Jumat, 16 April 2021

Menjelaskan arti dan makna bencana Alam dari pandemic Global dari tinjauan PL

 


Menjelaskan arti dan makna bencana Alam dari pandemic Global dari tinjauan PL,Biblika, Sistematika, Historika, Ilmu agama-agama, Agama Suku, diperhadapkan Wabah Covid-19

 

I.                   Latar Belakang Masalah

Alam atau lingkungan merupakan bagian yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. karena alam itulah tempat tinggal umat manusia dan alam berperan menentukan kwalitas hidup manusia. Dari sini dapat dilihat bahwa alam itu sangat vital terhadap kelangsungan hidup manusia. Namun, masalah alam ini sampai sekarang masih menjadi trending topik apalagi akhir-akhir ini. Tanpa penanganan dan usaha-usaha yang berkesinambungan yang dilakukan oleh manusia untuk menuntaskan masalah ini. Akibat dari usaha yang belum dilakukan ini banyak yang menjadi korban dari kerusakan yang dilakukan oleh manusia. Menurut Purnomo bencana alam adalah situasi yang kedatangannya tidak terduga sebelumnya, dimana dalam kondisi itu bisa terjadi kerusakan, kematian bagi manusia atau benda-benda maupun rumah serta segala perabot yang kita miliki dan tidak menutup kemungkinan juga hewan dan tumbuh-tumbuhan juga untuk mati. Bencana dapat terjadi melalui suatu proses yang panjang atau situasi tertentu dalam waktu yang sangat cepat tanpa adanya tanda-tanda. Bencana alam sering menimbulkan kepanikan yang berkepanjangan, seperti: luka, kematian, tekanan ekonomi akibat hilangnya usaha atau pekerjaan dan kekayaan harta benda, kehilangan anggota keluarga serta kerusakan infrastruktur dan lingkungan.[1]

 

II.                Pembahasan

2.1. Pengertian Alam secara Umum

Pengertian alam sering disejajarkan Istilah Ekologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, (Oikos) yang artinya rumah atau tempat hidup. Dan (Logos) yang berati ilmu atau sering juga diartikan dengan firman. Secara harafiah ekologi adalah pengkajian organisme-organisme “di rumah”. Maksud tentang rumah disini adalah alam  dengan isinya, baik makluk hidup maupun benda tidak hidup selalu berhubungan. Selain itu, ekologi dipahami sebagai ilmu tentang keseluruhan ilmu organisme di kawasan lingkungan hidupnya, ilmu tentang tatanan dan fungsi alam atau kelompok organisme yang ditemukan dalam alam dan interaksi diantara mereka.[2] Ekologi sebagai ilmu berarti pengetahuan tentang lingkungan hidup atau planet bumi ini sebagai keseluruhan. Bumi dianggap rumah kediaman manusia dan seluruh makluk dan benda fisik lainnya. Jadi lingkungan hidup harus dipahami dalam arti oikos, yaitu planet bumi ini. sebagai oikos, bumi ini mempunyai dua fungsi yang sangat penting, yaitu sebagai tempat kediaman dan sebagai sumber kehidupan.[3] Kata ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Ernest Haeckal, ahli biologi Jerman pada tahun 1866.[4] Kerusakan lingkungan atau alam merupakan wujud nyata dari keserakahan manusia. Ibarat bagi tempayan yang berlubang dasarnya, sebanyak apapun diisi oleh air, tempayan itu tak akan pernah penuh. Begitu hasrat manusia akan harta dan kekayaan. Semakin manusia mencari harta duniawi ini maka semakin harus pulalah dia akan harta duniawi ini. ketika hasrat itu telah menjemur dalam hati manusia, hati dan pikirannya pun hanya berfokus pada pemenuhan hasrat mereka itu. Tak peduli kerugian apa yang mereka timbulkan bagi orang lain, yang mereka perdulikan hanyalah bagaimana caranya agar kekayaan mereka bisa bertambah. Penjajahan terhadap alam yang dilakukan manusia ini. Membuat alam pun murka atas tindakan manusia ini.[5]

2.2. Pengertian bencana Alam

Bencana atau disaster secara etimologis berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu “dus” buruk dan ”aster” bintang. Istilah ini mengacu kepada fenomena astronomi yang berkonotasi pada sesuatu yang buruk.[6] Menurut KBBI bencana alam adalah kecelakaan yang disebabkan oleh alam seperti gempa bumi, angin besar, letusan gunung berapi, banjir dal ilain-lain.[7] Bencana alam ini dapat menyebabkan (menimbulkan) kesusahan kerugian atau penderitaan, malapetaka, maeabahaya bagi orang yang mengalaminya. Istilah bencana alam seringkali dipahami bencana yang diakibatkan alam. Jadi, segala hal yang sifatnya berkaitan dengan bencana terhadap manusia karena alam dipahami bencana alam. Bencana alam merupakan peristiwa alam yang bersifat tunggal atau bisa lebih dari satu peristiwa yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan. Contoh bencana alam yang bersifat tunggal adalah bencana gunung meletus, bencana angin puting beliung, atau bencana gelombang pasang yang terjadi dalam waktu dan tempat yang berbeda. Terjadinya bencana alam tidak dapat diprediksi, tetapi manusia mampu mengurangi resiko yang ditimbulkan bencana tersebut. untuk mengurangi resiko bencana, manusia perlu mengetahui jenis dan karakteristiknya dari bencana alam tersebut. terjadinya bencana disebabkan oleh adanya pertemuan antara bahaya dan kerentanan sehingga menghasilkan resiko bencana. Resiko bencana dapat atau tidak dapat menjadi bencana bergantung dari unsur kerentanan (masyarakat yang berpotensi kena bencana).[8]Terjadinya bencana alam disebabkan oleh adanya pertemuan antara bahaya dengan kerentanan sehingga menghasilkan resiko bencana. Risiko bencana dapat atau tidak dapat menjadi bencana tergantung dari unsur kerentanan. Jika unsur kerentanan mengenal karakterisrtik bencana dan mampu menghadapi maka tidak akan menjadi bencana. Sebaliknya jika unsur kerentanan tidak mengenal karakteristik bencana dan tidak siap siaga menghadapi bencana maka akan menjadi bencana.[9]

 

2.3. Bencana Alam Dalam PL

 Dalam perjanjian lama peristiwa bencana alam, unsur-unsur, jenis-jenis, bentuk, merupakan karya Allah, yang melaluinya dapat dimaknai kesaksian alam tentang kuasa serta kemegahan Illahi. Allah bukan hanya pencipta, tetapi juga terus-menerus bertindak, memelihara, memerintah, membaharui dan menopang ciptaan-Nya. Alam semesta memiliki tatanan dan kelangsungannya. Dan semua itu terbuka dihadapan Allah. Dia berdaulat penuh mengatur tatanan itu menurut kehendaknya sendiri. Bencana alam terjadi di bawah kekuasaan Allah. Bencana meletusnya gunug merapi tidak terdapat secara spesifik dalam Alkitab.[10]

 

2.4. Bencana Alam Dalam PB

Dalam perjanjian baru salah satunya jga sebagai contoh yang diambil oleh penulis mengenai bencana alam adalah Gempa bumi. Kata gempa didalam perjanjian baru disebut dengan Seismos yang berati goncangan gempa. [11] pengertian Gempa dalam perjanjian baru ini sering diarahkan pada pemahaman kedatangan akhir zaman (2 Pet 3:3-10). Hal ini dikatakan dengan perkataan Rasul Petrus tentang catasrope yang akan dialami bumi yaitu penciptaan; banjir besar zaman Nuh, hangusnya bumu pada akhir zaman.[12] Akan tetapi Alkitab sama sekali tidak mengarahkan kita untuk memandang kepada tanda-tanda itu, yakni bahwa Allah senantiasa bekerja memeliharan-Nya terhadap alam semesta ini selalu dinyatakan kepada kita dengan berbagai fenomena-fenomena alam.[13]

 

2.5. Faktor- faktor Bencana Alam

2.5.1.      Bencana Alam Yang Terjadi Secara Alami

Bencana alam dapat terjadi karena faktor alam itu sendiri maupun karena ulah manusia. bencana alam karena faktor alam terjadi murni karena berbagai proses yang terjadi di alam tanpa sedikitpun manusia terlibat didalamnya. Kejadian merupakan yang mengikuti alam tersebut. Banjir, Gempa bumi, tanah longsor, gunung meletus, dan sebagainya merupakan bencana-bencana yang terjadi secara alamiah. Bencana tersebut tidak dapat kita tolak, namun dapat dihindari. Namun seperti banjir dan tanah longsor kebanyakan karena dari ulah manusia. Sebab sudah banyak alat canggih yang dapat mendeteksi kemungkinan datangnya bencana-bencana tersebut, sehingga bisa menekan jumlah korban jiwa, meskipun demikian acak kali kerugian materi atau harta benda tidak dapat dihindari. Tidak seorangpun yang bisa melakukan hal itu (meskipun kadang-kadang karena kesalahan dan ulah manusia yang menebang hutan secara bebas sehingga mengakibatkan banjir dan tanah longsor). Takkala musibah itu terjadi, apa yang akan kita lakukan? Apakah marah ketika mengungsi atau menyalahkan Tuhan, menyerah atau berserah.[14]

 

2.5.2.      Bencana Alam yang terjadi Karena Ulah Manusia

Sejak dulu, sebelum manusia tersebar seperti saat ini bencana alam juga terjadi. Namun pada saat itu, bencana alam benar-benar murni karena faktor dan proses yang terjadi di alam. Sebagai contoh banjir pada jaman dulu terjadi karena tingginya curah hujan yang tidak mampu lagi ditampung oleh badan sungai. Saat ini banyak pula bencana alam terjadi karena ulah dari manusia. Bencana banjir yang dulunya terjadi karena tingginya curah hujan, kini lebih sering terjadi karena ulah manusia yang menebang kayu secara sembarangan, sehingga hutan menjadi gundul dan tidak mampu menyerab air. Ulah manusia itu bahkan cenderung dominan, sehingga bencana lebih sering terjadi. Akibat hal ini juga menjadi salah satu sebab terjadinya bencana tanah longsor.[15]  Bencana yang disebabkan oleh ulah manusia seperti pembakaran, hura-hara, pembunuhan, terorisme dan sebagainya jelas dilakukan dengan matsud yang jahat. Dimana korban sering kali memiliki perasaan terluka dan dendam yang membara terhadap pelaku. Bencana alam oleh karena kesalahan dan ulah manusia yaitu menebang hutan di hulu dengan bebas maka akan mengakibatkan tidak ada lagi tempat air, maka airpun meluap. Dua ini mempunyai dampak kepada orang yang mengalami bencana alam tersebut. dimana tangus dan penderitaan selalu hadir ketika bencana alam datang dalam segala bentuknya, tetapi tangis itu memiliki makna yang berbeda. Tangis yang pertama adalah tangis ketidak-berdayaan manusia diperhadapakan dengan kekuatan alam yang luar biasa. Tangis yang kedua adalah kekecewaan karena perbuatan manusia yang tidak peduli lagi akan sesamanya.[16]

Bencana Alam yang disebabkan oleh Manusia:

Ø  Banjir

Banjir terjadi karena kebanyakan ulah manusia. Hutan yang begitu sangat penting bagi kehidupan di muka bumi, terutama bagi generasi masa mendatang dilakukan pengelolaan yang tidak tepat sehingga mengakibatkan banjir.[17] Sebenarmya jika hutan dikelola dengan baik maka ia akan membuat dampak yang baik bagi kelangsungan hidup manusia. namun pada prakteknya yang terjadi perambatan hutan yang tidak bertanggunjawab. Masalah ini adalah masalah serius yang dapat mengancam bumi. Akibat perambatan hutan yang tidak bertangunjawab erosi tanah semain cepat dan banjir adalah konsikuensinya, yang berakibat kepunahan berbagai ekosistem alam, dan tidak hanya banjir namun dapat mengakibatkan pemanasan Global (global warning).[18]

Ø  Tanah Longsor

Tragedi tanah longsor ini sering menimbulkan banyak korban jiwa. Tanah longsor adalah tanah yang turun dari tempat tinggi ketempat yang lebih rendah. Tanah longsor juga sering menyebabkan batu, pohon, pasir dan barang yang berada di tebing terbawa dan menghancurkan setiap pemukiman yang ada dibawahnya. Hal ini menyebabkan bencana ini sering banyak memakan korban. Longsor juga sering terjadi akibat dari ulah manusia yang serakah dan menebang pohon sembarangan tanpa memperhatikan lingkungan sekitar.[19] Menurut Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) penyebab longsor yang terjadi di Sukajaya kabupaten Bogor Jawa Barat persoalannya adalah berhubungan dengan masalah tambang, kedua ilegal loging kemudian alih fumgsi disebabkan untuk perkebunan. Akibat dari perbuatan ini hujan lebat yang terjadi pula mengakibatkan beberapa titik longsor dan terjadi juga banjir bandang di Kabupaten Bogor terutama Kecamatan Sukajaya.[20]

Ø  Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan merupakan bencana alam yang sangat merusak ke aneka ragaman hayati. Bukan hanya hutan yang rusak tetapi hewan-hewan pun menjadi kehilangan habitat mereka. Dahulu kegiatan membakar hutan adalah metode praktis untuk membuka lahan. Kasus yang paling heboh yaitu kebakaran htan pada tahun 2019 silam yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Kebakaran di Indonesia dipic oleh petani yang membuka lahan, membakar sebidang hutan yang tersebar di lebih 4.000 km. Daerah paling parah terkena dampaknya adalah pulau sumatera dan Kalimantan. Yang mengakibatkan kekeringan yang berkepanjangan dan menyebabkan penyakit pernapasana karena asap yang tebal terjadinya pemanasan Global karena asap yang membunbung tinggi ke udara.[21]

2.6. Pengertian Pandemic Global secara umum

Pandemi global secara umum adalah sesuatu wabah penyakit global yang menyebabkan keresahaan masyarakat. Menurut WHO Pandemi dinyatakan ketika penyakit baru menyebar keseluruh dunia melampaui batas. Istilah Pandemi Menurut KBBI dimaknai sebagai wabah yang berjangkit serempak dimana-mana meliputi daerah geografi yang luas.[22]

 

2.7. Tinjauan arti dan makna bencana alam dari pandemic global

2.7.1.      Bencana Alam ditinjau dari Biblika

Dalam Kejadian 1:28, Allah memerintahkan kepada manusia untuk menguasai seluruh isi bumi mulai dari ikan-ikan dilaut burung-burung diudara dan segala binatang yang merayap. Dalam ayat ke-29 Allah juga telah mengaruniakan segala tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan untuk dikelola dan dipelihara oleh manusia. Karena ini adalah sumber makanan bagi manusia.[23] Dalam kedua ayat ini dapat kita lihat bagaimana Allah memberikan secara cuma-cuma kepada manusia untuk diusahakan dan dikelola dengan baik dan benar. Sehingga alam itu menjadi sahabat yang baik bagi manusia dan memberikan sumber hidup bagi manusia. Namun, dalam prakteknya manusia justru menyalahgunakan kebebasan itu, manusia malah menyalahgunakan kepercayaan yang telah Allah limpahkan kepada manusia oleh hanya karena keegoisan manusia itu. Dalam Kejadian 2:15 Allah mengatakan agar manusia mengusahakan dan memelihara semua yang telah Allah ciptakan itu. Dari hal ini dapat dilihat bahwa melestarikan lingkungan, menjaga lingkungan, tidak serakah terhadap alam bukan hanya sekedar untuk manusia itu namun ini adalah mandat dari Allah. Menjalankan mandat Allah berarti beribadah kepadanya, beribadah kepada Allah, beribadah memanglah harus dilakukan karena kita adalah ciptaannya yang harus taat kepada penciptanya. Alam adalah sumber kehidupan manusia, dari alam lah manusia memperoleh segala sesuatu yang ada dalam hidupnya dan manusia dapat bertahan hidup dan melanjutkan kelangsungan hidupnya melalui alam ini. Dalam Kejadian 3 dengan jelas digambarkan bagaimana manusia itu telah merusak citra Allah yang melekat pada diri manusia sejak manusia jatuh kedalam Dosa (Kej. 1:26). Keserakahan dan keegoisan manusia itu telah membawa manusia sendiri kedalam penderitaan yang berkepanjangan selama hidupnya. Bukti nyata dari keserakahan manusi itu dapat dilihat dari pencemaran lingkungan, penebangan pohon-pohon, buang sampah atau limbah sembarangan, pembakaran hutan, mengakibatkan tanah longsor, banjir, polusi udara bahkan sudah menjadi pemanasan Global (Global Warning). Bencana-bencana alam ini semakin hari semakin sering terjadi karena ulah dan perilaku manusia yang serakah dan mementingkan kepentingannya sediri yang berakibat fatal terhadap kelangsungan hidup orang lain. Bencana alam dalam bahasa Inggris Natural disaster adalah suatu peristiwa alam yang mengakibatkan dampak besar bagi populasi manusia. Peristiwa alam dapat berupa banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, badai salju, kekeringan, hujan es, gelombang panas, hurikan, badai tropis, taifun, tornado, kebakaran liar dan wabah penyakit.  Beberapa bencana alam terjadi tidak secara alami. Contohnya adalah kelaparan, yaitu kekurangan bahan pangan dalam jumlah besar yang disebabkan oleh kombinasi faktor manusia dan alam.[24] Bencana adalah peristiwa atau kejadian yang berlebihan yang mengancam dan menganggu aktivitas normal kehidupan masyarakat. Secara umum bencana terjadi akibat perilaku perbuatan, pengaruh manusia maupun akibat anomali peristiwa alam.[25] Masih jelas kita mengingat bencana yang terjadi di danau toba pada bulan Juli tahun lalu. Yang memakan korban kurang lebih dari 164 orang yang mayatnya sampai sekarang belum ditemukan. Kita melihat kasus ini bahwa adalah akibat keserakahan manusia yang mengakibatkan banyak korban jiwa yang tidak berdosa menjadi korban. Karena banyaknya penumpang yang dimasukkan sehingga kapal tidak kuat menanggung bebannya. Dan juga alam yang tidak bersahabat pada waktu itu namun mereka tetap menjalankan kapal itu. Padahal sudah tak diberi izin berlayar karena cuaca yang tidak mendukung. Lalu kita melihat adanya keserakahan yang ada dalam diri manusia. Sehingga alam pun terlihat murka dan tidak suka terhadap perilaku manusia. jika kita melihat juga danau toba adalah danau yang sangat indah namun karena manusia danau toba dibuang sampah sembarangan bahkan keramba ikan yang merajalela, membuat danau ini jadi tercemar.  Kita juga bisa melihat kejadian tanah longsor yang terjadi baru-baru ini karena ulah manusia yang menebangi pohon-pohonan dengan sembarangan. Sehingga tanah sudah tidak kuat lagi menahannya dan mengakibatkan longsor. Sehingga menelan korban. Padahal ini adalah ulah oknum-oknum yang berusaha mengambil keuntungan. Lalu kita juga melihat gimana ibu kota Jakarta yang kerap sekali dikabarkan di Televisi dan yang lainnya yang mengalami banjir akibat banyaknya sampah dalam paret, bendungan yang jebol, dan juga tempat- tempat mengalirnya air menjadi tersumbat yang mengakibatkan banjir bandang. Sehingga banyak orang yang kehilangan rumahnya, penghasilannya yang menghidupinya. Kita juga telah mendengar baru-baru ini terjadi kebakaran hutan di Kertanegara daerah kalimantan. Dapat dilihat bagaimana hutan ini menjaga agar tidak terjadi pemanasan Global. Namun, karena ulah manusia mengakibatkan hutan yang begitu banyak mamfaatnya hangus terbakar. Bahkan juga bencana alam sering terjadi seperti baru-baru ini Tsunami yang terjadi di Lampung, yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa yang dimakan. Dan letusan-letusan gunung merapi yang ada di Indonesia khususnya sinabung yang tiada henti-hentinya membuat kekwatiran di masyarakat.[26] Bencana alam adalah bukti kealaman alam. Allah telah menciptakan segala sesuatunya indah, demikian teologi kristen. Cerita air bah (Kej. 6:1-9; 29), sebagai kerusakan alam yang pertama dinyatakan sebagai tindakan Allah sendiri yang menghancurkan manusia karena keberdosaannya. Kecenderungan manusia menjadi Allah bagi alam dan sesama seringkali mengoda manusia. ketamakan yang tertanam dalam diri manusia serijngkali menyebababkan (Kerusakan). Bukan karena kesilapan tetapi karena materalistis yang sudah tertanam dalam diri manusia yang mengerogoti cara berpikir manusia. Nilai-nilai manusia tidak dilihat lagi dalam rangka teologis, tetapi suda materalistis semata. Mengorbankan nyawa, harta orang lain tidak lagi menjadi pertimbangan primer ketika penebangan hutan marak dimana-mana, atau perluasan kota yang tidak memperhatikan keseimbangan alam.[27] Bencana-bencana alam yang terjadi diatas menjadi bukti nyata ada dan berkembangnya kerusakan yang dialami oleh Alam. [28] Walaupun bencana sering terjadi dimana-mana tidak membuat manusia lantas sadar dari keserakahannya terhadap alam namun manusia semakin marajela. Dari kasus ini dapat kita lihat apakah alam memang benar-benar telah bosan dengan kita. Dengan segala keserakahan yang manusia miliki sehingga sering terjadi bencana-bencana yang dahsyat yang memakan korban yang banyak. Seperti salah satu syair lagu mengatakan “mungkinkah Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang penuh dengan dosa-dasa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita”, hal ini sesuatu yang mungkin saja. Karena ketika kita melihat kasus air bah Allah memang benar-benar telah murka dengan tingkah laku manusia.[29]  Peristiwa gempa digambarkan sebagai tanda kehadiran Allah (Yes. 38:19). Pernyataan di atas ini tidak selalu dipahami sebagai kehadiran Allah, tetapi sering juga peristiwa gempa menandakan amarah Tuhan kepada umatnya (2 Samuel 22:8). Gempa dalam bahasa Ibrani disebut denga istilah ra’asy yang berarti suara, bergoncang, gemetar, berderak-deri, kegemparan (Yeh. 37:7;). Dalam 1 Raja-raja 19:11 peristiwa gempa ini menekankan sebagai lembaga kekuasaan Allah, Allah tidak selamanya datang di peristiwa yang menakutkan tetai Dia dapat hadir melalui angin sepoi-sepoi (1 Raj. 19:12).[30] Dalam perjanjian lama memberi kesimpulan bagi orang Israel bahwa setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka dan alam semesta ada kaitannya dengan kuasa dan campur tangan Allah (Maz. 104). Dalam hal ini tidak ada peristiwa yang terjadi tanpa sepengetahuan Allah, semua kejadian termasuk peristiwa letusan gunung merapi yang diawali dengan gempa di dunia ini adalah penguasaan Allah. Kuasa Allah masih tetap mengendalikan setiap bencana Alam dan Allah berkuasa atas semua kekuatan alam (Mzm. 47 :8), atas seluruh binatang buas (Ayb. 38-41) dan atas kejadian seluruh di dunia ini, yang besar dan kecil, dari badai topan (Ayb. 37; Mzm. 29), tulah-tulah sampai kematian seekor burung pipit sekalipun (bnd. Mat. 10:29).

Bencana alam menurut Perjanjian Baru bukanlah sestuatu yang baru atau aneh dalam kehiduan manusia. bencana alam paling tidak menurut Harold Kushner, seorang rabbi Yahudi adalah bagian dari kedalam alam. Artinya, tidak mungkin kita membayangkan sebuah alam yang bebas dari bencana seperti halnya juga penderitaan yang merupakan bagian dari keanusiannya manusia. inti pokok ajrannya tercantum dalam ayat 7 (Tetapi itu belum kesudahannya) juga merupakan kesimpulan utama tercantum dalam ayat 8 semua itu barulah permulaan dari penderitaan. Ungkapan itu sesuai dengan gambaran orag Yahudi mengenai “penderitaan  menjelang zaman Mesias. Tetapi juga ada unsur baru menurut orang Yahudi Yaitu “rasa sakit” itu sedikit banyak sama dengan semua bencana yang digambarkan disini, sedangkan menurut Yesus bencana itu “barulah permulaan”.[31] Peristiwa Yesus disalibkan, tabir Bait suci terbeah dua dari atas sampai kebawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukti-bukti batu terbelah, dan kubran-kuburan terbua dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang. Kepala pasukam dan prajurit-prajurit yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah”. Tabir bait suci terkoyak dari atas hingga bawah. Itulah tabir yang menutup ruang mahakudus; tidak seorangpun boleh menerobos lebih jauh dari tabir ini, kecuali imam besar pada hari pendamaian; itulah tabir yang di balikan berdiam Roh Allah. Disini terdapat simbolisme. Sampai saat ini Allah tersembunyi dan jauh, dan tidak seorang pun tahu seperti apakah Allah itu. Tetapi dalam kematian Yesus, kita melihat kasih Allah yang tersembunyi, dan jalan menuju hadirat Allah yang terkunci bagi semua manusia sekarang terbuka bagi semua.[32]

2.7.2.      Bencana Alam ditinjau dari Historika

Bencana Alam yang sangat dahsyat, dan terjadi sekali saja dalam hidup manusia tercatat dalam Alkitab yaitu ketika Tuhan menghukum ciptaan-Nya pada zaman Nuh dengan air bah (Banjir Besar) karena ketidaktaatan kepada Allah (Kej. 6:1-9;19). Bencana itu merupakan peringatan sekaligus hukuman Allah atas ciptaan-Nya. Hukuman itu dijatuhkan Allah karena hati mereka sudah sedemikian jahat. Hal itu membuat hati Allah sangat sedih, bahkan Alkitab mencatat bahwa Allah “menyesal”, karena telah menjadikan manusia dibumi (Kej.6:6-7). Kenyataan ini membuktikan bahwa kejahatan manusia sudah sedemikian parah, dan tidak bisa dibiarkan lagi. Untuk itu Allah menegaskan bahwa Aku akan menhapuskan manusia yang telah Ku-ciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara (Kej. 6:7). Allah menghukum ciptaan-Nya itu dengan air bah yang sangat dahsyat, yang dahului turunnya hujan lebat selama 40 hari 40 malam (Kej. 7:12). Bencana air bah itu begitu dahsyat dan merupakan pengadilan Allah yang radikal.[33]

2.7.3.      Bencana Alam di tinjau dari Ilmu Agama-Agama

A.    Agama Buddha

Dalam ajaran Agama Buddha sendiri Karma atau Kamma adalah kata yang berasal dari bahasa Pali, berarti “perbuatan”. Menurut Agama Buddha bahwa kalangan setuju tentang “Karma atau Kamma (bahasa Pali), bahwa karena “manusia semakin egois, hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak perduli dengan lingkungan, bahkan merusak keseimbang alam, maka alam jadi marah. Secara lebih spesifik ada yang berpendapat bahwa bencana alam memang merupakan “Karma kolektif bagi mereka yang merasakannya”.[34] Agama buddha memandang ada hubungan antara kemoralan sesorang dengan kelestarian alam, karena peristiwa yang terjadi di alam ini sangat berpengaruh, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap komponen-komponen lainnya (Hukum patticcasamuppada). Hal ini berarti bahwa perilaku yang dilakukan oleh manusia sangat berpengaruh terhadap lingkungan hidup, maka lingkungan akan memberi pengaruh terhadap manusia. Jika manusia merusak lingkungan, secara cepat maupun lambat  akan menimbulkan dampak buruk bagi manusia. Berbagai macam bencana seperti tanah longsor dan banjir tidak dapat di hindari. Dengan demikian manusia sendiri yang mendapatkan kerugian akibat tindakannya terhadap alam.[35]

 

B.      Agama Islam

Kata musibah berasal dari bahasa Arab “مصيبة” (Karita) yang berarti “sesuatu yang menimpa atau yang mengenai”. Kata ini digunakan untuk yang baik dan yang buruk. Menurut al-Raghib al-Asfahaniy asal makna kata mushibah adalah lemparan (al-ramiyyah), kemudian penggunaannya lebih dikhususkan untuk pengertian bahaya atau bencana.[36] Ibnu Manzhur juga mengartikan mushibah dengan sesuatu yang menimpa berupa bencana. Di dalam tafsir Ruh al-Bayan, Ismail Haqqiy mendefinisikan mushibah dengan “apa saja yang menimpa manusia, berupa sesuatu yang tidak menyenangkan”.[37] Sedangkan kata bala, pada dasarnya berarti nyata/tampak, Sesuatu bencana disebut dengan bala, karena dengan bencana tersebut dapat menampakkan kualitas keimanan seseorang. Atau dengan kata lain bala juga diartikan dengan ujian (berasal dari kata bala- yablu) sehingga dengan adanya bencana tersebut dapat menguji mana yang beriman dan mana yang tidak. Bencana alam juga dapat diartikan sebagai proses alam yang bergerak untuk mencapai kedewasaan atau kerentaannya. Artinya, bencana alam adalah bagian dari sunnatullah (hukum alami) yang diberikan Pencipta kepada alam semesta.[38]

2.7.4.      Bencana Alam  ditinjau dari Agama Suku

Indonesia adalah negeri rawan bencana alam. Banyak wilayah yang memiliki ancaman bencana gempa bumi dan tsunami, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, kebakaran, gelombang pasang, puting beliung, dan sebagainya. Bencana ini terjadi akibat murni gejala alam ataupun plus akibat kecerobohan dan keserakahan manusia yang merusak lingkungannya. Tanpa perkiraan pasti, bencana bisa kapan pun dan di mana pun terjadi, tanpa memandang status sosial, identitas keagamaan, dan asal suku para korbannya. Bencana bisa menimpa masyarakat yang berada di pedalaman hutan, bisa masyarakat pedesaan yang homogen dan kental dengan sikap toleran, bisa masyarakat perkotaan yang heterogen. Bencana alam juga bisa menimpa seorang dan komunitas muslim yang taat, ataupun sebaliknya mereka yang tidak taat. Demikian juga, orang non-muslim pun bisa mengalami bencana itu dan sama parahnya dengan apa yang dialami saudara mereka yang muslim. Saat bencana alam, sepertinya tidak ada “konsep keselamatan” yang bisa ditawarkan oleh agama apapun, agar penganutnya dapat terhindarkan dari bencana, sekalipun ada banyak doa yang menyebut bahwa “orang taat beragama terhindarkan dari malapetaka dan bencana”. Kontekstualisasi dari doa itu tidak serta merta dapat smenafikan bahwa seseorang atau komunitas dapat terhindar begitu saja dari bencana, terlebih ketika mereka berada di wilayah rawan bencana. Upaya pengurangan resiko bencana menjadi aspek strategis untuk mengurangi dampak dari bencana di wilayah-wilayah rawan bencana. Kehadiran berbagai fenomena sosial budaya dan keagamaan seiring terjadinya bencana di atas telah memposisikan bencana disebutsebut sebagai sub kebudayaan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai bencana tidak dapat dipisahkan dari persoalan kultural dan struktural yang terikat pada ruang dan waktu.[39]

2.7.5.      Bencana Alam diperhadapkan Dengan Covid-19

Indonesia tidak kekurangan skenario penyebarluasan COVID-19 saat ini. Beragam pakar dengan metodenya sendiri telah memprediksi periode pandemi tersebut. Beberapa di antaranya adalah Guru Besar Statistika Universitas Gadjah Mada yang menyebutkan bahwa COVID-19 diperkirakan berhenti akhir Mei 2020,1 Kepala Lembaga Biologi Molekular Eijkman yang menduga akan terjadi penurunan kasus pada akhir Juni 2020, serta tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang merumuskan model dengan perkiraan waktu penyebaran lebih lama yaitu hingga Juli 2020.3 Apabila dirangkum, maka Indonesia masih menghadapi COVID-19 kurang lebih selama empat bulan mendatang. Kita perlu mengingat pula bahwa lebih dari 50 persen total jumlah provinsi di Indonesia sangat berisiko terhadap setidaknya satu dari sembilan jenis bencana alam. Lebih lanjut, Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2018 memaparkan bahwa dari total 514 kabupaten dan kota yang ada, 96 persen di antaranya sangat berisiko akan kebakaran lahan dan hutan, 77 persen di antaranya sangat berisiko dilanda kekeringan, 67 persen sangat berisiko akan gempa bumi, 66 persen sangat berisiko terdampak cuaca ekstrem, 63 persen sangat berisiko banjir, 59 persen sangat berisiko terhadap abrasi dan gelombang ekstrem, 55 persen sangat berisiko akan terjadinya longsor, 34 persen sangat berisiko terdampak Tsunami, serta sembilan persen lainnya sangat berisiko terdampak letusan gunung api. Terdapat tiga catatan penting dari data di atas. Pertama, meskipun kabupaten dan kota yang berisiko dilanda bencana geologis relatif sedikit, namun dampak yang ditimbulkan apabila terjadi mungkin sekali akan sangat destruktif sebagaimana ditunjukkan baik dalam kasus gempa Nusa Tenggara Barat, gempatsunami-likuefaksi di Sulawesi Tengah, maupun tsunami di Selat Sunda. Tantangan utama dari bencana jenis ini adalah sifatnya yang tidak dapat diprediksi kapan terjadi. Implikasinya bagi penanganan COVID-19 di daerah rawan tersebut adalah kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan, serta distribusi tugas antara pemangku kepentingan dalam operasi multi-bencana sudah harus ditegaskan.[40]

2.8.  Analisa Penyeminar

Dalam Kejadian 1:26,28, Allah menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dan Dia memberi kuasa yang begitu besar kepada manusia atas bumi ini, untuk menaklukkan bumi dan berkuasa atasnya. Ayat itu menyatakan secara tegas bahwa manusia mempunyai kuasa penuh atas bumi dengan segala isinya. Sehingga banyak orang memahami firman Tuhan itu secara keliru, mereka merasa punya hak penuh untuk berbuat apa saja terhadap bumi ini. Mereka merasa mempunyai pendapat yang kuat untuk mengeksploitasi alam ini sekehendak hatinya. Pemahaman yang keliru tersebut memberi sumbangan yang besar terhadap pengrusakan lingkungan selama ini. Mandat Allah atas manusia untuk menguasai alam ini sering dimengerti secara keliru, seolah-olah manusia mempunyai hak milik atas alam ini. Padahal harus dipahami bahwa manusia dan alam sama-sama ciptaan Allah. Meskipun Allah memberi kuasa kepada manusia atas bumi ini. Tetapi kuasa itu harus dijalankan bukan atas dasar bahwa manusia sebagai pemilik, melainkan hanya sebagai penggarap yang bertanggungjawab. Manusia harus memahami kebenaran di atas dengan sungguhsungguh, agar manusia dapat memperlakukan bumi ini secara bertanggung jawab. Kedudukan manusia yang segambar dengan Allah “…menempatkan manusia dalam suatu hubungan yang unik dengan Allah dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Hubungan kita yang unikitu memberikan tanggung jawab khusus untuk bertindak selaku penatalayan dan pelaksana harian pemeliharaan ciptaan”. Allah menghendaki agar manusia dapat menjadi pengelola yang bertanggung jawab atas bumi ini sehingga bumi yang begitu indah akan tetap terjaga keindahannya. Hal itu penting, bukan saja untuk Allah yaitu supaya ciptaan-Nya tetap terpelihara dengan baik, tetapi juga untuk manusia itu sendiri. Sebab manusia membutuhkan bumi yang tetap terpelihara dengan baik agar tetap dapat menikmati keindahan ciptaan Allah, baik untuk generasi sekarang ini maupun untuk generasi yang akan datang. Semua manusia termasuk orang-orang Kristen/gereja perlu menunjukkan kepeduliannya terhadap kelestarian lingkungan hidup, tidak hanya dalam khotbah-khotbah di gereja saja (walaupun khotbah-khotbah di gereja mungkin masih belum terlalu banyak porsinya untuk mendorong kepedulian umat Tuhan terhadap kelestarian lingkungan), tetapi juga dalam tindakan-tindakan yang konkret. Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup harus menjadi bagian dari ibadah dan misi umat Kristen/gereja, sama pentingnya dengan tugas pekabaran Injil. Ancaman terhadap kerusakan lingkungan: perusakan hutan, polusi, eksploitasi bahan mineral yang tidak bertanggung jawab, pemanasan global, dan sebagainya harus menjadi tanggung jawab umat Kristen/gereja pula. Sebab kecenderungan perusakan lingkungan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dan bila dibiarkan keadaannya akan semakin parah. Kepedulian tersebut dalam diwujudkan dalam bermacammacam tindakan yang konkret, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, menyuarakan opini-opini yang mendukung gerakan pelestarian lingkungan, tidak menggunakan barang-barang yang menyebabkan kerusakan lingkungan, dsb. Pada prinsipnya, kepedulian akan kelestarian lingkungan menjadi tugas yang harus dilakukan umat Kristen/ gereja pada saat ini, agar alam ini tetap bersahabat dengan manusia. Hal itu untuk kebaikan hidup manusia masa kini ataupun untuk generasi yang akan datang.

III.             Kesimpulan

Bencana alam adalah sesuatu yang biasa terjadi di dunia ini. Bencana alam juga dapat menjadi bagian dari komunikasi Allah kepada manusia ciptaan-Nya. Artinya Allah bisa menggunakan bencana alam yang terjadi untuk menyatakan kehendak dan kuasanya kepada manusia. Namun bencana-bencana alam yang datang silih berganti di negeri ini menjadi ancaman yang serius yang harus dihadapi pada saat ini. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya bencana alam baik faktor yang tidak disengaja karena merupakan kejadian-kejadian alam yang biasa, maupun faktor yang sengaja dan merupakan kesalahan manusia dalam pengelolaan alam. Kebanyakan bencana alam yang terjadi di dunia ini disebabkan oleh unsur kesengajaan manusia, dimana manusia secara sengaja mengeksploitasi alam ini dengan tidak bertanggung jawab. Manusia mengejar keuntungan materi, yang menyebabkan kerugian ekologi. Untuk itu, kesalahan manusia dalam mengelola alam ini harus segera dihentikan, atau minimal ditekan sekecil mungkin agar ancaman bencana alam yang dapat menimbulkan kerugian sangat besar bagi hidup manusia dapat dihindarkan. Umat Kristen/gereja turut bertanggung jawab dalam hal itu. Secara teologis perlu ada koreksi terhadap pemahaman-pemahaman yang keliru tentang makna hak yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk menaklukkan bumi ini. Hak tersebut tidak diberikan Tuhan akan manusia menaklukkan dan merusak bumi ini. Allah menghendaki agar manusia menguasai bumi ini secara bertanggung jawab, dimana kelestarian alam harus tetap dipelihara sebaik-baiknya. Selain itu, perlu ada tindakan-tindakan nyata untuk mendukung usahausaha untuk melestarikan alam ini, baik dalam lingkup kelompok kecil (pribadi, keluarga) maupun dalam kelompok besar (gereja sebagai organisasi, masyarakat, negara).

IV.             Daftar Pustaka

·         Sumber Buku

-          A. Yewangu, Andreas, Perpestif Teologi Paska Tsunami di Indonesia dalam tim Redaksi Providentia Jurnal Teologi Tabernakel Edisi XVI, Medan : STT-AS, 2006

-          Barclay, William, Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Injil Matius Pasal 11-28, Jakarta : BPK-GM, 2009

-          Bergant, Diane, Robert, j. Karris, Tafsiran Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta : Kanisius, 2005

-          Departemen Komunikasi dan Informatika Badan Informasi Publik Pussat Penangulangan Bencana Alam Dalam Prespektif Agama di Indonesia Jakarta: DEPKOMINFO, 2007

-          Guthrie, dkk (Editor), Tafsiran Alkitab Masa Kini 1, Kejadian-Ester, Jakarta: YKB/OMF, 1998

-          Indyanto, Agus & Kuswanjono. Argom, Agama Budaya dan Bencana, Bandung : Mizan, 2012

-          Ju Lan. Thung, Masyarakat Indonesia, Jakarta: LIPI, 2006

-          Jurnal Ilmiah STIKES,VOL 10 No 3

-          Kurnia, Anwar Dkk, Wahana Ilmu pengetahuan Sosial, Yogyakarta : Yudistira, 2007

-          Munthe, Pardomuan, Berbagai Isu Susulan Bencana Alam Hingga Isu Kiamat 2012, Bagaimana Mewartakan Fungsional Kristus dalam Segudang Itu?Dalam Tim Redaksi, Fenomena Alam dan Peryataan Allah : Jurna Theologi Tabernakel Edisi XXV, Medan STT Abidi Sabda 2011

-          Powerdarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia

-          Purnomo, Hadi dan Ronny Sugianto, Manajemen Bencana : Respon dan Tindakan Terhadap Bencana, Yogyakarta : Media Presindo, 2010

-          Rahmat, Penangulangan Bencana Alam Klimatologis, Jakarta : Penerbit Duta, 2011

-          Van Bruggen. Jakob, Markus : Injil Menurut Petrus, Jakarta : BPK-GM, 2006

-          W. Bomiley. Geoffrcy, Theological of The New Testament, Grand Rapics/Michigan; W.M.B. Eerdmands Publisging Company

-          Abiy al-Qasim al-Husain ibn Muhammad ibn Mufadhdhal, al-ma’ruf bi al-Rhaghib al-Ashfahaniy, Mufradat Alfaz al-Qur’an, Damaskus: Dar al-Qalam, 2002

-          Ismail Haqqiy ibn Mushthafa all-Istanbuliy al-Hanafiy al-Khalwatiy, Tafsir Ruh al-Bayan, juz. 1 Al-Qahirah: Dar al-Ihyya al-Turats, [t.th]

-          Majma al-Lughah al-Arabiyyah, al-Mu’jam al-Washith, Kairo: Maktabah al-Syuruq,

-          2004

 

·         Sumber Internet

-          http//s File.upi edu, Pendidikan Geografi, Bencana alam Karena Gejala Alam, Diakses pada tanggal 28/09/2020. Pukul 12.30

-          http//s File.upi edu, Pendidikan Geografi, Bencana alam Karena Gejala Alam, Diakses pada tanggal 28/09/2020. Pukul 12.30

-          https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://www.researchgate.net/publication/298726144_Disaster_Management_Based_on_The_Perspective_of_Inter-Religious_Connection_and_Local_Wisdom_ANTAR_AGAMA_DAN_PENGHARGAAN_TERHADAP_KEBUDAYAAN_LOKAL/fulltext/56eeaa9908aed17d09f81e8d/Disaster-Management-Based-on-The-Perspective-of-Inter-Religious-Connection-and-Local-Wisdom-ANTAR-AGAMA-DAN-PENGHARGAAN-TERHADAP-KEBUDAYAAN-LOKAL.pdf&ved=2ahUKEwjZt5qXhbbsAhVJfX0KHSgVCfI4ChAWMAh6BAgGEAE&usg=AOvVaw0K8ovayZRoS0D-q8ukuGyg, Diakses pada tanggal 28/09/2020. Pukul 12.50



[1] Purnomo, Hadi dan Ronny Sugianto, Manajemen Bencana : Respon dan Tindakan Terhadap Bencana, (Yogyakarta : Media Presindo, 2010), 9

[2] William Chang, Moral Lingkungan Hidup, Yogyakarta : Kanisius, 2011, 13-14

[3] Robert P. Borrong, Etika Bumi Baru, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1999, 121

[4] R. Soedjiran Resosoedarmo, Pengantar Ekologi, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. 1

[5] Celia Deane, Teologi dan Ekologi, (Jakarta : BPK-GM, 2001), 15

[6] Agus Indyanto & Argom Kuswanjono, Agama Budaya dan Bencana, (Bandung : Mizan, 2012), 7

[7] Powerdarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 100

[8] Rahmat, Penangulangan Bencana Alam Klimatologis, (Jakarta : Penerbit Duta, 2011), 2-3

[9] Rahmat, Penangulangan Bencana Alam Klimatologis, 3-4

[10] Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia ,307

[11] Geoffrcy W. Bomiley, Theological of The New Testament, Grand Rapics/Michigan; W.M.B. Eerdmands Publisging Company, 196-197

[12] Band. Andreas A. Yewangu, Perpestif Teologi Paska Tsunami di Indonesia dalam tim Redaksi Providentia Jurnal Teologi Tabernakel Edisi XVI, Medan : STT-AS, 2006, 39.

[13] Pardomuan Munte, Berbagai Isu Susulan Bencana Alam Hingga Isu Kiamat 2012, Bagaimana Mewartakan Fungsional Kristus dalam Segudang Itu?Dalam Tim Redaksi, Fenomena Alam dan Peryataan Allah : Jurna Theologi Tabernakel Edisi XXV, Medan STT Abidi Sabda 2011, 23

[14] http//s File.upi edu, Pendidikan Geografi, Bencana alam Karena Gejala Alam, Diakses pada tanggal 28/09/2020. Pukul 12.30.

[15] http//s File.upi edu, Pendidikan Geografi, Bencana alam Karena Gejala Alam, Diakses pada tanggal 28/09/2020. Pukul 12.30.

[16] Anwar Kurnia Dkk, Wahana Ilmu pengetahuan Sosial, (Yogyakarta : Yudistira, 2007), 160

[17] Arifin Arief, M.P, Hutan dan Kehutanan, (Yogyakarta : Kanisius, 2001), 14

[18] Antony Milne, Dunia di Ambang Kehancuran, (Jakarta : BPK-GM, 1996), 51

[19] Antony Milne, Dunia di Ambang Kehancuran, 54

[20] https://www Berita satu.com/ nasional, BNPH/Bencana Banjir Dibogor Disebabkan Ulah Manusia diakses pada hari 28 September 2020 Pukul 12.15

[21] https://www Suara.com/news/2019/11/28/ kebakaran hutan Indonesia tahun 2019 lebih parah dari Amazon, diakses pada 28 September 2020 Pukul 12.00

[22] Jurnal Ilmiah STIKES,VOL 10 No 3 hal 373-374

[23] C. Bart, Teologi Perjanjian Lama, 1, Jakarta : BPK-GM, 1998, 20

[24] Munayah Fauziah, Perlindungan Kesehatan Masyarakat, (Jakarta : Published, 2000), 3-4

[25] Adytiawan Sigit, Buku Pintar Mengenal Bencana Alam, ( Yogyakarta : Deepublis, 2018), 1

[26] Dikutip dari www. Unisosderm.org pada 23 agustus 2019

[27] Pdt. J. R. Saragih,M.Th dalam tulisannya tentang ‘Allah Manusia dan Bencana Alam : Sebuah Pemknaan Ulang’ dalam “Jurnal Teologi Tabernakel STT Abdi Sabda Medan; Edisi Januari-Juni, 2011”( Medan : STT Abdi Sabda, 2011) 49-52

[28] Hando, Sejarah VIII, Jakarta : Yudistira, 2012, 05

[29] Bruce Milne, Mengenali Kebenaran, Jakarta : BPK-GM, 1993, 45

[30] Diane Bergant, Robert, j. Karris, Tafsiran Alkitab Perjanjian Lama, (Yogyakarta : Kanisius, 2005), 322

[31] Jakob Van Bruggen, Markus : Injil Menurut Petrus, (Jakarta : BPK-GM, 2006), 470

[32] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Injil Matius Pasal 11-28, (Jakarta : BPK-GM, 2009), 586-587

[33] Guthrie, dkk (Editor), Tafsiran Alkitab Masa Kini 1, Kejadian-Ester, (Jakarta: YKB/OMF, 1998), 91

[34] Thung Ju Lan, Masyarakat Indonesia, (Jakarta: LIPI, 2006), 76

[35] Departemen Komunikasi dan Informatika Badan Informasi Publik Pussat Penangulangan Bencana Alam Dalam Prespektif Agama di Indonesia (Jakarta: DEPKOMINFO, 2007),86  

[36] Abiy al-Qasim al-Husain ibn Muhammad ibn Mufadhdhal, al-ma’ruf bi al-Rhaghib al-Ashfahaniy, Mufradat Alfaz al-Qur’an, (Damaskus: Dar al-Qalam, 2002), 495

[37] Ismail Haqqiy ibn Mushthafa all-Istanbuliy al-Hanafiy al-Khalwatiy, Tafsir Ruh al-Bayan, juz. 1 (Al-Qahirah: Dar al-Ihyya al-Turats, [t.th]), 209

[38] Majma al-Lughah al-Arabiyyah, al-Mu’jam al-Washith, (Kairo: Maktabah al-Syuruq, 2004), 71

Tidak ada komentar:

Posting Komentar