Menjelaskan Arti dan Makna Bencana Alam dan Pandemik Global dari Tinjauan PL, Biblika, Sistematika, Historika, Ilmu Agama-agama, Agama Suku diperhadapkan Dengan Wabah Covid 19
I. Latar Belakang Masalah
Bencana alam (Bahasa Inggris: Natural disaster) adalah suatu peristiwa alam yang mengaibatkan dampak besar bagi populasi manusia. Peristiwa alam dapat berupa banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan wabah penyakit. Beberapa bencana alam terjadi tidak secara alami. Contohnya adalah kelaparan, yaitu kekurangan bahan pangan dalam jumlah besar yang disebabkan oleh kombinasi faktor manusia dan alam. Dua jenis bencana alam yang di akibatkan oleh peristiwa diluar angkasa jarang mempengaruhi manusia, seperti asteroid dan badai matahari. Bencana alam adalah situasi yang kedatangannya tidak terduga sebelumnya, dimana dalam kondisi itu bisa terjadi kerusakan, kematian bagi manusia atau benda-benda maupun rumah serta segala perabot yang kita miliki dan tidak menutup kemungkinan juga hewan dan tumbuh-tumbuhan juga untuk mati. Bencana dapat terjadi melalui suatu proses yang panjang atau situasi tertentu dalam waktu yang sangat cepat tanpa adanya tanda-tanda.[1] Latar belakang virus corona atau covid-19 khasusnya dimulai dengan penoumenia atau radang paru-paru. Kasus ini diduga berkaitan dengan pasar hewan Huwana yang menjual berbagai jenis daging binatang termasuk yang bisa di konsumsikan. Dengan latar belakang tersebut virus corona kali ini saja membuat manusia panik. Maka dari itu saya sebagai penyeminar akan memaparkan arti dan makna bencana alam dan pandemic dari tinjauan PL, Biblika, Sistematika, Historika, Ilmu Agama-agama, Agama Suku diperhadapkan dengan wabah Covid 19.
II. Pembahasan
2.1.Arti dan Makna Bencana Alam
Bencana atau disaster secara etimologis berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu “dus” buruk dan ”aster” bintang. Istilah ini mengacu kepada fenomena astronomi yang berkonotasi pada sesuatu yang buruk.[2]Menurut KBBI bencana alam adalah kecelakaan yang disebabkan oleh alam seperti gempa bumi, angin besar, letusan gunung berapi, banjir dal ilain-lain.[3] Terjadinya bencana alam disebabkan oleh adanya pertemuan antara bahaya dengan kerentanan sehingga menghasilkan resiko bencana.Risiko bencana dapat atau tidak dapat menjadi bencana tergantung dari unsur kerentanan. Jika unsur kerentanan mengenal karakterisrtik bencana dan mampu menghadapi maka tidak akan menjadi bencana. Sebaliknya jika unsur kerentanan tidak mengenal karakteristik bencana dan tidak siap siaga menghadapi bencana maka akan menjadi bencana.[4] Becana Alam ialah sesuatu yang menyebabkan kesusahan, kerugian atau penderitaan, bahaya atau pemimpin yang tidak jujur akan menimbulkan bahaya bagi negara dan bangsa dan bancalah yang disebabkan oleh alam(Gempa bumi. Angin besar, dan banjir).[5] Bencana ini khusus berkaitan dengan alam yang ada di sekitar manusia. Bencana-bencana alam yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia yang menimbulkan kerugian sagat besar misalnya: Gelombang pasang/Tsunami, Tanah longsor, Gunung meletus dan kebakaran hutan.[6] Menurut pandangan Coburn A.W. bencana alam merupakan kejadian atau serangkaian kejadian yang mengakibatkan adanya korban dan kerusakan, kerugian, harta benda, pelayanan-pelayanan penting atau sarana kehidupan pada skala di luar kapasitas normal.[7]
2.2.Bencana Alam dalam Biblika
2.2.1. Bencana Alam dalam Perjanjian Lama
Dalam bahasa Ibrani ﬡסּﺍﺇ bencana (Shao) dan טּבּצּ adalah Alam. Alkitab mencapai beberapa kejadian alam yang terjadi misalnya: gempa bumi yang terjadi pada zaman uzia, raja Yehuda, dan zaman Yerobeam (Amsal 1:1, Zakh 14:5). Nampaknya gempa bumi tersebut merupakan gempa bumi yang dahsyat dan berdampak dalam kehidupan umat Israel, kebab kejadian itu ditulis oleh dua nabi sekaligus: Amos dan Zakharia. Namun tidak ada catatan lain yang mencertikan bagiamana gempa itu terjadi dan hubungannya dengan kehadiran Tuhann dalam peristiwa itu.[8]Dalam tinjauan Perjanjian lama ialah “Tanda peringatan/Hukum Allah atas manusia”. Bencana alam yang sangat dahsyat dan terjadi sekali saja dalam hidup manusia tercatan dalam alkitab yaitu ketika Tuhan menghukum pada ciptaan-Nya pada jaman Nuh dengan Air Bah (bnjir besar) karena ketidaktaatan kepada Allah (kej 6:1-9:19). Bencana itu merupakan peringatan sekaligus hukuman Allah atas ciptaan-Nya. Hokum itu dijatuhkan Allah karena mereka sudahsedemikian jahat (Kej 6:5). Hati mereka yang jahat itu tercermin dalam sikap hidup mereka, yang cenderung selalu berbuat jahat. Hal itu membuat Allah sangat sedih hati, bahkan Alkitab mencatat bahwa Allah “menyesal” (diulang 2 kali) karena telah menjadikan manusia dibumi (Kej 6:6-7) kenyataan ini terbukti bahwa kejahatan manusia itu sudah sedemikian parah dan tidak bisa dibiarkan lagi. Untuk itu Allah menegaskan bahwa aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan bintang-binatang melanta dan burung-burung diudara (Kej 6:7). Allah menghukum ciptaan-Nya itu dengan Air Bah yang sangat dahsyat, yang didahului dengan turunnya hujan lebat selama empat puluh hari-empat puluh malam (Kej 7:12). Becana Air Bah itu sangat dahsyat dan merupakan pengadilan Allah yang radikal. Sebab air itu menutupi seluruh bumi, tidak ada sesuatu yang dapat bertahan hidup melawan ganasnya Air Bah itu. Kemudian air itu tetap menggenangi bumi selama seratus lima puluh hari lamanya (Kej 7:24). Bencana tersebut bukan suatu kebetulan (suatu kejadian alam biasa), tetapi benar-benar merupakan hukuman Allah atas menusia yang juga berdampak kepada ciptaan-Nya yang lain. Kemudian Allah berjanji dengan Diri-Nya sendiri bahwa ia tidak akan “mengutuk bumi ini lagi dan takkan membinasakan lagi” (Kej 8:21). Dalam Alkitab memang tidak ada bencana lain yang sedemikian dahsyat yang merupakan hukuman Allah atas manusia dan ciptaan-Nya yang lain.[9] Tinjauan lain yang bisa saya sampaikan ialah “Tanda Penampakan/Kehadiran Allah kepada manusia”. Di dalam Perjanjian Lama disebutkan beberapa kali penampakan Tuhan kepada umat-Nya misalnya: dalam perjalanan umat Israel keluar dari mesir menuju tanah perjanjian, Allah menampakkan diri kepada umat-Nya di gunung Sinai (Kel 19:18). Dalam ayat ini menyatakan bahwa seluruh gunung Sinai “gemetar sangat”. Kedua kata tersebut menjelaskan adanya gempa bumi, dimana gunung itu bergoyang sedemikian rupa yang membuat umat Israel sangat ketakutan karena Allah hadir di tengah-tengah mereka. Allah benar-benar hadir pada waktu itu yang dibuktikannya dengan pembicaraan dengan Musa (Kel 19:19-20).[10]
2.2.2. Bencana Alam dalam Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Baru bencana alam yang terjadi seperti gempa bumi yang telah menunjukkan kehadiran/penampkan Tuhan kepada manusia. Persitiwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib dan kebangkitan Tuhan Yesus menjadi bukti yang sangat jelas bahwa Allah menyatakan kuasa-Nya dalam peristiwa-peristiwa itu (Mat, 27:51, 28:2). Ketika Tuhan Yesus mati, terjadi gempa bumi dan bukit-bukit batul terbelah. Kata gempa didalam perjanjian baru disebut dengan Seismos yang berati goncangan gempa.[11]pengertian Gempa dalam perjanjian baru ini sering diarahkan pada pemahaman kedatangan akhir zaman (2 Pet 3:3-10).[12] Peristiwa itu bukan kejadian alam yang biasa, tetapi menunjukkan penampakan Allah kepada orang-orang yang ada pada saat itu/ hal itu diakui oleh kepala pasukan dan prajurit-prajurit yang menjaga Tuhan Yesus. Mereka menyatakan “sungguh, Ia ini adalah Anak Allah” (Mat 27:54). Demikian juga ketika Tuhan Yesus bangkit dari antara orang mati, pada saat itu terjadi gempa bumi yang hebat. Semua itu menunjukkan kehadiran Allah di dunia. Semua kejadiaan inilah yang menjadi bukti kuat bahwa bencana alam yang dapat menjadi tanda akan kehadiran/menampakan diri Allah kepada manusia. Melalui peristiwa ini, Allah ingin menunjukkan kuasa dan kehendak-Nya kepada manusia ciptaan-Nya. [13] Bencana alam menurut Perjanjian Baru bukanlah sestuatu yang baru atau aneh dalam kehiduan manusia.bencana alam paling tidak menurut Harold Kushner, seorang rabbi Yahudi adalah bagian dari kedalam alam. Artinya, tidak mungkin kita membayangkan sebuah alam yang bebas dari bencana seperti halnya juga penderitaan yang merupakan bagian dari keanusiannya manusia.inti pokok ajrannya tercantum dalam ayat 7 (Tetapi itu belum kesudahannya) juga merupakan kesimpulan utama tercantum dalam ayat 8 semua itu barulah permulaan dari penderitaan. Ungkapan itu sesuai dengan gambaran orag Yahudi mengenai “penderitaan menjelang zaman Mesias. Tetapi juga ada unsur baru menurut orang Yahudi Yaitu “rasa sakit” itu sedikit banyak sama dengan semua bencana yang digambarkan disini, sedangkan menurut Yesus bencana itu “barulah permulaan”.[14]
2.3.Faktor Akibat Bencana Alam
2.3.1. Bencana Alam yang terjadi Karena Ulah Manusia
Bencana yang disebabkan oleh ulah manusia seperti pembakaran, hura-hara, pembunuhan, terorisme dan sebagainya jelas dilakukan dengan matsud yang jahat.Dimana korban sering kali memiliki perasaan terluka dan dendam yang membara terhadap pelaku. Bencana alam oleh karena kesalahan dan ulah manusia yaitu menebang hutan di hulu dengan bebas maka akan mengakibatkan tidak ada lagi tempat air, maka airpun meluap. Dua ini mempunyai dampak kepada orang yang mengalami bencana alam tersebut.dimana tangus dan penderitaan selalu hadir ketika bencana alam datang dalam segala bentuknya, tetapi tangis itu memiliki makna yang berbeda. Tangis yang pertama adalah tangis ketidak-berdayaan manusia diperhadapakan dengan kekuatan alam yang luar biasa. Tangis yang kedua adalah kekecewaan karena perbuatan manusia yang tidak peduli lagi akan sesamanya.[15]Factor terjadinya bencana alam yang dilakukan oleh manusia antara lain seperti :
- Tanah Longsor
- Banjir
- Kebakaran.[16]
2.3.2. Bencana Alam Yang Terjadi Secara Alami
Bencana alam yang disebabkan oleh alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lainberupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, kekeringan, angin topan dn tanah longsor.[17]Bencana alam yang terjadi secara alami antar lain:
- Gempa Bumi
- Letusan Gunung Berapi
- Tsunami
- Angin Putting beliung
- Kekeringan[18]
2.4.Bencana Alam dalam Sistematika
Alam merupakan anugrah yang Maha Pencipta kepada kita umat manusia dan seluruh makhluk-Nya di bumi ini. Lingkungan merupakan bagian dari pada alam dan saling bersinergi dengan makhluk hiudp lainnya dibumi agar kelestariannya tetap terjaga demi kelangsungan hidup di masa mendatang. Perlakuan manusia terhadap lingkungan disebut tika lingkungan dan alam. Dalam hal ini merupakan peraturan yang mengatur manusia dalam memperlakukan lingkungan dengan bijaksana, beujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan alam. Tugas manusia tidak akan terasa memberatkan jika semua bersinergi untuk mencapai atu tujuan. Kerusakan alam inilah yang menjadi akibat kesalahan manusia sebagai pengelola lingkungan serta rasa egoism pribadi masing-masing individu yang menginginkan keinginannya untuk dituruti, tanpa memperhatikan kepentingan dan dampak bagi orang lain. [19]
2.5.Bencana Alam dalam Historika
Bencana itu merupakan peringatan sekaligus hukuman Allah atas ciptaan-Nya.Hukuman itu dijatuhkan Allah karena hati mereka sudah sedemikian jahat. Hal itu membuat hati Allah sangat sedih, bahkan Alkitab mencatat bahwa Allah “menyesal”, karena telah menjadikan manusia dibumi (Kej.6:6-7). Kenyataan ini membuktikan bahwa kejahatan manusia sudah sedemikian parah, dan tidak bisa dibiarkan lagi. Untuk itu Allah menegaskan bahwa Aku akan menhapuskan manusia yang telah Ku-ciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara (Kej. 6:7). Bencana Alam yang sangat dahsyat, dan terjadi sekali saja dalam hidup manusia tercatat dalam Alkitab yaitu ketika Tuhan menghukum ciptaan-Nya pada zaman Nuh dengan air bah (Banjir Besar) karena ketidaktaatan kepada Allah (Kej. 6:1-9;19). Bencana alam yang sangat dahsyat, dan terjadi sekali saja dalam hidup manusia tercatat dalam Alkitab yaitu ketika Tuhan menghukum ciptaan-Nya pada jaman Nuh dengan Air Bah (banjir besar) karena ketidaktaatan kepada Allah (Kej. 6:1-9:19). Bencana itu merupakan peringatan sekaligus hukuman Allah atas ciptaan-Nya. Hukuman itu dijatuhkan Allah karena hati mereka sudah sedemikian jahat (Kej. 6:5). Hati mereka yang jahat itu tercermin dalam sikap hidup mereka, yang cenderung selalu berbuat jahat. Hal itu membuat Allah sangat sedih hati, bahkan Alkitab mencatat bahwa Allah “menyesal” (di-ulang 2 kali) karena telah menjadikan manusia di bumi (Kej. 6:6-7). Kenyataan ini membuktikan bahwa kejahatan manusia itu sudah sedemikian parah, dan tidak bisa dibiarkan lagi.[20]
Untuk itu, Allah menegaskan bahwa Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara…” (Kej.6:7). Allah menghukum ciptaan-Nya itu dengan Air Bah yang sangat dahsyat, yang didahului dengan turunnya hujan lebat selama empat puluh hari empat puluh malam (Kej. 7:12). Bencana Air Bah itu begitu dahsyat dan merupakan pengadilan Allah yang radikal,17 sebab air itu menutupi seluruh bumi, yang membinasakan segala yang hidup (Kej. 7:19-23). Bencana itu menyebabkan kebinasaan atas segala sesuatu yang ada di bumi. Tidak ada sesuatu yang dapat bertahan hidup melawan ganasnya Air Bah itu. Kemudian air itu tetap menggenangi bumi selama seratus lima puluh hari lamanya (Kej. 7:24). Bencana tersebut bukan suatu kebetulan (suatu kejadian alam biasa), tetapi benar-benar merupakan hukuman Allah atas manusia, yang juga berdampak kepada ciptaan-Nya. yang lain. Kejahatan manusia tidak hanya berdampak kepada manusia saja, tetapi juga kepada ciptaan Allah yang lain. Kemudian Allah berjanji kepada Diri-Nya sendiri bahwa Ia tidak akan “…mengutuk bumi ini lagi…dan…takkan membinasakan lagi…” (Kej. 8:21). Dalam Alkitab memang tidak ada bencana lain yang sedemikian dahsyat yang merupakan hukuman Allah atas manusia dan ciptaan-Nya yang lain. Meskipun Allah tetap menghukum manusia karena kejahatan atau ketidak taatannya kepada-Nya melalui bencana-bencana yang lain. Tetapi Allah tidak melakukannya dengan mendatangkan Air Bah yang dahsyat lagi.
2.6.Bencana Alam dalam Ilmu Agama-agama dan Agama Suku
2.6.1. Bencana Alam Menurut Agam Islam
Kata musibah berasal dari bahasa Arab “مصيبة” (Karita) yang berarti “sesuatu yang menimpa atau yang mengenai”.Kata ini digunakan untuk yang baik dan yang buruk.Menurut al-Raghib al-Asfahaniy asal makna kata mushibah adalah lemparan (al-ramiyyah), kemudian penggunaannya lebih dikhususkan untuk pengertian bahaya atau bencana.[21] Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik faktor alam atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkai peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekerigan, angin topan dan tanah longsor. Al-Qur’an menjelaskan secara teologis, bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam merupakan tindakan kekuasaan Tuhan.[22]
2.6.2. Bencana Alam Menurut Agama Buddha
Bencama Alam dalam dibagi dua yaitu: alam dan manusia. Secara alami bencanaakan terjdai dimuka bumi ini. Agama Buddha memandang ada hubunga antara kemoralan seseorang dengan kelsetarian alam, karena peristiwa yang terjadi di ala mini salingn berpengaruh, baik secara langsung maupun tidaklangsung terhadap yang lain. Hal ini berarti bahwa perilaku yang dilakukan oleh manusia sangat berpengaruh terhadap lingkungan hidup, maka lingkungan akan memberikan pengaruh terhadap manusia . jika manusia merusak lingkungan secara cepat dan lambat akan menimbulkan dampak buruk bagi manusia.
2.6.3. Bencana Alam Menurut Agama Suku
Bencana adalah peristiwa atau kejadian yang berlebihan yang mengancam dan menganggu aktivitas normal kehidupan masyarakat.Secara umum bencana terjadi akibat perilaku perbuatan, pengaruh manusia maupun akibat anomali peristiwa alam.[23]Masih jelas kita mengingat bencana yang terjadi di danau toba pada bulan Juli tahun lalu.Yang memakan korban kurang lebih dari 164 orang yang mayatnya sampai sekarang belum ditemukan.Kita melihat kasus ini bahwa adalah akibat keserakahan manusia yang mengakibatkan banyak korban jiwa yang tidak berdosa menjadi korban.Karena banyaknya penumpang yang dimasukkan sehingga kapal tidak kuat menanggung bebannya.Dan juga alam yang tidak bersahabat pada waktu itu namun mereka tetap menjalankan kapal itu.Padahal sudah tak diberi izin berlayar karena cuaca yang tidak mendukung.Lalu kita melihat adanya keserakahan yang ada dalam diri manusia.Sehingga alam pun terlihat murka dan tidak suka terhadap perilaku manusia.jika kita melihat juga danau toba adalah danau yang sangat indah namun karena manusia danau toba dibuang sampah sembarangan bahkan keramba ikan yang merajalela, membuat danau ini jadi tercemar.
2.7.Benaca Alam dalam Wabah Covid-19
Kepulauan Indonesia merupakan wilayah yang dapat dikatakan sebagai supermarket bencana alam. Kondisi geologi yang kompleks menyebabkan Indonesia sangat sering mengalami gempa besar atau sering disebut dengan Megathurst yang disertai dengan Tsunami. Indonesia mempunyai iklim tropis khas dengan musim hujan dan kemarau yang sama panjang dan sering terjadi peubahan musim yang dapat menjadi pemicu terjadinya banjir, angin puting beliung, kekeringan dan kebakaran hutan. Berdasarkan laporan dari BNPB sekitar 60% wilayah Indonesia merupakan wilayah yang berpotensi untuk terjadinya bencana alam dan hampir sekitar 120 juta orang yang hidup diwilayahnya tersebut dapat dikatakan rentan menjadi korban dari bencana alam. Berdasarkan cacatan dari gugus tugas covid 19 kasus pertama positif yng diteksi terjadi pada awal Maret 2020. Data yang di peroleh dari gugus tugas Covid 19per 4 mei 2020 tercatat sebanyak 11.587. hampir semua negara mengalami permasalahan dalam penanganan covid 19 ini. Beberapa pengamat dan para ahli mengatakan bahwa Indonesia sedang berada fase pertumbuhan secara ekspoental. Sudah bisa di pastikan bahwa konsentrasi penanganan bencana baik itu financial, sumber daya manusia sampai dengan kebijakan dimasa pandemic ini di fokuskan untuk covid 19. Berangkat dari skem kondisi terburuk terjadinya multi bencana, ada beberapa strategi yang menurut hemat kami dapat dilakukan untuk mengatasi dampak ari terjadinya multi bencana terutama di daerah yang menjadi episentrum covid 19 yaitu; 1. Penguatan intitusipemerintah, 2. Pengkrutan atau pengarahan relawan, 3. Penyediaan tempat evakuasi dan penampungan sementara, 4. Peningkatan kesiapsagaan individu.[24]
2.8. Analisa Penyeminar
Dalam Kejadian 2:15 Allah mengatakan agar manusia mengusahakan dan memelihara semua yang telah Allah ciptakan itu.Dari hal ini dapat dilihat bahwa melestarikan lingkungan, menjaga lingkungan, tidak serakah terhadap alam bukan hanya sekedar untuk manusia itu namun ini adalah mandat dari Allah.Menjalankan mandat Allah berarti beribadah kepadanya, beribadah kepada Allah, beribadah memanglah harus dilakukan karena kita adalah ciptaannya yang harus taat kepada penciptanya.Alam adalah sumber kehidupan manusia, dari alam lah manusia memperoleh segala sesuatu yang ada dalam hidupnya dan manusia dapat bertahan hidup dan melanjutkan kelangsungan hidupnya melalui alam ini.Dalam Kejadian 3 dengan jelas digambarkan bagaimana manusia itu telah merusak citra Allah yang melekat pada diri manusia sejak manusia jatuh kedalam Dosa (Kej. 1:26).Keserakahan dan keegoisan manusia itu telah membawa manusia sendiri kedalam penderitaan yang berkepanjangan selama hidupnya.Bukti nyata dari keserakahan manusi itu dapat dilihat dari pencemaran lingkungan, penebangan pohon-pohon, buang sampah atau limbah sembarangan, pembakaran hutan, mengakibatkan tanah longsor, banjir, polusi udara bahkan sudah menjadi pemanasan Global (Global Warning).
Dalam wabah Covid 19 ini ada kata yang ingin kita pegang yaitu “jangan panik”. Ini bukan untuk mengatakan tidak alas an untuk khawatir, atau bahwa kita harus mengabaikan nasihat yang baik dari team medis kesehatan. Namun kepanikan dan ketakutan bukan dari Tuhan. Kita harus tenang dan berharap. Dalam wabah covid 19 ini kita harus yakin dan percayalah bahwa Tuhan menyertai kita. Seperti yang kita ketahui bahwa Yesus memahami penderitaan kita dan menemani kita dengan cara yang paling intim. Yesus memahami semua ketakutan dankekhawatiran yang kita miliki. Yesus memahami kita, bukan karena ia ilahi dan memahami segala sesuatu tetapi karena ia adalah manusia dan mengalami semua hal. Pergi kepadanya dalam doa dan percayalah bahwa Dia mendengarkan doa-doa kita yang kita panjatkan mengenai wabah Covid 19.
III. Kesimpulan
Bencana alam dalam bahasa Inggris Natural disaster adalah suatu peristiwa alam yang mengakibatkan dampak besar bagi populasi manusia.Peristiwa alam dapat berupa banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, badai salju, kekeringan, hujan es, gelombang panas, hurikan, badai tropis, taifun, tornado, kebakaran liar dan wabah penyakit. Istilah bencana alam seringkali dipahami bencana yang diakibatkan alam.Jadi, segala hal yang sifatnya berkaitan dengan bencana terhadap manusia karena alam dipahami bencana alam.Bencana alam merupakan peristiwa alam yang bersifat tunggal atau bisa lebih dari satu peristiwa yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya bencana alam baik faktor yang tidak disengaja karena merupakan kejadian-kejadian alam yang biasa, maupun faktor yang sengaja dan merupakan kesalahan manusia dalam pengelolaan alam. Dalam hl ini harus dapat menjaga kelestarian lingkungan baik itu di keluarga, sekolah, dan di masyarakat atau lingkungan mana pun, agar tidak terjadinya bencana alam yang telah dilakukan oleh manusia yang tidak disengaja. Akan tetapi bencana alam dalam wabah covid 19 ini kita sebagai manusia dapat menjad kestaminaan tubuh (daya tahan tubuh) dan mematuhi perotokol kesehatan agar penyakit Covid 19 tidak dapat tersebarjika kita dapat mematuhi dari protokol kesehatan.
IV. Daftar Pustaka
Sumber Buku
Andreas, Band. A. Yewangu, Perpestif Teologi Paska Tsunami di Indonesia dalam tim Redaksi Providentia Jurnal Teologi Tabernakel Edisi XVI, Medan : STT-AS, 2006
Bomiley, Geoffrcy W., Theological of The New Testament, Grand Rapics/Michigan; W.M.B. Eerdmands Publisging Company
Borrong, Robert P., Etika Bumi Baru Jakarta: PT BPK GM, 2003
Bruggen, Jakob Van, Markus : Injil Menurut Petrus, Jakarta : BPK-GM, 2006
Burhanuddin, Prof,Andi Iqbal, Ph.D, Merajut Asa di Tengah Pandemi covid-19
Guthrie, dkk. (Editor) Tafsiran Alkitab Masa Kini 1, Kejadian-Ester, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,1998
Indyanto, Agus & Argom Kuswanjono, Agama Budaya dan Bencana, Bandung : Mizan, 2012
Kurnia, Anwar Dkk, Wahana Ilmu pengetahuan Sosial, Yogyakarta : Yudistira, 2007
Powerdarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Qasim, Abiy al- al-Husain ibn Muhammad ibn Mufadhdhal, al-ma’ruf bi al-Rhaghib al-Ashfahaniy, Mufradat Alfaz al-Qur’an, Damaskus: Dar al-Qalam, 2002
Rahmat, Penangulangan Bencana Alam Klimatologis,
Rohmat, Penanggulangan Bencana Alam Klimatologis (Duta )
Rokib, Mohammad, Teologi Bencana, Pintal, 2013
Sigit, Adytiawan, Buku Pintar Mengenal Bencana Alam, Yogyakarta : Deepublis, 2018
Yosephus, L. Sinuor, Bancana Alam dan Lingkungan Manusia, Jakarta : Yayasan Pustaka Obor, 2010
Sumber Lain
https://kbbi.web.id/bencana.html
https://kominfosandi.bulelengkab.go,id/aritkel/faktorpenyebab-terjadinya-bencana-69#
https://www Berita satu.com/ nasional, BNPH/Bencana Banjir Dibogor Disebabkan Ulah Manusia diakses pada hari 28September 2020 Pukul 12.15
https://www.google.com/amp.kompas.com/tren/read/2020/03/12/apaitupandemiglobal
Sejuta Bencana Terencana di Indonesia, dari http://www.walhi.or.id.internet; diakses 8 Januari 2008
[1] Mohammad Rokib, Teologi Bencana, (Pintal, 2013), 12
[2]Agus Indyanto & Argom Kuswanjono, Agama Budaya dan Bencana, (Bandung : Mizan, 2012), 7
[3] Powerdarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 100
[4] Rahmat, Penangulangan Bencana Alam Klimatologis, 3-4
[6] Sejuta Bencana Terencana di Indonesia, dari http://www.walhi.or.id.internet; diakses 8 Januari 2008
[8] Robert P.Borrong, Etika Bumi Baru (Jakarta: PT BPK GM, 2003), 72
[9] Guthrie, dkk. (Editor) Tafsiran Alkitab Masa Kini 1, Kejadian-Ester (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,1998), 98
[10] Guthrie, dkk. (Editor) Tafsiran Alkitab Masa Kini 1, Kejadian-Ester (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,1998), 91
[11] Geoffrcy W. Bomiley, Theological of The New Testament, Grand Rapics/Michigan; W.M.B. Eerdmands Publisging Company, 196-197
[12] Band. Andreas A. Yewangu, Perpestif Teologi Paska Tsunami di Indonesia dalam tim Redaksi Providentia Jurnal Teologi Tabernakel Edisi XVI, Medan : STT-AS, 2006, 39.
[13] Geoffrcy W. Bomiley, Theological of The New Testament, Grand Rapics/Michigan; W.M.B. Eerdmands Publisging Company, 196-197
[14] Jakob Van Bruggen, Markus : Injil Menurut Petrus, (Jakarta : BPK-GM, 2006), 470
[15] Anwar Kurnia Dkk, Wahana Ilmu pengetahuan Sosial, (Yogyakarta : Yudistira, 2007), 160
[16] https://www Berita satu.com/ nasional, BNPH/Bencana Banjir Dibogor Disebabkan Ulah Manusia diakses pada hari 28September 2020 Pukul 12.15
[18] Rohmat, Penanggulangan Bencana Alam Klimatologis (Duta ) 9-10
[19] L. Sinuor Yosephus, Bancana Alam dan Lingkungan Manusia, (Jakarta : Yayasan Pustaka Obor, 2010), 54
[20] Jakob Van Bruggen, Markus : Injil Menurut Petrus, (Jakarta : BPK-GM, 2006), 445
[21]Abiy al-Qasim al-Husain ibn Muhammad ibn Mufadhdhal, al-ma’ruf bi al-Rhaghib al-Ashfahaniy, Mufradat Alfaz al-Qur’an, (Damaskus: Dar al-Qalam, 2002), 495
[22] Ibid,… 497
[23]Adytiawan Sigit, Buku Pintar Mengenal Bencana Alam, ( Yogyakarta : Deepublis, 2018), 1
[24] Prof,Andi Iqbal Burhanuddin, Ph.D, Merajut Asa di Tengah Pandemi covid-19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar