Arti dan Makna Janji Kedatangan Mesias di Tengah Kehidupan Umat Allah yang Mengalami Krisis Global
(Tinjauan Biblika, Sistematika, Historika, Praktika, Ilmu Agama-agama)
I. Latar Belakang Masalah
Pada umunya dalam Perjanjian Lama merupakan kitab nubuatan atau janji kedatangan Mesias. Manusia sebagai umat Allah membutuhkan penolong atau Juruselamat untuk menegakan keadilan dan memberikan keselamatan untuk manusia. Kelahiran Yesus Kristus bukan terjadi bergitu saja, tetapi telah persiapkan dengan rahasia oleh Allah, untuk melihat rencana keselamatan. Dalam perjanjian Lama kita melihat bagaimana Allah menyingkapi rahasiaNya tentnag rencana penyelamatan manusia, hingga akhirnya terbuka dalam perjanjian baru dan kita semua meyakini keselamatan melalui Yesus Kristus. Dalam semua aspek hidup manusia ada yang berotoritas penting yaitu Allah dan mengutus Mesias untuk menjadi penyelamat dan pemberi keadilan. Kedatangan Mesias adalah hal yang sangat dinantikan oleh setiap manusia karena diyakini dapat menolong dan menyelamatkan manusia dari gejolak global yang membumi sehingga membuat manusia mengalami krisis yang begitu berat. Oleh karena itu manusia sangat menantikan datangnya seorang pemimpin Juruselamat untuk keselamatan manusia. Untuk itu kita akan membahas arti dan makna janji kedatangan Mesias ditengah kehidupan umat Allah yang mengalami Krisis Global yang digali mendalam dari berbagai tinjuan yaitu Tinjauan Biblika, Sistematika, Historika, Praktika, Ilmu Agama-agama.
II. Pembahasan
2.1.Arti dan Makna Janji
2.1.1. Menurut Perjanjian Lama
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, janji adalah ucapan yang menyatakan dan kesanggupan untuk berbuat. Sedangkan lebih luasnya dikatakan perjanjian adalah persetujuan (tertulis atau dengan lisan) yang dibuat oleh pihak atau lebih, masing-masing bersepakat akan menaati apa yang tersebut dalam persetujuan itu.[1] Dalam Perjanjian Lama, tidak ada istilah khusus bagi konsep atau tindakn berjanji. Orang Ibrani hanya menyatakan bahwa seseoang “berkata” atau “bertindak” (amar atau davar) yang menunjukkan kepada masa depan. Janji adalah suatu kata yang keluar yang memasuki waktu yang belum terpenuhi. Kata ini mendahului orang yang mengucapkannya dan yang menerimanya, untuk menandai sebuah penentuan antara mereka di masa depan. Janji dapat berarti persetujuan yang sungguh-sungguh mengenai hubungan dua pihak yang abadi; seperti Perjanjian Allah dengan Israel. Dalam bahasa Ibrani “perjanjian” dinyatakan dengan istilah berit dan pembuatan perjanjian disebut karat berit.[2] Allah mengikat perjanjian (berit) berasal dari kata Asyur: beritu artinya tali atau belenggu. Jadi dalam Perjanjian Lama yang dimaksudkan adalah perjanjian Allah yaitu menunjuk kepada tali persekutuan dengan Allah.[3]
2.2.Pengertian Mesias
2.2.1. Mesias Menurut Perjanjian Lama
Kata Mesias diambil dari bahasa Ibrani yaitu “masah” yang berarti “meminyaki” atau “member upacara peminyakan suci”. Dari kata “masah” ini juga bisa terbentuk kata “mesah, misah” yang artinya “sedang meminyaki dan bisa menjadi mesiha”, serta karena adanya substansi kata, maka kata “masah” menjadi “masiah” yang berbentuk aktif menjadi pasif yang artinya “yang diurapi” dan juga bisa berbentuk kata benda yaitu “masiah” yang artinya minyak. Kata benda “masiah” artinya mengarah pada “yang diberkati untuk selama-lamanya” dengan sebuah kedudukan di masyarakat(2 Sam 3:39, Yesaya 21:5).[4] Kata Mesias merujuk kepada orang yang diurapi Allah, sesuai kebiasaan Israel Kuno yang melihat tindakan perngurapan sebagai tanda pemilihan dan pengudusan Allah. orang yang diurapi dianggap sebagai milik Allah dan mendapat tugas khusus.[5] Di Perjanjian Lama ada juga istilah Mesias digunakan terhadap Israel yang memerintah. Lambat laun istilah Mesias digunakan pada Raja Keselamatan yang akan datang, sebagai pengharapan bangsa israek. Perhatian dan pengharapan bangsa Israel terhadap seorang Raja Keselamatan dapat kit abaca dari nubuat para nabi yang melayani diantara abad ke-9 hingga abad ke-5 sebelum Masehi.[6] Perjanjian Lama sering dianggap penuh dengan sebutan kemesiasan “Mesias”. Sesungguhnya istilah “Mesias” sama seklai tidak terdapat dalam Perjanjian Lama. Kata itu selalu memakai kasus genetif atau akhiran seperti “Mesias Yehovah”.[7]
Mesias yang dalam bahasa Yunani yaitu Kristus yang berarti yang diirapi Mesias adalah gelar Yahudi yang ada dalam bahasa Yunani berbunyui Kristus yang artinya diurapi gelar Mesias ini yang pada umumnya dipakai oleh orang Yahudi untuk menunjukkan kepada raja yang adil yang kedatangannya diharapkan dan akan diberikan kuasa oleh Allah sendiri. Pada dasarnya Perjanjian Lama dapat menjadi pedoman bagi kita, bangsa pilihan Allah yang baru, dalam perjanjian lama antara lain dikisahkan mengenai pemilihan Israel sebagai bangsan Allah melalui panggilannya. Pada akhirnya bangsa Isarel tidak dapat menerima kedatangan Yesus Kristus sebagai Mesias. Kita bangsa pilihan Allah baru juga harus berhati-hati, Agar jangan ketinggalan mengecap keselamatan abadi yang dibawah oleh Kristus pada kedatangannya yang kedua kali. Dari kesalahan bangsa Israel kuno itu sebagai bangsa pilihan Allha yang kedua melalui Kristus Yesus, kita dapat memetik hikmat, bahwa menjadi pilihan Allah berarti mempunyai tanggung jawab terhadap berkatnya. Akan tetapi yang paling penting adalah perjanjian lama adalah yang menjadi saksi bahwa Allah telah menjadikan kedatangan Yesus Krsitus, berabad-abad sebelum Yesus Kristus Datang. Allah telah mempersiapkan PutraNya dengan seksama. Oleh karena itu kita harus memperlajari bagaimana Allah menjanjikan kedatangan Mesias kepada kita dalam Perjanjian Lama, untuk dapat memahami berita keselamatan Yesus Kristus.[8]
Istilah Mesias yang dipakai sebagai gelar resmi dari tokoh utama yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi, adalah hasil pemikiran dari pada Yudaisme masa kemudian pemakian istilah itu dikukuhkan dalam Perjanjian Baru akan tetapi dalam Perjanjian lama terdapat dua kali, kata Mesias sendiri diambil dari bahasa Aram atau Ibrani yang berarti yang diurapi yang pada awalnya ini menunjukkan pada raja yang sedang berkuasa atas kerajaan Israel raya, terurtama yang berasal dari dinasti Daud. Dalam Perjanjian Lama ada kalanya istilah meriasa di gunakan terhadap rasa Israel (Kerajaan Utara) yang sedang memerintah. Lambat laun istilah Mesias istilah Mesias ini digunakan pada raja keselamatan yang akan datang sebagai pemgharapam bangsa Israel. Raja yang dinanti-nantikan tersebut dikumandangkan sebagai raja keturunan Daud sesuai dengan nubuatan nabi Natan yang dimana penantian dan juga pengharapan bangsa Israel akan seorang Raja keselamatan dapat kita temukan dalam nubuatan para nabi yang berkarya antara abad ke 9 sampai dengahn abad ke-5 sebelum Masehi.[9]
2.2.2. Mesias Menurut Perjanjian Baru
Dalam Bahasa Yunani disebut Christos hal ini bukan merujuk pad anama, tetapi sebutan gelar (berarti yang diurapi). Dia terkadang disebut Nazaret, Rabi, nabu, Imam Besar, Anak Daud, Mesias atau Kristus, Anak Allah, Anak Manusia, Anak Domba, Raja, Firman, Juruslamat, Alfa dan Omega. Mesias juga diartikan Kristus dalam bahasa Yunani.[10] Mesias adalah Yesus yang berasal dari Nazaret yang pada saat itu BaptisanNya dengan Roh Kudus dan kuat kuasa (Kis 10:38). Tapi Yesus sendiri jarang memakai istilah, dan tanpa diragukkan sebabnya ialah kesalahpahaman yang bisa timbul karena pemakaian istilah itu. Pengertian Yesus akan dan caraNya untuk menggenapi panggilan keMesiasaanNya berbeda dari gambaran umum tentang Mesiasi yang diharapkan. Suara dari Sorga pada saat pembaptisanNya (Mark 1:11) menyambut Dia sebagai Mesias dari Suku Daud dengan kata-kata dari Mazmur 2:7 “AnakKu lah Engkau”. Tetapi dengan menambahkan kata-kata dari Yesaya 52:1 yang memperkenalkan hamba Yahwe, diberikan pertanda bahwa kemesiasanNya akan menggenapi gambaran hamba itu, rendah hati, taat, menderita, menggenapi tugasNya dengan menjalani maut. Sambil menyerahkan pembelaan diriNya, kepada Allah dengan hati yang percaya.[11]
2.3.Latar Belakang Kedatangan Mesias
Dalam orang Kristen terdapat bebagai macam pandangan mengenai penafsiran yang ada dalam Alkitab. Terdapat berbagai macam perbedaan, perbedaan yang ada seperti kebudayaan dan politik dan juga bahasa juga turut menjadikan munculnya kebingungan dalam memahami Alkitab karena sering muncul bebagai ajaran-ajaran yang menyimpang dari ajaran Alkitab. Ini membuat pengaruh besar dalam anggota gereja atau orang-orang Kristen untuk memahami apa sebenarnya yang dimaksudkan dalam ajaran Krsiten namun dapat memberikan arti yang positif. Pemahaman tentnag Mesias sudah ada sejak dari zaman perjanjian Lama tentnag waktu kedatangannya siapa dirinya, karena gagasan ini sangaat erat dengan pewartaan san tylisan para nabi mengenai datangnnya Mesias. Mereka ini juga percaya akan Mesias Ilahi yang aan datang kedalam dunia dan kemudian kembali ke kemuliaannya, ia akan menjadi penakluk, yang menghancurkan bangsa-bangsa dna membungkam para raja. Ia akan memebasaakn umat, seperti Allah yang telah membebaskan umatnya dari mesir.[12]
Dalam Perjanjian Lama YHWH dinubuatkan berisi
1. Hari murka Tuhan yang mendatangkan hukuman pengasingan,
2. Bangsa Israel bertobat dan Tuhan akan mengembalikannya dari pembuangan,
3. Yerusalem dengan bait Allah akan dibangun kembali,
4. Sang Mesias akan datang dari keturunan Daud dan akan memegang pemerintahan yang kuat,
5. Akhir jaman kemudian akan datang.[13]
Kitab ini menegaskan bahwa janji-janji Allah untuk memelihara dan mengembalikan umat perjanjianNya adalah sama pastinya dengan kerajaan Mesias yang akan datang dan akan bertahan selamanya.[14]
2.4.Arti dan Makna Kedatangan Mesias
Dalam Perjanjian Lama, ada kalanya ist6ilah Mesias juga digunakan terhadap raja Israel (Kerajaan Utara) yang sedang memerintah. Sebutan Mesias ini berakar dari pengertian Yahudi mengenai seorang tokoh pada masa depan yang akan datang sebagai wakil Allah untuk membawa keselamatan bagi umat Yahudi. Lambat laun, istilah Mesias juga digunakan pada Raja keselamatan yang akan datnag sebagai pengharapan bangsa Israel. Raja yang dinantikan itu dikumandangkan sebagai keturunan Raja Daud, sesuai dengan bubuatan Nabi Nathamn dalam 2 Samuel 7. Penantian dan pengharapan bangsa Isarel terhadap seorang raja keselamatan dapat kita baca dari nubuat para nabi yang melayani pada masa antara abad ke 9 hingga aband ke 5 SM. Pada masa itu bangsa Israel telah mengenal pemerintahan dan kekuasaan raja, sehingga para nabi juga selalu menggambarkan Mesias yang dinanti-nantikan sebanding dengan raja yang sedang berkuasa pada masa itu. Kata Mesias merujuk kepada orang yang diurapi Allah, sesuai kebiasaan Israel Kuno yang melihat tindakan pengharapan sebagai tanda pemilihan dan pengudusan Allah. Orang yang diurapi sebagai milik Allah dan mendapat tugas Khusus.[15]
Pengharapan Mesias pada Perjanjian Lama bukanlah tanpa Alasan, dari berbagai alasan yang menyebabkan adanya pengharapan tersebut diantaranya adalah karena Allah telah menjanjikan datangnya Juruselamat. Karena bangsa Israel menginginkan sosok yang membawa keselamatan serta membebaskan mereka dari musuh-musuh. Asal-usul adanya Mesias dapat ditelusuri dari gagasan adanya Raja yang Ilahi. Pengharapan akan Mesias itu timbul karena penglihatan gambaran Raja keturunan Daud yang ideal pada raja-raja mendatang. Pernyataan tersebut adalah berdasar pada nubuat nabi-nabi sebelum masa pembuangan yang terkait dengan nubuat Natan dan timbul gagasan dan pengharapan mesianis. Memang para nabi semakin jelas menunjukkan pada kedatangan seorang Mesias, tetapi tanpa menggunakan istilah secara langsung, siantara beberapa bagian Perjanjian Lama sering disbut bahwa Dinasti Daud akan abadi, tanpa menyebut nama seorang Putra ataupun ketururnan Daud (bnd. 2 Sam 7:12-17; Yer 33:17;Maz 88:4, 29, 18,18:5).[16]
Tentang waktu kedatangannya, ada beberapa macam gagasan. Ada pendapat bahwa dunia akan bertahan selama 6.000 tahun. Dan 6.000 tahun itu sesuai dengan 6 hari penciptaaan, karemna 1.000 tahun adalah sama dengan satu hari bagi Allah (Maz 90:4). Mesias akan daatang pada akhir masa itu. Ada yang membagi masa itu menjadi tiga, yaitu 2.000 tahun hukum, 2.000 tahun dengan hukum, 2.000 tahun pemerintahan Mesias. Di zaman Yesus ada dua gagasan yang digabungkan.
1. Ada anggapan bahwa waktu kedatangan Mesias sudah berlalu, tetapi Mesias tidak datang karena dosa manusia. Bila manusia bertobat, maka keselamatan Mesias segera tiba. Bila Sabat diselenggarakan sebaik mungkin, Mesias akan segera datang.
2. Anggapan bahwa Mesias sudah lahir di Betlehem, tetapi menunggu tanpa seorng pun tahu, karena dosa manusia. Kepercyaaan timbul akan datang tiba-tiba untuk mengambil alih kuasa dan kerajaan. Inilah latar belakang pendapat bahwa Yesus tidak mungkin Mesias, karena bila Mesias datang, tak seoranng pun tahu dari mana asalnya, sedangkan mereka tahu bahwa Yesus dari Nazaret (Yohanes 7:27). Di zaman Yesus gambaran tentnag Mesias nampaknya masih cair, belum ttetap dan jelas cirri-cirinya. Banyak yang percaya bahwa kedatangan Mesias itu masih jauh; sedangkan banyak juga yang berpendapat bahwa Mesias harus datang, tetapi terhambat dosa. Dasar semua ini adalah pandangan Yahudi tentnag waktu. Orang Yahudi membagi waktu menjadi 2 zaman. Zaman kini, yang jahat, durhaka, dibawah dosa dan tak tertolong, dan zaman yang akan datang, zaman kuasa Allah, lambat laun, muncul keyakinan bahwa orang tidak bisa beralih hanya karena kekuatan dan perkembangan alamai, atau sarana manusiawi. Perubahan itu hanya terjadi berkat keterlibatan Allah, disebut “hari Tuhan”, di hari yang gemilang itu, yang ada ini akan diperbaharui. Akan ada lain dan bumi tyang baru. Disaat itulajh meraja melaksanakan kerajaan mesiasni.[17]
2.5.Janji Kedatangan Mesias dalam Tinjauan Biblika
2.5.1. Tinjuan Perjanjian Lama
Dalam perjanjian Lama tepatnya dalam Nabi Mikha menubuatkan bahwa Mesias tidak hanya berkuasa atas isarel dan juga Yehuda, tetapi pemerintahnya akan sampai keujung bumi (Mikha 5:1-4). Mikha menguraikan bahwa anak yang akan permulaannya sejak purbakala, sejak dahulu kala. Pernyataan ini merupakan pernyataan yang kuat tentnag keberadaan sang Mesias sebelum ia lahir kedunia. Gabungan kesaksian diatas ini dengan kesaksian-kesaksian lainnya memastikamn Mesias itu adalah Allah dan manusia di dalam satu pribadi. Mikha menggambarkan bahwa Mesias akan datang sebagai sosok yang sederhana, yang lahir di kota kecil Betlehem (Mikha 5:1). Kelahiran sang Mesias telah dinubuatkan lebih kuranng 700 tahun sebelumnya.[18] Nubuatan inidilengkapi Mikha dengan penunjuk kota kecil betl;ehem di Benyamin (Benyamin disini identitas dengan Efrata adalah yang baru, sebab menggeser kedudukan Yerusalem sebagai tempat asal kedatangan Mesias). Ada pendapat yang mengatakan ini berarti bahwa asal-usul Mesias itu bukan dari keturunan-keturunan utama Daud. Melainkan dari kaum Efrata yang tidak berarti yang juga menjadi suku asal Daud. Mikha menyebut bangsa Daud sebagai asal-usul Mesias, sesuai tradisi yang sudah lama hidup di Israel ini berrti sama dengan Imanuel dalam Kitab Yesaya. Mikha menyimpulkan empat pokok tentnag kedatangan Mesias:
a. Raja yang akan datang sudah ada sejak masa sebelum ada di dunia
b. Yang dimaksud dengan Mesas adalah seorang keturunan Daud
c. Ia adalah orang yang datang kembali, yaitu Daud
d. Ia Lahir bukan di kota Besar Yerusalem, melainkan di Kota Betlehem.[19]
6. Ada banyak ayat Alkitab mengutarakan nubuatan kedatangan Mesias dalam kitab PL. Kedatangan Mesias diinformasikan dalam bentuk 2 gambaran figur:
a. sebagai Raja dari keturunan Daud. Itu jelas dalam Yeremia 23:5-6 “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikian firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam jamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah nama yang diberikan orang kepadanya: TUHAN keadilan kita”. Kelihatan figur politis Mesias yang diharapkan, dari “tunas Daud”, seorang raja yang sanggup membangun kembali kerajaan Daud (Yeh 34:23; 37:24).
b. sebagai seorang Imam yang dikaitkan dengan keimaman Lewi (Yer 33:17-18). Jelas bahwa di jaman para nabi Israel ada dua versi pengharapan akan Mesias itu, yakni “yang politis” dan “yang religius/imami”. [20]
2.5.2. Tinjuan Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Baru dengan sebuah doa dalam Why 22:20, “...datanglah, Tuhan Yesus!” ini berarti sifat pengharapan Mesianis masih berlanjut, walaupun betapa kuatnya penulis kitab Injil meneguhkan bahwa Yesus itulah Mesias yang di tunggu dengan merujuk Perjanjian Lama. Umat Perjanjian Baru masih disuruh untuk menanti sambil diutus untuk memberitakan. Kelahiran Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru dilihat sebagai penggenapan nubuatan para nabi Perjanjian Lama tentang kedatangan Mesias. Sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, dunia PL mengharapkan kedatangan seorang Mesias, yang akan membebaskan mereka dari ketertindasan jasmani dan seorang Raja yang akan mengalahkan tirani Romawi yang sedang menjajah mereka (pembebasan secara politis). Akan tetapi, dua tokoh besar Perjanjian Baru yaitu Yesus dan Rasul Paulus berbicara lain tentang pengharapan eskatologis akan kedatangan Mesias dan akhir zaman. Dalam bagian ini, kelompok akan memaparkan pandangan PB, khususnya apa yang Yesus dan Paulus katakan tentang kedatangan Mesias dan pengharapan eskatologis itu, dan juga mengemukakan argumen penulis surat 2 Petrus tentang alasan keterlambatan parousia.
1. Yesus
Kata Mesias dalam PL merujuk kepada Kristus dalam PB, sebagai sebuah gelar yang diberikan kepada Yesus. Pandangan Yesus tentang kedatangan Mesias dan akhir zaman dapat dilihat dalam kitab Injil, khususnya Markus dan Lukas. Kerajaan Allah (basileia tou theou) adalah istilah pokok pemberitaan Yesus yang memproklamasikan bahwa waktunya telah genap; “Kerajaan Allah sudah dekat (Mrk.1:15)”. Kerajaan yang dimaksudkan bukanlah pemerintahan dan otoritas secara teretorial di tengah-tengah dunia ini, melainkan pemerintahan yang membawa keadilan, keselamatan dan perlindungan bagi mereka yang miskin dan sakit, yang hina-dina, ditindas, janda-janda dan yatim piatu, juga membawa pertolongan serta kebahagiaan, sehingga semua bangsa akan mengakui dan memuliakan pemerintahan-Nya. Dalam Injil dikatakan bahwa waktu penyelamatan sudah dekat (Luk.21:28), dan menjelang masa eskaton, dunia akan dilanda malapetaka (Mat.24:35, par. Mrk.13:1-37) sebagai pendahuluan parousia Tuhan. Yesus menyatakan bahwa Injil harus diberitakan terlebih dahulu kepada semua bangsa sebagai pra-syarat parousia tersebut (Mrk.13:10). Semua peristiwa yang dinyatakan Yesus tersebut merupakan isyarat-isyarat bagi jemaat yang menunjukkan bahwa jemaat sedang berada di tengah jalan, dengan sangat susah payah menuju kemuliaan parousia Kristus yang sudah dekat itu (Mrk.13:26, bnd. Dan.7:13). Oleh karena itu, manusia dituntut untuk senantiasa berjaga-jaga dan siap sedia. (Luk.21:34-36; bnd.Mat.25). Seiring dengan itu, jemaat juga semakin didorong untuk mengucapkan permohonan: “Datanglah Kerajaan-Mu (Mat.6:10)”, yang juga merupakan bagian dari Doa Bapa Kami.[21]
2. Paulus
Paulus dalam surat-suratnya Paulus menuliskan tentang eskatologi berdasar kepada kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang dianggap dan dimaklumi sebagai peristiwa-peristiwa yang paling besar peranannya dalam proses eskatologis yang sedang berlangsung (bnd. 1 Kor.15:3-4), yang sekaligus juga merupakan kejadian pokok yang menyatakan kegiatan Allah pada zaman akhir ini.[22] Paulus setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus, lewat tulisannya memperlihatkan kekuatan Injil di masa penantian (apokaliptik). Yang pertama, ia memfokuskan kepada peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus yang telah memberi harapan yang baru kepada dunia. Masa depan tersebut berpuncak pada pemerintahan Allah sebagai masa yang akan membawa ciptaan-Nya kepada kemuliaan seperti yang sudah dijanjikan-Nya. Kedua, pemberitaan Injil oleh Paulus menyesuaikan dengan berbagai bentuk apokaliptik. Paulus dalam hal ini mampu memberitakan Injil kedatangan Kristus menjadi lebih konkret dan secara partikular menurut kehidupan masyarakat. Paulus juga memampukan orang Kristen untuk melihat dan sekaligus berkorban dalam rangka menyambut sinar kemuliaan dan datangnya kerajaan yang baru tersebut.[23]
2.6.Janji Kedatangan Mesias dalam Tinjauan Sistematika
Istilah ini menunjuk pada Roma 10:4 yang menyatakan “Sebab Kristus adalah kegenapan Hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”. Charles C. Ryrie memberikan penjelasan tentang ayat tersebut, ia menyatakan kesudahan ataupun tujuan. Dengan kata lain Kristus telah menggenapi hukum Taurat, atau tujuan kedatangan Kristus untuk menggenapi hukum Taurat (Maz 5:17). Meskipun benar bahwa Tuhan Yesus mengenapi hukum Tuaurart tetapi bangain ini tidak mengajarkan hal tersebut, yang diajarkan adadlah bahwa Ia telah menggenapi hukum Taurat dan menyediakan cara Hidup yang baru kepada Allah.[24]Yesus Kristus yang ditulis dalam Alkitab untuk menggambarkan pribadi dan karya Yesus Kristus dan untuk membedakan Yesus Kristus dari orang lain. Mesias digunakan untuk menggambar pribadi dan karya Yesus Kristus.[25]
2.7.Janji Kedatangan Mesias dalam Tinjauan Historika
Pada tahun-tahun awal, agama Kristen secara luas dilihat sebagai satu paham pemikiran dalam Yudaisme. Bagi Bapa Gereja (Augustinus ) kitab Ibrani itu sendiri menunjukkan bahwa Hukum Musa akan berakhir dengan kedatangan mesias dan bahwa Hukum Musa akan berakhir dengan kedatangan Mesias dan bahwa kebenarannya secara historis. Orang-orang Yahudi yang maish terus menjalankan aturan-aturannya adalah orang-orang yang secara spiritual buta, mementingkan diri sendiri, ‘mementingkan jasmani’. Mereka telahmengalami kemunduran sehingga mereka sendiri tidak hanya menolak penyelamatan yang ditawarkan oleh Yesus, tetapi juga telah melakukan pekerjaan-pekerjaan setan dengan menolak dan meyalinkanNya. [26]
Janji kedatangan Mesias (Kej 3:15 digenapi dalam Gal 4:4), yaitu melalui seorang dara (Yes 17:14), daftar silsilahNya (Kej 49:10; 2 Sam 7:16 digenapi dalam Mat 1:1, Luk 3:23) dan tempat kelahiranNya (Mik 5:2 digenapi dalam Luk 2:4-7). Penyambut Mesias yang masuk ke Yerusalem dengan menunggang keledai muda dinubuatkamn dalam PL dalam Zakharia 9:9 yang digenapi dalam Markus 19:35-38. PelayananNya (Maz 69:8-10, Yes 9:1-2) digenapi dalam Mat 4:14-16, dituliakn Ia adalah nabi yang akan datang (Ul 18:15,18,19 di genapi Kis 3:20), Ia akan brtugas sebagai seorang imam (Mazm 110:4 digenapi dalam Ibr 5:5,6), Ia akan menjadi domba paskah (Kel 12:46 digenapi dalam Yoh 19:36).[27]
2.8.Janji Kedatangan Mesias dalam Tinjauan Praktika
Dalam kitab Injil ada dikatakan bahwa Mesias menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari Yang menentukan waktu penuaian ialah kedatangan Mesias. Oleh kedatanganNya itu mulailah waktu penuaian, dimana menurut murid-murid mengumpulkan tuaia dari apa yang tidak mereka tabor. Yesus adalah penabur dan murid-muridnyaadalah penuai-penuai. Sama-sama mereka bersukacitakarena tuaian yang sedang menanti.[28]
2.9.Janji Kedatangan Mesias dalam Tinjauan Ilmu Agama
2.9.1. Agama Islam
Dalam Islam konsep Mesianik ada dalam pemahaman mengenai Nabi Isa yang akan datang menjelang hari pembalasan untuk mengalahkan al-masikh ad-Dajjal. Pemahaman ini tidak terdapat di dalam Quran, melainkan bersumber dari al-hadist. Dahulu Nabi Isa belum mati sebab Allah SWT mengangkat dirinya ke langit (syurga belum mati hingga sekarang) ketika orang-orang/masyarakat pada saat ini menyalibkan dengan menggantinya pada orang yang diserupakan, sehingga Nabi Isa akan diturunkan kembali ke dunia sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana.[29]
2.9.2. Agama Budha
Mesias adalah berarti diurapi oleh Tuhan, di dalam ajaran Buddha dijelaskan bahwa Buddha adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang telah mencapai kesempurnaan perbuatan dan pandangan hidup yang diperoleh dari hasil perjuangan sendiri dalam berjuta bahkan ber miliaran kali kelahiran untuk menyempurnakan paramittaaNya. Buddha bukanlah Tuhan dan bukan pula utusan Tuhan, Beliau adalah seorang yang telah sadar sepenuhnya terhadap masalah-masalah kehidupan.
2.10. Janji Kedatangan Mesias di Tengah Kehidupan Umat Allah yang Mengalami Krisis Global
Kita sedang hidup dalam era global dan plural. Memang harus diakui bahwa dimensidimensi globalisasi tersebut menunjukkan adanya kemajuan kualitas kehidupan manusia. Namun secara simultan, arus globalisasi juga telah menciptakan kesenjangan multidimensional berskala global. Pada gilirannya kesenjangan tersebut memicu berbagai konflik yang berbasis pada sektor lainnya, yaitu: politik, sosial, agama, dan ras. Karena itu, David C. Korten menyimpulkan bahwa sejak dekade 1980-an masyarakat dunia mengalami tiga krisis global yaitu,“kemiskinan, degradasi lingkungan hidup dan tindak kekerasan (disintegrasi) sosial.”[30]
1. Krisis ‘Kemiskinan’
Krisis ‘kemiskinan’ ada di semua negara di seluruh dunia. Tidak ada satu negara pun yang tingkat kemiskinannya 0%. Dalam konteks Indonesia saja krisis ekonomi ditandai dengan fakta kemiskinan dan persoalan yang mengikutinya. Tingkat kemiskinan di Indonesia telah mencapai 11.2% atau terdapat 28,59 juta masyarakat miskin. Secara moral, frekuensi perceraian mencapai 40 kasus per jam. Selain itu, 80% pasangan suami-isteri disebut sedang dalam keadaan “seperti api dalam sekam”. Artinya, 80% pasangan suami-isteri sedang dalam tahap hubungan yang bermasalah, riskan dan berpotensi pada terjadinya perceraian. Bahkan data dunia menyebutkan bahwa peringkat Sepuluh besar tingkat perceraian tertinggi justru terjadi di negara-negara Kristen. Ditambah lagi, hingga tahun 2013 saja sudah terjadi Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sebanyak 11.719 kasus. Sedangkan pengguna narkoba di tahun 2015 telah mencapai 5,8 juta jiwa. Berbarengan dengan itu, setidaknya terdapat 64% dari pekerja di Indonesia yang mengalami stress.
2. Krisis degradasi lingkungan hidup
Dunia juga sedang mengalami krisis ‘degradasi lingkungan hidup’ yaitu penurunan kualitas lingkungan hidup. Terutama lingkungan tinggal manusia yang semakin terancam oleh atmosfir yang buruk. Isu lingkungan paling santer adalah mengenai ‘pemanasan global’ (global warming) dan Krisis Iklim (climate crisis). Global Warming adalah peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi. Pemanasan global terjadi sebagai akibat dari ulah manusia yang menggunakan ‘gas rumah kaca’ yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern, peternakan dan pembangkit tenaga listrik. Akibatnya, es di kutup Utara dan Selatan mencair dan akan habis pada tahun 2040 sampai 2100. Mencairnya es di kutub membuat permukaan air laut naik hingga 7 meter. Terjadi perubahan iklim atau cuaca yang semakin ekstrim. Gelombang panas akan semakin ganas. Suhu kota dapat mencapai 48 derajad Celcius. Sumber air bersih dunia akan habis. Gas Methana beku juga mencair yang 23 kali lebih ganas dari CO2. Cara penanggulangannya ada tiga, yaitu: 1). Berhenti atau kurangi makan daging, 2). Batasilah emisi Karbon Dioksida, 3). Tanamlah lebih banyak pohon.[31]
3. Krisis ‘sosial’
Krisis yang ketiga adalah disintegrasi sosial. Menurut Felix Wilfred, proses globalisasi memang menghasilkan disintegrasi umat manusia. Menurutnya,“secara progresif orangorang dan kelompok-kelompok akan diposisikan berdasarkan partisipasinya secara penuh dalam sumber alam, dan mengeluarkan orang dari komunitas, kekuasaan serta kebebasannya.”[32]
Kedatangan Yesus ternyata sudah dinubuatkan jauh-jauh hari sebelum Ia dilahirkan oleh Maria disebuah kandang yang sederhana di sebuah dusun yang bernama Betlehem. 1Ada banyak nabi-nabi yang menubuatkan kelahiran Yesus yang sangat fenomenal dan salah satu dari nabi-nabi tersebut adalah nabi Yesaya. Nubuatan nabi Yesaya tentang kelahiran bayi Yesus terjadi tatkala bangsa Israel berada dalam masa-masa yang sulit dan mereka seakan hidup ditengah-tengah kondisi yang penuh dengan kegelapan. Saat itu bangsa Israel sedang berada didalam pembuangan diamana mereka dijajah dan ditindas oleh bangsa lain. Bangsa Israel hidup tanpa memiliki harapan tentang masa depan. Masa depan mereka sangat suram bahkan cenderung gelap. Didalam situasi dan kondisi seperti ini mereka menantikan munculnya secercah harapan bagi pemulihan kondisi mereka. Mereka sungguh menanti-nantikan hadirnya terang dari surga yang akan mengubah masa depan suram menjadi masa depan yang penuh harapan. Ternyata jeritan jiwa dan doa mereka terjawab. Melalui nabi Yesaya, Allah menyampaikan kabar sukacita yang ditunggu-tungguh oleh umat Israel yaitu hadirnya seorang penolong yang akan membebaskan mereka dari belenggu kegelapan hidup ditengah-tengah masa pembuangan. Penolong yang dijanjikan adalah seorang bayi laki-laki yang akan dilahirkan oleh seorang perawan. Bayi laki-laki yang dijanjikan bukanlah sembarang bayi yang sama dengan bayi-bayi yang ada didalam dunia ini. Bayi laki-laki yang akan lahir adalah bayi yang lain daripada yang lain karena sebenarnya ia adalah manusia ilahi yang artinya bahwa bayi tersebut sejatinya adalah Allah yang menjadi manusia.[33]
a. Yesus sang bayi yang dinubuatkan kelahirannya oleh nabi Yesaya disebut sebagai Penasehat yang Ajaib. Penasehat merujuk kepada konselor yaitu seseorang yang pekerjaannya memberikan nasehat bagi orang-orang yang datang kepadanya (konseli)dengan membawa berbagai macam permasalahan hidup yang mereka hadapi. Yesus disebut sebagai Penasehat yang Ajaib juga berarti bahwa Ia mau dan mampu untuk menanggung beban yang berat yang sedang menindih umat manusia. Hal ini terbukti dengan ajakan dan tawaran Yesus kepada manusia,‖Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu‖3 Dengan kata lain bahwa Yesus sanggup membebaskan manusia dari segala macam belenggu yang melilit hidupnya. Krisis global menyebabkan banyak orang mengalami stress, depresi dan gangguan jiwa. Banyak insan manusia yang hidupnya remuk redam dan hancur berantakan karena hantaman badai krisis global yang sangat kuat. Akibatnya tidak sedikit orang yang tidak mampu lagi menghadapi tekanan hidup dan mengambil jalan pintas dengan melakukan bunuh diri. Didalam dunia ini tidak ada seorangpun yang sanggup memberikan pertolongan yang sempurna dan menyeluruh. Konselor-konselor didalam dunia hanya memiliki kemampuan untuk memahami pergumulan dan perasaan konselinya secara dangkal. Selain daripada itu konselor didalam dunia juga tidak akan mau dan mampu menanggung beban serta pergumulan yang dihadapi oleh konselinya. Yesus, Sang Penasehat Ajaib, adalah satu-satunya jawaban bagi segala persoalan dunia. Yesus sanggup memberi kekuatan bagi yang lemah, member kemenangan bagi mereka yang menyerah dan memberi gairah kehidupan bagi mereka yang patah semangat
b. Yesus sang Mesias yang dijanjikan juga disebut sebagai Allah Yang Perkasa. Allah Yang Perkasa.[34] Dalam krisis dunia global ini iblis menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk membujuk manusia masuk kedalam perangkap dosa. Ditengah-tengah hidup yang serba sulit ini iblis menawarkan gaya hidup Hedonisme untuk membuat manusia lupa akan kesulitan hidup yang dihadapi. Ketika manusia mengedepankan kesenangan diatas segala-galanya. Manusia boleh melakukan apa saja dalam hidup ini yang penting menyenangkan. Manusia tidak peduli apa yang dilakukan akan merugikan diri sendiri atau orang lain.
Yesus datang kedalam dunia untuk menjadi pahlawan bagi manusia yang tidak berdaya melawan kejahatan. Yesuslah satu-satunya pribadi yang mampu memadamkan krisis dalam diri manusia. memiliki hubungan yang intim dengan Yesus melalui berdoa dan membaca Alkitab dalam saat teduh setiap hari. Dekat dengan Yesus juga berarti hidup selalu takut akan Tuhan dengan selalu mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dengan demikian maka iblis akan gentar dan lari dari hadapan orang yang dekat dengan Yesus.
4. Analisa Penyeminar
Membahas mengenai Mesias maka tidak terlepas dari janji kedatanganNya. janji kedatangan Mesias adalah suatu pengharapan dimana Allah member kasih karunia kepad aabngsa Israel sejak bangsa itu diciptakan sampai kepada keselamatan yang akan datang. Mesias adalah sosok yang dapat memebbaskan umatnya dari Penderitaan dan akan memebrikan keadilan terhadap umatnya. Sebab itu Tuhaan sendirilah yang akan melindungi, memebrkarti dna juga memberikan ekhidupan kepada setiap ciptaannya. Seperti dalam Yesaya 7:14 “sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu pertanda: bahwa sesungguhnya akan lahir seorang anak laki-laki san ia akan menamainya Imanuel, Allah sendiri akan menrerytaio Israel untuk melepaskaan bangsa itu”. yesus sebagai yang diutus dan diurapi akan menjadi juruselamnat bagi manusia.
Krisis global dengan segala dampaknya akan terus bergulir didalam dunia ini. Manusia tidak akan sanggup menghentikan krisis global. Yesus sebagai Mesias diutus untuk menyelamatkan manusia. Manusia tidak akan bisa menghindar dan melarikan diri dari krisis global. Manusia juga tidak akan mampu bertahan untuk menghadapi krisis global dengan kekuatannya sendiri. Manusia membutuhkan Yesus agar bisa tetap berdiri tegap dan kokoh menghadapi terpaan angin krisis global. Yesus adalah satusatunya jawaban bagi segala persoalan yang dihadapi oleh seluruh umat manusia didalam dunia yang ditimbulkan oleh krisis global.
III. Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Mesias adalah yang dijanjikan kedatanganNya sebagai juruselamat manusia. Ia adalah yang diruapi dan berkuasa penuh untuk kehidupan mansuia. Mesias adalah Raja yang kedatangannya ditunggu untuk membasakan manusia dari perbudakan. Dalam Perjanjian Lama Mesais di nubuatkan untuk datang dan Kelahiran Yesus sebagai penggenapan nubutannya. Dalam dunia Perjanjian Lama sangat menhrapakan kedatangannya dari ketertindasan jasmani dan seorang Raja akan berkuasa atas manusia. kedatangan Mesias sebagai keadatangn Tuhan Yesus untuk [enggenapan janji Tuhan dalam kebangkirtan, pengangkatan, perubahan. Peristiwa pengharapan orang Krsiten merupakan awal dari puncak penggenapan Allah.
IV. Daftar Pustaka
…..Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 2 M-Z Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2011.
Artur Wm, The Messianic Hope ,Mixhingan: Baker Book House, 1975.
C. Barth, Teologi Perjanjian Lama ,Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 1980.
C. Groenen, Sejarah Dogmatika Kristologi, Yogyakarta: kanisius, 2003.
Charles C. Ryrie, Teologi Dasar II Yogyakarta: Andi Offset, 2010.
Darmawijaya, Jiwa dan Semangat perjanjian Lama 2,Yogyakarta: Kanisius, 1992.
David C. Korten, Menuju Abad ke-21, Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001.
Felix Wilfred, “Religions Face to Face with Globalization” dalam Jurnal of Theologies and Cultures in Asia (JTCA), Vol. 2, 2003.
George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru Jilid I , Bandung:IKAPI, 2020.
hiduplebihmulia.wordpress.com
I.H. Marshall, The Origins of the New Testament Christology,USA: Downers Crove, 1976.
Ichwei G. Indra, Teologi Sistematika, Bandung:IKAPI, 1999.
J.D Douglas, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid (A-L), Amerika Serikat:Tyndale House Publisher, 1982.
J.L Ch Abineno , Yesus Sang Mesias dan Sang Anak, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990.
James Montgomery Boice, Foundations of the Christan Faith, Downers Grove: Inter Varsity Press, 1986.
Johan Christiaan Beker, Paul’s Apocalyptic Gospel: The Coming Triumph of God , USA: Fortress Press 1987.
John N. Oswalt, The NICOT: The Bok Of Isaiah Chapter 1-39, Grand rapids: W.B. Eerdmans Publishing Company, 1986.
Karl Barth, Church Dogmatics volum IV , Edinburgh: T&T Clark, 1960.
Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka 1999.
R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, BPK GM, Jakarta, 2006 .
S.M. Siahaan, Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991.
Seybold, “Masah” dalam Theological Dictionary of The Old Testement Volume IX ,Michigan: William. B. Edimanus Publishing Company, 1974.
Trivena Ambarsari, Doktrin Kristus Surabaya: Momentum, 2011.
Ulrich Beyer, Garis-garis Besar Eskatologi Dalam Perjanjian Baru. (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2000.
V. M. Siringoringo, Teologi Perjanjian Lama, Yogyakarta: Andi, 2013.
W.S Lasor, dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2, BPK GM, Jakarta, 2004.
[1] Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka 1999), 420
[2] J.D Douglas, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid (A-L) (Amerika Serikat:Tyndale House Publisher, 1982), 479-180
[3] V. M. Siringoringo, Teologi Perjanjian Lama ( Yogyakarta: Andi, 2013), 48-49
[4] Seybold, “Masah” dalam Theological Dictionary of The Old Testement Volume IX (Michigan: William. B. Edimanus Publishing Company, 1974), 44
[5] C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama (Yogyakarta: Kanisius, 1980), 80
[6] S.M. Siahaan, Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991),3-4
[7] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru Jilid I (Bandung:IKAPI, 2020), 177
[8] Darmawijaya, Gelar-gelar Yesus 81-82
[9] C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Lama , 13
[10] J.L Ch Abineno , Yesus Sang Mesias dan Sang Anak (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990), 3-5
[11] …..Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 2 M-Z (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2011), 63-64
[12] Darmawijaya, Gelar-gelar Yesus (Jakarta: Kanisius 2003), 79-80
[13] R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, BPK GM, Jakarta, 2006 : hlm. 254
[14] W.S Lasor, dkk, Pengantar Perjanjian Lama 2, BPK GM, Jakarta, 2004 : hlm. 410
[15] C. Barth, Teologi Perjanjian Lama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 59
[16] Darmawijaya, Jiwa dan Semangat perjanjian Lama 2(Yogyakarta: Kanisius, 1992), 4-5
[17] Darmawijaya, Gelar-gelar Yesus , 85-86
[18] Artur Wm, The Messianic Hope (Mixhingan: Baker Book House, 1975), 26-27
[19] S.M. Siahaan, Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama 26-27
[20] I.H. Marshall, The Origins of the New Testament Christology (USA: Downers Crove, 1976),63
[21] Ulrich Beyer, Garis-garis Besar Eskatologi Dalam Perjanjian Baru. (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2000), 7
[22] Ulrich Beyer, Garis-garis Besar Eskatologi Dalam Perjanjian Baru, 21
[23] Johan Christiaan Beker, Paul’s Apocalyptic Gospel: The Coming Triumph of God ( USA: Fortress Press 1987), 29
[24] Charles C. Ryrie, Teologi Dasar II (Yogyakarta: Andi Offset, 2010), 52
[25] Ichwei G. Indra, Teologi Sistematika, (Bandung:IKAPI, 1999), 149
[26] Google book 48
[27] Trivena Ambarsari, Doktrin Kristus (Surabaya: Momentum, 2011), 11
[28] J.L.Ch. Abineno,Yesus sang Mesias dan Sang Anak (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1999), 78
[29] Jhon Iskandar, Antichrist in Encylopedia of Islam (New York: Facts on File, 2009), 30
[30] David C. Korten, Menuju Abad ke-21 (Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001), 165
[31] hiduplebihmulia.wordpress.com
[32] Felix Wilfred, “Religions Face to Face with Globalization” dalam Jurnal of Theologies and Cultures in Asia (JTCA), Vol. 2, 2003), 32
[33] James Montgomery Boice, Foundations of the Christan Faith, (Downers Grove: Inter Varsity Press, 1986), 267.
[34] John N. Oswalt, The NICOT: The Bok Of Isaiah Chapter 1-39, (Grand rapids: W.B. Eerdmans Publishing Company, 1986), 247.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar