Arti dan Makna Kehidupan dalam Kitab Pengkhotbah
( Diperhadapkan dengan; Science, Sistematika, Ilmu Agama-Agama, Agama Suku, Kaum Ateis, di Tengah-Tengah Krisis Kehidupan Manusia)
I. Pendahuluan
Kitab pengkhotbah dibaca pada perayaan pondok daun-daun. Dalam bahasa Ibrani kitab Pengkhotbah disebut Qohelet. Dalam Septuaginta disebut Ekklesiastes (Yunani) yang artinya agak sejajar dengan sebutan Qohelet (bahasa Ibrani). Kata Qohelet berasal dari kata Qahal (jemaat). Karena itu Qohelet bisa menunjuk kepada fungsi dalam jemaat.[1] Kitab Pengkhotbah ini berisi buah pikiran dari ‘sang pemikir’. Ia merenungkan secara dalam-dalam betapa singkatnya hidup manusia ini, yang penuh pertentangan, ketidakadilan dan hal-hal yang sulit dimengerti. Melalui tulisan ini, mari kita simak bersama lebih jelasnya tentang arti dan makna kehidupan dalam Kitab Pengkhotbah.
II. Pembahasan
2.1. Pengertian Hidup
Hidup adalah bentuk atau kualitas eksistensi yang membedakan makhluk hidup dari benda mati. Karakteristik kehidupan yang dimiliki oleh semua organisme hidup adalah pertumbuhan, reproduksi, metabolisme, dan kemampuan untuk menanggapi rangsangan.[2] Hidup berarti masih terus ada, bergerak dan bekerja sebagaimana mestinya, bertempat tinggal (diam), mengalami kehidupan dalam keadaan atau dengan cara tertentu.[3] Selain itu hidup merupakan keberadaan spritual dianggap melampaui kematian jasmani.[4]
2.2. Arti dan Makna Kehidupan Secara Umum
Makna hidup adalah suatu tujuan kenapa manusia ada dan kenapa kita ada. Sebab asumsinya adalah manusia tidak selalu ada dan pernah tidak ada. Jadi kehadirannya dianggap membawa suatu makna tertentu. Kej. 1:26-29, berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut...”. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan dilaut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”. Berfirmanlah Allah; “Lihatlah Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji diseluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah yang akan menjadi makananmu”.
Secara umum Allah menciptakan manusia dengan tujuan:
a. Untuk menjadi wakil Allah di bumi
b. Memerintah segala isi bumi ini atau alam semesta, juga menunjukkan manusia itu diciptakan Tuhan untuk menikmati semua karya ciptaan Tuhan.
Tujuan utama atau tujuan puncak manusia diciptakan Tuhan adalah untuk menikmati Tuhan, untuk dirinya bersekutu dengan Tuhan, dan menikmatinya. Standart atau kriteria penciptaan manusia adalah hal yang sangat khusus, yang juga menandakan betapa spesialnya dan berharganya manusia itu. Semua ciptaan, diciptakan Tuhan melalui perkataanNya, tapi hanya satu ciptaan yang diciptakan dengan tangan Tuhan yaitu manusia. Alkitab mencatat hal itu untuk menunjukkan betapa khususnya manusia. Dr. Victor Frangkle adalah seorang terapi yang menekankan bahwa manusia itu harus makna hidup, tanpa makna hidup manusia sebetulnya kehilangan hidup itu sendiri.[5]
2.3. Arti dan Makna Kehidupan Dalam Perjanjian Lama
Dalam istilah Ibrani untuk kata hidup/kehidupan adalah הׇי khay (tunggal) atau חׇיׅם khayim (jamak), Yang terdapat 147 kali dalam Perjanjian Lama. Kata kerjanya yaitu הׇיׇה khayah pada awalnya berarti lamanya waktu seseorang hidup, biasanya jumlah tahun tertentu.[6] Selain bermakna lamanya waktu hidup, kata ini juga berarti status kehidupan berlawanan dengan kematian (2 Sam. 15:21; Kej.27:46), (kepemilikan atau sukacita) hidup atau kesehatan atau totalitas (Mzm.56:14; Yer.21:8), serta mata pencaharian (Ams.27:27).[7] Bagi orang Ibrani hidup/kehidupan mempunyai makna selain makna kehidupan fisik. Bagi mereka, hidup adalah aktifitas atau keadaan yang baik/kesejahteraan. Hal ini dikuatkan terutama karena adakalanya kata ini digabungkan dengan “shalom”. Dalam kitab hikmat, semua jalan hikmat adalah shalom dan bahwa hikmat adalah pohon kehidupan bagi mereka yang bersandar padaNya (Ams. 3:17) yang berbicara tentang panjang umur, kekayaan, kehormatan, dan kebahagiaan. Maleakhi 2:5 menyatakan bahwa perjanjian Allah dengan orang Lewi adalah perjanjian “hidup dan damai”. Ada juga hubungannya dengan berkat. Karenanya kehidupan berarti berkat dan kematian adalah kutuk.[8] Selain itu, kehidupan juga berarti kesehatan atau kehidupan yang penuh. Hidup artinya bukan hanya tetap hidup, melainkan juga menikmati sesuatu hidup yang penuh, kaya dan bahagia. sering juga berarti “kuat dan sehat”. Orang Israel digigit ular di padang gurun, melihat pada tiang ular dan “hidup” atau disembuhkan (Ul. 21:8). Hidup dihubungkan dengan “kepemilikan tanah” (Ul. 4:1; 5:33; 8:1). Jika demikian, hidup hanya didapatkan dengan menjaga pemerintah Allah.[9]
2.4. Arti dan Makna Kehidupan dalam Konsep Kitab Pengkotbah
Pada ayat 1, selain penulis memperkenalkan dirnya sebagai anak Daud, raja Yerusalem, ia juga memperkenalkan dirinya sebagai Pengkhotbah, yang dalam bahasa Ibrani “Qohelet” kata Kohelet dalam bahasa Ibrani mempunyai hubungan dengan kata qahal, yang berarti perkumpulan atau perhimpunan. Sehingga pengkhotbah adalah orang yang berdiri di depan sidang/ jemaat untuk mengajar atau memberitahukan jalan-jalan Tuhan. Ibrani kuno awalnya memakai istilah “hossoperet”artinya: orang yang cerdas dan pintar, sehingga orang yang berdiri di depan jemaat tersebut adalah orang-orang yang cerdas dan pintar. Septuaginta memakai istilah ekklesia artinya jemaat atau gereja. Sebagai pengajar yang bijaksana maka tujuan pengajaran adalah memahami arti dan makna kehidupan. Kitab ini sesungguhnya menyatakan bahwa Allah mengetahui apa yang sedang terjadi dan umatNya harus bergantung pada-Nya serta melayani Dia. Kitab ini memperingatkan agar hati-hati dalam hidup karena manusia harus mempertanggung jawabkan kepada Dia. Penulis seakan-akan berkata: “Marilah kita melihat bagaimana rasanya hidup tanpa Allah? Apa yang akan diperoleh jika hanya hidup untuk hal-hal duniawi? Hidup menjadi sia-sia dan hampa, menjengkelkan dan penuh dengan penderitaan. Namun, Allah bisa mengubah semua itu. Kehidupan dalam Kitab Pengkhotbah adalah sebagaimana yang dijalani manusia, dimana dalam kitab ini mengatakan bahwa tanpa Allah hidup adalah sia-sia, tiada arti, tiada tujuan, kosong, dan merupakan sebuah gambaran yang suram. Kehidupan ini tidak adil, bekerja itu tidak ada gunanya, kesenangan tidak dapat memberi kepuasan, kehidupan yang baik dan pikiran yang bijaksana menjadi sia-sia karena pada akhirnya menghadapi kematian. Dalam pasal-pasal pertama kitab Pengkhotbah, pernyataan demi pernyataan dari Pengkhotbah yang tidak biasa, ia mengatakan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia (Pengkhotbah 1:2). Ungkapan kesia-siaan ini mendominasi dan dapat ditemukan hampir di seluruh bagian pasal dalam kitab tersebut. Dan bagi Pengkhotbah, segala sesuatu adalah kesia-siaan. Kitab Pengkhotbah ini bukan berisi khotbah agar pembaca meyakini hidup, bekerja, dan belajar adalah sia-sia. Tetapi Pengkhotbah mengajak manusia untuk merenung dan menimbang secara kritis segala aspek kehidupan ini, mulai dari tingkah laku manusia, termasuk makna dan tujuan hidup sendiri. Pengkhotbah bergumul lalu menyadari bahwa semakin keras ia berusaha memaknai hidup, semakin ia menyadari bahwa hal tersebut adalah sia-sia. Menurut Pengkhotbah, ternyata tidak semuanya sia-sia. Ada satu yang tidak, yaitu Allah. Pengkhotbah mengajak orang untuk menikmati hidup pemberian Allah. Pengkhotbah mengajak untuk tunduk kepada Allah karena Allah-lah yang tahu segalanya dan hanya Dialah yang tidak sia-sia.
Kitab Pengkhotbah banyak berbicara tentang kesia-siaan. Istilah kesia-siaan ini diambil dari bahasa Ibrani “hebel” yang berarti “tidak ada artinya”. Dengan demikian, menurut Kohelet segala sesuatu yang ada di dunia ini sebenarnya menjemukan. Kohelet adalah orang yang sangat serius dengan kehidupan. Ia memeriksa, meneliti dengan seksama segaka yang terjadi dibawah langit. Ia melakukan semua itu karena ia melihat bahwa segala sesuatu adalah sia-sia, ia ingin mencari kemungkinan yang lain, yang bisa dikatakan bermakna dalam hidup ini.
Ketika Kohelet melihat segala pengalamannya, yaitu pengalaman dari orang yang paling berhikmat sampai kepada orang yang paling bodoh atau bebal, ia menyimpulkan di ayat 13, “dan aku melihat bahwa hikmat melebihi kebodohan, seperti terang melebihi kegelapan.” Jadi menurut Kohelet, orang berhikmat itu bagaimanapun masih jauh lebih baik daripada orang bebal. Hikmat itu selalu mempunyai manfaat praktis yang mampu menolong manusia. Orang yang berhikmat misalnya, dapat menghindarkan diri dari melakukan kesalahan-kesalahan yang bodoh dalam hidupnya. Orang yang berhikmat diumpamakan seperti pada pasal 2 ayat 14, “mata orang berhikmat ada dikepalanya”. Artinya apabila mata ada di tempat yang tepat, tentu orang tidak akan tersandung bila berjalan. Demikianpun bila seorang memiliki hikmat, tentu dia juga akan menjalani hidup ini dengan baik. Meskipun begitu, dalam ayat 14 juga dikatakan, “tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua”. Orang berhikmat memang masih lebih baik daripada orang bodoh, tetapi nasib akhir orang berhikmat dan orang bodoh tetap sama, yaitu mati. Kematian, rupa-rupanya selalu ada dalam benak Kohelet sebagai akhir dari hidup manusia. Kematian menjadi sesuatu yang senantiasa dia perhitungkan dalam melihat hidup ini.
Kohelet mengatakan bahwa hidup ini sebentar dan kejam. Itulah realitas kehidupan yang harus dihadapi. Oleh karena itu, janganlah kita memuja kehidupan yang kejam ini dan yang sebentar saja sifatnya. Meskipun begitu, hidup itu tetap masih lebih baik dari pada mati, menurut Kohelet. Pernyataan yang terakhir ini mungkin tampak bertentangan dengan apa yang dikatakannya dalam Pengkhotbah 4:2, bahwa orang mati, apalagi yang sudah lama mati, lebih bahagia daripada orang yang masih hidup. Namun itu bukan berarti, mati lebih baik daripada hidup. Melainkan karena orang mati atau yang sudah lama mati sudah tidak perlu lagi melihat atau mengalami semua kejahatan yang ada di dunia ini.
Dalam hal ini, Kohelet juga mengingatkan bahwa suatu saat kita akan mati. “ingatlah akan hari-hari yang gelap, karena banyak jumlahnya” (11:8). Namun, Kohelet mengatakan ini bukan untuk menakut-nakuti kita dan membuat kita terpenjara dalam pikiran akan kematian. Kohelet hanya ingin memperlihatkan kenyataan hidup bahwa orang yang hidup pasti mati. Karena itu, kalau kita masih dapat menikmati hidup, nikmatilah. Sementara Tuhan masih mengaruniakan hidup kepada kita, hiduplah dengan sebaik-baiknya. Pada suatu saat kegelapan akan datang, kematian akan menjemput. Semua kesempatan itu tidak akan ada lagi. Menyadari bahwa hidup itu terbatas sebenarnya mendorong kita untuk memanfaatkan hidup yang terbatas itu dengan sebaik-baiknya.[10]
Dalam Kitab Pengkhotbah, Mengenai dunia tempat hidup ini, Pengkhotbah mengatakan di dunia ini tidak dimungkinkan adanya penilaian moral, bahwa hikmat hanya akan berhasil sedikit saja, dan bahwa kenikmatan hidup adalah satu-satunya pengalaman positif yang ada. Kenikmatan hidup itu selalu tersedia dan anda adalah salah seorang dari sekian banyak orang yang oleh Allah diberi kemampuan untuk menikmatinya.[11] Dalam Kitab Pengkhotbah dikenal dengan predestinasi di mana kegiatan dan tingkah laku manusia mempunyai pola yang tetap dan sama dengan pola kegiatan dan tingkah laku Allah (3:1-8). Apa yang telah dibuat oleh Allah tak akan dapat berubah atau diubah dan tak ada hal baru yang dapat muncul serta dapat mengubah arah keberadaan segala sesuatu. Kesusahan kedudukan manusia telah ditetapkan dan dimateraikan oleh kenyataan bahwa Allah telah menaruh sifat kekekalan di dalam hati manusia. Dengan kata lain manusia dibuat memang tidak puas dengan pemahamannya yang sepotong-sepotong tentang dunia ini, sekaligus ia tidak dimampukan untuk melengkapkan pemahamannya itu dan ia memang ditakdirkan untuk bingung dan hampa sia-sia. Gambaran tentang dunia di mana manusia hidup adalah gambaran kekacauan nilai-nilai moral yang memang inheren dalam dunia itu. Dalam dunia itu sama sekali tidak ada batasan yang jelas nilai moral kabur, dan segala jenis ukuran moral bercampur aduk. Baik dan buruk bercampur buruk tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain (3:1-16). Kehidupan tidak mempunyai aturan seperti yang disangkakan berlaku oleh ajaran ortodok. Keadilan Allah yang disangka berlaku oleh ajaran ortodok ternyata tidak berlaku dalam kehidupan ini. Jadi kalau Allah mencoba memaksakan satu ujian kepada manusia, maka ujian itu bukanlah ujian moral. Ujian itu hanyalah bermaksud untuk memperlihatkan kepada manusia bahwa manusia itu tidak berbeda dari binatang. Keduanya mengalami kematian yang sama, sama-sama berasal dari debu dan kembali kepada debu (3:19-22).[12]
Pengkotbah menekankan fakta bahwa manusia secara absolut bergantung dalam dunia kehidupan dan masa kehidupan yang disingkapkan oleh Allah. Elemen yang signifikan dari pesan ini adalah bahwa Pengkotbah mengenali saat-saat kebahagiaan yang Allah kirim dalam apresiasi yang disadari terhadap peristiwa-peristiwa sehari-hari. Dalam penekanan atas momen yang dikirim oleh Allah Sang Khalik dan dalam penggambaran kebahagiaan sebagai perjumpaan membuktikan diri sebagai perintis bagi kata-kata Yesus dalam Matius 6:25-31, dimana rujukan kepada Salomo sulit dianggap kebetulan.[13]
2.5. Arti dan Makna Kehidupan di Tengah-Tengah Krisis Kehidupan diperhadapkan dengan;
2.5.1. Ilmu Pengetahuan (Science)
Makna kehidupan adalah persoalan filsafat dan spiritual yang berkaitan dengan keutamaan kehidupan atau keberadaan secara umum. Makna kehidupan juga dapat diungkapkan dalam berbagai kalimat tanya seperti "Apa yang harus kulakukan?", "Mengapa kita ada di sini?", "Apa itu kehidupan? dan "Apa tujuan keberadaan?", atau bahkan "Apakah kehidupan ada sama sekali?" Makna kehidupan sudah lama menjadi bahan spekulasi secara filosofis, ilmiah, dan teologis. Berbagai kebudayaan dan ideologi memiliki jawabannya masing-masing untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Makna kehidupan turut dijelaskan dalam konsep keberadaan, ikatan sosial, kesadaran, dan kebahagiaan secara filosofis dan keagamaan. Persoalan ini juga menyerempet isu-isu lain seperti makna simbolis, ontologi, nilai, tujuan, etika, kebaikan dan keburukan, kehendak bebas, keberadaan satu atau beberapa dewa, asal mula Tuhan, jiwa, dan akhirat. Komunitas ilmiah lebih berfokus pada penjelasan fakta alam semesta secara empiris dan pendalaman konteks serta parameter terkait pertanyaan kehidupan. Sains juga mendalami dan memberi saran untuk pencapaian kesejahteraan diri dan penciptaan moralitas. Pendekatan alternatif yang humanistik mengajukan pertanyaan "Apa makna kehidupan saya?" Nilai pertanyaan tentang tujuan kehidupan dapat dikaitkan dengan pencapaian kenyataan tertinggi atau rasa kesatuan atau bahkan rasa ketakutan.[14]
2.5.2. Sistematika
Prinsip pertama dari etika kehidupan seorang Kristen adalah suatu kehidupan yang dijalani demi “kemuliaan Allah”. prinsip ini didasarkan pada 1 Korintus 10:31; “jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. hidup untuk memuliakan Allah adalah hidup dalam jalan yang membawa kemuliaan bagi nama Allah yang baik dan sempurna; berhati-hati agar tidak ada satupun dalam pikiran, kata-kata, atau tindakan kita yang mencemarkan Dia, melainkan membuat orang-orang menghargai Dia.
Prinsip kedua dari etika Kristen didasarkan pada perintah Agung Yesus, ‘mengasihi Allah dan mengasihi sesama mu seperti dirimu sendiri’. ini dikenal sebagai prinsip “kasih”. Kita harus menjadikan kasih sebagai tujuan tertinggi dari kehidupan kita, berjuang setiap hari untuk membuat pikiran, kata-kata, tindakan kita merefleksikan sebuah kehidupan kasih. Point terpenting disini yaitu prinsip kasih sangat terkait erat dengan prinsip kemuliaan Allah. ketika membaca konteks dari 1 Korintus 10:31, kita akan mampu melihat keterkaitan ini. Menghidupi kehidupan yang memuliakan Allah dan untuk kebaikan orang lain, sesungguhnya adalah satu hal yang sama. Sebuah kehidupan Kristen yang dihidupi untuk kemuliaan Allah diterjemahkan sebagai suatu kehidupan yang dihidupi untuk orang lain. Demikian juga, suatu gaya hidup yang membawa kemnuliaan bagi Allah. kehidupan yang penuh kasih adalah kehidupan yang memperhatikan kebutuhan orang lain, mendukung mereka dan wilayah kelemahan mereka, dan menanggung beban mereka. Sederhananya, ini adalah sebuah kehidupan yang ditandai dengan tindakan melayanai dan berbagi. Kita membawa kemuliaan bagi Allah dengan hidup sebagai agen kasih.
Orang-orang Kristen dipanggil untuk memperluas kasih kita kepada sesama kita yang kekurangan hal-hal tersebut, seperti halnya memperhatikan mereka yang menderita kemiskinan, dan sakit penyakit. Kategori kebutuhan yang kedua merujuk pada kebutuhan universal umat manusia untuk kestabilan mental dan moral. Hal ini termasuk pemenuhan kebutuhan intelektual, emosional, dan relasional. Ada banyak orang di dunia yang belum pernah diberi kesempatan untuk mengembangkan diri mereka sendiri secara intelektual, emosional, relasional. Memberikan orang-orang kesempatan untuk bertumbuh dalam area-area kebutuhan ini, merupakan cara yang sangat penting untuk melayani mereka. Bayangkan, betapa berartinya hal ini bagi orang-orang yang belum pernah memiliki kesempatan yang menghidupi harapan dan impian mereka untuk menemukan tangan yang terulur dari sesama orang Kristen. Hal ini berarti banyak, bagaimana berkomitmennya mereka untuk mengasihi orang lain. Kebutuhan yang terakhir yaitu kebutuhan rohani. Kebutuhan setiap orang adalah bertemu Yesus dan masuk dalam suatu relasi penuh kasih dengan Allah Bapa. Entah apakah orang-orang memperhatikan hal ini atau tidak, inilah adalah kebutuhasn terbesar jiwa mereka, dan inilah sebabnya mengapa tujuan dari seorang Kristen haruslah keselamatan orang-orang yang terhilang dalam segala relasinya dengan sesama.[15]
2.5.3. Ilmu Agama-Agama[16]
1. Pandangan Agama Hindu
Dalam pandangan agama Hindu tentang tujuan hidup ialah, bahwa terdapat beberapa tujuan yang hendak dicapai, dari tingkat bawah menuju ke tingkat yang lebih tinggi, yang bertalian dengan masa umur tertentu dan dalam setiap masa mau membentuk gaya hidup tertentu.
Tujuan hidup yang pertama ialah “kama”, yakni kenikmatan, kesenangan. Terutama kenikmatan kelamin, tetapi juga kenikmatan emas dan permata, makan enak dan lain-lainnya. Kama-Sutra, itulah yang memberikan pedoman-pedoman hidup untuk masa hidup yang brtujuan kama. Untuk itulah Kama-Sutra memberikan, antara lain semacam “ars amoris”,yakni cara-cara untuk mencapai kenikmatan kelamin.
Tujuan hidup yang kedua ialah; “artha”, yakni usaha untuk mendapat harta benda dan kekuasaan, kehormatan di dalam masyarakat, pangkat setinggi mungkin, hubungan-hubungna dan kawan-kawan yang banyak. Yang memberi petunjuk-petunjuk untuk masa hidup yang bertujuan artha itu ialah artha-sutra.
Tujuan hidup yang ketiga ialah; “dharma”, yakni kesesuaian dengan hukum, keselarasan, keberaturan, keseimbangan, pengekangan diri. Itulah tujuan hidup orang-orang yang telah mendapat pengalaman hidup dan yang sudah mencapai dudukan tertentu di dalam masyarakat. Dan di dalam dharma-sutra diuraikanlah tentang segala segaka kewajiban yang sesuai dengan tujuan itu. Diuraikanlah misalnya tentang kewajiban-kewajiban raja, kepala keluarga dan lain-lain. Sangat dititikberatkan, bahwa memenuhi dharma itu membawa upah sorga dan melanggarnya membawa hukum neraka.
Akan tetapi tujuan hidup yang tertinggi ialah moksha, yakni kelepasan, kebebasan. Tujuan tertinggi haruslah terangkat lep[as dari penitisan berantai (penjelmaan, perpindahan jiwa). Tujuan tertinggi ialah, agar atman (jiwa manusia) terlarut dalam Brahma (ada yang tidak berpribadi). Sekarang menurut agama Hindu, barang siapa berusaha mencapai kama, artha dan dharma dengan cara yang benar, sesuai dengan masa-masa umurnya dan dengan sikap tepat, maka sudahlah ia melangkahkan kakinya di jalan yang menuju ke moksha.
2. Pandangan Agama Buddha
Dalam agama Buddha tujuan tertinggi ialah “Vimutti”, yakni kebebasan dari reinkarnasi (samasara) berantai, dari penjelmaan atau perpindahan jiwa. Pemusnahan (nirodha) penjelmaan berantai itu berarti pula pemusnahan karma (atau kamma), artinya pemusnahan segala “perbuatan” manusia dan hukum pembalasan yang menguasai perbuatan-perbuatan itu. Isi Vimutti ialah; “Nirvana”. Nirvana itu digambarkan sebagai pemusnahan kehidupan manusia sebagai makhluk dengan segala nafsunya; “musnah kelahiran, sempurna kelakuan yang suci, terpenuhi kewajiban, berakhir kehidupan di dunia ini”.
Menurut agama Buddha, “menjadi” (Bhava) itu telah dihapus. Tidak ada lagi yang tinggal, baik semu maupun bayangan dari kehidupan perseorangan. Seperti segala air di bumi dan di langit mengalir dan bermuara ke lautan tanpa menyebkan tergenang atau kekeringan, demikian pula unsur Nirvana tidak akan menjadi lebih penuh ataupun lebih kosong, betapa banyakpun pengikut Buddha mendapat jalan masuk ke Nirvana itu. Jadi, Nirvana adalah suatu keadaan, dimana segala perbuatan perseorangan dan ketaatan perseorangan pada hukum-hukum telah berakhir dan lenyap sama sekali. Memenuhi kewajiban-kewajiban untuk menaati hukum-hukum (dharma), melakukan kebajikan-kebajikan yang dijunjung tinggi seperti: karuna (berbelas-kasihan), mudita ( turut bersuka cita dengan orang yang bersuka cita), upeksa (bersabar hati terhadap segala kejahatan dan kecemaran) dan metta ( kasih yang meliputi segala sesuatu), itu semuanya hanyalah memiliki arti sebagai persiapan. Maka agama Buddha pun dapat berkata dengfan caranya sendiri seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam 1 Korintus 13: “dari semua karunia rohani, hanya kasih yang terutama”. Akan tetapi agama Buddha tidak dapat berkata, “nubuat-nubuat tidak berguna lagi, tapi kasih itu tidak akan berkesudahan”.
3. Pandangan Agama Islam
Bagaimanakah tujuan hidup di dunia itu diuraikan di dalam agama Islam? Tujuan hidup di dunia ini ialah kehidupan di Firdaus, yang sering disebut juga dengan kata Arab: “janna, artinya taman atau “jannat eden”, yakni taman eden. Kata Firdaus terdapat dalam Sura 18:107 dan Sura 23:11. Uraian tentang janna, yaitu taman eden, terdapat dalam Sura 47:16,17;Sura 55:54;Sura 56:15-22; Sura 56:27-33. Di dalam ayat-ayat quran itu diceritakn tentang sebuah taman dengan sungai-sungai air, air susu dan air madu, dengan pohon-pohon pisang dan pohon buah-buahan lainnya yang lebat buahnya, ‘yang tidak putus-putusnya dan tidak pulak terlarang memetiknya’ (Sura 56, tafsiran Mahfud Yunus). Di dalam agama Islam, hubungan apakah yang terdapat antara perbuatan kesusilaan manusia dan tujuan hidup manusia? Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia diberi nilai sebagai jasa. Berpuasa, melakukan shalat, naik haji dan lain-lain, dipandang sebagai perbuatan yang berpahala, yang dapat diterima sebagai penebus dosa dan yang membawa hak memperoleh Firdaus. Oleh sebab itu, terdapat juga dalam agama Islam kesangsian atas keselamatan, seperti yang terdapat pada agama-agama hukum (agama legalistis). Tiada seorangpun tahu apakah sudah cukup perbuatan-perbuatannya yang baik untuk memperoleh keselamatan.
2.5.4. Agama Suku
Orang Batak penganut Malim mempunyai konsepsi bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debeta Mulajad Nabolon. Dia bertempat tinggal di atas langit dan mempunyai nama-nama sesuai dengan tugas dan kedudukanya. Bagi suku Batak yang menganut ajaran Parmalim, Debeta Mula Jadi Na Balon adalah maha pencipta manusia, langit, bumi dan segala isi alam semesta. Bumi disebut dengan Banua Tonga, dan tempat Tuhan atau debata disebut banua ginjang, Banua toru “dalam buku ini tidak disebutkan apa itu banua toru”. Banua Ginjang diciptakan oleh Mulajadi nabolon, selanjutnya banua lain diciptkan oleh Debata Mulajadi Nabolon melalui tangan putrinya Deak parujar lewat tanah segemgam dan jadilah Bumi, Tumbuhan ada karena Bayi pertama deak Parujar ditanam atas perintah Mulajadi .
Pandangan Ugamo Malim terkait Hidup dan Mati Agama ini tepatnya lebih mengenal kekekalan setelah kematian. Agama ini percaya kepada Debata Mula Jadi Na Bolon sebagai Tuhannya. Hidup dan mati manusia dalam Parmalin berada pada kuasa Debata Mula Jadi Na Bolon. Mereka juga percaya terhadap keberadaan Arwah-arwah leluhur. Setelah Manusia meninggal maka Tondi/ roh tetap di Bumi, dan Roh yang baik akan memberi berkat kepada manusia, dan roh yang jahat disebut tondi Na Hodar.[17]
2.5.5. Kaum Ateis
Tidak pernah ada perjalanan yang sama persis, setiap hari sepanjang hidup. Setiap perjalanan adalahg perjalanan baru. Bila orang menyadari ini, dia tidak akan mengalami rasa jenuh dan bosan yang banyak. Tak mengapa sekali-sekali merasa jenuh dan bosan, untuk masuk kedalam pesona yang lebih panjang. Hidup pada hakekatnya adalah sebuah perjalanan. Sebagian manusia berjalan pada tujuan yang pasti. Sebagian berjalan menurut dengan angin bertiup. Kalau ingin ke Timur, ya sudah saya menuju Timur. Sebagian lagi berjalan tanpa tujuan. Siapa yang menentukan tujuan hidup? Kaum Ateis berpendapat manusialah yang menetukan tujuan hidupnya sendiri, manusialah yang menentukan masa depannya sendiri. Mereka yang mengikuti logika ini, dengan memakai analogi, melihat bahwa kendaraanlah yang menentukan tujuannya sendiri, buikan sang sopir. Komputerlah yang menentukan kegunaannya sendiri, bukan siperancang perangkat keras atau perangkat lunaknya.[18]
2.6. Arti dan Makna Kehidupan di Tengah-Tengah Krisis Kehidupan Manusia
Pengkotbah menguraikan apa yang menjadi arti dan makna kehidupan kita. Salomo salah satu orang yang paling bijaksana yang pernah hidup, menyimpulkan hanya kesia-sian jika hidup hanya dijalani berfokus pada dunia ini saja. Salomo menyatakan bahwa kehidupan ini seluruhnya tentang memualiakan Allah dalam pikiran dan kehidupan, serta memelihara perintahNya. Karena suatu hari kita akan memberi pertanggungjawaban dihari penghakimanNya. Salah satu tujuan hidup kita adalah takut kepada Allah dan menaatiNya. Pasal 12 merupakan rangkuman dari isi pokok kitab Pengkotbah. Ayat 1-7 nampak ingin mendorong orang-orang muda dan orang-orang yang masih hidup untuk hidup secara bergairah. Hal ini diutarakan oleh Pengkhotbah sebab pada waktunya nanti semua orang akan pasti mati. Nikmatilah hidup ini sepuas-puasnya sebelum “mata rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan, sebelum tempayan dihancurkan dekat mata air dan roda timba dirusakkan di atas sumur, dan debu kembali menjadi tanah dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya. Tujuan hidup manusia itu mempermuliakan Allah dan hidup di dalam anugerahNya untuk selama-lamanya. Kita memuliakan Allah dengan menghormati dan menaatiNya, memusatkan pandangan kita di surga kelak, dan mengenal Dia secara intim. Kita menikmati anugerah Allah dengan mengikuti rancanganNya bagi kehidupan kita. Sebab itu nikmatilah hidup yang dikaruniakan oleh Tuhan kepadamu dibawah matahari, karena itulah kebahagiaan dalam hidup dan dalam usaha yang dilakukan dengan jerih payah dibawah matahari, sebab itu segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tidak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam hidup orang mati kemana engkau pergi (9:9-10).
III. Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Pengkotbah menggambarkan misteri Allah dengan kemahakuasaan Allah dan tak seorang pun tahu mujizat kehidupan itu terjadi. Karena kehendak Allah tersembunyi dari pandangan manusia. Pengkhotbah juga berpandangan bahwa kehidupan manusia yang tragis bukan oleh karena berada dalam proses waktu yang mekanis, tetapi karena waktu Allah yang tidak dapat diketahui manusia. Di dunia ini tidak ada hal yang baru. Yang dulu ada, sekarang ada lagi. Dalam hal ini Pengkhotbah memahami waktu sebagai yang konkret, bukan abstrak. Waktu adalah peristiwa. waktu dan peristiwa serta seluruh proses perkembangannya merupakan peristiwa Allah yang berada dalam kontrol dan kuasa Allah. Di sinilah keterbatasan hikmat manusia. Demikian terbatasnya hikmat manusia, sehingga ia tidak mampu memahami rahasia perbuatan Allah dari awal sampai akhir. Peristiwa-peristiwa terjadi seperti siklus. Dulu terjadi, sekarang terjadi lagi. Jawaban tentang arti hidup, yaitu; kesenangan, kekayaan, kemasyuran, dan hikmat. Pengkhotbah menilai semuanya itu tidak berharga, karena kematian meniadakan suatu keuntungan dari semua itu, karena pada saat kematian semuanya tidak berguna dan sia-sia. Kesenangan/sukacita memang adalah sia-sia juga, tetapi manusia boleh menikmati kesukaan, karena itu adalah pemberian Allah. Artinya manusia boleh saja menikmati sukacita dengan apa yang mereka miliki, tetapi hal itu juga sia-sia. Pemberian Allah yang menjadi sumber sukacita itu juga adalah sia-sia. Barang kali secara logika, Pengkhotbah merasa lebih baik menikmatinya sebelum ajal tiba, karena manusia tidak pernah mengetahui kapan waktu hidupnya berakhir. Artinya peristiwa apapun di dunia ini, termasuk kematian tidak berada dalam tangan manusia, melainkan dalam tangan Allah.
IV. Daftar Pustaka
Christian dkk, Purwa Pustaka, (Jakarta: BPK-GM, 2017
Christian Jan dkk, Purwa Pustaka, (Jakarta: BPK-GM, 2017
Chung Sung Wook, Belajar Teologi Sistematika dengan Mudah, (Bandung: IKAPI, 2011
Darmaputera Eka, Merayakan Hidup, Pemahaman Kitab Pengkhotbah Tentang Kesis-Siaan Segala Sesuatu, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2015
Hollady William L., A Consice Hebrew and Aramic Lexion of The Old Testament, Grand Rapids: Eerdmans, 1980
Ludji Barnabas, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama 2, Bandung: Bina Media Informasi, 2009
Macmillan, Dictionary, New York: Macmillan Publishing, 1977.
Purwodarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1998
Rad Gerhar d Von, Old Testament Theology Vol.I, London: SCM Press, 1975
Ringgen, Theological Dictionary of The Old Testament Vol IV, G. Johanes Botterweek, Ringgren Helmer (ed), Grand Rapids: Eerdmans, 1980
Verkuyl J., Etika Kristen Bagian Umum, (Jakarta: Gunung Mulia, 2020
Wahono S. Wismoady, Disini Kutemukan, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009
Yamin Kafil, Hidup Sehari Penuh, Menjalani Hubungan Etis dengan Alam, Jakarta: IKAPI, 2013
Sumber Internet:
https://id.wikipedia.org/wiki/Makna_kehidupan diakses, pada 15 Oktober 2020
http://www.telaga.org/audio/maknahidup, diakses 10 Oktober 2020
[1] Barnabas Ludji, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama 2,( Bandung: Bina Media Informasi, 2009), 215.
[2] Macmillan, Dictionary, (New York: Macmillan Publishing, 1977), 590.
[3] Purwodarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), 355.
[4] Macmillan, Dictionary, 590.
[5] http://www.telaga.org/audio/maknahidup, diakses 10 Oktober 2020, pukul.15.22.
[6] Ringgen, Theological Dictionary of The Old Testament Vol IV, G. Johanes Botterweek, Helmer Ringgren (ed), (Grand Rapids: Eerdmans, 1980), 332.
[7] William L. Hollady, A Consice Hebrew and Aramic Lexion of The Old Testament, (Grand Rapids: Eerdmans, 1980), 101.
[8] Ringgen, Theological Dictionary of The Old Testament Vol IV, 333-334.
[9] Gerhar d Von Rad, Old Testament Theology Vol.I, (London: SCM Press, 1975), 219-231.
[10] Eka Darmaputera, Merayakan Hidup, Pemahaman Kitab Pengkhotbah Tentang Kesis-Siaan Segala Sesuatu, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2015), 9-115.
[11] Jan Christian dkk, Purwa Pustaka, (Jakarta: BPK-GM, 2017), 239-240
[12] S. Wismoady Wahono, Disini Kutemukan, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009), 237
[13] Jan Christian dkk, Purwa Pustaka, (Jakarta: BPK-GM, 2017), 714.
[14] https://id.wikipedia.org/wiki/Makna_kehidupan diakses, pada 15 Oktober 2020
[15] Sung Wook Chung, Belajar Teologi Sistematika dengan Mudah, (Bandung: IKAPI, 2011), 171-173.
[16] J. Verkuyl, Etika Kristen Bagian Umum, (Jakarta: Gunung Mulia, 2020), 268-272.
[17] Ibrahim Gultom, Agama Malim di Tanah Batak,
[18] Kafil Yamin, Hidup Sehari Penuh, Menjalani Hubungan Etis dengan Alam, (Jakarta: IKAPI, 2013), 39.