangat dan kegigihannya yang dilakukan oleh John Knox walaupun kesannya terlihat seperti terlalu berani dalam melakukan protes-protes terhadap ajaran katolikisme di Skotlandia. Namun itu menandai bahwa ia adalah seorang yang memiliki keyakinan yang teguh. Sehingga dalam perjalanan pelayanannya ia dijuluki “Peniup Terompet Allah”. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, bahwa penyeminar melihat bahwa GBKP sangat pesat dan cukup mapan secara stuktural, administrasi namun masih kurang tenaga pelayan yang terpanggil dalam fokus pelayanan pekabaran Injil ke luar dalam arti lintas budaya (anak suku dalam). Tetapi ada hal yang tidak bisa tidak dilakukan sebagai gereja yang utuh dalam Pelayanan yang mencakup Tri Tugas Gereja yang di dalamnya Pekabaran Injil/ Misi baik dalam internal maupun eksternal. Namun yang pasti GBKP dalam PI harus berlanjut, berjalan dan terus menerus, salah satu jalannya adalah dalam membuat sistem pengkabaran Injil sehingga GBKP bisa diperluas bukan hanya di daerah Tanah Karo saja namun mencakup segala daerah di Indonesia ini. Karena Tujuan yang hakiki adalah mereka yang belum tersentuh dengan Injil perlu kita berikan sentuhan sehingga Amanat Agung boleh tersebar di seluruh dunia.
3.1. Menuju Suatu Saran
a. Perlu dibentuk suatu pendidikan bagi para pelayan gereja (Pendeta,Pt/Dk, Pengurus Kategorial dan pengurus PJJ) untuk memperlengkapi Pendalaman Injil Kristus. Agar mereka mampu menjadi protokol dalam Bermarturia.
b. Semua Pendeta perlu untuk melihat kembali, memahami, menghayati dan sadar tentang panggilannya atau pilihan hidupnya sebagai seorang pendeta yang demikian harus memenuhi tugas dan panggilannya untuk melakukan penginjilan.
c. Gereja perlu melihat kembali realisasi program misi yang tertulis di dalam buku Garis besar pelayanan GBKP.
IV. Kesimpulan
Dari pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pekabaran Injil merupakan suatu tugas yang wajib dilakukan oleh seorang pelayan gereja. Karena Gereja yang hidup hendaknya memiliki misi yang kuat. Misi yang dilakukan oleh gereja berpusat pada Yesus Kristus dan bertolak kepada Ajaran Alkitabiah. Sehingga pembahasan seminar hari ini, dapat kita ketahui bahwa tokoh John Knox dengan semangat dan perjuangannya dalam mengubah hal-hal praktikal, jelas sekali bahwa pendapat Knox sangat dipengaruhi oleh situasi pada masa itu. Kebergantungan kepada firman Allah menjadi sentral pemikiran Knox. Ia selalu menegaskan bahwa setiap tindakan ataupun keputusan yang diambil haruslah sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Prinsip Knox dapat diaplikasikan di dalam gereja kita saat ini. Terkhusus dalam Semangat penginjilannya dalam mengabarkan Injil dapat diterapkan di tengah-tengah gereja masa kini. Semangat juang John Knox perlu direnungkan pendeta-pendeta GBKP dalam hal melayani, dimana hal kerajaan sorga bukan hanya soal roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Dengan kesadaran ini, beberapa pendeta GKPS yang selama ini mengalami perubahan makna Pendeta sebagai Hamba Tuhan, dapat bercermin lewat semangat juang yang ditanamkan John Knox dalam memberitakan Firman Tuhan dimanapun di utus oleh Tuhan.
V. Daftar Pustaka
a. Sumber Buku
...,Tata Gereja GBKP (2015-2025), Kabanjahe: Moderamen GBKP, 2015
...,Warta GBKP Maranatha: Meningkatkan Jiwa Kewirausahaan (Entrepreneurship), Kabanjahe: Moderamen GBKP, 2019
Berkhof, H. H. Enklaar, Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993
Bosch, David J., Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1997
Charles Bell, M., Calvin and Scottish Theology, Edinburgh: Hansel, 1985
Collins, Michael & Matthew A. Price, Millenium The Story of Christianity: Menelusuri Jejak Kristianitas, Yogyakarta: Kanisius, 2006
Comby, Jean with Diarmaid MacCulloch, How to Read Church History Vol. 2 From the Reformation to the present day, New York: Crossroad, 1989
Dawson, Jane E. A, Oxford Dictionary of Nation Biography, England: Oxford University Press, 2008
Dyness, William A., Agar Bumi Bersukacita, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2014
Greaves, Richard L., Theology and Revolution in the Scottish Reformation, Grand Rapids: Christian University Press, 1980
Howie, John, John Knox in The Scots Worthies, Edinburgh, 2001
Jetron, Agus Saragih, “Hamba Tuhan (Panggilan, Spiritualitas, dan Pelayanannya)” dalam Jurnal Teologi Tabernakel STT Abdi Sabda Medan Edisi XXXIV: Juli-Desember 2015, Medan: STT Abdi Sabda Medan, 2015
Laing, David, The Works of John Knox, New York: AMS, 1966.
Lane, Tony, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007
Marshall, Rosalind, Biography John Knox, Edinburgh: Birlinn, 2000
Maruba, Jainal, Situmorang, “Hamba Tuhan dan Penderitaan dalam Perjanjian Lama Diperhadapkan dengan Pendeta sebagai Hamba Tuhan” dalam Jurnal Teologi Tabernakel STT Abdi Sabda Medan Edisi XXXIV: Juli-Desember 2015
Mills, Dag Hewards, Jenderal Yang Baik: Ilmu Kepemimpinan, Parchment House, 2017
Reid,W.S., Trumpeter of God, New York: Charles Scribner’s Sons, 1974
Stanford Reid, W., Trumpeter of God, New York: Charles Scribner’s Sons, 1974
Tomatala, Yakob, Penginjiolan Masa Kini 1, Malang: Gandum Mas, 2004
Walker, Williston, A History of The Christian Church New York, Charles Scribner's Sons: 1946
Wellem, F.D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh Dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015
b. Sumber Internet
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Book_of_Common_Prayer, Diakses Pada tanggal 04 September 2020
https://en.m.wikipedia.org/wiki/John_Knox, Diakses Pada tanggal 04 September 2020.
http://akuiseng.blogspot.com/2009/07/john-knox.html?m=1, Diakses Pada tanggal 03 September 2020.
https://www.academia.edu/38293627/Rahmiati_Tanudjaja_John_Knox_doc Diakses Pada tanggal 05 September 2020.
[1] Dag Hewards Mills, Jenderal Yang Baik: Ilmu Kepemimpinan, (Parchment House, 2017), 84
[2] David J. Bosch, Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1997), 16
[3] Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 169-170.
[4] Michael Collins & Matthew A. Price, Millenium The Story of Christianity: Menelusuri Jejak Kristianitas, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 141-142.
[5] W.S. Reid, Trumpeter of God, (New York: Charles Scribner’s Sons, 1974), 25.
[6] https://www.academia.edu/38293627/Rahmiati_Tanudjaja_John_Knox_doc, Diakses pada tanggal 03 September 2020.
[7] W. Stanford Reid, Trumpeter of God, (New York: Charles Scribner’s Sons, 1974), 27.
[8] M. Charles Bell, Calvin and Scottish Theology, (Edinburgh: Hansel, 1985), 41.
[9] Jane E. A. Dawson, Oxford Dictionary of Nation Biography, (England: Oxford University Press, 2008), 243-244.
[10] Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, 169.
[11] F.D.Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh Dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 118.
[12] Kitab Doa Umum memuat Liturgi mengharuskan jamaah berlutut selama komuni. Knox dan para pendeta lainnya menganggap ini sebagai penyembahan berhala. Ini memicu perdebatan di mana Uskup Agung Cranmer dipanggil untuk mempertahankan praktik tersebut. Hasil akhirnya adalah kompromi di mana Rubrik Hitam yang terkenal, yang menyatakan bahwa tidak ada pemujaan yang dimaksudkan saat berlutut, dimasukkan dalam edisi kedua. (https://en.m.wikipedia.org/wiki/John_Knox, Diakses Pada tanggal 04 September 2020).
[13] Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, 169.
[14] https://en.m.wikipedia.org/wiki/Book_of_Common_Prayer, Diakses Pada tanggal 04 September 2020
[15] F.D.Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, 118.
[16] H. Berkhof, H. Enklaar, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 191-192.
[17] H. Berkhof, Sejarah gereja, 191.
[18] https://en.m.wikipedia.org/wiki/John_Knox, Diakses Pada tanggal 04 September 2020.
[19] Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, 169.
[20] http://akuiseng.blogspot.com/2009/07/john-knox.html?m=1, Diakses Pada tanggal 3 September 2020.
[21] H. Berkhof, Sejarah gereja, 191-192.
[22] Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 169-170.
[23] https://en.m.wikipedia.org/wiki/John_Knox, Diakses pada tanggal 04 September 2020.
[24] Jean Comby with Diarmaid MacCulloch, How to Read Church History Vol. 2 From the Reformation to the present day, (New York: Crossroad, 1989), 53-54.
[25] Williston Walker, A History of The Christian Church New York, (Charles Scribner's Sons: 1946), 416-422.
[26] Richard L. Greaves, Theology and Revolution in the Scottish Reformation, (Grand Rapids: Christian University Press, 1980), 61.
[27] Williston Walker, A History of The Christian Church New York, (Charles Scribner's Sons: 1946), 145.
[28] Rosalind Marshall, Biography John Knox, (Edinburgh: Birlinn, 2000), 244.
[29] John Howie, John Knox in The Scots Worthies, (Edinburgh, 2001), 50.
[30] John Howie, John Knox in The Scots Worthies, 54.
[31] Jane E. A. Dawson, Oxford Dictionary of Nation Biography, (England: Oxford University Press, 2008)., 243-244.
[32] Tony Lane, Runtut Pijar, 169-170.
[33] https://www.academia.edu/38293627/Rahmiati_Tanudjaja_John_Knox_doc Diakses pada tanggal 05 September 2020.
[34] Jainal Maruba Situmorang, “Hamba Tuhan dan Penderitaan dalam Perjanjian Lama Diperhadapkan dengan Pendeta sebagai Hamba Tuhan” dalam Jurnal Teologi Tabernakel STT Abdi Sabda Medan Edisi XXXIV: Juli-Desember 2015, 37
[35] David Laing, The Works of John Knox, (New York: AMS, 1966), 512-513.
[36] William A. Dyness, Agar Bumi Bersukacita, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2014), 79-80
[37] Agus Jetron Saragih, “Hamba Tuhan (Panggilan, Spiritualitas, dan Pelayanannya)” dalam Jurnal Teologi Tabernakel STT Abdi Sabda Medan Edisi XXXIV: Juli-Desember 2015, (Medan: STT Abdi Sabda Medan, 2015), 18
[38] Yakob Tomatala, Penginjiolan Masa Kini 1, (Malang: Gandum Mas, 2004), 46.
[39] ..., Warta GBKP Maranatha: Meningkatkan Jiwa Kewirausahaan (Entrepreneurship), (Kabanjahe: Moderamen GBKP, 2019), 34.
[40] ..., Tata Gereja GBKP (2015-2025), (Kabanjahe: Moderamen GBKP, 2015), 19.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar