Tinjauan Historis Tentang Sejarah Berdirinya GKPI di Masyarakat Kecamatan Pakkat-Humbahas
Serta Refleksinya Pada Orang Kristen Pada Era Postmodern
I. Abstraksi
Gereja dalam sejarah perkembangannya hingga saat ini telah menghadapi berbagai tantangan. Serangan terhadap kekristenan seringkali diarahkan pada pandangan iman Kristen. Serangan tersebut muncul dinyatakan dalam bentuk penolakan langsung terhadap pandangan iman Kristen maupun dengan timbulnya ajaran-ajaran baru yang menjalar secara halus dan tanpa disadari masuk ke dalam gereja dan mempengaruhi teologi dalam gereja. Untuk itu gereja perlu memiliki tindakan yang nyata untuk menghadapi tantangan tersebut dan tetap memelihara iman jemaat. Perjuangan gereja menghadapi tantangan zaman tidaklah mudah, gereja dapat saja terpengaruh situasi zaman yang negatif.
Melalui tulisan ini akan diuraikan seperti apa era postmodern dan bagaimana gereja melalui ajaran Kristen mengambil tindakan nyata dalam menghadapi tantangan tersebut dan tetap memelihara iman jemaat. Untuk itu, melalui tulisan ini penulis akan menguraikan tentang sejarah dan semangat jemaat GKPI Pakkat yang berupaya untuk mendirikan rumah Ibadah bagi mereka untuk dapat beribadah. Juga melalui tulisan ini penulis akan membangun kembali semangat Kristen di era postmodern ini dalam beribadah.
II. Pembahasan
2.1.Sejarah Gereja di Indonesia
Kata gereja melalui kata Portugis igreja, berasal dari kata Yunani ekklesia. Selain itu dalam bahasa Yunani ada satu kata lain yang gereja, yaitu kuriakon (rumah) Tuhan. Inggris cruch dan Belanda krek berasal ari kata Yunani itu. Ekklesia berarti: mereka yang dipanggil. Yang pertama dipanggil oleh Kristus ialah para murid, Petrus dan yang lain. Sesudah kenaikan Tuhan Yesus ke sorga dan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, para murid itu menjadi “rasul”, artinya: mereka yang diutus. Rasul-rasul diutus ke dalam dunia untuk mengabarkan berita kesukaan, sehingga lahirlah gereja Kristen.[1]
Sejarah Gereja Indonesia adalah kisah tentang aktifitas misionaris (misi) dan respon orang-orang di Nusantara terhadap panggilan Yesus Kristus melalui pemberitaan Injil oleh para misionaris (Nestorian di Barus, Gereja Katolik dari Eropa, zending dari Belanda, dan Negara-negara lain), yang bermisi ke Nusantara pada abad ke 7 – 19.
2.1.1. Gereja-gereja Indonesia Pada Masa Jepang (1942-1945)[2]
Gereja Kristen pertama kali dibawa Jepang mulai tahun 1549, dengan hasil besar. Tetapi antara tahun 1614-1636 berlangsung penghambatan yang hampir melenyapkan agama Kristen dari bumi Jepang. Negara itu menutup diri terhadap pengaruh-pengaruh dari luar dan melarang para penyebar agama Kristen masuk. Pada tahun 1853 kapal-kapal Amerika memaksa Jepang meniadakan larangan masuk bagi orang asing. Peristiwa itu kembali membuka pintu bagi para pekabar penginjil.
Sebelum Jepang masuk, orang Eropa, termasuk pelayan para gereja dan zending, menduga mereka akan dibiarkan akan meneruskan pekerjaannya. Sedangkan Jepang bermaksud untuk melenyapkan pengaruh Barat dari masyarakat Indonesia.
Selain itu, mereka mengambil beberapa tindakan yang secara langsung/tidak langsung menyangkut kehidupan intern gereja. Yang berpengaruh secara langsung ialah keputusan Jepang supaya semua sekolah yang sebelumnya dikelola oleh zending dan misi, diserahkan kepada pemerintah (1April 1943). Hal itu menunjukkan bahwa sekolah-sekolah itu tidak dapat diberikan pengajaran agama. Mata pelajaran itu diganti dengan pengajaran “semangat Jepang”. Di samping itu juga dilarang untuk mengadakan ibadah di gedung sekolah.
Pada permulaan masa Jepang, sebagian besar orang Kristen Indonesia sudah mengalami kehidupan sebagai gereja mandiri, namun peranan orang Eropa dalam gereja-gereja itu masih besar sekali. Pada masa perang, tindakan orang Jepang menghadapkan orang Kristen pada tantangan yang hebat di bidang kerohanian, kepemimpinan, dan keuangan. Di tengah kemelut itu muncul beberapa tokoh pemimpin yang memahami serta menjawab tantangan itu. Kebanyakan penghantar jemaat dan orang Kristen lainnya yang meninggal dunia akibat perbuatan oknum-oknum yang memusuhi agama Kristen. Lebih besar lagi jumlah orang Kristen dan tenaga zending yang meninggal akibat tindakan Jepang. Selama masa Jepang, organisasi gereja tidak dapat berjalan dengan lancar, tetapi kehidupan jemaat berlangsung terus dan kesadaran jemaat bertambah besar.
2.1.2. Gereja Masa Kemerdekaan RI (1945-1950)[3]
Pada waktu Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal 14 Maret 1945 maka berakhirlah penindasan dan penjajahan Jepang atas Indonesia. Bersmaan dengan itu usaha dan semangat bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indoesia dan tanah air sudah mencapai taraf kematangannya, yang berpuncak dengan Proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun datangnya tentara Sekutu yang menggantikan Jepang, kemudian disusul dengan kembalinya Belanda untuk menjajah lagi bangsa Indonesia, telah mengakibatkan bentrok fisik yang berkembang menjadi Perang Kemerdekaan.
Dalam masa pendudukan Jepang gereja-gereja di Indonesia yang telah cukup matang dipersiapkan di masa pendudukan Jepang sepenuhnya sadar bahwa perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan bangsa itu adalah tanggung jawab dan tugas seluruh rakyat Indonesia. sehingga orang Kristen sebagai bagian integral dari bangsa ini sepenuhnya ikut pula bertanggung jawab. Sejak semula, ketika diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, orang Kristen sepenuhnya sudah terlibat dalam perjuangan rakyat.
2.2.Sejarah GKPI di Indonesia
2.2.1. Awal Mula GKPI
GKPI pada dasarnya bukanlah gereja Batak. Dengan sadar para pemrakarsa GKPI, baik kalangan pelayanan (pertohonan) maupun warga gereja (yang waktu itu lazim disebutkan ‘kaum awam) menyematkan Indonesia ke dalam nama organisasi gereja yang baru ini. Karena itu pulalah pada tahun-tahun pertama ada sejumlah pelayanan dan warga gereja non Batak yang bergabung ke GKPI. Dan tak dapat disangkal bahwa GKPI lahir di Sumatera utara. Di lingkungan gereja dan masyarakat yang sangat kental diwarnai oleh ke Batak-an (Habatahon), sehingga sedikit banyaknya suasana Huria Batak (khususnya HKBP) dan masyarakat Batak itu ikut mewarnai keberadaan GKPI.
Di GKPI sendiri cukup tinggi kesadaran dan pemahaman bahwa secara langsung ataupun tidak langsung, ada kaitan GKPI dengan para perintis kekristenan di Tanah Batak. Terutama sejumlah penginjil (misionaris, Missionari Zendeling) dari Barat. Misalnya nama sejumlah misionaris Rheinische Missions-Gesellschaft (RMG) dari Jerman, terutama Nommensen. Masih sangat popular dan dihormati di kalangan GKPI, apalagi sebagian besar warga HKBP Huta Dame – Sait ni Huta, Tarutung. Jemaat yang dibuka Nomensen, kemudian bergabung dengan ke GKPI. Berbagai kebiasaan, antara lain sistem pemerintahan gereja (church polilty) dan tata ibadah yang digagas dan dikembangkan para misionaris RMG. Juga di anut oleh GKPI sampai saat ini, pendekatan kata, GKPI juga memahami diri sebagai gereja yang ikut melanjutkan garis sejarah yang dimulai oleh para penginjil Barat sejak abad ke-19 itu.[4]
2.2.2. GKPI Dibentuk dan Diproklamasikan
Surat keputusan Gubernur Sumatera Utara tertanggal 14 Agustus 1964 yang melarang pembentukan organisasi atau lembaga yang bertentangan dengan HKBP, atau lembaga yang bertentangan dengan peraturan HKBP, tidak menyurutkan gerakan yang sudah semakin marak dan berkombar di sejumlah warga dan pelayanan HKBP. Mereka tidak bersedia lagi berada di bawah kepemimpinan Pucuk Pimpinan HKBP. Pada tanggal 15 Agustus 1964, sejumlah warga dan pelayan yang sudah menyatakan diri memisahkan diri dari HKBP berhimpun di Pematang Siantar dan sepakat untuk membentuk organisasi gereja yang baru, tanpa sempat berkomunikasi dengan mereka yang ada di Medan.[5]
Kemudian mereka berkumpul di Pematang Siantar dan berkumpul di rumah Dr. Andar L. Tobing (rektor universitas HKBP yang dituduh korupsi) dan Dr. Sultan M. Hutagalung, sekaligus meminta pendapat dari kedua tokoh ini mengenai rencana pembentukan organisasi gereja yang baru. Mereka sepakat utuk memberi nama gereja ini yaitu Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), ini dikukuhkan dengan sebuah doa di rumah Pdt. Dr. Andar L. Tobing pada 16 Agustus.[6]
Sehari sebelum peresmian, yakni pada tanggal bersejarah Hari Reformasi 31 Oktober diadakan musyawarah pertama GKPI (belum disebut sinode Am) yang dihadiri oleh utusan dari 35 jemaat yang sudah terbentuk selama dua bulan pertama itu. Musyawarah ini menghasilkan kesepakatan tentang konsep Tata Gereja, penyempurnaan pengurus sementara[7], dan waktu penyelenggaraan Sinode Am yang pertama.[8] Pada tanggal peresmian GKPI 1 November 1964, selain dilantik Pengurus Pusat GKPI, ditahbis juga 13 orang Pendeta baru.[9]
2.3.Sejarah GKPI di Kecamatan Pakkat-Humbahas
2.3.1. Sejarah GKPI di Pakkat
GKPI Jemaat Pakkat beralamat di Jalan Parluasan Desa Pakkat Hauagong, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, provinsi Sumatera Utara. Sejarah berdirinya gereja GKPI ini tidak terlepas dari usaha bapak H. Hutagalung dan St. E. Siringo-siringo untuk mendirikan GKPI di Pakkat. H. Hutagalung merupakan seorang calon Penatua dari GKPI Sei Agul Medan. Melalui surat keputusan dari Menteri Pendidikan RI pada bulan Juli 1975, H. Hutagalung menjadi guru di SMA Negeri 1 Pakkat (sekarang diganti menjadi SMK Negeri 1 Pakkat, yang berjarak + 50 m dari Gereja GKPI Jemaat Pakkat). Beliau berangkat dari Medan menuju Pakkat bersama dengan istrinya yaitu M. Br. Hutabarat dan juga satu orang anaknya yang masih berumur 1 tahun. Setelah mereka sampai di Pakkat, mereka mendapati tidak adanya Gereja GKPI di sekitar tempat mereka tinggal. Sehingga mereka bergereja di HKBP Pakkat dan beliau aktif dalam koor ama (paduan suara bapak) di gereja tersebut HKBP Pakkat. Tetapi dalam hatinya ada kerinduan untuk membuka gereja GKPI, hanya saja pada saat itu ia belum mendapat teman yang satu impian dengan dirinya.
Dalam proses pencarian teman untuk mendirikan gereja tersebut, ia mendapatkan titik terang setalah ada yang memberikan informasi bahwa St. E. Siringo-ringo (kepala sekolah SMA Negeri 1 Pakkat) dan sekeluarga adalah jemaat di GKPI Laksa dan jarak antara tempat beliau tinggal dengan GKPI Laksa sangat jauh.
Pada 1 Januari 1976, berangkatlah calon Pnt.H. Hutagalung bersama dengan istrinya berakunjung ke rumah St. E. Siringo-ringo. Dalam momen tersebut, beliau berjumpa dengan G. Siringo-ringo, S.H yang merupakan teman lama pada saat ia masih merupakan anggota dari Pemuda-pemudi GKPI Sei Agul Medan. Ternyata G. Siringo-ringo merupakan adik dari St. E. Siringo-ringo. Tetapi dalam pertemuan tersebut belum ada pembicaraan tentang rencana akan mendirikan gereja GKPI di Pakkat.
Oleh karena berkat Tuhan, ada bantuan untuk pembangunan gereja GKPI Pakkat berupa tanah yang diberikan (dihibahkan) oleh anak dari St. Tahi Lumban Tobing (alm). Kerelaaan hatinya untuk memberikan (menghibahkan) tanah tersebut didorong oleh rasa cintanya terhadap gereja GKPI, sebab alm. ayahnya merupakan anggota jemaat GKPI Medan kota. Lahan untuk pembangunan gereja tersebut diberikan kepada H. Hutagalung dan kemudian ia menyampaikan kabar baik ini kepada St. E. Siringo-ringo. Kemudian berangkatlah H. Hutagalung ke rumah T. Lumban Tobing (alm) yang beralamat di Jl. Iskandar Muda No 131 Medan, supaya anaknya menandatangani surat tanah gereja itu. Melalui surat itu, anak T. Lumban Tobing (alm) mengibahkan tanah itu dengan ukuran 20 x 40 m di Parluasan, Panigoran Pakkat. Dengan adanya surat tanah itu, disitulah awal mula yang baik bagi H. Hutagalung dan St. E. Siringo-ringo untuk mendirikan gereja GKPI di Pakkat.
Setelah kabar sukacita untuk mendirikan gereja ini tersebar, ada 21 rumah tangga yang kemudian menandatangani surat pernyataan ingin masuk ke GKPI yang berasal dari HKBP Pakkat. Namun setelah pendeta HKBP mengetahui hal tersebut, mereka kembali bergereja di HKBP Pakkat. Jadi jemaat yang tetap bergereja di GKPI hanya St. E. Siringo-ringo/ Br. Aritonang; calon Pnt. H. Hutagalung/ M. Br. Hutabarat; St. W.O. Tinambunan/ Br. Marbun, dan beberapa orang pemuda (A. Harianja, H. Sinaga dan B. Sinurat).
Kebaktian pertama dilakukan pada tanggal 21 Februari 1978 dan sekaligus merupakan tanaggal berdirinya GKPI Pakkat. Kebaktian pertama ini dilakukan di rumah keluarga H. Lumban Tobing/ Br. Silaban. Namun para perintis ini memiliki tekad yang kuat dengan motto: “Sekali GKPI, tetap GKPI.” Pada kebaktian ini turut diundang Kapolsek Pakkat dengan Danramil Pakkat, tetapi yang datang menghadiri undangan ini hanya Danramil Pakkat (Kapten Marbun). Pendeta yang melayani kebaktian perdana itu ialah Pendeta Hutabarat yang datang dari Onan Ganjang. Meski terdengar isu bahwa akan ada sekelompok orang yang akan membuat keributan, namun kebaktian ini berjalan dengan baik dari awal hingga akhir.
Melihat keadaan keluarga tempat dilaksanakannya kebaktian itu adalah jemaat HKBP, jemaat GKPI meminta kepada Kepala Sekolah SMA 1 Negeri Pakkat, dan Kakanwil Provinsi Sumatra Utara agar dapat melakukan peribadahan di gedung sekolah tersebut. Selama 2 tahun setelah berdirinya GKPI di Pakkat, jemaat yang hadir + 10 orang tiap minggunya. Pdt. Prof. Jan S. Aritonang, Ph.D. pernah berkhotbah dalam peribadahan tersebut karena bibinya merupakan istri dari St. E. Siringo-ringo.
Setelah dua tahun, dimulailah pembangunan gedung gereja atas inisiatif dan kerelaan hati Pnt. E. Siringo-ringo yang memberikan bahan bangunan berupa papan, kayu, dll. Setelah itu berdirilah gedung gereja GKPI Pakkat dengan bangunan semi permanen dan luasnya ukuran 9 m x 12 m. Peletakan batu pertama dilakukan oleh calon Pnt. H. Hutagalung.
Pada tahun 1980 diadakan pesta pembangunan gereja yang dipimpin oleh Pdt. R.M.G Marbun (Sekjen GKPI saat itu). Pada saat itu, susunan kepanitiaannya adalah 2 keluarga pendiri GKPI Pakkat yaitu Ketua: St. E. Siringo-ringo, BA; Sekretaris: calon Pnt. H. Hutagalung, BA; Bendahara: R. Br. Aritonang dan anggota M. Br. Hutabarat. Meski hanya 2 keluarga sebagai panitianya namun dengan pertolongan Tuhan keluarga itu tetap bersemangat mendirikannya. Semangat tersebut didorong oleh slogan GKPI: “Sabas mar-GKPI.” Hasil pembangunan pesta tersebut digunakan untuk membantu pembangunan gedung gereja.
Pada tahun 1982, calon Pnt. H. Hutagalung ditabalkan menjadi Penatua oleh Pdt. Silitonga yang pada saat itu juga melayani di GKPI Onan Ganjang. Penabalan ini dilaksanakan di GKPI Hutari Jagapayung. Setelah 8 tahun berlalu, tepatnya pada tahun 1990 terjadi penambahan anggota jemaat menjadi 10 rumah tangga. Pada tahun ini juga GKPI Pakkat harus menerima kenyataan bahwa Pnt. E. Siringo-ringo harus dipindah-tugaskan pemerintah ke SMA Negeri Tarutung sehingga jabatan Guru Huria yang sebelumnya diemban oleh beliau harus digantikan oleh Pnt. H. Hutagalung.
Seiring berjalannya waktu, bertambah jugalah anggota jemaat GKPI Pakkat dikarenakan banyaknya guru yang ditempatkan ke Pakkat. Dari beberapa guru ini juga diangkat menjadi calon penatua. Ada juga jemaat HKBP yang pindah menjadi jemaat GKPI, yaitu dr. B. Sitompul/ Br. Sianturi (Kepala Puskesmas). Beliau inilah yang menggagas agar gedung gereja agar lebih diperbesar menjadi 13 m x 24 m.
Pada tahun 1992, diadakan kembali pesta pembangunan. Melalui pesta pembangunan tersebut, gereja dapat dibangun tanpa memungut biaya dari masing-masing keluarga. Pada pesta ini gereja mendapat bantuan dari:
1. Gubernur Sumatra Utara, Bapak Marah Harim Harahap.
2. Keluarga dr. B. Sitompul/ Br. Sianturi.
3. Keluarga T. Lumban Tobing di Medan (keluarga yang menghibahkan tanah pertapakan gereja dan bantuan materi).
4. Bapak B. Aritonang, Pegawai BPDSU di Tarutung yang memberikan semen dan batu bata.
5. Anggota jemaat yang setia mendukung pembangunan gereja tersebut.[10]
2.3.2. Keunggulan Jemaat GKPI Pakkat
Adapun yang menjadi keunggulan GKPI Pakkat adalah semangat mereka di dalam beribadah. Di masa pandemi covid 19 ini, gereja-gereja ditutup, hal itu menjadikan orang kristen tidak dapat beribadah di gereja. Kebanyakan gereja berinisiatif untuk membuat ibadah kebaktian minggu di rumah masing-masing jemaat dengan membagikan tata tertib acara kebaktian minggu (tidak terkecuali dengan kristen di Pakkat, terkhusus jemaat GKPI Pakkat). Walaupun jemaat GKPI Pakkat tetap melakukan ibadah rumah itu, tetapi sebenarnya hati mereka tidak bersukacita dalam melakukannya. Bagi mereka, lebih hikmah rasanya kalau peribadahan minggu itu dilakukan di gedung gereja. Karena menurut Pdt. Pepri Chandra Simanungkalit, S.Th. selaku Pendeta Resort di GKPI Pakkat, jemaat di GKPI Pakkat itu datang beribadah ke gereja bukan untuk sekedar beribadah, melainkan juga untuk menjalin kebersamaan yang baik (parsaoran nauli) kepada seluruh warga jemaat GKPI Pakkat.
Semangat GKPI Pakkat didorong oleh slogan GKPI: “Sabas mar-GKPI.” Sabas mar GKPI artinya “alangkah nyaman dan tenang berjemaat di GKPI”. Semangat pelayan di GKPI Pakkat juga menjadikan 21 rumah tangga jemaat HKPB Pakkat menandatangani surat pernyataan ingin menjadi jemaat GKPI Pakkat. Namun setelah pendeta HKBP mengetahui hal tersebut, mereka kembali bergereja di HKBP Pakkat. Yang mau dikatakan di sana adalah, melalui pelayanan pelayan dan kebersamaan antar sesama jemaat di GKPI Pakkat itu memang menjadikan orang Kristen rindu untuk datang beribadah dan bersekutu di sana (GKPI Pakkat).[11]
2.3.3. Perkembangan Jemaat di GKPI Resort Pakkat
Sekarang ini jumlah jemaat di GKPI Resort Pakkat tercatat sebanyak 310 KK (Kepala Keluarga) dan 1.354 jiwa.[12] Sementara jumlah penduduk yang berdomisisli di Kecamatan Pakkat sekarang tercatat sebanyak + 5.500 KK (Kepala Keluarga).[13] Seiring berjalannya waktu GKPI di Pakkat semakin berkembang baik secara fisik maupun iman. Hal itu terlihat melalui semangat para jemaat di GKPI Pakkat dalam melakukan renovasi gedung Gereja yang dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2020- 27 Juni 2020. Tidak hanya itu, jemaat di GKPI Pakkat juga semakin rajin datang untuk beribadah ke Gereja walaupun masih dalam kondisi covid seperti ini.
Melalui hasil wawancara Penulis terhadap Pnt. S. Bagariang yang mengatakan bahwa sekarang ini tidak sedikit jemaat yang ada di GKPI Pakkat itu adalah pindahan dari jemaat HKBP dan HKI yang ada di Pakkat. Sebagian ada yang pindah karena masalah pribadi dengan penatua yang ada di hereja itu, dan sebagian lagi ada yang pindah karena memang tertarik dengan parsaoran (cara bersosial) yang ada di dalam jemaat GKPI Pakkat.[14] Pemahaman orang Kristen di Pakkat tentang ibadah itu memang masih terbilang awam, karena sebagian besar orang Kristen di Pakkat masih lebih mencari tempat ibadah yang membuat mereka merasa nyaman saat beribadah. Artinya mereka beribadah belum seutuhnya untuk kemuliaan Tuhan, tetapi juga untuk mampu menjalin persaudaraan yang baik dengan orang lain.
2.4.Refleksinya Terhadap Kehidupan Orang Kristen Pada Era Postmodern
Semangat Pnt. H. Hutagalung dan rekan sekerjannya dalam mendirikan GKPI di Pakkat serta parsaoran (kebersamaan) jemaat di GKPI Pakkat memang patut menjadi inspirasi bagi kaum kristen pada era postmodern ini. Yang mana di era Postmodern ini mempengaruhi banyak hal, termasuk mempengaruhi gereja dan pengajarannya. Dengan mengedepankan pemahamann relativisme, post modern mengancam dan secara tidak langsung menyerang Iman Kristen. Dasar-dasar Iman Kristen yang kebenarannya absolut, kemudian di era postmodern dipandang sebagai sesuatu yang relatif. Pendidikan kristen sebagai bagian yang tak terpisahkan dari gereja, merupakan bagian yang berperan penting dalam menghadapi berbagai tantangan pada gereja di era postmodern. Gereja harus tetap konsisten pada prinsip bahwa pendidikan kristen adalah pendidikan yang berdasarkan Alkitabiah dan berpusat pada Kristus sehingga akan dibangun manusia yang dewasa dan mampu melihat, menganalisa dan melakukan filter terhadap berbagai ajaran yang menyerang Kekristenan termasuk di era postmodern.[15]
Di dalam bukunya T.D. Becker mengatakan bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, baik itu kesatuan sesama anggota jemaat (1 Korintus 12:12), dan kesatuan jemaat dengan Yesus Kristus (Efesus 1:22 ; Kolose 1:18). Karena sebenarnya didalam Kristus telah berakhir atau tidak dijumpai lagi segala perbedaan yang memisahkan dan ikatan yang membelenggu. Sehingga kesatuan gereja sebagai Tubuh Kristus selain mengatasi kepelbagaian, juga merupakan penampakan dari tubuh Kristus.[16] Melalui semangat dan sejarah berdirinya GKPI Pakkatt ini, kiranya jemaat kristen di era postmodern ini dapat sadar akan pentingnya berkumpul, bersatu dan bersama-sama dengan jemaat Tuhan di dalam Tubuh Kristus (gereja) untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Karena kesatuan gereja sebagai Tubuh Kristus selain untuk mengatasi segala pergumulan umat Kristen, juga merupakan penampakan dari diri Kristus.
2.5.Saran Penulis
a. Pada prinsipnya, gereja bertolak belakang dengan era postmodernisme dan pengaruh postmodern telah menjalar ke seluruh aspek kehidupan beragama. Di sinilah tugas gereja untuk meberikan pengajaran kepada orang kristen pada era postmodern ini, agar mereka sadar bahwa pentig bersekutu di dalam gereja (Tubuh Kristus) bersama-sama dengan jemaat Tuhan.
b. Tidak bisa pungkiri bahwa postmodernisme juga telah mengimbas ke kehidupan yang sesederhana mungkin, dan inilah tugas gereja sebagai Tubuh Kristus untuk mengantisipasi semakin meluasnya pengaruh negatif dari postmodernisme itu sendiri.
III. Kesimpulan
Melalui pemaparan di atas, penulis menyimpulkan bahwa Menurut penulis bahwa pengaruh postmodernisasi telah merambah masuk ke dalam lingkungan masyarakat di Indonesia ini, terkhusus di kalangan orang kristen dan turut mempengaruhi iman orang kristen. Sehingga orang kristen semakin jauh dari yang namanya gereja akibat pengaruh dari ajaran postmodernisasi. Penulis melihat bahwa orang kristen di era postmodern ini perlu berkaca dari semangat jemaat GKPI Pakkat, yang masih menganut slogan GKPI yang mengatakan “Sabas Mar-GKPI”. Slogan ini yang mendorong semangat jemaat di GKPI sehingga menjadikan mereka mau untuk bersekutu bersama-sama dengan jemaat lainnya di gereja. Mengingat orang kristen di Pakkat itu mayoritas berprofesi sebagai petani, maka waktu yang mereka punya setiap harinya itu hanya di ladang. Dengan demikian, jemaat di GKPI Pakkat itu berfikir bahwa hanya di gerejalah mereka dapat menjalin kebersamaan dengan jemaat lainnya yang menjadi jemaat di GKPI Pakkat juga. Seperti yang sudah dikatakan T.D. Becker di dalam bukunua; bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus yang merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan, baik itu kesatuan sesama anggota jemaat (1 Korintus 12:12), dan kesatuan jemaat dengan Yesus Kristus (Efesus 1:22 ; Kolose 1:18). Satu hal yang perlu di garis bawahi adalah bahwa kesatuan dan persekutuan gereja adalah bukan hasil olahan manusia, bukan ciptaan anggota jemaat itu sendiri, bukanlah milik pribadi atau golongan tertentu, bukan pula milik negara atau penguasa, akan tetapi gereja adalah milik Allah yang memanggil dan mengumpulkan umatnya.
IV. Daftar Pustaka
Disusun Oleh Pdt. Oloan Pasaribu, M. Th, Almanak GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia) 2020, P. Siantar: Kolportase Sinode GKPI, 2020
Hutabarat, A., Dokumen Menuju Sejarah Berdirinya GKPI, Pematang Siantar: Tata Penggembalaan, 2001
Hutagalung , Pnt. H., Sejarah Berdirinya GKPI Pakkat, Pakkat: TP, 2015
Hutauruk, JR. (Ed), Tuhan Menyertai Umat-Nya Jubilium 125 tahun HKBP, 1986
Lubis, Raja, Sejarah Timbul dan Berkembangnya GKPI, Pematang Siantar: Kolportase Pusat GKPI, 2007
S. Aritonang, Pdt. Prof. Dr. Jan, Yubelium 50 Tahun GKPI, Tinjauan Sejarah dan Pandangan ke Depan, Pematang Siantar: Kolportase Pusat GKPI, 2014
T.D.Becker, Pedoman Dogmatik, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993
Van, Dr. Th. den End, Harta Dalam Bejana, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1986
Van, Dr. Th. den End, Ragi Carita 2, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999
V. Sumber Lain
http://blog-sejarahgerejaindonesia.blogspot.com, Diakses pada Kamis, 10 September 2020; 12.57 WIB.
Wawancara kepada: Pdt. Pepri Chandra Simanungkalit, S.Th. , Sabtu, 12 September 2020; 12.20 WIB
Wawancara Via Ponsel kepada Pnt. Bagariang, Pada Jumat, 30 Oktober 2020, Pukul 12.30 WIB
Wawancara Via Ponsel kepada Jultan Marbun (salah satu pengurus di kantor kepala desa di Kec. Pakkat), pada Rabu, 18 November 2020, Pukul 15.00 WIB
https://www.researchgate.net/publication/318635220_PENDIDIKAN_KRISTEN_DI_ERA_POSTMODERN, Diakses pada Kamis, 10 September 2020; 21.42 WIB
[1] Dr. Th. Van den End, Harta Dalam Bejana, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1001), 1-2
[2] [2] Dr. Th. Van den End, Ragi Carita 2, (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 354
[3] http://blog-sejarahgerejaindonesia.blogspot.com, Diakses pada Kamis, 10 September 2020; 12.57 WIB.
[4] JR. Hutauruk (Ed), Tuhan Menyertai Umat-Nya Jubilium 125 tahun HKBP, 35
[5] Pdt. Prof. Dr. Jan S. Aritonang, Yubelium 50 Tahun GKPI, Tinjauan Sejarah dan Pandangan ke Depan, (Pematang Siantar: Kolportase Pusat GKPI, 2014), 9-10
[6] Pdt. Prof. Dr. Jan S. Aritonang, 62
[7] A. Hutabarat, Dokumen Menuju Sejarah Berdirinya GKPI, (Pematang Siantar: Tata Penggembalaan, 2001), 19-20
[8] Raja Lubis, Sejarah Timbul dan Berkembangnya GKPI, (Pematang Siantar: Kolportase Pusat GKPI, 2007), 30-31
[9] Pdt. Prof. Dr. Jan S. Aritonang, 64
[10] Pnt. (Em.) H. Hutagalung, Sejarah Berdirinya GKPI Pakkat (Pakkat: TP, 2015), 1-4
[11] Wawancara kepada: Pdt. Pepri Chandra Simanungkalit, S.Th. , Sabtu, 12 September 2020; 12.20 WIB
[12] Disusun Oleh Pdt. Oloan Pasaribu, M. Th, Almanak GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia), (P. Siantar: Kolportase Sinode GKPI, 2020), 343
[13] Wawancara Via Ponsel kepada Jultan Marbun (salah satu pengurus di kantor kepala desa di Kec. Pakkat), pada Rabu, 18 November 2020, Pukul 15.00 WIB
[14] Wawancara Via Ponsel kepada Pnt. Bagariang, Pada Jumat, 30 Oktober 2020, Pukul 12.30 WIB
[15] https://www.researchgate.net/publication/318635220_PENDIDIKAN_KRISTEN_DI_ERA_POSTMODERN, Diakses pada Kamis, 10 September 2020; 21.42 WIB
[16] T.D.Becker, Pedoman Dogmatik, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar