Mengerti Arti, Makna
dan Hakekat Kerajaan Allah Dalam Injil Matius dan Refleksi/ Aksi Dalam
Kehidupan Bergereja
I.
Pendahuluan
Teologi perjanjian baru merupakan kesaksian mengenai
tentang Allah, atau menyaksikan tentang karya-karya Allah, perbuatan-perbuatan Allah, kenyataan
Allah dalam diri yesus. Berbicara mengenai kerajaan Allah merupakan pokok
pembahasan yang menarik karena pengajaran tentang Allah merupakan salah satu
pokok utama misi kristus dibumi. Tuhan sebagai Raja menunjukkan bahwa Allah
mempunyai kerajaan di mana Ia sebagai Raja, dalam hal ini Ia yang berkuasa atas
alam semesta. Pada saat kristus ada di bumi, Ia memandang pekerjaanya sebagai
upaya untuk mengungkapkan kehadiran kerajaan Allah. Untuk lebih jelasnya kami
sebagai penyaji akan memaparkan kepada kita semua dengan jelas mengenai Arti,
Makna dan Hakekat Kerajaan Allah dalam Injil Matius dan Refleksi/Aksi dalam
kehidupan bergereja. Semoga sajian ini bermanfaat dan menambah pemahaman kita
bersama.
II.
Pembahasaan
2.1. Arti dan Makna
Kerajaan Allah
Kerajaan
Allah (basileia tou theou) adalah istilah pokok
pemberitaan Yesus. Maka pemerintahan Yesus berarti Allah mulai berkuasa
dan mulai melaksanakan pemerintahan-Nya atas segala bangsa. Pemerintahan itu
akan membawa keadilan, keselamatan, dan perlindungan bagi mereka yang miskin
dan sakit, yang hina, ditindas, janda-janda, yatim piatu. Semua bangsa akan
melihat dan mengakui kemuliaan pemerintahan-Nya.[1]
Kerajaan Allah adalah pemerintahan tertinggi Allah, namun pemerintah Allah
terwujud dalam tahap yang berbeda-beda sepanjang sejarah penebus. Oleh karena itu,
manusia dapat masuk ke dalam wilayah pemerintahan Allah dengan mengalami
berkat-berkat pemerintahan-Nya yang berbeda-beda. Kerajaan Allah adalah zaman
yang akan datang yang lazim disebut sorga. Waktu itu kita akan mengalami
berkat-berkat pemerintahan-Nya dalam kepenuhan yang sempurna. Akan tetapi,
kerajaan itu ada di sini saat ini dan dapat kita nikmati sebagian dari
berkat-berkat pemerintahan Allah itu secara nyata.[2]
Kerajaan
Allah merupakan kenyataan masa mendatang dan bersifat adikodrati.[3]
Kerajaan itu sungguh-sungguh menuntut ketaatan manusia tetapi pemerinthan itu
sudah ada untuk mengerti ungkapan itu dalam injil-injil, haruslah kita ingat
bahwa ungkapan itu secara ilmu bahasa, berarti pemerintahan kerajaan Allah dan
didalamnya tercakup pengertian Alkitabiah tentang Allah, Allah yang bertidak
adalah sejarah yang sedang melaksanakan agung dan rahmani didalamnya karena
suatu tujuan yang sudah ditentukan.[4]
Kerajaan
Allah dalam Injil Matius kadang-kadang disebut juga Kerajaan Sorga, walaupun
kadang-kadang Matius memakai bentuk “Kerajaan Allah” juga. Mungkin istilah
“Sorga” dipilih sebagai ungkapan pengganti untuk “Allah” berdasarkan
penghormatan khas Yahudi yang enggan menyebut nama Tuhan. Bisa saja terjadi
bahwa Yesus sendiri menggunakan istilah yang beraneka ragam, tetapi itu sedikit
kemungkinannya meningkat bahwa hanya Matiuslah yang menggunakan istilah
“Kerajaan Sorga” itu. Sebab itu cukup beralasan untuk berkesimpulan bahwa
Matius tidak membedakan Kerajaan Sorga dari Kerajaan Allah. Kerajaan merupakan
ruang lingkup, tempat Allah mencurahkan berkat-berkatnya.[5]
2.2.Aspek Kerjaan Allah
a.
Teosentris
Aspek
teosentris (berpusat kepada Allah) secara mendasar kerajaan Allah berarti bahwa
Allah merupakan penggerak dan pendorong yang utama. Manusia tidak bisa
menemukan atau memajukan kerajaan itu. Arti kerajaan lebih sekedar undangan
kepada manusia untuk mengasihi sesamanya. Kerajaan itu merupakan tindakan Allah
yang berdaulat. Kerajaan Allah berasal dari Allah dan merupakan pernyataan
kemulian Allah.
b.
Dinamis
Kerajaan
itu bersifat dinamis karena apa yang teosentris dan berasal dari Allah.
Kerajaan itu bukan sama sekali pencobaan, hal itu tidak kurang dari kedatangan
raja. Ada sesuatu yang bersifat aktif dalam kedatangan kerajaan itu dalam
pelayanan Yesus, yang melibatkan keeluruhan pekerjaan-Nya terutama pngusiran
setan-setan.
c.
Misianis
Maksud
dari kerajaan Allah yang bersifat Mesias adalah bahwa Yesus sang Mesias sebagai
wakil Allah bertindak atas nama Allah sendiri. Inilah sebabnya pribadi maupun
pekerjaan kristus menjadi amat penting dalam rangka menetapkan batas-batas
kerajaan itu.
d.
Keselamatan
Dengan
datangnya kerajaan Allah memperlibatkan diri-Nya sebagai raja yang secara aktif
menjangkau umat-Nya untuk menyelamatkan dan memberkati mereka. Pengampunan dosa
diberikan oleh Yesus sebagai hak istimewa Allah sendiri. Peristiwa ini
menunjukkan pekerjaan Allah dengan cara yang penuh kuasa dalam pelayanan Yesus.
2.3. Hakekat Kerajaan Allah
Kerajaan
Allah merupakan hal yang sangat penting dalam Teologi PB. Dalam PB dinyatakan
bahwa janji Allah digenapi akhir zaman telah tiba (1 Korintus 10:11), ciptaan
baru telah datang, hidup kekal telah tiba, dan perjanjian baru menjadi
kenyataan. Secara khusus Tuhan menjanjikan negeri keturunan dan berkat
universal kepada Abraham. Akan tetapi Allah secara perlahan mengenapi janjinya.
Yakub memiliki 12 anak dan janji keturunannya yang tidak terhitung banyaknya
mulai menjadi kenyataan dalam kitab suci. Dua janji Allah telah digenapi Israel
mewarisi negeri itu dan jumlah keturunan bertambah dengan cepat. Injil Matius
menggunakan istilah “Sorga” (heaven)
yang merujuk pada Allah karena sikap hormat sebab merujuk kepada Allah lebih
dari 50 kali. Dalam Injil Matius sesungguhnya menggunakan kata kerajaan Allah (kingdom of God). Dalam Matius 6:1-21
perintah Yesus tentang kebenaran menunjukkan perbedaan antara langit dan bumi
yang di gambarkan oleh Matius 6:19-20 “jangan kamu mengumpulkan harta dibumi,
merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Oleh karena itu
kerajaan Sorga berfokus kepada kebenaran bahwa kerajaan Allah berasal dari
Allah. Kerajaan tidak bersifat duniawi tetapi lebih menggambarkan kedaulatan
dan kekuasaannya atas seluruh kerajaannya dan semua yang disebut Allah.[7]
2.4. Kerajaan Allah Menurut
Pandangan Para Tokoh
1.
Calvin
Kerajaan
Allah berkaitan dengan kemahakuasaan Allah, dalam arti lain kerajaan Allah juga
diartikan sebagai hadiah maupun sebagai puncak akhir sejarah dunia.[8]
2.
Donal
Guthrie
Kerajaan
Allah menunjukkan kepada adanya hubungan antara msa sekarang dan masa yang akan
datang. Perwujudan ini akan lengkap hanya dalam kerajaan yang akan datang, tetapi
sudah diwakili pada masa sekarang di dalam jemaat.[9]
3.
Yohanes
Weis
Dalam
bukunya yang berjudul The Preaching Of
Jesus Ia membahsa tentang kerajaan Allah. Dimana Ia berpendapat bahwa
kerajaan Allah itu seperti kiamat Yahudi, semuanya di masa depan dan bersifat
eskatologis. Kemenangan kerajaan Allah atas setan telah dimenangkan disorga .
oleh karena itu, Yesus memberikan kerajaan-Nya dibumi.[10]
4.
C.
H. Dood
Dia
memahami sebagai serangkaian simbol yang berdiri untuk realitas yang tidak
dapat dipahami oleh pikiran manusia secara langsung. Kerajaan Allah yang
digambarkan dalam bahasa apokaliptik, ternyata merupakan tatanan transenden di
luar ruang dan waktu yang telah membelah sejarah dalam misi Yesus.[11]
Berdasarkan pendapat diatas, Alkitab menjelaskan konsep Kerajaan
Allah, merupakan pemerintahan Allah yang mana telah memasuki zaman ini melalui
kehadiran Yesus dan akan menjadi sempurna pada saat kedatangan-Nya untuk kedua
kalinya.
2.5.
Kerajaan Allah dalam Injil Matius
Tentang kerajaan sorga atau kerajaan Allah dalam Injil
Matius dimulai oleh kehadiran Yohannes pembaptis yang berkotbah agar
orang-orang yahudi bertobat sebab kerajaan Allah sudah dekat (Matius 3:1-2).[12] Sesudah penangkapan Yohannes
Pembaptis, barulah Yesus tampil untuk pertama kalinya di Galilea dan berbicara
hal yang serupa yang telah disampaikan oleh Yohannes: “Bertobatlah, sebab
kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat
4:12-17). Yesus kemudian mengajarkan tentang konsep kerajaan Allah meskipun
dalam injil Matius hal tersebut kebanyakan menggunakan istilah kerajaan sorga.
Hala ini merupakan ekspresi Matius sebagai seorang Yahudi yang menulis kitab
ini guna menghindari pemakaian kata Allah yang baginya sangat kudus. Itulah
sebabnya dalam inji Matius istilah
kerajaaan Allah hanya dipakai 5 kali, sedangkan
istilah kerajaan sorga dipakai sebanyak 32 kali.[13]
Namun tidak perlu mempertentangkan kedua istilah tersebut, oleh karena pada
dasarnya Matius menunjuk kepada satu hal yang sama yaitu kerajaan Allah.
Menarik bahwa yesus memberitakan Kerajaan Allah serta melenyapkan segala
penyakit dan dan kelemahan (Mat 4:23;
9:35). Dengan demikian, Yesus sedang menunjukkan bahwa pengusiran setan dan
penyembuhan penyakit juga merupakan bagian yang tidak terlepas dari berita
Kerajaan Allah tersebut. Yesus sedang mengajarkan kerajaan itu, dan orang-orang
yahudi sedang mengalaminya, meskipun tidak secara penuh dan juga tidak sama
dengan pemahaman umum bangsa Yahudi (Pengharapan Mesis Yahudi) tentang kerajaan
itu. Hal itu akan lebih jelas ketika membaca Matius 12:22-28, dimana Yesus
menunjukkan bahwa Dia mengusir setan dengan kuasa Roh Allah dan hal itu berarti
kehadiran kerajaan Allah. Yesus juga mengajar murid-murid bahwa Kerajaan Allah
yang ia beritakan merupakan kerajaan
yang sarat nilai-nilai etis. Hal
tersebut dikisahkan dalam Matius 5 tentang kelemahan-kelemahan dan kerendahan
hati. Leon Morris menegaskan bahwa
“Orang-orang yang mempunyai sifat-sifat itulah yang akan masuk ke dalam kerajaaan, “miskin dihadapan
Allah”(5:3), yang dianiaya (5:10), yang bersifat seperti anak-anak (18:1-4).[14]
Oleh sebab itu, ,tuntutan untuk bertobat merupakan sesuatu yang penting.[15]
Hal ini memberi arti terhadap khotbah Yohanes
pembaptis agar orang-orang bertobat untuk menyambut kerajaan sorga yang sudah dekat . ada hal lain yang
penting untuk diperhatikan dengan sehubungan dengan kerajaan Allah yang
diajarkan oleh Yesus. Yesus banyak mengajarkan konsep kerajaan Allah dalam
konsep kerajaan Allah dalam bentuk perumpamaan. Dalam injil Matius setidaknya
terdapat 14 perumpamaan yang yesus ajarkan. Hal itu menarik perhatian
murid-murid yesus, sehingga suatu kali mereka bertanya kepada yesus: “mengapa
engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan? (Matius 13:10). Jawaban
yesus kepada murid-murid itu merupakan sesuatu yang juga menarik. Dalam matius
13:11, “ Jawab Yesus, kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia kerajaan
sorga, tetapi mereka tidak.” Sehingga tidaklah mengherankan jika Yesus kemudian
mengajarkan hal kerajaan Allah melalui perumpamaan-perumpamaan. Leo Morris
berkata: “perumpamaan perumpamaan menjadi suatu studi yang hidup dan menarik,
dan menampilkan aspek-aspek penting dari kerajaan.[16]
Oleh sebab itu,
memahami setiap perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus merupakan hal yang
penting dilakukan untuk mengerti tentang kerajaan Allah. Perumpamaan pertama
yang muncul dalam injil Matius adalah perumpamaan tentang seorang penabur yang
keluar untuk menabur benih (Matius 13:1-23). Ada benih yang jatuh dipinggir
jalan, tanah yang berbatu, ditengah semak duri, dan ditanah yang baik. Dan arti
perumpamaan itu dijelaskan sendiri oleh Yesus dalam ayat 19-23 bahwa “ kepada
setiap orang yang mendengar firman tentang kerajaan sorga, tetapi tidak
mengertinaya, datanglah sijahat dan merampas yang ditaburkan dalam hari orang
itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di
tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengarkan firman firman itu dan
segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar
saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu
pun segera murtad. Yang ditaburkan disemak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia
ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang
ditaburkan ditanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan
mengerti, dank arena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam
puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” Eldon Ladd menjelaskan
rahasia Kerajaan Allah ini, sebagai berikut:
Kerajaan Allah sudah gating diantara manusia, namun manusia bisa menolaknya.
Kerajaan itu tidak mengalami
keberhasilan yang sama. Tidak semua orang mau menerimanya. Kerajaan
Allah sedang bekerja diantara manusia, tetapi Allah tidak akan memaksa manusia
untuk tunduk kepada kerajaan tersebut.
Mereka harus dapat menerima kerajaan itu dengan rela hati dan dengan
kehendak yang patuh.[17] Jadi, jelas bahwa kehadiran kerajaan Allah
sudah dimulai sejak kehadiran yesus. Akan tetapi, kehadirannya masih bersifat
rahasia; dimana ia tidak hadir dalam kekuasaan penuh melainkan bekerja secara
diam-diam dalam kehidupan setiap mereka yang secara terbuka menerimanya dalam
kehidupan mereka. Pertanyaan yang penting yang muncul tentang kerajaan itu
ialah tentang waktu kapan itu akan hadir dengan kuasa yang penuh yang akan ditandai dengan kedatang
yesus yang kedua kali.[18]
2.6.Refleksi/Aksi Dalam
Kehidupan Bergereja Dalam Injil Matius
Kerajaan Allah adalah pemerintah yang nyata dengan kekuasaan
yang besar. Ia memiliki kuasa untuk melakukan jauh lebiuh banyak kebaikan dari
apapun. Manusia harus taat kepada Allah menunjukkan kasihnya untuk Allah,
menerima Yesus sebagai Tuhan dan Jurus Selamat. Kerjaan Allah itu ada dan sudah
diperkenalkan didalam Yesus Kristus yang diimanai oleh setiap orang yang
percaya. Dalam hal ini Allah menginginkan umatnya untuk menempati kerajaan
Allah yang sudah disediakan, dimana manusia memiliki hati yang tulus untuk
melayani Tuhan dan memberikan yang terbaik untuk Tuhan adalah ciri-ciri orang
yang akan Tuhan ditempatkan ditempat yang terbaik. Kerajaan Allah itu ada dan
bisa dirasakan lewat pemberitaan firman, pemyembuhan dan mujizat yang terjadi
pada setiap orang. Dengan adanya kerajaan Allah, manusia semakin dapat
merasakan kehadirat Allah dan dengan itu juga manusia semakin bersaksi,
memperkenalkan kerajaan Allah pada setiap orang, sehingga seiring berjalannya
dengan waktu manusia dapat semakin mengenal Allah didalam Yesus Kristus. Dalam
Matius 6:33 ditekankan untuk hidup sebagai warga kerjaan Allah, sebagaimana
orang percaya secara prinsip adalah warga kerajaan Allah. Hal ini menyatakan
bahwa kita layak sebagai warga kerajaan Allah yang menyatakan bahwa kamu layak
sebagai warga kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena kerajaan itu
(2 Tes 1:5). Oleh Karena itu, setiap orang yang percaya harus hidup sebagai
warga kerajaan Allah. Dengan demikian
jelaslah, bahwa dengan keberadaan dan kekuatan kita sendiri, kita tidak dapat
menyatakan ketaatan kita yang sempurna kepada Allah. Kita dapat memberikan
penghormatan dan ketaatan kita yang sempurna kepada Allah sebagaimana
seharusnya, hanya jika anugrah Allah datang kepada kita, menjadikan kita
miliknya dan mengubah kita. Melalui yesuslah kita dilahirkan kembali, perubahan
didalam diri kita terjadi ketika Ia masuk kedalam kita dan menjadikan hati
serta hidup kita milik-Nya sendiri. Dilahirkan kembali adalah berubah
sedemikian rupa, sehingga kkeadaaan yang baru itu hanya bisa dilukiskan sebagai
keadaan yang lahir kedua kali atau diciptakan kedua kali. Perubahan itu terjadi
kalau kita mengasihi Yesus dan membuka diri kita bagi diriNya untuk masuk
kedalam hati kita. Dengan begitu kita diampuni dari segala sesuatu yang lampau, dan diperlengkapi dengan Roh yang
menyongsong masa depan. Dengan begitu kita benar-benar dapat menerima kehendak
Allah. Lalu kita menjadi warga kerajaan sorga (Kerajaan Allah) menjadi
anak-anak Allah, masuk kedalam kehidupan kekal yaitu kehidupan Allah itu
sendiri.
Dalam kehidupan bergereja masa kini, perlu dipahami
mengenai arti dan makna kerajaan Allah, merupakan sebuah pemahaman yang sangat
perlu dipahami oleh setiap orang saat ini, termaksud dalam kehidupan
bergereja/berjemat. Gereja sebagai perwujudan dari kerajaan Allah yang nampak
dalam dunia ini, memiliki fungsi untuk menyatakan kepada dunia, anugrah atau
berkat-berkat yang terkandung dalam kerajaan Allah. Gereja merupakan perwujudan
nyata dari kerajaan Allah didalam dunia ini. Menyebarkan berita pengampunan
dosa dan keselamatan bagi domba-domba yang hilang, agar mereka kembali kedalam
komunitas kerajaan Allah. Membawa umat manusia kembali kepada persekutuan yang
benar dengan Allah dan sesama. Sebagai orang yang percaya sudah diselamatkan
(hidup dalam kerajaan Allah) berarti kita harus melakukan peraturan dalam
koridor hukum dalam kerajaan Allah yaitu berbuat baik. Supaya dapat melihat
kerajaan Allah itu, seorang berubah dulu melalui pembaharuan hidup (kelahiran
kembali). Melalui pembaharuan hidup, maka seseorang akan melakukan pertobatan,
sehingga pembaharuan hidup akan
menghasilkan buah-buah kehidupan yang baru atau menghasilakn
perbuatan-perbuatan baik.
Kerajaan Allah yang sudah datang tidak hanya yang
trasenden (berhubungan dengan yang akan datang), tetapi juga dengan kerajaan
Allah yang berhubungan dengan hidup manusia kini dan disini (imanen). Kerajaan
Allah mempunyai hubungan yang sangat penting dengan perbuatan. Allah menawarkan
keselamatan (anugrah) lebih dahulu sesudah itu Allah memberikan tuntunan etis.
Indikatif dulu baru imperative, dimana kita mengasihi karena Allah lebih dahulu
mengasihi kita. Hidup dalam kerajaan Allah yang sudah datang saat ini, tidak
dapat dipisahkan dengan kerajaan Allah yang akan datang. Pengalaman kerajaan
Allah yang sudah datang menjadi pendorong untuk melakukan perbuatan baik (hidup
sesuai kehendak Allah). Dan hidup yang demikian (berbuat baik pada kerajaan
Allah yang sudah datang) akan mempunyai dampak (konsekuensi) untuk masa yang
akan datang (kerajaan Allah yang datang).
Ketaatan orang-orang yang percaya (perbuatan-perbuatan baik yang
dilakukannya selama hidupnya) akan mempunyai nilai dan dampak pada hidup yang
kekal. Oleh karena ada pengharapan dan keyakinan yang akan diterima pada masa
hidup yang kekal, maka hal itu memberi motivasi untuk terus melakukan perbuatan
yang sesuai dengan kehendak Allah pada masa ia hidup.
III.
Kesimpulan
Dari pemaparan diatas kami para penyaji dapat
menyimpulkan bahwa kerajaan Allah adalah pemerintahan tertinggi Allah, namun
pemerintahan Allah terwujud dalam tahap yang berbeda-beda sepanjang sejarah
penebusan. Dalam injil Matius banyak berbicara dalam kaitannya
pengajara-pengajaran yesus tentang kerajaan Allah. Kerajaan Allah yang
dibicarakan dalam Injil Matius tidak terlepas kaitannya dengan misi sotereologi
Allah untuk menyelamatkan umatnya dari permukaan dosa, karena kerajaan Allah
telah membawa kemenangan dari roh-roh jahat dimana telah mendatangkan
keselamatan dari mereka yang telah membuka hati terhadap pemberitaan kerajaan
itu. Kerajaan Allah bekerja melalui gereja dimasa sekarang ini untuk
mengabarkan kabar baik. Oleh karena itu kerajaan Allah perlu dihidupi oleh
warga dalam kehidupan karena Yesus adalah inti pembicaraan injil.
IV.
Daftar
Pustaka
Beyer, Ulirch, Garis-Garis Besar Eskhatologi Dalam
Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009.
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 2, Jakarta:
BPK-GM, 2001.
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 2, Jakarta:
BPK-GM, 2012.
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian, Baru 3, Jakarta:
BPK, 1993.
Harvey, Van A., A Handbook of Theological Terms,
New York: The Macmilan Company, 1964.
Henry, Matthew, Tafsiran Matthew Henry Injil Matius 15-28, Surabaya:
Momemtum, 2008.
Hunter, A.M., Memperkenalkan Teologi Perjanjian Baru, Jakarta:
BPK-Gunung Mulia, 2002.
Ladd, George Eldon, A Theology Of The New Testament,
America: William
B Eerdmans Publishing Company, 1974.
Ladd, George Eldon, Injil Kerajaan Malang: Gandum Mas, 1994.
Legg, John, The King and His Kingdom, New York:
Evangelical Press, 2004.
Morris, Leon, Teologi Perjanjian Baru, Malang: Gandum
Mas, 2001.
Santoso, David
Iman, Theologi Matius dan Aplikasinya, Malang:
SAAT, 2009.
Schriner, Thomas R., New Testament Theology, Yogyakarta:
Andi, 2015.
Susanto, Hasan, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Korkondansi
Perjanjian Baru , Jakarta: LAI, 2004.
[1] Ulirch Beyer, Garis-Garis Besar
Eskhatologi Dalam Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009), 7
[2] George Eldon Ladd, Injil
Kerajaan (Malang: Gandum Mas, 1994), 7
[3] Ibid, 9
[4] A.M. Hunter, Memperkenalkan
Teologi Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2002), 16-17
[5] Donald Guthrie, Teologi
Perjanjian Baru 2, (Jakarta: BPK-GM, 2012), 22-23
[6] Donald Guthrie, Teologi
Perjanjian Baru 2, (Jakarta: BPK-GM, 2001), 32-34
[7] Thomas R. Schriner, New
Testament Theology, (Yogyakarta: Andi, 2015), 15-19
[8] Van A. Harvey, A Handbook of
Theological Terms, (New York: The Macmilan Company, 1964), 141
[11] George Eldon Ladd, A Theology Of
The New Testament, (America: William B Eerdmans Publishing
Company, 1974), 58
[12] Hasan Susanto,
Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Korkondansi
Perjanjian Baru , (Jakarta: LAI, 2004), 9
[14] Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 2001), 174-175
Berkat Allah yg kita nikmati sebagai orang percaya yg hidup dalam pemerintahan kerajaan Allah ialah?
BalasHapus