Jumat, 16 April 2021

Komite Na Ra Marpodah

 


Komite Na Ra Marpodah

(Suatu Tinjauan Historis Teologis Terhadap Kepemimpinan Komite Na Ra Marpodah dan Refleksinya Kepada Pemimpin Masa Kini)

I.                   Latar Belakang Masalah

Pemimpin Kristen sangat berbeda dengan pemimpin dunia, sebab pemimpin Kristen berpengaruh terhadap perkembangan suatu gereja atau pun komunitas Kristen. Oleh sebab itu, pemimpin Kristen dituntut untuk dapat menjalankan perannya dengan baik, agar tercipta kepemimpinan yang dapat memberi pengaruh. Seorang pemimpin Kristen dituntut untuk menyadari keberadaannya sebagai pemimpin dan motivasinya dalam memimpin. Ketika keberadaannya sebagai pemimpin dapat dijalankan dengan baik, maka kepemimpinan tersebut akan memberi dampak yang baik bagi gereja maupun komunitas Kristen. Namun dalam praktik di lapangan masih ditemukan pemimpin Kristen yang kurang menyadari panggilannya sebagai pemimpin. Sebagai contoh, seorang pelayan yang memimpin gereja dituntut untuk menyadari bahwa kepemimpinan yang sedang dijalani dengan penuh tanggung jawab baik kepada manusia terlebih lagi kepada Tuhan. Peneliti mengamati ketika seorang pelayan kurang menyadari panggilannya, maka akan mempengaruhi motivasi dan focus pelayanan, sehingga berdampak pada hasil pelayanannya. Lebih dari itu, Pelayan merupakan hamba Tuhan dalam arti menyerahkan diri secara penuh waktu menjadi hamba Tuhan. Adapun tugas seorang hamba ialah melayani tuannya. Seorang pemimpin yang mengandalkan Tuhan di dalam menghadapi tantangan dan hambatan apapun yang terjadi dalam hidupnya akan tetap kuat, teguh, dan tidak berpaling kepada apapun. Sikap inilah yang ingin ditekankan dalam perkembangan zaman yang sangat pesat ini. Kesetiaan yang dimiliki oleh seorang pemimpin sangat penting artinya ia setia dalam melakukan tugas dan tanggungjawabnya meskipun banyak tantangan dan hambatan yang terjadi. Ketika tantangan terjadi dalam hidupnya ia tetap berpengharapan kepada Tuhan, dapat berdiri teguh dan setia kepada tanggungjawabnya.  

 

II.                Pembahasan

2.1.Pengertian Kepemimpinan

Pemimpin adalah seorang tokoh yang mampu mempengaruhi pengikutnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Konsep pemimpin berasal dari bahasa Inggris, yaitu “leaders”, Kepemimpinan dari “leadership.[1] Fungsi pemimpin adalah menggerakkan para pengikutnya agar mereka mau mengikuti atau menjalankan apa yang diperintahkan atau dikehendaki pemimpin. Hubungan antara pemimpin dengan orang-orang yang dipimpinnya bersifat pembimbing, pemberian arah, pemberian perintah atau intruksi, pemberian motivasi atau dorongan dan pemberian teladan untuk mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pemimpin adalah pengaruh Kepemimpinan bukan berbicara hanya kepada jabatan semata tetapi esensi yang terpenting yang perlu diketahui dalam kepemimpinan Kristen ialah suatu proses terencana yang dinamis yang di dalamnya seorang pemimpin dengan kapasitas dan tanggung jawab atas mandat/pemberian Allah memimpin suatu kelompok orang ke arah tujuan Allah yang yang bukan hanya menguntungkan pemimpin tetapi juga anggota yang dipimpinnya.[2]

 

 

 

 

2.2.Sejarah Komite Na Ra Marpodah

Masuknya Injil di Simalungun sejak 1903 merupakan titik awal perkembangan sejarah gereja GKPS yang dikaruniakan Tuhan dan patut untuk disyukuri yaitu dengan didirikannya pos Pekabaran Injil di Pamatang Raya oleh August Theis.[3] Di mulai pada tahun 1903, para zendeling RMG mengabarkan Injil di Pematang Raya, mereka  tidak menggunakan bahasa pribumi yakni bahasa Simalungun, melainkan bahasa Batak Toba yang kurang dimengerti orang Simalungun. Walaupun RMG memahami meraih suku Simalungun melalui orang Simalungun, namun dalam prakteknya pihak RMG terkesan tidak mengindahkan identitas kebudayaan/ adat Simalungun. Para zendeling sendiri tidak berminat menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh Kristen Simalungun. Cara penginjilan RMG tersebut sangat memperlambat upaya mengkristenkan suku Simalungun.[4] Memang ada segelintir zendeling Jerman seperti G. K. Simon yang sudah berikhtiar memakai bahasa Simalungun sejak awal pekerjaannya di Pamatang Bandar tahun 1904. Kepada guru-guru Toba yang membantunya di Bandar sudah diajarkannya agar mereka memakai bahasa Simalungun. Sayangnya usaha ini tidak berkelanjutan karena Simon terpaksa harus berangkat ke Jerman untuk berobat tahun 1906.[5]

Menyadari keadaan ini, muncul kesadaran dalam diri J. Wismar Saragih dan Jason Saragih untuk memanfaatkan budaya Simalungun seluas-luasnya demi perluasan Injil Kristus di kalangan suku Simalungun. Atas prakarsa kedua tokoh tersebut, pada perayaan ulangtahun jemaat Pamatang Raya ke-25 pada bulan September 1928, disepakati untuk membentuk suatu wadah sebagai sarana pelayanan penginjilan dan pendidikan di Simalungun. Wadah itu kemudian disebut Komite Na Ra Marpodah (Panitia Pemberi Nasehat). Menurut catatan J. Wismar Saragih, ada 14 orang yang berkumpul dan meresmikan lahirnya Komite Na Ra Marpodah tersebut. Akan tetapi hanya beberapa orang saja nama-nama mereka yang dicatat beliau di antaranya J. Wismar Saragih, Jaudin Saragih, Jacobus Sinaga, Jason Saragih, Jotti Saragih, Benyamin Damanik, Augustin Sinaga, Lamsana Saragih, Jainus Saragih, Kenan Sinaga, Jonas Purba dan Kilderik Saragih. Demikianlah Komite Na Ra Marpodahter tersebut diresmikan berdirinya pada tanggal 13 Oktober  1928 di Pamatang Raya. Tercatat yang menjadi pengurus dan anggota komite ini adalah Redaktur Pdt. J Wismar Saragih, ketua: Jason Saragih, Sekretaris merangkap bendahara: Jakobus Sinaga, komisaris: Jaudin Saragih dan Jotti Saragih; anggota:  Benyamin Damanik, Jainus Saragih, Kenan Sinaga, Lamsana Saragih, Jonas Purba dan Kilderik Saragih.[6] Setelah beberapa bulan berdiriny Komite ini maka diminta pulalah agar Asisten Residen mengesahkan kelahiran Komite ini, tepatnya 5 Februari 1929.[7]

 

2.3.Tujuan Komite Na Ra Marpodah

Komite na Ra Marpodah ialah sebuah strategi yang digunakan J. Wismar Saragih untuk memberdayakan Simalungun.[8] Secara resmi, tujuan Komite Na Ra Marpodah ini ada tiga, yaitu:

·         Mengasihi sesama manusia (mangkaholongi hasoman jollma)

·         Takut pada Tuhan (mangkabiari Naibata), dan

·         Menghormati Raja/ pemerintah (pasangapkon Raja)

Yang didasarkan pada 1 Petrus 2: 17 yang berbunyi: “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah pada Allah, hormatilah raja”!

Kata komite yang dipakai dalam organisasi ini menurut J. Wismar Saragih menyatakan dasar kegiatan komite yang nirlaba. Sedangkan Na Ra Marpodah mengandung arti yang dalam bagi setiap pengurus/ anggota dan mencerminkan rasa tanggungjawab serta kewajiban untuk mendukung kelangsungan komite ini dengan dana, pengetahuan, nasehat dan bimbingan sukarela dari tiap-tiap pengurus kepada orang Simalungun demi kemajuan orang Simalungun baik dalam kekristenan maupun pendidikkan.[9] Di bawah pimpinan Guru J. Wismar Saragih, komite ini merencanakan dan melaksanakan pemberitaan Injil berbahasa Simalungun dan menerbitkan pelbagai buku dalam bahasa Simalungun seperti nyanyian rohani, cerita Alkitab, agenda, katekismus dan buku renungan harian. Jubileum 25 tahun Injil di Tanah Simalungun menjadi titik balik sejarah Injil di Simalungun, menyadarkan suku Simalungun bahwa tugas pemberitaan Injil adalah tugas mereka sendiri terhadap sesama sukunya.[10]

 

2.4.Kepemimpinan Komite Na Ra Marpodah

Mendukung pembentukan Komite, masing-masing pengurus komite memberikan donasi spontan sebanyak 97 gulden, inilah yang menjadi modal awal bagi gerakan komite ini [11] Lalu dukungan dana  mengalir dari pemerintah swapraja melalui landschapskas Simalungun sebesar 300 gulden, donasi dari rakyat, pengusaha dan pegawai pemerintah, raja-raja Simalungun sebesar 400 gulden. P. voorhoeve turut memberikan donasi rutinnya sebesar 5 gulden pertahun.[12] Kegiatan ini ternyata mendapat sambutan yang hangat dari para putra Simalungun baik yang sedang sekolah maupun yang sudah bekerja. Didorong semangat kesukuan mereka dengan rela memberi bantuan dana untuk  kelancaran kegiatan komite ini.[13] Pada masa-masa berlangsungnya kegiatan komite ini sejak tahun 1929, tercatat berbagai pandangan dan tanggapan atas lahirnya gerakan ini. Ketika P. Voorhoeve mengunjungi kantor komite ini setelah beliau memberi ceramah pada pertemuan penatua tanggal 18 April 1937 di Pamatang Raya beliau mengatakan, “Sejak awal pekerjaan zendeling di Simalungun nampak para zendeling Eropa kurang berminat memakai bahasa Simalungun hanya dengan alasan asal-usul orang Simalungun satu keturunan dengan suku Batak Toba, yakni dari Samosir. Meski baru tiga bulan saya memepelajari bahasa Simalungun tetapi saya sudah yakin bahwa bahasa Simalungun berbeda dengan bahasa Batak Toba. Jadi bahasa Simalungun merupakan salah satu dari bahasa Batak di Sumatera. Saya memghargai dan mendukung upaya “Komite Na Ra Marpodah” yang mengembangkan pemakaian bahasa Simalungun demi perluasan Injil Kristus dan kemajuan pendidikan bagi orang-orang Simalungun. Ucapan P.Voorhoeveini sekaligus kritikan beliau terhadap lembaga zending RMG yang cenderung meremehkan kebudayaan/ adat-istiadat Simalungun. Penghargaan dan dukungan bagi Komite ini juga datang dari pemerintah kolonial Be;anda. Mereka menilai kegiatan komite ini sebagai suatu kegaiatan yang positif karena tujuannya untuk memajukan kekristenan dan pendidikan bagi penduduk pribumi. Bagaimanapun juga kolonial Belanda memahami bahwa munculnya sejumlah pertikaian dan perang saudara di antara suku Simalungun pada dasarnya diatarbelakangi kurangnya pendidikan dan pengetahuan warga setempat. Dengan pemahaman demikian dapat dimaklumi apabila Asisten Resident Simalungun en de Karolanden yang berkedudukan di Pamatang  Siantar segera mensahkan statulen Komite ini pada tanggal 5 Februari 1929.[14]

Sedangkan sikap lembaga zending RMG terhadap  kegiatan Komite ini ialah bahwa zending RMG menunjukkan sikap kurang simpatik terhadap usaha-usaha Komite Na Ra Marpodah yang diprakarsai Pdt. J. Wismar Saragih. Sikap kurang  simpatik itu nampak ketika RMG berusaha memisahkan J. Wismar dari tengah-tengah sukunya sendiri yakni dengan cara menempatkan beliau menjadi pendeta evangelist di Sebelah Selatan danau Toba dan berkedudukan di Pearaja-Tarutung. Pdt. J. Wismar menyadari bahwa penempatannya di daerah yang tidak berbahasa Simalungun bertujuan untuk mencegah kelanjutan pemakaian bahasa Simalungun dan itu berarti merehabiliitir kembali pemakaian bahasa Batak Toba di Simalungun.  Tentu saja J. Wismar keberatan atas penempatan tersebut. Dengan keras beliau berkata kepada pimpinan RMG di Pearaja: Rupanya Tuan belum mengetahui bahwa saya bekerja tidak melihat gaji, tuan boleh ambil gaji saya yang seharusnya, biarkanlah saya terus menjadi pendeta di sini”.[15]

Memang jalan yang ditempuh oleh gerakan ini tidaklah mudah, mengingat kompoisi masyarakat Onderfdeeking Simalungun mengalami perubahan yang drastic setelah migrasu orang Toba ke Simalungun. Daerah orang mayoritas dihuni orang Simalungun terkonsentrasi di Simalungun atas (Raya, purba, Dolog Silau dan Silimakuta), sedangkan di Simalungun bawah (Panei, Tanah Jawa dan Siantar) sudah didominasi imigran Batak Toba. Ini menyebabkan timbulnya kesulitan apabila bahasa Simalungun dijadikan sebagai bahasa pengantar zending. J. Warbeck dalam suratnya kepada raja-raja Simalungun memberikan pertimbangan di atas  ditambah dengan minimnya buku-buku pelajaran dalam bahasa Simalungun  maupun tenaga pengajar Simalungun yang cenderung langka karena minat orang Simalungun masuk sekolah guru sudah dibuka sejak 1931 di Pematangsiantar termasuk rendah. Akan tetapi karena gencarnya oposisi kultural Comite Na Ra Marpodah menuntut pemakaian bahasa Simalungun lewat usaha-usaha mereka menterjemahkan dan menerbitkan buku-buku pelajaran (tanpa bantuan finalsial RMG) dengan terpaksa RMG harus menyesuaikan dirinya dengan perubahan sikap orang Simalungun itu. Dalam laporan J. Wismar Saragih hal ini dipaparkannya sebagai berikut:[16]

Agepe songon na maok idahon parrohni partolongan hun bani tuan-tuan pandita (zending), sai iurupi sidea do padalankon sura-sura ni comite in, halani tong-tong do naigilhon anjaha ngut-ngiti, ase ipadalan bani gereja ampa sikolah.

Walaupun seperti kelihatan susah  pertolongan dari para zending, tetapi tetap zending membantu mereka menjalankan keinginan Comite, karena selalu diingatkan supaya menjalanjak (menggunakanakn Bahasa Simalungun) di gereja maupun sekolah.

Dalam melanjutkan segala usaha, comite ini berusaha mengumpulkan sejumlah dana yang didapatkan dari iuran tetap mereka yang bertujuan  untuk dapat mencetak buku-buku berbahasa Simalungun yang termasuk di dalamnya adalah Sinalsal yang berisikan pekabaran Injil dan pengetahuan-pengetahuan umum. Namun, memasuki era tahun 1942, comite ini berakhir dan dan penerbutan majalah Sinalsal juga berhenti. Hal ini diebabkan oleh beberapa factor yang diderita oleh rakyat Simalungn ketika pemerintahan militer Jepang memasuki Indonesia.[17] Berbagai faktor tersebut ialah dengan kekalahan tentara Belanda oleh Jepang yang mengakibatkan kekuasaan atas Simalunbun menjadi daerah kekuasaan Jepang. Di masa Jepang, sekolah-sekolah zending dialihkan menjadi sekalah pemerintah yang selama ini diurus oleh pendeta-pendeta dan segala perkumpulan gerejja tidak dapat lagi dijalankan kecuali telah mendapat izin dari pemerintah Nippon. Gereja juga tidak diindahkan dan beberapa diantaranya dijadikan gudang persenjataan oleh tentara Jepang. Perlu dicatatkan dalam tubuh keanggotaa Comite Na Ra Marpodah telah mengikutsertakan pemuda di dalamnya. Hal ini didasarkan pada catatan sejarah bahwa pada tanggal 19 September 1909 telah dilaksanakan pembabtisan atasa seorang pemuda di Purba Saribu oleh pdt. C. Gabriel. Demikian juga dengan babtisan  kedua atas 24 orang di Pamatang Raya tanggal 26 Desember 1909 yang tentunya terdapat beberapa pemuda di dalamanya. Hal inilah yang perlu ditegaskan bahwa keikutertaan pemuda dakam sebuah organisasi penginjilan di Simalungun yakni Comite Na Ra Marpodah merupakan embrio keorganisasian pemuda di masa yang akan datang. [18]

Comite Na Ra Marpodah juga memberikan sumbangsih yang sangat berharga bagi keberlangsungan sekolah-sekolah di Simalungun dan sekaligus untuk menganggapi pergerakan arus tobaisasi yang dilancarjkan oleh RMG di Simalungun. Karena dalam kesehariannya, proses belajar mengajar yang dilakukan di sekolah menggunakan bahasa Batak Toba yang menjadikan pelajaran sulit untuk dimengerti oleh naradidik di sekolah tersebut. Oleh Comite Na Ra Marpodah menerbitkan buku-buku pelajaran untuk pelajaran sekolah pada tahun 1931 yang dikenal dengan Rudang Ragi-ragian dan Sitolusaodoran. Penerbita buku-buku pelajaran di sekolah berada di posisi yang teratas dalam tingkat penjualan disusul buku-buku yang berkenaan dengan taraf kehidupan dan buku ibadah di jemaat.[19] Kehadiran sekolah yang menjadi ruang bagi pemuda untuk menenpuh pendidikan sekaligus menyatakan bahwa mereka juga ikut berperan dalam pekabaran Injil di tanah Simalungun juga sebagai orang-orang yang ikut memajukan tanah Simalungun.[20]

Penerbitan majalah lokal Sinalsal adalah suatu cara yang dilakukan Comite Na Ra Marpodah untuk menemukan kembali budaya Simalungun. Dalam arti bahwa majalah inalsal ini adalah untuk menjaga, merawat dan memelihara bahasa Simalungun.[21] Hal itu dapat dimungkinkan karena hadirnya Comite Na Ra Marpodah adalah sebagai penilakan hasil evangeli yang datang dari daerah Toba yang memberitakan Injil di Tanah Simalalungun tidak menggunakan bahasa lokal Simalungun melainkan bahasa Batak Toba. Melalui majalah Sinalsal ini menunjukkan bahwa perluasan kekristenan di Simalungun sangat kental dengan muatan budaya/ adat istiaday suku Simalungun itu sendiri. Hal itu berarti bahwa motif kultural adalah faktor pendorong yang utama dalam hal menerima Injil Kristu di tanah Simalungun, sehingga kekristenan Simalungun tidaklah dapat dipisahkan dengan kesimalungunan itu sendiri.[22] Majalah Sinalsal di samping tujuannya sebagai media dalam perluasan Injil  juga berisikannasehat kepada orang Simalungun bagaimana caranya meninggalkan adat kebiasaan yang merintangi kemajuan dan mencapai sukses di bidang ekonomi.[23] Penerbitan majalah Sinalsal oleh Comite sejak 1 April 1931. Pada awalnya majalah ini masih berbentuk tabloid yang isinya banyak memuat tulisan oleh J. Wismar Saragih. Pada awalnya, majalah ini hanya ditujukan kepada guru sekolah dan penatua jemaat. Namun sejak 1932 majalah ini terjadi sudah disebarkan kepada jemaat secara umum dengan cara membelinya. Hal ini terjadi  mengingat bahwa perlunya memperdalam kerohanian dan pengetahuan jemaat.[24]

 

2.5.Hasil Komite Na Ra Marpodah

Dalam prakteknya, dalam kegiatan Komite Na Ra Marpodah maka sejak 1929 kaum Kristen Simalungun sudah memiliki Katekhismus, buku-buku Katekisasi, buku nyanyian Gereja, Kitab-kitab ibadah, buku-buku bacaan untuk murid kelas satu dan dua, buku cerita Alkitab PL, buku renungan harian, buku petunjuk tulis menulis bahasa Simalungun, almanak, surat kabar berbahasa Simalungun (seperti Sinalsal), dan buku bacaan lainnya dalam bahasa Simalungun pada tahun 1929, telah berhasil menerjemahkan Injil Lukas ke dalam bahasa Simalungun. Segala usaha ini erat kaitannya dengan gerakan kekristenan dan pendidikan bagi suku Simalungun.[25] Pada tahun 1934 sudah berdiri rumah milik Komite Na Ra Marpodah.[26] Pada tahun 1934 jumlah sekolah di Simalungun ada 99, di anntaranya 35 yang berbahasa Simalungun, 46 berbahasa Toba dan 17 berbahasa Melayu dan 1 berbahasa Karo. Namun pada tahun 1946, karena desakan Comite Na Ra Marpodah dari 102 sekolah yang ada, 46 sekolah sudah memakai bahasa Simalungun  selaku bahasa pengantar 41 berbahasa Toba, 14 berbahasa Melayu dan 1 berbahasa Karo. Tampaklah sekilah warisan J. Wismar Saragih: iman Kristen semakin mendalam dan berakar (di budaya Simalungun) dan memiliki  daya social untuk membela martabat masyarakatnya.[27]

Atas prakarsa Comite Na Ra Marpodah yang menerbitkan surat kabar Sinalsal masyarakat Simalungun sekaligus membuka ruang bagi pemuda untuk ikut terlibat di dalamnya. Pada dasarnya surat kabar Sinalsal yang diterbitkan Comite Na Ra marpodah adalah sebagai metode untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang Simalungun. Keterlibatan pemuda Simalungun  di dalam surat kabar Sinalsal dapat dilihat melalui beberapa pemuda yang menulis beberapa artikel di dalam surat kabar tersebut. Pemberitaan Injil oleh pemuda melalui surat kabar Sinalsal yakni dengan memberi kontribusi buah pikiran agar mereja sesamam pemuda tidak hanya lebih mementingkan untuk mempercantik diri akan tetapi mengajak setiap perkembangan zaman. Selain dari pada memberikan sumbangan pemikiran dengan menuliskan sebuah artikel, surat kabar Sinalsal juga dipergunakan oleh pemuda untuk memberikan informasi-informasi tentang perkumpulan-perkumpulan pemuda yang telah diadakan di berbagai tempat seperti di Pamatang Purba pada 14 Maret 1937.[28]

 

III.             Refleksi Teologis

Reaksi yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin Simalungun dalam membentuk Komite Na Ra Marpodah merupakan bentuk kegelisahan dan kepekaan seorang pemimpin di dalam berbagai situasi yang berkembang di Simalungun saat itu, sehingga terbentuklah Komite Na Ra Marpodah. Diabaikannya pemakaian unsur hasimalungunon memunculkan inisiatif kongkrit orang Simalungun yang ingin keluar dari lingkaran “Tobaisasi” RMG itu. Muncul keinginan orang Simalungun untuk sesegera mungkin menerapkan pemakaian bahasa Simalungun dalam aktivitas gerejawi dan sekolah. Oleh karena itu Penulis melihat beberapa poin nilai yang sangat baik melalui kepemimpinan Komite Na Ra Marpodah, yaitu:

1.      Kompeten

Seseorang yang kompeten akan dianggap pantas untuk menjadi pemimpin oleh orang lain. Orang yang kompeten akan disegani dan diikuti oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan hal itu akan mendorong terciptanya sebuah kepemimpinan yang sukses.[29] Dalam model Kepemimpinan Komite Na Ra Marpodah ini sangatlah terlihat bahwa mereka memiliki kompetensi, cakap dengan tugasnya, tranparan dalam karya dan siap menjadi mentor.

2.      kerendahan hati

Kerendahan hati merupakan hal yang langka dalam diri pemimpin-pemimpin dewasa ini. Bahkan lebih parah lagi, dunia pun tidak memberikan apresiasi sedikitpun tentang kerendahan hati.[30] Tetapi tidak dengan Komite Na Ra Mapodah, ini adalah sumbangan budaya Simalungun kepada kita, yang membuat untuk bersikap adaptif (manganju) dalam interaktif (sapanganbei manoktok hitei), sehingga bukan serba komando, tetapi pastisipatif fan bekerja penuh inisiatif dalam melayani.

3.      Kredebilitas dan Berhikmat Besar

Kredebilitas adalah faktor penting dalam karakter seorang pemimpin. Kredebilitas seorang pemimpin adalah kualitas, kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan. Seorang yang memiliki kredibilitas berarti dapat dipercayai, dalam arti kita bisa memercayai karakter dan kemampuannya. Seperti Komite Na Ra Marpodah, dengan kredibilitasnya mereka mampu meyakinkan zendeling, kolonial Belanda bahkan jemaat bahwa apa yang mereka lakuakan itu adalah benar untuk kebaikan. Jadi kita bekerja sebagaus-bagusnya, bahkan memberi pengaruh besar kepada sesame, sehingga hasilnya tidak asal-asalan dan ala kadarnya.

4.      Semangat Melayani

Jadi pemimpin bukan pejabat atau penguasa yang memerintah sesuai dengan kehendaknya sendiri untuk mendapatkan keuntungan pribadi, melainkan pelayanan yang mengemban tugas panggilan dari Tuhan sendiri. Hamba juga dapat diartikan sebagai pekerjaan yaitu melayani orang lain tanpa diberikan bayaran/upah/imbalan. Menjadi pemimpin pilihan Tuhan artinya melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan dan kebesaran nama Tuhan bukan untuk mencari kemuliaan dan pengakuan untuk diri sendiri.[31]

Jadi, di dalam melayani, pemimpin tidak menjadi batu sandungan, tidak memulai dengan sikap negative dan sinis, tetapi berkarya dengan integritas, komitmen dan ketekunan. Demikianlah hendaknya dari keempat point yang telah disimpulkan penyeminar sikap para Komite Na Ra Marpodah dapat menjadi refleksi dan diaplikasikan di dalam kehidupan pemimpin masa kini, untuk memimpin dengan penuh tanggungjawab di tengah-tengah gereja. Seperti landasan teologis tujuan Komite Na Ra Marpodah 1 Petrus 2: 17 yang berbunyi: “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah pada Allah, hormatilah raja”.

 

IV.             Analisa Penyeminar

Melalui pemaparan di atas, tentu pemimpin-pemimpin gereja masa kini dapat belajar dari perjuangan dan kerja keras Komite Na Ra Marpodah. Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, seseorang bisa meniru teladan dan semangat dari pemimpin Comite Na Ra Marpodah yaitu memiliki kompeteni yang dari pada Tuhan, kerendahan hati, kredibilitas, semangat melayani dan tetap mengandalkan Tuhan di dalam setiap apa yang ia lakukan. Di dalam kepemimpinan seseorang pasti ada tantangan dan hambatan yang terjadi. Seperti di dalam penginjilan di tanah Simalungun telah terjadi Tobaisasi, dengan sigap pemimpin Simalungun yang merasakan kegelisahan dan ingin memperbaiki masalah yang terjadi, itu semua adalah untuk kebaikan suku Simalungun dan pengabaran Injil di Simalungun. Maka dengan semangat Komite Na Ra Marpodah ini bekerja dengan kompeten, rendah hati, kredibilitas dan semangat melayani, maka masalah yang ada akan teratasi dengan baik. Demikianlah hendaknya para pemimpin-pemimpin gereja masa kini di dalam mengatasi masalah, tidak langsung marah, menjatuhkan oranglain, lari dari masalah tetapi hendaklah dapat meniru sikap dan tanggungjawab dari Komite Na Ra Marpodah.

Dan terkhususnya untuk latar belakang permasalahan terbentuknya Komite Na ra Marpodah ialah masalah di dalam suku terkhusunya bahasa, maka GKPS adalah salah satu gereja suku, oleh sebab itu jemaat sungguh berharap agar GKPS  turut serta mempertahankan dan melestarikan bahasa daerahnya yaitu bahasa Simalungun dengan cara menggunakan bahasa Simalungun sebagai bahasa pengantar di dalam ibadahnya dan juga di dalam kegiatan-kegiatan GKPS lainnya di samping bahasa Indonesia. Jemaat melihat bahwa bahasa Simalungunlah yang dapat membedakab GKPS dengan gereja-gereja lainnya. GKPS diharapkan dapat melestarikan dan memepertahankan eksistensi budaya termasuk Simalungun. Hal ini disebabkan adanya kecintaan warga GKPS terhadap budaya Simalungun termasuk bahasa Simalungun. Karena ada suatu kekhawatiran bahwa tanpa GKPS, budaya Simalungun termauk bahasa Simalungun akan semakin terkikis oleh perkembangan jaman. Demikian jugalah dengan gereja-gereja suku lainnya, untuk tetap mempertahankan kesukuan gerejanya masing-masing. Karena di balik semua yang terjadi pasti ada perjuangan yang luar biasa yang telah dilakukan pemimpin gereja untuk memperjuangkan segala sesuatu seperti Komite Na Ra Marpodah ini yang awalnya ialah untuk mempertahankan bahasa Simalungun di dalam pekabaran Injil di tanah Simalungun.

 

V.                Kesimpulan

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Komite Na Ra Marpodah merupakan sebuah reaksi yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin Simalungun dalam membentuk Komite Na Ra Marpodah merupakan bentuk kegelisahan dan kepekaan seorang pemimpin di dalam berbagai situasi yang berkembang di Simalungun saat itu. Terbentuknya Comite ini terbentuk diprakarsai oleh J. Wismar Saragih  dan Jason Saragih, pada September 1928 dan diresmikan pada 13 Oktober 1928. Kata Comite yang digunakan dalam organisasi ini sebagai pernyataan dasar kegiaatan comite yang  nirlaba (non profit atau tidak mencari keuntungan) dan Na ra marpodah mengandung artu bahwa setiap anggotanya mencerminkan rasa tanggung jawab serta kewajiban untuk mendukung kelangsungan komite ini dengan dana, pengetahuan, nasehat dan bimbingan sukareka tiap-tiap pengurus kepada orang Simalungun demi kemajuan orang Simalungun baik dalam kekristenan maupun dalam pendidikan.

 

VI.             Daftar Pustaka

Agustono, Budi, dkk, Sejarah Etnis Simalungun, (Pematang Siantar: Hutarih Jaya, 2012.

Damanik, Jan J., Kristus di Tengah-tengah Suku Simalungun, Medan: CV. Mulia Sari, 2002.

Damanik, Jan Suriadansen, GKPS Dan Budaya Simalungun di tengah Realita Budaya Global, Medan: Galasibot.

Damanik, L., Sonaga do Nami na talup, Siantar: Kolportase GKPS, 1937.

Dasuha, Juanda Raya Purba, dan Martin Lukito Sinaga, Tole! Den Timorlanden Das Evangelium, Pematang Siantar: Kalportae GKPS, 2003.

Echols, Jhon M., dan Hasan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia, 1997.

End, Th. Van den, Ragi Carita 2 Sejarah Gereja di Indonesa tahun 1860an- sekarang, Jakarta: BPK-GM, 2008.

Hutahuruk, J. R., Kemandirian Gereja, Jakarta: BPK-GM, 1993.

Lempp., Walter, Benih yang Tumbuh XII, Semarang: Satya Wacana, 1976.

Pimpinan Pusat GKPS, 60 Tahun Indjil Kristus di Simalungun, Medan: Luhur, 1963.

Pimpinan Umum Pemuda GKPS, Sejarah Pemuda GKPS, Pematang Siantar: Kolportase GKPS, 1989.

Robert P. Borrong, Kepemimpinan dalam Gereja Sebagai Pelayanan, Jakarta: Gunung Mulia, 2002.

Sinaga, Barmen DP, Jerusalem-Judea-Roma-Wuppertal-Tanah Batak-Timur Landen (Refleksi I Abad Firman Tuhan di Simalungun), Pematang Siantar,2004.

Sinaga, Martin Lukito, Identitas Poskolonial Gereja Suku Dalam Masyarakat Sipil, Yogyakarta: LkiS, 2004.

Sinaga, Martin Lukito, Teologi Gereja Kristen Protestan Simalungun, Jakarta: BPK-GM, 2018.

Tomatala, Yakob, Kepemimpinan Kristen, Jakarta: YT Leadership Foundation, 2002.

Tomatala, Yakob, Kepemimpinan Yang Dinamis, Malang: Gandum Mas, 1997.



[1] Jhon M. Echols dan Hasan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1997), 351.

[2] Yakob Tomatala, Kepemimpinan Kristen, (Jakarta: YT Leadership Foundation, 2002), 32.

[3]J. R. Hutahuruk, Kemandirian Gereja, Jakarta: BPK-GM, 1993), 149

[4] Jan J. Damanik, Kristus di Tengah-tengah Suku Simalungun, (Medan: CV. Mulia Sari, 2002), 37

[5] Juanda Raya Purba Dasuha dan Martin Lukito Sinaga, Tole! Den Timorlanden Das Evangelium, (Pematang Siantar: Kalportae GKPS, 2003), 183

[6] Jan J. Damanik, Kristus di Tengah-tengah Suku Simalungun,37-38

[7] Martin Lukito Sinaga, Teologi Gereja Kristen Protestan Simalungun, (Jakarta: BPK-GM, 2018), 25

[8] Martin Lukito Sinaga, Teologi Gereja Kristen Protestan Simalungun,  24

[9] Juanda Raya Purba Dasuha dan Martin Lukito Sinaga, Tole! Den Timorlanden Das Evangelium, 185

[10] Walter Lempp. Benih yang Tumbuh XII, (Semarang: Satya Wacana, 1976), 53

[11] Juanda Raya Purba Dasuha dan Martin Lukito Sinaga, Tole! Den Timorlanden Das Evangelium, 185

[12] Juanda Raya Purba Dasuha dan Martin Lukito Sinaga, Tole! Den Timorlanden Das Evangelium, 185-186

[13] Jan J. Damanik, Kristus di Tengah-tengah Suku Simalungun,44

[14] Jan J. Damanik, Kristus di Tengah-tengah Suku Simalungun,44-45

[15] Juanda Raya Purba Dasuha dan Martin Lukito Sinaga, Tole! Den Timorlanden Das Evangelium, 187

[16] Juanda Raya Purba Dasuha dan Martin Lukito Sinaga, Tole! Den Timorlanden Das Evangelium, 187-188

[17] Jan J. Damanik, Kristus di Tengah-tengah Suku Simalungun,45

[18] Pimpinan Pusat GKPS, 60 Tahun Indjil Kristus di Simalungun, (Medan: Luhur, 1963), 30

[19] Budi Agustono, dkk, Sejatah Etnis Simalungun, (Pematang Siantar: Hutarih Jaya, 2012), 295-303

[20] Pimpinan Umum Pemuda GKPS, Sejarah Pemuda GKPS, (Pematang Siantar: Kolportase GKP, 1989), 10

[21] Martin Lukito Sinaga, Identitas Poskolonial Gereja Suku Dalam Masyarakat Sipil, (Yogyakarta: LkiS, 20040, 83

[22] Jan Suriadansen Damanik, GKPS Dan Budaya Simalungun di tengah Realita Budaya Global, (Medan: Galasibot), 139

[23] Th. Van den end, Ragi Carita 2 Sejarah Gereja di Indonesa tahun 1860an- sekarang, (Jakarta: BPK-GM, 2008), 197

[24] Jan Jahaman Damanik, Dari Ilah Menuju Allah, (Yogyakarta, ANDI, 2012), 202

[25] Jan J. Damanik, Kristus di Tengah-tengah Suku Simalungun,45

[26] Martin Lukito Sinaga, Teologi Gereja Kristen Protestan Simalungun,  25

[27] Martin Lukito Sinaga, Teologi Gereja Kristen Protestan Simalungun,  26

[28] L. Damanik, Sonaga do Nami na talup,(Siantar: Kolportase GKPS, 1937), 12

[29] Yakob Tomatala, KFepemimpinan Yang Dinamis, (Malang: Gandum Mas, 1997). 327.

[30] Bert M. Farias, “Soulish Leadership,” Sabda Lead(USA: Destiny Image Publishers, Inc., 2001), 35

[31] Robert P. Borrong, Kepemimpinan dalam Gereja Sebagai Pelayanan, (Jakarta: Gunung Mulia, 2002), 7-8. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar