Selasa, 31 Maret 2020

Kedisiplinan Yohanes Calvin (Suatu Tinjauan Historis-Praktis terhadap Kedisplinan Yohanes Calvin dan Implementasinya bagi GBKP)


Kedisiplinan Yohanes Calvin
(Suatu Tinjauan Historis-Praktis terhadap Kedisplinan Yohanes Calvin dan Implementasinya bagi GBKP)
I.                   Latar Belakang Masalah
Berdasarkan Tata Gereja GBKP sudah dijelaskan bagaimana peran GBKP dalam mengatasi perjalanan pelayanan GBKP. Kedisiplinan gereja GBKP dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sudah mulai merosot. Hal ini tentunya akan menjadi gejolak bagi pertumbuhan gereja GBKP di Indonesia. Karena pertumbuhan gereja sangat bertolak dari kedisiplinannya. Sehingga kegiatan-kegiatan gereja dapat berlangsung dengan tertata dan terstuktur. Melihat situasi seperti ini tentunya tidak sesuai dengan apa yang telah diterapkan oleh Yohanes Calvin sebagai pelopor utama aliran Calvinis itu sendiri.
Berbicara tentang kedisiplinan dalam Gereja GBKP, penyeminar bertolak dari pelopor aliran Calvinis itu sendiri, yaitu Yohanes Calvin. Yohanes Calvin orangnya sangat disiplin, dan sekali mengambil keputusan ia bersikukuh dalam pilihannya. Study hukumnya telah mempertajam karunia berpikir secara logis dan ia pun menerapkan pendidikan awal tersebut pada studi teologinya. Yohanes Calvin sangat banyak memberikan teladan dalam hal kedisiplinan bagi gereja-gereja Calvinis. Bahkan dalam reformasinya ia sangat disiplin. Maka dari pada itu untuk mengatasi masalah merosotnya kedisiplinan dalam gereja GBKP di Indonesia, kita dapat mengamati dan mempelajari strategi serta upaya dari kedisiplinan Yohanes Calvin. Oleh karena itu penyeminar membahas judul “Kedisiplinan Yohanes Calvin (Suatu Tinjauan Historis-Praktis terhadap kedisiplinan Yohanes Calvin dan Implementasinya bagi GBKP”.  Semoga seminar ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita sekalian.
II.                Pembahasan
2.1.Pengertian Kedisiplinan
Menurut W.J.S. Poerdarminta disiplin adalah latihan batin dan watak dengan maksud supaya segala perbuatannya selalu menaati tata tertib (peraturan), dimana batin dan watak tersebut perlu dilatih.[1] Kedisiplinan adalah salah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, keteraturan dan ketertiban.[2]
2.2.Biografi Yohanes Calvin (1509-1564)
2.2.1.      Masa Kecil Yohanes Calvin
Pemikiran seorang tokoh sangat dipengaruhi oleh latar belakang kehidupannya. Demikian halnya dengan Yohanes Calvin. Calvin merupakan teolog reformasi generasi kedua setelah Marthin Luther. Calvin masih berusia delapan tahun ketika Martin Luther menempelkan Sembilan puluh lima dalilnya di tembok Gereja Wittenberg.[3] Yohanes Calvin lahir pada 10 Juli 1509 sebagai Jean Cauvin di kota Noyon, Perancis Utara. Kemudian hari nama Cauvin sesuai dengan kebiasaan di kalangan kaum berpendidikan waktu itu, dilatinaisasikan menjadi Calvinus.[4] Ayahnya, Gerard Cauvin, menjabat sebagai seketaris Keuskupan Noyon, selain menjadi seorang advocad.[5] Sementara itu, ibunya yang bernama Jeanne Lefrance meninggal ketika Calvin masih muda. Calvin memiliki empat saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Calvin termasuk pribadi yang beruntung. Ia tumbuh dalam keluarga yang tekun dalam ajaran agama Katolik. Pada umur 12 tahun Calvi sudah menerima “tonsur” (pencukuran rambut dalam upara inisasi biarawan).[6]
Calvin sebenarnya tidak merasakan penuh warisan kasih sayang dari seorang ibu karena ibunya meninggal saat Calvin berusia 3 tahun. Warisan kasih sayang yang tidak dialaminya rupanya turut mempengaruhi perkembangan kepribadiannya yang amat serius dan berdisiplin. Masa kanak-kanak Calvin dilewatkan di daerah rumahnya sendiri di tengah-tengah anak laki-laki sebaya di bawah bimbingan seorang guru, tetapi karena kecerdasannya yang sangat dan kemampuan mengingat yang luar biasa, dia melampaui semua anak didik lainnya.[7]
2.2.2.      Pendidikan Yohanes Calvin
Menurut Profesor Theodore Beza, Calvin merupakan seorang yang ber[erawakan sedang, bermuka pucat, dan bermata tajam. Tatapannya yang hidup menunjukkan bahwa ia seorang yang memiliki otak cerdas.[8] Keluarga Calvin mempunyai hubungan yang erat dengan keluarga bangsawan Noyon. Oleh karena itu, pendidikan elementernya ditempuh dalam istana bangsawan Noyon. Itulah sebabnya Calvin memperlihatkan sifat-sifat kebangsawanan.[9]
Calvin diharapkan akan menjadi seorang imam sejak masa mudanya (1509-15334). Beliau di harapkan sang ayah untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Paris, tempat beliau berhasil menguasai bahasa Latin. Kemudian, Calvin mempelajari filsafat Aristoteles dan logika hingga meraih gelar M.A. pada tahun 1528. Setelah ayah Calvin terlibat suatau konflik dengan pihak Gereja, sang ayah meminta Calvin pindah ke Universitas Orleans; selanjutnya ke Universitas Bourges, tempat Calvin menekuni bidang hukum. Tetapi pada saat itu Calvin sama sekali tidak tertarik terhadap bidang kerohanian. Selanjutnya justru beliau tertarik pada karya-karya kalangan humanis. Kemudian pada saat ayahnya meninggal pada tahun 1931, beliau merasa lebih bebas untuk mengikuti minatnya sendiri, yaitu dengan menempuh pendidikan yang berciri-ciri humanis.[10]
      Pada tahun 1531 ia kembali ke Paris untuk belajar kesusastraan dan bahasa-bahasa, yaitu bahasa Latin, Yunani dan Ibrani. Disini diserapnya pengaruh humanis Kristen. Kelompok humanis Kristen terdiri dari cendikiawan yang ingin menggali akar-akar kebudayaan Kristen dalam zaman gereja kuno dan kebudayaan Yunani serta Romawi.[11]
2.2.3.      Akhir Hidup Yohanes Calvin
Pada tahun 1564 tugas Calvin yang mulia itu sudah selesai. Sudah bertahun-tahun lamanya badannyayang lemah menderita sakit perut dan sakit kepala yang dahsyat. Sejak tahun 1558, penyakitnya makin hebat, sampai akhirnya pada permulaan tahun 1564, ia merasa ajalnya sudah dekat. Pada tanggal 27 Mei 1564 dalam usia samapi 55 tahun ia meninggal.[12] Sepanjang bertahun-tahun sebelum kematiannya, meskipun dalam keadaan sakit, beliau tidak pernah tidur lebih dari empat jam sehari, mendiktekan penulisan buku-buku, tulisan-tulisan teologi dan surat-surat berbahasa latin serta Perancis kepada empat seketaris, berkhotbah setiap hari, melayani banyak orang yang ramai-ramai datang mengunjungi beliau.[13]
2.3. Karya-karya Yohanes Calvin
1.      Pada tahun 1532, Calvin menghasilkan karya ilmiah Humanisme (suatu uraian mengenai karya filsuf Romawi Seneca berjudul Kemurahan Hati).[14]
2.      Pada tahun 1536, Calvin menerbitkan edisi pertama Institutio: Pengajaran agama Kristen, teologia sistematis yang dengan jelas membela ajaran-ajaran reformasi.[15] 
3.      Responsio ad Sadoleti Epistulam (Jawaban keapada Sadotelo), yang merupakan karya terbaik Calvin.
4.      Acta Sidoni Tridentini cum Antidoto (keputusan-keputusan dari sidang-sidang awal Konsili Trente beserta penawaran terhadapnya).
5.      Calvin dapat menulis satire setajam Erasmus setajam dari tulisannya: Advertissment tresutile du grand poffit qui reviendroit a la Chrestiente, s’il se faisoitinventoirede tous les corps sainctz et reliques (peringatan yang memperlihatkan keuntungan bagi umat Kristen untuk menginventariskan tubuh dan peninggalan para orang kudus).
6.      Calvin berkhotbah secara teratur selama di Jenewa. Dari tahun 1549 khotbah-khotbahnya dicatat dengan tulisan steno. Sejumlah khotbah diterbitkan tetapi sebagian besar tetap diperpustakaan Jenewa dalam bentuk tulisan Steno. Anehnya, tulisan-tulisan itu dijual kiloan pada tahun 1805. Tiga perempat dari jumlah tulisan itu hilang. Yang masih tersisa sekarang sedang diterbitkan.
7.      Calvin menulis banyak buku tafsiran tentang kitab-kitab Alkitab: Kejadian-Yosua, Mazmur, semua nabi kecuali Yehezkiel 21-48 dan selurug perjanjian baru kecuali Yohanes dan Wahyu.
8.      Buku nyanyian mazmur adalah hasil usaha Calvin bersama Clement Marot dengan menterjemahkan Mazmur ke dalam bahasa Prancis. Nyanyian Mazmur menjadi nyanian internasional dan menjadi pengembangan Calvinisme ke Barat. Buku himne Beze dan Marot yang berisi Mazmur yang berirama menjadi populer dalam gereja.[16]
Sementara dalam buku karangan Th. Van. Den End, Enam belas dasar Dokumen Calvinisme, disebutkan karya-karyanya sebagai berikut:[17]
·         Pengakuan Iman gereja Prancis
·         Pengakuan Iman gereja Belanda
·         Pasal-pasal Ajaran Dordrech
·         Pengakuan Iman Westminster
·         Katekismus Jenewa
·         Katekismus Heidelberg
·         Iktisar Agama Kristen untuk mereka yang hendak turut merayakan Perjamuan malam Tuhan
·         Katekismus besar Westminster, 1647
·         Tata gereja Belanda, 1571
·         Tata gereja Belanda, 1691
·         Pernyataan Savony, 1658
·         Tata ibadah karangan Calvin, 1542-1559
·         Tata Gereja Calvins Belanda

2.4.Kedisiplinan Yohanes Calvin
1.      Kedisiplinan Yohanes Calvin dalam Panggilannya
Farel mendesak Calvin supaya tinggal di Jenewa untuk membantu dalam pekerjaan Reformasi, tetapi Calvin menolak permintaan itu. Akan tetapi Farel terus mendesak supaya ia tinggal di Jenewa, tetapi Calvin tetap bersikap keras menolak permintaan Farel dan Farel berseru, “dengan nama Allah yang Maha Kuasa, akan aku katakana kepadamu jikalau engkau tidak mau menyerahkan dirimu kepada pekerjaan Tuhan ini, Allah akan mengutuki engkau, karena engkau lebih mencari kehormatan dirimu sendiri dari pada kemuliaan Kristus!” di dalam perkataan Farel itu Calvin mendengar suara panggilan Allah lalu ia tinggal di Jenewa.[18]
Pemerintah Kota membuat catatan mengenai pekerjaan “orang Perancis itu” Calvin menjadi pendeta sejak 1536-1538. Namun pada waktu itu masih begitu kurang sabar dan masih kurang matang. Perkelahian tentang pemerintahan gereja membuat ia diasingkan dan ia pindah ke Basel untuk melanjutkan Studinya. Namun, sekali lagi tidak terjadi. Martin Bucer mengajak ia datang ke Strassbourg untuk melayani jemaat kecil pengungsi Perancic. Calvin menentang sampai Bucer mencontohi tindakan Farel dan dan mengancam dia dengan contoh Yunus. Calvin dengan hati berat mengalah.[19] Pada masa pelariannya di Strassbourg Calvin bertemu dan menikahi Idelette de Bure.[20] Idelette adalah seorang wanita yang menarik, cerdas, seorang yang berbudi bahasa dan dia berasal dari kalangan menengah atas. Dia juga seorang wanita yang berkarakter dan sangat bersemangat. Idelette merupakan seorang janda yang ditinggal mati suaminya pada tahun 1540.[21]
2.      Kedisiplinan Yohanes Calvin dalam Reformasinya
            Yohanes Calvin adalah seorang sarjana Hukum Perancis yang berminat pada ilmu teologi. Sebab ia menjadi pengikut Luther, ia diusir dari tanah airnya dan menjadi pendeta di kota Jenewa (Swiss).[22] Mula-mula Calvin hanya memimpin penjelasan alkitab kepada jemaat-jemaat, tetapi segera ia menjadi pendeta resmi dan tenaga pendorong dalam segala pekerjaan Gereja. Tata gereja dibuat Calvin untuk melawan Gereja Katolik Roma dan semangat keduniawiaan. Calvin mengerti bahwa penemuan kembali Injil sejati haruslah disusul dan disempurnakan dengan pembaruan bentuk hidup Gereja. Ia sadar bahwa Kristus mau menguasai dan memerintahi seluruh hidup dan kelakuan orang-orang yang percaya kepada Dia. Oleh karena itu perlu ada disiplin, akan tetapi disiplin itu sekali-kali tidak boleh diserahkan kepada pemerintah daerah atau kota, seperti yang biasa dilakukan Gereja Lutherab dan Zwingli. Kristus adalah kepala gereja; sebab itu pemerintah dunia tidak berhak dalam urusan perkara-perkara yang semata-mata mengenai hidup gereja sendiri. Demikian Calvin menuju kepada penyataan Kristokrasi (pemerintahan Kristus) juga dalam hidup lahiriah jemaat.
            Sayanglah pokok maksud rencana itu tidak dapat dilaksanakan karena perlawanan dewan kota: dewan itu tetap memegang disiplin dalam tangannya sendiri, sehingga disiplin itu turun derajatnya menjadi semacam pengawasan politisi. Akibatnya ialah lawan-lawan Calvin menang dalam pemilihan dewan kota di bulan Februari 1528. Makin hari makin sukarlah kedudukan Calvin di Jenewa. Pada bulan April 1538 mereka dipecat dan dibuang.
            Waktu Farel dan Calvin diusir dari Jenewa mereka meninggalkan pengikut-pengikut disana yang tidak kecil jumlahnya. Pengikut-pengikut itu dinasehati oleh Calvin supaya jangan menceraikan diri dari jemaat yang sekarang dipimpin oleh pendeta-pendeta dari Bern. Pada tahun 1539 dewan kota mengadakan suatu perjanjian dengan Bern, yang amat merugikan Jenewa. Oleh karena tindakan itu rakyat mulai memihak pula kepada partai para pengikut Calvin, sehingga pada tahun berikutnya kawan-kawan Calvin dipilih untuk membentuk pemerintah baru. Dengan membuang segala cita-citanya sendiri, Calvin menempuh jalan yang ditunjukkan Tuhan kepadanya untuk kedua kalinya. Oleh segala pengalaman pada maa yang lalu, sekarang Calvin sudah siap sedia dan matang untuk menhadapi tugasnya yang mulia, yang membina jemaat dan masyarakat Jenewa menjadi suatu pusat yang penting bagi sejarah gereja dan dunia.   
            Soal disiplin diatur dengan keras. Calvin yakin bahwa segala tindakan itu tak lain dari pada permulaan pekerjaannya saja. Tujuannya ialah supaya menghilangkan sama sekali semangat duniawi yang masih merajalela di Jenewa, sehingga didapat suatu jemaat yang kudus dan sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Allah. Keadaan di Jenewa makin hari makin genting; rakyat mulai mengadakan huru-hara karena kebenciannya terhadap peraturan-peraturan disiplin. Ada orang yang mengancam/menghasut anjingnya terhadap Calvin. Pada tahun 1548 kaum oposisi beroleh kursi yang terbanyak dalam “dewan kecil” sukar sekali bagi Calvin untuk mempertahankan dan menjalankan cita-citanya yang theokratis. Rupa-rupanya usahanya tidak akan berhasil. Malahan segenap kaum Protestan rupa-rupanya harus kalah terhadap musuhnya, karena pada waktu itu juga Karel V menang atas perserikatan Smalkalden sehingga Jerman jatuh di bawah Interim Augsburg. Tambah lagi, pada tahun 1549 isteri Calvin meninggal dunia. Akan tetapi walaupun segala kesusahan itu, Calvin berjuang terus; imannya tidak berkurang, kesetiannya kepada panggilannya tidak surut. Sungguh pun ia diusik dalam banyak perkara, yaitu kuasanya sangat dibatasi, namun ia tidak tahu mundur. Untung bagi Calvin bahwa lawannya tidak sanggup menciptakan suatu peraturan hidup yang lebih baik bagi Jenewa. Dan memang semua golongan menuju kepada pembaharuan/reformasi.[23]
3.      Kedisiplinan Yohanes Calvin dalam Mengatasi Masalah Sosial
The Bourse merupakan tiang kesejahteraan  bagi masyarakat Jenewa. Kepedulian Calvin terhadap orang miskin, yatim piatu, orang terlantar dan penggungsi-pengungsi merupakan tanggung jawab gereja. Menurut Calvin gereja dapat diekspresikan dengan baik melalui diakonia yang dilayankan oleh para diaken-diaken. Pengaruh Calvin pada budaya reformasi atas keperihatinanya kepada kaum miskin sangat meringankan penduduk Perancis dalam satu decade 1550—1560 dimana sekitar 600 pengungsi melewati Jenewa dan mendapat pelayanan diakonia.
Nilai-nilai teologis yang menopang reformasi-reformasi ini membawa beberapa komitmen praktis namun harus disertai dengan prinsip-prinsip reformasi kesejahteraan Calvin. Calvin berpendapat bahwa belas kasih gereja yang mula-mula seharusnya menjadi tolak ukur bagi kekristenan kita sendiri. Ia menegaskan kalau mau melakukan reformasi gereja harus dimulai dari titik pendeta-pendeta yang secara murni mengemban doktrin keselamatan dan lalu diaken-diaken yang memiliki kepedulian terhadap orang miskin.[24] Dari segala jurusan, teristimewa dari Perancis, datanglah orang pelarian, mencari perlindungan di Jenewa. Diantaranya terdapat banyak keluarga yang berbakat dan terpelajar. Calvin menyambut dan memelihara semua saudara itu selaku seorang Bapa.[25]
4.      Kedisiplinan Yohanes Calvin dalam Kepemimpinanya
Calvin di panggil menjadi pendeta di Strassbourg. Disitu ia mewujudkan cita-citanya di bidang disiplin. Ia menciptakan tata ibadah yang baru. Dan di tahun 1541 Calvin kembali ke Jenewa dan ia kembali melaksanakan disiplin disana. Keluarga-keluarga yang terkemuka pun berkelakukan buruk dan merasa tersinggung kalau di cela. Sanak saudara Calvin juga berbuat dosa. Namun ia tidak memandang bulu.[26] Calvin sangat menekankan ketertiban dan keteraturan dalam gereja.[27] Kembalinya Calvin ke Jenewa kembali menerapkan dasar-dasar dari teoritis yang sudah dirumuskannya dalam Institotio. Tata gereja sangat menekankan disiplin dan kemurnian, baik dalam ajaran maupun perilaku.[28]
5.      Kedisiplinan Yohanes Calvin dalam Memberantas Ajaran Sesat
Satu kasus termasyur dan telah menuai banyak kritikan tajam terhadap Caklvin pada masa sekarang ialah eksekusi dengan hukum mati erhadap Michael Serventus pada tahun 1533. Servetus dikenal sebagai seorang bidat yang begitu gigih menentang ajaran Trinitas. Dia sudah terusik dari wilayah penganut katolik sehingga hijrah ke kota Jenewa. Dewan kota dengan persetujuan Calvin mengeksekusi Servetus dengan cara membakar dia hidup-hidup. Namun, sebelum kita mengkritik Calvin terlalu tajam, seyogianya kita mengetahui fakta-fakta berikut:
a.       Hukum mati terhadap orang-orang yang menyangkal Inkarnasi adalah praktik yang sudah lama diajarkan, itu bukanlah ciptaan Calvin.
b.      Beberapa orang yang lain juga telah dihukum mati (dibakar hidup-hidup) karena menyangkal Trinitas pada masa Calvin.
c.       Inskuisisi Katolik telah memaklumatkan hukum mati terhadap Servetus.
d.      Putusan untuk membakar Servetus hidup-hidup dilakukan olrh dewan kota, bukan keputusan Calvin. Calvin menyarankan hukuman penggal tetapi dewan menolaknya.
e.       Sebenarnya, Calvin sama sekali tidak bermaksud menjatuhkan hukum mati kepada Servetus. Untuk mencegahnya beliau telah berjam-jam mengunjungi Servetus, berusaha membimbing dan meyakinkan dia untuk bertobat dari ajaran bidat.[29]
6.      Kedisiplinan Yohanes Calvin dalam Meningkatkan Pendidikan
Pendidikan Akademi adalah gagasan Calvin sendiri, untuk menghentikan pedagogi abad pertengahan yang membatasi pendidikan terutama untuk kaum elit eristokrasi ia mendirikan akademi tahun 1559 yang amborionya adalah kalose (sekolah privata, 1558). Akademi ini mendapat sambutan masyarakat terbukti dengan jumlah mahasiswa yang cukup banyak 280 siswa dan akademi ini berkembang dari bidang teologia bertambah ke bidang hukum dan kedokteran dan dituliskan bahwa pada hari kematian Calvin 1567tercatat 1200 mahasiswa dan 300 akademi, akademi Calvin menjadi pemegang standart untuk pendidikan dalam semua bidang utama. Kontribusi reformasi Calvin cukup besar dalam dunia pendidikan karena pendirian sebuah universitas berlangsung berabad-abad.[30]
2.5.Kedisiplinan Gereja GBKP
Dalam sebuah diskusi yang diselengarakan oleh Gereja Masehi Injili di Timur (GMIT) beberapa tahun yang lalu untuk mengetahui seberapa Calviniskah gereja ini, disimpulkan bahwa unsure-unsur Calvinisme memang ada, tetapi tidak lagi sungguh-sungguh murni. Kebanyakan gereja-gereja di Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai Calvinis bisa saja susngguh-sungguh Calvinis, terutama dalam prinsip-prinsip ajaran. Tetapi dalam banyak hal unsure-unsur lainnya juga ada sesuatu yang tidak terhindarkan. Mungkin juga ada gereja-gereja di Indonesia yang secara ketat sungguh-sungguh hendak memelihara warisan Calvin. Demikian juga dengan penyelengaraan disiplin gereja. Bagaimana prinsip ini dapat diterapkan dalam sebuah masyarakat yang sangat terbuka di mana kontrol sosial menjadi begitu longgar.[31] Calvin dan Calvinisme perlu dipelajari dalam hubungan dengan upaya memerangi “kekafiran”. Karya atau upah Calvin dan para penerusnya harus digali sebagai salah satu titik dalam sejarah perjuangan injil melawan “kekafiran”.[32]
Dalam tata gereja GBKP sudah terstruktur dengan baik dan jelas mengenai peraturan sehubungan dengan berlangsungnya disiplin-disiplin gereja GBKP. Namun dalam pelaksanaanya masih kurang disiplin. Berdasarkan buku hasil hasil konven Pendeta tahun 1968-2014 dijelaskan bagaimana GBKP masih kurang disiplin dalam menerapkan apa yang menjadi keputusan gereja.
Seperti halnya bentuk-bentuk kepercayaan agama pemena yang tidak boleh dilakukan oleh orang Kristen adalah:
a.       Niktik wari (menentukan hari)
b.      Cabur Bulung (menikah waktu kecil)
c.       Rembah ku lau (membawa ke air)
d.      Ndilo wari udan (memanggil hujan)
e.       Nengget (menggejuti)
f.       Perumah Begu (menyembah berhala)
Semua bentuk-bentuk kepercayaan agama Pemena ini dibuat dalam point tata gereja Bab III pasal 6. Sikap kita sebagai orang Kristen terhadap bentuk-bentuk kepercayaan agama pemena ini harus dipedomani sebagai keputusan Sidang BPL Sinode GBKP tahun 1983.[33] Namun pada kenyataanya masih ada jemaat GBKP yang melakukan kegiatan tersebut. terkhususnya Ndilo wari udan (memanggil hujan). Di desa Perbesi kecamatan Tiga Binanga masih melakukan kegiatan tersebut. Meskipun sudah diupayakan untuk di transformasi. Namun GBKP sendiri belum memutuskan untuk menerima upaya transformasi tersebut. Fakta diatas menjadi salah satu gambaran kurang disiplin Gereja GBKP dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Sehingga perlu untuk ditingkatkan kembali.
2.6.Tinjauan Historis-Praktis terhadap Kedisiplinan Yohanes Calvin dan Implementasinya bagi Gereja GBKP
Yohanes Calvin adalah seorang pemimpin gerakan reformasi gereja di Swiss. Ia merupakan generasi yang kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin gerakan reformasi gereja pada abad ke-16, namun perannya sangat besar dalam gereja-gereja reformatoris. Gereja-gereja yang mengikuti ajaran dan tata gereja yang digariskan Calvin terbesar di seluruh dunia. Gereja-gereja itu diberi nama Gereja Calvinis. Di Indonesia gereja-gereja yang bercorak Calvinis merupakan golongan gereja yang terbesar.[34] Salah satu dari gereja Calvinis itu adalah GBKP.
Dalam bidang kebaktian memang masih sangat jelas unsure-unsur Tata cara kebaktian (Liturgi) Calvinisme. Pemberitaan firman masih menjadi pusat kebaktian. Tetapi menyanyi mazmur (dari PL) kelihatannya makin lama makin hilang. Perjamuan kudus masih dengan setia mengikuti ajaran Calvin, tetapi tata caranya sudah berubah. Pemakaian cawan-cawan kecil misalnya, yang sekarang sangat lazim dalam gereja-gereja di Indonesia, tidak dikenal oleh Calvin. Katekisasi sidi tetap diselenggarakan, tetapi katekisasi rumah (Pembacaan Alkitab di rumah-rumah tangga) yang merupakan unsur kesalehan dalam Calvinisme tetap dilakukan di banyak gereja. Dalam bidang pemerintahan gereja (ekklesiologi), tiga jabatan yang diperkenalkan Calvin yaitu Pendeta, Penatua dan Diaken tetap diperaktekkan.[35]
Adapun yang menjadi masalah dalam meningkatkan kedisiplinan dalam gereja-gereja Calvinis di Indonesia adalah terbatasnya kemampuan GBKP baik dalam menjemaatkan tritugas gereja yaitu koinonia, marturia, diakonia juga pembinaan warga, peningkatan sumber daya manusi, piñata organisasi, maupun dalam hal keuangan bagi pengembangan aktivitas gereja. Keterlibatan GBKP dalam kontribusi dengan gereja-gereja Internasional terkait dengan penanganan masalah-masalah global masih perlu tetap ditingkatkan. Sejarah panjang GBKP diawali oleh keterlibatan NZG yang merupakan lembaga keagamaan (missioner) dan sangat berpengalaman sebenarnya telah memberikan pelajaran besar dan berharga bagi GBKP mengenai cara mengelola gereja secara efektif.
Pesatnya perkembangan lingkungan eksternal yang dipicu oleh berbagai faktor seperti kemajuan ekonomi, perkembangan teknologi, kemajuan pendidikan, tata pergaulan internasional serta rembesan budaya luar dan lain-lain yang saling memberi pengaruh secara bersama-sama semakin menumbuhkan dan mengentalkan nilai-nilai sekuralisme, individualism dan konsumerisme di masyarakat. Pengentalan nilai-nilai sekuralisme terlihat jelas dalam meningkatnya sikap individualisme, materialism dan merosotnya toleransi di masyarakat. Perubahan orientasi nilai-nilai tersebut tidak hanya menuntut peningkatan kualitas sumber daya gereja tetapi juga kualitas sistem pendekatan.[36]
Dengan demikian, adapun yang menjadi implementasi kedisiplinan Yohanes Calvin bagi gereja-gereja Calvinis di Indonesia adalah sebagai berikut:
1.      Kedisiplinan GBKP dalam Reformasinya
Nilai Calvinis di Indonesia tergantung dari cara bagaimana kita menafsirkan prinsip-prinsip pemikiran teologi Calvinisme ini secara baru. Tentu kita tidak harapkan untuk secara kaku berpegang pada ajaran-ajaran Calvinisme, kalau ternyata ajaran-ajaran tersebut (yang sedikit banyaknya ikut dipengaruhi oleh waktu dan tempat) tidak mendukung bagi pelayan gereja, baik di dalam gereja sendiri mau pun di tengah-tengah masyarakat yang sedang berkembang pesat.[37]
Dalam hal ini Gereja GBKP dapat melakukan reformasi kembali terhadap Gereja GBKP asalkan berlandaskan alkitab. Seperti yang kita ketahui, konteks pada zaman reformasi Yohanes Calvin di Swiss berbeda dengan konteks di Indonesia. Jadi, tidak menjadi masalah bila Gereja Calvinis (GBKP) di Indonesia mereformasi beberapa bagian dari ajaran/tradisi Calvin, yang penting tujuannya adalah agar jemaat dapat merasakan hadirat Tuhan. Contohnya, menyanyi Mazmur (dari PL) kelihatannya makin lama makin hilang. Bahkan dewasa ini Kidung Jemaat sudah sangat dominan. Hal ini dapat kita maklumkan karena dewasa ini semakin banyak lagu-lagu rohani yang diciptakan berdasarkan pengalaman rohani pencipta lagunya yang lebih up to date dengan konteks jaman sekarang.
Dalam sejarah pelayanan GBKP, pro kontra terhadap benturan dengan budaya karo menjadi salah satu penghambat dalam peningkatan jumlah warga GBKP. Ketika GBKP mampu mentransformasi budaya karo (menerangi budaya karo dengan injil), jumlah warga GBKP semakin bertambah. Misalnya, pengakuan gereja terhadap alat-alat musik tradisi karo (gendang karo) sebagai bagian dari alat ibadah mendapat persetujuan dalam sidang sinode IX di Kabanjahe pada tanggal 25-28 April 1966. Pengakuan ini merupakan salah satu contoh dari upaya berteologi kontekstual GBKP.[38] Maka dari itu GBKP harus tetap berjuang untuk mereformasi gereja ke arah yang lebih baik. Dengan catatan, harus mereformasi gereja dengan berlandaskan kepada firman Tuhan.
2.      Kedisiplinan GBKP dalam Mengatasi Masalah Sosial
Gereja GBKP sudah cukup baik dalam mengatasi masalah sosial. Dalam perjalanannya, GBKP terus melakukan pelayanan yang diwariskan oleh zending dan keterlibatan GBKP dalam pelayanan sosial masyarakat. Beberapa diantara pelayan tersebut ialah pengadaan rumah sakit kusta di Lau Simomo, panti asuhan di Sukamakmur yaitu Gelora Kasih, pendirian lembaga Partisipasi Pembangunan (Perpem), Alpha Omega dan pengadaan Bank Pengkreditan Rakyat Pijer Podi Kekelengen.
           Kontribusi Perpem GBKP dalam pelestarian Kalpataru dari Presiden RI pada tahun 1985. Dalam bencana besar erupsi Gunung Sinabung yang terjadi pada tahun 2010 dan penghujung tahun 2013 yang menimbulkan korban nyawa dan arus besar pengungsi, peran dan dan kontribusi GBKP dalam pelaksanaan tanggap darurat demikian besar. Peran dan kontribusi GBKP dalam pelayanan ini telah menghantarkan GBKP meraih penghargaan bidang kemanusiaan dari BNPB yaitu penghargaan “Reksa Utama Anindha” yang diberikan dalam rangkaian Puncak peringatan bulan pengurangan resiko bencana di Bengkulu pada tanggal 13 Oktober 2014 di Hotel Santika-Bengkulu.[39] Hal ini tentunya harus tetap dipertahankan oleh GBKP. Dan semakin disiplin dalam melakukan kegiatan sosial baik di dalam gereja GBKP itu sendiri dan juga terhadap hal-hal di luar GBKP. 
3.      Kedisiplinan GBKP dalam Memberantas Ajaran Sesat
Pada masyarakat Karo awalnya kepercayaan mereka yaitu “Pemena” yaitu percaya kepada dibata-dibata atau roh-roh leluhur.  Mereka memperyayai bahwa adanya kehidupan roh-roh gaib (begu). Dan pada masa sekarang ini masih ada warga jemaat yang melaksanakan ritual agama Pemena. Hal ini harus ditindak lanjuti oleh gereja . Sebagaimana tugas dan tanggung jawab gereja itu sendiri sebagai garam dan terang dunia. Gereja harus menjangkau jemaat-jemaat yang masih mengadakan ritual agama Pemena yang ditolak oleh gereja GBKP. Gereja harus memberikan pemahaman yang benar mengenai ajaran yang salah maupun sesat. Sama halnya yang di lakukan Yohanes Calvin terhadap Serventus yang melakukan pengajaran yang sesat. GBKP mungkin tidak relevan untuk melakukan hukum mati terhadap jemaat yang masih melakukan ajaran agama Pemena. Namun gereja GBKP dapat lebih lagi dalam memberikan pemahaman yang benar tentang Firman Tuhan yang menjadi dasar hidup orang percaya.  
4.      Kedisiplinan GBKP dalam Meningkatkan Pendidikan   
Tak dapat disangkal bahwa beberapa rumpun sekolah Kristen berkembang dalam hal jumlah maupun mutu, terutama yang ada di kota-kota besar, misalnya yang diasuh Yayasan Perguruan Methodist di Medan dan Palembang, Yayasan Badan Pendidikan Kristen Penabur (diselengarakan Gereja Kristen Indonesia), dan sebagainya. Tetapi sebagian besar berada dalam kondisi yang cukup memperhatikan, terutama yang berada di daerah-daerah yang dulunya merupakan pusat karya zendeling (Tanah Batak, Nias, Timor, Maluku, Sulawesi Tengah, Irian Jaya, dan sebagainya).
Undang-undang sistem Pendidikan Nasional (UUSPN No. 2/1989) memang memberi peluang kepada pihak swasta, termasuk yang berciri agama, untuk berkiprah di bidang pendidikan. Tetapi di dalam praktiknya, sejak Indonesia merdeka, tetapi terutama pada dua dasawarsa terakhir ini, sangat banyak kedala yang dihapi lembaga-lembaga pendidikan dasar hingga menengah Kristen, baik yang dikelola gereja maupun organisasi Kristen di luar gereja, yang notabenenya sebagian besar adalah usaha pendidikan zendeling.[40]
Terkait dengan tantangan yang dihadapi gereja, khususnya Gereja GBKP dalam hal mengembangkan pendidikan, hendaknya gereja berupaya untuk mengatasi masalh tersebut. Sehingga sekolah-sekolah yang sudah tidak berfungsi dengan baik dapat diaktifkan kembali bagi penunjang meningkatnya pendidikan warga jemaat dan warga masyarakat. Gereja GBKP harus berusaha meningkatkan kualitasnya dalam meningkatkan pendidikan, agar sekolah-sekolah Kristen dapat menjadi teladan bagi sekolah-sekolah yang ada di Indonesia.

III.             Analisa Penyeminar
Yohanes Calvin telah menanamkan nilai-nilai kedisiplinan terhadap aliran Calvinisme. Sehingga pada perkembangannya juga gereja Calvinis hendaknya tetap menghidupi esensi dari kedisiplinan tersebut. Figur Yohanes Calvin sangat penting kita teladani dalam hal kedisiplinanya. Karena dampak dari kedisiplinannya tampak bagi perkembangan reformasi gereja, pendidikan, moral dan sebagainya. Sehingga sangat penting bagi gereja GBKP untuk meneladaninya.
            Gereja GBKP bukan tidak menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, tetapi masih ada yang kurang disiplin dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Geteja GBKP kurang menghidupi esensi Calvinisme itu sendiri. Gereja GBKP berada dalam ranah perkembangan jaman dan teknologi yang turut mempengaruhi sistem perkembangannya. Sehingga kedisiplinan gereja GBKP juga ikut dipengaruhi. Meskipun demikian, Gereja GBKP hendaknya tetap disiplin dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Mulai dari hal terkecil hingga kepada hal-hal yang besar. Contohnya, disiplin dalam waktu dengan cara datang tepat waktu beribadah pada hari minggu atau pada kegiatan-kegiatan gereja lainnya dan ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan dan program-program yang dilaksanakan gereja. Dengan terealisasinya disiplin dalam hal-hal yang kecil tentunya gereja GBKP dapat disiplin dalam perkara yang lebih besar. Sebagaimana Yohanes Calvin karena disiplinnya dapat memberi pengaruh bagi dunia, sekiranya gereja GBKP juga dapat memberi pengaruh yang baik bagi dunia masa kini.   
IV.             Kesimpulan
Kedisiplinan adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, keteraturan dan ketertiban. Adapun kedisiplinan Yohanes Calvin yang dapat di teladani oleh Gereja GBKP adalah kedisiplinan Yohanes Calvin dalam panggilannya, kedisiplinan Yohanes Calvin dalam reformasinya, kedisiplinan Yohanes Calvin dalam Mengatasi masalah sosial, Kedisiplinan Yohanes Calvin dalam kepemimpinanya, Kedisiplinan Yohanes Calvin dalam memberantas ajaran sesat. Dalam pengimplementasian kedisiplinan Yohanes Calvin terhadap Gereja GBKP tidak terlepas dari konteks gereja GBKP itu sendiri. Kedisiplinan Yohanes Calvin dalam hidup dan karya-karyanya masih relevan untuk diteladani. Karena pertumbuhan dan perkembangan gereja tidak terlepas dari kedisiplinan dari gereja itu sendiri. Oleh karena itu gereja GBKP harus meningkatkan kembali kedisiplinannya sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yohanes Calvin sesuai dengan konteks kehidupan yang ada di masyarakat.  
V.                Daftar Pustaka
Aritonang, Jan S., Belajar Memahami Sejarah di Tengah Realitas, Bandung: Jurnal Ifo Media, 2007
Aritonang, Jan S., Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar gereja, Jakarta:BPK-GM, 2010
Batlajery, Agustinus M.L., & Th. Van den End, Ecclesia Reformata Semper Reformanda, Jakarta: BPK-GM, 2014
Berkhof, H., & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2014
Boehike, Robert R., Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, Jakarta: BPK-GM, 1994
Crutis, A. Knneth, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2011
Culver, Jonathan E., Sejarah Gereja Umum, Bandung: Biji Sesawi, 2013
End, Th. Van den, Harta dalam Bejana, Jakarta: BPK-GM, 2009
GBKP, Moderamen, Garis Besar Pelayanan Gereja Batak Karo Protestan 2016-2020, Kabanjahe: Abdi Karya, 2015
GBKP, Moderamen, Keputusan-keputusan Konpen GBKP, Kabanjahe Abdi Karya, 2014
Hall, David W., Calvin di Ranah Publik, Surabaya: Momentum, 2011
Hart, Michael H., 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Jakarta: Hikmah, 2009
Jonge, Cristian de, Apa itu Calvinisme ?, Jakarta: BPK-GM, 2008
Lane, Tony, Runtun Pijar, Jakarta: BPK-GM, 2010
Poerdarminta, W.J.S., KBBI, Jakarta: Balai Pustaka, 2014
Wellem, F.D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2000 

Jurnal :
Tarigan, Setia Ulina, Resensi Buku “Seri Calvin” dalam jurnal Teologi STT Abdi Sabda Medan, Edisi XXXVIII: Juli-Desember 2017, Memaknai 500 Tahun Revormasi Martin Luther
Yewangoe, Andreas A., Relevansi Calvinisme Masa Kini, dalam Beras Piher Jurnal TeologiaVol. 2, No. 2: Januari-April 2004

Sumber Lain:
http://reformed.sabda.org/book/export/html/25 diakses pada hari Selasa, 12 Maret 2019, pukul 11.15 WIB  




[1] W.J.S. Poerdarminta, KBBI, (Jakarta: Balai Pustaka, 2014), 254
[3] Michael H. Hart, 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, (Jakarta: Hikmah, 2009), 303
[4] Cristian de Jonge, Apa itu Calvinisme ?, (Jakarta: BPK-GM, 2008), 6
[5] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, (Bandung: Biji Sesawi, 2013), 274
[6] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 2000), 64-65 
[7] Robert R. Boehike, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 1994), 370
[8] David W. Hall, Calvin di Ranah Publik, (Surabaya: Momentum, 2011), 55
[9] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, 64-65
[10] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, 274
[11] Cristian de Jonge, Apa itu Calvinisme ?, 6
[12] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 2014), 170
[13] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, 278
[14] Tony Lane, Runtun Pijar, 149
[15] A. Knneth Crutis, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 2011), 82  
[16] Setia Ulina Tarigan, Resensi Buku “Seri Calvin” dalam jurnal Teologi STT Abdi Sabda Medan, Edisi XXXVIII: Juli-Desember 2017, Memaknai 500 Tahun Revormasi Martin Luther, 192-193
[17] Th. Van. Den End, Enam Belas Dasar Dokumen Calvinisme, (Jakarta: BPK-GM, 2001), np
[18] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 159
[19] Tony Lane, Runtun Pijar, (Jakarta: BPK-GM, 2010), 149
[20] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, 66
[21] http://reformed.sabda.org/book/export/html/25 diakses pada hari Selasa, 12 Maret 2019, pukul 11.15 WIB  
[22] Th. Van den End, Harta dalam Bejana, (Jakarta: BPK-GM, 2009), 187
[23] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 160-165
[24] Setia Ulina Tarigan, Resensi Buku “Seri Calvin” dalam jurnal Teologi STT Abdi Sabda Medan, Edisi XXXVIII: Juli-Desember 2017, Memaknai 500 Tahun Revormasi Martin Luther, 189 
[25] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 165
[26] Th. Van den End, Harta dalam Bejana, 188
[27] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, 50
[28] Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar gereja, (Jakarta:BPK-GM, 2010), 66
[29] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, 277-278
[30] Setia Ulina Tarigan, Resensi Buku “Seri Calvin” dalam jurnal Teologi STT Abdi Sabda Medan, Edisi XXXVIII: Juli-Desember 2017, Memaknai 500 Tahun Revormasi Martin Luther, 189
[31] Andreas A. Yewangoe, Relevansi Calvinisme Masa Kini, dalam Beras Piher Jurnal TeologiaVol. 2, No. 2: Januari-April 2004, 7-8
[32] Agustinus M.L, Batlajery & Th. Van den End, Ecclesia Reformata Semper Reformanda, (Jakarta: BPK-GM, 2014), 2  
[33] Moderamen GBKP, Keputusan-keputusan Konpen GBKP, (Kabanjahe Abdi Karya, 2014), 187
[34] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, 64
[35] Andreas A. Yewangoe, Relevansi Calvinisme Masa Kini, dalam Beras Piher Jurnal TeologiaVol. 2, No. 2: Januari-April 2004, 8
[36] Moderamen GBKP, Garis Besar Pelayanan Gereja Batak Karo Protestan 2016-2020, (Kabanjahe: Abdi Karya, 2015), 14
[37] Andreas A. Yewangoe, Relevansi Calvinisme Masa Kini, dalam Beras Piher Jurnal TeologiaVol. 2, No. 2: Januari-April 2004, 9
[38] Moderamen GBKP, Garis Besar Pelayanan Gereja Batak Karo Protestan 2016-2020, 13
[39] Moderamen GBKP, Garis Besar Pelayanan Gereja Batak Karo Protestan 2016-2020, 13-14
[40] Jan S. Aritonang, Belajar Memahami Sejarah di Tengah Realitas, (Bandung: Jurnal Ifo Media, 2007), 234

Tidak ada komentar:

Posting Komentar