Jumat, 16 April 2021

Arti dan Makna Pelaksanaan Misi Allah (Mission Dei) Di Tengah-tengah Kehidupan Global yang mengalami Krisis Global

 


Arti dan Makna Pelaksanaan Misi Allah (Mission Dei) Di Tengah-tengah Kehidupan Global yang mengalami Krisis Global

(Ditinjau dari Biblika, Sistematika, Historika, Misiologi, Misi Agama-agama)

I.                   Latar Belakang

Misi bukanlah pilihan yang dapat dipertimbangkan tetapi misi adalah suatu perintah yang harus dilaksanakan. Tujuan dari misi yaitu memulihkan hubungan manusia dengan Allah, membawa orang mengenal satu-satunya Allah yang benar, dan memuliakan Allah. Misi juga merupakan rancangan damai sejahtera dari Allah untuk menyelamatkan dan menyatakan kerajaanNya di dunia, yang harus dikerjakan oleh setiap orang percaya lewat pelayanan kepada sesama. Masa kini, sebagian dari gereja juga mengakui bahwa tugas menjalankan misi itu juga adalah tugasnya. Namun yang menjadi permasalahan bahwa masih banyak warga gereja yang belum memahami misi secara keseluruhan. Mereka masih pada pandangan tradisional melihat misi identik dan terbatas pada penginjilan. Gereja adalah suatu komunitas dalam respon terhadap Missio Dei yang memberikan kesaksian tentang kegiatan Allah di dunia melalui pemberitaan kabar baik mengenai Yesus Kristus dalam ucapan dan tindakan. Oleh sebab itu pada seminar ini akan dibahas tentang arti dan makna pelaksanaan missi Allah (Mission Dei) di tengah-tengah kehidupan global yang mengalami krisis global dan dilihat dari tinjuan Biblika, Sistematika, Historika, Misi Agama-agama.

II.                Pembahasan

2.1. Pengertian Misi

Istilah misi (Mission) berasal dari bahasa Latin mission yang diangkat dari kata dasar mittere yang artinya to send, mengirim, mengutus. Padanan dari kata Yunani ialah apostello.[1] Kata mission adalah bentuk substantif dari kata kerja mittere (mitto, missi, missum) yang mempunyai beberapa pengertian dasar: (1) membuang, menembak, (2) mengirim, mengutus, (3) membiarkan, melepaskan pergi, (4) mengambil.[2] Mission juga dapat berarti pengutusan Tuhan, di mana Mission beranjak dari hati Allah ke dalam dunia ciptaanNya. Mission adalah rencana pengutusan Allah (Mission Dei) yang kekal untuk membawa syalom kepada manusia dan segenap ciptaanNya demi kejayaan Kerajaan Allah. Defenisi ini mengemukakan bahwa misi adalah rencana Allah Yang Esa, yang merupakan isi hati-Nya sejak kekal yang bertujuan untuk membawa syalom bagi manusia dan segenap ciptaanNya.[3] J. Andrew Kirk da lam bukunya “Apa itu Misi?” mengatakan bahwa “Misi” adalah realitas mendasar tentang kehidupan Kekristenan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa orang Kristen dipanggil oleh Allah untuk bekerja dengan-Nya di dalam mencapai tujuan-Nya bagi umat manusia secara keseluruhan. Hidup di dunia ini adalah kehidupan di dalam misi. Hidup hanya mempunyai tujuan selama ia mempunyai dimensi missioner.[4] Misi berasal dari Allah dan berakhir pada Allah. Allah adalah Allah yang mengutus, yang keluar menuju dunia. Ia adalah yang mengutus Putra dan Roh-Nya.[5]

2.2.Misi Allah (Mission Dei)

Mission Dei artinya seluruh pekerjaan Allah untuk menyelamatkan dunia. Missio Dei “misi Tuhan” tidak dimulai dari gereja atau badan-badan misi, tetapi mulai dari ALLAH. ALLAH adalah sumber keselamatan dan sekaligus sumber misi dan pusat Misi. Maksudnya bahawa tanpa Allah, tidak ada Misi (Kej. 3:7-10). Jadi Allah adalah sumber, inisiator, dinamisator, pelaksana dan penggenap misiNya. Misi beranjak dari hari Allah yang berinisiatif untuk melaksanakan misiNya, ditunjang oleh dinamikanya kuasa dalam melaksanakan dan mencapai misiNya.[6] Missio Dei artinya penyataan diri Allah sebagai Dia yang mengasihi dunia, keterlibatan Allah di dalam dan dengan dunia, sifat dan kegiatan.[7] Bagi Missio Dei, Allah Alkitab adalah Allah yang misioner, Allah yang mengutus. Melalui Firman dan RohNya, Ia menciptakan laki-laki dan perempuan di dalam gambarNya sendiri dan mengutus mereka untuk menguasai alam di bawah kehendakNya yang adil dan penuh kasih. Lebih jauh, Allah yang missioner ini telah memiliki untuk bertindak dalam sejarah. Missio Dei juga menegaskan gagasan bahwa misi adalah milik Allah yang mempertajam fokus kita kepada Injil sebagai kabar baik dari manusia yang diperbaharui di dalam Kristus. Alkitab mengungkapkan realitas yang sama darin manusia yang baru di dalam kata syalom, perdamaian. Tujuan yang disasar Allah di dalam pekerjaannya, tujuan akhir dari misiNya adalah mendirikan syalom. Ini meliputi perwujudan realisasi potensi-potensi sepenuhnya dari seluruh ciptaan dan pendamaian akhir dan kesatuan di dalam Kristus.[8]

2.3. Pelaksanaan Misi Allah

Pelaksanaan misi terfokus kepada aktivitas penyelamatan dari Allah yang secara dinamis menyelamatkan manusia berdosa di seluruh dunia yang sekaligus menghadirkan kerajaan Allah. Berdasarkan ajaran Alkitab terkait dengan pelaksana misi, maka dapat menemukan pelaksana misi itu ialah:

1.      Pertama, Allah yang Esa: Bapa Putra, Roh Kudus adalah originator, inisiator, komisioner, dinamisator, eksekutor dan konsumator misi-Nya. Sebagai originator, Allah adalah sumber asli misi; sebagai komisioner atau pengutus, Allah-lah yang memberi mandat misi dan mengutus; sebagai dinamisator, Allah adalah kekuatan dan kuasa bagi misi-Nya; sebagai eksekutor, Allah adalah pelaksana misi-Nya dan sebagai konsumator, Allah sendiri yang menggenapkan misi-Nya itu dengan mewujudkan shalom-Nya bagi manusia berdosa dan segenap ciptaan-Nya. Pandangan ini menegaskan bahwa Allah yang esa adalah segala-galanya bagi misi-Nya, di mana misi itu bersifat Uni-Trinitarian yang di dalamnya Allah Bapa, Putra (Firman) dan Roh Kudus berperan sepenuhnya.

2.      Umat Allah adalah utusan atau misionari Allah yang diberikan mandat dengan hak istimewa sebagai pembawa shalom-Nya. Umat Allah yang adalah utusan-Nya yang berperan sebagai vice regent-Nya di dalam dunia, bertanggung jawab mengutus ulang utusan-utusan-Nya ke dalam dunia. Kebenaran ini mengungkapkan bahwa keberadaan, kehidupan dan pengabdian umat Allah (gereja) adalah sebagai bukti bahwa mereka “terutus ke dalam dunia” dengan peran missioner, yaitu membawa shalom Allah kepada manusia serta segenap ciptaan-Nya.[9]

2.4.Arti dan Makna Pelaksanaan Misi Allah (Missio Dei) Ditinjau dari Biblika

2.4.1.      Menurut Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama tidak ada petunjuk bahwa orang-orang percaya dari perjanjian yang lama diutus oleh Allah untuk melintasi batas-batas geografis, keagamaan sosial, guna memenangkan orang-orang ke dalam iman kepada Yahweh. Rzepkowski mengatakan bahwa “ perbedaan yang menentukan perjanjian lama dan perjanjian baru adalah misi. Perjanjian Lama jelas mengenal kesadaran ynag langsung tentang kehadiran Allah di dalam ibadah dan doa, tetapi tekanan utamanya jelas terletak pada penyataan diriNya di dalam tindakan-tindakan historis.[10]

1.      Kejadian 12:1-3 menjelaskan “panggilan Abraham”. Tuhan menjanjikan kepada Abram bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, Allah akan membuat namanya masyur.Tuhan berjanji memberkati Abram dan keturunannya supaya atau sehingga melalui mereka setiap suku di seluruh dunia ini diberkati. Janji dan perintah Tuhan yang diberikan kepada Abram dan keturunannya terjadi sesudah peristiwa menara Babel dan keturunannya terjadi sesudah peristiwa Menara Babel (Kej. 11). Dalam kejadian 12:1-3, Tuhan menyampaikan rencanaNya untuk menjangkau manusia yang terpisah-pisah itu. Dia merencanakan menjangkau manusia suku demi suku. Maka, Tuhan memilih salah satu suku, yaitu Abram dan keturunannya. Rencana Tuhan memberkati Abram dan keturunannya bukan hanya mereka menikmati berkat-berkatNya, tetapi supaya mereka menjadi berkat untuk suku-suku yang lain. Maksudnya mereka membagikan kabar baik tentang Allah bagi suku-suku lain.

2.      Dalam kejadian 28:12-15 Tuhan berjanji akan memberkati Yakub dan keturunannya. Oleh karena Yakub diberkati Tuhan, mereka juga mempunyai tanggung jawab terhadap bangsa-bangsa yang lain.

3.      Kel. 7:1-5, khususnya ayat 5, “Dan orang Mesir itu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan”. Jelas bahwa salah satu tujuan bangsa Israel keluar dari Mesir adalah karena ada misi Tuhan bagi orang Mesir. Oleh sebab Firaun tidak percaya kepada Tuhan, maka bangsa Mesir dihakimi Tuhan. Disamping itu juga ada orang Mesir yang percaya kepada Tuhan.

4.      Kel. 9: 20-21 tertulis tentang tulah hujan es. Jadi ada juga orang Mesir yang dijangkau melalui peristiwa bangsa Israel keluar dari Mesir.

5.      Kel. 19:3-6 adalah firman Tuhan sebelum menurunkan 10 perintah di dalam pasal 20. Tujuan hukum tuhan adalah supaya bangsa Israel sebagai utusan Allah melayani suku bangsa yang lain.

6.      Misi juga terjalin dalam kitab Mazmur.

Misi dalam Perjanjian Lama dikaitkan dengan Pemilihan sebagai bangsa yang dipilih Allah dan juga hubungan Israel dengan bangsa-bangas lain. 3 aspek dari pemilihan Israel yaitu:

a.       Aspek Universalisme

Kisah Penciptaan langit dan bumi, dan penempatan manusia di dalamnya merupakan prasejarah bagi Israel, dan serentak pula sebagai prasejarah bagi keselamatan seluruh dunia (Kej. 1-11). Tetapi prasejarah ini juga memperlihatkan bagaimana kejahatan merembes masuk ke dalam dunia. Keadaan yang demikianlah, yang menjadi latar belakang pemanggilan Abram (Kej 12). Ia dipanggil untuk pergi dari sanak saudaranya meninggalkan dunia orang kafir, tetapi Tuhan yang memanggil itu berjanji  bahwa ia akan menjadi berkat untuk semua kaum dimuka bumi. Kisah pemiihan Abraham dan keturunannya merupakan persiapan bagi Isral yang berwujud keluaran dari Mesir. Dengan memilih umat Israel maka Allah mengarahkan pandanganNya ke seluruh dunia. Pemilihan atas Israel adalah jalan yang ditempuh Allah untuk mencapai tujuanNya, yaitu pengakuan namaNya oleh seluruh bangsa-bangsa. Universalisme- keselamatan dibentangkan pada beberapa kita lain seperti Rut, Yesaya 40-55, dan juga kitab Yunus. Dalam kitab Yunus dengan tegas menentang sikap partikularisme (pembatasan keselamatan bagi diri sendiri saja).  Dalam bentuk orang-orang Yahudi yang berada dalam pembuangan bahwa mereka tidak boleh menjadi suatu rintangan antara Allah dan orang-orang kafir. Yunus yang adalah orang Israel dipanggil untuk menyatakan keselamatan terhadap niniwe.

b.      Aspek Eskatologi

Para nabi biasanya juga menyampaikan berita dari Allah kepada bangsa-bangsa. Seringkali  adakalanya kedengaran berita hukuman atas bangsa-bangsa akibat sikap mereka terhadap Allah Israel dan acapkali berita keselamatan untuk kedua-duanya. Melihat keselamatan Israel, “maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, menguduskan Israel” Yeh. 37:28.

Di dalam pemberitaan para nabi selalu ada pengharapan bahwa bangsa-bangsa lain akan ditarik menuju pusat kehadiran Allah Israel, lalu bangsa-bangsa lain itu akan mengaku namaNya.  Keselamatan eskhatologis digambarkan dalam Perjanjian Lama melalui gambaran tentang datangnya bangsa-bangsa lain berarak-arakan ke arah Sion menuju pusat di mana tersedia keselamatan, di mana ada Allah dan umatNya, pusat kehadiranNya, pusat dunia. Bangsa-bangsa akan datang kepada israel dan Allahnya.

Bukanlah Israel yang bertindak, bukanlah bangsa-bangsa yang bertindak tetapi Allah sendirilah bertindak terhadap Israel  dalam pusat sejarah dan pusat dunia, dan dengan jalan demikian segala bangsa akan datang untuk melihat dan akhirnya untuk disangkutpautkan dalam drama keselamatan. Bukanlah Israel yang menjadi saksi tetapi bangsa-bangsa akan menyaksikan apa yang terjadi di Israel, sehingga ada ketertarikan untuk mencari Allah Israel.

c.       Pengharapan Mesianis

Di dalam pengharapan Israel akan masa depan, pemegang kunci ialah Mesias yang dijanjikan selaku pembawa keselamatan, atau Ia merupakan poros berkisarnya zaman yang akan datang, yang dipentingkan dalam gambaran tentang zaman yang akan datang itu ialah pemerimntaha Tuhan atas Israel atas bangsa-bangsa lainnya, dan pemerintahan itu akan didatangkan dan dilaksanakan oleh oknum Mesianis sebagai penyelamat. Keselamatan yang dikaruniakan Tuhan kepada Israel mempunyai aspek universal, Israel yang dibaharui karena diberikan keselamatn dari Tuhan menjadi pembawa keselamatan sampain ke ujung bumi Yes 49:6.

Dalam perjanjian lama mengenai pemanggilan Abraham  dan keturunannya dan juga misi dalam perjanjian Lama, pelaksanaan misi Allah yaitu agar seluruh bumi diselamatkan dan keluar dari kegelapan dan berpaling menuju terang yang ada pada Allah Israel. Misi adalah bagian dari renvana tentang sebuah karya Allah bagi umat manusia. Dalam Perjanjian lama belum ditegaskan tentang penugasan untuk menjangkau segala bangsa untuk pekabaran Injil. Missions bukanlah sebuah tambahan yang diperintahkan Allah melalui Yesus kepada murid-muridNYa untuk dilaksanakan beberapa saat sebelum meninggalkan dunia. Sebaliknya pekabaran injil berasal dari hati Allah (Mission dei). Keinginan untuk pekabaran Injil dari semula sudah berada di dalam hati Allah. Allah telah mempersiapkan misiNya lewat umatNya, Israel sebagai anak-anak Abraham, untuk menjadi berkat bagi segala bangsa. William Dyrnes dalam bukunya berpendapat bahwa “perjanjian lama mempersiapkan sebuah berita universal yang dalam Perjanjian Baru akan menjadi misi universal. Misi dalam Perjanjian Lama bersifat sentripetal (dari luar ke pusat), dalam pengertian bangsa-bangsa datang kepada Israel dan mereka dapat mengenal serta menyembah Tuhan yang benar.[11]

Di dalam Perjanjian Lama Allah sendiri bertindak dalam sejarah, nampak dalam setiap tindakan Allah kepada umatNya Israel sebagai suatu rencana karya penyelamatan Allah. Tindakan-tindakan Allah terhadap umatnya, bahkan pemanggilan Abraham dan Israel sebagai bangsa pilihanNya diubahkan atau dibaharui serta umat pilihanNya menguduskannya.[12]

2.4.2.      Menurut Perjanjian Baru

Perjanjian Baru pada hakekatnya adalah sebuah kitab tentang misi yang melaporkan bagaimana Kristen mula-mula serta generasi berikutnya memahami diri mereka adalah misi. Sehingga dengan adanya pemahaman mereka tentang definisi diri, maka orang Kristen di dorong untuk terlibat dalam perjanjian missioner ke dunia.[13] Dalam Perjanjian Baru, misi biasanya dikaitkan dengan Matius 28:18-20, bagian penutup dari Injil pertama yang sangat mengesankan itu terdiri dari tiga bagian yaitu:

1.      Ucapan kewibawaan (Ay. 18b): “KepadaKu telah diberikan kuasa di Sorga dan di bumi”. Di sini yesus berdiri selaku raja, selaku perwujudan dari Daniel 7:13-14. Berdasarkan  kebangkitanNya, Ia ditinggikan dan dimahkotai menjadi pemerintahan dan hakim dunia.

2.      Pemroklamasian raja (Ay. 19-20a): “karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang kuperintahkan kepadamu”. Pemberitaan Injil adalah pemproklamasian pemerintahan Kristus di antara segala bangsa. PI terjadi Permroklamasian, pemberitaan tanda penaklukan diri kepada raja dunia (baptisan) dan pengajaran ketaantan kepada perintah-perintahNya.

3.      Janji kehadiran (ay. 20b): “ Dan Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Yesus yang bangkit itu sendiri menyertai pekabaran injil di seluruh dunia dan di sepanjang segala zaman. Proklamasi Yesus ini memproklamasikan kekuasaanNya oleh murid-muridNya, membuka zaman baru. Sisa waktu harus diisi dengan PI, supaya pemerintahan Kristus diwujudkan di mana-mana. Jemaat Kristen tidak merupakan pusat dan gaya penarik, melainkan ia diharuskan pergi keluar, selaku gaya pusingan (sentifugal), yaitu keluar dari lingkaran untuk mempersiapkan gerakan sentipetal. Inilah dasar pekabaran injil.[14]

Motif amanat Agung dari Allah mengaitkan aspek kebenaran yaitu :

a.       Motif misi Allah adalah motif kasih (Yohanes 3:16, 1 Yoh 4:9-12). Motif ini didasarkan atas kebenatran bahwa Allah memberi AnakNya dan menyelamatkan amnusia berdosa karena KASIH.

b.      Motif yang sangat urgen. Motif ini terfokus pada keselamatan segenap manusia berdosa dan jagad ciptaanNya. Landasan motif ini adalah

1.      Keselamatan orang berdosa adalah “laksana utang yang harus dilunasi” (Rom. 1:14, 15). Motif ini harus menjadi sikap pelaksana misi yang harus dihayati oleh gereja sebagai dasar keselamatan misi Allah.

2.      Tugas misi adalah bagaikan tugad emergensi (1 Kor.9:16a). Dalam kaitan ini gereja harus siap melaksanakan  misi dengan penuh tanggungjawab demi keselamatan manusia berdosa.

3.      Tugas misi adalah tugas yang mengandung “ancaman” “konsekuensi” bila tidak dilaksanakan, baik ancaman terhadap pelaksana misi Allah, hukuman bagi ketidaktaatan, maupun ancaman terhadap manusia berdosa sebagai objek pelayanan yang akan binasa bila tida dirampas dari maut. (Yudas 22, 23).[15]

 

2.5. Arti dan Makna Pelaksanaan Misi Allah ditinjau dari Sistematika

Sistematisasi keseluruhan tata keselamatan dengan sendirinya mencakup hakikat dan pelaksanaan perutusan diri Allah (Missio Dei) yang terjadi sejak awal mula dan ketika tiba waktunya diperbaharui serta menjadi definitif di dalam dan melalui perutusan Yesus Kristus (Missio Christi) yang selanjutnya mengutus para muridNya (Missio Ecclesiae) untuk mewartakan Injil kepada segala makhluk. Sistem teologis yang pada dasarnya terbuka untuk macam-macam motivasi dan kritik selain menyumbang proses refleksi misiologis, juga memperolah masukan-masukan dari misiologi untuk kelengkapan pemenungannya. Di lain pihak, misiologi membutuhkan refleksi misiologis hanya dapat menjadi lkalau refleksinya mengandaikan integritas pewahyuan Diri Allah. Misiologi sendiri membuat sistematisasi dari perutusan Diri Allah kepada dunia.[16]

2.6. Arti dan Makna Pelaksanaan Misi Allah ditinjau dari Historika

Sejak awal dekade 1960-an, banyak kegiatan misiologis teologis yang bermunculan sebagai tanggapan positif, kritis terhadap persepsi baru tentang misi. Inti pokok konsep Missio Dei adalah, misi adalah misi Allah di dalam dunia, bukan misi gereja.  Semua kegiatan misi bukan hanya diuji oleh sejarah modern, tetapi di atas semuanya, mereka diuji Oleh Allah yang misioner yang adalah alasan utama misi hadir untuk melayani. [17] Misi Allah menjadi titik tolak yang populer untuk memulai sesuatu penyelidikan tentang hakikat misi. Istilah ini mula-mula digunakan di Konferensi Willingen dari Dewan Misi Internasional (1952). Acuan utamanya adalah maksud dan tindakan Allah di dalam dan untuk seluruh alam semesta. [18] Misi dipahami berasal dari hakikat Allah sendiri. Dengan demikian misi diletakkan dalam doktrin tritunggal, bukan eklesiologi atau soteriology. Sejauh menyangkut pemikiran missioner, pengaitan dengan doktrin tentang tritunggal ini merupakan sebuah inovasi penting. Misi kita tidak mempunyai kehidupannya sendiri, hanya di dalam tangan Allah yang mengutuslah misi dapat benar-benar disebut misi, khususnya karena inisiatif missioner itu datang dari Allah sendiri. Tetapi misi tidak dipandang dari kategori-kategori triumfalistik. Willingen mengakui hubungan yang erat antara mission Dei dan misi sebagai solidaritas dengan kristus yang menjelma dan disalibkan. Dalam citra yang baru misi bukanlah pertama-tama aktivitas gereja, melainkan suatu ciri Allah. Allah adalah Allah yang missioner. Bukanlah gereja yang mempunyai misi keselamatan yang harus digenapi di dalam dunia, ini adalah misi sang Anak dan Roh Kudus melalui Bapa yang mengikutsertakan dunia. Dengan demikian misi dipandang sebagai sebuah gerakan dari Allah kepada dunia. Gereja dipandang sebagai sebuah alat untuk misi tersebut. Gereja ada karena ada miksi, bukan sebaliknya. Ikut serta di dalam misi berarti ikut serta di dalam gerakan kasih Allah kepada manusia, karena Allah adalah sumber dari kasih yang mengutus.  Misi adalah tindakan Allah yang berpaling kepada dunia sehubungan dengan ciptaan, pemeliharaan, penebusan, dan penggenapan. Ia berlangsung dalam sejarah manusia yang biasa, bukan secara eksklusif di dalam dan melalui gereja. Misi Allah sendiri lebih besar daripada misi gereja. Mission Dei adalah kegiatan Allah, yang merangkul baik gereja maupun dunia, dan di dalamnya gereja dapat memperoleh hak istimewa untuk berperan serta. Sejarah dunia bukanlah tentang sejarah jahat, melainkan juga tentang kasih, sejarah di mana pemerintahan Allah diusahakan melalui karya Roh.[19]

Gereja mengemban misi Kristus sehingga setiap kata-kata dan tindakan gereja harus dilakukan demi kebaikan semua umat manusia mulai dari proses penyelamatan, menyembuhkan, membebaskan, menolong sesama manusia.[20] Missio Dei tidaklah semata-mata inisiatif atau milik gereja, melainkan inisiatif Allah untuk menyatakan diriNya dalam Yesus Kristus.[21]

2.7. Arti dan Makna Pelaksanaan Misi Allah ditinjau dari Misiologi

Misiologi berasal dari bahasa latin “Missio” yang berarti pengutusan. Istilah ini sama dengan kata Yunani “Apostole”, hanya sebutan misionaris tidak dimaksudkan untuk seorang rasul, melainkan seorang utusan secara umum. Dalam bahasa Belanda kata Missio diterjemahkan menjadi Zending (pengutusan). Sedangkan dalam Bahasa Yunani ada dua kata yang berkaitan dengan Missio yaitu apostello dan pempo. Dua kata ini dapat dilihat di dalam Yohanes 20:21, maka kata Yesus sekali lagi “damai sejahtera bagi kamu sama seperti Bapa mengutus Aku demikianlah juga sekarang Aku juga mengutus kamu. Di dalam Yoh. 20:21 ini, Misi Allah atau dengan kata lain Missio Dei adalah Allah yang bertindak sebagai subjek segala pengutusan terutama pengutusan anakNya.[22]

2.8. Arti dan Makna Pelaksanaan Misi Allah ditinjau dari Ilmu Agama-agama

1.      Agama Islam[23]

a.       Misi Allah adalah tugas-tugas yang dikerjakan oleh para Nabi, para RasulNya untuk  mewujudkan Visi Allah dalam kehidupan umat manusia di alam semesta.  

b.      Misi Allah menciptakan para Nabi dan para RasulNya bertujuan untuk memberikan contoh akhlak manusia yang baik kepada seluruh umat manusia. Para Nabi dan para RasulNya dalam menjalankan tugasnya dilengkapi dengan kitab sucinya masing-masing (Al Qur’an) untuk menjelaskan agar manusia harus melaksanakan  Visi Allah  yaitu :  tidak  berselisih, tidak  merusak, tidak bermusuhan dan tidak saling bertikai.

c.       Misi Allah menciptakan kitab-kitab suci  yang  dirangkum  di dalam       Al Qur’an untuk dijadikan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia sepanjang zaman agar manusia tidak menjadi susah, dalam mencapai tujuan hidupnya.           Al Qur’an diciptakan Allah tidak hanya bagi manusia yang melaksanakan rukun Islam dan tidak hanya untuk bangsa Arab saja.

d.         Allah menciptakan manusia untuk dijadikan sebagai utusan Allah yang dapat meneruskan tugas para Nabi agar umat manusia senantiasa membaca, mempelajari, melaksanakan dan mensyiarkan Al Qur’an dan mensyiarkan Islami sebagai Agama yang sesuai dengan Visi dan Misi Allah”

2.      Agama Hindu

Di dalam satu segi Agama Hindu dapat dianggap sebagai contoh pertama dari agama misionaris. Hanya saja sifat misionarisnya berbeda dengan yang diasosiasikan dengan kepercayaan-kepercayaan yang menarik orang-orang untuk masuk dan menjadi pemeluk. Agama Hindu tidak menganggap sebagai panggilan untuk membawa manusia kepada suatu kepercayaan. Sebab yang diperhitungkan adalah perbuatan dan bukan kepercayaan. Penyembah dewata yang berlainan dan pengikut dari upacara yang berlainan dibawa ke dalam lingkungan Hindu. Agama hindu ialah agama yang tidak mewajibkan penganutnya untuk menyebarluiaskan agamanya sehingga umat dan dan agama Hindu ialah agama yang sangat bersifat pluralism dan juga mendukung masyarakat majemuk. Agama hindu adalah adama yang menginginkan perdamaian, tanpa ada permasalahan. Agama Hindu tidak memiliki kepercayaan mengenai pembawaan keseragaman yang bersifat mekanis dari kepercayaan dan sembah, dengan pemaksaan penghilangan semua yang tidak sesuai dengan suatu kepercayaan tertentu. Dia juga tidak percaya kepada jalan pembebasan yang diundangkan. Skema pembebasannya tidaklah terbatas kepada mereka yang memiliki pendapat tertentu tentang sifat Tuhan atau sembah. Kemutlakan menyendiri seperti itu adalah tidak sesuai dengan Tuhan yang memiliki cita- cita semesta. Adalah tidak adil kepada Tuhan atau manusia bahwa satu orang adalah yang dipilih Tuhan, agama mereka menempati kedudukan utama di dalam perkembangan keagamaan seluruh umat manusia dan bahwa semuanya harus meminjam dari mereka atau menghadapi pengucilan rohani.[24]

3.      Buddha[25]

Keyakinan dalam agama Buddha awal fokus pada tiga Mestika, yang meliputi Buddha; ajarannya (Dharma); dan terakhir, komunitas para pengikut yang maju dalam spiritual atau komunitas monastik yang berupaya mencapai pencerahan (Saṅgha). Seluruh ajaran Sang Buddha yang diwariskan sampai sekarang terdiri dari 3 kumpulan buku-buku yang disebut dengan Tripitaka (pali: Ti-Pitaka) yang sebenarmya berarti 3 keranjang yaitu:

1.      Vinaya-Pitaka             : Kitab-kitab tentang peraturan-peraturan para Bhikkhu.

2.      Sutta-Pitaka                : Ceramah-ceramah, tanya jawab dan diskusi.

3.      Abhidhamma-Pitaka   : uraian tentang kesunyataan-Terakhir.

Tripitaka juga berisi penjelasan tentang 4 kesunyataan Mulia (Four Noble Truth) dan 8 jalan utama (Eight Noble Part) untuk mencapai pembebasan. 4 kesunyataan tersebut adalah:

a.       Kesunyataan pertama menguraikan bahwa semua kehidupan tanpa terkecuali termasuk dalam 5 kehidupan (Panca-kandha), yaitu badan jasmani, perasaaan, pencerapan, formasi mental, dan kesadaran.

b.      Kesunyataan kedua, mengajarkan bahwa semua penderitaan atau kehidupan adalah keinginan (tanha). Tanha inilah yang mengakibatkan reinkarnasi serta penderitaan yang menjelma sebagai aktivitas badan, perkataan, pikiran.

c.       Kesunyataan ketiga, mengajarkan tentang lenyapnya atau hilangnya  sama sekali rasa ke-akuan atau keinginan yang menjadi sumber penderitaan. Kesunyataan ini bertujuan untuk membebaskan semua makhluk dari rantai penderitaan, yakni menuju tercapainya nirwana.

d.      Kesunyataan keempat, tentang jalan utama yang memberi petunjuk menuju jalan pembebasan dan dari penderitaan dan mengandung praktek seluruh ajaran sang Buddha.

2.9.  Makna Pelaksanaan Misi Allah (Missio Dei) di Tengah-tengah kehidupan Global Yang mengalami Krisis Global

Ketika kita hidup di tengah krisis atau masa kesesakan, keputusasaan akan membelenggu hidup kita. Kecenderungan manusia selalu mengandalkan logika berpikir dan pemikiran ilmiah untuk menyelesaikannya, namun sering gagal. Bahkan kalau sudah terdesak sering mengandalkan pemerintah, pemimpin gereja, dan orang-orang hebat lainnya yang mungkin dapat bertindak salah dan gagal. Sebagai orang beriman, tetap pengharapan itu selalu ada di dalam Tuhan (Maz. 146: 3, 5) karena Dia tak pernah gagal. Nolan mengatakan bahwa pengharapan Kristen adalah pengharapan yang diajarkan Yesus kepada kita untuk sepenuhnya bergantung pada pekerjaan Allah dalam segala sesuatu. Sebagai umat Kristen, dasar pengharapan kita adalah Allah dan objek pengharapan kita adalah kehendak Allah.[26]  Paradigma dunia masa kini ditandai dengan dua kata kunci yaitu: ‘global’ dan ‘plural’. Disebut ‘krisis Global’ karena manusia berada di era globalisasi. Olehnya globalisasi bukan lagi sebuah pilihan. Era global ditanda dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah meningkatkan kualitas hidup manusia dan menghantarkannya ke era Globalisasi.[27] Secara rohani, terjadinya berbagai konflik religio kultural tersebut memang disebabkan oleh dosa dan kebutaan terhadap kebenaran yang berkaitan dengan ketidakpedulian terhadap hakikat manusia dan karakter sosial serta hukum yang mengatur relasi antar sesama.[28] Terkhusus dalam krisis yang terjadi di gereja Dalam pelaksanaan dan pemahaman misi, keadaan gereja-gereja belum memberikan gambaran yang memuaskan. Banyak gereja yang masih terperangkap di dalam sikap eksklusif dan hidup untuk dirinya sendiri saja dengan kesibukan–kesibukan ke dalam untuk kepentingan anggota–anggotanya. Gereja dilihat sebagai pusat segala kegiatan, sementara segala sesuatu yang berada di luar tembok gereja dipandang dan dinilai secara apriori Sehingga apa yang dimaksud dengan misi gereja menjadi tidak jelas.[29]

 Misi muncul dari hati Allah itu sendiri, dan dikomunikasikan dari hatiNya kepada hati manusia. Misi adalah penjangkauan global sebuah umat yang bersifat global milik Allah yang global pula. Ketika berbicara tentang misi, maka segala sesuatu itu merupakan Allah lakukan di dalam maksud akbarNya bagi seluruh ciptaan, dan segala sesuatu yang untuk Ia memanggil manusia untuk melakukan yang sejalan dengan maksud itu. Manusia menyadari adanya berbagai tantangan ekologis yang dihadapi umat manusia. Tak seorang pun yang meragukan bahwa manusia sedang menghadapi sejumlah problem global yang besar, tetapi manusia bisa sangat jauh berbeda dengan cara terbaik untuk melangkah maju dari hak yang kelihatannya berhasil dicapai. Namun, apa hal seperti ini pantas masuk ke dalam misi Kristen?. Jika sasaran misi Allah adalah ciptaan baru yang diantisipasi dari klimaks kisah Alkitab, maka misi di tengah perjalanan kisah itu mestinya memberi tempat bagi respons manusia kepada ciptaan sebagaimana adanya sekarang.[30]

Dalam menghadapi krisis Global umat Allah memiliki misi. Misi umat Allah harus diawali dan diakhiri dengan komitmen kepada Allah, sang pemilik misi yang di dalamnya manusia ikut serta karena panggilanNya. Maka, kita akan mengingatkan diri kita sendiri akan misi memedulikan ciptaan, yang Allah berikan kepada umat manusia dalam Kejadian 1-2 saat Dia pertama kali menciptakan kita di bumi. Bagaimanapun misi kita harus berpusatkan kepada Kristus. Jika tidak maka misi itu bahkan tidak alkitabiah sama sekali. Akhirnya manusia akan menyatakan beberapa alasan mengapa kepedulian dan tindakan ekologis karenanya bisa dipandang sebagai suatu bagian yang sepenuhnya resmi dari misi umat Allah. Manusia ditempatkan dalam lingkungan yang diciptakan Allah untuk melayani dan menjaganya. Ini menjadikan jelas bahwa hal utama dari kekuasaan kita di bumi adalah untuk keuntungan bumi, bukan keuntungan kita. Allah menciptakan manusia untuk menguasai ciptaanNya yang lain dengan melayani dan menjaganya yaitu dengan bekerja keras melalui suatu cara yang akan memedulikan ciptaan dan melindungi kepentingan terbaiknya. Menguasai dan melayani ciptaan adalah misi pertama umat manusia di bumi, dan Allah tidak pernah membatalkan mandatNya. Misi umat Allah menjadi berkat bagi orang lain, mengikuti jalan Tuhan, melakukan kebenaran dan keadilan, dan mempresentasikan Allah dengan menjalani hidup yang mempraktikkan kekudusan di tengah-tengah dunia.[31]

III.             Analisa Penyeminar   

Misi Allah merupakan seluruh pekerjaan Allah untuk menyelamatkan dunia, baik itu dimulai dari pemilihan umat Israel, pengutusan para nabi kepada bangsa israel dan bangsa-bangsa di sekitarnya, pengutusan Kristus kepada dunia, pengutusan rasul-rasul dan pengabar injil kepada bangsa. Orang Kristen banyak berfikir bahwa Perjanjian lama tidak mengenal adanya Misi. Misi sedunia baru dimulai dalam Perjanjian Baru. Sementara hal itu adalah salah. Dalam Perjanjian Lama, Allah bukanlah Allah orang Yahudi, melainkan Allah seluruh umat Manusia. Allah selalu ingin menyelamatkan seluruh umat manusia. Oleh karena Allah menciptakan segala sesuatu (Kej. 1-2). Dia memiliki hak mutlak menguasai seluruh umat manusia. Dialah Allah bagi semua manusia. Misi dimulai dari inisiatif Allah sebab segala sesuatu berasal dari Allah. Gereja hadir untuk melaksanakan misi Allah yaitu untuk memberitakan Firman Allah di tengah-tengah dunia. Dengan kasih Allah, Dia menciptakan manusia dan memperingatkan ciptaanNya agar tidak jatuh dalam dosa. Manusia mendengarkan tetapi tidak melaksanakan peringatan Allah. Manusia makan buah terlarang, lalu jatuh ke dalam dosa. Namun dengan kasihNya, Allah melakukan pekerjaan “Missio Dei”, menyelamatkan manusia yang berdosa itu melalui Yesus Kristus. Allah menciptakan manusia menurut gambarNya adalah tanpa kecuali manusia diciptakan untuk hidup dalam relasi yang utuh dengan Allah. Dari diriNya, ia mendapat martabat, kebebasan, tanggungjawab, dan berkat.

Misi berkaitan dengan seluruh gereja membawa seluruh injil ke seluruh dunia, itu berarti menggunakan seluruh Alkitab. Misi umat Allah dilakukan di dalam dan bagi dunia, misi itu berpusat pada Injil Allah, dan misi itu memberikan hak kehormatan dengan tuntutan yang besar kepada gereha. Umat Allah yang telah Allah panggil ke dalam kemitraan dengan diriNya sendiri dalam misi penebusanNya perlu memperhatikan diri mereka sendiri. Mereka membutuhkan tantangan yang terus menerus yang berasal dari kehormatan luar biasa bahwa diri mereka bahwa mereka dipercayakan dengan misi Allah. Gereja adalah suatu komunitas dalam respon terhadap Missio Dei yang memberikan kesaksian tentang kegiatan Allah di dunia melalui pemberitaan kabar baik mengenai Yesus Kristus dalam ucapan dan tindakan.

IV.             Kesimpulan

Istilah misi (Mission) berasal dari bahasa Latin mission yang diangkat dari kata dasar mittere yang artinya to send, mengirim, mengutus. Padanan dari kata Yunani ialah apostello. Missio Dei adalah pengutusan oleh Allah, dimana Allah sendiri yang bertindak sebagai subjek segala pengutusan, terutama pengutusan Anak-Nya. Dialah pengutus agung. Pengutusan ini berhubungan erat dengan keseluruhan pekerjaan Allah untuk menyelamatkan dunia, pemilihan Israel, pengutusan para nabi kepada bangsa Israel dan kepada bangsa-bangsa di sekitarnya, pengutusan Yesus Kristus ke tengah-tengah dunia, pengutusan rasul-rasul dan pekabar-pekabar Injil kepada bangsa-bangsaMisi berasal dari Allah dan berakhir pada Allah. Allah adalah Allah yang mengutus, yang keluar menuju dunia. Ia adalah yang mengutus Putra dan Roh-Nya. Di dalam Missio Dei, karya misi pertama-tama dilihat sebagai karya Allah, yakni Allah yang mengutus diri-Nya kepada dunia. Allah hadir di tengah-tengah kehidupan manusia dan memanggilnya untuk menerima tawaran rahmat-Nya. Bagi Missio Dei, Allah Alkitab adalah Allah yang misioner, Allah yang mengutus. Melalui Firman dan RohNya, Ia menciptakan laki-laki dan perempuan di dalam gambarNya sendiri dan mengutus mereka untuk menguasai alam di bawah kehendakNya yang adil dan penuh kasih.    

V.                Daftar Pustaka

Ali, Matius. Filsafat Timur, Karang Mulya: Sanggar LUXOR, 2013.

Ambarita, Darsono. Persfektif Misi Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Medan: Pelita Kebenaran Press, 2018.

Artanto, Widi.  Menjadi Gereja Misioner dalam Konteks Indonesia, Kanisius,Yogyakarta,1997,

Bosch, David J. Transformasi Misi Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia,  2005.

CSR, Edmund Woga . Dasar-dasar Misiologi, Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Damis, Dion. Dimensi Komunikasi Dalam Misi, dalam Aditya Wacana, Jurnal Agama Dan Kebudayaan, Vol. III, No.2, 2004.

             Kirk, J. Andrew. Apa itu Misi?, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.

Kuiper, Arie De. Missiologia: Ilmu Pekabaran Injil, Jakarta: Gunung Mulia, 2006.  

Kuyper, Abraham. Iman Kristen Dan Problem Sosial, Surabaya: Momentum, 2004.  

Marsono,  Yohanes. “Misi Gereja dalam Penegakan Hak Asasi Manusia” Jurnal Stulos Volume 3, 2004.   

Naisbitt John dan Patricia Aburdene, Megatrends 2000, Jakarta: Binarupa Aksara, 1990.    

Nolan, Harapan di Tengah Kesesakan Masa Kini: Mewujudkan Injil Pembebasan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.

Retnowinati, Agama-agama dan Tantangan Kebudayan, Jakarta: PGI, 1994.

Siwu, Richard A. D. Misi dalam Pandangan Ekumenikal dan Evangelikal Asia, Jakarta: BPK- GM, 1996.

Thomas, Norman R. Teks-teks Klasik Tentang Misi dan Kekristenan di Dunia, Jakarta: BPK-GM, 1998.

Tomatala, Yakob. Teologi Misi: Pengantar Misiologi: Suatu Dogmatika Alkitabiah, Tentang Misi, Penginjilan dan Pertumbuhan Gereja, Jakarta: YT Leadership Foundation, 2003. 

Venema, Henk. Injil Untuk Semua Orang Jilid 1, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih Kasih, 1997.

Woga, Edmund. Dasar-Dasar Misiologi, Yogyakarta: Kanisius, 2002.  

Wright, Christopher J. H.  Misi Umat Allah,USA: Literature Perkantas, 2013.

 

Sumber Internet

 https://kumpulankhotbahalkitabiah.blogspot.com/2015/09/bagaimana-pelaksanaan-misi-allah-bagi.html. Diunduh pada hari Rabu, tanggal 14 Oktober 2020, pukul 20. 05 WIB. 

Nuryanto, https://id-id.facebook.com/notes/pq-indonesia/ternyata-allah-juga-punya-visi-misidiberbagai-kitab-wahyu/870564436292710/, diakses pada hari Rabu, 14 Oktober 2020, Pukul 22.52 WIB.



[1] Arie De Kuiper, Missiologia: Ilmu Pekabaran Injil, (Jakarta: Gunung Mulia, 2006), 9.

[2] Edmund Woga CSR, Dasar-dasar Misiologi, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 15.

[3] David J Bosch, Transformasi Misi Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,  2005), 598.

[4] J. Andrew Kirk, Apa itu Misi?, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 36.

[5] Dion Damis, Dimensi Komunikasi Dalam Misi, dalam Aditya Wacana, Jurnal Agama Dan Kebudyaan, Vol. III, No.2, 2004, 92.

[6] Darsono Ambarita, Persfektif Misi Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, (Medan: Pelita Kebenaran Press, 2018), 4. 

[7] Henk Venema, Injil Untuk Semua Orang Jilid 1 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih Kasih, 1997), 48. 

[8] Norman R. Thomas, Teks-teks Klasik Tentang Misi dan Kekristenan di Dunia, (Jakarta: BPK-GM, 1998), 164.

[9]  https://kumpulankhotbahalkitabiah.blogspot.com/2015/09/bagaimana-pelaksanaan-misi-allah-bagi.html. Diunduh pada hari Rabu, tanggal 14 Oktober 2020, pukul 20. 05 WIB. 

[10] David J Bosch,  Transformasi Misi Kristen, 24-25.    

[11] Darsono Ambarita, Persfektif Misi Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, 15-25. 

[12] Yakob Tomatala, Teologi Misi: Pengantar Misiologi: Suatu Dogmatika Alkitabiah, Tentang Misi, Penginjilan dan Pertumbuhan Gereja, (Jakarta: YT Leadership Foundation, 2003), 63. 

[13] David J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, 24.            

[14]  Arie De Kuiper, Missiologia, 44-45.

[15] Yakob Tomatala, Teologi Misi: Pengantar Misiologi: Suatu Dogmatika Alkitabiah, Tentang Misi, Penginjilan dan Pertumbuhan Gereja, 53-54. ,

[16] Edmund Woga, Dasar-Dasar Misiologi, ( Yogyakarta: Kanisius, 2002), 54.

[17] Richard A. D. Siwu, Misi dalam Pandangan…, 196-197.  

[18] J. Andrew Kirk, Apa itu Misi, 27-28.  

[19] David J, Bosch, Transformasi Misi Kristen, 596-599.

[20] Yohanes Marsono, “Misi Gereja dalam Penegakan Hak Asasi Manusia” Jurnal Stulos Volume 3, 2004, 91. 

[21]  Richard A. D. Siwu, Misi dalam Pandangan Ekumenikal dan Evangelikal Asia, (Jakarta: BPK- GM, 1996), 204.

[22] Darsono Ambarita, Persfektif Misi Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru,  (Medan: Pelita Kebenaran Press, 2018), 13-14. 

[24] Retnowinati, Agama-agama dan Tantangan Kebudayan, (Jakarta: PGI, 1994), 63. 

[25] Matius Ali, Filsafat Timur, (Karang Mulya: Sanggar LUXOR, 2013), 130-145. 

 

[26] Nolan, Harapan di Tengah Kesesakan Masa Kini: Mewujudkan Injil Pembebasan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 13.

[27] John Naisbitt dan Patricia Aburdene, Megatrends 2000 (Jakarta: Binarupa Aksara, 1990),106-139.  

[28] Abraham Kuyper, Iman Kristen Dan Problem Sosial (Surabaya: Momentum, 2004), 32.

[29] Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner dalam Konteks Indonesia, Kanisius,Yogyakarta,1997, 21

 

[30] Christopher J. H. Wright, Misi Umat Allah, (… : Literature Perkantas, 2013), 30.  

[31] Christopher J. H. Wright, Misi Umat Allah, 56-61.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar