Selasa, 31 Maret 2020

Kekeristenan di Indonesia pada Masa Hindia Belanda abad XIX Sampai Pertengahan Abad XX

                                             
Kekeristenan di Indonesia pada Masa Hindia Belanda abad XIX Sampai Pertengahan Abad XX  (Rindu Roito Situmeang)
I.                   Abstraksi
Bersamaan dengan berakhirnya abad ke-18, tamat pula riwayat VOC dalam usia 200 tahun. Pembubaran VOC oleh pemerintah Belanda disebabkan oleh karena hutang-hutang VOC yang semakin meningkat, kekacauan ekonomi dan sosial akibat sistem monopoli yang ketat dan ditambah lagi dengan munculnya saingan-saingan di lautan yang cukup ampuh dan memperebut hak monopoli yang selama ini berada ditangan VOC. Dengan hapusnya VOC, berakhir pula suatu babak sejarah penjajahan oleh suatu badan perdagangan. Bagi Indonesia peristiwa ini tidak membawa arti yang menguntungkan, karena ia tetap merupakan daerah jajahan. Dengan hal ini terbentuklah Gereja Protestan yang menjadi lanjutan jemaat VOC. Masa itu jemaat-jemaat Protestan tidak sanggup menyusun organisasinya dan menyelenggarakan keperluannya sendiri. Sehingga Gereja Protestan di Indonesia diurus dan dipimpin oleh pemerintah yang menyebabkan  pendeta terikut kepada golongan pegawai negeri dan gereja seluruhnya dipimpin dari atas.
Dengan berkembangnya orang Protestan Belanda maka semakin berkembang jugalah di Jawa dan Sumatera. Gereja Protestan di Timur Indonesia banyak diutus oleh tim penginjil sehingga semakin banyaklah  orang percaya kepada Kristus. Banyak pribumi yang merespon baik karena penginjilan dari para penginjil.

II.                Isi
2.1. Keadaan di Indonesia dan di Eropa
Dalam waktu bersamaan dengan tamatnya riwayat VOC, Negara Belanda sendiri terlibat dalam kancah pergolakan politik internasional dan menjadi Negara satelit republik Perancis diseputar tahun 1796.  Waktu itu di negeri Belanda dibentuk suatu pemerintahan yang menggantikan “staten general”, yakni “Bataafse Republik”. Batasfse Republik inilah yang membubarkan VOC[1] dan mengambil alih pemerintahan jajahan di Indonesia dan mengutus orang untuk memegang kekuasaan tertinggi di Indonesia: H.M Daendels, selaku Marskal dan Gubernur Jendral antara tahun 1808-1811. Dengan berakhirnya perang di Eropa dan Napoleon dikalahkan, terjadilah suatu penataan politik baru di Eropa dan berdasarkan perundingan maka Indonesia dikembalikan oleh Inggris kepada Belanda yang sementara itu telah berubah menjadi dibawah pemerintahan raja Williem I. Pemerintahan Bataafse republik dibawah Daendels disusul dengan pemerintahan inggris Letnan Gubernur Thomas Stanford Raffles,  yang telah membawa situasi baru di Indonesia. Terutama kehadiran Daendels dengan pengaruh cita-cita revolusi Perancis, reorganisasi dibidang administrasi dan hukum serta kebebasan beragama  yang ingin diterapkan di Indonesia.[2] Revolusi Perancis (1789-1815) dengan semboyan atau prinsip baru yaitu : 1. Liberte (kebebasan), Egalite (Persamaan) dan Franternite (Persaudaraan). Sejak itu monopoli Agama Kristen Protestan Calvinis ikut berakhir. Adanya jemaat Luther di Jakarta selama ini hanya sekedar ditolerin oleh pihak pemerintahan VOC karena adanya orang-orang Jerman selaku tentara sewaan, kini memperoleh kebebasan. Pihak Gereja Katolik mendapat ijin untuk bekerja kembali di Indonesia malah memperoleh sokongan finansial dari khas pemerintah seperti Gereja Protestan. Agama islam juga memperoleh kemungkinan berkembang secara bebas dan secara resmi diperkenankan oleh pemerintah untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Raffles melanjutkan kebijaksanaan Daendels untuk perkembangan gereja dengan membuka perspektif baru dalam semangat kebebasan agama yang diproklamasikan tahun 1808 dengan mengijinkan masuknya untuk pertama kali badan pengkabaran Injil ke Indonesia.
Setelah kerajaan Belanda mengambil alih pemerintahan di Indonesia sejak 1815, maka yang pertama mereka lakukan adalah memperkuat kedudukan yang telah ditinggalkan VOC. Ekspedisi-ekspedisi yang mereka lakukan yaitu mempertahankan keamanan, menjaga gangguan perampok-perampok laut serta menjamin kekayaan yang begitu besar agar tetap masuk khas pemerintah kerajaan.[3] Dalam abad ke-19, peristiwa-peristiwa yang paling penting ialah Perang Diponegoro di Jawa Tengah (1825-1830) dan perang Aceh (1873-1903); tetapi disana sini terjadi pertempuran-pertempuran sepanjang abad itu: di Saparua (1817), di Bali (1848-1849), di Kalimantan ( 1859), di Sumatera Barat (1818-1838), dan di Tapanuli (1878, 1907).[4]
Dibidang ekonomi terjadi perubahan yang menggantikan cultuurstelsel yang masih diteruskan sampai pertengahan abad ke-19, dengan adanya liberalisasi. Mulailah timbul perkebunan-perkebunan kapitalis besar, serantak pula penemuan sumber alam yang baru seperti timah di Bangka (1852) demikian juga sumber minyak bumi di Sumatera dan Jawa (1886). Semua ini membawa keuntungan yang luar biasa dan terus meningkat, dan menempatkan Indonesia sebagai jajahan yang sangat kaya.
Dibidang pendidikan pemerintah kolonial sama sekali tidak memberi perhatian, khususnya, menjelang akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 karena dorongan dan desakan tokoh Belanda baik kalangan pemerintah maupun gereja. Sejak itu mulai ada kesadaran akan kewajiban moral terhadap penduduk Indonesia yang telah mereka kuras kekayaan alamnya dan tenaga manusianya. Sehingga berdirilah Sekolah Tinggi Teknik di Bandung (1920) dan Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta, lalu ditahun 1926 Sekolah Tinggi Kedokteran.[5]  
Kebebasan beragama mulai diwujudkan di Eropa dan Gereja dilepaskan dari Negara, hal itu berarti tidak ada lagi gereja yang oleh pemerintah diakui sebagai satu-satunya gereja yang benar dan yang dilindungi serta dibiayai oleh Negara. Banyak orang menganggap ajaran gereja tradisional mengenai dosa dan keselamatan oleh darah Kristus sebagai kolot saja. mereka percaya kepada manusia dan kemampuannya untuk mencapai kemajuan yang tak terbatas dalam bidang kesusilaan. Pencerahan juga mempengaruhi sikap orang Eropa terhadap bangsa lain termasuk orang Indonesia. Orang Eropa bangga karena berkat pemakaian akal budi mereka, sudah mereka capai kemajuan yang tinggi. Rasa superioritas tersebut sudah ada sebelumnya, yakni berdasarkan keyakinan bahwa orang-orang Eropa mempunyai agama benar.[6]
2.2.Sejarah Kekristenan Hindia-Belanda Sejak Keruntuhan VOC
Setelah membubarkan VOC tanggal 31 desember 1799, mulai tahun 1800 pemerintah Belanda menangani sendiri pemerintahan atas wilayah jajahannya di Nusantara, dan wilayah itu disebutnya Nederlandch-Indie (Hindia-Belanda). Maka ditetapkan sistem dan perangkat pemerintah yang baru, lengkap dengan personilnya. Dengan kata lain, pemerintahan baru di Hindia-Belanda sejak saat itu resmi menjadi bagian dari pemerintahan Belanda. Sebagai kepala pemerintahan di Hindia-Belanda, semula diangkatlah Letnan-Gubernur Jendral. Yang pertama adalah Pieter van Overstraten, lalu kemudian digantikan oleh Johannes Siberg (1801-1805) dan Albertus Hendricus (1805-1808).[7] Pemerintah Belanda yang baru itu mulai mengusai daerah-daerah jajahan secara langsung yang sama seperti di Nederland sendiri, asas-asas pencerahan hendak digunakan dalam tata pemerintahan. Kepentingan rakyat Indonesia harus dimajukan dalam segala hal dan Negara tidak campur tangan lagi dalam soal agama, melainkan sikap netral.[8]
Dalam politik agama tahun 1808 sikap netral pemerintah sangat menguntungkan semua pihak termasuk pihak Islam. Daendels sebagai gubernur itu telah mencanangkan program penghormatan atas hak hidup semua agama. Hal ini memperlihatkan bahwa pemerintahan Hindia Belanda berbeda dengan VOC.[9] Sikap pemerintahan terhadap gereja sering bertentangan. Berdasarkan netralitas dianutnya, maka pemerintahan sebenarnya tidak mungkin lagi melanjutkan kewajibannya terhadap gereja seperti di zaman VOC. Seharusnya ia memberikan  hak yang sama kepada orang Kristen seperti kepada golongan agama lainnya. Sebaliknya sebagai pewaris sah dari VOC, pemerintahan merasa berkewajibannya untuk memelihara gereja yang dilahirkan dari zaman VOC itu. Demikianlah maka gereja VOC masa lalu di rganisir kembali pada tahun 1817 menjadi “Gereja Protestan di Hindia Belanda”, yang pada dasarnya tetap merupakan Gereja Negara. Pemerintahan menganggap dirinya selaku pelindung gereja ini. Perbedaan ajasi dengan sikap VOC ialah bahwa pemerintahan kerajaan ini tidak lagi membiarkan monopoli dari satu aliran Protestan, tetapi mencoba supaya semua aliran yang terdapat di negeri Belanda menjadi satu di Indonesia.[10]
2.3.Gereja Protestan Hindia Belanda
2.3.1.      Misi Protestan Pertama di Indonesia
Dengan berakhirnya monopoli VOC dan terbuka pintu untuk para badan-badan misi di Indonesia yang memberikan kesempatan baru, maka dalam kekristenan di Eropa telah terdapat kekuatan baru. Kesadaran akan pekabaran injil ini lahir diantara orang-orang Kristen, yang kemudian membentuk berbagai badan pekabaran Injil selaku persekutuan-persekutuan pribadi dari orang percaya.  Lahirlah apa yang kemudian dikenal selaku Perkumpulan-perkumpulan Pekabaran Injil yang bergerak diluar gereja resmi. Dari perkumpulan pekabaran Injil ini berdatangan utusan-utusan Injil ke Indonesia dan bekerja didaerah yang belum dilayani oleh gereja Negara. Tujuan utama dari badan Pekabaran Injil ini agar orang-orang yang masih belum beragama itu menerima Injil yang indah dari Allah yang Mahatinggi dan tertanam ajaran manusiawi. [11] Pada tahun 1814 Joseph Kam bersama dua rekannya tiba di Indonesia. Setelah sepuluh tahun lebih, dialah pendeta pertama yang berhasil diutus Lembaga Pekabaran Injil dari negeri Belanda ke Indonesia untuk melayani orang-orang Kristen disana. Tetapi setibanya di Indonesia ia disuruh bekerja dijemaat yang sejak zaman VOC telah diasuh oleh Negara dan kemudian diberi nama Gereja Protestan di Indonesia (GPI).
Struktur GPI dapat dilihat dari pemerintahan Portugis dan VOC mengaku sebagai pemerintah Kristen. Negara tidak akan campur-tangan lagi dalam soal-soal agama, melainkan bersikap “netral”. Pada permulaan abad-19 keadaan jemaat Kristen di Indonesia tidak baik, Pendeta hanya tinggal beberapa orang saja, daerah-daerah diluar pusat tidak dikunjungi lagi. Di Batavia yang pernah dilayani 17 orang Pendeta sekarang tinggal 1 pendeta. Jumlah anggota jemaat mundur. Berhubung dengan keadaan dan kesulitan yang dialami, Gereja di Belanda tidak sanggup memberi bantuan berupa uang atau tenaga. Pemerintah tetap membiayai jemaat-jemaat di Indonesia, tetapi secara resmi sudah tidak ada lagi ikatan antara gereja dan Negara. Keadaan jemaat Kristen protestan dalam tahun ini tidaklah menentu.
Setelah orang-orang Inggris mengembalikan jajahan-jajahan di Indonesia kepada Nederland (1816), barulah keadaan di bidang gereja diatur secara baru. Hal itu dilakukan oleh raja yang baru, Willem I. Ia menggabungkan semua jemaat Protestan di Hindia Belanda (Indonesia) dan menetapkan peraturan yang berlaku di gereja ini.[12] Ketetapan oleh Willem I ini maka gereja VOC itu secara resmi dijadikan gereja Negara, yang ditangani langsung oleh kementrian urusan jajahan dengan dibantu oleh Haagse Comissie[13] yang memiliki tugas selaku penasehat dan menyedikan dan mengangkat para tenaga pendeta untuk Gereja di Indosesia.[14]
2.4.Perkembangan Gereja masa Zending
               Perkembangan gereja dan agama Kristen dizaman Hindia Belanda pada masa ini berlangsung pesat, terutama diluar Jawa yang didorong oleh semangat penginjilan dan membentuk badan-badan penkabaran Injil. Badan Zending datang dan berkarya di Hindia Belanda yang datang dari Inggris, Jerman, Swiss dan Amerika. Mereka berhasil membangkitkan minat sejumlah orang, terutama kaum muda, untuk menjadi penginjil (zendeling/misionaris), menabur benih Injil dan membentuk komunitas Kristen dipelosok Dunia, termasuk  di Hindia Belanda. Pekabaran injil oleh para zendeling tidak bersifat konfesional, dalam arti tidak mempropagandakan ajaran atau pengakuan suatu aliran atau lembaga gereja tertentu, namun bertujuan memberitakan Injil Kristus apa adanya. Tidak saja bermaksud memberitakan Injil pada penganut agama suku di Hindia Belanda, melainkan juga membawa peradaban bagi mereka.[15] Kehadiran pekabaran Injil dari badan penginjil dalam gereja Negara menimbulkan persoalan baru. Selaku pekabar Injil, maka kedudukan mereka tidak diatur dalam Peraturan Gereja, dan mereka tidak dianggap sebagai Pendeta. Untuk dapat bekerja mereka diangkat oleh pemerintahan Hindia Belanda, tetapi pemberian gaji mereka paling tinggi hanya sepertiga dari gaji Pendeta. Hal ini berjalan hingga 1854, ketika dicapai persetujuan antara pihak NZG dengan Hindia Belanda yang mengutus para pekabar Injil itu. hal itu disepakati hingga mengangkat 6 orang pembantu Pendeta (pekabaran Injil) selaku pengganti 2 Pendeta.  Dengan persetujuan ini diangkatlah Pendeta pembantu untuk memenuhi kebutuhan pelayanan hingga pendeta pembantu meningkat sampai 31 orang. Mereka bekerja dibawah pengawasan pendeta yang menempati jemaat-jemaat pusat, seperti Ambon, Manado, Ujung Pandang dan Kupang.[16]
               Di Jawa penganut agama Islam sangat besar dan juga dibeberapa tempat ada penganut seperti Hindu dan Buddha yang bercampur dengan agama atau kepercayaan asli.  Pemerintahan Hindia Belanda bertekad untuk mengisi kembali perbendaharaan yang terkuras pada saat terjadinya perebutan kekuasaan antara Pemerintahan Kolonial Belanda dengan Inggris. Tahun 1815, tidak ada orang Kristen yang berlatarbelakang suku Jawa atau Sunda. Selain orang Kristen Belanda dan Timur ada juga orang Kristen Batavia, Semarang, dan Surabaya. Namun tahun 1851-1858 pusat pekabaran Injil datang dengan tokoh-tokoh yaitu: Emde di Surabaya (1851); Coenrad Coolen di Ngoro (Sejak tahun 1830); J.E. Jellesma (1850-1858).
               Emde menikahi seorang wanita Jawa. Dengan melibatkan isteri dan anak-anaknya, Emde sekeluarga melakukan aktivitas pekabaran Injil. Mereka menjalin hubungan dengan orang-orang Jawa yang sebagaian besar merupakan kalangan pembantu orang-orang Eropa di Surabaya. Emde menjalin hubungan dengan Gottlob Bruckner yang kelak akan menjadi penerjemah kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jawa pada 1831. Namun aktivitas Emde secara lambat laun akhirnya disambut hangat oleh orang-orang Jawa.
               Sementara Coenrad Coolen seorang berdarah Indo dengan ibunya yang berdarha Jawa dan dibesarkan didalam kebudayaan Jawa. Coolen memulai sebuah pemukiman baru disana yang diberi nama Ngoro. Ngoro tumbuh menjadi sebuah desa yang makmur. Coolen sendiri dikenal sebagai sang pempimpin dan guru Kristen. Ia tidak segan memadukan beberapa unsur kebudayaan Jawa dengan ajaran-ajara Kristen. Sebagai contoh, ketika seorang bermaksud mengerjakan sawahnya, Coolen telah mengajarkan dia untuk mengucapkan doa-doa berkat sebelum dia mulai membuka lahan itu. Pada perkembangan selanjutnya, Pemerintah Hindia-Belanda akhirnya telah mengijinkan pihak NZG memulai pekerjaan pertama mereka di Pulau Jawa.[17]
               Sementara karena semangat Pietisme para pekabaran Injil menyebabkan  beberapa diantara mereka datang ke Sumatera untuk mengabarkan Injil disana. Mereka adalah orang-orang Inggris dan Amerika. Tetapi pemerintahan Belanda, sama seperti orang-orang Batak, tidak suka akan kedatangan orang asing ke wilayah kekuasaannya. Tiga pekabar Injil dari Inggris diusir olehnya (1824) dan dua orang berkebangsaan Amerika dibunuh oleh orang-orang Batak didaerah Silindung (1834). Tahun 1856 orang lain diutus dari Belanda tapi pada kebanyakan penduduk Angkola-Mandailing yang telah masuk Islam. Pada 7 Oktober 1861 mereka  berunding dengan pekabaran-pekabaran Injil Belanda di tanah Batak. Tanggal itulah yang dipandang sebagai hari kelahiran gereja Batak (walaupun pada tanggal 31 Maret tahun itu telah dibaptis dua orang Batak Kristen yang pertama). Tetapi sesudah itu pekabaran Injil sangat berkembang berkat semangat seorang tokoh yaitu Nommensen.
               Ludwig Ingwer Nommensen (1834-1918) memilih daerah Silindung sebagai pekabaran Injil di Tapanuli (1864). Berkat dukungan kepala suku batak yaitu Raja Pontas Lumbantobing, yang berhasil mengatasi kesulitan dan bahaya yang dihadapinya dalam tahun pertama. Raja Pontas sangat dihormati dalam kebijaksanaannya. Ia menyadari suku bangsanya akan lenyap akibat pertikaian dan peperangan terus menerus. Oleh karena itu ia senang melihat agama Kristen. Pada tahun 1865 orang-orang Silindung yang pertama dibaptis dan dua tahun kemudian Raja Pontas juga menerima baptisan. Orang-orang Kristen di Silindung ada 700 orang Kristen, tahun 1881 sebanyak 3500 orang, tahun 1891 sebanyak 10.000 orang.[18]
               Kebutuhan pelayanan dan pemeliharaan jemaat tidak dapat dipernuhi walaupun sudah ditambah dengan adanya pendeta pembantu yang masih tetap orang Eropa. Orang-orang Indonesia sendiri sangat diperlukan untuk meningkatkan pelyanan jemaat. Lahirlah suatu jabatan baru, khususnya bagi orangIndonesia yang disebut: guru Injil. Mereka inilah yang secara langsung bekerja di dalam jemaat. Untuk mempersiapkan/memperlengkapi para guru Injilini, mula-mula dibseikan semacam pendidikan pribadi di rumah-rumah para pembantu pendeta. Baru kemudian di tahun 1885 didirikan suatu lembaga pendidikan khusus, yang disebut STOVIL (School tot Opleiding van Inlandse Leeraren) yang didirikan di Ambon, Tomohan dan Roti.[19]
2.5.Lembaga-Lembaga Pekabaran Injil
               Sampai pada  bagian pertama abad ke-19, hanya ada satu badan Pekabaran Injil dinegara Belanda dan yang ikut mengutus tenaga-tenaga mereka ke Indonesia yakni NZG. Tetapi kemudian dalam bagian ke-dua abad ke-19 itu lahirlah banyak badan Pekabaran Injil lainnya. Hal ini disebabkan semakin meningkatnya dan meluasnya perhatian orang Kristen terhadap pekerjaan Pekabaran Injil dan adanya pertentangan yang makin tajam diantara aliran gerejani.
Makin meningkatnya perhatian orang Kristen terhadap Pekabaran Injil rupanya tidak dapat seluruhnya tertampung dalam NZG, sehingga mereka itu mencari penyalurannya yang cocok dengan aliran pemahaman gerejani masing-masing. Menyangkut dasar NZG yang dirumuskan nampaknya tidak memuaskan segala pihak, terutama golongan yang sangat dipengaruhi oleh kebangunan rohani dari abad sebelumnya. Dalam NZG kelompok ini berkumpul dengan segala macam golongan, termasuk orang-orang yang mereka anggap sebagai lawan dengan  siapa mereka tidak bisa bekerjasama. Persoalan pokok mereka ini adalah berkenaan dengan soal: “Apakah suatu badan Pekabaran Injil cukup mencari kesatuannya dalam ‘tujuan bersama’ ataukah seharusnya mendasarkan kesatuannya itu dalam ‘pengakuan bersama’”. Dari situlah mulai terjadinya pemisahan-pemisahan dan timbulnya berbagai badan Pekabaran Injil’ di negeri Belanda yang kemudian masing-masing mencari daerah pekerjaannya di Indoensia.[20]
                     Menjelang pertengahan abad ke-19 terbukalah kemungkin bagi badan-badan Pekabaran Injil untuk bekerja diuar wiayah Gereja Protestan. Pihak Gereja Katolik juga mendapat kesempatan mengirim misionaris ke Indonesia, setelah pada tahun 1847 oleh pihak Pemerintah diadakan semacam musyawarah dengan Paus. Dalam hal ini dicantumkan bahwa rohaniawan, setelah mendapat persetujuan dari pihak pemerintah, dapat diangkat dan ditetapkan oleh pihak Gereja dengan pemberitahuan kepada Gubernur Jenderal. Kemudian pemerintah memberi kemungkinan bagi badan Peginjil untuk bekerja didaerah di luar wilayah pelayanan Gereja Protestan. Dengan adanya situasi baru ini mulailah babak baru dalam penyebaran kepercayaan Kristen di Hindia Belanda.[21]
                     Menjelang pertangahan abad ke-19 terbukalah kemungkinan  bagi badan-badan Pekabaran Injil untuk bekerja di luar wilayah Gereja Protestan. Pada tahun 1854 keluarlah peraturan khusus oleh pemerintah yang mengatur  dan member kemungkinan bagi badan-badan Pekabaran Injil untuk bekerja di daerah-daerah di luar wilayah pelayanan Gereja Protestan. Dalam suatu artikel (Artikel 177) dicantumkan ketentuan-ketentuan
1.      Guru-guru Krsiten, imam-imam, Misionaris-misionaris (Pendeta-pendeta Zending) harus terlebih dahulu memperoleh (memiliki) yang diberikan oleh atau atas nama atau langsung oleh Gubernur Jendral untuk diperbolehkan menyelenggarakan pekerjaan dinas mereka disuatu bagian Hindia Belanda (Indonesia) tertentu.
2.      Bila izin yang telah diberikan itu kemudian dianggap merugikan pemerintahan, atau bila syarat-syarat yang ditetapkan tidak ditaati maka izin tersebut dapat dicabut (ditarik) kembali oleh Gubernur Jendral.[22]
2.5.1.      NZG (Nederlandsche Zendeling Genootschap)
               Lembaga ini didirikan pada 19 November 1797[23] oleh orang-orang Kristen Belanda anggota Gereja Hervormd yang dipengaruhi oleh semangat Pietisme. Lembaga ini semula tidak mempunyai hubungan langsung dengan Gereja Hervormd. Pendiri-pendirinnya mempunyai pandangan teologi yang berbeda dan ini mengakibatkan perpecahan dalam tubuh NZG pada pertengahan abad ke-19. NZG dengan satu tujuan bersama yaitu mengamalkan iman Kristen dalam fase dan kesaksian ditengah-tengah non-Kristen. NZG bukan bertujuan untuk membawa ajaran dan tata gereja tertentu dimedan pekabaran Injil, melainkan untuk memberikatkan Injil Yesus Kristus dengan murni tanpa tambahan pikiran-pikiran manusia. Keanggotaan NZG terbuka bagi orang-orang dari gereja lain dan ia bersifat interdenominasial, sama seperti lembaga-lembaga Injil lain. Pada mulanya NZG mengutus pekabar Injilnya ke Afrika Selatan dan India, namun sejak tahun 1813 lembaga ini hanya bekerja di Indonesia. NZG mempunyai wilayah kerja yang luas di Indonesia. Dengan demikian NZG mempunyai sumbangan yang sangat besar bagi pertumbuhan dan lahirnya Gereja-gereja Protestan Di Indonesia.[24]
Daerah Kerja: di Maluku, di NTT (Timor, Sawu dan Roti), di Sulawesi (Minahasa, Bolaang Mongondow, Gorontalo, Poso dan Ujung Pandang), Jawa Timur dan Jawa Tengah dan di Sumatera di daerah Batak Karo.[25]
2.5.2.      DZV (Doopsgezinde Zendings- Vereeniging)
               DZV adalah lembaga pekabaran Injil dari gereja Menonit (Doopsgezind) di Belanda yang didirikan pada tahun 1847.[26] Pada mulanya, mereka membantu usaha pekabaran Injil NZG di Indonesia, namun sejak tahun 1851 mereka mempunyai wilayah kerja sendiri. Pekabar Injil yang pertama diutus adalah P. Jansz. Badan pekabaran Injil ini melarang jemaat-jemaatnya untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik dan budaya, pemakaian kekerasan, dan bersumpah. Jemaat-jemaatnya merupakan jemaat otonom, disiplin gereja dijalankan dengan ketat, serta menolak Baptisan Anak. Berkat pekabaran Injil dari lembaga ini lahirlah Gereja Injili di Tanah Jawi (GITJ).
Daerah Kerja: yaitu di jawa tengah bagian Timur Laut (daerah sekitar Muria) dan di Mandailing-Angkola (Sumatera Utara).[27]
2.5.3.      Christen Werkman (Penginjil Tukang)
               Didirikan pada 1847 terbentuk dari lahir suatu keyakinan bahwa Injil itu tidak hanya dikabarkan oleh beberapa orang yang secara khusus dididik selaku penginjil. Tetapi dapat juga dilakukan dengan jalan mengadakan kolonisasi yaitu sejumlah orang yang benar-benar secara Kristen ditempatkan ditengah-tengah masyarakat belum Kristen. Tujuan badan ini mengutus tukang-tukang Kristen yang akan membantu para misionaris.
Daerah Kerja: Di Irian Jaya, Kepulauan Sangir-Talaud dan juga beberapa tempat di Jawa
2.5.4.      NZV (Nedelandsche Zendings-Vereniging)
               NZV adalah persatuan pekabaran Injil Belanda yang didirikan pada 2 Desember 1858 oleh kelompok yang meniggalkan NZG karena menganggap NZG telah dirasuki Teologi Modern.[28] Yang dapat menjadi anggota NZV hanyalah mereka yang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat mereka, dan menyatakan bahwa mereka tidak akan bekerjasama dengan orang-orang yang menyangkal keilahian Kristus. Pada mulanya NZV hanya mau mendidik calon pekabar Injil selama 3 tahun. Sikap ini didasarkan pada pola pikir bahwa kesalehan dan spontanitas lebih penting dari ilmu pengetahuan dan persiapan yang matang.[29]
Daerah Kerja: baru sekitar permulaan abad 20 yakni di Jawa Barat dan di Sulawesi Tenggara
2.5.5.      UZV (Utrechtsche Zendings-Vereeniging)
               UZV adalah Lembaga pekabaran Injil yang didirikan oleh golongan etis dalam NZG, karena menurut mereka NZG telah dirasuki oleh teologi modern. Lembaga yang didirikan pada tahun 1859 ini memiliki sebutan demikian, karena ia berkantor pusat di Utrecht.
Daerah Kerja: di Irian Jaya, diHalmahera, di Bali , Pulau Buru , dan di Sulawesi Selatan tahun.[30]
2.5.6.      NGZV (Nederlandsche Gereformeerde Zendings-Vereeniging)
               Lembaga ini didirikan pada tanggal 6 mei 1859, dan juga badan yang memisahkan diri dari NZG, karena tidak setuju dengan unsur-unsur modern yang telah menyusup dalam NZG. Pada mulanya badan ini tidak terikat dengan gereja Gereformeerd, tetapi dalam perkembangan dikemudian hari, NGZV merupakan salah satu badan pengabaran Injil Gereformeerd.
Daerah Kerja: Daerah yang di Injili adalah Jawa Tengah dan Sumba [31]
2.5.7.      GZB (Gereformeerde Zending Bond)
               Lembaga ini didirikan pada tahun 1901 dalam lingkungan Belanda oleh orang Kristen yang ingin meneruskan tradisi Calvinis abad ke-16 dan ke-17. GZB bekerja di Indonesia pada tahun 1913.
Daerah kerja: didaerah kerajaan Luwu, yaitu di Tana Toraja dan Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan sekarang ini [32]
2.5.8.      RMG (Rheinische Mission Gessellschaft)
               Lembaga pekabaran Injil ini didirikan di Barmen pada tahun 1825 sebagai penggabungan dari beberapa lembaga pengkabaran Injil didaerah sungai Rhein. Tujuan lembaga ini memberitakan dan mendirikan kerajaan Allah ditengah-tengah dunia orang kafir. Pada tahun 1835, lembaga ini bekerja di Kalimantan, kemudian pada tahun 1859 meninggalkan daerah itu dan berkarya di Tapanuli sejak tahun 1861-1940, lalu di Nias dan sekitarnya serta Mentawai.
Daerah Kerja : Kalimantan, Tapanuli, Nias, Mentawai dan Enggano. [33]
2.6.Tokoh-tokoh Zendeling ke Indonesia Masa Hindia Belanda
2.6.1.      Joseph Kam
               Joseph Kam dilahirkan September 1769. Ayahnya bernama Joost Kam yaitu seorang tukang pangkas rambut. Keluarga Kam adalah anggota gereja Hervormd yang setia, tetapi suasana rumah tangga mereka dipengaruhi oleh semangat pietisme Herrnhut. Mereka mempunya hubungan dengan kelompok Herrnhut di Zeist. Joseph  adalah seorang pekabar Injil yang memberikan darah segar kepada tubuh jemaat-jemaat di Maluku yang ditinggalkan terlantar sesudah bubarnya VOC di Indonesia pada tahun 1799. Ia memiliki tekad menjadi pekabar Injil. Ia melamar kepada NZG pada tahun 1807. Ia mempersiapkan diri untuk menjadi pekabar Injil di Denhaag dan Rotterdam  beberapa pendeta. NZG belum memiliki sekolah pekabaran Injil sendiri. Pada tahun 1811 pendidikan persiapannya dianggap selesai, namun Kam belum dapat diberangkatkan karena perang masih berkecamuk. Berhubung Kam belum dapat diberangkatkan, maka NZG meminta kepada kelompok Herrnhut di Zeist supaya sementara memakai tenaga Kam. Sementara itu NZG berusaha mencari jalan untuk menyeludupkan Kam ke Inggris. Dalam kerja sama LMS (London Missinary Society).[34]  Kam dikirim ke Indonesia namun mengikuti ujian dan ia dinyatakan lulus. Pada 1813 Kam ditahbiskan menjadi pendeta di London. Penahbisan ke dalam jabatan pendeta merupakan tindakan yang sangat bijaksana karena dengannya Kam dapat melayani sakramen di Indonesia. Pada tahun 1814 Kam menuju Maluku dalam umur 33 tahun bersama dengan Bruckner dan Supper. Sambil menunggu kapal ke Maluku, Kam bekerja sementara dalam Gereja Protestan di Surabaya. Ia membentuk kelompok kecil orang saleh di Surabaya yang giat dalam pemberitaan Injil.[35] Pada tahun 1815 Kam meniggalkan Surabaya menuju Ambon. Ia langsung terjun dalam pekerjaannya. Dia satu-satunya pendeta di seluruh Indonesia Timur, satu-satunya orang yang berhak melayankan sakramen-sakramen di Jemaat yang terbentang. Kam harus melayankan baptisan kepada 7.553 orang di jemaat-jemaat Pulau Ambon, Serem dan Lease saja. Pada hari paskah tahun 1815 Perjamuan Kudus dilayankannya kembali untuk pertama kalinya sejak 13 tahun. Dari Agustus 1817 sampai Februari 1818 ia melakukan perjaanan ke Ternate, Minahasa dan Sangir. Pada tahun 1823 ia berlayar kekepulauan barat daya, dengan menumpang kapal dagang. Dua kali ia kembali ke Minahasa, dan dua kali ia berkunjung ke Seram dan Kepulauan Lease. Rencana kerja pada perjalanan Kam adalah disetiap jemaat ia tinggal selama dua hari. Setelah berlayar sepanjang malam (setelah berangakat pukul enam pagi, kalau di daratan), pagi-pagi ia disambut di pantai laut ( atau di perbatasan negeri) oleh seluruh penduduk negeri. Lalu ia diantar ke sekolah untuk meninjau pendidikan anak-anak. Pada sore harinya Kam memeriksa calon-calon sidi dan menangani perkara disiplin gereja. Lalu pada malam harinya diadakan kebaktian. Didalamnya anak-anak yang lahir dalam tahun yang lalu dan orang-orang dewasa yang baru disidi, perkawinan-perkawinan diberkati dan jemaat dipersiapkan untuk perayaan Perjamuan Kudus. Pada hari yang kedua, pada pagi hari Perjamuan dirayakan; pada sore hari ada pembicaraan dengan guru, penatua dan raja, lalu diadakanlah kebaktian yang ketiga, dimana antara lain anak-anak dari perkawinan yang oleh gereja dianggap tidak sah (perkawinan adat) dibaptis. Sesudah itu Kam menumpang kembali kapalnya atau perahunya dan berlayar ke jemaat yang berikutnya.
               Demikian juga di Maluku, kehidupan gereja sangat merosot. Jasa kam memulihkan gereja di Maluku sehingga ia diberi nama “Rasul Maluku”. Pekerjaan Kam ini tidak ternilai artinya bagi gereja Maluku. Ia tidak segan-segan melayankan baptisan secara massal tanpa persiapan yang wajar, sehingga pemisahan sakramen mau tidak mau harus dipertahankan. Ia juga tidak segan bersandar pada kekuasaan dan keuangan penjajah Belanda. Kaum membawa semangat Pietisme (Hertnhut) ke dalam gereja Maluku. Oleh kunjungannya yang berulang-ulang banyak jemaat mulai berjalan dengan baik lagi.[36]
2.6.2.      Johann Friedrich Riedel
               Gereja di Minahasa (1831-1880) diikuti persaingan dan peperangan antara Spanyol dan Belanda sedikit banyak ikut mempengaruhinya.  Belanda menerapkan gaya pemerintahan yang represif dan ingin ikut mengatur berbagai urusan warga Minahasa. Sejak tahun sebelumnya ada orang Minahasa yang sebelumnya menganut ajaran Katolik, beralih menjadi penganut Protestan. Tetapi, karena ketidaknyamanan mereka kemudian beralih kembali menjadi penganut agama-agama suku. Namun, Joseph Kam ke sana dan akhirnya membuka jalan untuk kedatangan utusan Zending Belanda berikutnya. Mereka mengutus Riedel seorang utusan Injil berkebangsaan Jerman. Pengutusan beliau didasarkan NZG yang beraliran Pietis. Riedel ditugaskan untuk menjangkau penganut agama-agama suku asli Minahasa. Riedel  menggunakan beberapa metode:
1.      Riedel memulai pelayanan  tanpa menyertakan bantuan tenaga orang Kristen Minahasa.
2.      Riedel juga tidak meneruskan kebiasaan-kebiasaan pendeta-pendeta bangsa Belanda yang sering mengancam praktik tradisi dan adat-adat istiadat para pengantut agama suku asli. Beliau justru menghindari kata-kata kecaman yang pedas
3.      Riedel bersikap ramah-tamah terhadap semua orang, mengundang mereka datang ke rumahnya, dan mengajak mereka  berdiskusi hangat tentang ajaran-ajaran Kristen
               Penerapan metode ini menjadikan pada tahun 1850, sekitar 70 % warga Tondano telah menerima baptisan. Riedel didampingi oleh beberapa orang utusan Injil bangsa Belanda.[37]
2.6.3.      C.L. Coolen  dan Johannes Emde
               C. L. Coolen adalah seorang peranakan Rusia-Belanda dan Jawa. Ibunya adalah seorang putri bangsawan Jawa yang mewarisi kebudayaan Jawa yan sedikit banyak sudah campur dengan Islam. Pada tahun 1827 ia membuka kawasan hutan yang luas di Ngoro sekitar 60 km dari Surabaya yang kemudian berkembang menjadi desayang makmur. Di Ngoro ia sebagai pemimpin desa dan ia mempraktikkan kekristenannya smbil tetap menghormati warga desanya yang Muslim misalnya membangun mesjid. Dengan kata lain, ia tidak mengharuskan seorang Muslim yang hendak menyewa tanahnya atau bergabung dalam komunitas Ngoro untuk menjadi Kristen. Dalam ritual Kristen yang ia laksanakan, ia menyerap unsur0unsur tertentu dari Islam maupun dari budaya Jawa.
               Johannes di Surabaya sangat berbeda dengan kekristenan yang dikembangkan oleh Coolen. Emde seorang Jerman yang berlatarbelakang Pietisme yang kuat, walaupun menghormati masyarakat Jawa dan menikah dengan seorang gadis Jawa dari kalangan keratin Solo, Justru berusaha menjauhkan orang-orang yang diinjili dan dibinanya dari budaya Jawa maupun dari  pengaruh agama Islam.[38]
2.6.4.      Ludwing Ingwer Nommensen
               Nommensen adalah seorang tokoh pekabar injil Jerman yang terkenal di Indonesia. Nommensen dilahirkan pada tanggal 06 Februari 1834 disebuah pulau kecil yang bernama P. Noordstrand, Jerman Utara. Nommensen sejak kecil sudah hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Sejak kecil ia sudah mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Pada umur 8 tahun ia mencari nafkah dengan mengembalakan domba orang pada musim panas dan bersekolah pada musim dingin. Pada umur 10 tahun ia menjadi buruh tani sehingga pekerjaan itu tidak asing lagi baginya. Semuanya ini tampaknya merupakan persiapan bagi pekerjaannya sebagai pekabar Injil dikemudian hari. Tahun 1846 Nommensen mengalami kecelakaan serius. Luka itu parah sehingga tidak dapat berjalan. Meskipun sakit ia tetap belajar untuk menjahit dan menambal sendiri pakaiannya yang robek. Suatu hari ia membaca Yohannes 16:23-26 tentang kata-kata Yesus yang menyatakan siapa yang meminta kepada Bapa di Sorga, maka Bapa akan mengabulkannya. Nommensen bertanya kepada ibunya apakah nasihat Yesus masih berlaku atau tidak. Ibunya menyakinkannya bahwa nasihat itu masih berlaku. Ia meminta ibunya supaya berdoa bersama-sama. Nommensen meminta kesembuhan dan berjanji jikalau ia sembuh, maka ia akan pergi memberitakan Injil kepada orang kafir.[39]
                  Ia melamar ke RMG untuk dapat menjadi seorang pekabar Injil. Lalu ia didik di wisma RMG di Barmen, dan pada tahun 1861 ia ditahbiskan dan ia berangkat ke Sumatera. Sesudah perjalanan yang 142 hari lamanya ia tiba di Padang dan diperkerjakan dalam wilayah kekuasaan Belanda. Ia berniat menyiarkan agama Kristen bukan dari pinggir, melainkan dari Pusat Tapanuli. Dengan maksud itulah pada permulaan tahun 1864 ia pindah ke Silindung. Banyak orang menyangka bahwa Nommensen seorang mata-mata Belanda, yang ingin menaklukkan bangsa Batak. Mereka berusaha mengusir dia, tetapi karena Nommensen seakan-akan terpaku pada tempat ia menetap, maka mereka mau membunuh dia.[40]  
                  Pelayanan Nomensen menunjukkan penggunaan beraneka ragam metode dan cara untuk menyebarluaskan Injil serta Kekristenan di tanah Batak
1.      Beliau telah menerjemahkan Alkitab PB ke dalam bahasa Batak Toba dan menulis beberapa kisah Kristen berlatarbelakang pengajaran Alkitab dengan menggunakan bahasa tersebut
2.      Nommensen mengupayakan perbaikan bidang pertanian dan peternakan, bahkan beliau juga mengajarkan tentang bagaimana pembuatan peralatan penggiilingan beras yang sederhana agar dapat meringankan pekerjaan kaum wanita.
3.      Beliau telah mengupayakan penghapusan sistem perbudakan dikalangan masyarakat Batak
4.      Beliau mendirikan sekolah-sekolah dan mendidik orang-orang pribumi untuk menjadi pendeta-pendeta dan guru-guru Injil
5.      Liturgi peribadahan gereja disusun secara khusus agar sesuai dengan jiwa masyarakat batak
6.      Beliau mengadakan pekabaran Injil secara massal dan memuridkan mereka secara pribadi demi pribadi.[41]
2.7.Tokoh-tokoh Pribumi ke Indonesia Masa Hindia Belanda
2.7.1.      Paulus Tosari (1813-1882)
                  Paulus Tosari lahir pada 1813 dan meninggal sekitar tahun 1882. Beberapa ratusan orang penduduk Ngoro pergi ke Surabaya untuk dibaptis. Ia pernah belajar di pesantren, tetapi kemudain menempuh jalan kurang baik. Setelah mengatasi krisis ini, ia mendengar tentang “ilmu” yang dapat diperoleh di Ngoro. Perkataan Yesus dalam Matius 5:3 menjadi pengangan dan pedoman hidup baginya. Sekitar tahun 1840. Tosari pindah dari Ngoro dan setelah berguru lagi pada Coolen, ia pun diberi tugas memimpin kumpulan-kumpulan pada hari Minggu dan kamis malam. Tosari bekerja sama dengan Jellesma berlangsung dalam suauana baik dan member hasil yang baik. Tosari mendirikan “lumbung orang Miskin”, jemaat mengumpulkan padi yang kemudian “dipinjamkan” atau diberikan kepada orang-orang yang berkekurangan. Jellesma menerbitkan juga riwayat Alkitab dan sebuah bundle nyanyian rohani dalam bahasa Jawa.[42]
2.7.2.      Ibrahim Tunggul Wulung (+1885)
Ibrahim Tunggul Wulung lahir di Juwana, dekat Jepara pada awal abad ke-19, dengan nama Ngabdullah. Ia semula adalah seorang Muslim. Selanjutnya Tunggul menemui Coolen, Emde, dan Jellesma yaitu penginjil utusan NZG yang bekerja di Surabaya sejak 1848 dan di Mojowarno sejak 1851. Setelah ia berkelana ke mana-mana sambil mengabarkan Injil. Semangat ini membuat Jellesma yain akan kesunguhan Tunggul lalu Jellesma membaptis Tuggul bersama istrinya pada 6 Juli 1857 dengan nama baptis Ibrahim.[43]
I.                   Refleksi Teologis
Pembubaran VOC oleh pemerintah Belanda disebabkan oleh karena hutang-hutang VOC yang semakin meningkat, kekacauan ekonomi dan sosial akibat sistem monopoli yang ketat dan ditambah lagi dengan munculnya perebut hak monopoli yang selama ini berada ditangan VOC. Dengan hapusnya VOC, berakhir pula suatu babak sejarah penjajahan oleh suatu badan perdagangan. Gereja kemudian diberi nama Gereja Protestan di Indonesia (GPI).  Dengan berkembangnya orang Protestan Belanda yang tersebar di Jawa dan Sumatera oleh semangat penginjilan dan membentuk badan-badan pekabaran Injil. Hal ini menyebabkan semakin banyaklah  orang percaya kepada Kristus. Dalam Kisah Para Rasul 1:8 “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”  diajarkan  bahwa baptisan dalam Roh adalah menerima Kuasa untuk bersaksi bagi Kristus sehingga orang yang belum mengenal Kristus menjadi saksi bagi seluruh dunia. Sebagai saksi perlu mengetahui apa yang dilakukan Tuhan dalam kehidupan dan menyampaikan Kabar Baik kepada orang lain. Allah akan memimpin kepada orang-orang yang terbuka dan mau menerima serta siap mendengar kasih setia Allah. Pemberitaan Injil adalah perintah untuk menyebarluaskan Kerajaan Allah di Bumi dan menjadi pengikut Kristus. Hasil pemberitaan ini maka Kristus akan dikenal, dikasihi, dipuji, dan dijadikan Tuhan atas umat pilihan dan yang mau menjadi saksi bagiNya hingga seluruh dunia.
II.                Daftar Pustaka
Aritonang, Jan S., Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam Di Indonesia, Jakarta: BPK-GM, 2016.
Aritonang, Jan. S., Belajar Memahami Sejarah di Tengah Realitas, Bandung: Jurnal Info Media, 2007.
Culver, Jonathan E., Sejarah Gereja Indonesia, Bandung: Biji Sesawi, 2014.
End, Th. Van den, Harta dalam Bejana, Jakarta:BPK-GM, 2015.
End, Th. Van den, Ragi Cerita 1: Sejarah Gereja di Indonesia 1500-1860, Jakarta:BPK-GM, 1999
Hale, Leonardo, Jujur Terhadap Pietisme, Jakarta: BPK-GM, 1996.
Krueger, Mueller-, Sejarah Gereja Indonesia, Jakarta:BPK-GM, 1959.
Ukur, F. & Cooley, F.L., Jerih dan Juang: Laporan Nasional Survei Menyeluruh Gereja di Indonesia, Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi DGI, 1979.
Wellem, F.D., Kamus Sejarah Gereja, Jakarta:BPK-GM, 2011.
Wellem, F.D., Riwayat Hidup Singkat, Jakarta: BPK-GM, 2015.


[1]VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) adalah lembaga perdagangan dan pemerintahan yang dibentuk oleh pemerintahan Belanda di Indonesia pada tahun 1602. Lembaga ini merupakan penggabungan dari beberapa lembaga perdagangan Belanda yang melakukan kegiatan perdagangan di Indonesia. VOC bertanggung jawab atas kehidupan gereja dan pekabaran Injil dalam wilayahnya. Oleh karena itu, lembaga inilah yang menanamkan kekristenan Protestan Calvinis untuk pertama kalinya di Indonesia. VOC dibubarkan pada 31 Desember 1799 karena mengalami kebangkrutan. Indonesia menjadi daerah jajahan langsung dari pemerintah Belanda. F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja (Jakarta:BPK-GM, 2011), 471.
[2] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang: Laporan Nasional Survei Menyeluruh Gereja di Indonesia, (Jakarta: Lembaga Penelitian dan Studi DGI, 1979), 473.
[3] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 473.
[4] Th. Van den End, Ragi Cerita 1: Sejarah Gereja di Indonesia 1500-1860 (Jakarta:BPK-GM, 1999), 137.
[5] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 474-475.
[6] Th. Van den End, Ragi Cerita 1: Sejarah Gereja di Indonesia 1500-1860, 140.
[7] Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam Di Indonesia, 73-74.
[8] Th. Van den End, Ragi Cerita 1: Sejarah Gereja di Indonesia 1500-1860, 144-145.
[9] Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam Di Indonesia, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 74.
[10] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 476.
[11] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 477.
[12] Th. Van den End, Ragi Cerita 1: Sejarah Gereja di Indonesia 1500-1860, 146.
[13] Haagsche Commissie adalah suatu komisi oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1815. Komisi ini dibentuk berkaitan dengan terbentuknya Gereja Protestan Indonesia-GPI  (Indische Kerk) sebagai gereja kesatuan di Indonesia. Komisi ini bertugas sebagai badan penghubung antara Gereja Protestan Indonesia dan pemerintahan Belanda serta memberikan nasihat kepada dan pemerintah Belanda tentang hal-hal yang berkaitan dengan urusan Gereja Protestan Indonesia. Disamping itu juga bertugas menyediakan, memilih, menguji serta mengutus pendeta-pendeta untuk Gereja Protestan Indonesia. Komisi ini diberi nama demikian karena berpusat di kota Den Haag, Belanda. F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja,157.
[14] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 478-479.
[15] Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam Di Indonesia,77-78.
[16] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 481.
[17] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Indonesia (Bandung: Biji Sesawi, 2014), 81-83.
[18]  Th. Van den End, Harta dalam Bejana (Jakarta:BPK-GM, 2015), 272.
[19] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 481
[20] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 486.
[21] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juah,  486.
[22] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juah,  485-486
[23] Menurut Leonard Hale dalam bukunya Jujur Terhadap Pietisme mengatakan bahwa NZG didirikan di Rotterdam pada tahun 1897. Badan ini bekerja ditempat-tempat yang tersebar diseluruh Indonesia, oleh karena itu pengaruhnya perlu diperhitungkan. Misalnya Maluku, Minahasa, Timor, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Bolaang Mangondow, Karo, Sulawesi Selatan, dan Pulau Sawu. Dari tahun 1813-1894, kurang lebih 95 orang pekabar injil diutus ke Indonesia. Itu berarti satujumlahnya yang cukup besar untuk diperhitungkan pengaruhnya.
[24] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 300-302.
[25] F. Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan Juang, 487.
[26]Dalam buku :Jerih dan Juang karya F. Ukur berpendapat lain mengatakan bahwa didirikan pada tanggal 19 Desember 1797, dengan tujuan penanaman dan perluasan Kekristenan di kalangan non kafir.
[27] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 83.
[28] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 304.
[29] Leonardo Hale, Jujur Terhadap Pietisme (Jakarta: BPK-GM, 1996), 71.
[30] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 465.
[31] Leonardo Hale, Jujur Terhadap Pietisme, 72.          
[32] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 113.
[33] F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 402.
[34] LMS adalah lembaga pengkabarn Injil ini didirikan di London, Inggris pada taun 1795, oleh orang-orang Anglikan, Kongregasional, Presbiterian, dan Wesleyan yang dipengaruhi oleh semangat Pietisme dan Revivalisme. Lembaga ini bertujuan memberitakan di tenagh-tengah masyarakat dengan beragama non Kristen. Ketika Indenesia dijajah oleh Inggris, NZG mengutus Joseph  Kam  ke Indonesia dengan perantaraan Lembaga ini. (F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 267)
[35] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat (Jakarta: BPK-GM, 2015),110.
[36] Th. Van den End, Harta dalam Bejana, 254-256.
[37] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Indonesia, 71-72.
[38] Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam Di Indonesia, 89
[39] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat, 145-146.
[40] Th. Van den End, Harta dalam Bejana, 270.
[41] Mueller-Krueger, Sejarah Gereja Indonesia (Jakarta:BPK-GM, 1959),61-63.
[42] Th. Van den End, Ragi Cerita 1: Sejarah Gereja di Indonesia 1500-1860, 203
[43] Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam Di Indonesia, 93-94

Tidak ada komentar:

Posting Komentar