Pemimpin Pilihan Tuhan (Tinjauan Biblika, Historika, Sistematika, Praktika, Ilmu Agama dan Sosial Politik)
I. Pendahuluan
Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, karena di dalam memimpin pasti memiliki banyak hal perjalanan yang harus dilalui. Pemimpin menjadi pusat di dalam suatu negara, dan tentunya harus memiliki integritas dalam memimpin di dalam masyarat yang luas. Tetapi di dalam paper kali ini kita akan membahas tentang pemimpin pilihan Tuhan, yang jelas nya adalah bagaimana seharusnya pemimpin pilihan Tuhan tersebut menjanlankan kepemimpinanya dan akan kita gali secara biblika, historika, sistematika, praktika ilmu agama serta sosial, semoga dari hal ini dapat kita ikuti dan dapat mengerti tentang bagaimana sebenarnya pemimpin pilihan Tuhan.
II. Isi
2.1.Pengertian Kepemimpinan Secara Umum
Secara etimologi pemimpin atau Leader berarti bergerak lebih awal, berjalan di depan, mengambil langkah pertama mengarahkan pikiran, pendapat, dan tindakan orang lain.[1] Sedangkan kepemimpinan adalah seni untuk mengkordinasikan dan memberikan dorongan terhadap individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan memengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas dari anggota kelompok. Kepemimpinan adalah suatu hubungan orang-orang dimana yang satu memengaruhi yang lain untuk tercapainya tujuan bersama.[2] Dari berbagai pengertian diatas dapat dipetik beberapa kata kunci: memengaruhi, memotivasi tujuan. Kata kunci utama adalah memengaruhi. Hal yang dimaksudkan disini ialah bahwa kepemimpinan selalu ada pada setiap budaya dari segala bangsa di seluruh dunia. Dengan kata lain setiap budaya dari segala bangsa mengenal adanya kepemimpinan.[3]
2.2.Pengertian Kepemimpinan dalam Perspektif Theologia Kristen
Kepemimpinan dalam perspektif theologia Kristen adalah suatu aktivitas sadar seseorang yang karena panggilan Tuhan bagi dirinya sebagai alat Tuhan untuk mendeklarasikan Tuhan sebagai pemimpin yang melayani semua umat manusia pada umumnya dan melayani umat percaya (gereja) pada khususnya dengan cara memberitakan firman-Nya yang murni baik perkataan maupun perbuatan, menjadi model yang hidup, rela memberi segalanya untuk umat yang di pimpin dan memberi petunjuk untuk melihat kedepan (visi), memutuskan, mempengaruhi, memperlengkapi, menuntun, memotivasi dan mengevaluasi umat Tuhan dalam perang firman Tuhan demi terlaksananya kehendak Tuhan secara berkesinambungan dan terwujudnya misi Tuhan dari generasi ke generasi di dalam dan melalui gereja kepada dunia di segala bidang.[4]
2.3.Pemimpin pilihan Tuhan dalam Perjanjian Lama
Perjanjian Lama menyaksikan ada berbagai cara yang digunakan Allah untuk memilih pemimpin itu. Umumnya raja-raja diangkat melalui tokoh masyarakat atau melalui persetujuan bangsa Israel. Umpamanya dalam pengangkatan Saul (1 Sam 11:15), Rehabeam (1 Raja. 12:1), Omri (1 Raj. 16:16) dan banyak raja-raja lain. Dalam teologi Perjanjian Lama metode dan cara pemilihan itu berada di bawah hak prerogatif dan inisiatif Allah sendiri. seorang raja terpilih mulai bekerja setelah dilantik dan diurapi oleh nabi di Bait Allah sebagai simbol bahwa Allah yang berkenan terhadap raja. Seluruh bangsa Israel berdoa dan mempersembahkan korban berkat agar Allah berkenan kepada raja. Raja bekerja melalui peneguhan Allah dan juga dukungan seluruh rakyat dalam doa. Maju-mundurnya sebuah pemerintahan tergantung kepada kebijakan dan kesetiaan raja kepada Allah. Melalui pengangkatan raja berarti Allah berkenan mengikutsertakan manusia dalam rencana kerajaanNya. Seorang raja harus menyadari bahwa dia memerintah bukanlah atas nama sendiri dan bukan juga atas nama bangsa itu tetapi secara mutlak bertindak atas nama Allah yang memilihnya. Sehubungan dengan itu maka visi pemerintahan raja itu harus dalam rangka merealisasikan rencana- rencana kerajaan Allah. Ada tiga tugas utama raja dalam sebuah pemerintahan teokrasi. Raja berfungsi sebagai pemimpin pembebasan dan penyelamat. Raja bertindak sebagai penegak keadilan dan kebenaran. Raja bertugas untuk menciptakan masyarakat yang damai dan sejahtera. Tokoh-tokoh dalam Alkitab yang mengakhiri hidup dan kepemimpinannya dengan baik adalah Abraham, Ayub, Yusuf, Yosus, Kaleb, Elia, Yeremia, Daniel. Adapun alasan yang mendasar bagi mereka dapat mencapai garis akhir yang baik, tentu karena Tuhan memilih dan menyertai mereka sehingga; (1). Mereka hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Mereka berperan dan menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan bagi mereka. (2). Mereka tidak mengalami dan melakukan kehendak Tuhan sepenuhnya dan maksial dalam hidup mereka. (3). Mereka setia dengan kepercayaan yang Tuhan berikan pada mereka dan mereka menjalankan atau melaksanakan dengan setia. Yang mendasar pada orang-orang yang akhir hidupnya baik adalah karena mereka beroleh kasih karunia Allah berupa iman kepada Tuhan dan taat kepada panggilan Tuhan seperti Abraham, Ayub, Yusuf, Yosua, Kaleb, Elia, Yeremia, Daniel, namun mereka mengalami pemulihan sepenuhnya, sehingga tidak menghambat perjalanan mereka sampai mencapai garisakhir yang baik.[5]
2.4. Pemimpin pilihan Tuhan dalam Perjanjian Baru
Kepemimpinan Tuhan dalam Perjanjian Baru, dimulai dari firman Tuhan berupa pemberitahuan mengenai kedatangan Tuhan Yesus Sang Juruselamat kepada alat-alat kepemimpinan Tuhan dalam dunia, yakni Maria dan Yusuf (Mat 1; Luk 1:26-80) dan berlanjut pada pengenapan firman Tuhan, yakni kelahiran Tuhan Yesus. Di dalam Perjanjian Baru kata yang dipakai untuk menunjukan seorang pemimpin adalah hodegos yang mempunyai arti “pemimpin, penuntun” kata ini berasal dari kata hodos yang berarti suatu jalan atau cara dan kata hegeomai yang berarti pemimpin. Jadi dapat diartikan sebagai pemimpin atas/ jalan. Kata ini bisa juga diartikan sebagai penuntun (Kis 1:16), secara umum prinsip kepemimpinan dalam Perjanjian Baru merupakan kepemimpinan Teladan Artinya seseorang yang memimpin/membimbing orang lain melalui teladan yang dilakukannya. Yesus merupakan tokoh utama dalam Perjanjian Baru. Di dalam pengajaran dan kepemimpinanNya, Ia selalu menunjukkan melalui teladan yang dilakukanNya yaitu kepemimpinan yang berdasarkan Kasih ”Yesus menjadi model pemimpin yang sempurna.[6] Ia tidak hanya memiliki intelegensi yang tinggi, terbukti dari kepunyaanNya di kala usia remaja sudah mampu beragumen dengan para ahli-ahli taurat (Luk 2:41-52), tetapi Ia juga memiliki motivasi yang kuat dalam melakukan kehendak Allah. Model kepemimpinan Yesus berbeda dengan model pemimpin Yahudi yang cenderung dilayani dan mencari tempat-tempat terhormat Yesus duduk dan makan bersama dengan orang-orang berdosa, orang-orang sakit, dan mendengar keluhan-keluhan mereka.[7] Dalam Perjanjian Baru , para pejabat gereja disebutsebagai presbiter yang berarti tua-tua sejak tahun 100 Masehi jabatan presbister dibedakan dari episcopos dan sejak itu para pemimpin dalam gereja mulai dipahami secara structual dan piramidal.[8] Siapakah pemimpin dalam gereja? Tidak lain daripada Yesus Kristus kepala gereja. Kuasa dan otoritas mutlak dalam gereja adalah Allah.[9] Secara mutlak, Allah adalah otoritas tunggal dalam gereja. Menurut Eka Darmaputra, God Is the Leader, not merely a leader pemimpin dalam gereja adalah hamba-hamba yang diberikan otoritas untuk melayani dengan wibaya Kristus. Itu sebabnya para pemimpin dalam gereja disebut sebagai pelayan-pelayan sebab tugas dalam pokok mereka adalah memperlengkapi warga gereja untuk pekerjaan pelayanan dan pembangunan Tubuh Kristus. Oleh sebab itu para pemimpin harus menyadari bahwa mereka bukan penguasa dalam gereja melainkan pelayan-pelayan yang lebih berperan sebagai motivator, fasilitator, modrator, dan kordinator dalam pengelolaan organisasi gereja itu berarti tidak ada struktur kepemimpinan yang bersifat hirearki melainkan representatif.[10]
2.5.Karakter dan Ciri-ciri pemimpin yang dipilih Tuhan[11]
Kepemimpinan harus memiliki karakter dan ciri-ciri sebagaimana pemimpin tersebut menjadi pemimpin pilihan Tuhan. Pemimpin pilihan Tuhan harus memimpin kepada kepemimpinan yang berlandaskan kepada kerajaan Allah. Berikut adalah ciri-ciri kepemimpinan yang dipilih oleh Tuhan :
a. Kepemimpinan adalah suatu keyakinan dan panggilan
Menjadi pemimpin Kristen bukanlah suatu keinginan melainkan suatu keyakinan; bukan suatu pilihan, melainkan suatu panggilan. Memilih pemimpin berdasarkan keinginan, karena keinginan sangat kuat dengan kepentingan. Panggilan Tuhan pada seseorang untuk berperan sebagai pemimpin merupakan alasan, motivasi, dan kekuatan memimpin dari awal sampai akhir. Alkitab menginformasikan, bahwa Tuhan memanggil para pemimpin sekaligus Tuhan memberikan visi, iman, tekad, rela berkurban dan kekuatan kepada mereka sehingga mereka berperan dengan baik dan mencapai garis akhir kepemimpinan mereka dengan baik pula. Dalam kenyataannya, Alkitab membukakan bahwa ada pemimpin yang sekali pun dipanggil dan ditetapkan oleh Tuhan sebagai pemimpin.
b. Pemimpin adalah menyatakan atau mendeklarasikan kepemimpinan Tuhan dalam segala aspek
Menjadi representatif merupakan kepercayaan yang paling luar biasa diterima oleh pemimpin umat (Gereja), karena apapun yang diperankan atau dilakukannya adalah dalam rangka mewakili Tuhan. Ia berdiri atas nama Tuhan di hadapan umat Tuhan, dan bukan dalam arti memperalat nama Tuhan. Karena itu pula, tidakklah patut seorang pemimpin umat memiliki agenda pribadi. Adalah sikap tidak menghormati Tuhan apabila seorang pemimpin umat memimpin dengan penuh tipu daya. Sebagai perpresentatif kepemimpinan Tuhan dalam dunia. sebagai representatif, pemimpinan umat tentunya tidak memiliki visi dari dirinya sendiri dan tidak memiliki kekuatan dirinya sendiri pula untuk mewujudkan misi tersebut. seseorang pemimpin umat tidak memiliki agendanya sendiri selain menjalankan agenda Tuhan. Inilah yang dimaksudkan dengan pemimpin sebagai representatif kepemimpinan Tuhan.
c. Pemimpin adalah memberitakan Firman Tuhan
Para pemimpin umat (gereja) dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi alat kepemimpinan Tuhan atas umat-Nya. Sebagai representatif kepemimpinan Tuhan, para pemimpin umat berperan menyatakan atau mendeklarasikan kepemimpinan Tuhan kepada umat Tuhan, karena itu inti kepemimpinan Kristen adalah memberitakan firman Tuhan. Inilah tesis penulisan buku ini. Allah memimpin umat-Nya kepada mereka sehingga kehendak Tuhan terlaksana dalam dan melalui kehidupan umat-Nya. Sekali lagi ditegaskan bahwa memimpin adalah memberitakan Firman Tuhan dalam perkataan dan perbuatan pemimpin. Pemimpin yang menyampaikan firman adalah pemimpin seumur hidup, bahwa seumur hidupnya ia memberitakan Firman, dan pemimpin yang demikian akan mencapai garis akhir dan menjadi model karena imannya. Pemimpin adalah model hidup beriman.
d. Memimpin adalah Berkurban demi orang-orang yang dipimpin
Pemimpin dunia tidak akan mungkin rela menderita, bahkan sangat sulit mau rugi demi orang-orang yang dipimpinnnya. Justru, demi visi dan ambisi pribadi pemimpin, banyak orang yang dipimpinnya dikorbankan. Demi ambisi pribadi seseorang pemimpin, ia bisa mengorbankan orang-orang yang dipimpinnya. Mereka disebut oleh Tuhan Yesus sebagai pemimpin bayaran atau upahan (Yohanes 10:12-13).
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menyerahkan nyawanya bagi orang-orang yang dipimpinnya. Tuhan Yesus berkata: “Akulah gembalayang baik. gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya”. ( Yohanes 10:11). Tuhan Yesus adalah pemimpin yang baik, Ia menyerahkan nyawanya di atas kayu salib untuk menanggung murka Allah karena dosa-dosa orang-orang yang dipimpinnya. Tentu, sekalipun pemimpin gereja tidak mungkin mengulangi apa yang Tuhan Yesus lakukan, namun prinsip rela berkorban adalah tetap menjadi tuntutan dan panggilan seorang pemimpin umat (gereja).
e. Memimpin adalah menjaga seutuhnya orang-orang yang dipimpin
Pemimpin umat adalah penjaga orang-orang yang dipimpin seutuhnya. Dari pengertian tersebut seorang pemimpin umat (gereja) adalah seorang yang mengasihi Tuhan dengan seutuhnya hal ini sama dengan perintah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi (Lukas 10:27). Inilah yang dimaksud dengan mengasihi Tuhan dan sesama dengan seutuhnya. Pemimpin berperan bahwa memimpin adalah ekspresi dari mengasihi Tuhan dan sesama, termasuk orang-orang yang dipimpin. Mengasihi dan memimpin tidak akan terpisahkan.
f. Memimpin adalah mempengaruhi orang dengan kebenaran firman
Pemimpin umat (gereja) sesungguhnya tidak memiliki pengaruh apapundari dirinya sendiri. tidak ada pengaruh apapun dari pemimpin kepadaumat Tuhan, lagi pula umat Tuhan tidak bisa dipengaruhi oleh pimpinan umat, kecuali oleh Tuhan pemimpin umat. Tuhan mempengaruhi umatnya dengan Firman-Nya. Mempengaruhi orang-orang yang dipimpin dengan firman, bukan dalam pengertian memperalat firman untuk mendorong dan menggiatkan orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan pemimpin, karena firman Tuhan tersebut telah mempengaruhi sang pemimpin terlebih dahulu dan firman tersebut diteruskan kepada orang-orang yang dipimpin, sehingga benar-benar pemimpin dengan firman yang diterimanya dari Tuhan, firman yang dialaminya dan firman yang diberitakannya. Dengan demikian, pemimpin yang demikian menjadi model bagi umat Tuhan.
g. Memimpin adalah memperlengkapi orang-orang yang dipimpin untuk bertumbuh kearaha kedewasaan
Pemimpin umat (gereja) yang memimpin dengan memberitakan firman Tuhan adalah pemimpin yang memberdayakan umat dengan benar. Karena, firman Tuhanlah yang secara mendasar memberdayakan umat Tuhan melalui penggembalaan dan pengutusan. Pemberdayaan ini bukanlah hanya demi mencapai tujuan gereja, apalagi tujuan gereja denominasional, dan pastilah bukan untuk mencapai tujuan pemimpin gereja, bukan sama sekali dengan melainkan untuk mengenal Dia, memahami kehendak-Nya dan melakukan keehendak-Nya, sehingga dapat bertumbuh dan menuju kearah kedewasaan, yang berakibat pada hidup yang semakin berkwalitas, berpengetahuan, bersatu, bertambah kuat, berdiri seutuhnya dan berdiri teguh ( Efesus 4:11-16).
h. Memimpin adalah mensejahterakan orang yang dipimpin
Bukan tidak sedikit pemimpin gereja yang menjajah dan menawan orang-orang yang dipimpinnya dengan gaji. Yang tunduk atau taat pada agenda pemimpin diberikan gaji yang lebih banyak, diajak berlibur dan diberi jabatan. Sedangkan yang tidak taat karena tidak mendukung agenda pemimpin dibuatnya tidak berdaya, sampai dibuatnya orang-orang yang dipimpinnya mengundurkan diri karena tidak mau dicap jahat dengantidakkan memecat. Mereka yang seperti ini sesungguhannya bukanlah pemimpin melainkan penjahat. Pemimpin adalah representatif kepemimpinan Tuhan atas umat Tuhan. Sekalipun bukan hal yang utama namun memimpin juga berarti mensejahterakan orang-orang yang dipimpin. Tentu, bukan pempinan lembaga yang mensejahterakan melainkan Tuhanlah yang melakukannya. Pimpinan lembaga hanya melakukan tugas-tugas organisasi, termasuk beriman dan berusaha secara pantas mengenai kebutuhan-kebutuhan lembaga, tidak terkecuali kebutuhan untuk kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya.
i. Memimpin adalah mempersiapkan orang yang memipin selanjutnya
Memimpin tidak hanya berhenti pada upaya memberdayakan orang-orang yang dipimpinnya, melainkan juga pada upaya mempersiapkan orang-orang yang dipimpin menjadi pemimpin. Memimpin dengan cara mempersiapkan pimimpin selanjutnya. Tuhan Yesus memimpin murud-murid, dengan cara mempersiapkan murid-murid menjadi pemimpin gereja mula-mula melalui pemuridan yang mencapai punjaknya pada pengutusan mereka sebagai alat kepemimpinan Tuhan dalam sejarah gereja mula-mula yang berlanjut pada gereja disegala tempat dan sepanjang masa.
2.6. Kepemimpinan Tuhan dalam ilmu Agama, Sosial dan Politik
Pemimpin-pemimpin pilihan Tuhan harus mampu memberikan pengaruh yang baik di dalam setiap bidang sosial dan politik. Gereja tidak berpolitik tetapi pemimpin-pemimpin pilihan Tuhan tidak ikut menggarami perpolitikkan dimanapun ia berada, karena jika dia ikut menggarami perpolitikkan berarti dia sudah melakukan sesuatu kesalahan. Hal itu merupakan kerangka pikir kekristenan tentang kehidupan apapun yang dilakukan sebagai pilihan Tuhan haruslah merupakan ibadah kepada Tuhan. berarti berpolitik merupakan ibadah kepada Tuhan. oleh sebab itu pemimpin pilihan Tuhan harus memberikan sumbangsih dan ikut ambil bagian didalam kancah agar dapat memberikan nilai-nilai kekristenan kepada masyarakat yang lebih luas.[12]
2.7. Karakteristik Kepemimpinan Gereja secara Theologis
Kepemimpinan lembaga-lembaga gereja/gerejawi atau lembaga Kristen pastilah berbeda sama sekali dengan kepemimpinan lembaga-lembaga manapun yang ada dalam dunia. Telah dikemukakan sebelum ini perbedaan arti, dasar dan tujuan kepemimpinan gereja dengan kepemimpinan non-gereja. Karena itu, untuk yang kesekian kali, penulisan menyatakan bahwa tidaklah patut menerapkan kepemimpinan yang berlaku di lembaga atau organisasi-organisasi non-gereja/gerejawi berupa arti, dasar, tujuan, gaya kepemimpinan, bahkan perinsip pengelolaan keuangan perusahaan ke dalam organisasi-organisasi gereja/gerejawi. Ini disebut sekularisasi kepemimpinan gereja atau duniawisasi gereja, dan gereja terus-menerus dirusak oleh pemimpin-pemimpin sekuler atau duniawi. Berikut ini, penulis menggambarkan sejumlah karakteristik kepemimpinan gereja/gerejawi secara theologis.
a. Kepemimpinan Ilahi
Kepemimpinan Kristen bersifat ilahi karena kepemimpinan Kristen adalah berbicara menganai kepemimpinan Tuhan atas umat Tuhan (theokrasi). Tuhan adalah satu-satunya pemimpin umat, karena Ia adalah satu-satunya Pencipta, Pemilik, Penuntun dan Penjaga Umat-Nya. Ia memimpin umat-Nya berdasarkan kehendak-Nya. Kehendak Tuhan adalah benar, Mutlak, Baik, Terang, Mulia, Efektif, Cukup, Berotoritas, konsisten dan Koheren serta koresponden dengan semua maksud-Nya. Dia mengkhendaki umat-Nya menjadi seperti dan melakukan kehendak-Nya. Dia memimpin umat-Nya melalui hamba-hamba-Nya yang ditetapkan secara organisatoris oleh lembaga-lembaga gereja/gerejawi sebagai pemimpin lembaga. Tuhan memimpin umat-Nya melalui firman Tuhan yang diberitakan oleh alat-alat kepemimpinan-Nya. Itulah sebabnya kepemimpinan kristen adalah bersifat ilahi.
b. Kepemimpinan Bersifat Kekal
Kepemimpinan kristen tidak sama dengan kepemimpinan non grejawi manapun. Karakter kekalnya kepemimpinan kristen bertolak dari sifat kekalnya Allah dan pekerjaan-Nya. Kepemimpinan-Nya tidak pernah berakhir karena Tuhan tidak dapat dipecat sebagai pemimpin. Kepemimpina-Nya pun bukan hanya masa kini dan masa yang akan datang melainkan kepemimpinan-Nya kekal abadi. Kekalnya karakter kepemimpinan kristen juga dijelaskan denagn kekalnya firman Tuhan. Karena itu, pemimpin kristen dipanggil untuk mengarahkan semua kepemimpinannya tidak hanya kepada hal-hal yang bersifat kini dan disini, melainkan juga kepada hal-hal nanti dan disebrang sana.
c. Kepemimpinan Bersifat Humanis
Karakter kepemimpinan kristen bukan hanya bersifat ilahi melainkan juga bersifat insani atau humanistik. Allah tidak hanya memimpin umat-Nya dengan firman-nya dari tempat yang maha tinggi, melainkan juga Ia (Firman) telah menjadi manusia dan tinggal diatara manusia. Tuhan Yesus juga tidak hanya memimpin umat-Nya dengan memberitakan dan mengajarkan firman Tuhan kepada mereka. Melainkan juga memberi akan jasmani, menyembuhkan orang sakit bahkan membangkitkan orang mati. Ia tidak hanya datang sebagai pemimpin yang sederha supaya diterima oleh orang-orang yang sederhana melainkan Ia juga datang sebagai pemimpin yang mederita, pemimpin yang dimahkota duri dan pemimpin yang rela mati di kayu salib untuk orang-orang yang mebenci dan memusuhinya. Tuhan Yesus juga adalah pemimpin yang melayani. Ia melayani orang-orang tanpa membedakan. Ia bahkan pernah menangis denangis keadaan umat-Nya di kota Yerusalem, termasuk kehancuran tembok Yerusalem (Lukas 19:41), dan Ia bahkan turut menangis dengan orang-orang yang berduka karena kehilangan orang yang terkasih, seperti Tuhanyang menangis bersama Maria dan orang-orang Yahudi karena kematian Lazarus (Yoh 11:33-36). Kepemimpinan Tuhan Yesus juga adalah kepemimpinan yang humanistik. Ia peduli dengan keadaan dan penderitaan manusia.
d. Kepemimpinan Bersifat penuh Kebenaran
Menjadi representatif kepemimpinan Tuhan sangat rawat jatuh pada kesombongan, sehingga sangat gampang mengubah peran bukan lagi sebagai representatif (mewakili) melainkan mengkaliam dari sebagai pemimpin yang memimpin dari dan oleh dirinya sendiri. Namun, karena katakter berikut dari kepemimpinan kristen adalah penuh kbenaran, maka alat-alat kepemimpinan kristen dipelihara dan dikontrol oleh kebenaran. Kebenaran adalah kekuatan dan perlindungan para pemimpin kristen. Kepemimpinan kristen adalah kepemimpinan yang bersifat penuh kebenaran. Karena Tuhan memimpin umat-Nya dengan kebenaran yang disampaikanoleh alat-alat kepemimpinan Tuhan. Para pemimpin kristen (alat kepemimpinan Tuhan) pastilah orang-orang yang menerima firman Tuhan. Firman Tuhan adalah kebenaran yang mutlak. Itu berarti para prmimpin kristen adalah orang-orang yang mengetahui dan hidup dalam kebenaran yang mereka terima dan berikan. Pemimpin kristen adalah para teolog yang penuh dengan kebenaran. Pemimpin kristen adalah orang-orang yang hidup benar, yaitu hidup tidak munafik, tidak menipu, tidak berbohong, dan berpikir dan melakukan hal-hal yang tidak benar.
e. Kepemimpinan Bersifat Hidup dan Bertumbuh
Karakter kepemimpinan kristen adalah bersifat hidup dan bertumbuh. Allah adalah Allah yang hidup firman-Nya adalah firman yang hidup, firman yang memberi hidup dan firman yang menghidupkan. Kepemimpinan Tuhan atas umat-Nya adalah kepemimpinan yang hidup, karena Allah memimpin umat-Nya melalui firman-Nya yang hidup. Firman itulah yang mengaruniakan iman dan energi kepada alat-alat kepemimpinan Tuhan.[13]
III. Kesimpulan
Kepemimpinan adalah seni untuk mengkordinasikan dan memberikan dorongan terhadap individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan memengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas dari anggota kelompok. Kepemimpinan adalah suatu hubungan orang-orang dimana yang satu memengaruhi yang lain untuk tercapainya tujuan bersama. Kepemimpinan pilihan Tuhan harus memiliki karakter dan ciri-ciri sebagaimana pemimpin tersebut menjadi pemimpin pilihan Tuhan. Pemimpin pilihan Tuhan harus memimpin kepada kepemimpinan yang berlandaskan kepada kerajaan Allah, pemimpin Tuhan harus menjalankan segala roda pelayanan sesuai atau berlandaskan kepada Firman Tuhan, pemimpin Tuhan harus membawa atau membuat perubahan yang baik pada saat kepemimpinanya.
IV. Daftar Pustaka
Djhohan Agustinus Johanes, Lima Pilar Kepemimpinan di abad 21, Malang: Media Nusa Kreatif, 2016
Lumintang Stevri Indra, Theologia Kepemimpinan Kristen, Jakarta:Geneva Insani Indonesia, 2015
Nelson, Alan E, Spritualiti dan Leadership, Bandung: Yayasan kalam Hidup, 2007
Putra Eka Darma, Kepemimpinan Kristiani: Spritualitas Etika dan Tekhnik-Tekhnik Kepemimpinan dalam Era Penuh Perubaha, Jakarta: STTJ, 2001
Saragih Agus Jetron, Teologi Perjanjian Lama dalam Isu-isu Kontekstual, Medan: Bina Media Perintis, 2015
Tomata Jakup, Kepemimpinan yang Dinamis Malang: Gandum Emas, 1997
Rhony Pasu, “Coming Down To The Eart: Yesus Model Pemimpin yang Membumi, Dalam Jurnal Teologia”, Medan STT Abdisabda2014
Robert P. Bottong, Melayani Makna Sungguh: Signifikan Kode Etik Pendeta Bagi Pelayanan Gereja-gereja di Indonesia, Jakarta. BPK Gunung Mulia, 2016
Michael J. Anthony adn James Estep, Jr (eds ), Management Essentials For Christian Ministry Nasvhille: Broadman & Holman Publishhers 2005
[1] Agustinus Johanes Djhohan, Lima Pilar Kepemimpinan di abad 21, ( Malang: Media Nusa Kreatif, 2016), 3.
[2] Alan E, Nelson, Spritualiti dan Leadership, ( Bandung: Yayasan kalam Hidup, 2007), 34.
[3] Jakup Tomata, Kepemimpinan yang Dinamis, (Malang: Gandum Emas, 1997), 2-3.
[4] Stevri Indra Lumintang, Theologia Kepemimpinan Kristen, (Jakarta:Geneva Insani Indonesia, 2015),10
[5] Agus Jetron Saragih, Teologi Perjanjian Lama dalam Isu-isu Kontekstual, (Medan: Bina Media Perintis, 2015), 158-159
[7] Rhony Pasu, “Coming Down To The Eart: Yesus Model Pemimpin yang Membumi, Dalam Jurnal Teologia”, (Medan STT Abdisabda2014), 74
[8] Robert P. Bottong, Melayani Makna Sungguh: Signifikan Kode Etik Pendeta Bagi Pelayanan Gereja-gereja di Indonesia, Jakarta. BPK Gunung Mulia, 2016, 48
[9] Michael J. Anthony adn James Estep, Jr (eds ), Management Essentials For Christian Ministry Nasvhille: Broadman & Holman Publishhers 2005, 40
[11] Stevri Indra Lumintang, Theologia Kepemimpinan Kristen, (Jakarta:Geneva Insani Indonesia, 2015), 251-262.
[12] Eka Darma Putra, Kepemimpinan Kristiani: Spritualitas Etika dan Tekhnik-Tekhnik Kepemimpinan dalam Era Penuh Perubaha,( Jakarta: STTJ, 2001), 20-23.
[13] Stevri Indra Lumintang, Theologia Kepemimpinan Kristen, (Jakarta:Geneva Insani Indonesia, 2015), 268-279.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar