Perjuangan Untuk Kerajaan Allah
(Suatu Tinjauan Historis Praktis Tentang Semangat Penginjilan di Irian Jaya dan Relevansinya Bagi Zending HKI)
I. Latar Belakang Masalah
Setelah terpilihnya menjadi Ephorus (pucuk pimpinan) periode 2015-2020 di HKI, dengan visi HKI menjadi Gereja Yang Missioner sehingga salah satu yang menjadi kebijakan pada periode ini adalah mengutus para hamba Tuhan (Vikaris Pendeta) untuk menyebarkan injil ke daerah-daerah yang belum terjangkau injil Kristen, dengan harapan dapat memberitakan kabar keselamatan dan memperluas lingkup pekerjaan HKI untuk kerajaanNya.
Para calon Pendeta yang dikirim HKI ke berbagai tempat mengalami kesulitan antara lain, tempat yang dituju sangat jauh, tidak dapat menggunakan alat komunikasi, kurang diterima oleh masyarakat lokal, kesulitan dalam beradaptasi, sampai pada tidak adanya dana yang mencukupi untuk keperluan para pekabar Injil yang diutus, dsb. Sehingga menjadi pergumulan bagi setiap pekabar Injil yang dituju apabila tiba saatnya untuk memulai tugas yang diberikan oleh Tuhan melalui HKI.
Sehingga boleh dikatakan masih banyak para pekabar Injil yang diutus merasa terbebani dengan segala kemungkinan hal yang menjadi kesulitan dalam pekabaran Injil, sehingga ini yang mendorong penyeminar untuk membahas karya pekabaran Injil yang sangat gigih dan bersemangat dalam perjalanan penginjilannya, tokoh yang tak pernah putus asa dan mengeluh terhadap segala permasalahan yang ia temuka, yakni C.W Ottow dan J.G. Geissler yang merupakan perintis pekabaran Injil di tanah Irian Jaya. Dengan permasalahan di atas saya membahasnya dalam judul Perjuangan Untuk Kerajaan Allah dan Sub judul Suatu Tinjauan Historis Praktis Semangat Penginjilan di Irian Jaya dan Relevansinya Bagi Zending HKI.
II. Pembahasan
2.1. Tokoh Pi Irian Jaya
Yang merintis usaha pI di Irian Jaya ialah dua orang Jerman, hasil didikan Gossner, yang kemudian diutus Heldring. Namanya C.W Ottow dan J.G. Geissler, pada tahun 1852 mereka tiba di Batavia, tetapi karena mereka bukan orang Belanda, mereka lama sekali harus menantikan izin menetap di Irian.[1] Latar belakang Theologis utusan zending tidak mudah dilukiskan secara terperinci, karena hal ini tidak akan dibahas dalam karangan-karangan yang ada. Yang terang ialah bahwa para utusan Gossner berpendidikan awam (bukan pendeta), unsur-unsur pietisme yang lebih menonjol dalam pekerjaan mereka dari suatu aliran atau sistem theoogia yang diajarkan. Barangkali latar belakang theologis mereka tidak begitu banyak mempengaruhi pekerjaan mereka, tetapi mereka memberi petunjuk-petunjuk yang tegas tentang praktek-praktek Kristen[2]
Perjalanan Ternate-Papua dimulai tanggal 12 Januari 1855, dengan sekunar “Ternate” ditempuh kurang lebih tiga minggu, 25 hari kemudian Ottow dan Geissler memasuki Teluk Doreh. Tepat tanggal, 5 Februari 1855, hari minggu pagi yang cerah, jam 06.00 sekunar Ternate membuang sauhnya didepan kampung Mansinam, pelabuhan Doreh.[3] Kedua zendeling menginjakkan kaki di pantai Mansinam, mula-mula mereka berdua menguncapkan pernyataan iman : “Dengan Nama Tuhan kami menginjakan kaki di tanah ini” dengan pernyataan serta doa yang diucapkan tersebut maka, dimulailah pekerjaan zending di tanah Papua. Dua tahun kemudian (1857), Ottow membuka pos pekabaran Injil ke dua di Kwawi, sedang Geiisler meneruskan pekerjaan di Mansinam.[4]
Dua orang tokoh yang terkenal sebagai pencetus dan penggerak pekebar Injil tukang ini ialah Gossner dari Jerman dan Heldring dari Belanda. Selama 10 tahun mereka berhasil mengirim kurang lebih 52 orang pekebar Injil yang tersebar di Jawa, Irian Barat, Sangar dan Talaud. Mereka juga bergerak di bidang pelayanan sosial, tetapi hanya berpusat di Eropa. Gossner menentang penggunaan akal yang berlebihan pada zamannya.
Ia mengakui bahwa tugas mengabarkan Injil adalah tugas gereja dan bukan individu, tetapi kepercayaan terhadap instansi dan lembaga gereja yang resmi telah hilang. Ia lebih senang dengan kelompok-kelompok kecil yang hidupnya menyakinkan. Dalam kehidupannya Gossner adalah seorang yang saleh, dan Kristus menjadi pusat kehidupannya.[5]
2.2. Metode pI Irian Jaya
Pendekatan utusan-utusan Gossner telah digambarkan di mana mereka hidup berdekatan dengan orang Irian dengan maksud memberi kesaksian tentang iman dan kehidupan Kristen melalui cara hidup dan pekerjaannya mencari nafkah sehari-hari, dan ibadatnya (kebaktian Minggu dan sehari-hari dalam rumah tangga). Utusan-utusan UZV mengadakan pendekatan lain yang lebih memperhatikan kebudayaan, adat-istiadat, bahasa, dan lain-lain.
Mereka tekankan pekabaran Injil dan pendidikan rendah, “pendidikan peradaban”. Jadi selain mendirikan tempat-tempat kebaktian mereka mendirikan sekolah-sekolah. Anak-anak yang pandai diteruskan ke sekolah-sekolah Zending di Tobelo, Depok dan lain-lain agar dapat menjadi guru misalnya Petrus Kafyar, Willem Rumainum, Mettius Awendu, Christian Areks, seiring calon-calon guru ini adalah budak yang ditebus oleh utusan Zending atau Guru yang didatangkan dari Ambon, Halmahera atau Sangihe, dan menjadi anak angkatnya. Setelah selesai sekolah guru mereka ditempatkan di kampong-kampung sebagai guru sekolah dan guru jemaat dengan tugas memimpin pekabaran Injil dan pendidikan.
Perlu dicatat bahwa zending memakai banyak tenaga demikian selama 70-80 tahun pertama pekerjaannya di Irian. Guru-guru Zending ini menanamkan pengetian dan praktek iman Kristen dan gereja yang sudah lazim di daerah asalnya, artinya selain ajaran dan praktek Kristen yang berdasarkan Alkitab, mereka menyebarkan “agama Ambon”, misalnya, yaitu paham-paham dan praktek-praktek “Kristen Ambon” yang telah berkembang dalam GPM, akibat pertemua dan saling pengaruh-mempengaruhi antara agama Kristen versi Belanda abad ke 17-18 dengan masyarakat dan kebudayaan Indonesia Timur (khususnya Maluku) pada waktu itu. Guru-guru zending ini berjasa banyak dalam penanaman dan perluasan Gereja di Irian.[6]
Dari pekabar-pekabar Injil juga diharapkan mereka dapat mengusahakan hidup mereka sendiri dengan jalan bekerja sebagai tukang, petani dll. Sebab itu mereka dipersiapkan dengan keterampilan-keterampilan tersebut.[7]
Ottow dan Geissler menempuh pekerjaan dengan cara yang sesuai dengan metode yang telah diajurkan kepada mereka oleh Gossner dan Hendring, mereka adalah zendeling tukang, maka mereka mulai bekerja dengan tangan sendiri: menebang pohon, membangun rumah sendiri. Di kemudia hari mereka berdagang untuk menghidupi diri, sesuai dengan asas metode Gossner-Heldring mereka tidak digaji, agar orang Irian tertarik maka sehabis kebaktian, mereka disuguhi tembakau atau gambir.[8]
2.3.Semangat dan Spritualitas pI Irian Jaya
Bagi Gossner daN Heldring, Alkitab dan nyanyian dan nyanyian rohani saja sudah cukup untuk memperlengkapi pekabar Injil di daerah kafir. Perlengkapan lain seperti mempelajari bahasa asli Alkitab adalah sama sekali tidak penting. Menurut Gossner dan Heldring dengan perlengkapan nyanyian rohani dan Alkitab, pekabar-pekabar Injil itu dapat menghadapi persoalan di daerah pekabaran Injil. Bagi pekabar Injil yang merasa kuatir dengan kesehatan mereka di daerah tropis yang ganas, dengan kuat kuat mereka ingatkan bahwa cinta kasih kepada Kristus dan kepada jiwa-jiwa yang telah dibeli Kristus dengan darahNya, menyebabkan orang tidak takut terhadap bahaya maut, sebab tidak ada hamba Yesus yang dipanggil dahulu meninggal sebelum dipanggil oleh Juruselamat.[9]
2.4.Karya pI Irian Jaya
2.4.1. Bidang pI
Sesungguhnya, jumlah orang yang tertarik ke agama Kristen jauh lebih besar dari pada yang diduga para zendeling. Hal ini disebabkan berbagai faktor, di balik kecaman para zendeling terhadap kekafiran, ada sikap kesetiakawanan terhadap orang kafir. Berkali-kali kalau kampong tempat tinggal mereka terancam musuh, sang zendeling tidak melarikan diri tetapi ikut mempertahankan kampung itu dengan senjata di tangan – meski mereka senantiasa berupaya mncegah penumpahan darah sehingga hal itu sangat mengesankan orang Irian.
Bila ada zendeling atau keluarganya meninggal dan dikuburkan di bumi Irian, hal itu pun berhasil memperkuat ikatan dengan penduduk setempat. Pola hidup orang Numfor yang suka berkelana itu sering dikecam para pekabar Injil, sebab hal itu mencegah orang mengunjungi gereja dan sekolah dengan teratur. Akan tetapi, orang yang dalam perjalanan itu meneruskan dimana-mana cerita-cerita Alkitab yang telah mereka dengar dalam kebaktian. Maksud mereka ialah menaikkan gengsinya, tetapi melalui cara itu Injil disebarkan bak benih oleh burung-burung di langit. Akhirnya ada pula orang tertarik oleh alternatif yang ditawarkan para zendeling sebagai ganti pola balas-membalas yang mencekam kehidupan mereka.
2.4.2. Bidang lain
Para zendeling tidak datang untuk memberitakan firman hanya dengan mulut saja. Dari semula mereka mendirikan sekolah. Belum satu tahun Ottow tinggal di Irian sudah dikumpulkannya murid-murid sekolah. Di kemudian hari kebanyakan jemaat memiliki sekolah rakyat tiga tahun – pada akhir tahun 1937 ada 203 buah dengan jumlah murid 10.000 lebih, di antaranya 38% perempuan. Sekolah “lanjutan” (= kelas IV dan V sekolah dasar) hanya ada satu dengan 50 murid yang semuanya laki-laki.
Sama seperti upaya di bidang pendidikan, begitu pula pengobatan menyertai karya pI dari semula. Di sini pun para zendeling harus mengatasi curiga penduduk. Tetapi sesudah beberapa waktu ternyata setiap pagi mereka ditunggu oleh para penderita. Pengutusan seorang mantra perawat dari negeri Belanda bekerja di rumah sakit yang akan mengambil alih tugas zendeling dalam hal ini menemui kegagalan (1910-1914). Baru pada tahun 1930 datang lagi seorang perawat negeri Belanda bekerja di rumah sakit yang didirikan zending di Serui (Yapen) dan beberapa tahun kemudia seorang dokter bersedia diutus kesana. Pada tahun 1936 zending mendirikan sebuah lembaga untuk perawatan penderita penyakit kusta (penyakit itu telah masuk di Irian lantaran perhubungan dengan bagian Indonesia yang lain sudah baik).
Kegiatan zending di bidang ekonomi tidak seberapa. Perdagangan dan lain-lain, yang dilakukan oleh para zendeling-tukang yang menjadi perintis, hanya bertujuan mengganti gaji yang tidak mereka terima. UZV mengutus seorang ahli pertanian (1866) yang mengusahakan penanaman padi dan kopi, maksudnya ialah mengubah pola hidup berkelana penduduk Irian, yang menghambat usaha pI yang teratur.[10]
Usaha pendeta zending untuk mengarang buku katekisasi berdasarkan cara berpikir dan pola kebudayaan Irian asli, tetapi buku tersebut belum dipakai secara luas karena terlalu sukar dimengerti. Maksud dan tujuan buku ialah untuk mengkonfrontasi unsur-unsur kebudayaan tradisional dengan berita Injil dan juga berusaha untuk menjernihkan perbedaan antara adat-istiadat tradisional dengan Inji Yesus Kristus.[11]
2.5.Penginjilan pI Irian Jaya
Para perintis memulai pekerjaannya di Mansinam. Sesudah mereka membuka pos kedua di daratan, yaitu di Doreh (setengah jam berdayung dari Mansinam). Setibanya tenaga UZV pekerjaan diperluas kea rah selatan: berturut-turut orang mendirikan pos pI di Meoswar, Roon, Andai, danWindesi. Perluasan ini berlangsung dengan susah payah, karena banyak zendeling (dan keluarganya) meninggal dunia atau terpaksa pulang ke tanah air. Pada tahun 1863 umpamanya, terdapat lima orang Eropa di lapangan, setahun sesudahnya tinggal dua: pada tahun 1868 ada lagi delapan orang, tapi tiga tahun kemudian tiga orang dari mereka sudah meninggal dan seorang lagi terpaksa diberhentikan. Hambatan lain ialah keadaan perang yang membuat perjalanan pI menjadi berbahaya atau bahkan tidak mungkin. Maka sesudah 25 tahun pekabaran Injil di Irian, barulah 20 orang Irian yang menerima baptisan, di antaranya 14 yang masih hidup, sedangkan jumlah tenaga zending termasuk keluarganya yang sudah meninggal berjumlah 17 orang. Tidaklah mengherankan kalau pernah UZV mengambil keputusan – yang tidak jadi dilaksanakan untuk menghentikan pekerjaan di Irian. Pada tahun 1905 ketika pI di Irian telah berlangsung setengah abad, orang yang telah dibaptis berjumlah 150 orang.
2.6.Relevansinya bagi Zending HKI
2.6.1. Tercukupi Dalam Kekurangan
sebagaimana para zending-tukang tidak mendapatkan gaji atau sekedar mencukupi kebutuhan sehari-hari dari yang mengutus mereka untuk pekabaran Injil namun kekurangan tersebut dapat terpenuhi berkat keahlian yang dimiliki para tokoh pekabar Injil di Irian Jaya yakni bertukang, juga keahlian dalam bertani maupun mendirikan rumah ibadah dan tempat tinggal sendiri, sehingga dapat diperhatikan oleh HKI dalam mengutus para tenaga zendingnya baiknya mengasah kemampuan lainnya para vicar zending, dengan memperhatikan keberhasilan para pekabar Injil di Irian Jaya maka sesungguhnya para vicar Zending HKI juga dapat bertahan hidup di tengah-tengah medan pelayanan. sehingga salah satu kendala yakni tidak adanya dana untuk keperluan para vicar zending dapat diatasi dengan keterampilan-keterampilan yang dilengkapi.
2.6.2. Keterlibatan di seluruh aspek
sama halnya dengan para zending-tukang yang tidak dating hanya untuk berkhotbah atau untuk mendirikan gedung gereja tetapi juga hidup berbaur dengan masyarakat lokal, hidup sama seperti masyarakat lainnya yang harus juga berjuang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, terbukti dimana metode ini cukup mampu menyentuh orang Irian sehingga banyak mereka yang mau dibaptis, melihat bagaimana yang dilakukan para zending-tukang yang sehingga menurut penyeminar bahwa hal demikian juga bias dilakukan oleh para vicar zending HKI, dan turut juga berkontribusi dalam aspek sebagai berikut:
aspek Pendidikan: Tentunya intelektual para masyarakat yang akan dibaptis haruslah benar-benar diperhatikan, agar sekiranya setelah terbentuk jemaat maka akan turut membantu SDM masyarakat sekitar dan juga bukan tidak mungkin akan memberikan kontribusi nyata bagi HKI untuk masa-masa yang akan dating karena hingga saat ini lembaga-lembaga pendidikan HKI tidak berjalan dengan baik, terbunti dengan banyak sekolah-sekolah yang didirikan HKI yang sudah tidak beroperasi. Maka dengan demikian HKI perlu melihat bagaimana zending tukang yang memberikan perhatian pendidikan orang Irian Jaya
aspek Kesehatan: Sasaran pekabaran Injil HKI ialah dimana tempat pedalaman yang belum terjangkau oleh HKI sehingga dapat dikatakan sarana prasarana untuk kesehatan belum terpenuhi secara maksimal. Dalam hal ini penyeminar menilai bahwa HKI belum memberikan perhatian untuk aspek kesehatan dalam pelayanannya sehingga HKI perlu memperhatikan bagaimana para zending-tukang yang sangat memperhatikan aspek kesehatan.
Aspek Ekonomi: Sebelum HKI mengutus para vicar Zending untuk pekabaran Injil maka terlebih dahulu diberikan pelatihan di pusat penelitian pertanian dll. HKI (Pengmas HKI) sehingga para vicar zending dibekali kemampuan untuk melakukan usaha ataupun dapat memberikan kontribusi di tempat pelayanan masing-masing, dalam hal ini HKI perlu memperhatikan sebagaimana yag dilakukan oleh pekabaran Injil di Irian Jaya yang juga mengutus para ahli dalam pertanian sehingga dapat dikatakan keseriusan dalam membangun jemaat sehingga sektor pertanian yang adalah sumber mencari nafkah dapat diberikan kontrinusi nyata.
Sehingga dalam hal ini para vicar zending HKI yang diutus harus dipersiapkan bukan hanya dengan pemahaman Teologi tetapi juga hal-hal yang lain bisa digunakan, sama dengan hal nya dengan John Wesley yang cakap dalam menulis sehingga dapat dipergunakan untuk keperluannya dan dapat membantu orang lain, para vicar yang diutus harus memiliki kecakapan dan energik dalam memperhatikan permasalahan yang kontekstual, maka vicar zending dapat berkontribusi dalam permasahan yang kontekstual juga dibutuhkan.
III. Kesimpulan
Semangat C.W Ottow dan J.G. Geissler yang berhasil memberikan sumbagsih besar bagi tanah Irian Jaya, para tokoh yang mengabarkan Injil dari bawa artinya tidak datang dengan kecukupan dan kemewahan melainkan para pekebar Injil yang sama-sama berjuang untuk hidup seperti halnya bagaimana para orang Irian Jaya yang ditemuinya, sehingga memberikan gambaran bahwa para vicar zending HKI juga dapat belajar dari para pekabar Injil di Irian Jaya yang mampu membawa kerajaan Allah ditengah-tengah kondisi sulit.
IV. Daftar pustaka
End Th. Van den dan J. Weitjens, Ragi Cerita 2 Sejarah Gereja di Indonesia Tahun 1860an-Sekarang, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018
Hale Leonard, Jujur Terhadap Pietisme, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996
Kamma , Ajaib Di Mata Kita, Jilid I, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981
Latuputty Sientje, “Kiprah Dan Ajaran Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua Dan Gereja Katolik Di Bidang Pendidikan Di Papua”, Disertasi D.Th., STT Jakarta, 2014
Ukur F. dan F. L. Cooley, Benih Yang Tumbuh 8 Gerakan Kristen di Irian Jaya, Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi Gereja-gereja di Indonesia, 1977
[1] Th. Van den End dan J. Weitjens, Ragi Cerita 2 Sejarah Gereja di Indonesia Tahun 1860an-Sekarang, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2018), 121
[2] F. Ukur dan F. L. Cooley, Benih Yang Tumbuh 8 Gerakan Kristen di Irian Jaya, (Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi Gereja-gereja di Indonesia, 1977), 39
[3] Kamma , Ajaib Di Mata Kita, Jilid I, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981), 87.
[4] Sientje Latuputty, “Kiprah Dan Ajaran Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua Dan Gereja Katolik Di Bidang Pendidikan Di Papua” (Disertasi D.Th., STT Jakarta, 2014), 107
[5] Leonard Hale, Jujur Terhadap Pietisme, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), 69
[6] F. Ukur dan F. L. Cooley, Benih Yang Tumbuh 8 Gerakan Kristen di Irian Jaya, 40-41
[7] Leonard Hale, Jujur Terhadap Pietisme, 70
[8] Th. Van den End dan J. Weitjens, Ragi Cerita 2 Sejarah Gereja di Indonesia Tahun 1860an-Sekarang, 121-122
[9] Leonard Hale, Jujur Terhadap Pietisme, 71
[10] Th. Van den End dan J. Weitjens, Ragi Cerita 2 Sejarah Gereja di Indonesia Tahun 1860an-Sekarang 128-129
[11] Th. Van den End dan J. Weitjens, Ragi Cerita 2 Sejarah Gereja di Indonesia Tahun 1860an-Sekarang 124-128
Tidak ada komentar:
Posting Komentar