Kekeristenan di Indonesia pada Masa
Hindia Belanda abad XIX Sampai Pertengahan Abad XX (Rindu Roito Situmeang)
I.
Abstraksi
Bersamaan
dengan berakhirnya abad ke-18, tamat pula riwayat VOC dalam usia 200 tahun.
Pembubaran VOC oleh pemerintah Belanda disebabkan oleh karena hutang-hutang VOC
yang semakin meningkat, kekacauan ekonomi dan sosial akibat sistem monopoli
yang ketat dan ditambah lagi dengan munculnya saingan-saingan di lautan yang
cukup ampuh dan memperebut hak monopoli yang selama ini berada ditangan VOC.
Dengan hapusnya VOC, berakhir pula suatu babak sejarah penjajahan oleh suatu
badan perdagangan. Bagi Indonesia peristiwa ini tidak membawa arti yang
menguntungkan, karena ia tetap merupakan daerah jajahan. Dengan hal ini
terbentuklah Gereja Protestan yang menjadi lanjutan jemaat VOC. Masa itu
jemaat-jemaat Protestan tidak sanggup menyusun organisasinya dan
menyelenggarakan keperluannya sendiri. Sehingga Gereja Protestan di Indonesia
diurus dan dipimpin oleh pemerintah yang menyebabkan pendeta terikut kepada golongan pegawai
negeri dan gereja seluruhnya dipimpin dari atas.
Dengan
berkembangnya orang Protestan Belanda maka semakin berkembang jugalah di Jawa
dan Sumatera. Gereja Protestan di Timur Indonesia banyak diutus oleh tim
penginjil sehingga semakin banyaklah
orang percaya kepada Kristus. Banyak pribumi yang merespon baik karena
penginjilan dari para penginjil.
II.
Isi
2.1.
Keadaan di Indonesia dan di Eropa
Dalam
waktu bersamaan dengan tamatnya riwayat VOC, Negara Belanda sendiri terlibat dalam
kancah pergolakan politik internasional dan menjadi Negara satelit republik
Perancis diseputar tahun 1796. Waktu itu
di negeri Belanda dibentuk suatu pemerintahan yang menggantikan “staten
general”, yakni “Bataafse Republik”. Batasfse Republik inilah yang membubarkan
VOC[1]
dan mengambil alih pemerintahan jajahan di Indonesia dan mengutus orang untuk
memegang kekuasaan tertinggi di Indonesia: H.M Daendels, selaku Marskal dan
Gubernur Jendral antara tahun 1808-1811. Dengan berakhirnya perang di Eropa dan
Napoleon dikalahkan, terjadilah suatu penataan politik baru di Eropa dan
berdasarkan perundingan maka Indonesia dikembalikan oleh Inggris kepada Belanda
yang sementara itu telah berubah menjadi dibawah pemerintahan raja Williem I.
Pemerintahan Bataafse republik dibawah Daendels disusul dengan pemerintahan
inggris Letnan Gubernur Thomas Stanford Raffles, yang telah membawa situasi baru di Indonesia.
Terutama kehadiran Daendels dengan pengaruh cita-cita revolusi Perancis,
reorganisasi dibidang administrasi dan hukum serta kebebasan beragama yang ingin diterapkan di Indonesia.[2]
Revolusi Perancis (1789-1815) dengan semboyan atau prinsip baru yaitu : 1. Liberte (kebebasan), Egalite (Persamaan) dan
Franternite (Persaudaraan). Sejak itu monopoli Agama Kristen Protestan
Calvinis ikut berakhir. Adanya jemaat Luther di Jakarta selama ini hanya
sekedar ditolerin oleh pihak pemerintahan VOC karena adanya orang-orang Jerman
selaku tentara sewaan, kini memperoleh kebebasan. Pihak Gereja Katolik mendapat
ijin untuk bekerja kembali di Indonesia malah memperoleh sokongan finansial
dari khas pemerintah seperti Gereja Protestan. Agama islam juga memperoleh kemungkinan
berkembang secara bebas dan secara resmi diperkenankan oleh pemerintah untuk
menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Raffles melanjutkan kebijaksanaan Daendels
untuk perkembangan gereja dengan membuka perspektif baru dalam semangat
kebebasan agama yang diproklamasikan tahun 1808 dengan mengijinkan masuknya
untuk pertama kali badan pengkabaran Injil ke Indonesia.
Setelah
kerajaan Belanda mengambil alih pemerintahan di Indonesia sejak 1815, maka yang
pertama mereka lakukan adalah memperkuat kedudukan yang telah ditinggalkan VOC.
Ekspedisi-ekspedisi yang mereka lakukan yaitu mempertahankan keamanan, menjaga
gangguan perampok-perampok laut serta menjamin kekayaan yang begitu besar agar
tetap masuk khas pemerintah kerajaan.[3] Dalam
abad ke-19, peristiwa-peristiwa yang paling penting ialah Perang Diponegoro di
Jawa Tengah (1825-1830) dan perang Aceh (1873-1903); tetapi disana sini terjadi
pertempuran-pertempuran sepanjang abad itu: di Saparua (1817), di Bali
(1848-1849), di Kalimantan ( 1859), di Sumatera Barat (1818-1838), dan di
Tapanuli (1878, 1907).[4]
Dibidang
ekonomi terjadi perubahan yang menggantikan cultuurstelsel yang masih diteruskan
sampai pertengahan abad ke-19, dengan adanya liberalisasi. Mulailah timbul
perkebunan-perkebunan kapitalis besar, serantak pula penemuan sumber alam yang
baru seperti timah di Bangka (1852) demikian juga sumber minyak bumi di
Sumatera dan Jawa (1886). Semua ini membawa keuntungan yang luar biasa dan
terus meningkat, dan menempatkan Indonesia sebagai jajahan yang sangat kaya.
Dibidang
pendidikan pemerintah kolonial sama sekali tidak memberi perhatian, khususnya,
menjelang akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 karena dorongan dan desakan
tokoh Belanda baik kalangan pemerintah maupun gereja. Sejak itu mulai ada
kesadaran akan kewajiban moral terhadap penduduk Indonesia yang telah mereka
kuras kekayaan alamnya dan tenaga manusianya. Sehingga berdirilah Sekolah
Tinggi Teknik di Bandung (1920) dan Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta, lalu
ditahun 1926 Sekolah Tinggi Kedokteran.[5]
Kebebasan
beragama mulai diwujudkan di Eropa dan Gereja dilepaskan dari Negara, hal itu
berarti tidak ada lagi gereja yang oleh pemerintah diakui sebagai satu-satunya
gereja yang benar dan yang dilindungi serta dibiayai oleh Negara. Banyak orang
menganggap ajaran gereja tradisional mengenai dosa dan keselamatan oleh darah
Kristus sebagai kolot saja. mereka percaya kepada manusia dan kemampuannya
untuk mencapai kemajuan yang tak terbatas dalam bidang kesusilaan. Pencerahan
juga mempengaruhi sikap orang Eropa terhadap bangsa lain termasuk orang
Indonesia. Orang Eropa bangga karena berkat pemakaian akal budi mereka, sudah
mereka capai kemajuan yang tinggi. Rasa superioritas tersebut sudah ada
sebelumnya, yakni berdasarkan keyakinan bahwa orang-orang Eropa mempunyai agama
benar.[6]
2.2.Sejarah
Kekristenan Hindia-Belanda Sejak Keruntuhan VOC
Setelah
membubarkan VOC tanggal 31 desember 1799, mulai tahun 1800 pemerintah Belanda
menangani sendiri pemerintahan atas wilayah jajahannya di Nusantara, dan
wilayah itu disebutnya Nederlandch-Indie
(Hindia-Belanda). Maka ditetapkan sistem dan perangkat pemerintah yang baru,
lengkap dengan personilnya. Dengan kata lain, pemerintahan baru di
Hindia-Belanda sejak saat itu resmi menjadi bagian dari pemerintahan Belanda.
Sebagai kepala pemerintahan di Hindia-Belanda, semula diangkatlah
Letnan-Gubernur Jendral. Yang pertama adalah Pieter van Overstraten, lalu kemudian
digantikan oleh Johannes Siberg (1801-1805) dan Albertus Hendricus (1805-1808).[7]
Pemerintah Belanda yang baru itu mulai mengusai daerah-daerah jajahan secara
langsung yang sama seperti di Nederland sendiri, asas-asas pencerahan hendak
digunakan dalam tata pemerintahan. Kepentingan rakyat Indonesia harus dimajukan
dalam segala hal dan Negara tidak campur tangan lagi dalam soal agama,
melainkan sikap netral.[8]
Dalam
politik agama tahun 1808 sikap netral pemerintah sangat menguntungkan semua
pihak termasuk pihak Islam. Daendels sebagai gubernur itu telah mencanangkan
program penghormatan atas hak hidup semua agama. Hal ini memperlihatkan bahwa
pemerintahan Hindia Belanda berbeda dengan VOC.[9] Sikap
pemerintahan terhadap gereja sering bertentangan. Berdasarkan netralitas
dianutnya, maka pemerintahan sebenarnya tidak mungkin lagi melanjutkan
kewajibannya terhadap gereja seperti di zaman VOC. Seharusnya ia
memberikan hak yang sama kepada orang
Kristen seperti kepada golongan agama lainnya. Sebaliknya sebagai pewaris sah
dari VOC, pemerintahan merasa berkewajibannya untuk memelihara gereja yang dilahirkan
dari zaman VOC itu. Demikianlah maka gereja VOC masa lalu di rganisir kembali
pada tahun 1817 menjadi “Gereja Protestan di Hindia Belanda”, yang pada dasarnya
tetap merupakan Gereja Negara. Pemerintahan menganggap dirinya selaku pelindung
gereja ini. Perbedaan ajasi dengan sikap VOC ialah bahwa pemerintahan kerajaan
ini tidak lagi membiarkan monopoli dari satu aliran Protestan, tetapi mencoba
supaya semua aliran yang terdapat di negeri Belanda menjadi satu di Indonesia.[10]
2.3.Gereja Protestan Hindia Belanda
2.3.1. Misi Protestan Pertama di Indonesia
Dengan
berakhirnya monopoli VOC dan terbuka pintu untuk para badan-badan misi di
Indonesia yang memberikan kesempatan baru, maka dalam kekristenan di Eropa
telah terdapat kekuatan baru. Kesadaran akan pekabaran injil ini lahir diantara
orang-orang Kristen, yang kemudian membentuk berbagai badan pekabaran Injil
selaku persekutuan-persekutuan pribadi dari orang percaya. Lahirlah apa yang kemudian dikenal selaku
Perkumpulan-perkumpulan Pekabaran Injil yang bergerak diluar gereja resmi. Dari
perkumpulan pekabaran Injil ini berdatangan utusan-utusan Injil ke Indonesia
dan bekerja didaerah yang belum dilayani oleh gereja Negara. Tujuan utama dari
badan Pekabaran Injil ini agar orang-orang yang masih belum beragama itu
menerima Injil yang indah dari Allah yang Mahatinggi dan tertanam ajaran
manusiawi. [11]
Pada tahun 1814 Joseph Kam bersama dua rekannya tiba di Indonesia. Setelah sepuluh
tahun lebih, dialah pendeta pertama yang berhasil diutus Lembaga Pekabaran
Injil dari negeri Belanda ke Indonesia untuk melayani orang-orang Kristen disana.
Tetapi setibanya di Indonesia ia disuruh bekerja dijemaat yang sejak zaman VOC
telah diasuh oleh Negara dan kemudian diberi nama Gereja Protestan di Indonesia
(GPI).
Struktur
GPI dapat dilihat dari pemerintahan Portugis dan VOC mengaku sebagai pemerintah
Kristen. Negara tidak akan campur-tangan lagi dalam soal-soal agama, melainkan
bersikap “netral”. Pada permulaan abad-19 keadaan jemaat Kristen di Indonesia
tidak baik, Pendeta hanya tinggal beberapa orang saja, daerah-daerah diluar
pusat tidak dikunjungi lagi. Di Batavia yang pernah dilayani 17 orang Pendeta
sekarang tinggal 1 pendeta. Jumlah anggota jemaat mundur. Berhubung dengan
keadaan dan kesulitan yang dialami, Gereja di Belanda tidak sanggup memberi
bantuan berupa uang atau tenaga. Pemerintah tetap membiayai jemaat-jemaat di Indonesia,
tetapi secara resmi sudah tidak ada lagi ikatan antara gereja dan Negara.
Keadaan jemaat Kristen protestan dalam tahun ini tidaklah menentu.
Setelah
orang-orang Inggris mengembalikan jajahan-jajahan di Indonesia kepada Nederland
(1816), barulah keadaan di bidang gereja diatur secara baru. Hal itu dilakukan
oleh raja yang baru, Willem I. Ia menggabungkan semua jemaat Protestan di
Hindia Belanda (Indonesia) dan menetapkan peraturan yang berlaku di gereja ini.[12] Ketetapan
oleh Willem I ini maka gereja VOC itu secara resmi dijadikan gereja Negara,
yang ditangani langsung oleh kementrian urusan jajahan dengan dibantu oleh Haagse Comissie[13]
yang memiliki tugas selaku penasehat dan menyedikan dan mengangkat para tenaga
pendeta untuk Gereja di Indosesia.[14]
2.4.Perkembangan Gereja masa Zending
Perkembangan gereja dan agama
Kristen dizaman Hindia Belanda pada masa ini berlangsung pesat, terutama diluar
Jawa yang didorong oleh semangat penginjilan dan membentuk badan-badan penkabaran
Injil. Badan Zending datang dan berkarya di Hindia Belanda yang datang dari
Inggris, Jerman, Swiss dan Amerika. Mereka berhasil membangkitkan minat
sejumlah orang, terutama kaum muda, untuk menjadi penginjil
(zendeling/misionaris), menabur benih Injil dan membentuk komunitas Kristen dipelosok
Dunia, termasuk di Hindia Belanda. Pekabaran
injil oleh para zendeling tidak bersifat konfesional, dalam arti tidak
mempropagandakan ajaran atau pengakuan suatu aliran atau lembaga gereja
tertentu, namun bertujuan memberitakan Injil Kristus apa adanya. Tidak saja
bermaksud memberitakan Injil pada penganut agama suku di Hindia Belanda,
melainkan juga membawa peradaban bagi mereka.[15] Kehadiran
pekabaran Injil dari badan penginjil dalam gereja Negara menimbulkan persoalan
baru. Selaku pekabar Injil, maka kedudukan mereka tidak diatur dalam Peraturan
Gereja, dan mereka tidak dianggap sebagai Pendeta. Untuk dapat bekerja mereka
diangkat oleh pemerintahan Hindia Belanda, tetapi pemberian gaji mereka paling
tinggi hanya sepertiga dari gaji Pendeta. Hal ini berjalan hingga 1854, ketika
dicapai persetujuan antara pihak NZG dengan Hindia Belanda yang mengutus para
pekabar Injil itu. hal itu disepakati hingga mengangkat 6 orang pembantu
Pendeta (pekabaran Injil) selaku pengganti 2 Pendeta. Dengan persetujuan ini diangkatlah Pendeta
pembantu untuk memenuhi kebutuhan pelayanan hingga pendeta pembantu meningkat
sampai 31 orang. Mereka bekerja dibawah pengawasan pendeta yang menempati
jemaat-jemaat pusat, seperti Ambon, Manado, Ujung Pandang dan Kupang.[16]
Di Jawa penganut agama Islam
sangat besar dan juga dibeberapa tempat ada penganut seperti Hindu dan Buddha
yang bercampur dengan agama atau kepercayaan asli. Pemerintahan Hindia Belanda bertekad untuk
mengisi kembali perbendaharaan yang terkuras pada saat terjadinya perebutan
kekuasaan antara Pemerintahan Kolonial Belanda dengan Inggris. Tahun 1815, tidak
ada orang Kristen yang berlatarbelakang suku Jawa atau Sunda. Selain orang
Kristen Belanda dan Timur ada juga orang Kristen Batavia, Semarang, dan
Surabaya. Namun tahun 1851-1858 pusat pekabaran Injil datang dengan tokoh-tokoh
yaitu: Emde di Surabaya (1851); Coenrad Coolen di Ngoro (Sejak tahun 1830);
J.E. Jellesma (1850-1858).
Emde menikahi seorang wanita
Jawa. Dengan melibatkan isteri dan anak-anaknya, Emde sekeluarga melakukan
aktivitas pekabaran Injil. Mereka menjalin hubungan dengan orang-orang Jawa
yang sebagaian besar merupakan kalangan pembantu orang-orang Eropa di Surabaya.
Emde menjalin hubungan dengan Gottlob Bruckner yang kelak akan menjadi
penerjemah kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jawa pada 1831. Namun
aktivitas Emde secara lambat laun akhirnya disambut hangat oleh orang-orang
Jawa.
Sementara Coenrad Coolen seorang
berdarah Indo dengan ibunya yang berdarha Jawa dan dibesarkan didalam kebudayaan
Jawa. Coolen memulai sebuah pemukiman baru disana yang diberi nama Ngoro. Ngoro
tumbuh menjadi sebuah desa yang makmur. Coolen sendiri dikenal sebagai sang
pempimpin dan guru Kristen. Ia tidak segan memadukan beberapa unsur kebudayaan
Jawa dengan ajaran-ajara Kristen. Sebagai contoh, ketika seorang bermaksud
mengerjakan sawahnya, Coolen telah mengajarkan dia untuk mengucapkan doa-doa
berkat sebelum dia mulai membuka lahan itu. Pada perkembangan selanjutnya, Pemerintah
Hindia-Belanda akhirnya telah mengijinkan pihak NZG memulai pekerjaan pertama
mereka di Pulau Jawa.[17]
Sementara karena semangat
Pietisme para pekabaran Injil menyebabkan
beberapa diantara mereka datang ke Sumatera untuk mengabarkan Injil disana.
Mereka adalah orang-orang Inggris dan Amerika. Tetapi pemerintahan Belanda,
sama seperti orang-orang Batak, tidak suka akan kedatangan orang asing ke
wilayah kekuasaannya. Tiga pekabar Injil dari Inggris diusir olehnya (1824) dan
dua orang berkebangsaan Amerika dibunuh oleh orang-orang Batak didaerah
Silindung (1834). Tahun 1856 orang lain diutus dari Belanda tapi pada
kebanyakan penduduk Angkola-Mandailing yang telah masuk Islam. Pada 7 Oktober
1861 mereka berunding dengan pekabaran-pekabaran
Injil Belanda di tanah Batak. Tanggal itulah yang dipandang sebagai hari
kelahiran gereja Batak (walaupun pada tanggal 31 Maret tahun itu telah dibaptis
dua orang Batak Kristen yang pertama). Tetapi sesudah itu pekabaran Injil
sangat berkembang berkat semangat seorang tokoh yaitu Nommensen.
Ludwig Ingwer Nommensen
(1834-1918) memilih daerah Silindung sebagai pekabaran Injil di Tapanuli
(1864). Berkat dukungan kepala suku batak yaitu Raja Pontas Lumbantobing, yang
berhasil mengatasi kesulitan dan bahaya yang dihadapinya dalam tahun pertama.
Raja Pontas sangat dihormati dalam kebijaksanaannya. Ia menyadari suku
bangsanya akan lenyap akibat pertikaian dan peperangan terus menerus. Oleh karena
itu ia senang melihat agama Kristen. Pada tahun 1865 orang-orang Silindung yang
pertama dibaptis dan dua tahun kemudian Raja Pontas juga menerima baptisan. Orang-orang
Kristen di Silindung ada 700 orang Kristen, tahun 1881 sebanyak 3500 orang,
tahun 1891 sebanyak 10.000 orang.[18]
Kebutuhan
pelayanan dan pemeliharaan jemaat tidak dapat dipernuhi walaupun sudah ditambah
dengan adanya pendeta pembantu yang masih tetap orang Eropa. Orang-orang
Indonesia sendiri sangat diperlukan untuk meningkatkan pelyanan jemaat.
Lahirlah suatu jabatan baru, khususnya bagi orangIndonesia yang disebut: guru
Injil. Mereka inilah yang secara langsung bekerja di dalam jemaat. Untuk
mempersiapkan/memperlengkapi para guru Injilini, mula-mula dibseikan semacam
pendidikan pribadi di rumah-rumah para pembantu pendeta. Baru kemudian di tahun
1885 didirikan suatu lembaga pendidikan khusus, yang disebut STOVIL (School tot
Opleiding van Inlandse Leeraren) yang didirikan di Ambon, Tomohan dan Roti.[19]
2.5.Lembaga-Lembaga Pekabaran Injil
Sampai pada bagian pertama abad ke-19, hanya ada satu
badan Pekabaran Injil dinegara Belanda dan yang ikut mengutus tenaga-tenaga
mereka ke Indonesia yakni NZG. Tetapi kemudian dalam bagian ke-dua abad ke-19
itu lahirlah banyak badan Pekabaran Injil lainnya. Hal ini disebabkan semakin
meningkatnya dan meluasnya perhatian orang Kristen terhadap pekerjaan Pekabaran
Injil dan adanya pertentangan yang makin tajam diantara aliran gerejani.
Makin
meningkatnya perhatian orang Kristen terhadap Pekabaran Injil rupanya tidak
dapat seluruhnya tertampung dalam NZG, sehingga mereka itu mencari
penyalurannya yang cocok dengan aliran pemahaman gerejani masing-masing.
Menyangkut dasar NZG yang dirumuskan nampaknya tidak memuaskan segala pihak,
terutama golongan yang sangat dipengaruhi oleh kebangunan rohani dari abad
sebelumnya. Dalam NZG kelompok ini berkumpul dengan segala macam golongan,
termasuk orang-orang yang mereka anggap sebagai lawan dengan siapa mereka tidak bisa bekerjasama.
Persoalan pokok mereka ini adalah berkenaan dengan soal: “Apakah suatu badan Pekabaran Injil cukup mencari kesatuannya dalam
‘tujuan bersama’ ataukah seharusnya mendasarkan kesatuannya itu dalam
‘pengakuan bersama’”. Dari situlah mulai terjadinya pemisahan-pemisahan dan
timbulnya berbagai badan Pekabaran Injil’ di negeri Belanda yang kemudian
masing-masing mencari daerah pekerjaannya di Indoensia.[20]
Menjelang pertengahan abad
ke-19 terbukalah kemungkin bagi badan-badan Pekabaran Injil untuk bekerja diuar
wiayah Gereja Protestan. Pihak Gereja Katolik juga mendapat kesempatan mengirim
misionaris ke Indonesia, setelah pada tahun 1847 oleh pihak Pemerintah diadakan
semacam musyawarah dengan Paus. Dalam hal ini dicantumkan bahwa rohaniawan,
setelah mendapat persetujuan dari pihak pemerintah, dapat diangkat dan
ditetapkan oleh pihak Gereja dengan pemberitahuan kepada Gubernur Jenderal.
Kemudian pemerintah memberi kemungkinan bagi badan Peginjil untuk bekerja didaerah
di luar wilayah pelayanan Gereja Protestan. Dengan adanya situasi baru ini
mulailah babak baru dalam penyebaran kepercayaan Kristen di Hindia Belanda.[21]
Menjelang
pertangahan abad ke-19 terbukalah kemungkinan
bagi badan-badan Pekabaran Injil untuk bekerja di luar wilayah Gereja
Protestan. Pada tahun 1854 keluarlah peraturan khusus oleh pemerintah yang
mengatur dan member kemungkinan bagi
badan-badan Pekabaran Injil untuk bekerja di daerah-daerah di luar wilayah
pelayanan Gereja Protestan. Dalam suatu artikel (Artikel 177) dicantumkan ketentuan-ketentuan
1.
Guru-guru
Krsiten, imam-imam, Misionaris-misionaris (Pendeta-pendeta Zending) harus
terlebih dahulu memperoleh (memiliki) yang diberikan oleh atau atas nama atau
langsung oleh Gubernur Jendral untuk diperbolehkan menyelenggarakan pekerjaan
dinas mereka disuatu bagian Hindia Belanda (Indonesia) tertentu.
2.
Bila
izin yang telah diberikan itu kemudian dianggap merugikan pemerintahan, atau
bila syarat-syarat yang ditetapkan tidak ditaati maka izin tersebut dapat
dicabut (ditarik) kembali oleh Gubernur Jendral.[22]
2.5.1. NZG (Nederlandsche Zendeling
Genootschap)
Lembaga ini didirikan pada 19
November 1797[23]
oleh orang-orang Kristen Belanda anggota Gereja Hervormd yang dipengaruhi oleh
semangat Pietisme. Lembaga ini semula tidak mempunyai hubungan langsung dengan
Gereja Hervormd. Pendiri-pendirinnya mempunyai pandangan teologi yang berbeda
dan ini mengakibatkan perpecahan dalam tubuh NZG pada pertengahan abad ke-19.
NZG dengan satu tujuan bersama yaitu mengamalkan iman Kristen dalam fase dan
kesaksian ditengah-tengah non-Kristen. NZG bukan bertujuan untuk membawa ajaran
dan tata gereja tertentu dimedan pekabaran Injil, melainkan untuk memberikatkan
Injil Yesus Kristus dengan murni tanpa tambahan pikiran-pikiran manusia. Keanggotaan
NZG terbuka bagi orang-orang dari gereja lain dan ia bersifat
interdenominasial, sama seperti lembaga-lembaga Injil lain. Pada mulanya NZG
mengutus pekabar Injilnya ke Afrika Selatan dan India, namun sejak tahun 1813
lembaga ini hanya bekerja di Indonesia. NZG mempunyai wilayah kerja yang luas
di Indonesia. Dengan demikian NZG mempunyai sumbangan yang sangat besar bagi
pertumbuhan dan lahirnya Gereja-gereja Protestan Di Indonesia.[24]
Daerah Kerja:
di Maluku, di NTT (Timor, Sawu dan Roti), di Sulawesi (Minahasa, Bolaang
Mongondow, Gorontalo, Poso dan Ujung Pandang), Jawa Timur dan Jawa Tengah dan
di Sumatera di daerah Batak Karo.[25]
2.5.2. DZV (Doopsgezinde Zendings-
Vereeniging)
DZV adalah lembaga pekabaran
Injil dari gereja Menonit (Doopsgezind) di Belanda yang didirikan pada tahun
1847.[26]
Pada mulanya, mereka membantu usaha pekabaran Injil NZG di Indonesia, namun sejak
tahun 1851 mereka mempunyai wilayah kerja sendiri. Pekabar Injil yang pertama
diutus adalah P. Jansz. Badan pekabaran Injil ini melarang jemaat-jemaatnya
untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik dan budaya, pemakaian kekerasan,
dan bersumpah. Jemaat-jemaatnya merupakan jemaat otonom, disiplin gereja
dijalankan dengan ketat, serta menolak Baptisan Anak. Berkat pekabaran Injil
dari lembaga ini lahirlah Gereja Injili di Tanah Jawi (GITJ).
Daerah Kerja:
yaitu di jawa tengah bagian Timur Laut (daerah sekitar Muria) dan di Mandailing-Angkola
(Sumatera Utara).[27]
2.5.3. Christen Werkman (Penginjil Tukang)
Didirikan pada 1847 terbentuk
dari lahir suatu keyakinan bahwa Injil itu tidak hanya dikabarkan oleh beberapa
orang yang secara khusus dididik selaku penginjil. Tetapi dapat juga dilakukan
dengan jalan mengadakan kolonisasi yaitu sejumlah orang yang benar-benar secara
Kristen ditempatkan ditengah-tengah masyarakat belum Kristen. Tujuan badan ini mengutus
tukang-tukang Kristen yang akan membantu para misionaris.
Daerah Kerja:
Di Irian Jaya, Kepulauan Sangir-Talaud dan juga beberapa tempat di Jawa
2.5.4. NZV (Nedelandsche
Zendings-Vereniging)
NZV adalah persatuan pekabaran
Injil Belanda yang didirikan pada 2 Desember 1858 oleh kelompok yang
meniggalkan NZG karena menganggap NZG telah dirasuki Teologi Modern.[28]
Yang dapat menjadi anggota NZV hanyalah mereka yang mengaku bahwa Yesus Kristus
adalah Juruselamat mereka, dan menyatakan bahwa mereka tidak akan bekerjasama
dengan orang-orang yang menyangkal keilahian Kristus. Pada mulanya NZV hanya
mau mendidik calon pekabar Injil selama 3 tahun. Sikap ini didasarkan pada pola
pikir bahwa kesalehan dan spontanitas lebih penting dari ilmu pengetahuan dan
persiapan yang matang.[29]
Daerah Kerja: baru
sekitar permulaan abad 20 yakni di Jawa Barat dan di Sulawesi Tenggara
2.5.5. UZV (Utrechtsche
Zendings-Vereeniging)
UZV adalah Lembaga pekabaran
Injil yang didirikan oleh golongan etis dalam NZG, karena menurut mereka NZG
telah dirasuki oleh teologi modern. Lembaga yang didirikan pada tahun 1859 ini
memiliki sebutan demikian, karena ia berkantor pusat di Utrecht.
Daerah Kerja:
di Irian Jaya, diHalmahera, di Bali , Pulau Buru , dan di Sulawesi Selatan
tahun.[30]
2.5.6. NGZV (Nederlandsche Gereformeerde
Zendings-Vereeniging)
Lembaga ini didirikan pada
tanggal 6 mei 1859, dan juga badan yang memisahkan diri dari NZG, karena tidak
setuju dengan unsur-unsur modern yang telah menyusup dalam NZG. Pada mulanya
badan ini tidak terikat dengan gereja Gereformeerd, tetapi dalam perkembangan
dikemudian hari, NGZV merupakan salah satu badan pengabaran Injil Gereformeerd.
Daerah Kerja:
Daerah yang di Injili adalah Jawa Tengah dan Sumba [31]
2.5.7. GZB (Gereformeerde Zending Bond)
Lembaga ini didirikan pada tahun
1901 dalam lingkungan Belanda oleh orang Kristen yang ingin meneruskan tradisi
Calvinis abad ke-16 dan ke-17. GZB bekerja di Indonesia pada tahun 1913.
Daerah kerja:
didaerah kerajaan Luwu, yaitu di Tana Toraja dan Kabupaten Luwu, Sulawesi
Selatan sekarang ini [32]
2.5.8. RMG (Rheinische Mission
Gessellschaft)
Lembaga pekabaran Injil ini didirikan
di Barmen pada tahun 1825 sebagai penggabungan dari beberapa lembaga
pengkabaran Injil didaerah sungai Rhein. Tujuan lembaga ini memberitakan dan
mendirikan kerajaan Allah ditengah-tengah dunia orang kafir. Pada tahun 1835,
lembaga ini bekerja di Kalimantan, kemudian pada tahun 1859 meninggalkan daerah
itu dan berkarya di Tapanuli sejak tahun 1861-1940, lalu di Nias dan sekitarnya
serta Mentawai.
2.6.Tokoh-tokoh Zendeling ke Indonesia Masa
Hindia Belanda
2.6.1. Joseph Kam
Joseph Kam dilahirkan September
1769. Ayahnya bernama Joost Kam yaitu seorang tukang pangkas rambut. Keluarga
Kam adalah anggota gereja Hervormd yang setia, tetapi suasana rumah tangga
mereka dipengaruhi oleh semangat pietisme Herrnhut. Mereka mempunya hubungan
dengan kelompok Herrnhut di Zeist. Joseph
adalah seorang pekabar Injil yang memberikan darah segar kepada tubuh
jemaat-jemaat di Maluku yang ditinggalkan terlantar sesudah bubarnya VOC di
Indonesia pada tahun 1799. Ia memiliki tekad menjadi pekabar Injil. Ia melamar
kepada NZG pada tahun 1807. Ia mempersiapkan diri untuk menjadi pekabar Injil
di Denhaag dan Rotterdam beberapa
pendeta. NZG belum memiliki sekolah pekabaran Injil sendiri. Pada tahun 1811
pendidikan persiapannya dianggap selesai, namun Kam belum dapat diberangkatkan
karena perang masih berkecamuk. Berhubung Kam belum dapat diberangkatkan, maka
NZG meminta kepada kelompok Herrnhut di Zeist supaya sementara memakai tenaga
Kam. Sementara itu NZG berusaha mencari jalan untuk menyeludupkan Kam ke
Inggris. Dalam kerja sama LMS (London Missinary Society).[34] Kam dikirim ke Indonesia namun mengikuti
ujian dan ia dinyatakan lulus. Pada 1813 Kam ditahbiskan menjadi pendeta di
London. Penahbisan ke dalam jabatan pendeta merupakan tindakan yang sangat
bijaksana karena dengannya Kam dapat melayani sakramen di Indonesia. Pada tahun
1814 Kam menuju Maluku dalam umur 33 tahun bersama dengan Bruckner dan Supper.
Sambil menunggu kapal ke Maluku, Kam bekerja sementara dalam Gereja Protestan
di Surabaya. Ia membentuk kelompok kecil orang saleh di Surabaya yang giat
dalam pemberitaan Injil.[35] Pada
tahun 1815 Kam meniggalkan Surabaya menuju Ambon. Ia langsung terjun dalam
pekerjaannya. Dia satu-satunya pendeta di seluruh Indonesia Timur, satu-satunya
orang yang berhak melayankan sakramen-sakramen di Jemaat yang terbentang. Kam
harus melayankan baptisan kepada 7.553 orang di jemaat-jemaat Pulau Ambon,
Serem dan Lease saja. Pada hari paskah tahun 1815 Perjamuan Kudus dilayankannya
kembali untuk pertama kalinya sejak 13 tahun. Dari Agustus 1817 sampai Februari
1818 ia melakukan perjaanan ke Ternate, Minahasa dan Sangir. Pada tahun 1823 ia
berlayar kekepulauan barat daya, dengan menumpang kapal dagang. Dua kali ia
kembali ke Minahasa, dan dua kali ia berkunjung ke Seram dan Kepulauan Lease.
Rencana kerja pada perjalanan Kam adalah disetiap jemaat ia tinggal selama dua
hari. Setelah berlayar sepanjang malam (setelah berangakat pukul enam pagi,
kalau di daratan), pagi-pagi ia disambut di pantai laut ( atau di perbatasan
negeri) oleh seluruh penduduk negeri. Lalu ia diantar ke sekolah untuk meninjau
pendidikan anak-anak. Pada sore harinya Kam memeriksa calon-calon sidi dan menangani
perkara disiplin gereja. Lalu pada malam harinya diadakan kebaktian. Didalamnya
anak-anak yang lahir dalam tahun yang lalu dan orang-orang dewasa yang baru
disidi, perkawinan-perkawinan diberkati dan jemaat dipersiapkan untuk perayaan
Perjamuan Kudus. Pada hari yang kedua, pada pagi hari Perjamuan dirayakan; pada
sore hari ada pembicaraan dengan guru, penatua dan raja, lalu diadakanlah
kebaktian yang ketiga, dimana antara lain anak-anak dari perkawinan yang oleh
gereja dianggap tidak sah (perkawinan adat) dibaptis. Sesudah itu Kam menumpang
kembali kapalnya atau perahunya dan berlayar ke jemaat yang berikutnya.
Demikian juga di Maluku,
kehidupan gereja sangat merosot. Jasa kam memulihkan gereja di Maluku sehingga
ia diberi nama “Rasul Maluku”. Pekerjaan Kam ini tidak ternilai artinya bagi
gereja Maluku. Ia tidak segan-segan melayankan baptisan secara massal tanpa
persiapan yang wajar, sehingga pemisahan sakramen mau tidak mau harus
dipertahankan. Ia juga tidak segan bersandar pada kekuasaan dan keuangan penjajah
Belanda. Kaum membawa semangat Pietisme (Hertnhut) ke dalam gereja Maluku. Oleh
kunjungannya yang berulang-ulang banyak jemaat mulai berjalan dengan baik lagi.[36]
2.6.2. Johann Friedrich Riedel
Gereja di Minahasa (1831-1880)
diikuti persaingan dan peperangan antara Spanyol dan Belanda sedikit banyak
ikut mempengaruhinya. Belanda menerapkan
gaya pemerintahan yang represif dan ingin ikut mengatur berbagai urusan warga
Minahasa. Sejak tahun sebelumnya ada orang Minahasa yang sebelumnya menganut
ajaran Katolik, beralih menjadi penganut Protestan. Tetapi, karena ketidaknyamanan
mereka kemudian beralih kembali menjadi penganut agama-agama suku. Namun,
Joseph Kam ke sana dan akhirnya membuka jalan untuk kedatangan utusan Zending
Belanda berikutnya. Mereka mengutus Riedel seorang utusan Injil berkebangsaan
Jerman. Pengutusan beliau didasarkan NZG yang beraliran Pietis. Riedel
ditugaskan untuk menjangkau penganut agama-agama suku asli Minahasa.
Riedel menggunakan beberapa metode:
1. Riedel
memulai pelayanan tanpa menyertakan
bantuan tenaga orang Kristen Minahasa.
2. Riedel
juga tidak meneruskan kebiasaan-kebiasaan pendeta-pendeta bangsa Belanda yang
sering mengancam praktik tradisi dan adat-adat istiadat para pengantut agama suku
asli. Beliau justru menghindari kata-kata kecaman yang pedas
3. Riedel
bersikap ramah-tamah terhadap semua orang, mengundang mereka datang ke
rumahnya, dan mengajak mereka berdiskusi
hangat tentang ajaran-ajaran Kristen
Penerapan metode ini menjadikan
pada tahun 1850, sekitar 70 % warga Tondano telah menerima baptisan. Riedel
didampingi oleh beberapa orang utusan Injil bangsa Belanda.[37]
2.6.3. C.L. Coolen dan Johannes Emde
C. L. Coolen adalah seorang peranakan Rusia-Belanda dan Jawa. Ibunya
adalah seorang putri bangsawan Jawa yang mewarisi kebudayaan Jawa yan sedikit
banyak sudah campur dengan Islam. Pada tahun 1827 ia membuka kawasan hutan yang
luas di Ngoro sekitar 60 km dari Surabaya yang kemudian berkembang menjadi
desayang makmur. Di Ngoro ia sebagai pemimpin desa dan ia mempraktikkan
kekristenannya smbil tetap menghormati warga desanya yang Muslim misalnya
membangun mesjid. Dengan kata lain, ia tidak mengharuskan seorang Muslim yang
hendak menyewa tanahnya atau bergabung dalam komunitas Ngoro untuk menjadi Kristen.
Dalam ritual Kristen yang ia laksanakan, ia menyerap unsur0unsur tertentu dari
Islam maupun dari budaya Jawa.
Johannes
di Surabaya sangat berbeda dengan kekristenan yang dikembangkan oleh Coolen.
Emde seorang Jerman yang berlatarbelakang Pietisme yang kuat, walaupun
menghormati masyarakat Jawa dan menikah dengan seorang gadis Jawa dari kalangan
keratin Solo, Justru berusaha menjauhkan orang-orang yang diinjili dan
dibinanya dari budaya Jawa maupun dari
pengaruh agama Islam.[38]
2.6.4. Ludwing Ingwer Nommensen
Nommensen adalah seorang tokoh
pekabar injil Jerman yang terkenal di Indonesia. Nommensen dilahirkan pada
tanggal 06 Februari 1834 disebuah pulau kecil yang bernama P. Noordstrand,
Jerman Utara. Nommensen sejak kecil sudah hidup dalam kemiskinan dan penderitaan.
Sejak kecil ia sudah mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Pada umur 8
tahun ia mencari nafkah dengan mengembalakan domba orang pada musim panas dan
bersekolah pada musim dingin. Pada umur 10 tahun ia menjadi buruh tani sehingga
pekerjaan itu tidak asing lagi baginya. Semuanya ini tampaknya merupakan
persiapan bagi pekerjaannya sebagai pekabar Injil dikemudian hari. Tahun 1846
Nommensen mengalami kecelakaan serius. Luka itu parah sehingga tidak dapat
berjalan. Meskipun sakit ia tetap belajar untuk menjahit dan menambal sendiri
pakaiannya yang robek. Suatu hari ia membaca Yohannes 16:23-26 tentang
kata-kata Yesus yang menyatakan siapa yang meminta kepada Bapa di Sorga, maka
Bapa akan mengabulkannya. Nommensen bertanya kepada ibunya apakah nasihat Yesus
masih berlaku atau tidak. Ibunya menyakinkannya bahwa nasihat itu masih
berlaku. Ia meminta ibunya supaya berdoa bersama-sama. Nommensen meminta kesembuhan
dan berjanji jikalau ia sembuh, maka ia akan pergi memberitakan Injil kepada
orang kafir.[39]
Ia melamar ke RMG untuk dapat
menjadi seorang pekabar Injil. Lalu ia didik di wisma RMG di Barmen, dan pada
tahun 1861 ia ditahbiskan dan ia berangkat ke Sumatera. Sesudah perjalanan yang
142 hari lamanya ia tiba di Padang dan diperkerjakan dalam wilayah kekuasaan
Belanda. Ia berniat menyiarkan agama Kristen bukan dari pinggir, melainkan dari
Pusat Tapanuli. Dengan maksud itulah pada permulaan tahun 1864 ia pindah ke
Silindung. Banyak orang menyangka bahwa Nommensen seorang mata-mata Belanda,
yang ingin menaklukkan bangsa Batak. Mereka berusaha mengusir dia, tetapi
karena Nommensen seakan-akan terpaku pada tempat ia menetap, maka mereka mau
membunuh dia.[40]
Pelayanan Nomensen menunjukkan
penggunaan beraneka ragam metode dan cara untuk menyebarluaskan Injil serta Kekristenan
di tanah Batak
1. Beliau
telah menerjemahkan Alkitab PB ke dalam bahasa Batak Toba dan menulis beberapa
kisah Kristen berlatarbelakang pengajaran Alkitab dengan menggunakan bahasa tersebut
2. Nommensen
mengupayakan perbaikan bidang pertanian dan peternakan, bahkan beliau juga
mengajarkan tentang bagaimana pembuatan peralatan penggiilingan beras yang
sederhana agar dapat meringankan pekerjaan kaum wanita.
3. Beliau
telah mengupayakan penghapusan sistem perbudakan dikalangan masyarakat Batak
4. Beliau
mendirikan sekolah-sekolah dan mendidik orang-orang pribumi untuk menjadi
pendeta-pendeta dan guru-guru Injil
5. Liturgi
peribadahan gereja disusun secara khusus agar sesuai dengan jiwa masyarakat
batak
6. Beliau
mengadakan pekabaran Injil secara massal dan memuridkan mereka secara pribadi
demi pribadi.[41]
2.7.Tokoh-tokoh Pribumi ke Indonesia
Masa Hindia Belanda
2.7.1. Paulus Tosari (1813-1882)
Paulus
Tosari lahir pada 1813 dan meninggal sekitar tahun 1882. Beberapa ratusan orang
penduduk Ngoro pergi ke Surabaya untuk dibaptis. Ia pernah belajar di
pesantren, tetapi kemudain menempuh jalan kurang baik. Setelah mengatasi krisis
ini, ia mendengar tentang “ilmu” yang dapat diperoleh di Ngoro. Perkataan Yesus
dalam Matius 5:3 menjadi pengangan dan pedoman hidup baginya. Sekitar tahun
1840. Tosari pindah dari Ngoro dan setelah berguru lagi pada Coolen, ia pun
diberi tugas memimpin kumpulan-kumpulan pada hari Minggu dan kamis malam.
Tosari bekerja sama dengan Jellesma berlangsung dalam suauana baik dan member
hasil yang baik. Tosari mendirikan “lumbung
orang Miskin”, jemaat mengumpulkan padi yang kemudian “dipinjamkan” atau diberikan kepada orang-orang yang berkekurangan.
Jellesma menerbitkan juga riwayat Alkitab dan sebuah bundle nyanyian rohani
dalam bahasa Jawa.[42]
2.7.2. Ibrahim Tunggul Wulung (+1885)
Ibrahim Tunggul Wulung lahir di
Juwana, dekat Jepara pada awal abad ke-19, dengan nama Ngabdullah. Ia semula adalah
seorang Muslim. Selanjutnya Tunggul menemui Coolen, Emde, dan Jellesma yaitu
penginjil utusan NZG yang bekerja di Surabaya sejak 1848 dan di Mojowarno sejak
1851. Setelah ia berkelana ke mana-mana sambil mengabarkan Injil. Semangat ini
membuat Jellesma yain akan kesunguhan Tunggul lalu Jellesma membaptis Tuggul
bersama istrinya pada 6 Juli 1857 dengan nama baptis Ibrahim.[43]
I.
Refleksi
Teologis
Pembubaran
VOC oleh pemerintah Belanda disebabkan oleh karena hutang-hutang VOC yang
semakin meningkat, kekacauan ekonomi dan sosial akibat sistem monopoli yang
ketat dan ditambah lagi dengan munculnya perebut hak monopoli yang selama ini
berada ditangan VOC. Dengan hapusnya VOC, berakhir pula suatu babak sejarah
penjajahan oleh suatu badan perdagangan. Gereja kemudian diberi nama Gereja
Protestan di Indonesia (GPI). Dengan
berkembangnya orang Protestan Belanda yang tersebar di Jawa dan Sumatera oleh
semangat penginjilan dan membentuk badan-badan pekabaran Injil. Hal ini
menyebabkan semakin banyaklah orang
percaya kepada Kristus. Dalam Kisah Para Rasul 1:8 “Tetapi kamu akan menerima
kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di
Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” diajarkan
bahwa baptisan dalam Roh adalah menerima Kuasa untuk bersaksi bagi
Kristus sehingga orang yang belum mengenal Kristus menjadi saksi bagi seluruh
dunia. Sebagai saksi perlu mengetahui apa yang dilakukan Tuhan dalam kehidupan
dan menyampaikan Kabar Baik kepada orang lain. Allah akan memimpin kepada
orang-orang yang terbuka dan mau menerima serta siap mendengar kasih setia
Allah. Pemberitaan Injil adalah perintah untuk menyebarluaskan Kerajaan Allah
di Bumi dan menjadi pengikut Kristus. Hasil pemberitaan ini maka Kristus akan
dikenal, dikasihi, dipuji, dan dijadikan Tuhan atas umat pilihan dan yang mau
menjadi saksi bagiNya hingga seluruh dunia.
II.
Daftar
Pustaka
Aritonang,
Jan S., Sejarah Perjumpaan Kristen dan
Islam Di Indonesia, Jakarta: BPK-GM, 2016.
Aritonang,
Jan. S., Belajar Memahami Sejarah di
Tengah Realitas, Bandung: Jurnal Info Media, 2007.
Culver,
Jonathan E., Sejarah Gereja Indonesia,
Bandung: Biji Sesawi, 2014.
End, Th. Van den, Harta dalam Bejana, Jakarta:BPK-GM,
2015.
End,
Th. Van den, Ragi Cerita 1: Sejarah
Gereja di Indonesia 1500-1860, Jakarta:BPK-GM, 1999
Hale,
Leonardo, Jujur Terhadap Pietisme, Jakarta:
BPK-GM, 1996.
Krueger, Mueller-, Sejarah Gereja Indonesia, Jakarta:BPK-GM,
1959.
Ukur,
F. & Cooley, F.L., Jerih dan Juang:
Laporan Nasional Survei Menyeluruh Gereja di Indonesia, Jakarta: Lembaga
Penelitian dan Studi DGI, 1979.
Wellem,
F.D., Kamus Sejarah Gereja, Jakarta:BPK-GM,
2011.
Wellem,
F.D., Riwayat Hidup Singkat, Jakarta:
BPK-GM, 2015.
[1]VOC (Vereenigde Oost-Indische
Compagnie) adalah lembaga perdagangan dan pemerintahan yang dibentuk oleh
pemerintahan Belanda di Indonesia pada tahun 1602. Lembaga ini merupakan
penggabungan dari beberapa lembaga perdagangan Belanda yang melakukan kegiatan
perdagangan di Indonesia. VOC bertanggung jawab atas kehidupan gereja dan
pekabaran Injil dalam wilayahnya. Oleh karena itu, lembaga inilah yang menanamkan
kekristenan Protestan Calvinis untuk pertama kalinya di Indonesia. VOC
dibubarkan pada 31 Desember 1799 karena mengalami kebangkrutan. Indonesia
menjadi daerah jajahan langsung dari pemerintah Belanda. F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja (Jakarta:BPK-GM,
2011), 471.
[2]
F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang: Laporan Nasional Survei
Menyeluruh Gereja di Indonesia, (Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi DGI,
1979), 473.
[3] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 473.
[4] Th. Van den End, Ragi Cerita 1: Sejarah Gereja di Indonesia
1500-1860 (Jakarta:BPK-GM, 1999), 137.
[5] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 474-475.
[6] Th. Van den End, Ragi Cerita 1: Sejarah Gereja di Indonesia
1500-1860, 140.
[7] Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam Di
Indonesia, 73-74.
[8] Th. Van den End, Ragi Cerita 1: Sejarah Gereja di Indonesia
1500-1860, 144-145.
[9] Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam Di
Indonesia, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 74.
[10] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 476.
[11] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 477.
[12] Th. Van den End, Ragi Cerita 1: Sejarah Gereja di Indonesia
1500-1860, 146.
[13] Haagsche Commissie adalah suatu komisi oleh pemerintahan Belanda
pada tahun 1815. Komisi ini dibentuk berkaitan dengan terbentuknya Gereja
Protestan Indonesia-GPI (Indische Kerk) sebagai gereja kesatuan
di Indonesia. Komisi ini bertugas sebagai badan penghubung antara Gereja
Protestan Indonesia dan pemerintahan Belanda serta memberikan nasihat kepada
dan pemerintah Belanda tentang hal-hal yang berkaitan dengan urusan Gereja
Protestan Indonesia. Disamping itu juga bertugas menyediakan, memilih, menguji
serta mengutus pendeta-pendeta untuk Gereja Protestan Indonesia. Komisi ini
diberi nama demikian karena berpusat di kota Den Haag, Belanda. F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja,157.
[14] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 478-479.
[15] Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam Di
Indonesia,77-78.
[16] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 481.
[17] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Indonesia (Bandung: Biji
Sesawi, 2014), 81-83.
[18]
Th. Van den End, Harta dalam
Bejana (Jakarta:BPK-GM, 2015), 272.
[19]
F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 481
[20] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 486.
[21] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juah, 486.
[22]
F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juah, 485-486
[23] Menurut Leonard Hale dalam
bukunya Jujur Terhadap Pietisme
mengatakan bahwa NZG didirikan di Rotterdam pada tahun 1897. Badan ini bekerja
ditempat-tempat yang tersebar diseluruh Indonesia, oleh karena itu pengaruhnya
perlu diperhitungkan. Misalnya Maluku, Minahasa, Timor, Jawa Timur, Sulawesi
Tengah, Bolaang Mangondow, Karo, Sulawesi Selatan, dan Pulau Sawu. Dari tahun
1813-1894, kurang lebih 95 orang pekabar injil diutus ke Indonesia. Itu berarti
satujumlahnya yang cukup besar untuk diperhitungkan pengaruhnya.
[24] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 300-302.
[25] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 487.
[26]Dalam buku :Jerih dan Juang karya F. Ukur berpendapat lain mengatakan bahwa
didirikan pada tanggal 19 Desember 1797, dengan tujuan penanaman dan perluasan
Kekristenan di kalangan non kafir.
[27] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 83.
[28] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 304.
[29] Leonardo Hale, Jujur Terhadap Pietisme (Jakarta:
BPK-GM, 1996), 71.
[30] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 465.
[31] Leonardo Hale, Jujur Terhadap Pietisme, 72.
[32] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 113.
[33] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 402.
[34] LMS adalah lembaga pengkabarn
Injil ini didirikan di London, Inggris pada taun 1795, oleh orang-orang
Anglikan, Kongregasional, Presbiterian, dan Wesleyan yang dipengaruhi oleh
semangat Pietisme dan Revivalisme. Lembaga ini bertujuan memberitakan di
tenagh-tengah masyarakat dengan beragama non Kristen. Ketika Indenesia dijajah
oleh Inggris, NZG mengutus Joseph
Kam ke Indonesia dengan
perantaraan Lembaga ini. (F.D. Wellem,
Kamus Sejarah Gereja, 267)
[35] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat (Jakarta: BPK-GM, 2015),110.
[36] Th. Van den End, Harta dalam Bejana, 254-256.
[37]
Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Indonesia, 71-72.
[38]
Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam Di
Indonesia, 89
[39] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat, 145-146.
[40] Th. Van den End, Harta dalam Bejana, 270.
[41] Mueller-Krueger, Sejarah Gereja Indonesia
(Jakarta:BPK-GM, 1959),61-63.
[42]
Th. Van den End, Ragi Cerita 1: Sejarah Gereja di Indonesia
1500-1860, 203
[43]
Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam Di
Indonesia, 93-94
Tidak ada komentar:
Posting Komentar