Jumat, 16 April 2021

Baptisan Massal

 


Baptisan Massal

(Suatu Tinjauan Historis Kritis Tentang Baptisan Massal pada masa Orde Baru di       GBKP dan Refleksinya Bagi Pertumbuhan Iman Jemaat Masa Kini)

I.                   Latar Belakang Masalah

Meninjau kepada sejarah kekristenan di Indonesia dari mulanya, maka terlihat bahwa umumnya orang-orang Indonesia masuk menjadi Kristen adalah secara berkelompok, terutama mereka yang datang dari agama suku. Memang ada pula yang masuk menjadi Kristen secara perorangan, tetapi hanya sangat kecil jumlahnya. Mereka yang datang secara perorangan ialah yang berasal dari agama Islam atau orang yang tinggal di kota-kota. Jadi sebagian besar orang-orang Kristen di Indonesia adalah berasal dari agama suku, walaupun memang ada juga dari agama-agama lain, seperti dari Islam, Hindu dan Budha. Suatu hal yang perlu di kaji ialah mengapa mereka menjadi Kristen? Apakah mereka masuk menjadi Kristen karena sudah yakin akan kebenaran agama Kristen itu? Atau apakah mereka masuk Kristen karena sudah sadar akan perbedaan antara kepercayaan dan adat mereka yang lama dengan agama Kristen itu? Memang pertanyaan ini sulit dijawab, karena hal ini menyangkut isi hati orang, yang tentu tidak bisa kita ketahui secara tepat. Akan tetapi dari catatan-catatan sejarah masa lalu, kita dapat melihat adanya beberapa alasan yang mendorong orang-orang Indonesia menjadi Kristen.

Pada masa orde baru, pada saat kepemimpinan presiden Suharto, baptisan massal banyak dilakukan di beberapa daerah, khususnya pada tempat tinggal orang Karo. Daerah yang pertama kali  dilakukan baptis massal adalah di tiga lingga Kab. Dairi dan disusul beberapa desa di daerah kecamatan Munthe. Kemudian disusul di Kabanjahe. Dari begitu banyak yang dibaptis, alasan mereka masuk ke Kristen  adalah dengan gencarnya berita bahwa yang tidak beragama dianggap PKI akan dibunuh, maka daripada itu orang-orang karo segera ingin di baptis untuk menjadi orang Kristen untuk menghindari hal tersebut.

Pada latar belakang penyeminar ingin menggali lebih dalam mengenai apa saja yang dilakukan gereja pada saat masa orde baru, dan penyeminar juga ingin menggali pertumbuhan iman jemaat pada masa kini apakah jemaat masa kini masih memiliki pemahaman tentang menganut agama karna suatu paksaan atau sudah dari keinginan hati untuk memeluk suatu agama itu (iman mereka yang memilih).

II.                  Pembahasan

2.1. Baptisan Massal

Baptisan dapat diartikan sebagai tanda dan materi pembasuhan serta pengampunan dosa oleh Darah Kristus, pembaharuan oleh Roh Kudus serta penyucian sebagai anggota Kristus.[1] Baptisan adalah sakramen yang dilakukan untuk menerima seseorang menjadi anggota gereja. Baptisan merupakan perintah Yesus kristus sendiri.[2] Sedangkan Massal menurut KBBI adalah jumlah yang banyak atau melibatkan/mengikutsertakan banyak orang.[3] Jadi Baptisan Massal adalah suatu tanda yang mengikutsertakan atau melibatkan orang banyak.

2.2. Masa Orde Baru

Pemerintahan Orde Baru dimulai sejak tahun 1966 - 1998, dengan adanya Surat Perintah Sebelas Maret, yang kemudian disalahartikan sebagai surat pemindahan kekuasaan. Pada tanggal 27 Maret 1968, Soeharto diangkat sebagai presiden hal ini berdasarkan Ketetapan MPRS No. XLIV/MPRS/1968, sampai hasil pemilu ditetapkan pada tanggal 10 Maret 1983, beliau mendapat penghargaan sebagai Bapak Pembangunan Nasional. [4] Orde Baru lahir sebagai koreksi total terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh Orde Lama. Orde Baru bertekad melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Akan tetapi, tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru hanya sebatas ucapan. Praktiknya tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya.

Ada beberapa hal yang menandakan masa Orde Baru yaitu:

1.                  Supersemar merupakan awal proses peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto. Pada awal kekuasaannya, Jenderal Soeharto ingin melaksanakan ajaran Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

2.                  Penataan kehidupan politik pada awal Orde Baru dimulai dengan pembubaran PKI.

3.                  Penataan kehidupan ekonomi pada masa Orde Baru dimulai dengan terjalinnya kerja sama ekonomi dengan pihak luar negeri. Dalam bidang pembangunan, pemerintah melaksanakan program lima tahunan yang disebut Pelita.

4.                  Kehidupan sosial masyarakat pada masa Orde Baru terlihat dalam masalah pluralisme penduduk Indonesia. Pemerintah juga menerapkan program KB untuk menekan pertumbuhan penduduk dan program-program pendidikan lainnya.

5.                  Pertambahan jumlah penduduk menuntut suatu upaya peningkatan produksi bahan pangan. Oleh karena itu, dilaksanakan Revolusi Hijau yang bertujuan meningkatkan produksi tanaman biji-bijian agar dapat memenuhi kebutuhan pangan manusia.

6.                  Perkembangan sistem informasi, komunikasi, dan transportasi turut berperan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat di Indonesia. Industrialisasi telah membawa dampak yang besar bagi masyarakat Indonesia, baik dalam segi ekonomi maupun sosial.[5]

2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Baptisan Massal pada Masa Orde Baru

2.3.1.      Faktor Politik

Awal orde baru membawa angin segar bagi kekristenan di Indonesia untuk membasmi partai komunis sampai keakar-akarnya, pemerintah menerbitkan TAP MPR no XXVII/MPRS/1966 tentang kewajiban memeluk agama yang resmi di Indonesia. Pemerintah tidak hanya mendukung penyiaran agama melalui TAP MPR, tetapi juga mendukung dari segi dana dan keamanan. TAP MPR ini bagi Gereja memang sangat mendukung supaya evangelisasi yang mengakibatkan pertambahan jumlah orang Kristensecara signifikan. Di berbagai daerah banyak terjadi baptisan missal, termasuk di GBKP. Awalnya juga orang Kristen boleh berbangga atas besarnya peranan mereka dan banyaknya kursi yang diduduki oleh orang Kristen.[6]Pemerintah Orde Baru membuat peraturan bahwa setiap warga Negara Indonesia harus menganut salah satu agama yang resmi diakui oleh Pemerintah (yaitu Islam, Kristen Protestan, Khatolik, Hindu dan Buddha) dengan kata lain, di Indonesia tidak diberi tempat bagi orang yang tidak beragama, sementara komunisme dipandang sebagai ideology anti-agamanya sehingga setiap penganutnya otomatis dianggap sebagai tidak beragama. Untuk menghindarkan dakwaan sebagai komunis atau sebagi anggota PKI dan ormas-ormasnya, banyak orang beramai-ramai mencari jalan selamat, dan menurut sejumlah pengamat banyak diantara mereka yang selama ini dikenal sebagai islam abangan. Mereka tidak datang ke lingkungan Islam, karena selama proses penumpasan PKI banyak organisasi Islam, misalnya Pemuda Ansor, yang bekerja sama dengan militer sangat bersemangat “mengganyang” mereka, sehingga ada anggapan bahwa kalangan Islam tidak akan menerima dan memperlakukan mereka dengan baik. Maka banyak orang datang ke lingkungan Gereja Kristen, Protestan maupun Khatolik, yang menawarkan perlindungan dan pendampingan kepada mereka yang dicurigai atau dituduh terlibat Komunis/PKI. Pelayanan dan perlindungan tidak hanya diberikan gereja kepada mereka yang berada di alam bebas, melainkan juga kepada mereka yang berada di tempat-tempat penahanan, yang menyandang status tahanan politik (tapol). Bahkan setelah kemudian mereka dibebaskan, pada umumnya tidak memalui proses pengadilan, gereja juga membina mereka dan keluarga mereka. Tidak heran nila diantara mereka kemudian banyak yang menerima baptisan dan menjadi Kristen dan semua ini lagi-lagi dinilai oleh kalangan Islam tertentu sebagai siasat Kristenisasi.[7]

2.3.2.      Faktor Ekonomi

Pendapatan riil per kapita dalam tahun 1966 sangat mungkin lebih rendah dari pada dalam tahun 1938. Sector industri yang menyumbangkan hanya sekitar 10 persen dari GDP dihadapkan pada masalah pengangguran dalam kapasitas yang serius.Awal dasawarsa tersebut deficit anggaran belanja negara mencapai 50 persen dari keperluan total negara, penerimaan ekspor sangat menurun, dan selama tahun 1960-1966 hiperinflasi melanda negara ini dengan lumpuhnya perekonomian.[8]

2.3.3.      Faktor Sosial

Faktor sosial yang mempengaruhi pertumbuhan umat Kristen sehingga terjadinya pembaptisan Massal yaitu:

1.      Kemasyarakatan, setiap hubungan sosial yang mendorong orang masuk.

2.      Kekeluargaan, pengaruh melalui anggota keluarga yang sudah Kristen.

3.      Kegerejaan, setiap kegiatan gereja, kecuali pelayanan sekolah, dan lain-lain.

4.      Perlindungan, menghindarkan tuduhan terlibat dengan PKI dan ormas-ormasnya.  

2.3.4.      Faktor Agama

1.    Kehidupan Kristen yang disaksikan sehari-hari.

2.    Pelayanan, oleh gereja dan lembaga-lembaganya.

3.    Masuk gereja karena perkawinan

4.    Gereja menjadi otonom kebutuhan rohani, “keperluan batin”, kekosongan jiwa, tidak tenteram, dsb.[9]

2.4.GBKP Pada Orde Baru.[10]

2.4.1.      Masa Transformasi Budaya (1966-1970)

Sidang sinode 1966 Kabanjahe inilah yang memutuskan bahwa “Gendang Karo” dapat diterima/dilakukan dalam acara resmi gereja GBKP, majelis jemaat mengadakan penggembalaan agar hal-hal yang sifatnya magis, mistis dan animistis dalam adat dan budaya Karo di hindari agar kesaksian kristen tetap nyata dalam hubungan injil dengan Adat Budaya Karo. Setelah Jubelium 75 tahun dan sidang synode XX GBKP November 1966 di Kabanjahe. Timbul kesadaran baru diantara warga GBKP, antara lain:

a.       Gereja dan anggota jemaat mulai tidak lagi menjauhi Adat Karo, akan tetapi secara transformatif berupaya memakai adat Karo/ Kebudayaan Karo dalam hubungan kekerabatan Karo sebagai sarana mengabarkan Injil.

b.      Menjadi kristen tidak berarti keluar dari “Adat Karo” tetapi kasih menjadi alat kesaksian kristen dalam kekerabatan dan adat istiadat Karo.

c.       Para tokoh terkemuka warga GBKP merasa terpanggil dalam mengabarkan injil dan upaya-upaya pembinaan jemaat.

d.      Ada semacam kerinduan masyarakat karo agar mayoritas masyarakat karo menjadi warga GBKP

e.       Mulai ada semangat untuk pembangunanan membangun gereja sederhana dan semi permanen di daerah-daerah yang terbuka bagi injil.

f.       Secara teologi Gereja belum melakukan penelitian mendalam mengenai adat istiadat Karo dan kebiasaan-kebiasaan karo.

Lima bulan pasca Jubelium 75 tahun terjadi pristiwa gerakan 30 september (G30 S) PKI yang membawa goncangan politik, sosial dan religius dalam masyarakat. GBKP sadar akan situasi ini. Dalam situasi seperti ini GBKP menawarkan pegangan hidup baru yaitu Injil Yesus Kristus. Semangat gereja untuk mengabarkan injil terus meningkat yang telah mulai sejak 1961 Gereja-gereja dikota maupun didesa melihat keadaan ini sebagai kesempatan yang terbuka dan Tuhan sendiri membuka KhairosNya. Menumbuhkan semangat dan keterbukaan menerima kabar baik .

2.4.2.      Perkembangan kekeristenan di GBKP

Gereja Batak Karo Protestan (disingkat GBKP) adalah gereja yang berkembang di Tanah Karo, Sumatera Utara. Gereja ini merupakan buah pekerjaan misi dari Belanda yang bernama Nederlands Zendeling genootschap (disingkat NZG). Pada tahun 1797 NZG lebih menekankan pada penginjilan pribadi.[11] Pertumbuhan GBKP tidak bisa dikatakan secara mutlak merupakan hasil pekerjaan NZG. GBKP justru bertumbuh lebih cepat setelah berdiri sendiri pada tahun 1941. Sebelum berdiri sendiri GBKP dipimpin, dikuasai dan dibelanjai oleh pihak Belanda, melalui semacam kerjasama antara pihak perkebunan, zending NHK dan Pemerintahan Kolonial. Seperti yang diungkapkan oleh Rita Smith Kipp seorang antropolog berkebangsaan Amerika yang banyak melakukan penelitian di GBKP dari tahun 1972-1974 dan penelitian tambahan pada tahun 1983, 1986, 1989, dan 1990 mengungkapkan bahwa: “After independence, and once local Christianity came under local Karo control, many Karo began to find church membership more attractive.”  Konversi orang Karo ke agama Kristen pertama kali terjadi pada tahun 1894 (empat tahun setelah NZG masuk ke Karo) dengan jumlah lima orang laki-laki dan satu perempuan. Pertumbuhan GBKP antara tahun 1890 sampai tahun 1940 (masa 50 tahun) gereja Karo telah bertumbuh dari 0 sampai 5.000 anggota baptisan. Lantas dari tahun 1940-1950, selama masa pendudukan Jepang dan revolusi fisik, GBKP tidak bertambah, walaupun begitu GBKP tetap berhasil mempertahankan keanggotaannya dalam periode yang serba sulit tersebut.

dari tahun 1950 sampai tahun 1971 GBKP bertumbuh dari 5.000 anggota menjadi 94.085 anggota baptisan. Meskipun sebelum tahun 1965 sudah mulai terjadi pertumbuhan tetapi tampak jelas pertumbuhan secara mencolok terjadi mulai tahun 1965 dan kemudian setelah tahun 1968 presentase pertumbuhan tahunan menurun dari 39.33% menjadi 7.7% untuk periode 1969.[12]

2.5.Baptisan Massal di GBKP

Di Tanah Karo banyak petani tertarik oleh janji-janji dari PKI meskipun mereka tidak mengerti atau mendalami ideologi komunis itu. Tetapi mereka boleh dikatakan mengharapkan semacam perbaikan hidup dari partai yang begitu hebat janji muluknya. Akhirnya partai itu gagal total dan bayarlah pengharapan mereka. Dalam situasi yang gawat ini pemerintah menganjurkan kepada anggota agama suku untuk memilih salah satu agama yang resminya diakui di Indonesia. Banyak orang Batak Karo khususnya tertarik oleh GBKP yang sebagai suatu gereja pribumi mengakui dan mengintegrasikan unsur-unsur positif Adat Karo ke dalam agama Kristen. Apalagi keputusan Sinode GBKP pada tahun 1965 untuk mengakui dipakainya gendang bukan di dalam, tetapi di luar kebaktian minggu adalah faktor yang cukup besar pengaruhnya dalam sejarah pekabaran Injil pada masa itu. Sebab orang Karo bersedia menjadi orang Kristen bukan menentang kebudayaan tradisional melainkan justru dalam rangka diakuinya unsur-unsur positif dari kebudayaan yang asli yang sudah lama dijiwai ini. [13] Sesuai dengan tata hidup di daerahnya, maka GBKP mengambil keputusan untuk melayani baptisan kepada semua orang dengan pengakuan juga akan terus mengikuti lanjutan pengajaran dan pembinaan dari Gereja kepada anggota-anggotanya. Dengan suatu upacara Gerejani disertai himbauan adat-istiadat daerah Karo, baptisan massal itu dilayani dengan mengikutsertakan beberapa puluh pendeta dari gereja-gereja tetangga di Sumatera Utara. Hadir juga dalam upacara baptisan itu wakil-wakil dari pemerintah Daerah Sumatera Utara dari pihak sipil dan militer.[14]

Pada sisi lain masyarakat karo merasakan kekosongan rohani dan memulai menyambut berita injil dan bersedia belajar Agama Kristen. Beberapa bulan kemudian terjadilah pembaptisan missal yang pertama di GBKP tanggal 19 Juni 1966 di Tiga Lingga (Dairi). Kemudian menyusul lebih banyak tempat seperti di Munthe, Tiga nderket, Barus Jahe, AJi Siempat, Cinta Rakyat, Sibolangit, Namo Ukur, dll.[15] Sebelumnya banyak orang karo menghayati modern serta hidup persekutuan modern lewat lembaga partai-partai politik dalam tahun 1970-an. Kebanyakan orang Karo tetap berpegangan pada agama tradisional. Pengaruh agama suku menciptakan organisasi yang hendak memelihara warisan religious yang diturunkan oleh nenek moyang. Organisasi itu merupakan “Merga Silima”. Maka menjelang tahun 1980 (1970-an), Gereja yang beranggotakan 110.000 jiwa itu memulai kampanye pekabaran injil yang intensif.[16] Berita pekabaran Injil Gereja Batak Karo Protestan 1982 sampai juni 1983 diikutsertakan laporan ke kantor Synode GBKP Kabanjahe, banyaknya yang dibaptis di tengah-tengah GBKP adalah 7746 orang, dan pada akhir orde baru yaitu 1998 jumlah anggota menjadi 234.804 orang. [17]

2.5  Akhir Masa Orde Baru

Sejak pertengahan 1997 badai krisis menerpa Indonesia bersama sejumlah Negara Asia kian hari semakin serius. Tidak seperti Negara lainnya krisis dapat teratasi dalam tempo relative singkat. Tidak sewperti Indonesia dimana dimulai dari Krisis nilai tukar mata uang rupiah (moneter) disusul dengan krisis ekonomi, lalu berlanjut ke bidang politik, sosial, budaya dan moral.[18]

1.      Krisis moneter

Ketika Krisis moneter melanda negara-negara Asia tenggara maka Indonesia merupakan salah satu negara yang paling lemah kemampuannya dalam mengatasi krisis itu. Ada beberapa indikator ketidakmampuan Indonesia seperti:

a.       Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat turun sampai titik terendah yaitu Rp 16.000/Dollar Amerika Serikat.

b.      Lembaga perbankan mengalami keterpurukan sehingga beberapa bank nasional harus dilikuidasi.

c.       Harga barang-barang kebutuhan pokok meningkat sangat tinggi.

d.      Dunia infestasi mengalami kelesuan

e.       Daya beli masyarakat mengalami penurunan

2.      Krisis Ekonomi

Krisis moneter membawa dampak yang besar kepada krisis ekonomi. Krisis ekonomi mulai ditandai dengan beberapa indikator seperti:

a.       Lemahnya infestasi sehingga dunia industry dan usaha mengalami keterpurukan sebagai akibat kekurangan modal

b.      Produktifitas industry mengalami penurunan hingga PHK menjadi satu-satunya alternative yang mudah untuk mempertahankan efesiensi perusahaan.

c.       Angka pengangguran sangat tinggi sehingga pendapatan dan daya beli masyarakat menjadi sangat kerja

 

3.      Krisis Politik

Sebenarnya sebagian besar masyarakat Indonesia tidak terlalu peduli terhadap model/system politik yang dibangun oleh pemerintahan orde baru. Yang penting adalah masyarakat dapat memperoleh kemudahan dalam pendapatan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan cara lain. Sebagian besar masyarakat hanya mendambakan kehidupan yang tertip, tenang, damai, aman serta adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan. Namun dalam penyataannya, dambaan masyarakat itu tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan politik yang dibangun pemerintah Soeharto. Bahkan segala kebijakan pembangunan nasional bersumber dari kebijakan politik pemerintah. Oleh karena itu ketika harapan masyarakat tidak dapat terpenuhi, maka muncul tuntutan agar pemerintah lebih memperhatikan masyarakat kecil di sisi lain. Kehidupan politik ysng represif yaitu satu pemerintah yang ditandai dengan tekanan-tekanan telah melahirkan konflik, kerusuhan dan kekacauan sehingga masyarakat merasa cemas dan kawatir karena ketenangan, ketentraman dan keamanannya terancam. Bahkan kerusuhan dan kekacauan itu dapat menghentikan aktivitas masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan. Keadaan itulah yang menyebabkan terjadinya krisis politik. Sedangkan pemerintah Orde Baru sendiri tidak mampu mengatasi krisis politik yang berkembang. Oleh karena itu satu-satunya jawaban yang dipandang paling realistik adalah menuntut presiden Soeharto untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden. Pemerintah Orde baru dan Presiden Soeharto dipandang sudah tidak mampu menciptakan kondisi kehidupan yang lebih baik sehingga perlu diganti. 

4.      Krisis Sosial

Krisis moneter, ekonomi dan politik terus melanda kehidupan bangsa dan negara Indonesia dalam waktu yang cukup lama. Bahkan harapan vterjadinya perbaikan kehidupan masyarakat tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera datang. Berbagai kesulitan yang dihadapi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya semakin hari semakin bertambah berat. Demonstrasi-demonstrasi yang dipelopori oleh mahasiswa telah mendorong terjadinya krisis sosial. Kerusuhan, kekacauan, pembakaran dan penjarahan merupakan fewnomena yang terus terjadi di beberapa daerah. Disamping itu banyaknya pengangguran dan pemutusan hubungan kerja telah menambah krisis sosial. Kenyataan itu merupakan bukti ketidakmampuan pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja dan memperbaiki kehidupan masyarakat. Oleh karena itu tidak berlebihan  apabila masyarakat kemudian menuntut agar Presiden Soeharto mengundurkan diri dari kursi kepresidenan.        

Di tengah kemelut dan ketegangan ini, yang kian memuncak pada tanggal 9 Mei Soeharto justru meninggalkan Indonesia untuk menghandiri pertemuan tingkat tinggi sejumlah kepala negara di Kairo. Unjuk rasa terus berlangsung sehingga memakan korban 4 mahasiswa Trisakti. Dengan kedesakan tersebut akhirnya Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Dan Habibie disumpah oleh ketua MA untuk menggantikan jabatannya. Pergantian Rezim betapapun pahitnya dan kendati mengakibatkan jatuhnya korban, yang oleh kalangan tertentu dipandang sebagai tumbal, dan membawa hubungan yang lebih baik antara umat Kristen dan Islam, setelah begitu banyak kerusuhan dan korban pada tahun-tahun terakhir Rezim Orde Baru.[19]

2.6. Suatu Tinjauan Historis Kritis Tentang Baptisan Massal pada masa Orde Baru di  GBKP dan Refleksinya Bagi Pelayanan  Jemaat Masa Kini

Orde Baru berdiri diawali dengan suatu kekerasan politik selama lebih dari tiga dekade. Dapat dikatakan Orde Baru didirikan di atas kekerasan massal yang memakan korban jutaan nyawa rakyat Indonesia. Demi stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi, protes dan kritik rakyat dibungkam dan diberangus. Kekerasan politik itu juga menyebabkan pandangan tentang politik sebagai yang kotor dan berbahaya.[20] Terbitnya TAP MPR no XXVII/MPRS/1966 tentang kewajiban memeluk agama yang resmi di Indonesia membuat masyarakat indonesia berbondong-bondong mencari dan masuk keagama yang resmi  yang diakui di indonesia. Keadaan ini membuat agama-agama menjadi incaran para masyarakat yang tidak menganut agama resmi terkhusus agama kristen yang merupakan agama yang diakui dan resmi. Agama kristen menjadi salah satu agama yang diminati  dan salah satu ialah GBKP. Pada masa ini GBKP mengalami peningatan yang cukup pesat di mana penambahan jumlah anggota GBKP yang sangat siknifikan, karena hal inilah GBKP memutuskan untuk mengadakan baptisan massal. Baptisan masal yang berlangsung pada tangal 19 Juni 1996 di desa Tigalingga. Pada hari bersejarah itu telah dibaptiskan 1.903 orang Karo oleh 57 Pendeta yang berasal dari seluruh Sumatera Utara. Pada masa itu hampir setiap hari Minggunya terlaksanakan pesta-pesta pembaptisan di seluruh Tanah Karo. Adapun Tujuan baptisan massal dan sedapat mungkin usaha GBKP untuk memperdalam iman kepercayaan mereka yang pada umumnya masih agak dangkal.

Apa alasannya pertumbuhan jemaat-jemaat yang dengan begitu pesat ini? Pertanyaan ini cukup penting sebab memang tidak seberapa sulit menggambarkan perkembangan pada masa itu sedangkan jauh lebih pelik menentukan alasannya secara tepat. Dipahami bahwa kurang tepat kalau hanya alasan politislah dikemukakan untuk menjelaskan pertumbuhan jemaat-jemaat yang begitu cepat itu Seakan-akan orang suku Batak Karo hanya ingin menjadi Kristen atas semacam desakan pemerintah yang ingin, supaya semua warga Indonesia mulai memeluk suatu agama resmi. Gereja Batak Karo bertambah dan bertumbuh dengan demikian pesatnya karena Injil tidak diarahkan kepada perseorangan melainkan senantiasa kepada anggota seluruh keluarga. Ditinjau dari segi sosiologis orang Batak Karo seperti orang Indonesia lainnya hidup secara korporatip (kerjasama). Penduduk desa Karo tidak hidup seorang diri melainkan mereka hidup dalam ikatan kekerabatan dan kekeluargaan yang sangat erat. Mereka itu menggumuli persoalan-persoalan secara bersama dan harnya mengambil keputusan sesuai dengan persetujuan umum warga secara kolektip. Makanya keputusan untuk menjadi Kristen diambil sebagai keputusan golongan, bukan sebagai keputusan seorang diri sesuai dengan pola individualisme yang semata-mata dikenal di dunia barat. Oleh sebab itu bukan saja perseorangan melainkan banyak keluarga besar di banyak desa pula secara serentak masuk Kristen, maka terjadilah suatu gerakan masal yang kita indahkan di Tanah Karo itu.

Jikalau uraian ini tepat tentu  tidak dapat bicara mengenai suatu gerakan pertobatan ataupun kebangunan rohani yang massal. Tidak hanya mengenai suatu gerakan baptisan ataupun gerakan masuk Kristen saja. Alasan-alasan untuk menjadi Kristen bersifat majemuk, sebagaimana yang sudah dibahas tadi. Di samping itu perlu artikan gerakan pembaptisan ini sebagai suatu gerakan yang dilaksanakan khususnya oleh orang Kristen awam. Berbeda dengan gereja-gereja lainnya, Injil tidak diberitakan dari pangkalan P.I. tertentu dan melalui tenaga-tenaga fulltime. Akan tetapi Injil disebarkan lewat kegiatan spontan anggota-anggota jemaat biasa yang merasa dirinya terdorong untuk menyampaikan berita keselamatan dalam Kristus, kepada sanak saudaranya. Mereka itu bertekad bulat memberitakan Injil kepada famili sendiri yang sebahagian besarnya belum terjangkau olehnya agar mereka itupun ditengah-tengah segala perubahan pesat dalam masyarakat Indonesia yang sedang membangun menemui makna dan pegangan hidup yang baru.[21] Dimasa sekarang ini kebebasan untuk memeluk agama tidak lagi dipaksakan namun tergantung pribadi masing-masing orang dan dilindungi oleh UU. Perkembangan jemaat yang menganut agama kristen pada masa orde baru sangat signifikan jika dibandingkan dengan perkembangan jemaat sebelum masa orde baru dan sampai pada saat ini pertumbuhan perkembangan jemaat terus mengalami peningkatan. Dengan adanya kebebasan yang dijamin oleh negara maka ketidak terpakaan menganut agama diharpkan dapat membuat jemaat pada masa sekrang ini dapat lebih mengimani kepercayaan dan lebih mendalami bukan hanya sekedar beragama tapi lebih memaknai dan mendalami apa arti sebenarnya beragama dan menjadi sesorang kristen yang sejati yang takut akan Allah dan rela memberikan hidupnya untuk kemuliaan nama Allah.

III.             Analisa Penyeminar

Kejadian pada masa orde baru ini membuahkan hasil yang baik, Iman menjadikan Gereja semakin bertumbuh, bukan hanya dari segi kuantitas, tetapi juga kualitas. Begitu juga diperhadapkan dengan iman jemaat masa kini Seperti dalam Kisah Para Rasul 16:5 “demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya.” Seperti pertumbuhan umat Kristen yang drastis bertambah banyak, terjadi Baptisan Massal di berbagai denominasi Gereja. Hal ini menimbulkan dampak positif, walaupun dalam kondisi yang cukup menderita, Orang Kristen pada saat ini tetap bertahan dalam imannya, dan semakin banyak. Seperti yang diperintahkan Tuhan dalam Matius 28:19, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Perintah Tuhan yang tertulis dalam ayat ini tergenapi dalam masa Orde Baru di Indonesia. 

IV.             Kesimpulan

Gereja sepanjang masa memiliki tugas untuk menata diri sebagai umat Allah dan untuk melaksanakan misi keselamatan sebagai keterlibatan dalam karya Allah demi kebaikan dunia. Dalam upaya penataan diri yang demikian warisan-warisan iman di masa lalau dapat dijadikan sumber-sumber berteologi, demi memahami kehendak Allah bagi penataan diri dan pengembangan pelayanan. Untuk memaknai secara kritis relevansinya bagi kita di masa kini. Gereja katolik maupun gereja protestan di Indonesia dapat belajar dari warisan itu untuk menata dirinya, khususnya terkait dibidang politik, dalam perkembangan demokrasi di Indonesia masa kini, kita dapat berkata bahwa keterlibatan gereja dalam kehidupan politik sebaiknya diarahkan pada penguatan masyarakat sipil dan berpihak pada kaum tertindas. 

V.                Daftar Pustaka

…KBBI, 

Aritonang Jan. S., Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam DI Indonesia, Jakarta: BPK-GM, 2015.

Cooley, Frank, L, Benih Yang Tumbuh 4: Gereja Batak Karo Protestan, Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi DGI, 1976

Enklaar I. H., Baptisan Massal dan Pemisahan Sakramen-Sakramen, Jakarta: BPK-GM, 1978.

F. Ukur & F. L. Cooley, Jerih dan Juang, Lembaga Penlitian dan Studi-DGI 1979,2010

Ghalia Indonesia, Ketetapan-ketetapan MPR Jakarta,Bina Taruna,1986.

Gintings E. P., Sejarah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Medan: “El” Penampat” Gerafindo, 2015.

J. Weitjens, Th. Van Den & Ragi cerita 2, Jakarta: BPK-GM, 2002.

Kipp,  Rita Smith, “Conversion by Affiliation: The History of the Karo Batak Protestant Church,” American Ethnologist, Vol. 22, No. 4 (Nov., 1995): 870.

Kolimon Mery dan Liliya Wetangterah Memori-Memori Terlarang: Perempuan Korban dan Penyintas Tragedi ’65 di Nusa Tenggara Timur Kupang: Yayasan Bonet 2012.

Lihat Mery Kolimon, “Mulai dengan Korban: Makna Tragedi ’65 untuk teologi Kontekstual dan Aksi pastoral di NTT”, dalam: Mery Kolimon dan Liliya Wetangterah (eds.), Memori-Memori Terlarang: Perempuan Korban dan Penyintas Tragedi ’65 di Nusa Tenggara Timur, Kupang: Yayasan Bonet 2012

Mahfud Moh., Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia,  Jakarta: Bineka Cipta, 2000.

Matroji, Sejarah, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012.

Tarigan, Berthalyna Jurnal Teologi Gereja, Negara, dan Politik ditinjau dari Sejarah Gereja, Kabanjahe: Moderamen gereja Batak Karo, 2013.

Wellem F. D., Kamus Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2011.



[1] I. H. Enklaar, Baptisan Massal dan Pemisahan Sakramen-Sakramen, (Jakarta: BPK-GM, 1978), 5

[2] F. D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 2011), 37

[3] …KBBI, 884

[4] Ghalia Indonesia, Ketetapan-ketetapan MPR (Jakarta,Bina Taruna,1986),43

[5] Matroji, Sejarah, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012),110, 136.

[6] Berthalyna Tarigan, Jurnal Teologi Gereja, Negara, dan Politik ditinjau dari Sejarah Gereja, (Kabanjahe: Moderamen gereja Batak Karo, 2013), 26

[7]  Jan. S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam DI Indonesia, 412-414

[8]  Moh. Mahfud, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, 63

[9] F. Ukur & F. L. Cooley, Jerih dan Juang, 200-203

[10]  E. P. Gintings, Sejarah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), (Medan: “El” Penampat” Gerafindo, 2015), 201-202

[11]Rita Smith Kipp, “Conversion by Affiliation: The History of the Karo Batak Protestant Church,” American Ethnologist, Vol. 22, No. 4 (Nov., 1995): 870.

[12] Frank L. Cooley, Benih Yang Tumbuh 4: Gereja Batak Karo Protestan (Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi DGI, 1976), 69

[13]E. P. Gintings, Sejarah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP),  600

[14] I. H. Enklaar, Baptisan Massal dan Pemisahan Sakramen-sakramen, 6

[15] E. P. Gintings, Sejarah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), (Medan: “El” Penampat” Gerafindo, 2015), 328 

[16] Th. Van Den & J. Weitjens, Ragi cerita 2, (Jakarta: BPK-GM, 2002), 206

[17] E. P. Gintings, Sejarah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), 353-356

[18] Jan. S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam DI Indonesia, 513

[19] Jan. S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam DI Indonesia, 513-524

[20] Lihat Mery Kolimon, “Mulai dengan Korban: Makna Tragedi ’65 untuk teologi Kontekstual dan Aksi pastoral di NTT”, dalam: Mery Kolimon dan Liliya Wetangterah (eds.), Memori-Memori Terlarang: Perempuan Korban dan Penyintas Tragedi ’65 di Nusa Tenggara Timur (Kupang: Yayasan Bonet 2012), hlm. 356-362.

[21]  E. P. Gintings, Sejarah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), 600-601

Tidak ada komentar:

Posting Komentar