Metaphisika : malaikat, jin, gendruwo, setan,
dengan segala sebutannya
I.
Pendahuluan
Seorang yang berfilsafat dapat
diumpamakan bagai seorang yang sedang berpijak di bumi sedang tengadah ke
arah bintang-bintang di langit. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam
kesemestaan galaksi. Atau seorang yang berdiri di puncak gunung yang tinggi
memandang ke ngarai dan lembah di bawahnya. Dia ingin menyimak kehadirannya
dengan kesemestaan yang ditatapnya. Kata filsafat berasal dari kata,
philosophia’ (bahasa Yunani), diartikan dengan, mencintai kebijaksanaan‟.
Sedangkan dalam bahasa Inggris kata filsafat disebut dengan istilah,
philosophy’, dan dalam bahasa Arab disebut dengan istilah ‘falsafah’ ,
yang biasa diterjemahkan dengan ‘cinta kearifan’. Sumber dari filsafat adalah
manusia, dalam hal ini akal dan kalbu manusia yang sehat yang berusaha keras
dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran dan akhirnya memperoleh
kebenaran
II.
Pembahasan
2.1.Pengertian
metaphisika
Metafisika
merupakan cabang ilmu yang bersifat keluarbiasa (beyond nature), yang
membicarakan karakteristik hal-hal yang sangat mendasar, yang berada di luar
pengalaman manusia (immediate eperience), yang berupaya menyajikan
suatu pandangan yang komprehensif tentang segala sesuatu, yang membicarakan
persoalan-persoalan seperti; hubungan akal dengan benda, hakikat perubahan,
perngertian tentang kemerdekaan, wujud Tuhan, kehidupan setelah mati dan lainnya.[1]
Metaphisika dimasukkan dalam bagian
filsafat yang mengkaji tentang ada (being). Metafisika mengkaji ‘ada’ yang
masih disangsikan kehadirannya. Metafisika berhubungan dengan obyek-obyek yang
tidak dapat dijangkau secara inderawi karena objek itu melampaui sesuatu yang
bersifat fisik. Secara fisik ‘ada’ itu tidak tampak namun oleh sebagian orang
dianggap ada, misalnya jiwa, ilusi, eksistensi Tuhan dan sebagainya. Kata
metafisika berasal dari kata ta meta
dan ta phyisika. Tameta berarti di
balik atau dibelakang dan taphisyisika berarti sesuatu yang bersifat fisikal,
dapat ditanggap bentuknya oleh indra. Whiteley
beranggapan bahwa metafisika adalah teori yang merupakan prinsip umum itu dapat
menjelaskan secara benar segala sesuatu yang ada di alam semesta ini.[2]
Istilah ini juga bisa berarti
sebagai usaha untuk menyelidiki alam yang berada di luar pengalaman atau
menyelidiki apakah hakikat yang berada di balik realitas. Akan tetapi, secara
umum dapat dikatakan bahwa metafisika adalah suatu pembahasan filsafati yang
komprehensif mengenai seluruh realitas atau tentang segala sesuatu yang ada.[3]
Metafisika diartikan dengan beberapa pengertian:
a. Secara
etimologi metafisika berarti “dibalik atau dibelakang fisika” (meta=
dibelakang). Istilah ini terjadi secara kebetulan. Waktu para ahli menyusun
untuk membukukan karya Aritoteles, mereka menempatkan bab tentang filsafat
sesudah fisika. Artinya berbeda dengan cara mengerti realita dalam arti
pengalaman sehari-hari. Sebab metafisika ingin mengerti sedalam-dalamnya.
Metafisika ingin mengerti suatu “Otherworld”,
sedangankan pengetahuan biasa ingin mengerti suatu “this wordly”.[4]
Metafisika biasanya dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu:
2.1.1.
Metafisika
Umum
Metafisika umum membahas segala sesuatu yang ada
secara menyeluruh dan sekaligus. Pembahasan itu dilakukan dengan membedakan dan
mengisahkan eksistensi yang sesungguhnya dari penampakan atau penampila
eksistensi itu.[5]
Christian Wolff mengatakan bahwa
metafisika umum mengkaji ada sebagai ada, atau dapat dikatakan mengkaji ada
sebagai kenyataan yang terindrai. [6]
2.1.2.
Metafisika
Khusus
Metafisika
khusus mengkaji yang ‘ada’ dibalik gejala-gejala fisik, ‘ada’ yang tak
terinrai, misalnya tentang Tuhan, jiwa dan asal-usul alam semesta.[7]
·
Kosmologi
Kosmos berarti
dunia keterlibatanyang merupakan
lawan dari Chaos (kacau balau atau
tidak tertib) Logos berarti kata atau
percakapan atau ilmu. Jadi, kosmologi berarti percakapan tentang dunia atau
alam dan ketertiban yang paling fundamental dari seluruh realitas. Kosmologi
memandang alam sebagai suatu totalitas dari fenomena berupaya untuk memudahkan
spekulasi metafisika dengan evidensi ilmiah dalam suatu kerangka atau koheren.
Hal-hal yang biasa disoroti dan dipersoalkan ialah mengenai ruang dan waktu,
perubahan, kebutuhan, kemungkinan-kemungkinan dan keabadian. Metode yang
digunakan bersifat rasional dan justru hal itulah yang membedakannya dari
berbagai-bagai kisah asal mula dan struktur alam.[8]
Kosmologi
memusatkan perhatiannya kepada realitas kosmos, yakni keseluruhan sistem
semesta raya. Kosmologi meliputi baik realita yang khusus maupun yang umum,
yang universal. Jadi kosmologi terbatas pada realita yang lebih nyata, dalam
arti alam fisis yang material. Walaupun kosmologi tak mungkin merangkul alam
semesta dalam arti menghayati secara indera, tetapi kosmologi menghayati
realita semesta secara intelektual.[9]
Menurut Thales, yaitu tokoh yang mengembangkan filsafat alam kosmologi yang
mempertanyakan asal mula, sifat dasar, dan struktur komposisi dari alam
semesta. Menurut pendapatnya, semua yang berasal dari air sebagaii matero dasar
kosmis.[10]
2.2.Latar
Belakang Munculnya Metaphisika
Manusia mempunyai beberapa pendapat mengenai tafsiran metafisika. Tafsiran
yang pertama yang dikemukakan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa
terdapat hal-hal gaib (supranatural) dan hal-hal tersebut bersifat lebih tinggi
atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.Pemikiran seperti ini
disebut pemikiran supernaturalisme.Dari sini lahir tafsiran-tafsiran
cabang misalnya animisme. Selain faham diatas, ada juga paham yang disebut
paham naturalisme.Paham ini amat bertentangan dengan paham
supernaturalisme.Paham naturalisme menganggap bahwa gejala-gejala alam tidak
disebabkan oleh hal-hal yang bersifat gaib, melainkan karena kekuatan yang
terdapat dalam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan diketahui.Orang orang
yang menganut paham naturalisme ini beranggapan seperti itu karena standar
kebenaran yang mereka gunakan hanyalah logika akal semata, sehingga mereka
menolak keberadaan hal-hal yang bersifat gaib itu.Dari paham naturalism
ini juga muncul paham materialisme yang menganggap bahwa alam semesta dan
manusia berasal dari materi.Salah satu yang menggap bahwa alam semesta dan
manusia berasal dari materi.Salah satu pencetusnya ialah Democritus (460
– 370 SM).[11]
Namun pada kenyataanya banyak ilmuan besar, terutama albert
Einstein yang merasakan perlunya membuat formula konsepsi metafisika sebagai
keonsekuensi dari penemuan ilmiahnya, manfaat metafisika bagi pengembangan ilmu
dikatakan oleh Thomas Kuhn terletak pada awal terbetnuknya paradigm ilmiah,
yakni ketika kumpulan kepercayaan belum lengkap faktanya, maka ia mesti dipasok
dari luar, antara lain adalah ilmu pengetahuan lain, peristiwa sejarah,
pengalaman personal, dan metafisika. misalnya adalah upaya-upaya untuk
memecahkan masalah yang tak dapat dipecahkan oleh paradigm keilmuan yang lama
dan selama ini dianggap mampu memecahkan masalah dan membutuhkan paradigm baru,
pemecahan masalah baru, hal ini hanya dapat dipenuhi dari hasil perenungan
metafisika yang dalam banyak hal memang bersifat spekulatif dan intuitif,
hingga dengan kedalaman kontemplasi serta imajinasi akan dapat membuka
kemungkinan-kemungkinan atau peluang-peluang konsepsi teoritis, asumsi,
postulat, tesis dan paradigma baru untuk memecahkan masalah yang ada. Sumbangan
metafisika terhadapilmu pengetahuan tidak dapat disangkal lagi adalah pada
fundamental ontologisnya, sumbangan metafisika pada ilmu pengetahuan adalah
persinggunggan antara metafisika dan ontology dengan epistimologi. Dalam
metafisika yang mempertanyakan apakah hakikat terdalam dari kenyataan yang
diantaranya dijawab bahwa hakikat terdalam dari kenyataan adalah materi, maka
munculah paham materialism, sedangkan dalam epistimologi yang dimulai
dari pertanyaan bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? yang dijawab
salah satunya oleh Descartes, bahwa kita memperoleh pengetahuan melalui akal,
maka munculah rasionalisme, John Locke yang menjawab pertanyaan tersebut
bahwa pengetahuan diperoleh dari pengalaman, maka ia telah melahirkan
aliran empirisme dan lainya berbagai perdebatan dalam metafisika mengenai
realitas, ada tidak dan lainya sebagaimana telah dikemukan di dalamyang telah melahirkan
berbagai pandangan yang berbeda satu sama lain secara otomatis juga
melahirkan berbagai aliran pemahaman yang lazim dinyatakan sebagai
aliran-aliran filsafat awal, ketika pemahaman-pemahaman aliran-aliran filsafat
tersebut dipertemukan dengan ranah epistimologi atau dihadapkan pada fenomena
dinamika perkembanga illmu pengetahuan.[12]
2.3.Aliran-aliran Metafisika
Aliran-Aliran
Metafisika Ada empat macam aliran yang timbul dalam filsafat metafisika menurut Hasbullah Bakry, di antaranya:
1.Dualism
Aliran
yang berpendapat bahwa wujud terdiri atas dua hakikat sebagai sumbernya, yaitu
hakikat materi dan hakikat rohani, kaitan keduanya yang menciptakan kehidupan
dalam ala mini. Salah satu tokohnya adalah Descartes.
2. Materialism
Aliran
yang berpendapat bahwa yang ada hanyalah materi. Adapun yang lainnya berupa
jiwa atau roh tidak merupakan kenyataan yang berdiri sendiri, karena roh atau
jiwa sebagai akibat dari proses gerakan kebendaan dengan salah satu cara
tertentu. [13]
3. Idealism
Aliran
yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam semua berasal dari
roh atau sukma atau sejenisnya, sesuatu yang tidak berbentuk dan materi atau
zat hanyalah suatu dari jenis penjelmaan rohani.
4. Agnosticisme
Aliran
ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat yang dikehendaki
oleh ilmu metafisika, baik hakikat materi maupun hakikat rohani. Aliran ini
termasuk kedalam teologi naturalis yaitu filsafat ketuhanan yang
berpangkal pada kejadian alam. Bagiannya dapat dilihat sebagai berikut: [14]
a.
Theism
Aliran
yang berpendapat bahwa ada sesuatu kekuatan yang berdiri di luar alam dan
menggerakkan alam ini, kekuatan tersebut adalah Tuhan. Karena Tuhan adalah
dasar dari segala yang ada dan yang terjadi di ala mini, sehingga mereka
mengakui adanya mukjizat.
b.
Pantheisme
Aliran
yang berpendapat bahwa seluruh kosmos ini adalah Tuhan. Tuhan yaitu
berada dalam alam ini, bukan di luar karena seluruh kosmos ini adalah
satu maka Tuhan mempunyai bagian bagian. Artinya kajian secara umum dari
metafisika adalah membahas sesuatu di balik yang tampak.
2.4.Macam-macam Metafisika
2.4.1.
Mailaikat
Adalah menarik bahwa kata yang diterjemahkan “malaikat” di dalam bahasaIbrani (“Malak”) dan Yunani (“Angelos”),
keduanya menunjuk pada artiyang sama, yakni “utusan” atau “pesuruh” , “pembawa berita” , “amessenger”, “perantara” Dengan demikian, peran utama mereka adalahmembawa maksud Allah sebagai
utusan dan kurir.
Malaikat itu dikategorikan sebagai roh
baik, dan bila ada malaikat-malaikat melanggar Tuhan maka makhluk tersebut
adalah setan. Secara ekstrim Tuhan memecatnya dari malaikat. Malaikat adalah
makhluk roh yang diciptakan oleh Tuhan yang ditugaskan Tuhan untuk beberaoa
tujuan khusus sesuai dengan rencanaNya, baik untuk melayani Tuhan maupun untuk
menolong orang-orang beriman (Kolose 1:16, Ibr 1:14).
Istilah “Malaikat” dalam Alkitab “Malakh”,
artinya hanya ketika disebutkan bersama-sama dengan pengutusannya, yaitu Allah
sendiri, seperti misalnya dalam ‘malaikat Tuhan’ atau ‘malaikat Allah’ (Zak
12:8). Sebutan lainnya yang juga digunakan adalah “anak-anak Allah”, (Kejadian
6:4, Ayub 1:6). Malaikat disebut sebagai “penjaga” (Daniel 4:13). Mereka Yahwe
Zebaot, Tuhan dari bala tentara surgawi, mungkin dihubungkan dengan para
malaikat. Namun, YHWH membedakan diriNya dari para malaikat dan karena itu
orang-orang Ibrani dilarang Musa menyembah “bala tentara surga”
Sebelum munculnya monoteisme di Israel,
gagasan tentang malaikat ditemukan dalam Mal’akh Yahwe, malaikat Tuhan, atau
Mal’akh Elohim, malaikat Allah. Mal’akh Yahwe adalah penampakan atau perwujudan
Yahwe dalam bentuk manusia. Istilah Mal’akh Yahwe digunakan secara
berganti-ganti dengan Yahwe (Band Keluaran 3:2, 3:4, 13:21 dengan 14:19).
Mereka yang melihat Mal’akh Yahwe (Elohim) menampakkan diri kepada Abraham,
Hagar, Musa, Gideon dan mempin bangsa Israel dalam tiang awan (Kel 3:2).
Penyamaan Mal’akh Yahwe dengan Logos, atau pribadi kedua dari Tritunggal, tidak
ditunjukkan melalui acuan kepada kitab suci Ibrani, tetapi gagasan tentang
pengidentifikasian yang ada dengan Allah. Namun, yang dalam pengertian tertentu
berbeda dari padaNya, menggambarkan kecenderungan pemikiran keagamaan Yahudi
untuk membedakan pribadi-pribdadi dalam keesaan Allah. Orang Kristen
berpendapat bahwa hal ini merupakan gambaran pendahuluan dari doktrin tentang
Tritunggal, sementara orang Yahudi kabalis mengatakan bahwa hal ini kemudian
berkembang menjadi pemikiran teologis dari gambaran Kabbalah.
Setelah doktrin mototeisme dinyatakan
secara resmi, dalam periode segera sebelum pada masa pembuangan (Ulangan 6:4-5
dan Yes 43:10), kita menemukan banyak gambaran tentang mailaikat dalam kitab
Yehezkiel. Nabi Yehezkiel sebagai nabi di pembuangan, mungkin di pengaruhi oleh
hierakhi adikodrati di dalam agama Babel, dan mungkin angelogi Zoroastrianisme
(namun tidak jelas bahwa doktrin Zoroastrianisme ini sudah berkembang demikian
awal). Yehezkiel 9 memberikan gambaran yang terinci mengenai Kerub (Suatu jenis
Malaikat). Dalam salah satu penglihatannya Yehezkiel melihat 7 malaikat melaksanakan
penghakiman Allah atas Yerusalem. Seperti dalam Keajaiban, mereka digambatrkan
sebagai “manusia”, Mal’akh Yahwe tampaknyamenduduiki tempat utama di antara
mereka (Zak 1:11). Dalam masa pasca Alkitab, bala tentara Surgawi menjadi
semakin terorganisasi (barangkali bahkan sejak Zakharia (3:9, 4:10);dan yang
pasti dalam daniel). Malaikat pun menjadi beragamam sebagaian malah juga
mempunyai nama.[15]
2.4.2.
Jin
Kekristenan atau Alkitab dengan tegas menyatakan
bahwa jin itu setan seperti yang dimaksudkan dalam Imamat 17:7, 11, Tawarikh
11:15, dan Yesaya 13:21. Menurut ayat-ayat tersebut, setan jenis ini tinggal di
padang gurun dan berhasil menipu serta mengintimidasi bangsa-bangsa sehingga
mereka takut, takluk dan mempersembahkan hewan atau melakukan ritual
penghormatan kepada jin-jin. Namun orang kristen sejati tidak boleh takhluk
kepada mereka sama seperti kebanyakan orang yang takluk dan bergaul dengan
setan-setan tersebut. Lagi pula para nabi tidak pernah bergantung dan bergaul
kepada malaikat apalagi pada jin-jin. Kalau pun para nabi pernah di kunjungi
malaikat tapi para nabi maupun orang-oprang kudus tidak pernah berdoa kepada
malaikat.
Salah satu tipu muslihat iblis yang cukup
ampuh adalah membohongi manusia tentang hal-hal mistik dan gaib termasuk
tentang makhluk jin. Iblis berhasil menipu manusia sehingga manusia bergaul dan
takhluk kepada jin-jin. Bahakan tidak sedikit manusia melakukan ritual
penyembahan dan mengikatkan diri pada jin-jin. Hal itu ternyata pernah
dilakukan juga oleh beberapa orang Israel yang dipimpin Musa. Mereka salah
mengartikan apa yang diperintahkan TUHAN melarang keras. Mereka bergaul dan
takhluk kepada jin-jin (Imamat 17:7), Alkitab mengatakan orang yang bergaul,
takhluk dan menyembah jin-jin sama dengan orang berzinah.[16]
2.4.3.
Gendoruwo
Gendoruwo adalah salah satu makhluk halus yang cukup
terkenal dan hanya ada di Indonesia khususnya di pulau Jawa. Hingga saat ini
belum ada negara lain yang mengklaim gendoruwo adalah khanzah kepunyaan negara
selain Indonesia. Gendoruwo adalah sejenis bangsa jin atau makhluk halus yang
berwujud manusia mirip kera yang bertubuh besar dan kekar dengan warna kuliat
hitam kemerahan, tubuhnya ditutupi rambut lebat yang tumbuh di sekujur tubbuh.
Gendorueo terutama dikenal dalam masyarakat di Pulau Jawa (orang tua, pohon
besar yang teduh atau sudut-sudut yang lembab sepi dan gelap. Pusat domisili
makhluk ini dipecaya berada di hutan jati Donoloyo, kecamatan Slighimo, sekitar
60 km di sebelah timur Wonogiri dan di wilayah Lemah Putih, Purwosari,
Girimulyo, Kulon Progo sekitar 60 Km ke barat Yogyakarta.
Makhluk halus ini dipercaya dapat berkomunikasi dan
melakukan kontak langsung dengan manusia. Berbagai legenda menyebutkan kalau
gendoruwo dapat mengubah penampakan dirinya mengikuti wujud fisik seseorang
untuk menggoda manusia. Gendorowo dipercaya sebagai sosok makhluk iseng dan
cabul, karena kegemarannya menggoda manusia terutama kaum perempuan dan
anak-anak. Gendoruwo kadang sering menepuk pantat perempuan, mengelus tubuh
perempuan ketika sedang tidur, bahkan sampai memindahkan pakaian dalam
perempuan ke orang lain. Kadang gendoruwo muncul dalam wujud makhluk kecil
berbulu yang bisa tumbuh membesar dalam sekejap, gendoruwo juga gemar melempari
rumah orang dengan batu kerikil di malam hari.[17]
2.4.4.
Setan
Pada awalnya istilah ini digunakan sebagai nama
julukan untuk berbagai entitas yang menantang kepercayaan iman manusia. Di
dalam Alkitab Ibrani. Sejak saat itu agama-agama Samawi menggunakan istilah
“Satan” sebagai nama untuk iblis. Di dalam bahasa Indonesia, istilah satan
berbeda maknanya dengan setan. “Satan” (huruf besar) lebih condong pada sang
Iblis (diabolos), sedangkan “setan” (huruf kecil) lebih condon kepada roh-roh
jahat (daemon). Perubahan makna itu terjadii karena setan tidak diterjemahkkan
langsung dari bahasa Ibrani, melainkan melalui bahasa Arab, sehingga terjadi
pergeseran makna. Menurut doktrin Kristen Trinitarian, pada mulanya, setan
adlah malaikat Tuhan yang bernama Lucifer.
Istilah “malaikat” berarti “utusan”. Semua malaikat
diciptakan oleh Tuhan. Kolose 1:6 mengatakan: “karena di dalam Dia-lah telah di
ciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan
baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa: segala
sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. “Lucifer diciptakan dengan keindahan
yang semourna sehingga ia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling cantik. Ia
dipenuhi hikmat sehingga ia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang terpandai. Dari
seluruh Malaikat yang ada di surga, Luciferlah yang paling pintar, cantik dan
berkuasa. Yehezkiel 28:12 mencatat “ gambar dari kesempurnaan engkau, penuh
hikmat dari maha indah...”. walapun malaikat adalah makhluk yang indah dan
berkuasa, namun mereka tidak boleh disembah. Karena malaikat adalah makhluk
ciptaan Tuhan. Hanya, Tuhan, sang pencipta saja yang patut disembah. Kata Sata
(dengan huruf besar) hanya digunakan dua kali di dalam Alkitab terjemahan baru
(Wahyu 12:9, 20:2) untuk akar kata Yunani Satanas yang diterjemahkan menjadi
“Iblis” di 34 tempat yang llain di Alkitab. Oleh karena itu sinonim “Satan”
yang terdekat di dalam bahasa Indonesia adalah “Iblis”
Lucifer dan Beelzebul adalah dua nama lain yang
disebut di dalam Alkitab yang seringkali dikaitkan dengan Satan. Nama,
“Lucifer” di dalam teologi Kristen diidentifikasikan dengan “putera Fajar” di
dalam Yesaya 14:12 yang dikaitkan dengan “pemfitnah” dalam bagian lain di
perjanjian Lama.Beelzebul atau Beelzebub adalah nama dewa orang Filistin (lebih
tepatnya sejenis Baal, dari kata Ba’al Zebub, yang artinya “Dewa Lalat”) dan
juga digunakan di perjanjian Baru sebagai sinonim untuk Satan. Selain itu Satan
juga digambarkan sebagai ular dan naga (ular naga) dan banyak lagi. Di dalam
kisah Kejadian, Satan diidentifikasikan sebagai ular yang membujuk Hawa untuk
memakan Buah pengetahuan yang bail dan yang benar. Wahyu 20:2 menyebut bahwa
“si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan.[18]
III.
Kesimpulan
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya maka
dapat tarik kesimpulan sebagai berikut : 1.Metafisika adalah merupakan cabang
filsafat yang bertugas mencari jawaban tentang yang „ada‟ yaitu filsafat yang
memburu hakikat
sesuatu
yang ada atau menyelidiki prinsip-prinsip utama. 2.Hubungan antara filsafat
ilmu dan metafisika adalah bahwa kedudukan metafisika dalam dunia filsafat
sangat kuat. Pertama, metafisika merupakan sebuah cabang ilmu tersendiri dalam
pergulatan filosofis. Kedua, telaah filosofis terdapat unsur metafisik
merupakan hal yang signifikan dalam kajian filsafat. Ini tentu sejajar dengan
signifikannya yang menyebut bahwa filsafat adalah induk dari segala ilmu.
3.Yang menjadi objek kajian dalam metafisika adalah metafisika umum membahas
mengenai yang ada sebagai yang ada, artinya prinsip-prinsip umum yang
menata realitas. Sedangkan metafisika khusus membahas penerapan prinsip-prinsip
umum ke dalam bidang-bidang khusus : teologi, kosmologi dan psikologi.
Pemilahan tersebut didasarkan pada ada dapat tidaknya diserap melalui perangkat
indrawi suatu objek filsafat pertama. Metafisika umum mengkaji realitas sejauh
dapat diserap melalui indra sedang metafisika khusus (metafisika) mengkaji
realitas yang tidak dapat diserap indra, apakah itu realitas ketuhanan (teologi),
semesta sebagai keseluruhan (kosmologi) maupun kejiawan (psikologi).
IV.
Daftar
Pustaka
Achamadi,
Asmoro, Filsafat Umum, Jakarta: Fajar
Interpratama offset, 1995
Zamroni,
Mohammad, Filsafat Komunikasi,
Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009
Noor
Syam, Mohammad, Filsafat pendidikan dan
DasarDasar Filsafat Pendidikan Pancasila, Surbaya: Penerbit Usaha Nasional,
1986
Rapar,
Jan Hendrik, Pengantar Filsafat,
Yogyakarta: Kanisius, 2002
B, Delfgaauw, “Ontologi dan Metafisika”. Dalam Soejono Soemargono (Ed) Berpikir Secara Kefilsafatan Yogyakarta :
Nur Cahaya, 1988
A,
Mustofa, Filsafat, Bandung : Pustaka
Setia, 2007
A.
Hasbullah Bakry, Sistematika Filsafat,
Widjaya, t.th.
Bambang,, Rudianto, R., dkk, (Tim Redaksi Driyarkara), Hakikat
Pengetahuan dan Cara Kerja Ilmu-Ilmu, jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama, 1993
Grahal,
Donny, Matinya Metafisika Barat,
Jakarta KomunitasBambu, 200
Surajoyo, Ilmu Filsafat “suatu pengantar”, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008
https://www.academia.edu/11382855/Pengantar_Filsafat_Pengertian_Ciri-ciri_Misi_Lapangan_dan_Urgensi_Filsafat
Diakses pada tanggal 13 Februari 2019, Jam 14:20 Wib
https://www.academia.edu/12017755/METAFISIKA
diakses pada tanggal, 14 Februari 2019, Jam 19:29
[1]
Asmoro Achamadi, Filsafat Umum, (Jakarta:
Fajar Interpratama offset, 1995), 13-14
[2]
Mohammad Zamroni, Filsafat Komunikasi,
(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), 80-81
[3]
Asmoro Achamadi, Filsafat Umum, 13-14
[4]
Mohammad Noor Syam, Filsafat pendidikan
dan DasarDasar Filsafat Pendidikan Pancasila, (Surbaya: Penerbit Usaha
Nasional, 1986), 28
[5]
Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat,
(Yogyakarta: Kanisius, 2002), 44-45
[6]
Mohammad Zamroni, Filsafat Komunikasi,
83
[7]
Mohammad Zamroni, Filsafat Komunikasi, 83
[8]
Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, 46-47
[9]
Mohammad Noor Syam, Filsafat pendidikan
dan DasarDasar Filsafat Pendidikan Pancasila, 31-32
[11]
Delfgaauw,B, “Ontologi
dan Metafisika”. Dalam Soejono Soemargono
(Ed) Berpikir Secara Kefilsafatan (Yogyakarta : Nur Cahaya, 1988), 22
[14] R. Bambang
Rudianto, dkk, (Tim Redaksi Driyarkara), Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja
Ilmu-Ilmu, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993), 36
[15]Donny
Grahal,Matinya Metafisika Barat,
(jakarta KomunitasBambu, 2001), 12
[16]
Surajoyo, Ilmu Filsafat “suatu pengantar”,
(Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008),118
[17]
https://www.academia.edu/11382855/Pengantar_Filsafat_Pengertian_Ciri-ciri_Misi_Lapangan_dan_Urgensi_Filsafat
Diakses pada tanggal 13 Februari 2019, Jam 14:20 Wib
[18]
https://www.academia.edu/12017755/METAFISIKA
diakses pada tanggal, 14 Februari 2019, Jam 19:29
Tidak ada komentar:
Posting Komentar