Selasa, 31 Maret 2020

Penyebutan Allah Dalam Alkitab Ibrani (“Divine Designations in the Hebrew Bible” dalam The Names of God in Judaism, Christianity and Islam) hal 21-29, diperhadapkan dengan Penyebutan Nama Allah dalam Agama Islam.


Penyebutan Allah Dalam Alkitab Ibrani (“Divine Designations in the Hebrew Bible” dalam The Names of God in Judaism, Christianity and Islam) hal 21-29,[1] diperhadapkan dengan Penyebutan Nama Allah dalam Agama Islam.

I.                    Pendahuluan
Hampir tidak mungkin untuk memasukkan semua literatur dalam Yudaisme yang dapat dilihat sebagai “sakral” dalam penelitian ini. Untuk memasukkan sebanyak mungkin sebutan, bagian ini akan melihat tinjauan luas Tanakh atau Alkitab Ibrani (dan mengecualikan teks-teks seperti Mishnah dan Talmud). Oleh karena itu, melihat melalui teks Alkitab Ibrani harus memberi kita cukup banyak contoh nama-nama Allah, termasuk artinya dan konteks di mana mereka digunakan, untuk menerapkan metode teologi komparatif dengan sukses untuk hasilnya. Mengenai asal-usul nama Allah itu sendiri, masih menjadi bahan perdebatan baik dikalangan Kristen maupun Islam. Kita akan melihat sekilas pemetaan silang pendapat mengenai asal-usul nama Allah dibawah ini.
Pandangan Islam: Allah, berasal dari kata Al (definite article, The) dan Ilah (generic name, God]. Penyingkatan dari kata Al dan Ilah menjadi Allah, untuk menandai sesuatu yang telah dikenal. Dalam perkembangannya, untuk mempermudah hamzat yang berada diantara dua lam (huruf „LL‟), huruf „I‟ tidak diucapkan sehingga berbunyi Allah dan menjadi suatu nama yang khusus dan tidak berakar[2].
Pandangan Kristen: Kata Allah berasal dari Al dan Ilah. Akar kata ini terdapat dalam semua bahasa semitis, yaitu dua konsonan alif dan lam serta ucapan yang lengkap dengan huruf hidup adalah sesuai dengan phonetik masing-masing. George Fry dan James R. King menyampaikan, “the name by which God is known to muslim, Allah is generally thought to be the proper noun form of the Arabic word for God, Ilah. Al, meaning The ini Arabic word. This word is related to the Hebrew from El and Elohim.[3]
II.                  Pembahasan
2.1.    Pemilihan Nama
Ada sejumlah sebutan yang digunakan untuk menggambarkan keilahian dalam Alkitab Ibrani sehingga, lagi-lagi ruang lingkup pekerjaan ini membatasi dimasukkannya mereka semua. Daripada menerapkan kriteria seleksi yang ketat untuk nama-nama yang akan dimasukkan, nama-nama yang sering digunakan (seperti Tetragrammaton dan Elohim), nama-nama yang memiliki latar belakang dan penggunaan yang menarik, dan nama-nama yang memiliki fitur dalam berbagai jenis literatur (misalnya narasi dan puisi) telah dipilih. Metode pemilihan ini telah digunakan untuk mendapatkan tampilan keseluruhan dari nama-nama dalam teks.
Setelah nama-nama telah dipilih, metode pendekatan untuk menganalisis penggunaannya adalah salah satu yang memperhitungkan banyak pekerjaan akademis yang telah dilakukan pada latar belakang etimologis untuk nama-nama, penggunaannya dalam konteks tertentu, dan karya eksegetis. Meskipun karya ini dalam hal nama-nama yang digunakan dalam Alkitab Ibrani jauh lebih besar daripada nama-nama yang digunakan dalam Perjanjian Baru dan Al-Qur'an, ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengecualikannya. Penting untuk ditekankan bahwa keseimbangan perlu ditekankan dengan perspektif teologi komparatif; pemeriksaan nama-nama ini tidak murni etimologis atau semata-mata berdasarkan makna dari akar kata Ibrani dari suatu istilah. Seperti yang dikatakan James Barr dalam karyanya The Semantic of Biblical Languange, makna suatu istilah lebih cair daripada sejarahnya. Bahasa dan terminologi hanya dapat bekerja dalam pengaturan kalimat semantik dan unit sastra yang lebih besar. Ini sangat penting ketika menggunakan lensa teologi komparatif untuk melihat nama-nama sebagai konteks iman orang yang menggunakan metodologi (dan, tentu saja, mereka yang membaca hasilnya) diperhitungkan.
2.2.    Tetragrammaton (יהוה)
2.2.1.         Makna dan Penggunaan
Tetragrammaton muncul sebagai tempat yang paling mungkin untuk memulai pemeriksaan penunjukan Allah dalam Alkitab Ibrani, karena itu adalah penunjukan yang paling sering digunakan dalam teks. Tetragrammaton atau יהוה biasanya dipandang sebagai ‘nama yang tepat’ untuk Allah Israel dan digunakan lebih dari 6000 kali dalam Alkitab Ibrani, termasuk kutipan dalam ayat-ayat di mana istilah tersebut digunakan lebih dari satu kali atau di mana ia digunakan dalam kombinasi dengan gelar Allah yang lain seperti Elohim. Istilah ini berfungsi untuk membedakan TUHAN dari para dewa bangsa lain. Pelafalan aslinya tidak pasti karena ini hilang dari tradisi Yahudi beberapa kali di Abad Pertengahan tetapi pelafalan Yahweh telah dipulihkan di zaman modern. Hal ini terutama disebabkan oleh kesimpulan dari bentuk kontraknya dalam nama majemuk, seperti yang dikonfirmasikan oleh kesaksian seperti Clement dari Alexandria ke terjemahannya sebagai Ιαουέ. Istilah ini sering muncul sebagai ‘YHWH’ dalam bahasa yang menggunakan sistem huruf Romawi, tetapi juga dapat muncul sebagai ό Κύριος atau ‘Aku adalah aku’, atau qui est. Thomas Aquinas berpendapat bahwa qui est, terjemahan Vulgate dari istilah tersebut, adalah nama ‘maxime proprium’ yang paling tepat untuk Tuhan. Demikian pula, κυριε vokatif Yunani menemukan jalannya menjadi salah satu bagian dari Misa Latin, tetapi berbagai infleksi dari kata dominus lebih umum digunakan. Sifat ‘hibrid’ dari nama ilahi ini memberikan peringatan awal tentang kesulitan yang harus dihadapi ketika melakukan terjemahannya.

2.2.2.           Arti Dari Nama
Arti yang tepat atau, memang, definisi istilah itu tidak jelas dan berbagai penjelasan yang telah disajikan terlalu banyak untuk dikutip di sini. Teks Kel. 3: 13-14 tidak dapat dianggap sebagai penjelasan:
Tetapi Musa berkata kepada Allah, “Jika aku datang ke Israel dan berkata kepada mereka, ‘Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu,’ dan mereka bertanya kepadaku, ‘Siapa namanya?’ Apa yang akan ku katakan kepada mereka? “Tuhan berkata kepada Musa,” AKU ADALAH AKU. “Dia berkata lebih jauh,” Karena itu kamu akan berkata kepada orang Israel, ‘AKU telah mengutus Aku kepadamu.” (NRSV).
Teks ini sangat sulit diterjemahkan karena orang Ibrani memiliki nama pada orang pertama, אֶהְיֶה אֲשֶר אֶהְיֶה. LXX menerjemahkan nama sebagai (Aku adalah Aku) dan Vulgate sebagai ego sum qui sum.
Paul Haupt, dalam karyanya ‘Der Name Jahwe’ pada tahun 1909, adalah komentator pertama yang menyarankan bahwa formula itu aslinya adalah orang ketiga dan membaca yhwh aser yhwh. Kebanyakan cendekiawan modern akan menghubungkan tiga kata benda  dengan kata kerja hāwâ, bentuk kuno dari kata kerja ‘to be’; mengaitkan ini dengan rentang semantik luas yang dapat dilakukan oleh kata kerja, ada tingkat ambiguitas yang besar dengan terjemahan istilah tersebut (mis. ‘menjadi’, ‘menjadi’, ‘menjadi’, ‘akan terjadi’, dan sebagainya). William Albright bersikeras bahwa Nama ‘YHWH’ berasal dari kata kerja kausatif, dari kata kerja ini dan artinya, ‘ia menyebabkan menjadi’. Albright melihat bahwa nama ‘yang muncul sebagai nama tempat atau nama suku dalam daftar permukiman di Palestina selatan atau timur dari abad ketiga belas SM’, hanya dapat diturunkan dari batang verbal היה’ untuk jatuh, menjadi ada’. Albright menyatakan bagaimana dia dan Freedman menyoroti bahwa nama itu adalah sebuah fragmen dari nama yang lebih panjang yang diterjemahkan sebagai ‘dia yang mewujudkan apa pun yang muncul’. Nama yang dijelaskan dengan demikian mengidentifikasi YHWH dengan sangat jelas sebagai Pencipta.
Frank Moore Cross memiliki variasi pada tesis Albright, ketika dia memikirkan ‘YHWH’ sebagai bagian dari judul liturgi EL, mis. YHWH Sabaoth, ‘El yang menjadi tuan rumah. Di sisi lain, jika beberapa penjelasan yang mirip dengan terjemahan LXX dan Vulgate diterima dan lebih banyak penekanan ditempatkan pada keberadaan, maka nama menandakan bahwa YHWH adalah orang yang pasti ‘adalah’, atau ‘elohim’.
Penggunaan sebutan ‘YHWH’ dalam Alkitab tidak menunjukkan pengakuan etimologi dari istilah tersebut, dan tidak ada indikasi dalam Alkitab Ibrani tentang suatu teologi yang dibangun di sekitar makna nama itu. Namun demikian, teori-teori tentang etimologi dari istilah ‘YHWH’ ini menipu; bahkan jika makna asli dari nama itu pasti diidentifikasi, masih belum ada jaminan bahwa orang Israel memahami nama itu dengan benar.

2.2.3.           Dalam Konteks Perjanjian
‘Nama itu bukan nama seperti Elohim, yang mengekspresikan Allah di sisi keberadaan-Nya, sebagai kekuatan yang penting, berlipat ganda; itu adalah sebuah kata yang mengungkapkan hubungan-Elohim dalam kaitannya dengan Israel adalah Jahweh. Raymond Abba mengusulkan ide yang menarik sehubungan dengan pentingnya nama ilahi dalam konteks perjanjian. Menurut Abba, nama itu mengungkapkan hubungan perjanjian Allah dengan umat-Nya, Israel. Di dalam perjanjian, “nama” adalah kesan dari kelanjutan hubungan karena penggunaan bentuk imperfect tense mengekspresikan semacam stabilitas atau imovabilitas. Posisi abadi YHWH sangat kontras dengan sifat tentatif dari bangsa Israel. Abba mengidentifikasi YHWH sebagai Tuhan perjanjian tanpa saran, bukan panteisme. YHWH bekerja melalui tatanan alam, mengungkapkan kekuatan dan kemuliaan, tetapi tidak pernah diidentifikasi dengan itu. Karena YHWH adalah Pencipta, ia berbeda dan terpisah dari tatanan alami ini. YHWH juga dianggap sebagai kehadiran yang efektif, sebuah gagasan yang dikembangkan dengan pengetahuan yang terkandung dalam sebutan ilahi (nama) suatu entitas yang bersifat pribadi dan dinamis. Transendensi dan juga imanensi tersirat. YHWH berulang kali ‘mengunjungi’ orang-orang-Nya dalam penghakiman dan keselamatan.

2.2.4.           Nama Ilahi Sebagai Bentuk Pewahyuan Diri
  Dalam teologi tentang nama Allah, Pewahyuan nama YHWH ke Israel melalui Musa mewakili wahyu baru dan lebih lengkap dari realitas pribadi YHWH. Ini tercermin dalam tradisi eksodus (keluaran) di mana nama YHWH dikaitkan dengan asal mula perjanjian. Orang Israel mengenal Tuhan dengan nama ini dan tidak ada kualifikasi atau definisi lebih lanjut yang diperlukan. Pada saat ini, ia dinyatakan sebagai makhluk ilahi, pribadi yang telah menyatakan diri kepada Israel, yang telah membuktikan dirinya kepada Israel melalui tindakan penyelamatan eksodus, dan telah menjalin hubungan perjanjian dengan orang-orang yang telah Ia ciptakan. Nama khas YHWH menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang esensi dan tidak dapat dibagikan oleh orang lain.
Dalam proposal Abba, gagasan yang penting bahwa Tetragrammaton memiliki arti penting pewahyuan. Nama Tuhan terutama berarti sifat dan karakternya yang diungkapkan. Allah umat Israel adalah yang dikenal dengan siapa dia (sebagai Allah yang hidup) dan dengan apa yang dia lakukan (dalam hal menciptakan, menyelamatkan, menebus, dan sebagainya). Bentuk imperfect tense dari kata kerja היה (HWH) biasanya digunakan untuk mengekspresikan suatu tindakan. Tindakan ini menggambarkan bagaimana YHWH hadir dalam sejarah, memanifestasikan diri-Nya kepada umat manusia, dan khususnya kepada umatnya, Israel. Melalui manifestasinya itulah YHWH menjadi dikenal, dengan setiap penampilan, beberapa detail karakter dan rencananya terungkap.
Abba tidak berkutat pada pentingnya ‘memanggil’ nama Allah dan dengan demikian membuatnya hadir. Aspek nama ilahi ini cukup kompleks dan patut dipertimbangkan secara terpisah karena memiliki implikasi besar untuk tidak hanya pemahaman tradisi lisan di balik teks tertulis tetapi juga bentuk akhir teks. Seperti ditunjukkan dalam karyanya Name und Wort Gottes im Alten Testament, Oskar Grether menyoroti fakta bahwa kita hanya dapat menyebutkan apa yang kita ketahui. Wahyu diri Allah dinyatakan dalam Tetragrammaton, dan Tetragrammaton (YHWH) adalah nama Allah yang diwahyukan atau deus revelatus.

2.2.5.           Pengucapan Tetragrammaton (Yahweh)
Orang Yahudi yang taat tidak mengucapkan Tetragramaaton karena nama itu dianggap terlalu Kudus/sakral untuk digunakan, termasuk dalam doa dan melalui membaca teks-teks suci. Tidak ada dalam Taurat untuk melarang mengatakan nama itu tetapi bahkan di zaman kuno, selama masa Kuil Pertama di Yerusalem, nama itu hanya diucapkan setahun sekali oleh imam besar di Yom Kippur. Ketika kuil hancur, nama itu tidak lagi diucapkan.
Orang Yahudi dan mereka yang ingin menunjukkan rasa hormat akan membaca nama YHWH menjadi Adonai (‘tuanku’) atau ha shem (secara harfiah Nama itu) seperti dalam teks Masoretik atau Alkitab Ibrani, Tetragrammaton diarahkan dengan huruf vokal Adonai. Seorang Yahudi bahkan tidak akan dengan santai menulis nama Tuhan, bukan karena itu dilarang tetapi karena, dalam menuliskan nama, itu dapat menimbulkan pengucapan tidak sopan oleh orang lain. Sehubungan dengan pandangan-pandangan ini, teks ini selalu menggunakan formulir YHWH untuk nama Tuhan.

2.3.    Adonai ( אֲדֹנָי ) Adon (אָדוֹן)
Makna dan Penggunaan
Terjemahan untuk istilah Adonai bervariasi di antara berbagai versi Alkitab Ibrani. Biasanya, istilah ini diterjemahkan sebagai Tuhan, tuan, atau pemilik. Secara singkat, dalam pengertian etimologis, frasa ini sebenarnya cukup mudah untuk diterjemahkan karena Ugarit dan berarti ‘tuan’ atau ‘ayah’ dan adannu Akkadian membawa arti yang sama, ‘perkasa’.
Kedua, dalam Samuel 3:4, di mana putra Daud yang lahir dari Haggith dinamai Adonia atau tuanku adalah YHWH ’), adalah contoh tertua yang dapat diberi tanggal dengan keyakinan di mana Israel memanfaatkan gagasan Adonai. Dapat dipercaya bahwa bangsa Israel telah menamai tuan mereka surgawi atau “manusia Adonai” pada tahap sebelumnya - misalnya, Kejadian 42:10. Dalam beberapa contoh, raja disebut Adonai dan, dalam Yer. 22:18 dan 34:5, “Aduhai tuan” muncul sebagai ratapan atas raja yang sudah mati. Adonai juga biasanya merujuk pada laki-laki. Sarah menggunakannya sehubungan dengan suaminya dalam Kejadian 18:12, Abraham menggunakannya dalam berbicara kepada tiga pengunjung dalam Kejadian 19:2, dan pelayannya sering memanggil tuannya dengan istilah ini dalam Kej 24. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada raja. Mesir, yang dipanggil dengan gelar ini dalam Kejadian 40:1, dan dalam 42:10 di mana saudara-saudara Yusuf, yang tidak mengetahui siapa dia, memanggilnya sebagai ‘tuanku’ dan menyebut diri mereka sebagai ‘hamba-hambamu’ dalam hubungannya dengan dia. Rut menggunakannya untuk merujuk pada Boas sebelum mereka menikah (Rut 2:13). Hannah berbicara kepada imam Eli dengan istilah ini dalam 1 Sam. 1.15. Para pelayan Saul juga memanggilnya dengan panggilan ‘tuanku’ (1 Sam. 16:16). Demikian juga, perwira berpangkat lebih rendah dari raja, seperti Yoab, memiliki sebutan ini (2 Sam. 11:9). Dalam 1 Raj 16:24 ada interpretasi khusus ‘pemilik’ untuk Shemar, yang adalah pemilik bukit Samaria. Nabi Elia memiliki gelar ‘tuan’ (1 Raj 18:7).
Namun demikian, ada banyak bagian teks, terutama dalam kitab Mazmur, di mana istilah-istilah ini, yang merupakan satu-satunya yang berlaku untuk laki-laki, merujuk pada YHWH. Ulangan 10:17 dan Mzm. 136:3 keduanya menggunakan bentuk tunggal dan jamak dalam konstruksi ‘Allah dari allah-allah’. Patut dicatat juga bahwa beberapa nama pribadi terdiri dari konstituen - misalnya, Adoni-bezek (Hak 1.5), Adoni-zedek (Yos. 10.1), Adonia (1 Raj. 1.8; 2 Taw. 17.8; Neh. 10.17) Adonikam (Ezra 2.13 ), dan Adoniram (1 Raj 4.6).
Ketika Adonai dikutip dalam bentuk jamak yang khas, dengan akhiran pronominal singular komorn yang pertama, biasanya mengacu pada YHWH. Sering muncul dalam bentuk ini dalam Alkitab Ibrani, terutama dalam kitab Mazmur, kitab Ratapan, dan Nabi-Nabi Akhir. Sama seperti Elohim, jamak dalam bahasa Ibrani, Adonai juga dapat dilihat sebagai jamak intensif atau jamak, keagungan. Sufiks jarang diterjemahkan (mis. Kej 18:3; Yes 21:8; Mzm. 16.2). Penggunaan istilah yang mengacu pada YHWH sering sangat terkait dengan praktik keagamaan. Ini biasanya merupakan hasil dari fakta bahwa itu digunakan oleh individu atau kelompok orang di Israel untuk berbicara tentang YHWH sebagai pemimpin, sebagai tuan, atau untuk menyebutnya sebagai ‘tuan’ yang setara dengan hamba duniawi (nyata atau fiksi) – lembaga tuan. Berbeda dengan, misalnya, melek atau raja, kata itu adalah ungkapan sederhana penghormatan yang seharusnya digunakan oleh seorang pelayan dalam dialog dengan atasan mereka.
Penggunaan Adonai juga muncul sebagai penunjukan ilahi yang primitif tetapi standar – misalnya, dalam gelar formal ‘Tuhan YHWH’ dalam undang-undang ziarah (Kel 23:17 dan 34:23). Hal ini juga terlihat dalam rumus הָאָדוֹן יְהוָה צְבָאוֹת (diterjemahkan sebagai “Berdaulat, Tuhan semesta alam” dalam NRSV) yang digunakan beberapa kali oleh Yesaya, yang mungkin berasal dari tradisi Yerusalem (Yes. 1:24; 3:1; 10:16, 33; 19:4). Itu juga digunakan oleh komunitas agama tetangga untuk merujuk kepada dewa yang mereka rasa lebih penting. Israel (setidaknya dalam pengertian terminologis) digambarkan sebagai ‘hamba’ YHWH, sejak karya Deutero-Yesaya.

2.4.    El (אֱלִ) God
Makna dan Penggunaan
Pertanyaan tentang hubungan antara penggunaan Alkitab tentang El dan konsep Semitik tentang El telah mendapat banyak perhatian, terutama sejak ditemukannya teks-teks Ugaritik, yang telah menetapkan fakta bahwa istilah El digunakan untuk merujuk pada dewa pribadi dan bukan hanya sebagai istilah generik di dunia Semitik kuno. Ini juga merupakan nama yang paling banyak didistribusikan di antara orang-orang yang berbahasa Semit untuk dewa, yang muncul dalam beberapa bentuk dalam setiap bahasa Semit kecuali Ethiopia. Marvin Pope, dalam studinya tentang istilah di Ugaritic, mencatat bahwa itu adalah nama yang paling sering muncul untuk dewa dengan nama-nama yang tepat di seluruh dunia Semitik kuno. Ini ditemukan di seluruh Alkitab Ibrani, tetapi paling sering dalam kitab Ayub dan kitab Mazmur. Dalam kitab Ayub, istilah ini diperlakukan oleh Ayub dan teman-temannya sebagai istilah umum untuk Allah yang benar dan penggunaannya di sana, tidak seperti bagian lain dari Alkitab Ibrani, jauh lebih banyak daripada kejadian Elohim. Istilah ini jarang muncul dalam buku-buku sejarah dan tidak ditemukan dalam Imamat.
Etimologi kata tersebut tidak jelas. Ini sering digabungkan dengan kata benda atau kata sifat untuk mengekspresikan atribut atau fase tertentu dari YHWH - misalnya, ‘El ‘elyôn, El-Ro’i, dan sebagainya’. Seperti Elohim, El dapat digunakan untuk merujuk pada ‘dewa alien’ (Ul. 32:12; Mal. 2:11) atau ‘dewa aneh’.
(Mzm. 44.21; 81.10). Itu juga dapat memiliki bentuk jamak – misalnya, ‘makhluk surgawi’ dalam Kel. 15:11. Selain itu, El, bukan Elohim, digunakan ketika YHWH dikontraskan dengan orang-orang, (Bil. 23.19; Yes. 31.3; Yeh. 28.9; Hos. 11.9; Ayub 25.4).
Andrew Davidson telah mengamati kecenderungan yang jelas dalam Alkitab untuk menemani El dengan julukan. Memang, sebagaimana kata yang digunakan dalam teks-teks alkitabiah dipelajari, harus disimpulkan bahwa kata itu biasanya dikualifikasikan dengan kata-kata atau deskripsi yang lebih jauh mendefinisikannya. Ini menuntun Davidson untuk menyimpulkan bahwa kualifikasi-kualifikasi ini mengangkat konsep El dalam Alkitab dan membedakan istilah yang digunakan secara Alkitabiah dari yang lain yang mungkin disebut demikian. El sering digunakan untuk menunjukkan kebesaran atau superioritas Allah atas semua allah lain seperti 'El besar' (Yer. 32.18; Mzm 77.13, 95.3); ‘El melakukan keajaiban’ (Mzm. 77.14); ‘Dewa para dewa’, (Dan. 11:36). Ada juga sebutan yang berkaitan dengan posisi El: ‘El surga’ (Mzm. 136.26); ‘El yang di atas’ (Ayub 31.28); ‘El paling tinggi’ (Kejadian 14.18-19, 20, 22; Mzm 78.35). Sekali lagi, sebagai tindakan pencegahan terhadap kekeluargaan yang berlebihan dengan Allah karena penggunaan istilah Semitik yang umum, Allah digambarkan sebagai ‘El yang menyembunyikan dirinya sendiri’ (mis. Hanya diketahui melalui wahyu sendiri, mis. Yes 45.15).

2.5.     Elohim (אֱלִֹהים)
Makna dan Penggunaan
Alkitab Ibrani menggunakan tiga kata yang berhubungan dengan "Tuhan" - yaitu, 'el,' eloah, dan elohim (El, Elohah, dan Elohim). Secara umum, kata-kata biasanya diterjemahkan sebagai 'Tuhan' dan biasanya dianggap memiliki makna yang sama. Misalnya, dalam Pss. 29: 1 dan 89: 6 (89: 7 dalam bahasa Ibrani), frasa ini secara harfiah diterjemahkan dari bahasa Ibrani sebagai 'anak-anak para dewa'. Dalam terjemahan RSV dan NRSV itu adalah 'makhluk surgawi'; dalam KJV, 'anak-anak yang perkasa'; dan di JPS, "makhluk ilahi '. ​​Dalam Kel 34:14 istilah' allah lain 'digunakan. Mazmur 18:31,' Untuk siapakah Allah selain YHWH? ' mirip dengan 2 Sam. 22:32. Keluaran 15:11 memiliki 'Siapa yang seperti kamu, YHWH, di antara para dewa?' Mazmur 86: 8 mengungkapkan pemikiran yang sama dalam 'Tidak ada yang sepertimu di antara para dewa, Tuhan.' Dalam Ul 32:17 dan 21, frasa 'tidak ada tuhan' ditemukan. Tidak ada aturan yang jelas untuk penggunaan kata-kata ini dapat dikenali dalam Alkitab Ibrani, tetapi El terutama muncul dalam teks-teks puitis dan kuno.
Dari 57 kejadian Elohah, 41 ditemukan dalam kitab Ayub, terutama dalam dialog di mana Ayub dan rekan-rekannya, yang bukan orang Israel dan karena itu tidak mengenal Tuhan Israel, secara eksklusif menggunakan sebutan untuk Tuhan selain YHWH. Bentuk Elohim muncul kira-kira 2570 kali dalam Alkitab Ibrani, dengan makna jamak (dewa) dan tunggal (dewa), 'Tuhan'). Secara tata bahasa, bentuk אלהים berisi akhiran jamak - im. Fungsi Elohim sebagai jamak sejati ('dewa') tercermin dalam beberapa teks Alkitab (mis. Kel 12:12, 'semua dewa Mesir). Freedman berkomentar tentang bagaimana, sampai abad kesepuluh, istilah ini digunakan sebagai jamak untuk 'para dewa' dan dari pertengahan abad ke 10 dan seterusnya 'penggunaan utamanya adalah sebagai sebutan bagi Tuhan. Dalam fungsi ini, Elohim dapat didahului dengan artikel yang pasti ('para dewa', mis. Kel 18:11). Dalam bahasa Ibrani, Elohim dapat disertai dengan kata sifat jamak - misalnya, frasa 'allah-allah lain' sangat sering muncul dalam Ulangan. Ini juga dapat digunakan dengan bentuk verbal jamak - misalnya, Ps. 97: 7: “semuanya di hadapannya ”.
Salah satu ciri yang lebih menonjol dari Alkitab Ibrani adalah penggunaan bentuk jamak ini untuk menunjuk satu-satunya Allah Israel yang sejati. Ada gagasan prinsip dengan karakteristik ini. Pengkritik seperti Bernhard Anderson memandang ini sebagai jamak keagungan atau pluralis amplitudinis sebagai setara dengan 'dewa' atau 'dewa baptis' karena Elohim mencakup semua dewa; kepenuhan keilahian dipahami dalam dirinya. ‘Jamak keagungan ini, menurut Anderson, tidak pertama kali muncul dalam tradisi Israel karena identifikasi Elohim dengan YHWH atau perkembangan bertahap dari pemikiran politeistis nenek moyang Israel ke monoteisme. Sebaliknya, ini adalah ungkapan kuno pra-Israel, yang digunakan di Babilonia dan Kanaan bahkan dengan kata kerja tunggal. Anderson memberikan contoh bagaimana orang Akkadia menggunakan kata jamak dewa ilanu sebagai penghormatan kepada dewa tertentu, seperti dewa bulan Sin, untuk mengekspresikan pandangan penyembah bahwa ia adalah Tuhan tertinggi atau terhebat, yang di dalamnya seluruh Pantheon diwakili. Walther Eichrodt menggunakan contoh yang sama ini untuk menunjukkan bagaimana penggunaan Elohim bukanlah hasil dari proses yang lambat atau penyatuan bertahap dewa-dewa lokal di mana politeisme akhirnya diatasi.
Sebaliknya, Rose lebih fokus pada aspek terakhir yang dieksplorasi oleh Anderson. Dia melihat 'jamak keagungan' sebagai 'intensifikasi dan akhirnya sebagai absolutisasi'. Dalam pengertian ini YHWH adalah 'Dewa para dewa', "Dewa tertinggi 'saripati dari semua kekuatan ilahi', 'satu-satunya Allah yang mewakili ilahi secara komprehensif dan absolut. Dalam pengertian ini, Rose melihat istilah Elohim sebagai mewakili suatu penggantian untuk nama YHWH seperti yang ditunjukkan dalam sumber Priestly dari Kej. 1.1: 'Pada mulanya elohim menciptakan langit dan bumi.' Dalam pengertian ini, istilah Elohim digunakan secara sistematis daripada nama ilahi YHWH dalam satu bagian dari Mazmur (Mazmur 42-83), oleh karena itu, seperti yang ditunjukkan Rose, ia dikenal sebagai Mazmur Elohistik.
2.5.1.           Studi Etimologi
Tidak ada penjelasan etimologis yang diterima secara umum tentang arti dari istilah Elohim. Mayoritas cendekiawan menghubungkan istilah ini dengan, yang berarti ‘kekuatan’ atau ‘kekuatan’, dan kemungkinan bahwa kekuasaan adalah sifat dasar dan esensial dari dewa di dunia semitik kuno. Bahkan jika ini adalah penjelasan yang paling kredibel, ‘kekuatan’ tidak tercermin dalam penggunaan istilah tersebut dalam bahasa Ibrani. Bahasa Ibrani menunjukkan beberapa penggunaan kata sifat dari istilah Elohim di mana seseorang atau sesuatu dikatakan identik dengan, atau milik, Elohim. Anggapan ini meninggikan entitas yang ditunjuk lebih tinggi dari tingkat normal manusia dan menempatkannya pada tingkat yang hampir ‘manusia super’ karena dalam beberapa hal, seperti dalam kekuatan atau ukurannya, ia melampaui apa yang dianggap sebagai normal. Menurut McKenzie, dengan bahasa Semit kuno tidak ada pembagian para dewa dari makhluk ‘manusia super’ lainnya, dengan cara ini dalam Alkitab ketika YHWH disebut Elohim, ia dibesarkan di atas bahkan dunia ‘manusia super’ ini ke tingkat yang termasuk ke dalamnya. Singkatnya, Elohim sebagai sebutan YHWH mencirikannya sebagai Tuhan yang absolut. Penggunaan Elohim ini terbatas pada bagian-bagian tertentu dari Alkitab Ibrani, terutama Pentateuch Elohist dan sumber-sumber Imam, dan bagian Elohistik dari kitab Mazmur. Di satu sisi, Elohim digunakan secara konseptual sebagai pengganti nama Tuhan (YHWH). Di sisi lain, klasifikasi ini sependapat dengan konsep monoteheistik bahwa hanya ketika ada satu Tuhan dan ketika ia diakui sebagai satu-satunya Tuhan yang penting untuk mewakili Tuhan khusus ini sebagai Tuhan yang absolut, Elohim.

2.6.    Shaddai (Almighty) (שַׄדּי)
Makna dan Penggunaan
Menurut sumber Elohist dan Imamat, nama ilahi YHWH tidak dikenal sebelum Musa dan Shaddai adalah nama yang olehnya para patriark memohon kepada Tuhan dalam sumber Imamat. Sebagai sebutan ilahi, Shaddai digunakan kira-kira 48 kali dalam Alkitab Ibrani. Dalam beberapa versi itu tidak diterjemahkan dan hanya ditransliterasi, tetapi dalam KJV, itu diterjemahkan sebagai ‘Yang Mahakuasa’, sebuah terjemahan yang telah digunakan dalam sebagian besar terjemahan modern. Itu muncul paling sering dalam literatur patriarkal, kitab Ayub khususnya, di mana ia digunakan oleh mayoritas karakter dalam Alkitab Ibrani: Kej 17: 1; 28: 3; 35:11; 43:14; Kel. 6: 3, dan Yeh. 10:5.
Terjemahan Mahakuasa ‘kembali setidaknya ke LXX, yang menerjemahkan istilah dalam sekitar sepertiga dari kasus (dan di luar Taurat) sebagai παντοκράτωρ, yang berarti' maha kuasa”, atau “untuk menakut-nakuti”, menandakan Allah yang dimanifestasikan oleh rasa takut akan tindakannya yang perkasa. “Dewa Badai”, dari bahasa Ibrani ‘untuk dicurahkan’, telah disarankan, tetapi tidak mungkin. “Penggunaannya di masa patriarkal menyoroti perkembangan konsepsi Semit yang kendur dengan ide monoteistik yang ketat dari maha kuasa, dan setuju dengan gagasan awal dewa sebagai Tuhan yang takut, atau bahkan kagum. Sifat monoteistiknya sesuai dengan penggunaannya pada zaman Abraham dan ini tercermin dalam terjemahannya di Vulgata, omnipotens. Baru-baru ini, semua proposal sebelumnya telah dibuang dan proposal yang baru telah menggantikannya. Salah satu ide yang lebih dapat diterima adalah bahwa frasa tersebut harus dikaitkan dengan kata kerja Pi’el Ibrani ‘menghancurkan’, akibatnya 'perusak saya'. Pilihan lain yang mungkin paling banyak diterima di zaman modern adalah Shaddai harus dihubungkan dengan kata Akkadian šadu atau 'gunung'. Karenanya, El Shaddai akan diterjemahkan menjadi sesuatu yang mirip dengan ‘Dewa / El gunung’, atau rumah atau bangunan Tuhan. Akhir -ay harus dihargai sebagai akhiran kata sifat (dan akibatnya terjemahan 'dari ...')
Sebagai El Shaddai, YHWH memanifestasikan dirinya kepada para leluhur (Kel. 6.3), khususnya kepada Abraham dalam Kej 17: 1; untuk Ishak dalam Kej 28: 3; dan kepada Yakub dalam Kejadian 35:11; 43:14; 48: 3. Konteks untuk sebagian besar referensi ini dalam perjanjian - lebih tepatnya, permintaan untuk kepatuhan dan bagian dari orang-orang terhadap Tuhan mereka. Patut dicatat bahwa orang-orang beriman tidak memandang ke arah fenomena alam (bukit-bukit) untuk kepastian tetapi kepada Allah yang melakukan bukit-bukit ini, El dari gunung (Mzm 121: 1-2).
Moore Cross mengamati bahwa peruntukannya ‘tidak secara pasti ditetapkan dalam aetiologi kultus tetapi menyoroti Kej 48: 3 sebagai contoh tentang bagaimana sumber Imam melampirkan nama itu ke Betel. Albright telah menunjukkan bahwa nama itu berasal dari akar Mesopotamia utara dan datang ke Kanaan dengan nenek moyang orang Israel sebagai dewa keluarga patriarki. Dia menerjemahkan istilah itu sebagai ‘pendaki gunung’.
Bernhard Anderson menerjemahkan istilah itu sebagai ‘The Mountain One’, atau dewa yang ditinggikan yang hidup di gunung. Dia menunjukkan poin kesamaan antara Shaddai dan dewa Kanaan El, tetapi mencatat bahwa perbedaan teologis dalam sifat Allah Israel dan hubungan perjanjian membutuhkan tanggapan yang berbeda secara fundamental dalam ibadah dan moralitas. Roland De Vaux menunjuk pada peningkatan kualitas pemujaan YHWH di situs-situs kultus yang secara resmi digunakan untuk penyembahan El dan menyoroti bagaimana karakteristik dewa El akan dipindahkan ke Shaddai - yaitu, bahwa ia adalah 'satu-satunya Tuhan, penulis dan penjamin dari janji yang dibuat untuk ras mereka.

III.               Penyebutan dan Konsep Al-Asma’ul Husna (Nama-Nama Allah) Dalam Agama  Islam (Al’Quran)
Description: https://akhdian.files.wordpress.com/2009/08/namesofallah1.jpg?w=393&h=400

3.1.    Konsep Al-Asmā' al-Ḥusnā dalam Q.S. AL-Ḥasyr Ayat 22
3.1.1.         Pengertian Asmā' al-Husnā dan Bilangannya
Asmā’ al-Ḥusnā (al- Asmā’ al- Ḥusnā) secara bahasa terdiri dari dua suku kata ‘al-asmā’ dan ‘al-husna’. Kata ‘asmā’ merupakan bentuk jamak dari mufrod (tunggal) ‘ism’ yang berarti ‘nama diri’ atau lafẓun yu’ayyinu syakhṣan au ḥayawānan au syaian (nama diri seseorang, binatang, atau sesuatu)[4] , sedangkan ‘al-husna’ berarti yang paling bagus, baik, cantik, jadi secara bahasa ‘Asmā’ al-Husnā’ berarti ‘nama-nama yang terbaik’. Namun secara langsung, Atabik Ali dan Zuhdi Muhdlor dalam Kamus Kontemporer Arab Indonesia mengartikan ‘al- Asmā’ al-Ḥusnā’ dengan ‘nama-nama Allah yang berjumlah 99’.[5] Istilah ini diambil dari beberapa ayat al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah mempunyai berbagai nama yang terbaik, melalui nama itu, umat Islam bisa mengetahui keagungan Allah dan menyeru dengan nama-nama tersebut ketika berdoa atau mengharap kepada-Nya.[6]
Selain itu, kata ‘al-ḥusnā menunjukkan bahwa nama-nama yang disandang Allah menunjukkan sifat-sifat yang amat sempurna dan tidak sedikitpun tercemar dengan kekurangan. Sebagai contoh, bagi manusia kekuatan diperoleh melalui sesuatu yang bersifat materi seperti otot-otot yang berfungsi dengan baik, dengan kata lain manusia membutuhkan hal tersebut untuk memiliki kekuatan. Namun kebutuhan tersebut tidak mungkin sesuai dengan kebesaran Allah, sehingga sifat kuat bagi Allah hanya dapat dipahami dengan menyingkirkan segala hal yang mengandung makna kekurangan dan kebutuhan.[7]
Sehingga dari penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa al-Asmā’ al-Ḥusnā adalah sebutan untuk sembilan puluh sembilan nama Allah yang menunjukkan sifat-sifat-Nya yang terbaik yang menunjukkan pada kesempurnaan terhindar dari kekurangan apapun.
Bekenaan dengan jumlah bilangan al-Asmā’ al-Ḥusnā, para ulama yang merujuk kepada al-Qur’an mempunyai hitungan yang berbeda-beda. Sebagaimana dijelaskan M. Quraish Shihab bahwa At-Thabathabai dalam tafsirnya “Al-Mīzān” menyatakan bahwa jumlah al- Asmā’ al-Ḥusnā sebanyak seratus dua puluh tujuh. Kemudian Ibnu Barjam al-Andalusi dalam karyanya “Syareh Al-Asmā' Al-Husnā” menghimpun 132 nama populer yang termasuk dalam al- Asmā’ al-Husnā. Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengemukakan bahwa ia menghimpun dalam bukunya “Al-Kitab Al-Asna fi Syareh Al-Asmā’ Al-Husnā” hingga mencapai lebih dari dua ratus nama baik yang disepakati, diperselisihkan dan yang bersumber dari ulama sebelumnya[8] . Adapun Riwayat yang populer menyebutkan bahwa bilangan Asmā' al-Ḥusnā adalah sembilan puluh sembilan. Salah satu riwayat itu berbunyi:
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi‟ telah menceritakan kepada kami Abdur Razaq telah menceritakan kepada kami Ma‟mar dari Ayub dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah ra. Dan dari Hammam bin Munabbih, dari Rasulullah SAW, beliau bersabdah: “Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kecuali satu. Barang siapa saja menghitungnya (aḥṣāhā 8 ) niscaya masuk surga”.[9]

3.1.2.           Sembilan Puluh Sembilan (99) Nama-Nama Dari Asmā’al Ḥusnā
Ustadz Rachmat Ramadhana al-Banjari dalam bukunya “Semua Hajatmu Bisa Mustajab: Super Cespleng Doa-Doa Khusus Asmā‟ alHusnā”, menyebutkan sembilan puluh sembilan nama-nama dari Asmā‟ alḤusnā itu secara berurutan lengkap dengan artinya sebagai berikut: [10]
Al-Asmā’ al-Husnā dan Artinya
No.
Nama
Arab
Indonesia
Inggris

الله
Allah
Allah
1
الرحمن
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemurah
The All Beneficent
2
الرحيم
Yang Memiliki Mutlak sifat Penyayang
The Most Merciful
3
الملك
Yang Memiliki Mutlak sifat Merajai/Memerintah
The King, The Sovereign
4
القدوس
Yang Memiliki Mutlak sifat Suci
The Most Holy
5
السلام
Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Kesejahteraan
Peace and Blessing
6
المؤمن
Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Keamanan
The Guarantor
7
المهيمن
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemelihara
The Guardian, the Preserver
8
العزيز
Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
The Almighty, the Self Sufficient
9
الجبار
Yang Memiliki Mutlak sifat Perkasa
The Powerful, the Irresistible
10
المتكبر
Yang Memiliki Mutlak sifat Megah, Yang Memiliki Kebesaran
The Tremendous
11
الخالق
Yang Memiliki Mutlak sifat Pencipta
The Creator
12
البارئ
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
The Maker
13
المصور
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Membentuk Rupa (makhluknya)
The Fashioner of Forms
14
الغفار
Yang Memiliki Mutlak sifat Pengampun
The Ever Forgiving
15
القهار
Yang Memiliki Mutlak sifat Memaksa
The All Compelling Subduer
16
الوهاب
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemberi Karunia
The Bestower
17
الرزاق
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemberi Rejeki
The Ever Providing
18
الفتاح
Yang Memiliki Mutlak sifat Pembuka Rahmat
The Opener, the Victory Giver
19
العليم
Yang Memiliki Mutlak sifat Mengetahui (Memiliki Ilmu)
The All Knowing, the Omniscient
20
القابض
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menyempitkan (makhluknya)
The Restrainer, the Straightener
21
الباسط
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Melapangkan (makhluknya)
The Expander, the Munificent
22
الخافض
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Merendahkan (makhluknya)
The Abaser
23
الرافع
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Meninggikan (makhluknya)
The Exalter
24
المعز
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Memuliakan (makhluknya)
The Giver of Honor
25
المذل
Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menghinakan (makhluknya)
The Giver of Dishonor
26
السميع
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mendengar
The All Hearing
27
البصير
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Melihat
The All Seeing
28
الحكم
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menetapkan
The Judge, the Arbitrator
29
العدل
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Adil
The Utterly Just
30
اللطيف
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Lembut
The Subtly Kind
31
الخبير
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengetahui Rahasia
The All Aware
32
الحليم
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyantun
The Forbearing, the Indulgent
33
العظيم
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Agung
The Magnificent, the Infinite
34
الغفور
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pengampun
The All Forgiving
35
الشكور
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pembalas Budi (Menghargai)
The Grateful
36
العلى
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tinggi
The Sublimely Exalted
37
الكبير
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Besar
The Great
38
الحفيظ
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menjaga
The Preserver
39
المقيت
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemberi Kecukupan
The Nourisher
40
الحسيب
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Membuat Perhitungan
The Reckoner
41
الجليل
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia
The Majestic
42
الكريم
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemurah
The Bountiful, the Generous
43
الرقيب
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengawasi
The Watchful
44
المجيب
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengabulkan
The Responsive, the Answerer
45
الواسع
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Luas
The Vast, the All Encompassing
46
الحكيم
Yang Memiliki Mutlak sifat Maka Bijaksana
The Wise
47
الودود
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pencinta
The Loving, the Kind One
48
المجيد
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia
The All Glorious
49
الباعث
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Membangkitkan
The Raiser of the Dead
50
الشهيد
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menyaksikan
The Witness
51
الحق
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Benar
The Truth, the Real
52
الوكيل
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memelihara
The Trustee, the Dependable
53
القوى
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kuat
The Strong
54
المتين
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kokoh
The Firm, the Steadfast
55
الولى
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Melindungi
The Protecting Friend, Patron, and Helper
56
الحميد
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Terpuji
The All Praiseworthy
57
المحصى
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengkalkulasi
The Accounter, the Numberer of All
58
المبدئ
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memulai
The Producer, Originator, and Initiator of all
59
المعيد
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengembalikan Kehidupan
The Reinstater Who Brings Back All
60
المحيى
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menghidupkan
The Giver of Life
61
المميت
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mematikan
The Bringer of Death, the Destroyer
62
الحي
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Hidup
The Ever Living
63
القيوم
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mandiri
The Self Subsisting Sustainer of All
64
الواجد
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penemu
The Perceiver, the Finder, the Unfailing
65
الماجد
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia
The Illustrious, the Magnificent
66
الواحد
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tunggal
The One, The Unique, Manifestation of Unity
67
الاحد
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Esa
The One, the All Inclusive, the Indivisible
68
الصمد
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
The Self Sufficient, the Impregnable, the Eternally Besought of All, the Everlasting
69
القادر
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
The All Able
70
المقتدر
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Berkuasa
The All Determiner, the Dominant
71
المقدم
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mendahulukan
The Expediter, He who brings forward
72
المؤخر
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengakhirkan
The Delayer, He who puts far away
73
الأول
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Awal
The First
74
الأخر
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Akhir
The Last
75
الظاهر
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Nyata
The Manifest; the All Victorious
76
الباطن
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Ghaib
The Hidden; the All Encompassing
77
الوالي
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memerintah
The Patron
78
المتعالي
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tinggi
The Self Exalted
79
البر
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penderma
The Most Kind and Righteous
80
التواب
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penerima Tobat
The Ever Returning, Ever Relenting
81
المنتقم
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyiksa
The Avenger
82
العفو
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemaaf
The Pardoner, the Effacer of Sins
83
الرؤوف
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pengasih
The Compassionate, the All Pitying
84
مالك الملك
Yang Memiliki Mutlak sifat Penguasa Kerajaan (Semesta)
The Owner of All Sovereignty
85
ذو الجلال و الإكرام
Yang Memiliki Mutlak sifat Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
The Lord of Majesty and Generosity
86
المقسط
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Adil
The Equitable, the Requiter
87
الجامع
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengumpulkan
The Gatherer, the Unifier
88
الغنى
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Berkecukupan
The All Rich, the Independent
89
المغنى
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Kekayaan
The Enricher, the Emancipator
90
المانع
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mencegah
The Withholder, the Shielder, the Defender
91
الضار
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Derita
The Distressor, the Harmer
92
النافع
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Manfaat
The Propitious, the Benefactor
93
النور
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
The Light
94
الهادئ
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemberi Petunjuk
The Guide
95
البديع
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pencipta
Incomparable, the Originator
96
الباقي
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kekal
The Ever Enduring and Immutable
97
الوارث
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pewaris
The Heir, the Inheritor of All
98
الرشيد
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pandai
The Guide, Infallible Teacher, and Knower
99
الصبور
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Sabar
The Patient, the Timeless

IV.                Implikasi Penyebutan Allah Dalam Alkitab Ibrani Diperhadapkan Dengan Penyebutan Nama Allah Dalam Agama Islam (Al-Quran) Bagi Kehidupan Masa Kini
4.1.    Arti kata “Allah”
Perkataan “Allah dapat diartikan oleh Thabari dengan ya’lahuhu kullu syai wa ya‘buduhu kullu khaliq, Zat yang dituhankan oleh segala sesuatu dan disembah oleh setiap makhluk.[11] Menurut al-Ghazali pemikir Islam beraliran Sunni, Allah adalah nama untuk zat yang ada dalam arti yang sebenarnya yang memiliki seluruh sifat-sifat Ilahiyah, dan berperilaku dengan perilaku Rubūbiyah, yang khas dengan wujud hakiki. Semua yang wujud/ada selain-Nya tidak layak untuk dinyatakan sebagai wujud secara zat-Nya.[12] Menurut Zamakhsari yang beraliran Muktazilah, Allah adalah Tuhan yang disembah secara benar.[13] Menurut Said haji Ibrahim pemikir Islam Malaysia, Allah ialah lafaz Jalalah atau lafaz yang Maha Besar dan Maha Agung. Yaitu nama Zat Ilahi yang Maha Suci lagi Maha Mulia yang wajib ada selama-lamanya dan yang berhak memiliki alam ini, dan juga yang layak menerima pujian dan sanjungan.[14]
                Dari beberapa definisi ini semua sepakat bahwa kata “Allah” adalah lafaz jalalah atau lafaz yang Maha Besar dan Maha Agung. Yaitu nama Zat Ilahi yang layak disembah. Namun apakah kata “Allah” itu berasal dari Bahasa Arab atau bukan?

4.2.    Kata “Allah” Bukan Berasal Dari Bahasa Arab
Berdasarkan Al-Quran bahwa perkataan “Allah” bukan berasal dari bahasa asli kitab suci Al-Quran. Dalam perkataan lain, kata “Allah” telah dikenal oleh kaum Quraisy sebelum Al-Quran diturunkan. Mereka menyebutkan tuhan-tuhan mereka dengan sebutan Ālihah. Atau kata Allah berasal dari bahasa asing yaitu Alohim. Pendapat ini ditemukan di dalam Lisan al-Arab, tepatnya dalam hadis yang diriwayatkan oleh Wuhaib ibn al-Ward.[15]
Dari sejarah kita dapat melihat bahwa ‘Allah’ di kalangan bangsa dan bahasa Arab tidak lain menunjuk pada ‘El’ Semit’ yang sama, ini dijelaskan dalam buku-buku teologi Kristen maupun Ensiklopedia Islam bahwa setidaknya bangsa Arab mewarisi tiga jalur nenek moyang yang semuanya mengenal ‘El Abraham’ yaitu sebagai keturunan Sem, Yoktan (keturunan Eber), dan Adnan (keturunan Ismael anak Abraham).
Bila penulis teliti kajian ini berdasarkan pada penelusuran kata “Allah” di dalam kitab suci, maka akan ditemukan sebagai berikut: Perkataan “Allah” dalam Al-Quran diulang sebanyak dua ribu enam ratus sembilan puluh tujuh (2.697) kali.[16] Di dalam Alkitab versi Indonesia, perkataan “Allah” terdapat sebanyak tiga ribu tujuh ratus tujuh puluh tujuh (3.777) ayat. Dua ribu empat ratus empat puluh dua (2.442) terdapat di Perjanjian Lama (PL) dan seribu tiga ratus tiga puluh lima (1.335) ayat di dalam Perjanjian Baru (PB).[17] Perkataan “Allah” juga digunakan dalam Alkitab versi Bahasa Arab,[18] tetapi untuk bahasa Inggris digunakan perkataan “God”.[19]
Berdasarkan pada Al-Quran, sejarah dan Alkitab (PL+PB) disimpulkan bahwa kata “Allah” bukan berasal dari bahasa Arab, tapi berasal dari bahasa asing yang diubah menjadi bahasa Arab, hingga akhirnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan bahasa al-Quran yang Arab. Di sisi lain, bahwa Alkitab Kristen baik Perjanjian Lama atau pun Perjanjian Baru telah mengenal nama Allah untuk sebagai nama dari Tuhan yang disembah. Contohnya dalam Alkitab Kristen Perjanjian Lama dituliskan kata Allah secara nyata: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.”[20]
Dari penjelasan di atas, kami lebih cenderung pada pendapat bahwa kata “Allah” bukan berasal dari bahasa Arab, tapi berasal dari bahasa asing yang diubah menjadi bahasa Arab. Ini beranjak dari pernyataan Al-Quran sendiri bahwa para nabi menyebutkan Tuhan yang mereka sembah adalah Tuhan yang bernama “Allah”. Diketahui bersama bahwa hampir seluruh nabi diutus Allah kepada kaum Bani Israel yang menggunakan bahasa Ibrani dan kemudian Suryani, atau bukan menggunakan bahasa Arab. Kemudian saat Nabi Muhammad diutus, kaum kafir Quraisy telah mengenal Allah sebagai Tuhan dari segala tuhan berhala yang mereka sembah. Hal ini ditegaskan kaum kafir Mekkah saat ditanya alasan penyembahan tuhan berhala, yang dijawab mereka untuk mendekatkan kepada Allah.[21]

4.3.     Kata “Allah” Itu Berupa Kata Serapan Bukan Nama
Apakah kata “Allah” itu berupa nama atau serapan? Tidak jauh berbeda dengan permasalahan pertama, pada permasalahan kedua ini juga terdapat dua pendapat besar. Pertama, menurut al-Razi[22] dan al-Ghazali[23] bahwa lafaz “Allah” adalah nama Allah Swt yang tidak memiliki perkataan kata terbitan. Sementara pendapat kedua yang dianut oleh al-Zamakhsari,[24] Ibn al-Qayyim[25] dan Ibn Manzur[26] bahwa perkataan “Allah” berasal dari perkataan al-Ilah, dihapuskan hamzah dan diganti dengan alif lam ta‘rif. Alif dan lam yang dimasukkan pada perkataan Ilah berfungsi menunjukkan bahwa perkataan yang dimasukkan itu (perkataan Ilah) merupakan sesuatu yang telah dikenal dalam benak. Kedua-dua huruf tambahan itu menjadikan kata yang diletak menjadi makrifat. Selanjutnya dengan alasan mempermudah, hamzah yang berada antara dua lam yang dibaca (i) pada kata Al-Ilah tidak dibaca lagi sehingga berbunyi “Allah”.
Menurut aliran yang berpendapat “Allah memiliki kata terbitan,” maka perkataan itu dapat diartikan ke dalam bahasa dunia. Dalam bahasa Indonesia dan Malaysia, kedua-duanya (Allah dan Ilah) dapat diterjemahkan dengan tuhan, tetapi cara penulisannya dibedakan. Sifat am (Ilah) ditulis dengan huruf kecil “tuhan”, dan yang bermakna khusus (Allah) ditulis dengan huruf besar “Tuhan.” Sebagaimana dalam bahasa Inggris menjadi “God” dan “god”. Menurut pendapat bahwa “Allah nama yang tidak memiliki kata terbitan,” maka ia tidak dapat diartikan, ia tetap menjadi “Allah”.
Berdasarkan pada pendapat bahwa perkataan “Allah” untuk menunjukkan nama “Tuhan”, maka ditemukan Alkitab Kristian versi bahasa Indonesia dan Arab tetap menggunakan perkataan “Allah”, sedangkan Alkitab versi bahasa Inggris menggunakan perkataan “God” sebagai ganti dari perkataan “Allah”. Sedangkan terjemahan makna al-Quran versi bahasa Indonesia dan Malaysia serta Inggris sampai saat ini masih tetap menggunakan perkataan “Allah” bukan “Tuhan” atau “God”. Kami lebih sependapat dengan pernyataan bahwa “Allah” nama yang tidak memiliki kata terbitan, dengan tidak menutup pemahaman untuk lebih mengetahui kata terbitan darinya sebagai khazanah yang dapat memperkaya keilmuan dan meneguhkan keimanan.
Menurut kamus Ibn Manzur dan Ibn Faris, di antara makna dari perkataan “Ilah” yang darinya terbentuk perkataan “Allah”, berakar dari perkataan al-Ilah yang bermakna (1) Ma‘bud/Yang Disembah,[27] (2) berakar dari perkataan al-Ilahwilah yang bermakna mengharap. Yuwalluhuna ilahi artinya merintih dan mengharap kepada-Nya. (3) berakar dari perkataan al-Ilah yang bermakna ibadah atau penyembahan.[28] Bahwa perkataan tersebut berakar daripada perkataan “alaha” dalam arti mengherankan atau “menakjubkan” karena segala perbuatan/ciptaan-Nya menakjubkan atau kerana bila dibahaskan hakikatnya akan mengherankan akibat ketidaktahuan makhluk tentang hakikat Zat Yang Maha Agung itu; atau perkataan “Allah” terambil daripada akar perkataan “aliha ya’lahu” yang berarti “tenang”, karena hati menjadi tenang bersama-Nya, atau dalam arti “menuju” dan “bermohon”, karena harapan seluruh makhluk tertuju kepada-Nya dan kepada-Nya jua makhluk bermohon.[29]
Memang setiap yang dipertuhankan pasti disembah, dan kepadanya tertuju harapan dan permohonan, lagi menakjubkan ciptaannya, tetapi apakah itu berarti bahwa perkataan “Ilah” dan juga “Allah” secara harfiah bermakna demikian? Apakah Al-Quran menggunakannya untuk makna “yang disembah”? Para ulama yang mengartikan Ilah dengan “yang disembah” menegaskan bahwa Ilah adalah segala sesuatu yang disembah, sama ada penyembahan itu tidak dibenarkan oleh akidah Islam; separti terhadap matahari, bintang, bulan, manusia atau berhala; mahupun yang dibenarkan dan diperintahkan oleh Islam, yakni Zat yang wajib wujud-Nya yakni Allah. Karena itu, jika seorang muslim mengucapkan “la ilaha illa Allah” maka dia telah menafikan segala tuhan kecuali Tuhan yang nama-Nya, Allah,[30] atau bahwa Ilah adalah “Pencipta, Pengatur, Penguasa alam raya, yang di dalam genggaman tangan-Nya segala sesuatu”.[31]
Dengan demikian jelaslah bahwa kata Allah adalah berasal dari makna serapan yang kemudian berubah menjadi nama. Ia sama dengan kata Muhammad yang artinya dipuji dan memuji, kemudian berubah menjadi nama yang ditujukan kepada nabi terakhir yang dipercayai umat Islam.

4.4.     “Allah” Tuhan Para Nabi dan Kaum Musyrik
Dari keterangan di atas dapat lebih ditegaskan bahwa ilah yang merupakan akar kata dari Allah digunakan untuk menunjukkan kata “Tuhan” yang hak dan batil, termasuk Tuhan umat Kristen. Bila mengikuti paham yang beraliran kata “Allah” berasal dari kata ilah maka Tuhan umat Kristen dapat juga disebutkan dengan Allah, begitu juga dengan Tuhan utama kaum kafir Mekah.
Dari keterangan Alkitab (PL+PB) dan Al-Quran di atas jelas terlihat bahwa sebagai oknum dengan namanya “Allah” bagi umat Islam adalah sama dengan Tuhan Yahudi dan Kristen. Kesamaan nama dan kesamaan pesan di antara para nabi, karena semua nabi bersumber dari satu Tuhan, yaitu Allah.[32]
Bila kemudian terdapat perbedaan di antara agama Islam dan Kristen dalam pemahaman Allah sebagai Tuhan yang layak disembah, maka hal itu bermula dari kelahiran Isa tanpa ayah. Umat Islam memahami Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa, maka sebenarnya umat Kristen pun memahami Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa. Namun umat Kristen mengakui keesaan Allah tidak menutup kemungkinan dia berstatus tiga, sehingga keyakinan ini dikenal dengan Tritunggal yang artinya tiga tapi satu, atau satu tapi tiga.
Menariknya di dalam Perjanjian Lama ajaran monoteisme atau tauhid merupakan ajaran utama, “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”[33] Sementara Nabi Isa menegaskan bahwa dia datang tidak menghapuskan Perjanjian Lama tapi datang untuk melengkapinya dengan Perjanjian Baru.[34] Bila dalam Perjanjian Lama tauhid dan tanzih merupakan ajaran utama, maka dalam Perjanjian Baru pun ditemukan pernyataan Allah Swt itu satu.
“Jawab Yesus: ‘Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.”[35]
Pada Alkitab tidak ditemukan perkataan “Tri tunggal atau Tiga Tuhan” dengan tegas, yang ada hanyalah penafsiran pendeta terhadap Alkitab, selepas Konsili Nicea dan didefinisikan lebih lengkap dalam Kredo Athanasia. Kredo yang memakai namanya berbunyi: “Kami menyembah satu Allah dalam Tri tunggal... sang Bapa adalah Allah, sang Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; namun mereka bukan tiga allah, tetapi satu Allah.”[36]
Tritunggal ini adalah doktrin dasar agama Kristen mengenai tiga pribadi asas Tuhan. Pribadi tersebut adalah Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Tuhan Roh Kudus..[37] Sebahagian dari pemeluk Kristen ada yang menolak doktrin Tri tunggal, atau sekadar menganggapnya suatu hal yang tidak begitu penting. Seseorang atau satu komunitas yang berada pada posisi ini tidak menyebut diri mereka sebagai "Anti Tri tunggal", namun bervariasi sesuai alasan mereka menolak Tri tunggal dan sesuai bagaimana mereka menjelaskan tentang Tuhan.[38]
Menurut penulis, berasaskan al-Quran dan Alkitab serta alasan-alasan di atas, bahwa selain muslim; tepatnya musyrik dan Ahli Kitab juga menggunakan istilah “Allah” sebagai sebutan untuk “Tuhan” mereka.[39] Walau pun kemudian antara penganut al-Quran dan penganut Alkitab (Kristen) terdapat perbedaan pemahaman tentang ketuhanan Yesus dan Roh Kudus. Bahkan di antara sesama Kristen itu sendiri terdapat perbedaan yang mendasar tentang ketuhanan keduanya.
Lebih jauh lagi hubungan harmonis antara Islam dan Ahli Kitab yang memiliki satu Tuhan yaitu “Allah” dipertegas dengan diboleh-kannya muslim untuk menikah dengan wanita kitabiyah dan memakan hasil sembelihan ahli kitab. Ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya muslim menikah dengan wanita kitabiyah.
Hal ini berdasarkan pada al-Baqarah [2]: 221 yang melarang menikah dengan musyrik dan musyrikah dengan al-Maidah [5]: 5 yang membolehkan menikah dengan kitabiyah. Walaupun ulama berbeda pendapat tapi penulis berdasarkan buku Tafsir Tematik: Hubungan Antar Umat Beragama berkesimpulan bahwa kehalalan dan kebolehan itu merupakan wujud toleransi Islam dalam pergaulan bermasyarakat dengan pemeluk agama lain.[40]
Satu hal yang menarik, bahwa kesamaan Tuhan “Allah” di antara ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) dengan Islam membuat hubungan yang lebih harmonis di antara umat Islam dengan mereka dengan diberikan kelonggaran dalam pernikahan dan sembelihan, maka ini tidak berlaku bagi kaum musyrik Mekkah yang juga mengaku bertuhankan “Allah.” Alasannya, menurut penulis, karena di samping kesamaan dalam ketuhanan “Allah”, terdapat juga kesamaan dalam keimanan kepada kitab suci, malaikat, para nabi. Keimanan ini diyakini oleh Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan tidak diimani oleh kaum musyrik.

4.5.      Mengubah kata “Allah” menjadi “God”
Ada sebagian orang-orang Kristen yang meyakini bahwa nama “Allah” sebagai nama “dewa bulan”[41] , dan melihat realita di dalam Alkitab menggunakan istilah Allah maka mereka melakukan perubahan /penggantian nama Allah diganti dengan nama “God” inilah yang terjadi dalam Alkitab terjemahan versi Inggris.
Alkitab Perjanjian Lama, dalam bahasa Indonesia terlihat jelas ungkapan kata “Allah”. Contohnya: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”[42] Bandingkan dengan Alkitab King James Version "In the beginning God created the heaven and the earth.[43] Hal senada ditemukan dalam Alkitab dalam versi Contemporery English Version “In the beginning God created the heavens and theearth.” Begitu juga dengan Alkitab dalam versi Today's English Version “In the beginning, when God created the universe.”
Hal senada dengan Alkitab Perjanjian Baru. Contohnya: Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan beranakkan seorang anak laki-laki, dan disebut orang namanya: Immanuel, yang diterjemahkan artinya “Allah beserta kita.”[44] Sementara dalam Alkitab King Jemes Version berbunyi “Behold, a virgin shall be with child, and shall bring forth a son, and they shall call his name Emmanuel, which being interpreted is, God with us.”[45] Contemporery English Version berbunyi: “God is with us.” Today's English Version berbunyi: “God is with us.”
Dari ketiga terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris –baik Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru- walaupun berbeda ter-jemahannya, tapi semua sepakat bahwa kata “Allah” yang ditemukan dalam Alkitab versi Indonesia dan Arab tidak diabadikan dalam wujud kata “Allah”, tapi dirubah menjadi kata “God”. Walau pun di awal penulis dapat memahami dan dapat mengerti bahwa kata “Allah” dapat diartikan menjadi “Tuhan” atau “God” dalam bahasa Indonesia dan Inggris, tapi tetap saja, pola pikir bahwa “Allah” adalah dewa bulan atau lebih dari itu “sebagai wujud dari anti Arab” maka penerjemah bahasa Inggris lebih senang menerjemahkan kata “Allah” menjadi “God”.
Satu hal yang menarik, hal itu tidak dilakukan oleh penerjemah Alkitab versi Indonesia dan Arab. Mereka tetap mempertahankan kata “Allah” baik dalam bahasa Indonesia dan Arab. Menurut penulis hal ini dilakukan karena istilah “Allah” telah menjadi milik bersama antara Muslim Indonesia dan umat Nasrani Indonesia, atau Muslim Arab dengan umat Nasrani Arab. Tanpa ada rasa kecemburuan atau sentimen dalam beragama.
Bahwa ajaran/konsep mengenai ‘Allah’ (El) itu kemudian merosot dan makin tidak mendekati hakikat yang di’nama’kan dan ditujukan kepada pribadi lain seperti yang terjadi pada jalur Ishak (Anak Lembu Emas disebut ‘allah' dengan "a" huruf kecil, dalam bahasa Indonesia Terjemahan Baru)[46] maupun jalur Ismael (masa jahiliah, dewa berhala disebut ‘Allah’)[47], tentu tidak mengurangi hakikat nama itu sendiri sebagai menunjuk kepada “Allah sebagai Tuhan yang layak disembah bagi penganut kitab samawi. Ini dapat diyakini bahwa ‘Allah’ Yahudi, Kristen dan Islam terdapat kesamaan, sehingga mereka disebut dengan “Ahli Kitab” yang dapat diartikan dengan saudara dekat dalam beragama.

4.6.    “Allah” Nama Tuhan umat Islam
Namun kemudian, bila disebutkan kata “Allah” maka ucapan itu mengarah kepada Tuhan umat Islam. Ini sama dengan kata “salat” dan “muslim” dalam al-Quran yang berarti “doa” dan “kepasrahan” yang dilakukan oleh umat nabi manapun. Contohnya, dalam bahasa al-Quran ditemukan bahwa Nabi Ibrahim melakukan “salat” dan berstatus “muslim”, tapi ketika diartikan secara istilah, maka kata “salat” ditujukan pemahamannya kepada “salat yang dilakukan muslim sehari lima kali dengan cara tertentu dimulai dengan takbir dan ditutup dengan salam.”
Untuk itu kamus-kamus dalam bahasa Inggeris mendefinisikan “Allah sebagai name of God among Muslims and among Arab of all faiths.[48] Artinya, Allah adalah nama Tuhan di antara umat Islam atau di antara bangsa Arab atas semua keyakinan. Hans Wehr, yang merupakan kamus Arab-Inggris mendefinisikan Allah adalah Allah, God (as teh One and Only.[49] Artinya, Allah adalah Allah atau Tuhan yang Maha Esa dan Satu-Satunya.
Definisi dalam bahasa Indonesia dapat dilihat dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia bahwa: “Allah adalah Tuhan, pencipta alam raya termasuk segala isinya”.[50] Dapat juga dilihat dalam Kamus Purwadarminta yang mendefinisikan Allah dengan Roh Yang Mahasempurna yang menciptakan alam semesta.[51] Artinya, para penulis kamus baik dalam bahasa Inggris ataupun Indonesia dan Arab mengakui ke-khasan nama Allah dalam penggunaannya di kalangan agama Islam sebagai salah satu artinya. Namun dalam arti yang lain, jelas memberikan pengertian yang lebih luas, sehingga mencakup Tuhan agama apapun di semenanjung Arab dan di Asia Tenggara. Berdasarkan definisi Hans Wehr di atas, terlihat bahwa dia menafikan kata “Allah” sebagai Tuhan dalam pengertian “Yesus”. Alasannya, timbulnya dua Tuhan.
4.7.    Apa yang Tergambar tentang “Allah” bukan Allah
Menurut Wajdi, al-Quran telah sampai pada pembuktian klimaks tesis akan keberadaan Allah sebagai Tuhan. Kalau tiada Tuhan, siapa yang akan menciptakan langit dan bumi.[52] Manusia secara fitrah dapat mengenal Tuhan.[53] Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?”[54]
Tapi, adakah manusia mengenal hakikat zat Allah? Manusia tidak dapat mengenal hakikat Allah, karena tidak ada yang mengenal hakikat Allah kecuali Allah, sebagaimana tidak ada yang mengenal hakikat nabi kecuali nabi, dan tidak ada yang mengenal hakikat surga dan neraka kecuali setelah wafat dan masuk ke dalam surga atau neraka. Puncak dari orang yang mengenal Allah adalah ketidakmampuan mereka untuk mengenal hakikat Allah.[55] Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.[56]
Jika demikian ‘apa pun yang tergambar dalam benak atau imaginasi siapa pun tentang Allah, maka Allah tidak demikian’. Dengan membaca dan menyadari makna ayat ini, luluh semua gambaran yang dapat dijangkau oleh indera dan imajinasi manusia tentang zat Yang Maha Sempurna itu.[57]
Manusia juga tidak dapat mengenal hakikat sifat dan nama Allah kecuali dengan perumpamaan. Contohnya, kuasa Tuhan adalah sifat, selama hamba bertambah ilmu pengetahuan tentang perincian kuasa Tuhan di alam raya ini, maka pengetahuannya tentang kuasa Tuhan bertambah banyak. Ini karena buah menunjukkan pada pohon, tetapi karena maklumat itu tiada nihayah dan akhir, di samping ia bertingkat, maka kita dapat mengenali tingkatan manusia di lautan makrifat Allah yang tiada bertepi itu.[58]
Walaupun penulis telah sampai pada titik “tidak ada yang dapat mengenal Allah kecuali Allah” namun pernyataan “saya tidak mengenal kecuali Allah” juga benar dan dapat diterima, karena tidak ada di alam yang wujud ini kecuali Allah dan segala perbuatan-Nya.[59] Kedua-dua pernyataan ini benar, karena dua sudut pandang yang berbeda. Pertama, dilihat dari sudut pandang zat, sifat dan nama-Nya; kedua, dilihat dari wujud makhluk yang merupakan hasil dari ciptaan Allah Swt, sama ada alam raya, manusia atau pun sejarah kehidupan.[60]

V.                  Analisa Penyeminar
Dalam tinjauan Islam, konsep ke-Tuhan-an tidak dapat dipisahkan dari pengertian tentang Tuhan yang termuat dalam sumber-Nya. Yaitu Al-Qur’an yang oleh umat Islam diyakini sebagai wahyu, dan menurut Al-Qur’an ajaran Islam yang terpenting adalah perintah dan seruan kepada manusia untuk menyembah hanya kepada Allah dan ini merupakan kredo inti. Al-Qur’an menyatakan bahwa yang Tuhan itu hanyalah Allah. Karena yang Tuhan hanyalah Allah maka manusia hanya benar kalau menyembah Allah semesta.
Sehubungan dengan ke-Tuhan-an, Al-Qur’an tidak hanya menyebutkan tentang Tuhan saja, akan tetapi juga tentang sifat-sifatnya, lewat sifat-sifat Allah dapat diketahui corak hubungan antara Allah selaku pencipta alam sebagai ciptaan-Nya. Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mampu menyamai dan menyertai Allah. Dari sini juga dapat dipahami kata Allah itu adalah nama Tuhan bagi kalangan muslim.
Bila dikaji dari sumber akar kata kalimat yang diberikan kepada wujud yang Maha Tinggi dan Maha Kuasa di dalam berbagai bahasa adalah diterima asal-usulnya sama, terutamanya dalam bahasa-bahasa Indo Eropa seperti perkataan Deva, Theo, Dieu, Dos dan Do serta Khoda dan God. Dalam bahasa-bahasa semantik seperti Ilah, El, dan Al; bahkan antara Yahweh dalam bahasa Ibrani dan Ioa dalam bahasa Yunani Persian merujuk kepada kesemua konsep tentang kewujudan Maha Tinggi, juga merujuk kepada kemiripan bunyi sehingga boleh juga merupakan perkongsian bersama seluruh manusia (cognate).
Manakala perkataan ilah yang jamaknya alihah dan kata ilahah yang jamaknya ilahat di dalam bahasa Arab memberi maksud yang sama yaitu sesuatu yang disembah atau dipatuhi. Sekiranya alihah bermaksud memper-Tuhan-kan atau men-Dewa-kan, maka perkataan ta’lah pula memberi makna menjadi Tuhan. Sebagai contoh, makhluk atau benda yang disembah atas dasar kebebasan, kekuasaan dan bernilai untuk disembah, untuk ditunduk dengan rasa kehinaan dan kepaTuhan. Namun, perlu diberi perhatian, perkataan ilah ini adalah lebih umum atau luas penggunaannya dari pada Allah kerana memasukkan apa saja aspek atau apa-apa makhluk yang mempunyai kuasa yang hebat untuk dipatuhi oleh manusia, dinamakan atau dipanggil ilah. Ilah atau Tuhan ialah tiap-tiap sesuatu yang disembah oleh manusia, sama ada yang berhak disembah atau tidak, merupakan Tuhan kepada orang itu. Jika penyembahan itu kepada yang sepatutnya disembah, maka penyembahan itu adalah hak dan jika penyembahan itu kepada yang tidak patut disembah, maka penyembahan itu adalah tidak hak atau tidak benar.
Selanjutnya, konsep ilah juga memasukkan pemikiran kuasa yang tidak berakhir, kuasa yang menakjubkan yang lain. Ia juga menbedahkan pengertian bahwa yang lain adalah bergantung pada-Nya dan ia tidak bergantung pada yang lain. Perkataan ilah juga mengandung makna persembunyian (abstract) dan misteri. Oleh itu, ilah adalah being yang tidak dapat dilihat. Pertembungan dengan perkataan Allah di dalam bahasa Arab, sekali lagi perlu diteliti dan diperhalusi untuk mengelakkan kekeliruan. Allah adalah nama khas atau personal bagi Tuhan dan tidak diambil dari pada kata ilah yang bermaksud Tuhan walaupun Allah itu Tuhan.
Berdasarkan paradigma di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Allah dari sudut kefahamannya adalah salah satu di antara banyaknya Tuhan yang diyakini dan disembah oleh manusia. Ini tidaklah mengherankan kerana jika ditinjau dari sejarah lampau di zaman Jahiliah pun, ide tentang Allah ini sudah ada dan bukanlah sesuatu yang asing di kalangan masyarakat Arab.
VI.                Kesimpulan
Dengan demikian kata “Allah” dalam kitab suci: al-Quran dan Alkitab dapat diartikan dengan Tuhan yang disembah. Kedua kitab suci ini sampai sekarang masih menggunakan kata “Allah” untuk menunjukkan kata “Tuhan” bagi masing-masing pengikutnya di Indonesia dan di Arab, tapi tidak untuk pengguna Alkitab berbahasa Inggris. Ini menegaskan bahwa selain Muslim, terutama umat Kristen dan Yahudi boleh dan dibenarkan menggunakan kata “Allah” untuk menunjukkan kata ‘Tuhan’ bagi mereka. Umat Islam harus menghormati kedua agama ini dengan kesamaan nama “Tuhan” yang mereka sembah. Untuk itu mereka disebut dengan golongan Ahli Kitab.

VII.             Daftar Pustaka
Abd al-Bāqī, Muḥammad Fu’ad, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān al-Karīm, Jakarta: Maktabah Dahlan, 1981.
Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl al-Qur’an, di-taḥqīq oleh Muhammad Shakir (Tahqiq), Cairo: Maktabah Ibn Taimiyah, t.th.
Abū Zahrah, Syaikh Muḥammad, Muḥḍaarat fī al-Kristianiyah, Cairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī, 1987.
al-Banjari, Rachmat Ramadhana, “Semua Hajatmu Bisa Mustajab:Super Cespleng Doa-Doa Khusus Asmaul Husna”, Yogyakarta: Sabil, 2010.
al-Banjari, Rachmat Ramadhana, “Semua Hajatmu Bisa Mustajab:Super Cespleng Doa-Doa Khusus Asmaul Husna”, Yogyakarta: Sabil, 2010.
Al-Hadis, Shohih Muslim, Semarang: Toha Putera, t.th., juz 2.
Al-Hadis, Shohih Muslim, Semarang: Toha Putera, t.th., juz 2.
Ali, Atabik, & Muhdlor, A. Zuhdi, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 2007.
Ali, Atabik, dan Muhdlor, A. Zuhdi, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 2007.
al-Kitāb al-Muqaddas, Dār al-Kitāb al-Muqaddas fī al-Syarq al-Awsaṭ.
Alkitab contemporery English version, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia
Alkitab King James version, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia
Alkitab Terjemahan Baru Edisi 2, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1997.
Alkitab Today’s English Version, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia
Asy‘arī, Abū al-Ḥasan ‘Ali bin Ismā‘ī, Maqālat al-Islāmiyīn wa Ikhtilāf al-Musallīn, Helmut Ritr (tahqiq), Beirūt: Dār al-Iḥyā’ al-Turāṡ al-‘Arabī, t.th.
Baghdādī, ‘Abd al-Qādir ibn Ṭāhir ibn Muḥammad, Syarḥ Uṣūl al-Dīn, Istanbul: Maṭba‘ah Istanbul, 1928.
Bisatī, Aḥmad Sa‘ad al-Dīn ‘Ali, Muqaranah bayna al-‘Aqīdatain: al-Yahūdiyah wa al-Islāmiyah, Cairo: Dār al-Tiba‘ah al-Muḥam-madiyah, 1988.
Byrne, Maire, The Names of God in Jufaism, Christianity, and Islam, London: Continuum International Publishing Group, 2001.
Ghazālī, Abū Ḥāmid, al-Maqsad al-Asnā fi Syarḥ Asma’ Allāh al-Ḥusnā, Cairo: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1985.
Hanafi, Muchlis M.,Tafsir Tematik: Hubungan Antar Umat Beragama, Jakarta: Departemen Agama RI, 2008.
Ibn Abū Bakr, Muḥammad, Badai ‘ al-Fawā’id Ibn Qayyim, Beirūt: Dār al-Khair, 1994.
Ibn Manzūr, Lisān al-Arab, Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1995.
Ibn Taimiyah, Ma‘rifah Allāh wa Ṭarīq al-Wuṣūl Ilaih, di-taḥqīq oleh Muṣṭafā Ḥilmī, Cairo: Jāmi‘ah al-Qāhirah, 1995.
Jahja, M. Zurkani,  99 Jalan Mengenal Tuhan, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2010.
Jahja, M. Zurkani, 99 Jalan Mengenal Tuhan, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2010), xv.
Oxford Advanced Learner's Dictionary, Britanica: Oxford University Press, 1984.
Purwadarminta, W.J.S.,Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1982.
Rāzī, Muḥammad bin ‘Umar Fakhr al-Dīn, Asrat al-Tanzīl wa Anwār al-Ta’wīl, j. 1, Teheran: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, t.th.
Said Haji Ibrahim, Huraian Asma al-HusnaJalan Menuju Akidah Islam, Kuala Lumpur: Dār al-Ma‘rifah, 1995.
Saqa, Muḥammad Aḥmad Hijazī, al-Munaẓarah al-Ḥadīṡah fī ‘Ilm Muqaranah al-Adyān: Bayna al-Shaykh Didat wa al-Qis Suagarat, Cairo: Maktabah Zahran, 1988.
Segaf, Alawy bin Abd al-Qadir, Mengungkap Kesempurnaan Sifat-Sifat Allah dalam Al-Qurandan as-Sunnah, terj. Asep Saifullah FM, M.Ag, Jakarta: Pustaka Azzam, 2001.
Shihab, M. Quraish, Menyingkap Tabir Ilahi: Asmaul Husna dalam Perspektif Al-Qur‟an, Jakarta: Lentera Hati, 1999.
Shihab, M. Quraish, Menyingkap Tabir Ilahi: Asmaul Husna dalam Perspektif Al-Qur‟an, Jakarta: Lentera Hati, 1999.
Shihab, Muhammad Quraish,Menyingkap Tabir Ilahi, c. 5, Jakarta: Lentera Hati, 2003.
Sya’rawi, Syaikh Muḥammad Mutawalli, Tafsīr al-Sya‘rawī, j. 21, Cairo: Akhbar al-Yaum, 1991.
Wahr, Hans, A Dictinory of Modern Written Arabic, Beirūt: Librairie Du Liban, 1974.
Wajdi, Muḥammad Farīd, Dā’irat al-Ma‘ārif al-Qarn al-‘Isrīn, Beirūt: Dār al-Ma‘rifah, 1971.
Zamakhsyarī, Maḥmūd bin ‘Umar bin Muḥammad, Tafsīral-Kasysyāf, jil. 1, Cairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2006.


[1] Maire Byrne, The Names of God in Jufaism, Christianity, and Islam, (London: Continuum International Publishing Group, 2001),  21-30.
[2] Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi, (Lentera Hati, 1998), 3-9.
[3] George Fry and James R. King, Islam: A Survey of The Muslim Faith, (Baker Book House, 1982), 487.
[4] Atabik Ali dan A. Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 2007), 125.
[5] Atabik Ali dan A. Zuhdi Muhdlor,  127.
[6] M. Zurkani Jahja, 99 Jalan Mengenal Tuhan, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2010), xv.
[7] M. Zurkani Jahja, 99 Jalan Mengenal Tuhan, xv.
[8] M. Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi: Asmaul Husna dalam Perspektif Al-Qur‟an, (Jakarta: Lentera Hati, 1999),  xlii.
[9] Al-Hadis, Shohih Muslim, (Semarang: Toha Putera, t.th., juz 2), 467.
[10] Rachmat Ramadhana al-Banjari dalam bukunya “Semua Hajatmu Bisa Mustajab:Super Cespleng Doa-Doa Khusus Asmaul Husna”, (Yogyakarta: Sabil, 2010), 5-10. Band. Maire Byrne, The Names of God in Jufaism, Christianity, and Islam, (London: Continuum International Publishing Group, 2001),  95-122.
[11] Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl al-Qur’an, (Cairo: Maktabah Ibn Taimiyah, t.th),  122.
[12] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, al-Maqsad al-Asnā fi Syarḥ Asma’ Allāh al-Ḥusnā, (Cairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah),  60.
[13] Maḥmūd bin ‘Umar bin Muḥammad al-Zamakhsyarī, Tafsīral-Kasysyāf, Jil.. 1, (Cairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2006), 16.
[14] Said Haji Ibrahim, Huraian Asma al-HusnaJalan Menuju Akidah Islam, (Kuala Lumpur: Dār al-Ma‘rifah, 1995), 6.
[15] Ibn Manzūr, Lisān al-‘Arab, Jil.. I, (Cairo: Dār al-Ma‘ārif, 1995), 114.
[16] 2697 dengan perincian: Allahu 980, Allaha 592, Allahi 1125; Muḥammad Fuad ‘Abd al-Bāqī, al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur’ān al-Karīm, Jakarta: Maktbah Dahlan, 52-96.
[17] Alkitab Terjemahan Baru, (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia).
[18] Al-Kitab al-Muqaddas, Dar al-Kitab al-Muqaddas fi al-Sharq al-Awsat, 3.
[19] Alkitab King James version, Alkitab contemporery English version dan Alkitab Today’s English Version.
[20] Alkitab, Perjanjian Lama, Kejadian 1:1-3.
[21] QS. al-Zumar [39]:3.
[22] Muḥammad bin ‘Umar Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Asrat al-Tanzīl wa Anwār al-Ta’wīl, j. 1, (Teheran: Dār al-Kutub al-Ilmiyah, t.th), 156.
[23] al-Ghazālī, al-Maqsad, 60.
[24] Maḥmūd bin ‘Umar bin Muḥammad al- Zamakhsyarī, Tafsīral-Kasysyāf, Jil.. 1, (Cairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2006), 36-37. 
[25] Muḥammad ibn Abū Bakr, Muḥammad, Badai ‘ al-Fawā’id Ibn Qayyim, Jil. 1., (Beirūt: Dār al-Khair, 1994), 22.
[26] Ibn Manzūr, Lisān al-‘Arab, Jil. I,  114.
[27] QS. al-Mu’minūn [23]: 91; Ibn Manzūr, Lisān al-‘Arab, Jil. I, 114.
[28] QS. al-A‘rāf [7]: 127 saat alihataka dibaca dengan ilahataka; Ibn Manzūr, Lisān al-‘Arab, jil. I, 115.
[29] Ibn Manzūr, Lisān al-‘Arab, Jil. I, 115.
[30] QS. al-A‘rāf [7]:127 yang dibaca ‘wayazaraka wa ilahataka’. Perkataan Ilahataka dalam bacaan ini adalah ganti dari perkataan Alihataka yang berarti sesembahan dan yang merupakan bacaan yang sah dan popular. Ibn Manzur, Lisān al-‘Arab,Jil. I,  115.
[31] QS. al-Anbiyā’ [21]: 22.
[32] (Demikianlah wasiat Nabi Yakub, bukan sebagaimana yang kamu katakan itu wahai orang-orang Yahudi)! Kamu tiada hadir ketika Nabi Yakub hampir mati, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apakah yang akan kamu sembah sesudah aku mati?" Mereka menjawab: "Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu Ibrahim dan Ismail dan Ishak, iaitu Tuhan yang Maha Esa, dan kepadaNyalah sahaja kami berserah diri (dengan penuh iman)". (QS al-Baqarah [2]: 133).
[33] Alkitab, Perjanjian Lama, Ulangan 6: 4-5, h. 200 , lihat juga Keluaran 20: 2-4, Ulangan 5: 6-9.
[34] “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Alkitab, Perjanjian Baru, Matius 5:17, 4.
[35] Alkitab, Perjanjian Baru, Markus 12:29, op.cit., h. 59, Yohanes 17:3-4, op.cit., h. 135. Lihat juga Yohanes 16:1-5, Matius 4:1-10; 10: 40-42,
[36] Syaikh Muḥammad Abū Zahrah, Muḥāḍarat fī al-Kristianiyah, (Cairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī, 1987), 125-140.
[37] Muḥammad Aḥmad Hijazī al- Saqā, al-Munaẓarah al-Ḥadīṡah fī ‘Ilm Muqaranah al-Adyān: Bayna al-Shaykh Didat wa al-Qis Suagarat, (Cairo: Maktabah Zahran, 1988), 192-198.
[38] Abū Zahrah, Muḥḍaarat, 193-194.
[39] Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka  mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". (QS az-Zumar (39): 3) Lihat juga ayat 38. Lihat Shaikh Muhammad Mutawalli al-Sha’rawi (1991), Tafsir al-Sha‘rawi, j. 21, Kaherah: Akhbar al-Yaum,  13145.
[40] Muchlis M. Hanafi, Tafsir Tematik, 213.
[41] Lihat buku Islam Dihujat di mana Morey menyebutkan "Allah" sebagai Dewa Bulan.
[42] Alkitab, Perjanjian Lama, Kejadian, 1:1.
[43] Alkitab King James Version, Genesisi, 1:1.
[44] Alkitab, Perjanjian Baru, Matius 1:23.
[45] Alkitab, King James Version, Matthew 1:23.
[46] Alkitab, Perjanjian Lama, Keluaran.32:31.
[47] QS. al-Zumar [39]: 3 yang telah dikutip di atas.
[48] Oxford University, Oxford Advanced Learner's Dictionary, 29.
[49] Hans Wahr, A Dictinory of Modern Written Arabic, (Beirūt: Librairie Du Liban, 1974), 24.
[50] Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jil. I, 270.
[51] WJS Purwadarminta, Kamus Umum, 32.
[52] Muḥammad Farīd Wajdī, Dā’irat al-Ma‘ārif al-Qarn al-‘Isrīn, (Beirūt: Dār al-Ma‘rifah, 1971), 485.
[53] Ibn Taimiyah, Ma‘rifah Allāh wa Ṭarīq al-Wuṣūl Ilaih, di-taḥqīq oleh Muṣṭafā Ḥilmī, (Cairo: Jāmi‘ah al-Qāhirah, 1995), 162.
[54] QS. Ibrāhīm [14]: 10.
[55] al-Ghazālī, al-Maqsad, 50-53; Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi, (Jakarta: Lentera Hati, 2003),  xxvi.
[56] QS. al-Syūrā [42]: 11.
[57] al-Ghazālī, al-Maqsad, 53.
[58] Ibid., 53-55.
[59] QS.al-Anfal [8]:17, Allah menafikan hamba melempar, tapi Dia (Allah) yang melempar. al-Ghazālī, al-Maqsad,  55. Allah swt disifati dengan wajib ada, sedangkan makhluk mungkin ada.
[60] Quraish Shihab, Menyingkap,  xxviii. 

1 komentar:

  1. Shalom bapak, ibu dan saudara/i yang dikasihi oleh Tuhan. Apakah ada diantara bapak, ibu maupun saudara/i yang pernah mendengar tentang Shema Yisrael dan V'ahavta? Kalimat pernyataan keesaan YHWH ( Adonai/ Hashem ) dan perintah untuk mengasihiNya yang dapat kita temukan dalam Ulangan/ דברים/ Devarim 6 : 4 - 6 yang juga pernah dikutip oleh Yeshua/ ישוע/ Yesus di dalam Injil khususnya dalam Markus 12 : 29 - 31, sementara perintah untuk mengasihi sesama manusia dapat kita temukan dalam Imamat/ ויקרא/ Vayikra 19 : 18. Mari kita pelajari cara membacanya satu-persatu seperti yang akan dijabarkan di bawah ini :

    Ulangan/ דברים/ Devarim 6 : 4 - 6, " שְׁמַ֖ע יִשְׂרָאֵ֑ל יְהֹוָ֥ה אֱלֹהֵ֖ינוּ יְהֹוָ֥ה ׀ אֶחָֽד׃. וְאָ֣הַבְתָּ֔ אֵ֖ת יְהֹוָ֣ה אֱלֹהֶ֑יךָ בְּכׇל־לְבָבְךָ֥ וּבְכׇל־נַפְשְׁךָ֖ וּבְכׇל־מְאֹדֶֽךָ׃. "

    Cara membacanya dengan mengikuti aturan tata bahasa Ibrani yang berlaku, " Shema Yisrael! YHWH [ Adonai ] Eloheinu, YHWH [ Adonai ] ekhad. V'ahavta e YHWH [ Adonai ] Eloheikha bekol levavkha uvkol nafshekha uvkol me'odekha

    Imamat/ ויקרא/ Vayikra 19 : 18, " וְאָֽהַבְתָּ֥ לְרֵעֲךָ֖ כָּמ֑וֹךָ. "

    Cara membacanya dengan mengikuti aturan tata bahasa Ibrani yang berlaku, " V'ahavta l'reakha kamokha "

    Untuk artinya dapat dilihat pada Alkitab LAI.

    Diucapkan juga kalimat berkat seperti ini setelah diucapkannya Shema

    " . בָּרוּךְ שֵׁם כְּבוֹד מַלְכוּתוֹ לְעוֹלָם וָעֶד. "
    ( Barukh Shem kevod malkuto, le'olam va'ed, artinya Diberkatilah Nama yang mulia, KerajaanNya untuk selamanya )

    🕎✡️🐟🤚🏻👁️📜✍🏼🕯️❤️🤴🏻👑🗝️🛡️🗡️🏹⚖️⚓🕍✝️🗺️🌫️☀️🌒⚡🌈🌌🔥💧🌊🌬️❄️🌱🌾🍇🍎🍏🌹🍷🥛🍯🦁🦅🐂🐏🐑🐎🦌🐪🕊️🐍₪🇮🇱

    BalasHapus