BONIFATIUS
(Suatu Tinjauan Historis Praktis Mengenai Kiprah Bonifatius Dalam Pekabaran Injil Dan Relevansinya Terhadap Pekabaran Injil Di HKI Masa Kini)
I. Latar Belakang Masalah
Dalam Matius 28:18-20 dituliskan bahwa Yesus Kristus memberikan amanat kepada murid-murid-Nya. Amanat tersebut merupakan perintah untuk pergi menjadikan semua bangsa murid Kristus dan membaptis setiap orang yang menjadi murid-Nya dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kemudian mengajar setiap murid untuk melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Kristus. Ayat tersebut merupakan Amanat Agung Yesus Kristus untuk melakukan pemuridan dan penginjilan. Istilah ini dipakai oleh penulis Alkitab untuk menjelaskan tentang berita dari Kerajaan Sorga, yaitu Injil Yesus Kristus yakni berita tentang pengampunan dosa yang disediakan Allah bagi semua manusia berdosa melalui iman kepada pengorbanan Anak-Nya, Yesus Kristus di kayu salib serta kebangkitan-Nya dari antara orang mati, oleh-Nya manusia tidak binasa melainkan mendapatkan hidup yang kekal (Yoh. 3:16; 1 Kor. 15:1-4). Dalam pekabaran Injil gereja adalah alat Tuhan yang hadir untuk memberikan pelayanan kasih bagi semua orang, dan mengajar serta memberitakan Firman-Nya sampai ke ujung bumi (Mrk. 16:15). Gereja HKI hadir di dunia ini adalah salah satu alat Tuhan untuk memberitakan kabar baik yaitu memberitakan Injil ke seluruh bumi dan kesegala makhluk. Sejauh ini HKI tetap berjuang dalam pekabaran Injil, dimana HKI melalui Kantor Pusat tengah berjuang membuka pos-pos zending/Pekabaran Injil. HKI mengirim pelayan-pelayannya ke berbagai daerah yang belum ada gereja. Saat ini beberapa titik daerah pos zending yang telah dibuka HKI, antara lain[1] :
1. Jemaat Persiapan HKI Sampit, Kalimantan Tengah
2. Jemaat Persiapan HKI Pangkalan Banteng, Kalimantan Tengah
3. Jemaat Persiapan HKI Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah
4. Jemaat Persiapan HKI Palangka Raya, Kalimantan Tengah
5. Jemaat Persiapan HKI Juata Tarakan, Kalimantan Utara
6. Jemaat Persiapan HKI Pangkut, Kalimantan Tengah
7. Pos Zending HKI Kalimantan Selatan
8. Pos Zending HKI Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah
9. Pos Zending HKI Pundu, Kotawaringin Timur, Kal-Teng
10. Pos Zending HKI Kuala Kurun, Gunung Mas, Kal-Teng
11. Pos Zending HKI Temanggung, Wonosobo, Jawa Tengah
12. Jemaat Persiapan HKI Magetan, Jawa timur
13. Pos Zending HKI Buntok, Barito Selatan, Kal-Teng.
Jikalau dilihat dari hasil pekabaran Injil yang telah dilakukan HKI memang sangat sungguh luar biasa. Para pelayan yang telah dikirim HKI ke daerah zending sungguh-sungguh melakukan panggilannya untuk mengabarkan kabar baik yaitu Injil Kristus. Disamping itu banyak juga para pelayan HKI yang sangat kesulitan dalam melakukan metode-metode pekabaran Injil karena berbagai banyak faktor yang dihadapi. Oleh karena itu dari permasalahan ini, saya sebagai penyeminar tertarik untuk membahas seorang tokoh Bonifatius dalam kiprahnya melakukan pekabaran Injil dan menjadi relevansi untuk pekabaran Injil HKI masa kini.
II. Pembahasan
2.1. Riwayat Hidup Bonifatius
Bonifasius dilahirkan dalam keluarga Kristen pada tahun 680.[2] Ia lahir di kota Kirton, Inggris.[3] Nama aslinya adalah Winfred. Ia sempat tinggal dan belajar di sebuah biara sebelum akhirnya ditahbiskan sebagai imam pada usia tiga puluh tahun. Tahun 723, ia diangkat sebagai uskup dan sejak itulah namanya kemudian berubah menjadi Bonifasius.[4] Ia meninggal sebagai seorang martir ketika sedang menjalankan misinya di Frisia pada tahun 754.[5] Saat peristiwa itu terjadi, Bonifasius bersama sejumlah pengikutnya sedang berkemah di lembah sungai Borne sambil menanti kedatangan orang-orang yang hendak menerima sakramen.[6] Akan tetapi, sebaliknya yang datang justru adalah orang-orang yang berniat untuk membunuh Bonifasius beserta seluruh pengikutnya. Tulang kerangka Bonifasius dikumpulkan untuk disimpan di Utrecht tetapi kemudian dipindahkan ke Mainz dan akhirnya disimpan di Fulda.[7]
2.2. Ajaran Bonifatius
Bonifatius ingin agar semua orang mempunyai kesempatan untuk mengenal serta mengasihi Yesus dan Gereja-Nya. Ia menjadi seorang misionaris dibagian barat Jerman. Paus Santo Gregorius II memberkatinya serta mengutusanya dalam misi tersebut. Bonifatius berkhotbah dan berhasil dengan gemilang. Ia seorang yang lemah lembut serta baik hati, Ia juga sangat pemberani. Dia membuktikan keberaniannya bahwa berhala kafir-kafir itu tidak benar, dimana suatu pohon yang sangat besar yang disebut “Oak Thor” banyak orang kafir percaya bahwa pohon itu pohon keramat bagi para dewa mereka. Dihadapan orang banyak itu, Bonifatius menebang pohon itu dengan sebuah kampak, pohon besar itu pun tumbang. Orang-orang kafir itu sadar bahwa dewa-dewa mereka itu tidak ada ketika tidak suatu pun terjadi atas Bonifatius.[8]
2.3. Pekabaran Injil Bonifatius
Pada tahun 715, Winfred berangkat ke Firisia, tempat para misionaris Inggris yang telah berupaya berpuluh-puluh tahun lamanya.[9] Ia bersemangat untuk memberitkan Injil kepada orang-orang Inggris yang berpindah ke Eropa daratan. Oleh karena itu, ia meminta kepala baiaranya untuk mengutusnya ke Jerman supaya melakukan karya kerasulan di sana. Permohonannya segera dikabulkan dan bersama-sama dengan dua belas biarawan lainnya menuju ke Jerman. Pada tahun 715 mereka mendarat dipantai Friesland, Belanda Utara. Mereka memberikan Injil kepada penduduk disana namun tidak berhasil.[10] Tekanan disitu sangat kuat dan Winfred pun kembali ke Inggris. Inilah kegagalan misinya yang pertama.[11] Pada tahun 718 Winfred pergi ke Roma dan disana dia menerima tugas misionaris dari Paus. Ia ditugaskan untuk pergi lebih jauh, melewati sungai Rhine, ia mengunjungi Bavaria dan Thuringia. Selama tiga tahun lamanya ia memberitakan Injil di Friesland. Pada tahun 722 Bonifatius bekerja dikalangan penduduk Hesse dengan sangat berhasil. Ia mendirikan sebuah biara di Amanaburg. Pada tahun 723 Bonifatius dipanggil ke Roma dan ditahbiskan menjadi Uskup misionaris dan bersumpah untuk setia kepada Paus.[12] Dari Roma, ia pertama-tama ke Gaul (Perancis Selatan) dan menjalin hubungan kerja sama dengan keluarga Carolingen dalam pemberitaan kepada orang yang belum Kristen. Dengan dukungan Paus dan Carolingen, ia menuju Hesse untuk mengkristenkan penduduk disana. Disana Bonifatius membuat tindakan yang sangat berani. Ia ingin memperlihatkan bahwa Allah orang Kristen merupakan Allah yang memiliki kuasa yang mahatinggi. Bonifatius memusnahkan kekafiran dengan cara menumbangkan pohon yang dianggap suci. Dari hal itu penduduk Hesse menjadi Kristen.[13]
Semangat Bonifatius untuk memberitakan Injil tidaklah padam. Ia masih merasa berutang kepada penduduk Frisia karena kegagalannya masa lampau. Sehingga ia dan bersama-sama dengan 50 orang pengikutnya berangkat ke Frisia. Mereka berkemah di lembah Sungai Borne sambil menunggu datangnya orang yang bertobat untuk menerima sakramen. Maka datanglah serombongan orang, namun bukan untuk menerima sakramen, melainkan untuk membunuh Bonifatius dan kawan-kawannya. Pengikut Bonifatius mencoba melawan, tetapi Bonifatius berteriak; “Hentikanlah anak-anakku, dari pertikaian… jangan takut kepada mereka yang membunuh badan ini, tetapi tidak dapat membunuh jiwa yang abadi… terimalah dengan tenang serangan maut ini, agar anda dapat hidup dan memerintah bersama-sama Kristus selama-lamanya”[14] Bonifatius dan pengikutnya dibunuh. Mereka menjadi martir pada 5 juni 755.[15]
2.4. Karya Bonifatius
Bonifasius menjadi begitu terkenal karena tindakan yang dilakukannya di Geismar, Hesse (Jerman Barat). Pada waktu itu, penduduk di sana punya kebiasaan menyembah sebuah pohon Ek raksasa yang diyakini mereka sebagai tempat bersemayam dari dewa yang bernama Thor. Thor berarti dewa guntur dan perang.[16] Orang yang tidak menghormati pohon tersebut berarti tidak menghormati dewa Thor. Ini dapat menimbulkan kemarahan sang dewa kepada manusia. Bonifasius kemudian dengan berani menebang pohon itu. Tindakannya tersebut banyak mengundang kemarahan orang-orang. Konon, pada saat bonifasius menebang pohon itu, datang angin kencang yang menerjang pohon hingga patah menjadi empat bagian yang sama panjangnya. Tumbangnya pohon raksasa itu ternyata tidak menimbulkan kemarahan dewa.[17] Melihat peristiwa yang terjadi, orang-orang yang menyaksikan kemudian menjadi banyak yang percaya.[18] Ia melanjutkan karyanya dengan mendirikan biara-biara di kota Jerman. Salah satu yang terkenal adalah biara di Fulda yang hingga kini dikenal sebagai salah satu pusat Kristen Katolik di Jerman Tengah. Bonifasius menjadi semakin bersemangat untuk memperluas kegiatan-kegiatan misinya bagi orang-orang Jerman.[19] Dalam usahanya menyebarkan kekristenan, ia mendapatkan perlindungan dari Raja dari suku Franka yakni Karel Martel yang terkenal hebat dalam bidang militer.[20] Ia membuat berbagai aturan yang harus dipahami oleh siapa saja yang ingin menjadi seorang Kristen. Bersama dengan sahabat-sahabatnya, Bonifasius perlahan-lahan mulai mengajarkan beberapa cara hidup Kristen seperti mengajarkan orang-orang membedakan kebaikan dan kejahatan, tentang penghakiman yang akan datang,dan pentingnya orang melakukan puasa dan memperhatikan sesama dengan memberikan derma kepada orang miskin.[21]
2.5. Sekilas Tentang Gereja HKI
Huria Kristen Indonesia (disingkat: HKI), lahir, tumbuh, dan hidup dari dan oleh Firman Allah, dan menjadi perwujudan persekutuan orang yang percaya kepada Allah Bapa, Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus, Allah yang Maha Esa. HKI merupakan bagian dari Gereja yang Kudus dan Am, yang terpanggil dan terpilih serta diutus oleh Tuhan Yesus Kristus untuk penyataan tubuh-Nya di dunia ini (Roma 12: 5; 1 Korintus 12: 27; Kisah Rasul 2: 40 – 57; Efesus 4:16). HKI merupakan perwujudan dan pertumbuhan dari hadirnya Injil di tanah Batak yang disampaikan oleh penginjil yang diutus oleh Badan Zending RMG (Rheinische Mission Gesellschaft) dari negeri Jerman. Di antara penginjil itu adalah Pdt. DR. Ingwer Ludwig Nommensen (digelari; Rasul Bangsa Batak). Di bawah pimpinannya orang Batak dibawa ke luar dari kegelapan menuju terang Firman Allah (bnd. 1 Petrus 2:9), dan dari itu orang Batak mendirikan gereja-gereja yang mandiri, yang merupakan anugerah Tuhan Allah.
Salah satu gereja yang merupakan buah pemberitaan Firman Allah di tanah Batak adalah Hoeria Christen Batak (HChB), yang dideklarasikan berdiri sejak 1 Mei 1927 di Pantoan, Pematang Siantar di hadapan wakil pemerintah, dan yang diakui secara resmi oleh Pemerintah Belanda sebagai vereniging yang berbadan hukum dengan Besluit Nomor 29 tanggal 27 Mei 1933, dan yang dapat melaksanakan sakramen (baptisan dan Perjamuan Kudus) dengan Besluit Nomor 17 tanggal 6 Juli 1933. Pada Sinode Hoeria Christen Batak yang ke-29 tanggal 16-17 November 1946 di jemaat HChB/HKI Patane-Porsea, Tapanuli Utara (sekarang Kab. TOBASA), nama Hoeria Christen Batak diganti dan diperluas menjadi Huria Kristen Indonesia (disingkat: HKI), yang diakui dan disahkan Pemerintah Republik Indonesia sebagai organisasi gerejawi di Indonesia, dengan Besluit Nomor Dd/pdak/137/68 tanggal 1 Januari 1968. Kemudian pengakuan itu diperbaharui dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Protestan Departemen Agama Nomor 178 tahun 1991. Untuk mewujudkan tugas panggilannya, HKI melaksanakan pelayanan kasih, Sakramen Kudus, dan Pemberitaan Injil ke seluruh umat manusia (Markus 16:15; Matius 18:19-20), supaya segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa” (Filipi 2:11).[22]
2.6. Relevansinya Kiprah Bonifatius Dalam Pekabaran Injil Terhadap Pekabaran Injil di HKI Masa Kini
Mengabarkan Injil artinya mengabarkan berita Yesus Kristus kepada orang-orang berdosa agar mereka percaya dan beriman kepada Allah melalui Yesus Kristus, menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, dan melayani Dia sebagai Raja di dalam persekutuan gereja-Nya. Yang penting untuk diketahui adalah bahwa Pengabaran Injil dilakukan dalam kuasa Roh Kudus. Seperti semangat penginjilan seorang tokoh Bonifatius tidak pernah padam, Walaupun ia pernah gagal dalam misinya, tetapi ia tetap semangat untuk memberitakan kabar baik. Dalam pekabaran Injil, ia adalah seorang yang lemah lembut serta baik hati, Ia juga sangat pemberani. Dia membuktikan keberaniannya bahwa berhala kafir-kafir itu tidak benar, Ia ingin memperlihatkan bahwa Allah orang Kristen merupakan Allah yang memiliki kuasa yang mahatinggi. Bonifatius memusnahkan kekafiran dengan cara menumbangkan pohon yang dianggap suci. Bonifatius secara perlahan-lahan mengajarkan beberapa cara hidup Kristen seperti mengajarkan orang-orang membedakan kebaikan dan kejahatan, sehingga menjadi banyak orang yang percaya. Dari kiprah tokoh Bonifatius dalam pekabaran Injil bisa menjadi panutan dan relevan bagi HKI melalui pelayan-pelayannya dalam memberitakan kabar baik keseluruh dunia. Dimana sekarang ini dalam melakukan pekabaran Injil di HKI melalui pelayan-pelayannya banyak mengalami kesulitan untuk mengabarkan Injil karena berbagai faktor, salah satunya karena daerahnya yang belum pernah dijalani. Oleh karena itu melalui semangat yang dilakukan Bonifatius dalam pekabaran Injil, sampai ia martir demi meyebarkan kabar baik sangat relevan menjadi panutan bagi pelayan-pelayan HKI untuk mengabarkan Inji.
2.7. Analisa Penyeminar
Pemberitaan Injil adalah tugas yang melekat pada gereja. Di mana gereja berada, maka disitu Injil harus diberitakan. Gereja yang tidak memberitakan Injil sama dengan gereja yang mati suri: memiliki raga namun tanpa jiwa. Itulah sebabnya pemberitaan Injil yang didasarkan pada Matius 28:19-20 disebut sebagai amanat agung . Keagungan amanat itu terletak pada pemberi perintah, yaitu Yesus Kristus, kepala gereja yang agung. Sementara amanatnya adalah memberitakan Injil yang berpusat pada Yesus Kristus yang datang menyatakan diri di Bumi, kepada umat manusia (I Korintus 15:1-8). Dan amanat yang agung itu ditujukan kepada orang percaya, yang sejatinya tidak agung, agar menjadi agung, dengan memberitakan Injil.
Jadi, pemberitaan Injil adalah sebuah kesukacitaan, di mana pemberita dan penerimanya sama-sama bersukacita. Sehingga tidaklah berlebihan, bahkan sangat tepat, ketika Rasul Paulus berkata, Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik (Roma 10:15). Oleh karena dalam pemberitaan Injil, gereja HKI sebagai alat Tuhan hadir ketengah-tengah dunia untuk menjalankan amanat agung. Dari hal ini menjadi analisa saya adalah dimana HKI melalui pelayan-pelayannya dalam pekabaran Injil sangat relevan untuk melihat dan menjalankan bagaimana kiprah seorang tokoh Bonifatius dalam melakukan pekabaran Injil. Bahwa Bonifatius tidak pernah padam dalam melakukan pekabaran Injil. Ia sangat menindak tegas kekafiran, dan menunjukkan bahwa Allah orang Kristen yang maha tinggi dan maha kuasa.
III. Kesimpulan
Dari tinjauan historis praktis mengenai kiprah Bonifatius dalam pekabaran Injil, saya mengambil kesimpulan bahwa suatu tugas dalam mengabarkan Injil harus benar-benar dari niat hati dan berpegang selalu kepada Yesus Kristus, dan yang penting untuk diketahui adalah bahwa Pengabaran Injil dilakukan dalam kuasa Roh Kudus. Seperti Bonifatius semangat penginjilannya tidak pernah padam, ia adalah seorang yang lemah lembut, baik hati dan pemberani. Dari keberaniannya ia membuktikan kepada orang kafir bahwa berhala-berhala orang kafir tidak benar. Dan ia memperlihat bahwa Allah orang Kristen merupakan Allah yang memiliki Kuasa yang mahatinggi. Oleh karena itu, dari kiprah Bonifatius dalam pekabaran Injil menjadi Relevansi yang baik bagi HKI dan para pelayannya untuk diterapkan dalam semangat pekabaran Injil keseluruh dunia.
IV. Daftar Pustaka
……, ALMANAK HURIA KRISTEN INDONESIA (HKI) Tahun 2020,
Collins, Michael, Matthew Price. The Story of Christianity: Menelusuri Jejak Kristianitas, Yogyakarta: Kanisius, 2006
Curtis, Kenneth, Stephen Lang, Randy Petersen. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001
End, Th. Van den, Harta dalam Bejana. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008
Greenaway, George William, Saint Boniface: Three Biographical Studies for the Twelfth Centenary Festival. London, 1995
Moore, Michael E. Boniface in Francia, Leiden: Brill, 1998
Mostert, Marco .Bonifatius bij Dokkum Vermoord. Hilversum: Verloren, 1999
Patte, Daniel , The Cambridge Dictionary of Christianity, New York: Cambridge University Press, 2001
Wellem, F.D. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016
[1] ……, ALMANAK HURIA KRISTEN INDONESIA (HKI) Tahun 2020, 504-508
[2] Kenneth Curtis, Stephen Lang, Randy Petersen. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 41.
[3] F.D. Wellem. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), 42.
[4] Kenneth Curtis, Stephen Lang, Randy Petersen. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. 42.
[5] Daniel Patte , The Cambridge Dictionary of Christianity, (New York: Cambridge University Press, 2001), 137.
[6] Michael Collins, Matthew Price. The Story of Christianity: Menelusuri Jejak Kristianitas, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), 86.
[7] F.D. Wellem. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja. 42
[8] George William Greenaway, Saint Boniface: Three Biographical Studies for the Twelfth Centenary Festival. (London, 1995), 25
[9] Kenneth Curtis, Stephen Lang, Randy Petersen. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. 41.
[10] F.D. Wellem. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja. 43.
[11] Kenneth Curtis, Stephen Lang, Randy Petersen. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. 41.
[12] Mostert Marco, Bonifatius bij Dokkum Vermoord. (Hilversum: Verloren, 1999), 754.
[13] Michael E Moore. Boniface in Francia, (Leiden: Brill, 1998), 45
[14] Kenneth Curtis, Stephen Lang, Randy Petersen. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. 42
[15] F.D. Wellem. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja. 44
[16] Th. Van den End. Harta dalam Bejana. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 107.
[17] Michael Collins, Matthew of Christianity: Menelusuri Jejak Kristianitas, 85-86.
[18] Th. Van den End. Harta dalam Bejana, 107
[19]Michael Collins, Matthew of Christianity: Menelusuri Jejak Kristianitas, 86-87.
[20] Kenneth Curtis, Stephen Lang, Randy Petersen. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. 42.
[21] Michael Collins, Matthew of Christianity: Menelusuri Jejak Kristianitas, 86.
[22] https://www.huriakristenindonesia.com/sejarah-hki/ diakses pada tanggal 21 September 2020 pukul 19.00 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar