Menjelaskan Arti Dan Makna Hari Tuhan Dan Eskhatologi PL Diperhadapkan Dengan Tinjauan Ilmu Pengetahuan ( Science, Sistematika, Ilmu Agama-Agama, Agama Suku, Kaum Ateis Di Tengah-Tengah Krisis Kehidupan Manusia Masa Kini )
I. Latar belakang Masalah
Kerap sekali orang yang menyalagunakan hari Tuhan dan eskhatologi itu adalah hal yang paling menakutkan karena orang berfikiran akhir kiamat akan datang namu hari Tuhan atau eskhatologi disini adalah penggenapan atau pengharapan akan keselamatan, berbicara mengenai kedatangan Tuhan yang kedua kalinya atau disebut dengan Eskhatologi merupakan salah satu dari dasar iman Kristen sehingga perlu untuk diketahui, diajarkan dan diimani oleh setiap umat Tuhan untuk kebenaran Firman Allah. Kekurang pahaman mengenai Eskhatologi ini banyak yang menyimpang bahkan bertolak belakang dengan firman Allah artinya disini kita sangat penting sekali untuk dapat mengetahui atau memberikan pemahaman yang baik dan benar dalam menantikan kedatangan Tuhan untuk kedua kaliniman percaya yang lebih lagi kepada Tuhan. Oleh sebab itu paradigma yang tadinya memiliki Ferspektip yang menakutkan menjadi penuh dengan keyakinan dan mengabdikan diri sepenuhnya.
II. Pembahasan
2.1. Pengertian Hari Tuhan
Menurut Matthew S. Demoss dan J. Edward Miller, Hari Tuhan merupakan periode di masa depan ketika Tuhan akan menghakimi orang yang tidak beriman. Dalam Perjanjian Lama, istilah tersebut ditandai dengan adanya hukuman atas Israel (Yl. 1:!5; Zef. 1:7, 14) atau beberapa bangsa spesifik lainnya (Yer. 46:10) atau manusia pada umumnya. Hari Tuhan pada Perjanjian Baru mengacu kepada kedatangan Yesus yang kedua kali. Secara sederhana “hari Tuhan” disebut dengan “hari itu”.[1]
Dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dituliskan bahwa kata hari berarti yaitu :
1. Waktu dari pagi sampai pagi lagi (yaitu suatu edaran bumi pada sumbunya, 24 jam);
2. Waktu selama matahari menerangi tempat kita (dari matahari terbit sampai matahari terbenam)
3. Keadaan (udara, alam, dsb) yang terjadi di waktu 24 jam
4. Banyaknya jam dalam sehari yang dipakai bekerja.[2]
Sedangkan yang dimaksud dengan kata Tuhan adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb.[3] Jadi dapat dikatakan bahwa hari Tuhan secara umum adalah waktu atau keadaan yang dipakai untuk sesuatu yang diyakini dan dipuja oleh manusia, yang ia sebut sebagai Tuhan.
2.2. Pengertian Eskhatologi
Istilah eskhatologi merupakan cabang teologi yang membahas peristiwa-peristiwa terakhir dalam sejarah dunia dan manusia, kepercayaan tentang akhir zaman.[4] Eskhatologi adalah doktrin dari hal-hal yang terakhir. Ini berkaitan dengan pengajaran atau keyakinan bahwa gerakan dunia, yang secara ketat dipertimbangkan, cenderung menuju tujuan akhir yang pasti.[5] Jelaslah bahwa Eskhatologi memperlajari hal-hal yang berkaitan dengan penggenapan sejarah, penyempurnaan karya Allah di dunia ini.[6]
Eskhatologi merupakan pengajaran Alkitab tentang terjadinya akhir zaman, yang di dalamnya juga membahas topik-topik yang berkaitan dengan akhir dunia tentang waktu terakhir (2 Tim 3:1; Yak 5:3), tentang suatu hari terakhir (Yoh. 6:39-40, 44; 11:24; 121:48), tentang zaman terakhir (1 Ptr. 1:5). Zaman akhir yang dimaksud, juga sama dengan periode yang dimulai dengan datangnya Yesus kembali semasa parusia (Kis. 2:17; Ibr. 1:2; 2Ptr. 3:3). Dengan demikian eskatologi dapat diartikan sebagai pembahasan yang menyangkut tentang hal-hal yang terjadi pada saat akhir zaman dan segala masalah yang berhubungan dengannya termasuk sampai kepada masa terjadinya.[7]
J.Wesley Brill berkata bahwa Eskhatologi dalam kekristenan tidak dapat dipisahkan dengan kristus, secara khusus kedatangan di bumi untuk kedua kalinya Tuhan Yesus pasti akan kembali, hal ini mutlak sama seperti Firman Allah, jadi eskhatologi berarti doktrin atau ajaran tentang akhir zaman yang yang akan terjadi dimasa yang akan datang berkaitan dengan kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya tak seorang pun yang tahu akan kedatangannnya baik itu malam atau siang.[8]
2.3. Hari Tuhan Menurut Perjanjian Lama
Ungkapan hari Tuhan merupakan ungkapan ekstatoogi Perjanjian Lama. Istilah yang dipakai dalam bahasa Ibrani untuk hari Tuhan adalah yom Yahweh. Yom Yahwe merupakan hari yang mengerikan dan dahsyat dari Tuhan, dan ini bukan merupakan ekpresi hari Sabat atau hari Minggu gereja atau hari kiamat sebagaimana yang banyak diasumsikan. Yom Yahweh dalam Perjanjian Lama merupakan ekspresi kolektif pemenuhan yang diharapkan dari nubuat besar Israel. Yom Yahweh adalah dimana Tuhan secara aktif bertindak menghukum dosa yang sudah mencapai puncaknya. Hukum ini bisa saja datang melalui penyerbuan (Ams. 5 dan 6; Yesaya 13 ; Yehezkiel 13 : 5), atau melalui bencana alam seperti serangan belalang (Yl. 1 -2). Pada hari itu orang yang bertobat dan percaya akan diselamatkan (Yl. 2 : 28-32), tetapi orang yang tetap memusuhi Tuhan, baik orang Yahudi, maupun bukan, akan dihukum. Hal itu mempunyai akibat-akibat alami terhadap alam semesta (Yes : 2).[9] Konsep Yom Yahweh ditemukan disebagaian besar kitab para nabi baik nabi besar maupun nabi kecil sebagai tema sentral maupun nabi kecil, sebagai yang jarang dibicarakn dalam masyarakat modern. Hal ini sering ditandai dengan tema yang berulang. Sekitar 70 % bagian pertama dari kitab Yesaya atau Yesaya Pasal 1 -32, terdiri dari ekspresi “Hari Itu “, karena berkaitan dengan nasib atau masa depan Israel , bangsa-bangsa dan iblis.[10] Yom Yahwe merupakan hari mengerikan dan dahsyat dari Tuhan dan bukan merupakan ekspresi hari sabat atau hari minggu gereja sebagaimana yang telah diasumsikan oleh beberapa orang. Tetapi ini merupakan ekspresi kolektif pemenuhan yang diharapkan dari nubuat besar Israel. Hari Tuhan mengacu pada intervensi Allah di masa depan dalam sejarah.[11] Hal ini berhubungan dengan aktivitas terakhir Allah baik untuk melawan Israel. Hari Tuhan akan membawa penghakiman dan kebinasaan dan sekaligus membawa perlindungan dan pembersihan (Zak. 13). Ini prospek khusus eskhatologis yang sering juga disebut dengan “akhir hari.”[12] Dalam Perjanjian Lama, “Hari Tuhan” dapat menunjukkan hari dalam historis masa depan yang akan segera terjadi ketika Allah melawat umat-Nya dalam penghukuman (Ams. 5:18; Yes. 2:12, dst). Istilah ini juga menunjukkan lawatan akhir Allah ketika Ia mendirikan kerajaan-Nya di dunia dan membawa keselamatan kepada umat-Nya yang setia dan hukuman kepada yang jahat (Zef. 1:14, dst; Yl. 3:14, dst).[13]
2.4. Hari Tuhan Dan Eskhatologi Dalam Tinjauan Ilmu Pengetahuan
Di dalam praktek hidup kita sehari-hari kita dapat berusaha mengenal Allah yaitu Allah sebagai bapa,anak dan roh kudus. Semakin rapat dalam pergaulan kita dengan Allah semakin tumbuh ilmu pengetahuan kita akan hari Tuhan. yang pada mulanya Allah menciptkan langit dan bumi dengan kata-kata yang hebat Alkitab mengajar kita untuk melihat seluruh alam semesta. Alkitab disini mengarahkan pandangan kita kepada bintang-bintang, gunung-gunung, tumbuh-tumbuhan, manusia dan malaikat. Itu semua diciptakan oleh Tuhan lewat Allah yang menyatakan dirinya di dalam Yesus Kristus yang telah kita kenal dalam sejarah kerajaan Allah dalam kekudusan dan keadilannya, dalam kebijaksanaan dan pengetahuannya dalam kasih dan karunia. Itulah pernyataan Allah bahwa semua diciptakan hanyalah dapat kita ketahui dari pernyataan Alkitab, apa yang tidak pernah di lihat mata manusia dan tidak pernah didengar oleh telinga dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia, Allah telah menyatakannya di dalam kitab kejadian pasal yang pertama yang terdapat langit dan bumi.[14]
Eskhatologi diartikan sebagai hari kiamat atau kehancuran alam semesta dan segala kehidupan di muka bumi ini yang dimana dibangkitkan nya orang yang sudah mati kemudian di hisab amal-amalnya, tidak seorang pun yang tahu hari kiamat itu kapan datang hanya Allah lah yang tahu itu semua. namun dalam dunia ilmuan atau pengetahuan eskhatologi adalah perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah sebagaimana hal itu ditunjukkan dalam ilmu dunia karena Allah tidak menampakkan dirinya kepada seorang malaikat serta para nabi yang diutus, manusia juga harus saling mengimbangi dengan ilmu pengetahuan dengan pengetahuan agama karena ketika manusia tidak memiliki pengetahuan agama manusia tersebut hanya mementingkan dunia saja dan tidak akan peduli di akhir nanti dan ketika manusia sudah mengetahui tentang agama manusia akan mengetahui seluruh alam semesta adalah milik Allah sendiri dan manusia harus menjaga dan merawat serta bertobat tentang segala perilaku hal buruk yang kita lakukan di bumi ini karena pada dasarnya kematian atau hari kiamat tidak ada yang tahu kapan itu akan terjadi.[15]
2.5. Hari Tuhan Dan Eskhatologi Dalam Tinjauan Sistematika
Tuhan tidak pernah melalaikan janjinya, Tuhan akan datang ke dunia untuk kedua kalinya, dan kedatangan Tuhan yang kedua kali ini semua umat manusia bertobat dan beroleh keselamatan. segala yang hidup pada saat hari Tuhan datang tidak ada yang terluput, langit itu akan binasa dalam api akan tetapi orang-orang yang berkenan di hadapan Tuhan yang menanti-nantikan hari Tuhan, mereka yang disucikan Tuhan dan dikhususkan Tuhan supaya tidak mengalami kesusahan dan penderitaan, hari Tuhan disini mendatangkan keselamatan bagi umat manusia yang beriman. Dan eskhatologi telah menjadi dimensi yang ada pada seluruh teologi, eskhatologi kristiani tidak lagi pertama-tama berbicara tentang kematian, bukan mengenai apa yang akan terjadi sesudah kematian. Melainkan terutama tentang kerajaan Allah yang dapat diimani sebagai mendatang “ Datanglah Kerajaanmu ”(Mati 6:10). Sifat kedatangan atau sifat futurum Allah merupakan ciri khas dari Eskahtologi kristiani sebagai pengungkapan iman bahwa kepemahaman hidup dan kebahagian manusia datang dari Allah. maka itu teologi yang secara ilmiah merefleksikan iman akan Allah yang hakiki berdimensi eskhatologi, dalam hal ini penting untuk disadari bahwa Allah yang datang sudah ada sekarang. Yaitu sifat yang hahiki jadi dapat dikatakan Eskhatologi ini bersifat antropologi teologis. Sifat future eskhatologi ini bukanlah pertama-tama muncul dari refleksi atas diri manusia sebagai mahluk yang terus menerus melainkan sifat Allah yang terus menerus mendatangi manusia Eskhatologi disini bukan apa yang terjadi kelak dan kegiatan Allah besok melainkan ini semua adalah sifat dari Allah sendiri yaitu mendatangi manusia. Sebagaimana dimensi hubungan antara sejarah dunia dengan sejarah keselamatan (Sejarah Allah) dan secara lebih akhir dengan kehancuran oleh karena itu eskhatologi adalah teologi pengharapan. pengharapan sendiri merupakan pengarahan orang yang beriman dan mengarahkan kita kepada Allah bahwa hidup manusia itu yang secara hakiki terbuka oleh karena janji Allah.[16]
2.6. Hari Tuhan Dan Eskhatologi Dalam Tinjauan Ilmu Agama-Agama
· Islam
Hampir semua agama-agama termasuk agama islam mengajukan konsep tentang awal segala sesuatu Tuhan,dunia dan manusia. Demikian juga halnya dengan akhir segala sesuatu, namun demikian harus dibuat perbedaan yang jelas antara eskhatologi individu dan eskhatologi umum. Eskhatologi individu berkaitan dengan akhir dari manusia secara pribadi, yakni akhir dari jiwa setelah kematian.. Sedangkan eskhatologi umum berkenaan dengan transformasi yang lebih umum atau akhir dunia ini.Eskhatologi adalah faham yang bercorak kefilsafatan yang berusaha menjangkau kehidupan dengan jangka panjang. Yaitu dengan cara hidup meninggalkan kepentingan-kepentingan duniawi untuk menekan darah dan daging tubuhnya. Dengan mengutamakan kehidupan akhirat. Demikinalah Eskhatologi dalam filsafat islam tentang kehidupan sesudah mati menjadi salah satu wacana penting sebagai upaya penyingkapan refleksi metafisik atas dilema ketuhanan dan eskhatologi ini juga dapat dilihat melalui pancaran nalar yang tetap melandaskan diri dari ajaran ajaran agama yang dianut yaitu proses perkembangan dan penyesuaian.[17]
· Kristen
Hari Tuhan dan eskhatologi menurut ajaran Kristen terkait dengan pemenuhan janji Allah yaitu keselamatan yang sempurnah dalam Kristus. Menurut Alkitab keselamatan pada zaman akhir ini memiliki dua segi yaitu bahwa pada zaman akhir ini telah ada keselamatan akan tetapi di pihak lain dikatakan juga bahwa keselamatan masih di depan kita atau belum ada. Maksudnya disini keselamatan yang telah diberikan oleh Allah kepada orang beriman baru “ untuk sementara waktu” belum sempurna karena yang ada sekarang ini belum sempurna akan tetapi apa yang telah ada itu menjadi jaminan atau garansi, semua yang sempurna akan dianugerahkan juga oleh Yesus Kristus. Karena kedatangan Yesus kedua kalinya yaitu kedatangan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, oleh karena itu kedatangan Yesus kedua kalinya bukanlah kejadian yng tidak ada pada sangkup pautnya dengan zaman sekarang ini, segala sesuatu yang ada dalam dunia ini akan dibuka tutupnya, dibuka kedoknya di hadapan Allah sendiri.[18]
2.7. Hari Tuhan Dan Eskhatologi Dalam Tinjauan Agama Suku
Ajaran tentang hari Tuhan dan eskhatologi tidak hanya diajarkan dalam agama Kristen saja semua agama bisa mengajarkan itu termasuk agama suku yang mengajarkan tentang hari Tuhan dan eskhatologi dengan cara masing-masing. Menurut harun hadiwijono agama suku murba mengajarkan bahwa di luar dunia manusia ada dunia orang mati, yaitu tempat para orang yang telah mati atau disebut dengan tempat neneng moyangnya, para dewa mereka yaitu sorga.dan ada beberapa dari suku masing – masing yang mempertanyakan tentang hari Tuhan dan eskhatologi yaitu antar lain :
· Suku Toraja
Mengajarkan bahwa semua arwah orang yang sudah meninggal dunia menuju kesatu tempat peristirahatan yang bernama Puya artinya disini dunia jiwa. Yang letaknya berada di selatan langit horison orang yang meninggal dunia itu akan keluar dari jasad tubuhnya dan bersiap untuk memasuki fase kehidupan yang baru yaitu Alam Puya.[19]
2.8. Hari Tuhan Dan Eskhatologi Dalam Tinjauan Kaum Ateis
Pandangan filosofi yang memercayai keberadaan Tuhan. kepercayaan yang mereka anut bertentangan dengan kehadiran agama, ada beberapa kelompok yang mengaku kaum atheis namun ia merasa ragu kepada Tuhan benar ada atau tidak ada, ini yang disebut dengan golongan agnostik tentang keberadaan Tuhan itu, namun kaum atheis tidak sepenuhnya menolak namun tidak juga menerima hari Tuhan itu ada. Bagi hidup mereka Tuhan itu ada atau tidak ada sama sekali tidak menyentuh inti persoalan kehidupan mereka. namun cara pandang mereka kerap sekali disalah artikan oleh orang-orang awam sebagai suatu bentuk kekebesan yang tanpa kontrol meskipun kaum atheis tidak percaya dengan keberadaan Tuhan dalam hidup mereka, bukanlah menjadi halangan untuk mencari makna hidup[20]
2.9. Hari Tuhan Dan Eskhatologi Bagi Kehidupan Manusia Masa Kini
Hari Tuhan dan tanda akhir zaman sekarang ini membawa keselamatan dan berkat serta pengharapan bagi orang yang memanggil nama Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, dan hari Tuhan dapat membawa hukuman bagi orang yang tidak sungguh-sungguh memanggil nama Tuhan dan menantikan kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya oleh karena itu Tuhan dekat dengan umatnya agar ia dapat mencurahkan Roh nya yaitu pengharapan dan keselamatan, dan bagi kehidupan yang sekarang ini dapat kita artikan bahwa Roh itu sebagai kekuatan hidup, sekarang janji Tuhan tentang pembaharuan nubuat ini menjamin pembentukan umat baru bahwa dimasa depan semua orang akan mengenal Tuhan dari yang terkecil sampai yang terbesar.[21] Pengharapan bagi kehidupan orang Kristen dunia sekarang ini ialah sikap yang dengan konsekuen terarah pada tugas dalam gereja yang baru saja dimulai, dan eskhatologi disini menekankan kehidupan gereja masa kini di bidang kerohanian untuk mengabarkan injil [22]
Gagasan eskhatologi dapat dipahami sebagai upaya mengitung-hitung atau mereka-reka waktu kedatangan Tuhan. Eskhatologi ini menimbulkan rasa damai dan tentram di hati jemaat, tetapi eskhatologi disini menimbulkan ketakutan dan kekuatiran karena eskhatologi identik dengan malapetaka,penghukuman dan kebinasaan. Akan tetapi bagi orang yang percaya secara keselruhan terkhusus pada masa kini orang percaya diminta untuk selalu menaati dan tetap menjaga iman sebagaimana orang percaya menjadi panutan dalam segala melakukan kebaikan dalam hidup.[23]
III. Analisa Penyeminar
Pada umumnya ketika berbicara Eskhatologi tentang akhir zaman, pemikiran manusia tertuju kepada nasib seseorang, akan tetapi Alkitab disini lebih cenderung membicarakan penggenapan kerajaan Allah. Eskhatologi berpusat pada diri manusia, dimana manusia memandang pada masa depan bukan manifestasi melainkan kebangunan Rohani. Allah tidak meletakkan otoritas yang digunakan dalam merealisasikan masa yang akan datang, kerajaan Allah dapat dimasuki melalui iman kepadanya. Masa depan itu bukanlah kuantitas yang tidak diketahui manusia akan tetapi masa depan adalah kuantitas yang dilihat oleh Allah dalam hidup. Pemikiran tentang hari Tuhan merupakan salah satu pemikiran Israel dari keyakinannya akan pengharapan masa depan yang hidup ditengah-tengah bangsa Israel yang berakar pada perjanjian baik itu dari perjanjian Yahwe dan bapa leluhur bangsa Israel sendiri. Doktrin akhir zaman sering dianggap ajaran yang layak dibicarakan dan dikonsumsi di sekolah teologi. Ada suatu pemikiran yang keliru bahwa ajaran ini sangat sulit dipahami oleh kaum awam itu sendiri.
IV. Kesimpulan
Dapat kita lihat bahwa hari Tuhan dan eskhatologi ini menggambarkan bagaimana Allah memperlakukan umatnnya karena dalam kehidupan kita sekarang ini banyak kesempatan untuk menyaksikan akan kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya, dan kita harus yakin bahwa Tuhan akan menyelamatkan setiap umat yang percaya, Allah hadir dengan caranya tersendiri yang pasti Allah hadir dengan kemuliannya untuk menyelamatkan umatnya. Yohanes 3: 18 dikatakan : barang siapa percaya kepada nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada dibawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama anak Tunggal Allah. Artinya disini kita harus percaya kepada Tuhan dan tetap setia dalam menantikan kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya, karena pengharapan dan keselamatan itu akan diberikan Tuhan kepada kita jika kita dapat memercayai Tuhan lewat kepercayaan iman yang kita anut selama ini.
V. Daftar Pustaka
A.S. Wood, ….., 368.
Asy’arie, Musa Filsafat Islam Sunnah Nabi Dalam Berfikir, Yogyakarta: Lesfi,2002
Beyer, Dr. Ulrich. Garis-Garis Besar Eskhatologi, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1980
Brill, J.Wessley Dasar Yang Teguh, Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1999
Dister, Nico Syukur Teologi Sistematika 2 Konpendium Sepuluh Cabang Berakar Biblika Dan Berbatang patristika, Yogyakarta : Kanisius, 2004
Drane. Jhon, Memahami Perjanjian Baru, Jakarta : BPK –Gunung Mulia, 1996
Dufor, Xavier Leon Ensiklopedi Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius, 1990
Erickson, Millard J. Teologi Kristen Vol. 3, Malang: Gandum Mas, 1985
Geerhardus Vos, The Pauline Eschatology,
Hadiwijono, Harun Iman Kristen, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2007
Hemersma, Harry. Tokoh-Tokoh Filsafat Modern, Jakarta: Gramedia,1992
Huguenot, Caleb Ben Yom Yahweh , New York: N.P
J. Edward Miller, Matthew S. Demoss & Dictionary Of Bible and Theology Words, Grand Rapids, Michigan USA: Zondervan, 2002
Napel, Henk ten Kamus Teologi Inggris-Indonesia, Jakarta: Gunung Mulia, 2015
Pilon, Drs.P.K. Tafsiran Alkitab Kitab Yoel, Jakarta : BPK –Gunung Mulia, 1987
Rapids, Grand Theological Dictionary Of The Old Testament Vol II, Michigan: Publishing Company, 1964
Rapids, Grand Theological Dictionary Of The Old Testament Vol VI, Michigan: Publishing Company, 1982
Rowley, H.H. The Faith Of Israel, Philadelphia: The Westminster Press, 1956
Tammu, J. Kamus Bahasa Toraja-Indonesia, Aluk Rambu Tuka, Rantepao : JPKT, 1972
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pusataka, 1999
Verkuyl, J. Aku Percaya, jakarta : BPK-Gunung Mulia,1995
Vos, Geerhardus, The Pauline Eschatology, New Jersey: Publishing Presbyterian and Reformed, 1994
[1] Matthew S. Demoss & J. Edward Miller, Dictionary Of Bible and Theology Words, (Grand Rapids, Michigan USA: Zondervan, 2002), 64.
[2] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pusataka, 1999), 298.
[3] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 965.
[4] Henk ten Napel, Kamus Teologi Inggris-Indonesia, (Jakarta: Gunung Mulia, 2015), 128.
[5] Geerhardus Vos, The Pauline Eschatology, (New Jersey: Publishing Presbyterian and Reformed, 1994), 1.
[6] Millard J. Erickson, Teologi Kristen Vol. 3, (Malang: Gandum Mas, 1985), 453.
[7] Xavier Leon Dufor, Ensiklopedi Perjanjian Baru, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), 223.
[8] J.Wessley Brill, Dasar Yang Teguh, ( Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1999 ),303
[9] A.S. Wood, ….., 368.
[10]Caleb Ben Huguenot, Yom Yahweh , New York: N.P), 8-10.
[11] Grand Rapids, Theological Dictionary Of The Old Testament Vol VI, (Michigan: Publishing Company, 1982), 18.
[12] Grand Rapids, Theological Dictionary Of The Old Testament Vol II, (Michigan: Publishing Company, 1964) 945.
[13] H.H. Rowley, The Faith Of Israel, (Philadelphia: The Westminster Press, 1956), 127.
[14] J.Verkuyl, Aku Percaya, (Jakarta : BPK-Gunung Mulia,1995 ), 50-51
[15] Geerhardus Vos, The Pauline Eschatology, 15
[16] Nico Syukur Dister,Teologi Sistematika 2 Konpendium Sepuluh Cabang Berakar Biblika Dan Berbatang patristika, ( Yogyakarta : Kanisius, 2004 ), 568-570
[17] Musa Asy’arie, Filsafat Islam Sunnah Nabi Dalam Berfikir, ( Yogyakarta: Lesfi,2002), 16
[18] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, ( Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2007 ), 471
[19] J. Tammu, Kamus Bahasa Toraja-Indonesia, Aluk Rambu Tuka, ( Rantepao : JPKT, 1972 ),64
[20] Harry. Hemersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Modern, ( Jakarta: Gramedia,1992), 51
[21] Drs.P.K.Pilon,Tafsiran Alkitab Kitab Yoel, ( Jakarta : BPK –Gunung Mulia, 1987), 71-73
[22] Dr. Ulrich. Beyer, Garis-Garis Besar Eskhatologi, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1980 ),33
[23] Jhon Drane, Memahami Perjanjian Baru, ( Jakarta : BPK –Gunung Mulia, 1996),128
Tidak ada komentar:
Posting Komentar