Karakteristik Kenabian dalam Perjanjian Lama
(Ditinjau dari Dogmatika, Ilmu Agama-Agama dan Agama Suku, Diperhadapkan dengan Fungsi Suara Kenabian Gereja Masa Kini)
I. Latar Belakang Masalah
Dalam Perjanjian Lama yang juga menarik adalah karakteristik dari nabi-nabi yang diutus langsung oleh Allah. Allah secara langsung berbicara dengan nabinya. Nabi-nabi sering diperankan sebagai pengajar sehingga seringkali para nabi tersebut dipanggil dengan sebutan Rabi (guru). Selain sebagai pengajar, nabi-nabi dalam Perjanjian Lama sering ditugaskan Allah untuk menegur raja-raja yang bersalah dan penasehat kepada suatu bangsa. Akan tetapi selain menjadi seorang guru dan para raja, para nabi juga ditugaskan Allah sebagai juru bicara Tuhan. Melihat bagaimana Allah memanggil dan mengutus para nabi dalam Perjanjian Lama akan memberikan dasar bahwa panggilan dan pengutusan Allah itu sangat mulia. Mereka berbicara atas nama Allah. Allah yang memulai berinisiatif untuk memanggil dan mengutus orang-orang yang dipilih secara khusus menjadi perantara antara diri-Nya dengan manusia. Tugas kenabian sering membawa mereka pada situasi yang sulit, sehingga nabi juga mengeluh. Karena tanggung jawab yang besar yang dituntut dari pewartaan sabda tersebut. Terkadang seorang nabi tidak meragukan tugas perutusannya untuk menyampaikan firman Tuhan tersebut.
Dengan penulisan ini maka penulis secara khusus akan membahas tentang karakteristik kenabian dengan mempelajari bagaimana pernyataan Allah, panggilan dan pengutusan para nabi. Dengan mempelajari tentang karakteristik kenabian dalam Perjanjian Lama, diharapkan setiap orang percaya dapat mengerti dan memahami pentingnya untuk memiliki karakter yang baik dalam panggilan pelayanan dan pengutusan sebagai hamba-hamba Tuhan. Sehingga pemahaman ini bisa berdampak kepada kehidupan pribadi maupun kehidupan pelayanan hamba-hamba Tuhan saat ini.
II. Pembahasan
2.1.Pengertian Kenabian
Kata nabi dalam tradisi Kristen diyakini berasal dari bahasa Ibrani “navi” yang berarti orang yang mewartakan pesan yang diterimanya dari Roh Ilahi. Seorang nabi, terutama dalam Perjanjian, disebut “mulut” Yahweh karena mengumumkan pesan kepada manusia apa yang dipesankan oleh Tuhan. kata “nabi” sering diartikan dengan “mengangkat”, “menunjuk”, atau “memanggil”. Kata nabi apabila dipakai dalam bentuk pasif secara etimologis bermakna orang yang dipanggil dan diutus Tuhan dengan suatu tugas tertentu. Secara teologis nabi adalah orang yang berbicara atas nama Tuhan, maka nabi bisa dikatakan Legatus Divinus, seseorang yang diutus Tuhan.[1] Nabi dalam bahasa inggris artinya “Prophet”, Dengan kata lain Profetis ialah berkenaan dengan kenabian atau ramalan.[2] Kata Profetis berasal dari bahasa Inggris yaitu “Prophetical” artinya bermakna kenabian atau didalamnya terdapat sifat kenabian, dan sifat tersebut tercantum dalam tugas dan panggilan nabi.[3]
Tugas dan peranan pokok panggilan kenabian, yang dapat dipelajari dari tradisi kenabian Perjanjian Lama, yang pertama adalah untuk mengingatkan bangsanya khususnya Israel, yang lupa akan perjanjian kasih dengan Tuhan, dan menyerukan pertobatan. Selain itu nabi juga menyampaikan ancaman hukuman atau bencana yang akan terjadi jika bangsanya tidak bertobat, dan sebaliknya mereka akan mendapat berkat jika bertobat. Peran nabi, selain yang telah disebutkan, juga menubuatkan masa depan, menyampaikan warta gembira, serta membangkitkan dalam hati umat pengharapan akan Tuhan.[4]
2.2.Kenabian dalam Perjanjian Lama
Nabi-nabi dalam Perjanjian Lama adalah hamba-hamba Allah yang kerohaniannya jauh lebih tinggi daripada orang-orang sezamannya. Tidak ada kelompok apa pun dalam dunia sastra yang digambarkan dengan lebih dramatis daripada nabi Perjanjian Lama. Imam, hakim, raja, penasihat bijaksana, dan pemazmur masing-masing memiliki tempat khusus dalam sejarah Israel, tetapi tak seorang pun di antara mereka yang mencapai taraf para nabi atau yang tetap berpengaruh dalam sejarah penebusan selanjutnya.[5] Para nabi mempunyai pengaruh utama dalam susunan Perjanjian Lama itu sendiri. Kenyataan ini tampak dalam ketiga pembagian Alkitab Ibrani: Torah, Kitab Para Nabi, dan Tulisan-tulisan (Lukas 24:44). Kelompok yang dikenal sebagai Kitab Para Nabi tercakup enam kitab sejarah yang ditulis dengan perspektif nubuat: Yosua, Hakim-Hakim, 1 dan 2 Samuel, dan 1 dan 2 Raja-Raja. Sangat mungkin penulis kitab-kitab ini juga nabi. Kemudian, terdapat ke-16 kitab nabi khusus (Yesaya hingga Maleakhi). Akhirnya, Musa penulis ke-5 kitab pertama di Alkitab (Torah), juga seorang nabi (Ulangan 18:15). Jadi, dua pertiga Perjanjian Lama ditulis oleh nabi.[6]
Nabi dalam Perjanjian Lama ialah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Allah dan menjadi orang kepercayaan-Nya (Am 3:7). Nabi memandang dunia dan umat perjanjian dari segi pandangan Allah bukan dari segi pandangan manusia. Karena dekat dengan Allah, seorang nabi sependapat dengan Allah dan ikut merasakan penderitaan Allah karena dosa-dosa manusia, karena ia memahami maksud, kehendak, dan keinginan Allah lebih daripada orang lain, ia mengalami reaksi-reaksi emosi yang sama dengan Allah. Dengan kata lain, nabi bukan hanya mendengar suara Allah tetapi ikut merasakan perasaan hati-Nya.[7]
Dalam pengajarannya para nabi seakan-akan terlihat dapat melihat masa depan, akan tetapi terkadang nubuat tentang masa depan didasarkan atas pengamatan masa kini. Para nabi bekerja diilhami oleh Roh Allah, atau diberdayakan oleh “tangan Allah” dan melalui semua itu para nabi menjadi ekstatis sehingga dalam keadaan sadar dan tak sadar para nabi sering mendapat penglihatan-penglihatan dan menjadi pelihat dan sebagian dari mereka melakukan mujizat-mujizat, mereka menyampaikan firman Alah dengan perumpamaan-perumpamaan atau perbuatan-perbuatan simbolis.[8]
Akan tetapi banyak nabi yang dipanggil bukan hanya untuk mengucapkan firman saja melainkan mewujudnyatakan firman itu dalam kehidupan pribadinya, dan biasanya tindakan tersebut seringkali disebut dengan istilah simbolisme, profetis atau “tindakan simbolis” sehingga dapat dikatakan tindakan para nabi tersebut merupakan sebuah kejadian, sebuah perkataan yang bergerak. Menurut Perjanjian Lama pekerjaan ataupun aktivitas yang dilakukan terhadap sesuatu merupakan kekuatan panggilan terhadap suatu tugas ataupun hak istimewa. Dalam panggilan Abraham (Kej 12:1), Musa (Kel. 3:10) ataupun Yesaya (Yes. 6:9) tidak membedakan bahwa suatu panggilan dari Tuhan sendiri.[9]
Pemanggilan dan pengutusan para nabi merupakan suatu tindakan Allah demi kepentingan umat-Nya. Hal ini sering kali dikatakan dimulai dengan suatu peristiwa yang bersifat rahasia dimana Allah berkenan mengerahkan seseorang menjadi peserta di dalam pelaksanaan karya-Nya. Para nabi tidak bertugas sebagai alat yang pasif, namun sebaliknya mereka digerakkan secara aktif, bahkan lebih giat daripada manusia biasa.[10] Peranan para nabi juga sebagai pejuang yang memanggil umat Israel kembali pada prinsip-prinsip yang menjadi landasan mereka. Dalam tugas mereka menguraikan makna perjanjian dan makna iman etis serta menerapkan pada situasi zaman mereka. Dengan demikian sumbangan mereka kepada perkembangan iman Israel merupakan sumbangan yang penting sekali.[11]
Keberadaan nabi adalah seorang manusia yang tidak berbeda dengan sesamanya. Namun nabi memiliki hal khusus yang membedakan mereka dengan masyarakat biasa. Nabi merupakan abdi Allah yang dipanggil untuk menyampaikan pesan Allah kepada manusia. Dalam Alkitab Perjanjian Lama orang pertama yang disebut nabi yakni Abraham (Kej. 20:7, Maz. 105:15). Ia menerima panggilan khusus dan berifat pribadi dari Allah. Namun nubuat Perjanjian Lama menerima bentuk normatifnya dalam hidup dan pribadi Musa yang merupakan tolak ukur bagi nabi-nabi selanjutnya (Ul. 18:15-19, 34:10). Perikesadaran kenabian akan makna sejarah Israel bermuara dari panggilan Allah kepada Musa. Dengan demikian Musa merupakan typos terbesar bagi seluruh kenabian.[12]
Awal pemanggilan Musa oleh Allah dapat diketahui secara khusus dalam Kitab Keluaran 3. Sifat-sifat apapun yang kemudian dihubungkan dengan nubuat dan inisiatif dalam menjadikan Musa sebagai seorang nabi terletak pada tangan Tuhan. Dalam Keluaran 33:11, memaparkan dengan jelas terbentuknya suatu hubungan yang unik antara Musa dengan Allah. Musa yang telah dibawa dihadapan Allah mampu berbicara atas nama Allah ditengah-tengah kekuasaan Mesir. Setelah pemanggilan itu maka Musa harus pergi berdiri dihadapan bangsanya. Disini tampak fungsi nabi sebagai perantara. Peranan ini digambarkan dengan baik dalam Ulangan 5:24-28.[13]
Tujuan pemanggilan Musa oleh Allah sebagai perantara-Nya dalam menyampaikan pesan kepada bangsa Israel. Musa diberi kecakapan untuk menafsirkan berbagai kejadian besar yang segera akan terjadi. Musa tidak dibiarkan Allah untu bergumul menemukan arti berbagai kejadian yang sedang berlangsung ataupun sudah terjadi ditengah-tengah perjalanan bangsa Israel menuju tanah perjanjian. Allah berbicara kepada dia dan memberi tahu keadaan yang akan terjadi kepada Musa secara langsung. Namun bukan hal itu saja, Musa juga diberi suatu tanda dari Allah bahwa ia memiliki kekuatan dan kekuasaan dari Allah (Kel. 4:3,6)
Selain itu juga, hal yang diperoleh dari kenabian Musa sendiri yaitu mengenai etika dan kepedulian sosial Musa sendiri. Bahkan sebelum Musa dipanggil Allah menjadi seorang nabi, ia telah memperhatikan keadaan sosial umatnya (Kel. 2:11,17). Dalam panggilannya Musa menjadi seorang nabi pemberi hukum membentangkan dan memberikan undang-undang yang paling berprikemanusiaan dalam dunia kuno dengan memperhatikan kaum lemah (Ul. 24:19-22) dan membasmi penindasan (Im. 19:9).[14]
Dalam kenabian Musa juga ditemukan kombinasi pemberitaan dan nubuat yang terdapat pada semua nabi. Ini sangat mencolok terperinci sebagai corak kenabian pada umumnya. Musa juga menetapkan suatu norma yang mana bila seorang nabi membicarakan kejadian masa kini juga harus membicarakan kejadian yang akan datang. Dan bahkan juga Musa mengucapkan nubuat akbarnya tentang nabi yang akan datang (Ul. 18:15). Dua ciri yang ditemukan dalam kenabian Musa yang juga terdapat pada generasi nabi setelah Musa yaitu memakai lambang dalam mengemukakan amanat mereka seperti halnya Musa mengangkat tangannya ke atas (kel. 17:8) dan juga patung ular teduh (Bil. 2:8). Hal kedua yang juga ditemukan dalam kenabian Musa yakni dari segi syafaat ia adalah wakil bangsa dihadapan Allah pada suatu peristiwa yang secara harafiah dimana Musa sebagai pendoa yang tegar menangkis semua serangan (Kel. 32:30).[15]
Pernyataan, panggilan dan pengutusn Allah tidak dapat dipisah-pisahkan. Allah mengutus hamba-hamba-Nya para nabi. Dan tindakan Allah terhadap para nabi dan menjadikan mereka sebagai perantara terhadap Israel maupun bangsa-bangsa di dunia. Berawal dari Allah “menyatakan diri-Nya” atau “berfirman” kepada para nabi, serta “memanggil” mereka dengan “menaruh Roh-Nya” ke atas mereka, dengan perantaraan hamba-hamba-Nya itu Allah “berfirman” kepada umat-Nya, sesekali Ia “memperingatkan”, “menegur”, atau “mengancam” di sisi lain juga “menghibur”.[16]
Pengutusan para nabi merupakan perbuatan besar Allah. Allah sangat tahu “ketidakmampuan” para nabi. Allah tidak hanya asal memanggil kemudian mengutus mereka saja, tetapi Allah juga memperlengkapi utusan-Nya dengan kekuatan, kuasa dan urapan.[17] Itu berarti bahwa kekurangan mereka dicukupi; yang masih muda menjadi dewasa, yang berat lidah menjadi fasih bicara, sehingga meyakinkan orang, yang lemah diberi wibawa dan daya tahan. Semua itu dimungkinkan oleh Allah melalui suatu pemberian anugerah yang luar biasa. Selain memperlengkapi utusan-Nya, Allah juga berjanji bawa Ia akan menyertai mereka, artinya Allah akan menolong, membantu, membuat berhasil, memberkati, bila perlu menyelamatkan hamba-Nya. Kadang Allah juga berkenan memberikan utusan-Nya seorang kawan untuk membantunya.[18]
2.2.1. Ciri-Ciri Seorang Nabi dalam Perjanjian Lama
Nabi dalam Perjanjian Lama memiliki tiga ciri sebagai berikut:
a. Pengetahuan yang dinyatakan secara ilahi. Seorang nabi menerima pengetahuan yang diberi Allah mengenai orang, peristiwa, dan kebenaran penebusan. Maksud utama pengetahuan ini ialah mendorong umat Allah agar tetap setia kepada Allah dan perjanjian-Nya. Ciri khas nubuat PL yang menonjol ialah bahwa kehendak Allah bagi umat-Nya dijelaskan melalui ajaran, teguran, dan peringatan. Allah memakai para nabi untuk menyatakan hukuman-Nya sebelum itu terjadi. Dari tanah sejarah Israel dan Yehuda timbullah nubuat-nubuat khusus tentang Mesias dan Kerajaan Allah, serta ramalan aneka peristiwa dunia di masa depan.
b. Kuasa yang diberikan secara ilahi. Para nabi tertarik ke dalam lingkaran ajaib ketika dipenuhi dengan Roh Allah. Melalui para nabi, kuasa dan hidup Allah ditunjukkan secara adikodrati di tengah-tengah dunia yang pada umumnya tertutup untuk itu semua.
c. Gaya hidup yang khusus. Pada umumnya nabi-nabi meninggalkan kegiatan hidup sehari-hari yang biasa untuk hidup semata-mata bagi Allah. Mereka dengan gigih menentang penyembahan berhala, kebejatan, dan bermacam-macam kejahatan di antara umat Allah, dan juga mengecam korupsi dalam kehidupan para raja dan imam, mereka merupakan aktivis yang mendukung perubahan kudus dan benar di Israel. Para nabi, yang senantiasa giat demi Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, memperjuangkan kehendak Allah tanpa memikirkan resiko pribadi.[19]
2.2.2. Fungsi Nabi Berdasarkan Periode
Fungsi para nabi terhadap panggilannya dapat dilihat dari satu periode ke periode yang lain, antara lain:[20]
1. Pra Monarkhi: Nabi berfungsi sebagai juru bicara, pemimpin yang memberi pesan kepada rakyat. Pesan itu berisi bimbingan nasional, pemelihara keadilan dan pengawasan rohani
2. Pra Klasik: Nabi berfungsi sebagai juru bicara dan penasehat kepada raja dan para pegawai istana
3. Klasik: Nabi berfungsi sebagai juru bicara, komentator dalam bidang sosial, rohani kepada rakyat. Pesan yang disampaikan bersifat teguran mengenai keadaan yang berlangsung di masyarakat
2.2.3. Karakteristik Nabi dalam Perjanjian Lama
2.2.3.1.Nabi Musa[21]
Beberapa poin karakter Musa dalam Alkitab, yang dapat kita teladani, yaitu:
1. Percaya pada Allah
Dalam Keluaran 3:10-14, ketika Allah mengutus Musa untuk menghadap Firaun dan membawa umat Israel keluar dari Mesir, Musa penuh menanggapinya dengan penuh keraguan akan keampuannya. Dalam Kel 4:1-17 juga diceritakan betapa Musa tidak percaya diri, merasa tidak mampu menjalankan tugas yang Tuhan berikan. Meskipun dimulai dengan proses tawar-menawar dengan Allah, pada akhirnya Musa tetap melaksanakan tugasnya itu, karna rasa percayanya pada Allah, pada janji Tuhan bagi orang percaya.
2. Setia
Meski penuh dengan rasa ragu akan dirinya, Musa tetap melakukan perintah Tuhan yang diberikan padanya, untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian. Umat Israel yang tegar tengguk dan gemar berkeluh kesah sering kali memojokkan Musa dalam keadaan terjepit, sebab bangsa Israel selalu mepertanyakan akan kehadiran Allah ketika mengalami kesusahan sedikit saja. Namun Musa tetap setia, ia selalu kembali pada Allah dan meminta pertolongannya, Musa tidak lari dari tanggung jawabnya dan percaya sepenuhnya pada janji Allah.
3. Mengandalkan Tuhan
Memimpin umat Israel keluar dari Mesir merupakan tugas yang diberikan Tuhan pada Musa, bukan ambisi pribadi Musa. Dalam kepemimpinannya tersebut Musa selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah yang diambilnya. Sebab Musa sendiri pada dasarnya tidak percaya diri, namun ia percaya pada Allah. Musa menjadi alat bagi Allah untuk memimpin dan memelihara umat Israel, Musa menjadi penghubung antara Allah dengan umat Israel, mengajarkan Hukum Taurat yang di terimanya dari Allah.
4. Karismatik
Musa memiliki kharisma yang berasal dari Allah, yang membuat ia dipandang sebagai pemimpin oleh bangsa Israel. Dalam keluaran 11:3 juga dikatakan bahwa Musa merupakan orang yang sangat terpandang di tanah Mesir. Hal tersebut menegaskan kharisma yang dimiliki Musa, bukan hanya bagi umat Israel, tapi juga bagi bangsa lain.
5. Rendah Hati
Musa merupakan seorang yang memiliki kerendahan hati, terutama dihadapan Allah. Musa mendengarkan dan taat pada kehendak Allah. Musa selalu bertanya kepada Allah sebelum melakukan sesuatu, dan ia melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.
Dalam Keluaran 19 diceritakan, bahwa Musa berkali-kali turun naik dari dan ke gunung Sinai, untuk bertemu dengan Allah dan menyampaikan apa yang diperintahkan Allah pada umat Israel. Musa tidak tinggi hati karna ia adalah utusan Allah, ia tidak bermegah dan tetap menjadikan Allah sebagai yang utama. Sebab memuliakan Allah adalah tujuan hidup orang Kristen.
6. Administratif
Dalam Keluaran 18 diceritakan bahwa Yitro, imam di Midian, mertua Musa datang mengunjungi Musa. Pada saat itu, Yitro melihat bahwa Musa seorang diri saja mengadili di antara bangsa Israel yang sangat besar. Yitro kemudian menasihati Musa untuk mengajari ketetapan-ketetapan Allah kepada bangsa Israel.
Kemudian memilih dan mengangkat diantara bangsa Israel pemimpin seribu orang, seratus orang, lima puluh orang, dan sepuluh orang. Dengan begitu segala perkara kecil dapat diselesaikan dapat diadili mereka sendiri, dan hanya perkara besar yang di adili oleh Musa. Dengan demikian Musa maupun bangsa Israel tidak menjadi terlalu lelah. Musa pun dapat lebih fokus melakukan tugas lain yang lebih penting.
7. Lemah Lembut
Dalam Bilangan 12:3 Allah sendiri mengatakan bahwa Musa adalah seorang yang lembut hatinya. Sikap lemah lembut Musa lah yang membuat ia mampu memimpin bangsa Israel yang tegar tengkuk dan gemar bersungut-sungut. Membuat ia berhasil menjadi perantara antara Allah Tritunggal dengan bangsa Israel.
Ia menghadapi bangsa Israel yang ber sungut-sungut dan berkeluh kesah kepadanya dengan sabar, dan kemudian meminta penyelesaian masalah yang dihadapinya kepada Allah. Seperti dalam Keluaran 17, dimana bangsa Israel bersungut-sungut mengenai minum. Musa mau mendengarkan, kemudian berseru kepada Tuhan, dan kemudian Tuhan pun menyediakan air dari gunung batu yang dipukul oleh tongkat Musa. Dalam Keluaran 32:11-14 juga diceritakan bahwa Musa membela dan mencoba melunakkan hati Tuhan, ketika Tuhan merasa murka dan hendak meluluhlantakkan bangsa Israel.
8. Kebapaan
Musa memiliki jiwa kebapaan, yang membuatnya bersedia mengayomi orang-orang yang berada dibawahnya. Ia mau mendengarkan keluh kesah umat Israel, mengadili perselisihan diantara mereka, mengajar dan memimpin bangsa Israel.
2.2.3.2.Nabi Yosua[22]
Yosua merupakan salah satu pemimpin bangsa Israel yang paling efektif yang pernah ditulis di dalam Alkitab. Hal ini bisa dilihat dari keberhasilannya dalam mempengaruhi orang lain. Dibimbing oleh Musa, dan selalu taat kepada Allah dengan penuh kepercayaan, Yosua berhasil mengatur bangsa yang tegar tengkuk dan pemberontak, memimpin mereka ke dalam rangkaian perang berdarah sehingga berhasil menduduki dan menciptakan kedamaian di Tanah Perjanjian.
Yosua memiliki beberapa karakter yang memungkinkan dia untuk berkembang menjadi salah satu pemimpin terbesar sepanjang masa, antara lain:
1. Integritas dan Karakter yang Baik
Yosua tidak akan mengkompromikan keyakinannya sekalipun itu menyebabkan rasa sakit
2. Kerendahan Hati dan Ketaatan
Ini yang membuat Yosua bisa menerima bimbingan dari Musa, dia memiliki sikap seorang hamba. Seorang pemimpin yang mau melayani
3. Kesadaran dan Disiplin Diri
Yosua bukan seorang yang keras kepala dan penuntut
4. Kemampuan untuk Membuat Prioritas
Yosua mampu menempatkan hal yang utama di tempat pertama
5. Memiliki Visi dan Tujuan yang jelas
Yaitu membawa masuk orang Israel ke Tanah Perjanjian
6. Selalu tindakan dan fokus pada hasil
7. Teguh dan Berani (Yos. 1:7)
8. Teguh berpegang kepada Firman Tuhan
Dia menyadari pentingnya Firman Allah sehingga dia “merenungkan siang dan malam” (Yosua 1:8)
9. Kepercayaan total dan ketaatan kepada Allah
10. Kehidupan yang seimbang
Yosua mampu menjaga keseimbangan yang baik antara pimpinan Tuhan dan strategi manusia, antara iman dan perbuatan.
Yosua menunjukkan kepada kita bahwa pengaruh sebuah kepemimpinan berasal dari karakter keyakinan. Karakteristik ini berasal dari dalam diri Yosua, yang memungkinkan dia untuk belajar dan berkembang menjadi pemimpin yang luar biasa. Ketika Yosua datang kepada Musa, dia telah siap untuk menunjukkan keyakinannya untuk mengikut Tuhan, keberanian untuk memperjuangkan imannya dan kerelaan hati untuk menaati Tuhan dan pembimbingnya, Musa. Yosua mewakili dan mendorong setiap pemimpin generasi kedua. Yosua bukan yang membangkitkan Israel, Musalah yang melakukannya. Tetapi Yosualah yang membuat Musa berhasil, dengan menyelesaikan tugas Musa dan memimpin umat Israel meraih kemenangan di Tanah Perjanjian.
2.3.Kenabian dalam Dogmatika
Seturut ajaran Konsili Vatikan II, pemahaman tentang dogma mendapat pencerahan baru. Pembicaraan kita tentang dogma tidak dapat dilepaskan dengan pembicaraan kita tentang Wahyu-iman, Tradisi, magisterium, Gereja dan interpretasi. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa terdapat kaitan sangat erat antara Wahyu-iman dan Tradisi. dengan Wahyu, Allah menyapa manusia, mengundang manusia untuk masuk dalam hidup dan persekutuan Allah. Manusia dengan imannya serta akal budinya mampu menjawab tawaran Allah tersebut berkat bantuan Roh Kudus. Kebenaran yang menyelamat tersebut diwariskan secara turun-temurun kepada semua umat manusia. dalam kebaikan-nya allah telah menetapkan, bahwa apa yang diwahyukan-nya demi keselamatan semua bangsa, harus tetap utuh untuk selamanya dan diteruskan kepada segala keturunannya. Maka Kristus Tuhan, yang menjadi kepenuhan seluruh wahyu allah yang Mahatinggi (2 Kor 1:30; 3:16-4:6), memerintahkan kepada para rasul, supaya injil, yang dahulu telah dijanjikan melalui para nabi dan dipenuhi oleh-nya serta dimaklumkan-nya dengan mulutnya sendiri, mereka wartakan pada semua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta sumber ajaran kesusilaan, dan dengan demikian dibagikan kurnia-kurnia ilahi kepada mereka. Kebenaran yang menyelamatkan tersebut terkandung dalam Tradisi. Konsili merumuskannya: adapun apa yang telah diteruskan oleh para rasul mencakup segala sesuatu, yang membantu Umat allah untuk menjalani hidup yang suci dan untuk berkembang dalam imannya. Demikianlah Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya. dalam proses pewarisan karya keselamatan tersebut, Yesus Kristus menetapkan para rasul sebagai pewarta kabar keselamatan.
Tugas pewartaan tersebut kemudian di berikan kepada Gereja dan para uskup (imam dan diakon) diberi tanggungjawab sebagai pelayan karya keselamatan secara khusus dengan mengemban fungsi para rasul untuk menjaga keutuhan khazanah iman, mengajarkannya, dan menjaga umat dari kesesatan. Mereka (Uskup) mengajar yang otentik, atau mengemban kewibawaan Kristus, artinya: mewartakan kepada Umat yang diserahkan kepada mereka iman yang harus dipercayai dan diterapkan pada perilaku manusia. dibawah cahaya roh Kudus mereka menjelaskan iman dengan mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaan Perwahyuan (Mat 13:52). Mereka membuat iman itu berubah, dan dengan waspada menanggulangi kesesatan-kesesatan yang mengancam kawanan mereka (2Tim 4:1-4). Kuasa mengajar uskup memiliki peran yang khas. Pelayanan ini tidak berada diatas sabda allah akan tetapi sebagai pelayan sabda. dalam konteks ini kita dapat berbicara fungsi kenabian sebagai yakni menafsirkan Tradisi dan mewartakannya atas nama Allah.[23]
Wewenang mengajar itu tidak berada diatas sabda allah, melainkan melayaninya, yakni dengan hanya mengajarkan apa yang diturunkan saja, sejauh sabda itu, karena perintah ilahi dan dengan bantuan Roh Kudus, didengarkannya dengan khidmat, dipeliharanya dengan suci dan diterangkannya dengan setia; dan itu semua diambilnya dari satu perbendaharaan iman itu, yang diajukannya untuk diimani sebagai hal-hal yang diwahyukan oleh Allah. Dari penjabaran diatas beberapa benang merah dapat kita tarik:
1. Fungsi kenabian selalu dihubungan dengan karunia pribadi dari Allah. Mereka yang dipilih sebagai nabi diutus untuk mewartakan karya keselamatan Allah kepada manusia melalui, perkataan dan tindakan mereka. Otoritas mereka datang dari yang ilahi. Mereka sering mempergunakan rumusan: “Firman allah ...”.
2. Yesus Kristus tampil sebagai seorang nabi besar. Teks Ulangan 18:18 merupakan kunci interpretasi kenabian Yesus. Kenabian Yesus dinyatakan dalam sabda, karya serta sengsara-wafat-kebangkitan. sebagai nabi besar, Yesus tidak lagi mempergunakan rumusan “allah berfirman ...”, tetapi “amen, amen, aku berkata kepadamu ...”.
3. Yesus Kristus yang sengsara-wafat dan bangkit menjadi inti pokok pewartaan Gereja perdana. semua umat ikut bertanggungjawab menjadi pewarta kabar baik tersebut. Mulailah muncul berbagai jenis pelayanan dalam jemaat dalam rangka pewartaan tersebut. salah satunya adalah fungsi nabi. nabi adalah orang yang dipilih secara khusus oleh allah, mendapat karunia khusus untuk mewartakan nubuat-nubuat allah.
4. Dalam perkembangan berikutnya, fungsi nabi ini semakin tidak populer dan surut, khususnya setelah persoalan Gnostik dan Montanisme. selain itu, didalam Gereja yang semakin menerima struktur mono-episcopat, fungsi nabi sebagai pewarta kebenaran allah semakin terkonsentrasikan dalam tanggungjawab Uskup (imam).
Uskup bertanggungjawab untuk menjaga kelestarian khazanah iman, menafsirkannya secara setia dan mewartakannya secara baru untuk menjawab kebutuhan Gereja. dengan lahirnya dogma sebagai salah satu pengungkapan magisterium dalam menjaga iman rasuli, fungsi kenabian yang diemban oleh para uskup memasuki perkembangan baru. Uskup memiliki peran istimewa dalam konteks pewarisan ajaran rasuli sebagai pengajar yang otentik. Tanggungjawab uskup dalam hal pengajaran diletakkan dalam konteks luas pendampingan roh Kudus terhadap Gereja. Tanggungjawab ini merupakan pelayanan terhadap sabda allah. namun demikian, Konsili Vatikan ii mengajarkan bahwa berkat baptis-penguatan-ekaristi, semua umat beriman ambil bagian dalam tiga tugas Yesus Kristus sebagai imam-raja-nabi. semua umat bertanggungjawab sebagai pewarta sabda sesuai dengan tugas dan tanggungjawab mereka.
Fungsi kenabian dalam Gereja saat ini seringkali dikaitkan dengan kuasa mengajar Gereja dan kuasa mengajar magisterium. Kuasa mengajar ini merupakan sebuah “kharisma pelayanan” di dalam Gereja untuk menghantar umat allah sampai kepada kebenaran. Magisterium tidak berada diatas sabda Allah, akan tetapi sebagai pelayan sabda Allah. Ajaran yang diberikan kepada Gereja merupakan penjabaran dari kasanah iman yang diterima dari para rasul, yang dijabarkan dengan prinsip kesetiaan yang kreatif, sehingga mampu menjawab tanda-tanda zaman dengan bahasa yang sesuai dengan zamannya.[24]
2.4.Kenabian dalam Ilmu-Ilmu Agama
2.4.1. Islam
Secara Istilah, kata nabi memiliki banyak definisi. Nabi adalah seseorang yang menerima wahyu dari Allah swt melalui perantara malaikat atau ilham maupun mimpi yang benar. Mereka disebut juga sebagai mubasysyir (pembawa berita baik, yaitu tentang ridha Allah dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang mengikutinya) dan munzir (pemberi peringatan, balasan terhadap mereka yang ingkar). Kenabian merupakan suatu keistimewaan yang tak bisa diajarkan maupun dipelajari, karena ia murni berasal dari Tuhan. Definisi ini sejalan dengan pandangan Ahlussunah, yakni kenabian adalah pangkat yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya tanpa diusahakan dan dengan jalan memberikan wahyu kepadanya. Dengan demikian, kemampuan seorang Nabi berhubungan dengan malaikat Jibril tanpa diawali latihan, karena Allah telah menganugerahinya dengan kekuatan suci.[25]
Dilihat dari sisi dakwah, seorang nabi memiliki tiga hal dalam diri dan ajarannya. Pertama, Nabi tidak melakukan apapun yang bertentangan dengan tindakan rasional akal. Misalnya seperti menyatakan bahwa Sang Pencipta lebih dari satu jumlahnya. Sifat terjaganya dari kekeliruan ini dinamakan ismah. Kedua, Nabi menyeru makhluk agar patuh kepada Allah dan agar menghindarkan diri dari tindakan-tindakan mungkar. Ketiga, sebagai konsekuensi seruan para nabi, terdapat mukjizat dan tantangan-tantangan dalam menjalankan tugasnya. Keberadaan para nabi merupakan peristiwa kesejarahan, yakni informasi mengenai adanya nabi telah ada sejak dulu secara mutawattir. Seorang nabi adalah manusia yang mendapatkan wahyu yang tidak mungkin setiap orang membawakannya. Dengan demikian, setiap orang yang mengaku dirinya sebagai nabi dan rasul Allah dengan membawa syari’at sebagaimana syari’at yang dibawa oleh para nabi, maka dia adalah seorang nabi.[26] Adapun beberapa karakteristik dalam agama Islam sehingga bisa disebut sebagai nabi ialah sebagai beriikut:
1. Wahyu (seseorang yang menerima wahyu dari Allah SWT)
2. Muji’zat (yang diperkenankan oleh Allah SWT untuk membuat suatu muji’zat)
3. Ishmaah (terjaga dari perbuatan dosa)
4. Kecerdasan
5. Memiliki kepemimpinan yang baik
6. Ketulusan Niat
7. Konstruktivitas (Para nabi memberikan energi kepada kekuatan-kekuatan masyarakat dan mengorientasikan mereka agar melatih individu dan membimbingnya, dan membangun masyarakat manusia)
8. Konflik dan Perjuangan (Tanda lain dari ketulusan seorang nabi dalam klaimnya adalah bahwa ia berjuang menentang politheisme, tahayul, kebodohan, kepalsuan, penindasan, kekejaman dan ketidakadilan)
9. Manusiawi[27]
2.4.2. Hindu
Umat Hindu memiliki acarya terbesar. Beliau adalah Maharsi Vyasa atau dikenal sebagai Sri Vyasadeva. Dalam agama-agama lain, ada istilah nabi. Dalam Kitab Suci Veda, ada istilah acarya. Maharsi Vyasa adalah acarya teragung bagi umat Hindu. Beliau menulis seluruh Kitab Suci Veda untuk umat manusia di zaman Kaliyuga. sebelum semua agama besar lainnya lahir, Maharsi Vyasa telah menulis sabda-sabda Tuhan Sri Khrisna dalam Kitab-kitab Suci Veda yang tiada batasnya, mulai dari keempat Veda, Upanisad, Itihsa, Purana, hingga Vedanta Sutra. Seluruh kebijaksanaan dan butir-butir pengetahuan yang dikena umat manusia ada dalam Kitab Suci Veda. Sebelum Veda ditulis oleh Maharsi Vyasa 5000 tahun lampau, Veda telah ada di kalangan umat manusia tanpa perlu ditulis karena ingatan manusia pada masa sebelum Kaliyuga sangat tajam. Dari keempat zaman, yakni Satyayuga, Tretayuga, Dvaparayuga dan Kaliyuga, hanya di zaman Kaliyuga saja Veda dijumpai dalam bentuk tulisan. Semua ini berkat jasa besar Maharsi Vyasa.[28]
Acarya adalah pemimpin tertinggi dari sebuah ordo Jain. Acarya adalah salah satu dari lima makhluk tertinggi (Panca-Paramesthi) dan karenanya layak disembah. Mereka adalah otoritas terakhir dalam ordo monastic dan memiliki otoritas untuk menahbiskan biksu dan biksuni baru. Mereka juga diberi wewenang untuk menguduskan berhala baru.[29]
2.5.Karakteristik Kenabian dalam Perjanjian Lama diperhadapkan dengan Suara Kenabian Gereja Masa Kini
Pada masa perjanjian lama, Allah memakai para Nabi untuk menyampaikan isi hati-Nya, untuk menegur, mendidik, dan menyampaikan hukuman yang akan diterima bangsa Israel karena tidak setia. Di tengah carut marutnya kehidupan bangsa Israel yang terjajah oleh bangsa lain dan terjajah oleh dosa, para Nabi berdiri menghadapinya. Pada masa kini tidak ada lagi Nabi, tapi ada tugas kenabian yang dapat dikerjakan. Sebagai orang-orang yang telah menerima Anugerah Keselamatan pasti punya tanggung jawab membawa terang, menyampaikan kasih, dan suara kenabian berdasarkan Firman Tuhan dimana pun berada. Bukan hal yang mudah untuk melakukannya. Ketika menegur yang salah, ada ketakutan dikucilkan. Ketakutan ini juga dialami oleh para Nabi. Berkali-kali mereka menyatakan nubuatan dari Allah, dan berkali-kali pula bangsa Israel tidak mengindahkannya. Dalam keadaan itu, tidak jarang mereka nyaris menyerah, tapi berkali-kali pula mereka dikuatkan oleh Allah sendiri sebab adanya relasi yang dekat dengan Allah. Tetapi karena hubungan pribadi dengan Allah dan persekutuan saudara seiman dapat menghidupkan lagi semangat yang mulai redup.[30]
Nabi dan suara kenabian selalu dibutuhkan sebagai penuntun jalan menuju kehidupan dan keselamatan sejati. Seorang nabi adalah seseorang yang menyampaikan kehendak Allah. Kehendak Allah bisa disampaikan dalam dua hal utama, yaitu:
1. Memberi komentar mengenai situasi yang terjadi pada masa kini. Banyak nabi yang menyatakan suara Allah kepada penguasa, dengan resiko nyawanya. Seperti nabi Natan yang dengan berani menyatakan kesalahan Daud meskipun dia tahu bahwa seorang penguasa bisa menghabiskan hidupnya sewaktu-waktu.
2. Nabi yang memberitakan tentang apa yang akan terjadi di masa depan.
Sebagai orang Kristen juga diberi kuasa untuk bersuara, mengeluarkan suara yang sesuai dengan kehendak Allah. Sebagai orang Kristen, bahkan diminta untuk menjadi penyampai suara Allah. Saat ini orang percaya diminta untuk berperan sebagai nabi. Satu hal yang mungkin bisa dilakukan dalam kehidupan adalah dengan menyatakan apa yang benar dan yang salah. Seperti kisah orang-orang yang memercayai Allah dalam sejarah Alkitab, mereka berani mengambil risiko untuk menyatakan kebenaran berapa pun harganya sebagai bukti mereka taat kepada Allah. Hal yang sama harus kita lakukan sebagai nabi-nabi Allah di masa kini.[31] Kita dapat mencontoh karakteristik para nabi, berani menegur siapa pun yang masih hidup bergelimang dalam dosa. Dan kita harus merefleksikan kebenaran firman Tuhan yang disampaikannya, sehingga firman Tuhan itu dapat menyentuh hati nurani setiap orang. Di samping itu, kita patut memelihara persekutuan dengan Tuhan di manapun, baik di rumah, di tempat kerja, atau di tengah masyarakat. Siapkan hati bagi teguran, sekalipun itu membuat gerah. Jangan tergesa-gesa mematikan suara itu. Siapa tahu itu adalah suara Tuhan yang memerintahkan agar jalan kita dibenarkan. Hidup tidak lagi untuk berpura-pura, namun menjunjung tinggi kebenaran dan memunculkan suara kenabian.
III. Analisa penyeminar
Jadi, menurut analisa penyeminar karakter mengacu pada kualitas moral dan karakteristik yang membedakannya dengan orang lain. Pembentukan karakter berarti terbentuknya sifat-sifat positif dalam diri seseorang. Sifat-sifat yang terbentuk dalam diri orang Kristen adalah sifat-sifat terbaik yang diajarkan dalam Alkitab. Misalnya ajaran tentang kasih. Ketika nilai-nilai kasih itu terwujud dalam kebiasaan seseorang dalam kehidupan sehari-hari maka dapat dikatakan maka orang tersebut telah membentuk dalam dirinya suatu karakter Kristen yaitu karakter kasih. Karakter memegang peranan penting dalam seluruh aspek hidup. Karakter sangat penting dan sangat menentukan. Membangun karakter ialah “mengukir nilai/prinsip kebenaran Allah atau menandai diri dengan praktik hidup benar berdasarkan Alkitab”.
Transformasi karakter dimulai dari pikiran. Karakter-karakter terbaik yang harus dimiliki menurut Alkitab ialah kerendahan hati, kesabaran, pengendalian diri, murah hati, sederhana, tahan uji, sukacita, pendamai, dll, seperti yang tertulis dalam Galatia 5:22 “Tetapi buah Roh ialah: sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri”.
IV. Kesimpulan
Nabi dalam Perjanjian Lama sering ditugaskan Allah untuk menegur raja-raja yang bersalah dan penasehat kepada suatu bangsa. Akan tetapi selain menjadi seorang guru dan para raja, para nabi juga ditugaskan Allah sebagai juru bicara Tuhan. Melihat bagaimana Allah memanggil dan mengutus para nabi dalam Perjanjian Lama akan memberikan dasar bahwa panggilan dan pengutusan Allah itu sangat mulia. Mereka berbicara atas nama Allah. Allah yang memulai berinisiatif untuk memanggil dan mengutus orang-orang yang dipilih secara khusus menjadi perantara antara diri-Nya dengan manusia. Pengutusan para nabi merupakan perbuatan besar Allah. Allah sangat tahu “ketidakmampuan” para nabi. Allah tidak hanya asal memanggil kemudian mengutus mereka saja, tetapi Allah juga memperlengkapi utusan-Nya dengan kekuatan, kuasa dan urapan. Nabi selalu dibutuhkan sebagai penuntun jalan menuju kehidupan dan keselamatan sejati. Seorang nabi adalah seseorang yang menyampaikan kehendak Allah. Orang Kristen, bahkan diminta untuk menjadi penyampai suara Allah. Saat ini orang percaya diminta untuk berperan sebagai nabi. Satu hal yang mungkin bisa dilakukan dalam kehidupan adalah dengan menyatakan apa yang benar dan yang salah.
V. Daftar Pustaka
Bart, Chr., Teologi Perjanjian Lama 4, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989
Lindblom, J., Prophecy in Ancient Israel, Oxford: Basil Blackwell, 1962
Muller, H.P., The Dictionary of the Old Testament, Michigan: William B. Eerdmans Publishing,1990
Muthahhari, Murtadha, Falsafah Kenabian, Jakarta: Pustaka Hidayah, 1991
Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2003
R., Darmawijaya P. Tindak Kenabian, Yogyakarta: Kanisius, 1991
Rowley, H. H., Ibadat Israel Kuno, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981
Saragih, Agus Jetron, Kitab Ilahi, Medan: Bina Media Perintis, 2016
Walton, Jhon, Ancient Israelite Literature, In This Cultural Context
West, Sandy Lane, Hanbook To The Bible, Bandung: Kalam Hidup, 2004
Wood, Leon J., Nabi-Nabi Israel, Malang: Gandum Mas 2005
Sumber Internet:
https://e-journal.usd.ac.id/index.php/job/article/viewFile/1154/918 https://translate.google.com/translate?u=https://en.wikipedia.org/wiki/Acharya&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp&prev=search
https://www.listennotes.com/podcasts/hindu-times-podcast/hindu-menjawab-maharsi-vyasa-nq0OomPNxg8/,
[1] Leon J. Wood, Nabi-Nabi Israel, (Malang: Gandum Mas 2005), 83
[2] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), 157.
[3] H.P. Muller, The Dictionary of the Old Testament, (Michigan: William B. Eerdmans Publishing, 1990), 113.
[4] Leon J. Wood, Nabi-Nabi Israel, 13-15
[5] J. Lindblom, Prophecy in Ancient Israel, (Oxford: Basil Blackwell, 1962), 83
[6] J. Lindblom, Prophecy in Ancient Israel, 85
[7] Chr. Bart, Teologi Perjanjian Lama 4, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989), 19
[8] Darmawijaya P. R. Tindak Kenabian, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), 21
[9] Chr. Bart, Teologi Perjanjian Lama 4, 24
[10] Chr. Bart, Teologi Perjanjian Lama 4, 26
[11] Darmawijaya P. R. Tindak Kenabian, 29
[12] Darmawijaya P. R. Tindak Kenabian, 33
[13] Chr. Bart, Teologi Perjanjian Lama 4, 27-29
[14] H. H. Rowley, Ibadat Israel Kuno,123
[15] Darmawijaya P. R. Tindak Kenabian, 42
[16] Darmawijaya P. R. Tindak Kenabian, 43-44
[17] Leon J. Wood, Nabi-Nabi Israel, 79
[18] Darmawijaya P. R. Tindak Kenabian, 44
[19] H. H. Rowley, Ibadat Israel Kuno, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1981), 119
[20] Jhon Walton, Ancient Israelite Literature, In This Cultural Context, 207-208
[21] Darmawijaya P. R. Tindak Kenabian, 56-58
[22] Agus Jetron Saragih, Kitab Ilahi, (Medan: Bina Media Perintis, 2016), 80-81
[23] https://e-journal.usd.ac.id/index.php/job/article/viewFile/1154/918 diakses pada 05 Oktober 2020, Pukul 16.32 WIB.
[24] Darmawijaya P. R. Tindak Kenabian, 48
[25] Murtadha Muthahhari, Falsafah Kenabian, (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1991), 9
[26] Murtadha Muthahhari, Falsafah Kenabian, 11
[27] Journal uinsgd.ac.id, diakses tanggal 5 Oktober 2020 , Jam 16.32 Wib
[28] https://www.listennotes.com/podcasts/hindu-times-podcast/hindu-menjawab-maharsi-vyasa-nq0OomPNxg8/, diakses pada tanggal 05 Oktober 2020, pukul 14.26 WIB
[29]https://translate.google.com/translate?u=https://en.wikipedia.org/wiki/Acharya&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp&prev=search, diakses pada tanggal 05 Oktober 2020, pukul 14.34 WIB
[30] H. H. Rowley, Ibadat Israel Kuno, 126
[31] Sandy Lane West, Hanbook To The Bible, (Bandung: Kalam Hidup, 2004), 87.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar