Menjelaskan Sejarah Pertumbuhan dan Praktek Ibadah Umat Allah dalam Biblika, Etika, Liturgika, Ilmu Agama-Agama dan Agama Suku
I. Latar Belakang Masalah
Ibadah merupakan suatu kegiatan yang paling Nampak dan menentukan nafas kehidupan persekutuan jemaat. Ibadah juga merupakan bentuk pelayanan yang di tunjukkan kepada Allah sebagai ungkapan yang nyata dari iman pribadi manusia kepada Allah. Karena iman yang benar akan menghasilkan perbuatan yang benar, yang juga dapat dinyatakan melalui sikap dan cara kita yang benar dalam beribadah. Jika kita bicara tentang ibadah pada saat ini, biasanya kita teringat kepada gereja.
Pada umumnya ibadah diadakan di gereja yang dilakukan sekali seminggu yaitu pada hari minggu. Banyak gereja mulai memperhatikan cara-cara beribadah yang bervariasi supaya ibadah benar-benar hidup dan terkesan tidak kaku. Ada gereja yang menekankan khotbah dalam ibadah tanpa memperhatikan soal penampilan. Jemaat dating dengan berbagai macam gaya dan metode.
II. Pembahasan
1. Pengertian Ibadah
Menurut KBBI saleh artinya taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah, suci, dan beriman. Kesalehan adalah ketaatan (kepatuhan) dalam menjalankan ibadah, kesungguhan menuaikan ajaran agama. Ritual atau ritus adalah tata cara dalam upacara keagamaan. Ritual sering juga dikaitkan dengan seremoni atau liturgi. Kata atau atau seremoni merupakan bagian dari ibadah. Dalam Bahasa Inggris, kata yang dipakai untuk ibadah ialah worship. Woship atau ibadah dalam konteks Kristen artinya ialah menunjukkan sikap hormat atau mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada Tuhan Allah. Jadi ritual Kriaten bermakna sama dengan ibadah yang artinya ialah menundukkan diri untuk mengungkapkan rasa hormat kepada Tuhan dengan cara tertentu (Kej 24:26, berlutut dan sujud menyembah Tuhan).[1] Secara umum ibadah diartikan sebagai salah satu wadah dalam kehidupan umat beragama untuk menyatakan puji-pujian, syukur, permohonan, baik dalam bentuk kebaktian maupun dalam bentuk perbuatan yang merupakan bakti pada Allah. Umumnya ibadah diartikan sebagai penghormatan kepada Tuhan yang oleh manusia menurut kodrat sosialnya harus diejawantahkan Bersama-sama selaku makhluk dihadapan sang pencipta.[2] Ibadah adalah penyembahan dan pelayanan kepada Allah.[3]
2.1.1. Ibadah dalam Biblika
a. Dalam Perjanjian Lama
Dalam Bahasa Ibrani, kata ibadah berasal dari bentuk dasar kata kerja yang berarti pekerjaan, kinerja, pelayanan, ibadah, membawa ke luar dan penghormatan. Dapat dikatatakan bahwa ibadah berarti melayani, bekerja, menghambakan diri sebagai budak, bentuk penghormatan yang dilakukan tanpa paksaan (suka rela). Dalam rangka mempersembahkan ibadah kepada Allah maka para hamba-Nya harus meniarap.[4]
Pada awalnya, ibadah dalam Perjanjian Lama merupakan ungkapan batin seeorang yang mengakui kedaulatan Allah. Selanjutnya, peribadahan berkembang menjadi ibadah umat. Musa dianggap sebagai tokoh peletak dasar ibadah umat. Musa dianggap sebagai tokoh peletak dasar ibadah umat Israel diorganisasikan di kemah pertemuan. Pada perkembangan selanjutnya, lahirlah bait suci dan sinagoge sebagai tempat ibadah Israel. Disamping tempat ibadah, orang Israel juga memiliki kalender tahunan untuk upacara agama. Pemimpin ibadah adalah iman dan keturunannya.[5] Dalam perjanjian Lama ibadah sangatlah berpengaruh kedalam kehidupan nasional Yahudi. Ibadah dihubungkan dengan perjanjian antara dua pihak yakni Allah sebagai pihak yang pertama dan manusia sebagai pihak yang kedua. Akar dari perjanjian ini adalah dalam Firdaus (Kej 3:15) kemudian berkembang terus melalui Nuh, Abraham, Daud dan sampai pada Kristus. Bangsa Israel disebut sebagai bangsa perjanjian dan Gereja masa kini sebagai umat perjanjian dan juga sebagai Israel baru.
Dalam tiap ibadah tejadi pembaruan perjanjian anugerah antara Tuhan dan manusia. Kedua pihak mengulangi dan meneguhkan janji-janji dan tuntutan-tuntutan mereka.[6] Ibadah merupakan respon terhadap penyingkapan dan perbuatan Allah. Beribadah bukan hanya hal menyembah Allah tapi juga mempercayai Allah dengan segenap hati dan akal pikiran yang dinyatakan dengan cara hidup yang sesuai dengan janji Allah. Upacara ibadah tersebut harus menjadi pengungkapan yang nyata dari iman mereka. Mereka tidak bisa menghampiri Allah dengan sembarangan seperti yang mereka sukai, meskipun kita lihat bahwa mereka diberi keleluasan untuk bertindak secara spontan. Allah terus menuntun mereka dengan dalam hal spontanitas (Kel 20:24). Hubungan Israel dibuat, diteguhkan dan diperbaharui dalam upacara ibadah tersebut.[7]
Pada waktu Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, Allah mengikat perjanjian dengan umat-Nya sehingga pembebasan menjadi hal dasar dan motivasi yang mengharuskan mereka untuk menyembah Allah dalam ibadah. Oleh karena itu, bangsa Israel sangat dengan peristiwa penting dalam sejarah pembebasan (Ul 16:16-17). Terjadinya ibadah dalam Perjanjian Lama langsung berkaitan dengan Tindakan Allah yang historis yaitu dalam Kel 12:26-27.[8]
b. Dalam Perjanjian Baru
Ibadah dalam Perjanjian Baru mempunyayi pengertian yang luas. Ada beberapa istilah yang dipakai yaitu:
1. Latreia yang berarti penyembahan (Kis. 26:7; Luk 2;27). Kata ini digunakan dalam arti ini penyembah atau beribadah kepada Tuhan (Mat 4:10; Kis 7:7).
2. Dereskia berarti penyembahan, pemujaan (Kis 26:5; Kol 2:18). Paulus memakai kata ini untuk menggambarkan bahwa kita yang semula oleh kuasa dosa kini telah dibebaskan oleh Kristus supaya kita bisa menghamba kepada Kristus (Gal 4:1-11). Yesus yang walaupun mempunyai rupa Allah namun telah mengosongkan diri dan mengambil mengambil rupa seseorang doulus atau hamba.[9]
3. Douleuein artinya melayani sebagai hamba (Roma 12:11)
4. Leitourgia (pelayanan). Kata ini juga berarti melakukan upacara dan ibadah kepada para dewa. Dari kata inilah muncul istilah liturigi dalam ibadah.[10]
Pada awal Perjanjian Baru, ibadah di Bait Suci dan Sinagoge masih tetap berjalan. Kristus selalu ambil bagian dalam kedua ibadah tersebut dan ia selalu menekankan bahwa ibadah adalah sungguh-sungguh kasih hati kepada Bapa. Ibadah adalah pelayanan yang dipersembahkan kepada Allah tidak hanya dalam arti di Bait suci tapi juga dalam arti pelayanan terhadap sesama (Luk 10:25; Yoh 4:20:24; Yak 1:27).[11] Dua prinsip pokok menentukan ibadah Kristen adalah yang pertama, penyembahan yang sesungguhnya terjadi dalam roh dan kebenaran. Maksudnya penyembahan harus diadakan sesuai dengan penyataan diri Allah dalam putra-Nya (bnd. Yoh 14:6). Demikian pula ibadah melibatkan roh manusia bukan hanya pikiran serta berbagai manifestasi Roh Kudus (1 Kor 12:7-12). Yang kedua pelaksanaan ibadah Kristen harus sesuai dengan pola Perjanjian Baru bagi gereja (Kis 7:44).dalam Roma 12:1 Paulus mengatakan bahwa seluruh pikiran, perkataan dan perbuatan harus dipersembahkan kepada Allah dan itu merupkan ibadah sejati.[12]
Gereja pada masa Perjanjian Baru tetap mengikuti pola ibadah di Bait Suci dan sinagoge. Tuhan Yesus sendiri turut serta dalam peribadahan di kedua rumah ibadah itu. Ia tidak menolak peribadahan tersebut, tetapi menekankan pentingnya kasih dan implementasi ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perkembangan selanjutnya, orang Kristen menetapkan ibadah ibadah utama pada hari Tuhan, yaitu pada hari minggu. Sabat mulai ditinggalkan. Unsur-unsur ibadah jemaat ialah Mazmur, pujian, doa, serta pembacaan kitab suci dan penjelasannya. Menurut Abineno, ada tiga ciri khas ibadah jemaat Perjanjian Baru.
· badah orang Kristen tidak sama dengan ibadah kafir dan ibadah orang Yahudi
· ibadah orang Kristen tanpa kurban. Kurban yang sebenarnya adalah Yesus Kristus
· ibadah bersifat terbuka. Liturgi jemaat dilanjutkan dalam bentuk pelayanan kepada sesama manusia, melalui dan penginjilan.[13]
2.1.2. Ibadah dalam dalam Etika
Kata Ibadah sering diartikan sebagai kegiatan atau aktifitas rohani/ keagamaan yang dilakukan di rumah ibadah, atau menghadiri persekutuan orang yang percaya, atau kegiatan rohani lainnya di gereja. Hal tersebut memang benar karena memang orang yang beribadah kepada Tuhan akan melakukan kegiatan-kegiatan itu, namun ibadah dalam arti yang sesungguhnya tidak bisa diukur hanya dari kegiatan itu saja. Dari mazmur kita dapat belajar mengenai makna ibadah yang sejati.
1. Inti dari Ibadah adalah penyembahan kepada Tuhan.
§ Harus diawali dengan sikap hati yang benar (ayat 3). Ibadah tanpa rasa hormat dan rindu akan hadirat Tuhan akan menjadikan ibadah hanya sebagai formalitas saja.
§ Menyembah adalah ekspresi kasih, hormat dan kerinduan kita akan Tuhan. Oleh karena itu setiap perkataan, ucapan dan doa haruslah diresapi betul agar keluar dari hati kita.
§ Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa menyembah tidak lagi tergantung kepada tempat dan waktu, oleh karena itu Ibadah pun dapat kita lakukan di mana saja asalkan tetap dalam Roh dan Kebenaran (Roma 4:24)
2. Ibadah berjalan seumur hidup
§ Pemazmur tidak membatasi ibadah hanya di waktu tertentu, ia memuji Tuhan sepanjang perjalanannya (ayat 6-9).
§ Ibadah berlangsung setiap waktu dan sepanjang hidup, di manapun kita berada. Lewat hidup kita yang saleh, kita beribadah. Artinya setiap waktu kita beribadah lewat apa yang kita perbuat dalam hidup.
3. Ibadah adalah pelayanan
§ Lewat ibadah, kita melakukan tugas kita sebagai jemaat Tuhan. Dalam tingkat kedewasaan rohani yang lebih lagi, ibadah bukan hanya sekedar kegiatan rohani, tapi juga pelayanan kita baik bagi Tuhan maupun buat sesama. Oleh karena itu setiap mereka yang beribadah kepada Tuhan, seharusnya mereka juga melayani, apapun bidang pelayanannya.[14]
2.1.3. Ibadah dalam Liturgika
Persembahan hidup yang berkenan kepada Allah dapat disejajarkan dengan kata-kata dalam beberapa Bahasa yang digunakan untuk ibadah. Pertama-tama adalah Worship, berasal dari weorthscipe (weorth), yakni hal yang layak dilakukan. Kata ini digunakan misalnya untk Sunday worship atau ibadah minggu. Kata service berasal dari servitum, menunjuk kepada morning service atau ibadah harian pagi. Artinya adalah pelayanan, yakni pekerjaan yang dilakukan untuk orang lain.
Kata office berasal dari officium, yakni kesediaan melayani, digunakan misalnya untuk daily office atau divine office, yakni ibadah harian kata cult (kultus) mempunyai arti lebih sempit daripada asli latinya: colere, yang menyangkut relasi ketergantungan antara pemberi dan penerima, misalnya seorang petani mendapat akibat buruk jika ia tidak melayani tanamannya dengan menyiraminya. Pemerintah akan kehilangan wibawanya sebagai abdi rakyat apabila tidak bertindak adil kepada rakyat. Kata paling umum dipakai adalah liturgi. Kata ini berasal dari Bahasa Yunani: kata leitourgia berasal dari dua kata, yaitu ergon, artinya melayani atau bekerja, dan letos, artinya bangsa, masyarakat, persekutuan umat. Kata laos dan Ergon diambil dari kehidupan masyarakat Yunani kuno sebagai kerja nyata rakyat kepada bangsa dan negara. Kata liturgi sendiri baru dimasukkan sebagai perayaan ibadah gereja pada sekitar abad ke-12.
Dewasa ini, istilah liturgi malah telah diterima secara umum untuk menyebut ibadah Kristen, semisal liturgy of word untuk pemberitaan fiman. Selain liturgi, selain kata dalam Bahasa Indonesia yang sejajar ialah “kebaktian”. Bhakti (sansekerta) ialah perbuatan yang menyatakan setia dan hormat, memperhambakan diri, perbuatan baik. Bakti dapat ditujukan baik untuk seseorang, negara, maupun untuk Tuhan yang dilakukan dengan sukarela. Istilah ini digunakan misalnya untuk menyebut kebaktian Natal.[15]
2.1.4. Ibadah dalam Ilmu Agama-Agama dan Suku
Sejak awal perkembangannya, agama-agama di Indonesia telah menerima akomodasi budaya. Menurut sejarah, kaum pendatang telah menjadi pendorong utama keanekaragaman agama dan kultur di dalam negeri dengan pendatang dari India, Tiongkok, Portugal, Arab, dan Belanda. Bagaimanapun, hal ini sudah berubah sejak beberapa perubahan telah dibuat untuk menyesuaikan kultur di Indonesia. Laode Monto Bauto, Persfektif Agama dan Kebudayaan Berdasarkan uraian di atas, Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan atau Penodaan Agama pasal 1, “Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu
1. Islam: Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, dengan 88% dari jumlah penduduk adalah penganut ajaran Islam. Mayoritas Muslim dapat dijumpai di wilayah barat Indonesia seperti di Jawa dan Sumatera. Masuknya agama Islam ke Indonesia melalui perdagangan.
2. Hindu: Kebudayaan dan agama Hindu tiba di Indonesia pada abad pertama Masehi, bersamaan waktunya dengan kedatangan agama Buddha, yang kemu- dian menghasilkan sejumlah kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Mataram dan Majapahit.
3. Budha: Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba pada sekitar abad keenam masehi. Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu.
4. Kristen Katolik: Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Utara. Dan pada abad ke-14 dan ke-15 telah ada umat Katolik di Sumatera Selatan. Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah.
5. Kristen Protestan: Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mengutuk paham Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia. Agama ini berkembang pesat di abad ke-20, yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eopa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah barat Papua dan lebih sedikit di kepulauan Sunda.
6. Konghucu: berasal dari Cina daratan dan yang dibawa oleh para pedagang Tionghoa dan imigran. Diperkirakan pada abad ketiga Masehi, orang Tionghoa tiba di kepulauan Nusantara. Berbeda dengan agama yang lain, Konghucu lebih menitik beratkan pada kepercayaan dan praktik yang individual.
2.1.5. Pertumbuhan dan Praktek Ibadah Umat Allah dalam Biblika
A. Pertumbuhan dan Praktek Ibadah Umat Allah dalam Perjanjian Baru
Dalam perjanjian baru, tokoh Yesus sendiri memulaikan misinya dalam ibadah berbentuk puasa Mat 1:1-4; Mrk 1:12-13. Nazareth, di mana Ia melakukan kebiasaannya untuk ke sinagoge pada setiap sabat (Luk 4:16). Dalam hidup dalam pelayanan-Nya, doa mempunyai tempat yang penting. Tiap-tiap kali Ia mencari persekutuan dengan Allah di dalam doa-Nya. Kadang-kadang lama sekali, “semalam-malaman” (Luk 6:12; 9:28; 10:21-2; 11:1; 22:39-46). Yesus berdoa bukan hanya dalam saat-saat menyendiri, tetapi juga dalam ibadah-ibadah umat Allah. Paling tidak ada tiga alasan mengapa Yesu juga beribadah:
· karena Ia tahu bahwa Allah hadir di mana saja
· sinagoge menghubungkan antara masa lalu dan masa kini
· sinagoge adalah tempat persekutuan.
Dengan demikian maka segala pekerjaan-Nya, Ia lakukan dalam persekutuan dengan Allah. tetapi juga dalam relasinya dengan sesama manusia dalam dimensi waktu, serta dengan alam sekitar. Ibadah, dan misi Yesus mencerminkan pola hubungan yang utuh. Demikian juga pengalaman Paulus yang diekspresikan dalam suratnya kepada Jemaat di Roma yang menyebutkan bahwa persembahan tubuh yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah adalah ibadah yang sejati.[16] Jemaat Perjanjian Baru sebagai umat pilihan Allah, melayani Allah dengan ibadah mereka, di mana mereka meyakini bahwa ibadah yang adalah persekutuan dengan Tuhan, terjadi karena Tuhan sendiri yang dinyatakan lewat Yesus Kristus.[17]
Pada zaman Perjanjian Baru ibadah di bait suci dan di sinagoge tetap diikuti. Yesus sendiri turut ambil bagian dalam kedua rumah ibadah itu (Mar 1:21, 12:35-37). Ia tidak menolak ibadah tradisional, tetapi Ia melawan hukum-hukum ritual selama hukum itu hanya diikuti secara formalitas. Dalam ajaran-Nya, Ia selalu menekankan bahwa kasih kepada Allah adalah ibadah yang sesungguhnya. Ia meletakkan hukum kasih di atas kebiasaan sabat dan kurban (Mat 5:23-24, 12:7-8; Mar 7:1-13). Dengan demikian, ibadah yang sebenarnya adalah suatu pelayanan yang dipersembahkan kepada Allah, tidak hanya dalam arti ibadah di bait suci, tetapi juga dalam arti pelayanan kepada sesama, dan hidup setiap hari. Dengan tetap dipertahankannya ibadah oleh umat Allah dalam Perjanjian Baru ini maka nyatalah penyataan yang merupakan representasi dari berkat Allah. Dari pandangan tentang ibadah dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dilihat bahwa ibadah merupakan sarana umat bertemu dengan Allah baik secara pribadi maupun kelompok. Dalam ibadah itu manusia mencari tau kehendak Allah dalam hidupnya dan juga sarana manusia meminta apa yang ia inginkan kepada sang pencipta.[18]
Ibadah adalah Disiplin Rohani
Dari uraian di atas kita belajar bahwa ibadah melahirkan disiplin spiritualitas yang sangat penting dalam memperkuat motivasi untuk terlibat dalam misi. Tempat dari disiplin spiritual iman orang percaya ditemukan dalam relasinya yang konkrit dari keterlibatan orang-orang percaya dalam persekutuan jemaat di tingkat basis. Dalam Perjanjian Lama, pertobatan berasal dari kata shûwb yang berarti berbalik atau kembali kepada Allah, dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan seperti antara lain ditemukan dalam 2 Raja-raja 23:25. Cakupan pertobatan melampaui dukacita-penyesalan dan perubahan tingkah laku lahiriah. Dalam Perjanjian Baru, kata metanoia berarti menjangkau makna terdalam daripada belajar. Melalui belajar, kita menemukan kembali diri kita sendiri. Melalui belajar kita menjadi mampu untuk berbuat sesuatu, memahami Tuhan Allah, dunia dan hubungan kita dengannya, serta memperluas kapasitas untuk menciptakan, menjadi bagian daripada proses kehidupan yang generatif.
Dalam kerangka inilah maka ibadah menemukan maknanya yakni untuk memperkuat iman berdasarkan Injil untuk terlibat dalam perjuangan hidup sehari-hari. Dari situlah ditemukan sumber daya spiritual umat. Tetapi spiritualitas tanpa moralitas akan melahirkan fanatisme yang membabi buta, seperti spiritualitas orang Yahudi yang tega menganiaya bahkan membunuh orang-orang yang percaya kepada Kristus, seperti disaksikan dalam Kisah Para Rasul 6:8. Ibadah bukan sekadar pelayanan penyembahan kepada Tuhan Allah, tetapi pelayanan kepada sesama. Misalnya, dialog antara Yesus dengan seorang ahli Taurat sebagaimana disaksikan dalam Lukas 10:25-37, yang diakhiri dengan perumpaaan tentang orang Samaria yang murah hati, merupakan ungkapan pengajaran Yesus tentang ibadah, sebagai wujud kasih kepada Tuhan Allah dan kepada sesama. Khotbah Yesus di bukit, seperti disaksikan dalam Matius 5:23-24, menekankan bahwa ibadah itu bukan hanya memberikan persembahan tetapi juga kesediaan berdamai dengan sesama.
Yohanes 4:20-24 berbicara tentang beribadah dengan roh dan kebenaran. Dalam tulisan Tison, dan Jermia Djadi disimpulkan bahwa ibadah yang benar ialah memiliki hati yang menyembah, hidup dalam kekudusan, hidup dalam persekutuan orang percaya, dan saling memerhatikan satu dengan yang lain. Dengan demikian perjumpaan dengan Tuhan melalui penyembahan adalah sikap hati yang benar, dan mengalami diri-Nya secara pribadi. Pemahaman di seputar ibadah sebagai perjumpaan dengan Tuhan memberikan kepada kita suatu gambaran yang jelas betapa tidak mungkin ibadah itu dilepaskan dari misi. Ibadah adalah pangkalan untuk bermisi. Sebab ibadah berperan untuk membangun disiplin spiritual dengan berfokus kepada Tuhan untuk melaksanakan misi-Nya.[19]
B. Pertumbuhan dan Praktek Ibadah Umat Allah dalam Perjanjian Lama
Kata beribadah sebenarnya lebih dekat dengan “mengabdi pada”. Kata tersebut menyangkut bukan hanya upacara agama, melainkan seluruh hidup. Pada pokoknya kata Ibrani abad berarti bekerja (lawan kata istirahat) atau melayani seseorang atasan atau tuan/nyonya. Dengan demikian kata benda abodah dapat berarti ibadah atau pekerjaan seorang hamba/bawahan. Dalam Perjanjian Lama, ada beberapa contoh ibadah pribadi (Kej 24:26; Kel 33:9) tapi tekanan yang diberikan adalah pada ibadah jemaat (Maz 42:4; 1 Taw 29:20) dalam kemah pertemuan dan dalam bait suci, tata cara ibadah bait suci adalah yang utama.[20] Pada zaman bapa leluhur secara keseluruhan yang ditekankan dalam ibadah bukanlah upacara-upacara atau ritus-ritus yang mereka langsungkan, melainkan hubungan pribadi mereka dengan Allah. Jadi yang menjadi intinya adalah unsur pertemuan, bukan tempat-tempat kramat di mana mereka beribadah atau nama ilahi yang mereka pakai. Allah para bapa leluhur mendekati mereka dalam suasana cinta kasih dari perjanjian, maka hubungan mereka dengan Allah bercirikan keintiman.[21]
Pada zaman bapa leluhur Allah-lah yang mendekati umat-Nya, bukan sebaliknya. Mezbah-mezbah memang didirikan, tetapi dengan maksud untuk memperingati hubungan antara Allah dengan umat-Nya, bukan sekadar tempat-tempat mereka dapat mendekati Allah. Di dalam setiap kasus yang berkaitan dengan tempat-tempat mezbah itu, terdapat cerita-cerita lain tentang Allah menyatakan diri-Nya kepada salah seorang bapa leluhur pada suatu saat yang penting tanpa diduga-duga sama sekali. Salah satu contoh, Allah menyatakan diri-Nya kepada Abraham di Mamre ketika ia sedang berputus asa karena belum memiliki anak yang akan menjadi ahli warisnya yang sesungguhnya.[22]
Setelah zaman bapa leluhur berakhir, maka mulai diadakan kebaktian bersama (ibadah umum). Ada banyak umat yang dapat mengikuti ibadah umum (Maz 93:5), doa-doa bersama, dan memanfaatkannya untuk mengungkapkan kasih dan syukur mereka kepada Allah (Ul 11:13) dalam tindakan ibadah rohani batiniah yang sungguh-sungguh.[23] Ketika umat Israel menetap di Kanaan, mereka diperhadapkan pada upacara yang tak terduga dan dirasakan keji serta bertentangan dengan kehendak Tuhan. Orang Kanaan menggunakan ilmu gaib dan sihir dalam menentukan waktu mana yang tepat untuk bertindak atau untuk membalas dendam dan menjatuhkan lawannya, mereka memanggil arwah orang mati untuk mengetahui apa yang akan terjadi dan mereka mendewakan leluhurnya. Mereka menggunakan pelacuran sakral (yang meniru pernikahan sakral dewa dengan dewi dalam menjamin kesuburan). Mereka mengenal mite tentang dewa yang pudar pada musim dingin dan bangkit lagi pada musim semi.[24]
Israel mengenal Tuhan yang bertindak di medan sejarah, menyelamatkan, dan memberkati orang-orang-Nya. Dia, dan bukan arwah-Nya yang harus ditanya apakah baik bertindak atau tidak (misalnya dalam perang, tetapi juga dalam tindakan penting lainnya). Tuhan yang menentukan aturan hidup melalui petunjuk yang diberikan-Nya dan disampaikan oleh para tua-tua dan nabi-nabi-Nya. Ia tidak menghendaki umat-Nya dicabik oleh permusuhan gelap dan penindasan. Itulah sebabnya umat Israel harus memilih apakah ia mau beribadah kepada Tuhan atau kepada dewa-dewi negeri. Orang-orang Israel dicobai mengikuti ibadah atau cara beribadah orang Kanaan. Ketika kemarau berkepanjangan, kepercayaan atau berkat Tuhan diuji dan jika tetangga mengadakan upacara untuk mendatangkan hujan, orang Israel bertanya dalam hati apakah tidak sebaiknya ia ikut juga. Orang itu tidak bermaksud meninggalkan Tuhan tetapi menambahkan berkat dari sumber lain.
Sekalipun pengetahuan kita sangat terbatas, namun jelas bahwa sebagian orang Israel menyembah Baal (1 raj 19:18) dan hubungan erat dengan pemujaan Baal menjadi perangkap, sehingga orang Israel tidak lagi beribadah hanya kepada Tuhan. Menurut Kitab Hakim-hakim itulah yang menjadi penyebab mereka berulangkali diserang oleh musuhnya. Elia menentang nabi-nabi Baal (1 Raj 18), Hizkia, raja Yehuda, menjauhkan bukit pengurbanan, meremukkan tugu berhala dan mematahkan tiang berhala serta menghancurkan ular tembaga (2 Raj 18:4) Yosia pun berusaha demikian dalam reformasinya. Demikianlah umat belajar beribadah.[25] Ibadah umum yang sudah demikian berkembang dilaksanakan dalam bait suci, berbeda dengan ibadah pada zaman yang lebih awal, ketika bapa leluhur percaya bahwa Tuhan dapat disembah di manapun tempat yang Ia pilih untuk menyatakan diri-Nya.
Ibadah merupakan realitas rohani, jelas dari fakta bahwa ketika bait suci dibinasakan dan masyarakat Yahudi terbuang di Babel, ibadah tetap merupakan kebutuhan, dan untuk memenuhinya diciptakanlah kebaktian Sinagoge yang terdiri dari syema (mendengar, menperhatikan, memusatkan perhatian, memberi perhatian pada Tuhan dalam penyembahan), doa-doa, pembacaan kitab suci, penjelasan kitab suci dan pengucapan berkat. Dalam Sinagoge timbul suatu pola ibadah yang sungguh-sungguh rohani. Ibadah sinagoge pada dasarnya adalah sarana untuk ibadah rohani, di mana orang-orang beriman bersama-sama mencurahkan rohnya dihadapan Allah, dalam doa, bersama-sama memperhatikan dan menyelidiki Firman Tuhan, bersama-sama menyelidiki tuntutan-tuntutan iman. Ibadah sinagoge tidak diarahkan pada suatu ritus kurban yang dianggap berkasiat secara otomatis, melainkan yang ditekankan ialah pengangkatan pemikiran manusia kepada Allah dan firman-Nya, dan persujudan manusia dihadapan Allah dalam pujian dan doa.[26] Manusia adalah ciptaan yang hina, diciptakan dari debu tanah sehingga manusia berkewajiban untuk beribadah kepada sang pencipta.[27]
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ibadah dalam Perjanjian Lama adalah sarana pertemuan antara Allah dengan umat-Nya, di mana inisiatif itu berasal dari Allah sendiri. Lewat ibadah umat mengetahui maksud dan kehendak Allah dalam kehidupan mereka, ibadah dilakukan sebagai bentuk ucapan syukur atas penyertaan dan berkat yang Allah berikan. Kehadiran ibadah dalam relasi antara Allah dan umat-Nya ini, tidak bisa diabaikan. Karena tanpa ibadah, umat Israel tidak akan mendapat kesempatan untuk merasakan berkat penyertaan Allah lewat kehadiran-Nya.
2.1.6. Pertumbuhan Dan Praktek Ibadah Umat Allah dalam Etika
Berbicara tentang ibadah tentu tidak lepas dari ibadah umat Allah dalam Perjanjian Lama. Di dalamnya terlihat betapa pentingnya ibadah itu bila diarahkan dan diartikan sebagai sambutan terhadap anugerah penyamputan Allah yang berlaku dalam realitas kehidupan sehari-hari. Pada saat Bersamaan ibadah juga berfungsi sebagai kewajiban utama bagi umat Allah untuk beribadah kepadaNya. Dalam ibadah umat Allah menyembah kepada Allah dan Allah mendekati manusia dengan tuntutan supaya mereka menaati kehendakNya. Intinya adalah bahwa manusia harus selalu mencerminkan kesucian, kemurnia dan cinta kasih Allah yang sampai batas kesanggupan manusia untuk mencerminkan sifat-sifat ilahi itu. Hal ini jelas dalam Maz 24:3 bahwa orang yang bersih tangannya dan murni hatinya yang layak menyembah Allah.
Dalam ibadah, kesungguhan dan keyakinan bahwa Allah hadir merupakan unsur yang penting. Hal ini nyata dalam permohonan Hana yang sangat sederhana tetapi penuh dengan kesungguhan. Jadi jelas bahwa ibadah merupakan pertemuan dengan Allah entah itu disertai ritus-ritus atau tidak. Bahkan ibadah tidak pernah dinilai dari ritusnya saja.[28] Dengan demikian sikap yang dikehendaki Allah dalam penyembahan ataupun beribadah kepada-Nya adalah sikap yang benar sesuai dengan kehendak Allah, penuh penyerahan, permohonan dan sukacita. Etika Kristen tidak dimulai dengan apa yang wajib kita lakukan melainkan apa yang Allah telah lakukan dan akan terus dilakukan. Orang Kristen berbuat baik bukan karena itu merupakan kewajiban melainkan sebagai respon atau jawaban atas kebaikan Allah (Yoh 5:23; 1 Yoh 4:19). Kita merespon perbutan Allah dengan melakukan perintah-Nya. Perintah Allah dinyatakan secara tertulis di dalam Alkitab. Oleh karena itu yang menjadi sumber dari Etika Kristen adalah Alkitab.
2.1.6.1. Penampilan
pada zaman ini wanita menginginkan popularitas dan daya Tarik haruslah seksi dan sensual. Dalam Alkitab, Petrus memberi tekanan pada kemurnian dan kesalehan sebgai ciri-ciri kecantikan dan keindahan wanita (1 Ptr 3:2). Sedangkan masyarakat modern menekankan kualitas yang terlihat dari cara berbusana, rambut, dan menghias diri. Penampilan ini sesuai dengan kebutuhan seorang wanita. Dalam karya penciptaan Allah menciptakan wanita sebagai mahkluk yang mempunyai daya Tarik seksual. Tuhan tidak melarang wanita berdandan untuk mempercantik diri dengan memakai perhiasan, mengatur rambut supaya menarik dan memakai pakaian yang indah-indah juga tidak salah tetapi itu tidak menjadi ukuran untuk beribadah.[29] Selain itu, Paulus di dalam suratnya juga mengatakan hal yang sama hendaklah seorang wanita berdandan dengan pantas dan sopan.
Cara berdandan bagi seorang wanita harus menyangkut tiga hal: pantas, sopan dan sederhana. Pantas, sopan dan sederhana berarti jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Apa yang menurut kita pantas dan benar mungkin menjadi kehancuran bagi orang lain (Roma 14:21).[30] Membatasi diri demi kepentingan orang lain, itulah yang diharapkan dari orang Kristen. Karena itu lebih baik kita membuat Batasan terhadap apa yang kita kenakan daripada kita menjadi batu sandungan. Memang tidak ada aturan dalam gereja mengenai busana yang pantas untuk beribadah karena ada pemahaman bahwa Tuhan melihat hati bukan melihat rupa. Yang berarti bahwa ada kebebasan dalam berbusana ataupun berpenampilan tetapi kebebasan yang dimaksud disini adalah kebebasan yang tidk menyakiti orang lain.[31]
2.1.7. Pertumbuhan dan Praktek Ibadah Umat Allah dalam Liturgika
Istilah resmi dalam banyak literatur theologis ialah “liturgia” (pelayanan, yaitu pelayanan untuk kepentingan persekutuan). Istilah liturgia, tetapi dalam arti yang luas, yaitu “ibadah dalam Bait Allah” atau “persembahan Jemaat sebagai bantuan” kepada orang-orang miskin Keputusan itu memang telah mereka ambil, tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab, jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka.), atau “pekerjaan apostolat” dari para rasul, malahan juga “pelayanan” dan pejabat-pejabat pemerintah. Liturgia yang dijelaskan di sini bukanlah liturgia dalam arti “tata ibadah”, seperti yang digunakan oleh Gereja-gereja sekarang, tetapi: ibadah, pelayanan (kepada Allah dan kepada manusia). Di samping istilah ibadah, sejah dahulu sejak abad-abad pertama digunakan juga istilah-istilah lain sebagai istilah-istilah gerejawi yang resmi untuk ibadah (kebaktian), yaitu: officium, cultus, service, worship, Gottesdienst, dll.
Ibadah jemaat adalah pertemuan antara Allah dan Jemaat sebagai umatNya. Ia mencerminkan peristiwa yang berlangsung antara Allah dan manusia dalam perjanjian yang Ia adakan dengan dia. Dalam ibadah Jemaat terjadi dialog antara Allah dan Jemaat. Ibadah Jemaat diadakan pada hari Minggu, “hari Tuhan” yaitu hari kebangkitan Yesus Kristus, hari kemenangan. Dalam ibadah Jemaat Yesus Kristus menempati tempat yang sentral. Ia mengundang dan mengumpulkan kita di situ. Dalam Firman, dalam perjamuan dan persekutuan ibadah, Ia mau hadir bersama-sama dengan kita. Ibadah Jemaat adalah suatu peristiwa kristologis: suatu peristiwa krostologis yang menunjuk kepada Sabat yang kekal. Sebab dalam ibadah Jemaat kesalahan dan dosa merupakan tema yang penting, dan terutama “pemberitaan anugerah” memberikan keberanian dan kekuatan kepada kita untuk terus hidup. Ibadah Jemaat tidak hanya diselenggarakan pada hari Minggu saja. Ibadah hari Minggu memang sentral. Tetapi “pertemuan” antara Allah dan Jemaat bukan hanya berlangsung pada hari itu saja. Pertemuan itu berlangsung juga pada hari-hari kerja. Karena itu ibadah Jemaat tidak tertutup, tetapi terbuka.[32]
2.1.8. Pertumbuhan dan Praktek Ibadah Umat Allah dalam Ilmu Agama-Agama dan Suku
Ibadah merupakan bahagian yang paling aktif daripada agama, karena di dalam ibadah itulah manusia lebih aktif menyatakan apa yang berada dalam kepercayaannya. Di dalam kebaktian itulah manusia secara beraktif dipersembahkan beberapa sikap yang membuktikan tindakan dan perbuatan dan di dalam tindakan dan perbuatan ini menjelmalah isi-isi kepercayaan dengan maksud-maksud tertentu. Ibadah dilaksanakan sesuai dengan dasar, ritus-rituskeagamaan dan kepercayaan masing-masing orang. Setiap agama memiliki ibadah dalam bentuk versi yang berbeda-beda. Dapat dikatakan bahwa ibadah merupakan ciri-ciri khas yang dipunyai oleh setiap agama di dunia. Tanpa suatu ibadah maka agama tidak mungkin berlangsung dengan dengan sempurna. Bahwa isi-isi ibadah itu harus disesuaikan dengan peraturan tatatertib kehidupan masing-masing. Ada beberapa dasar hakiki daripada pelaksanaan ibadah agama -agama, antara lain,
· Kepercayaan: setiap ibadah agama-agama suku selalu berdasarkan pada suatu keyakinan bahwa diluar diri manusia terdapat bermacam-macam kuasa kuasa ini diyakini dapat memberi berkat, dan juga kutuk, malapetaka dan kemalangan bagi kehidupan manusia.
· Ucapan syukur: dalam segala hal manusia menyadari bahwa dia bergantung terhadap kuasa-kuasa tadi. Hanya apabila manusia mau dengan rendah hati menyerahkan kehidupannya, kurang makannan, kurang keamanan, kurang Kesehatan, dan kurang kebahagiaan.
· Manusia menyadari bahwa dirinya dirinya sendiri kurang sempurna, sedang dewa memiliki kesempurnaan, Dialah sumber segala sesuatunya bagi kehidupan manusia.
· Takut: perasaan ketakutan inilah yang merupakan puncak pelaksanaan ibadah agama-agama, perasaan takut inilah yang mendorong manusia memuji dan mengagungkan dewatannya. Manusia takut kematian dan hukuman yang terakhir. [33]
III. Analisa Penyeminar
Hasil penyeminar setelah mengkaji tentang Menjelaskan Sejarah Pertumbuhan dan Praktek Ibadah Umat Allah dari berbagai tinjauan, Ibadah menjadi salah satu ciri utama komunitas beragama bahkan diyakini sebagai perintah dari Tuhan yang disembah masing-masing agama. Oleh karena itu, tidak ada agama tanpa ibadah. Demikian juga dalam hal ini bagi penganut agama Kristen atau orang Kristen. Tidak ada gereja tanpa ibadah dan di mana ada gereja di sana pasti ada ibadah karena ibadah merupakan panggilan Allah kepada setiap orang percaya untuk datang menyembah dan berbakti kepada-Nya atas semua karya-Nya bagi setiap manusia ada di dalam Kristus yang telah mati mati bagi manusia. Dewasa ini juga sebagian orang percaya memiliki pemahaman bahwa beribadah itu dapat dilakukan di rumah dengan menonton televisi, live streaming dan radio. Hal tersebut tentunya keliru sebab ibadah memiliki pengertian salah satunya adalah persekutuan di mana orang percaya berkumpul bersama untuk menyembah Tuhan. penyembahan bersama di dalam gereja sangat perlu untuk semua orang Kristen.
Pesekutuan bersama adalah jalan untuk mendapatkan berkat dari Tuhan. Untuk itu jemaat Tuhan tidak menjauhkan diri pertemuan-pertemuan ibadah. Setiap makhluk hidup pasti bertumbuh dan berkembang. Demikian juga umat Tuhan harus bertumbuh, sebab petumbuhan membuktikan kehidupan dan kesehatian di dalam tubuh Kristus. Dalam nas Efesus 4:11-16, Allah menghendaki setiap umatNya mencapai petumbuhan rohani yang sehat dan sempurna. Dalam ayat-ayat itu Allah menyatakan bukti-bukti pertumbuhan iman yang sempurna. Kata-kata yang membuktikan iman yang sempurna dalam nas ini ‘sampai’, ‘mencapai’, dan ‘sehingga’. Ketiga kata ini memiliki pengertian yang sama, yaitu dari satu titik tertentu menuju ke satu titik berikut.artinya kita harus berkembang dan bertumbuh hingga mencapai tingkat pertumbuhan tertentu. Setiap orang Kristen harus mencapai tingkat petumbuhan iman. Orang percaya tidak boleh sekadar betumbuh, melainkan wajib bertumbuh secara sempurna. Ukuran petumbuhan iman yang sempurna bukanlah berdasarkan perasasaan sesorang atau pendapatnya sendiri bahwa dirinya bertumbuh, melainkan sebuah pertumbuhan yang sesuai dengan maksud dan ukuran firman Allah. Firman Allahlah ukuran yang benar soal pertumbuhan iman yang sempurna.
Pertumbuhan rohani yang sehat dan sempurna itu terwujud ketika seseorang Kristen hidup dalam ibadah atau persekutuan dan hidup untuk melayani Allah, Pertumbuhan Iman yang Sempuna. mencapai kesatuan iman, mencapai pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, mencapai kedewasaan penuh, dan teguh berpegang pada kebenaran di dalam kasih bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Pertumbuhan iman yang dicapai oleh orang percaya sehingga pertumbuhan rohani mereka bertumbuh dengan benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya, jika pertumbuhan rohani seseorang tidak mengarah dan mencapai kesempurnaan maka pertumbuhan itu tidak menghasilkan buah dan tidak berkenan kepada Allah.
IV. Kesimpulan
Ibadah diartikan sebagai penghormatan kepada Tuhan yang oleh manusia menurut kodrat sosialnya harus diejawantahkan Bersama-sama selaku makhluk dihadapan sang pencipta. Ibadah adalah penyembahan dan pelayanan kepada Allah. Ibadah adalah penyembahan dan pelayanan kepada Allah. Pertumbuhan rohani yang sehat dan sempurna itu terwujud ketika seseorang Kristen hidup dalam ibadah atau persekutuan dan hidup untuk melayani Allah, Pertumbuhan Iman yang Sempuna. mencapai kesatuan iman, mencapai pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, mencapai kedewasaan penuh, dan teguh berpegang pada kebenaran di dalam kasih bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Pertumbuhan iman yang dicapai oleh orang percaya sehingga pertumbuhan rohani mereka bertumbuh dengan benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan.
V. Daftar Pustaka
A Dr. J. Telnoni, Manusia Yang Diciptakan Allah “Telaah Atas Kesaksian Perjanjian Lama”, Kupang: Artha Wacana Press, 2009
Abineno J. Ch. L., DOA Menurut Kesaksian Perjanjian Baru Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992
Abineno J. L. Ch., Ibadah Djemaat Dalam Perdjandjian Baru, Djakarta: Badan Penerbit Kristen, 1960
Berkhof H., Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005
Brownlee Malcolm, Tugas Manusia Dalam Dunia Milik Tuhan, Jakarta: BPK Gunung Mulia
den End Th Van, Tafsiran Alkitab Kitab Roma, Jakarta: BPK-GM, 2008
Donald, Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: Gunung Mulia, 2015
Douglas J. D., Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jakarta: YKBK/OMF, 2007
Douglas J.D., Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jakarta: YKBK/OMF, 2007
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2002
Getz Gene A., Citra Wanita Kristen Jakarta: BPK-GM, 1994
Ginting Edi Suranta, Aku Percaya maka Aku Beribadah, Bandung: Sekolah Tinngi Alkitab Tiranus, 2011
Guthrie Dr ch. Barth dan Marie Claire Barth-Frommel,M.Th, Teologi Perjanjian Lama 2, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010
Hueken A., SJ, Ensiklopedi Gereja Jilid II (H-Kom), Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1992
Ismail Andar, Selamat Melayani Tuhan, Jakarta: BPK-GM, 2004
Kieser Bernhard, Moral Dasar, Yogyakarta: Kanisius, 1987
Pasaribu Rudolf, Agama Suku, IKIP- Medan 1988
Rasid Rachman, Pembimbing ke dalam Sejarah Liturgi Jakarta, BPK-GM, 2010
Riemer G. Cermin Injil, JakartaYKBK/OMF, 2002
Rowley H. H., Ibadah Israel Kuno, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004
Sitompul Einar, Ibadah dalam Kehidupan Kita dalam Gereja Menyikapi Perubahan, Jakarta: BPK-GM, 2004
Weber, Pola Hidup Kristen, Malang: Gandum Mas, 1996
WHITE JAMES F., Pengantar Ibadah Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012
William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Jitab Roma, Jakarta: BPK-GM, 1986
William Dyrness, Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama, Jakarta: BPK-GM, 1979
Williams Morris, Doa & Ibadah, Malang: Gandum Mas
Wismoady Wahono S., Di Sini Ku Temukan, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001
[1] Edi Suranta Ginting, Aku Percaya maka Aku Beribadah, (Bandung: Sekolah Tinngi Alkitab Tiranus, 2011), 20-21
[2] A. Hueken, SJ, Ensiklopedi Gereja Jilid II (H-Kom), (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, 1992), 59
[3] Morris Williams, Doa & Ibadah, (Malang: Gandum Mas), 7
[4] J.D. Douglas, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, (Jakarta: YKBK/OMF, 2007), 409
[5] Edi Suranta Ginting, Aku Percaya maka Aku Beribadah, 24
[6] G. Riemer, Cermin Injil, (JakartaYKBK/OMF, 2002), 71
[7] William Dyrness, Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK-GM, 1979), 123
[8] Einar Sitompul, Ibadah dalam Kehidupan Kita dalam Gereja Menyikapi Perubahan, (Jakarta: BPK-GM, 2004), 127
[9] Andar Ismail, Selamat Melayani Tuhan, (Jakarta: BPK-GM, 2004), 2-4
[10] J.L.Ch. Abineno, Ibadah Jemaat dalam Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK-GM, 1987), 19
[11] J. D. Douglas, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, (Jakarta: YKBK/OMF, 2007), 409
[12] Th Van den End, Tafsiran Alkitab Kitab Roma, (Jakarta: BPK-GM, 2008), 653
[13]Edi Suranta Ginting, Aku Percaya maka Aku Beribadah, 24-25
[14] Weber, Pola Hidup Kristen, (Malang: Gandum Mas, 1996), 565-566
[15] Rasid Rachman, Pembimbing ke dalam Sejarah Liturgi (Jakarta, BPK-GM, 2010), 2-3
[16] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, (Jakarta: Gunung Mulia, 2015), 61-63
[17] J. L. Ch. Abineno, Ibadah Djemaat Dalam Perdjandjian Baru, (Djakarta: Badan Penerbit Kristen, 1960), 15
[18] Malcolm Brownlee, Tugas Manusia Dalam Dunia Milik Tuhan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia), 2004, 19
[19] J. Ch. L. Abineno, DOA Menurut Kesaksian Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992), 1-2.
[20] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2002), 409.
[21] S. Wismoady Wahono, Di Sini Ku Temukan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 25.
[22] H. Berkhof, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), 51.
[23] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, 409
[24] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, Op. Cit, 409
[25] Dr ch. Barth dan Marie Claire Barth-Frommel,M.Th, Teologi Perjanjian Lama 2, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010) 43-48
[26] H. H. Rowley, Ibadah Israel Kuno,( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), 193
[27] Dr. J. A. Telnoni, Manusia Yang Diciptakan Allah “Telaah Atas Kesaksian Perjanjian Lama”, (Kupang: Artha Wacana Press, 2009), 144-146
[28] H.H. Rowley, Ibadah Israel Kuno, (Jakarta: BPK-GM, 2002), 196
[29] Gene A. Getz, Citra Wanita Kristen (Jakarta: BPK-GM, 1994), 2
[30] Bernhard Kieser, Moral Dasar, (Yogyakarta: Kanisius, 1987), 35
[31] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Jitab Roma, (Jakarta: BPK-GM, 1986), 288
[33] Rudolf Pasaribu, Agama Suku, (IKIP- Medan 1988), 77-78
Tidak ada komentar:
Posting Komentar