Gereja adalah Ibu Orang Percaya
Suatu Tinjauan Historis Teologis tentang Gereja sebagai Ibu menurut Cyprianus diperhadapkan dengan Gereja saat ini
I. Latar Belakang Masalah
Dalam hal keselamatan untuk orang-orang yang tidak tersentuh secara langsung oleh pelayanan Gereja, umumnya orang Kristen merujuk pada pekerjaan Roh Kudus yang secara misterius dapat melakukan pekerjaan untuk mengefektifkan anugerah Allah dalam kondisi yang demikian. Gereja bukan hanya berperan sebagai pengutus misionaris untuk mengabarkan Injil, atau menjadi saksi secara langsung ke orang-orang yang belum percaya, tetapi Gereja juga berperan sebagai “pengirim doa-doa” penginjilan untuk suku-suku terasing melalui syafaat-syafaat yang dinaikkan. Dalam hal ini kehadiran Gereja lebih dipahami sebagai suatu kehadiran spiritual melalui syafaat-syafaat imamat yang sungguh-sungguh. Suatu gereja juga harus memberikan suatu pengajaran yang dapat diterima oleh para jemaat yang ada didalamnya. Sebuah gereja hadir untuk memberikan atau membagiakn suatu hal yang positif bagi orang-orang yang hendak hadir didalamnya. Cyprianus sebagai salah satu tokoh bapa-bapa gereja juga memiliki pernyataan atau esensi yang berbeda tentang bagaimana ia memandang gereja itu sendiri. Pada masa pemerintahannya sebagai uskup di Kartago pada tahun 248 banyak hal permasalahan-permasalahan yang harus ia hadapi yang datang dari luar gereja itu sendiri. Mulai dari permasalahn dengan kaisar Desius hingga permasalahan dengan seorang uskup bernama Stefanus pada tahun 255 tentang baptisan ulang, dimana menurut Stefanus orang yang sudah dibaptis dalam gereja sekta jika ingin mesuk kedalam gereja Katolik maka tidak perlu lagi dibaptis tetapi lain halnya dengan Cyprianus menurutnya orang itu haruslah dibaptis kembali karena diluar gereja tidak ada keselamatan. Cyprianus juga mengatakan bahwa uskup itu berhak untuk menentukan keselamatan diri seseorang karena uskup didalam gereja dan gereja didalam uskup jika ia tidak berada dalam uskup maka ia uga tidak berada dalam gereja, gereja adalah sebagai ibu orang percaya. Disini penyeminar melihat bahwa ada kesan yang kurang baik dari apa yang dinyatakan oleh Cyprianus karna dari pemikiran yang dihasilkan oleh Cyprianus ini seperi memberi pernyataan bahwa keselamatan seseorang ini berada ditangan uskup yang berada dalam sebuah gereja. Gereja yang dimaksudkan didalam bukan gereja sebagai wadah pembentukan iman tetapi gereja sebagai uskup yang terlibat didalamnya. Bagaimana sebenarnya gereja sebagai ibu yang dimaksudkan oleh Cyprianus. Dari pemikiran-pemikiran yang timbul dan dihasilkan oleh Cyprianus inilah yang ingin di kritisi oleh penyeminar secara lebih mendalam lagi. Dari hal ini lah penyeminar tertarik untuk mengangkat judul “Gereja adalah Ibu Orang Percaya” Suatu Tinjauan Historis Teologis tentang Gereja sebagai Ibu menurut Cyprianus diperhadapkan dengan Gereja saat ini.
II. Pembahasan
2.1.Pengertian Gereja
Gereja adalah kumpulan umat pilihan Allah yang telah diselamatkan untuk memuji dan memuliakan namaNya, terikat oleh perjanjian Allah untuk melayani Dia dalam dunia. Gereja memiliki tugas utama melaksanakan Amanat Agung (Mandat Penginjilan) dan Mandat Budaya.[1] Gereja adalah persekuan orang-orang percaya yang ingin beribadah kepada Allah. Gereja tidak hanya tempat dimana manusia mendengar dan menerima tetati tempat dimana manusia menjawab dan memberi.[2] Istilah Gereja berasal dari bahasa Portugis, “igreya”, yang jika mengingat akan cara pemakaian sekarang adalah terjemahan dari bahasa Yunani Kyriake, yang berarti menjadi milik Tuhan. Adapun yang dimaksud milik Tuhan adalah orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnnya.[3] Dalam buku Harta Dalam Bejana karangan Th. van den End memberikan beberapa arti kata mengenai gereja yaitu: kata gereja melalui kata Portugis “igreja”, dari kata Yunani “ekklesia”, bahasa Inggris “church”, sedangkan Belanda adalah “kerk”. Sementara itu dalam bahasa Yunani ada satu kata lain yang berarti gereja, yaitu “kurakion”, berarti rumah Tuhan.[4] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata gereja diberi arti gedung (rumah) tempat berdoa dan melakukan upacara agama Kristen.[5]
Kristus adalah kepala gereja (Kol. 1:17-18). Kepala dan anggota tubuh memiliki hubungan hidup (Yoh. 15:5) Antar anggota tubuh memiliki hubungan yang erat satu dengan yang lain, memiliki karunia yang berbeda (1 Kor. 12:4-11), tetapi tak terpisahkan satu dengan yang lain, dan denganfungsi yang berbeda membangun tubuh Kristus (Efs. 4:11-16; 1 Kor. 12:26) Anggota tubuh dalam Kristus saling melengkapi, saling menolong (Ro. 15:7; Gal 1). Roh Kudus adalah sumber hidup gereja (Gal. 5:25) Roh Kudus adalah sumber kuasa gereja (Kis. 1:8; Kis. 4:31) Roh Kudus adalah kunci kesatuan gereja (Kis. 4:31-32) Roh Kudus membagikan karunia sesuai kehendak-Nya kepada gereja ( 1 Kor. 12:11) Gereja harus menyatakan kelayakannya sebagai Bait suci dari Roh Kudus.[6]
2.2.Sifat Gereja
1. Gereja adalah kudus
Kata kudus berarti disendirikan, diasingkan. Kata ini dapat diterapkan terhadap barang-barang, tetapi juga terhadap manusia. Pengudusan atau pengasingan itu diarahkan kepada suatu tujuan tertentu (bnd. Bil. 16:4).[7] Jadi Gereja harus menampakkan hidup baru di tengah-tengah dunia ini. Perbuatan-perbuatan Gereja harus secara jelas dapat dilihat oleh orang lain. Sehingga Gereja menjadi berkat.
2. Gereja adalah am
Kata yang diterjemahkan dengan “am” adalah khatolikus, yang artinya umum.[8] Dalam kata “am” tidak pernah dihubungkan dengan Gereja. Namun diluar Alkitab kata “am” berarti umum sebagai lawan dari tersendiri, setempat, dan sebagian. Dalam kata katholikus terkandung gagasan tentang keleluasaan tertentu dan ruang.[9] Sifat am gereja mengandung pernyataan, bahwa
keselamatan Allah bukanlah hanya diperuntukkan bagi gereja saja, akan tetapi diperuntukkan bagi seluruh dunia (Yoh. 3:16), dan bahwa yang didamaikan dengan Allah oleh Kristus bukan hanya gereja saja melainkan juga dunia (2 Kor. 5:19), dan bahwa Allah di dalam Kristus adalah Juruselamat dunia (1 Tim. 4:10), dan bahwa yang didamaikan adalah segala sesuatu, baik yang di bumi, maupun yang sorga (Kol. 1:20).[10]
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sifat gereja yang am berkaitan dengan tugasnya untuk memasyurkan Injil. Gereja tidak terikat kepada suatu zaman tetapi sepanjang segala masa.
3. Gereja adalah satu
Dalam Yohanes 17:20-21 Tuhan Yesus berdoa, supaya semua orang milikNya menjadi satu, sama seperti Bapa berada di dalam Anak dan Anak di dalam Bapa. Hal itu dimaksud supaya dunia percaya, bahwa Bapalah yang telah mengutus Anak. Jelaslah bahwa doa Kristus yang mengenai kesatuan Gereja ini dikaitkan dengan suatu tujuan khusus, yaitu supaya dunia percaya, bahwa“Engkaulah yang mengutus Aku” (Yoh.17:21).
2.3.Biografi Cyprianus
Cyprianus dilahirkan sebagai putra dari satu keluarga kaya raya di Kartago, Afrika Utara sekitar tahun 200/220. Orangtuanya beragama kafir. Ia memperoleh pendidikan sebagaimana biasanya untuk anak orang kaya pada masa itu yaitu retorika. Secara formal tugas orator hanyalah mengucapkan pidato pada upacara resmi, tetapi orang-orang yang fasih lidah dengan mudah mendapat jabatan yang tinggi dalam Negara. Cyprianus sangat dihargai karena kefasihannya. Kira-kira tahun 246 pada umur sekitar 40 tahun Cyprianus bertobat menjadi Kristen berkat hubungannya dengan seorang presbiter yang bernama Caecilius. Untuk menghormati presbiter itu pada waktu Cyprianus dibabtis, ia menambahkan nama presbiter itu kepadanya menjadi Caecilius Thascius Cyprianus. Sesudah Cyprianus menerima sakramen babtis kudus ia pun bertobat secara radikal. Harta miliknya dibagi-bagikan kepada orang miskin. 2 tahun kemudian sesudah dibabtis Cyprianus dipilih sebagai Uskup jemaat Kartago, ibu kota provinsi Afrika Utara.[11] Sebagai seorang mantan guru retorika dan orator terkenal, Cyprianus yang fasih berbicara dan saleh ia menanjak melalui jenjang karir di gereja sampai menjadi Uskup Kartago sekitar tahun 248. Meskipun ia terlatih dalam satra Yunani dan Romawi Klasik, Cyprianus bukanlah seorang teolog. Tidak seperti Tertullianus orang yang dikagumi. Cyprianus adalah orang yang pragmatis, yang tidak menghiraukan pertengkaran tentang teologi pada masanya. Yang diinginkannya adalah persatuan di gereja. Di gereja yang tidak ada kesatuan, ia mencoba menyatukan orang-orang Kristen melalui kuasa para uskup.[12] Cyprianus meninggal karena penyiksaan Kaisar Valerius. Karena menolak melakukan persembahan korban bagi dewa-dewa kafir, maka kepala uskup Kartago ini dipenggal pada tahun 258. Karena terancam perpecahan, gereja pada masa Cyprianus berpegang pada ide-idenya. Uskup tersebut tentunya tidak menduga akibat dari cara-cara yang dirintiskannya untuk mempersatukan gereja. Pada abad pertengahan, beberapa uskup yang rakus dan tidak bermoral menggunakan kuasanya untuk kepentingan pribadi, ketimbang untuk hal-hal rohani. Struktur hierarki yang menciptakan “persatuan” juga telah menyebabkan keretakan antara rohaniawan dan kaum awam.[13] Cyprianus masuk sejarah gereja sebagai seorang teolog pejuang, tetapi sebenarnya ia lebih merupakan seorang gembala dan administrator; berbagai tindakan dan kebijakannya, entah benar atau salah dimotivasi oleh perhatian sejati terhadap kesejahteraan pendeta dan anggota-anggotanya.[14]
2.4.Gereja Sebagai Ibu Menurut Cyprianus
Pada tahun 249 seorang kaisar bernama Desius naik tahta. Desius adalah seorang yang bersemangat yang ingin menyelamatkan kekaisaran romawi yang sudah hampir runtuh itu akibat serangan bangsa-bangsa Jerman. Untuk menyelamatkan kekaisaran romawi perlu dahulu dipastikan loyalitas seluruh rakyat. Orang-orang Kristen diduga tidak setia kepada Negara, sebab mereka tidak ikut dalam kultus kaisar. Barangkali tidak ikutnya orang Kristen dalam kultus Kristen menyebabkan para dewa marah terhadap kekaisaran.[15] Pada tahun 249 ini kaisar Decius memulai aksinya membasmi semua pemimpin gereja.[16] Penghambatan yang diadakan oleh Desius menjalar juga ke Kartago. Terdengarlah teriakan yang berbunyi “tangkap dan buang Cyprianus ke kandang singa! Cyprianus untuk binatang buas”. Cyprianus tidak takut sama sekali dan tetap tinggal dalam kota, namun sahabat-sahabatnya mendesaknya untuk melarikan diri. Oleh karena itu, ia bersama-sama dengan sahabat-sahabatnya melarikan diri ke padang gurun. Mereka berdoa bersama disana untuk jemaat yang mereka kasihi. Dari tempat persembunyiannya, Cyprianus banyak menulis surat untuk jemaatnya dan juga jemaat-jemaat lainnya. Ia pun mengirimkan uang kepada orang Kristen yang dipenjara karena imannya. Ia tinggal di persembunyian sampai penghambatan berakhir. Kemudian terjadilah malapetaka yang mengerikan di Kartago. Ribuan orang meninggal karena wabah penyakit. Banyak mayat tergeletak di jalan raya. Cyprianus kemudian membagi kota dalam beberapa wilayah setiap orang Kristen diberi tugas masing-masing. Mereka harus menolong orang-orang miskin. Namun segera terjadi kebencian terhadap orang Kristen, munculllah tuduhan yang mengatakan bahwa wabah penyakit itu disebabkan oleh orang Kristen. Akibatnya terjadi penghambatan di Kartago.[17] Oleh karena itu banyak anggota jemaat yang belum pernah mengalami siksaan sehebat itu menjadi murtad, tetapi banyak pula diantaranya lekas menyesali penyangkalannya, sehingga mereka minta diterima lagi dalam jemaat. Cyprianus setuju dengan maksud itu secara asas, yaitu gereja berhak mengampuni semua orang yang jatuh dalam dosa berat, tetapi tentang jalan penerimaan kembali itu ia mempertahankan pendiriannya, bahwa hanya uskup saja selaku pengganti rasul-rasul berkuasa mengucilkan dan menyambut kembali.
Pada tahun 255 Cyprianus menghadapi persoalan yang lain lagi. Uskup Stefanus dari Roma melarang babtisan ulang orang sekta, yang ingin masuk gereja Katolik. Pekara ini adalah mengenai orang sekta yang telah pernah dibabtiskan dalam salah satu sekta Kristen (Mis: Marcion, Montanus, orang gnostic Kristen, dan sebagainya) selaku kanak-kanak atau apabila mereka masuk sekta itu dari agama kafir sesudah dewasa. Jikalau orang yang demikian mau pindah ke gereja Katolik, maka menurut Stefanus, ia itu tidak perlu dibabtis untuk kedua kalinya. Lain sekali pendirian Cyprianus, “Di luar gereja tak ada keselamatan”, katanya. Pejabat-pejabat sekta tidak mewarisi hal dan kuasa rasul-rasul; oleh sebab itu segala sakramen tidak boleh diakui sah, sehingga perlu mereka dibabtiskan lagi. Stefanus menuntut supaya Cyprianus takluk kepada keputusannya, tetapi Cyprianus menolak. Pada hematnya, segala uskup sama derajatnya. Dan Matius 16:18 ditolaknya selaku dalil Alkitab, bahwa uskup Roma sajalah yang memusakai segala kuasa Petrus, karena oknum Petrus tidak menjadi dasar bagi pemerintah uskup Roma atas seluruh gereja; Petrus tak lain dari lambang saja dari persatuan semua uskup kata Cyprianus. [18] Dalam tahun-tahun terakhir hidupnya Cyprianus berselisih dengan Stepanus, uskup Roma mengenai sah tidaknya baptisan gereja bidat. Menurut Cyprianus, baptisan gereja tidak sah. Dasar pendapat Cyprianus adalah tak dapat seorangpun diluar gereja yang dapat melayankan sakramen. Gereja bidat berada diluar gereja, diluar uskup bahkan mereka bukanlah orang-orang Kristen. Cyprianus berkata, “Uskup dalam gereja dan gereja dalam uskup jika ia tidak bersama dengan uskup maka ia tidak berada dalam gereja”. Tidak ada keselamatan diluar gereja (Exta ecclesiam nulla sallus), demikian pendapat Cyprianus. Gereja adalah ibu orang percaya. [19] Pernyataan-pernyataan Cyprianus seperti “di luar gereja tidak ada keselamatan” dan “seorang tidak dapat mengatakan Allah sebagai bapanya tanpa mengakui gerej sebagai ibunya”, telah mendorong orang-orang memberi tempat yang amat penting bagi para uskup. seorang uskup dapat menentukan keanggotaan gereja. Akibatnya ia berkuasa menentukan keanggotaan gereja. Ia berkuasa mengatakan “engkau telah diselamatkan”, “engkau belum diselamatkan”. Bukan meyakini bahwa Roh kudus bekerja melalui gereja, Cyprisnus justru mengisyaratkan bahwa Roh (kudus) bekerja melalui para uskup. Dengan diterimanya ide ini, tentu saja, para uskup menapat kuasa lebih besar.[20]
2.5.Karya Cyprianus
Cyprianus menduduki jabatan sebagai seorang uskup kurang lebih sepuluh tahun, hingga ia mati syahid pada tahun 258. Tahun tersebut merupakan tahun-tahun penuh pergolakan dalam gereja. Karena keuletann Cyprianus sebagai pemimpin dijui melebihi kalau ia menjadi gubernur Romawi. Pemikiran-pemikiran dan reaksi terhadap masalah-masalah yang dihadapinya di atas segala-galanya ia seorang yang siap bertindak, bukan seorang cendikiawan. Bagi Cyprianus hidup dan fikiran sesuatu yang tidak dapat dipisahkan; tidak mungkin berbicara tentang yang satu tanpa membicarakan yang lain. Ia sangat dipengaruhi oleh Turtilianus yang menurut yang ia baca dan ia panggil “guru”. Namun, Turtilianus adalah seorang yang non-konformis radikal, orang yang secara lahiriah adalah orang luar, maka terutama Cypianus adalah seorang yang praktis yang lahir dengan sifat-sifat pemimpin. Pada Cyprianus, cita-cita Turtilianus tentang disiplin moral yang terlalu ekstrim menjadi lebih moderat dan dituangkan dalam bentuk yang lebih realistis, yaitu disiplin gerejawi.[21] Cyprianus selama masa hidupnya juga sempat melahirkan beberapa karya menulalui fikiran dan tulisannya.
1. Pada tahun 251 Cyprianus mengadakan konsili di Kartago dan disitulah ia membacakan On The Unity of The Church (Persatuan dalam Gereja), karyanya yang terkenal dan yang sangat berpengaruh dalam gereja. Gereja, katanya adalah lembaga ilahi, yaitu mempelai Kristus dan hanya ada satu mempelai: hanya dalam gereja manusia akan mendapatkan keselamatan, di luar gereja hanyalah kegelapan dan kebingungan. Diluar gereja, sakramen dan para rohaniawan bahkan Alkitab tidak ada artinya. Seseorang, secara pribadi tidak adapat menjalankan kehidupan Kristen melalui kontak langsung dengan Allah; ia membutuhkna gereja. Karena Kristus mendirikan gereja diatas Petrus, si Batu Karang, Cyprianus berkata bahwa semua uskup dalam arti adalah penerus Petrus dan oleh karenanya harus dipatuhi. Meskipun tidak mengatakan bahwa uskup Roma diatas uskup lainnya, nmaun Cyprianus menyatakan bahwa uskup Roma berada diatas para uskup lainnya, namun Cyprinus memandang bhawa keuskupan itu sebagai suatu yang khusus karena hubungan petrus dengan kota tersebuat.[22]
2. Dalam kitabnya “Tentang orang Murtad” ia menguraikan tentang Disiplin gereja. Dalam kitabnya amal dan derma dinyatakan moralisme yang dangkal, yang merajalela dalam gereja pada masa itu: pertapaan dan derma perlu dalam hidup orang Kristen supaya amalan-amalan itu dapat dibalas oleh Tuhan dan mengarunikan pengampunan dan pahala.[23] Biasanya orang yang murtad (menyangkal imannya) tidak diterima lagi oleh gereja. Tetapi apa yang harus dilakukan oleh sejumla orang-orang yang ingin kembali? Ada dua masalah pertama, apakah mereka yang tergelincir itu segere harus diterima kembali atau hanya setelah menjalani masa penghukuman (yaitu pengakuan didepan umum diikuti dengan penyesalan yang ketat), atau sama sekali tidak? Kedua, siapa yang berhak memutuskannya? Mereka yang dilempar kepenjara untuk imannya dan siap untuk mati membelanya (para confessor, yaitu syahid atau “pengaku”) telah mengambil prakarsa sendiri untuk merujukkan mereka yang kendur imannya dengan gereja. Menurut tradisi mereka memang menpunyai hak untuk melakukan ini, tetapi ada yang melakukannya secara tidak bertanggungjawab denga melimpahkan “pengampunan” kepada siapa saja. Apakah kuasa itu ada ditangan para syahi atau uskup-uskup? Cyprianus menegaskan bahwa kusas itu berada pada tangan para uskup, walaupun mereka harus mempertimbangkan usul-usul para syahid.[24]
3. De Eccelesiae Unitate (Keesaan Gereja), membahas soal ini, kesatuan gereja adalah kesatuan suatu kenyataan yang tidak sama. Satu-satunya gereja yang benar adalah gereja Katolik. Tidak mungkin orang membagi-bagikan gereja, ia hanya dapat keluar daripadanya seperti yang dilakukan Novatianus. Mereka yang menghendaki skisma sebenarnya bunuh diri secara spiritual. Bila suatu cabang dipotong dari pohonnya, ia tidak akan bertunas; bila anak sungai dipotong dari sumbernya, ia kan kering. Begitu pula dia yang meninggalkan gereja Kristus ia tidak akan mendapatkan anugerah Kristus.[25]
4. Cyprianus juga mencetuskan ide bahwa misa adalah pengorbanan tubuh dan darh Kristus, karena para imam menjalankanfungsinya dalam ibadah atas nama Krisus, maka hal itupun meningkatkan kuasa mereka.[26]
2.6.Dampak Pemikiran Cyprianus Bagi Gereja
Cyprianus menganggapan skisma ini sangat serius. Tulisannya yang terpenting, De Ecclesiae Unitate (Keesaan Gereja), membahas soal ini. Kesatuan gereja adalah suatu kenyataan dan tidak ada tempat bagi macam-macam aliran di tempat yang sama. Satu-satunya gereja yang benar adalah gereja Katolik. Tidak mungkin orang dapat membagi-bagikan gereja, ia hanya dapat keluar daripadanya seperti yang dilakuakan Novatianus. Mereka yang menghendaki skisma sebenarnya bunuh disi secara spiritual. Uskup-uskup adalah pengganti para rasul, artinya kepada mereka telah diserahterimakan tugas-tugas para rasul. Seorang uskup adalah yang paling tinggi dalam gereja sendiri, walaupun ia hanya menjadi uskup dalam persekuatuan dengan uskup-uskup lain dari gereja Katolik. Para uskup sama seperi pemegang saham dalam suatu perusahaan (keuskupan) pemegang saham hanya mempunyai saham suatu perusahaan bersama-sama dengan pemegang saham lainnya. Pengaruh Cyprianus luar biasa, khusunya atas Gereja Barat. Ia membantu Gereja Katolik menjadi gereja para uskup yang otoriter dari pada gereja para martir yang berkharisma. Pandangannya mengenai pembabtisan ulang pada abad ke-4 ditolak oleh oleh gereja Katolik di Afrika. Akan tetapi terdapat gereja donatis yang melepaskan diri dan melihat dirinya sebagai gereja martir, yang tetap mempertahankan pandangan Cyprianus mengenai pembabtisan ulang. Cyprianus berhasil mengangkat posisi para uskup jauh diatas rohaniawan lain serta kaum awam, tetapi ia kurang berhasil mrmbuat mereka mandiri. Pada waktunya pandangan Cyprianus mengenai satu dewan uskup-uskup yang setingkat yang disusun oleh dewan katolik Roma tentang paus sebagai uskup di segala uskup, setidaknya di Barat. Pengaruh Cyprianus yang terbesar adalah soal-soal dan seperti sifat keesaan Gereja. Selama lebih dari seribu tahun doktrinnya berlaku sebagai norma dan baru belakangan ini ajaran ini di Gereja Katolik Roma agak diperlunak seperti tampak dalam teori tentang “kekristenan awanama”.[27] Inilah permulaan perjuangan antara golongan kurialis dan episkopalis yang berabad-abad lamanya selalu mengacaukan gereja. Orang kurialis selalu mengemukakan bahwa uskup Roma atau paus adalah satu-satunya kepala seluruh gereja (curia, sebenarnya adalah anma gedung senat di Roma, tetapi kemudian dipakai untuk istana Paus), padahal para episkopalis membela hak para uskup untuk bersama-sama memerintah atas gereja. Lama-kelamaat kuasa paus makin diakui dan dijunjung, sampai akhirnya pendirian Stefanus mendapat kemenangan definitif pada konsili Vatikan (Tahun `1970), di sana kuasa Paus mengenai segala ajaran dan kesusilaan gereja diresmikan menjadi dogma gereja Katolik Roma. Karena Cyprianus tetap melawan kehendaknya, Stefanus memutuskan hubungan gereja dengan dia, tetapi Cyprianus dengan pengikutnya tidak peduli. Perselisihan itu baru selesai setelah Strfanus meninggal pada tahun 256. Tidak lama kemudian pecahlah penghambatan baru di Carthago. Sekarang Cyprianus tak bersembunyi lagi, ia ditangkap dan disiksa hebat tetapi meskipun begitu ia tetap tidak mau memungkiri pendapatnya itu. Sesudah diputuskan bahwa ia harus mati dipancung, jemaat mengikuti uskupnya ketempat ia dibunuh seraya berseru: kami mau mati bersama dia! Demikianlah Cyprianus mata syahid pada tahun 258.[28]
2.7.Refleksi bagi Gereja Saat ini
“Gereja adalah Ibu orang percaya” ini adalah sebuah kalimat yang disampikan oleh Cyprinus. Dari uraian diatas telah dilihat bagaimana awal mula kehidupan Cyprianus dan bagaimana masa-masa kepemimpinannya hingga ia mencetuskan kalimat ini. Gereja adalah tempat perkumpulan orang-orang yang percaya kepada Allah untuk bersatu dan bersekutu memuliakan nama Tuhan. Ibu adalah seorang yang melindungi dan mengayomi serta akan selalu mengasihi nak-anaknya. Cyprisnus adalah seorang yang sangat teguh pada pendiriannya dan jika kita melihat dari apa yang dilakukan oleh Cyprianus ini dia adalah seorang yang sangat bertahan atas pendapat yang sudah ia sampaikan. Cyprianus tetap Bertahan dengan pernyataan bahwa orang yang masuk dari luar gereja katolik atau yang berasal dari gereja sekte maka harus dibabtis ulang karena tidak ada keselamatan diluar gereja. Dia juga menyatakan bahwa uskup-uskup adalah adalah pengganti para rasul dan uskup adalah jabatan yang paling tinggi dalam sebuah gereja. Satu-satunya gereja yang benar adalah gereja Katolik. Tidak mungkin orang dapat membagi-bagikan gereja, ia hanya dapat keluar daripadanya seperti yang dilakuakan Novatianus. Ini adalah pernyataan yang disampaikan oleh Cyprianus dan menunjukan bahwa adanya sebuah sikap yang fanatik atau anti terhadap gereja yang lain. Tetapi ditengah sifat dan sikap fanatic yang ada dalam dirinya dapat dilihat adanya upaya dari Cyprianus ini sendiri untuk mempersatukan orang-orang yang ada dalam gereja. Jika kita reflesksikan bagi gereja saat ini dimana kita melihat saat ini begitu banyak gereja-gereja yang telah hadir baik dari aliran Katolik, Protestan maupun Kharismatik. Gereja ini berjalan dengan pengajaran dan peraturannya masing-masing. Dari hal ini kita dapat melihat bahwa perbedaan memang selalu ada baik dalam beberapa hal tertentu dan demikian juga dengan gereja. Tetapi yang perlu kita lihat bahwa gereja saat ini cukup terbuka dengan adanya kehadiran gereja-gereja yang lain. Contohnya jika ada yang ingin berpindah dari satu gereja kegereja yang lainnya terlihat disini adanya sikap keterbukaan walaupun harus dengan proses belajar terlebih dahulu dan mengikuti ajaran dari gereja yang bersangkutan. Dari hal ini memang terlihat sesuatu yang bertentangan dengan apa yang terjadi pada masa Cyprianus dimana dia adalah orang yang cukup tertutup dengan hadirnya gereja yang lain bahkan hingga menimbulkan pertentangan-pertentangan didalam gereja. Cyprianus itu beranggapan bahwa gereja itu hanyalah satu, gereja itu harus dapat mengayomi dan dan melindungi dan uskup-uskup adalah pengganti para rasul ini juga salah satu pemahaman yang keliru. Firman Tuhan seolah sudah terabaikan karena uskup yang dinggap memiliki jabatan paling tinggi dalam gereja. uskup dapat menentukan seseorang selamat atau tidak adalam hidupnya. Kita dapat berefleksi dari hal ini bahwa ini adalah sesuatu yang tidak tepat sebenarnya, gereja tidak boleh bertindak demikian. Gereja adalah ibu dari orang percaya tetapi gereja tidak boleh meninggalkan eksistensi yang sesungguhnya sebagai tempat untuk mengayomi jemaat. Kita juga perlu pahami bahwa jabatan tertinggi dalam sebuah gereja bukanlah uskup atau pemimpin gereja tetapi Yesus Kristus adalah kebagai kepala gereja dan gereja harus berjalan sesuai dengan imamat Am orang percaya. Gereja harus tetap bersatu dan berjalan beriringan walaupun di tengah-tengah perbedaan yang ada. Dalam hal mempertahankan iman Cyprianus adalah seorang yang patut dicontoh karena ia sampai rela untuk mati syahid demi mempertahankan imannya, . ia benar-benar teguh dan upayanya untuk mempersatukan orang-prang didalam gereja. Walaupun sebenarnya dari ajaran yang ia sampaikan menimbulkan kontroversi dari pihak-pihak yang yang ada dalam gereja.
III. Analisa Penyeminar
Analisa penyeminar dari karya yang dilahirkan oleh Cyprianus tentang gereja adalah ibu orang percaya. Gereja tidak hanya hadir sekedar menjadi tempat peribadahan bagi orang-orang Kristen tetapi sebagai tempat untuk berbagi dalam pergumulannya. Pemikiran Cyprianus ini dapat diadopsi kembali jemaat-jemaat pada masa sekarang ini dalam hal bagaimana ia mempertahankan imannya, tetapi sikap yang menganggap gerejanya paling benar ini adalah pemahaman yang keliru dari Cyprianus. Cyprianus ingin menjadikan gereja sebagai tempat untuk orang-orang bisa merasakan kenyamanan. Bagaimana selayaknya seorang ibu, hal itulah yang ingin diangkatkan lagi oleh tokoh ini. Cyprianus sangat menentang adanya pengajaran-pengaran bidat diluar gereja. Cyprianus ingin benar-benar menekankan “Extra ecclesia nulla sallus” bahwa tidak ada keselamatan diluar gereja. serta gereja adalah ibu bagi orang percaya. Cyprianus ingin menetapkan bahwa gereja adalah lembaga yang ilahi. Orang-orang yang hadir dalam gereja tidak boleh mempermainkan apa yang telah dilahirkan di dalamya. Pejabat-pejabat gereja harus ikut serta dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi para jemaat yang ada dalam gereja. Uskup-uskup dalam gereja dianggap sebagai orang yang memiliki jabatan yang paling tinggi dan dapat menentukan keselamatan dari seseorang. Cypriamus juga mengatakan bahwa tidak ada keselamatan diluar gereja Katolik dan bagaimana mungkin gereja dapat untuk dibagi-bagi. Jika pemahaman ini yang kita anut, ini merupakan sesuatu hal yang berbahaya karena sejauh ini penyeminar ingin mengkritisi dari apa yang telah dinyatakan dan dilahirkan oleh Cyprianus. Bukan tindakan yang dilakukan Cyprianus yang pada akhirnya ingin dihidupkan kembali, namun sumbangan fikirannya yang ingin mempersatukan orang-orang Kristen dan menjadikan mereka untuk benar-benar merasakan kenyamanan dalam diri gereja dan menjadikan gereja sebagai ibu mereka.
IV. Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan :
1. Gereja adalah kumpulan umat pilihan Allah yang telah diselamatkan untuk memuji dan memuliakan namaNya, terikat oleh perjanjian Allah untuk melayani Dia dalam dunia. Gereja memiliki tugas utama melaksanakan Amanat Agung (Mandat Penginjilan) dan Mandat Budaya.
2. Cyprianus dilahirkan sebagai putra dari satu keluarga kaya raya di Kartago, Afrika Utara sekitar tahun 200/220. Cyprianus sangat dihargai karena kefasihannya. Kira-kira tahun 246 pada umur sekitar 40 tahun Cyprianus bertobat menjadi Kristen berkat hubungannya dengan seorang presbiter yang bernama Caecilius
3. On The Unity of The Church (Persatuan dalam Gereja), karyanya yang terkenal dan yang sangat berpengaruh dalam gereja. Gereja, katanya adalah lembaga ilahi, yaitu mempelai Kristus dan hanya ada satu mempelai: hanya dalam gereja manusia akan mendapatkan keselamatan, di luar gereja hanyalah kegelapan dan kebingungan.
4. Dampak pemikiran Cyprianus adalah ia membantu Gereja Katolik menjadi gereja para uskup yang otoriter dari pada gereja para martir yang berkharisma.
5. Cyprianus mengatakan bahwa tidak ada keselamatan diluar gereja (Exta ecclesiam nulla sallus), Gereja adalah ibu orang percaya. Gereja harus mengayomi orang-orang yang hendak dan mau untuk hadir didalamnya.
V. Daftar Pustaka
Aritonang, Jan S & De Jonge, Apa dan Bagaimana Gereja?, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009
Berkhof, H. & I Enklaar, Sejarah gereja, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009
Browning, W.R.F, Kamus Alkitab, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007
Curtis, A. Kenneth, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015
End, Th. van den, Harta Dalam Bejana, Jakarta: Gunung Mulia
Hadiwijono, Harun, Iman Kristen, Jakarta: Gunung Mulia, 2007
Jong, de, Jan. S. Aristonang, Apa dan Bagaimana Gereja: Pengantar Sejarah Ekklesiologi, Jakarta: Gunung Mulia, 2003
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta: Balai Pustaka, 1995
Lane, Tony, Runtut Pijar Tokoh-tokoh Pemikiran Kristen dari Masa ke Masa, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2016
Thiessen dan C. Henry, Teologi Sistematika, Malang: Gandum Mas, 1997
Tidball, Derek J., Teologi Penggembalaan, Jakarta: Gandum Mas, 2020
Wellem, F.D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011
Wellem, F.D., Hidupku Bagi Kristus, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003
[1]Browning W.R.F, Kamus Alkitab, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007),118
[2] Jan S Aritonang & De Jonge, Apa dan Bagaimana Gereja?, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009), 5
[3] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: Gunung Mulia, 2007), 362
[4] Th. van den End, Harta Dalam Bejana, (Jakarta: Gunung Mulia), 7
[5] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), 313
[6]Thiessen dan C. Henry, Teologi Sistematika, (Malang: Gandum Mas, 1997), 483-485
[7] Harun Hadiwijino, Iman Kristen, (Jakarta : Gunung Mulia, 2012), 375
[8] Chr. de Jong, Jan. S. Aristonang, Apa dan Bagaimana Gereja: Pengantar Sejarah Ekklesiologi, (Jakarta: Gunung Mulia, 2003), 376
[9] Harun Hadiwijino, Iman Kristen, 378
[10] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 380
[11] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 62
[12] A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 14-15
[13] A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 16
[14] Derek J. Tidball, Teologi Penggembalaan, (Jakarta: Gandum Mas, 2020), 147
[15] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, 62
[16] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 36
[17] F.D. Wellem, Hidupku Bagi Kristus, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 116-117
[18] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 36-37
[19]F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, 63
[20] A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 15
[21] Tony Lane, Runtut Pijar Tokoh-tokoh Pemikiran Kristen dari Masa ke Masa, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2016), 19-20
[22] A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 15
[23] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 36-37
[24] Tony Lane, Runtut Pijar Tokoh-tokoh Pemikiran Kristen dari Masa ke Masa, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2016), 19
[25] Tony Lane, Runtut Pijar Tokoh-tokoh Pemikiran Kristen dari Masa ke Masa, 21
[26] A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 16
[27] Tony Lane, Runtut Pijar Tokoh-tokoh Pemikiran Kristen, 22
[28] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 38
Tidak ada komentar:
Posting Komentar