SEJARAH KEKRISTENAN
(Suatu Tinjuan Historis Praktis tentang Gereja- Gereja Yang Ada di Tanah Ulayat, Kelambir Lima Hamparan Perak dari 2014-2020 dan refleksinya untuk jemaat di Tanah Ulayat)
I. Latar Belakang Masalah
Berbicara Sejarah Kekristenan tentunya tidak bisa dilepaskan dari Sejarah Gereja. Oleh sebab itu, penulis mau mengatakan bahwa kehadiran Kekristenan di Dunia ini merupakan sejarah kehadiran Gereja, karena peristiwa kehadiran Kekristenan mempunyai makna historis yang sangat berarti. Sejarah gereja adalah sejarah panggilan Tuhan dan sejarah jawaban yang diberikan manusia kepada panggilan itu.[1] Sejarah, adalah suatu peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau. De Jonge dalam buku, pembimbing ke Dalam Sejarah Gereja, menunjuk pada sejarah secara umum dan sejarah gereja. Bagi de Jonge arti dari sejarah adalah suatu peristiwa yang benar- benar terjadi di masa lampau. Sejarah merupakan bahan pembelajaran bagi kehidupan manusia sekarang ini.[2]
Adapun kehadiran Gereja ditengah- tengah Dunia ini telah diberikan tugas untuk memberitakan Injil Yesus Kristus dan disamping itu juga Gereja jangan melupakan makna-makna pemberian tugas itu. Artinya disamping memberitakan Injil, Gereja juga harus mencatat perjalanan perubahan dan perkembangannya itu sendiri dengan tujuan supaya makna historis itu tetap dikenang.
Hal ini berlaku pula untuk menyimak serta menelusuri sejarah Kekristenan khususnya Sejarah Kekeristenan yang ada di Tanah Ulayat. Dalam rentang ruang dan waktu di masa lampau, telah terjadi suatu dasar pegangan yang bersejarah bagi Kekristenan di Tanah Ulayat. Upaya untuk menggali sejarah gereja mulai dari dirintis dan digumuli, sehingga dalam rentang ruang dan waktu yang berjalan gereja akan tetap tegar dan mekar di mana Gereja dan hidup.
Dengan melihat realitas ini, penulis terdorong untuk mengetahui serta berusaha untuk membuat suatu refleksi tentang Sejarah Kekristenan di Tanah Ulayat, dalam hal ini ialah jemaat GMI, GBI, GKPI dan GTDI. Dalam perkembangan Kekristenan tentunya ada masalah Internal maupun masalah Eksternal. Perjalan kehidupan Gereja Tuhan ditengah jemaat GMI, GBI, GKPI dan GTDI yang ada di Tanah Ulayat tidak lepas dari berbagai realita masalah yang harus dihadapi. Dengan demikian permasalahan- permaslahan dalam Kekristenan yang ada di Tanah Ulayat menjadi topik yang sangat menarik untuk ditelusi baik masalah Internal maupun Eksternal dengan melihat maslah- masalah yang terjadi pada saat itu.
Dasar pemikiran inilah yang mendorong penulis untuk menulis Sejarah Kekristenan di Tanah Ulayat dan dengan demikian dalam tulisan ini penulis memberikan judul “SEJARAH KEKRISTENAN” dengan sub judul “Suatu Tinjuan Historis Praktis tentang Gereja- Gereja Yang Ada di Tanah Ulayat, Kelambir Lima Hamparan Perak dari 2014-2020 dan refleksinya untuk jemaat di Tanah Ulayat”
II. Pembahasan
2.1. Sejarah Kekristenan Secara Umum
Istilah sejarah berasal dari Bahasa Arab yatiu Syajarah, yang berarti pohon, akar, keturunan, dan asal-usul.[3] Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan, selain arti silsilah, dua arti untuk kata sejarah pertama adalah “kejadian dan peristiwa yang benar terjadi pada masa lampau”. Kedua “pengetahuan atau uraian mengenai peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang benar-benar terjadi di masa yang lampau.[4]
Sejarah adalah kedian yang terjadi di masa lampau yang berdasarkan pengalaman, peninggalan dan berbagai peritiwa lainnya. Secara sederhana, pengertian sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia. Sejarah pertumbuhan kekristenan memiliki pengaruh yang luas dalam masyarakat umum. Pertumbuhan kekristenan tidak lepas dari sejarah gereja. Kata “gereja” dalam Bahasa Yunani adalah ekklesia yang artinya “aku memanggil atau memerintahkan.” Secara umum ekklesia diartikan sebagai perkumpulan orang-orang. Dalam konteks Perjanjian Baru kata ini mengandung arti khusus, yaitu pertemuan orang- orang Kristen sebagai jemaat untuk menyembah kepada Kristus. Amanat Agung yang diberikan Kristus sebelum naik ke surga (Mat. 28:19-20) diwujudkan oleh para pengikut-Nya. Hasilnya adalah lahirlah gereja atau jemaat baru baik di Yerusalem, Yudea, Samaria dan juga berbagai tempat di dunia.[5]
Kekristenan menjadi umum bagi seluruh Eropa pada Abad Pertengahan dan berkembang ke seuluruh dunia. Kekristenan terbagi menjadi Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur pada Skisma Timur-Barat atau Skisma Besar pada tahun 1054.[6]
Adanya Reformasi Protestan, Gereja Katolik Roma akhirnya menjadi denominasi Kristen. Reformasi tidak hanya berkaitan dengan krisis kepausan pada akhir abad pertengahan. Lahirnya Reformasi, juga berkaitan dengan krisis rohani yang dialami oleh anggota-anggota gereja.[7] Reformasi dipelopori oleh Martin Luther. Bermula dari pergumulannya mengenai “pembenaran” yang ia dalami melalui studi akademik di Universitas Wittenberg. Ia memasang 95 dalil di pintu gereja Wiitenberg pada 31 Oktober 1521, menyebabkan gelombang pengaruh yang semakin meluas. Luther mendasarkan reformasinya pada: sola fide, sola gratia, dan sola scriptura.[8]
Reformasi Luther tidak dimulai dengan pembaharuan gereja tetapi dengan pembaharuan dalam pemahaman mengenai keselamatan. Manusia tidak memperoleh keselamatan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik atau dengan rajin menerima sakramen Perjamuan Kudus dari kaum klerus, tetapi dengan menyerahkan diri dalam iman (sola fide) kepada Allah yang menyelamatkan manusia hanya kasih karunia saja (sola gratia), hanya karena Kristus dan Alkitab sajalah (sola sriptura) sebagai tolak ukur untuk menentukan apakah ajaran tertentu benar atau salah.[9] Tokoh- tokoh Reformasi seperti Martin Luther, Yohanes Calvin, Ulrich Zwingli dan Jhon Knox, pada akhirnya mengakhiri dominasi para uskup dan biarawan dalam mempelajari Alkitab.
2.2. Sejarah Tanah Ulayat Kelambir Lima
Tanah Ulayat atau lebih dikenal dengan sebutan tanah adat adalah suatu lahan yang dikuasi oleh ninik mamak para kepala suku. Secara hukum adat tanah ini diserahkan pengelola dan pemanfaatanya kepada masing-masing suku yang ada. Kebiasaan ini secara turun temurun telah berlangsung sejak lama. Sehingga status tanah ulayat ini secara adat sangat kuat.[10] Tanah Ulayat di Klambir Lima ini terbentuk akibat maraknya konflik agraria[11] yang tak kunjung terselesaikan di Sumatera Utara yang membuat hidup masyarakat tanpa kepastian, akibat tidak adanya perhatian, dan pengakuan dari Pemerintah atas hak-hak masyarakat adat, buruh, nelayan dan petani. Melihat kompleknya permasalah ditingkat masyrakat, BPRPI[12] (Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia) dan AMAN[13] (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) memfasilitasi pemetaan dan perencanaan tata ruang wilayah masyarakat adat secara partisipatif di kampung-kampung yang ada di Kabupaten/ Kota Medan, Subulussaam, Singkil, Langkat, Dairi Pakpak Barat, dan Deli Serdang. Harun Nuh, Ketua Umum BPRPI mengutarakan (16/10/2013) masalah inilah dihadapi masyarakat, seperti masyarakat adat yang kehilangan hak mereka atas tanah, wilayah dan sumber daya alamnya. Kita berharap, dengan terlaksananya pemetaan dan perencanaan tata ruang di wilayah masyrakat adat secara partispatif, masyarakat adat dapat mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik dan bermatabat secara budaya. [14]
Pada saat itu lah masyarakat berbondong-bondong dari segala tempat asalnya untuk mendaftarkan data diri supaya mendapatkan bagian pemetaan tanah tersebut. Berbagai suku serta ragam macam budaya datang ke tanah ulayat di klambir lima ini untuk mengelola tanah di bidang perkebunan. Masyarakat mengelolah dan menjual hasil perkebunannya sebagai bentuk kemandirian ekonomi masyarakat tersebut. Lambat laun masyarakat membangun tempat tinggal untuk mereka tempati atas seijin dari ketua BPRPI, hingga pada tanggal 25 Maret 2017 Kongres berskala nasional digelar di desa Tanah Ulayat kelambir lima, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang dan menampung peserta kongres se-Indonesia sebanyak lebih dari 2000-an peserta yang datang dari berbagai macam daerah di Indonesia bahkan sampai dari Papua.[15]
Kongres BPRPI Nasional ke VIII yang diadakan seminggu mulai tanggal 19 maret dan acara puncaknya 25 Maret 2017 dihadiri banyak pihak terkhususnya:
- Gubernur Sumatera Utara
- Kapolda Sumatera Utara
- Pangdam I Bukit Barisan
- Bapak Dianto Bachriadi selaku Komnas HAM
- Pembina dan Penasehat Umum BPRPI
- Sekjen AMAN
Semenjak Kongres yang megah tersebut, jumlah penduduk di tanah ulayat kelambir lima meningkat pesat, yang datang dari berbagai daerah, dari berbagai suku dan berbagai agama. Sampai saat ini warga disini mencapai 1250 KK (Kepala Keluarga), 16 STM (Serikat Tolong Menolong), 2 Panti Asuhan, 5 denominasi gereja, 2 Mesjid dan 1 Kuburan Muslim.[16]
2.3. Sejarah Kekristenan di Desa Ulayat
Pertumbuhan kekristenan di Tanah Ulayat tahun 2014 tidak lepas dari peran warga penduduk tanah Ulayat yang sudah rindu untuk beribadah. Karena sebelum memasuki dan menempati tanah ulayat ini, mereka telah menjadi Kristen. Penulis berpendapat itulah yang menjadi salah satu faktor yang membuat berdirinya gereja-gereja di tanah Ulayat ini. Tapi tidak luput juga sebelum gereja gereja disini berdiri, mereka masing-masing mempunyai permasalahan atau pergumulan yang mempengaruhi perkembangan setiap denominasi gereja dari awal (2014) sampai pada saat ini. Upaya untuk menggali sejarah gereja mulai dari dirintis dan digumuli, sehingga dalam rentang ruang dan waktu yang berjalan gereja akan tetap tegar dan mekar di mana Gereja dan hidup.
Penulis akan memaparkan sejarah kekeristenan sampai hingga berdirinya gereja dan membahas apa saja pergumulan atau masalah yang bisa dituliskan sebagai sejarah bagi setiap denominasi gereja yaitu GBI, GMI, GTDI dan GKPI yang ada di Tanah Ulayat ini sebagai bentuk terjadinya sejarah Kekristenan di desa ini.
1. GBI Sukacita (Gereja Bethel Indonesia)
Gereja Bethel Indonesia adalah suatu kelompok atau sinode gereja Kristen Protestan di Indonesia yang bernaungan di bawah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Selain PGI, GBI juga merupakan anggota dari Persekutuan Lembaga- Lembaga Injili Indonesia (PGLII) dan Persekutuan Gereja- gereja Pentakosta Indonesia.
GBI berdiri sebagai hasil pekabaran Injil dari Bethel Pentacostal Temple Inc., Seattle Washington, Amerika Serikat, yang mengutus dua orang misionaris yaitu, Rev. Van Klaveren dan Rev. Grousbeek ke Indonesia. Groesbeek pindah ke Surabaya, dan seterusnya ke Batavia tahun 1926. Dengan semakin banyaknya jemaat yang dibuka sehingga memperoleh pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda dengan nama De Pinksterkerk in Indonesia. Tahun 1932 didirikan satu Gedung gereja di Surabaya, dan mendirikan pelajaran alkitab yang diberi nama Studi Tabernakel, kemudian pada tahun 1935 menjadi Sekolah Alkitab di Surabaya NIBI.[17]
Untuk jemaat GBI Sukacita Klambir Lima oleh berkat Tuhan berdiri pada tanggal 10 September 2014 dan dalam naungan sinode Gereja Bethel Indonesia dengan Pdt. F. Sirait, S.Th sebagai gembala jemaat. Pada awalnya ibadah diadakan di dalam rumah yang sempit berdindingkan tepas. Ibadah pada saat itu hanya diikuti sebanyak 10-15 jiwa dikarenakan banyak masih masyarakat disini yang sebelumnya beribadah di denominasi gereja seperti HKBP, GKPI, GKPS, BNKP dan Gereja suku yang lain. Masyarakat disini masih canggung atas peribadahan yang betepuk tangan dan sering berteriak sambil berdoa. Jadi menurut bapak Pdt. F Sirait selaku gembala jemaat disini, yang mempunyai trik yaitu dengan cara melakukan pendekatan sosial seperti masuk kedalam perkumpulan STM dan aktif dalam kegiatan lainnya. Sedikit demi sedikit jumlah yang hadir pada saat ibadah bertambah. Tak lupa juga beliau harus bisa menempatkan dirinya supaya tidak membawakan kebiasaan beliau dalam beribadah dan berdoa, supaya masyarakat tidak terlalu terkejut dalam proses peribadahan. Jemaat disini mengalami perkembangan yang sangat pesat sampai- sampai setiap peribadahan dilakukan hingga diluar rumah, itu semua berkat Karunia Tuhan.
Anak-anak sekolah minggu juga sudah mulai beribadah yang dipimpin di ajari oleh ibu gembala. Pada awal Mei 2015 oleh anugrah Tuhan Gereja membeli sebidang tanah yang tempatnya tepat disamping rumah bapak gembala yang seluas 15m 20m pada saat itu juga oleh anugrah Tuhan tiang pancang pembangunan gereja dimulai melalui proses pembangunan yang dikerjakan September 2017 gedung Gereja GBI Sukacita diresmikan.[18]
Namun perjalanan sejarah yang diceritakan tadi tidak semulus yang dbayangkan. Banyak permasalahan-permasalahan yang dihadapi bapak Pdt. F. Sirait hadapi dari minim nya dana yang mendukung dalam pembelian Inventaris Gereja seperti alat musik, Sound System dan lain-lain tapi berkat anugrah Tuhan semua itu bisa dihadapi beliau selaku gembala jemaat. Yang menjad pergumulan juga pada saat itu ialah kurangnya kerja sama diantara jemaat dengan gembala jemaat tersebut dalam merenkrut calon anggota jemaat, artinya disini saya (Pdt. F. Sirait S.Th) yang berjuang sendiri dalam mendirikan gereja ini. Tapi tidak apa-apa karena saya sudah bersyukur jika mereka sudah datang ke gereja ini untuk beribadah.
Jika melihat statistik jemaat yang datang dan hadir untuk beribadah di GBI Sukacita ini mengalami penurunan, bahkan sampai saat ini. Dan inilah yang menjadi pergumulan bagi saya, mengapa bisa seperti ini. Dan ketika menjumpai langsung jemaat-jemaat saya langsung, alasannya Cuma satu, yaitu permasalahan ekonomi. Memang rata-rata jemaat GBI sukacita ini sebagian besar berpropesi sebagai penjualan. Baik itu jualan sembako, pakaian dan ada juga yang membuka rumah makan. Sedangkan kita juga sama- sama mengetahui bahwa mereka yang berjualan pasti lebih laris pada hari minggu. Itu lah yang menjadi pergumulan ataupun permasalah bagi gereja kita di GBI sukacita ini.[19]
Menurut Dokumen GBI Sukacita yaitu warta jemaat dan buku induk GBI Sukacita, pada awal pembukaan gereja hingga sampai akhir tahun 2014 jemaat yang terdaftar mencapai 20 KK dan peribadahan dihadiri rata-rata 35 jiwa, tahun 2015 meningkat mencapai 54 KK dan peribadahan dihadiri rata-rata 45-50 jiwa, tahun 2016 meningkat mencapai 60 KK dan peribadahan dihadiri rata-rata 55 jiwa, tahun 2017- 2018 meingkat 67 KK tetapi kehadiran peribadahan mengalami penurunan yaitu 40-45 jiwa perminggu, pada tahun 2019 meningkat mencapai 69 KK dan kehadiran perminggu rata-rata tetap yaitu 40-45 jiwa perminggu, di tahun 2020 tidak ada peningkatan jemaat yang bertambah dan kehadiran jemaat pada rata-rata hanya 10-20 orang saja.[20] Untuk denominasi asal gereja jemaat di GBI Sukacita ada sebanyak 30 KK yang berasal dari HKBP, 5 KK dari GKPI, 2 KK dari aliran Katolik, 1 KK dari GKPS, dan sisanya dari gereja suku Nias yang jemaatnya merantau di kampung kita ini.[21]
2. GMI Pos Kebaktian Kelambir Lima (Gereja Methodis Indonesia)
Aliran Methodist muncul di Inggris pada abad ke-18. Pemimpinnya adalah dua bersaudara yaitu John Wesley dan Charles Wesley (1703-1791). Mereka memimpin gerakan kebangunan rohani di Inggris dan kemudian mendirikan gereja Methodist. Aliran Methodist menandai bangkitnya semangat kebangunan rohani (revival) di Inggris yang kemudian menyebar ke seluruh dunia.[22]
Aliran Methodist di Indonesia sudah hadir sejak hampir seratus tahun yang lalu. Yang terutama mewakili kehadiran aliran ini adalah Gereja Methodist Indonesia yang berkantor pusat di Medan dan yang sebagian besar jemaatnya berada di Sumatera Utara. Gereja ini terkenal dengan jaringan persekolahannya yang memiliki kualitas yang tinggi.[23]
Misi Methodist masuk ke Indonesia dari Singapura dan Malaysia. Di kedua negara jajahan Inggris itu misi dan gereja Metodis (Termasuk Jaringan Persekolahannya) sudah hadir sejak 1870-an. Sejak 1880-an sudah ada niat mereka meluaskan pekerjaan ke Indonesia. Niat itu timbul setelah sejumlah pemuda Tionghoa maupun pribumi dari Jawa dan Sumatera datang bersekolah di Methodist Singapura. Di Indonesia niat itu baru terralisasi pada tahun 1905 dengan mengutus serorang misionarisnya J.R. Denyes dari Singapura ke Batavia (Jakarta). Pekerjaan misi Methodist di tanah Batak secara konkret baru mulai sejak 1921. Namun sebenarnya sudah sejak 1909 misi Methodist berniat meluaskan pekerjaannya ke sana terutama kepada masyarakat Batak Pardembanan, salah satu sub-suku Batak yang bermukim di daeralh aliran sungai Asahan, yang menyebar ke sana dari daerah Toba. Ketika itu sebagian dari mereka sudah menganut agama Islam sedangkan sebagian lagi masih beragama suku.[24]
Khusus tentang pekerjaan Metodis di kalangan suku Batak, sudah sejak 1910-an warga suku Batak yang merantau ke Sumatera Timur bergabung dalam jemaat-jemaat Methodis disana, karena ketika itu dikawasan itu belum ada jemaat-jemaat Huria Batak. Mereka pada umumya sudah Kristen berkat pekerjaan RMG di Tanah Batak, jadi tidak dapat dikatakan sebagai produk penginjilan Methodis.[25]
Untuk Jemaat GMI kelambir lima ini mulanya berdiri diprakarsai oleh jemaat yang berasal dari HKBP yaitu bpk. Delenves Hutahuruk yang sudah sangat rindu untuk beribadah dan bergereja pada hari minggu. Dan karena juga banyak orang-orang yang merasakan hal demikian. Sehingga bapak Delenves ini mengumpulkan orang-orang dan bermusyawarah dan sehingga ada yang sepemikiran untuk mendirikan gereja yang denominasi dari Methodist ini. Jadi artinya berdirinya gereja ini akibat kebersamaan dan kerinduan hati untuk memuji nama Tuhan perencanaan ini dilakukan pada bulan juni pada tahun 2014. Yang perlu diketahui juga bahwa orang-orang yang merencanakan ini semua adalah jemaat-jemaat biasa yang tidak ada jabatan seperti penatua. Ada 4 orang yang bekerja sama untuk mendirikan gereja ini yaitu: Bpk. Hendriko Purba, Bpk. Ervanlo Aritonang, Bpk Arnold Tulus Manurung dan bpk. Jansen Gultom pada masa merintis pendirian gereja ini ada berbagai macam masalah, yaitu banyak orang yang kurang yakin untuk di ajak untuk beribadah alasanya adalah nanti akan berhenti di tengah jalan dan akan membuang waktu saja. Tapi dengan semangat gigih bpk delvenes dan kawan-kawan berusaha untuk meyakini masyarakat setempat atas perencanaan tersebut. Sehingga 6 kepala keluarga akhirnya sependapat dan saling bekerja sama untuk mendirikan gereja GMI ini. Namun yang menjadi permasalah selanjutnya adalah tidak adanya relasi ke pendeta dari denominasi manapun, sehingga bpk delvenes menghubungi bpk Pdt. Gibson Sianturi, S.Th yang kebetulan ada hubungan keluarga dengan bpk delvenes. Bapak Gibson Sianturi sangat setuju dan sangat mendukung akan hal itu. Mereka menjadi lebih gigih lagi dalam mempersiapkan segala sesuatu. Kebetulan memang karena tidak ada yang membimbing dikarena mereka hanya jemaat awam atau jemaat biasa bahkan dari segi pendidikan pun mereka sangat kurang untuk kestrukturan gereja. Itu lah yang menjadi permasalah internal bagi mereka karena masih banyak yang perlu dipelajari sehingga pada bulan April 2015 gereja ini mengadakan peribadahan bukan lagi dirumah, melainkan di tempat kantor keseketariatan BPRPI yang dikontakkan untuk sementara. Dari semenjak itu banyak jemaat yang berbondong-bondong untuk bergereja, bahkan sampai 100 jiwa datang untuk beribadah. Di tahun 2017 mereka berhasil membeli tanah dan membangun sebuah gereja yang berdinding setengah batu. Tetapi seiring berjalannya waktu, peribadahan mereka mengalami penurunan jemaat yang hadir, dikarenakan gereja ditanah ulayat ini juga mengalami perkembangan. Banyak gereja gereja yang aliran karismatik yang juga sudah didirikan disini. Inilah yang menjadi suatu permasalah eksternal menurut bapak delvenes dan sudah digumuli sampai sekarang. Sehingga jumlah jemaat yang terdaftar sampai saat ini hanya 16 KK dan inilah yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan gereja tersebut karena untuk mencapai persyaratan mendirikan gereja jumlah KK nya masih kurang sehingga status jemaat ini masih pos kebaktian tetapi sudah memiliki bangunan gereja.[26]
Untuk dokumen mengenai presentase asal denominasi asal gereja jemaat, penulis tidak menemukan dikarenakan pengurus dari GMI kelambir lima sendiri tidak mencatat dari mana asal denominasi jemaat mereka. Tetapi penulis berhasil mewawancari pengurus harian jemaat, bahwa mereka memiliki 16 KK dan hanya 2 KK yang berasal dari gereja GMI , 1 KK yang berasal dari agama muslim, 1 KK dari aliran katolik, sisanya dari HKBP, GKPI, GKPA dan HKI[27]
3. GTDI Kelambir Lima (Gereja Tuhan Di Indonesia)
Sejarahnya berdiri GTDI ini pertama dari panggilan atau amanat agung dari firman Tuhan bahwa kita diutus dari Samaria, Yudea sampai ujung bumi, atau ke mana saja. Yang kedua, GTDI ini adalah aliran pentakosta, ketika kita sudah menerima dunia pendidikan khususnya pendidikan Teologia, kita tidak bisa langsung jadi pendeta, karena salah satu syaratnya adalah harus menggembalakan artinya membuka jemaat. Dari dua panggilan ini lah saya berdoa dimana Tuhan akan mengutus saya, sehingga pada tanggal 16 Agustus 2016 Tuhan menunjukkan saya kesini (Tanah Ulayat) dan ketika itu ada berkat yang cukup untuk membeli tanah disini serta langsung dibangun Gedung gereja seperti saat ini dengan iman Tuhan akan mengirimkan orang yang haus Firman Tuhan untuk beribadah disini. Tercapai lah sampai pada saat ini jumlah yang terdaftar di gereja GTDI ini sebanyak 40 KK yang Tuhan percayakan kepada kita untuk sebagai gembala.
Jadi jika berbicara mengenai tokoh sejarah dari GTDI kelambir lima ini, yang pertama pasti saya sendiri terlebih dahulu dan beserta keluarga yang mendukung. Tapi karena kita makhluk sosial, saya perkenalkan diri saya dan bersilaturahmi dengan masyarakat dan ketika saya undang mereka untuk beribadah, dan mereka memberikan apresiasi dengan cara berpatisipasi untuk beribadah. Artinya untuk terikat atau saya ajak mereka untuk terdaftar di GTDI ini tidak ada, saya tidak pernah memaksa mereka untuk berjemaat di GTDI ini. Pada 16 Agustus 2016 jumlah jemaat mula-mula disini sebanyak 12 jiwa sebagai syarat dari pendirian gereja ini yang berdasarkan dari 12 murid Tuhan Yesus. Perkembangan gereja dalam proses pelayanan disini masih naik turun, tetapi jika berbicara kuantitas perkembangan gereja ini meningkat. Pergumulan yang pertama adalah individu atau jemaatnya masih belum sungguh-sungguh dalam beribadah. terbukti sampai saat ini yang hadir lebih banyak adalah ibu-ibu. Artinya belum dua-duanya cinta kepada Yesus, jika dua-duanya cinta kepada Yesus, pasti dua-duanya juga yang hadir. Kecuali memang ada halangan yang tak terelakan, contohnya ada yang kerja di hari minggu dan itu lah yang menjadi bahan doa saya sehingga dari iman mereka saja lah mereka bertumbuh. Diluar dari pandemik covid-19 kehadiran dari jemaat setiap minggunya ialah mendatar artinya stabil jika diambil dari rata-rata kehadiran jemaat. Saya mendirikan gereja ini tidak terlepas dari hasil kerja sama saya dengan jemaat saya yang sangat semangat untuk melayani, yaitu Bpk. Diaken L. Sihite yang juga menjabat sebagai sekretaris jemaat Bpk. Diaken H. Situmorang selaku Bendahara Jemaat dan para pelayan lainnya Evengelis A. br. Silaban dan Evengelis T br. Pasaribu. Jadi jemaat di GTDI itu juga bermula berasal dari berbagai macam denominasi gereja, seperti HKBP, Pentakosta, Katolik, GKPA, dan GKPS dan bahkan jemaat ini juga sudah membaptis jemaat kita yang dari agama muslim dan mengakui Yesus Kristus sebagai juruselamat dan itu menjadi tugas baru bagi saya untuk memelihara iman mereka. Tapi yang perlu diketahui juga untuk pengrenkrutan secara personal untuk menjadi jemaat disini tidak ada, makanya saya sendiri pun bingung hanya jika saya disuruh datang untuk mendoakan masyarakat disini saya datang, tapi tidak ada itu ajakan door to door. Jadi yang menjadi pergumulan atau permasahan yang sampai saat ini hanya iman jemaat kepada Tuhan Yesus. Karena memang di tanah Ulayat ini banyak sekali godaan-godaan duniawi bahkan lebih banyak dari gereja atau rumah ibadah itu sendiri, seperti rumah remang-remang, diskotik, lapo tua, lapak judi. Jadi banyak cobaan yang tidak mendewasakan iman mereka. Itulah yang menjadi pergumulan sampai pada saat ini.[28]
4. GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia)
Kelahiran dan keberadaan GKPI tidak lepas dari kehadiran dan perkemabangan Kekristenan di Indonesia, terutama di tanah batak. Walapun dari namanya GKPI bukanlah gereja Batak, namun dari latar belakang kelahiran dan dalam proses perkembanganya, GKPI sangat sarat diwarnai Kebatakan dan Keristenan batak.
Serangkaian gejolak yang terjadi di HKBP, terutama sejak akhir 1950-an dan awal 1960-an, sangat nyata memicu terbentuknya GKPI. Berbagai gerakan yang muncul di HKBP dengan maksud untuk menata dan menerbitkan kembali gereja batak terbesar ini cikal bakal akhir lahirnya GKPI. Banyak tokoh dari beberapa gerakan itu kemudian menjadi tokoh perintis dan pemrakrsa lahirnya GKPI.[29]
Tanggal pembentukan pengurus sementara ini (30 Agustus 1964) kemudian disepakati sebagai tanggal lahir GKPI. Sedangkan pesta peresmian berdirinya GKPI baru diadakan pda hari Minggu, 1 November 1964, juga bertempat dijalan Simaroto No. 6 Pematang Siantar, dipimpin Pdt. Dr. Andar L. Tobing dan dihadiri oleh ribuan warga masyarakat Kristen dari berbagai penjuru Sumatera Utara.[30]
Untuk Sejarah GKPI Kelambir Lima diawali seorang warga yaitu bpk. W. Aritonang atas kerinduan hatinya untuk beribadah mendatangi seorang penatua gereja GKPI yaitu Bpk St. P Hutabarat ( ) ayah dari penulis sendiri untuk merencanakan membuka GKPI di Tanah Ulayat ini. Bpk W. Aritonang menjelaskan bahwa sudah sangat rindu sekali untuk pergi ke gereja, warga Kristen yang beradah di daerah tersebut tidak pernah ke gereja karena faktor jarak dan tranportasi yang sulit Dengan senang hati Bpk. St. P. Hutabarat langsung merespon dan menjumpai warga setempat dan menawarkan atas perencanaan untuk mendirikan GKPI di tanah Ulayat ini. Banyak warga-warga setempat yang gembira dan mendukung perencanaan tersebut. Sehingga mereka berdua langsung menjumpai Bpk. Pdt. G. Sinaga selaku pendeta GKPI Jemaat Khusus Teladan Helvetia dan meminta bimbingan bagaimana prosedur untuk mendirikan GKPI ditanah Ulayat ini. Pdt. G. Sinaga langsung mengarahkan yang pertama membuat data jemaat setelah itu menyediakan tempat (walaupun dirumah) untuk memulai proses peribadahan, biar saya (Pdt. G.Sinaga) yang melaporkan ke Kantor Pusat GKPI dan memohon agar supaya disetujui. Sedangakan bpk W. Aritonang dan bpk. St. P. Hutabarat terus door to door untuk memberitahukan dan menawarkan berita sukacita tersebut. Banyak warga masyarakat yang sangat senang dan apresiasi mengenai perencanaan tersebut apalagi buat jemaat jemaat Tuhan yang beraliran Lutheran. Banyak jemaat langsung mensetujui dan langsung bersedia mendaftarkan menjadi jemaat pada saat itu. Dan bahkan ada yang bersedia menyediakan rumahnya untuk beribadah sementara. Hampir setiap malam kami berkumpul dan berdiskusi mengenai hal ini, hingga pada akhirnya kabar dari bpk. Pdt. G sinaga yang mengatakan bahwa Kantor Pusat GKPI mensetujui dan menyuruh untuk membuat dokumen tertulis mengenai latar belakang, jumlah jemaat, tempat peribadahan. Dan hal ini sangat membuat hati jemaat gembira.
GKPI kelambir lima ini melangsungkan peribadahan pertama dirumah jemaat yaitu keluarga Sinaga/br Sitanggang pada tanggal 15 maret 2015 dimana disini penatua yang membimbing 2 orang dan jemaat berjumlah 15 KK. Antusias para jemaat juga ditunjukkan dengan cara mengadakan Pesta Syukuran. Minggu demi minggu dilewati dengan semangat dengan perkembangan jumlah jemaat yang hadir meningkat (walapun masih Partisipan) sehingga kami memutuskan untuk pindah. Dan ada jemaat yang sukarela lahanya dan kebetulan memiliki rumah osong disana berukuran 5 6 meter (hanya cukup untuk pelayan) di pakai sementara untuk beribadah. Setiap hari kami bergotong royong untuk mempersiapkan lahan (penuh dengan Lalang) dan membangun gubuk sederhana yang lebih luas untuk dapat menampung jemaat yang beribadah pada hari minggu. Jemaat yang bergotong royong tidak hanya dihadirkan oleh kaum bapak dan ibu saja melainkan kaum pemuda dan jemaat dari GKPI Jemaat Khusus Teladan Helvetia medan juga menghadiri. Sehingga dalam keputusan Kantor Pusat GKPI, jemaat GKPI Kelambir Lima berdiri yang masih berstatus Pos Kebaktian pada tanggal 15 maret 2015 yang dibawah binaan dari gereja GKPI Jemaat Khusus Teladan Helvetia.
Banyak proses perkembangan pelayanan yang telah dialami oleh jemaat ini, mulai dari Ibadah Minggu yang setiap minggunya mengalami perkembangan, pentahbisan Penatua dan melakukan baptisan kudus kepada 1 keluarga yang baragama Islam dari lahir untuk masuk Kristen. Perkembangan Pos Kebaktian ini selama seratus hari pelayanan sudah bertambah menjadi 26 KK. Banyak jemaat, donator dan dari denominasi gereja lain memberikan sumbangan dananya untuk Pos Kebaktian GKPI ini dalam mempersiapkan kebutuhan perlengkapan ibadah seperti pengeras suara, alat musik/ organ dan membuat mimbar)[31]
Pada tanggal 26 Maret 2015 peletakan Batu Pertama telah dilaksanakan yang dipimpin oleh Pdt. G. Sinaga. Dan pada tanggal 29 Juni 2015 jemaat GKPI PK Kelambir Lima merencanakan untuk mengadakan pemilihan Panitia Pembangunan Gedung Gereja GKPI PK Kelambir Lima. Dari hasil keputusan rapat Panitia Pembangunan bersama seluruh jemaat diputuskan akan merencanakan pembangunan Gedung gereja berukuran 12 25 meter diatas tanah berukuran 18 52 meter yang membutuhkan perkiraan dana sebesar Rp. 416.000.000.
Dalam hal ini panitia mengadakan pencarian dana melalui proposal yang disebar kepada donator dan Lembaga-lembaga. Sehingga sampai pada saat ini sudah berhasil membangun ruangan Konsitori, Altar serta pondasi dan Tiang pancang untuk Gedung gereja.
Dibalik keberhasilan ini banyak tantangan yang dihadapi oleh jemaat ini, dimana yang pertama keterbatasan mataril dari kami sendiri. Saling berebutnya jabatan kepemimpian di gereja GKPI PK Kelambir lima ini, sehingga saya Penatua L br.Sitanggang selaku Guru Jemaat mengundurkan diri dari jabatan saya dan kembali lagi ke jemaat asal saya yang berdenominasi di HKI. Sebagian jemaat- jemaat yang ada pun semakin malas beribadah di gereja ini dan lebih memilih untuk beribadah di gereja lain karena melihat kepemimpinan di gereja GKPI PK Kelambir lima sudah mempunyai konflik dan permasalahan pribadi antar pribadi sehingga setiap minggunya hanya menjadi ajang untuk sindir menyindir. Inilah yang menjadi salah satu faktor penurunan jumlah jemaat yang hadir pada akhir ini. Mungkin itu lah yang bisa saya jelaskan mengenai sejarah Historis Gereja GKPI PK Kelambir lima ini[32]
III. Analisa dan Saran Penyeminar
Menurut Analisa penyeminar, pertumbuhan kekristenan di Tanah Ulayat ini pada tahun 2014 tidak bisa lepas dari peran jemaat mula-mula yaitu mereka yang bersama-sama dengan para perintis tanah ulayat ini. Mereka telah menjadi Kristen sebelum merintis tanah ulayat ini. Banyak tantangan yang terjadi semenjak pertumbuhan Kekristenan di tanah Ulayat ini. Salah satunya ialah begitu banyak tempat-tempat hiburan malam, lapo tuak, dan lapak judi. Meskipun telah menjadi Kristen, mereka tetap saja melakukan hal-hal yang negatif tersebut seperti berjudi, mabuk-mabukan dan bermain perempuan. Meskipun Gereja terus menghadapi tantangan yang tidak mudah, bahkan disaat jemaat menghadapi situasi yang kritis. Kekristenan di tanah Ulayat ini benar-benar membutuhkan jemaat dan pemimpin yang bisa membuat gereja mereka menjadi kuat, mandiri dan dewasa. Dituntut agar keberadaan gereja dapat menjadi sesuatu yang berguna serta mampu membimbing masyarakat agara dapat melewati situasi apapun.
Munculnya denominasi gereja baru banyak membuat perpecahan antara jemaat dan masyarakat di tanah Ulayat ini. Ada jemaat yang menganggap denominasi gereja yamg baru akan membawa perpecahan jemaat karena kecurigaan-kecerugian yang terjadi. Tapi ada juga jemaat yang menganggap denominasi gereja yang baru adalah gereja yang akan memberikan perubahan bagi kepercayaan mereka kepada Kristus. Seperti contoh pengakuan dari denominasi GKPI dan GMI, Dalam peribatan denominasi gereja yang baru itu, mereka telah menggunakan alat musik Full Band, sementara GKPI sampai pada saat ini menggunakan organ biasa. Jemaat GKPI dan GMI yang menyukai adanya musik dalam gereja akhirnya mengambil keputusan untuk beribadah bersama denominasi yang baru, kemudian menerima baptisan. Ditambah lagi, yang membawa masuk denominasi gereja yang baru adalah Putra Desa atau orang yang berpengaruh di tanah Ulayat sehingga kecenderungan jemaat untuk lebih memihak dia lebih besar sehingga denominasi gereja yang baru itu cepat lebih berkembang. Hubungan 4 denominasi gereja diatas adalah kurang baik, seakan-akan adanya perang dingin diantara mereka dan berusaha untuk saling menjatuhkan. Tapi ke empat denominasi gereja tersebut terus berkembang di tanah ulayat. Untuk menjadi denominasi gereja yang mandiri tentunya tidak mudah.
Pertumbuhan kekristenan di tanah Ulayat, baik jemaat dan para pemimpinnya terus berusaha agar denominasi gereja mereka bisa berkembang dan menjadi lebih baik dalm kondisi apapun. Setiap denominasi gereja membutuhkan seorang pemimpin yang bisa mengarahkan jemaat dengan baik serta mampu melewati situasi apapun. Jemaat- jemaat dari empat denominasi yang ada di tanah Ulayat ini dari tahun 2014-2020 adalah jemaat-jemaat yang terus berjuang semenjak didirikan. Denominasi di setiap jemaat terus melaksanakan tugas gereja dengan baik. Dari sejarah pertumbuhan kekristenan di tanah Ulayat yang tertulis di atas, setiap denominasi tentunya memerlukan pemimpin yang bisa menjadi teladan yang baik dan menjadi pembimbing dari setiap permasalahan yang dihadapi jemaat apalagi ketika menghadapai jemaat dengan karakter yang berbeda-beda.
Selama kurang lebih 6 tahun pemimpin dan jemaat dari masing-masing denominasi memberikan kesan dan sejarah yang tidak muda dilupakan, tetapi perlu diingat bagaimana perjuangan mereka dalam mengembangkan denominasi gereja masing-masing. Setelah melewati situasi-situasi sulit yang dirasakan masing-masing denominasi, maka situasi itu semakin mengautkan kualitas iman mereka. Mereka harus bertumbuh dalam kepercayaan kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan penolong melalui ajaran masing-masing denominasi. Jemaat GBI, GMI, GKPI dan GTDI, terus bertumbuh dan berkembang hingga sekarang ini. Tapi ada juga penurunan karena tidak terlepas dari masalah dan pergumulan dari setiap denominasi. Denominasi gereja masing-masing sepenuhnya berada dalam posisi yang terus mengalami masalah. Gereja semakin dituntut kearah yang lebih baik dan setiap angota jemaat dari masing-masing denominasi harus bisa menjadi pribadi yang menyadari pentingnya peran mereka untuk kemandirian gereja.
Setelah menguraikan sejarah kekristenan di tanah Ulayat maka saran penulis yang hendak dikemukan:
1. Gereja harus dan tetap menjalankan pekabaran injil itu dalam bentuk pelayanan kasih menurut denominasi masing-masing. Ini berarti doa, renungan, nyanyi-nyanyian, liturgi serta pengakuan iman yang dipakai gereja harus diakui masing-masing denominasi gereja yang ada dan jangan saling menjatuhkan satu dengan yang lain.
2. Gereja memiliki tanggung jawab terhadap masalah-masalah kemanusiaan seperti aspek pendidikan dan kemiskinan. Gereja disarankan untuk turut serta memberantas kebodohan dalam rangka mencerdaskan masyarakat sehingga membantu warga jemaat dari masing-masing denominasi agar tidak saling menjatuhkan satu sama yang lain. Masing-masing denominasi gereja harus menciptakan komunikasi yang baik.
3. Harus adanya oikumene yang dipelopori oleh para pemimpin dan jemaat masing-masing denominasi bukan hanya dalam bentuk ibadah saja melainkan perbuatan nyata dalam tugas dan aktivitas setiap hari.
4. Penulis jugamengucapkan apresiasi terhadap gereja yang ada di tanah ulayat ini, karena gereja tersebut juga sudah berhasil membawa jiwa-jiwa dari agama lain untuk mengakui bahwa Yesus Kristus sebagai sang juruselamat.
IV. Refleksi Teologi
Dunia ini akan terus berkembang sesuai dengan jamannya. Tentu saja gereja dan denominasinya akan diperhadapkan dengan tantangan yang berbeda-beda dari jaman ke jamannya. Jemaat GBI, GMI, GKPI, dan GTDI di tanah Ulayat Kelambir lima adalah jemaat yang terus berkembang saat ini. Dijaman sekarang ini banyak tantangan yang dihadapi jemaat dalam mempertahankan persekutuan dan denominasi masing-masing. Setiap permasalahan pergumulan harus lah dapat dilewati, sebab karakter iman jemaat dapat dikatakan sudah semakin membentuk sejak pertama. Gereja akan bertumbuh luar biasa jika gereja memiliki seorang pelayan atau hamba yang benar, pemecah masalah dan tidak menyebabkan masalah.
Allah sangat menginginkan agar gereja dalam hal ini jemaat-Nya dapat mengalami kesatuan dan keharmonisan satu sama lain. Seperti yang dikatakan dalam Efesus 4: 3 “Berusahalah sungguh- sungguh untuk hidup dengan damai supaya kesatuan yang diciptakan oleh roh Allah tetap terpelihara”. Jika kita sebagai jemaat adalah anggota keluarga Allah, maka menjadi tanggung jawab kita untuk melindungi kesatuan di tempat dimana kita bersekutu. Yesus menugaskan kita untuk melakukan apapun yang mungkin menjaga kesatuan, melindungi persekutuan, dan menciptakan keharmonisan dalam persekutuan gereja meskipun berbeda denominasi.
V. Kesimpulan
Dari uraian diatas telah memberikan gambaran mengenai sebuah desa baru di tanah Ulayat dan pertumbuhan Kekristenan dari 2014-2020 penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Tanah Ulayat adalah sebuah desa baru yang terbentuk dari pemikiran organisasi BPRPI dan AMAN untuk melakukan pemetakan tanah untuk membantu mensejahterakan dan memandirikan perekonomian masyarakat adat.
2. Pertumbuhan kekristenan di tanah ulayat tidak lepas dari masalah internal maupun eksternal. Masalah internal yang terjadi ialah masuknya denominasi gereja lain sehingga terjadi kecangungan antara jemaat dan masyarakat. Sebagian masayarakat berpindah golongan gereja karena merasa ada sesuatu yang baru bagi denominasi gereja yang masuk. Ada juga yang dikarenakan adanya suatu masalah pribadi antara jemaat dengan jemaat. Ada juga jemaat yang menggangap denominasi gereja yang baru akan memecah belah jemaat di tanah Ulayat ini. Masalah eksternal ialah banyaknya godaan-godaan duniawi baik itu diskotik, lapo tuak, dan lapak juga yang membuat jemaat tidak kuat iman dan kurang mendewasakan imannya
3. Denominasi gereja di tanah Ulayat Kelambir Lima ini semakin hari semakin baik. Baik secara organisasi, poltik dan ajaran. Meskipun saat ini masih ada sebagian jemaat yang saling menjatuhkan satu dengan yang lain.
4. Ada baiknya para pemimpin dan jemaat terus mempelajari sejarah pertumbuhan kekeristenan di Tanah Ulayat karena banyak hal dan pelajran yang akan diambil demi perkembangan denominasi gereja masing-masing.
VI. Daftar Pustaka
…, Dokumen GBI Sukacita, Warta Jemaat dan Buku Induk Jemaat tahun 2014-2020
…, Dokumen Surat Permohonan GKPI Kelambir Lima ke Kantor Sinode GKPI, 15 Maret 2015
Aritonang, Jan S., Berbagai Aliran di dalam dan sekitar Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia 1991
Aritonang, Jan S., Pengantar Sejarah Eklesilogi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009
Aritonang, Jan. S., Yubileum 50 Tahun GKPI, Siantar: Kolportase Pusat GKPI, 2014
End, Th. van den, Ragi Cerita 1, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1980
Jonge, C. De., Gereja Mencari Jawab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003
Jonge, C. De., Pembimbing Ke Dalam Sejarah Gereja, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1989
Moningka, Edmond Ch., Highlights Sejarah Reformasi, Jakarta: Christian Ecumenial Vision, 2015
Moningka, Edmond Ch., Penelitian Sejarah Gereja, Tondano: Balai Buku Zaitun
Sumber Internet:
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kekristenan
http://sandiwan.blogspot.co.id/2012/03/skisma-besar-dalam-gereja-barat.html
https://pgi.or.id/?option=com_content&view=article&id=319&Itemid=468
https://www.gmipagaralam.or.id/2019/01/sejarah-berdirinya-gereja-methodist.html?m=1
Sumber Wawancara:
Wawancara langsung dengan bapak gembala GBI Sukacita Pdt. F. Sirait STh
Wawancara langsung dengan bapak Abrar Surbakti Sebagai Ketua BPRPI cabang Kelambir Lima
Wawancara langsung dengan guru jemaat GKPI PK Kelambir Lima Pnt. L br Sitanggang
Wawancara langsung dengan Panitia Kongres Bpk. B. Sinaga
Wawancara langsung dengan tokoh pendiri GMI Kelambir Lima Bpk. Delvenes Hutahuruk
Wawancara Langsung dengan warga tanah ulayat, bpk. E Situmorang
Wawancara Lansung dengan bapak Hendriko Purba selaku pengurus harian Jemaat GMI Kelambir Lima
[1] Th. van den End, Ragi Cerita 1, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1980), 6
[2] C. De. Jonge, Pembimbing Ke Dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989), 14
[3] Edmond Ch. Moningka, Penelitian Sejarah Gereja, (Tondano: Balai Buku Zaitun),
[4] C. De. Jonge, Pembimbing Ke Dalam Sejarah Gereja, 14
[5] Http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kekristenan. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2020 pukul 10.55 wib.
[6] http://sandiwan.blogspot.co.id/2012/03/skisma-besar-dalam-gereja-barat.html. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2020 pukul 11.11 WIB
[7] C. de. Jonge, Gereja Mencari Jawab, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 23
[8] Edmond Ch. Moningka, Highlights Sejarah Reformasi, (Jakarta: Christian Ecumenial Vision, 2015), 65
[9] Jan S. Aritonang, Pengantar Sejarah Eklesilogi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 30
[10] https://bprpi.wordpress.com/ diakses pada tanggal 10 Oktober 2020 pukul 13.00 WIB
[11] Agraria merupakan hal-hal yang terkait dengan pembagian, peruntukan dan pemilikan lahan. Agraria sering pula disamakan dengan pertanahan.
[12] BPRPI didirikan sejak tahun 1953 adalah badan yang bergerak untuk berjuang mengambil kembali tanah yang di rebut Belanda dari masyarakat. Tapi setelah Indonesia Merdeka tak kunjung juga dikembalikan ke masyarakat adat.
[13] AMAN adalah organisasi kemasyarakatan independent dengan visi untuk mewujudkan kehidupan yang adil dan sejahtera bagi semua Masyarakat Adat di Indonesia.
[14] Wawancara dengan bapak abrar surbakti, Sebagai Ketua BPRPI cabang Kelambir Lima pada tanggal 10 Oktober 2020 pukul 13.28 Wib
[15] Wawancara kepada warga tanah ulayat, bpk. E Situmorang pada tanggal 10 Oktober 2020 pukul 14.00 WIB
[16] Wawancara Kepada Panitia Kongres Bpk. B. sinaga pada tanggal 10 Oktober pukul 17.00 WIB
[17] https://pgi.or.id/?option=com_content&view=article&id=319&Itemid=468 diakses pada tanggal 10 Oktober 2020 pukul 14.04 WIB
[18] Wawancara langsung dengan bapak gembala Pdt. F. Sirait STh pada tanggal 11 Oktober 2020 pukul 13.45 WIB
[19] Wawancara langsung dengan bapak gembala Pdt. F. Sirait STh pada tanggal 11 Oktober 2020 pukul 15.45 WIB
[20]…, Dokumen GBI Sukacita, Warta Jemaat dan Buku Induk Jemaat tahun 2014-2020
[21] Wawancara langsung dengan bapak gembala Pdt. F. Sirait STh pada tanggal 01 Desember 2020 pukul 13.14 WIB
[22] https://www.gmipagaralam.or.id/2019/01/sejarah-berdirinya-gereja-methodist.html?m=1 diakses pada tanggal 10 Oktober 2020 pukul 14.06 WIB
[23] Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di dalam dan sekitar Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia 1991), 146
[24] Ibid…, 157-158
[25] Ibid…, 158
[26] Wawancara langsung dengan Bpk. Delvenes Hutahuruk pada hari Minggu 11 Oktober 2020 pukul 11.30 WIB
[27] Wawancara langsung dengan bapak Hendriko Purba sebagai pengurus harian jemaat, Pada 01-12-2020 pukul 8:38 Wib
[28] Wawancara langsung dengan bapak Gembala GTDI bapak Pdt. E. Butar-butar pada tanggal 11 Oktober pukul 12.30 WIB
[29] Jan. S. Aritonang, Yubileum 50 Tahun GKPI, (SIantar: Kolportase Pusat GKPI, 2014), 56-57
[30] Ibid…, 63
[31] …, Dokumen Surat Permohonan GKPI Kelambir Lima ke Kantor Sinode GKPI, 15 Maret 2015
[32] Wawancara langsung dengan guru jemaat Pnt. L br Sitanggang pada tanggal 11 Oktober 2020 pukul 17.00 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar