Jumat, 16 April 2021

Menjelaskan Arti dan Makna Kedatangan Mesias di Tengah-tengah Kehidupan Umat Allah Yang Sedang Mengalami Krisis Global

 


Menjelaskan Arti dan Makna Kedatangan Mesias di Tengah-tengah Kehidupan Umat Allah Yang Sedang Mengalami Krisis Global
(Tinjauan Biblika, Sistematika, Historika, Praktika, Ilmu Agama-agama)

 

I.                   Latar Belakang Masalah

Secara history di tengah-tengah menjalani kehidupan yang kita hidupi pasti tidak terlepas oleh keberagaman persoalan dan pergumulan seiring waktu berputar dari masa ke masa dan bahkan hingga kontemporer.

Di balik keterbatasan manusia itu (Sumber Daya Manusia) sebagai makhluk ciptaan perlu adanya penolong dibalik pergumulan itu (atau yang dikenal sekarang pandemi Covid-19 dsb), bukan hanya dari ruang lingkup personal tetapi secara masif tersentuh oleh khalayak ramai (Global). Kedatangan Mesias (makna pemenuhan) yang diyakini jemaat pluralis dapat membantu dalam mengatasi apa yang dialami oleh krisis global. Teologi pengharapan mengangkat pertanyaan tentang bentuk konkret yang diambil oleh suatu pengharapan eskatologis yang hidup dalam masyarakat modern. Maka dari itu penulis mengulas tentang Menjelaskan Arti dan Makna Kedatangan Mesias di Tengah-tengah Kehidupan Umat Allah Yang Sedang Mengalami Krisis Global (Tinjauan Biblika, Sistematika, Historika, Praktika, Ilmu Agama-agama).

 

II.                Pembahasan

2.1. Etimologi Mesias

Kata “Mesias” berasal dari bahasa Ibrani, dan bahasa Yunani untuk kata itu adalah “Kristus”. Kedua istilah ini berasal dari akar kata yang berarti “mengurapi”, dari hal ini telihat bahwa Yesus dipandang sebagai orang yang secara khusus ditahbiskan untuk tugas yang tertentu.[1] Istilah Mesias, yang dipakai sebagai gelar resmi dari tokoh utama yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi, adalah hasil pemikiran dari pada Yudaisme masa kemudian pemakaian istilah itu dikukuhkan dalam perjanjian baru akan tetapi dalam perjanjian lama terdapat dua kali, kata Mesias sendiri diambil dari bahasa Aram atau Ibrani yang berarti yang diurapi yang pada awalnya ini menunjukkan pada raja yang sedang berkuasa atas kerajaan Israel Raya, terutama yang berasal dari dinasti Daud. Dalam perjanjian lama ada kalahnya istilah Mesias juga digunakan terhadap raja Israel (kerajaan utara)  yang sedang memerintah lambat laun istilah Mesias ini digunakan pada raja keselamatan yang akan datang sebagai pengharapan bangsa Israel. Raja yang dinanti-nantikan tersebut dikumandangkan sebagai raja keturunan Daud, sesuai dengan nubuatan nabi Natan yang di mana penantian dan juga pengharapan bangsa Israel akan seorang raja keselamatan dapat kita temukan dalam nubuat para nabi yang berkarya antara abad ke-9 sampai dengan abad ke-5 sebelum masehi.[2]

Pada masa ini bangsa Israel telah mengenal pemerintahan dan kekuasan raja, sehingga para nabi juga sering menggambarkan Mesias yang dinanti-nantikan itu sebanding dengan raja yang sedang berkuasa pada masa itu dalam tradisi kerajaan bangsa Israel seorang raja dipandang sebagai seorang tokoh yang dipilih oleh Allah sendiri dan memiliki karisma untuk mempersatukan dan juga melindungi rakyat dari ancaman bangsa-bangsa lain yang ada disekitarnya. Dan raja yang dinanti-nantikan itu digambarkan persis sama seperti raja yang memrintah bangsa Israel pada zaman itu.[3]

 

2.2. Latar Belakang Kedatangan Mesias

Dalam orang Kristen terdapat berbagai macam pandangan mengenai penafsiran yang ada dalam Alkitab. Terdapat berbagai macam perbedaan, perbedaan yang ada seperti kebudayaan dan politik dan juga bahasa juga turut menjadikan munculnya kebingungan dalam memahami Alkitab karena sering muncul berbagai ajaran-ajaran yang menyimpang dari ajaran Alkitab. Beberapa ahli teologi saat ini banyak menghasilkan sumbangan teologis yang besar namun juga memberikan perbedaan dalam pemahaman gereja. Hal ini membuat pengaruh besar dalam anggota gereja atau orang-orang Kristen untuk memahami apa sebenarnya yang dimaksudkan dalam ajaran Kristen namun dapat memberikan arti yang positif. Pemahaman tentang Mesias sudah ada sejak dari jaman perjanjian lama tentang waktu kedatangannya siapa dirinya, karena gagasan ini sangat erat dengan pewartaan dan tulisan para nabi mengenai datangnya Mesias. Mereka ini juga percaya akan Mesias Ilahi yang akan datang ke dalam dunia dan kemudian kembali ke kemuliaanNya, Ia akan menjadi penakluk, yang menghancurkan bangsa-bangsa dan membungkam para raja, Ia akan membebaskan umat, seperti Allah yang telah membebaskan umatnya dari Mesir.[4]

Perkembangan yang telah membuat terjadinya perbedaan pendapat mengenai siapa itu Mesias. Mesias yang dalam bahasa Yunani yaitu Kristos yang berarti yang diurapi Mesias adalah gelar yahudi yang ada dalam bahasa Yunani berbunyi Kristus yang artinya diurapi gelar mesias ini yang pada umunya dipakai oleh orang Yahudi untuk menunjukkan kepada raja yang adil yang kedatanganNya di harapkan kepadaNya kan diberi kuasa oleh Allah sendiri. Pada dasarnya perjanjian lama dapat menjadi pedoman bagi kita, bangsa pilihan Allah yang baru, dalam perjanjian lama antara lain dikisahkan mengenai pemilihan Israel sebagai bangsa Allah melalui panggilanNya. Pada akhirnya bangsa Israel tidak dapat menerima kedatangan Yesus Kristus sebagai Mesias. Kita bangsa pilihan Allah yang baru juga harus berhati-hati, agar jangan ketinggalan mengecap keselamatan abadi yang dibawah oleh Kristus pada kedatanganNya yang kedua kali. Dari kesalahan bangsa Israel kuno itu sebagai bangsa pilihan Allah yang kedua melalui Kristus Yesus, kita dapat memetik buah khikmat, bahwa menjadi pilihan Allah berarti mempunyai tanggung jawab terhadap berkatNya.

Akan tetapi yang paling penting adalah perjanjian lama lah yang menjadi saksi bahwa Allah telah menjadikan kedatangan Yesus Kritus, berabad-abad sebelum Yesus Krists datang. Allah telah mempersiapkan putranya dengan seksama. Oleh karena itu kita harus mempelajariNya bagaimana Allah menjanjikan kedatangan Mesias kepada kita dalam perjanjian lama, untuk dapat memahami berita keselamatan Yesus Kristus.[5] Dari sekian banyak perbedaan pandangan gereja maupun teolog Kristen salah satunya sekaligus tentang kekristenan membicarakan perihal tentang Tuhan Yesus Kristus karena Kristus lah satu-satunya dalam hidup orang Kristen. Di dalam doktrin kristologi mengenai permasalahan tentang gelar-gelar Yesus yang adalah Mesias, dapat dilihat dari kurangnya pengetahuan tentang makna kata gelar Yesus yang satu ini, sering sekali kata Mesias tidak sesuai lagi dengan peruntukNya karena kurangnya pemahaman jemaat tentang gelar ini.

 

2.3. Etimologi Krisis Global

Setiap organisasi/orang dimungkinkan mengalami sebuah krisis dalam operasional sehari-hari. Krisis tersebut harus di-manage dengan baik jika organisasi/orang berkeinginan untuk dapat bertahan dalam pertarungan yang ketat di era global saat ini.[6] Krisis merupakan perubahan yang tertunda. Tidak semua bencana mudah dihadapi oleh kita, tentu saja.[7] Bagaimana agama-agama manusia memberitahu tanggapan kita terhadap krisis global yang semakin mendalam? Bagaimana kepercayaan-kepercayaan dan ideologi-ideologi kita berelasi dengan kebutuhan mendesak akan semangat kesalingtergantugan, kerjasama dan tanggung jawab global yang tulus.[8]

 

2.4. Arti dan Makna Kedatangan Mesias Tinjauan Biblika

2.4.1. Perjanjian Lama

Konsep Mesias bukan hanya memiliki sisi praktikal namun Ia juga memiliki sisi ilahi. J. J. M. Roberts menegaskannya bahwa kata Mashiah awalnya selalu merujuk kepada Allah.[9] Dan hal itu selalu merujuk kepada seorang raja. Ketika seorang raja dikatakan “diurapi Allah” setidaknya bemakna dua hal yaitu seorang raja dipilih dan diurapi oleh Allah serta menunjukkan adanya hubungan yang akrab antara Allah dengan raja. S. M. Siahaan mengatakan bahwa penggunakan kata Mashiah itu memang awalnya untuk raja yang memerintah, namun lambat laun digunakan untuk menggambarkan Raja Keselamatan yang akan datang.[10] Jadi kata Mashiah atau Mesias itu berkembang menjadi sebuah kata yang bermakna eskhatalogis. Pengharapan tentang Raja Keselamatan itu didasari pada keadaan Israel pada saat itu yang berada dalam sistem pemerintahan Monarki. Walaupun bersifat Monarki tetapi pemilihan raja tetap berada dalam kendali Allah. Allah yang berhak menunjuk atau mengurapi seorang raja bagi Israel. Ketika dihubungkan dengan Raja Keselamatan, maka ia adalah orang yang benar-benar dipilih oleh Allah.

Sebelum berada dalam sistem Monarki, Israel berada dalam masa Hakim-hakim. Saat itu Israel tidak lagi memiliki pemimpin karena Yosua telah meninggal. Dan Israel harus memasuki tanah Kanaan dan berhadapan dengan bangsa-bangsa yang ada di sana. Israel membutuhkan sosok pemimpin yang akan menyatukan mereka dalam menaklukkan tanah Kanaan. Proses penaklukan tanah Kanaan menjadi tantangan yang sulit karena kelemahan Israel dalam berperang serta perbuatan jahat Israel di mata Tuhan. Israel berbalik menjadi penyembah dewa-dewa yang mereka temui di tanah Kanaan dan kawin campur.[11] Hakim pada saat itu hanya bertindak sebagai pemimpin peperangan namun tidak menjadi seorang imam. Kalaupun disebutkan bahwa Israel menyembah ilah lain, Hakim hanya menyampaikan teguran Allah dan tidak memimpin Israel dalam peribadahan.

Kehadiran Hakim menjadi bukti bahwa Allah hadir di tengah Israel dan menjadi jawaban atas keinginan untuk penaklukan tanah Kanaan. Hakim memang menjadi pemimpin tertinggi umat saat itu, tapi Hakim tidak lebih dari Allah. Hakim ditunjuk oleh Allah dan menjalankan apa yang menjadi kehendak Allah. Jadi secara tidak langsung hal ini menunjukkan bahwa Allah tetap menjadi pemimpin mereka (teokrasi) walaupun sudah ada pemimpin di tengah mereka. Kehadiran Hakim juga merupakan respon atas kenyataan yang dilihat Israel bahwa bangsa-bangsa di tanah Kanaan telah memiliki seorang raja. Kenyataan bahwa sistem Monarki telah berkembang saat itu di kalangan bangsa lain, menggiring Israel pada sebuah situasi di mana mereka juga akan menganut sistem Monarki.

Pemahamaan tentang raja dan kerajaan Israel dipengaruhi oleh setidaknya tiga bangsa yaitu Mesir, Mesopotamia dan Kanaan. Bangsa Mesir memahami bahwa raja memiliki sisi ilahi yang terlihat dari kelahirannya atau saat pengangkatannya.[12] Bangsa Mesir melihat bahwa raja adalah sosok yang dapat dipuja, contohnya Firaun yang dianggap sebagai Dewa yang baik. Bangsa Mesopotamia melihat seorang raja adalah perwakilan umat terhadap Allah. Bangsa Mesopotamia juga melihat bahwa raja adalah sosok ilahi dengan menyebutnya anak ilahi. Seorang raja dipilih oleh Dewa dan menjadi hambanya. Bangsa Kanaan melihat bahwa rajanya dapat terlibat dalam kultus yang dijalankan.[13] Dalam kultus itu raja menjadi pengantara antara Dewa dengan umat serta sebaliknya.

Israel menggabungkan tiga pemahaman raja bangsa itu menjadi pemahaman rajanya sendiri. Sistem pemerintahan di Israel diawali dengan teokrasi. Allah menjadi pemimpin tertinggi bagi Israel. Seorang raja pun diangkat untuk menjadi pemimpin bagi Israel. Seorang raja Israel tidak hanya menjalankan tugas kenegeraannya tapi ia juga bertindak menjadi imam besar. Raja Israel juga dianggap sebagai anak Allah. Raja bukan menjadi anak Allah langsung, tapi Allah menyebut bahwa raja Israel adalah anakNya. Raja Israel juga bertindak sebagai imam besar. Raja Israel walaupun menjadi pemimpin tertinggi di dunia, tetapi ia juga tetap menjalankan perintah Allah. Raja Israel menjadi penghubung antara umat dengan Allah dan sebaliknya ketika menjalankan ritual sebagai imam besar. Peran raja Israel yang memerintah sekaligus berperan dalam kultus di mulai dari masa pemerintahan Daud. Daud menjadi raja kota Suci Israel dan imam tertinggi yang mengurapi para imam. Oleh karenanya, Daud disebut sebagai raja kota suci Yerusalem. Daud dan keturunannya mempunyai kekuasaan sebagai raja dan sekaligus imam.[14] Hal tentang kekuasaan sebagai raja dan imam berpengaruh dalam mengartikan Mesias dalam kehidupan Israel.

 Konsep raja dan imam mencuat dengan kuat ketika Israel kembali dari pembuangan. B. M. Bokser menyebutkan bahwa ingatan peristiwa Keluaran menjadi alasan mengapa konsep eskalotogis mulai muncul dalam kehidupan Israel. Pengharapan eskatologis memiliki aspek pembebasan untuk memulai kehidupan baru. Israel memerlukan seorang pemimpin untuk mengembalikan kejayaaannya. Keinginan mengulang kejayaan yang mendorong para nabi dalam menyuarakan kemunculan sosok Mesias yang akan merestorasi kehidupan Israel. Konsep Mesias menjadi sebuah konsep eskatologis yang sangat dinantikan kehadirannya oleh Israel. Mesias akan datang guna melakukan apa yang dulu dilakukan oleh Daud. Ia akan kembali membangun Bait Allah, kembali mengurapi imam dan memimpin Israel menuju kehidupan yang baik.[15]

2.4.2. Perjanjian Baru

Mesias dalam Perjanjian Baru merujuk pada gelar Kristus yang disematkan pada Yesus. Yesus diidentifikasikan sebagai seorang Mesias karena pemberitaan Yesus tentang Kerajaan Allah. Yesus diyakini akan kembali membangun kejayaan kerajaan Israel di mana Ia memerintah sebagai rajanya.[16] Pengharapan akan kedatangan seorang raja merasuki pikiran orang Yahudi saat itu yang sedang menderita. Orang Yahudi di zaman Yesus menantikan penggenapan nubuatan Mesias atau kedatangan Anak Manusia untuk menyelamatkan mereka dari penindasan bangsa Romawi.[17] Injil Markus mulai dengan menggunakan istilah rahasia Mesianis. Penulis Injil Markus menekankan bahwa identitas Yesus sebagai Mesias tidak boleh diberitahu kepada siapa pun oleh setiap orang yang merasakan mukjizat Yesus, para murid bahkan para setan.[18] Mesias rahasia dalam Injil Markus menimbulkan beberapa tafsiran yaitu pertama, tafsiran apologetik. Tafsiran ini mengatakan bahwa Injil Markus merahasiakan kemesiasan Yesus guna menghindari serangan para musuh yang membenci Yesus. Tafsiran Mesias rahasia juga menunjukkan situasi bahwa komunitas pembaca Injil Markus bersifat ‘rahasia’ karena mereka juga dibenci. Kedua, tafsiran epifanik. Tafsiran ini menekankan tentang penyataan kemuliaan Yesus. Injil Markus tidaklah menekankan tentang rahasia Mesianis, namun lebih kepada menyatakan kemuliaan Yesus. Ketiga, tafsiran teologi salib. Tafsiran ini mengatakan bahwa pengenalan terhadap kemesiasan Yesus hanya dapat ditempuh melalui jalan penderitaan. Jadi setiap orang harus menderita terlebih dahulu bahwa bisa memahami bahwa Yesus adalah Mesias. Hal ini juga masih berkaitan dengan adanya kebencian terhadap komunitas Markus yang membuat mereka menderita. Keempat, tafsiran historik. Tafsiran ini mengatakan bahwa Yesus sebagai Mesias tetap rahasia sampai Yesus bangkit. Setelah bangkit rahasia Mesias menjadi terbuka, tidak lagi tersembunyi. Namun kerahasiaan Mesias tetap tertutup bagi siapa pun yang belum percaya kepada Yesus.[19]

Injil Matius menekankan bahwa Yesus adalah penggenapan Mesias dalam Perjanjian Lama. Matius menekankan Yesus adalah Mesias dengan membuktikan bahwa Yesus adalah keturunan Daud dalam pembukaan Injilnya (Matius 1:1-17). Injil Matius juga mengaitkan Yesus dengan Anak Allah (Matius 16:16; 26:63). Injil Matius bukan hanya mengatakan bahwa Yesus adalah penggenapan Mesias, tapi Yesus juga adalah Musa yang baru.[20] Oleh karenanya beberapa peristiwa Yesus diidentikkan dengan peristiwa Musa, contohnya ketika Yesus berpuasa selama empat puluh hari di padang gurun (Matius 4:1-11) sama seperti peristiwa Musa membawa Israel melintasi padang gurun selama empat puluh tahun. Yesus dianggap akan bertindak seperti Musa untuk membawa keselamatan dan arah baru. Dan itu merupakan pemahamaan yang berkembang pada orang Yahudi di abad pertama.[21]

Injil Lukas memakai gelar Mesias hanya tiga kali, yaitu dalam hubungan dengan pengakuan Petrus (Luk. 9:20), hubungan antara Mesias dengan Daud (Luk. 20:41) dan pertanyaan imam besar pada waktu Yesus diadili (Lukas 22:67). Injil Lukas menampilkan Mesias dalam dua cara yaitu pertama, kebangkitan dan penggenapan adalah dua istilah kunci dalam mengenakan gelar Mesias kepada Yesus. Kedua, dalam pemberitaannya mengenai Yesus sebagai Mesias Injil Lukas terkadang menambahkan ungkapan yang menyatakan bahwa penderitaan dan kematian Yesus adalah sesuatu yang perlu sesuai dengan yang dinubuatkan dalam Kitab Suci. Jadi bagi Injil Lukas, Mesias bukan seorang figur politis, melainkan seorang figur Mesias yang menderita sesuai dengan janji Kitab Suci untuk memberikan keselamatan kepada manusia.[22]

Injil Sinoptik berbeda-beda dalam mengartikan Mesias dalam diri Yesus. Injil Markus bukan hanya merumuskan rahasia kemesiasan tapi juga sangat menekankan bahwa Mesias tidak punya banyak waktu atau buru-buru. Hal ini dianggap wajar bahwa ketika keempat tafsiran atas kerahasiaan Mesias terlihat bahwa ada penderitaan dan harapan eskatologis dan apokaliptik. Injil Markus begitu sangat ingin mewujudkan kedatangan Mesias itu karena Ia akan membawa kemuliaan dan pembebesan bagi umat, khususnya komunitas Markus. Injil Matius menyatakan bahwa Yesus adalah keturunan Daud dan penggenapan Perjanjian Lama karena Injil Matius berhadapan dengan komunitasnya yang merupakan orang Kristen Yahudi. Injil Matius menggunakan bahan-bahan Perjanjian Lama untuk meyakinkan pembacanya bahwa Yesus adalah benar-benar penggenapan nubuatan Mesias. Injil Lukas menghindari penggunaan Mesias dalam artian politis karena Injil Lukas ditulis kepada seorang penguasa Romawi yang bernama Teofilus Yang Agung. Mesias sebagai tokoh politik tidak akan diberitakan oleh Injil Lukas karena pastinya akan mendapat penolakan dari bangsa Romawi dan mengesankan agama Kristen akan mengudeta pemerintahan Romawi. Keberagaman pandangan Mesias dalam Injil Sinoptik memperlihatkan bahwa Mesias diartikan sesuai dengan konteks komunitas yang ada.

 

2.5. Arti dan Makna Kedatangan Mesias Tinjauan Sistematika

Pada kedatangan Yesus Kristus yang pertama merupakan penggenapan bagi pengharapan Iman orang-orang percaya dalam Perjanjian Lama. Anthony H. Hoekma menuliskan realitas eskatologis semua orang percaya dalam Perjanjian Lama (PL), yaitu: kedatangan Juruselamat, kerajaan Allah, Perjanjian (kovenan) baru, pemulihan bangsa Israel. pencurahan Roh Allah, Hari Tuhan, langit dan bumi yang baru.[23] Hall Lindsey dalam bukunya tentang Penggenapan Janji Allah menuliskan beberapa penggenapan janji Allah pada kedatangan Yesus Kristus yang pertama, yaitu: keturunan perempuan, nubuat tentang anak Daud yang lebih agung, seorang nabi seperti Musa, lahir di Betlehem, dilahirkan seorang perawan, pengurapan oleh Roh, mujizat kesembuhan, penyerahan secara resmi, nubuat tentang pengkhianatan, dikhianati untuk tiga puluh uang perak, penderiataan-penderitaan Mesias, perubahan alam secara tiba-tiba dan besar, anak domba Allah, dikuburkan oleh seorang kaya, Ia bangkit, kenaikan Yesus ke surga.[24] Dalam Alkitab konsep eskatologi dalam Perjanjian Lama berbicara tentang: hari Tuhan, yaitu: pertama, Visitasi Ilahi (Amos 5:18; Yoel 1:15) dan kedua,Visitasi Eskatologis (Yoel 3:14,18; Zef. 3:11,16; Zak. 14:6). Kehadiran Pribadi Mesias, yaitu: pertama, kerajaan Daud (Yes. 9:6,7; Yer. 23:5,6), kedua, Anak Manusia (Dan. 7,13,14) dan ketiga, hamba yang menderita (Yes. 53).[25]

Dalam Roma 10:4 menyatakan “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat[26] sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”. Dalam konteks ayat tersebut hukum Taurat menunjuk pada hukum yang diterima Musa di gunung Sinai. Jadi Kristus juga datang untuk menggenapi hukum Taurat di dalam diri-Nya, namun sesungguhnya Kristus tidak hanya menggenapi hukum Taurat yang di gunung Sinai tetapi seluruh hukum Taurat dalam PL. Jadi dapat disimpulkan penggenapan Yesus Kristus pada kedatangan- Nya yang pertama adalah Penggenapan saat ada di bumi yaitu: penggenapan nubuatan Mesianis dalam seluruh PL, penggenapan Hukum Taurat menunjuk pada penggenapan dalam pola kehidupan Yesus yang berhasil melakukan hukum Taurat tanpa cacat.

 

2.6. Arti dan Makna Kedatangan Mesias Tinjauan Historika

Dalam PL penyataan tentang Mesias sudah jelas digambarkan, melalui penyataan antropomorfisme dan theophani. Penyataan antropomormisme (Antropos: manusia), artinya mengenakan ciri-ciri manusia kepada Allah. Antropomorfisme ada dua, yaitu Allah dinyatakan memiliki anggota tubuh (Bodily Anthrophism) Alkitab menuliskan Allah bisa melihat (Kej. 11:5), berbicara (Kej. 1:3), berjalan (Kej. 3:8), mendengar (Kej. 1:4), mencium (I Sam. 26:19), memiliki tangan (Yes. 50:11), kaki (Kel. 24:10), wajah (Bil. 6:25) dan Allah memiliki emosi dan intelektual (personality Antrophism) Alkitab menuliskan Allah bisa cemburu (Kel. 120:5), Marah (Maz. 102:11), Menyesal (Kej. 6:6), Mengasihi (Maz. 103:8), dan berpikir (Ams. 4:13).[27] Menyatakan Allah sebagai pribadi maka Allah memiliki kecerdasan (intelligence), kesadaran atas diri sendiri (self consciousness), Penentuan diri sendiri (self determination).[28] Penyataan Teofani (theos = Allah, phainein = penampakan) adalah penampakan diri Allah. Ada tiga bentuk penampakan diri Allah, yaitu: manusia (human form) (Kej. 18:1-15), malaikat (angelic form) (Kej. 32:22-32), wujud lain (non human form). Jadi penyataan Allah secara antropomorfisme dan teopani bertujuan supaya manusia tidak terkejut bahwa Allah yang transenden sungguh-sungguh akan datang ke dunia dan hal itu tergenapi di dalam inkarnasi Yesus Kristus (Yoh. 1:14).

2.7. Arti dan Makna Kedatangan Mesias Tinjaun Praktika

2.7.1. Pelayanan Holistik

Kata “pelayanan” dalam Kamus Bahasa  Indonesia, adalah perihal atau cara  melayani. [29] Sedangkan kata “holistik” akar katanya berasal dari bahasa Yunani holos yang   artinya   semua,   keseluruhan,   total. Jadi, pelayanan  holistik  adalah  cara  melayani  secara  menyeluruh.  Itu  adalah pengertian secara umum. 

Sedangkan  pengertian  pelayanan  holistik  yang  dikaitkan  dengan kegiatan  Pemberitaan  Injil  menurut  Herlianto,  pelayanan  holistic  adalah pelayanan  yang  mencakup  Pemberitaan  Injil  baik  secara  verbal  maupun secara perbuatan dan ditujukan untuk menjangkau manusia seutuhnya, yaitu manusia   yang   terdiri   dari   tubuh,   jiwa   dan   roh,   dan   manusia   yang mempunyai   kaitan-kaitan   sosial,   budaya,   ekonomi,   hukum   dan   politik dengan  lingkungannya.[30]  Yakob  Tomatala  menyatakan  bahwa  hakikat  atau esensi  pelayanan  holistik  di mana  dapat  dijelaskan  sebagai  “satu  yang menyeluruh” yang memiliki kesatuan integral dengan aspek-aspek  lengkap yang utuh. Pemberitaan Injil menyentuh aspek pelayanan dasar pada empat dimensi  pelayanan  yang  holistik  yaitu:  Persekutuan  (koinoneo),  Pelayanan (diakoneo),   Kesaksian   (martureo)   dan   Pemberitaan   (kerigma/kerusso).[31] Pendapat  tersebut  juga  diungkapkan  oleh  J.C.  Hoekendijk  sebagaimana dikutip  oleh  Arie  de  Kuiper di  dalam  bukunya  “Misiologia”, dijelaskan bahwa   pelayanan   holistik   itu   meliputi   unsur-unsur   pelayanan,   yaitu: Koinonia (persekutuan), Martyria  (kesaksian),  dan Diakonia  (pelayanan sosial),   merupakan   hal   yang   mutlak   menggarisi   Pekabaran   Injil   dan mendatangkan syalom (damai  sejahtera,  keselamatan)  yang  dijanjikan  oleh Tuhan.[32] Billy  Graham  ketika  ditanyai  tentang  hubungan  antara  kegiatan sosial dan Pekabaran Injil, ia mengatakan bahwa Pekabaran Injil sangat erat hubungannya  dengan  kegiatan  sosial.  Gereja  harus  turut  merasa  terbeban atas  kebutuhan  manusia.  Sebab  dengan  penuh  kasih,  Allah  memerhatikan setiap  aspek  penderitaan  manusia.  Beberapa  gerakan  sosial  terbesar  yang terjadi  dalam  sejarah  dunia  ini  merupakan  hasil/buah  dari  Pekabaran  Injil. Ke  negara  mana  saja  utusan  Injil  pergi  memberitakan  kasih  Kristus  yang menebus umat manusia,  di situ pula dibangun rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah,  panti-panti  asuhan,  dan  terdapat  beratus-ratus  bentuk  pelayanan lainnya.[33] Ditambahkan oleh John Stott bahwa aksi sosial bukan sebagai sarana untuk Pekabaran Injil tetapi sebagai “perwujudan” dari Pekabaran Injil yang sedang  diberitakan.  Dengan  demikian,  aksi  sosial  membuat  pesan  Injil menjadi   sangat   terlihat.      Seperti   yang   diungkapkan   oleh   National Evangelical Anglican Congres di Keele pada tahun 1976, yang mengatakan Penginjilan  dan  pelayanan  yang  penuh  kasih  harus  ada  bersama-sama  misi Allah.[34]

Berdasarkan  pemahaman  di  atas,  maka  dapat  disimpulkan  bahwa pelayanan  holistik  adalah  pelayanan  yang  dilakukan  secara  utuh,  yakni Pemberitaan  Injil  yang  merangkumi segala bidang kehidupan manusia baik secara  rohani  maupun  jasmaninya  (seperti  sosial,  pendidikan,  kesehatan, ekonomi,   dan   sebagainya).   Tidak   seharusnya   ada   pertentangan   antara pelayanan    diakonia    (kebutuhan    fisik    maupun    psikis)    dan    marturia (kebutuhan  rohani  atau  keselamatan).  Oleh  karena itu,  dalam  pelayanan Kristiani tidak dikenal dualisme atau pemisahan antara kebutuhan individual dan   sosial   manusia.   Pelayanan   holistik   berupaya   untuk   memulihkan keseimbangan dan keserasian antara keduanya. Diakonia adalah wujud dari kesaksian Kristiani (marturia).

2.8. Arti dan Makna Kedatangan Mesias Tinjauan Agama-agama[35]

a.      Mesias Pandangan Islam

Mesias: (Isa Al Masih) adalah nama atau gelar yang mengacu kepada satu pribadi yang diyakini oleh umat Islam sebagai nabi atau rasul yang terakhir untuk Bani Israel. Namun kecilnya dalam bahasa ibunya, bahasa Armea adalah Yesyu’a sedangkan gelar yang disandangnya setelah berdakwa adalah Mesiah (yang diurapi). Mesiah itu berarti dalam bahasa Arab menjadi Isa Al Masih dan melalui bahasa Arab ini dikenal umat Islam Indonesia dengan sebutan Isa-Al-Masih. Pendirian umat Islam yang berdasarkan Al-Qur’an (Q.S 19; 29-34), (Q.S. 4:157) menyatakan bahwa Isa hanyalah manusia yang menjadi nabi dan rasul Allah Swt, bukan oknum Tuhan, dengan demikian Islam memberikan konfirmasi bagi kebenaran jema’at Kristen yang tidak menuhankan Isa Al Masih.

b.      Mesias Pandangan Hindu

Mesias adalah Awatara atau penjelmaan Sanghyang Widhi Wasa dalam wujud seorang penolong bagi umat, Hindu yang sering turun kedunia untuk menyelamatkan umat manusia adalah Maha Wisnu yang sebagai penjelmaan atau Awatara.

c.       Mesias Pandangan Buddha

Mesias: berarti yang diurapi oleh Tuhan, di dalam ajaran Buddha dijelaskan bahwa Buddha adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang telah mencapai kesempurnaan perbuatan dan pandangan hidup yang diperoleh dari hasil perjuangan sendiri dalam berjuta bahkan ber miliaran kali kelahiran untuk menyempurnakan paramittaaNya. Buddha bukanlah Tuhan dan bukan pula utusan Tuhan, Beliau adalah seorang yang telah sadar sepenuhnya terhadap masalah-masalah kehidupan.

d.      Mesias Pandangan Khonghucu

Mesias: Padanan dari sebutan Mesias adalah para Nabi dan orang suci dalam agama Khonghucu yang telah banyak memberikan tuntunan rohani serta panduan keimanan tentang jalan suci yang harus dijalani di dalam mencapai suatu tingkat moralitas sebagai manusia Junzi (baca Jince) yaitu manusia susilawan/budiman yang berperilaku kehidupannya tidak ingkar dari watak sejati kemanusiaan yang difirmankan Tuhan.

2.9. Kedatangan Mesias di Tengah-tengah Kehidupan Umat Allah Yang Sedang Mengalami Krisis Global

Di tengah-tengah menjalani kehidupan yang kita hidupi pasti tidak terlepas oleh keberagaman persoalan dan pergumulan seiring waktu berputar dari masa ke masa dan bahkan hingga kontemporer. Kedatangan Mesias (makna pemenuhan) yang diyakini jemaat pluralis dapat membantu dalam mengatasi apa yang dialami oleh krisis global. Teologi pengharapan mengangkat pertanyaan tentang bentuk konkret yang diambil oleh suatu pengharapan eskatologis yang hidup. Teologi Mesianis dalam wacana ilmu-ilmu sosial selalu dikaitkan dengan pengharapan komunal tentang masa yang akan datang, karena itu tidak salah kalau ini dikaitkan dengan teologi pengharapan atau pengharapan mesianis. “seorang penyelamat yang ditunggu-tunggu, yang akan mengubah tatanan saat ini, menggantikannya dengan tatanan harmoni dan kebahagiaan universal.[36] Pengharapan eskatologis memiliki aspek pembebasan untuk memulai kehidupan baru.[37]

 

III.             Analisa Penyeminar

Di dalam kemelut manusia mengalami krisis global baik terjadi oleh karena akibat dari alam semesta maupun sebaliknya oleh karena ulah manusia. Manusia yang memilik keterbatasan baik daya dan akal pasti tidak akan sanggup dalam memperbaiki keadaan yang secara masif dirasakan manusia (krisis global). Adanya suatu pengharapan manusia agar kondisi berputar menjadi ke arah lebih baik lagi. Pada umumnya di dalam Alkitab khusunya PL, inti pemberitaan nabi-nabi tertuju kepada kekudusan Allah dan kekudusan umat, begitu juga kebenaran dan keadilan ditegakkan ditengah-tengah dosa yang membuat hati Allah kecewa. Setiap kali bernubuat nabi tidak pernah berhenti menyampaikan kebenaran dan menegur dosa-dosa bangsa Israel, dan tidak segan-segan nabi mengucapkan penghakiman, murka dan penghukuman yang akan Allah laksanakan bila tidak menaati ketetapan Allah. Lain dari itu, Allah adalah kasih, dalam hal ini nabi pun menubuatkan tentang pengampunan Allah dan kebaikan Allah untuk membuat bangsanya kembali kepada Yahweh sebagai satu-satunya Tuhan. Begitu juga dengan umat Tuhan yang mengalami krisis global yang tidak luput oleh dosa terhadap Allah sehingga perlunya merefleksikan diri nya kearah yang lebih baik dari sebelumnya dan tetap berpengharapan sehinggayang ditunggu-tunggu tentang kedatangan Mesias, yang akan mengubah tatanan saat ini, menggantikannya dengan tatanan harmoni dan kebahagiaan universal.

IV.             Kesimpulan

Konklusi dari penulis yaitu, Kata “Mesias” berasal dari bahasa Ibrani, dan bahasa Yunani untuk kata itu adalah “Kristus”. Kedua istilah ini berasal dari akar kata yang berarti “mengurapi”, dari hal ini telihat bahwa Yesus dipandang sebagai orang yang secara khusus ditahbiskan untuk tugas yang tertentu. Perkembangan yang telah membuat terjadinya perbedaan pendapat mengenai siapa itu Mesias. Mesias yang dalam bahasa Yunani yaitu Kristos yang berarti yang diurapi Mesias adalah gelar yahudi yang ada dalam bahasa Yunani berbunyi Kristus yang artinya diurapi gelar mesias ini yang pada umunya dipakai oleh orang Yahudi untuk menunjukkan kepada raja yang adil yang kedatanganNya di harapkan kepadaNya kan diberi kuasa oleh Allah sendiri.

 Teologi Mesianis dalam wacana ilmu-ilmu sosial selalu dikaitkan dengan pengharapan komunal tentang masa yang akan datang, karena itu tidak salah kalau ini dikaitkan dengan teologi pengharapan atau pengharapan mesianis. “seorang penyelamat yang ditunggu-tunggu, yang akan mengubah tatanan saat ini, menggantikannya dengan tatanan harmoni dan kebahagiaan universal.

V.                DaftarPustaka

……. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jakarta: OMF, 1995

Anthony A. Hoekma, Alkitab Dan,....

Arie de Kuiper, Misiologia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003

B. L. Mack, “The Christ and Jewish Wisdom” dalam The Messiah: Developments In Earliest Judaism and Christianity, ed. James H. Charlesworth, Minneapolis: Augsburg Fortress Publishers, 1992

B. M. Bokser, “Messianism, The Exodus Pattern, and Early Rabbinic Judaism”, dalam The Messiah: Developments In Earliest Judaism and Christianity, ed. James H. Charlesworth, Minneapolis: Augsburg Fortress Publishers, 1992

Bart D. Ehrman, The New Testament: A Historical Introduction to The Early Christian Writings. Edisi ke-2, New York: Oxford University Press, 2000

Bart Ehrman, The New Testament,

Billy Graham, Beritakan Injil, Yogyakarta: Andi, 1992

Darmawijaya, Gelar-Gelar Yesus, Jakarta: Kanisius, 2003

David W, Shenk, Ilah-ilah Global, Jakarta: BPK-GM, 2006

Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2008

Ensiklopedia Praktis Kerukunan Umat Beragama, (Medan: Perdana Mulya Sarana, 2012

Groenen, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 1988

Gunaryo Sudarmanto, Garis Besar Eskhatologi,

Gunaryo Sudarmanto, Kristologi 1, diktat Tanjung Enim: STTE, 1999

Hall Lindsey, Penggenapan Janji Allah, Bandung: Khalam Hidup, 1982

Herlianto,  Pelayanan Perkotaan, Bandung: Yabina

J. fetcher Manafe, Doktrin Allah,

J.D Douglass, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih (OMF), 1982

J.J. M. Roberts, “The Old Testament’s Contribution to Messianic Expectations” dalam The Messiah: Developments In Earliest Judaism and Christianity, ed. James H. Charlesworth, Minneapolis: Augsburg Fortress Publishers, 1992

James E. Will, A Christology of Peace, Lousville: Westminster/John Knox Press, 1989

John Stott, Murid Radikal yang Mengubah Dunia, Surabaya: Perkantas Jawa Timur, 2013

Kbbi online

Laura Day, Selamat Datang Krisis, Penerbit Hikmah,2007

Lucass, The Concept of The Messiah

 Rachmat Kriyantono, Public Relations, Issue and Crisis Management, Penerbit: Kencana, 2015

S. M. Siahaan, Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001

Samuel Benyamin Hakh, Pemberitaan Tentang Yesus: Menurut Injil-injil Sinoptik. Cetakan ke-2, Bandung: Jurnal Info Media, 2008

Samuel Hakh, Pemberitaan Tentang Yesus

Shirley Lucass, The Concept of The Messiah In The Scriptures of Judaism and Christianity, (New York: T & T Clark International, 2011

Tremper Longman III dan Raymond B. Dillard, An Intrudoction To The Old Testament, Edisi Ke-2 (Michigan: Zondervan, 2006

Yakob Tomatala, Teologi Misi, Jakarta: YT Leadership Foundation, 2003

Yohanes Krismantyo Susanta, Harapan Di Tengah Penderitaan: Tafsir Atas Daniel 7 Dan Hubungannya Dengan Injil Sinoptik Yogyakarta: Kanisius, 2019

 

 



[1] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2008),265

[2] Groenen, Pengantar Ke Dalam Perjanjian Lama,  (Yogyakarta: Kanisius, 1988), 13.

[3]……. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, ( Jakarta: OMF, 1995), 133.

[4] Darmawijaya, Gelar-Gelar Yesus, (Jakarta: Kanisius, 2003), 79-80. 

[5] Darmawijaya, Gelar-Gelar Yesus, 81-82.

[6]  Rachmat Kriyantono, Public Relations, Issue and Crisis Management, (Penerbit: Kencana, 2015), 171

[7] Laura Day, Selamat Datang Krisis, (Penerbit Hikmah,2007), 55

[8] David W, Shenk, Ilah-ilah Global, (Jakarta: BPK-GM, 2006), 34

[9] J.J. M. Roberts, “The Old Testament’s Contribution to Messianic Expectations” dalam The Messiah: Developments In Earliest Judaism and Christianity, ed. James H. Charlesworth (Minneapolis: Augsburg Fortress Publishers, 1992), 39.

[10] S. M. Siahaan, Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 4.

[11] Tremper Longman III dan Raymond B. Dillard, An Intrudoction To The Old Testament, Edisi Ke-2 (Michigan: Zondervan, 2006), 139.

[12] Shirley Lucass, The Concept of The Messiah In The Scriptures of Judaism and Christianity, (New York: T & T Clark International, 2011), 40.

[13] Lucass, The Concept of The Messiah, 43-47.

[14] Siahaan, Pengharapan Mesias, 9-10.

[15] B. M. Bokser, “Messianism, The Exodus Pattern, and Early Rabbinic Judaism”, dalam The Messiah: Developments In Earliest Judaism and Christianity, ed. James H. Charlesworth (Minneapolis: Augsburg Fortress Publishers, 1992), 257.

[16] B. L. Mack, “The Christ and Jewish Wisdom” dalam The Messiah: Developments In Earliest Judaism and Christianity, ed. James H. Charlesworth (Minneapolis: Augsburg Fortress Publishers, 1992), 192.

[17] James E. Will, A Christology of Peace, (Lousville: Westminster/John Knox Press, 1989), 32.

[18] Samuel Benyamin Hakh, Pemberitaan Tentang Yesus: Menurut Injil-injil Sinoptik. Cetakan ke-2 (Bandung: Jurnal Info Media, 2008), 132.

[19] Samuel Hakh, Pemberitaan Tentang Yesus, 134-136.

[20] Bart D. Ehrman, The New Testament: A Historical Introduction to The Early Christian Writings. Edisi ke-2 (New York: Oxford University Press, 2000), 88.

[21] Bart Ehrman, The New Testament, 89.

[22] Samuel Hakh, Pemberitaan Tentang Yesus, 141.

[23] Anthony A. Hoekma, Alkitab Dan,...., 14.

[24] Hall Lindsey, Penggenapan Janji Allah, (Bandung: Khalam Hidup, 1982), hal. 3

[25] Gunaryo Sudarmanto, Garis Besar Eskhatologi, 4

[26] J.D Douglass, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih (OMF), 1982),  406-407.

[27] Gunaryo Sudarmanto, Kristologi 1, diktat (Tanjung Enim: STTE, 1999),  6-7.

[28] J. fetcher Manafe, Doktrin Allah, 10

[29] Kbbi online

[30] Herlianto,  Pelayanan Perkotaan, (Bandung: Yabina), 123.

[31] Yakob Tomatala, Teologi Misi, (Jakarta: YT Leadership Foundation, 2003), 61

[32] Arie de Kuiper, Misiologia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 74.

[33] Billy Graham, Beritakan Injil, (Yogyakarta: Andi, 1992),  41

[34] John Stott, Murid Radikal yang Mengubah Dunia, (Surabaya: Perkantas Jawa Timur, 2013), 39

[35] Ensiklopedia Praktis Kerukunan Umat Beragama, (Medan: Perdana Mulya Sarana, 2012) 397-401.

[36] Yohanes Krismantyo Susanta, Harapan Di Tengah Penderitaan: Tafsir Atas Daniel 7 Dan Hubungannya Dengan Injil Sinoptik (Yogyakarta: Kanisius, 2019).

[37] B. M. Bokser, “Messianism, The Exodus Pattern, and Early Rabbinic Judaism”, dalam The Messiah: Developments In Earliest Judaism and Christianity, ed. James H. Charlesworth (Minneapolis: Augsburg Fortress Publishers, 1992), 257.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar