Jumat, 16 April 2021

Menjelaskan Nama Allah dalam Alkitab

 


Menjelaskan Nama Allah dalam Alkitab (Tinjauan biblika, dogmatika, ilmu agama, dan agama suku)

I.                   Pendahuluan

Nama memang sangatlah penting bagi seseorang karena nama menjadi sebuah panggilan bagi orang-orang agar semakin mudah kita dalam memanggil dia. Begitu juga dengan Allah, tentunya Dia juga memiliki nama yang dipanggil oleh orang-orang yang percaya kepada Dia. Namun manusia tidak lah bisa mentukan siapa nama yang pantas untuk Allah, akan tetapi Allah lah yang meberikan namaNya kepada manusia sehingga manusia dapat mengetahui dan memangil nama Allah dengan sebenarnya, nama Allah juga memiliki renetean sejarah yang begitu banyak karena baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru nama Allah disebutkan dengan berbeda, akan tetapi memiliki makna yang saling bersamaan karena begitulah nama yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Begitu juga dalam dogmatika dan agama-agama juga memiliki nama Allah yang tentunya berbeda juga akan tetapi dapat kita pahami dan katakan bahwa nama itu juga memilik satu kesatuan yang saling berhubungan dan memilik sebuah arti dari nama tersebut, sedangkan dalam agama-agama suku yang ada di indonesia juga memiliki sejarah atau nama yang mereka panggil untuk Allah mereka, dan memang juga nama tersebut juga memiliki nama yang berbeda akan tetapi nama itu diyakini bahwa itulah nama yang tepat bagi mereka dalam memanggil Allah mereka, dan untuk mendalaminya kita akan bahas di bawah ini bagaimana dan apa-apa saja nama-nama Allah yang ada dalam tinjauanya yang ada dalam judul ini, semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita bersama.

II.                Pembahasan

2.1. Sejarah penyebutan nama Allah

Manusia ternyata bukan hanya memberi nama bagi mahluk-mahluk ciptaan lainnya, tetapi manusia juga memberi nama bagi pencipta-Nya “pada mulanya Elohim menciptakan langit dan bumi” (Kej 1:1). Kata Elohim ini adalah sebutan nama Allah pertama yang tertulis dalam kitab PL. Sepanjang Kitab Kejadian 1:1 -2:3, hanya nama Elohim ini sajalah yang digunakan oleh penulis kitab PL untuk menyebut nama Ilahi bagi pribadi Dia yang Mahatinggi. Dalam seluruh kitab PL namaElohim ini tertulis sebanyak 2570 kali. Setelah itu, nama Ilahi lain yang mulai diperkenalkan oleh penulis kitab kejadian adalah  ketika YHWH Elohim menjadikan langit dan bumi (Kej 2:4). Nama YHWH adalah nama Ilahi terbanyak tertulis dalam kitab PL, yakni tertulis sebanyak 6.823 kali. Selanjutnya dalam kitab Ayub ditemukan nama Ilahi lain yakni Eloah. Nama Eloah jarang ditemukan dalam kittab-kitab PL yang lain, nama Eloah muncul 42 kali di kitab Ayub yang hanya tertulis sebanyak 15 kali saja diluar kitab Ayub. Terakhir dalam Ilahi Adonai “3 kali setahun semua yang laki-laki harus menghadap ke hadirat YHWH”

Dalam kitab PB kita hanya mengenal 2 nama Ilahi saja yaitu Theos dan Krios. Kata Theos muncul dalam ayat “Pada mulaya adalah Logos. Logos itu bersama-sama dengan Theos dan Logos itu adalah Theos (Yoh. 1:1)”.Nama Ilahi yang kedua yaitu Krios tertera pada ayat “namun bagi kita hanya ada 1 Theossaja yaitu Yesus Kristus yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup (1 Kor. 8:6)”. Dalam kehidupan umat Israel, pecantuman nama Ilahi pada nama-nama dan seseorang menandakan bahwa betapa kehidupan manusia itu sangat dipengaruhi oleh aktivitas dan kotrol Ilahi. Lalu dari eksplorasi nama-nama diri orang Israel itu nama-nama diri manakah yang bisa menunjukan nama Ilahi pertama-tama yang digunakan oleh umat Israel. Kita bisa menggunakan 3 variabel yang pertama merujuk pada 1 titik picu Firman Allah kepada Musa “Akulah YHWH, Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Elshadai tetapi dengan namaKU YHWH Aku belum menyatakan diri” (Kel. 6:2-3). Umat Israel hanya baru mengenal nama EL saja sebagai nama Ilahi oleh sebab itu ketika Allah berfirman kepada Abraham, Allah berkata “Akulah Elshadai. Hiduplah dihadapanKu dengan tidak bercela” (Kej 17:1).[1]

2.2. Nama Allah dalam Biblika

2.2.1.      Dalam Perjanjian Lama

Sejarah  nama Allah dalam perjanjian lama, dan dari teks kitab suci sendiri kelihatan bahwa paham Allah dalam kisah Abraham tidak seluruhnya sama dengan gambaran yang diperoleh dari kisah musa. Ternyata banyak paham tentang nama Allah selama sejarah Israel.Ketika Yakub memberkati anak Yusuf ia berkata “nenekku dan ayahku”, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah, Allah itu sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang.  Ada beberapa nama Allah yang semua dipergunakan dalam PL yang dapat diuraikan kedalam 3 sub kelompok, yaitu: Adonai, EL dengan berbagai atribut (Elohim, Elshadai, EL-Olam, EL-Berit) dan YAHWE

A.    Adonai

Kata Adonai adalah bentuk jamak dari kata Adon yang berarti tuan, pemilik, penguasa, junjungan, dalam hubungan dengan nama Allah kata ini digunakan dalam bentuk jamak dengan diberi akhiran pemilik orang pertama tunggal, dan sehara harafiah berarti “tuan-tuanku”. Mengapa Allah Israel Yang Maha Esa dalam bentuk jamak gejala bahasa seperti ini akan dibahas dalam kata Elohim, jadi Tuhan Yang Maha Mulia Sang junjungan dan Sang pemilik. Allah berkenan dikenal dan diakui sebagai Sang Pemilik seluruh dunia yang patut disembah dan dimuliakan. Dalam perkembangan berikutnya, sebutan Adonai sering kali digunakan sebagai ucapan pengganti bagi nama YAHWEH agar umat Israel terhindar dari menyebutkan nama YAHWEH dengan sembarangan.

B.     EL Elohim

El adalah nama dewa yang menjadi kepala Vantheon (Dewan para dewa). El di hormati sebagai yang maha tinggi, yang maha kuasa, dan yang maha kekal.Selain kedudukan yang istimewa erseut, El juga dikenal dalam agama-agama Kanaan dan sekitarnya sebagai dewa yang beristri banyak, juga sebagai dewa yang kekal yang memerlukan banyak dewa-dewa pembantu untuk mengatasi kuasa kegelapan. Umat Israel yang menggunakan nama EL untuk menyebut Allah yang telah menyatakan diriNya kepada para leluhur mereka sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Hal ini dapat dimengerti dengan memperhatikan adanya hubungan kekeluargaan yang serta antara bangsa Israel dan bangsa Aram.Untuk menyebutkan Allah yang maha kuasa dan maha tinggi. Jadi tidak mengherankan bila bangsa Israel juga menggunakan kata EL untuk menyebut nama Allah mereka. Dengan demikian sekalipun El adalah nama umum bagi ilah dalam lingkungan agama-agama Kanaan dan sekitarnya, namun bangsa Israel yang taat tidak tergoda sedikitpun untuk menyamakan EL Israel dengan EL Kanaan begitu saja. EL adalah sebutan kata umum dalam dunia semit yang digunakan untuk menyebut pribadia Dia yang mahatinggi, EL berarti Dialah yang Kuat, Besar, Kuasa yang empunya segala yang ada.[2] EL adalah nama diri yang tinggal di bet “EL”. EL yang artinya sebagain nama diri yang disejajarkan dengan Yahweh yang dimana artinya adalah Allah yang cemburu (Ul. 5:9).[3]

C.     Yahweh

Dibandingkan dengan nama EL, yang merupakan sebutan umum bagi Allah dalam kehidupan bangsa-bangsa Semit, nama YAHWEH dapat dikatakan merupakan sebutan yang secara khusus lahir dalam konteks bangsa Israel. Nama itu terbentuk dari 4 huruf mati, yakni: YHWH. Sesuai dengan ketentuan dalam 10 hukum Tuhan (Dasa Titah) untuk tidak menyebutkan nama YHWH ini dengan sembarangan, maka setiap kali orang Yahudi menemukan nama ini dalam bagian Kitab Suci yang sedang dibacanya mereka membacanya sebagai Adonai. YAHWEH mulai diperkenalkan oleh Allah kepada Musa di Gunung Sinai dalam penyataanNya.Penyertaan Allah tersebut berlangsung sepanjang sejarah Israel sehingga sejarah Israel dapat dikatakan sebagai sejarah penyertaan Allah.dalam sejarah penyertaan itu Allah selalu bertindak menyadarkan Israel akan dosa-dosa mereka dan memanggil mereka untuk bertobat serta membaharui dirinya sebagai umat kepunyaanNya, membela dan melindungi mereka dari musuh-musuh mereka. Bahkan berulang kali Allah bertindak menyelamatkan mereka dari rupa-rupa bahaya dan ancaman. Oleh karena itu umat Israel membedakan penyataan diri Allah menjadi YAHWEH yang secara harfiah berarti “Dia akan selalu ada atau Dia yang ada”.[4] YAHWEH adalah nama diri Allah dalam PL, dengan nama itu Ia memperkenalkan diri kepada umat Israel, bagi Allah namaNya tidak dirahasiakan atau hanya diketahui sekelompok orang saja, melainkan diperkenalkan kepada orang yang banyak.[5]

 

2.2.2.      Dalam Perjanjian Baru

Semua penulis PB mempunyai pandangan yang sama tentang Allah, seperti yang dikemukakan di dalam perjanjian lama. Kisah penciptaan berpusat pada inisiatif Allah sendiri yang memiliki kemampuan untuk menciptakan dan pemahaman tentang Allah sebagai pencipta dunia ini mendasari pemikiran PL. Hal yang perlu diperhatikan tentang pandangan tentang Allah dalam PB dan PL adalah bahwa Allah itu tinggi dan luhur, juga jauh dan sukar dipahami. Allah yang maha tinggi itu dianggap begitu jauh dari ciptaan-Nya sendiri, sehingga Ia memerlukan suatu perantaraan untuk mempertahankan hubungan-Nya dengan dunia. Dalam PB tidak ada pendekatan yang melihat bahwa Allah begitu jauh dari dunia ini. Allah jelas dalam Perjanjian Baru , namun Allah atau belas kasihan Allah ditunjukan dengan cara yang lebih jelas dalam penyataan Allah melalui Yesus Kristus. Ajaran tentang Allah sudah begitu mendasar bagi semua bagian PB, sehingga banyak buktinya lebih terdapat dalam keyakinan-keyakinan daripada dalam pernyataan-pernyataan yang khusus, siapa nama Allah atau pengelaran Allah  itu dalam Perjanjian Baru.[6]

1.      Theos

Theos adalah sebuah kata Yunani. Nama Theos tertulis pertama kali kitab septuaginta. Nama Theos dipilih sebagai nama Allah oleh para sarjana kitab suci Yahudi sebagai terjemahan bagi nama-nama Ilhai Ibrani yang artinya adalah Dia Yang Mahatinggi. Kata Theos benar-benar dijaga makna peggunanya oleh Lukas dan Paulus. Akhirya kata Theos dalam makna sebagai Allah yang satu-satunya dan benar yang sudah dikenal dan dipahami oleh para Filsuf Yunani yang kemudian terus dijaga kemurnian maknanya.

2.      Kyrios

Kata Yunani Kyrios memiliki arti yang sama dengan kata Ibrani Adonay, kata Kyrios berarti Tuhan. Kata Kyrios adalah sebutan nama yang umum bagi nama Ilahi. Kata Kyrios dalam kitab PB memiliki makna yang beranega ragam, kata Kyrios merupakan sebuah kata gelar kehormatan yang diberikan oleh orang yang memiliki kedudukan yang lebih rendah kepada orang yang berstatus lebih rendah.[7]

3.      Allah sebagai pencipta

Allah adalah pribadi yang memulai alam semesta ini.Mereka mengambil alih keyakinan ini dari PL dan juga dari pengajaran Yesus. Pernyataan yang paling jelas dari pengajaran Yesus yang dicatat dalam kitab-kitab Sinoptik mengenai tema ini terdapat dalam Markus 13;19 (sejak awal dunia, yang diciptakan Allah). Yesus  juga mengutip PL dan menerimanya secara penuh  bahwa Allah menjadikan manusia laki-laki dan perempuan (Mrk 10:6, Mat 194). Dalam kitab-kitab injil tidak ada petunjuk yang meberikan kesan bahwa asal mula alam semesta ini bukan berasal dari Allah sendiri. Paulus juga berani mengatakan bahwa Allah yang ia sembah itu adalah Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia  adalah Tuhan atas langit dan bumi (Kis 17:24). PB mencerminkan keyakinan yang sama dengan keyakinan yang dinyatakan dalam  PL, yaitu bahwa ciptaan tidak sama kekalnya dengan Pencipta.

 

4.      Allah sebagai Bapa

Ajaran tentang kebapaan Allah adalah ajaran yang paling khas daam PB dan khususnya dalam ajaran Yesus. Pada masa itu  orang-orang penyembah berhala beribadah kepada dewa-dewanya dalam suasanan ketakutan, tetapi pandangan Kristen tentang kebapaan Allah memberikan unsur kemesraan ke dalam hubungan manusia dengan Allah yang tidak ada bandingnya dalam dunia kafir. Kedatangan Kristus menyebabkan gambaran yang samar tentang kebapaan ini menjadi suatu pandangan tentang Allah yang menunjukkan bahwa hubungan manusia yang paling mesra  (bapa, anak) merupakan suatu pencerminan dari sifat Allah yang hakiki. Dalam PB dikemukakan tiga hal mengenai kebapaan Allah.Dia adalah Bapa Yesus, Bapa murid-murid Yesus, dan Bapa dari semua ciptanNya. Penting untuk diperhatikan bahwa hubungan “bapa-anak ” yang bertitik tolak pada Allah hampir seluruhnya ditujukan bagi orang-orang yang percaya. Hubungan ini terjadi karena tindakan penebusan Allah.hubungan yang istimewa dengan orang-orang percaya . kadang-kadang gelar “Bapa” diperkaya. Allah seringkali digambarkan sebagai Bapa dari Yesus Kristus, tetapi Ia juga adalah Bapa yang mulia (Ef 1:17), Bapa segala roh (Ibr 12:9), Bapa segala terang (Yak 1:17). Terlihat bahwa kebapaan dari semua keturunan manusia berasal dari keBapaan Allah (Ef 3:14-15), hal itu menunjukan bahwa Allah disebut Bapa bukan atas dasar analogi dengan manusia, seolah-olah kebapaan manusia adalah pegambaran yang paling dekat bagi hubungan antara Allah dengan manusia.Nampaknya kebapaan merupakan penamaan bagi Allah yang sudah melekat.

5.      Allah sebagai raja dan hakim

Di dalam keseluruhan PB ditemukan keyakinan bahwa Allah adalah Raja.Konsep ini khususnya terpusat dalam ungkapan “Kerajaan Allah” atau “Kerajaan Sorga”. Pengertian konsep ini secara utuh akan dibahas kemudian dalam bagian misi Kristus. Kedudukan seorang raja meliputi kedaulatan, dan kedaulatan dalam fungsinya yang sebenarnya mencakup unsur tanggung jawab.Ini tidak berarti bahwa kedaulatan harus dianggap sebagai ini tidak berarti bahwa kedaulatan harus dianggap sebagai inti pokok pengertian kerajaan Allah itu.Pengertian Allah sebagai Raja berdasar pada kenyataan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu, sejalan dengan pengertian Allah sebagai raja, ada gelar lain yang dipakai untuk menyebut Allah yakni Tuhan.Gelar ini adalah gelar lain yang lazim dipakai dalam PL dan diterima tanpa persoalan dalam PB, gambaran takhta Allah yang digunakan dalam PB adalah gambaran yang mengabungkan konsep tentang Raja dan Hakim. Pada waktu Yesus berbicara tentang sumpah, Ia melarang untuk bersumpah demi langit karena langit adalah tahta Allah  (Mat 5:34, 23:22).

6.      Allah sebagai Juruselamat

meskipun dalam PB gelar Juruselamat umumnya diterapkan kepada Yesus Kristus, namun gelar itu juga dugunakan bagi Allah, sesuai dengan tindakan Allah yang menonjol dalam PL. Pengungkapan-pengungkapan yang utama dari gelar itu terdapat dalam surat-surat penggembalaan (1 Tim 2:3, Tit 2:10, 13, 3;4), tetapi juga muncul dengan ciri PL dalam nyanyian pujian Maria (Luk 1:47), dan dalam doksologi dalam Yudas 25. Meskipun gelar ini jarang disebutkan, namun karya penyelamatan yang terkandung dalam gelar ini menjiawai keseluruhan PB.Sesungghnya teologi Kristen berpusat pada tema megenai Allah yang menyelamatkan umat-Nya.

7.      Allah nenek moyang Israel

Beberapa kali Allah disebut secara khusus sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub  (Mat 8:11, 22:32), demikian Ia juga disebut “Allah Nenek Moyang kita” dalam kisah para Rasul 22:14. Dalam kalangan Yahudi penggambaran hubungan Allah dengan para bapa leluhur memberikan arti yang sangat penting.Hubungan itu menonjolkam Allah yang jauh lebih besar daripada suatu ilahi kesukuan saja. Hal ini menunjukkan bahwa sikap Allah diakui masih sama seperti apa yang terlihat dahulu ketika Allah memperlakukan nenek moyang bangsa Yahudi dengan ramah. Hubunga itu menekankan kesinambungan antara penyataan Kristen dan PL.

8.      Allah adalah Alfa dan Omega

Sebutan mengenai Allah ini hanya terdapat dalam Wahyu 1:8 dan 21:6.Dalam bagian akhir dari kitab Wahyu sebutan ini juga digunakan kepada Kristus.Harus dipahami bahwa sebutan ini merupakan bentuk kiasan yang mempunyai arti mencakup segala sesuatu, dengan demikia sebutan ini berarti bahwa baik awal maupun akhir dan segala sesuatu diantaranya harus dihubungkan dengan Allah.arti ungkapan ini terutama dapat dirasakan dalam kitab yang begitu banyak membahas tentang zaman akhir. Dalam sebutan ini terkandung pengertian bahwa seluruh perjalanan sejarah dipandang sebagai aktivitas Allah tidak ada masa-masa dalam sejarah di luar penyertaan Allah.Hal ini erat kaitanya dengan pengertian mengenai Allah sebagai pencipta.[8]

2.3. Nama Allah dalam Sejarah Dogamatika

Karya-karya Dogmatika atau teologi sistematika umumnya dimulai dengan doktrin Allah. pada umumnya prosedur ini selalu dianggap sebagai prosedur yang paling logis dan masih menunjuk kearah yang benar banyak alasan kuat mengapa kita melai doktrin tentang Allah jika kita berangkat dari penggadaian bahwa teologi adalah pengetahuan sistematika tentang Allah, yang dari-Nya, oleh-Nya, melaluiNya dan baginya segala sesuatu berada. Allah telah menyatakan diriNya dalam firmanNya tidaklah mustahil bagi kita untuk memulai dogmatika dengan studi tentang Allah. dogmatika secara keseluruhan adalah studi tentang Allah dan bukan hanya sebagian dari pembahasan dogmatika. Keberadaan Allah mampu dibuktikan secara akali tanpa sedikit keraguan.[9] Dan dalam dogmatika mengatakan bahwa manusia tidak dapat memberikan nama kepada Allah. Oleh karena manusia tidak mengenal Allah. Tetapi Allahlah yang meberikan namaNya , Allah memberikan nama bagi diriNya dan memberikan hak untuk menyebut akan Dia dengan nama-nama yang telah Dia berikan. Sekarang manusia mempunyai Allah oleh karena Ia memberikan diri-Nya kepada manusia, jadi jika berbicara tentang nama-nama Allah berarti berbicara tentang kasih Tuhan yang telah menjelma dalam Yesus Kristus. Nama adalah pernyataan dari yang mempunyai . Allah memberikan nama bagi diriNya berarti bahwa Ia memberikan pernyataan tentang diriNya kepada manusia. Memang dalam kasihNya Allah bahkan sudi memakai kata-kata dan pengertian yang dapat dimengerti oleh manusia , maka nama Allah jangan disebut dengan sia-sia atau sembarangan.

Pertama-tama nama yang harus dibicarakan adalah nama YHWH, akan tetapi asal kata dari YHWY bisa didapat pada kata hayah yang artinya berada. Dan keluaran 3:14 dan Keluaran 3:6-12 menerangkan maksud Tuhan dalam nama YHWH, maksud ini ialah bahwa Tuhan adalah Tuhan dari Abraham, Ishak, Yakub. Ia adalah Allah perjanjian. Dalam perjanjian Baru kita mendapat nama Kurios yang artinya sama dengan nama YHWH. Nama yang mungkin seasal dengan Allah ialah nama ell. Yang berasal dari kata ul yang artinya, kuat dan kuasa, Ell kerap terbaca dalam bentuk kata Jamak Elohim yang artinya Allah yang mahakuasa. Selanjunya ditemukan juga nama Theos yang dimana nama ini nama yang umum dalam perjanjian baru. Nama Adonai berarti tuan yang berhak. Nama Bapa juga menjadi nama Allah, dalam  Perjanjian Lama (Bapa) memang tidak sebegitu kerap dipakai. Oleh karena memang nama Bapa  sudah termuat dalam YHWH. Bapa lebih terpakai dalam Perjanjian Baru, Bapa adalah nama oknum pertama dalam Allah Tritunggal, hubungan yang mesra antara Allah dan orang percaya. Orang percaya diangkat menjadi anak Allah.[10]

2.4.Nama Allah dalam Ilmu Agama

Dalam agama-agama tentunya berbeda penyebutan nama Allah, akan tetapi kita yakini bahwa Allah yang disembah oleh masing-masing agama tidaklah salah, kerena memang demikian lah pemahaman mereka tentang Allah, dan dari nama-nama itulah mereka mengenal Allah mereka sehingga mereka percaya dan menyembah Allah mereka tersebut. Berikut beberapa nama Allah dalam kepercayaan dalam Agama-agama yang ada di Indonesia terkususnya.

1.      Hindu

Kehadiran agam Hindu juga memerlukan proses yang panjang, agama Hindu mengentrigasikan bahwa kebaktian merupakan suatu yang religius, atau yang lebih khas adalah sebagai “Gaya hidup” yang biasanya ditunjuk dengan kata dharma.[11] Agama Hindu tidak memiliki seorang pendiri dan tidak berpedoman pada kitab suci, meskipun demikian ada keyakinan yang kerap dijumpai dalam berbagai keyakinan masyarakat Hindu. Agama Hindu merupakan sistem kepercayaan yang kaya, mencakup keyakinan yang bersifat monoteisme, politeisme, panenteisme, monoisme dan ateisme, yang dimana konsep ketuhanan atau nama allah dalam agama hindu adalah bersifat kompleks dan bergantung pada nurani setiap umatnya atau pada tradisi dan filsafat yang diikuti. Kadang kala agama Hindu dikatkan bersifat henoteisme (melakukan pemujaan terhadap satu Tuhan, sekaligus mengakui keberadaan para dewa). Agama Hindu mengandung suatu konsep filosofis yang disebut Brahman, yang sering didenifisikan sebagai kenyataan sejati. Esensi bagi segala hal atau sukma alam semseta yang menjadi asal usul serta sandaran bagi segala sesuatu yang fenomena. Brahman adalah istilah yang disematkan bagi suatu kekuatan yang membuat upacara menjadi yaitu kekuatan spritual dari ucapan-ucapan suci yang dirapalkan. Brahman dipandang sebagai yang mahamutlak atau mahakuasa atau asas ilahi bagi segala materi, energi, waktu, ruang, benda dan sesuatu di dalam atau di luar alam semesta. Sebagai hasil dari berbagai kontemplasi tentang Brahman maka Ia dapat dipandang sebagai Tuhan dengan atribut (saguna brahman), Tuhan tanpa atribut atau Tuhan mahakuasa.[12]

2.5. Penyebutan nama Allah dalam agama-agama suku

2.5.1.      Penyebutan nama Allah dalam agama suku Karo

Suku Karo merupakan percampuran dari ras proto Melayu dengan ras nekroit.Percampuran ini disebut umang. Pada abad pertam setelah masehi terjadi migrasi orang India Selatan ke Indonesia termasuk ke Sumatera.Mereka beragama Hindu.Pada abad ke V terjadi pula gelombang migrasi India yang memperkenalkan agama Budha.Orang-orang dari India Selatan yang datang ke tanah Karo memperkenalkan ajaran pemena.Pemena berarti pertama yang artinya kepercayaan awal orang karo.Mereka juga mengajarkan beberapa aksara yang kemudian menjadi aksara karo akhirnya orang-orang karo mulai percaya mengenal agama ini dan menganutnya.[13]

Agama di karo percaya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini baik yang dapat dilihat maupun yang tak dapat di lihat adalah merupakan ciptaan Dibata kaci-kaci.Ada 3 pemahaman nama-nama allah di dalam agama suku karo:

1.      Dibata datas: dibata datas disebut juga guru batara yang memiliki kekuasaan dunia atas angkasa.

2.      Dibata tengah: dibata tengah disebut juga Tuhan padukan ni Aji. Dibata inilah yang menguasai dan memerintah dibagian dunia ini.

3.      Dibata teruh: dibata teruh juga disebut tuhan banua koling. Dibata inilah yang mmeritah dibumi bagian bawah bumi.

Selain itu ada 2 unsur nama allah yang diyakini, yaitu: sinar matahari dan si beru dayang. Sinar matahari adalah symbol cahaya dan penerangan.Ia berada saat matahari erbit dan matahari terbenam. Dia mengikuti perjalanan matahari dan menjadi penghubung antara ketiga dibata.Si beru dayang adalah seorang perempuan yang tinggal bulan.Si beru dayang sering kelihatan dalam pelangi.Ia bertugas membuat dunia tengah tetap kuat dan tidak di goncangka angina topan.[14]

 

III.             Kesimpulan

Manusia ternyata bukan hanya memberi nama bagi mahluk-mahluk ciptaan lainnya, tetapi manusia juga memberi nama bagi pencipta-Nya “pada mulanya Elohim menciptakan langit dan bumi” (Kej 1:1). Kata Elohim ini adalah sebutan nama Allah pertama yang tertulis dalam kitab PL. Sepanjang Kitab Kejadian 1:1 -2:3, hanya nama Elohim ini sajalah yang digunakan oleh penulis kitab PL untuk menyebut nama Ilahi bagi pribadi Dia yang Mahatinggi. Dalam seluruh kitab PL namaElohim ini tertulis sebanyak 2570 kali. Setelah itu, nama Ilahi lain yang mulai diperkenalkan oleh penulis kitab kejadian adalah  ketika YHWH Elohim menjadikan langit dan bumi (Kej 2:4). Nama YHWH adalah nama Ilahi terbanyak tertulis dalam kitab PL, yakni tertulis sebanyak 6.823 kali. Selanjutnya dalam kitab Ayub ditemukan nama Ilahi lain yakni Eloah, dalam Perjanjian Baru nama Allah disebutkan sebagai Adonay dan Kriyos dan juga banyak nama Allah yang lainya di sebutkan dalam Perjanjian Baru tentang nama Allah. Begitu juga dalam Dogmatika nama Allah juga sama seperti apa yang telah dijelaskan dalam Biblika. Dalam Teori agama-agama nama Allah juga berbeda diucapkan tetapi itulah yang mereka percayai tentang nama Allah mereka, begitu juga dengan agama-agama suku yang ada di indonesia nama Allah juga ada dalam agama suku mereka dan begitulah nama yang mereka yakini akan nama tersebut.

IV.             Daftar Pustaka

Guthrie  Donald, Teologi Perjanjian Baru 1, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015

Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu, Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2001

Satyabudi  I.J, Kontroversi Nama ALLAH, Jakarta: Wacana Press, 2004

Yonky, Karman, Bunga Rampai teologi perjanjian lama dari kanon sampai doa, Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2007

Berkhof  Louis,  Teologi Sistematika, Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993

Ukur  Malem, Adat Karo, Medan: Sirulo, 2008

Theodorus  Matinus, Perjanjian Lama dan Teologi Kontekstual, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 20017

Tambun  P, Adat Istiadat Karo, Jakarta: Balai Pustaka, 1952

Soedarmo. R, Ikhtisar Dogmatika, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009                                                                                        

Jacobs  Tom, Paham Allah, Yogyakarta: Kanisius, 2002

Wikipedia, Diakses pada  selasa 1 September 2020



[1] I.J Satyabudi, Kontroversi Nama ALLAH, (Jakarta: Wacana Press, 2004), 76-78

[2] I.J Satyabudi, Kontroversi Nama ALLAH, (Jakarta: Wacana Press, 2004),  79.

[3] Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu,(Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2001), 47-48

[4] Matinus theodorus, Perjanjian Lama dan Teologi Kontekstual, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 20017), 27-35

[5] Karman, Yonky, Bunga Rampai teologi perjanjian lama dari kanon sampai doa, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2007), 171.

[6] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 1, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 43.

[7] I.J Satyabudi, Kontroversi Nama ALLAH, (Jakarta: Wacana Press, 2004), 98-101.

[8] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 1, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 43-63

[9] Louis Berkhof,  Teologi Sistematika, (Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1993), 7-8.

[10]  R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 101-103

[11] Tom Jacobs, Paham Allah, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 86.

[12]  Wikipedia, Diakses pada  selasa 1 September 2020

[13] Malem Ukur, Adat Karo, (Medan: Sirulo, 2008), 5-6

[14]P Tambun, Adat Istiadat Karo, (Jakarta: Balai Pustaka, 1952), 10-12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar