“Kegigihan Jhon Wycliffe“
(Suatu Tinjauan Historis-Kritis Tentang Kegigihan Jhon Wycliffe Dalam Menterjemahkan Alkitab dan Refleksinya Bagi Tugas Pendeta Sebagai Pengajar Firman Tuhan di Jemaat GBKP)
I. Latar Belakang Masalah
Pada jaman John Wycliff terdapat kritis yang sangat besar di dalam tubuh Gereja. mereka hidup kira-kira pada pertengahan abad ke-13. Di bandingkan dengan situasi gereja pada sebelumnya, situasi gereja sangat merosot. “kehidupan gereja sendiri secara nyata berada pada posisi kritis yang mengkhawatirkan dan pecah. Penyelewengan-penyelewengan yang terjadi tampaknya mendukung situasi yang mengkhawatirkan tersebut. John Wycliff termasuk yang pro terhadap gereja, akan tetapi situasi yang tidak baik dalam tubuh gereja membuat dia jatuh dalam pada pemisahan diri dari gereja. Namun perlu diingat bahwa awalnya ia hanya ingin memperhatikan dan memperbaharui situasi gereja yang saat itu mengalami kebobrokan. Jhon Wycliff pun dengan semangatnya untuk mentejemahkan Alkitab agar semua umat dapat mengerti akan arti isi dari Alkitab atau Firman Tuhan. Jika kita lihat pada zaman sekarang ini seorang pendeta kurang gigih dalam tugas sebagai pengajar Firman Tuhan bagi jemaat sekarang. Maka dari situ dapat kita mendalami “Kegigihan John Wycliff” dengan sub Judul (Suatu Tinjauan Historis-Kritis Tentang Kegigihan Jhon Wycliffe Dalam Menterjemahkan Alkitab dan Refleksinya Bagi Tugas Pendeta Sebagai Pengajar Firman Tuhan di Jemaat GBKP)
II. Pembahasan
2.1.Biografi John Wycliff
John Wycliff merupakan tokoh perintis reformasi Protestan paling masyur yang dilahirkan oleh keluarga bangsawan Anglosaxon pada tahun 1325 di North Ridings Yorkshire.[1] Kebolehannya dalam Ilmu filsafat dan teologi menuntunnya memperoleh gelar doctor yang bidang teologi dan diminta berperan sebagai dosen di Oxford. Ia menghabiskan banyak waktu untuk mengabdi di dunia akademis. Nilai akademis dan kecerdasan yang tinggi adalah sarana baginya untuku mengembangkan doktrin-doktrin radikal mengenai kemerosotan gereja pada saat itu yang dipandang sangat buruk. Ia bercita-cita membentuk gereja Katolik nasional di Inggris yang tidak terkait oleh Yurisdiksi Paus. On Divine Lordship (1375) dan On Civil Lordship (1376) merupakan bagian dari risalatnya berbicara mengenai pandangan akan kuasa yang telah dikutuk oleh Paus Gregorius XI bulan mei 1377 bersama dengan 18 dalilnya.[2]
Gereja tidak bisa bertindak banyak terhadap ajaran sesat Wcyliff terutama mengenai kritik seputar kebusukan-kebusukan paus dan tentang harta benda gereja dalam terang kemiskinan. Wycliff mendapatkan perlindungan dari John Gaunt Pengeran Lancaster dan pemerintah secular Inggris sebab doktrinnya cocok digunakan untuk memaksa para rohaniawan membayar pajak demi kebutuhan perlengkapan perang melawan Prancis. Wycliff tampaknya yakin bahwa dia hanya merumuskan tesis skolatik dan menetapkan teologi yang ideal, bukan memberikan petunjuk politik bagi penguasa Inggris.[3] Raja Edward III yang sudah meninggal dan kekuasaan John Gaunt yang berkurang akhirnya turut mempengaruhi kenyamanan Wycliff. Ia kehilangan banyak pendukung dan kehilangan kedudukan di Oxford, terlebih setelah doktrin tentang transubstansiasi dalam risalatnya tidak digubris dan tidak penting lagi bagi politik Inggris. Wycliff mengasingkan diri ke Lutterworth dan tetap tinggal di wilayah itu sampai saat ajalnya bulan Desember 1384. Dalam sinode London pad bulan Mei 1832, 24 dalilnya dikecam, 10 diantaranya dinyatakan sesat, yang lainnya salah.[4]
2.2.Paham dan Ajaran John Wycliff
Wycliff adalah seorang teolog kenamaan yang sangat di pengaruhi oleh Agustinus yang melawan kecenderungan-kecenderungan nominalis yang berkuasa pada zamannya. Pertikaian yang tajam dengan kecenderungan-kecenderungan ini mendesak agar akal budi memiliki peranan penting dalam berteologi yakni berpikiran secara rasional. Pandangan dan pemikiran demikian membuat Wycliff tidak sama sekali setuju dengan ajaran transubstansiasi dalam ekaristi ketika imam mengkonsekrir roti dan anggur dalam ekaristi yang menjadi tubuh dan darah Kristus.[5] Bagi Wycliff roti dan anggur tetap menjadi roti dan anggur diatas altar dan tetap berupa sakramen bukan berubah menjadi tubuh dan darah Kristus, tidak ada substansiasi. Tubuh Kristus tidak ada dalam sakramen secara korporal, melainkan secara sakramental. Selain itu juga, Wycliff mengajarkan bahwa hanya satu gereja yang bernar.[6]
Kekuasaan duniawi dan material hanya menjadi sumber dari keruntuhan gereja. hal-hal tersebut tidak dapat didamaikan dengan ajaran Kristus dan Para Rasul. Yang paling baik adalah negara mengambil alih semua hak milik dan kekayaan materiil gereja dan menjadikannya hak milik negara sebagai gantinya negara menjamin kehidupan para imam atau petugas gereja; persepuluhan dan pengumpulan kolekte untuk indulgensi dinyatakan sebagai simony, gereja harus miskin. Pandangan yang demikian memunculkan suatu gerekan yang bernama Lollard atau dinamakan “imam miskin”. Gerakan ini disambut dengan antusias dari kaum birawan rendahan dan juga golongan atas yang turut berpartisipasi. Gereja yang dibangun bukan untuk hirarki yang disatukan oleh jemaat, melainkan oleh komunitas, sedangkan kepausan hanya menjadi suatu lembaga anti Kristus. Oleh karena itu Wycliff menempatkan kitab suci sebagai satu-satunya dasar iman. Kitab suci adalah otoritas tertinggi bagi setiap orang Kristen dan menjadi ukuran kebenaran bagi semua kesempurnaan insani.[7]
Tanpa gentar ia menuduh keimamatan telah menghapus Alkitab, dan menuntut Alkitab agar dikembalikan kepada orang banyak, dan agar wewenang Alkitab kembali diteguhkan dalam gereja. Ajaran sekaligus kecamannya ialah sbb:
a. Mengecam kekayaan yang ditumpuk oleh gereja. Gereja seharusnya tidak memiliki harta duniawi. Harta milik gereja adalah harta milik negara. Gereja harus menjadI miskin dan sederhana seperti gereja pada masa Perjanjian Baru.
b. Mengecam kekuasaan kaum Klerus/ kaum awam.
c. Mengecam hierarki jabatan-jabatan gerejawi. Paus dan konsili seharusnya berada dibawah hukum Allah, karena Kristuslah kepala gereja. Ia menurunkan derajat Paus. Kristus tidak pernah menahbiskan Paus. Paus tidak mempunyai kekuasaan dari Kristus karena jabatannya dilembagakan oleh manusia. Seorang Paus yang tidak mengikuti Kristus adalah Anti-Kristus. Lebih jauh lagi ia sama sekali menolak kepausan karena melihat semua Paus sebagai Anti-Kristus.
d. Mengecam biarawan peminta-minta. Biarawan peminta-minta sedekah membawa kesan buruk bagi kebesaran dan kemakmuran negara. Industri, pendidikan, moral, semua merasakan pengaruh yang memalukan itu. Para biarawan ini munafik dengan mengatakan, bahwa mereka mengikuti teladan Juruselamat. Mereka menyatakan bahwa Tuhan Yesus dengan murid-murid-Nya didukung oleh sumbangan derma orang-orang. Kehidupan biarawan yang bermalas-malasan dan meminta-minta bukan saja menghabiskan sumber daya dari masyarakat, tetapi juga membuat pekerjaan yang berguna menjadi terhina. Para pemuda mengalami kemerosotan moral. Oleh pengaruh para biarawan ini banyak mereka yang terbujuk untuk memasuki biara dan membaktikan hidupnya pada kehidupan biarawan. Hal ini bukan saja tidak seizin orang tua, tetapi bahkan tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Para biarawan ini menyatakan bahwa tuntutan biarawan melebihi kepatuhan dan cinta serta kewajiban terhadap keluarga. Para biarawan ini membuat hati anak-anak dikeraskan melawan orang tua mereka. Sehingga orang tua kehilangan anak laki-laki dan perempuan mereka.[8]
e. Mengecam doktrin transubstansi. Transubstansi yang dikeluarkan Konsili Lateran IV (1215) secara filsafat bersifat inkoheren dan bertentangan dengan Alkitab. Ajaran Thomas dari Aquino bahwa roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Kristus disangkal. Roti dan anggur itu tetap ada, tetapi menjadi sakramen dari tubuh Kristus. Roti itu tanda, yang secara sakramental melambangkan tubuh Kristus. Tetapi ia bukan tanda belaka. Tubuh Kristus hadir dalam roti sama seperti jiwa hadir dalam tubuh manusia. Demikianlah kita harus percaya mengenai tubuh Kristus dalam sakramen, secara rohani dan hakiki, dalam roti yang telah diberkati sama seperti jiwa dalam tubuh. Tetapi kita jangan membuat kesalahan yang sama seperti Roma untuk mengidentifikasikan roti itu sebagai tubuh Kristus. Transsubstansi dianggapnya sebagai ibadat penyembahan berhala.
f. Mengecam penyembahan atau pemujaan kepada orang-orang kudus (para Santo) dan relikwi-relikwi yang berbau takhayul.
g. Mengecam penjualan surat pengampunan dosa. Hal ini menunjukan ketamakan para biarawan belaka. Seseorang seharusnya mencari pengampunan kepada Tuhan, bukan kepada Paus.
h. Mengecam kesalahan gereja yang memberikan kepada para biarawan kuasa untuk mendengarkan pengakuan dan pemberian pengampunan. Ini disalahgunakan untuk meningkatkan pendapatan mereka, dan menjadi sumber kejahatan. Mereka memberikan pengampunan dosa kepada para pejabat yang meminta pertolongan kepada mereka, untuk segala jenis kejahatan. Dan sebagai akibatnya, kejahatan yang paling buruk bertambah dengan cepat.
i. Wycliff menegaskan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber kebenaran yang ia imbau agar diakui semua orang. Satu-satunya penguasa yang benar adalah suara Tuhan yang berbicara melalui Firman-Nya. Alkitab bukan hanya pernyataan kehendak Tuhan yang sempurna, tetapi Roh Kudus adalah penafsir satu-satunya, dan bahwa setiap orang harus mempelajari tugas-tugas untuk dirinya sendiri, dengan mempelajari pengajaran Firman itu. Alkitab sebagai kewibawaan terakhir dalam mencari penyelesaian masalah. Ia menulis De Veritate Sacrae Scripturae (kebenaran kitab suci), yang berkata bahwa Alkitab sebagai norma yang paling akhir dan tuntas. Norma itu harus dipakai untuk menguji gereja, tradisi, konsili, bahkan Paus sendiri.[9]
2.3. Masalah Dalam Gereja Pada Saat Itu
Wycliffe awalnya menentang berbagai aspek filosofi dalam gereja Katolik berserta pengaruhnya secara abstrak dan filosofis, tetapi akhirnya menjadi semakin kritis terhadap tindakan dan kekuatan yang dilakukan oleh gereja. Para imam menurutnya, tidak dibenarkan untuk memiliki begitu banyak kekuasaan sekuler karena mereka seringkali bertindak dengan cara yang tidak bermoral. Dengan keras, Wycliffe menentang penerimaan uang serta praktik yang menghilangkan mutu pengajaran dalam gereja abab pertengahan. Ia mengutuk pengajaran yang tidak berdasarkan Alkitab seperti doa-doa kepada orang kudus, perjalanan ziarah, penjualan surat pengampunan dosa, dan pengakuan dosa peribadi kepada imam.[10] Menurutnya setiap kekuatan feudal dari gereja bersifat menyalahi pengajaran dan bahwa setiap orang bertanggung jawab langsung kepada Tuhan. Dengan tegas, Wycliffe menyatakan bahwa Alkitab merupakan otoritas tertinggi bagi setiap orang percaya dan menjadi pedoman iman serta kesempurnaan setiap pribadi. Dari sana ia kemudian memberikan serangkaian pengajaran dari keseluruhan Alkitab, sesuatu yang pada saat itu bersfat baru dan revolusioner.[11]
Sebagai seorang yang memiliki kepedulian mendalam untuk rakyat miskin dan masyarakat umum, Wycliffe berupaya melawan penyalanggunaan wewenang di dalam gereja. Gereja memiliki lebih dari sepertiga tanah di Ingris, para rohaniawannya seringkali buta huruf dan tidak bermoral dan kantor-kantor pejabar tinggi seringkali dibeli atau diberikan sebagai keuntungan politik. Wcyliffe menunjukkan perinsipnya dengan tidak menrima suap, sesuatu yang justru umum dilakukan oleh uskup lainnya sehingga menimbulkan kegagalan fungsi dari komisi tersebut. Menurutnya gereja sudah terlalu kaya dan bahwa Kristus memanggil murid-murid-Nya kepada kemiskinan, bukan kepada kekayaan. Jika ada pihak yang harus menagih pajak semacam itu, hal itu seharusnya dilakukan oleh pemerintah lokal Inggris sendiri. Pendapat itu membawa Wycliffe dalam masalah, sehingga ia dianggap membawa ajaran sesat ke dalam gereja. ia kemudian harus menghadap siding di London untuk menjawab tuduhan bidah terhadap dirinya.[12]
Wycliffe dengan kegigihannya melawan penjualan kartu pengampunan, jabatan duniawi, penyembahan terhadap santo-santa dan hidup religius yang berbau takhayul. Para pemimpin gereja seakan mempunyai kuasa atas segala hal yang ada didunia ini. Misalnya di Inggris, pada tahun 1300-an banyak para Pangeran dan kaum kesal terhadap sikap dan cara gereja dalam merampas kekuasaan dan harta benda milik jemaat.[13] Hal inilah yang kemudian dijadikan oleh Wycliffe untuk mengunggkapkan ketidakbaikan yang ada dalam tubuh gereja. Menurutnya, “gereja pecah karena kekuasaan duniawi dan kekayaan materiel.[14] Kemerosotan dalamtubuh gereja pada saat itu semakin hari semakin parah saja. Hal ini terjadi karena kebanyakan para kaum klerus berasal dari kaum bangsawan atau orang kaya. Artinya saiapa saja pun bisa menjadi imam, asalkan mempunyai uang/harta. Para uskup sibuk menahbiskan orang-orang yang ingin menjadi imam. Para kaum klerus sangat giat untuk mengumpulkan banyak intense, walupun mereka sangat jarang untuk merayakan Ekaristi bersama dengan umat beriman. Disamping itu, mereka jugabanyak menyibukkan diri dengan kesenangan pribadinya saja. Akibat banyaknya kaum klerus yang berasal dari kaum bangsawan, akhirnya mereka menjadi tidak pernah mendapatkan pendidikan dari imam yang seharusnya atau bisa dikatakan banyak dari kaum klerus itu tidak berpendidikan. Mereka tidak punya dasar hidup rohani yang kuat untuk melaksanakan tugasnya.[15]
2.4.Penerjemahan Alkitab dan Akhir Hidup John Wycliffe
Ketika menentang ajaran gereja tentang transubstansi (perubahan substansi dari roti menjadi tubuh kristus dalam komuni) yang tergantung pada istilahnya “On the Eucharist” (tentang ekaristi), ia pun mulai kehilangan banyak teman dan pendukung yang memiliki posisitinggi di bidang politik, termasuk John of Gaunt. Namun kerinduannya untuk membawa reformasi ke dalam gereja tetap menyala. Wycliffe menyadari bahwa firman Tuhan akan mengubah hidup sehingga tidak ada yang penting baginya selain memasukkan pesan dan ajaran Alkitab ke dalam hati setiap orang melalui bahasa yang mereka pahami. Ia pun kemudian memulai langkah radikal bersama beberapa pengikutnya di Lutterworth dengan menerjemahkan dan menulis Perjanjian Baru ke dalam bahasa Inggris. Sebuah langkah yang begitu berani dan mendasar karena mereka harus menerjemahkan Alkitab dari terjemahan Latin yang masih berupa tulisan tangan berusia lebih dari 1000 tahun. Tentu saja langkahnyz tersebut mendapatkan tantangan keras dari pihak gereja. mereka menyatakan “Dengan terjemahan ini, kitab suci telah menjadi vulgar dan menjadi lebih tersedia dimana saja bahkan bagi wanita yang bisa membaca disbanding mereka yang belajar diperguruan tinggi yang memiliki kecerdasan tinggi, dengan begitu mutiara Injil menjadi tersebar dan diinjak oleh babi”. Akan tetapi Wycliffe tidak mundur. Ia dan para pendukungnya yang dikenal sebagai The Lollards, menyebarkanpengajaran dan ide-idenyake seluruh Inggris dan terus menyerang Paus serta hierarki gereja.[16]
Serangan untuk melawan Wycliffe terus berlanjut sampai kematiannya, tetapi berkat dukungan beberapa orang penting di parlemen dan Oxford, Wycliffe tidak pernah di asingkan atau dikeluarkan dari posisinya. Setelah berhenti dari Lutterworth, Wycliffe terkena serangan stroke pada tanggal 28 Desember 1384 dan meninggal tiga hari kemudian, pada malam pergantian tahun. Wycliffe meninggal sebelum terjemahan Alkitab selesai dan sebelum pemerintahan menuduhnya sebagai bidah. Akan tetapi, pengikutnya The Lollards tetap melakukan gerakan bawah tanah dan menjadi gangguan yang serius terhadap gereja Katolik Inggris. Dua puluh tahun kemudian Wycliffe dikutuk sebagai bidah dan dikeluarkan kebijakan untuk membakar buku-bukunya serta menggali tulang-tulangnya dari kubur untuk dibakar dan disebar kesungai. Akan tetapi, mereka tidak berhasil menghilangkan jejaknya bagi masa depan reformasi. Wycliffe telah meletakkan dasar bagi firman Tuhan untuk menjadi otoritas tertinggi dalam kehidupan gereja.[17]
2.5.Relevansi Bagi Tugas Pendeta Sebagai Pengajar Firman Tuhan di Jemaat GBKP
John Wycliffe memanfaatkan waktunya untuk menerjemahkan Alkitab. Menurut John Wycliffe setiap orang harus diberi keleluasan membaca Kitab Suci dalam bahasanya sendiri. Oleh karena Alkitab berisikan Kristus yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan, maka Alkitab sangat diperlukan bagi semua orang, bukan hanya bagi para imam saja. Meskipun gereja tidak setuju, ia bekerjasama dengan sarjana lain untuk menerjemahkan Alkitab bahasa Inggris pertama yang lengkap. Pengaruh ajaran Wycliffe sangat kuat, khususnya keyakinannya yang sangat dalam terhadap otoritas Alkitab sehingga memberi inspirasi yang luar biasa bagi munculnya gerekan Reformasi di kemudian hari. Itu sebabnya sangat pantas jika John Wycliffe mendapatkan julukan “Si Bintang Fajar” karena melalui semangat dan kegigihannya Reformasi mulai muncul seperti munculnya fajar di pagi hari.
Dalam hal ini bisa dikaitkan dengan tugas pendeta sebagai pengajar Firman Tuhan. Dalam pelayanan pendeta tugasnya ialah sebagai pemimpin di mimbar, rela mengorbankan hidupnya demi keselmatan domba-dombanya, melayani sesuai dengan kehendak Tuhan, mengajar bukan hanya dengan perkataan, tetapi dengan perbuatan.[18] Pendeta sebagai pelayan Firman Tuhan bertanggungjawab memberitakan Firman Allah itu kepada manusia. Tugas sebagai pendeta merupakan kelanjutan dari tugas orang-orang terpanggil secara khusus menjadi wakil dan mitra Allah dalam memberitakan Firman-Nya di dunia. Karena itu pendeta adalah orang-orang yang terpanggil seperti imam, nabi, raja, dan rasul untuk menjalankan tugas selaku pengajar Firman Tuhan.[19]
2.6.Analisa Penyeminar
Analisa yang dapat penyeminar ambil dari pembahasan kali ini bahwa kita sebagai jemaat dapat mengikuti paham dan ajaran yang telah dilakukan oleh John Wycliffe dari kegighannya dalam meneterjemahkan Alkitab kedalam bahasa aslinya. Karena sudah jelas Wycliffe percaya bahwa setiap manusia bertanggung jawab secara langsung dihadapan Tuhan. Tapi jika setiap orang bertanggung jawab langsung kepada Tuhan, maka manusia butuh Alkitab yang diterjemahkan kedalam bahasa aslinya. Dalam perkembangan zaman sekarang ini banyak pendeta-pendeta yang belum seperti kegigihan John Wycliffe. Seperti di dalam gereja GBKP banyak sekarang Pendeta kurang dalam kegigihan untuk menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pengajar firman Tuhan. Dari sinilah pendeta dapat mengerti dengan tugasnya sebagai pengajar firman Tuhan selaku pemimpin dalam mimbar dan dalam jemaat. Wycliffe menyadari bahwa firman Tuhan akan mengubah hidup, sehingga tidak ada yang penting baginya selain memasukkan pesan dan ajaran Alkitab ke dalam hati setiap orang melalui bahasa yang mereka pahami. Maka dari itu pendeta dapat menolong jemaatnya menghadapi berbagai masalah bersama, mengarahkan, menentukan keputusan dan menuntun jemaatnya dengan baik.
III. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat saya sampaikan bahwa tugas pendeta sebagai pengajar Firman Tuhan dapat dijalankan dengan baik dan tetap semangat dalam menjalankan tugas. Pendeta dapat menjadi pemimpin dalam mimbar, jemaat dan masyarakat. Pendeta harus gigih dan semangat dalam pengajaran Firman Tuhan untuk mencapai tujuan yang telah di inginkan oleh Allah. Sama seperti John Wycliffe yang selalu tetap gigih walaupun banyak cobaan yang dia hadapi dan dapat rela untuk bertanggung jawab dalam menterjemahkan Alkitab agar dapat di pahami dan tetap menjalankan tugasnya sebagai kepala Reformasi yang teladan.
IV. Daftar Pustaka
Berkhof, Dr. H., Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2009
Butler, Donna & Lloyd, David F. John Wycliffe Setting the Stage for Reformasi, 2004
Embuiru, P. H, Gereja Sepanjang Masa, Ende: Nusa Indah, 1967
F Sembiring, Husin, Diklat: Sejarah Agama Kristen (Catatan perkuliahan) (Sinaksa: STFT Santo Thomas (tanpa taun penerbit)
Kristiyanto, Eddy, Gagasan yang Menjadikan Peristiwa, Yogyakar: Kanisius, 2002
Kristiyanto, Eddy, Historis Komperhensip Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Kanisius, 2002
Kurniasatya, Anthonius, Tugas Pendeta dan Kependetaan, GKI: Cimahi, 2006
L, Selduk, H., Pedoman Pelayanan Pendeta, Jakarta: Yayasan Bethel, 2008
Laarhoven, Kleopas, Gereja Abadi dalam perjalanannya Dari Abad ke Abad, Sibolga: Offset “st. Paulus 1982
Lane, Tony, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta : BPK-GM, 2005
Ozment, Steven, The Age Of Reform 1250-1550 Amerika : Yale University, 1980
S. Aritonang, Pdt. Dr. Jan,Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2008
Sumber Lain
https://www.christianitytoday.com/history/pople/moversandshakers/john-wycliffe.html
[1] Eddy Kristiyanto, Gagasan yang Menjadikan Peristiwa, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 223
[2] Steven Ozment, The Age Of Reform 1250-1550 (Amerika : Yale University, 1980), 165
[3] Ibid,… 166
[4] Eddy Kristiyanto, Gagasan yang Menjadikan Peristiwa, (Yogyakar jnj n ta: Kanisius, 2002), 227
[5] Eddy Kristiyanto, Historis Komperhensip Sebuah Pengantar (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 202
[6] Eddy Kristiyanto, Gagasan yang Menjadikan Peristiwa, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 224-226
[7] P. H Embuiru, Gereja Sepanjang Masa, (Ende: Nusa Indah, 1967), 169-170
[8] Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 2005), 117
[9] H. Berkhof, Sejarah Gereja, (Jakarta: PT. BPK. Gunung Mulia, 2000), 97
[10] Pdt. Dr. Jan S. Aritonang ,Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK-GM,2008), 428
[11] http://www.christianity.com/church/church-history/timeline/1201-1500/john-wycliffe-reformation-morningstar-11629869.html
[13] Dr. H.berkhof, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 2009), 78
[14] Husin F Sembiring, Diklat: Sejarah Agama Kristen (Catatan perkuliahan) (Sinaksa: STFT Santo Thomas (tanpa taun penerbit), 01
[15] Kleopas Laarhoven, Gereja Abadi dalam perjalanannya Dari Abad ke Abad (Sibolga: Offset “st. Paulus 1982), 79
[16] Butler, Donna & Lloyd, David F. John Wycliffe Setting the Stage for Reformasi, 2004, 116-128
[17] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, (Jakarta : BPK-GM, 2005) 116-118
[18] H. L, Selduk, Pedoman Pelayanan Pendeta, (Jakarta: Yayasan Bethel, 2008), 4
[19] Anthonius Kurniasatya, Tugas Pendeta dan Kependetaan, (GKI: Cimahi, 2006), 28
Tidak ada komentar:
Posting Komentar