Jumat, 16 April 2021

Letnan Jendral TNI (Purn). Tahi Bonar Simatupang

 


Letnan Jendral TNI (Purn). Tahi Bonar Simatupang

(Suatu Tinjauan Historis-Praktis terhadap Kiprah T. B Simatupang sebagai Teolog Awam dalam Gerakan Oikumene serta Sumbangsih Jemaat Gereja Masa Kini dalam Gerakan Oikumene)

I.                   Latar Belakang Masalah

Spirit oikumene merupakan salah satu spirit dari konsep kekristenan masa kini. Setiap orang Kristen diharapkan harus berperan aktif di dalam menjalani kehidupan ber-oikumene. Namun kenyataannya jika kita melihat sekarang banyak orang memahami bahwa orang ber-oikumene itu hanyalah sebuah konsep yang diadakan ketika natal atau paskah tiba. Hal ini mengakibatkan hilangnya makna dari oikumene itu sendiri, di tengah-tengah pemikiran seperti itu penting digumulkan kembali pemikiran dan praktis salah satu tokoh awam Kristen T. B. Simatupang mengenai pandangan-pandangan nya terhadap oikumene dan bagaiamana seharusnya seorang Kristen harus terlibat aktif dalam ber-oikumene. Ada semangat yang dibangun bahwa ketika menjadi seorang Kristen, atau jemaat dalam suatu gereja maka setiap jemaat harus berperan bukan hanya sebagai status anggota gereja dan hanya melaksanakan tuntutan-tuntutan umum seperti beribadah pada hari Minggu dan datang hanya untuk mendengarkan khotbah. Namun harus memang menunjukkan perannya dalam ber-oikumene secara aktif. Maka dari itu mari kita sama-sama mendalami pemikiran T. B. Simatupang Terkait judul Letnan Jendral TNI (Purn) dengan sub judul (Suatu Tinjauan Historis-Praktis terhadap Kiprah T. B Simatupang sebagai Teolog Awam dalam Gerakan Oikumene serta Sumbangsih Jemaat Gereja Masa Kini dalam Gerakan Oikumene).

II.                Pembahasan

2.1. Pengertian Oikumene

Istilah Oikoumene nyaris diartikan sebagai universal atau inter-iman, yang sesungguhnya keliru. Makna aslinya adalah bumi yang dihuni. Kata oikos dalam bahasa Yunani berarti “rumah”, mene adalah “bumi”. Istilah Oikoumene merupakan istilah misi yang analog dengan dinamisme konsep Alkitab dan berpusat pada pesan iman. Paulus meringkas pesan ini sebagai, “sebab jika kamu mengakui dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu. Bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Rm. 10 : 9). Jadi sesungguhnya Oikoumene merupakan istilah untuk menggambarkan misi keKristenan, gerakan Oikoumene untuk mendiami bumi yang kepadanya Injil diberitakan. Itu semacam parafrase bagian akhir Injil Matius, untuk pergi dan membaptis bangsa-bangsa (Mat. 28 : 18 – 20) atau bagian pembuka kisah para Rasul “kamu akan menjadi saksiku .... sampai ke ujung bumi” (Kis. 1 : 8).[1]

Kata Oikoumene mempunyai dua arti yang saling terkait. Pertama sesuai arti harfiahnya, ialah “rumah kediaman”. Kedua, maknanya adalah “dunia yang dihuni manusia”. Jadi gerakan Oikoumene adalah “gerakan untuk menjadikan dunia ini sebuah rumah hunian bagi manusia sebagai sebuah keluarga besar. Istilah Oikoumene terdapat dalam Alkitab, dan digunakan oleh gereja-gereja, terutama di Barat setelah berakhirnya Perang Dunia II.[2]

 Dalam tradisi agama Kristen, ada yang disebut dengan istilah Oikoumene (bahasa Yunani, Oikos = rumah, monos = satu; Oikoumene = satu rumah). Istilah ini mengalami beberapa penyesuaian dengan konteks perkembangan keKristenan sedunia. Tadinya hanya sebatas lingkungan keKristenan di wilayah kerajaan Romawi, tetapi kemudian menunjuk pada keKristenan secara umum. Dari situ berkembang lagi menjadi gereja-gereja (=agama Kristen) dan agama-agama non Kristen, dan berkembang lagi sampai kepada hubungan gereja-gereja dengan ideologi-ideologi. Gerakan ini sangat dikenal dengan gerakan Oikoumene. Gerakan yang peduli pada relasi-relasi antar denominasi gereja (keKristenan) antara agama Kristen dengan agama-agama lain, ideologi-ideologi bahkan tentang lingkungan hidup dan seluruh ciptaan Allah.[3] Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditarik benang merah, bahwa di dalam agama Kristen ada sebuah konsep yang merupakan solusi untuk para pemeluknya dalam menyikapi adanya pluralisme agama, yaitu gerakan Oikoumene. Dan semua pengartian-pengartian tentang Oikoumene seperti yang tersebut di atas menuju kepada satu arah yaitu semacam kesadaran baru bahwa seluruh manusia di muka bumi ini tidak mungkin untuk menganut agama Kristen. Mereka mengumpamakannya seperti sebuah rumah yang terdiri dari banyak bilik (kamar). Namun rumah dengan banyak bilik tersebut merupakan satu kesatuan yang bisa saling berinteraksi dengan baik.

2.2. Biografi T. B. Simatupang

T. B. Simatupang, lahir di Sidikalang Kabupaten Dairi Sumatera Utara tanggal 28 Januari 1920-1990. T. B. Simatupang singkatan dari Tahi Bonar Simatupang dalam bahasa Batak Toba yang berarti permufakatan atau tujuan yang benar. Sedangkan Simatupang nama marga untuk orang Batak dari pihak ayahnya. T . B. Simatupang adalah seorang anak dari Pegawai Negeri, Kepala Kantor Pos Sidikalang, Ayahnya bernama Sutan Mangaraja Soaduan Simatupang, berasal dari Laguboti, dan Ibunya seorang yang penuh kasih sayang kepada anak-anaknya. T. B. Simatupang mempunyai delapan bersaudara, beliau anak yang kedua. Nama-nama yang diberikan ayahnya untuk nama anaknya sendiri menciri khaskan nama-nama orang Batak, seperti nama anak yang pertama ayahnya. Sahala Hamonangan, yang mempunyai arti wibawa kemenangan, anak yang kedua Tahi Bonar yang memiliki arti pemufakatan atau tujuan yang benar, anak yang ketiga Frieda Theodora, yang memilik arti anak pemberian Tuhan yang lahir pada  hari Jumat, anak yang keempat Pinta Pasu yang berarti perempuan, anak kelima Maruli Humala Diasi yang berarti anak laki-laki, anak yang keenam Tapi Omas yang berarti Perempuan, anak yang ketuju Batara Ningrat, Batara dari mitologi Batak-Hindu ditambah dengan Ningrat, kesadaran nasionalisme yang lebih luas dari nasionalis Batak, dan anak yang kedelapan Riaraja, yang artinya anak laki-laki.[4]

2.3. Karir T.B. Simatupang Dalam Dunia Kemiliteran

Setelah T. B. Simatupang menyelesaikan studi AMS di Salemba, ia bercita-cita ingin melanjutkan studinya tentang kedokteran, karena nanti apabila telah studi kedokteran akan mengabdi dan bekerja di rumah sakit Gereja. Akan tetapi iklim pada saat itu tidak memungkinkan, karena ada berita tentang penguasaan Jerman terhadap Belanda. Jadi pemuda-pemuda Belanda harus ikut jadi militer untuk mempertahankan Belanda. Oleh karena itu dibukalah sekolah (Koninlijke Militaire Academie) atau Akademi Militer kerajaan Belanda di Bandung. T. B. Simatupang, mendaftarkan diri untuk masuk akademi itu, dan ia lulus dengan baik. T. B. Simatupang dalam pangkat kemiliterannya berpangkat Letnan Satu, perlu diingat dan dicatat bahwa walaupun T. B. Simatupang bekerja untuk orang Belanda, tetapi rasa nasionalismenya terhadap Indonesia tetap tidak berubah dan tidak pernah padam. T. B. Simatupang masuk militer, semua itu untuk menepis mitos-mitos yang dilontarkan orang-orang Belanda kepada Indonesia, bahwa orang Indonesia tidak cocok untuk menjadi militer. Orang Indonesia tidak mampu membangun suatu angkatan perang. Akan tetapi T. B. Simatupang bertekad dan berusaha untuk menolak semua mitos-mitos itu, orang-orang Indonesia bisa menjadi militer dan mampu bersaing dengan militer negara-negara lain.[5]

T. B. Simatupang memiliki pengalaman militer sangat banyak dari orang-orang Belanda/militer Belanda yang pernah mendidik ia untuk menjadi militer. Dari pengalaman-pengalaman yang ia peroleh dapat ia kembangkan kepada tentara-tentara atau militer Indonesia, yang berjuang untuk merebut kemerdekaan Indonesia.

Karir T. B. Simatupang tentang militer sangat dibanggakan sebagai anak bangsa dapat menjadi militer yang profesional, ia juga dipercaya untuk membantu sepenuhnya pembangunan militer angkatan bersenjata Indonesia, dan selalu menjadi perwakilan dari pihak angkatan bersenjata dalam delegasi Indonesia berbagai perundingan dengan Belanda di Konfrensi Meja Bundar. Misi utamanya adalah mendesak Belanda membubarkan KNIL (tentara boneka ciptaan Belanda) serta mengukuhkan TNI sebagai kekuatan inti bagi angkatan perang bagi RI. T. B. Simatupang pernah memegang jabatan wakil II Kepala Staf Angkatan Perang (W II KSAP), dan memegang wakil I Kepala Staf Angkatan Perang adalah Kolonel Hidayat, tetapi Kolonel Hidayat  ditugaskan di Sumatera, sebagai Panglima Tentara dan Teritorium Sumatera (PTTS), maka ia dipercayakan sebagai pengganti Kolonel Hidayat. Dengan menduduki sebagai wakil I Kepala Staf Angkatan Perang dan yang menjadi Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) pada saat itu adalah Jenderal Soedirman, yang merangkap jadi Panglima Besar Angkatan Perang (PBAP), sebagai wakil KSAP ia membantu Jendral Soedirman dalam pengaman bangsa Indonesia terhadap penjajah. Sebagai wakil Kepala Staf Angkatan Perang, T. B. Simatupang telah banyak jasanya terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Pada saat itu Jendral Soedirman dalam keadaan sakit yang sangat kritis, maka Jenderal Soedirman memberikan tanggung jawab kepada T. B. Simatupang agar dapat memimpin Staf Angkatan Perang Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Januari 1950, Jendral Soedirman meninggal dunia, dengan demikian yang menggantikan Kepala Staf Angkatan Perang adalah T. B. Simatupang. Karir T. B. Simatupang memang agak menanjak, tetapi dalam waktu yang sangat singkat, T. B. Simatupang di pensiunkan dari Kepala Staf Angkatan Perang pada tanggal 21 Juli1959.[6]

2.4. Orang-orang yang Mempengaruhi Pemikiran T. B. Simatupang

Ada beberapa pemikiran yang mempengaruhi perjalanan intelektual T. B. Simatupang yaitu Carl Von Clausewitz. Untuk mempelajari tentang perang, pada masa mudanya T. B. Simatupang mengagumi tentang Pemikiran Carl Von Clausewitz tentang perang, sehingga ia dapat mempelajari dengan sungguh-sungguh, kemudian ia memberikan landasan teoritis bagi sumbangan dalam perjuangan bangsa dan negara Indonesia, khususnya bidang militer serta masalah-masalah diplomasi dan politik yang terkait dengan perjuangan militer.[7] Setelah mendapat pengetahuan tentang perang dari pemikiran Carl Von Clausewitz, kemudian Pengetahuan yang ia miliki tentang perang ia praktekan  dan ikut terlibat dalam pengorganisasian tentara dalam melakukan perang gerilya untuk menumpas penjajah.[8]

 Masih ada pemikiran yang mempengaruhi Intelektual T. B. Simatupang yaitu Karl Marx, untuk mempelajari revolusi yang dibangun oleh Karl Marx tentang struktur sosial yang ada dalam masyarakat. Perjuangan kelas sosial akan melukisakan revolusi, T. B. Simatupang sejak dari muda ia sudah mempelajari atau menambah wawasannya tentang revolusi yang dibangun oleh Kari Marx. Menurut Karl Marx revolusi harus dibedakan menjadi dua yaitu: revolusi politik dan revolusi sosial. Revolusi Politik apabila kekuasaan politik dipegang oleh kaum proletar (kelas bawah). Revolusi sosial, kaum proletar dapat memegang kekuasaan dari kaum borjuis, kekayaan-kekayaan yang dimiliki kaum borjuis dapat dimanfaatkan oleh kaum proletar untuk kepentingan dan perubahan yang ada dalam masyarakat, T. B. Simatupang mempelajari revolusi ini untuk mengetahui sebagaimana pentingnya perubahan-perubahan yang harus dilakukan dan tidak ada penindasan terhadap rakyat, semenjak ia mempelajari revolusi nya Karl Marx dapat menambah rasa sosialismenya terhadap rakyat Indonesia atau indonesia.[9]

T. B. Simatupang mengagumi juga pemikiran Teologi Karl Barth. Karl Bath berasal dari kota Basel, Swiss (10 Mei 1886) dengan teologinya yang sangat terkenal Teologi Kemerdekaan, menurutnya teologi kemerdekaan adalah sebuah teologi yang memandang pada kemerdekaan Allah yang memberikan kasih sayang dan karunia kepada kemerdekaan manusia. Maksud kemerdekaan di sini adalah merdeka dari tindakan kejahatan dan penindasan, yang disimpulkan dalam istilah “dosa”, dan lebih dari itu merdeka untuk sungguh-sungguh hidup bersama Allah dan sesama dalam perikemanusiaan yang sejati[10] Jadi menurut Karl Barth manusia jangan sampai melakukan tindakan kejahatan dan menindas orang-orang yang lemah atau tidak mampu, dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut maka akan selalu dikasihi Allah, dan apabila melaksanakan perbuatan-perbuatan kejahatan dan penindasan maka akan mendapat dosa.

Ketertarikan T. B. Simatupang dengan teologinya Karl Barth adalah bahwa Karl Barth menginginkan manusia itu selalu dekat dengan Tuhan, dan manusia harus suci dari perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, dan menjauhkan dari dosa. Karl Barth membangun teologinya atas dasar “Pernyataan”, terutama pernyataan Allah dalam Yesus Kristus sebagaimana disaksikan dalam kitab suci.[11]

Setelah T. B. Simatupang mempelajari Teologinya Karl Barth, kemudian ia mempelajari juga pemkiran Reinhold Niebuhr, seorang teologi Amerika Serikat yang berusaha memikirkan masalah-masalah kekuasaan keadilan dan kebebasan di negerinya sendiri dan juga di luar negeri, berhubungan dengan kekuasaan Amerika Serikat yang sangat besar setelah perang dunia II berakhir. Secara sederhana masalah kekuasaan, kebebasan dan keadilan bertolak dari kodrat manusia seperti yang terdapat dalam Alkitab yaitu mahkluk yang mempunyai martabat yang sangat tinggi.[12] Sistem kekuasaan sangat diperlukan untuk menjamin keamanan dan ketertiban secara efektif terhadap kekuasaan. Kebebasan juga diperlukan untuk memperjuangkan dan menegakkan keadilan.[13]

2.5. Pemahaman T. B. Simatupang Tentang Oikumene

Seluruh bangsa dengan latar belakang keagamaan dan kepercayaan yang berlain-lainan telah bekerja sama secara bahu-membahu dalam perjuangan pergerakan kebangsaan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan maka Pancasila telah diakui dan diamalkan sebagai dasar dan tujuan perjuangan bersama untuk pembebasan dan persatuan itu. Negara dan bangsa juga mengambil bagian dalam mengalami jaman peralihan kearah struktur dunia baru yang dapat menjamin keadilan, persaudaraan bagi semua bangsa. Dalam rangka keadaan itulah merenungkan “panggilan untuk pembebasan dan persatuan dalam gereja, masyarakat dunia”.

Dewan gereja-gereja di Indonesia mempunyai keistemawaan. DGI mencatumkan dalam anggaran dasarnya bahwa tujuannya adalah “Pembentukan gereja Kristen yang Esa di Indonesia”. Tidak ada dewan gereja Nasional lain mempunyai pasal seperti itu dalam anggaran dasarnya. Ini sekali-kali tidak berarti bahwa panggilan keesan gereja di Indonesia hanya ditujukan kepada-gereja anggota DGI saja. Tuhan sendiri yang memanggil semua gerejaNya “supaya mereka semua menjadi satu” (Yoh.17:21).[14] Serta umat Kristiani yang hidup dan dapat berkarya di tengah bangsa Indonesia yang sedang melaksanakan Pembangunan Nasional sebagai pengalaman Pancasila.[15] T. B. Simatupang mengatakan bahwa usaha pembaharuan melalui kerja pembebasan terhadap masalah-masalah keadilan, keterbelakangan, kemiskinan adalah didasarkan pada sikap Gereja dan orang-orang Kristen yang:

1.      Sikap Positif yaitu sikap terbuka terhadap yang baik.

2.      Sikap kreatif yaitu sikap dalam kuasa Roh Kudus menggantikan yang lama yang tidak berguna dengan yang baru atau menambahkan yang baru kepada yang sudah ada.

3.      Sikap Kritis yaitu yang melihat segala sesuatu dalam terang dan Firman Tuhan.

4.      Sikap Realistis yaitu sikap yang sadar akan waktu dan batas-batas kenyataan dan tidak terbawa oleh impian kosong.

Dengan melakukan keempat sikap di atas maka gereja adalah benar-benar manusia (truly man), menjadi sentral, karena mampu melihat masalah masalah kemanusiaan, kebebasan, keadilan, kasih, perdamaian dalam terang kasih Kristus, untuk kemudian secara nyata mengupayakan melalui suatu kerja yang positif, kreaif, kritis, dan realistis dalam tugas dan panggilannya.[16]

Selain itu, dari beberapa orang yang telah mempengaruhi pemikiran T. B. Simatupang maka dapat ia terapkan dalam kehidupannya sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara yang baik. T. B. Simatupang adalah seorang yang telah memiliki pengetahuan yang luas tentang ketentaraan, diplomasi (politik dan militer) dan teologi. Dalam bidangn ketentaraan ia sangat berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan, dan juga memberikan pengetahuan tentang kemiliteran kepada tentara-tentara Indonesia.[17]

 

2.6. Peran T. B. Simatupang Dalam Gerakan Oikumene

T. B. Simatupang aktif dalam Gerakan Oikumene  seperti menjadi anggota DGI, kemudian ia terpilih sebagai ketua Badan setelah keluar dari dinas kemiliteran, ia banyak mempunyai waktu luang, dan juga diundang dalam pelayanan gereja-gereja di Indonesia. Waktu luang tersebut diisi dengan menulis dan membaca banyak tulisan-tulisannya yang beredar di media masa dan forum-forum pertemuan, dan juga ia menekuni studi tentang teologi. Dengan menekuni dunia teologi maka pemahamannya tentang teologi pun semakin dalam. Studi tentang teologi sangat luas, sehingga kita dapat terus mempelajari teologi itu seumur hidup.[18]

Ketertarikan Pekerja Harian, jabatan itu dipercayakan kepadanya sampai sidang raya X DGI di Ambon, tahun 1984. Periode 1984-1989 T. B. Simatupang terpilih sebagai ketua Majelis Pertimbangan PGI, sampai periode 1989-1994. Masa pengabdiannya di DGI/PGI, T. B. Simatupang aktif juga dalam sidang gereja-gereja dan dewan gereja-gereja sedunia. Sejak tahun 1975-1984 ia menjadi presiden mewakili gereja-gereja se-Asia selama satu periode.pengabdiannya terhadap gereja-gereja dan juga dan bangsa dan negara, sangat cemerlang, tapi dengan faktor usia yang sudah tua, maka semua pengabdian harus berhenti, ia meninggal dunia pada tanggal 1 Januari 1990 karena sakit.[19]

2.7. Sumbangan T. B. Simatupang Dalam Gerakan Oikumene

Setelah pensiun dari bidang kemiliteran T. B. Simatupang maka ia lebih mencurahkan perhatiannya kepada organisasi Agama. Dewan Gereja adalah medan juang yang dipilihnya, ia sempat menjadi Ketua Dewan Gereja Indonesia, Ketua Dewan Gereja se-Asia, dan pernah menjadi Presiden Dewan Gereja-Gereja se-Dunia. Gereja yang semua lahir terpisah-pisah ingin dipadukan agar bersama-sama melaksanakan tugas Dewan Gereja Indonesia dalam rangka pembangunan sebagai pengalaman Pancasila.[20] Itulah yang menjadikan tokoh nasional paling tegas dikalangan gereja-gereja Kristen di Indonesia sehingga seluruh pemikirannya sungguh layak untuk dianalisis dan dipelajari. Khususnya di tahun 1970-1990 ia membuktikan dirinya seorang teolog awam yang sangat produktif yang telah banyak memberikan sumbangan kepada sejarah nasional dan sejarah gereja, dan dalam bidang pembangunan bangsa dan dengan berpangkat dari ideologi Pancasila.[21]

 

2.8. Analisa Penyeminar

Dalam diri seorang T. B Simatupang yang berlatar belakang kemiliterannya. Beliau juga aktif dalam aktivitas gerejawi yang notabenenya tidak berbasic Teologi tetapi hanya sebagai Teolog awam yang hanya sekadar membaca buku-buku yang dapat mempengaruhi Intelektual dirinya seperti Karl Marx, yaitu untuk mempelajari revolusi yang dibangun oleh Karl Marx tentang struktur sosial yang ada dalam masyarakat. Perjuangan kelas sosial akan melukisakan revolusi dan mengagumi juga pemikiran Teologi Karl Barth dengan teologinya yang sangat terkenal Teologi Kemerdekaan. Dengan menekuni dunia teologi maka pemahamannya tentang teologi pun semakin dalam. Studi tentang teologi sangat luas, sehingga beliau dapat terus mempelajari teologi itu seumur hidup. Sehingga dalam masa purnawirawan nya ia berkecimpung dalam ranah keagamaan dan membuahkan prestasi yang gemilang dalam gerakan Oikumene seperti ia pernah menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja-gereja Asia, Ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia meskipun berlatar belakang teologi.

Pandangan jemaat tentang ber-oikumene hanya berfokus bahwa orang yang berlatar belakang teologilah yang menjadi pelaku ber-oikumene serta hanya fokus kepada suatu peribadahan seperti natal dan paskah saja sehingga jemaat hanya berperan sebagai status anggota gereja dan hanya melaksanakan tuntutan-tuntutan umum seperti beribadah pada hari Minggu, dsb. Yang seharusnya adalah seorang Kristen harus terlibat aktif dalam ber-oikumene. Melihat medan aksi pelayanan  T. B. Simatupang yang berlatar belakang militer tersebut ia juga berperan aktif dalam memberikan sumbangsih terhadap gereja.

 Mengenai hal tersebut dari kiprah T. B Simatupang yang sebagai teolog awam dia menjadi pemimpin di dalam lembaga gerejewi pada saat itu masih relevan dengan sekarang dan jemaat gereja masih bisa mengalami seperi yang dialami T. B Simatupang dalam pelayanan gerakan Oikumene. Akan tetapi ialah seorang teolog awam bisa kembali memangku jabatan/ medan layan tersebut dengan notabene kiprah nya dalam lingkup teologi (agama) dan medan layannya dirasakan dan dikenal secara masif oleh khalayak ramai. Sehingga layak diakui kinerja nya selama mengemban tugas tersebut.

III.             Kesimpulan

T. B. Simatupang seorang tokoh militer Indonesia yang terakhir masa hidupnya berpangkat Letnan Jenderal. T. B. Simatupang pernah mengatakan bahwa ada tiga yang memengaruhi hidup dan pikirannya, yaitu Carl von Clausewitz, seorang ahli strategi kemiliteran, Karl Marx dan Karl Barth, teolog Protestan terkemuka abad ke-20 ketiganya bernama Karl. Seluruh kehidupan T. B. Simatupang mencerminkan peranan ketiga pemikir besar itu. Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, T. B. Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat. Dalam aktivitas gerejawinya itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja-gereja Asia, Ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia, dll. Dari tahun 1970-1990 ia membuktikan dirinya seorang teolog awam yang sangat produktif yang telah banyak memberikan sumbangan kepada sejarah nasional dan sejarah gereja, dan dalam bidang pembangunan bangsa dan dengan berpangkat dari ideologi Pancasila. Dapat disimpulkan setelah beliau meniti jalan digelanggang perang dan ia mengakhiri dijalan Tuhan.

IV.             Daftar Pustaka

Barth Clifford Green, Karl, Teologi Kemerdekaan: Kumpulan Cuplikan Karya Karl Barth, (terj), Marie Clarie Barth, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1989

Hoekema A. G, Berpikir Dalam Keseimbangan yang Dinamis Sejarah Lahirnya Teologi Protestan Nasional di Indonesia 1860-1960, (terjemah), Ny. Amsy Susilaradeya, Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 1997

Hasibuan Albert, dkk, Peranserta Gereja Dalam Pembangunan Nasional, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998

Hubbard Geogre B. Grose dan Benjamin J. (ed.), Tiga Agama Satu Tuhan : Sebuah Dialog, Terj. Santi Indra Astuti, Mizan, Bandung, 1998

Pardede Samuel (penyunting), 70 tahun Dr. T. B. Simatupang, Saya adalah Orang yang Berhutang, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990

Sairin Weinata, Gereja, Agama-agama & Pembangunan Nasional, Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2006

Sargent Lyman Tower, Ideologi-ideologi Politik Kontemporer, Sebuah Analisis Komperatif, Edisi Keenam, Jakarta: Erlangga, 1087

Simatupang T. B., Iman Kristen dan Pancasila, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1984

Simatupang T. B., Laporan dari Banaran: Kisah Pengalaman Seorang Prajurit Selama Perang Kemerdekaan, (Jakarta: PT. Pembangunan, 1960),9

Simatupang T. B., Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos Menelusuri Pengalaman Seseorang Prajurit Generasi Pembebas Bagi Masa Depan Masyarakat, Bangsa dan Negara, Jakarta:  Pustaka Sinar Harapan, 1991

Tanja Victor I., Pluralisme Agama dan Problem Sosial, (Diskursus Tiologi tentang Isu-isu Kontemporer), Pustaka Cidesindo, Jakarta, 1998

Zuly Th. Sumartana, Noegroho Agoeng, Qodir (ed.), Pluralisme, Konflik dan Perdamaian, (Studi Bersama Antar Iman), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002

 



[1] Geogre B. Grose dan Benjamin J. Hubbard (ed.), (Tiga Agama Satu Tuhan : Sebuah Dialog, Terj. Santi Indra Astuti, Mizan, Bandung, 1998), 227

[2] Victor I. Tanja, Pluralisme Agama dan Problem Sosial (Diskursus Tiologi tentang Isu-isu Kontemporer), (Pustaka Cidesindo, Jakarta, 1998),  154

[3] Th. Sumartana, Noegroho Agoeng, Zuly Qodir (ed.), Pluralisme, Konflik dan Perdamaian (Studi Bersama Antar Iman), (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002), 94 - 95

[4] T. B. Simatupang, Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos Menelusuri Pengalaman Seseorang Prajurit Generasi Pembebas Bagi Masa Depan Masyarakat, Bangsa dan Negara, (Jakarta: Sinar Harapan, 1991), 20

[5] Ibid, 40-80

[6] T. B. Simatupang, Laporan dari Banaran: Kisah Pengalaman Seorang Prajurit Selama Perang Kemerdekaan, (Jakarta: PT. Pembangunan, 1960), 9

[7] T. B. Simatupang, Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos, 118

[8] T. B. Simatupang, Iman Kristen Dan Pancasila, (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 1984), 13

[9] Lyman Tower Sargent, Ideologi-ideologi Politik Kontemporer, Sebuah Analisis Komperatif, Edisi Keenam, (Jakarta: Erlangga, 1087), 14

[10] Clifford Green, Karl Barth, Teologi Kemerdekaan: Kumpulan Cuplikan Karya Karl Barth, (terj), Marie Clarie Barth, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1989), 47

[11] Ibid, 17

[12] T. B. Simatupang, Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos, 189

[13] Samuel Pardede (penyunting), 70 tahun Dr. T. B. Simatupang, Saya adalah Orang yang Berhutang, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990), 22

[14] T. B. Simatupang, Iman Kristen dan Pancasila, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 1984), 110-111

[15] Weinata Sairin, Gereja, Agama-agama & Pembangunan Nasional, (Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 2006), 67

[16] Albert Hasibuan, dkk, Peranserta Gereja Dalam Pembangunan Nasional, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998), 170

[17] Samuel Pardede (penyunting), 70 tahun Dr. T. B. Simatupang, Saya adalah Orang yang Berhutang, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990), 22

[18] T. B. Simatupang, Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos, (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1991), 187-188

[19] Samuel Pardede (penyunting), Saya adalah Orang Berhutang, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990), 15

[20] Ibid, 97

[21] A. G Hoekema, Berpikir Dalam Keseimbangan yang Dinamis Sejarah Lahirnya Teologi Protestan Nasional di Indonesia 1860-1960, (terjemah), (Ny. Amsy Susilaradeya, Jakarta: BPK- Gunung Mulia, 1997),272

Tidak ada komentar:

Posting Komentar