Karakteristik Kenabian dalam Perjanjian Lama
(Tinjauan Dogmatika, Ilmu Agama-agama, dan Agama Suku dan diperhadapkan dengan Fungsi Suara Kenabian Gereja Masa Kini)
I. Latar Belakang Masalah
Nabi adalah seorang yang menyampaikan Firman Tuhan, biasa disebut dengan “Nubuat”. Dan ketika kita bicara tentang Nabi, maka kita juga akan membicarakan tentang “Bernubuat”. Di dalam Perjanjian Lama tugas mereka adalah mengamati apa yang terjadi di sekeliling mereka lalu menyampaikan Sabda Allah, baik itu berupa kutuk atau berkat atau bisa saja tentang pengaharapan dalam pembaharauan “pertobatan”. Nabi diutus untuk tetap mewartakan pesan kenabian dari Tuhan. Ia harus bersuara entah didengar atau tidak. Seorang Nabi menjadi tanda dan memastikan Suara Allah tetap eksis dan tidak pernah lenyap. Nabi dan suara kenabian selalu dibutuhkan sebagai suluh ditengah kegelapan. Sebagai penuntun jalan menuju kehidupan dan keselamatan sejati. Paulus menegaskan bahwa untuk menjadi pewarta Injil suara kenabian, harus cermat mengenali godaan terbesar dari iblis yang mau mengecoh dan membelokkan pesan atau mengacaukan perwartaan Injil. Motivasi dari suara kenabian juga berfokus kepada Suara Allah itu sendiri. Dalam Konteks gereja masa kini bahwa tugas terpenting Gereja di segala zaman adalah meneruskan karya Allah sebagai nabi, imam, dan raja (atau gembala). Dan hal itu ditegaskan dalam “tri-tugas” yang tidak hanya merupakan tugas bagi Gereja, sebagai sebuah komunitas umat beriman secara keseluruhan, melainkan juga bagi setiap orang Kristen, sebagai individu yang telah dibaptis. Oleh sebab itu penyeminar merasa ini penting untuk di bahas. Dengan menjawab persoalan bahwa Bagaimanakah pada zaman sekarang ini fungsi suara kenabian itu semestinya kita lakukan? Harapan penyeminar pemaparan ini dapat membawa kita kepada pemahaman yang lebih mendalam mengenai karakteristik kenabian dalam perjanjian lama.
II. Pembahasan
2.1. Pengertin Nabi Secara Umum
Nabi dalam bahasa inggris artinya “Prophet”, Dengan kata lain Profetis ialah berkenaan dengan kenabian atau ramalan.[1] Kata Profetis berasal dari bahasa Inggris yaitu “Prophetical” artinya bermakna kenabian atau didalamnya terdapat sifat kenabian, dan sifat tersebut tercantum dalam tugas dan panggilan nabi.[2] Dipanggil dalam artian yaitu melakukan tugas-tugas tertentu. Salah satu tugas nabi yang dijelaskan oleh William A. Dryness ialah membawa berita pembahasan yang menyangkut tentang pembebasan dari struktur keagamaan, sosial dan politik dalam kehidupan bangsa Israel. Berkaitan dengan hal itu juga sifat nabi mempunyai ciri sebagai manusia yang ideal secara spiritual-individual, tetapi juga menjadi pelopor perubahan, membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan penindasan.[3] Ada tiga istilah khusus yang penting dalam menyebut nabi. Pertama adalah nabhi’ yang umumnya diterjemahkan menjadi “prophet” dalam bahasa Inggris atai “nabi” dalam bahasa Indonesia. Kata ini dipakai hampir tiga ratus kali dalam Perjanjian Lama hanya dalam bentuk kata bendanya saja.[4]
2.2. Pengertian Nabi dalam PL
Menurut kamus teologi Nabi adalah orang “oknum” yang di pahami di pimpin dalam Roh Allah untuk berbicara dan bertindak dengan cara tertentu “sesuai kehendak Allah”. Sebab mereka adalah orang-orang yang dipersiapkan serta dipakai oleh Allah untuk mampu menyampaikan sabda Allah kepada umat-Nya.[5] Dalam Perjanjian Lama, kata yang digunakan untuk nabi ialah נַבִיא (navi’) yang memiliki makna “yang dipanggil-seseorang yang dipanggil”. Sebagai alat “utusan” Allah untuk menyampaikan sabda Allah kepada umat-Nya.[6] Dalam bukunya Dainton juga menambahkan bahwa nabi adalah tokoh pilihan Allah yang diwajibkan untuk menyampaikan amanat Allah baik itu kepada raja dan rakyat (umat-Nya) agar mereka tahu apa itu kehendak Allah bagi mereka. Dalam hal ini nabi juga dapat dikatakan sebagai juru bicara (JUBIR) Allah yang memberitakan nasehat,peringatan,berkat dan kutuk yang tidak hanya melingkupi masalah agama tetapi juga tatanan ataupun kebijakan sosial.[7] Dan Leon J.Wood juga menuliskan bahwa secara etimologis kata nabi bermakna orang yang dipanggil dan diutus oleh TUHAN dengan suatu tugas tertentu. Dalam istilah teologis nabi juga disebut dengan Legatus Divinus.[8] Yaitu seorang yang diutus oleh TUHAN.[9] Yang boleh juga dikatakan bahwa seorang nabi adalah yang mewartakan,pembawa berita bahkan penerjemah (Interpretator).[10] Dalam PL nabi adalah seorang yang berbicara atas nama Allah. Dimana para nabi yang adalah juru bicara Allah, yang menyampaikan berbagai pandangan, reaksi, tujuan, dan perkataan Allah sendiri. Singkatnya, agenda atau program Allah, disampaikan melalui mulut para nabi. Para nabi disebut dalam PL dengan beberapa gelar yang berbeda-bedaa. Yang sering dipergunakan adalah nabi.[11]
Dalam Bahasa Yunani disebut “Prophetes” yang terdiri dari dua kata pro yang berarti terbuka atau keluar dan phemi yang berarti berkata, menunjukkan atau membuat orang menjadi tahu, mengucapkan atau mengatakan. Kemudian dalam Bahasa Ibrani ada tiga kata juga yang menunjukkan nabi, yaitu nabhi, ro’eh, dan chozen. Sesuai dengan Keluaran 7:1 dan Ulangan 18:18 bahwa arti dari nabhi adalah seorang yang datang dengan berita dari Allah kepada umat-Nya. Sedangkan ro’eh dan chozen menunjukkan orang yang mendapatkan wahyu Allah atau orang yang mendapatkan pengilhaman khusus wahyu Allah. Jadi, ada kalanya “nabi” disebut juga “Manusia dari Allah” (Man of God). “Utusan Allah” (Messanger of God) dan “pengawas” (Watch Man). Istilah-istilah ini menunjukkan bahwa nabi itu melayani Tuhan secara khusus, dan mendapatkan perhatian khusus dari umat-Nya.[12]
2.3. Sekilas Latar Belakang Kenabian di Israel
Jauh sebelum Isarel lahir, bangsa-bangsa di Timur tengah Kuna pada umunya sudah mengenal orang-orang yang berjabatan nabi. Missal di Siria jabatan nabi dikenal sekitar abad ke-23 sM. Juga sekitar tahun 1700 sM, nabi juga dipahami telah memperoleh kepercayaan dari Ilah dan mempunyai hubungan melalui tanda-tanda (mimpi,penglihatan,pengalaman ekstatis (1 Sam.10:5; 19:22-24; 1 Raj. 22:10;18:46; 2 Raj. 8:7)). Dan itu disampaikan sebagai nubuat.[13] Dalam P.L dipercaya bahwa nabi yang pertama adalah Musa yang di utus oleh Allah dengan salah satu tugas yaitu meyampaikan hukum taurat (torah), yang merupakan dasar dari segala nubuat-nubuat pada kemudian hari.[14] Singkat kata, memasuki abad Dinasti Kerajaan Isarel peranan nabi mulai sangat dirasakan, seperti nabi Natan dalam masa kepemipinan Raja Daud, yang menyampaikan berita dari Yahwe berupa berkat dan kutuk kepada Daud.[15] Dengan demikian mulailah pada zaman kerajaan selanjutnya, nabi-nabi memeperoleh kedudukan yang penting dalam kerajaan Yesuralem, yang juga memiliki tugas untuk menyampaikan kritik terhadap sikap raja dan bangsa Israel.[16]
Di Israel Kenabian merupakan suatu fenomena yang berjalan terus menerus secara berkesinambungan serta menjadi suatu fenomena agamani di sepanjang sejarah dunia.[17] Dalam bahasa Ibrani nabi biasanya digunakan untuk menyebutkan beberapa jenis orang berbeda, yang memainkan peranan yang berlainan dalam kehidupan agama Israel, baik yang tampil secara berkelompok maupun perorangan. Dan jenis-jenis orang itu adalah para pelihat dan para nabi:[18]
a. Pelihat-pelihat: orang-orang yang mampu melihat dan menafsirkan kebenaran tentang masa lampau, masa kini dan masa depan, dan pada umumnya mereka memperoleh bayaran tertentu untuk jasa mereka (Bil.27:7; 1 Sam.9:6-8). Yang dimana mereka diharapkan memberikan jawaban atas persoalan-persoalan sehari-hari, dan khususnya meramal masa depan. Pengetahuan mereka yang mendalam dan yang khusus itu adalah pemberian Allah (1 Sam 3:15). Jika di suatu saat tidak terdapat seorang penglihat, maka Isarel percaya bahwa itulah tanda bahwa Allah tidak senang terhadap mereka (1 Sam 3:1; 28:6). Oleh karena kebenaran yang disampaikan oleh mereka atas dorongan atau penyataan Allah, maka para para pelihat itu disegani di Israel.
b. Rombongan Nabi: Mereka adalah kelompok orang yang biasanya hidup bersama-sama di suatu tempat ibadah sepeti di Gilgal dan Gibea (2 Raj.4:38; 2 Raj. 2:5; 1 Sam 10:10). Dan mereka juga menegaskan bahwa mereka dapat menyampaikan suat u pesan yang mereka terima dari Allah sebagai pesan yang benar (1 Raj.22:6). Namun, mereka agaknya kurang disegani, sebab ada juga sebagian dari mereka yang berpura-pura memperoleh ilham dari Allah, bernubuat dengan tujuan memperoleh bayaran dari orang-orang yang memerlukan nubuat-nubuatnya (Yes. 28:7; Yer. 5:31; 6:31; lih. Ul. 18:20)
c. Nabi-nabi Perseorangan: Nabi-nabi perseorangan ini tampaknya lebih cocok dengan sebutan nabi atau “nabi Allah”. Misalnya, Natan, Elia, Yesaya, Yehezkiel, Hagai, Malaekhi, Elisa dsb. Dan mereka ini sangat berperan penting ketika Israel telah ada raja-raja yang terpilih dan diurapi. Yang diharapkan mampu memimpin bangsa Israel untuk beribadah kepada Allah. Namun sering sekali para raja mengabaikan tanggung jawab mereka dan menyalah gunakan kekuasaan mereka untuk kesenangan dan keuntungan pribadi. Daalam keadaan seperti ini maka para nabi sebagai jurubicara Allah, atas nama Allah, mengecam raja-raja yang melupakan tanggung jawabnya itu dan menunjukkan apa yanag harus dilakukan kepada mereka menurut kehendak Allah. Artinya para nabi bertindak sebagai pembimbing dan penasehat raja. Dan fungsi yang paling penting dari nabi adalah mempelajari apa kehendak Allah bagi umat-Nya dan memperingatkan ataupun mendorong umat Allah sezamannya sesuai dengan situasi.
2.4. Ciri-ciri dan Sikap Seorang Nabi
Adapun yang menjadi ciri dan sikap seorang nabi yang di kehendaki oleh Allah adalah sebagai berikut ini :
1. Tradisi kenabian mulai diantisipasi oleh Musa melalui ketujuh syarat yang menjadi ciri seorang nabi: berdarah Israel (Ulangan 18:15), dibangkitkan oleh Allah (Ulangan 18:18), otoritasnya berdasarkan nama Allah(Ulangan 18:19), menjadi penggembala yang baik bagi jemaat Allah (Ulangan 18:15;Kel.32), nubuat dan pelayanannya dapat diverifikasi (Ulangan 18:22).[19]
2. Seperti Allah, nabi sangat mengasihi umat Allah, yang menginginkan yang terbaik dari Allah untuk mereka (Yeh.18:23), yang artinya amanat ataupun sabda Allah yang disampaikan bukan hanya tentang peringatan “kutuk” tetapi juga kata-kata pengharapan dan penghiburan.[20]
3. Seorang nabi sangat peka terhadap dosa “kejahatan” (Yer.2:12-13,19).[21]
4. Seorang nabi memiliki sikap sabar tetapi tidak kenal kompromi.[22]
5. Menyampaikan sabda “kuasa Allah” dengan perumpamaan-perumpamaan (2 Sam.12) atau dengan perbuatan-perbuatan simbolis (1 Raj.22:11; 2 Raj.13:14).[23]
2.5. Peran/Fungsi Nabi Dalam Perjanjian Lama
Seorang manusia dipanggil untuk mewakili pikiran-pikiran Allah, untuk melambangkannya dalam jati dirinya. Dan pelayanan nubuatan adalah suatu fungsi yaitu menjaga supaya segala sesuatu berkaitan dengan pikiran “kehendak” Allah dengan tuntunan-Nya dan campur tangan Allah.[24] Dan berbicara tentang fungsi/peranan nabi sudah ada sejak dalam Perjanjian Lama kita bisa melihat orang-orang seperti Abraham (Kejadian 20:7), Yakub (Kejadian 49), Musa (Ulangan 18:15), Samuel (1Samuel 3:20), Natan (2Samuel 12:25), sudah memiliki fungsi untuk bernubuat, namun secara peran kenabian, posisi mereka tidak terlalu menonjol, sehingga kita sulit mengenali mereka dengan jabatan nabi. Mereka dijuluki proto-prophets karena sudah tersimpan bibit-bibit kenabian melalui peran mereka di dalam sejarah. Setelah itu kita mendapati sosok Samuel yang menjembatani era hakim dan raja sebagai role model bagi fungsi dan jabatan nabi yang akan datang.
Peran nabi sendiri mulai menjadi permanen dan penting dalam peta sosial-politik serta kondisi spiritual bangsa Israel sejak zaman Elia dan Elisa. Figur Elia dalam melakukan kritik kehidupan sosial menjadi contoh bagi nabi-nabi setelahnya. Yang kita kenal dengan istilah writing prophets, dan seluruh nubuat para nabi mulai secara sistematik dibukukan. Sebelumnya, nubuat-nubuat hanya tersebar dalam konteks cerita narasi yang dikutip oleh editor kitab tersebut. Dalam konteks writing prophets, kita mengenali pembagian major prophets (nabi-nabi kecil) dan minor prophets (nabi-nabi besar). Pembagian besar dan kecil ini tidak mengindikasikan perbedaan kuasa maupun nilai pentingnya melainkan hanyalah pada panjang kitab. Pembagian seperti ini mengikuti prinsip kanon tanakh (Alkitab tradisi Ibrani), di mana dalam bagian nevi’im, kedua belas nabi kecil (Trei Asar) dikelompokkan menjadi satu sekalipun tidak ada relasi kronologis. Setelah mereka menuliskan nubuat mereka, tulisan-tulisan mereka, kemudian terus-menerus disalin dalam papirus maupun gulungan kulit oleh para imam setelah mereka.[25] Seorang nabi juga harus terus menuntun umat Allah untuk hidup kudus dan saleh di hadapan-Nya. Dan memperlihatkan ataupun menyatakan dosa mereka secara gambling dari semua bidang kehidupan (politik,ketidak adilan, kejahatan, pemerasan termasuk juga itu dengan melanggar perjanjian “perintah” Allah) dsb. Dan dengan kata lain dapat kita katakan, bahwa nubuat selalu berkaitan dengan kalakuan manusia. Terkhususnya untuk memebrikan penghiburan dan pengharapan di tengah kesengsaraan, sehingga umat dapat menunggu pembebasan dan damai sejahtera.[26]
2.6. Proses Pemilihan Nabi dalam Perjanjian Lama
Dalam PL, pemanggilan nabi sebagai hamba Tuhan adalah:[27]
a. Allah mendatangi orangNya, serta menyatakan diri-Nya dengan perkataan maupun dengan penglihatan, untuk memberitahukan bahwa ia bertindak, dan sebabnya mengapa ia bertindak.
b. Allah mempercayakan firman-Nya kepada para nabi, yakni dengan menyuruh mengalihbahasakan serta menyampaikan kepada umat yang harus mengetahuinya.
c. Allah mencukupi ketidak-mampuan para nabi, biar dengan pemberian rohNya yang kudus, dengan janji penyertaanNya atau dengan lain-lain jenis perlengkapan.
Panggilan Tuhan kepada seseorang untuk menjadi nabi sering diberikan bersamaan dengan suatu peristiwa luar biasa untuk membantu menyadarkan nabi itu akan keotentikannya. Musa dipanggil ketika menyaksikan semak-semak secara ajaib, Yesaya mendapat penglihatan akan Tuhan yang tinggi menjulang di dalam Bait Allah ketika dia menerima pangilannya, Yehezkiel disuruh memakan gulungan Alkitab pada waktu dia dipanggil.[28] Panggilan untuk menjadi nabi sering kali juga meliputi beberapa aspek persiapan bagi pekerjaan yang akan datang. Musa dibekali dengana beberapa tanda untuk menunjukkan kekuasaannya, dan didampingi oleh Harun abangnya sendiri sebagai juru bicaranya. Bibir Yesaya disucikan dengan bara api yang diambil langsung dari atas mezbah dan disentuhkan pada bibirnya. Yehezkiel, setelah memakan gulungan Kitab, secara simbolik telah dipenuhi oleh Firman Tuhan sehinga dapat mewartakannya secara efektif. Seorang nabi sering menerima tugas berat, ia harus merintis jalan yang sama sekali baru dibandingkan sebelumnya, meskipun Tuhan memberinya petunjuk tentang pekerjaan yang harus dilakukan dan jalan yang harus ditempuh, sering kali ia masih menerima banyak tantangan di jalan itu. Tugasnya dapat membawanya kepada bahaya besar atau kehormatan luar biasa. Tindakan pertama Samuel sebagai nabi yang baru dipanggil Tuhan adalah memberitahukan kepada Eli, sang imam besar, bahwa keluarganya telah ditolak Tuhan. Tentu ini tugas berat bagi Samuel. Kelak Samuel harus mengurapi Raja pertama Israel, Saul, dan setelah itu dia juga harus memberitahukan kepadanya bahwa keluarganya telah ditolak Tuhan.[29] Kemudian ia harus juga mengurapi raja Israel yang kedua, Raja Daud yang agung. Suatu saat Nabi Natan diperintah Tuhan untuk menegur Daud karena dosanya dengan Betsyeba, sebuah tantangan berat menghadapi raja terbesar ketika itu, tetapi Natan melakukannya. Tiga tahun kemudian Nabi Gad harus menegur dan memberikan tiga pilihan hukuman kepada Raja Daud karena dosanya melakukan sensus. Nabi Ahia pertama-tama harus menjanjikan kerajaan Israel yang baru kepada Yerobeam dan kemudian harus mengatakan kepadanya tatkala kerakjaan akan diambil darinya. Seorang “abdi Alah” diutus untuk menegur Yerobeam karena mezbah palsu yang didirikannya di Betel. Elia memberi peringatan akan adanya kekeringan dan kelaparan dan menyelenggarakan suatu kontes spektakuler di Gunung Karmel. Elisa memberitahukan kepada Hazael bahwa dia akan menjadi raja atas Siria, dan menangis ketika mengatakannya karena dia tahu bahwa orang ini akan mendatangkan malapetaka kepada Israel. Yunus diutus ke kota Niniwe yang asing dan menakutkan untuk menyerukan pertobatan.[30]
Semua ini menunjukkan bahwa orang-orang yang menjadi nabi haruslah orang-orang yang benar-benar istimewa, mempunyai watak yang menonjol, otak yang cemerlang dan jiwa yang berani. Mereka mempunyai sifat-sifat tersebut secara alami, dan setelah menyerahkan diri kepada Tuhan, mereka akan menjadi jauh lebih hebat karena tugas dan perlengkapan khusus yang dipercayakan kepada mereka. Para nabi menjadi tokoh raksasa bagi bangsa Israel, pembentuk pandangan umum, pemimpin pada masa kegelapan, orang yang dibedakan dari orang lain di sekitar mereka, baik diantara bangsa Israel maupun bangsa-bangsa lain pada zaman itu.
2.7. Karakteristik Kenabian dalam Perjanjian Lama
Ada banyak nabi dalam Perjanjian Lama sesuai dengan zamannya. Dari beberapa kiprah nabi dalam Perjajian Lama maka dapat dilihat bagaimana karakteristik Kenabian yang ada pada seorang nabi dalam melakukan tugas kenabiannya.
2.7.1. Nabi Berperan dalam Keadilan
Sebagai seorang gembala yang dipilih Allah, Amos bertugas untuk mewartakan tanda-tanda penghakiman dan bahwa kesudahan Kerajaan Utara segera datang. Ia mewartakan pengadilan yang amat keras dan kuat bagi raja dan bagi umat Israel, bahwa tanah mereka akan hilang, umat akan diusir dan para pemimpin akan hancur karena perang. Ia menekankan wibawa kekuasaan dan kasih Allah yang harus dinyatakan bagi kehidupan bersama dalam kasih dan keadilan, terutama bagi mereka yang tersisih dan tertindas. Amos menghubungkan ketidakadilan (Amos 1-2) yang terjadi di sekelilingnya dengan kecenderungan memperkaya diri dan mengabaikan perintah Allah untuk memerhatikan kepentingan bersama. Amos juga menyampaikan kritik, peringatan dan ancaman terhadap kebiasaan hidup masyarakat yang hanya mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dan tidak mengingat karya kasih Allah terhadap mereka. Dalam hal keagamaan juga, Amos menyampaikan kritiknya bahwa ibadat mereka tidak akan berkenan jika tidak didasari sikap hati bertobat dan iman yang hidup, serta tercermin dalam kehidupan manusia dengan sesamanya. Sebab, Allah mengerjakan keselamatan tidak hanya bagi Israel tetapi juga bagi segala bangsa. Selain itu, salah satu yang menarik dalam pewartaan Amos ialah hilangnya peringatan terhadap penghormatan dewa/dewi, yang menjadi ciri khas kritik nabi-nabi sezamannya. Sehingga, Allah diakui sebagai Allah yang universal, Tuhan yang Esa.[31] Dalam Kitab Amos banyak unsur dari hukum Allah yang terkandung dalam pemberitaannya, diantaranya perhatian terhadap yang miskin dan kekurangan, pelaksanaan keadilan, penggunaan timbangan yang benar dalam perdagangan, dan terutama kewajiban untuk menyembah Allah saja.[32]
2.7.2. Nabi yang Setia dan Taat Kepada Tuhan
Elia adalah seorang nabi di dalam Kerajaan Israel Utara pada zaman pemerintahan Raja Ahab, Ahazia, dan Yoram pada sekitar abad ke-IX sM.[33] Dan Elia adalah seorang yang berasal dari Tishbe dari wiayah Gilead (1 Raja-raja 17:1). Pengenalan tentang dirinya sangat sedikit informasi yang didapatkankan, baik itu tentang keturunan, pendidikan atau latar belakang umum. Yang menarik adalah arti dari nama Elia dalam bahasa Ibrani eliyyahu atau eliyya yaitu “Ya Tuhan ku adalah Yehuwa”. Tisbhe adalah kota kelahirannya yang terletak di Galilea Utara tepatnya di Gilead sebelah timur sungai Yordan. Daerah itu di sebutkan sebagai daerah yang terbelakang dan Gilead juga jauh dari pusat-pusat keagamaan yang dekaden pada hari itu. Dari hal ini juga membuat Elia memiliki sikap yang individualitas yang tidak mudah terpengaruh dan kuat sebagai karakter sejatinya.[34] Ia juga termasuk tokoh terkemuka dalam sejarah Israel. Yang dimana keunggulannya Nampak dalam pembangunan agama.[35] Dan Elia adalah teladan dalam iman dan pelayanan, yang berdiri kukuh seperti batu karang menahan gelombang. Elia juga menjadi contoh cara Allah mempersiapkan bentara-Nya yang akan bekerja di ladang-Nya.[36] Sebab menurut kitab 1 Raja-raja, ia adalah nabi yang memenangkan Yahweh melawan dewa Baal.[37] Dalam bebarapa banyak document seperti buku tidak banyak menuliskan tentang latar belakang dari tokoh ini, namun pada bagian ini kita perhatikan 4 hal yang menyangkut dirinya :
a. Pokok utama dalam pelayanan Nabi Elia ialah pembuktian bahwa Allah adalah Allah yang hidup. Dengan berani dan penuh gaya Elia memproklamirkan hal ini sebagai dakta dan mutlak benar.[38] Dan dari kehidupannya sehari-hari banyak orang mengakui bahwa ia berwatak agung. Ia bukan orang kota tetapi berasal dari padang belantara. Ia bisa mengembara, gemar naik turun bukit dan bertualang di padang belantara negeri perbatasan. Wajahnya hitam kasar, berkulit hitam dan bertubuh kurus,dengan mata cekung memakai pakaian dari kulit kambing.
b. Adapun 3 sifat yang mencolok darinya ialah; berani,beriman dan bersemangat. Dia adalah “Marthin Luther” Israel. (Peristiwa gunung Karmel).
c. Imannya lah yang membuat ia menjadi berani. Hal itu terbukti atas peritiwa pertama kali ia memberitakan kabar kutuk bagi Raja dan Bangsa Israel (1 Raj. 17:1)
d. Ia adalah nabi yang bersemangat, “Aku berkerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam” (1 Raj. 19:10).[39]
Nabi Elia hidup pada zaman Raja Ahab. Ia berusaha supaya raja dan bangsa Israel mennggalkan penyembahan berhala. Sebab itu Elia berdoa supaya jangan turun hujan. Yang menyebabkan kelaparan menimpa, sebab embun dan hujan tidak turun dalam 31/2 tahun. Selama itu Elia bersembunyi di sungai Kerit, dimana melalui burung gagak Allah memebrikannya makanan. Sembari bersembunyi dari kemurkahan Raja Ahab, atas kutukan yang diberikan oleh Elia dalam kerajaannya. Setelah kering air sungai itu Tuhan memindahkan Elia ke Sarfat. Dan disana ia menumpang dirumah salah seorang janda yang saleh. Yang mau memberikan makanannya yang terakhir kepada Elia, sebab ia percaya bahwa Allah pasti memelihara dia. Dan Allah mendengar hal itu dan melipatgandakan makanan mereka sehingga mereka tidak kekurangan. Pada masa ini ada satu mukzijat yang dibuat oleh Elia melalui pengizinan Allah yaitu membangkitkan anak laki-laki dari Janda saleh itu, melalui doa permohonannya kepada Allah (1 Raj.17).[40]
Dari kiasan kisah tersebut mau menyatakan bahwa konteks pada saat itu Dewa Baal itu disembah sebagai dewa cuaca, yang di harapkan memberikan segala kebaikan dan kesuburan dalam setiap usaha mereka. Sehingga melalui “perkataan” Elia itu, Allah hendak menyatakan kuasa-Nya bahwa hanya Dialah yang berkuasa atas matahari dan hujan.[41] Elia juga merupakan Wakil Yahwisme yang Militan dan Membela Kaum yang Lemah (I Raj. 21). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Elia adalah nabi yang berbuat yang besar, keras dan tegas hal ini jugalah yang membuat ia lebih gemar bertindak dari pada duduk untuk menuliskan sesuatu. Serta yang lebih menarik lagi pengabdian Elia disertai banyak mukzijat. Dan pelayanan Elia menuju kepada Pembaharuan. Sebab, dialah yang melawan agama sesat (sinkritisme) dan penyebab- penyebab kemerosotan dan kemurtadan bangsanya dengan tujuan untuk membangun kembali dan menjunjug teguh Jahweh. Yang dimana dia memanggil bangsanya kembali kepada jalan sejati, yakni menepati perjanjiannya dengan Tuhan yang telah dibuatNya melalui Musa.[42]
Maka dapat disimpulkan bahwa, Melalui Jabatannya membuktikan bahwa ketika kejahatan merajalela secara luar biasa, Tuhan juga pasti siap menghadapinya secara luar biasa. Hal ini dibenarkan ketika 31/2 tahun dalam kepemimpinan Ahab kerajaan dan bangsa Israel tidak menerima embun dan hujan. Oleh hal ini jugalah mengapa dikatakan pelayanan Elia disertai banyak mukzijat dan peristiwa istimewa yang di izinkan oleh Tuhan. Dan dari kisah Elia membuktikan kebenaran bahwa Tuhan senantiasa mempunyai utusan untuk setiap tantangan zaman. Dan Elia adalah seorang yang lebih suka betindak, pada masa Israel jatuh ke dalam penyembahan berhala; ia tampil ke muka sebagai penjuang yang memperjuangkan kehormatan Allah. Melalui perlwanannya terhadap kebaktian kepada Baal di Israel. Dengan tujuan agar hukum Allah tetap terpelihara di tengah-tengah dunia ini. Kerap kali dalam sejarah dunia, persoalan-persoalan besar bergantung pada pribadi-pribadi yangberkerja sendiri; tanpa mereka peristiwa-peristiwa akan berbeda arahnya. Akan tetapi hanya sedikit kemelut yang lebih penting maknanya bagi sejarah dari pada apa yang di hadapi Elia. Dalam cerita pengagungan Kristus di atas gunung karmel, tanpa Elia agama itu sudah lenyap. Dan memang secara pantas sebagai pelaku utama, namun tidak pernah lupa bahwa bukan Elia, melainkan Allah Elia yang menang pada hari itu.
2.8. Tinjauan Karakteristik Kenabian
2.8.1. Dalam Dogmatika
Seturut ajaran Konsili Vatikan ii, pemahaman tentang dogma mendapat pencerahan baru. Pembicaraan kita tentang dogma tidak dapat dilepaskan dengan pembicaraan kita tentang Wahyu-iman, Tradisi, magisterium, Gereja dan interpretasi. Konsili Vatikan ii menegaskan bahwa terdapat kaitan sangat erat antara Wahyu-iman dan Tradisi. dengan Wahyu, Allah menyapa manusia, mengundang manusia untuk masuk dalam hidup dan persekutuan Allah. Manusia dengan imannya serta akal budinya mampu menjawab tawaran Allah tersebut berkat bantuan roh Kudus. Kebenaran yang menyelamat tersebut diwariskan secara turun-temurun kepada semua umat manusia. dalam kebaikan-nya allah telah menetapkan, bahwa apa yang diwahyukan-nya demi keselamatan semua bangsa, harus tetap utuh untuk selamanya dan diteruskan kepada segala keturunannya. Maka Kristus Tuhan, yang menjadi kepenuhan seluruh wahyu allah yang Mahatinggi (lih. 2Kor 1:30; 3:16-4:6), memerintahkan kepada para rasul, supaya injil, yang dahulu telah dijanjikan melalui para nabi dan dipenuhi oleh-nya serta dimaklumkan-nya dengan mulutnya sendiri, mereka wartakan pada semua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta sumber ajaran kesusilaan, dan dengan demikian dibagikan kurnia-kurnia ilahi kepada mereka. Kebenaran yang menyelamatkan tersebut terkandung dalam Tradisi. Konsili merumuskannya: adapun apa yang telah diteruskan oleh para rasul mencakup segala sesuatu, yang membantu Umat allah untuk menjalani hidup yang suci dan untuk berkembang dalam imannya. Demikianlah Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya. dalam proses pewarisan karya keselamatan tersebut, Yesus Kristus menetapkan para rasul sebagai pewarta kabar keselamatan.
Tugas pewartaan tersebut kemudian di berikan kepada Gereja dan para uskup (imam dan diakon) diberi tanggungjawab sebagai pelayan karya keselamatan secara khusus dengan mengemban fungsi para rasul untuk menjaga keutuhan khazanah iman, mengajarkannya, dan menjaga umat dari kesesatan. Mereka (Uskup) mengajar yang otentik, atau mengemban kewibawaan Kristus, artinya: mewartakan kepada Umat yang diserahkan kepada mereka iman yang harus dipercayai dan diterapkan pada perilaku manusia. dibawah cahaya roh Kudus mereka menjelaskan iman dengan mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaan Perwahyuan (lih. Mat 13:52). Mereka membuat iman itu berubah, dan dengan waspada menanggulangi kesesatan-kesesatan yang mengancam kawanan mereka (lih. 2Tim 4:1-4). Kuasa mengajar uskup memiliki peran yang khas. Pelayanan ini tidak berada diatas sabda allah akan tetapi sebagai pelayan sabda. dalam konteks ini kita dapat berbicara fungsi kenabian sebagai yakni menafsirkan Tradisi dan mewartakannya atas nama allah.
Wewenang Mengajar itu tidak berada diatas sabda allah, melainkan melayaninya, yakni dengan hanya mengajarkan apa yang diturunkan saja, sejauh sabda itu, karena perintah ilahi dan dengan bantuan roh Kudus, didengarkannya dengan khidmat, dipeliharanya dengan suci dan diterangkannya dengan setia; dan itu semua diambilnya dari satu perbendaharaan iman itu, yang diajukannya untuk diimani sebagai hal-hal yang diwahyukan oleh allah. Dari penjabaran diatas beberapa benang merah dapat kita tarik:
a. Fungsi kenabian selalu dihubungan dengan karunia pribadi dari allah. Mereka yang dipilih sebagai nabi diutus untuk mewartakan karya keselamatan allah kepada manusia melalui, perkataan dan tindakan mereka. Otoritas mereka datang dari yang ilahi. Mereka sering mempergunakan rumusan: “Firman allah ...”.
b. Yesus Kristus tampil sebagai seorang nabi besar. Teks Ulangan 18:18 merupakan kunci interpretasi kenabian Yesus. Kenabian Yesus dinyatakan dalam sabda, karya serta sengsara-wafat-kebangkitan. sebagai nabi besar, Yesus tidak lagi mempergunakan rumusan “allah berfirman ...”, tetapi “amen, amen, aku berkata kepadamu ...”.
c. Yesus Kristus yang sengsara-wafat dan bangkit menjadi inti pokok pewartaan Gereja perdana. semua umat ikut bertanggungjawab menjadi pewarta kabar baik tersebut. Mulailah muncul berbagai jenis pelayanan dalam jemaat dalam rangka pewartaan tersebut. salah satunya adalah fungsi nabi. nabi adalah orang yang dipilih secara khusus oleh allah, mendapat karunia khusus untuk mewartakan nubuat-nubuat allah.
d. Dalam perkembangan berikutnya, fungsi nabi ini semakin tidak populer dan surut, khususnya setelah persoalan Gnostik dan Montanisme. selain itu, didalam Gereja yang semakin menerima struktur mono-episcopat, fungsi nabi sebagai pewarta kebenaran allah semakin terkonsentrasikan dalam tanggungjawab Uskup (imam). [43]
Maka dapat disimpulkan bahwa, Uskup bertanggungjawab untuk menjaga kelestarian khazanah iman, menafsirkannya secara setia dan mewartakannya secara baru untuk menjawab kebutuhan Gereja. dengan lahirnya dogma sebagai salah satu pengungkapan magisterium dalam menjaga iman rasuli, fungsi kenabian yang diemban oleh para uskup memasuki perkembangan baru. Uskup memiliki peran istimewa dalam konteks pewarisan ajaran rasuli sebagai pengajar yang otentik. Tanggungjawab uskup dalam hal pengajaran diletakkan dalam konteks luas pendampingan roh Kudus terhadap Gereja. Tanggungjawab ini merupakan pelayanan terhadap sabda allah. namun demikian, Konsili Vatikan ii mengajarkan bahwa berkat baptis-penguatan-ekaristi, semua umat beriman ambil bagian dalam tiga tugas Yesus Kristus sebagai imam-raja-nabi. semua umat bertanggungjawab sebagai pewarta sabda sesuai dengan tugas dan tanggungjawab mereka.
2.8.2. Dalam Ilmu Agama
- Agama Islam
Agama Islam mengartikan dalam bahasa Arab bahwa nabi berasal dari kata naba’, artinya pemberitahuan yang besar faedahnya, yang menyebabkan orang mengetahui sesuatu yang memiliki arti yang tak pernah salah. Nabi juga diartikan orang yang memberikan informasi tentang Allah, dan nabi ialah orang yang diberi informasi oleh Allah tentang ke-Esa-anNya, dan dibukakan kepadanya rahasia zaman yang akan datang.[44] Suara Kenabian Muhammad saw, adalah hanya menebarkan kasih sayang yang bertujuan untuk menciptakan pencerahan berupa akhlak karimah. QS. Al-Anbiya’: 107 ini menceritakan tentang tugas kerasulan Muhammad saw. Ayat tersebut juga sekaligus memberikan jawaban yang bersifat universal bahwa Rasulullah saw., diutus hanya sebagai pembawa dan penyebar kasih sayang bagi seluruh semesta alam untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dengan demikian, karena yang disebutkan dalam ayat tersebut di atas hanyalah sebagai rahmat, maka Muhammad tidak akan pernah diutus oleh Allah kecuali hanya untuk menyebarkan rahmat pada seluruh alam. Demikian juga fungsi kenabian Muhammad adalah semata-mata untuk memperbaiki akhlak.[45] Menurut Murtadha Mutahhari, nabi adalah seorang manusia yang bertindak sebagai penerima wahyu dan kemudian menyampai-kan pesan-pesan Tuhan (baca: wahyu) kepada umat manusia. Nabi adalah manusia pilihan yang memenuhi prasyarat untuk menerima pesan-pesan tersebut dari alam gaib.[46]
Pengutusan para nabi atau rasul oleh Tuhan merupakan adanya garis perbedaan antara Tuhan dan makhluk. Dalam hal tersebut, Hammudah Abdalati menyatakantujuan kenabian adalah menunjukkan apa yang harus atau yang dapat diketahui manusia dan mengajar apa yang tidak atau belum diketahui dan dimengerti.[47] Nabi itu mempunyai tiga kriteria.Pertama, menerima wahyu yang selanjutnya terhimpun dalam suatu kitab. Kedua, membawa syariat atau hukum untuk pedoman hidup, karena itu teladan nabi dan rasul itu merupakan sumber hukum. Ketiga, memprediksi berbagai hal di masa yang akan datang, hal tersebut dapat terlihat pada Nabi Nuh, Ibrahim atau Luth yang telah memperingatkan umatnya, sekalipun telah didustakan. Nabi Muhammad saw pernah meramalkan dengan tepat kekalahan parsi melawan Roma, berdasarkan wahyu Ilahi Karena itu maka ayat selanjutnya mengatakan: "mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." Di dalam Alquran,Nabi yang "menyampai-kan khabar" bukan berarti "yang menjelaskan keadaan di masa mendatang", melainkan"yang menyampaikan khabar dari Allah".Nabi diutus Allah untuk mencegah kejahatan dan menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang saleh. Itulah sebabnya mengapa istilah-istilah "yang menyampaikan kabar gembira" dan "yang menyampaikan peringatan" sering dinyatakan Alquran, terutama sekali di masa-masa awal kenabian Muhammad.[48]
Dalam tradisi Islam yang notabene datang paling belakang di antara tradisi Yahudi dan Kristen, perkembangan kenabian merupakan suatu rangkuman dari pemberitaan yang ada pada wahyu Alquran. Alquran mengakui bahwa risalah kenabian adalah satu dan tidak dapat dibagi (indivisible), dalam arti bahwa para nabi adalah pembawa risalah yang sama dari Tuhan yang sama.[49] Dengan demikian, dalam tradisi Islam, para nabi diyakini telah diutus mulai dari zaman Adam sampai nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dalam arti yang sebenarnya.Nabi adalah manusia pilihan dan yang dimuliakan Allah.Mereka diberi kemampuan untuk berhubungan dengan Allah dan mengekspresikan kehendaknya.[50] Oleh karena itu, seorang nabi adalah manusia yang bertindak sebagai penerima yang menyampaikan pesan-pesan Tuhan (baca:wahyu) kepada umat manusia.[51]
Sedangkan menurut Murtadha Muthahhari, seseorang dapat disebut sebagai nabi, apabila memiliki beberapa karakteristik, di antaranya:
1) Wahyu (yaitu nabi merupakanseseorang yang diberi wahyu oleh Allah)Istilah wahyu (al-wahy, revelation) dalam Islam adalah kata yang paling penting dari semua kata-kata Arab yang menunjukkan fenomena diturunkannya ayat-ayat Tuhan (Alquran).[52] Wahyu ilahi merupakan suatu kenyataan yang universal, yang tidak hanya diterima oleh para nabi tertentu dan hanya dimiliki oleh umat keagamaan tertentu. Seperti halnya Nabi Muhammad yang menjadi pemimpin di Mekkah, “The Madina Charter is proof that Prophet Muhammad was a religious leader as well as a political leader”.
2) Mu'jizat, Nabi yang diangkat oleh Tuhan diberi anugerah kemampuanluar biasa yang mampumelakukan tindakan-tindakan tertentu yang tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa. Hal tersebut menunjukkan kebenaran kenabian dan firman Tuhan yang mereka sampaikan. Perbuatan luar biasa yang dikerjakan oleh para nabi dengan izin Tuhan tersebut, oleh Alquran dinamakan ayat atau tanda kenabian sedangkan para teolog Islam menyebutnya mu'jizat.
3) 'Ishmaḥ, Bahwa para nabi itu terjaga dari perbuatan dosa dan kekeliruan yang disebabkan karena pemahaman dan kedalaman iman mereka. Semakin tinggi keimanan dan kesadaran mereka terhadap akibat buruk dari dosa, semakin berkurang kemungkinan melakukan perbuatan dosa. Para nabi memiliki derajat keimanan yang mencapai tingkat intuitif dan pandangan batin sehingga mampu membedakan dan menghindari perbuatan dosa.
4) Kecerdasan, Kecerdasan dan kemampuan menalar yang dimiliki para nabi berbeda dengan kemampuan orang jenius dalam hal yang sama. Perbedaan yang mendasar ialah bahwa jenius merupakan orang yang mempunyai kemampuan berpikir, daya menalar dan analisis yang tinggi sehingga mampu merumuskan teori-teori dan kemampuan membuat kesimpulan. Para nabi selain memiliki kemampuan di atas juga dilengkapi dengan kemampuan lain yang disebut wahyu. Inilah yang bisa membebaskan mereka dari kekeliruan.
5) Kepemimpinan Berawal dari misi kenabian tentu akan berujung pada langkah kembali kepada masyarakat dan dunia luar untuk mengorgani-sasi dan memimpin kehidupan masyarakat pada jalan yang benar.
6) Ketulusan, niat Para nabi memiliki dedikasi yang tinggi dalam mengemban misinya. Mereka tidak meminta imbalan jasa dalam membimbing umatnya menuju Tuhan (QS.Asy-Su'ara [26]: 127); Pesan-pesan mereka selalu bersifat keputusan akhir yang tidak dapat ditawar lagi.
7) Konstruktivitas, Para nabi memberikan energi kepada kekuatan-kekuatan masyarakat dan mengo-rientasikan mereka agar melatih individu dan membimbingnya, dan membangun masyarakat manusia.
8) Konflik dan Perjuangan Tanda lain dari ketulusan seorang nabi dalam klaimnya adalah bahwa ia berjuang menentang politheisme, tahayul, kebodohan, kepalsuan, penindasan, kekejaman dan ketidakadilan. Setiap nabi adalah berjuang meneguhkan monotheisme (tauhid), kebijaksanaan dan keadilan.
9) Aspek manusiawi, Meskipun para nabi memiliki karakteristik seperti di atas, namun mereka adalah manusia biasa. Artinya, mereka memiliki semua karakteristik yang dimiliki oleh seorang manusia; mereka tidak akan hidup selamanya (QS. Al-Anbiya [21].[53]
- Agama Hindu
Umat Hindu memiliki acarya terbesar. Beliau adalah Maharsi Vyasa atau dikenal sebagai Sri Vyasadeva. Dalam agama-agama lain, ada istilah nabi. Dalam Kitab Suci Veda, ada istilah acarya. Maharsi Vyasa adalah acarya teragung bagi umat Hindu. Beliau menulis seluruh Kitab Suci Veda untuk umat manusia di zaman Kaliyuga. sebelum semua agama besar lainnya lahir, Maharsi Vyasa telah menulis sabda-sabda Tuhan Sri Khrisna dalam Kitab-kitab Suci Veda yang tiada batasnya, mulai dari keempat Veda, Upanisad, Itihsa, Purana, hingga Vedanta Sutra. Seluruh kebijaksanaan dan butir-butir pengetahuan yang dikena umat manusia ada dalam Kitab Suci Veda. Sebelum Veda ditulis oleh Maharsi Vyasa 5000 tahun lampau, Veda telah ada di kalangan umat manusia tanpa perlu ditulis karena ingatan manusia pada masa sebelum Kaliyuga sangat tajam. Dari keempat zaman, yakni Satyayuga, Tretayuga, Dvaparayuga dan Kaliyuga, hanya di zaman Kaliyuga saja Veda dijumpai dalam bentuk tulisan. Semua ini berkat jasa besar Maharsi Vyasa.[54] Acarya adalah pemimpin tertinggi dari sebuah ordo Jain. Acarya adalah salah satu dari lima makhluk tertinggi (Panca-Paramesthi) dan karenanya layak disembah. Mereka adalah otoritas terakhir dalam ordo monastic dan memiliki otoritas untuk menahbiskan biksu dan biksuni baru. Mereka juga diberi wewenang untuk menguduskan berhala baru.[55]
2.9. Fungsi Suara Kenabian dan Refleksinya bagi Gereja Masa Kini
Orang orang percaya mendapat panggilan dari Tuhan untuk menjalankan fungsi kenabiannya. Mandat yang diemban orang percaya adalah menyuarakan kebenaran firman Tuhan sebagai pijakan yang melandasi tindakannya. Yang terjadi justru kebalikannya. Mereka enggan bersuara ketika ketidak-benaran, ketidak-adilan, kemunafikan berlangsung di hadapan mereka. Mungkin faktor keamanan atau kerugian finansial penyebabnya. Berkarya sebagai nabi terutama berarti menyampaikan rencana dan kehendak allah bagi umat manusia. Dalam pengertian sejarah agama itu, kita semua bukanlah nabi. Kita hanya dipanggil dan diutus meneruskan karya para nabi dan “Sang nabi”, tuhan kita Yesus Kristus. Karena itu, kita semua melaksanakan karya kenabian bukan dengan mewartakan rencana dan kehendak allah yang diwahyukan-nya langsung kepada kita, melainkan dengan mewartakan sabda allah yang telah diwahyukan-nya kepada para nabi di waktu-waktu yang lalu, baik nabi-nabi pada zaman perjanjian Lama maupun “Sang nabi” pada zaman perjanjian Baru, yakni tuhan kita Yesus Kristus.
Agar dapat melaksanakan fungsi suara kenabian tersebut dengan baik di zaman modern ini, kiranya kita perlu memperhatikan dua hal mendasar berikut. Yang pertama, bahwa kita sungguh-sungguh memahami rencana dan kehendak Allah yang telah diwahyukan-nya kepada para nabi di masa-masa yang lalu. Yang kedua, bahwa kita juga memahami rencana dan kehendak Allah bagi dunia pada zaman modern ini. Karena terbatasnya ruang dan waktu yang kita miliki, hanya dua nabi saja yang hendak penyeminar soroti pada kesempatan kali ini. mereka itu adalah dua dari banyak nabi israel dari zaman sebelum masehi yang telah mewartakan rencana dan kehendak Allah dalam bentuk tertulis, yang pesan-pesan pokoknya terasa masih sangat relevan untuk gereja masa kini. Berefleksi dari fungsi suara kenabian Amos dalam tugas kenabiannya maka gereja dan masyarakat pun terpanggil untuk mendengarkan gaung dari suara kenabian Amos yang mengkritik berbagai praktek ketidakadilan yang terjadi dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak hanya itu, dapat disimpulkan bahwa tugas kenabian Amos menunjukkan keberaniannya untuk mengkritisi situasi yang tidak benar, hal itu juga yang harusnya menjadi teladan bagi pengemban suara profetik masa kini dalam gereja dan masyarakat.
III. Analisa Penyeminar
Menurut Analisa penyeminar bahwa Para nabi Israel, sama seperti nabi-nabi lain, adalah orang orang yang mendapat panggilan khusus. Mereka tidak memperoleh kedudukan karena warisan, karena dilahirkan dalam keluarga para nabi, anak seorang nabi tidak secara otomatis menjadi nabi, tetapi setiap nabi dipilih secara khusus oleh Tuhan dan dipanggil untuk melakukan suatu pekerjaan yang ditetapkan Tuhan baginya. Fungsi kenabian dalam Gereja saat ini seringkali dikaitkan dengan kuasa mengajar di Gereja. Kuasa mengajar ini merupakan sebuah “kharisma pelayanan” di dalam Gereja untuk menghantar umat Allah sampai kepada kebenaran. Ajaran yang diberikan kepada Gereja merupakan penjabaran dari iman yang diterima dari para nabi, yang dijabarkan dengan prinsip kesetiaan yang kreatif, sehingga mampu menjawab tanda-tanda zaman dengan bahasa yang sesuai dengan zamannya. Nabi adalah orang yang berbicara bagi Tuhan dengan keterlibatan perasaan yang kuat. Tugas mereka bukan hanya menyampaikan berita; mereka harus menyampaikan pesan-pesan vital yang akan mengubah hidup artinya bahwa pesan daripada suara kenabian itu benar-benar menyentuh. Mereka harus berbicara dengan penuh semangat. Jadi tepatlah untuk menyimpulkan bahwa makna seutuhnya dari “bernubuat” adalah “berbicara bagi Tuhan dengan penuh semangat”. Seperti yang penyeminar angkat bahwa nabi Amos dalam menyuarakan suara kenabiannya dengan membawa dia pada kritik terhadap ketidakadilan sosial yang terjadi dalam tatanan masyarakat Israel Utara bahkan juga ia harus menyampaikan kritik terhadap praktek kebaktian atau peribadatan di Israel Utara. Tugas-tugas kenabian yang dilakukan oleh Nabi Amos bukanlah tugas yang mudah melaikan tugas yang membutuhkan keberanian serta komitmen yang teguh.
IV. Kesimpulan
Melalui pemaparan bahan seminar ini dapat disimpulkan bahwa melaksanakan tugas kenabian tidak berarti hanya mengulang saja pewartaan nabi-nabi di zaman dulu tentang rencana dan kehendak Allah, sebab kondisi umat manusia terus-menerus berubah, bahkan pada abad terakhir ini perubahan itu sangat cepat dan meluas. Melaksanakan tugas kenabian pada zaman modern ini berarti menggemakan suara para nabi tentang rencana dan kehendak allah kepada umat manusia pada zaman modern ini, yang kondisinya sudah sangat berbeda dari kondisi umat manusia pada masa sebelum masehi dan pada abad pertama masehi. Oleh sebab itu melalui karakteristik kenabian yang penyeminar paparkan melalui nabi Amos dan Nabi Elia mampu memberikan refleksi bagi gereja dalam menanggapi masalah yang ada dalam gereja saat ini mengenai keadilan sosial, dan ketaatan yang dimiliki oleh Nabi Elia. Melalui suara kenabian yang Tuhan telah wahyukan kepada para nabi mampu memberikan suatu refleksi bagi para pelayan gereja masa kini.
V. Daftar Pustaka
Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2003
Muller, H.P., The Dictionary of the Old Testament, Michigan: William B. Eerdmans Publishing, 1990
Dryness, William A., Agar Bumi Bersukacita, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2004
Petersen, David L., The Roles of Israel’s Prophets, England: University of Sheffield, 1981
O’Colins, Gerald & Edward G. Farrugin, Kamus Teologia, Yogyakarta:KANISIUS,1995
Botter Weck, G. Johannes, The Dictionary of Old Testament Volume IX, Michigan: Grand Rapids, 2003
Dainton, M.B., Elia sang Reformator, Jakarta: Yayasan Bina Kasih, 2000
Rahner, Karl, (ed), Encyclopedia of Theology the Concise Sacramentum Mudi, New York: Burns & Oates,1975
Wood, Leon J., The Prophets of Israel, Michigan: Baker Academic,1998
Tano, S., Bibel Warisan Iman; Sejarah dan Budaya, Jakarta: Obor, 2014
Hill, Andrew E., & John H. Walton, Survey Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2004
S., Jonar., Kamus Alkitab dan Teologi¸ Yogyakarta: Andi, 2016
Ludji, Barnabas, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama II, Bandung: Bina Media Informasi, 2009
Baker, David L., Mari Mengenal Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM,1988
Vriezen, Th. C., Agama Isarel Kuno, Jakarta: BPK-GM,1983
Hinson, David F., Sejarah Israel pada Zaman Alkitab, Jakarta:BPK-GM, 2015
VanGemeren, Willem A., Interpreting the Prophetic Word, Michigan:Zondervan,1990
Hamon, Bill, Prophets and Personal Prophecy : God’s Prophetic Voice Today, U.S.A: Destiny Image, 2010
Boyd, Frank M., Kitab Nabi-nabi Kecil, Malang: Gandum Mas,1981
Sparks, T.Austin, Prophetic Ministry, U.S.A: Destiny Image Publishers, 2000
Mowvley, Harry, Penenuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM,2001
Klapwijk, Jasper, Kabar baik Perjanjian Lama, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2015
Barth, C., Theologia Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009
Wood, Leon J., Nabi-Nabi Israel, terj. Tim Gandum Mas ,Malang: Gandum Mas, 2005
Lindblom, J., Prophecy in Ancient Israel, Oxford: Basil Blackwell, 1962
Lasor,W.S., D.A.Hubbard, Pengantar Perjanjian Lama 2, Jakarta:BPK-Gunung Mulia, 1996
Green, David E., Theological Dictionary of the Old Testament Vol IX, USA: William B. Eerdmans, 200
Adi, Lukas S, Smart Book of Christianity: Old Testament, Yogyakarta: ANDI, 2015
Wood, Leon J., Elijah Prophet of God, Eugene: Wipf and Stuck,2009.
Baxter, J. Sidlow,Menggali Isi Alkitab, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2001
Dainton, M.B, Elia sang Reformator, Jakarta: Yayasan Bina Kasih,2000
Napel, Henk ten, Kamus Teologi, Jakarta:BPK-GM,1999
Nainggolan, G.M.A, Endang Wilandri, Corak Watak Manusia dalam Alkitab, Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2012
Boschma, H., Ringkasan Pengajaran Alkitab, Jakarta:BPK-GM,2006
Layantara, Agnes Maria, dkk.,Handbook to the Bible, Bandung:Kalam Hidup,2015
Muhammad Ali, Maulana, Islamologi, Jakarta: CV Darul Kutubil Islamiyah, 2016
Muthahhari, Murtadha, Falsafah Kenabian, Jakarta: Pustaka Hidayah, 1991
Abdalati, Hammudah, Islam Dalam Sorotan(terj) Anshari Thayib, Surabaya: Bina Ilmu,1981
Rahman, Fazlur, Tema Pokok al-Qur‟an, terj. Ahsin Muhammad, Bandung: Mizan, 1996
Rahman, Fazlur, Major Themes of The Qur'an, Minneapolis dan Chicago: Bibliotecha Islamica, 1980
Madkour, Ibrahim, Filsafat Islam Metode dan Penerapan, (terj) Yudian Wahyudi, Jakarta: CV. Rajawali, 1991
Izutsu, Toshihiko, Relasi Tuhan dan Manusia, terj. Agus Fahri Husein, dkk, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997
Sumber Lain :
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/job/article/viewFile/1154/918
http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/esensia/article/download/728/670
https://www.listennotes.com/podcasts/hindu-times-podcast/hindu-menjawab-maharsi-vyasa-nq0OomPNxg8/,
[1] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), 157.
[2] H.P. Muller, The Dictionary of the Old Testament, (Michigan: William B. Eerdmans Publishing, 1990), 113.
[3] William A. Dryness, Agar Bumi Bersukacita, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia,2004),113.
[4] David L. Petersen, The Roles of Israel’s Prophets, (England: University of Sheffield, 1981), 58.
[5] Gerald O’Colins & Edward G. Farrugin, Kamus Teologia, (Yogyakarta:KANISIUS,1995), 289.
[6] G. Johannes Botter Weck, The Dictionary of Old Testament Volume IX, (Michigan: Grand Rapids, 2003),131.
[7] M.B Dainton, Elia sang Reformator,(Jakarta: Yayasan Bina Kasih,2000), 11.
[8] Salah satu dari banyak pembawa wahyu Allah yang mengkonfirmasi pesan-pesan itu melalui perkataan, mukzijat “prilaku” yang layak di percaya. (Karl Rahner (ed), Encyclopedia of Theology the Concise Sacramentum Mudi,(New York: Burns & Oates,1975), 751.
[9] Leon J.Wood, The Prophets of Israel,(Michigan:Baker Academic,1998), 2-3.
[10] S. Tano Simamora, Bibel Warisan Iman; Sejarah dan Budaya, (Jakarta: Obor,2014), 127.
[11] Andrew E. Hill & John H. Walton, Survey Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 2004), 505.
[12] Jonar. S., Kamus Alkitab dan Teologi¸ (Yogyakarta: Andi,2016), 307.
[13] Barnabas Ludji, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama II, (Bandung: Bina Media Informasi,2009), 9.
[14] David L. Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK-GM,1988), 51.
[15] Th. C. Vriezen, Agama Isarel Kuno, (Jakarta: BPK-GM,1983), 86.
[16] Barnabas Ludji,Pemahaman Dasar Perjanjian Lama II,11-12
[17] Th. C. Vriezen,Agama Isarel Kuno,20-21.
[18] David F. Hinson, Sejarah Israel pada Zaman Alkitab, (Jakarta:BPK-GM,2015), 128-130.
[19] Willem A. VanGemeren, Interpreting the Prophetic Word, (Michigan:Zondervan,1990), 36.
[20] Bill Hamon, Prophets and Personal Prophecy : God’s Prophetic Voice Today, (U.S.A: Destiny Image,2010), 3.
[21] Frank M. Boyd, Kitab Nabi-nabi Kecil, (Malang: Gandum Mas,1981), 44.
[22] T.Austin Sparks, Prophetic Ministry, (U.S.A: Destiny Image Publishers, 2000), 25.
[23] Harry Mowvley, Penenuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama,(Jakarta: BPK-GM,2001), 17.
[24] Harry Mowvley, Penenuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama, 17, 26.
[25] Willem A. VanGemeren, Interpreting the Prophetic Word, (Michigan:Zondervan,1990), 36.
[26] Jasper Klapwijk, Kabar baik Perjanjian Lama, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2015), 173-174.
[27] C. Barth, Theologia Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009), 13-14.
[28] Leon J. Wood, Nabi-Nabi Israel, terj. Tim Gandum Mas (Malang: Gandum Mas, 2005), h. 13-15.
[29] J. Lindblom, Prophecy in Ancient Israel, (Oxford: Basil Blackwell, 1962), 83.
[30] W.S.Lasor, D.A.Hubbard, Pengantar Perjanjian Lama 2, (Jakarta:BPK-Gunung Mulia, 1996), 185.
[31] David E. Green, Theological Dictionary of the Old Testament Vol IX, (USA: William B. Eerdmans, 2003), 138-139.
[32] W.S.Lasor, D.A.Hubbard, Pengantar Perjanjian Lama 2, 205.
[33] Lukas Adi. S, Smart Book of Christianity: Old Testament,(Yogyakarta: ANDI,2015), 482.
[34] Leon J. Wood, Elijah Prophet of God,(Eugene: Wipf and Stuck,2009), 16.
[35] J. Sidlow Baxter,Menggali Isi Alkitab,(Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2001), 363.
[36] M.B Dainton, Elia sang Reformator,(Jakarta: Yayasan Bina Kasih,2000), 138.
[37] Henk ten Napel, Kamus Teologi, (Jakarta:BPK-GM,1999), 122.
[38] G.M.A Nainggolan, Endang Wilandri, Corak Watak Manusia dalam Alkitab,(Jakarta:Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2012), 98.
[39] J. Sidlow Baxter,Menggali Isi Alkitab, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,2001), 363-364.
[40] H.Boschma, Ringkasan Pengajaran Alkitab,(Jakarta:BPK-GM,2006), 44.
[41] Agnes Maria Layantara, dkk.,Handbook to the Bible, (Bandung:Kalam Hidup,2015), 298.
[42] J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab, 364-365.
[43] https://e-journal.usd.ac.id/index.php/job/article/viewFile/1154/918 diakses pada 05 Oktober 2020, Pukul 15.17 WIB.
[44] Maulana Muhammad Ali, Islamologi, (Jakarta: CV Darul Kutubil Islamiyah, 2016), 220.
[45] http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/esensia/article/download/728/670 Diakses pada hari Sabtu, 03 Oktober 2020, Jam 09.54 WIB.
[46] Murtadha Muthahhari, Falsafah Kenabian, (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1991), 9.
[47] Hammudah Abdalati, Islam Dalam Sorotan(terj) Anshari Thayib, (Surabaya: Bina Ilmu,1981), 32.
[48] Fazlur Rahman, Tema Pokok al-Qur‟an, terj. Ahsin Muhammad, (Bandung: Mizan, 1996), 119.
[49] Fazlur Rahman, Major Themes of The Qur'an, (Minneapolis dan Chicago: Bibliotecha Islamica, 1980), 53,80.
[50] Ibrahim Madkour, Filsafat Islam Metode dan Penerapan, (terj) Yudian Wahyudi, (Jakarta: CV. Rajawali, 1991), 85.
[51] Murtadha Muthahhari, Falsafah Kenabian, 9.
[52] Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia, terj. Agus Fahri Husein, dkk, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), 171.
[53] Murtadha Muthahhari, Falsafah Kenabian, 10.
[54] https://www.listennotes.com/podcasts/hindu-times-podcast/hindu-menjawab-maharsi-vyasa-nq0OomPNxg8/, diakses pada tanggal 05 Oktober 2020, pukul 14.26
[55]https://translate.google.com/translate?u=https://en.wikipedia.org/wiki/Acharya&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp&prev=search, diakses pada tanggal 06 Oktober 2020, Pukul 21.26 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar