Peranan Roh Allah dalam Kehidupan Hamba TUHAN
(Tinjauan Biblika, Dogmatika, Praktika, Ilmu Agama-agama, dan Agama Suku Serta Aliran Spiritualisme)
I. Latar Belakang Masalah
Roh Allah adalah kata yang sering didengar bagi umat Kristen, Roh ini yang selalu hadir dalam kehidupan kita dan membimbing kita dalam menjalani kehidupan. Roh Allah yang kita temukan di dalam PL adalah Roh yang membimbing umat-Nya untuk melakukan perkerjaan atau karya di tengah-tengah dunia yang telah Ia ciptakan. Di dalam PL terdapat tokoh tokoh yang hidupnya dipenuhi oleh Roh Allah sehingga ia hidup kudus dan menjaga sikapnya agar tidak berlawanan dengan kehendak Allah sebaliknya orang yang tidak mendengarkan Roh Allah akan hidup dengan berbagai perilaku yang melawan aturan Allah. Dalam hal ini dapat dilihat dengan jelas bagaimana Roh Allah tersebut memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan hamba-Nya. Oleh sebab itu pada seminar ini akan dibahas bagaimana peranan dari Roh Allah tersebut di dalam kehidupan hamba Tuhan dilihat dari berbagai tinjauan tidak hanya dari segi biblika PL dan PB namun juga dari segi dogmatika, Praktika, ilmu agama-agama dan juga suku sesrta aliran spritualisme.
II. Pembahasan
2.1.Peran Roh Allah dalam Biblika
2.1.1. Roh Allah dalam Perjanjian Lama
Dalam bahasa Ibrani, Roh diartikan sebagai Ruakh, dan Roh Alah disebut “Ruackh Elohim” yang berbicara tentang kuasaNya. Secara harafiah Roh Allah berarti kehadiran Allah yang aktif dan terlihat.[1] Roh Allah adalah sumber symbol kehadiran Allah dalam penciptaan dunia dan isinya. Roh memperlengkapi manusia sehingga mampu hidup sebagai umat Allah. Banyak kisah dalam kitab taurat, sejarah, nabi dan sastera tentang peranan Roh Allah dalam kehidupan umat Allah. Roh Allah hadir dalam kisah penciptaan, Roh yang memperlengkapi para nabi sehingga mampu bernubuat dan memberitakan kebenaran firman Allah, Roh yang memampukan para raja melaksanakan tugas pemerintahan, Roh yang memampukan manusia melihat kehadiran kerajaan Allah.[2] Dari permulaan Alkitab memperkenalkan kita kepada Roh Allah “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong. Gelap gulita memenuhi samudera raya dan Roh Allah melayang-layang diatas permukaan air” (Kejadian 1:2). Jadi Roh Allah dihubungkan dengan kegiatan Allah dalam penciptaan.[3] Dalam Perjanjian Lama Roh Allah disebut ru’ah Elohim. Secara harafiah Roh Allah berarti kehadiran Allah yang aktif dan terlihat.[4] Roh Allah adalah symbol kehadiran Allah dalam penciptaan dunia dan segala isinya. Roh memperlengkapi manusia sehingga mampu hidup sebagai umat Allah. Banyak kisah dalam kitab taurat, sejarah, nabi dan sastera tentang peranan Roh Allah dalam kehidupan umat Allah. Roh yang memperlengkapi para nabi sehingga mampu bernubuat dan memberitakan kebenaran firman Allah, Roh yang memampukan paara Raja melaksanakan tugas pemerintahan, Roh yang memampukan manusia melihat kehadiran kerajaan Allah. Semuah aktivitas Roh ini sesungguhnya berasal dari Allah, Peran Roh dalam Perjanjian Lama dapat kita lihat dan ketahui melalui berita penciptaan, kuasa, nubuat, pengurapan, dan ciptaan baru. Roh Allah itu bersifat kekal dan abadi.[5] Roh Allah adalah Roh yang keluar dari dalam diri Allah yang berarti Allah juga. Kuasa Roh Allah mencerminkan Allah. Roh Allah adalah pelaksana dari semua kehendak Allah, Roh-Nya bekerja di seluruh bumi, Roh itu diutus oleh Allah (Maz 104:30) dan diberikan oleh Allah (Bil 11:29, Yes 42:1-5). Roh melakukan hal yang luar biasa (1 Raj 18:12, 2 Raj 2:16), Roh adalah sumber dari segala kecerdasan intelektual, moral, fisik (Kej 6:3, Ayb 32:8, 33:4, 34:14, Maz 104:30). Roh itu berdiam dalam umat Allah (Yes 63:11, Hag 2:5), Roh juga memperlengkapi umat dan hamba Allah dengan kekuatan (Hak 3:10, 14:16,19, 15:14, 1 Sam 11:16, 1116:13, 1 Taw 12:18), dengan hikmat (Bil 27:8), dengan keahlian (Kel 31:3)[6] pada saat menyampaikan berita untuk umat Allah para nabi menerima materi melalui Roh Kudus dan bukan hasil rekayasa dari dirinya sendiri (Yes 42:1). Raja Daud meyakini apa yang dikatakan melalui mulutnya datang melalui pewahyuan Roh Kudus (2 Sam 23:2). Sebagai orang-orang yang dipenuhi Roh, para nabi yang terutama menulis kitab suci dengan demikian Roh Allah yang mengilhamkan perkataan tersebut kepada para nabi.[7]
Stanley M. Horton berpendapat tentang kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh para tokoh dalam Perjanjian Lama sebagai berikut: “Bahkan orang yang dipilih Allah untuk menolong dan membebaskan bangsa itu tidak sama sekali bebas dari kelemahan zaman itu. Tetapi Roh Allah bekerja; kadang kala Roh bekerja meskipun mereka ada kelemahan. Sebenarnya, kelihatannya Allah memilih orang-orang yang tidak penting dan tidak terkenal sehingga dapat melihat bahwa kuasa itu berasal dari Allah dan bukan dari manusia.” Sebut saja seperti dalam Hakim-hakim 14:6 Simson dengan mudah mencabik-cabik seekor singa tanpa melukai tangannya sedikitpun, dan juga beberapa tindakan spektakuler lainnya sebagai nasir Allah. Daniel memiliki kemampuan yang luar biasa dalam hal akal budi dan hikmat, dan pada jamannya di tengah-tengah bangsa kafir ia dikenal penuh roh para dewa yang kudus (Daniel 4:8; 5:10-12). Mikha menyatakan Roh Kudus dapat memberikan kekuatan, dan tentu saja bukanlah kekuatan yang biasa-biasa (Mikha 3:8).[8]
2.1.2. Roh Allah dalam Perjanjian Baru
Perjanjian Baru dibuka dengan karya Roh Kudus melalui peristiwa Maria yang mengandung untuk melahirkan Yesus Kristus dalam rangka menggenapi nubuatan yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Lama. Selain di keempat Injil, eksistensi serta pekerjaan Roh Kudus dicatat semakin meningkat intensitasnya dalam kitab Perjanjian Baru yang lain. Luasnya karya Roh Kudus dengan berbagai cara yang dilakukan-Nya dalam Perjanjian Lama sangatlah luar biasa, dan tidaklah mengherankan bila hal serupa terdapat dalam Perjanjian Baru.[12] Kehadiran Allah ditengah-tengah umat-Nya dinyatakan dalam pekerjaan Roh Kudus yang memberikan bimbingan kepada orang percaya. Roh Kudus memberikan hikmat kepada seseorang agar dapat memahami sesuatu yang tidak mungkin dipahami melalui akal pikiran biasa (1 Korintus 2:13). Senada dengan itu Millad J. Erickson menjelaskan: “Karunia-karunia Roh Kudus diberikan dalam kata-kata yang diajarkan oleh Roh dan bukan oleh hikmat manusia (2:13). Bahkan dalam 1 Yohanes 2:27 ditegaskan betapa pentingnya urapan atau pencerahan yang diberikan oleh Roh Kudus untuk mengerti firman Allah, sampai-sampai penulis Surat Yohanes menggunakan kalimat “… tidak perlu kamu diajar oleh orang lain.”Seseorang dapat memiliki kearifan dengan cara mengharapkan dan meminta pertolongan Roh Kudus. Sebab Roh Kudus mampu memimpin dan mengajar untuk memberikan pemahaman terhadap seluruh kebenaran, Ia juga mampu membimbing seseorang bagaimana seharusnya menyampaikan argumentasi mengenai kebenaran (Lukas 12:12; Yohanes 16:13,14; Markus 13:11). [9] Saat menyampaikan argumentasi mengenai asal-usul kuasa yang dipakai-Nya untuk mengusir Setan, Tuhan Yesus mengakui Roh Kudus-lah yang memberi-Nya kuasa (Matius 12:28). Rasul Paulus juga mengakui dalam menyusun strategi pekabaran Injil ia mempergunakan cara mendemontrasikan kuasa di dalam kekuatan Roh Kudus (1 Korintus 2:4, NIV). Hal itu dibuktikan Rasul Paulus pada saat ia mempergunakan otoritas Roh Kudus untuk menghardik tukang sihir, dan menjadikannya buta dalam beberapa hari (Kisah Para Rasul 13:9-12; 1 Yohanes 4:4). Mengenai Roh Kudus yang mampu memberikan kuasa James I. Packer menyatakan: “Kedatangan Kristus, Sang Juruselamat, telah membawa pencurahan Roh Kudus kepada Gereja dan dunia. Roh Kudus datang dengan kuasa. Dalam Perjanjian Baru, kita melihat kuasa ini diwujudkan di dalam semua cara yang disebut di atas: kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah ditetapkan dan kemampuan untuk mengatasi pencobaan, dan kemampuan memenangkan orang lain melalui pemberitaan firman Tuhan dan kesaksian, dan kemampuan untuk bertindak sebagai saluran kuasa Allah dalam berbagai mujizat, penyembuhan, dan lain sebagainya.”[10] Bertitik tolak dari penjelasan Yesus Kristus tentang Roh Kudus (Yohanes 14:26 dan 16:13), bahwa Roh Kudus-lah yang akan mengajar apa yang difirmankan Yesus, dan memberitahukan hal-hal yang akan datang, maka peran Roh Kudus dalam penulisan Kitab Suci menjadi sangat penting. Rasul Petrus dan Rasul Paulus mempercayai otoritas Roh Kudus dalam memberikan pengilhaman untuk terwujudnya penulisan Alkitab (2 Petrus 1:21; 2 Timotius 3:16). Karena dorongan untuk menulis berasal dari Roh Kudus, para pembaca harus memperhatikan nubuatan sebagai firman Allah.[11] Tentang peran Roh Kudus dalam pengilhaman Kitab Suci Henry C. Thiessen memberi penegasan bahwa: “Para Rasul menyatakan bahwa mereka telah menerima Roh ini (Kisah 2:4; 9:17; 1 Korintus 2:10-12; 7:40; Yakobus 4:5; 1 Yohanes 3:24; Yudas 19) dan bahwa mereka berbicara karena dipengaruhi oleh Roh serta atas nama Roh itu (Kisah 2:4; 4:8, 31; 13:9; 1 Korintus 2:13; 14:37; Galatia 1:1, 12; 1 Tesalonika 2:13; 4:2, 8; 1 Petrus 1:12; 1 Yohanes 5:10-11; Wahyu 21:5; 22:6, 18-19). Jadi dapat dikatakan bahwa Tuhan Yesus sendiri menjamin pengilhaman Perjajian Baru.”[12]
2.2.Peran Roh Allah dalam Dogmatika
Roh Kudus tinggal dan tetap dalam hidup orang percaya (Yohanes 15:5,7). Roh Kudus bekertja di dunia ini dengan menciptakan gereja yang menjadi alat Tuhan untuk mengabarkan Injil (Kis 1:8).[13] Roh Kudus memperbaharui manusia melalui dilahirkan kembali lewat pelayanan Roh Kudus (Yohanes 3:3-8), karena Roh Kudus yang memberi hidup (Yoh. 6:63). Roh Kudus tinggal dalam diri orang percaya (Yoh 14:17).[14]
2.3.1. Iman
Dengan karya penyelamatan yang diusahakan oleh Yesus Kristus pada zaman yang baru ada cara hidup baru. Dahulu manusia di dalam daging, atai di dalam suasana yang dikuasai dosa, tetapi sekarang orang beriman hidup dalam Roh atau di dalam suasana di kuasai oleh Roh Kudus. Dalam Roma 8:9, Rasul Paulus berkata bahwa kita tidak hidup di dalam daging melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam dalam kita. Tanpa Roh Kudus, kita bukanlah menjadi milik Kristus. Jadi gagasan dalam alkitabiah, bahwa orang beriman harus mengungkapkan suatu hidup yang dikuasai Roh itu, yang terdiri dari hidup yang gemarakan Roh, yang mau dipimpin oleh Roh, serta berjalan-jalan di dalam Roh.[15]
2.3.2. Penghiburan
Dalam bahasa Yunani, Roh Kudus adalah Paraklete yang berarti penasihat, pendukung atau penghibur (Yoh 14:16). Semuanya mengandung pemikiran tentang orang yang menasihati dan bukan sekedar sahabat disaat senang.[16] Dalam orang percaya juga banyak yang mengalami kesuahan dan kesedihan, baik perpisahan dari seseorang yang mereka kasihi, kehilangan tempat tinggal, kematian mereka yang dikasihi, kehilangan pekerjaan, pengejaran dan pemenjaraan. Namun dalam semuanya penglaman itu, Roh Kudus menghibur dan memberi harapan. Roh Kudus mengingatkan mereka akan firman Tuhan janji-janjiNya atau Roh Kudus sedemikian rupa memberi ketenangan dan kenyamanan di dalam kalbu sehingga mereka dapat kuat dan bersukacita menghadapi pergumulan. Yesus sudah memberikan janji penyertaanNya sampai kepada akhir zaman.[17]
2.3.3. Pengharapan
Pengharapan adalam iman yang ditunjukkan pada masa mendatang. Pengharapan memiliki tentang seiring dengan iman dan kasih sebagai satu karakteristik dari kebijakan orang percaya. Roh Kudus bukan hanya merupakan tanda pengharapan, tetapi menjadi penjamin dari pengharapan itu.[18]. Roh Kudus memberi jaminan bahwa kita hidup bersamaNya untuk selama-lamanya (Ef.1:13). Pengharapan yang diberikan Roh Kudus adalah karena Allah mengasihi orang percaya maka Roh Kudus diberikan untuk menyertai orang percaya. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa lebih berguna kalau Ia pergi untuk meninggalkan para murid karena dengan demikian maka Roh Kudus akan diberikan untuk menyertai orang percaya (Yoh 16:7).[19]
2.3.Peran Roh Allah dalam Praktika
Roh Allah sebagai perantara atau pembimbing. Waktu Allah bertindak dalam penciptaan, kita melihat bahwa penciptaan itu terjadi melalui Roh Allah (Kej 1:2). Waktu Allah menciptakan manusia, Ia menciptakannya dengan RohNya (Ayb. 33:4). Waktu Allah berurusan dengan manusia secara perseorangan, ini dilakukanNya dengan Perantaraan RohNya. Begitu juga kalau Allah memberi tugas kepada nabi-nabiNya, Dia melakukannya dengan memberi mereka RohNya (1 Sam 10:10; Mi. 3:8), dan dengan RohNya Ia berbicara kepada umatNya dengan perantara Nabi-nabiNya (Neh 9:30)[20]
Roh Kudus bekerja di dunia ini dengan menciptakan gereja yang menjadi alat Tuhan untuk mengabarkan Injil. Gereja di ciptakan di dunia untuk mengabarkan Injil tentang Yesus Kristus.[21] Roh Kudus berkarya dalam jemaat. Dalam Kis. 9:31 disebutkan bahwa jemaat mengalami pertumbuhan iman oleh karena Roh Kudus. Melalui pertolongan dan penghiburanNya, jemaat mengalami pertumbuhan. Dalam Kis. 4:31 setelah jemaat berdoa bersama, Roh Kudus memenuhi jemaat dan memberikan keberanian kepada mereka untuk memberitakan firman Allah dengan berani. Dalam gereja yang berkembang. Allah melalui Roh Kudus bekerja [22]
Roh Kudus memimpin gereja dalam melaksanakan misiNya di dunia. Yang pertama, Roh Kudus memberi visi kepada hambaNya (Kis. 13:1-4), kedua, Roh Kudus menentukan kemana hamba Tuhan akan pergi memberitakan Injil demi tercapainya visi yang diberikan Tuhan (Kis 13:2, 16:6-10). Ketiga, Roh Kudus juga memberi kuasa kepada hambaNya untuk melayani (Mat. 28:18; Mark. 16:15-20), dengan demikian hamba-hambaNya tidak melayani dengan kuasa dan hikmat duniawi.[23]
2.4.Peran Roh Allah dalam Ilmu Agama-Agama dan Agama Suku
2.4.1. Agama Islam
Roh Kudus, makhluk yang berupa Malaikat Jibril maupun Roh tingkat tinggi, atas perintah Tuhan menyucikan ruh seorang Muslim ketika dia dilahirkan atau masuk Islam. Roh Kudus secara spesifik berarti personifikasi malaikat yang bernama Jibril atau malaikat Tuhan yang suci dan diutus melakukan tugas tertentu. Turunnya Roh Kudus kepada seorang manusia adalah untuk mewahyukan Firman dan perintah Tuhan dan menjadikannya seorang nabi.[24]
2.4.2. Agama Buddha
Sambogyakarya terwujud sebagai kekuatan atau cahaya yang hanya dapat dirasakan secara rohani. Sambhogakaya adalah Tubuh Rahmat, tubuh cahaya. Buddha yang tidak dapat diamati dengan perasaan dan akal, tetapi hanya dapat dialami secara spiritual. Ia merupakan kreasi-kreasi mental dan manifestasi yang mutlak sehingga merupakan realita yang lebih tinggi daripada material.ia membantu manusia menuju jalan kelepasan dengan cara sebagai penuntun Buddha dunia yang karena kasih sayangnya pada segala yang ada, mereka proyeksikan dunia melalui meditasi serta sebagai guru yang selalu memberi ajaran tentang identitas dasar samsara dan Nirvana.[25].
2.4.3. Kepercayaan Suku Karo
Orang karo percaya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini diciptakan oleh Dibata-Kaci-kaci. Biasanya di sebut dengan istilah Dibata la idah yang artinya Tuhan yang tidak terlihat. Kepercayaan kepada Dibata Kaci-kaci merupakan tahap awal di dalam system kepercayaan orang Karo, pada tahap selanjutnya orang karo mulai melakukan pemujaan kepada dewa-dewa, roh-ro dan makhluk halus. Dibata kaci-kaci tidak berkomunikasi secara langsung dengan manusia. Dibata kaci-kaci dilihat sebagai pelindung serta penjamin ketertiban alam yang menjadi imanen di dalam pelaksanaan adat.[26]
2.5.Peran Roh Allah dalam Aliran Spiritualisme
Setiap manusia mempunyai karunianya sendiri, maka diperlukan keterbukaan terhadap karya Roh, berdasarkan spiritualitas yang autentik. Melalui jalan mengosongkan diri, spiritualitas itu membuat kita membuka diri akan yang lain.[27] spiritualitas adalah api, dorongan, keinginan dalam hati kita yang membuat kita berkomunikasi dengan Tuhan. spiritualitas adalah hubungan kita dengan Tuhan yang mempengaruhi seluruh aspek hidup kita.[28] Hidup spiritualitas adalah hidup yang berpusat pada Roh Allah dan dijiwai olehNya dengan tetap hidup di dunia dengan segala masalahnya. Dengan hidup spiritualitasnya, orang spiritual berusaha untuk semakin hari semakin menyatu dengan Roh Allah, hidup mengambil bagian dari sifat-sifat Allah serta ikut bekerja bersama Allah mendatangkan kebaikan, keselamatan, dan kesejahteraan di dunia. Roh Allah mengarahkan dan mengendalikan seluruh dirinya. Ia menundukkan pemikiran, perasaan, kehendak dan perilaku pada pengarahan Roh Allah, bukan pada insting, dorongan, kesenangan, kepentingan sesaat atau pengaruh lingkungan dan desakan masyarakat. [29]
2.6.Fungsi dan Peranan Roh Allah Bagi Kehidupan Hamba Tuhan
1. Allah yang jauh membiarkan RohNya berdiam di dalam para nabi-Nya (Yes. 61:1-3) atau di dalam bangsa Nya (Hag 2:5); Dia menjelajah melawan negeri di sebelah Utara untuk melindungi bangsaNya (Za. 6:5-8) dan untuk menjelaskan perjanjianNya bahwa Ruakh Yahwe akan tinggal dengan bangsaNya (Yes. 59:19-21); dan juga melalui RohNya itu Ia akan mendirikan Bait Allah (Za. 4:6).
2. Kemudian Roh Allah itu menjanjikan akan mencurahkan Roh-Nya ke atas semua manusia (YL. 2:28; 3:1). Tuhan Allah memberikan Roh KudusNya di dalam diri manusia (Yes 63:10-14). Kedekatan Allah dengan bangsa itu, seperti pernah terjadi di masa-masa lampu, akan terjadi juga pada masa mendatang, pada zaman keselamatan di akhir zaman sehingga Roh Allah akan tinggal menetap di atas bangsa itu (bnd. Yes. 59:19-21)
3. Roh juga memberikan kekuatan untuk dapat melakukan suatu perbuatan yang baik, seperti menyembuhkan penyakit dan tanda-tanda ajaib lain (1 Kor 12:8; 28) sama seperti peranan Roh Allah pada zaman hakim-hakim. Rasul di Perjanjian Baru sebagai pembawa misi pekabaran Injil, tudag demikian itu dilegitimasi dengan pekerjaan-pekerjaan tanda ajaib (2 Kor 12:12).[30]
Contoh peran Roh Kudus bagi para Nabi:
1. Musa
Musa adalah seorang yang terdidik dalam tradisi elite Mesir, kemudian diutus Allah untuk embebaskan Israel dari Mesir, selanjutnya menuntun mereka menuju Tanah Perjanjian. Walaupun peran Musa besar dalam proses pembebasan Israel itu, tetapi dalam peristiwa ini pengendali utamanya adalah Allah sendiri. Dalam rangka pembebasan ini, Musa dilibatkan. Tuhan memanggil dan mengutusnya dalam situasi krisis histori yang sedang Israel alami. Ia menghadap dan melawan Firaun, dan membawa Israel keluar dari Mesir. Menurut kitab Bilangan, Musa dikaruniakan Roh Tuhan untuk peran kepemimpinan (Bil 11:17). Untuk tugas itu dia diberi kemampuan oleh Roh Tuhan. Ia menjadi pelayan, hamba Tuhan (Ul. 33:1; Yos 1:1). Ketika Musa merasa tidak mampu, Allah membagikan Roh Tuhan yang ada bagi Musa kepada 70 tua-tua. Bilangan 11:17, 25, Roh Tuhan yang diberikan adalah Roh yang ada pada Musa. Itu berarti kepemimpinan mereka tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan Musa.[31]
2. Yosua
Yosua adalah pemimpin setelah Musa, seorang pendukung Musa yang bersemangat (Bil. 11:28-29). Yosua dilantik Musa untuk meneruskan tugas kepemimpinan atas Israel (Bil. 27:12-23). Dalam pelantikan itu Yosua berdiri dihadapan Imam Eleasar dan seluruh umat. Kitab Bilangan 27;18 menggambarkan Yosua sebagain orang yang penuh dengan Roh Allah, suatu kualifikasi yang atas dasar itu Tuhan menyuruh Musa melantiknya. Ia juga pemimpin dengan Roh kebijaksanaan (Ul. 34:9), sebagai pewaris Musa. Walaupun sebagai penerus, Yosua tetap berarti. Ia menunaikan tugas kepemimpinan dengan kuasa Roh Allah. Barth menggambarkan Yosua sebagai pemimpin kharismatis besar, penuh Roh hikmat, setaraf dengan pemimpin lain di Perjanjian Lama.[32]
3. Mikha
Apa yang dikatakan Mikha tentang panggilannya,dikatakan juga mengenai segala nabi Allah yang sungguh-sungguh, “Tetapi aku ini penuh dengan kekuatan dengan (Bahkan) Roh Tuhan, dengan keadilan (termasuk keputusan-keputusan yang benar) dan keperkasaan (kekuatan yang gagah) untuk memberitakan kepada Yakub pelanggarannya dan kepada Israel dosanya” (Mi. 3:8). Di tengah-tengah masyarakat yang rusak, Allah memenuhinya dengan Roh-Nya sehingga ia dapat melihat mana yang benar dan mana yang salah di hadapan Allah. Kemudian Roh memberinya kekuasaan, keberanian dan kekuatan untuk berusaha mengatasi situasi itu (Bdk. Yoh. 16:8).[33]
4. Yesaya
Yesaya 42:1 Memperkenalkan Dia sebagai orang pilihan yang berkenan kepada Allah. Allah telah menaruh Roh-Nya ke atas-Nya, dan oleh Roh itu Ia akan menerbitkan keadilan bagi orang-orang bukan Yahudi (segala bangsa di dunia). Hamba ini akan bertindak sebagai perantara dalam Perjanjian Allah yang baru, menjadi terang untuk orang-orang bukan Yahudi (Yes 42:6), membuka mata yang buta, dan mengeluarkan para tahanan (dosa) menuju kemerdekaan (Yes 42:7). Dalam Yesaya 61:1 Hamba Tuhan yang sama ini berkata tentang dirinya sendiri “Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara (miskin, rendah), dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan (tawanan perang, yaitu dari perang rohani melawan dosa dan iblis), dan kepada orang-orang yang terkurung dari penjara”. [34]
III. Analisa Penyeminar
Dari seminar ini kita telah mengetahui peran Allah dari berbagai tinjauan. Roh Allah sangat berperan penting dalam kehidupan hambaNya. Roh Allah bekerja di dalam hati setiap hambaNya yang mau menerima kehadiran Roh Allah di dalam dirinya untuk memerintah setiap tindakan yang ia lakukan. Roh Allah adalah sumber simbol kehadiran Allah dalam penciptaan dunia dan isinya. Roh memperlengkapi manusia sehingga mampu hidup sebagai umat Allah. Banyak kisah dalam kitab taurat, sejarah, nabi dan sastera tentang peranan Roh Allah dalam kehidupan umat Allah. Roh Allah hadir dalam kisah penciptaan, Roh yang memperlengkapi para nabi sehingga mampu bernubuat dan memberitakan kebenaran firman Allah, Roh yang memampukan para raja melaksanakan tugas pemerintahan, Roh yang memampukan manusia melihat kehadiran kerajaan Allah. Roh Allah bekerja dalam setiap hati kita, masalahnya adalah apakah kita mau untuk menerima roh tersebut dalam bagian hidup kita atau tidak. Kehadiran Allah ditengah-tengah umat-Nya dinyatakan dalam pekerjaan Roh Kudus yang memberikan bimbingan kepada orang percaya. Roh Kudus memberikan hikmat kepada seseorang agar dapat memahami sesuatu yang tidak mungkin dipahami melalui akal pikiran biasa.
IV. Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, saya sebagai penyeminar dapat menyimpulkan bahwa Roh Allah berperan dalam berbagai aspek kehidupan. Roh Allah adalah sesuatu hal yang berasal dari Allah yang diberikan kepada manusia untuk mendapatkan kekuatan untuk mengerjakan suatu hal yang di kehendaki Allah, maka dengan kekuatan ini kita sebagai hamba Tuhan dimampukan untuk melayani Dia.
V. Daftar Pustaka
Crossley, Robert, Tritunggal Yang Esa, (Jakarta: Bina Kasih, 1979
Erickson, Millard J., Teologi Kristen, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1999
Gintings, E.P., Adat Karo Ibas Kalak Mate, (Kabanjahe: Abdi Karya, 1997
Gregor, Jerry Mac & Maric Prys, 1001 Fakta Mengejutkan Tentang Allah, (Yogyakarta: ANDI, 2003
Hadiwijodo, Harun, Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010
Heintintic, Gerben dan Ferd Hesclaars Hartono S.J, Teologi Praktis, (Yogyakarta: Kanisius, 1999
Horton, Stanley M, Oknum Roh Allah, (Malang: Gandum Mas, 2001
Lang, J. Stephen, 1001 Hal yang Ingin Anda Ketahui Tentang Roh Kudus, (Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil, 2002
Lee, Winess, Kehendak dan Tujuan Allah Dilihat Dari Perjanjian Allah, (Jakarta: Living Stream, 2011
Niftrik, G.C. Van & B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004
Packer, J.I.,dkk., Kebutuhan Gereja Saat Ini Kerajaan allah dan Kuasa-Nya, (Malang: Gandum Mas, 2001
Ranoh, Ayub, Kepemimpinan Kharismatis:Tinjauan Teologi-Etis Atas Kepemimpinan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006
Romdhon, Agama-agama di Dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijodo
Saragih, Agus Jetron, Teologi Perjanjian Lama: Dalam Isu-Isu Kontekstual, (Medan: Bina Media Perintis, 2015
Siahaan, S.M., RUAKH dalam Perjanjian Lama, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2012
Smith, Linda dan William Reaper, Ide-ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang, (Yogyakarta: Kanisius, 2000
Sproul, R.C., Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen, (Malang: SAAT, 1997
Suparno, Paul, Seksualitas Kaum Berjubah, (Yogyakarta: Kanisius, 2007
Thiessen, Henry Clarence, Teologia Sistimatika, (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1995
Tobing, Victor. L., Roh Kudus, ((Medan: Yayasan Persekutuan Doa dan Penelaahan Alkitab, 2004
Vidyarthi, Abdul Haq & Abdul Ahad Dawud, Ramalan Tentang Muhammad Saw, (Jakarta: IKAPI, 2006
[1] Jerry Mac Gregor & Maric Prys, 1001 Fakta Mengejutkan Tentang Allah, (Yogyakarta: ANDI, 2003), 255
[2] Agus Jetron Saragihm Teologi Perjanjian Lama, (Medan: Bina Media Perintis, 2015), 14
[3] Stanley M. Horton, Oknum Roh Kudus, (Malang: Gandum Mas,1998), 15-16
[4] Jerry Mac Gregor & Maric Prys, 1001 Fakta Mengejutkan Tentang Allah, (Yogyakarta: ANDI, 2003), 255
[5] Agus Jetron Saragih, Teologi Perjanjian Lama: Dalam Isu-Isu Kontekstual, (Medan: Bina Media Perintis, 2015), 13
[6] Winess Lee, Kehendak dan Tujuan Allah Dilihat Dari Perjanjian Allah, (Jakarta: Living Stream, 2011), 30
[7] Stanley M Horton, Oknum Roh Allah, (Malang: Gandum Mas, 2001), 74
[8] Stanley M Horton, Oknum Roh Allah, 33
[9] Millard J. Erickson, Teologi Kristen, (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 1999), 323.
[10] J.I. Packer,dkk., Kebutuhan Gereja Saat Ini Kerajaan allah dan Kuasa-Nya, (Malang: Gandum Mas, 2001), 254-255
[11] Millard J. Erickson, Teologi Kristen, 258
[12] Henry Clarence Thiessen, Teologia Sistimatika, (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1995), 105
[13] G.C. Van Niftrik & B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 64
[14] Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika, (Malang: Gandum Mas, 1992), 386
[15] Harun Hadiwijodo, Iman Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010) 356, 357
[16] J. Stephen Lang, 1001 Hal yang Ingin Anda Ketahui Tentang Roh Kudus, (Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil, 2002), 99
[17] Victor. L. Tobing, Roh Kudus, ((Medan: Yayasan Persekutuan Doa dan Penelaahan Alkitab, 2004)
), 93
[18] R.C. Sproul, Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen, (Malang: SAAT, 1997), 328
[19] Victor. L. Tobing, Roh Kudus, ((Medan: Yayasan Persekutuan Doa dan Penelaahan Alkitab, 2004)
), 93
[20] Robert Crossley, Tritunggal Yang Esa, (Jakarta: Bina Kasih, 1979),15
[21] G.C. Van Niftrik & B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2014), 342
[23] Victor.L. Tobing, Roh Kudus, (Medan: Yayasan Persekutuan Doa dan Penelaahan Alkitab, 2004), 58
[24] Abdul Haq Vidyarthi & Abdul Ahad Dawud, Ramalan Tentang Muhammad Saw, (Jakarta: IKAPI, 2006), 326
[25] Romdhon, Agama-agama di Dunia, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijodo), 118
[26] E.P. Gintings, Adat Karo Ibas Kalak Mate, (Kabanjahe: Abdi Karya, 1997), 5
[27] Gerben Heintintic dan Ferd Hesclaars Hartono S.J, Teologi Praktis, (Yogyakarta: Kanisius, 1999), 144
[28] Paul Suparno, Seksualitas Kaum Berjubah, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), 44
[29] Linda Smith dan William Reaper, Ide-ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang, (Yogyakarta: Kanisius, 2000), 214
[30] S.M. Siahaan, RUAKH dalam Perjanjian Lama, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2012)
[31] Ayub Ranoh, Kepemimpinan Kharismatis:Tinjauan Teologi-Etis Atas Kepemimpinan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 120
[32] Ayub Ranoh, Kepemimpinan Kharismatis:Tinjauan Teologi-Etis Atas Kepemimpinan, 121
[33] Stenley M. Horton, Oknum Roh Kudus, (Malang: Gandum Mas, 2019),43
[34] Stanley M. Harton, Oknum Roh Kudus, 47
Tidak ada komentar:
Posting Komentar