Selasa, 31 Maret 2020

Menelaah Pemikiran Tentang Oikumene Melalui Konferensi Misi Se-Dunia Di Edinburgh 1910 Diperhadapkan Dengan Pikiran (Suara) Orang ASIA Serta Relevansiya Bagi Gerakan Oikumene Di Indonesia Masa Kini


Menelaah Pemikiran Tentang Oikumene Melalui Konferensi Misi Se-Dunia Di Edinburgh 1910 Diperhadapkan Dengan Pikiran (Suara) Orang ASIA Serta Relevansiya Bagi Gerakan Oikumene Di Indonesia Masa Kini
I.                   Pendahuluan
            Oikumene adalah suatu gerakan yang berusaha untuk menyatukan atau membangun kesatuan dalam keberbagaian. Dalam gerakan oikumene yang menjadi pemersatu gereja-gereja ini juga muncul pendapat baru untuk menyatukan perpecahan yang sudah terjadi pada masa Reformasi. Untuk itu diadakan suatu konferensi di Edinburgh untuk membentuk suatu usaha mempersatukan kembali gereja-gereja di dunia. Dalam konferensi ini banyak membahas usaha yang dilakukan untuk membangun kembali tongkat kerjasama antara gereja. Dalam pokok pikiran konfereni itu menghasilkan suatu ide baru yang diperhadapkan dengan pendapat orang Asia.
II.                Pembahasan
2.1.Sejarah Terbentuknya Dewan Gereja-gereja se-Dunia (1948) (WCC)
Gerakan oikumene, bermuara pada pembentukan World Council of Churches (WCC), dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Dewan Gereja-gereja se-Dunia, DGD yang terbentuk di Amsterdam, 23 Agustus 1948.[1] Di Indonesia gerakan oikumene bermuara pada pembentukan Dewan Gereja Indonesia (DGI) tanggal 25 Mei 1950. Setelah tahun 1964, kebutuhan akan badan-badan daerah (Dewan gereja-gereja wilayah) menjadi hangat digumulkan. DGI mulai memikirkan usaha untuk membantu gereja-gereja kepada keesaan dengan diperkuat oleh adanya Dewan Gereja-gereja wilayah yang terbesar diberbagai daerah di Indonesia. [2]
Gerakan oikumene dapat menjadi salah satu titik tolak bagi gereja-gereja dalam menjawab kebutuhan tantangan yang ada, seperti masalah kemajemukan, ekologi, kemiskinan dan sebagainya. Gerakan oikumene ini muncul dari berbagai bidang penginjilan. Gerakan oikumene dengan konsep penginjilan Liberal adalah WCC.[3] John R. Mott dan rekan-rekannya sadar bahwa karya misi yang efektif membutuhkan kerja sama dan kesatuan gereja dan mungkin kesatuan gereja membutuhkan pekerjaan misi. Ketika menyebarkan Injil Kristus, ketika itulah kita merupakan suatu badan yang menyatu seperti yang diinginkan Kristus. Pada tahun 1910, International Missionary Conference (Konferensi Pekabaran Injil Internasional), bertemu di Edinburgh untuk merencanakan strategi-strategi bagi penginjilan dunia. Hal ini umumnya dianggap sebagai awal gerakan oikumene. Dengan John R. Mott sebagai penggerak utama, keseribu delegasi tersebut menggerakkan dua organisasi  Faith and Order Movement (Gerakan Iman dan Tata Ibadah) untuk isu-isu doktrinal dan Life and Work Movement (Gerakan Kehidupan dan Karya) bagi misi dan pelayanan.
Life and Work Movement bertemu di Stockholm pada tahun 1925 untuk mendiskusikan hubungan kekristenan dengan masyarakat, politik dan ekonomi. Dua tahun kemudian Faith and Order Movement bertemu di Lausanne, mengupayakan tugas sulit dalam merencanakan kesatuan ajaran. Pada tahun 1937, dengan pertemuan secara terpisah di Oxford dan Edinburgh, kedua organisasi ini memilih untuk bergabung. Para pemimpin gereja bertemu di Utrecht, pada tahun 1938, untuk menyusun sebuah konstitusi.
Pertemuan di Amsterdam pada tahun 1948 akhirnya menyatukan kedua badan terdahulu itu menjadi World Council of Churches (WCC) [Dewan Gereja-gereja se-Dunia]. Menggambarkan dirinya sebagai "persekutuan gereja-gereja yang menerima Yesus Kristus Tuhan kita sebagai Allah dan Juruselamat", WCC mengajak gereja-gereja bekerja sama, belajar bersama, bersekutu bersama, berbakti bersama, dan bertemu bersama dalam konferensi khusus dari waktu ke waktu. WCC hanya bertujuan memberi gereja-gereja di seluruh dunia kesempatan dan sumber untuk bekerja sama satu dengan yang lain.[4]
2.2.Gerakan Oikumene Edinburgh (1910) “Gereja di lapangan pekabaran injil
Pekabaran Injil Sedunia di Edinburgh 1910, sebagai titik mula lahirnya gerakan Oikumene Internasional. Pada konferensi Edinburgh baru dapat dikatakan Internasional, karena terdiri dari berbagai negara di dunia dan diikuti oleh 1200 delegasi dari 159 Badan Misi. Salah satu yang berhasil disimpulkan dalam konferensi itu yakni mengenai kerja sama dan pemupukan keesaan. Hal ini juga membawa gereja yang muda untuk memikirkan ke arah gereja yang dewasa.[5]
Awalnya bahwa timbul kesadaran untuk memulihkan perpecahan yang diakibatkan Reformasi harus bertolak dari warisan bersama. Kesadaran ini hidup khususnya dikalangan kaum humanis, cendikiawan katolik maupun Protestan yang mengecam keadaan gereja Katolik Roma pada zaman itu karena telah menyimpang dari ajaran dan praktik gereja kuno. Namun usaha perdamaian mereka agak bersifat intelektual dan individual, dan kurang berakar dalam gereja.
Sikap terbuka dikalangan        Pietis kemudian sangat mempengaruhi perhimpunan-perhimpunan pekabaran injil. Perhimpunan-perhimpunan ini juga mengutamakan iman sederhana kepada Yesus Kristus. Sejak 1854 diadakan konferensi-konferensi pekabaran injil untuk dunia Anglo-Amerika, tahun 1866 untuk daratan Eropa, tahun 1860 di Liverpool dan 1885 di London diadakan Konferensi Pekabaran Injil International. Tahun 1900 di New York diadakan Eucumenical Conference on Foreign Missions, yang diselenggarakan oleh Evangelical Alliance.
Usaha ini bermuara pada konferensi pekabaran injil sedunia di Edinburgh (14-23 juni 1910), yang dipelopori oleh John Raleigh Mott (1865-1955). Konferensi ini untuk membahas sejumlah persoalan yang timbul dilapangan pekabaran injil. Pokok-pokok yang di bahas:
1.      Pekabaran injil di seluruh dunia.
2.      Gereja di lapangan pekabaran injil.
3.      Pendidikan dan pengkristenan.
4.      Berita Kristen dan agama-agama bukan Kristen.
5.      Persiapan para pekabar injil.
6.      Hubungan dengan pangkal di dalam negeri.
7.       Hubungan dengan pemerintah.
8.       Kerjasama dan keesaan.
Keputusan ini kemudian hari, ternyata berarti langkah awal di sejarah oikumene, sehingga konferensi pekabaran injil sedunia di Edinburgh 1910 dilihat sebagai saat kelahiran gerakan oikumenis.
Baru pada 1921 didirikan International Missionary Council (IMC) yang ketuanya John Mott. Setelah Edinburg, berdirilah dewan-dewan semacam itu seperti Dewan-dewab Kristen Nasional (di India, Korea, Jepang, dan Tiongkok). Sejak Tahun 1921 mulai diterbitkan  Review of Mission (IRM), majalah untuk pekabaran Injil dan misiologi yang ada sampai sekarang.[6]  Gereja haruslah mengkomuniskasikan dan mengajak  kepada setiap individu untuk menciptakan suasana pertemanan.[7]
Gerakan Life and work membuat gereja sadar akan pentingnya tugas pelayanan. Dan Gerakan Oikumene yang pertama (International Missionary Council) membuat gereja sadar akan pentingnya sebuah kesaksian untuk menghadirkan perdamaian.[8] Gerakan oikumene merupakan jawaban gereja untuk menghadapi tantangan dunia. Dunia saat itu terpecah yang diakibatkan oleh perang. Keesaan dalam gereja tetap dipertahankan dalam Oikumene. Keesaaan dalam doktrin, tata gereja dan ajaran dalam gereja merupakan kekayaan dalam oikumene. Bersatu bukanlah berarti harus memiliki aspek yang sama, tetapi memiliki tujuan akhir yang sama. Arti kesatuan ialah, supaya umat menjadi sempurna didalam persekutuan dan supaya dunia mengetahui, bahwa Allah hadir dalam Yesus.[9]
Dalam pertemuan yang murni untuk PI sedunia ini tanpa adanya pengaruh warna theologia. Istilah dunia bukan merupakan konsep yang bersifat theologi tetapi lebih cenderung pada konsep yang bersifat geografis dan historical. Dunia dibagi menjadi dua struktur yaitu dunia Kristen dan dunia non Kristen. Hubungan ini disebut Imperalisme Apostal dan konsep ini muncul dengan berbagai macam istilah yang militer yaitu tentara, penguasa, komisi, perang, stratregi dll. Walaupun salah imperialism nampak dalam konferensi Edinburgh yaitu konferensi yang mempunyai tujuan mewujudkan PI sedunia tetapi konferensi tersebut menjadi suatu fondasi PI sedunia yang akan mendatangkan masa depan cerah dan yang bisa mewujudkan tujuan oikumene.
 Dalam Gerakan Injili terdapat semangat apostolik, ketika para orang percaya mencari kebenaran didalam Alkitab. Tanggapan para penginjil terhadap gerakan ekumenis adalah mengkritik gerakan ekumenis yang individualistik dan mengabaikan aspek spritual.[10]
Pada tahun 1961 WCC mengambil alih IMC lalu IMC diintegarikn dalam WCC dan muncullah pemikiran teologi Missio Dei (1950) dan pemikiran Teologia bahwa PI harus termasuk dalam gereja sebagai fungsi dan alat gereja. Gerakan Oikumene WCC merupakan gerakan yang lebih cenderung pada hal organisasi dan struktur daripada hal spiritual, apalagi dikuasai dan dipengaruhi oleh teologia liberal yang lebih cenderung pada keselamatan sosial dan politik dari keselamatan jiwa. Tujuan dan jiwa gerakan oikumene yang Alkitabiah sudah kehilangan arah yang tepat bahwa semakin jauh dan tujuan semula yang bermakud menunjukkan kesatuan gereja.
Teologi-teologi yang mengubah konsep gerakan oikumene yang pernah muncul sejak reformasi Edinburgh dan dalam konferensi WCC juga mempengaruhi keadaan konsep oikumene pada zaman ini. Khususnya teologi yang menekankan keselamatan sosial yang muncul sejak 1950, akhirnya mengakibatkan teologi pembebasan berkembang dengan leluasa, hal itu dengan membahayakan konsep keselamatan dan PI sedunia yang bersifat tradisi.[11]
2.3.Pikiran Suara Orang Asia
Pilon adalah seorang tokoh oikumene di Asia yang menyebut empat hal-hal yang menentukan perkembangan oikumene di Asia:

1.      Pengaruh Nasionalisme di Asia yang mulai berkembang di mana-mana sesudah Jepang mengalahkan Rusia pada tahun 1905. Timbul perasaan bahwa orang-orang Asia tidak perlu diatur oleh orang-orang Barat karena mereka sudah mampu mengurus perkara yang ada, orang Asia mempunyai pendapat bahwa gereja-gereja Asia harus menjadi urusan orang-orang Asia sendiri.
2.      Pengaruh pekabaran Injil. Usaha-usaha untuk kerjasama yang memuncak pada konperensi Edinburgh (1910) sangat berpengaruh di Asia. Kerjasama gerejawi di Asia di pelopori oleh kerjasama di bidang pekabaran Injil.
3.      Pengaruh agama-agama lain. Agama Kristen masih sangat berkiblat kedunia Barat. Timbul kesadaran bahwa orang-orang Kristen Asia harus menghadapi bersama-sama dengan agama-agama yang bukan Kristen.
4.       Pengaruh Alkitab, khususnya Yoh 17 : 21 “supaya mereka semua menjadi satu”. Yang menentukan di sini adalah cara orang-orang Kristen memahami Alkitab dan ajakan-ajakan didalamnya untuk bersatu.
Setelah John Mott mengunjungi Asia, didirikanlah dewan-dewan pekabaran Injil nasional di India, Tiongkok dan Jepang. Di India dibentuk Church South of India (1947). Konperensi kedua IMC diadakan di Parapat, pada Maret 1957.  Di sana diputuskan untuk membentuk suatu dewan, East Asia Christian Conference (EACC). Pada tahun 1973 nama EACC dirubah menjadi Christian Conference of Asia (CCA) dan pada tahun berikutnya dibuka kantor CCA di Singapura. Ada panitia untuk Inter Church Aid (Perkara-perkara International untuk region Asia, gereja dan masyarakat), Urban and Rural Mission (Kerjasama dan pertukaran tenaga di bidang pekabaran Injil, kaum awam, literature dan komunikasi masa). [12]
2.4.Relevansinya  Bagi gerakan Oikumene Di Indonesia Masa Kini
Seperti telah dikatakan bahwa tujuan oikumene yang dikehendaki oleh setiap orang sudah semakin  jauh dari tujuan oikumene yang Alkitabiah karena perbedaan theologia dalam PI.  Kaum WCC dan Kaum Injili memiliki pandangan berbeda terhadap oikumene.  Gereja harus menghadapi dalam dunia sosial, politik, ekonomi atau gereja harus terwujud menjadi satu dari pandanngan oikumene itu. Sedangkan di Asia salah satu yang mempengaruhi oikumene salah satunya adalah Pekabaran Injil maka seharusnya bahwa usaha dalam pekabaran Injil itu harus didasarkan kerjasama yang baik penginjil untuk mewujudkan gereja yang satu. Usaha-usaha yang diputuskan dalam konferensi Edinburgh ini sangat memperngaruhi pekembangan dan penyebaran Injil di Asia. Dengan Konferensi itu maka mulai dibentuk beberapa lembaga pekabar Injil di Asia untuk bekerja sama dalam pekabaran Injil.
III.             Kesimpulan
1.      Muncul dan perkembangan Gerakan Oikumene di Indonesia diilhami oleh gerakan oikumene di bagian dunia lain yang merupakan tempat asal pembawa agama-agama Kristen ke Indonesia, yakni Eropa.
2.      Gerakan Oikumene di Indonesia sebenarnya diawali oleh kegiatan perorangan Kristen dari berbagai bidang kehidupan dan baru melibatkan gereja sebagai lembaga. Pada gerak yang serupa terlihat di Eropa.
3.      Gerakan Oikumene Edinburgh, salah satu yang berhasil disimpulkan dalam konferensi itu yakni mengenai kerja sama dan pemupukan keesaan. Hal ini juga membawa gereja yang muda untuk memikirkan ke arah gereja yang dewasa.
4.      Seperti telah dikatakan, bahwa tujuan gerakan oikumenis yang dikehendaki oleh semua kalangan semakin jauh dari tujuan oikumenis yang alkitabiah karena perbedaan Teologi dalam PI. Sampai sekarang dua gerakan oikumene yaitu kaum WCC dan kaum Injili masih memiliki pandangan yang berbeda terhadap konsep oikumene. Kaum WCC terus berusaha untuk mewujudkan oikumene dengan mempertahan konsep PI yang berhubungan dengan humanism yaitu memulihkan manusia secara jasmani. Kaum WCC ingin mempersatukan gereja dibumi dengan pandangan sekuler dan gereja Tuhan dianggap sebagai gereja bagian di dunia.
IV.             Daftar Pustaka
Curtis, A. Kenneth, Lang, J. Stephen, & Petersen, Randy, 100 Peristiwa Penting dalam
Sejarah Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia,1991.
Gairdner, W.H.T..Edinburgh 1910.Edinburgh & London: Oliphant, Anderson &
Ferrier.1910.
Hartono, Chris Th.D, Gerakan Ekumene di Indonesia, Yogyakarta: Pusat Penelitian dan
Inovasi Pendidikan Duta Wacana (PIPP Duta Wacana), 1984.
Hoekendijk, J. C., “The Call To Evangelism” in Donald McGavran (ed.), The Conciliar
Evangelical Debate: The Crucial Documents, 1964-1976 (California: William
Carey Library, 1977.
Jonge, Christian De, Menuju Keesaan Gereja: Sejarah, Dokumen-dokumen dan Tema
tema gerakan Oikumenis, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.
Sitompul, K., Masalah Keesaan Gereja(Jakarta: BPK:Gunung Mulia, 2016.
Snaitang, O.L.,A History of Ecumenical Movement:An Introduction.Bangalore:National
Printing Press.2004.
Ukur & Cooley, F.L., Jerih dan Juang: Laporan Nasional Survei Menyeluruh Gereja di
Indonesia, Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi DGI, 1979.




[1] Christian DeJonge, Menuju Keesaan Gereja: Sejarah, Dokumen-dokumen dan Tema-tema gerakan Oikumenis, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), 17.
[2] Chris Hartono Th.D, Gerakan Ekumene di Indonesia, (Yogyakarta: Pusat Penelitian dan Inovasi Pendidikan Duta Wacana (PIPP Duta Wacana), 1984), 107.
[3] Christian DeJonge, Menuju Keesaan Gereja: Sejarah, Dokumen-dokumen dan Tema-tema gerakan Oikumenis,135-142.
[4] A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang, & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1991), 160-162.
[5]  Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang: Laporan Nasional Survei Menyeluruh Gereja di Indonesia, (Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi DGI, 1979), 571-572
[6] Christian,De Jonge.Menuju Keesaan Gereja.(Jakarta:BPK Gunung Mulia.1990), 10.
[7] W.H.T.Gairdner.Edinburgh 1910.(Edinburgh & London: Oliphant, Anderson & Ferrier.1910.), 108
[8] O.L.Snaitang,A History of Ecumenical Movement:An Introduction.(Bangalore:National Printing Press.2004),114.
[9] K. Sitompul, Masalah Keesaan Gereja(Jakarta: BPK:Gunung Mulia, 2016), 33
[10] J. C. Hoekendijk, “The Call To Evangelism” in Donald McGavran (ed.), The Conciliar-Evangelical Debate: The Crucial Documents, 1964-1976 (California: William Carey Library, 1977),  41.
[11] Christian DeJonge, Menuju Keesaan Gereja: Sejarah, Dokumen-dokumen dan Tema-tema gerakan Oikumenis, 135
[12] Christian DeJonge, Menuju Keesaan Gereja: Sejarah, Dokumen-dokumen dan Tema-tema gerakan Oikumenis, 136

Tidak ada komentar:

Posting Komentar