Imitatio Christi
(Suatu Tinjauan Historis Teologis Tentang Imitatio Christi Oleh Thomas A Kempis Terhadap Gereja Sebagai Lembaga yang Membekali Spiritualitas Pendeta di GBKP)
I. Latar Belakang
Gereja dan spiritualitas tidak pernah dapat dipisahkan. Benih spiritualitas ini seharusnya tampak dalam pendeta sebagai pelayan Tuhan itu sendiri, sehingga menjadi jelas bahwa setiap pendeta harus memiliki disiplin rohani. Spiritualitas terkait dengan gaya hidup seorang hamba Tuhan. Hubungan dengan Tuhan tersebut akan tercermin dalam sikap dan tindakan. Tuntutan spiritualitas tidak akan bisa diabaikan dan dihindarkan. Integritas dan hubungan pribadi dengan Tuhan sudah menjadi hal utama seorang pendeta. Oleh karena itu berdasarkan pengamatan penyeminar bahwa adanya kekhawatiran dengan kemerosotan moral seorang pendeta ditengah-tengah gereja yang dilayani. Ketika pendeta tidak memperhatikan spiritualitasnya maka justru akan menjadi masalah di gereja tersebut. Dengan adanya permasalahan ini jemaat yang ada ditengah-tengah gereja pun merasa diabaikan bahkan pertua diaken bisa berselisih paham. Berikut ini pergumulan yang penyeminar invetarisir:
1. Pendeta justru sibuk dengan pekerjaan sampingan dan sudah tidak lagi sepenuhnya memberi diri kepada jemaat yang dilayani. Dalam kebaktian minggu sekalipun pendeta lebih memilih melakukan pelayanan di gereja lain dari pada gereja tempat ia melayani. Padahal jemaat mengharapkan pendeta yang selalu bersama dengan jemaat.
2. Pendeta tidak lagi menjadi teladan dalam kerohanian karena tidak ikut dalam kebaktian PJJ dan PA. Ketika pendeta lebih sibuk dengan pekerjaan diluar tempat pelayanan dari pada membangun jemaat dimana ia ditempatkan,
3. Full Timer adalah pendeta yang ditahbiskan. Pendeta wajib memenuhi tugas, yaitu memimpin ibadah, melayani perkamuan kudus, ibadah pernikahan, ibadah kematian, baptisan, ibadah wilayah, memberikan pengajaran katekisasi, konseling pra nikah, memimpin PA dan lain sebagainya sesuai program yang sudah ditetapkan dalam jemaat.[1] Pelayaan Tuhan yang ada tidak memiliki waktu yang penuh dalam melayani jemaat. Sehingga dianggap kedatangan pelayan tersebut dalam pelayanan kurang memberi perubahan kemajuan. Ketika ia lebih sibuk kegiatan diluar dari pada jemaat sehingga jemaat merasa tidak diperhatikan.
4. Gaya hidup pelayan yang lebih mengutamakan materi untuk keuntungannya sendiri. Pelayan Tuhan kurang menjadi teladan jemaat secara spiritualitas karena krisis kedispilinan, sikap diri (kerendahan hati) dan kerohanian pelayan Tuhan. terlihat lebih mengutamakan hal materi daripada pelayanan. Para pendeta merupakan kelompok fungsional yang strategis di gereja. Masyarakat pada umumnya melihat pendeta dan kehidupannya sebagai cermin dari gereja yang bersangkutan. Sehubungan dengan ini, jemaat sangat menuntut agar para pendeta memiliki nilai lebih dalam banyak hal, seperti kepemimpinan, kemampuan pengajaran, penggembalaan, keterampilan teknikal (berkhotbah/berkomunikasi), team working, dan semua yang berhubungan dengan kebutuhan pembinaan jemaat.[2]
Gaya hidup inilah yang sangat berpengaruh terhadap spiritual pelayan Tuhan. Dengan krisisnya spiritualitas pelayan Tuhan maka mengakibatkan pelayanan pun terabaikan. Tidak hanya menyangkut pelayanan, tetapi juga berpengaruh besar terhadap jemaat yang sudah mengabaikan pendeta dan menyimpulkan dalam pikirannya bahwa pendeta yang melayani tidak menunjukkan sikap yang bisa diteladani. Oleh karena itu perlunya dispilin spiritual dilakukan oleh Pelayan Tuhan untuk melaksanakan tugas tanggung jawab.
II. Pembahasan
2.1.Pengertian Imitatio Christi
Imitation Christi adalah buku devosi (latihan spiritualitas) yang memberi petunjuk kepada orang Kristen bagaimana cara mencari kesempurnaan. Caranya adalah dengan meniru Kristus sebagai contoh. Buku ini dibagi atas empat bagian. Bagian pertama dan kedua memuat nasihat-nasihat umum bagi kehidupan rohani. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1418 dan Thomas á Kempis (1380-1471) dipandang sebagai pengarangnya. [3] Imitatio Christi terdiri dari empat jilid. Sebenarnya keempat buku ini merupakan pembahasan-pembahasan terpisah yang semuanya sudah tersebar pada tahun 1472. Kebiasaan waktu itu adalah menggabungkan sejumlah bahasan singkat pada suatu naskah; dan karena keempat bahasan tersebut sangat disukai, mereka sering digabungkan bersama. versi pertama dalam bentuk cetakan dari tahun 1473 sudah membuat versi empat bahasan seperti yang kita kenal sekarang. versi ini cepat diterima sebagai bentuk standar. Bahasan-bahasan tersebut semula tidak mencantumkan nama penulisnya. Sudah sejak tahun 1460 mereka dianggap karya penulis popular Jean Gerson. Sejak itu sejumlah orang dianggap sebagai penulisannya, walaupun semakin tidak masuk akal mengapa justru mereka dipilih. Saat ini Thomas yangs ecara umum dianggap sebagai penulisannya. Imitatio Christi termasuk karya klasik yang paling digemari. Pada akhir abad ke-15 karya ini sudah mengalami cetakan ke-99 dan sekarang sudah melampaui cetakan ke-2000. Keunggulan dari tulisan ini antara lain karena tidak mengandung ide-ide baru. Ia adalah contoh paling tepat dari kerohanian gerakan Devosi Modern. Pandangan-pandangan yang dikemukakan adalah pandangan kerohanian Kristen.[4]
2.2.Awal Muncul Imitatio Christi
Judul awal untuk Imitation Christi adalah Musica Ecclesiastica, yang mencerminkan fakta bahwa bahasa latin sederhana memiliki gaya yang sangat dalam. Buku tersebut telah diberi judul yang berbeda dalam berbagai edisi, tetapi Imitatio Christi (Meniru Kristus) telah melekat. Konsep peniruan membutuhkan penjelasan, karena gagasan bahwa kita harus meniru Yesus. Dalam Perjanjian Baru kata “meniru” dibatasi dengan kata "mengikuti" dan "murid". St. Augustine mengajukan pertanyaan "apa yang diharapkan orang-orang untuk ditiru?" selama bertahun-tahun konsep imitatio telah berubah. Suatu saat terkait dengan keIlahian Kristus tetapi kemudian untuk menyiratkan tiruan kemanusiaan Kristus. Ini adalah ide dari St. Bernard dari Caliraux (1090-1153) dan Francinscan. Istilah tertentu adalah kunci dalam teks Thiomas á Kempis yang sering muncul dalam terjemahan ini. Penjelasan singkat dengan mengacu pada pandangan dunia kempis
1. Anugerah: Perbuatan Tuhan dalam kehidupan orang-orang adalah pemberian yang diberikan untuk mengatasi sifat.
2. Penghiburan: adalah pemberian dari Tuhan, yang memberikan perasaan sejahtera bisa menjadi pengalaman emosional dan umum bagi orang-orang yang memulai jalan pemuridan. Thomas sering mengacu pada perasaan ini sebagai sarana untuk menginspirasi untuk membuat lebih bertekad dalam disiplin spiritual.
3. Hati nurani: suara hati yang mendorong kita untuk melakukan yang baik daripada yang jahat
4. Perdamaian: damai adalah apa yang Kristus bawa. Dalam kata Ibraninya “shalom” yang menunjukkan keutuhan dan harmoni hubungan dan memiliki arti dalam penebusan.[5]
Melalui kakak laki-lakinya, Jhon, yang sebelumnya pergi ke Windesheim, dekat Deventer. Thomas bertemu dengan Florentinus Radewijns, seorang anggota Brethern of Common yang sangat dihormati dan seorang pengkhotbah terkenal. Thomas sederhana dan tidak mampu membayar trasportnya, jadi Radewijns mengundangnya untuk tinggal di rumahnya. Radewijns memberinya buku dan membayar pelajarannya di sekolah St Lebwin. (Dukungan Radewijns terhadap Thomas dan ia adalah antara anggota Brethern of the Common Life, yang membantu dan mendidik banyak anak muda yang miskin). Kemudian Thomas tampaknya tinggal dengan Brethern di rumah The Brethern di Deventer. Dia menulis waktu itu: "semua yang saya hasilkan, saya berikan kepada komunitas, di sini saya belajar membaca dan menulis Kitab Suci dan buku-buku tentang topik moral, tetapi terutama melalui percakapan manis Brethern itulah saya terinspirasi lebih banyak. Saya menikmati perilaku saleh mereka".[6] Anggota perkumpulan The Brethen of the Common Life sebagian besar adalah para imam dan calon-calon imam. Perkumpulan ini agak berbeda dengan ordo-ordo Medicantes dan ordo monastik yang lebih tua. Meskipun cara hidup anggota perkumpulan ini sama seperti ordo-ordo lain yaitu menghayati nasehat-nasehat injili seperti kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan, namun tidak mengikatkan diri pada kaul-kaul monastik secara yuridis. Mereka hidup dari usaha mereka menyalin manuskrip-manuskrip liturgi dan pelajaran lain. Hidup harian mereka mengikuti pola hidup monastik lainnya seperti ketaatan pada ibadat harian, silentium dan studi pribadi, dan menjalankan praktek meditasi setiap hari. Sebagai tambahan, mereka menyediakan pelayanan pastoral dan bimbingan rohani bagi rumah-rumah biara para suster, dan beberapa dari mereka menjadi pengkotbah. Mereka juga mengembangkan misi populer, dengan kepedulian pada orang muda dan calon imam lewat sekolah-sekolah mereka.[7]
2.3.Latar Belakang Imitatio Christi
Di Belanda timbullah suatu pergerakan lain lagi, yang biasanya dinamai “Devosi baru”. Seorang pengkhotbah awam, yang bernama Greert Groote di kota Deventer, mengumpulkam sejumlah klerus dan orang awam, yeng bergelar “Saudara-saudara yang hidup rukun”. Mereka itu hidup bersama-sama. Nafkah sehari-hari dicari dengan bekerja; umpamanya mereka menyalin kitab-kitab. Devosi baru ini adalah pengikut Geert Groote yang menghormati dan melayani Gereja, dan mengikut (penurutan) Kristus dinyatakan dalam Praktek. Mereka memajukan persekolahan, memperhatikan penggembalaan, turut menuntut ilmu humanis dan sangat mementingkan kuasa Alkitab. Dari golongan ini terbitlah buku pembangunan rohani yang sangat masyhur yakni “Imitatio Christi”.[8]
Devosi baru atau Devotio Moderna adalah sebuah gerakan kesalehan mistik yang bermula di Belanda pada abad XIV dan menyebar di seluruh daerah Rhineland [sekarang Jerman bagian Barat] hingga Prancis utara, bahkan sampai Spanyol dan Italia.[9] Devosi Baru adalah sebuah gerakan kesalehan mistik yang bermula di Belanda pada abad-14 dan menyebar di seluruh daerah Rhineland (sekarang Jerman bagian Barat) hingga Prancis utara, bahkan sampai Spanyol dan Italia. Kata devotio[10] di sini menunjuk usaha untuk menjaga rasa dalam melayani Tuhan yang umumnya sudah ditampakkan dalam bahasa Kristianitas dan monastik yang diwariskan oleh kesalehan ordo-ordo Benediktin dan Medicantes. Geert Groote lahir di Deventer, Belanda, dan pada usia 15 tahun menjalani studi seni, hukum kanonik dan teologi di Universitas Paris selama 10 tahun. Ketika ia mengalami “pertobatan” pada tahun 1374, ia meninggalkan karirnya sebagai seorang pengacara kanonik, dan menyerahkan keluarga ayahnya di Deventer sebagai tempat tinggal sekelompok wanita yang menjadi perintis ordo Sisters of the Common Life. Dia sendiri memasuki biara Cartusian di Monnikhuizen dekat Arnhem. Atas dorongan rekan-rekan rahib yang memintanya untuk “keluar” menjumpai dunia dan berkotbah, Groote meninggalkan biara itu dan kembali ke Deventer. Dia ditahbiskan menjadi diakon untuk keuskupan Utrecht tahun 1380 tetapi menolak untuk ditahbiskan menjadi imam. Ia segera menjadi seorang pengkotbah keliling yang terkenal. Groote berkeliling di seluruh wilayah Belanda, berkotbah tentang perlunya pembaruan, mendorong para pendengarnya untuk bergabung dalam bentuk hidup spiritualitas dan mencela sikap keduniawian para klerus. Dia melakukan protes yang sangat keras terhadap cara hidup para klerus sehingga membangkitkan kemarahan hirarki. Dia lebih tertarik pada praksis hidup Kristiani harian yang biasa daripada terlibat pada diskusi yang panjang mengenai hidup aktif dan kontemplatif, karena baginya keduanya setara. Ia meninggal pada tanggal 20 Agustus 1384.[11]
Geert Groote mengalami “pertobatan” pada tahun 1374, ia meninggalkan karirnya sebagai seorang pengacara kanonik, dan menyerahkan rumah keluarga ayahnya di Deventer sebagai tempat tinggal sekelompok wanita yang menjadi perintis ordo Sisters of of the Common Life. Dia sendiri memasuki biara Cartusian di Monnikhuizen dekat Arnhem. Atas dorongan rekan-rekan rahib yang memintanya untuk “keluar” menjumpai dunia dan berkotbah, Groote meninggalkan biara itu dan kembali ke Deventer. Dia ditahbiskan menjadi diakon untuk keuskupan Utrecht tahun 1380 tetapi menolak untuk ditahbiskan menjadi imam. ia segera menjadi seorang pengkotbah keliling yang terkenal.[12]
2.4.Biografi Thomas á Kempis
Nama aslinya adalah Thomas Hemerken. Dilahirkan pada tahun 1379 atau 1380 dari sebuah keluarga miskin di Kempen, Jerman. Ia kemudian dikenal dengan nama Thomas á Kempis berdasarkan kota kelahirannya. Sekalipun orang tuanya miskin, namun mereka berusaha untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Itulah sebabnya Thomas disekolahkan di Kota Deventer, Belanda. Sekolah ini dikelola oleh Persaudaraan Hidup rukun, yang didirikan oleh Geert Groote, seorang imam yang kaya raya di Utrecht. Persaudaraan ini menekankan pertobatan, hidup saleh, dan meditasi, terutama mengeni kehidupan, kesengsaraan dan kematian Kristus.[13] Groote mendirikan persekutuan-persekutuan awam dan pengikut-pengikutnya kemudian melibatkan diri dalam pendidikan. Pada tahun 1387 beberapa muridnya mendirikan suatu balai imam-imam pengikut Peraturan Augustinus di Windeshem dekat Zwoole, Belanda. Balai ini menjadi induk suatau ordo yang terus berkembang. Pada tahun 1500 terdapat sekitar 100 cabang. Perkembangan ini kemudian beralih menjadi gerakan yang dikenal sebagai Gerakan Devosi Modern. meskipun disebut demikian, tetapi gerakan ini pada hakikatnya lerbih tradisional daripada modern. mereka menitik beratkan pertobatan, kehiupan Kristen praktis dan kesalehen, meditasi (merenungi hidup dan kematian Yesus Kristus), serta sering mengadakan komuni.[14]
Thomas sangat dipengaruhi oleh semangat Persaudaraan Hidup Rukun ini sehingga pada tahun 1399 ia memasuki Biara Windesheim di Bukit Santa Agnes, dekat Zwolle. Biara ini didirikan pada tahun 1398 dan mengikuti Peraturan Augustinus. Pada mulanya Thomas tidak diperbolehkan menjadi anggota penuh karena kakaknya menjadi kepala biara di sana. Pada tahun 1406 kakanya dipindahkan menjadi biara di tempat lain sehinggau Thomas bisa menjadi anggota penuh. [15] Dia ditahbiskan menjadi imam pada 1413. tinggal di biara Gunung St Agnes dekat Zwolle (di negara-negara rendah), dia menulis tiruannya tentang Kristus antara 1420 dan 1427. Bukunya itu menjadi salah satu buku renungan paling terkenal pada zaman itu, untuk orang awam dan untuk pemimpin agama.[16]
2.4.1. Karya Thomas á Kempis
Karya Thomas yang paling terkenal adalah Imitatio Christi yang banyak disenangi di kaalangan Pietisme di Inggris.[17] Buku ini adalah tanggapan positif terhadap Kristus. Bagi kempis dunia dasarnya tidak lebih dari suatu ganguan. Dia mengalihkan biarawan-biarawan dari perenungan ke dunia lain. Kita adalah peziarah-peziarah didunia ini dalam proses perjalanan menuju sorga; mengembangkan komitmen. Dunia yang ada ini secara potensial membahayakan tujuan dari keselutuhan kehidupan.[18] Buku ini yang tersebar pada tahun 1427. Kebiasaan waktu itu dengan menggabungkan sejumlah bahasan singkat pada suatu naskah dan karena bahasan tersebut sangat dissukai maka diterbitkan dalam bentuk cettakan pada tahun 1473 sudah membuat versi empat bahasan.[19]
Thomas menyalin banyak manuskrip, yang merupakan salah satu kegiatan utama Brethern. dia menulis karya devosional, khotbah, dan kronik. solilokui jiwanya mengandalkan nasihat praktis tentang bagaimana setia pada gerakan rahmat. Karya-karya lain membahas kemiskinan, kerendahan hati, dan kesucian, serta memberi nasihat kepada orang yang bertanggung jawab atas harta benda biara. Ada khotbah untuk semua dan sejumlah kehidupan orang suci. Namun, kata utama yang dikenal Thomas adalah meniru Kristus, sebuah kebaktian klasik. Kehidupan dan karya Thomas adalah contoh paling terkenal dari pembaruan religius yang dibawa oleh Brethern of the Common life. Thomas dan rekan-rekan seimannya berbuat banyak untuk meningkatkan taraf kehidupan religius di negara-negara rendah, baik melalui kerja mereka bersama masyarakat umum maupun melalui reformasi institusi keagamaan yang ada, seperti biara-biara. Pekerjaan mereka di antara orang-orang biasa tidak diragukan lagi memberikan banyak kontribusi bagi keberhasilan besar Reformasi di Negeri-negeri Rendah.[20]
Sebagai seorang Kristen ia mencari model sebagai panutan dan menemukannya dalam imitation of Christ dalam kemanusiaan suciNya. Mengikuti jejak Kristus berarti menyesuaikan hidupnya sendiri seturut model hidup Kristus. Jalan menuju Allah adalah sebuah hidup perjuangan, menjauhi dunia dan penyangkalan diri. Untuk mencapainya, seseorang harus mengikuti jejak Kristus dalam kemanusiaanNya, khususnya dalam kisah sengsaraNya melalui meditasi, doa dan disposisi batin yang rendah hati.[21] Melalui kemanusiaan Kristus, kita dibawa pada kontemplasi akan keilahianNya, dan ini melibatkan sebuah kemajuan tertentu dari gambaran-gambaran yang pantas menuju sebuah harmoni spiritual tertentu.[22]
2.5.Pengertian Spiritualitas
Menurut perspektif bahasa “spiritualitas” berasal dari kata ‘spirit’ yang berarti ‘jiwa’.[23] Istilah “spiritual” dapat didefenisikan sebagai pengalaman manusia secara umum dari suatu pengertian akan makna, tujuan dan moralitas.[24] Pemahaman tentang kata spiritual dalam terminology teologi Kristen, kata spiritual (rohani) dalam bahasa Yunani adalah Pneuma, yang artinya roh atau berkenaan dengan roh.[25] Pendekatan secara antropologis mengatakan bahwa spiritualitas merupakan suatu kualitas pribadi yang memampukan orang untuk keluar dari dirinya sendiri dan berelasi dengan yang lain lewat pengetahuan dan cinta kasih. Pribadi manusia bukan hanya suatu sosok material, tertutup dalam dirinya sendiri.[26] Spiritualias yaitu Suatu usaha mendapatkan kehidupan Relegius yang otentik dan penuh yang melibatkan usaha menyatukan ide-ide khas agama yang bersangkutan serta seluruh pengalaman hidup atas dasar dan lingkup. Spiritualitas berkaitan dengan cara bagimana kehidupan orang Kisten dipahami serta dihayati. Spritualitas merupakan benteng terluar dalam kehidupan nyata iman religious seseorang, apa yang dilakukan orang bila mereka percaya. Spirtualitas tidak sekedar meyangkut ide-ide meskipun ide-ide dasar iman Kristen sungguh penting bagi spritualitas kristen.[27]
Spiritualitas ketika Roh manusia bersekutu dengan Allah yang berkaitan dengan hubungan rohani yang dalam dengan Allah dalam pengenalan yang benar setiap hari. Pelayan perlu menggali dan belajar firman Tuhan dan pelayan yang memiliki pertumbuhan spiritualitas akan mempengaruhi keadaan baik jemaat:
1. Memaknai Panggilan Tuhan
Panggilan Tuhan merupakan kekuatan yang akan mengarahkan pikiran pelayan dalam tugas dan tanggung jawab pelayananan dengan memaknai prinsip Alkitab. Kesetiaan dan kekuatan pelayan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya ada pada panggilan Tuhan.
2. Memiliki Roh Tuhan
Tuhan memilih pelayan untuk mengerjakan misiNya dengan diperlengkapi Roh Tuhan. Roh kudus sebagai Penolong, Penyerta, Penghibur, Pengajar, Pengingat dan Pemimpin hidup orang percaya.
3. Beriman
Iman Kristen adalah anugerah Tuhan untuk menerima keselamatan (Filipi 1:29). Pelayan Tuhan yang mampu mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya tidak sekedar percaya atau mengakui Allah tetapi mempercayakan hidup dan matinya hanya kepada Allah.
4. Hidup dalam Doa
Doa sebagai alat kertergantungan pelayan Tuhan kepada Tuhan yang memilih dan mengutusnya. Setiap pelayan harus menjadi pendoa syafaat bagi semua jemaat yang ada.[28]
Mengikut Kristus agar kita mampu meniru ketekunanNya, Karena hendaklah kita mengutamakan dan mencurahkan perhatian kita untuk merenungakan kehidupan Jesus Kristus.
2.6.Spiritualitas Imitatio Christi
Hidup spiritual adalah mengamati dalam diri sendiri gerakan-gerakan menyelami sifat dasar dan rahmat. Ketika individu menjadi lebih diingat kembali, bertumbuh dalam pengakuan diri, dan berusaha keras untuk menyerahkan diri pada Tuhan secara total maka akan mengalami pergulatan internal dalam pribadi manusia ini dengan menggunakan istilah hukum Roh melawan hukum kedagingan (bdk. Rom 7:14-25). Orang Kristen mencapai sebuah kesadaran yang mendalam akan daya Ilahi, akan kepedulianNya bagi semua orang melalui penyelenggaraan Ilahi, dan akan kebaikan Ilahi yang dimanifestasikan dalam penebusan manusia melalui Kristus. Doktrin dalam Imitatio Christi berakhir dalam spiritualitas yang berpusat pada Kristus berdasarkan pernyataan biblis bahwa Kristus “adalah jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh 14:6). Penyerahan diri yang sempurna kepada Allah dipelihara melalui meditasi yang rutin akan sengsara dan kematian Tuhan; mengikuti Kristus adalah “jalan salib dengan persatuan Kristus Thomas juga mengingatkan bahwa persatuan dengan Kristus berarti persatuan dengan Bapa dan Roh Kudus pula.[29]
1. Buat apa kamu membicarakan rahasia Allah Tritunggal dengan kata-kata canggih kalau kamu tidak rendah hati, sehingga menyebabkan kemurkaan Allah? alasan-alasan yang serba rumit tidak membuat orang menjadi kudus serta berkebijaksanaan, sedangkan hidup yang baik membuat ia disayang Tuhan. Aku lebih suka merasakan penyelesaian dalam hatiku daripada menjelaskan perasaan itu dengan kata-kata. Seandainya kamu hafal seluruh Alkitab serta tulisan-tulisan para cendikiawan apa gunanya bagimu kalau tidak disertai Kasih Karunia Allah?
2. Cobalah bersabar menghadapi kekurangan dan kelemahan apa saja dari orang lain. Kamu pun mempunyai banyak kesalahan yang harus ditanggung orang lain. Kalau kamu tidak mampu mengubah dirimu menjadi orang yang kamu inginkan, bagaimana kamu bisa bertemu orang yang bisa cocok dengan kamu? Kita mengharapkan kesempurnaan pada orang lain, tetapi kita sendiri tidak membetulkan kelemahan-kelemahan kita. Jelaslah bahwa kita jarang menggunakan tolok ukur yang sama bagi sesama kita, sebagaimana kita pakai untuk diri kita sendiri.
3. Belakangan ini Yesus banyak mendapatkan orang-orang yang suka akan kerajaan sorgaNya, tetapi hanya sedikit yang memikul salibNya. PengikutNya banyak yang ingin mendapat penghiburan, tetapi sedikit yang siap menghadapi cobaan-cobaan hidup. Ia telah banyak mendapatkan orang yang mau menemaniNya untuk makan, tetapi hanya sedikit yang mau puasa bersamaNya. Semua mau bergembira beramaNya tetapi hanya sedikirt yang rela menderita demi Dia. Bukankah “orang upahan” adalah julukan yang tepat bagi mereka yang selalu mencari hiburan rohani? Mereka yang selalu mencari keuntungan jelas hanya mengasihi diri mereka sendiri, bukan Kristus.
4. Kemajuan dalam kehidupan rohani terjadi bukan karena kamu dikaruniai hiburan rohani, tetapi karena kamu tetap bertahan walaupun hiburan rohani itu diambil darimu, dengan rendah hati, dengan penyangkalan diri dan kesabaran, dengan tidak membiarkan dirimu jadi alpa dalam berdoa atau dengan melepasakan segala kebiasaan-kebiasaaanmu
5. Kalau kamu membiarkan dirimu tak berdisiplin dan dikuasi oleh keinganan akan hal-hal kehidupan ini, maka kamu akan kehilangan berkat yang kekal dari surga. Pakailah pemberian-pemberian dunia ini, tetapi arahkanlah hatimu pada pemberian-pemberian kekal.[30]
Imitatio Christi menyatakan bahwa tahap awal spiritual adalah mengakui diri sebagai yang rendah. Imitatio menggunakan istilah spesial untuk menunjuk “kematian diri” yaitu penyerahan diri (resignation) yang bermakna penyangkalan diri dan hidup lepas bebas untuk Allah.[31] Sejatinya, hanya ada dua pokok, Allah dan diri (God and self) dan kematian diri secara tidak langsung menyatakan sikap tunduk kepada Allah. Namun ini hanya dapat dilaksanakan hanya dengan bantuan dari rahmat Allah, meskipun dorongan yang sangat kuat diperoleh dari meditasi.
Tahap kedua dari hidup spiritual adalah mengamati dalam diri sendiri gerakan-gerakan menyelami sifat dasar dan rahmat. Ketika individu menjadi lebih diingat kembali, bertumbuh dalam pengakuan diri, dan berusaha keras untuk menyerahkan diri peada Tuhan secara total, dia mengalami ketegangan antara sifat dasariah dan rahmat. St. Paulus menyatakan pergulatan internal dalam pribadi manusia ini dengan menggunakan istilah hukum Roh melawan hukum kedagingan (bdk. Rom 7:14-25)
Tahap ketiga, orang Kristen mencapai sebuah kesadaran yang mendalam akan daya Ilahi, akan kepedulianNya bagi semua orang melalui penyelenggaraan Ilahi, dan akan kebaikan Ilahi yang dimanifestasikan dalam penebusan manusia melalui Kristus.
Doktrin dalam Imitatio Christi berakhir dalam spiritualitas yang berpusat pada Kristus berdasarkan pernyataan biblis bahwa Kristus “adalah jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh 14:6). Penyerahan diri yang sempurna kepada Allah dipelihara melalui meditasi yang rutin akan sengsara dan wafat Tuhan; mengikuti Kristus adalah “jalan salib yang megah (the royal way of the cross)”; persatuan dengan Kristus dialami dengan sukacita menyambut Ekaristi. Thomas juga mengingatkan bahwa persatuan dengan Kristus berarti persatuan dengan Bapa dan Roh Kudus pula.
2.7.Gereja Sebagai Lembaga yang Membekali Spiritualitas Pendeta di GBKP
Spiritualitas adalah daya kekuatan yang menghidupkan atau menggerakkan. Spiritualitas dapat diartikan sebagai kekauatan atau roh yang member daya tahan kepada seseorang atau kelompok untuk mempertahankan dan mewujudkan kehidupan. Spiritualitas itu bukanlah sesuatu yang hanya dipahami saja, melainkan sesutau yang dialami, dihayati dan dilakukan. Dengan kata lain spiritualitas adalah kehidupan dari manusia yang seutuhnya, yang berorientasi atau hidupnya terarah kepada Allah.[32]
Spiritualitas Imitatio Christi yang di maksudkan apakah suatu ikatan dengan Dia yang lebih akrab dan mendalam? Berkaitan dengan itu, kita harus menelaah gagasan “mengikut teladan Kristus”, untuk melihat apakah konsep ini menjelasakan seperti semestinya hubungan antara Kristus dan pengikutNya. Perihat itu, tiap pengikut Kristus mengakui bahwa kehendak Allah disingkapkan secara istimewa dalam diri Yesus dan bahwa ia wajib menjadi lebih sepadan dengan Dia. Gagasan Imitatio Christi , memainkan peran penting dalam pemikiran Kristen sepanjang masa. Pertimbangan umpamanya sikap Calvin dan Luther terhadap tema ini. Calvin menyatakan, “yang boleh mengaku sebagai murid Kristus hanyalah mereka yang sungguh-sungguh meneladani Dia dan yang siap mengikuti jejakNya” tetapi Calvin yakin juga bahwa demi tujuan ini “Kristus sendiri perlu hidup dan memerintah di dalam kita”.[33] Bagi Thomas kata kunci penting, dengan realistis orang seharusnya tidak hanya ingin menerima sukacita, damai sejahtera, melainkan juga mau menderita demi Kristus. Melihat latar belakang masalah yang penulis invetarisir bahwa saat ini banyak pengikut Kristus banyak yang hanya ingin mendapat sukacita tetapi sedikit yang siap menghadaai cobaan dan tantangan khususnya dalam pelayanan serta hidup. Hanya ingin bergembira bersama Kristus tetapi hanya sedikit yang rela menderita demi Dia.
2.8.Gambaran Pembinaan Pendeta di GBKP menurut Tata Gereja GBKP[34]
Pembinaan Pendeta yangn terdapat di Tata Gereja GBKP, yaitu:
Pasal 124
Pembinaan
1. Moderamen melakukan pembinaan spiritual, keterampilan pelayanan, kepemimpinan, dan studi kajian kepada Pendeta secara berkesinambungan
2. Pendeta diberi kesempatan untuk melakukan studi banding ke wilayah pelayanan yang perlu, untuk menambah wawasan pendeta.
3. Moderamen melakukan perencanaan dan pelaksanaan studi lanjutan bagi pendeta
Pasal 125
Evaluasi Kinerja Pendeta
1. Evaluasi dilaukan untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, tantangan dan peluang bagi Pendeta di tempat pelayanan
2. Evaluasi dilakukan oleh Moderamen sesuai formulir evaluasi yang dipersiapkan
3. Hasil evaluasi dapat digunakans ebagai bahan pertimbangan untuk studi lanjut, penempatan, penentuan utusan gerejawi di dalam dan luar negeri dan pelaksanaan penggembalaan.
2.9.Refleksinya Bagi Pelayan Tuhan Masa Kini
Thomas á Kempis dalam bukunya Imitatio Christi atau “mengikut Kristus” berisi tentang latihan spiritualitas untuk petunjuk kepada orang Kristen. Ia membahas bagaimana cara mencari kesempurnaan dalam Yesus melalui tulisan-tulisannya mengenai kerendahan hati, dengan penyangkalan diri dan kesabaran. Seperti dalam Yohanes 8:12 Barang siapa mengikuti Daku tiadalah ia berjalan didalam kegelapan. Inilah untuk menasehati kita supaya kita meniru hidup ketekunanNya, bila kita sunguh-sungguh ingin mendapat terang dan ingin dibebaskan daripada segala tantangan dunia. Penekanaan agar pelayan Tuhan yang melayani di tengah gereja tidak cukup hanya dengan berkhotbah saja tetapi juga harus terlihat dalam teladan atau integritasnya dalam kehidupannya sehingga benar menjadi teladan bagi jemaat. Seorang pelayan harusnya dapat melatih dirinya untuk hidup mengikut Kristus. Perbuatan seorang pelayan haruslah terlihat dengan memberikan diri dalam pelayanan yang dinyatakan sebagai suatu tanggung jawab sebagai pelayan Tuhan. sebagai pelayan juga bukan mencari keuntungan sendiri tetapi pergumulan jemaat juga sebagai beban seorang pelayan.
Kontekstualitasi Imitatio Christi yang penulis tuliskan bukan melatih rohani dengan atihan-latihan seperti yang di tetapkan di Biara. Tetapi penulis merefleksikan bahwa seorang pendeta harus memiliki spiritualitas seperti yang dituliskan dalam Imitatio Christi dengan tetap berpengharapan kepada Tuhan dengan percaya bahwa semua keluarganya dan kehidupannya akan dicukupkan Tuhan. Dengan demikian pendeta tidak lagi mengalami kekhawatiran lain menyangkut pekerjaan sampingannya. Sosok seorang pendeta yang diinginkan oleh Jemaat adalah yang bisa menjadi teladan dan menjadi contoh. Untuk sebagai sosok yang mencerminkan teladan maka perlu ada sikap saling memahami dan sikap saling mengasihi. Pelayan masa kini harus memberi diri penuh kepada Tuhan melalui pelayanannya. Pelayan seharusnya memiliki pertumbuhan spiritual khususnya perkembangan zaman. Yesus menjadi teladan bagi Pelayan Tuhan sehingga pelayan Tuhan juga haruslah memaknai dirinya dalam mengikut Tuhan. Makna panggilannya menjadi pelayan Tuhan bukan sekedar ucapan semata. Dengan memberikan diri sepenuhnya kepada pelayanan dan dapat merasakan keresahan jemaat dan terbeban atas pergumulan jemaat. Seorang pelayan yang berspiritualitas harus tetap hadir sebagai tempat mengutarakan perasaan jemaat sehingga jemaat merasakan kehadiran pelayan tersebut. Sikap kerendahan hati, ramah serta merangkul adalah hal yang sangat diharapkan jemaat.
III. Analisa Penyeminar
Melihat pergumulan yang terjadi dalam dunia pelayanan pendeta khususnya di GBKP maka sangat baik untuk berefleksi bagaimana seharusnya Spiritualitas untuk menjadi seorang Pendeta. Sebagai seorang pelayan Tuhan, spritualitas itu sangat penting karena itu merupakan gaya hidup setiap orang Kristen. Ketika pelayan Tuhan memiliki spiritualitas maka jelas dalam lapangan dia akan mengutamakan kepentingan jemaat (gereja) dari pada kepentingan sendiri. Dengan krisis spiritual ini maka perlu adanya disiplin spiritual yang harus pelayan lakukan. Pendeta dapat bercermin memalui Imitatio Christi bahwa kerendahan hati melebihi kemampuan dalam berkata-kata didepan jemaat. Yesus telah memberikan teladan yang terbuka kepada semua umat, sehingga pelayan juga harus menerapkan hidup secara spiritual untuk memenuhi pelayanannya. Sehingga penyeminar menganalisa bahwa ditengah krisis pelayanan ini maka perlu adanya disiplin rohani seorang pelayan. Mengikuti teladan Kristus dengan menerapkan firman Tuhan, melakukan pendekatan doa pribadi, memernungkan firman Tuhan, memaknai panggilannya sebagai Pelayan Tuhan, ikut merasakan kegelisahan jemaat, merasa terbeban atas pergumulan jemaat sehingga membawanya dalam doa. Sebagai seorang pendeta maka harus memiliki pertumbuhan spiritualnya agar tidak terbawa dalam keduniawian. Seorang pendeta harus memenuhi panggilannya sehingga ia bisa melayani jemaat dengan hati yang penuh. Godaan hidup mewah harus dapat ditinggalkan dam masuk dalam hidup yang sederhana serta selalu berpengharapan pada Tuhan. Dengan melatih spritualitas dalam kehidupan pelayan maka tugas dan tanggung jawab pelayanan akan berjalan dengan baik sesuai tuntunan Roh Kudus Tuhan. Oleh karena itu perlu dilakukan disiplin rohani dan menekankan kutipan nasihat spiritual Imitatio Christi “Meniru Kristus” bagi Pelayan Tuhan dalam pelayanannya.
IV. Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Thomas á Kempis adalah teolog yang terkenal pada pertengahan yang memberikan karyanya dalam Buku Imitatio Christi “Mengikut Kristus” sebagai suatu pedoman tentang pembelajaran hidup yang rendah hati, kerendahan hati, dan kesucian, serta memberi nasihat kepada orang yang bertanggung jawab atas tugas dan pelayan sebagai anak Tuhan. Buku ini hadir karena adanya gerakan Devotio Moderna yang merupakan gerakan penghormatan kepada Allah dengan menyerahkan diri pribadi seutuhnya kepada Allah. Oleh karena itu perlu adanya disiplin untuk mengikuti jejak Kristus. Disiplin mengikuti jejak Kristus artinya bukan hanya ingin menerima sukacita saja tetapi juga mau menderita dengan cara melayani Jemaat Tuhan. Pelayan Tuhan perlu menerapkan Firman Tuhan dengan doa maupun kerendahan hati. Sehingga kehadiran pelayan memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi jemaat.
V. Daftar Pustaka
Sumber Buku
Alister E. Mc Grath, Spritualitas Kristen, Medan: Bina Media, 2007.
Aumann, Jordan, Christian Spirituality in the Catholic Tradition, Ignatius Press, San
Francisco 1986.
Berkof , H., Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016.
Douglas, J.D and Comfort, Philip W., Who’s Who In Christian History, Tyndale House
Publisher, 1992.
Fletcher, Verne H., Lihatlah sang Mesias!: Suatu pendekatan pada Etika Kristen dasar,
Jakarta: Gunung Mulia, 2007.
GBKP, Moderamen, Garis Besar Pelayanan GBKP 2016-2020, Kabanjahe:Abdi Karya,
2015.
GBKP, Moderamen, Tata Gereja GBKP 2015-2025 Kabanjahe:Abdi Karya, 2015.
Geoffrey W. Brumiley, Theological Dictionary of The New Tastement, Abridged in One
Volume, Grand Rapids Zondervan, 1985.
Gintings, E.P, Teologi Pastoral Dasar-dasar Alkitabiah dan Perkembangan Historis Menurut Gerben Heitink, Medan: Grafindo El’Penampat,2014.
Grath, Alister E. Mc Sejarah Pemikiran Reformasi, Jakarta); BPK Gunung Mulia, 2006.
Hale, Leonard,Jujur Terhadap Pietisme Jakarta BPK Gunung Mulia, 1996.
Janz, Denis R., A Reformation Reader, Ausburg: Fortress Press, 2010.
Kristiyanto, Eddy, Reformasi dari Dalam Sejarah Gereja Zaman Modern, Kanisius,
Yogyakarta 2004.
Lane, Tony,Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani,Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2007.
Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1986.
Raitt, Jill, Christian Spirituality II High Middle Ages and Reformation, Crossroad
Publishing Company, New York 1989.
Sosipater, Karel, Etika Pelayanan, Jakarta: Suara Harapan Bangsa, 2009.
Wahyu Harjamto, “Spiritualitas dan atau Teologi”, dalam orientasi baru, Jurnal Filsafat
dan Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta: Kanisisus, 2002.
Wakefield, Gordon S., The Westminster Dictionary of Christian Spirituality, Westminster
Press, Philadelphia 1983.
Yosafat, Integritas pemimpin Pastoral, Yogyakarta:Andi, 2010.
Zastrow, Charles H., The Practice Work University of Wisconsin, An Internasiona
Thompson Publishinh Company, 1999.
Sumber Lain
https://books.google.co.id/books?id=3UmYIH1lNUoC&pg=PT11&dq=imitatio+christi&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiMxtuoofsAhXlH7cAHUPgAPAQ6AEwB3oECAkQAg#v=onepage&q=imitatio%20christi&f=false
https://edyscj.wordpress.com/2013/06/12/groote-dan-devotio-moderna-gerakan-pembaruan-spiritualitas-hidup-monastik/
https://edyscj.wordpress.com/2013/06/12/groote-dan-devotio-moderna-gerakan-pembaruan-spiritualitas-hidup-monastik/
[1] Karel Sosipater, Etika Pelayanan (Jakarta: Suara Harapan Bangsa, 2009), 150-151
[2] Moderamen GBKP, Garis Besar Pelayanan GBKP 2016-2020, (Kabanjahe:Abdi Karya, 2015),38
[3] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 179
[4] Tony Lane,Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani,(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 122
[5]https://books.google.co.id/books?id=3UmYIH1lNUoC&pg=PT11&dq=imitatio+christi&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiMxtu-oofsAhXlH7cAHUPgAPAQ6AEwB3oECAkQAg#v=onepage&q=imitatio%20christi&f=false
[6] J.D Douglas and Philip W. Comfort, Who’s Who In Christian History (Tyndale House Publisher, 1992), 672
[7] Eddy Kristiyanto, Reformasi dari Dalam Sejarah Gereja Zaman Modern, (Kanisius, Yogyakarta 2004), 26.
[8] H.Berkof, Sejarah Gerejai (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 111
[9] Gordon S. Wakefield, The Westminster Dictionary of Christian Spirituality (Westminster Press, Philadelphia 1983), 113.
[10] Devosi bnerasal dari bahasa Latin (devotio) yang berarti penghormatan. Devosi adalah penghormatan kepada Allah dengan menyerahkan diri pribadi seutuhnya kepada Allah. dalam Gereja Katolik Roma terdapat bermacam-macam devosi seperti devosi kepada sakramen ekaristi, Maria, Hati Yesus dan Orang-orang kudus lainnya. F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja , 69
[11] https://edyscj.wordpress.com/2013/06/12/groote-dan-devotio-moderna-gerakan-pembaruan-spiritualitas-hidup-monastik/
[12] Jill Raitt, Christian Spirituality II High Middle Ages and Reformation, (Crossroad Publishing Company, New York 1989), 176.
[13] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011,) 115
[14] Tony Lane,Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani,(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007), 121
[15] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011,) 115
[16] Denis R. Janz, A Reformation Reader(Ausburg: Fortress Press, 2010),5
[17] Leonard Hale,Jujur Terhadap Pietisme (Jakarta BPK Gunung Mulia, 1996), 51
[18] Alister E. Mc GrathSejarah Pemikiran Reformasi (Jakarta); BPK Gunung Mulia, 2006)289
[19] Tony Lane,Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani,122
[20] J.D Douglas and Philip W. Comfort, Who’s Who In Christian History,162
[21] Jill Raitt, Christian Spirituality II High Middle Ages and Reformation, 180-181.
[22] Jordan Aumann, Christian Spirituality in the Catholic Tradition (Ignatius Press, San Francisco 1986), 163.
[23] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1986), 963
[24] Charles H. Zastrow, The Practice Work (University of Wisconsin, An Internasiona Thompson Publishinh Company, 1999), 317
[25] Pneuma yang memiliki beberapa arti seperti angin, nafas, hidup, dan roh. Penggunaan kata ini ditemukan dalam berbagai konteks seperti digunakan dlaam konteks Yunani, mitologi dan agama-agama, perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Geoffrey W. Brumiley, Theological Dictionary of The New Tastement, Abridged in One Volume (Grand Rapids Zondervan, 1985), 876-885
[26] Wahyu Harjamto, “Spiritualitas dan atau Teologi”, dalam orientasi baru, Jurnal Filsafat dan Teologi, Universitas Sanata Dharma (Yogyakarta: Kanisisus, 2002), 106
[27] Alister E. Mc Grath, Spritualitas Kristen, (Medan: Bina Media, 2007), 20-25.
[28] Yosafat, Integritas pemimpin Pastoral (Yogyakarta:Andi, 2010), 28-30
[29] https://edyscj.wordpress.com/2013/06/12/groote-dan-devotio-moderna-gerakan-pembaruan-spiritualitas-hidup-monastik/
[30] Tony Lane,Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani,121
[31] Jordan Aumann, Christian Spirituality in the Catholic Tradition, Ignatius Press, San Francisco 1986, 165
[32] E.P Gintings, Teologi Pastoral Dasar-dasar Alkitabiah dan Perkembangan Historis Menurut Gerben Heitink(Medan: Grafindo El’Penampat,2014), 58
[33] Verne H. Fletcher, Lihatlah sang Mesias!: Suatu pendekatan pada Etika Kristen dasar (Jakarta: Gunung Mulia, 2007), 216
[34] Moderamen GBKP, Tata Gereja GBKP 2015-2025 (Kabanjahe:Abdi Karya, 2015), 118
Tidak ada komentar:
Posting Komentar