Penyebutan Allah Dalam Alkitab Ibrani (“Divine Designations in the Hebrew Bible” dalam
The Names of God in Judaism, Christianity
and Islam) hal 21-29,[1]
diperhadapkan dengan Penyebutan Nama Allah dalam Agama Islam.
I.
Pendahuluan
Hampir tidak mungkin untuk memasukkan semua
literatur dalam Yudaisme yang dapat dilihat sebagai “sakral” dalam penelitian
ini. Untuk memasukkan sebanyak mungkin sebutan, bagian ini akan melihat
tinjauan luas Tanakh atau Alkitab Ibrani (dan mengecualikan teks-teks seperti
Mishnah dan Talmud). Oleh karena itu, melihat melalui teks Alkitab Ibrani harus
memberi kita cukup banyak contoh nama-nama Allah, termasuk artinya dan konteks
di mana mereka digunakan, untuk menerapkan metode teologi komparatif dengan
sukses untuk hasilnya. Mengenai asal-usul nama Allah itu
sendiri, masih menjadi bahan perdebatan baik dikalangan Kristen maupun Islam.
Kita akan melihat sekilas pemetaan silang pendapat mengenai asal-usul nama
Allah dibawah ini.
Pandangan
Islam: Allah, berasal dari kata Al (definite article, The) dan Ilah (generic
name, God]. Penyingkatan dari kata Al dan Ilah menjadi Allah, untuk menandai
sesuatu yang telah dikenal. Dalam perkembangannya, untuk mempermudah hamzat
yang berada diantara dua lam (huruf „LL‟), huruf „I‟ tidak diucapkan sehingga
berbunyi Allah dan menjadi suatu nama yang khusus dan tidak berakar[2].
Pandangan
Kristen: Kata Allah berasal dari Al dan Ilah. Akar kata ini terdapat dalam
semua bahasa semitis, yaitu dua konsonan alif dan lam serta ucapan yang lengkap
dengan huruf hidup adalah sesuai dengan phonetik masing-masing. George Fry dan
James R. King menyampaikan, “the name by which God is known to muslim, Allah is
generally thought to be the proper noun form of the Arabic word for God, Ilah.
Al, meaning The ini Arabic word. This word is related to the Hebrew from El and
Elohim.[3]
II.
Pembahasan
2.1. Pemilihan Nama
Ada sejumlah sebutan yang digunakan untuk
menggambarkan keilahian dalam Alkitab Ibrani sehingga, lagi-lagi ruang lingkup
pekerjaan ini membatasi dimasukkannya mereka semua. Daripada menerapkan
kriteria seleksi yang ketat untuk nama-nama yang akan dimasukkan, nama-nama
yang sering digunakan (seperti Tetragrammaton dan Elohim), nama-nama yang
memiliki latar belakang dan penggunaan yang menarik, dan nama-nama yang
memiliki fitur dalam berbagai jenis literatur (misalnya narasi dan puisi) telah
dipilih. Metode pemilihan ini telah digunakan untuk mendapatkan tampilan
keseluruhan dari nama-nama dalam teks.
Setelah nama-nama telah dipilih, metode
pendekatan untuk menganalisis penggunaannya adalah salah satu yang memperhitungkan
banyak pekerjaan akademis yang telah dilakukan pada latar belakang etimologis
untuk nama-nama, penggunaannya dalam konteks tertentu, dan karya eksegetis.
Meskipun karya ini dalam hal nama-nama yang digunakan dalam Alkitab Ibrani jauh
lebih besar daripada nama-nama yang digunakan dalam Perjanjian Baru dan
Al-Qur'an, ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengecualikannya. Penting
untuk ditekankan bahwa keseimbangan perlu ditekankan dengan perspektif teologi
komparatif; pemeriksaan nama-nama ini tidak murni etimologis atau semata-mata
berdasarkan makna dari akar kata Ibrani dari suatu istilah. Seperti yang
dikatakan James Barr dalam karyanya The
Semantic of Biblical Languange, makna suatu istilah lebih cair daripada
sejarahnya. Bahasa dan terminologi hanya dapat bekerja dalam pengaturan kalimat
semantik dan unit sastra yang lebih besar. Ini sangat penting ketika
menggunakan lensa teologi komparatif untuk melihat nama-nama sebagai konteks
iman orang yang menggunakan metodologi (dan, tentu saja, mereka yang membaca
hasilnya) diperhitungkan.
2.2. Tetragrammaton (יהוה)
2.2.1.
Makna dan Penggunaan
Tetragrammaton
muncul sebagai tempat yang paling mungkin untuk memulai pemeriksaan penunjukan
Allah dalam Alkitab Ibrani, karena itu adalah penunjukan yang paling sering
digunakan dalam teks. Tetragrammaton atau יהוה biasanya dipandang sebagai ‘nama
yang tepat’ untuk Allah Israel dan digunakan lebih dari 6000 kali dalam Alkitab
Ibrani, termasuk kutipan dalam ayat-ayat di mana istilah tersebut digunakan
lebih dari satu kali atau di mana ia digunakan dalam kombinasi dengan gelar Allah
yang lain seperti Elohim. Istilah ini berfungsi untuk membedakan TUHAN dari
para dewa bangsa lain. Pelafalan aslinya tidak pasti karena ini hilang dari
tradisi Yahudi beberapa kali di Abad Pertengahan tetapi pelafalan Yahweh telah
dipulihkan di zaman modern. Hal ini terutama disebabkan oleh kesimpulan dari
bentuk kontraknya dalam nama majemuk, seperti yang dikonfirmasikan oleh
kesaksian seperti Clement dari Alexandria ke terjemahannya sebagai Ιαουέ. Istilah
ini sering muncul sebagai ‘YHWH’ dalam bahasa yang menggunakan sistem huruf Romawi,
tetapi juga dapat muncul sebagai ό Κύριος atau ‘Aku adalah aku’, atau qui est.
Thomas Aquinas berpendapat bahwa qui est, terjemahan Vulgate dari istilah
tersebut, adalah nama ‘maxime proprium’ yang paling tepat untuk Tuhan. Demikian
pula, κυριε vokatif Yunani menemukan jalannya menjadi salah satu bagian dari
Misa Latin, tetapi berbagai infleksi dari kata dominus lebih umum digunakan.
Sifat ‘hibrid’ dari nama ilahi ini memberikan peringatan awal tentang kesulitan
yang harus dihadapi ketika melakukan terjemahannya.
2.2.2.
Arti Dari Nama
Arti
yang tepat atau, memang, definisi istilah itu tidak jelas dan berbagai
penjelasan yang telah disajikan terlalu banyak untuk dikutip di sini. Teks Kel.
3: 13-14 tidak dapat dianggap sebagai penjelasan:
Tetapi
Musa berkata kepada Allah, “Jika aku datang ke Israel dan berkata kepada
mereka, ‘Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu,’ dan mereka bertanya
kepadaku, ‘Siapa namanya?’ Apa yang akan ku katakan kepada mereka? “Tuhan
berkata kepada Musa,” AKU ADALAH AKU. “Dia berkata lebih jauh,” Karena itu kamu
akan berkata kepada orang Israel, ‘AKU telah mengutus Aku kepadamu.” (NRSV).
Teks
ini sangat sulit diterjemahkan karena orang Ibrani memiliki nama pada orang
pertama, אֶהְיֶה אֲשֶר אֶהְיֶה. LXX menerjemahkan nama sebagai (Aku adalah Aku)
dan Vulgate sebagai ego sum qui sum.
Paul
Haupt, dalam karyanya ‘Der Name Jahwe’
pada tahun 1909, adalah komentator pertama yang menyarankan bahwa formula itu
aslinya adalah orang ketiga dan membaca yhwh
aser yhwh. Kebanyakan cendekiawan modern akan menghubungkan tiga kata benda
dengan kata kerja hāwâ, bentuk kuno dari
kata kerja ‘to be’; mengaitkan ini dengan rentang semantik luas yang dapat
dilakukan oleh kata kerja, ada tingkat ambiguitas yang besar dengan terjemahan
istilah tersebut (mis. ‘menjadi’, ‘menjadi’, ‘menjadi’, ‘akan terjadi’, dan
sebagainya). William Albright bersikeras bahwa Nama ‘YHWH’ berasal dari kata
kerja kausatif, dari kata kerja ini dan artinya, ‘ia menyebabkan menjadi’.
Albright melihat bahwa nama ‘yang muncul sebagai nama tempat atau nama suku
dalam daftar permukiman di Palestina selatan atau timur dari abad ketiga belas
SM’, hanya dapat diturunkan dari batang verbal היה’ untuk jatuh, menjadi ada’.
Albright menyatakan bagaimana dia dan Freedman menyoroti bahwa nama itu adalah
sebuah fragmen dari nama yang lebih panjang yang diterjemahkan sebagai ‘dia
yang mewujudkan apa pun yang muncul’. Nama yang dijelaskan dengan demikian
mengidentifikasi YHWH dengan sangat jelas sebagai Pencipta.
Frank
Moore Cross memiliki variasi pada tesis Albright, ketika dia memikirkan ‘YHWH’
sebagai bagian dari judul liturgi EL, mis. YHWH Sabaoth, ‘El yang menjadi tuan
rumah. Di sisi lain, jika beberapa penjelasan yang mirip dengan terjemahan LXX
dan Vulgate diterima dan lebih banyak penekanan ditempatkan pada keberadaan,
maka nama menandakan bahwa YHWH adalah orang yang pasti ‘adalah’, atau
‘elohim’.
Penggunaan
sebutan ‘YHWH’ dalam Alkitab tidak menunjukkan pengakuan etimologi dari istilah
tersebut, dan tidak ada indikasi dalam Alkitab Ibrani tentang suatu teologi
yang dibangun di sekitar makna nama itu. Namun demikian, teori-teori tentang
etimologi dari istilah ‘YHWH’ ini menipu; bahkan jika makna asli dari nama itu
pasti diidentifikasi, masih belum ada jaminan bahwa orang Israel memahami nama
itu dengan benar.
2.2.3.
Dalam Konteks Perjanjian
‘Nama
itu bukan nama seperti Elohim, yang mengekspresikan Allah di sisi
keberadaan-Nya, sebagai kekuatan yang penting, berlipat ganda; itu adalah sebuah
kata yang mengungkapkan hubungan-Elohim dalam kaitannya dengan Israel adalah
Jahweh. Raymond Abba mengusulkan ide yang menarik sehubungan dengan pentingnya
nama ilahi dalam konteks perjanjian. Menurut Abba, nama itu mengungkapkan
hubungan perjanjian Allah dengan umat-Nya, Israel. Di dalam perjanjian, “nama”
adalah kesan dari kelanjutan hubungan karena penggunaan bentuk imperfect tense
mengekspresikan semacam stabilitas atau imovabilitas. Posisi abadi YHWH sangat
kontras dengan sifat tentatif dari bangsa Israel. Abba mengidentifikasi YHWH
sebagai Tuhan perjanjian tanpa saran, bukan panteisme. YHWH bekerja melalui
tatanan alam, mengungkapkan kekuatan dan kemuliaan, tetapi tidak pernah
diidentifikasi dengan itu. Karena YHWH adalah Pencipta, ia berbeda dan terpisah
dari tatanan alami ini. YHWH juga dianggap sebagai kehadiran yang efektif,
sebuah gagasan yang dikembangkan dengan pengetahuan yang terkandung dalam
sebutan ilahi (nama) suatu entitas yang bersifat pribadi dan dinamis.
Transendensi dan juga imanensi tersirat. YHWH berulang kali ‘mengunjungi’
orang-orang-Nya dalam penghakiman dan keselamatan.
2.2.4.
Nama Ilahi Sebagai Bentuk Pewahyuan Diri
Dalam teologi tentang nama Allah,
Pewahyuan nama YHWH ke Israel melalui Musa mewakili wahyu baru dan lebih
lengkap dari realitas pribadi YHWH. Ini tercermin dalam tradisi eksodus
(keluaran) di mana nama YHWH dikaitkan dengan asal mula perjanjian. Orang
Israel mengenal Tuhan dengan nama ini dan tidak ada kualifikasi atau definisi
lebih lanjut yang diperlukan. Pada saat ini, ia dinyatakan sebagai makhluk
ilahi, pribadi yang telah menyatakan diri kepada Israel, yang telah membuktikan
dirinya kepada Israel melalui tindakan penyelamatan eksodus, dan telah menjalin
hubungan perjanjian dengan orang-orang yang telah Ia ciptakan. Nama khas YHWH
menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang esensi dan tidak dapat dibagikan oleh
orang lain.
Dalam proposal Abba, gagasan yang penting
bahwa Tetragrammaton memiliki arti penting pewahyuan. Nama Tuhan terutama
berarti sifat dan karakternya yang diungkapkan. Allah umat Israel adalah yang
dikenal dengan siapa dia (sebagai Allah yang hidup) dan dengan apa yang dia
lakukan (dalam hal menciptakan, menyelamatkan, menebus, dan sebagainya). Bentuk
imperfect tense dari kata kerja היה (HWH) biasanya digunakan untuk
mengekspresikan suatu tindakan. Tindakan ini menggambarkan bagaimana YHWH hadir
dalam sejarah, memanifestasikan diri-Nya kepada umat manusia, dan khususnya
kepada umatnya, Israel. Melalui manifestasinya itulah YHWH menjadi dikenal,
dengan setiap penampilan, beberapa detail karakter dan rencananya terungkap.
Abba tidak berkutat pada pentingnya
‘memanggil’ nama Allah dan dengan demikian membuatnya hadir. Aspek nama ilahi
ini cukup kompleks dan patut dipertimbangkan secara terpisah karena memiliki
implikasi besar untuk tidak hanya pemahaman tradisi lisan di balik teks
tertulis tetapi juga bentuk akhir teks. Seperti ditunjukkan dalam karyanya Name und Wort Gottes im Alten Testament,
Oskar Grether menyoroti fakta bahwa kita hanya dapat menyebutkan apa yang kita
ketahui. Wahyu diri Allah dinyatakan dalam Tetragrammaton, dan Tetragrammaton
(YHWH) adalah nama Allah yang diwahyukan atau deus revelatus.
2.2.5.
Pengucapan Tetragrammaton (Yahweh)
Orang Yahudi yang taat tidak
mengucapkan Tetragramaaton karena nama itu dianggap terlalu Kudus/sakral untuk
digunakan, termasuk dalam doa dan melalui membaca teks-teks suci. Tidak ada
dalam Taurat untuk melarang mengatakan nama itu tetapi bahkan di zaman kuno,
selama masa Kuil Pertama di Yerusalem, nama itu hanya diucapkan setahun sekali
oleh imam besar di Yom Kippur. Ketika kuil hancur, nama itu tidak lagi
diucapkan.
Orang
Yahudi dan mereka yang ingin menunjukkan rasa hormat akan membaca nama YHWH
menjadi Adonai (‘tuanku’) atau ha shem
(secara harfiah Nama itu) seperti dalam teks Masoretik atau Alkitab Ibrani,
Tetragrammaton diarahkan dengan huruf vokal Adonai. Seorang Yahudi bahkan tidak
akan dengan santai menulis nama Tuhan, bukan karena itu dilarang tetapi karena,
dalam menuliskan nama, itu dapat menimbulkan pengucapan tidak sopan oleh orang
lain. Sehubungan dengan pandangan-pandangan ini, teks ini selalu menggunakan
formulir YHWH untuk nama Tuhan.
2.3. Adonai ( אֲדֹנָי ) Adon (אָדוֹן)
Makna dan Penggunaan
Terjemahan
untuk istilah Adonai bervariasi di antara berbagai versi Alkitab Ibrani.
Biasanya, istilah ini diterjemahkan sebagai Tuhan, tuan, atau pemilik. Secara
singkat, dalam pengertian etimologis, frasa ini sebenarnya cukup mudah untuk
diterjemahkan karena Ugarit dan berarti ‘tuan’ atau ‘ayah’ dan adannu Akkadian membawa arti yang sama,
‘perkasa’.
Kedua,
dalam Samuel 3:4, di mana putra Daud yang lahir dari Haggith dinamai Adonia
atau tuanku adalah YHWH ’), adalah contoh tertua yang dapat diberi tanggal
dengan keyakinan di mana Israel memanfaatkan gagasan Adonai. Dapat dipercaya
bahwa bangsa Israel telah menamai tuan mereka surgawi atau “manusia Adonai”
pada tahap sebelumnya - misalnya, Kejadian 42:10. Dalam beberapa contoh, raja
disebut Adonai dan, dalam Yer. 22:18 dan 34:5, “Aduhai tuan” muncul sebagai
ratapan atas raja yang sudah mati. Adonai juga biasanya merujuk pada laki-laki.
Sarah menggunakannya sehubungan dengan suaminya dalam Kejadian 18:12, Abraham
menggunakannya dalam berbicara kepada tiga pengunjung dalam Kejadian 19:2, dan
pelayannya sering memanggil tuannya dengan istilah ini dalam Kej 24. Istilah
ini digunakan untuk merujuk pada raja. Mesir, yang dipanggil dengan gelar ini
dalam Kejadian 40:1, dan dalam 42:10 di mana saudara-saudara Yusuf, yang tidak
mengetahui siapa dia, memanggilnya sebagai ‘tuanku’ dan menyebut diri mereka
sebagai ‘hamba-hambamu’ dalam hubungannya dengan dia. Rut menggunakannya untuk
merujuk pada Boas sebelum mereka menikah (Rut 2:13). Hannah berbicara kepada
imam Eli dengan istilah ini dalam 1 Sam. 1.15. Para pelayan Saul juga
memanggilnya dengan panggilan ‘tuanku’ (1 Sam. 16:16). Demikian juga, perwira
berpangkat lebih rendah dari raja, seperti Yoab, memiliki sebutan ini (2 Sam.
11:9). Dalam 1 Raj 16:24 ada interpretasi khusus ‘pemilik’ untuk Shemar, yang
adalah pemilik bukit Samaria. Nabi Elia memiliki gelar ‘tuan’ (1 Raj 18:7).
Namun
demikian, ada banyak bagian teks, terutama dalam kitab Mazmur, di mana
istilah-istilah ini, yang merupakan satu-satunya yang berlaku untuk laki-laki,
merujuk pada YHWH. Ulangan 10:17 dan Mzm. 136:3 keduanya menggunakan bentuk
tunggal dan jamak dalam konstruksi ‘Allah dari allah-allah’. Patut dicatat juga
bahwa beberapa nama pribadi terdiri dari konstituen - misalnya, Adoni-bezek
(Hak 1.5), Adoni-zedek (Yos. 10.1), Adonia (1 Raj. 1.8; 2 Taw. 17.8; Neh.
10.17) Adonikam (Ezra 2.13 ), dan Adoniram (1 Raj 4.6).
Ketika
Adonai dikutip dalam bentuk jamak yang khas, dengan akhiran pronominal singular
komorn yang pertama, biasanya mengacu pada YHWH. Sering muncul dalam bentuk ini
dalam Alkitab Ibrani, terutama dalam kitab Mazmur, kitab Ratapan, dan Nabi-Nabi
Akhir. Sama seperti Elohim, jamak dalam bahasa Ibrani, Adonai juga dapat dilihat
sebagai jamak intensif atau jamak, keagungan. Sufiks jarang diterjemahkan (mis.
Kej 18:3; Yes 21:8; Mzm. 16.2). Penggunaan istilah yang mengacu pada YHWH
sering sangat terkait dengan praktik keagamaan. Ini biasanya merupakan hasil
dari fakta bahwa itu digunakan oleh individu atau kelompok orang di Israel
untuk berbicara tentang YHWH sebagai pemimpin, sebagai tuan, atau untuk
menyebutnya sebagai ‘tuan’ yang setara dengan hamba duniawi (nyata atau fiksi)
– lembaga tuan. Berbeda dengan, misalnya, melek
atau raja, kata itu adalah ungkapan sederhana penghormatan yang seharusnya
digunakan oleh seorang pelayan dalam dialog dengan atasan mereka.
Penggunaan
Adonai juga muncul sebagai penunjukan ilahi yang primitif tetapi standar – misalnya,
dalam gelar formal ‘Tuhan YHWH’ dalam undang-undang ziarah (Kel 23:17 dan 34:23).
Hal ini juga terlihat dalam rumus הָאָדוֹן יְהוָה צְבָאוֹת (diterjemahkan
sebagai “Berdaulat, Tuhan semesta alam” dalam NRSV) yang digunakan beberapa
kali oleh Yesaya, yang mungkin berasal dari tradisi Yerusalem (Yes. 1:24; 3:1;
10:16, 33; 19:4). Itu juga digunakan oleh komunitas agama tetangga untuk
merujuk kepada dewa yang mereka rasa lebih penting. Israel (setidaknya dalam
pengertian terminologis) digambarkan sebagai ‘hamba’ YHWH, sejak karya
Deutero-Yesaya.
2.4. El (אֱלִ)
God
Makna dan Penggunaan
Pertanyaan
tentang hubungan antara penggunaan Alkitab tentang El dan konsep Semitik tentang El
telah mendapat banyak perhatian, terutama sejak ditemukannya teks-teks
Ugaritik, yang telah menetapkan fakta bahwa istilah El digunakan untuk merujuk pada dewa pribadi dan bukan hanya
sebagai istilah generik di dunia Semitik kuno. Ini juga merupakan nama yang
paling banyak didistribusikan di antara orang-orang yang berbahasa Semit untuk
dewa, yang muncul dalam beberapa bentuk dalam setiap bahasa Semit kecuali
Ethiopia. Marvin Pope, dalam studinya tentang istilah di Ugaritic, mencatat
bahwa itu adalah nama yang paling sering muncul untuk dewa dengan nama-nama
yang tepat di seluruh dunia Semitik kuno. Ini ditemukan di seluruh Alkitab
Ibrani, tetapi paling sering dalam kitab Ayub dan kitab Mazmur. Dalam kitab
Ayub, istilah ini diperlakukan oleh Ayub dan teman-temannya sebagai istilah
umum untuk Allah yang benar dan penggunaannya di sana, tidak seperti bagian
lain dari Alkitab Ibrani, jauh lebih banyak daripada kejadian Elohim. Istilah ini jarang muncul dalam
buku-buku sejarah dan tidak ditemukan dalam Imamat.
Etimologi
kata tersebut tidak jelas. Ini sering digabungkan dengan kata benda atau kata
sifat untuk mengekspresikan atribut atau fase tertentu dari YHWH - misalnya,
‘El ‘elyôn, El-Ro’i, dan sebagainya’. Seperti Elohim, El dapat digunakan untuk
merujuk pada ‘dewa alien’ (Ul. 32:12; Mal. 2:11) atau ‘dewa aneh’.
(Mzm.
44.21; 81.10). Itu juga dapat memiliki bentuk jamak – misalnya, ‘makhluk
surgawi’ dalam Kel. 15:11. Selain itu, El, bukan Elohim, digunakan ketika YHWH
dikontraskan dengan orang-orang, (Bil. 23.19; Yes. 31.3; Yeh. 28.9; Hos. 11.9;
Ayub 25.4).
Andrew
Davidson telah mengamati kecenderungan yang jelas dalam Alkitab untuk menemani
El dengan julukan. Memang, sebagaimana kata yang digunakan dalam teks-teks
alkitabiah dipelajari, harus disimpulkan bahwa kata itu biasanya
dikualifikasikan dengan kata-kata atau deskripsi yang lebih jauh
mendefinisikannya. Ini menuntun Davidson untuk menyimpulkan bahwa
kualifikasi-kualifikasi ini mengangkat konsep El dalam Alkitab dan membedakan
istilah yang digunakan secara Alkitabiah dari yang lain yang mungkin disebut
demikian. El sering digunakan untuk menunjukkan kebesaran atau superioritas
Allah atas semua allah lain seperti 'El besar' (Yer. 32.18; Mzm 77.13, 95.3);
‘El melakukan keajaiban’ (Mzm. 77.14); ‘Dewa para dewa’, (Dan. 11:36). Ada juga
sebutan yang berkaitan dengan posisi El: ‘El surga’ (Mzm. 136.26); ‘El yang di
atas’ (Ayub 31.28); ‘El paling tinggi’ (Kejadian 14.18-19, 20, 22; Mzm 78.35).
Sekali lagi, sebagai tindakan pencegahan terhadap kekeluargaan yang berlebihan
dengan Allah karena penggunaan istilah Semitik yang umum, Allah digambarkan
sebagai ‘El yang menyembunyikan dirinya sendiri’ (mis. Hanya diketahui melalui
wahyu sendiri, mis. Yes 45.15).
2.5. Elohim (אֱלִֹהים)
Makna
dan Penggunaan
Alkitab
Ibrani menggunakan tiga kata yang berhubungan dengan "Tuhan" - yaitu,
'el,' eloah, dan elohim (El, Elohah, dan Elohim). Secara umum, kata-kata
biasanya diterjemahkan sebagai 'Tuhan' dan biasanya dianggap memiliki makna
yang sama. Misalnya, dalam Pss. 29: 1 dan 89: 6 (89: 7 dalam bahasa Ibrani),
frasa ini secara harfiah diterjemahkan dari bahasa Ibrani sebagai 'anak-anak
para dewa'. Dalam terjemahan RSV dan NRSV itu adalah 'makhluk surgawi'; dalam
KJV, 'anak-anak yang perkasa'; dan di JPS, "makhluk ilahi '. Dalam Kel
34:14 istilah' allah lain 'digunakan. Mazmur 18:31,' Untuk siapakah Allah
selain YHWH? ' mirip dengan 2 Sam. 22:32. Keluaran 15:11 memiliki 'Siapa yang
seperti kamu, YHWH, di antara para dewa?' Mazmur 86: 8 mengungkapkan pemikiran
yang sama dalam 'Tidak ada yang sepertimu di antara para dewa, Tuhan.' Dalam Ul
32:17 dan 21, frasa 'tidak ada tuhan' ditemukan. Tidak ada aturan yang jelas
untuk penggunaan kata-kata ini dapat dikenali dalam Alkitab Ibrani, tetapi El
terutama muncul dalam teks-teks puitis dan kuno.
Dari
57 kejadian Elohah, 41 ditemukan dalam kitab Ayub, terutama dalam dialog di
mana Ayub dan rekan-rekannya, yang bukan orang Israel dan karena itu tidak
mengenal Tuhan Israel, secara eksklusif menggunakan sebutan untuk Tuhan selain
YHWH. Bentuk Elohim muncul kira-kira 2570 kali dalam Alkitab Ibrani, dengan
makna jamak (dewa) dan tunggal (dewa), 'Tuhan'). Secara tata bahasa, bentuk אלהים
berisi akhiran jamak - im. Fungsi Elohim sebagai jamak sejati ('dewa')
tercermin dalam beberapa teks Alkitab (mis. Kel 12:12, 'semua dewa Mesir).
Freedman berkomentar tentang bagaimana, sampai abad kesepuluh, istilah ini
digunakan sebagai jamak untuk 'para dewa' dan dari pertengahan abad ke 10 dan
seterusnya 'penggunaan utamanya adalah sebagai sebutan bagi Tuhan. Dalam fungsi
ini, Elohim dapat didahului dengan artikel yang pasti ('para dewa', mis. Kel
18:11). Dalam bahasa Ibrani, Elohim dapat disertai dengan kata sifat jamak -
misalnya, frasa 'allah-allah lain' sangat sering muncul dalam Ulangan. Ini juga
dapat digunakan dengan bentuk verbal jamak - misalnya, Ps. 97: 7: “semuanya di
hadapannya ”.
Salah
satu ciri yang lebih menonjol dari Alkitab Ibrani adalah penggunaan bentuk
jamak ini untuk menunjuk satu-satunya Allah Israel yang sejati. Ada gagasan
prinsip dengan karakteristik ini. Pengkritik seperti Bernhard Anderson
memandang ini sebagai jamak keagungan atau pluralis amplitudinis sebagai setara
dengan 'dewa' atau 'dewa baptis' karena Elohim mencakup semua dewa; kepenuhan
keilahian dipahami dalam dirinya. ‘Jamak keagungan ini, menurut Anderson, tidak
pertama kali muncul dalam tradisi Israel karena identifikasi Elohim dengan YHWH
atau perkembangan bertahap dari pemikiran politeistis nenek moyang Israel ke
monoteisme. Sebaliknya, ini adalah ungkapan kuno pra-Israel, yang digunakan di
Babilonia dan Kanaan bahkan dengan kata kerja tunggal. Anderson memberikan
contoh bagaimana orang Akkadia menggunakan kata jamak dewa ilanu sebagai
penghormatan kepada dewa tertentu, seperti dewa bulan Sin, untuk
mengekspresikan pandangan penyembah bahwa ia adalah Tuhan tertinggi atau
terhebat, yang di dalamnya seluruh Pantheon diwakili. Walther Eichrodt
menggunakan contoh yang sama ini untuk menunjukkan bagaimana penggunaan Elohim
bukanlah hasil dari proses yang lambat atau penyatuan bertahap dewa-dewa lokal
di mana politeisme akhirnya diatasi.
Sebaliknya, Rose lebih fokus pada aspek
terakhir yang dieksplorasi oleh Anderson. Dia melihat 'jamak keagungan' sebagai
'intensifikasi dan akhirnya sebagai absolutisasi'. Dalam pengertian ini YHWH
adalah 'Dewa para dewa', "Dewa tertinggi 'saripati dari semua kekuatan
ilahi', 'satu-satunya Allah yang mewakili ilahi secara komprehensif dan absolut.
Dalam pengertian ini, Rose melihat istilah Elohim sebagai mewakili suatu
penggantian untuk nama YHWH seperti yang ditunjukkan dalam sumber Priestly dari
Kej. 1.1: 'Pada mulanya elohim menciptakan langit dan bumi.' Dalam pengertian
ini, istilah Elohim digunakan secara sistematis daripada nama ilahi YHWH dalam
satu bagian dari Mazmur (Mazmur 42-83), oleh karena itu, seperti yang
ditunjukkan Rose, ia dikenal sebagai Mazmur Elohistik.
2.5.1.
Studi Etimologi
Tidak ada penjelasan etimologis
yang diterima secara umum tentang arti dari istilah Elohim. Mayoritas
cendekiawan menghubungkan istilah ini dengan, yang berarti ‘kekuatan’ atau
‘kekuatan’, dan kemungkinan bahwa kekuasaan adalah sifat dasar dan esensial
dari dewa di dunia semitik kuno. Bahkan jika ini adalah penjelasan yang paling
kredibel, ‘kekuatan’ tidak tercermin dalam penggunaan istilah tersebut dalam
bahasa Ibrani. Bahasa Ibrani menunjukkan beberapa penggunaan kata sifat dari
istilah Elohim di mana seseorang atau sesuatu dikatakan identik dengan, atau milik,
Elohim. Anggapan ini meninggikan entitas yang ditunjuk lebih tinggi dari
tingkat normal manusia dan menempatkannya pada tingkat yang hampir ‘manusia
super’ karena dalam beberapa hal, seperti dalam kekuatan atau ukurannya, ia
melampaui apa yang dianggap sebagai normal. Menurut McKenzie, dengan bahasa
Semit kuno tidak ada pembagian para dewa dari makhluk ‘manusia super’ lainnya,
dengan cara ini dalam Alkitab ketika YHWH disebut Elohim, ia dibesarkan di atas
bahkan dunia ‘manusia super’ ini ke tingkat yang termasuk ke dalamnya. Singkatnya,
Elohim sebagai sebutan YHWH mencirikannya sebagai Tuhan yang absolut.
Penggunaan Elohim ini terbatas pada bagian-bagian tertentu dari Alkitab Ibrani,
terutama Pentateuch Elohist dan sumber-sumber Imam, dan bagian Elohistik dari
kitab Mazmur. Di satu sisi, Elohim digunakan secara konseptual sebagai
pengganti nama Tuhan (YHWH). Di sisi lain, klasifikasi ini sependapat dengan
konsep monoteheistik bahwa hanya ketika ada satu Tuhan dan ketika ia diakui
sebagai satu-satunya Tuhan yang penting untuk mewakili Tuhan khusus ini sebagai
Tuhan yang absolut, Elohim.
2.6. Shaddai (Almighty) (שַׄדּי)
Makna dan Penggunaan
Menurut
sumber Elohist dan Imamat, nama ilahi YHWH tidak dikenal sebelum Musa dan
Shaddai adalah nama yang olehnya para patriark memohon kepada Tuhan dalam
sumber Imamat. Sebagai sebutan ilahi, Shaddai digunakan kira-kira 48 kali dalam
Alkitab Ibrani. Dalam beberapa versi itu tidak diterjemahkan dan hanya
ditransliterasi, tetapi dalam KJV, itu diterjemahkan sebagai ‘Yang Mahakuasa’,
sebuah terjemahan yang telah digunakan dalam sebagian besar terjemahan modern.
Itu muncul paling sering dalam literatur patriarkal, kitab Ayub khususnya, di
mana ia digunakan oleh mayoritas karakter dalam Alkitab Ibrani: Kej 17: 1; 28:
3; 35:11; 43:14; Kel. 6: 3, dan Yeh. 10:5.
Terjemahan
Mahakuasa ‘kembali setidaknya ke LXX, yang menerjemahkan istilah dalam sekitar
sepertiga dari kasus (dan di luar Taurat) sebagai παντοκράτωρ, yang berarti' maha
kuasa”, atau “untuk menakut-nakuti”, menandakan Allah yang dimanifestasikan
oleh rasa takut akan tindakannya yang perkasa. “Dewa Badai”, dari bahasa Ibrani
‘untuk dicurahkan’, telah disarankan, tetapi tidak mungkin. “Penggunaannya di
masa patriarkal menyoroti perkembangan konsepsi Semit yang kendur dengan ide
monoteistik yang ketat dari maha kuasa, dan setuju dengan gagasan awal dewa
sebagai Tuhan yang takut, atau bahkan kagum. Sifat monoteistiknya sesuai dengan
penggunaannya pada zaman Abraham dan ini tercermin dalam terjemahannya di
Vulgata, omnipotens. Baru-baru ini,
semua proposal sebelumnya telah dibuang dan proposal yang baru telah
menggantikannya. Salah satu ide yang lebih dapat diterima adalah bahwa frasa
tersebut harus dikaitkan dengan kata kerja Pi’el Ibrani ‘menghancurkan’,
akibatnya 'perusak saya'. Pilihan lain yang mungkin paling banyak diterima di
zaman modern adalah Shaddai harus dihubungkan dengan kata Akkadian šadu atau
'gunung'. Karenanya, El Shaddai akan diterjemahkan menjadi sesuatu yang mirip
dengan ‘Dewa / El gunung’, atau rumah atau bangunan Tuhan. Akhir -ay harus dihargai sebagai akhiran kata
sifat (dan akibatnya terjemahan 'dari ...')
Sebagai
El Shaddai, YHWH memanifestasikan dirinya kepada para leluhur (Kel. 6.3),
khususnya kepada Abraham dalam Kej 17: 1; untuk Ishak dalam Kej 28: 3; dan
kepada Yakub dalam Kejadian 35:11; 43:14; 48: 3. Konteks untuk sebagian besar
referensi ini dalam perjanjian - lebih tepatnya, permintaan untuk kepatuhan dan
bagian dari orang-orang terhadap Tuhan mereka. Patut dicatat bahwa orang-orang
beriman tidak memandang ke arah fenomena alam (bukit-bukit) untuk kepastian
tetapi kepada Allah yang melakukan bukit-bukit ini, El dari gunung (Mzm 121:
1-2).
Moore
Cross mengamati bahwa peruntukannya ‘tidak secara pasti ditetapkan dalam
aetiologi kultus tetapi menyoroti Kej 48: 3 sebagai contoh tentang bagaimana
sumber Imam melampirkan nama itu ke Betel. Albright telah menunjukkan bahwa
nama itu berasal dari akar Mesopotamia utara dan datang ke Kanaan dengan nenek
moyang orang Israel sebagai dewa keluarga patriarki. Dia menerjemahkan istilah
itu sebagai ‘pendaki gunung’.
Bernhard Anderson menerjemahkan istilah itu
sebagai ‘The Mountain One’, atau dewa yang ditinggikan yang hidup di gunung.
Dia menunjukkan poin kesamaan antara Shaddai dan dewa Kanaan El, tetapi
mencatat bahwa perbedaan teologis dalam sifat Allah Israel dan hubungan
perjanjian membutuhkan tanggapan yang berbeda secara fundamental dalam ibadah
dan moralitas. Roland De Vaux menunjuk pada peningkatan kualitas pemujaan YHWH
di situs-situs kultus yang secara resmi digunakan untuk penyembahan El dan
menyoroti bagaimana karakteristik dewa El akan dipindahkan ke Shaddai - yaitu,
bahwa ia adalah 'satu-satunya Tuhan, penulis dan penjamin dari janji yang
dibuat untuk ras mereka.
III.
Penyebutan dan Konsep Al-Asma’ul Husna
(Nama-Nama Allah) Dalam Agama Islam
(Al’Quran)

3.1. Konsep Al-Asmā' al-Ḥusnā dalam
Q.S. AL-Ḥasyr Ayat 22
3.1.1.
Pengertian Asmā' al-Husnā dan Bilangannya
Asmā’
al-Ḥusnā (al- Asmā’ al- Ḥusnā) secara bahasa terdiri dari dua suku kata
‘al-asmā’ dan ‘al-husna’. Kata ‘asmā’ merupakan bentuk jamak dari mufrod (tunggal)
‘ism’ yang berarti ‘nama diri’ atau lafẓun
yu’ayyinu syakhṣan au ḥayawānan au syaian (nama diri seseorang, binatang,
atau sesuatu)[4] ,
sedangkan ‘al-husna’ berarti yang paling bagus, baik, cantik, jadi secara
bahasa ‘Asmā’ al-Husnā’ berarti ‘nama-nama yang terbaik’. Namun secara
langsung, Atabik Ali dan Zuhdi Muhdlor dalam Kamus Kontemporer Arab Indonesia mengartikan ‘al- Asmā’ al-Ḥusnā’
dengan ‘nama-nama Allah yang berjumlah 99’.[5]
Istilah ini diambil dari beberapa ayat al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah
mempunyai berbagai nama yang terbaik, melalui nama itu, umat Islam bisa
mengetahui keagungan Allah dan menyeru dengan nama-nama tersebut ketika berdoa
atau mengharap kepada-Nya.[6]
Selain
itu, kata ‘al-ḥusnā menunjukkan bahwa nama-nama yang disandang Allah
menunjukkan sifat-sifat yang amat sempurna dan tidak sedikitpun tercemar dengan
kekurangan. Sebagai contoh, bagi manusia kekuatan diperoleh melalui sesuatu
yang bersifat materi seperti otot-otot yang berfungsi dengan baik, dengan kata
lain manusia membutuhkan hal tersebut untuk memiliki kekuatan. Namun kebutuhan
tersebut tidak mungkin sesuai dengan kebesaran Allah, sehingga sifat kuat bagi
Allah hanya dapat dipahami dengan menyingkirkan segala hal yang mengandung
makna kekurangan dan kebutuhan.[7]
Sehingga
dari penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa al-Asmā’ al-Ḥusnā adalah
sebutan untuk sembilan puluh sembilan nama Allah yang menunjukkan
sifat-sifat-Nya yang terbaik yang menunjukkan pada kesempurnaan terhindar dari
kekurangan apapun.
Bekenaan
dengan jumlah bilangan al-Asmā’ al-Ḥusnā, para ulama yang merujuk kepada
al-Qur’an mempunyai hitungan yang berbeda-beda. Sebagaimana dijelaskan M.
Quraish Shihab bahwa At-Thabathabai dalam tafsirnya “Al-Mīzān” menyatakan bahwa jumlah al- Asmā’ al-Ḥusnā sebanyak
seratus dua puluh tujuh. Kemudian Ibnu Barjam al-Andalusi dalam karyanya “Syareh Al-Asmā' Al-Husnā” menghimpun
132 nama populer yang termasuk dalam al- Asmā’ al-Husnā. Al-Qurthubi dalam
tafsirnya mengemukakan bahwa ia menghimpun dalam bukunya “Al-Kitab Al-Asna fi
Syareh Al-Asmā’ Al-Husnā” hingga mencapai lebih dari dua ratus nama baik yang
disepakati, diperselisihkan dan yang bersumber dari ulama sebelumnya[8]
. Adapun Riwayat yang populer menyebutkan bahwa bilangan Asmā' al-Ḥusnā adalah
sembilan puluh sembilan. Salah satu riwayat itu berbunyi:
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin
Rafi‟ telah menceritakan kepada kami Abdur Razaq telah menceritakan kepada kami
Ma‟mar dari Ayub dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah ra. Dan dari Hammam bin
Munabbih, dari Rasulullah SAW, beliau bersabdah: “Sesungguhnya Allah mempunyai
sembilan puluh sembilan nama, seratus kecuali satu. Barang siapa saja
menghitungnya (aḥṣāhā 8 ) niscaya masuk surga”.[9]
3.1.2.
Sembilan Puluh Sembilan (99) Nama-Nama Dari
Asmā’al Ḥusnā
Ustadz
Rachmat Ramadhana al-Banjari dalam bukunya “Semua
Hajatmu Bisa Mustajab: Super Cespleng Doa-Doa Khusus Asmā‟ alHusnā”,
menyebutkan sembilan puluh sembilan nama-nama dari Asmā‟ alḤusnā itu secara
berurutan lengkap dengan artinya sebagai berikut: [10]
Al-Asmā’ al-Husnā dan Artinya
|
No.
|
Nama
|
Arab
|
Indonesia
|
Inggris
|
|
|
الله
|
Allah
|
Allah
|
|
|
1
|
الرحمن
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemurah
|
The All Beneficent
|
|
|
2
|
الرحيم
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Penyayang
|
The Most Merciful
|
|
|
3
|
الملك
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Merajai/Memerintah
|
The King, The Sovereign
|
|
|
4
|
القدوس
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Suci
|
The Most Holy
|
|
|
5
|
السلام
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Kesejahteraan
|
Peace and Blessing
|
|
|
6
|
المؤمن
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Keamanan
|
The Guarantor
|
|
|
7
|
المهيمن
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemelihara
|
The Guardian, the Preserver
|
|
|
8
|
العزيز
|
Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
|
The Almighty, the Self Sufficient
|
|
|
9
|
الجبار
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Perkasa
|
The Powerful, the Irresistible
|
|
|
10
|
المتكبر
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Megah, Yang Memiliki
Kebesaran
|
The Tremendous
|
|
|
11
|
الخالق
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Pencipta
|
The Creator
|
|
|
12
|
البارئ
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Melepaskan (Membuat,
Membentuk, Menyeimbangkan)
|
The Maker
|
|
|
13
|
المصور
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Membentuk Rupa
(makhluknya)
|
The Fashioner of Forms
|
|
|
14
|
الغفار
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Pengampun
|
The Ever Forgiving
|
|
|
15
|
القهار
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Memaksa
|
The All Compelling Subduer
|
|
|
16
|
الوهاب
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemberi Karunia
|
The Bestower
|
|
|
17
|
الرزاق
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemberi Rejeki
|
The Ever Providing
|
|
|
18
|
الفتاح
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Pembuka Rahmat
|
The Opener, the Victory Giver
|
|
|
19
|
العليم
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Mengetahui (Memiliki
Ilmu)
|
The All Knowing, the Omniscient
|
|
|
20
|
القابض
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menyempitkan
(makhluknya)
|
The Restrainer, the Straightener
|
|
|
21
|
الباسط
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Melapangkan
(makhluknya)
|
The Expander, the Munificent
|
|
|
22
|
الخافض
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Merendahkan
(makhluknya)
|
The Abaser
|
|
|
23
|
الرافع
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Meninggikan
(makhluknya)
|
The Exalter
|
|
|
24
|
المعز
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Memuliakan
(makhluknya)
|
The Giver of Honor
|
|
|
25
|
المذل
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menghinakan
(makhluknya)
|
The Giver of Dishonor
|
|
|
26
|
السميع
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mendengar
|
The All Hearing
|
|
|
27
|
البصير
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Melihat
|
The All Seeing
|
|
|
28
|
الحكم
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menetapkan
|
The Judge, the Arbitrator
|
|
|
29
|
العدل
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Adil
|
The Utterly Just
|
|
|
30
|
اللطيف
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Lembut
|
The Subtly Kind
|
|
|
31
|
الخبير
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengetahui Rahasia
|
The All Aware
|
|
|
32
|
الحليم
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyantun
|
The Forbearing, the Indulgent
|
|
|
33
|
العظيم
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Agung
|
The Magnificent, the Infinite
|
|
|
34
|
الغفور
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pengampun
|
The All Forgiving
|
|
|
35
|
الشكور
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pembalas Budi
(Menghargai)
|
The Grateful
|
|
|
36
|
العلى
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tinggi
|
The Sublimely Exalted
|
|
|
37
|
الكبير
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Besar
|
The Great
|
|
|
38
|
الحفيظ
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menjaga
|
The Preserver
|
|
|
39
|
المقيت
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemberi Kecukupan
|
The Nourisher
|
|
|
40
|
الحسيب
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Membuat Perhitungan
|
The Reckoner
|
|
|
41
|
الجليل
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia
|
The Majestic
|
|
|
42
|
الكريم
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemurah
|
The Bountiful, the Generous
|
|
|
43
|
الرقيب
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengawasi
|
The Watchful
|
|
|
44
|
المجيب
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengabulkan
|
The Responsive, the Answerer
|
|
|
45
|
الواسع
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Luas
|
The Vast, the All Encompassing
|
|
|
46
|
الحكيم
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maka Bijaksana
|
The Wise
|
|
|
47
|
الودود
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pencinta
|
The Loving, the Kind One
|
|
|
48
|
المجيد
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia
|
The All Glorious
|
|
|
49
|
الباعث
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Membangkitkan
|
The Raiser of the Dead
|
|
|
50
|
الشهيد
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menyaksikan
|
The Witness
|
|
|
51
|
الحق
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Benar
|
The Truth, the Real
|
|
|
52
|
الوكيل
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memelihara
|
The Trustee, the Dependable
|
|
|
53
|
القوى
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kuat
|
The Strong
|
|
|
54
|
المتين
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kokoh
|
The Firm, the Steadfast
|
|
|
55
|
الولى
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Melindungi
|
The Protecting Friend, Patron, and Helper
|
|
|
56
|
الحميد
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Terpuji
|
The All Praiseworthy
|
|
|
57
|
المحصى
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengkalkulasi
|
The Accounter, the Numberer of All
|
|
|
58
|
المبدئ
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memulai
|
The Producer, Originator, and Initiator of all
|
|
|
59
|
المعيد
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengembalikan
Kehidupan
|
The Reinstater Who Brings Back All
|
|
|
60
|
المحيى
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menghidupkan
|
The Giver of Life
|
|
|
61
|
المميت
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mematikan
|
The Bringer of Death, the Destroyer
|
|
|
62
|
الحي
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Hidup
|
The Ever Living
|
|
|
63
|
القيوم
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mandiri
|
The Self Subsisting Sustainer of All
|
|
|
64
|
الواجد
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penemu
|
The Perceiver, the Finder, the Unfailing
|
|
|
65
|
الماجد
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia
|
The Illustrious, the Magnificent
|
|
|
66
|
الواحد
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tunggal
|
The One, The Unique, Manifestation of Unity
|
|
|
67
|
الاحد
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Esa
|
The One, the All Inclusive, the Indivisible
|
|
|
68
|
الصمد
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Dibutuhkan, Tempat
Meminta
|
The Self Sufficient, the Impregnable, the Eternally
Besought of All, the Everlasting
|
|
|
69
|
القادر
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menentukan, Maha
Menyeimbangkan
|
The All Able
|
|
|
70
|
المقتدر
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Berkuasa
|
The All Determiner, the Dominant
|
|
|
71
|
المقدم
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mendahulukan
|
The Expediter, He who brings forward
|
|
|
72
|
المؤخر
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengakhirkan
|
The Delayer, He who puts far away
|
|
|
73
|
الأول
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Awal
|
The First
|
|
|
74
|
الأخر
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Akhir
|
The Last
|
|
|
75
|
الظاهر
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Nyata
|
The Manifest; the All Victorious
|
|
|
76
|
الباطن
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Ghaib
|
The Hidden; the All Encompassing
|
|
|
77
|
الوالي
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memerintah
|
The Patron
|
|
|
78
|
المتعالي
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tinggi
|
The Self Exalted
|
|
|
79
|
البر
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penderma
|
The Most Kind and Righteous
|
|
|
80
|
التواب
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penerima Tobat
|
The Ever Returning, Ever Relenting
|
|
|
81
|
المنتقم
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyiksa
|
The Avenger
|
|
|
82
|
العفو
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemaaf
|
The Pardoner, the Effacer of Sins
|
|
|
83
|
الرؤوف
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pengasih
|
The Compassionate, the All Pitying
|
|
|
84
|
مالك الملك
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Penguasa Kerajaan
(Semesta)
|
The Owner of All Sovereignty
|
|
|
85
|
ذو الجلال و الإكرام
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemilik Kebesaran dan
Kemuliaan
|
The Lord of Majesty and Generosity
|
|
|
86
|
المقسط
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Adil
|
The Equitable, the Requiter
|
|
|
87
|
الجامع
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengumpulkan
|
The Gatherer, the Unifier
|
|
|
88
|
الغنى
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Berkecukupan
|
The All Rich, the Independent
|
|
|
89
|
المغنى
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Kekayaan
|
The Enricher, the Emancipator
|
|
|
90
|
المانع
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mencegah
|
The Withholder, the Shielder, the Defender
|
|
|
91
|
الضار
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Derita
|
The Distressor, the Harmer
|
|
|
92
|
النافع
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Manfaat
|
The Propitious, the Benefactor
|
|
|
93
|
النور
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Bercahaya
(Menerangi, Memberi Cahaya)
|
The Light
|
|
|
94
|
الهادئ
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemberi Petunjuk
|
The Guide
|
|
|
95
|
البديع
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pencipta
|
Incomparable, the Originator
|
|
|
96
|
الباقي
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kekal
|
The Ever Enduring and Immutable
|
|
|
97
|
الوارث
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pewaris
|
The Heir, the Inheritor of All
|
|
|
98
|
الرشيد
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pandai
|
The Guide, Infallible Teacher, and Knower
|
|
|
99
|
الصبور
|
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Sabar
|
The Patient, the Timeless
|
IV.
Implikasi Penyebutan Allah Dalam Alkitab
Ibrani Diperhadapkan Dengan Penyebutan Nama Allah Dalam Agama Islam (Al-Quran)
Bagi Kehidupan Masa Kini
4.1. Arti kata “Allah”
Perkataan
“Allah dapat diartikan oleh Thabari dengan ya’lahuhu kullu syai wa ya‘buduhu
kullu khaliq, Zat yang dituhankan oleh segala sesuatu dan disembah oleh
setiap makhluk.[11] Menurut
al-Ghazali pemikir Islam beraliran Sunni, Allah adalah nama untuk zat yang ada
dalam arti yang sebenarnya yang memiliki seluruh sifat-sifat Ilahiyah,
dan berperilaku dengan perilaku Rubūbiyah, yang khas dengan wujud
hakiki. Semua yang wujud/ada selain-Nya tidak layak untuk dinyatakan sebagai
wujud secara zat-Nya.[12]
Menurut Zamakhsari yang beraliran Muktazilah, Allah adalah Tuhan yang disembah
secara benar.[13] Menurut
Said haji Ibrahim pemikir Islam Malaysia, Allah ialah lafaz Jalalah atau
lafaz yang Maha Besar dan Maha Agung. Yaitu nama Zat Ilahi yang Maha Suci lagi
Maha Mulia yang wajib ada selama-lamanya dan yang berhak memiliki alam ini, dan
juga yang layak menerima pujian dan sanjungan.[14]
Dari beberapa definisi ini semua
sepakat bahwa kata “Allah” adalah lafaz jalalah atau lafaz yang Maha Besar dan
Maha Agung. Yaitu nama Zat Ilahi yang layak disembah. Namun apakah kata “Allah”
itu berasal dari Bahasa Arab atau bukan?
4.2. Kata “Allah” Bukan Berasal Dari Bahasa Arab
Berdasarkan Al-Quran bahwa perkataan “Allah”
bukan berasal dari bahasa asli kitab suci Al-Quran. Dalam perkataan lain, kata
“Allah” telah dikenal oleh kaum Quraisy sebelum Al-Quran diturunkan. Mereka
menyebutkan tuhan-tuhan mereka dengan sebutan Ālihah. Atau kata Allah berasal
dari bahasa asing yaitu Alohim. Pendapat ini ditemukan di dalam Lisan al-Arab,
tepatnya dalam hadis yang diriwayatkan oleh Wuhaib ibn al-Ward.[15]
Dari sejarah kita dapat melihat bahwa ‘Allah’
di kalangan bangsa dan bahasa Arab tidak lain menunjuk pada ‘El’ Semit’ yang
sama, ini dijelaskan dalam buku-buku teologi Kristen maupun Ensiklopedia Islam
bahwa setidaknya bangsa Arab mewarisi tiga jalur nenek moyang yang semuanya
mengenal ‘El Abraham’ yaitu sebagai keturunan Sem, Yoktan (keturunan Eber), dan
Adnan (keturunan Ismael anak Abraham).
Bila penulis teliti kajian ini berdasarkan
pada penelusuran kata “Allah” di dalam kitab suci, maka akan ditemukan sebagai
berikut: Perkataan “Allah” dalam Al-Quran diulang sebanyak dua ribu enam ratus
sembilan puluh tujuh (2.697) kali.[16]
Di dalam Alkitab versi Indonesia, perkataan “Allah” terdapat sebanyak tiga ribu
tujuh ratus tujuh puluh tujuh (3.777) ayat. Dua ribu empat ratus empat puluh
dua (2.442) terdapat di Perjanjian Lama (PL) dan seribu tiga ratus tiga puluh
lima (1.335) ayat di dalam Perjanjian Baru (PB).[17]
Perkataan “Allah” juga digunakan dalam Alkitab versi Bahasa Arab,[18]
tetapi untuk bahasa Inggris digunakan perkataan “God”.[19]
Berdasarkan pada Al-Quran, sejarah dan
Alkitab (PL+PB) disimpulkan bahwa kata “Allah” bukan berasal dari bahasa Arab,
tapi berasal dari bahasa asing yang diubah menjadi bahasa Arab, hingga akhirnya
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan bahasa al-Quran yang Arab. Di sisi
lain, bahwa Alkitab Kristen baik Perjanjian Lama atau pun Perjanjian Baru telah
mengenal nama Allah untuk sebagai nama dari Tuhan yang disembah. Contohnya
dalam Alkitab Kristen Perjanjian Lama dituliskan kata Allah secara nyata: “Pada
mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan
kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang
di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang
itu jadi.”[20]
Dari penjelasan di atas, kami lebih cenderung
pada pendapat bahwa kata “Allah” bukan berasal dari bahasa Arab, tapi berasal
dari bahasa asing yang diubah menjadi bahasa Arab. Ini beranjak dari pernyataan
Al-Quran sendiri bahwa para nabi menyebutkan Tuhan yang mereka sembah adalah Tuhan
yang bernama “Allah”. Diketahui bersama bahwa hampir seluruh nabi diutus Allah
kepada kaum Bani Israel yang menggunakan bahasa Ibrani dan kemudian Suryani,
atau bukan menggunakan bahasa Arab. Kemudian saat Nabi Muhammad diutus, kaum
kafir Quraisy telah mengenal Allah sebagai Tuhan dari segala tuhan berhala yang
mereka sembah. Hal ini ditegaskan kaum kafir Mekkah saat ditanya alasan
penyembahan tuhan berhala, yang dijawab mereka untuk mendekatkan kepada Allah.[21]
4.3. Kata
“Allah” Itu Berupa Kata Serapan Bukan Nama
Apakah kata “Allah” itu berupa nama atau
serapan? Tidak jauh berbeda dengan permasalahan pertama, pada permasalahan
kedua ini juga terdapat dua pendapat besar. Pertama, menurut al-Razi[22]
dan al-Ghazali[23] bahwa
lafaz “Allah” adalah nama Allah Swt yang tidak memiliki perkataan kata
terbitan. Sementara pendapat kedua yang dianut oleh al-Zamakhsari,[24]
Ibn al-Qayyim[25] dan Ibn
Manzur[26]
bahwa perkataan “Allah” berasal dari perkataan al-Ilah, dihapuskan
hamzah dan diganti dengan alif lam ta‘rif. Alif dan lam yang
dimasukkan pada perkataan Ilah berfungsi menunjukkan bahwa perkataan
yang dimasukkan itu (perkataan Ilah) merupakan sesuatu yang telah
dikenal dalam benak. Kedua-dua huruf tambahan itu menjadikan kata yang diletak
menjadi makrifat. Selanjutnya dengan alasan mempermudah, hamzah yang berada
antara dua lam yang dibaca (i) pada kata Al-Ilah tidak dibaca
lagi sehingga berbunyi “Allah”.
Menurut aliran yang berpendapat “Allah
memiliki kata terbitan,” maka perkataan itu dapat diartikan ke dalam bahasa
dunia. Dalam bahasa Indonesia dan Malaysia, kedua-duanya (Allah dan Ilah) dapat
diterjemahkan dengan tuhan, tetapi cara penulisannya dibedakan. Sifat am (Ilah)
ditulis dengan huruf kecil “tuhan”, dan yang bermakna khusus (Allah) ditulis
dengan huruf besar “Tuhan.” Sebagaimana dalam bahasa Inggris menjadi “God” dan
“god”. Menurut pendapat bahwa “Allah nama yang tidak memiliki kata terbitan,”
maka ia tidak dapat diartikan, ia tetap menjadi “Allah”.
Berdasarkan pada pendapat bahwa perkataan
“Allah” untuk menunjukkan nama “Tuhan”, maka ditemukan Alkitab Kristian versi
bahasa Indonesia dan Arab tetap menggunakan perkataan “Allah”, sedangkan
Alkitab versi bahasa Inggris menggunakan perkataan “God” sebagai ganti dari
perkataan “Allah”. Sedangkan terjemahan makna al-Quran versi bahasa Indonesia
dan Malaysia serta Inggris sampai saat ini masih tetap menggunakan perkataan
“Allah” bukan “Tuhan” atau “God”. Kami lebih sependapat dengan pernyataan bahwa
“Allah” nama yang tidak memiliki kata terbitan, dengan tidak menutup pemahaman
untuk lebih mengetahui kata terbitan darinya sebagai khazanah yang dapat
memperkaya keilmuan dan meneguhkan keimanan.
Menurut kamus Ibn Manzur dan Ibn Faris, di
antara makna dari perkataan “Ilah” yang darinya terbentuk perkataan
“Allah”, berakar dari perkataan al-Ilah yang bermakna (1) Ma‘bud/Yang
Disembah,[27]
(2) berakar dari perkataan al-Ilahwilah yang bermakna mengharap. Yuwalluhuna
ilahi artinya merintih dan mengharap kepada-Nya. (3) berakar dari
perkataan al-Ilah yang bermakna ibadah atau penyembahan.[28]
Bahwa perkataan tersebut berakar daripada perkataan “alaha” dalam arti
mengherankan atau “menakjubkan” karena segala perbuatan/ciptaan-Nya menakjubkan
atau kerana bila dibahaskan hakikatnya akan mengherankan akibat ketidaktahuan
makhluk tentang hakikat Zat Yang Maha Agung itu; atau perkataan “Allah”
terambil daripada akar perkataan “aliha ya’lahu” yang berarti “tenang”,
karena hati menjadi tenang bersama-Nya, atau dalam arti “menuju” dan
“bermohon”, karena harapan seluruh makhluk tertuju kepada-Nya dan kepada-Nya
jua makhluk bermohon.[29]
Memang setiap yang dipertuhankan pasti
disembah, dan kepadanya tertuju harapan dan permohonan, lagi menakjubkan
ciptaannya, tetapi apakah itu berarti bahwa perkataan “Ilah” dan juga “Allah”
secara harfiah bermakna demikian? Apakah Al-Quran menggunakannya untuk makna
“yang disembah”? Para ulama yang mengartikan Ilah dengan “yang disembah”
menegaskan bahwa Ilah adalah segala sesuatu yang disembah, sama ada
penyembahan itu tidak dibenarkan oleh akidah Islam; separti terhadap matahari,
bintang, bulan, manusia atau berhala; mahupun yang dibenarkan dan diperintahkan
oleh Islam, yakni Zat yang wajib wujud-Nya yakni Allah. Karena itu, jika
seorang muslim mengucapkan “la ilaha illa Allah” maka dia telah
menafikan segala tuhan kecuali Tuhan yang nama-Nya, Allah,[30]
atau bahwa Ilah adalah “Pencipta, Pengatur, Penguasa alam raya, yang di
dalam genggaman tangan-Nya segala sesuatu”.[31]
Dengan demikian jelaslah bahwa kata Allah
adalah berasal dari makna serapan yang kemudian berubah menjadi nama. Ia sama
dengan kata Muhammad yang artinya dipuji dan memuji, kemudian berubah menjadi
nama yang ditujukan kepada nabi terakhir yang dipercayai umat Islam.
4.4. “Allah”
Tuhan Para Nabi dan Kaum Musyrik
Dari keterangan di atas dapat lebih
ditegaskan bahwa ilah yang merupakan akar kata dari Allah digunakan untuk
menunjukkan kata “Tuhan” yang hak dan batil, termasuk Tuhan umat Kristen. Bila
mengikuti paham yang beraliran kata “Allah” berasal dari kata ilah maka Tuhan
umat Kristen dapat juga disebutkan dengan Allah, begitu juga dengan Tuhan utama
kaum kafir Mekah.
Dari keterangan Alkitab (PL+PB) dan Al-Quran
di atas jelas terlihat bahwa sebagai oknum dengan namanya “Allah” bagi umat
Islam adalah sama dengan Tuhan Yahudi dan Kristen. Kesamaan nama dan kesamaan
pesan di antara para nabi, karena semua nabi bersumber dari satu Tuhan, yaitu
Allah.[32]
Bila kemudian terdapat perbedaan di antara
agama Islam dan Kristen dalam pemahaman Allah sebagai Tuhan yang layak disembah,
maka hal itu bermula dari kelahiran Isa tanpa ayah. Umat Islam memahami Allah
sebagai Tuhan yang Maha Esa, maka sebenarnya umat Kristen pun memahami Allah
sebagai Tuhan yang Maha Esa. Namun umat Kristen mengakui keesaan Allah tidak
menutup kemungkinan dia berstatus tiga, sehingga keyakinan ini dikenal dengan
Tritunggal yang artinya tiga tapi satu, atau satu tapi tiga.
Menariknya
di dalam Perjanjian Lama ajaran monoteisme atau tauhid merupakan ajaran utama,
“Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap kekuatanmu.”[33]
Sementara Nabi Isa menegaskan bahwa dia datang tidak menghapuskan Perjanjian
Lama tapi datang untuk melengkapinya dengan Perjanjian Baru.[34]
Bila dalam Perjanjian Lama tauhid dan tanzih merupakan ajaran utama,
maka dalam Perjanjian Baru pun ditemukan pernyataan Allah Swt itu satu.
“Jawab Yesus: ‘Hukum yang terutama ialah:
Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.”[35]
Pada Alkitab tidak ditemukan perkataan “Tri
tunggal atau Tiga Tuhan” dengan tegas, yang ada hanyalah penafsiran pendeta
terhadap Alkitab, selepas Konsili Nicea dan didefinisikan lebih lengkap dalam
Kredo Athanasia. Kredo yang memakai namanya berbunyi: “Kami menyembah satu
Allah dalam Tri tunggal... sang Bapa adalah Allah, sang Anak adalah Allah, dan
Roh Kudus adalah Allah; namun mereka bukan tiga allah, tetapi satu Allah.”[36]
Tritunggal ini adalah doktrin dasar agama
Kristen mengenai tiga pribadi asas Tuhan. Pribadi tersebut adalah Tuhan Bapa,
Tuhan Anak dan Tuhan Roh Kudus..[37]
Sebahagian dari pemeluk Kristen ada yang menolak doktrin Tri tunggal, atau
sekadar menganggapnya suatu hal yang tidak begitu penting. Seseorang atau satu
komunitas yang berada pada posisi ini tidak menyebut diri mereka sebagai
"Anti Tri tunggal", namun bervariasi sesuai alasan mereka menolak Tri
tunggal dan sesuai bagaimana mereka menjelaskan tentang Tuhan.[38]
Menurut penulis, berasaskan al-Quran dan
Alkitab serta alasan-alasan di atas, bahwa selain muslim; tepatnya musyrik dan
Ahli Kitab juga menggunakan istilah “Allah” sebagai sebutan untuk “Tuhan”
mereka.[39]
Walau pun kemudian antara penganut al-Quran dan penganut Alkitab (Kristen)
terdapat perbedaan pemahaman tentang ketuhanan Yesus dan Roh Kudus. Bahkan di
antara sesama Kristen itu sendiri terdapat perbedaan yang mendasar tentang
ketuhanan keduanya.
Lebih
jauh lagi hubungan harmonis antara Islam dan Ahli Kitab yang memiliki satu
Tuhan yaitu “Allah” dipertegas dengan diboleh-kannya muslim untuk menikah
dengan wanita kitabiyah dan memakan hasil sembelihan ahli kitab. Ulama berbeda
pendapat tentang boleh tidaknya muslim menikah dengan wanita kitabiyah.
Hal ini berdasarkan pada al-Baqarah [2]: 221
yang melarang menikah dengan musyrik dan musyrikah dengan al-Maidah [5]: 5 yang
membolehkan menikah dengan kitabiyah. Walaupun ulama berbeda pendapat tapi
penulis berdasarkan buku Tafsir Tematik: Hubungan Antar Umat Beragama
berkesimpulan bahwa kehalalan dan kebolehan itu merupakan wujud toleransi Islam
dalam pergaulan bermasyarakat dengan pemeluk agama lain.[40]
Satu hal yang menarik, bahwa kesamaan Tuhan
“Allah” di antara ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dengan Islam membuat hubungan
yang lebih harmonis di antara umat Islam dengan mereka dengan diberikan
kelonggaran dalam pernikahan dan sembelihan, maka ini tidak berlaku bagi kaum
musyrik Mekkah yang juga mengaku bertuhankan “Allah.” Alasannya, menurut
penulis, karena di samping kesamaan dalam ketuhanan “Allah”, terdapat juga
kesamaan dalam keimanan kepada kitab suci, malaikat, para nabi. Keimanan ini
diyakini oleh Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan tidak diimani oleh kaum
musyrik.
4.5. Mengubah
kata “Allah” menjadi “God”
Ada sebagian orang-orang Kristen yang
meyakini bahwa nama “Allah” sebagai nama “dewa bulan”[41]
, dan melihat realita di dalam Alkitab menggunakan istilah Allah maka mereka
melakukan perubahan /penggantian nama Allah diganti dengan nama “God” inilah
yang terjadi dalam Alkitab terjemahan versi Inggris.
Alkitab Perjanjian Lama, dalam bahasa
Indonesia terlihat jelas ungkapan kata “Allah”. Contohnya: “Pada mulanya Allah
menciptakan langit dan bumi.”[42]
Bandingkan dengan Alkitab King James Version "In the beginning God created
the heaven and the earth.”[43]
Hal senada ditemukan dalam Alkitab dalam versi Contemporery English Version “In
the beginning God created the heavens and theearth.” Begitu juga
dengan Alkitab dalam versi Today's English Version “In the beginning, when God
created the universe.”
Hal senada dengan Alkitab Perjanjian Baru.
Contohnya: Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan beranakkan seorang
anak laki-laki, dan disebut orang namanya: Immanuel, yang diterjemahkan artinya
“Allah beserta kita.”[44]
Sementara dalam Alkitab King Jemes Version berbunyi “Behold, a virgin shall
be with child, and shall bring forth a son, and they shall call his name
Emmanuel, which being interpreted is, God with us.”[45]
Contemporery English Version berbunyi: “God is with us.”
Today's English Version berbunyi: “God is with us.”
Dari ketiga terjemahan Alkitab dalam bahasa
Inggris –baik Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru- walaupun berbeda
ter-jemahannya, tapi semua sepakat bahwa kata “Allah” yang ditemukan dalam
Alkitab versi Indonesia dan Arab tidak diabadikan dalam wujud kata “Allah”,
tapi dirubah menjadi kata “God”. Walau pun di awal penulis dapat memahami dan
dapat mengerti bahwa kata “Allah” dapat diartikan menjadi “Tuhan” atau “God”
dalam bahasa Indonesia dan Inggris, tapi tetap saja, pola pikir bahwa “Allah” adalah
dewa bulan atau lebih dari itu “sebagai wujud dari anti Arab” maka penerjemah
bahasa Inggris lebih senang menerjemahkan kata “Allah” menjadi “God”.
Satu hal yang menarik, hal itu tidak
dilakukan oleh penerjemah Alkitab versi Indonesia dan Arab. Mereka tetap
mempertahankan kata “Allah” baik dalam bahasa Indonesia dan Arab. Menurut
penulis hal ini dilakukan karena istilah “Allah” telah menjadi milik bersama
antara Muslim Indonesia dan umat Nasrani Indonesia, atau Muslim Arab dengan
umat Nasrani Arab. Tanpa ada rasa kecemburuan atau sentimen dalam beragama.
Bahwa ajaran/konsep mengenai ‘Allah’ (El) itu
kemudian merosot dan makin tidak mendekati hakikat yang di’nama’kan dan
ditujukan kepada pribadi lain seperti yang terjadi pada jalur Ishak (Anak Lembu
Emas disebut ‘allah' dengan "a" huruf kecil, dalam bahasa Indonesia
Terjemahan Baru)[46] maupun
jalur Ismael (masa jahiliah, dewa berhala disebut ‘Allah’)[47],
tentu tidak mengurangi hakikat nama itu sendiri sebagai menunjuk kepada “Allah
sebagai Tuhan yang layak disembah bagi penganut kitab samawi. Ini dapat
diyakini bahwa ‘Allah’ Yahudi, Kristen dan Islam terdapat kesamaan, sehingga
mereka disebut dengan “Ahli Kitab” yang dapat diartikan dengan saudara dekat
dalam beragama.
4.6. “Allah”
Nama Tuhan umat Islam
Namun kemudian, bila disebutkan kata “Allah”
maka ucapan itu mengarah kepada Tuhan umat Islam. Ini sama dengan kata “salat”
dan “muslim” dalam al-Quran yang berarti “doa” dan “kepasrahan” yang dilakukan
oleh umat nabi manapun. Contohnya, dalam bahasa al-Quran ditemukan bahwa Nabi
Ibrahim melakukan “salat” dan berstatus “muslim”, tapi ketika diartikan secara
istilah, maka kata “salat” ditujukan pemahamannya kepada “salat yang dilakukan
muslim sehari lima kali dengan cara tertentu dimulai dengan takbir dan ditutup
dengan salam.”
Untuk itu kamus-kamus dalam bahasa Inggeris
mendefinisikan “Allah sebagai name of God among Muslims and among Arab of
all faiths.[48]
Artinya, Allah adalah nama Tuhan di antara umat Islam atau di antara bangsa
Arab atas semua keyakinan. Hans Wehr, yang merupakan kamus Arab-Inggris
mendefinisikan Allah adalah Allah, God (as teh One and Only.[49]
Artinya, Allah adalah Allah atau Tuhan yang Maha Esa dan Satu-Satunya.
Definisi dalam bahasa Indonesia dapat dilihat
dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia bahwa: “Allah adalah Tuhan, pencipta alam
raya termasuk segala isinya”.[50]
Dapat juga dilihat dalam Kamus Purwadarminta yang mendefinisikan Allah dengan
Roh Yang Mahasempurna yang menciptakan alam semesta.[51]
Artinya, para penulis kamus baik dalam bahasa Inggris ataupun Indonesia dan
Arab mengakui ke-khasan nama Allah dalam penggunaannya di kalangan agama Islam
sebagai salah satu artinya. Namun dalam arti yang lain, jelas memberikan
pengertian yang lebih luas, sehingga mencakup Tuhan agama apapun di semenanjung
Arab dan di Asia Tenggara. Berdasarkan definisi Hans Wehr di atas, terlihat
bahwa dia menafikan kata “Allah” sebagai Tuhan dalam pengertian “Yesus”.
Alasannya, timbulnya dua Tuhan.
4.7. Apa
yang Tergambar tentang “Allah” bukan Allah
Menurut Wajdi, al-Quran telah sampai pada
pembuktian klimaks tesis akan keberadaan Allah sebagai Tuhan. Kalau tiada
Tuhan, siapa yang akan menciptakan langit dan bumi.[52]
Manusia secara fitrah dapat mengenal Tuhan.[53]
Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta
langit dan bumi?”[54]
Tapi, adakah manusia mengenal hakikat zat
Allah? Manusia tidak dapat mengenal hakikat Allah, karena tidak ada yang mengenal
hakikat Allah kecuali Allah, sebagaimana tidak ada yang mengenal hakikat nabi
kecuali nabi, dan tidak ada yang mengenal hakikat surga dan neraka kecuali
setelah wafat dan masuk ke dalam surga atau neraka. Puncak dari orang yang
mengenal Allah adalah ketidakmampuan mereka untuk mengenal hakikat Allah.[55]
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar
dan melihat.[56]
Jika demikian ‘apa pun yang tergambar dalam
benak atau imaginasi siapa pun tentang Allah, maka Allah tidak demikian’.
Dengan membaca dan menyadari makna ayat ini, luluh semua gambaran yang dapat
dijangkau oleh indera dan imajinasi manusia tentang zat Yang Maha Sempurna itu.[57]
Manusia juga tidak dapat mengenal hakikat
sifat dan nama Allah kecuali dengan perumpamaan. Contohnya, kuasa Tuhan adalah
sifat, selama hamba bertambah ilmu pengetahuan tentang perincian kuasa Tuhan di
alam raya ini, maka pengetahuannya tentang kuasa Tuhan bertambah banyak. Ini
karena buah menunjukkan pada pohon, tetapi karena maklumat itu tiada nihayah
dan akhir, di samping ia bertingkat, maka kita dapat mengenali tingkatan
manusia di lautan makrifat Allah yang tiada bertepi itu.[58]
Walaupun penulis telah sampai pada titik
“tidak ada yang dapat mengenal Allah kecuali Allah” namun pernyataan “saya
tidak mengenal kecuali Allah” juga benar dan dapat diterima, karena tidak ada
di alam yang wujud ini kecuali Allah dan segala perbuatan-Nya.[59]
Kedua-dua pernyataan ini benar, karena dua sudut pandang yang berbeda. Pertama,
dilihat dari sudut pandang zat, sifat dan nama-Nya; kedua, dilihat dari
wujud makhluk yang merupakan hasil dari ciptaan Allah Swt, sama ada alam raya,
manusia atau pun sejarah kehidupan.[60]
V.
Analisa Penyeminar
Dalam tinjauan Islam, konsep ke-Tuhan-an
tidak dapat dipisahkan dari pengertian tentang Tuhan yang termuat dalam
sumber-Nya. Yaitu Al-Qur’an yang oleh umat Islam diyakini sebagai wahyu, dan
menurut Al-Qur’an ajaran Islam yang terpenting adalah perintah dan seruan
kepada manusia untuk menyembah hanya kepada Allah dan ini merupakan kredo inti.
Al-Qur’an menyatakan bahwa yang Tuhan itu hanyalah Allah. Karena yang Tuhan
hanyalah Allah maka manusia hanya benar kalau menyembah Allah semesta.
Sehubungan dengan ke-Tuhan-an, Al-Qur’an
tidak hanya menyebutkan tentang Tuhan saja, akan tetapi juga tentang
sifat-sifatnya, lewat sifat-sifat Allah dapat diketahui corak hubungan antara
Allah selaku pencipta alam sebagai ciptaan-Nya. Al-Qur’an dengan tegas
menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mampu menyamai dan menyertai Allah.
Dari sini juga dapat dipahami kata Allah itu adalah nama Tuhan bagi kalangan
muslim.
Bila dikaji dari sumber akar kata kalimat
yang diberikan kepada wujud yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa di dalam berbagai
bahasa adalah diterima asal-usulnya sama, terutamanya dalam bahasa-bahasa Indo
Eropa seperti perkataan Deva, Theo, Dieu, Dos dan Do serta Khoda dan God. Dalam
bahasa-bahasa semantik seperti Ilah, El, dan Al; bahkan antara Yahweh dalam
bahasa Ibrani dan Ioa dalam bahasa Yunani Persian merujuk kepada kesemua konsep
tentang kewujudan Maha Tinggi, juga merujuk kepada kemiripan bunyi sehingga
boleh juga merupakan perkongsian bersama seluruh manusia (cognate).
Manakala perkataan ilah yang jamaknya alihah
dan kata ilahah yang jamaknya ilahat di dalam bahasa Arab
memberi maksud yang sama yaitu sesuatu yang disembah atau dipatuhi.
Sekiranya alihah bermaksud memper-Tuhan-kan atau men-Dewa-kan, maka perkataan
ta’lah pula memberi makna menjadi Tuhan. Sebagai contoh, makhluk atau benda
yang disembah atas dasar kebebasan, kekuasaan dan bernilai untuk disembah,
untuk ditunduk dengan rasa kehinaan dan kepaTuhan. Namun, perlu diberi
perhatian, perkataan ilah ini adalah lebih umum atau luas penggunaannya
dari pada Allah kerana memasukkan apa saja aspek atau apa-apa makhluk yang
mempunyai kuasa yang hebat untuk dipatuhi oleh manusia, dinamakan atau
dipanggil ilah. Ilah atau Tuhan ialah tiap-tiap sesuatu yang disembah oleh
manusia, sama ada yang berhak disembah atau tidak, merupakan Tuhan kepada orang
itu. Jika penyembahan itu kepada yang sepatutnya disembah, maka penyembahan itu
adalah hak dan jika penyembahan itu kepada yang tidak patut disembah, maka
penyembahan itu adalah tidak hak atau tidak benar.
Selanjutnya, konsep ilah juga
memasukkan pemikiran kuasa yang tidak berakhir, kuasa yang menakjubkan yang
lain. Ia juga menbedahkan pengertian bahwa yang lain adalah bergantung pada-Nya
dan ia tidak bergantung pada yang lain. Perkataan ilah juga mengandung
makna persembunyian (abstract) dan misteri. Oleh itu, ilah adalah
being yang tidak dapat dilihat. Pertembungan dengan perkataan Allah di
dalam bahasa Arab, sekali lagi perlu diteliti dan diperhalusi untuk mengelakkan
kekeliruan. Allah adalah nama khas atau personal bagi Tuhan dan tidak diambil
dari pada kata ilah yang bermaksud Tuhan walaupun Allah itu Tuhan.
Berdasarkan paradigma di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa Allah dari sudut kefahamannya adalah salah satu di antara
banyaknya Tuhan yang diyakini dan disembah oleh manusia. Ini tidaklah
mengherankan kerana jika ditinjau dari sejarah lampau di zaman Jahiliah pun,
ide tentang Allah ini sudah ada dan bukanlah sesuatu yang asing di kalangan
masyarakat Arab.
VI.
Kesimpulan
Dengan demikian kata “Allah” dalam kitab
suci: al-Quran dan Alkitab dapat diartikan dengan Tuhan yang disembah. Kedua
kitab suci ini sampai sekarang masih menggunakan kata “Allah” untuk menunjukkan
kata “Tuhan” bagi masing-masing pengikutnya di Indonesia dan di Arab, tapi
tidak untuk pengguna Alkitab berbahasa Inggris. Ini menegaskan bahwa selain
Muslim, terutama umat Kristen dan Yahudi boleh dan dibenarkan menggunakan kata
“Allah” untuk menunjukkan kata ‘Tuhan’ bagi mereka. Umat Islam harus
menghormati kedua agama ini dengan kesamaan nama “Tuhan” yang mereka sembah.
Untuk itu mereka disebut dengan golongan Ahli Kitab.
VII.
Daftar Pustaka
Abd
al-Bāqī, Muḥammad Fu’ad, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān al-Karīm, Jakarta:
Maktabah Dahlan, 1981.
Abū
Ja‘far Muḥammad bin Jarīr al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl al-Qur’an,
di-taḥqīq oleh Muhammad Shakir (Tahqiq), Cairo: Maktabah Ibn
Taimiyah, t.th.
Abū
Zahrah, Syaikh Muḥammad, Muḥḍaarat fī al-Kristianiyah, Cairo: Dār
al-Fikr al-‘Arabī, 1987.
al-Banjari, Rachmat Ramadhana, “Semua
Hajatmu Bisa Mustajab:Super Cespleng Doa-Doa Khusus Asmaul Husna”, Yogyakarta:
Sabil, 2010.
al-Banjari,
Rachmat Ramadhana, “Semua Hajatmu Bisa Mustajab:Super Cespleng Doa-Doa
Khusus Asmaul Husna”, Yogyakarta: Sabil, 2010.
Al-Hadis, Shohih Muslim, Semarang: Toha Putera, t.th., juz 2.
Al-Hadis,
Shohih Muslim, Semarang: Toha Putera, t.th., juz 2.
Ali, Atabik, & Muhdlor, A. Zuhdi, Kamus
Kontemporer Arab Indonesia, Yogyakarta:
Multi Karya Grafika, 2007.
Ali,
Atabik, dan Muhdlor, A. Zuhdi, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, Yogyakarta: Multi Karya Grafika,
2007.
al-Kitāb al-Muqaddas, Dār al-Kitāb al-Muqaddas fī al-Syarq
al-Awsaṭ.
Alkitab contemporery English version, Jakarta: Lembaga
Alkitab Indonesia
Alkitab King James version, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia
Alkitab Terjemahan Baru Edisi 2, Jakarta: Lembaga Alkitab
Indonesia, 1997.
Alkitab Today’s English Version, Jakarta: Lembaga
Alkitab Indonesia
Asy‘arī,
Abū al-Ḥasan ‘Ali bin Ismā‘ī, Maqālat al-Islāmiyīn wa Ikhtilāf al-Musallīn,
Helmut Ritr (tahqiq), Beirūt: Dār al-Iḥyā’ al-Turāṡ al-‘Arabī, t.th.
Baghdādī,
‘Abd al-Qādir ibn Ṭāhir ibn Muḥammad, Syarḥ Uṣūl al-Dīn, Istanbul: Maṭba‘ah
Istanbul, 1928.
Bisatī,
Aḥmad Sa‘ad al-Dīn ‘Ali, Muqaranah bayna al-‘Aqīdatain: al-Yahūdiyah wa
al-Islāmiyah, Cairo: Dār al-Tiba‘ah al-Muḥam-madiyah, 1988.
Byrne, Maire, The Names of God in Jufaism, Christianity, and Islam, London:
Continuum International Publishing Group, 2001.
Ghazālī,
Abū Ḥāmid, al-Maqsad al-Asnā fi Syarḥ Asma’ Allāh al-Ḥusnā, Cairo: Dar
al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1985.
Hanafi, Muchlis M.,Tafsir Tematik: Hubungan Antar Umat
Beragama, Jakarta: Departemen Agama RI, 2008.
Ibn
Abū Bakr, Muḥammad, Badai ‘ al-Fawā’id Ibn Qayyim, Beirūt: Dār al-Khair,
1994.
Ibn
Manzūr, Lisān al-Arab, Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1995.
Ibn
Taimiyah, Ma‘rifah Allāh wa Ṭarīq al-Wuṣūl Ilaih, di-taḥqīq oleh
Muṣṭafā Ḥilmī, Cairo: Jāmi‘ah al-Qāhirah, 1995.
Jahja,
M. Zurkani, 99 Jalan Mengenal Tuhan, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2010.
Jahja,
M. Zurkani, 99 Jalan Mengenal Tuhan, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2010), xv.
Oxford Advanced Learner's Dictionary, Britanica: Oxford
University Press, 1984.
Purwadarminta,
W.J.S.,Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1982.
Rāzī,
Muḥammad bin ‘Umar Fakhr al-Dīn, Asrat al-Tanzīl wa Anwār al-Ta’wīl, j.
1, Teheran: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, t.th.
Said
Haji Ibrahim, Huraian Asma al-HusnaJalan Menuju Akidah Islam, Kuala
Lumpur: Dār al-Ma‘rifah, 1995.
Saqa,
Muḥammad Aḥmad Hijazī, al-Munaẓarah al-Ḥadīṡah fī ‘Ilm Muqaranah al-Adyān:
Bayna al-Shaykh Didat wa al-Qis Suagarat, Cairo: Maktabah Zahran, 1988.
Segaf,
Alawy bin Abd al-Qadir, Mengungkap Kesempurnaan Sifat-Sifat Allah dalam
Al-Qurandan as-Sunnah, terj. Asep Saifullah FM, M.Ag, Jakarta: Pustaka
Azzam, 2001.
Shihab,
M. Quraish, Menyingkap Tabir Ilahi: Asmaul Husna dalam Perspektif Al-Qur‟an,
Jakarta: Lentera Hati, 1999.
Shihab,
M. Quraish, Menyingkap Tabir Ilahi: Asmaul Husna dalam Perspektif Al-Qur‟an,
Jakarta: Lentera Hati, 1999.
Shihab,
Muhammad Quraish,Menyingkap Tabir Ilahi, c. 5, Jakarta: Lentera Hati,
2003.
Sya’rawi,
Syaikh Muḥammad Mutawalli, Tafsīr al-Sya‘rawī, j. 21, Cairo: Akhbar
al-Yaum, 1991.
Wahr,
Hans, A Dictinory of Modern Written Arabic, Beirūt: Librairie Du Liban,
1974.
Wajdi,
Muḥammad Farīd, Dā’irat al-Ma‘ārif al-Qarn al-‘Isrīn, Beirūt: Dār
al-Ma‘rifah, 1971.
Zamakhsyarī, Maḥmūd bin ‘Umar bin Muḥammad, Tafsīral-Kasysyāf,
jil. 1, Cairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2006.
[1] Maire Byrne, The Names of God in Jufaism, Christianity, and Islam, (London:
Continuum International Publishing Group, 2001), 21-30.
[2] Quraish
Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi,
(Lentera Hati, 1998), 3-9.
[3] George
Fry and James R. King, Islam: A Survey of
The Muslim Faith, (Baker Book House, 1982), 487.
[4] Atabik Ali dan A. Zuhdi Muhdlor, Kamus
Kontemporer Arab Indonesia, (Yogyakarta:
Multi Karya Grafika, 2007), 125.
[5] Atabik Ali dan A. Zuhdi Muhdlor, 127.
[6] M. Zurkani Jahja, 99 Jalan Mengenal
Tuhan, (Yogyakarta: Pustaka
Pesantren, 2010), xv.
[7] M. Zurkani Jahja, 99 Jalan Mengenal
Tuhan, xv.
[8] M. Quraish Shihab, Menyingkap Tabir
Ilahi: Asmaul Husna dalam Perspektif Al-Qur‟an, (Jakarta: Lentera Hati, 1999),
xlii.
[9] Al-Hadis, Shohih Muslim, (Semarang:
Toha Putera, t.th., juz 2), 467.
[10] Rachmat Ramadhana al-Banjari dalam bukunya “Semua
Hajatmu Bisa Mustajab:Super Cespleng Doa-Doa Khusus Asmaul Husna”,
(Yogyakarta: Sabil, 2010), 5-10. Band. Maire Byrne, The Names of God in Jufaism, Christianity, and Islam, (London:
Continuum International Publishing Group, 2001), 95-122.
[11] Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr al-Ṭabarī, Jāmi‘
al-Bayān ‘an Ta’wīl al-Qur’an, (Cairo: Maktabah Ibn Taimiyah, t.th), 122.
[12] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, al-Maqsad al-Asnā
fi Syarḥ Asma’ Allāh al-Ḥusnā, (Cairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah), 60.
[13] Maḥmūd bin ‘Umar bin Muḥammad
al-Zamakhsyarī, Tafsīral-Kasysyāf, Jil.. 1, (Cairo: Dār al-Kutub
al-‘Ilmiyah, 2006), 16.
[14] Said Haji Ibrahim, Huraian Asma
al-HusnaJalan Menuju Akidah Islam, (Kuala Lumpur: Dār al-Ma‘rifah, 1995), 6.
[15] Ibn Manzūr, Lisān al-‘Arab, Jil.. I, (Cairo:
Dār al-Ma‘ārif, 1995), 114.
[16] 2697 dengan perincian: Allahu 980, Allaha
592, Allahi 1125; Muḥammad Fuad ‘Abd al-Bāqī, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāẓ
al-Qur’ān al-Karīm, Jakarta: Maktbah Dahlan, 52-96.
[17] Alkitab Terjemahan Baru, (Jakarta: Lembaga
Alkitab Indonesia).
[18] Al-Kitab al-Muqaddas, Dar al-Kitab
al-Muqaddas fi al-Sharq al-Awsat, 3.
[19] Alkitab King James version, Alkitab
contemporery English version dan Alkitab Today’s English Version.
[20] Alkitab, Perjanjian Lama, Kejadian 1:1-3.
[21] QS. al-Zumar [39]:3.
[22] Muḥammad bin ‘Umar Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Asrat
al-Tanzīl wa Anwār al-Ta’wīl, j. 1, (Teheran: Dār al-Kutub al-Ilmiyah,
t.th), 156.
[23] al-Ghazālī, al-Maqsad, 60.
[24] Maḥmūd bin ‘Umar bin Muḥammad al-
Zamakhsyarī, Tafsīral-Kasysyāf, Jil.. 1, (Cairo: Dār al-Kutub
al-‘Ilmiyah, 2006), 36-37.
[25] Muḥammad ibn Abū Bakr, Muḥammad, Badai ‘
al-Fawā’id Ibn Qayyim, Jil. 1., (Beirūt: Dār al-Khair, 1994), 22.
[26] Ibn Manzūr, Lisān al-‘Arab, Jil.
I, 114.
[27] QS. al-Mu’minūn [23]: 91; Ibn Manzūr, Lisān
al-‘Arab, Jil. I, 114.
[28] QS. al-A‘rāf [7]: 127 saat alihataka dibaca
dengan ilahataka; Ibn Manzūr, Lisān al-‘Arab, jil. I, 115.
[29] Ibn Manzūr, Lisān al-‘Arab, Jil. I,
115.
[30] QS. al-A‘rāf [7]:127 yang dibaca ‘wayazaraka
wa ilahataka’. Perkataan Ilahataka dalam bacaan ini adalah ganti
dari perkataan Alihataka yang berarti sesembahan dan yang merupakan
bacaan yang sah dan popular. Ibn Manzur, Lisān al-‘Arab,Jil. I, 115.
[31] QS. al-Anbiyā’ [21]: 22.
[32] (Demikianlah wasiat Nabi Yakub, bukan
sebagaimana yang kamu katakan itu wahai orang-orang Yahudi)! Kamu tiada hadir
ketika Nabi Yakub hampir mati, ketika ia berkata kepada anak-anaknya:
"Apakah yang akan kamu sembah sesudah aku mati?" Mereka menjawab:
"Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu Ibrahim dan Ismail dan
Ishak, iaitu Tuhan yang Maha Esa, dan kepadaNyalah sahaja kami berserah diri
(dengan penuh iman)". (QS al-Baqarah [2]: 133).
[33] Alkitab, Perjanjian Lama, Ulangan 6: 4-5, h.
200 , lihat juga Keluaran 20: 2-4, Ulangan 5: 6-9.
[34] “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang
untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk
meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Alkitab, Perjanjian Baru, Matius
5:17, 4.
[35] Alkitab, Perjanjian Baru, Markus 12:29, op.cit.,
h. 59, Yohanes 17:3-4, op.cit., h. 135. Lihat juga Yohanes 16:1-5,
Matius 4:1-10; 10: 40-42,
[36] Syaikh Muḥammad Abū Zahrah, Muḥāḍarat fī
al-Kristianiyah, (Cairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī, 1987), 125-140.
[37] Muḥammad Aḥmad Hijazī al- Saqā, al-Munaẓarah
al-Ḥadīṡah fī ‘Ilm Muqaranah al-Adyān: Bayna al-Shaykh Didat wa al-Qis
Suagarat, (Cairo: Maktabah Zahran, 1988), 192-198.
[38] Abū Zahrah, Muḥḍaarat, 193-194.
[39] Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama
yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain
Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya". (QS az-Zumar (39): 3) Lihat juga ayat 38. Lihat Shaikh
Muhammad Mutawalli al-Sha’rawi (1991), Tafsir al-Sha‘rawi, j. 21,
Kaherah: Akhbar al-Yaum, 13145.
[40] Muchlis M. Hanafi, Tafsir Tematik, 213.
[41] Lihat buku Islam Dihujat di mana Morey
menyebutkan "Allah" sebagai Dewa Bulan.
[42] Alkitab, Perjanjian Lama, Kejadian, 1:1.
[43] Alkitab King James Version, Genesisi, 1:1.
[44] Alkitab, Perjanjian Baru, Matius 1:23.
[45] Alkitab, King James Version, Matthew 1:23.
[46] Alkitab, Perjanjian Lama, Keluaran.32:31.
[47] QS. al-Zumar [39]: 3 yang telah dikutip di
atas.
[48] Oxford University, Oxford Advanced Learner's
Dictionary, 29.
[49] Hans Wahr, A Dictinory of Modern Written
Arabic, (Beirūt: Librairie Du Liban, 1974), 24.
[50] Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jil.
I, 270.
[51] WJS Purwadarminta, Kamus Umum, 32.
[52] Muḥammad Farīd Wajdī, Dā’irat al-Ma‘ārif
al-Qarn al-‘Isrīn, (Beirūt: Dār al-Ma‘rifah, 1971), 485.
[53] Ibn Taimiyah, Ma‘rifah Allāh wa Ṭarīq
al-Wuṣūl Ilaih, di-taḥqīq oleh Muṣṭafā Ḥilmī, (Cairo: Jāmi‘ah
al-Qāhirah, 1995), 162.
[54] QS. Ibrāhīm [14]: 10.
[55] al-Ghazālī, al-Maqsad, 50-53; Quraish
Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi, (Jakarta: Lentera Hati, 2003), xxvi.
[56] QS. al-Syūrā [42]: 11.
[57] al-Ghazālī, al-Maqsad, 53.
[58] Ibid., 53-55.
[59] QS.al-Anfal [8]:17, Allah menafikan hamba
melempar, tapi Dia (Allah) yang melempar. al-Ghazālī, al-Maqsad, 55. Allah swt disifati dengan wajib ada,
sedangkan makhluk mungkin ada.
[60] Quraish Shihab, Menyingkap, xxviii.
Shalom bapak, ibu dan saudara/i yang dikasihi oleh Tuhan. Apakah ada diantara bapak, ibu maupun saudara/i yang pernah mendengar tentang Shema Yisrael dan V'ahavta? Kalimat pernyataan keesaan YHWH ( Adonai/ Hashem ) dan perintah untuk mengasihiNya yang dapat kita temukan dalam Ulangan/ דברים/ Devarim 6 : 4 - 6 yang juga pernah dikutip oleh Yeshua/ ישוע/ Yesus di dalam Injil khususnya dalam Markus 12 : 29 - 31, sementara perintah untuk mengasihi sesama manusia dapat kita temukan dalam Imamat/ ויקרא/ Vayikra 19 : 18. Mari kita pelajari cara membacanya satu-persatu seperti yang akan dijabarkan di bawah ini :
BalasHapusUlangan/ דברים/ Devarim 6 : 4 - 6, " שְׁמַ֖ע יִשְׂרָאֵ֑ל יְהֹוָ֥ה אֱלֹהֵ֖ינוּ יְהֹוָ֥ה ׀ אֶחָֽד׃. וְאָ֣הַבְתָּ֔ אֵ֖ת יְהֹוָ֣ה אֱלֹהֶ֑יךָ בְּכׇל־לְבָבְךָ֥ וּבְכׇל־נַפְשְׁךָ֖ וּבְכׇל־מְאֹדֶֽךָ׃. "
Cara membacanya dengan mengikuti aturan tata bahasa Ibrani yang berlaku, " Shema Yisrael! YHWH [ Adonai ] Eloheinu, YHWH [ Adonai ] ekhad. V'ahavta e YHWH [ Adonai ] Eloheikha bekol levavkha uvkol nafshekha uvkol me'odekha
Imamat/ ויקרא/ Vayikra 19 : 18, " וְאָֽהַבְתָּ֥ לְרֵעֲךָ֖ כָּמ֑וֹךָ. "
Cara membacanya dengan mengikuti aturan tata bahasa Ibrani yang berlaku, " V'ahavta l'reakha kamokha "
Untuk artinya dapat dilihat pada Alkitab LAI.
Diucapkan juga kalimat berkat seperti ini setelah diucapkannya Shema
" . בָּרוּךְ שֵׁם כְּבוֹד מַלְכוּתוֹ לְעוֹלָם וָעֶד. "
( Barukh Shem kevod malkuto, le'olam va'ed, artinya Diberkatilah Nama yang mulia, KerajaanNya untuk selamanya )
🕎✡️🐟🤚🏻👁️📜✍🏼🕯️❤️🤴🏻👑🗝️🛡️🗡️🏹⚖️⚓🕍✝️🗺️🌫️☀️🌒⚡🌈🌌🔥💧🌊🌬️❄️🌱🌾🍇🍎🍏🌹🍷🥛🍯🦁🦅🐂🐏🐑🐎🦌🐪🕊️🐍₪🇮🇱