Jumat, 16 April 2021

Kiprah Philip Jacob Spener

 


Kiprah Philip Jacob Spener

(Suatu Tinjaun Historis Praktis tentang Kiprah Jacob Spener dalam Pembaharuan Peraturan Ajaran Gereja dan Impilasinya Bagi Gereja Masa Kini)

I.                   Latar Belakang  Masalah

Peraturan dalam sebuah gereja memang baik untuk kita ikuti, dan sepatutnya juga bahwa sebuah gereja memang harus memiliki peraturan di dalamnya agar gereja tersebut dapat berjalan dengan baik dan benar. Tetapi seringkali peraturan dalam sebuah gereja tersebut sudah menjadi satu acuan yang membuat jemaat atau orang-orang yang ada dalam gereja menjadi terkekang atau bisa dikatakan bahwa sering kali peraturan yang ada dalam ajaran gereja membuat pemimpin bertindak sesuai dengan peraturan ajaran gereja tersebut, yang dimana peraturan ajaran gereja menjadi panutan dalam memperlakukan jemaat yang melangar peraturan gereja tersebut, misalkan jika ada jemaat yang melanggar aturan ajaran gereja maka dia akan diperlakukan sesuai dengan peraturan ajaran gereja. Yang dimana tanpa gereja sadarai hal tersebut dapat memberikan dampak yang sanggat tidak baik bagi jemaat. Seringkali gereja bertindak tidak sesuai dengan kebutuhan jemaat yang dapat menimbulkan perselisihan dalam gereja, yang tanpa kita sadari bahwa gereja hadir untuk orang-orang yang berdosa bukan untuk orang yang baik dan yang benar, sehingga ini juga yang menjadi tugas gereja pada masa kini. Ini juga yang melatarbelakangi Spener berkiprah dalam peraturan ajaran gereja ini yang dimana disebut sebagai pietisme, Spener melihat bahwa di dalam kehancuran yang ada pada saat itu baik secara moral, perekonomian, dan juga banyak pelayan gereja yang melakukan korup, dan lain sebaginya. Meskipun banyak permasalahan yang ada itu gereja tidak bertindak untuk memberikan solusi dalam menanggulangi hal tersebut, gereja hanya diam dan tak ada berbuat aapun. Dari sinilah Spener ahirnya berkiprah dengan mencoba menjawab dan memberikan solusi dalam pergumulan tersebut, oleh sebab itu kita akan membahas tetang bagimana kiprah Spener dalam memberikan pembaharuan perauran gereja ada saat itu.

II.                Pembahasan

2.1. Pengertian Peraturan Ajaran Gereja

Peraturan dalam sebuah gereja disebut sebagai tata gereja, yang dimana peraturan atau tata gereja ini digambarkan sebagai hukum internal yang ada dalam gereja. Sehingga tata gereja dapat menjadi hukum yang objektif untuk menjaga anggotanya baik secara individual atau kolektif. Tata gereja tidak dimaksudkan untuk menyusun detail peraturan. Tata gereja dapat menolong gereja untuk memperhatikan tugas dan panggilan dunia. Penyusunan tata gereja harus dapat memperhatikan proses urusan dalam komunitas gereja dan melihat bahwa fungsi peraturan gereja sesuai dengan kitab suci. Sedangkan ajaran gereja merupakan sesuatu yang mejadi pusat ajaran dalam sebuah gereja yang tentunya juga harus berlandaskan kepada Alkitab, dalam ajaran gereja harus diperlihatkan tentang hak dan kewajiban berbagai anggota gereja dalam hubungan dengan kebaikan bersama, ajaran gereja harus memperlihatkan keadilan antara kelompok dalan gereja.[1]

2.2. Philip Jacob Spener

Spener lahir di Elzas pada 13 Januari 1635. Setelah dengan waktu yang singkat bersekolah di sekolah tata bahasa Calmor dia pergi ke Starsbourg pada tahun 1651, dimana dia mengabdikan dirinya untuk mempelajari filologi, sejarah dan filsafat dan memenangkan gelar masternya (1653) melalui perselisihan melawan filsafat Thomas Hobbes. Dia kemudian menjadi tutor pribadi untuk pangeran Christian dan Charles serta dia mengajar di universitas tentang filologi dan sejarah. Dari 1659 hingga 1662 ia mengunjungi universitas Basel, Tubingen dan Jenewa serta memulai studi tentang lambang, yang ia tekunin sepanjang hidupnya. Dia sangant dipengaruhi oleh Johann Grobgebaure, Lewis Bayly, Jean de Labadie, dan Theophil. Tulisan Spener sendiri menunjukan penekanan pada transformasi pribadi melalui kelahiran kembali dan pembaruan spritual. Fokus pada pengabdian dan kesalehan.[2]

Masa pelayanan Spener dimulai ketika ia menjadi pendeta jemaat di Strasbourg. Dari Strasbourg Spener kemudian menjadi pengkhotbah dan guru di Frankfurt. Di Frankfrut Spener merasakan kedekatan engan suatu komunitas Kristiani bernama kaum labadis yang mendapat perlakuan kurang adil dari gereja Lutheran saat itu. Perlakuan kurang adil itu adalah menyuruh semua warga negeri Lutheran harus dibaptis supaya dianggap suci.[3] Hal inilah yang menyebabakan Spener ingin membeharui apa yang dilakuakan oleh gereja Lutheran karena usahanya itu maka pada tahun 1686 Spener mendapat perlawanan dari kaum Lutheran di Frankfurt sehingga membuatnya harus meninggalkan kota itu. Dari Franfurt Spener pindah ke Berlin dan menjadi pendeta di sana hingga tahun 1691, dan Spener meninggal pada tahun 1705 di Berlin.[4]

2.3.Latar Belakang Pembarauan Ajaran Gereja Yang Dilakukan Oleh Spener

Sekitar tahun 1677 di Darmstadt, istilah Pietisme muncul dan menjadi populer di kalangan gereja-gereja Lutheran. Kata pietisme dipergunakan sebagai ejekan terhadap kelompok-kelompok orang yang hidup saleh (Collegia Pietatis) yang artinya bukan kelompok-kelompok yang terlalu eksklusif (sendirian), yang pada waktu itu berkembang cepat dalam gereja-gereja Lutheran. Kesalehan mereka terlalu berlebihan dan dituduh farisi oleh masyarakat. Tetapi lama kelamaan konotasi (pemikiran) negatif dari kata itu mulai menghilang, bahkan Pietisme itu dijadikan sebagai tanda pengenal. Sejak tahun 1669, kelompok Collegia Pietatis pertama sekali didirikan oleh Spener, dalam rangka memberi arti dan memanfaatkan kehidupan orang-orang Kristen. Spener mengatakan “Daripada dalam seminggu anggota-anggota Jemaat hanya menghabiskan waktu mereka untuk bermabuk-mabukan, berjudi atau bermain kartu, maka lebih baik mereka memanfaatkan waktu itu untuk hal-hal yang membangun.” Spener membentuk kelompok-kelompok saleh (Collegia Pietatis) pada waktu itu dirasakan sebagai sebuah kebutuhan yang mendesak, sebab Jerman sedang dilanda kemerosotan moral yang dahsyat, akibat perang 30 tahun (1618-1648). Perang ini merupakan perang antara penganut-penganut Katolik Roma dan Reformasi. Inilah sebuah perang dengan latar belakang agama, tetapi ternyata menghancurkan semua nilai-nilai agama. Budaya manusia hancur, moral merosot, dan banyak gedung gereja yang ditutup. Akibat perang itu dalam semua bidang kehidupan ternyata sangat fatal. Banyak desa-desa yang musnah, rumah-rumah dan kebun dibakar. Penyakit merajalela, uang kehilangan nilainya, sadisme ditemukan di mana-mana, mabuk-mabukan dan pelacuran adalah hal yang biasa. Di tengah-tengahkemerosotan moral dan kemeralatan akibat Perang Tiga Puluh Tahun, Gereja-gereja Lutheran tidak mempunyai saran untuk mengisi keadaan itu.[5]

Khotbah-khotbah pada waktu itu sama sekali tidak cocok dengan kebutuhan orang. Isi khotbah hanya merupakan serangan-serangan terhadap sekte-sekte. Kadang-kadang khotbah tidak lebih dari pidato yang berapi-api, pengulangan kata atau permain kata, pertanyaan-pertanyaan retoris yang dangkal dan yang dikumpulkan Alkitab. Misalnya kita dapat memperhatikan sebuah khotbah pada tahun 1605 yang berbicara tentang : “Semua rambut di atas kepalamu telah dihitung”. Tema ini lalu dibagi atas 4 bagian yaitu : a. Asal-mula rambut. b. Pemeliharaan rambut yang benar. c. Daya tarik atau keindahan rambut. d. Bagaimana merawat rambut sebagai orang Kristen yang baik. Kesan yang timbul dari khotbah ini sangat kering dan sama sekali tidak mendarat atau menjawab masalah jemaat. Dalam keadaan seperti inilah Pietisme lahir dan berusaha menjawab keadaan, sejak tahun 1669. Kelompok pietis muncul pertama kali yang didirikan oleh spener. Pietisme lahir sebagai reaksi dari suasana gereja yang suam dan dari semangat dunia yang sudah merajalela di dalam masyarakat Kristen.[6] Orang- orang pietis menekankan pertobatan manusia sebagai hasil kelahiran kembali yang dikerjakan oleh kasih karunia Allah, merasa diri terdorong untuk menyampaikan injil kepada mereka yang belum mengenal keselamatan dalam Kristus.[7] Kelompok Pietisme ingin kembali pada kehangatan persaudaraan, pengalaman rohani dan persekutuan langsung pada Allah, kesederhanaan pemahaman atas Alkitab serta pemeliharaan nilai-nilai moral dan kesucian hidup.[8] Maka untuk mencapai tujuannya, kaum Pietis menekankan iman yang berpusat pada Alkitab bukan kepada ajaran gereja, pengalaman  dalam kehidupan kristiani (rasa berdosa, pengampunan, pertobatan, kesucian dan kasih di dalam persekutuan). Dan pengungkapan iman secara bebas melalui nyanyian, kesaksian dan semangat menginjili.[9]

2.4.Tujuan Dari Pembaruan Ajaran Gereja

Tujuan peitisme adalah untuk menyelesaikan reformasi abad ke-16 supaya tidak hanya ajaran yang di reformasikan, tetapi juga seluruh kehidupan baik pribadi maupun persekutuan dalam Kristen (Gereja, bahkan masyarakat), mencerminkan iman Kristen.[10] Tujuan peitisme adalah untuk menghidupkan kembali kehidupan iman dalam kalangan orang-orang protestan di Jerman yang telah menjadi suam karena kebekuan ajaran dan pengaruh semangat pencerahan.[11] Pietisme berusaha memberantas semangat yang suam itu dengan mengutamakan beberapa hal yang hendak membina kembali hidup rohani jemaat, yaitu kesalehan batin perseorangan, praktek kesalehan dalam hidup sehari-hari, akibat pendirian dan organisasi Pietisme yang berupa konventikal (perkumpulan/persekutuan).[12]

 

2.5. Kiprah Spener Dalam Pembaruan Ajaran Gereja

Philip Jakob Spener adalah seorang tokoh dan pelopor Pietisme. Ia lahir di Rapoltsweiler pada tahun 1635. Sejak kecil ia telah diserahkan ayahnya untuk pekerjaan gereja, ia hidup dalam lingkungan kesalehan.[13] Ia dididik untuk takut kepada Tuhan dan menjadi pendeta di Frankfurt pada tahun 1666 dan sewaktu disana ia menjadi leluhur atau pendiri utama Peitisme. Ia meninggalkan Frankfurt pada tahun 1686, ketika menjadi pendeta istana di Dresden. Dari sana ia pindah ke Berlin dan menjadi pendeta disana pada tahun 1691. Ia meninggal pada tahun 1705.[14] Pada pertengahan abab ke-17, ada yang tidak beres dalam Lutheranisme. Spener menekankan pentingnya penelahaan Alkitab, tidak cukup hanya memakai Alkitab untuk membuktikan benarnya ajaran Luteran, Roh kuduslah yang berbicara kepada hati kita melalui kitab suci dan menerapkannya kepada kita secara pribadi. Alkitab harus dibacakannya dan dikhotbahkan dengan cara beribadah, sehingga gaya hidup kita akan berubah. Spener memperkenalkan bentuk awal kelompok penelaan Alkitab dirumah untuk memajukan  kaum awam. Kaum awam dilibatkan dalam hal pelayanan gereja. Dalam bukunya Pia Desideria yang berarti cita-cita kesalehan.[15] Dalam bukunya ia menekankan bahwa ajaran gereja sudah cukup lengkap, tetapi jemaat harus diperbaharui kembali.[16] Dalam Pia Desideria yang diusulkan bahwa anggota-anggota gereja rakyat yang sungguh-sungguh mau hidup dari penelahan Alkitab, membentuk kelompok-kelompok sebagai gereja-gereja kecil yang dibentuk secara suka rela oleh orang-orang percaya. Dan juga untuk membangkitkan kehidupan gereja rakyat yang telah menjadi suam karena terlalu sibuk dengan hal-hal seperti tata gereja yang hanya memuaskan akal tetapi tidak menyentuh hati.[17] Pengaruh Pietisme saat itu luar biasa, ia menjadi kekuatan dalam gereja-gereja Luteran, khususnya di daerah-daerah seperti Wurttemberg di Jerman Selatan dan Norwegia.[18] Pada tahun 1670, Spener mendirikan sejenis asrama di lingkungan gerejanya ditempat para pendeta dan kaum awam dapat berkumpul bersama-sama untuk mempelajari Alkitab dari berdoa, serta saling membangun.[19] Spener juga mendorong para pastor menyampaikan khotbah yang menyerapkan kitab suci dalam kehidupan, mereka harus mengilhami dan memberi pengetahuan yang dapat dimengerti dan membangkitkan, dari pada hanya berceramaah, para pastor diharuskan memberi inspirasi kepada umat Tuhan.[20] Spener mengecam pemerintah untuk melakukan pembaharuan gereja, karena menurutnya akar kebejatan gereja terletak pada diri pendeta itu sendiri yang tidak memberi contoh yang baik. Para pendeta tidak berusaha memperbaiki gereja dan tidak membawa jemaat kepada suatu hubungan yang mesra dengan Allah. Lebih suka menekankan akal daripada hati. Sehingga ia mengusulkan enam usul :

·         Harus disediakan waktu yang lebih banyak untuk mendengar fiman Allah.

·          Harus mengajak anggota jemaat untuk mempraktikkan imamat am-Nya.

·         Iman Kristen harus di praktikkan.

·          Para teolog tidak boleh memakai kata-kata pahit terhadap lawannya.

·          Lembaga pendidikan teologi haruslah menjadi bengkel-bengkel Roh Kudus.

·          Khotbah-khotbah harus disusun dengan tujuan untuk membangkitkan iman pendengarnya supaya imannya menunjukkan buah-buah roh.

 

Pada tahun 1686, Spener diangkat menjadi pengkhotbah istana Pangeran John George III dari Saksen. Selama lima tahun ia tinggal di Dresden dan disinilah ia berkenalan dengan Francke. Pada tahun 1691 Spener menjadi pendeta jemaat di Berlin.[21] Menurut orang- orang pietisme, reformasi pertama yang di buat oleh Luther sebenarnya belum selesai, sebab tidak menyangkut segala bidang kehidupan. Oleh karena itu perlu reformasi yang kedua, yaitu pembaharuan kehidupan, untuk itulah Spener menulis Pia Desideria yaitu semacam kerangka yang harus diikuti dalam reformation pietatis pembaharuan itu dimulai dari bidang moral, karna dunia kurang bermoral, kurang disiplin dan kurang kebahagiaan. Kemungkinan pembaharuan lalu ditonjolkan oleh pietisme, dalam Pia Desideria, ditemukan sebuah nada yang optimis. Optimisme itu muncul berdasarkan janji Allah dalam kitab suci dan berdasarkan fakta bahwa pembaharuan itu pernah terjadi pada jemaat mula-mula. Keyakinan Spener bahwa sebuah masa yang baru akan datang di dalam gereja ternyata sangat membekas dihati murid-muridnya. Itulah sebabnya antara lain Francke membangun lembaga Halle, untuk dijadikan alat dalam mewujudkan harapan itu. Menurut Pietisme, Allah telah memberikan janji-Nya dengan melihat kepada janji Allah itu, sekarang bukan masanya untuk santai, akan tetapi orang Pietisme harus bertindak dan berkarya menyongsong masa depan itu. Dengan perkataan lain, kemungkinan itu ada di dalam tangan Allah, tetapi harus direalisir oleh gereja.

Pada tahun 1651 Spener masuk Universitas Strassburg, dan dididik oleh tokoh-tokoh Lutheran dan ortodoks yaitu : C. Dannhauer, J. Schmidt dan lain-lain. Tetapi sebenarnya tradisi Reformed atau (Calvinis) juga kuat di Strassburg. Disana Spener tertarik dengan hal-hal praktis yang dilihat Spener pada orang-orang Reformed. Walaupun Spener tidak menetap di Halle, tetapi gagasan Spenerlah yang berkembang disana. Gagasan Spener dapat ditemukan dalam karyanya Pia Desideria (1675) yang berisi sebuah program pembaharuan, menurut Spener pembaharuan itu pasti berhasil karena telah dijanjikan oleh Tuhan dan sama sekali tidak bergantung kepada kemampuan manusia. Pia Desideria terbagi atas 3 pokok penting :

·         Menyangkut kondisi korup gereja. Seluruh lapisan masyarakat dikecam oleh Spener. Spener mengecam raja-raja yang salah mempergunakan kekuasaan mereka, mengatur dan mengendalikan gereja sesuka hati (Caesero-Papism). Ia berpendapat harus ada pemisahan total antara gereja dan Negara.

·           Pia Desideria sebenarnya melukiskan tentang harapan perbaikan gereja yang sudah rusak yang harus diperbaiki, karena janji Allah sendiri dan bukan kemampuan manusia mengutip Roma 11: 25, 26.

·           Pia Desideria adalah usul-usul pembaharuan yang diajukan oleh Spener, kurang lebih ada 6 hal :

a.       Penggunaan Firman Allah secara ekstensif (2 Tim. 3:16)

b.      Imamat am orang percaya (semua orang Kristen adalah imam yang ditunjuk oleh Kristus dan diurapi Roh Kudus).

c.       Pengetahuan iman saja belum cukup, tetapi harus diwujudkan di dalam praktek.

d.      Bagaimanakah seharusnya sikap kita terhadap mereka yang tidak percaya, yaitu orang-orang yang belum mengenal Kristus.

e.       Usul untuk pendidikan calon-calon pendeta.

f.       Alat-alat yang dipakai Allah seperti Firman dan Sakramen, sebenarnya harus terarah kepada batin manusia.

Spener menulis program pembaharuan itu bukan maksudnya untuk memisahkan diri dari gereja. Collegia Pietatis tidak dimaksudkan untuk berdiri di samping gereja, tetapi di dalam gereja. Menurut Spener, walaupun gereja penuh dengan kelemahan-kelemahan, ia adalah tubuh Kristus yang perlu untuk diperbaharui atau diperbaiki.[22]

 

2.6. Dampak Dari Kiprah Spener Dalam Pembaruan Ajaran Gereja

Dampak Postif  pietisme adalah adanya pekabaran injil yang dilakukan dalam rangka harapan kedatangan kerajaan Allah, pekabaran Injil yang dilakukan bersifat oikumenis, dimana ajaran yang dipegang sesuai dengan Alkitab, pusat hidup adalah firman Allah dan setia kepada gereja. Dalam bagian pertama abad ke XVII, pietisme berkembang dengan pesat di Jerman. Di sana pietisme dikaui dan dihargai oleh Gereja resmi dan apat mempengaruhi segenap jemaat dengan roh Alkiab dan kesalehan yang murni. Dan dari hal ini semakin banyak jemaat yang merasakan perbaikan hidup serta semakin banyak jemaat yang hidup dalam iman, serta semangat mengikut segala kehidupan yang berkenan bagi Tuhan.[23]

2.7. Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini

Gereja bukan hanya sebagai tempat untuk memuji dan mengagungkan Tuhan, melainkan juga sebagai tempat untuk membangun persekutuan kasih diantara umat manusia. Gereja juga harus bisa dijadikan sebagai tempat perlindungan bagi umat manusia. Gereja harus turut memberikan perhatian kepada jemaat dengan  Membantu korban bencana alam,  mengikuti kegiatan amal bagi saudara-saudara kita yang miskin, cacat, terlantar, dan butuh kasih sayang  dan juga harus melakukan Persekutuan berarti rela berbagi kepada sesama dalam suatu perkumpulan. Sebagai orang beriman, kita senantiasa dipanggil untuk ikut dalam sebuah persekutuan untuk mempererat tali persaudaraan. Di dalam persekutuan inilah kita bisa menampakkan kehadiran Yesus Kristus. Tali persaudaraan antara kamu dengan umat yang lain bisa terjalin dengan Pengantaraan Kristus dalam Kuasa Roh Kudus-Nya. Banyak orang datang kepada Kristus melalui pekerjaan para pelayan Injil atau melalui uluran tangan kelompok-kelompok khusus. Tetapi, setelah mereka menjadi orang Kristen, mereka memerlukan suatu jemaat setempat untuk mengasuh dan membina mereka. Kelompok-kelompok pekabar Injil itu laksana perahu-perahu kecil yang dapat menghampiri cukup dekat untuk menembakkan seruit pada ikan paus. Tetapi perahu- perahu itu tidak dapat memproses lebih lanjut ikan paus itu; untuk memprosesnya diperlukan kapal besar yang mempunyai peralatan yang memadai. Sama seperti perahu-perahu kecil itu harus selalu kembali ke kapal yang lebih besar, demikian juga para pelayan Injil harus kembali kepada gereja dan peralatan rohaninya. Perseorangan yang membawa orang lain kepada Kristus juga membutuhkan pangkalan untuk menaungi dan mengasuh mereka. Walaupun kita datang kepada Kristus sendiri-sendiri, kita tumbuh sebagai anggota satu tubuh. Tanpa suatu wadah untuk pengasuhan, kita mudah diserang musuh.[24]

Jemaat memberikan makanan dan vitamin rohani yang hanya dapat diperoleh dalam kelompok yang lebih besar. Gereja adalah Stasiun Pusat tempat karunia dibagikan, penghiburan diberikan satu kepada yang lain, dan nasihat disampaikan. Kita bukan penyelam laut dalam secara rohani yang masing-masing memakai tabung oksigen sendiri yang dihubungkan dengan Allah. Allah telah merancang kita untuk saling membagi pengalaman dan saling memberi dorongan antara sesama orang Kristen. Tugas gereja adalah mencari karunia rohani dari setiap anggotanya supaya setiap orang mengetahui kasih karunia yang harus ia berikan kepada orang lain. Sayangnya, banyak pendeta dan kaum awam bertindak seakan-akan karunia-karunia rohani hanya dimiliki oleh para pekerja Kristen yang bekerja purna waktu. Setiap jemaat harus mengusahakan perkembangan dan pemanfaatan karunia rohani setiap anggotanya agar gereja dapat menerima berkat-berkat Allah. Di dalam jemaat, kita dapat menyatukan dana dan kemampuan kita untuk menjangkau orang lain agar datang kepada Kristus. Kita dapat berhubungan dengan orang Kristen lain yang sama melayani, entah itu kepada mahasiswa internasional, kepada anak-anak belasan tahun, kepada para tunawisma, atau dalam misi dunia. Misalnya, melayani dua puluh orang mahasiswa internasional sangat sulit untuk dikerjakan oleh seorang saja, tetapi sekelompok orang dari satu gereja dapat bekerjasama dengan mudah merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan-kegiatan.[25]

2.8. Analisa Penyeminar

Gereja adalah sebuah persekutuan yang hadir di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat secara universal. Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, Gereja memiliki tugas pewartaan dan berperan aktif untuk selalu memberikan nilai-nilai positif bagi umatnya. Nilai-nilai positifnya sudah pasti masih sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Disini, Gereja dituntut untuk memperlihatkan siapa dan bagaimana karakteristik Tuhan Yesus itu sendiri.Kehadiran sebuah gereja ke dunia ini adalah mencari dan memberitakan kabar baik dan kabar sukacita kepada orang-orang yang berdosa, gereja datang bukan mecari orang yang benar melainkan melakukan pelayanan kepada orang yang berdosa. Akan tetapi sering kali gereja tidak lagi fokus kepada tugas mereka yang sebenarnya, sama seperti apa yang terjadi pada jemaat pada konteks yang kita bahas, di tengah begitu banyak pergumulan dan penderitaan yang dihadapi oleh jemaat pada saat itu gereja tidak mampu memberikan solusi dan juga tidak turut memberikan perhatian kepada jemaat, gereja hanya berfokus pada ajaran peraturan gereja, tetapi tidak memberikan perhatian kepada kehidupan jemaat. Inilah yang membuat Spener berkiprah dan dari kiprah tersebut dia memberikan solusi serta menjawab pergumulan yang ada pada jemaat saat itu, Spener melihat semua gereja tidak lagi memberikan jawaban kepada jemaat sesuai dengan konteks yang ada, dari hal itu banyak kerusakan yang terjadi kepada jemaat baik dari segi iman, moral dan juga ekonomi. Oleh sebab itu kami sebagai penyeminar memberikan implementasi kepada geraja masa kini untuk selalu membuat peraturan ajaran gereja yang memperhatikan jemaatnya, gereja harus mampu menjawab seluruh pergumulan yang ada pada jemaat saat ini, gereja jangan hanya berdiam diri, dan memberikan peraturan gereja yang mempersulit jemaat. Ketika ada warga gereja yang tersesat ini adalah tugas gereja dalam memberikan penaggulangan bukan menjas bahwa jemaat itu tidak pantas untuk di terima lagi dalam gereja, dan sering kali apa yang terjadi dalam kehidupan jemaat gereja langsung berfokus pada suatu aturan yang diterapkan dalam sebuah gereja. Gereja masa kini harus berani memberikan pengertian kepada jemaat serta memberikan pertolongan kepada seluruh jemaat, agar jemaat tidak merasa bahwa gereja hanya berfokus pada suatu atauran yang berlaku, akan tetapi jika gereja memberikan dukungan serta perhatian kepada jemaat maka jemaat juga akan merasakan bagimana kehadiran gereja itu begitu penting dalam kehidupan mereka.

III.             Kesimpulan

Spener lahir di Elzas pada 13 Januari 1635. Setelah dengan waktu yang singkat bersekolah di sekolah tata bahasa Calmor dia pergi ke Starsbourg pada tahun 1651, dimana dia mengabdikan dirinya untuk mempelajari filologi, sejarah dan filsafat dan memenangkan gelar masternya (1653) melalui perselisihan melawan filsafat Thomas Hobbes. Dia kemudian menjadi tutor pribadi untuk pangeran Christian dan Charles serta dia mengajar di universitas tentang filologi dan sejarah. Dari 1659 hingga 1662 ia mengunjungi universitas Basel, Tubingen dan Jenewa serta memulai studi tentang lambang, yang ia tekunin sepanjang hidupnya. Spener melakukan kiprahnya pada saat itu karena dia melihat sebab Jerman sedang dilanda kemerosotan moral yang dahsyat, akibat perang 30 tahun (1618-1648). Perang ini merupakan perang antara penganut-penganut Katolik Roma dan Reformasi. Inilah sebuah perang dengan latar belakang agama, tetapi ternyata menghancurkan semua nilai-nilai agama. Budaya manusia hancur, moral merosot, dan banyak gedung gereja yang ditutup. Akibat perang itu dalam semua bidang kehidupan ternyata sangat fatal. Banyak desa-desa yang musnah, rumah-rumah dan kebun dibakar. Penyakit merajalela, uang kehilangan nilainya, sadisme ditemukan di mana-mana, mabuk-mabukan dan pelacuran adalah hal yang biasa. Di tengah-tengahkemerosotan moral dan kemeralatan akibat Perang Tiga Puluh Tahun, Gereja-gereja Lutheran tidak mempunyai saran untuk mengisi keadaan itu.

IV.             Daftar Pustaka

Culver  E.  Jonathan , Sejarah Gereja Umum, Bandung: Biji Sesawi, 2013

Curtis  Keeneth, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013

Daiton  B. Martin , Gereja dan  Bergereja Apa dan Bagaimana, Jakarta: YKBK, 1999

End  Den Van Thomas, Harta Dalam Bejana,Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009

 Enklarr . I.H & Berkhof. H, Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010

Hale  Leonard, Jujur Terhadap Pietisme, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996

Jonge  De C.   & Aritonang  Jan S.  , Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009

Jonge De  Christian, Pembimbing Ke Dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015

Lane  Tony, Runtur Pijar, Tokoh dan Pemikiran Kristen Dari Masa ke Masa, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006

S. Jans & Jonge  De Christian , Apa Dan Bagaimana Gereja, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1993

Sihar  Jan, Garis Besar Sejarah Reformasi, Bandung: Jurnal Info Media, 2007

Wellem  F. D, Riwayat Hidup Singat Tokoh-tokoh Dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia,2011

Wellem. F. D, Kamus Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006

Wikipedia. Org / Philip Spener, Diakses pada Jumat 18 September 2020, Pukul 15.00.



[1] Martin B. Daiton, Gereja dan  Bergereja Apa dan Bagaimana, (Jakarta: YKBK, 1999), 5-6.

[2] Wikipedia. Org / Philip Spener, Diakses pada Jumat 18 September 2020, Pukul 15.00.

[3] H. Berkhof, H. Enklaar, Sejarah Gereja,(Jakarta: BPK Gunung Mulia), 246-247.

[4] Thomas van den End, Harta Dalam Bejana,(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009),232-235.

[5]  Leonard Hale, Jujur Terhadap Pietisme, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 4-7.

[6] H. Berkhof & I.H. Enklarr, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010), 244.

[7] Leonard Hale, Jujur Terhadap Pietisme, 4.

[8] Jan S. Aritonang  & C. de Jonge, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 16.

[9] Jan Sihar, Garis Besar Sejarah Reformasi, (Bandung: Jurnal Info Media, 2007), 81.

[10] C. De Jonge, Pembimbing Ke Dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 78.

[11] F. D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 365.

[12] H. Berkhof & I.H. Enklarr, Sejarah Gereja, 244-245.

[13] Leonard Hale, Jujur Terhadap Pietisme, 18.

[14] Tony Lane, Runtur Pijar, Tokoh dan Pemikiran Kristen Dari Masa ke Masa, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 142.

[15] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singat Tokoh-tokoh Dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2011), 172.

[16] H. Berkhof & I.H. Enklarr, Sejarah Gereja, 246.

[17] Christian De Jonge & Jan S, Apa Dan Bagaimana Gereja, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1993), 47.

[18] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, (Bandung: Biji Sesawi, 2013), 306.

[19] Keeneth Curtis, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013),65-68.

[20] F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singat Tokoh-tokoh Dalam Sejarah Gereja, 172-173.

[21] Thomas van den End, Harta Dalam Bejana, 236.

[22] Leonard Hale, Jujur Terhadap Pietisme, 66-73

[23] Leonard Hale, Jujur Terhadap Pietisme, 73

[24] Christian De Jonge & Jan S, Apa Dan Bagaimana Gereja, 78-79

[25] Martin B. Daiton, Gereja dan  Bergereja Apa dan Bagaimana, (Jakarta: YKBK, 1999), 50-51.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar