OKULTISME DAN SIKAP GEREJA TERHADAPNYA
( Historis Teologis terhadap Sejarah Sikap Gereja Menangani Masalah Okultisme di Indonesia )
I. Latar Belakang Masalah
Masalah okultisme belakangan ini makin mencuat kepermukaan, apakah ini suatu gejala baru atau gejala lama yang kambuh? Yang jelas media baik surat kabar, buku, film maupun TV sekarang makin gencar mepersoalkan hal ini. Tetapi bagaimana di kalangan gereja-gereja Kristen? Dalam hidup postmodern sekarang ini semua serba luar biasa, banyak orang yang lebih berpikir logis dengan perkembangan dunia yang semakin canggih dan maraknya kegiatan-kegiatan yang bersifat religiositas ternyata tidak cukup untuk menangkal hadir dan berkembangnya praktek meminta pertolongan pada kuasa gelap, yang konon katanya adalah hal yang primitif. Sulit dibayangkan bagaimana praktek minta tolong pada kuasa gelap tetap eksis dalam kurun waktu ribuan tahun lalu sampai era postmodern sekarang. Seperti pada abad modern ini ada dilakukan praktek okultisme dan pemujaan setan masih marak dilakukan. Aliester Crowley (1875-1974) dari AS, misalnya, ia banyak menulis dan memberi pengajaran mengenai praktek okultisme, khususnya seluk beluk sihir (termasuk sihir seks yang menyihir pengikutnya melakukan seks bebas). Nama lain adalah Szandor Lavey (1930-1998) di Transsylvania, Eropa Tengah. Ia menyatakan Tuhan tidak ada, karena itu yang patut dipuja adalah setan. Fenomena penyembahan setan ini pernah juga merambah ke beberapa kota di Indonesia (terutama pada tahun 1999) seperti di Bandung, Manado, dan Jakarta. Mengingat fenomena ini menyesatkan banyak orang, dan atas tokoh agama dan masyarakat pemerintah RI mengharamkan kegiatan tersebut. Pada tahun 1975 di kota Bolgota, Kolombia, Amerika Selatan, diadakan konferensi dukun-dukun sedunia, dan dihadiri oleh 3000 orang dukun dan juga ada di Amerika Serikat memberi gelar D.M.A (Doctor of Magic Arts) kepada Ishak Bonewitz. Itu berarti gelar itu adalah untuk seorang dukun yang intelektual.[1] Dalam waktu ribuan tahun yang sudah berlalu maka akan kita lihat bagaimana sikap gereja dari gereja mula-mula sampai sekarang terhadap okultisme khususnya di Indonesia sendiri. SUdah sejauh apa dan bagaimana orang Indonesia menanggapi Okultisme dan bagaimana peranan gereja didalamnya.. Maka penyeminar ingin menjelaskan dalam bentuk Sejarah Gereja, sebenarnya bagaimana tanggapan Gereja-gereja dalam zaman demi zaman dalam sejarah mengenai hal okultisme ini dan kita dapat mengetahui dan mempelajari sebenarnya okultisme itu menurut sejarah gereja, serta bagaimana gereja menanggapi yang namanya okultisme, dan melihat sudah sejauh manakah Alkitab itu direfleksikan dalam zaman per zaman melawan penyimpangan kebenaran Alkitab. Serta bagaimana sikap gereja menangani perkembangan okultisme itu sendiri di Indonesia.
II. Pembahasan
2.1.Pengertian Okultisme
Kata Okultisme berasal dari kata “occultism”atau “occult” yang dalam bahasa latin disebut “occultus”. Kata ini menunjuk kepada hal-hal yang tersembunyi (hidden), rahasia (secret),dan misterius (mysterious).[2] Istilah isme yang berarti ajaran, paham, atau doktrin. Jadi okultisme adalah ajaran, paham, atau doktrin tentang hal-hal yang sifatnya rahasia, gelap, misterius, dan tersembunyi, khususnya menyangkut kuasa kegelapan.[3] . Okultisme berasal dari dua kata yaitu okult yang berarti gelap, mistik, di balik, tersembunyi, dan kata isme yang berarti ajaran. Jadi secara singkat okultisme dapat diartikan sebagai suatu ajaran mengenai kuasa kegelapan.[4]
2.2.Sikap Gereja terhadap Okultisme dalam zaman per zaman
2.2.1. Zaman Biblika
Sejak dahulu kala sampai zaman modern ini, praktek kegelapan melalui kekuatan setan terdapat di mana-mana di seluruh dunia, tak terkecuali di lingkungan masyarakat Israel serta ligkungan bangsa-bangsa sekitar. Di dalam Perjanjian Lama kita menemukan banyak contoh tentang pemujaaan terhadap roh-roh gelap atau setan, yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di sekitar Israel, yang kadang-kadang juga menggoda orang Israel untuk ikut memujanya. Dalam alkitab berbahasa Indonesia istilah Ibrani s’tn diterjemahkan menjadi setan, iblis, roh-roh jahat, si jahat, pendurhaka, penipu, dan sebagainya.[5] di dalam alkitab terdapat sejumlah nama untuk sebutan setan seperti Belial (2 Kor 6:15), Leviathan (Yes 27:1), Abadon dan Apolion (Why 9:11), dan beraneka ular (ular tua, ular yang meluncur, ular yang melingkar, naga, dll; Kej 3:2; 2 Kor 11:3; Why 12:3-17;20:2). Satu nama yang juga cukup dikenal orang Kristen (termasuk anak sekolah minggu) ialah Lucifer. Ia disebut sebagai malekat Tuhan yang memberontak, lalu diusir atau dijatuhkan Tuhan dari sorga, dan dialah yang kemudian dikenal sebagai setan atau iblis.
Pada abad pertama semasa Yesus dan para Rasulnya hidup gejala okultisme bukanlah hal asing. Baik kitab Injil maupun tulisan para Rasul banyak berisi berita mengenai okultisme dan pelayanan Yesus dan para Rasul dalam pelepasan dan pengusiran setan, sehingga pengusiran setan merupakan satu dari tanda-tanda yang menyertai tugas pekabaran Injil (Mar.16:17).[6] Paulus dalam perjalanan Pemberitaan Injilnya sering menghadapi jerat-jerat sinkretisme seperti misalnya di Atena dimana ia menghadapi penyembah berhala dan golongan Epikuri yang bercirikan rasionalisme dan Stoa yang bercirikan mistisisme (Kis. 17:16-34), dan di Efesus ada godaan penyembahan dewi Artemis (Kis. 19:21-40). Tetapi Rasul Paulus dengan tegas memberitakan Injil yang benar dan "ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitannya" (Kis. 17:18), dan bahwa "Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia." (Kis. 17:24). Sinkretisme dengan berhala-berhala Romawi dikritik Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Rm 1:18-32), bahkan dalam jemaat Korintus, Paulus menghadapi sinkretisme dengan Rasionalisme (I Kor. 1:18-2:5) tetapi tidak lepas adanya sinkretisme dengan tradisi penyembahan berhala (I Kor. 8). Dalam suratnya kepada jemaat Galatia, Paulus mengingatkan bahaya sinkretisme dengan adat istiadat Yahudi dan Tauratisme (Gal. 2-3). Dalam suratnya pada jemaat di Kolose, Rasul Paulus mengatakan:"Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus." (Kol. 2:8).[7]
Di dalam perjanjian baru Paulus juga memperingatkan umat-umat Kristen di Korintus mengenai penyembahan berhala (1 Kor 10:14) yang mungkin memiliki beberapa bentuk ritus umum. Pada kasus yang telah dipersembahkan kepada berhala nasihatnya adalah bahwa daging tersebut tidak berbahaya karena apa yang disebut ilah-ilah itu ialah ketiadaan (1 Korintus 8:4). Penyembahan berhala juga dilakukan secara metaforis untuk nafsu jahat (Kol 3:5). Penyembahan kaisar Romawi dan kewajiban ikut serta dalam acara penyembahan berhala kemudian hari membuktikan adanya ujian berat bagi orang Kristen yang setia.[8] Sikap rasul menanggapi hal-hal yang bersifat okultisme ialah Filipus berhadapan dengan Simon si penyihir, Paulus di Siprus menghadapi Baryesus, tukang sihir dan nabi palsu, di Filipi menghadapi perempuan petenung, dan tukang jampi Yahudi.[9]
2.2.2. Zaman Gereja Abad I-V
Di dalam gereja Kristen abad-abad pertama (I-V) muncul kesadaran yang kuat bahwa musuh Kristen adalah setan atau iblis (penghulu setan) dengan segala bentuk dan cara penjelmaannya. Gereja Kristen berhadap-hadapan secara diametral dan konfrontatif dengan para pemuja setan. Karena itu, dalam ajaran Kristen terdapat juga babak atau pasal tentang seluk-beluk setan/iblis (biasa disebut demonology) dan dikenal juga dengan praktik pengusiran setan (eksorsisme; pelakunya disebut eksorsis/exorcist).[10] Sikap gereja atau jemaat mula-mula terhadap okultisme atau penyembahan berhala ialah tidak mau menyembah berhala sehingga banyak orang Kristen yang mati syahid.[11]
Senjata-senjata gereja: kemenangan gereja, kanon, pengakuan iman, dan pewarisan jabatan rasuli. Sukar sekali bagi orang Kristen, yang ingin hidup dengan Injil, menentukan sikapnya terhadap segala hal dalam pergaulan masyarakat karena dipengaruhi oleh agama kafir sehingga sikap jemaat terhadap persembahan kepada dewa-dewa, yang menyebabkan kaum Kristen tak mau ambil bagian dalam keramaian itu.
Dalam sejarah gereja Katolik lama sikap gereja terhadap orang kafir yang melakukan praktik okultisme pada abad ke-IV itu orang Kristen mulai menghormati orang-orang kudus, malaikat dan Maria serta menyembah patung dan relikwi. Orang kafir yang masuk Kristen kehilangan dewa-dewinya yang dapat memberi pertolongan dalam rupa kesulitan. Pengganti dewa-dewi itu sekarang ialah orang-orang kudus. Demikianlah hari raya dewa-dewi diganti dengan hari raya Gereja untuk memuja orang kudus.[12] Sikap gereja juga tentang hal-hal yang menajiskan seseorang ialah dengan cara kerahiban, yang terkenal tentang ini ialah Antonius. Sebenarnya mula-mula pergerakan dan tujuannya tidak lain ialah reaksi terhadap sekularisasi gereja.[13] Mereka disiksa sampai mati dengan cara-cara sadis pada peristiwa 19 Juli 64[14] karena penolakan menyembah kaisar.
2.2.3. Zaman Gereja Abad V-XV
Pada abad V-XV terjadi perkembangan yang cukup kompleks/rumit, sementara di satu sisi gereja Kristen juga terus mengembangkan demonology, di sisi lain ada juga tindakan mencampuradukan ajaran dan ibadah Kristen dengan pemujaan setan. Upacara pengusiran setan justru dilakukan dengan cara-cara yang mirip dengan pemujaan setan, dan cerita-cerita rakyat tentang setan (yang lucu-lucu ataupun yang menyeramkan) di tampung di dalam ajaran gereja.[15]
Pemujaan relikwi dalam gereja yang melakukan pemujaan kepada benda-benda yang berkaitan dengan orang-orang kudus. Menurut ajaran gereja dikatakan bahwa relikwi-relikwi terjadi tanda-tanda ajaib. Relikwi tidak mendapat akta penyembahan, melainkan penghormatan saja karena yang layak disembah adalah Allah sendiri.[16] Dalam zaman abad pertengahan ada dua tanggapan mengenai sikap gereja terhadap okultisme yaitu menerima dan menolak dikarenakan itu tidak masuk akal. Itu karena pengaruh pemikiran Aristoteles seorang filsuf menganut ajaran pra-eksistensi jiwa dan berpendapat bahwa jiwa akan terus hidup sesuai kematian. Pandangan filsuf ini mempengaruhi pemikiran gereja bahwa tidak ada intervensi roh bagi kehidupan di dunia ini, karena menurut Plato jiwa tidak ada di dunia ini.[17]
Dalam zaman abad pertengahan, gereja kurang menyikapi yang namanya okultisme, itu dikarenakan renaissance baik dipihak liberal, maupun dipihak Katolik Roma karena renaissance berarti kelahiran dari manusia modern (zaman baru) yang tidak mengakui kuasa lain daripada akal budi dan karunia rohaninya sendiri. Kemudian yang terutama yang dipikirkan oleh scholastic ialah: bagaimanakah relasi antara pernyataan (wahyu) Tuhan dengan akal budi manusia? Untuk mengerti pernyataan Tuhan, digunakan kitab Agustinus dan untuk hal berpikir menurut ilmu filsafat dipergunakan kitab Logica karangan Aristoteles. Pada tahun 1150 masa pertama dari zaman scholastic diakhiri dengan pekerjaan murid Abelardus, Petrus Lombardus namanya, dilanjutkan oleh Albertus Magnus (1250) dan Thomas Aquinas (1225-1274).[18]Pada abad-abad ke-XIV dan abad ke-XV cita-cita mistik itu bangkit kembali. Iman hanya sebagai permulaan saja dari hidup suci Kristen. Yang lebih penting dari iman ialah usaha manusia supaya dipenuhi dengan zat ilahi dari atas.[19]
Gejala-gejala demikian masih terus berlangsung pada abad-abad berikutnya khususnya abad-abad kegelapan pra-Renaissance (pra abad XV-XVI) bahkan makin meluas. Pada masa Rasionalisme dan Pencerahan (abad XVII-XVIII) dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, dunia akademik dipengaruhi suatu stereotip 'sains' modern yang berasumsi bahwa bumi terdiri dari tiga dimensi dan dibatasi ruang dan waktu yang bisa diukur dan diteliti, akibatnya soal-soal supranatural di luar itu semacam okultisme dianggap tidak ada.[20]
Okultisme yang terjadi di abad pertengahan ialah pada masa abad pertengahan bentuk-bentuk okultisme dapat dilihat melalui praktek-praktek kehidupan mereka seperti: Mistik merupakan gejala yang biasa ditemukan pada segala zaman dan dalam segala agama. Intinya ialah keinginan agar jiwa mengalami dan merasai Allah secara langsung, dan menyelinap di dalam Dia. Jiwa manusia bersifat ilahi dan kembali kepada asalnya, sama seperti tetes air hujan kembali ke dalam samudera. Yang disetujui oleh semua penganut mistik ialah bahwa jiwa harus menjauhi segala hal yang jasmaniah, tidak boleh menyibukkan diri dengan dunia, dengan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan tubuh sendiri pun tidak. Jadi mistik bersifat dualistis dan asketis. Okultisme pada umumnya dikembangkan sejajar dengan industrialisasi Jerman sedemikian rupa sehingga hampir tidak ada negara lain begitu banyak keajaiban dipertunjukkan begitu banyak hantu dipanggil, begitu banyak penyakit disembuhkan dan begitu banyak horoskop dibaca.[21]
2.2.4. Zaman Gereja Abad XV-XIX
Pada abad ini di Eropa terjadi perburuan yang intensif terhadap para penyihir. Di satu sisi lain itu mungkin patut dipuji sebagai tindakan yang sungguh-sungguh untuk membasmi para pemuja setan, tetapi di sisi lain juga memberi citra yang buruk bagi gereja Kristen sebagai lembaga ataupun kumpulan orang-orang yang menghalalkan kekejaman dan pembunuhan besar-besaran. Lagi pula tindakan itu dengan mudah dijadikan topeng atau pembenaran untuk menyingkirkan lawan-lawan gereja resmi, yaitu dengan menuduh mereka sebagai pemuja setan. Tindakan kejam dari gereja ini, terutama Gereja Katolik Roma dengan inkuisisinya, kelak menjadi salah satu alasan bagi banyak orang-terutama pihak penentang gereja-untuk mengecam gereja Kristen sebagai kekuatan yang keji.[22] Sikap reformator dalam menyikapi yang dianggap penyembahan berhala, maka Zwingy melakukan pembaharuan-pembaharuan menolak pemujaan-pemujaan kepada orang-orang kudus, patung-patung dihapuskan.[23] Luther pun mendukung perubahan itu.[24]
Pada zaman Reformasi, baik Martin Luther, baik Ulrich Zwingly, baik Johanes Calvin, mereka ini ialah tokoh-tokoh reformator yang menolak ajaran gereja yang tidak berlandaskan dengan Alkitab, dalam hal patung dan relikwi-relikwi, para reformator menolak patung-patung dan relikwi-relikwi, serta penyembahan dan doa kepada santo dan santa. Yang paling radikal menyangkut dengan patung, Zwingly menghancurkan semua patung yang ada dalam gereja dalam pereformasiannya, dan sola scriptura ditegakkan oleh Martin Luther. Mengenai roh jahat, Martin Luther sering diganggu oleh roh jahat sehingga suatu ketika ia menyiram tinta ke dekat pintu kamarnya. Sikap Gereja terhadap okultisme yang tertulis dalam sejarah konsili Vatikan pada tahun 1936, dulunya Gereja Katolik Roma sangat tertutup dan diluar GKR dianggap pemujaan berhala, maka setelah keputusan Vatikan, melunakkan sikap menolak segala upacara pemujaan leluhur, maka umat Katolik dapat diikutsertakan di penghormatan nenek moyang, asal tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran gereja. Orang Katolik berdoa untuk arwah orang beriman dan mengharapkan bahwa dengan perantaraan mereka itu memperoleh rahmat dan Kristus sendiri. Karena baik yang hidup dan yang mati tetap membentuk keluarga dalam Kristus.[25]
Pada zaman modern gereja menyikapi okultisme dengan cara istilah pelayanan pelepasan (Deliverance Ministry atau exorcism) muncul seiring dengan perkembangan gerakan Kristen Pentakosta dan Kristen Kharismatik. Tokoh-tokoh yang berpengaruh besar dalam mensosialisasikan istilah itu Derek Prince, Frank Hammond, dan Win Worley.[26] Zaman modern, berhala tidak hanya disebut sebatas dengan hal-hal yang bersifat mistis atau kuasa-kuasa yang berada diluar Allah, namun ada yang disebut dengan berhala modern. Penyembahan berhala bahkan Allah yang mereka sembah bukan Allah yang sesungguhnya tetapi Allah yang dibuat-buat, yang menganggap diri sendiri bersifat illahi dan mengangkat diri sebagai Allah.[27]
2.2.5. Zaman Gereja Abad XX-Sekarang ( Indonesia )
Konsili Vatikan-II 1962-1965 oleh Paus Yohanes XIII telah membuka pintu perubahan lebar-lebar. Injil adalah sumber kebenaran yang menyelamatkan dan disampaikan kepada kita dengan dua jalan: tradisi dan Alkitab.[28] Alkitab Dibebaskan pada Vatikan-II, dan penelitian Alkitab oleh pihak Katolik sangat dianjurkan. Begitu banyak telah terjadi dalam ibadah dan dalam bidang-bidang lain.[29] Dokumen Konsili On Divine Revelation menekankan bahwa Kitab Suci bukan tradisi adalah basis utama kebenaran Illahi.[30]
Pada masa kini gereja menyikapi okultisme dan juga sudah di bahas di dalam level Internasional yaitu melalui Unitet Evanggelical Mission(UEM) yang diselenggarakan di bulan Oktober tahun 2014 di Wuppertal, Jerman, dengan topik Deliverance Ministry, di hadiri pendeta dan mahasiswa yang menjadi bagian dari UEM. Dan keputusan pada tahun 2014 ialah sikap gereja kepada okultisme ialah memperlengkapi pendeta-pendeta anggota UEM, memperlengkapi mahasiswa-mahasiswa Theologi dengan materi-materi yang serupa, yang intinya bagaimana memampukan para pelayan untuk umat yang cenderung imannya kompromistis. Menjaga iman, dan hanya mengandalkan Tuhan.[31]
Tengah kedua abad ke-XX ditandai dengan era transendentalis dimana gejala okult dan new age meningkat hebat. Gerakan Kharismatik berkembang di awal tahun 1960-an dan sangat menekankan pelayanan pelepasan dan pengusiran setan.[32] Paradigma kemartiran Kristen ialah seorang individu yang menolak untuk menekuk imannya pada tuntutan-tuntutan otoritas politik.[33] Sebagai salah satu contoh di Negara barat saat ini terkenal dengan Harry Potter dipenuhi dengan referensi okultisme, seperti penyihir, mantra dan seringkali digambarkan dengan sikap penuh humor dan bersahabat. Sikap gereja seharusnya ialah agar dosa tidak membalikkan kenyataan dalam pikiran yang ditipu iblis, sebab celaka yang menyimpangkan kebenaran.[34]
Mengenai sejarah sikap gereja terhadap okultisme terutama saat ini mengemukakan bahwa salah satu penyebab sulitnya membrantas ini ialah kegagalan gereja membangun suatu teologia kontekstual (Grassroot teology) yang tepat. Selama ini konteks Indonesia ditanami dengan tanaman tanaman teologi barat.[35] Okultisme dan Gereja di Indonesia: Di dalam wacana keagamaan, khususnya dalam teologi Kristen, isu tentang Okultisme mendapat perhatian yang sangat besar. Dimulai pada akhir tahun 1940-an dan khususnya pada awal tahun 1950-an, pembicaraan mengenai topik ini muncul di berbagai tulisan. Mead dalam tulisannya tahun 1951 menyebut istilah Okultisme sebagai penemuan baru. Dan menurutnya, istilah itu masih tidak ditemukan di dalam banyak kamus pada saat itu. Tahun 1970-an memperlihatkan giatnya kalangan Kristen, khususnya di Amerika, dalam menanggapi Okultisme. Saat ini, banyak buku yang ditulis tentang Okultisme, khususnya dari kelompok pentakostal dan kharismatik. Sampai tahun-tahun terakhir, di kalangan Kristen dunia, khususnya yang memiliki hubungan dengan aliran-aliran gereja pentakostal dan kharismatik di Amerika, termasuk yang di Indonesia, isu tentang Okultisme mendapat perhatian yang serius. Di pihak lain, gereja-gereja yang beraliran tradisional (khususnya anggota PGI), topik ini tidak diberi perhatian yang berarti.[36] Namun Injili seperti I-3 Malang sangat gencar menulis buku maupun melakukan seminar.
Salah satu Gereja yang sudah menyikapi hal ini adalah Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Di dalam peraturan siasat Gereja BAB V Pasal 15 ada dicantumkan yeng berhubungan dengan Okultisme ini.[37] GKPS juga sudah membahas mengenai okultisme secara khusus di hadiri oleh beberapa pendeta-pendeta GKPS. Dan hasil pertemuan itu dimuat dalam buku “Okultisme “Pelayanan pelepasan” dan Upaya Berteologi di GKPS”.
2.2.6. Pandangan Gereja terhadap Okultisme
Pada jaman Reformasi para Reformator menolak kepercayaan terhadap tempat Penyucian. Mereka menegaskan bahwa semua orang di proses dalam surga atau neraka setelah kematiannya. Mereka tidak dapat kembali lagi kedunianya. Sebenarnya pendapat ini tidak hendak mengingkari kemunculan hantu namun lebih untuk menyatakan bahwa hantu bukan berasal dari jiwa orang mati. Tradisi Protestan mengatakan bahwa hantu merupakan Setan yang merubah bentuk dalam wujud manusia. Oleh karena itu maka gereja Protestan menolak praktek doa dan juga ibadah bagi orang mati.[38] Mereka percaya bahwa sesudah mati orang tidak bisa merubah nasibnya meskipun banyak orang mendoakannnya. Gereja Protestan memandang Setan sebagai musuh utama yang harus diperangi karena Setan selalu berusaha memberontak melawan Allah. Setan dipahami sebagai sumber dari segala kejahatan. Oleh karena itu orang percaya harus senantiasa waspada terhadap serangan Setan. Namun disisi lain gereja meyakini bahwa orang percaya yang telah menjadi milik Kristus tidak bisa menjadi milik Setan. Oleh karena itu orang percaya tidak bisa mengalami kerasukan Setan. Bahkan orang percaya dimampukan untuk mengusir Setan.
Gereja Protestan memandang pengusiran Setan diantara bangsa-bangsa adalah tipu muslihat Setan untuk menaklukkan orang-orang dibawah kuasanya. Jadi dalam pengusiran itu Setan yang lebih kuat mengusir Setan yang lebih lemah. Kemungkinan Setan yang telah diusir akan kembali dan merongrong orang itu dengan lebih ganas lagi. Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) adalah salah satu contoh gereja Protestan beraliran calvinis yang sangat menentang upacara pemanggilan Arwah orang mati. Bagi mereka orang yang bergabung dengan gereja harus melepaskan diri dari perlindungan dan pimpinan Roh-Roh yang lain. Mereka juga berkeyakinan bahwa orang-orang yang melakukan pemanggilan Arwah tidak akan mendapat tempat di dalam surga ketika mati.[39]
2.2.7. Penanganan Okultisme dalam GBKP
Misi dan Pekabaran Injil merupakan cara penanganan yang dilakukan GBKP dalam meminimalisir praktik Okultisme. Dengan melakukan PI, berarti Gereja sudah melakukan langkah awal dalam pemberitaan kabar keselamatan. Pekabaran Injil (PI) atau penginjilan sering disebut juga dengan evanglisasi atau evanglisme, merupakan salah satu bentuk misi gereja.[40] Periode ini diawali dari kegiatan Jubelium 100 tahun GBKP. Dalam kegiatan Jubelium tersebut GBKP menetapkan untuk lebih memperisapkan diri menghadapi tantangan masa depan. Dengan kesadaran apa yang akan menjadi tantangan gereja menjelang abad ke-21dengan terjadinya perubahan nilai-nilai sebagai dampak pembangunan dan mobilitasmasyarakat. GBKP memanfaatkan Jubelium tersebut sebagai media penjemaatan pemahaman jemaat misioner dengan memotivasi warganya agar berperan serta sadar dan aktif dalamseluruh kegiatan pelayanan dan kesaksian GBKP.[41] Pengertian misi tidak ada disebutkan secara rinci dalam Tata Gereja GBKP, tetapi konsepmisi dapat kita lihat dalam Tata Gereja khususnya tentang gereja, yaitu “gereja haruslahmenyaksikan pola hidup Yesus, agar kerajaan Allah terwujud di dunia ini”. Semua anggotapersekutuan yang adalah manusia baru berperan dan mendapat bagian dalam kesaksian,persekutuan dan pelayanan gereja sebagai wujud dari jemaat yang misioner di bawahkoordinasi dan arahan dari para pelayan khusus: Pendeta, Penatua, dan Diaken.[42] Secara umum, konsep PI yang dibuat oleh Moderamen GBKP pada Tata Gereja GBKPtahun 2005-2015 dengan Tata Gereja GBKP tahun 2015-2025 adalah sama. Namun, ada penambahan satu poin tentang konsep PI pada Tata Gereja GBKP tahun 2015-2025. Adapunkonsep PI yang dibuat GBKP adalah:
·Mengadakan PI keluar kepada seluruh manusia yang belum mengenal Kristus.
·Mengadakan PI kedalam sesuai dengan ajaran GBKP dan disetujui oleh MajelisJemaat, Klasis, Moderamen sesuai dengan wilayah pelayanannya.
·Memobilisasi seluruh warga jemaat agar kita ikut bertanggungjawab dalam tugasPI melalui doa, daya, dana maupun perilaku kristiani dalam kehidupan sehari-hari.
·Mempersiapkan warga jemaat menjadi warga jemaat yang missioner.
·Mengadakan dan mengembangkan sarana Penginjilan.
·Pengembangan wisata rohani·Mengadakan dialog antar iman (poin inilah yang ditambah pada konsep misidalam Tata Gereja GBKP tahun 2015-2025.[43]
2.3.Analisa Penyeminar
Dalam dunia ini ada dua jenis kuasa, kuasa Roh Kudus (Kisah Rasul 10:38) dan kuasa kegelapan (1Timotius 4:1). Manusia dalam memilih jalan hidupnya diberikan kebebasan, apakah ia memilih Roh Kudus atau memilih kuasa kegelapan, dari zaman ke zaman okultisme dipandang sebagai bentuk penduaan kepada Tuhan. Perjalanan sejarah gereja membuktikan bahwa tidak jarang penentangan pada hal-hal yang berbau okultisme mengakibatkan timbulnya aniaya dan korban jiwa.[44] Perjalanan sejarah gereja juga memperlihatkan bagiamana perkembangan sikap gereja terhadap okultisme. Kelihatannya di kalangan gereja Kristen kita jumpai dua kutub dalam menanggapi Okultisme. Di satu kutub ada geraja-gereja yang karena terpengaruh rasionalisme dan liberalisme menolak dan menanggap bahwa di era komputer dengan segala produk teknologinya kita tidak mungkin mempercayai hal itu yang dianggap sebagai produk kebodohan masa lalu, di kutub lain praktek-praktek pelepasan makin laris dilakukan penginjil-penginjil Kharismatik. Kenyataannya, okultisme makin merajalela dan banyak orang terlibat di dalamnya. Bila seseorang jemaat mengalaminya dan ingin lepas darinya lalu menjumpai pendeta dan gerejanya tidak percaya atau tidak mampu menolongnya, maka terjadilah eksodus ke pendeta dan gereja yang lain yang menawarkan pelayanan pelepasan, dan jangan heran bahwa sekarang lepas dari soal benar atau salah, umumnya gereja-gereja yang menawarkan pelepasan akan lebih menarik jemaat dari pada gereja-gereja yang skeptik. Gejala ini sebenarnya sudah menunjukkan bahwa okultisme itu ada dan bahwa pengetahuan kita mengenai dimensi yang lain di luar konsep modern masa kini mengenai dunia tiga dimensi yang terikat ruang dan waktu ternyata masih terbatas dan perlu membuka diri terhadap realita lain yang sekarang makin menunjukkan eksistensinya.
Ada banyak jemaat kita yang kalau dahulu sifatnya tersembunyi ikut dalam kegiatan ini, maka sekarang di mall-mall sering diadakan “Pameran Paranormal” yang mempromosikan praktek-praktek okultisme secara bebas, ini juga dipromosikan oleh surat kabar, majalah dan reklame TV. Fakta menujukkan bahwa gejala-gejala okultisme sudah banyak dialami jemaat Kristen. Banyak jemaat bahkan mengalami ganguan okult mulai dari yang ringan sampai kerasukan setan. Dalam menanggapi situasi demikian apakah yang bisa dilakukan oleh gereja dan para pendeta serta majelisnya? Memang banyak yang masih berpola pikir rasionalis sehingga menanggap jemaat pasien demikian sebagai urusan para dokter, psikolog atau psikiater.
Tepat seperti apa yang dikatakan oleh Dr. Eta Linneman, murid Rudolf Bultman yang menjadi guru besar teologi dan mengajar kritik histors di Universitas Marburg, Jerman, bahwa: “umumnya pendeta dan gereja yang terpengaruh dasar falsafah rasionalisme dan menolak otoritas Alkitab, akan mengalami tiadanya pembaharuan hidup dalam Roh Kudus, takut akan Allah semakin hilang, tak berdaya menghadapi okultisme, pertumbuhan iman terhanbat, motivasi untuk misi/pekabaran Injil hilang, dan gereja semakin kosong ”.[45]
Kelihatannya berita Alkitab menunjukkan bahwa kedua kutub sikap itu sebagai keliru dan menunukkan praktek di antara keduanya dimana kita berhadapan dengan kuasa-kuasa roh-roh di udara selain berhadapan dengan gejala-gejala alamiah. Seminar, ceramah, dan pemahaman soal okultisme harus dikenal jemaat dan khususnya para pemimpin gereja, dan bagi pemimpin gereja dan jemaat yang dikaruniai kuasa pengusiran setan, karunia-karunia itu perlu didaya-gunakan dalam pelayanan gereja. Demikian juga tim-tim doa perlu diadakan di gereja-gereja agar kuasa-kuasa okultisme tidak makin mencengkeram manusia modern dan gereja dapat menunjukkan secara nyata kuasa Allah yang dapat mengatasi kuasa okultis demikian. Bila tidak, karena gejala okult adalah riel, maka jemaat akan lari dari “gereja skeptik” mencari persekutuan/gereja “Kharismatis” yang menjalankan pelayanan demikian. Mencapai hal diatas tidak mengherankan apabila UEM sampai-sampai menangkap isu okultisme yang mereka sebut Deliverance Ministry (Pelayanan Pelepasan) sebagai isu teologis dalam konteks pergumulan umat Kristiani di Asia dan Afrika. Bahkan konteks gereja-gereja anggota UEM di Indonesia, isu Begu Ganjang yang popular di kalangan jemaat-jemaat pendesaan mencuat kepermukaan lama seperti Begu Ganjang itu masih hidup di antara anggota jemaat, terutama yang tinggal di pedesaan di samping praktik-praktik sisa-sisa kepercayaan lama. Sikap Gereja harus selalu membawa suara pertobatan dan bukan untuk menyuarakan penghakiman.
Dalam menyikasi isu-isu Okultisme (termasuk Begu Ganjang) pada masa kini, Gereka harus proaktip untuk membina dan memberikan pencerahan kepada anggota jemaat tentang pengaruh kuasa-kuasa kegelapan dalam kehidupan anggota Jemaat. Kita harus jeli melihat bahwa takhyul, kepercayaan terhadap roh-roh orang mati, kepercayaan kepada magic dan anggota jemaat yang pergi kedukun masih marak di lingkungan gereja. Dari survey-survey yang dilakukan Tim Occult UEM Sumatera Utara akhir-akhir ini disimpulkan bahwa tingkat keterikatan anggota jemaat pada kuasa-kuasa kegelapan (okultisme) persentasinya sangat besar. Ini menjadi suatu tantangan besar bagi Gereja sebab pengaruh okultisme membuat jemaat tidak bergairah untuk beribadah, malas ke gereja, tidak ada minat membaca Alkitab, berdoa dan sebagainya. Salah satu penghambat pertumbuhan iman di tengah-tengah jemaat adalah karena pengaruh okultisme. Oleh karena itulah gereja sangat penting melakukan pembinaan-pembinaan terhadap anggota jemaat untuk diperlengkapi dan dipersenjatai bagaimana menghadapi okultisme ini. Juga para pelayan-pelayan Gereja perlu mendalami okultisme dan kuasa kemenangan Kristus sehingga diperlengkapi untuk melayani warga jemaat yang masih terlibat dengan okultisme. Orang-orang percaya harus yakin bahwa kuasa Kristus adalah lebih tinggi dari kuasa-kuasa dunia ini termasuk okultisme. Kuasa kebangkitan Kristus telah mengalahkan kuasa-kuasa dunia ini, sehingga dengan iman kepada Kristus orang percaya mampu mengalahkan kuasa-kuasa dunia termasuk kuasa Iblis (Lih. 1 Petrus 5:8-9; Markus 16:17; Yakobus 4:7; 1 Yohanes 4:4).
III. Kesimpulan
- Gereja harus selalu membawa suara pertobatan bukan membawa penghakiman. Untuk itu gereja harus selalu memberikan pemahaman,tindakan dan sikap yang benar terhadap Okultisme.
- Okultisme tidak dapat dihadapi dengan kekerasan atau pembunuhan, tapi hanya melalui doa dan iman seraya memohon pertolongan Roh Kudus. Karena itu jangan pernah jemu berdoa, karena pada akhirnya Dialah Roh kebenaran yang akan menyatakan kita mana yang benar dan yang mana yang sesat.
- Perlu diusahakan dan diefektifkan kebaktian di setiap rumah tangga, perkantoran, kampus serta penelahan Alitab (PA), agar kita semakin terbiasa berpegang pada firman Tuhan dan tidak mengandalkan kuasa lain yang ada di dunia ini.
IV. Daftar Pustaka
Bergman Susan, Para Martir, Kisah-kisah kontemporer Pergumulan Iman dalam dunia Modern, Jakarta: BPK-GM, 2012.
Berkhof H. & Enklaar I.H., Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2011.
Bulle Florence, Berbagai tipuan dalam pelayanan, Malang: Gandum Mas, 2004.
C Ira, Semakin dibabat Semakin merambat, Jakarta: BPK-GM, 2009.
Curtis A. Kenneth, J. Stephen Lang, Randy Petersen, 100 Sejarah Penting dalam Sejarah Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2012.
Damanik Jan Jahaman,yang dimuat dalam Jurnal Teologi Tabernakel STT Abdi Sabda,Medan:CV.Putra Mandiri,2010.
Ellerbe Helen, The Dark Side of Christianity, Orlando, USA:Morning Star and Lark, 1995.
Hardawiryanan R., Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta:Obor.1993.
Heuken A., Ensiklopedi Gereja jilid VII, Yogyakarta: Yayasan Loka Caraka.
Josh Mc l & Don Stewart, Handbook of Today’s Relogions, Nashiville: Thomas Nelson Publisher, 1983.
Kees de Jong, Pekabaran Injil dalam Konteks Masyarakat Multikultural Pluralistik,Yogyakarta:TPK, 2010
Kusuma Surya, Okultisme Antara Budaya vs Iman Kristen, Yogyakarta:Andi, 2010.
Lane Tony, Runtut Pijar, Sejarah Pemikiran Kristiani, Edisi Revisi, Jakarta: BPK-GM, 2012.
Larson Bob, Membongkar tipu daya iblis, Strategi melucuti pengaruh iblis dalam pikiran dan tubuh, Yogyakarta: ANDI, 1990.
Mary Margaret Steedly, Hanging Without a Rope, Narrative Experience In Colonial And Postcolonial Karolan, New Jersey: Princeton University Press, 1993
Moderamen GBKP, Tata Gereja GBKP 2005-2015, Kabanjahe: Abdi Karya, 2005), 130. BdkModeramen GBKP, Tata Gereja GBKP 2015-2025,(Kabanjahe: Abdi Karya, 2015
Moderamen GBKP, Tata Gereja GBKP 2005-2015. Bdk Moderamen GBKP, Tata Gereja GBKP2015-2025
Panitia Jubelium 100 tahun GBKP, Ini Aku Utuslah Aku, Medan: Sekretariat Panitia JubeliumGBKP 1990
Penelitian dan Pengembangan GKPS ,Okultisme “Pelayanan Pelepasan”dan upaya berteologi di GKPS,Pematangsiantar:Penelitian dan Pengembangan GKPS,2012.
Purba Jan Horas V., Faith Rising, Sebuah Catatan pada Sinode Bolon GKPS ke-42 tentang Pdt. Jaharianson Saragih.
Singgih E.G., Mengantisipasi Masa Depan, Jakarta: BPK-GM, 2004.
Sinurat Insan, Skripsi Konseling Pastoral untuk pelayanan jemaat yang telah berobat ke dukun.
Steve Worhlberg, Menyingkap Penyesatan Harry Potter dan ilmu sihir, (Shippensburg, Light Publisher, 2007.
Takaliuang Pondsius, Antara Kuasa Gelap dan Terang, Jawa Timur: Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, 2000.
Tata Gereja dan Peraturan-Peraturan GKPS, Kolportase GKPS: Pematangsiantar, 2015.
Tenney Merryl C., Survey Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 2006), 81-82
Thomas Keith, Religion And The Decline of magic New York: Charles Scribher’s Sons, 1971
Tjen Anwar (Penj), Katekhismus Besar Martin Luther, Jakarta: BPK-GM.
Tony Daud, Dunia Okultisme, Jakarta: Betlehem, 2003.
Vrekhem Georges Van, Tuhan Hitler, Jakarta: Mediakita, 2011.
Walker F., Konkordansi Alkitab, Jakarta:BPK-GM,1994.
Wellem F.D., Kamus Sejarah Gereja, Edisi Revisi, Jakarta: BPK-GM, 2011.
Wellem F.D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta:BPK-GM,2003.
Sumber Internet:
http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=676&res=jpz diakses tgl. 5 Oktober 2020
http://stanleyrambitan.blogspot.co.id/2011/07/okultisme-dan-agama-suku.html diakses tgl. 3 Oktober 2020.
http://suarasangkakala.blogspot.co.id/2013/11/waspadalah-terhadap-jerat-okultisme.html diakses tgl. 5 Oktober 2020.
[1] Pondsius Takaliuang, Antara Kuasa Gelap dan Terang, (JAwa Timur: Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, 2000), 15.
[2] Penelitian dan Pengembangan GKPS,Okultisme “Pelayanan Pelepasan”dan upaya berteologi di GKPS,(Pematangsiantar:Penelitian dan Pengembangan GKPS,2012),38.
[3] Pondsius &Susanna Takaliuang, Antara Kuasa Gelap & Kuasa Terang, xvi.
[4] Daud Tony, Dunia Okultisme, (Jakarta: Betlehem, 2003), 75.
[5] F.Walker, Konkordansi Alkitab, (Jakarta:BPK-GM,1994).
[6] Merryl C. Tenney, Survey Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 2006), 81-82
[7] http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=676&res=jpz diakses tgl. 5 Oktober 2020
[8] http://suarasangkakala.blogspot.co.id/2013/11/waspadalah-terhadap-jerat-okultisme.html diakses tgl. 5 Oktober 2020
[9] Insan Sinurat, Skripsi Konseling Pastoral untuk pelayanan jemaat yang telah berobat ke dukun, 50
[10] Tulisan Jan Jahaman Damanik,yang dimuat dalam Jurnal Teologi Tabernakel STT Abdi Sabda (Medan:CV.Putra Mandiri,2010),43.
[11] A. Heuken, Ensiklopedi Gereja jilid VII, (Yogyakarta: Yayasan Loka Caraka,)156.
[12] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 51.
[13]Ibid, 52.
[14] Ira C, Semakin dibabat Semakin merambat, (Jakarta: BPK-GM, 2009), 9.
[15] Tulisan Jan Jahaman Damanik,yang dimuat dalam Jurnal Teologi Tabernakel STT Abdi Sabda,44.
[16] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, Edisi Revisi, (Jakarta: BPK-GM, 2011), 337.
[17] Florence Bulle, Berbagai tipuan dalam pelayanan, (Malang: Gandum Mas, 2004), 15.
[18] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 102-104.
[19] Ibid, 109.
[20] http://suarasangkakala.blogspot.co.id/2013/11/waspadalah-terhadap-jerat-okultisme.html diakses tgl. 5 Oktober 2020
[21] Georges Van Vrekhem, Tuhan Hitler, (Jakarta: Mediakita, 2011), 365-368.
[22] Helen Ellerbe, The Dark Side of Christianity, (Orlando, USA:Morning Star and Lark, 1995), 114-117.
[23] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta:BPK-GM,2003),200
[24]Ibid, 129.
[25] A. Heuken, Ensiklopedi Gereja jilid VII, (Yogyakarta: Yayasan Loka Caraka),157.
[26] Bob Larson, Membongkar tipu daya iblis, Strategi melucuti pengaruh iblis dalam pikiran dan tubuh, (Yogyakarta: ANDI, 1990), 195.
[27] Anwar Tjen (Penj), Katekhismus Besar Martin Luther, (Jakarta: BPK-GM,) 25-26.
[28] Konsili vatikan II (1962-1965), “apa saja adat kebiasaan para bangsa, yang tidak secara mutlak terikat pada takhayul atau ajaran sesat, oleh gereja dipertimbangkan dengan murah hati dan bila mungkin dipelihara dengan hakikat semangat liturgi yang sejati dan asli (SC 37).” R.Hardawiryanan, Dokumen Konsili Vatikan II, (Jakarta:Obor.1993),17.
[29] Tony Lane, Runtut Pijar, Sejarah Pemikiran Kristiani, Edisi Revisi, (Jakarta: BPK-GM, 2012), 265-266
[30] A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang, Randy Petersen, 100 Sejarah Penting dalam Sejarah Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 2012), 166.
[31] Jan Horas V. Purba, Faith Rising, Sebuah Catatan pada Sinode Bolon GKPS ke-42 tentang Pdt. Jaharianson Saragih, 44.
[32] http://suarasangkakala.blogspot.co.id/2013/11/waspadalah-terhadap-jerat-okultisme.html diakses tgl. 5 Oktober 2020.
[33] Susan Bergman, Para Martir, Kisah-kisah kontemporer Pergumulan Iman dalam dunia Modern, (Jakarta: BPK-GM, 2012), 439.
[34] Steve Worhlberg, Menyingkap Penyesatan Harry Potter dan ilmu sihir, (Shippensburg, Light Publisher, 2007), 131, 138.
[35] E.G. Singgih, Mengantisipasi Masa Depan, (Jakarta: BPK-GM, 2004), 25
[36] http://stanleyrambitan.blogspot.co.id/2011/07/okultisme-dan-agama-suku.html diakses tgl. 3 Oktober 2020
[37] Untuk lebih jelasnya lihat peraturan siasat GKPS Bab V Pasal 15. Tata Gereja dan Peraturan-Peraturan GKPS, (Kolportase GKPS: Pematangsiantar, 2015),128.
[38] Thomas Keith, Religion And The Decline of magic (New York: Charles Scribher’s Sons, 1971), 588-602
[39] Mary Margaret Steedly, Hanging Without a Rope, Narrative Experience In Colonial And Postcolonial Karolan. (New Jersey: Princeton University Press, 1993), 228
[40] Kees de Jong, Pekabaran Injil dalam Konteks Masyarakat Multikultural Pluralistik,(Yogyakarta:TPK, 2010), 335
[41] Panitia Jubelium 100 tahun GBKP, Ini Aku Utuslah Aku, (Medan: Sekretariat Panitia JubeliumGBKP 1990), 5
[42] Moderamen GBKP, Tata Gereja GBKP 2005-2015, (Kabanjahe: Abdi Karya, 2005), 130. BdkModeramen GBKP, Tata Gereja GBKP 2015-2025,(Kabanjahe: Abdi Karya, 2015) 89.
[43] Moderamen GBKP, Tata Gereja GBKP 2005-2015. Bdk Moderamen GBKP, Tata Gereja GBKP2015-2025, 90.
[44] Surya Kusuma, Okultisme Antara Budaya vs Iman Kristen, (Yogyakarta:Andi, 2010), 4-5.
[45] Penelitian dan Pengembangan GKPS,Okultisme “Pelayanan Pelepasan”dan upaya berteologi di GKPS, 139.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar