Jumat, 16 April 2021

Menjelaskan arti dan makna Hari Tuhan dan Eskhatologi PL diperhadapkan dengan tinjauan ilmu pengetahuan

 


Menjelaskan arti dan makna Hari Tuhan dan Eskhatologi PL diperhadapkan dengan tinjauan ilmu pengetahuan

 (science, sistematika, ilmu agama-agama, agama suku, kaum ateis, di tengah-tengah krisis kehidupan manusia masakini).

I.                   Pendahuluan

Hari ini, Hari ini, Harinya Tuhan, Harinya Tuhan, Mari kita, Mari kita bersukaria, bersukaria……dst. Ini merupakan penggalan lagu yang sering sekali dilantunkan ditengah-tengah anak sekolah minggu. Sehingga memberikan pemahaman yang kuat ditengah-tengah umat Kristen yang memahami bahwa hari minggu adalah hari Tuhan. Dan pemahaman hari Tuhan ini hanya dipahami dalam batasan untuk memuji dan memuliakanNya. Tetapi banyak makna yang terkandung dari ungkapan Hari Tuhan dan ada satu hakikat yang akan terjadi pada hari Tuhan. Lalu ada juga yang namanya Eskhatologi. Eskhatologi merupakan suatu pengajaran yang tentang akhir zaman atau disebut dengan Eskhatologi, yang di mana menyatakan tentang pernyataan Allah “Akhir Zaman” dan Eskhatologi juga berbicara tentang Kerajaan Allah. Eskhatologi juga merupakan dasar kebenaran dasar Alkitab, suatu kebenaran yang harus dimiliki orang Kristen yang sungguh-sungguh percaya akan Firman Tuhan. Kita meyakini, bahwa sesuai janjiNya, Kristus akan kembali untuk kedua kalinya dan kita sedang menanti kedatanganNya. Yesus Kristus pasti datang namun kita tidak ada yang tahu kapan kedatanganNya untuk yang kedua kalinya. Begitu juga Alkitab tidak memberitahukan kapan persisnya Yesus akan datang untuk yang kedua kalinya. Dan hal ini diperhadapkan dengan tinjauan ilmu pengetahuan Scienci, sistematika, ilmu Agama-agama, agama suku, kaum ateis, di tengah-tengah krisis kehidupan manusia masa kini). Kiranya bahan seminar ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita semua.

II.                Pembahasan

2.1. Arti dan makna Hari Tuhan

2.1.1.      Secara Umum

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dituliskan bahwa kata hari artinya ialah:

1.      Waktu dari pagi sampai pagi kembali (yaitu suatu edaran bumi pada sumbunya, 24 jam);

2.      Waktu selama matahari menerangi tempat kita (dari matahari terbit sampai matahari terbenam);

3.      Banyaknya jam dalam sehari yang dipakai bekerja.[1]

Sedangkan yang dimaksud dengan kata Tuhan adalah sesuatu yang diyakini, dipuja, disembah oleh manusia sebagai yang mahakuasa, mahaperkasa, mahaadil, dsb.[2] Jadi dapat dikatakan bahwa hari Tuhan secara Umum adalah waktu atau keadaan yang digunakan untuk sesuatu yang diyakini dan dipuja oleh manusia dalam kehidupannya yang disebut atau yang dipanggilnya Tuhan.

2.1.2.      Dalam PL

Ungkapan Hari Tuhan merupakan ungkapan Eskhatologi Perjanjian Lama. Istilah yang dipakai dalam bahasa Ibrani untuk hari Tuhan adalah Yom Yahweh. Yom Yahweh merupakan hari yang mengerikan dan hari yang dahsyat dari Tuhan dan ini bukan merupakan ekspresi hari sabat maupun hari Minggu gereja atau hari kiamat sebagaimana yang diasumsikan. Yom Yahweh dalam Perjanjian Lama merupakan ekspresif kolektif pemenuhan yang diharapkan dari nubuat besar Israel. Yom Yahweh  adalah di mana Tuhan secara aktif bertindak menghukum dosa yang sudah mencapai puncaknya. Hukum ini bisa saja datang melalui penyerbuan (Ams. 5 dan 6; Yesaya. 13; Yehezkiel. 13:5), atau melalui bencana alam seperti serangan belalang,dll (Yl. 1-2). Pada hari itu orang yang bertobat dan percaya akan diselamatkan (Tl. 2:28-32), tetapi orang-orang yang tetap memusuhi Tuhan, baik bangsa Yahudi dan non Yahudi akan dihukum. Hal itu mempunyai akibat-akibat alami terhadap alam semesta (Yes:2).[3]  Dalam Perjanjian Lama, “Hari Tuhan” dapat menunjukkan hari dalam historis masa depan yang akan segera terjadi ketika Allah melawat umat-Nya dalam penghukuman (Ams. 5:18; Yes. 2:12). Istilah ini juga menunjukkan lawatan akhir Allah ketika Ia mendirikan kerajaanNya di dunia dan membawa keselamatan kepada umatNya yang setia dan hukuman kepada yang jahat (Zef. 1:14).[4]

Menurut Matthew S. Demoss dan J. Edward Miller, hari Tuhan merupakan periode dimasa depan periode ketika Tuhan akan menghakimi orang yang tidak beriman. Dalam Perjanjian Lama istilah tersebut ditandai dengan adanya hukuman atas Israel (Yoel 1:15); (Zef. 1:7;14) atau beberapa bangsa spesifik lainnya (Yer. 46:10).[5] Begitu juga dengan pendapat jenni yang mengatakan bahwa Hari Tuhan, merupakan satu dari pertunjukan yang akan datang yang berkaitan dengan intervensi Allah dalam antisipasi yang bersifat ramalan masa depan. Ini merupakan kepercayaan popular dimana konsepnya pertama kali ditemukan dalam kitab Amos. Dalam hal ini, hari Tuhan menjadi hari kemalangan dan kegelapan bagi bangsa Israel yang tidak mematuhi hukum Tuhan dan sebaliknya hari ini akan menjadi keselamatan bagi bangsa Israel dan Allah akan ikut campur tangan dalam melawan musuh-musuh Israel.[6] Yom Yahweh merupakan hari mengerikan dan dahsyat dari Tuhan dan bukan merupakan ekspresi hari sabat ataupun hari minggu gereja sebagaimana yang telah diasumsikan oleh beberapa orang. Tetapi ini merupakan ekspresi kolektif pemenuhan yang diharapkan dari nubuat besar Israel. Hari Tuhan mengacu kepada intervensi Allah di masa depan dalam sejarah.[7] Hal ini berhubungan dengan aktivitas terakhir Allah baik untuk melawan Israel. Hari Tuhan akan membawa penghakiman dan kebinasaan dan sekaligus membawa perlindungan dan pembersihan (Zak.13). ini prospek (pengucapan) khusus Eskhatologis yang sering juga disebut dengan “Akhir Hari”.[8]

2.1.3.      Dalam PB

Dalam Kitab Perjanjian Baru, hari Tuhan adalah hari pengadilan atas dunia (1 Tesalonika 5:2 dan 2 petrus 3:10). Selain dari itu ada arti yang lain, yaitu hari yang dipersembahkan kepada Tuhan. Pada hari itu diadakan kebaktian dan memperingati kebangkitan Yesus (Why 1:10; 1 Kor 16:2). Hari Tuhan menjadi hari pertama, hari perhentian.[9] Hari Tuhan pada Perjanjian Baru mengacu kepada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Secara sederhana “Hari Tuhan” disebut atau diistilahkan dengan kalimat “Hari Itu”.[10] Dalam Perjanjian Baru, Eskhatologi ini dipahami dari ajaran Tuhan Yesus Kristus sendiri yang mengandung dimensi waktu kini dan waktu yang akan dating. Masa yang akan dating atau masa depan menurut Perjanjian Baru itu adalah merupakan dalam inkarnasi Yesus Kristus yang dilihat sebagai sebagian penggenapan dalam Perjanjian Lama yang telah digenapi dan dalam kedatangan-Nya yang kedua kali kelak akan menjadi penggenapan yang seutuhnya dari pengaharapan itu.[11] Dalam pelayanan Yesus, Allah memulai pemerintahan Eskhatologinya dan melaksanakannya diantara yang miskin, yang rendahan dan yang dibenci. Dan Yesus datang untuk mengakhiri penderitaan mereka.[12]

2.2. Arti dan makna Eskhatologi menurut PL

Dalam Perjanjian Lama dikatakan bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu. Tuhan adalah Raja, Raja yang besar mengatasi segala allah (Mzm. 93:1; 95:3) adalah konsep dasar seluruh agama Perjanjian Lama (Keluaran 15:18; Yesaya 43:15). Tetapi pemerintahan Allah ditentang dan dilawan. Iblis mengajak manusia untuk memberontak dengan Allah (Kej.3), bangsa-bangsa memuja berhala dan melakukan kejahatan (2 Raja 17:29) dan Israel sendiri mengalami kemunduran Rohani dan mereka dikalahkan oleh musuh-musuhnya.

Perkataan atau istilah Eskhatologi tidak ada disebutkan dan ditemukan di dalam dunia Perjanjian Lama. Tapi hakekat tentang Eskhatologi memang sudah ada, yang dikenal dengan istilah “Hari Tuhan”  Istilah hari diartikan dengan waktu yang sangat lama sekali, suatu musim tertentu dimana peristiwa luar biasa terjadi, seperti kemakmuran, kejayaan, dan bahkan suatu peristiwa yang merugikan yang mendatangkan bencana. Jadi dapat dikatakan bahwa Hari Tuhan bisa merupakan suatu hukuman dan rahmat/kesenangan.[13] Zaman Perjanjian Lama kepercayaan yang berkembang dan populer bagi Israel adalah tentang datangnya suatu hari ketika Allah secara dramatis campur tangan melepaskan umat-Nya dan berbagai ketakutan dan penindasan. Biasanya untuk memperingati peristiwa tersebut diadakan perayaan tahunan dengan mengadakan upacara korban, dengan harapan akan menjadi kemakmuran dan kemenangan Israel atas musuh. Dalam pertengahan abad ke-8 sM menyerukan bahwa kemakmuran yang diperoleh Israel adalah dengan pemerasan dan pelaksanaan agama palsu, dan ketika hari tiba maka akan nyata dan itulah hari penghakiman (bnd. Am. 5:18-27).

Menurut A. Lamorte dan G. F. Hawthorne ”Prophecy” dalam dictionary of teology bahwa nubuat dalam Perjanjian Lama dibagi dalam dibagi  tiga kategori penting. Pertama, nubuat tentang pembuangan bangsa Israel sebagai hukuman Allah terhadap dosa bangsa pilihan itu, namun Allah berjanji untuk memulihkan atau memulangkan bangsa tersebut setelah selesai periode pembuangan. Kedua, nubuat mesianik meliputi kedatangan seorang penebus Israel dan dunia (Yes 52:13-53:12; Mi 5:1-2). Ketiga, Nubuat eskhatologis, yakni menunjuk pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di akhir zaman ketika Mesias datang kembali untuk mendirikan Kerajaan Allah dibumi.

Selanjutnya, nubuat dalam Perjanjian Lama dapat dibagi yaitu pertama, yang sudah di genapi meliputi pembuangan Israel ke Asyur 722 SM dan ke Babel 586 SM serta pemulangan kembali bangsa Israel ke tanah perjanjian. kedua, nubuat dalam proses penggenapan  yakni menyangkut restorasi negara israel modern menurut para nabi (Yes 27:12-13; Yer 31:31; Yeh 37:21). Ketiga nubuat yang belum digenapi yaitu pemulihan secara total tanah palestina bagi bangsa Israel (Yes 27:12-13; Yer 31:1-5; Yeh 37:11-14, penghancuran musuh-musuh Israel, (Yes 17:1-3, Yer 30:11), pertobatan kolektif bangsa Israel Yeh 37:6,10).

Perebutan Yerusalem (586 sM) dan pembuangan Israel Utara dipandang sebagai penggenapan nubuat Amos. Walau demikian, dibalik penghakiman yang diterima suatu hari, yakni pemulihan Israel dan pemerintahan YHWH akan dipulihkan/ditegakkan atas seluruh bumi (Yes. 40).[14] Soedarmo mengatakan יהוהיום  berisikan beberapa nubuat, yakni:

(1)   Hari Tuhan yang mendatangkan penghukuman.

(2)   Bangsa Israel bertobat dan Tuhan akan mengembalikan dari pembuangan.

(3)   Yerusalem akan dipulihkan dan Bait Allah akan dibangun kembali.

(4)   Sang Mesias akan datang dari keturuan Daud dan akan memegang pemerintahan yang kuat.

(5)   Akhir zaman akan datang kemudian.[15]

Pengharapan akan Mesias dalam perjanjian lama ( khususnya deutro Yesaya) sangatlah besar bagi orang-orang buangan. Mereka-mereka berharap akan ada seorang yang diurapi untuk mengangkat nasib mereka dari pembuangan. Kekristenan menghubungkan eskhatologi dengan Yesus dalam Parousia di mana Yesus datang dengan kuasa penghakimanNya. Hari itu dihubungkan dengan Mesias (Yes 4:2; 9:6-7; 11:1-2) Ia merupakan pemimpin yang besar seperti Daud ( I Tawarik 17:11-14; Maz 72) dan melalui di hari Tuhan akan datang dengan membawa penghukuman bagi bangsa-bangsa serta pembebasan bagi Israel (Mal 3:1). Namun hal itu di dahului oleh tanda-tanda akhir zaman (Mat. 24). Dengan demikian orang-orang percaya menanti-menantikan peristiwa itu kapan datang. [16]

2.3. Arti dan makna Eskhatologi menurut PB

Dalam Perjanjian Baru eskatologi merupakan gagasan yang kompleks sekitar Kerajaan Allah dalam pengajaran Yesus, kedatangan Anak Manusia, parousia, dan keadaan yang akan terjadi pada zaman yang datang.[17] Penekanan yang bersifat mesianis nampak jelas dalam penuturan Lukas tentang kelahiran Yesus, pada saat malaikat memberitahukan tentang Yesus bahwa Ia akan disebut Anak Allah Yang mahatinggi, yang akan menduduki takhta Daud dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk.1:32-33). Dalam nyanyian Zakaria Mesias di sebut sebagai tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu (Luk. 1:69). Untuk memperlihatkan hubungan Mesias dengan Kerajaan Allah, yang dimaksud Mesias adalah Anak Allah yang menyangkut masa depan. Hal ini lebih jelas kelihatan dalam perbandingan matius 26:28 dengan Markus 9:1. Matius mengungkapkan: Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya, sedangkan Markus menyatakan: Kerajaan Allah datang dengan segera. Aspek ganda dari kerajaan itu, menerangkan mengapa ucapan-ucapan tentang Anak Manusia menyangkut aspek masa kini dan menyangkut masa depan.[18] Alkitab Perjanjian Baru menekankan bahwa Eskatologi adalah kerajaan Allah yang sudah dekat dan telah datang di tengah-tengah dunia melalui kehadiran Yesus.

Di lain hal juga Perjanjian Baru menyajikan eskatologi sebagai hari Tuhan(Parousia: kedatangan Yesus kali yang kedua) dengan demikian akan nada tanda-tanda yang mendahului peristiwa itu. Paulus dalam suratnya kerap kali menulis tentang akhir zaman dngan sebutan hari Tuhan, yang terus dipahami bahwa Allah yang memerintah. Paulus menerima pandangan tentang kedatangan Kristus kedua kali sebagai peristiwa yang sudah dekat yang akan terjadi melalui beberapa peristiwa yang mendahului kedatangan Kristus. Dalam surat kiriman 1 Tes. 4:13 dst, tanda-tanda yang disebutkan menyertai kedatangan Kristus yang kedua kali dan tanda-tanda yang menyertai mempunyai bentuk apokaliptis yang jelas: suara yang keras, seruan penghulu malaikat, bunyi sangkakala dan awan-awan. Dalam Roma 11:25 dst, ia memandang ke depan pada apa yang disebut masuknya jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain yang merupakan batu loncatan yang menentukan keselamatan Israel.[19]

 

2.4. Pandangan Ilmu pengetahuan (Science, sistematika, ilmu agama-agama, agama suku, ateis) tentang Hari Tuhan dan Eskhatologi

2.4.1.      Science

Hari Kiamat juga disebut dengan hari akhir. Kiamat itu terbaga atas dua bagian yaitu: Kiamat sugra (kerusakan kecil) dan kiamat kubra (kerusakan besar). Setelah terjadi kiamat kubra, seluruh umat manusia yang pernah hidup di alam dunia akan dibangkitkan dari kuburnya masing-masing, kemudian dikumpulkan di padang Mashyar ntuk dihisab (diadili) semua amal perbuatannya ketika di dunia. Peristiwa hisab (pengadilan Allah di alam akhirat) ini terdiri dari lima tahap, yaitu 1. Tahap bersoal jawab. 2. Tahap membaca khitab catatan amal manusia. 3. Tahap mendengarkan rekaman amal manusia, 4. Tahap melihat gambar dari amal perbuatan manusia. 5. Tahap timbangan amal (mirzan). Setelah lima tahap pengadilan Allah SWT tersebut dilaksanakan, Allah SWT memberikan keputusan kepada masing-masing umat manusia dengan seadil-adilnya. Mereka yang ketika di dunianya betul-betul bertaqwa kepada Allah SWT tentu akan dipersilahkan memasuki surge yang penuh dengan kenikmatan, sebaliknya, mereka yang ketika di dunia durhaka kepada Allah SWT dan banyak berbuat dosa tentu akan dicampakkan kedalam neraka yang dimana didalamnya penuh dengan berbagai macam siksa.[20]

2.4.2.      Sistematika

Eskhatologi Kristiani tidak lagi pertama-tama berbicara tentang kematian, bukan mengenai apa yang akan terjadi sesudah kematian melainkan tentang kerajaan Allah yang selalu di imani sebagai kedatangan. Allah yang di imani orang Kristiani ialah Allah yang akan datang sebagai pemenuhan defenitif.[21] Dalam keseluruhan Teologi sistematika Kristiani, eskhatologi merupakan ajaran tentang masa depan dan penyelesaian bertolak dari apa yang telah datang yaitu pengalaman-pengalaman umat manusia akan Allah khususnya dari Yesus sang Kristus, cabang Teologi ini merenungkan apa yang akan datang yang baru dan definitif lalu berusaha menginterpretasi masa kini serta menyampaikan motivasi bagi kita untuk bertindak sekarang ini.[22]

2.4.3.      Ilmu agama-agama

2.4.3.1. Islam

Di dalam Islam terdapat ajaran Eskhatologi. Eskhatologi sangat berhubungan dengan salah satu akidah Islam, yaitu meyakini adanya hari akhir, kematian, kebangkitan. Umat muslim meyakini bahwa kehancuran dunia terjadi dimana orang-orang beriman sudah tidak ada lagi di muka bumi ini, yang tersisa hanyalah orang-orang jahat yang kembali dalam kondisi zaman jahiliyah.[23] Berita akan datangnya hari kiamat merupakan petunjuk Allah Swt., yang hanya disampaikan kepada Nabi akhir zaman, Muh. SAW. Nabi Muhammad memberikan isyarat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas RA, beliau bersabda: “Saya diutus (oleh Allah) dan jaraknya dengan hari kiamat itu seperti dua jari. Beliau mengatakannya sambil menunjukkan dua jari, yakni jari telunjuk dan jari tengah”. Hadis diatas mengisyaratkan bahwa kedatangan hari kiamat benar-benar nyata dan akan terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama dari waktu yang diutusnya Rasulullah SAW. Karena hal itu Allah Swt tidak lagi mengutus Nabi dan Rasul lain setelah beliau. Namun demikian, kecuali tanda-tandanya, Nabi Muhammad SAW tidak diberi tahu oleh Allah Swt., mengenai kapan persisnya kiamat akan terjadi. Hal itu menjadi rahasia Allah Swt. Allah Swt., berfirman dalam surat Tha Ha ayat 15 yang berbunyi “sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan”. Alquran juga menjelaskan bahwa hari kiamat akan datang secara tiba-tiba, seperti dalam firman Allah Swt., kedatangan hari kiamat merupakan rahasia Allah. Nabi Muhammad hanya diberi pengetahuan tentang tanda-tanda kedatangannya saja. Banyak sekali yang memberikan informasi mengenai tanda-tanda kiamat. Para ulama telah mengklarifikasikan tanda-tanda kiamat, ada yang didasarkan pada skala kehancuran, ada juga yang menurut urutan waktu yang dikenal dengan kiamat kecil dan kiamat besar. Tanda-tanda kiamat kecil jumlahnya sangat banyak, contohnya: kehancuran moral agama umat manusia yang berupa merajalelanya kemaksiatan, seperti zinah yang sudah dianggap biasa, tidak adanya pemimpin yang baik dan sebagainya. Tanda-tanda kiamat kecil ini akan berujung pada kiamat besar, yaitu hancurnya seluruh alam semester.[24]

 

 

2.4.3.2. Hindu dan Buddha

Agama Hindu dan Buddha memiliki corak yang hamper sama sama ketika membicarakan masalahakhir hidup manusia. Kedua agama  ini tidak memiliki konsep Eskhatologi yang panjangg dan rumit. Dalam Hindu, tujuan hidup manusia adalah moksa, yang dicapai manusia setelah mereka melalui kehidupan berkali-kali (Punarbawa). Mereka yang telah melakukan catur marga (bakti, jnana, karma, yoga) dengan baik tidak akan melalui kehidupan terus menerus tetapi akan mencapai moksa, yaitu bersatu dengan Brahman. Upanisad menerangkan bahwa surga dan neraka bukan suatu tempat dan bukan pula suatu bentuk yang pasti melainkan suatu state of mind yaitu keadaan-keadaan pikiran, yakni pikiran bahagia atu pikiran menderita. Kalau pikiran dalam keadaan senang dan bahagia maka itulah surga. Bila pikiran sedih dan menderita maka itulah neraka. Surga dan neraka ada dalam pikiran, baik pikiran pada waktu masih hidup maupun pikiran yang membngkus roh yang sudah mati. Sebagaimana diketahui bahwa roh seseorang semasih hidup dibungkus oleh pikiran (sukma sarira/stula sarira) yang tidak lain adalah jasad atau tubuh manusia itu sendiri. Pada waktu meninggal stula sarira hancur menjadi abu karena dibakar, tetapi jiwa/roh dan pikiran tidak bisa terbakar dan lepas seperti angin yang tetap dibungkus oleh pelembungan. Orang yang sudah mati, jika pikirannya masih melekat dengan dunia, ia akan tertarik kembali ke dunia atau lahir kembali. Ssebaliknya jika roh dan pikirannya telah menghilangkan kemelekatan duniawi dengan menjalankan catur marga, ia akan bersatu dengan Brahman, yaitu moksa. Roh tidak akan mengalami kelahiran kembali serta mencapai kebahagiaan tertinggi.[25]

Dalam agama Buddha,, ajaran tentang Eskhatologi baik didalamnya menyangkut surga dan neraka atau kehidupan setelah kematian tidak pernah ada. Bikkhu Acharan Suchar Abhijato [26] mengungkapkan bahwa dosa akan dibalas dikehidupan ini atau yang akan datang. Akibatnya akan langsung dirasakan dalam pikiran. Adapun surge dan neraka sudah berada dalam diri seseorang, di kehidupan ini dan juga setelah kehidupan ini berakhir. Surga dan neraka bukan sebuah tempat tapi sebuah perasaan. Bila manusia melakukan sesuatu yang buruk, maka ia merasa buruk, inilah neraka dan tepat di kehidupan ini, begitu pula dengan surga. Surga dan neraka adalah keadaan pikiran.[27]

Bila semua bentuk keinginan dibasmi, daya kemampuan kamma berhenti bekerja, maka seorang terlepas dari lingkaran kelahiran dan kematian dan mencapai nibbana, yaitu tujuan hidup paling puncak dan berkah yang paling tinggi. Dalam lingkaran kelahiran ini manusia akan melewati 31 alam kehidupan. Kelahiran bisa terjadi di alam yang lain berdasarkan pada karma baik atau buruk dari makhluk yang bersangkutan. Jika manusia telah melenyapkan semua kotoran batin, mereka tidak akan lahir kembali di salah satu dari 31 alam tersebut.[28]

Perbedaan yang sangat tajam antara moksa dan nibbana  adalah bahwa konsep moksa dalam Hindu masih terdapat unsur jiwa atau roh manusia yang nantinya akan bersatu dengan Brahman, tetapi dalam Buddha tidak dikenal istilah jiwa, karena yang ada hanyalah pikiran dan kesadaran semata. Walaupun begitu salah satu persamaannya adalah tentang konsep surga dan neraka yang merupakan keadaan perasaan dan pikiran seseorang bukan sebuah tempat tersendiri.

 

 

2.4.4.      Ateis

Kaum Ateis menolak adanya hari kiamat, inilah pandangan orang-orang ateis, yang tidak percaya dengan keberadaan Tuhan dan segala yang difirmankan-Nya. Kaum ateis berkembang dengan pesat di dunia barat, walaupun tak dapat dipungkiri, di dunia belahan timur juga ada. Mereka secara terang-terangan tidak mempercayai adanya akhir zaman karena rasionalitas mereka lebih tinggi dan dikuasai oleh nafsu dan kesombongan akan pengetahuannya. Ateis menolak adanya Tuhan karena tidak dapat dibuktikan secara empiris. Mereka tidak percaya akan adanya Tuhan dan apa yang difirmankan oleh Tuhan. Sehingga apa yang diberitakan oleh-Nya tidak lagi dihiraukannya. Entah itu surga, neraka, termasuk akhir zaman, mereka hanya meragukan akan tetapi secara terang-terangan menolak semua itu. Ateis beranggapan bahwa tidak ada yang namanya akhir zaman, jadi setelah bumi hancur sekalipun nanti bakalan ada kehidupan baru muncul, jadi yang bereinkarnasi tidak hanya makhluk hidup, tapi semua bagian alam semesta juga mengalami siklus semacam itu.[29]

2.5. Arti dan makna Hari Tuhan dan Eskhatologi PL di tengah-tengah krisis kehidupan manusia masakini atau Covid-19 saat ini.

Pada bulan November  tahun 2019 sudah mulai terjadi sebuah hal yang merebak sampai dengan saat ini yaitu Virus Corona. Virus Corona sudah menyebar di Indonesia semenjak tahun 2020. Virus Corona merebak di salah satu Negara yaitu di China di daerah Wuhan sejak akhir 2019, lalu secara aktif mulai menyebar ke hamper seluruh Negara di dunia. Covid-19 adalah penyakit yang sangat menular melalui bersin dan batuk. Umat manusia di seluruh dunia dihadapkan pada satu kondisi yang mengejutkan yang membatasi pergerakan aktifitas dan pekerjaan manusia dan juga berbagai sendi kehidupan manusia. Bukan sekedar kekhawatiran akan penderitaan fisik yang diakibatkan oleh Covid-19, namun juga menyentuh aspek kehidupan social, ekonomi, budaya bahkan spiritualitas manusia juga terganggu karenanya.[30] Penyakit atau Virus ini tidak digambarkan sebagai hukuman mati dari Tuhan, namun hal ini sebagai teguran atas ketidaktaatan dan ketidakhormatan manusia terhadap Tuhan dan juga waktu yang sudah diberikan kepada manusia. Namun Pandemi ini bukanlah tanda akhir kehidupan, namun ini adalah sebuah konskuensi yang harus diterima karena perbuatan manusia itu sendiri. Dan hal ini juga harus dijalani dan dilalui dalam kehidupan ini. keadaan ini memang sungguh memprihatinkan dan mencemaskan. Namun sebagai orang yang percaya akan kuasa Tuhan, kita tahu apa yang harus dan wajib kita lakukan untuk dapat tenang dalam menghadapi Wabah penyakit ini yaitu terdapat dalam (Mazmur 107:19-20) “Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur”. Firman Tuhan menegaskan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya (Ibrani 13:5b). Ia mengendalikan segala sesuatu dalam segala hal baik dalam masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, tidak ada satu hal pun yang terjadi di luar kuasa Allah.

 

2.6. Analisa Penyeminar

Polemik doktrinal yang cukup meruncing dalam lingkup teologi terjadi di seputar perdebatan tentang doktrinal eskhatologi.Jika dicermati, masing-masing pandangan berusaha memaparkan konsep eskhatologinya berdasarkan pendekatan teologi dan hermeneutik yang diyakini.Jika diselidiki lebih lanjut, perbedaan doktrin eskhatologi tersebut tampaknya berpusat pada masalah tentang “kedatangan Kristus yang kedua”. Istilah yang sudah lazim terdengar dalam eskhatologi, khususnya ajaran tentang kedatangan Kristus yang kedua, ialah parousia. Secara teologis, kedatangan Yesus Kristus yang kedua meliputi peristiwa kehadiran Kristus untuk mengangkat orang percaya, dan kedatangan Kristus ke bumi untuk memerintah dalam Kerajaan-Nya.[31]

Zaman Mesias ini disebut: penyelesaaian zaman (synteleia toon, Ibr. 9:26), akhir masa (eskhaton toon khronoon, 1 Ptr. 1:20), saat terakhir (eskhate hoore, 1 Yoh. 2:18), akhir zaman (tele toon ainoonoon, 1 Kor. 10:11). Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan, bahwa zaman yang dimulai dengan kelahiran Tuhan Yesus Kristus hingga sekarang dan seterusnya, adalah tujuan yang dituju oleh jalan-jalan yang diadakan oleh Tuhan Allah di dalam dunia ini.Yang dituju oleh sejarah umat manusia pada zaman-zaman sebelum kedatangan Kristus adalah zaman yang dimulai dengan kelahiran Kristus itu. Menurut Alkitab keselamatan pada akhir zaman ini memiliki dua segi, yaitu bahwa pada zaman akhir ini telah ada keselamatan, akan tetapi di lain pihak dikatakan juga bahwa keselamatan masih di depan kita atau belum ada. Artinya: keselamatan dengan segala hubungannya, yang hingga sekarang telah diberikan oleh Tuhan Allah kepada orang beriman, baru “untuk sementara waktu belum sempurna’. Apa yang telah ada sekarang ini belum sempurna. Akan tetapi apa yang telah ada itu menjadi jaminan atau garansi, bahwa yang sempurna akan dianugrahkan juga. Oleh karena itu zaman sekarang ini, disebut zaman dimana “kita hidup karena percaya” (2 Kor. 5:7). Orang beriman masih hidup dalam pengharapan akan menerima kesempurnaan keselamatan (Rm. 5:2).[32]

III.             Kesimpulan

Ungkapan Hari Tuhan merupakan ungkapan Eskhatologi Perjanjian Lama. Hari Tuhan adlaah dimana Allah menggenapkan rencanaNya, hari di mana kehendak Allah tergenapi dan Allah dimuliakan melalui setipa peristiwa-peistiwa penghakiman, akhir ataupun keselamatan bagi umat Tuhan. Hari Tuhan memiliki aspek sukacita bagi pengikut setia Yesus Kristus. Hubungan hari Tuhan dan eskatologi ini ditandai dengan Hari Tuhan juga penyelamatan bagi umat pilihan-Nya. Pada hari itu juga akan dilakukan penghakiman. Penghakiman yang dilakukan Allah bukan hanya untuk orang yang hidup namun juga untuk orang yang sudah mati. Jadi sangat jelas bahwa intervensi Allah sangat diyakini untuk membebaskan dan memberikan keselamatan bagi umat pilihan-Nya yang setia.

 

 

 

IV.             Daftar Pustaka

Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1999.

Rowley, H.H. The Faith of Israel, Philadelphia: The Westminster Press, 1956.

Demoss Matthew S.& J. Edward Miller, Dictionary Of Bible and Theologyy Words, Michigan USA: Zondervan, 2002.

 Jenni, E.  Day of Lord in The Intrepeter Dictionary of The Bible Volume 1, Nashville: Abigdon Press, 1962.

Rapids, Grand.  Theological Dictionary of The Old Testament Volume VI, Michigan: Publishing Company, 1982.

Rapids, Grand. Theological Dictionary of The Old Testament VoIume II, Michigan: Publishing Company, 1964.

Soedarmo, R.  Kamus Istilah Theologia, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1984.

D. Dauglas, J. Ensiklopedia Masa Kini (Jilid I, A-L), Jakarta: YKBK-OMF, 1992.  

Bosch, David J.  Transformasi Misi Kristen, Jakarta: BPK-GM, 1997.

Wilson, William. Old Testament Word Studies, Grand Rapids-Michigan: MWB. Eerdmans Publishing Co. Ltd., 1980.

Browning, W.R.F.  Kamus Alkitab (terj.), Jakarta: BPK-GM, 2007.

Soedarmo, R Ikthisar Dogmatika, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2006.

Siahaan, S.M. Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM, 2008.

Browning, W.R.F.  Kamus Alkitab, Jakarta: BPK-GM, 2007.

Gutrie, Donald.  Teologi Perjanjian Baru 1, Jakarta: BPK-GM, 2001.

Dister, Niko Syukur Teologi Sistematika II, Yogyakarta: Kanisius, 2005.    

Sibawaihi, Eskhatologi Al Gazali dan Fazlur Rahman,Yogyakarta: ISLAMIKA, 2004.

Marhan,  Royani.  Kiamat dan Akhirat, Jakarta: ERLANGGA, 2012.

Cudamani, Pengantar Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Yayasan Wisma Karma, 1987.

Abhijato, Acharan Suchart. kenikmatan inderawi adalah Menyakitkan, Kumpulan Ceramah Dhamma, Jakarta: Kalyasiri, 2007.

Mahathera, Ven. Narada.  Sang Buddha dan Ajaran-ajarannya Bagian II, Jakarta: Yayasan Dhammadipa Arama, 1992.

Wowor, Cirnelis.  Hukum Kamma Buddhis, Jakarta: CV. Mitra Kencana Buana, 2004.

Jayana, Thoriq Aziz.  Setapak Akhir Zaman, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2017.

Pandensolang, Welly.  Eskhatologi Biblika: Tinjauan Alkitabiah Tentang Akhir Zaman, Yogyakarta: ANDI, 2004.

Hadiwijono, Harun Iman Kristten, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.

 

Sumber Internet

https://rofiah995.blogspot.com/2016/07/hari, diakses pada hari kamis, 15 Oktober 2020, Pkl. 20:19 WIB

http://m.merdeka.com/trending/cerita-lengkap-asal-mula-munculnya-virus-corona-di-Indonesia.html , diakses pada hari Jumat, 16 Oktober 2020, Pkl. 00:45 WIB

 



[1] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), 298.

[2] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 965.

[3] A.S. Wood, ….., 368.

[4] H.H. Rowley, The Faith of Israel, (Philadelphia: The Westminster Press, 1956), 127.

[5] Matthew S. Demoss & J. Edward Miller, Dictionary Of Bible and Theologyy Words, (Michigan USA: Zondervan, 2002), 64.

[6] E. Jenni, Day of Lord in The Intrepeter Dictionary of The Bible Volume 1, (Nashville: Abigdon Press, 1962), 784.

[7] Grand Rapids, Theological Dictionary of The Old Testament Volume VI, (Michigan: Publishing Company, 1982), 18.

[8] Grand Rapids, Theological Dictionary of The Old Testament VoIume II, (Michigan: Publishing Company, 1964), 945.

[9] R. Soedarmo, Kamus Istilah Theologia, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1984), 33

[10] Matthew S. Demoss & J. Edward Miller, Dictionary Of Bible and Theologyy Words, (Michigan USA: Zondervan, 2002), 64.

[11] J.D. Dauglas, Ensiklopedia Masa Kini (Jilid I, A-L), (Jakarta: YKBK-OMF, 1992), 286.

[12] David J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 1997), 39.

[13] William Wilson, Old Testament Word Studies, (Grand Rapids-Michigan: MWB. Eerdmans Publishing Co. Ltd., 1980), 977.

[14] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab (terj.), (Jakarta: BPK-GM, 2007), 132-133.

[15] R. Soedarmo, Ikthisar Dogmatika, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2006), 254.

[16] S.M. Siahaan, Pengharapan Mesias Dalam Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK-GM, 2008), 27-30.

[17] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta: BPK-GM, 2007), 97.

[18] Donald Gutrie, Teologi Perjanjian Baru 1, (Jakarta: BPK-GM, 2001), 33-34.

[19] Donald Gutrie, Teologi Perjanjian Baru 1, (Jakarta: BPK-GM, 2001), 148-150.

[20] https://rofiah995.blogspot.com/2016/07/hari, diakses pada hari kamis, 15 Oktober 2020, Pkl. 20:19 WIB

[21] Niko Syukur Dister, Teologi Sistematika II, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), 568.

[22] Niko Syukur Dister, Teologi Sistematika II, 503.

[23] Sibawaihi, Eskhatologi Al Gazali dan Fazlur Rahman, (Yogyakarta: ISLAMIKA, 2004), 77.

[24] Royani Marhan, Kiamat dan Akhirat, (Jakarta: ERLANGGA, 2012), 19.

[25] Cudamani, Pengantar Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta: Yayasan Wisma Karma, 1987), 99.

[26] Acharan Suchart Abhijato, kenikmatan inderawi adalah Menyakitkan, Kumpulan Ceramah Dhamma, (Jakarta: Kalyasiri, 2007), 88-90.

[27] Ven. Narada Mahathera, Sang Buddha dan Ajaran-ajarannya Bagian II, (Jakarta: Yayasan Dhammadipa Arama, 1992), 188.

[28] Cirnelis Wowor, Hukum Kamma Buddhis, (Jakarta: CV. Mitra Kencana Buana, 2004), 91-99.

[29] Thoriq Aziz Jayana, Setapak Akhir Zaman, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2017), 39.

[31] Welly Pandensolang, Eskhatologi Biblika: Tinjauan Alkitabiah Tentang Akhir Zaman, (Yogyakarta: ANDI, 2004),32.

[32] Harun Hadiwijono, Iman Kristten,(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), 473.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar