Menjelaskan Arti Dan Makna Hari Tuhan Dan Eskhatologi PL Diperhadapkan Dengan Tinjauan Ilmu Pengetahuan (Science, Sistematika, Ilmu Agama-agama Suku, Kaum Ateis, Di Tengah-tengah Kehidupan Masakini.
I. Pendahuluan
Hari ini, hari ini harinya Tuhan, mari kita mari kita bersukaria.....Ini merupakan penggalan lagu yang sering sekali dilantunkan ditengah-tengah anak sekolah minggu. Sehingga yang memberikan pemahaman yang kuat ditengah – tengah umat Kristen yang memahami bahwa hari minggu adalah Hari Tuhan. Dan pemahaman Hari Tuhan hanya dipahami dalam batasan untuk memuji dan memuliakannya. Tetapi banyak makna yang terkandung dari ungkapan Hari Tuhan dan ada satu hakikat yang akan terjadi di hari Tuhan, sehingga untuk itu penulis telah menuliskan apa yang menjadi arti dan makna dari Hari Tuhan ini dalam terkusus di kitab Perjanjian lama dan menurut nubuatan para nabi.
II. Pembahasan
2.1 Pengertian Hari Tuhan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dituliskan bahwa kata hari berarti Waktu dari pagi sampai pagi lagi (Yaitu satu edaran bumi pada sumbunya, 24 jam) dan waktu adalah selama matahari menerangi tempat kita ( dari matahari terbit samapi matahari terbenam, hari juga berarti keadaan yang terjadi di waktu 24 jam.[1] Sedangkan yang dimaksud dengan Tuhan adalah sesuatu yang diyakini, yang dipuja, yang disembah sebagai yang MahaKuasa, Mahaperkasa.[2] Jadi dapat dikatakan bahwa hari Tuhan secara umum adalah waktu atau keadaan yang dipakai untuk sesuatu yang diyakini dan dipuja oleh manusia, yang disebut sebagai Tuhan. Menurut Matthew S. Demoss dan J. Edward Miller, hari Tuhan merupakan periode dimasa depan ketika Tuhan akan menghakimi orang yang tidak beriman. Dalam perjanjian lama, istilah tersebut ditandai dengan adanya hukuman atas Israel (Yl. 1:15 ; Zef.1:7 ; 14) atau beberapa bangsa spesifik lainnya (Yer. 46: 10) atau manusia pada umumnya. Hari Tuhan pada Perjanjian Baru mengacu pada kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Secara sederhana “hari Tuhan” disebut dengan “hari itu”.[3] Begitu juga pendapat oleh Jenni yang mengatakan bahwa Hari Tuhan, merupakan satu dari pertunjukkan yang berkaitan dengan inventaris Allah dalam antisipasi yang bersifat ramalan masa depan. Ini merupakan kepercayaan popular dimana konsepnya pertama kali ditemukan dalam kitab Amos. Menurut ramalan mereka, hari Tuhan itu akan menjadi hari kemalangan dan kegelapan bagi bangsa Israel yang tidak mematuhi Hukum Tuhan, dan sebaliknya hari ini akan menjadi keselamtan bagi bangsa Israel dan Allah akan ikut campur tangan dalam melawan musuh-musuh Israel.[4]
Jadi dapat disimpulkan hari Tuha berkaitan dengan kedaulatan atau kuasa Tuhan yang dinyatakan melalui kehendak-Nya dalam suatu periode kedatangan-Nya, untuk mendatangkan kasih dan penghakiman bagi manusia. Jadi pada periode ini, Allah akan mendatangkan kemalangan dan kegelapan bagi orang-orang yang tidak mengikuti hokum-Nya, dan keselamatan bagi mereka yang hidup dalam kehendak Tuhan.
2.2 Hari Tuhan Menurut Perjanjian Lama
Ungkapan hari Tuhan juga merupakan ungkapan eskatologi Perjanjian Lama. Istilah yang dipakai dalam bahasa Ibrani untuk hari Tuhan adalah Yom Yahweh. Yom Yahweh merupakan hari yang mengerikan yang datang dari Tuhan, dan ini bukan merupakan ekspresi hari sabbat atau hari Minggu Gereja atau hari Kiamat sebagaimana diasumsikan. Yom Yahweh dalam Perjanjian Lama merupakan ekspresi kolektif pemenuhan yang diharapkan dari nubuat besar Israel. Yom Yahweh adalah dimana Tuhan secara aktif bertindak menghukum dosa yang sudah mencapai puncak. Hukum ini bisa saja datang melalui penyerbuan (Ams. 5 dan 6 ; Yes. 13 ; Yeh 13:5), atau melalui bencana alam seperti serangan belalang (Yl. 2:28-32) tetapi orang tetap memusuhi Tuhan, baik orang Yahudi ataupun bukan, akan dihukum. Hal itu mempunyai akibat-akibat alami juga terhadap alam semesta (Yes. 2). Dalam Perjanjian Lama, “ Hari Tuhan” dapat menunjukkan hari dalam historis masa depan yang akan segera terjadi ketika Allah melawat umat-Nya dalam penghukuman (Ams. 5:18; Yes.2: 12). Istilah ini juga menunjukkan lawatan akhir Allah ketika ia mendirikan kerajaan-Nya di dunia dan membawa keselamatan kepada umat-Nya yang setia dan Hukuman kepada yang jahat (Zef. 1:14; Yl. 3:14).[5] Perjanjian Lama melihat Allah bekerja dalam sejarah untuk mewujudkan tujuan-tujuan penebusan-Nya, namun ini juga merujuk pada hari lawatan ilahi ketika Allah akan datang dengan penghukuman dan keselamatan dan mendirikan kerajaan Allah.[6]
Konsep Yom Yahweh ditemukan disebagian besar kitab para nabi, baik nabi besar maupun nabi kecil, sebagai tema sentral dan jarang dibacarakan dalam masyarakat modern. Hal ini sering ditandai dengan tema yang berulang-ulang. Sekitar 70% dari bagian pertama dari kitab Yesaya atau Yesaya bab 1-32 terdiri dari ekspresi “Hari itu” karena berkaitan dengan nasib atau masa depan Israel, bangsa-bangsa dan iblis.[7] Yom Yahweh adalah hari mengerikan dan dahsyat dari Tuhan, dan bukan merupakan ekspresi hari sabat atau hari minggu gereja sebagaimana yang telah diasumsikan oleh beberapa orang. Tetapi ini merupakan ekspresi kolektif pemenuhan yang diharapkan dari nubuat besar Israel. Hari Tuhan mengacu pada intervensi Allah di masa depan sejarah.[8] Hal ini berhubungan dengan aktivitas terakhir Allah baik untuk melawan Israel. Hari Tuhan Akan membawa penghakiman dan kebiasaan sekaligus membawa perlindungan dan pembersihan (Zak. 13). Ini Prospek khusus Eskatologi yang sering juga disebut dengan “Akhir Hari”.[9]
2.2.1. Hari Tuhan Menurut Yesaya
Yesaya (ibrani: y’sya’yahu, Yahweh adalah Keselamatan) adalah putra Amos (ibrani amots, harus dibedakan dari nabi Amos, Ibrani amos), dan tinggal di Yerusalem (Yes.7:1-3; 37:2). Nubuatan-nubuatan pada periode, Yesaya paling awal terdapat dalam Yesaya 2:1-5:30, nubuat tentng kerajan damai yang akan datang (Yes. 2:2-5). Hari Tuhan akan merendahkan semua orang yang sombong dan yang memegahkan diri (Yes. 2:6-22).[10]Nubuat masa depan Yesaya adalah sebagai berikut: ia menggambarkan keruntuhan Israel (Yes. 3:8). Hari Tuhan merupakan berita hukuman bagi semua bangsa yang meninggikan diri dan menolak jalan-jalan Tuhan (Yes.2:6-22). Dalam Yesaya 2:12-19 dikatakan betapa hebatnya hari Tuhan itu. Tuhan semesta alam akan ditinggikan, mengatasi segala bentuk yang tinggi dan mulia di alam semesta. Tempat-tempat pertemuan kultus dan patung-patung berhala akan dimusnahkan.[11] Ia mengatakan bahwa Sion, tempat Allah tinggal (Yes.8:8), menyimpan api-Nya di Sion dan dapur perapia di Yerusalem (Yes. 31:9), tidak dikuasai musuh (Yes. 29:7 dan 31:5). Pada masa keselamatan semua yang bertobat akan menjadi warga kerajaan baru. Pada hari itu, umat akan melihat Yahweh, Pencipta dan memandang orang-orang suci Israel yang kembali datang ke Israel. Sebab Sion adalah tempat Allah, orang-orang yang bertobat itu akan dikumpulkan di Yerusalem. Semua dosa akan dihapuskan dan mereka yang terjerat dosa akan dimusnahkan (Yes. 29:20). Oleh sebab itu, Istilah Hari Tuhan menurut Yesaya mempunyai arti khusus sebagai suatu hari tertentu dimana Tuhan akan menyatakan murkaNya dan penghukumanNya secara universal, yang artinya bahwa penghukuman Tuhan itu adalah menyeluruh dan meliputi seluruh alam dan kehidupan manusia di bumi.[12] Namun dalam arti mutlak, hari tersebut barulah akan dinyatakan pada akhir zaman, dimana Tuhan akan menghakimi segala kuasa duniawi di seluruh bumi untuk dibaharui secara radikal. Tetapi hari Tuhan dalam kitab Yesaya ini juga bermakna bahwa Mesias yang dinubuatkan akan datang membawa hukum keadilan dan kebenaran bagi seluruh dunia, tidak hanya pada manusia.
2.2.2. Hari Tuhan Menurut Yeremia
Yeremia hidup dan bernubuat selama bertahun-tahun yang terakhir abad ke-7 dan tahun-tahun yang pertama dari abad keenam.[13] Pengharapan Mesianis/Eskatologis, terkait dengan kelestarian bangsa Daud kenyataan ini berkaitan dengan Perjanjian Allah dalam 2 Samuel 1:17; 23:1-7 dan Kej. 49:10. Jadi timbulh nubuat-nubuat yang menjanjikan pemerintahan seorang keturunan Daud yang mempunyai kemampuan luar biasa, Yaitu Mesias. Konteks pada masa itu adalah dimana bangsa Israel berada dalam pembuangan babel. Walaupun demikian, bangsa itu tidak mau bertobat, hatinya telah tergila-gila kepada berhala sehingga hidup mereka semakin merosot ke dalam kejahatan. Dengan demikian Yehezkiel mengatakan bahwa keberdosaan manusia, sangat berlawanan dengan kekudusan Allah. Yehezkiel menubuatkan bahwa hari Tuhan akan dinyatakan atas semua bangsa-bangsa yang berpaling dari Tuhan (Yeh, 30.3). Penghukuman akan di berikan terhadap bangsa-bangsa yang tidak mau berbalik kepada Tuhan. Tetapi orang yang bertobat akan mendapatkan anugerah Tuhan (Yeh. 36:25-37) dan akan melaksanakan ibadah yang benar dalam bait suci (Yeh. 40-48).[14]
2.2.3. Hari Tuhan Menurut Yoel
Nama Yoel, yang adalah nama biasa di Israel yang berarti “Tuhan adalah Allah”. Tempat nubuatan Yoel adalah Yehuda, dengan pusatnya di Yerusalem. Hari Tuhan dalam kitab Yoel terdapat dalam Yoel 2:1-11. Disana ia merujuk kepada hubungan tulah dengan hari Tuhan. Hari Tuhan adalah sumber ketakutan. Kejadian ini juga diumumkan dengan tanda-tanda kosmis. Pasukan belalang digambarkan tepat sekali dengan api yang menjalar ke segala penjuru. Tanah subur didepannya berubah menjadi gurun tandus hitam. Sejumlah metafora menggambarkan hari Tuhan dalam konteks pengharapan (ayat 4-9) kekuatan kosmis bergetar dan gelap.[15]
Hari Tuhan menurut Yoel adalah keseluruan pengharapan-pengharapan eskatologis yang memuncak dalam kedatangan Tuhan, unsur yang paling penting berkenaan dengan itu adalah hukuman (Yl. 1:15). Gambaran-gambaran lain yang menjelaskan tentang manifestasi dari hari Tuhan dapat ditemukan dalam Yoel 2:1, 2:11, 2:31. Hukuman itu dilakukan atas bangsa-bangsa lain dan juga bangsa Israel. Bangsa-bangsa dihukum pada hari Tuhan karena mengancam keberadaan Israel dan di dalam permusuhan itu mereka berbuat dosa dengan berbuat jahat terhadap semua manusia. Oleh karena itu, Jatuhnya Yerusalem dan pembinasaan bait allah oleh raja Nebukanezer merupakan bencana didalam seluruh Israel yang setelah terjadi berfungsi sebagai latar belakang pengertian hari Tuhan, walaupun di dalam pengertian hari Tuhan unsur hukum dititikberatkan, namun tidak boleh dilupakan bahwa hari Tuhan tersebut selalu ditempatkan didalam terang masa dpan dan dalam konteks harapan. Istilah hari Tuhan menunjukan bahwa bukanlah Allah yang asing dan tidak dikenal yang menyatakan diri melainkan Allah perjanjian yang dipercayai dan yang telah menyatakan diri didalam sejarah keselamatan. Di dalam bencana alam yang dialami oleh rakyat yang mengancam ekonomi dan kehidupan rohani juga. Inilah yang dilihat Yoel sebagai hari Tuhan itu, dimana ada satu waktu dimana Tuhan akan menyatakan diri secara khusus.[16] Konteks pada masa itu ialah dimana hampir seluruh timur tengah dikuasai Asyur. Kerajaan utama Israel sudah musnah, dan perbuatan dengan Asyur hanya tinggal beberapa kilometer saja di utara Yerusalem; dan Yehuda tidak lebih dari satelit dari kerajaan raksasa Asyur. Mulai tahun 630 sM. Asyur mulai bergetar di bawah kekuasaan beberapa raja lemah. Harapan timbul dimana-mana. Bangsa-bangsa terjajah mulai bangkit dan juga Israel (Yehuda) mengharapkan kebebasannya. Zefanya menubuatkan baha, walaupun Asyur runtuh, jatuhnya kegelapan pada hari Tuhan akan tetap datang.[17]
2.2.4. Hari Tuhan Menurut Amos
Konteks pada masa itu adalah dimana orang-orang miskin dan orang-orang ky sangat dibedakan. Masyarakat miskin merupakan masyarakat yang terpinggirkan dan sering mengalami penindasan. Keadaan sosial dimas itu berpengaruh terhadap kebiasaan agamawi. Agama tidaklah diabaikan tetapi diperbaiki. Ditempat-tempat suci agama nasional (Am. 5:5) upacara-upacara terus dipelihara (Am. 4:4-5), tetapi hal itu diadakan bergandengan dengan sifat kefasikan yang tidak mengenal Allah dan menyalahi kesusilaan.[18] Di tengah ancaman dan penindasan, Tentu umat sudah merindukan kepada hari depan yang indah, dimana pada satu kali Tuhan itu akan datang, yaitu dimaa Tuhan dihadapan seluruh umat akan naik takhta-Nya untuk menghakimi dan mewujudkan kekuasaanNya. Tetapi dalam bayangan umat itu, bukanlah Tuhan dan kekuasaan-Nya yang menjadi pusat dan harapan kerinuan mereka, melainkan untuk kepentingan mereka sendiri, yaitu untuk menghukum musuh umat Israel dan akan menghukum musuh itu karena segala apa yang mereka lakukan kepada bangsa pilihan Allah. Dengan demikian hari Tuhan yang besar itu akan menjadi hari perayaan bagi Israel, hari kemenangan dan kebahagiaan.[19]
Amos mengatakan memang musuh-musuh Israel akan dihukum (Am. 1:2 - 2:3), yaitu karena segala perbutan jahat mereka (bukan oleh karena mereka musuh Israel), sebab memang hari Tuhan itu akan menjadi hari hukuman, hati yang suram, tetpi juga untuk orang Israel sendiri karena kejahatan mereka (Am. 2:6-16). Apa yang dimaksud Amos disini adalah pertama-tama dimaksudkan sebagai reaksi atas harapan-harapan palsu yang hidup diantara rakyat, yaitu seakan-akan hari Tuhan itu adalah dengan sendirinya hari kemenangan dn kegembiran untuk bangsa pilihan Tuhan yang begitu rajin melakukan upacara agamanya. Kepada orang-orang seperti itu, yang hidup dengan kerinduan yang palsu dan yang dalam hidup sehari-hari tidak menghiraukan Allah dan hukum-hukumnya, hanya dapat dikatakan: Allah akan datang untuk menghakimi, hari depan adalah suram. Tetapi ketika bangsa itu melakukan apa yang baik dimata Tuhan (Am. 5:14-15), dengan demikian mungkin Allah akan menaruh belas kasihan atas sisa-sisa Israel (Am. 5:15).
2.2.5. Hari Tuhan Menurut Zefanya
Nabi Zefanya hidup dan tampil sebagai nabi pada masa raja Yosia (Zef.1:1) tahun 622 sM. Waktu itu Asyur mesih kuat (Zef. 2:13). Ditafsirkan ia bernubuat kira-kita pada tahun 615 sM. Jadi kira-kira pada masa yang sama dengan nabi Habakuk. Sama seperti nabi Amos, dia memberitakan hari Tuhan merupakan hari kegelapan bagi bangsa-bangsa Israel selatan.
Pesan nabi Zefanya terdapat dalam pasal 2:3 dan pasal 3:12-13. Dia berkata tentang “orang rendah hati” dan “sisa” dari umat Tuhan akan selamat dan terluput dari hukuman. Zefanya menggambarkan hari Tuhan pada pasal 1:2-18. Menurut Zefanya, hari Tuhan yang menggoncangkan semesta dunia akan mendatangi kerjaan Yehuda, khususnya kota Yerusalem oleh karena pemujaan dewa/i kafir yang merajalela di jaman raja Manasye, Amon dan pada aal pemerintahan raja Yosia, dan juga dikarenakan adanya ketidakadilan yang dilakukan oleh para pemuka yang terpengaruh tata cara asing (Zef. 1:8-9). Pesan Zefanya difokuskan pada Hari Tuhan yang menurut dia semakin dekat. Tuduhannya terhadap Yehuda mencakup pengaduan terhadap para pejabat yang korup dan pemberontakan yang terus menerus terhadap Tuhan.[20]
2.3. Pengertian Eskatologi
Istilah eskatologi berasal dari dua kata Yunani, eschatos berarti “hal-hal yang terakhir” dan logos berarti “kata-kata, ilmu, atau doktrin”, sehingga artinya adalah “doktrin tentang akhir zaman”.[21] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, eskatologi adalah “ajaran teologi menengai akhir zaman seperti hari kiamat, kebangkitan segala manusia dan surga”.[22] Menurut Louis Berkhof istilah eskatologi didasarkan pada ayat-ayat Alkitab yang membicarakan tentang hari-hari terakhir “eschate hemerai”(Yes. 2:2; Mik. 4:1), waktu terakhir “eschatos ton chronon” (I Pet. 1:20), dan jam terakhir “eschate hora” (I Yoh. 2:18).[23]
Kemudian, yang diungkapkan oleh Peter Wongso tentang eskatologi adalah “jaman akhir” atau “hari-hari yang terakhir” yang menunjuk kepada akhir dari suatu masa, atau akhir dari sebuah kerajaan ataupun akhir hidup dari seorang tokoh”.[24] Lebih dari itu, J. Wesley Brill berkata bahwa, “eskatologi dalam Kekristenan tidak dapat dipisahkan dengan Kristus, secara khusus kedatangan di bumi untuk yang kedua kalinya. Tuhan Yesus pasti akan kembali, hal ini mutlak sama seperti firman Allah adalah mutlak”.[25] Jadi, eskatologi berarti doktrin atau ajaran tentang akhir zaman yang akan terjadi di masa yang akan datang berkaitan dengan kedatangan Kristus di bumi untuk yang kedua kalinya dan kedatangan-Nya tersebut tidak seorangpun yang mengetahuinya. Pada umumnya doktrin ini dimengerti sebagai ajaran yang menuju pada segala peristiwa yang akan datang, baik dalam kaitannya dengan apa yang dialami oleh individu atau pun dunia secara keseluruhan. Dalam kaitannya dengan individu, maka yang dibicarakan dalam eskatologi adalah hal-hal seperti kematian fisik dan kekekalan. Sedangkan dalam kaitannya dengan dunia secara keseluruhan, eskatologi membahas hal-hal seperti kedatangan Kristus yang kedua, kebangkitan umum, penghakiman akhir dan kondisi akhir.
2.4. Arti dan Makna Hari Tuhan dan Eskatologi Diperhadapkan dengan Tinjauan Ilmu Pengetahuan science Di Tengah-tengah Kehidupan Masakini.
Ilmu (sain) dalam arti leksikalnya, adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yangdisusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untukmenerangkan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan.[26]Ilmu dalam arti terminologi, adalah: pertama, merupakan kumpulan pengetahuan yangmempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri keilmuan ini didasarkan pada jawaban yang diberikan ilmu terhadap ketiga pertanyaan; apakah yang ingin kita ketahui, bagaimana cara kita memperoleh pengetahuan dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita.[27]Kedua, Suatu hal yang bersifat aposteriori yaitu kesimpulan-kesimpulannya ditarik setelah pengujian berulang-ulang dan untuk beberapa ilmu, bahkan harus dilengkapi dengan percobaan dan pendalaman untuk mendapatkan esensinya.[28] Ketiga, Pengetahuan yang bersifat umum dan sistematik, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah yang umum.[29]
Dari ketiga pengertian tersebut di atas, dapat dipahami bahwa ilmu (sains) itu disusun secara jelas yang dibarengi dengan kata pengetahuan. Dalam artian bahwa ilmu dan pengetahuan mempunyai pengertian yang berbeda secara mendasar. Pengetahuan dalam arti knowlegde adalah hasil daripada aktifitas mengetahui, yaitu tersingkapnya suatu kenyataan kedalam jiwa hingga tidak keraguan terhadapnya. Belajar sains adalah juga belajar untuk memahami hakekat kehidupan manusia, dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Dengan belajar sains, kita belajar untuk rendah hati. Oleh karena itu, pembelajaran sains seyogyanya ditujukan untuk peningkatan harkat kehidupan manusia sebagai penghuni alam semesta; Sains sebenarnya dapat mempertebal keyakinan dan keimanan. Namun demikian iman juga dapat digoyahkan oleh sains seandainya dicampuradukkan dengan pemahaman agama. Pengkaitan fenomena alam dengan ayat-ayat suci secara serampangan bisa jadi malah akan memberikan pemahaman yang salah. Bagi para agamawan yang kurang memahami sains, tindakan ini akan menyesatkan. Sebaliknya, mengkaitkan sains dengan agama oleh mereka yang tidak atau kurang dibekali agama, bisa membuat kesimpulan yang diambil menjadi konyol dan mengelikan; Selain para ilmuwan perlu mempelajari dan mendalami agama, para agamawan seharusnya juga mempelajari ilmu pengetahuan alam.
2.5. Arti dan Makna Hari Tuhan dan Eskatologi Diperhadapkan dengan Tinjauan Ilmu Pengetahuan Ilmu-ilmu Agama Suku Di Tengah-tengah Kehidupan Masakini.
Setiap agama suku memiliki keyakinan dan praktek cara-cara hidup mereka sendiri. Setiap agama suku memiliki keunikan tersendiri, memiliki bahasa sendiri, budaya, mitodologi, agama, seni dan ritual. Ada keberagaman dan variasi keyakinan dan praktik dari satu kelompok suku dan kelompok yang lain. Masyarakat hidup terorganisir dalam kelompok. Keyakinan adalah “meyakini bahwa sesuatu itu benar dari ajaran agama. Keyakinan bermuara pada perilaku atau praktek. Oleh karena itu, keyakinan dan sistem dipelihara oleh perilaku yang konsisten cenderung keluar dari nilai-nilai seseorang. Namun, jika hasil perilaku negative atau tidak konsisten terkait dengan keyakinannya maka dengan sendirinya nilai-nilai dan sikap seseorang akan melemah, dan orang tersebut akan dikucilkan atau keluar dari komunitasnya. Setiap suku memiliki dewa atau ilah sendiri, adat istiadat, agama pribumi dan juga upacara pekuburan khusus untuk orang yang meninggal. Keyakinan mereka dikodekan dalam ritual, cerita, drama, pribahasa, lagu, dan tarian, bukan pada kitab suci atau kata-kata tertulis. Keyakinan mereka sering kali lebih banyak berpusat tindakan dari pada dipikirkan.[30]
Eskatologi menurut agama suku pada tahun 20 atau 30 tahun yang lalu para orang tua dia mengatakan bahwa di goa-goa biasanya kering dan bisa dipakai untuk berlindung diwaktu malam dan dari binatang buas. Tapi akan datang waktunya goa ini akan berlumut dan basa menetes air, itu pertanda bahwa dunia ini tidak lama lagi akan berakhir. Tanda yang terakhir adalah pohon WIP, bahwa pohon ini biasanya tumbuh di gunung-gunung jauh dari pingiran sungai Baliem, tapi bila mana pohon ini sudah dapat bertumbuh secara alami dekat pinggiran sungai Baliem tanpa bantuan manusia, maka tanda-tanda dunia akan berakhir.[31]
2.6. Arti dan Makna Hari Tuhan dan Eskatologi Diperhadapkan dengan Tinjauan Ilmu Pengetahuan Kaum Ateis Di Tengah-tengah Kehidupan Masakini.
Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi.[32] Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan.[33]Istilah ateisme berasal dari Bahasa Yunani ἄθεος (átheos), yang secara peyoratif digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan. Orang yang pertama kali mengaku sebagai "ateis" muncul pada abad ke-18. Pada zaman sekarang, sekitar 2,3% populasi dunia mengaku sebagai ateis, manakala 11,9% mengaku sebagai nonteis.[34] Sekitar 65% orang Jepang mengaku sebagai ateis, agnostik, ataupun orang yang tak beragama; dan sekitar 48%-nya di Rusia. Persentase komunitas tersebut di Uni Eropa berkisar antara 6% (Italia) sampai dengan 85% (Swedia).[35]
Atheisme
merupakan pandangan yang mempercayai bahwa Allah itu tidak ada. Atheisme
bukanlah sesuatu yang baru. Mazmur 14:1 yang ditulis oleh Daud sekitar tahun
1.000 SM sudah menyebut tentang atheisme – “Orang bebal berkata dalam hatinya:
"Tidak ada Allah" (Mazmur14:1). Mengapa
atheisme ada? Mengapa Allah tidak mengungkap diri kepada orang sehingga
membuktikan bahwa Dia ada? Kalau Allah menyatakan diri pastilah semua orang
akan percaya kepadaNya! Jawabannya
karena Allah bukan hanya mau meyakinkan manusia bahwa Dia ada. Kehendak Allah
itu supaya orang percaya kepadaNya dengan iman (2 Petrus 3:9) dan menerima
karunia keselamatan (Yohanes 3:16). Ya, Allah bisa saja memperlihatkan diri dan
dengan tuntas membuktikan keberadaanNya. Allah
telah berkali-kali membuktikan keberadaanNya dalam Perjanjian Lama (Kejadian
6-9; Keluaran 14:21-22; 1 Raja-Raja 18:19-31). Apakah orang percaya bahwa Allah
itu ada? Ya! Apakah mereka berpaling dari jalan yang jahat dan menaati Allah? Tidak!
Jika
seseorang tidak bersedia menerima keberadaan Allah dengan iman, maka jelas
mereka tidak siap menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka dengan iman juga
(Efesus 2:8-9). Itulah yang dikehendaki Allah – supaya orang-orang menjadi
Kristen dan bukan menjadi theis (orang-orang yang percaya bahwa Allah itu ada).
Alkitab menyatakan bahwa keberadaan Allah harus diterima dengan iman. Ibrani
11:6 mengatakan, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.
Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan
bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”
Alkitab mengingatkan bahwa kita adalah orang-orang yang berbahagia saat kita
percaya kepada Allah dalam iman, “Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau
telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak
melihat, namun percaya"” (Yohanes 20:29). Alkitab mengajarkan bahwa
keberadaan Allah dapat dilihat dengan jelas dalam jagad raya (Mazmur 19:2-5),
dalam alam (Roma 1:18-22) dan dalam hati kita sendiri (Pengkhotbah 3:11).
Sesudah mengatakan semua itu, sekali lagi keberadaan Allah tidak dapat
dibuktikan, tapi harus diterima dengan iman. Pada dasarnya, itulah yang mereka
klaim ketika seseorang mengatakan bahwa Allah itu tidak ada. Kaum atheis tidak
dapat membuktikan misalnya, bahwa Allah tidak berdiam di tengah-tengah
matahari, atau di bawah awan Jupiter, atau di nebula yang jauh. Hal ini tidak
dapat dibuktikan, sehingga tidak ada bukti bahwa Allah itu tidak ada.
III. Analisa Penyeminar
Pemikiran tentang hari Tuhan merupakan salah satu pemikiran Israel dari keyakinannya akan pengharapan masa depannya pengaharapan masa yang hidup ditengah-tengah bangsa Israel berakar pada tradisi perjanjian; baik perjanjian Yahweh dengan bapa leluhur Israel maupun pada perjanjian Sinai yang menuntut tangung jawab ketaatan terhadap ketetapan-ketetapan perjanjian. Karena itu masa depan bangsa Israel sangat ditentukan oleh anugerah Yahweh dan kesetiaan Israel kepada Yahweh yang dinyatakan dalam ketaatan Israel terhadap hokum perjanjian. Apabila bangsa Israel setia maka masa depannya akan menjadi hari sukacita. Tetapi apabila Israel melakukan penyelewengan, maka dengan sendirinya masa depan itu akan menjadi masa yang mendukacitakan. Pengharapan akan hari Tuhan ini jelas mengandung dua aspek penting, yaitu: aspek penghukuman, tetapi juga aspek keselamatan. Namun dalam pemberitaan para nabi penekanan terhadap aspek-aspek ini Nampak berbeda-beda, sesuai dengan perkembangan situasi pada saat mereka bernubuat.
IV. Kesimpulan
Melalui Pemaparan diatas, kita dapat melihat bagaimana gambaran Perjanjian Lama mengenai hari Tuhan. Mereka tidak perlu berspekulasi tentang bagaimana Allah memperlakukan umat-Nya. Karena mereka mempunyai banyak kesempatan untuk menyaksikannya. Semuanya ini membuat mereka yakin bahwa Allah akan menyelamatkan mereka dimasa yang akan datang ketika Hari Tuhan tiba. Jadi Hari Tuhan adalah ketika Allah bertindak dan menyelamatkan setiap umat Allah. Allah akan datang ketengah-tengah manusia dan akan menghakimi setiap umat yang tidak hidup menurut kehendak-Nya dan menyelamatkan setiap umat yang percaya, Allah hadir dengan caranya tersendiri boleh mungkin melalui bencana alam atau itulah, dan yang pasti Allah hadir dengan kemuliannya. Pengharapan akan masa depan masa kini tidak dalam pengertian akhir dari segala sesuatu atau akhir dari sejarah dunia, melainkan merupakan suatu keyakinan akan penyertaan Tuhan dalam sejarah Israel akan berlangsung pada masa yang akan datang sebagaimana Ia menyertai Israel pada masa yang lampau.
V. Daftar Pustaka
… Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1999.
…. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2008.
Artikel pendek religioustolerance.org pada Definitions of the term "Atheism" menyatakan bahwa tidak ada konsensus mengenai definisi istilah ateisme. Simon Blackburn pada The Oxford Dictionary of Philosophy: "Atheism. Either the lack of belief in a god, or the belief that there is none".
Bergman, Von Soden, , dkk, Theological Dictionary Of The Old Testament Vol VI, Michigan: Eedmans Publishing Company, 1982.
Berkhof, Louis. Teologi Sistematika 6. Jakarta: Momentum. 2013.
Boland, B.J., Tafsiran Kitab Amos, Jakarta:BPK-GM, 2007.
Brill, J. Wesley. Dasar Yang Teguh. Bandung: Yayasan Kalam Hidup. 1999.
Delling, Rad, dalam Theological Dictionary Of The Old Testament Vol 2, Michigan: Eedmans Publishing Company, 1964.
Demons, Mathew S. & J. Edward Miller, Dictionary Of Bible and Theology Words, Grand Rapids Michigan USA: Zondervan, 2002.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1994.
Hadiwinata, A.S.,Tafsiral Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta:Kanisus, 2002.
Hoekema, Anthony A.. Alkitab dan Akhir Zaman. Surabaya: Momentum. 2004.
Huguenot, Caleb Ben, Yom Yahweh, (New York: N.P).
Jenni, Day Of The Lord, In The Interpreter Dictionary Of The Bible Volume 1, Nashvilla: Abigdon Press, 1962.
Jurnal Fakultas Filsafat (JFF) Universitas Klabat, Vol 1, Nomor 2, Desember 2012
Kottak P, Conrad,. Cultural Anthropology. NY: The McGraw-Hill Companies,2010.
Nazir, Metode Penelitian, Jakrta: Ghalia Indonesia, 1988.
Paterson, Robert M.,Tafsiran Alkitab:Kitab Yeremia, Jakarta: BPK-GM, 2003.
Pazdan, Mary Margaret,Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta:Kanisus, 2002.
Rowley, H.H., The Faith Of Israel, Philadelphia: The Westminster Press, 1965.
S.Kim, Kingdom Of God, in The Dictionary Of The New Testament, Leicester: InterVarsity Press, 2004.
Saifuddin, et. al., Desekularisasi Pemikiran, Bandung: Mizan, 1987.
Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, Jakarta: PT. Gramedia, 1987.
Tescher, Achim,Kitab Yesaya, Jakarta:YKBK-OMF, 2001.
Walton, Andrew E. Hill & John H., Survei Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2000.
Watts, John D.W., Word Biblical Commentary Isaiah 1-33, Texas: Word Book, Publishers, 1985.
Widyapranawa, S.H.,Tafsiran Alkitab Kitab Yesaya, Jakarta:BPK-GM, 2006.
William L,.Rowe, (1998). "Atheism". Dalam Edward Craig. Routledge Encyclopedia of Philosophy.
Wongso, Peter. Hermeneutika Eskatologi. Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara. 1992.
Worldwide Adherents of All Religions by Six Continental Areas, Mid-2005". Encyclopædia Britannica. 2005. Diakses tanggal 2007.
Zuckerman, Phil. "Atheism: Contemporary Rates and Patterns", The Cambridge Companion to Atheism, ed. by Michael Martin, Cambridge University Press: Cambridge, 2005.
[1] … Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia,(Jakarta: Balai Pustaka, 1999), 298.
[2] … Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia,(Jakarta: Balai Pustaka, 1999), 965.
[3] Mathew S. Demons & J. Edward Miller, Dictionary Of Bible and Theology Words, (Grand Rapids Michigan USA: Zondervan, 2002), 64.
[4] . Jenni, Day Of The Lord, In The Interpreter Dictionary Of The Bible Volume 1, (Nashvilla: Abigdon Press, 1962), 784.
[5] H.H. Rowley, The Faith Of Israel, (Philadelphia: The Westminster Press, 1965), 177.
[6] Dalam PL, istilah Kerajaan Allah dikenal dengan sebutan Malkut Samayim. Kata itu menunjuk kepada kedaulatan atau peraturan dalam sebuah istana. Dalam PL dan kepustakaan orang Yahudi, kata ini sering dihubungkan dengan keberadaan Allah untuk menjelaskan wilayah kekuasaan suatu kerajaan sebagai tempat atau pangung dimana kekuasaan itu dinyatakan. S.Kim, Kingdom Of God, in The Dictionary Of The New Testament, (Leicester: InterVarsity Press, 2004), 641.
[7] Caleb Ben Huguenot, Yom Yahweh, (New York: N.P), 8-10.
[8] Von Soden, Bergman, dkk, Theological Dictionary Of The Old Testament Vol VI, (Michigan: Eedmans Publishing Company, 1982),18
[9] Rad Delling, dalam Theological Dictionary Of The Old Testament Vol 2, (Michigan: Eedmans Publishing Company, 1964), 945-946.
[10] John D.W.Watts, Word Biblical Commentary Isaiah 1-33,(Texas: Word Book, Publishers, 1985), 225
[11] S.H. Widyapranawa,Tafsiran Alkitab Kitab Yesaya,(Jakarta:BPK-GM, 2006), 18
[12] Achim Tescher,Kitab Yesaya,(Jakarta:YKBK-OMF, 2001), 67
[13] Robert M.Paterson,Tafsiran Alkitab:Kitab Yeremia,(Jakarta: BPK-GM, 2003), 2
[14] A.S. Hadiwinata,Tafsiral Alkitab Perjanjian Lama,(Yogyakarta:Kanisus, 2002), 605
[15] Mary Margaret Pazdan,Tafsir Alkitab Perjanjian Lama,(Yogyakarta:Kanisus, 2002), 649-650
[16] Mary Margaret Pazdan,Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, 665
[17] S.H. Widyapranawa,Tafsiran Alkitab Kitab Yesaya, 26
[18] B.J. Boland, Tafsiran Kitab Amos,(Jakarta:BPK-GM, 2007),64
[19] B.J. Boland, Tafsiran Kitab Amos,(Jakarta:BPK-GM, 2007),64
[20] Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2000. Hal. 672
[21] Anthony A. Hoekema. Alkitab dan Akhir Zaman. Surabaya: Momentum. 2004, hal. 1
[22] ___. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2008, hal. 381
[23] Louis Berkhof. Teologi Sistematika 6. Jakarta: Momentum. 2013, hal. 11
[24] Peter Wongso. Hermeneutika Eskatologi. (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara. 1992), 6.
[25] J. Wesley Brill. Dasar Yang Teguh. (Bandung: Yayasan Kalam Hidup. 1999), 303.
[26] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), 370-371.
[27] Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, (Jakarta: PT. Gramedia, 1987), 66.
[28] Saifuddin, et. al., Desekularisasi Pemikiran, (Bandung: Mizan, 1987), 37.
[29] Nazir, Metode Penelitian, (Jakrta: Ghalia Indonesia, 1988), 9.
[30] Conrad, Kottak P. Cultural Anthropology. (NY: The McGraw-Hill Companies,2010), 12.
[31] Jurnal Fakultas Filsafat (JFF) Universitas Klabat, Vol 1, Nomor 2, Desember 2012
[32] Rowe, William L. (1998). "Atheism". Dalam Edward Craig. Routledge Encyclopedia of Philosophy.
[33] Artikel pendek religioustolerance.org pada Definitions of the term "Atheism" menyatakan bahwa tidak ada konsensus mengenai definisi istilah ateisme. Simon Blackburn pada The Oxford Dictionary of Philosophy: "Atheism. Either the lack of belief in a god, or the belief that there is none".
[34] Worldwide Adherents of All Religions by Six Continental Areas, Mid-2005". Encyclopædia Britannica. 2005. Diakses tanggal 2007-04-15
[35] Zuckerman, Phil. "Atheism: Contemporary Rates and Patterns", The Cambridge Companion to Atheism, ed. by Michael Martin, Cambridge University Press: Cambridge, 2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar