Selasa, 31 Maret 2020

Kekristenan Pada Masa Jepang, 1942-1945 Kopetensi: Mahasiswa dapat menjelaskan tentang gereja/kekristenan pada masa Jepang di Indonesia


Kekristenan Pada Masa Jepang, 1942-1945
Kopetensi: Mahasiswa dapat menjelaskan tentang gereja/kekristenan pada masa Jepang di Indonesia
I.                   Abstraksi
Jepang adalah sebuah Negara kepulauan di Asia Timur. Terletak di ujung barat Samudra Fasifik, terdiri dari 6.852 pulau yang membuatnya menjadi Negara kepulauan. Keruntuhan Belanda telah nyata dengan kehadiran Jepang yang membuat Belanda seakan tak berdaya membendung tangan Jepang yang ingin menggenggam Indonesia sebagai derah kekuasaan untuk mewujud nyatakan keinginannya di kanca dunia.  Kita sudah mempelajari jelas bagaimana Pertumbuan Kekristenan di dunia yang dimana masing-masing memiliki sejarah-sejarah yang tertentu. Begitu juga halnya dengan Kekristenan di Indonesia. Disini kami para penyaji akan memaparkan Bagaimana Jepang mengkekristenan di Indonesia pada tahun 1942-1945. Sini kami juga akan menjelaskan apa saja dampak positif dan negatifnya Negara Jepang dalam mengkristenkan Indonesia, semoga sajian kali ini dapat menambah dan memperluas wawasan bagi kita bersama.
II.                Isi
2.1.            Latar Belakang Masuknya Jepang ke Indonesia  
Penduduk Jepang atas indonesia bukanlah sebuah peristiwa yang mendadak. Sudah sejak akhir abad ke-19 pemerintahan Jepang mengambil langkah tertentu dan melakukan berbagai kegiatan untuk meluaskan kekuasaannya keseluruh Asia Timur dan Tenggara (termasuk Indonesia). Tahun 1905 Jepang berhasil mengalahkan Cina. Tahun 1905 Jepang menang atas Rusia dan selanjutnya juga menaklukkan Korea. Khusus di Indonesia, salah satu di antara langkah yang diambilnya adalah merintis dan menjalani hubungan baik dengan kalangan Islam.
Selain itu, dan sebelumnya, yang tak kalah pentingnya adalah manuver-manuver politik dan ekonomi Dalam rangka menjalin hubungan dengan (tetapi juga mulai melancarkan ancaman terhadap) pemerintah Hindia-Belanda. Misalnya ekspor berbagai produk industri Jepang dan penanaman modal di berbagai bidang usaha. sejak tahun 1930-an, kekuatan pemerintah Hindia-Belanda sudah semakin merosot akibat berbagai faktor antara lain, kian gencarnya gerakan-gerakan dan partai-partai berskala nasional memperlihatkan sikap anti penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan-kemerdekaan indonesia atau paling tidak ”Indonesia berparlemen”.[1] Pada tahun 1941, Jepang menyerang Amerika Serikat (Pearl Harbor, 7 Desember 1941) dan dalam waktu singkat angkatan laut dan tentara Jepang berhasil menundukkan seluruh Asia Tenggara termasuk wilayah Hindia-Belanda. Minhasa sudah direbut dalam bulan Januari; Ambon dan Timor bulan Februari; Jawa dan Sumatera Utara bulan Maret. Pun mereka mebentuk sejumlah orgnisasi yang menjadi sarana bagi penyebaran semangat Jepang dan bagi pembinaan orang Indonesia menjadi tenaga kerja yang ikut meperkuat ekonomi Jepang dan prajurit-prajurit yang akan berjuang bahu-membahu dengan Jepang melawan sekutu.[2]
2.2.            Kedatangan dan Pemerintahan Bangsa Jepang
Pada tanggal 8 Desember 1941 pemerintahan Hindia-Belanda mengikuti jejak sekutu-sekutunya menyatakan perang terhadap Jepang. Sejak 1 Januari 1942 penyerbuan Jepang ke Indonesia dimulai. Setelah sekian banyak lokasi diduduki tentara Jepang, maka pada tanggal 8 Maret 1942 pemerintahan Hindia-Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Subang, dan Gubernur Jendral Tjaarda van Starkenborgh-Stachouwer ditawan. Inilah akhir riwayat pemerintahan Hindia-Belanda dan awal dari pemerintahan baru di bawah pemerintah militer Jepang. Selanjutnya wilayah Sumatera dan Jawa dikuasai oleh Angkatan darat (Ryukugun), sedangkan Kalimantan dan Indonesia Timur dikuasai Angkatan Laut (Kaigun).[3] Pemerintahan militer untuk urusan sipil di Jawa dan Sumatera disebut Gunseibu, di wilayah Alminseibu. Kantor-kantor Minseibo, diantarananya kantor agama, terdapat di Banjarmasin, Makasar, Manado, Ambon, dan Kupang. Pemerintah militer memerlukan dukungan penduduk dan karena itu melancarkan propoganda yang hebat untuk memperkenalkan kesemakmuran bersama Asia Timur Raya kepada rakyatnya.[4]

2.3.            Jepang Masuk ke Indonesia
Di dalam usaha untuk membangun suatu imperium di Asia, Jepang telah mengobarkan perang di Pasifik. Pada tanggal 7 Desember 1941, secara mendadak Jepang menyerang Pearl Harbaour. Pearl Harbaour adalah pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di kepulauan Hawai. Akibat serangan itu, Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jepang dan bersedia membantu pasukan sekutu Eropa.[5]
Pada 10 Januari 1942 penyerbuan Jepang ke Indonesia dimulai. Diawali dengan menduduki Tarakan (10 Januari 1942), kemudian Minahasa, Sulawesi, Balikpapan dan Ambon. Bulan Ferbuari 1942, pasukan Jepang menduduki Pontianak, Makasar, Banjarmasin, Palembang dan Bali.[6] Gerakan ini dilanjutkan dengan membuat propaganda 3A (Nippon Cahaya Asia, Nippon pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia). Dengan propaganda ini Jepang berhasil merebut perhatian masyarakat Indonesia agar ikut membantu untuk mengusir Belanda yang telah menjajahi tiga setengah abad lamanya. Jepang mampu menguasai daerah-daerah strategi di luar pulau Jawa dan kemudian mendarat di Teluk Banten Eretan Wetan dan Kragan untuk menaklukkan Batavia (Jakarta) dan Bandung.[7]
Pada tanggal 8 Maret 1942 pemerintah Hindi-Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Sabang dan Gubernur Jendral  Tjarda van Starkenbergh Stachouwer ditawan. Inilah akhir Hindia-Belanda  dan awal dari pemerintahan baru dibawah pemerintahan militer Jepang. Wilayah Sumatera dan Jawa pun dikuasai oleh Angkatan Darat (Ryukugun), sedangkan kalimantan dan Indonesia Timur dikuasai oleh Angkatan Laut (Kaigun). Ketika kedatangan Jepang datang ke Indonesia rakyat Indonesia semula menganggap bahwa Jepang membebaskan mereka dari penjajahan, karena itu mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan Bendera Merah Putih berdampingan dengan Hinomaru (Bendera Jepang) disertai dengan sorakan.[8]  
2.4.            Tindakan Jepang terhadap Kristen
Karena Dari semula Jepang bersikap waswas terhadap orang Kristen, orang Jepang mudah percaya pada tuduhan dan fitnahan seakan-akan orang Kristen tertentu adalah “mata-mata musuh” (bersikap Pro-Belanda). Sikap curiga itu paling kuat dan membawa akibat yang paling fatal dalam lingkungan GPM. Hal ini disebabkan oleh citra orang Maluku sebagai Pro-Belanda dan oleh dekatnya wilayah GPM dengan garis pertahanan Jepang. Tidak kurang dari 150 pendeta/penghantar jemaat yang dibunuh, disamping sejumlah anggota jemaat. Diataranya terdapat dua pendeta muda lulusan STT-Jakarta. Salah satu pulau yang paling menderita ialah pulau Babar. Disana sebagian besar penduduk tewas terbunuh. Juga orang Maluku di daerah lain (Irian, Tana, Toraja) banyak menderita. Di sangir justru raja Kristen-lah yang hampir semua dibunuh Jepang. Dibeberapa daerah lain ada pelayan gereja meninggal atau masuk tahanan akibat perselisihan di kalangan sendiri.[9]
2.5.            Tujuan Jepang di Indonesia
Tujuan Jepang Datang Ke Indonesia :
1.      Menjadikan Indonesia sebagai daerah penghasil dan penyuplai bahan mentah dan bahan bakar bagi kepentingan industri Jepang.
2.      Menjadikan Indenesia sebagai tempat pemasaran hasil industri Jepang. Indonesia dijadikan tempat pemasaran hasil industri Jepang karena jumlah penduduk Indonesia sangat banyak.
3.      Menjadikan Indonesia sebagai tempat untuk mendapatkan tenaga buruh yang banyak dengan upah yang relatif murah.[10]    
Jepang bermaksud untuk menjadikan Asia menjadi kesatuan wilayah di dalam pimpinannya tarmasuk Indonesia yang, menjadi incaran mereka. Maka untuk mewujudkan itu Jepang membangun hubungan persaudaraan Asia, istilah di Indonesia disebut, “saudara tua” menggambarkan mereka sebagai saudara tertua yang menyelamatkan dari kungkungan imperialisme Barat. Sentimen terhadap Imperialisme Barat dikawasan Asia membuat Jepang untuk segera menduduki Indonesia yang dikuasai Belanda. Ditambah dengan kemenangan dalam perang Rusia-Jepang. Maka dengan menguasai Asia termasuk Indonesia, Jepang bermaksud membendung pengaruh imperialisme Barat.    
2.6.            Agama Kristen di Jepang
Agama Jepang pertama kali masuk ke Jepang mulai tahun 1549, dengan hasil yang besar. Tetapi antara tahun 1614-1636 berlangsung penghambatan yang hampir melenyapkan agama Kristen dari bumi Jepang. Negara itu menutup diri terhadap pengaruh-pengaruh dari luar dan melanggar para penyebar agama Kristen masuk. Pada tahun 1853 kapal-kapal perang Amerika memaksa Jepang meniadakan larangan masuk bagi orang asing. Pristiwa itu membuka kembali pintu bagi para pekabar Injil. Berbagai denominasi masuk ke Jepang. Dalam tahun 1930-an jumlah orang orang Kristen, termasuk orang Khatolik dan Ortodoks Timur, berkisar sekitar 300.000 orang. Yang Protestan terbagi atas puluhan Gereja. Pada tahun 1940 pemerintah mengeluarkan peraturan yang antara lain menetapkan bahwa mendapat pengakuan secara rasmi hanyalah gereja-gereja yang beranggotakan 5.000 orang lebih. Karena banyak gereja di Jepang tidak memenuhi syarat itu, maka pada tahun 1941 berlangsung pembentukan gereja kesatuan, yakni Nippon Kirisuto Kyodan (Gereja Kristus di Jepang), yang mencakup hampir semua orang Kristen Protestan di Jepang. Sesuai perang beberapa gereja kembali berdiri sendiri, tetapi kyodam tetap merupakan gereja terbesar di Jepang.[11]
Akan tetapi, nasionalisme religius yang telah mengakibatkan penghambatan abad ke-17 masih hidup terus. Yang menjadi wadah nasionalisme itu adalah agama Syinto. Syinto adalah agama rakyat Jepang (di samping agama Budha dan aliran Kong Hu Cu), yang dapat di gambarkan sebagai suatu agama suku tingkat nasional. Di samping berbagai tokoh dewa, orang menyembah pula sang kaisar, Amaterasu, dewi matahari. Maka pada hakikatnya  Syinto adalah penghayatan akan kesatuan dan kebesaran bangsa Jepang sebagai ciptaan para dewa, yang mengungguli bangsa-bangsa lain, dan yang berwujud dalam diri Kaisar. Pada tahun 1936 pemerintah malah menegaskan bahwa upacara Syinto-agama hanya bersifat penghormatan, sehingga tidak termasuk agama. Berdasarkan pernyataan itu, gereja-gereja di jepang menerima peraturan (1939) yang mewajibkan kehadiran dalam upacara Syinto-negara itu bagi setiap warga Jepang.


2.7.            Ciri-Ciri Kekristenan Jepang[12]
1.       Kebanyakan orang Kristen di Jepang bermukim di wilayah perkotaan, bukan di daerah pedesaan. Sebagian besar mereka berasal dari golongan kaum menengah, sebagian dari kaum terdidik.
2.       Meskipun secara kuantitas gereja Jepang berukuran sangat kecil, tetapi pengaruh mereka sangat terasa dalam kehidupan masyarakat Jepang.
3.       Gereja-gereja Protestan sejak masa awal berdirinya sudah mandiri dan lepas dari ketergantungan kepada gereja di Negara-negara barat.
4.       Mereka memiliki banyak pendeta pribumi yang terpelajar, yang membuat para ahli berkesimpulan bahwa rata-rata terdapat lebih banyak pendeta Kristen di Jepang dari pada di seluruh Negara lain.
5.       Sepanjang 400 tahun gereja Jepang menghadapi satu tantangan besar, yaitu tantangan bagaimana warga menyikapi tuntutan kesetiaan mutlak kepada Negara.      
2.8.            Keadaan Gereja di Indonesia pada Permulaan Masa Jepang
a.       Pada umumnya orang belanda masih menetapi kedudukan yang penting dalam badan-badan pemimpin pusat. Di sejumlah gereja, konferensi para zendeling tetap merupakan badan pimpinan pusat, sehingga sama sekali belum ada orang Indonesia ikut serta didalamnya. Gereja-gereja yang sudah bersinode ada yang ketua sinodenya seorang Belanda (GBKP, GKP, GDE/GKE), ada yang sudah diketuai bangsa Indonesia (GKJW). Di antara anggota pengurus GPI, hanya satu yang bangsa Indonesia. Pendeta-ketua GMIM, GPM, dan gereja Timon adalah seorang Belanda. Di banyak tempat, orang Belanda masih menetapi pula kedudukan-kunci sebagai ketua resort, dosen dan lembaga pendidikan teologi, dan sebagainya.
b.      Pelayan-pelayan gereja bangsa Indonesia ada yang telah menjadi ketua sinode (HKBP dan GKJW sejak tahun 1940). Di beberapa daerah mereka menjabar pendeta resort (yang kedudukannya sama dengan kedudukan seorang zendeling atau pendeta bangsa Belanda). Misalnya pendeta A. Z. R. Wenas, yang menjadi direktur STOVIL, ketua klasis Tomohon, dan wakil ketua sinode GMIM. Kebanyakan tenaga Indonesia melayani satu jemaat. Terkadang mereka telah diberi wewenang untuk melayankan sakramen demikianlah pada umumnya dalam gereja-gereja yang sudah berdiri sendiri secara formal seperti HKBP, GKP, GKJ, dan GKJW, kendati disitupun banyak penghantar jemaat yang baru berstatus guru jemaat.
c.       Di bidang keuangan, gereja-gereja pada umumnya belum berdiri sendiri. Ada subsidi dari pihak zending (gaji para zending dan guru injil), dan dari pihak pemerintah (gaji guru-guru sekolah, gaji seluruh tenaga GPI). Jemaat sendiri pada umumnya menanggung biaya pembangunam dan pemeliharaan gedung gereja dan rumah penghantar jemaat.
d.      Belum berhasil didirikan organisasi gerejawi tingkat (DGI barulah berdiri pada tahun 1950). Hal itu berarti bahwa tiap-tiap gereja harus menghadapi sendiri kejadian-kejadian yang menimpanya dan harus menentukan sendiri kibijakan terhadap tindakan dan tuntutan orang Jepang.
e.       Sikap orang Kristen terhadap pra pimpinan gereja bangsa Belanda berbeda-beda, di beberapa gereja para zendling di pandang selaku bapak yang maha tau dan pelindung yang maha kuat, khusus orang Kristen dari angkatan pertama yang sudah agak berumur terkhusus yang tinggal di pedesaan. Dan ada tanggapan khususnya di kalangan para pemuda di perkotaan, bahwa kehadiran para utusan zending bangsa Belanda merupakan halangan menuju kepada kemandirian gereja.[13]         
2.9.            Sejarah Perkembangan Kekristenan di Indonesia pada Masa Jepang
Tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia dan menyapu bersih kekuasaan Belanda. Salah satu korban pertama dari invasi Jepang itu adalah gereja, karena Jepang menganggap bahwa selama ini gereja sangat dekat dengan Belanda. Dianatara warga dan pekerja gereja yang dihabisi Jepang tak sedikit cendikiawan Kristen hasil didikan gereja atau zending, dengan maksud agar lebih mudah dijinakkan dan tidak mempunyai potensi lagi untuk melawan Jepang.
Keadaan ini membuat gereja menghadapi cobaan yang luar biasa berat, baik dalam segi pendanaan, ketenagaan, dan terutama dari segi iman mempertahankan keyakinan pada Yesus Kristus di tengah tekanan untuk menyembah kaisar Jepang. Keadaan yang parah ini tidak begitu dialamai saudara-saudari kita yang beragama Islam. Mereka justru mendapat angin untuk menggalang kekuatan, termasuk dalam bidang militer. Misalnya pada masa pemerintahan Jepang merestui bahkan ikut memprakarsai pembentukan Hizzbullah (Prajurit Allah) yang kelak salah satu kekuatan penghambat yang harus dihadapi. Agama Kristen bagi Jepang hanyalah wahana penyusupan ideologis, maka didaerah-daerah Kristen di Indonesia mereka mendekati gereja (seperi Maluku, Minahasa, dan Tanah Batak) dengan mendatangkan pendeta-pendeta Kyodan (Kesatuan Pendeta Jepang), untuk menarik simpati gereja. Tetapi itu tidak mengurangi penderitaan gereja (pengerja ataupun warganya). Sebab barang siapa tidak mau berkompromi dengan penguasa Jepang pasti akan mengalami malapetaka        
2.10.        Sikap Orang Kristen Terhadap Jepang
Di beberapa daerah, pada mulanya rakyat Kristen bersikap positif terhadap kedatangan Jepang. Hal itu berlaku di daerah-daerah dengan mayoritas Kristen dan yang sudah mulai menerima cita-cita nasional, seperti di Tapanuli dan minahasa. Di kemudian hari, disebabkan penderitaan yang dialaminya, orang Kristen itu, sama seperti orang Indonesia lainya, sudah berpendirian lain. Tetapi pada masa itu pun ada yang merasa kedatangan Jepang telah membawa kemajuan bagi dirinya atau bagi bangsa Indonesia sehingga tetap Pro Jepang. Mayoritas besar diam saja karena takut. Kalau diminta pendapat, seperti halnya para pengantar jemaat di kursus-kursus yang diadakan oleh pendeta tokoh-tokoh Jepang, mereka pun mengeluarkan saja semboyan-semboyan propaganda Jepang.[14] 
2.11.        Keadaan Gereja-Gereja pada Permulaan Masa Jepang
Keadaan-keadaan  gereja pada permulaan masa Jepang dapat digambarkan sebagai berikut:
a.       Pada umumnya orang belanda masih menepati kedudukan yang penting dalam badan-badan pimpinan pusat (Sinode, pengurus). Sejumlah gereja, konferensi para zendeling tetap merupakan badan kepemimpinan pusat, sehingga sama sekali belum ada orang Indonesia ikut serta di dalamnya (Sangir, Poso, Halmahera, Irian). Di banyak tempat, orang Belanda masih menempati pula kedudukan kunci sebagai ketua resort, dosen pada lembaga pendidikan teologi dan sebagainya.
b.      Pelayan-pelayan gereja bangsa Indonesia ada yang telah menjadi ketua sinode (HKBP dan GKJW sejak tahun 1940). Di beberapa daerah mereka menjabat pendeta Resort (yang kedudukannya sama dengan kedudukan seorang zendeling atau pendeta bangsa Belanda) kebanyakan tenaga Indonesia itu melayani satu jemaat. Terkadang mereka telah diberi wewenang untuk melayankan sakramen, demikianlah pada umumnya dalam gereja-gereja yang sudah berdiri sendiri secara formal seperti HKBP, GKP, GKJ, dab GKJW, kendati disitu pun banyak pengantar jemaat yang bersatus guru jemaat.
c.       Di bidang keuangan, gereja-gerea pada umumnya belum berdiri sendiri. Ada subsidi dari pihak zending dan dari pihak pemerintah. Pada umumnya keuangan gereja (zending) diurus oleh seorang Eropa. Jemaat sendiri pada umumnya menanggung pembangunan dan pemeliharaan gedung gereja dan rumah penghantar jemaat. Banyak jemaat yang bisa melakukan kolekte dalam tiap-tiap kebaktian. Uang yang tidak langsung dibutuhkan untuk maksud-maksud tersebut disimpan di bank.
d.      Belum berhasil didirikan organisasi gerejawi tingkat nasional (DGI barulah berdiri tahun 1950). Hanya di Jawa dan di wilayah di sekitar Makasar terdapat Dewan-Dewan regional. Lagi pula menghadapi sendiri kejadian-kejadian yang menimpanya dan harus menentukan sikap kebijakan terhadap tindakan  dan tuntutan orang Jepang.
e.       Sikap orang Kristen terhadap para pemimpin gereja bangsa belanda berbeda-beda. Di beberapa gereja para zendeling masih dipandang sebagai bapa yang maha tahu dan perlindungan yang maha kuat, khususnya oleh orang Kristen dari angkatan pertama yang sudah agak berumur yang tinggal di pedesaan. Di beberapa gereja lain khususnya di kalangan para pemuda di kota-kota, terdapat perasaan bahwa kehadiran para utusan zendeling bangsa Belanda merupakan halangan oleh kemandirian gereja.[15]
f.          Jepang melarang pendidikan agama di sekolah-sekolah: malah gereja tidak boleh lagi mempunyai sekolah. Guru-guru sekolah, yang biasanya sering kali merangkap jabatan guru jemaat, dilarang melayani jemaat sehingga banyak yang kehilangan pemimpinnya. Seringkali penatua-penatua harus mengambil alih tugas mereka. dengan segala kesetiaan, tua-tua ini (bersama dengan guru-guru Injil dan pendeta-pendeta) membimbing anggota-anggota jemaatnya, ikut bersama mereka pergi ke sawah/ladang dan membaca Alkitab serta berdoa dengan mereka disana.[16]
2.12.        Kehidupan Gereja pada Masa Pemerintahan Jepang
Sejarah gereja di Indonesi dalam periode ini penuh dengan catatan-catatan yang merawankan dan merisaukan. Peristiwa penganiayaan, penindasan, pembunuhan dan penderitaan lainya yang dialami oleh bangsa Indoneisa pada umumnya, lebih dirasakan oleh gereja selaku kelompok yang sangat dicurigai oleh Jepang.
Dalam periode antara 1942-1945 ini Gereja mengalam tekanan dan pergumulan yang sangat berat:
1.      Moratorium Total
Langkah pertama yang dilakukan oleh pemerintah pendudukan Jepang adalah larangan untuk berhubungan dengan dunia Barat. Samping semua tenaga missionaris Barat Barat yang telah ditawan, semua hubungan dengan gereja ataupun zending di Eropah diputuskan.
2.      Penyitaan Harta Milik Gereja
Hampir di seluruh Indonesia gereja-gereja mengalami hal yang sama: banyak sekali harta milik gereja disita oleh pemerintahan Jepang dan disajikan milik kerajaan, seperti gedung-gedung sekolah, rumah sakit, sampai-sampai gedung gereja pun ada yang disita. Malah ada gedung gereja yang dipergunakan selaku markas besar tentatara, seperti di Banjirmasin. Peristiwa ini merupakan pelajaran sejarah yang cukup pahit. Karena pada waktu itu sebagian besar dari badan zending belum sempat mengalihkan secara hukum seluruh harta milik gereja yang masih atas nama mereka, kepada badan hukum gereja. Kenyataan tersebut berkelanjutan setelah Jepang kalah. Semua harta milik yang mereka sita dari gereja, langsung diambil alih oleh pemerintah yang sah, dalam hal ini Republik Indonesia. Proses pengembalian harta milik tersebut kepada gereja memakan waktu yang lama sekali. Malah sampai sekarang ini masih ada gedung-gedung sekolah ataupun rumah sakit yang belum dapat dikembalikan kepada gereja.

3.      Tekanan dan Pembatasan Gerak oleh Pemerintah Pendudukan Jepang
Tindakan-tindakan politis yang dilakukan oleh pihak Jepang ialah mengkikis habis semua ikantan dan simpati terhadap pihak Belanda. Salah satu cara yang dipakai ialah membabat semua golongan intelektuil Indonesia, agar secara serentak Jepang dengan mudah mempengaruhi dan menguasai rakyat Indonesia. Sehubung dengan cara tersebut, cukup banyak kaum intelektual Kristen, baik sebagai tokoh gereja maupun selaku tokoh masyarakat yang ikut menjadi kurban dibunuh oleh Jepang, dengan tuduhan melakukan kegiatan mata-mata untuk Belanda.  
Tindakan lainnya dari pihak pemerintah pendudukan adalah larangan berkumpul dan berapat, yang juga dikenakan pada perhimpunan ibadah orang Kristen. Pada waktu permulaan memang gereja mengalami kesulitan berat, terutama menghadapi larangan beribadah di rumah-rumah gereja. Lambat laun keadaan tersebut dapat diatasi, setelah setelah diadakan negoisasi dan tawar menawar dengan pihak pemerintah Jepang. Terutamanya setelah tibanya pendeta-pendeta dari Gereja kristen Jepang (Kyodan) yang telah membantu perundingan-perundingan dengan pihak pemerintah. Dalam perundingan dengan pihak pemerintah Jepang, gereja terpaksa menerima ketentuan-ketentuan antara lain mentaati peraturan yang dikeluarkan oleh kantor urusan Agama yang dibentuk oleh pihak pemerintah militer Jepang. Dalam usaha membatasi ruang gerak gereja, pemerintahan juga melarang adanya kegiatan-kegiatan pekabaran Injil di daerah-daerah. Tindakan-tindakan untuk menindas dan mematikan kegiatan gereja terasa dalam berbagai bentuk. Tindakan pengetatan lebih dirasakan lagi di sekolah-sekolah Kristen telah diambil alih oleh pemerintah, dan semuanya dijadikan sekolah negeri. Pengajaran agama dan kebaktian di sekolah dilarang. Gereja apada periode ini kehilangan banyak kebebasannya. Peraturan-peraturan pemerintah dikeluarkan, yang semuanya hendak membatasi kebebasan gereja dan hendak mempergunakan gereja sebagai alat propoganda pemerintahan militer Jepang.[17] 
4.      Tekanan dan tantangan dari golongan Islam
Gereja-gereja di Indonesia dan umat Kristen pada masa pendudukan Jepang ini harus pula mengalami tekanan dan tantangan dari golongan Islam yang pada saat itu mendapat ‘perlindungan’ dari pemerintah militer Jepang. Mereka melancarkan tuduhan bahwa agama Kristen itu adalah agama Belanda dan oleh karena itu orang-orang Kristen dan gereja-gereja dituduh sebagai mata-mata Belanda. Tuduhan seperti itu telah menimbulkan kekacauan dan kegelisahan dikalangan umat Kristen. Harus diakui bahwa tuduhan seperti itu memang mempunyai latar belakang dan alasan-alasan tertentu. Ketegangan-ketegangan antara golongan Kristen dan bukan Kristen, karena kepentingan-kepentingan golongan, terjadi secara tidak terbuka. Gereja-gereja di Indonesia adalah gereja nasional dan orang Kristen Indonesia berkewajiban membela bangsanya. Hal itu sudah terbukti dengan adanya penyerahan kepemimpinan dari badan-badan zending ke tangan pemimpin-pemimpin gereja di Indonesia.
Sekalipun ada pihak-pihak yang belum mau mengerti sikap patriotik golongan Kristen, orang-orang Kristen tetap turut serta dalam gerakan bangsa menuju kemerdekaan. Walaupun umat Kristen di Indonesia sudah memperlihatkan sikap nasional dalam melawan kekuasaan kolonial, baik Belanda maupun Jepang, mereka tidak luput dari tekanan maupun tantangan dari pihak Islam. Perang Jihad yang digerakkan oleh Islam pada tahun 1942 telah menimbulkan kerugian-kerugian materi maupun spiritual pada gereja-gereja dan umat Kristen. Pengalaman gereja khususnya dengan Islam pada priode ini, telah ikut membantu gereja untuk menjadi lebih dewasa serta lebih sungguh-sungguh menepatkan dirinya sebagai bagian yang melayani ditengah-tengah masyarakat bangsa.       
2.13.        Dampak Positif dan Negatif pada Masa Pemerintahan Jepang  
·         Dampak Positif
Pada waktu itu gereja-gereja yang sudah matang dipersiapkan oleh Tuhan di masa pendudukan Jepang, sepenuhnya sadar bahwa perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan bangsa itu adalah tugas dan tanggungjawab. Sehingga sejak semula, ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, orang Kristen Indonesia sudah ikut terlibat secara aktip dalam perjuangan rakyat.[18]  Setelah tangan yang membimbing mereka yang sekian lama itu terpaksa melepaskan mereka, baru banyak orang Kristen Indonesia menjadi sadar bahwa nereka sanggup berjalan sendiri. Dalam beberapa gereja, sesudah perang tokoh-tokoh pemimpin dengan segala senang hati mau mengembalikan kedudukan kepemimpinan kepada para zendeling. Dalam menilai sikap ini, jangan kita lupa bahwa tokoh-tokoh itu kurang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin, dan bahwa justru selama perang mereka telah memikul tanggung jawab yang berat. Selanjutnya, kita dapat mencatat di sini bahwa jemaat menjadi lebih sadar akan tanggung jawab sendiri dalam hal keuangan.
Karena tunjangan dari pihak zending dan pemerintah sudah tidak ada lagi, jemaat sudah terpaksa menanggung sendiri gaji para pelayan dan beberapa beban lain. Kesadaran itu tentu tidak tumbuh dengan segera dan acap kali para pelayan menderita akibatnya. Tetapi masa ini merupakan persiapan bagi pendewasaan gereja yang berlangsung di masa kemudian. Segi lain lagi yang patut diperhatikan adalah peningkatan kesadaran oikumenis yang telah berlangsung di beberapa daerah akibat pembentukan Dewan-dewan Kristen yang dipaksakan kepada gereja-gereja oleh Jepang. Mereka dicampurkan dengan penduduk bukan Kristen sehingga terpaksa keluar dari isolasi mereka.[19] pengalaman gereja yang menimpa gereja di masa pendududkan Jepang ini telah menempah Gereja menjadi lebih dewasa. Ia menjadi dewasa melalui penderitaan. Pada waktu itu Banyak gereja, mengadakan kursus untuk meningkatkan kesegaran rohani para pelayannya, serta kursus-kursus untuk pembinaan tenaga penginjil. Kehadiran para pendeta Jepang membuka horison baru, bila sebelumnya Indonesia hanya mengenal gereja-gereja sahabat di Eropa dan Amerika, kini mereka sadar bahwa juga di Asia terdapat gereja yang hidup  yang bersedia menanggung beban yang sama.[20]
·         Dampak Negatif
Dari segi negative, kita mencatat sejumlah orang Kristen yang mati karena Imannya, yang dibunuh oleh Jepang ataupun oleh teman-teman sebangsanya sendiri. Orang Kristen mengalami kekurangan sandang pangan bersama teman-teman sebangsanya. Gereja-gereja kehilangan jaringan sekolah dan rumah sakit yang telah dimilikinya dan yang menjadi sarana penting dalam usaha pekabaran Injil.[21]Banyak orang Kristen mengalami penganiayaan berat, banyak gedung milik gereja (termasuk sekolah) disita atau diduduki.[22]
2.14.        Berakhirnya Masa Pemerintahan Jepang
Pemerintahan Jepang mulai berakhir ketika Amerika Serikat membom kota hirosima pada tanggal 6 agustus 1945 yang menyebabkan kurang lebih 140.000 orang yang mati, ribuan orang yang menderita kanker yang disebabkan oleh bongkahan bom tersebut, dan ratusan orang yang menderita akibat radiasi seperti ibu hamil yang keguguran. Pada tanggal 9 agustus 1945 kota Nagasaki juga di bom oleh Amerika serikat yang menyebabkan kurang lebih 80.000 orang yang meninggal dan kurang lebih 25.000 orang terluka, ribuan orang lainnya menderita akibat radiasi. Kejadian ini mengguncang Jepang sehingga Jepang dapat di katakan lepas tangan dari negeri jajahannya dan konsentrasinya terhadap negaranya.    
Ø  Tahun Penting:
·         1941 pembentukan Nippon Kristokyo Kyodan di Jepang. Konferensi Karang pandan. Pendeta toraja yang pertama di tahabiskan (Sulsel)
·         1942 Pdt. Miyahira datang ke Indonesia. Pendeta Sumba yang pertama di tahabiskan
·         1943 Sekolah-sekolah Zending diambil oleh pemerintahan Jepang
·         1945 Proklamasi Kemerdekaan PARKINDO didirikan
III.             Refleksi Teologis
Dalam sejarah Kekristenan di Jepang kita melihat bagaimana pada dasarnya Jepang lebih memihak kepada orang non Kristen, karena Jepang tidak pro kepada Kristen sebab Kristen dianggap mata-mata Belanda dan Kristen seakan di anak emaskan. Berakhirnya kekuasaan Belanda juga diakibatkan pendudukan Jepang yang memberi kesempatan kepada pemimpin Islam dan pemerintahan setempat untuk lebih menindas lagi orang-orang Kristen supaya kembali ke agama Islam. Dalam periode 1942-1945 ini Gereja mengalami pergumulan dan tekanan yang sangat berat, dimana pendeta dan para zending diusir, adanya penyitaan Gereja, Gereja menjadi tempat latihan militer, orang Kristen banyak yang mati martir, kekurangan pangan dan dianiaya.
Dalam peristiwa yang kita lihat pada masa sejarah Kekristenan di Jepang yang menjadi cerminan bagi kita sebagai penerus generasi Gereja tertulis di dalam Yohanes 16: 33 dikatakan bahwa, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia”. Yesus Kristus mengatakan bahwa kita harus menguatkan hati kita karena kita diberi damai sejahtera oleh-Nya. Apapun yang menjadi tantangan, pergumulan, masalah serta penderitaan yang terjadi di dalam setiap kehidupan kita. kita harus percaya bahwa di setiap tantangan di dalam kehidupan kita, kita memiliki Yesus Kristus yang lebih besar dari semuanya itu. Jika kita menderita sebagai sebagai orang Kristen, janganlah kita malu tetapi hendaklah kita memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.
Sebagai orang Kristen, kita tetaplah berjuang dalam mempertahankan iman kita dan dalam menyampaikan kabar baik kepada semua orang sebagaimana Amanat yang dikatakan-Nya dalam 1Petrus 2:9, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib”.
Catatan Dosen : Pendeta Jepang mengingatkan orang Kristen khusus di Kalimantan “ketika orang Kristen menderita jangan pernah meminta bantuan kepada pemerintah, karena memegahkan kasih yang ada dalam gereja”.
      Moratorium adalah pemutusan hubungan yang dilakukan Jepang, karena Jepang  Anti Eropa/Barat 1871 Jepang bebas dari buta huruf dan bangkit maju di Asia sehingga dengan kemajuanya Jepang mencari daerah jajahan sebagai pemasuk baru dan mempubikasi bahan-bahan.
      Segala tata gereja yang berbahasa Belanda harus diterjemahkan kedalam bahasa setempat. Dari satu sisi Jepang memberi hal yang positif, karena gereja berjalan belajar melangkah dalam penderitaan Masa Jepang para pemuda di gaji menjadi tentara militer Jepang juga mengajarkan tentang kedisiplinan.    

IV.             Daftar Pustaka
 Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja  Asia Jakarta: Gunung Mulia, 2008
F Ukur & F.L.Cooley, Jerih dan Joang, Jakarta: Lembaga Pendidikan Studi DGI, 1979  
Harry J. Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, Bandung: Dunia Pasukan Jaya, 1980
I. Wawan Badrika, Sejarah untuk SMA XI, Jakarta: Erlangga, 2006
Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, Jakarta: BPK-GM, 2004
Jan. S. Aritonang, Sejarah Perjupaan Kristen dan Islam di Indonesia, Jakarta: Gunung Mulia, 2015
Ratna Sukmayani, dkk, Ilmu pengetahuan Sosial 3, Jakarta: Kompas Gramedia, 2004
Th. Van Den End, & J. Weitjens, Ragi Carita 2, Jakarta: BPK-GM, 2015
Thomas Van Den End, Harta Dalam Bejana, Jakarta:  BPK-GM, 2015
Zakaria J Ngelow, Kekristenan dan Nasionalisme, Jakarta: BPK-Gm, 2011


[1] Jan. S. Aritonang, Sejarah Perjupaan Kristen dan Islam di Indonesia, (Jakarta: Gunung Mulia, 2015), 210
[2]  Van den End & J.  Weitjens, Ragi Cerita 2, (Jakarta: BPK-GM, 2015), 342
[3]  Jan. S. Aritonang, Sejarah Perjupaan Kristen dan Islam di Indonesia, 211
[4]  Van den End & J.  Weitjens, Ragi Cerita 2, 342
[5] Ratna Sukmayani, dkk, Ilmu pengetahuan Sosial 3, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2004), 24
[6] I. Wawan Badrika, Sejarah untuk SMA XI, (Jakarta: Erlangga, 2006), 146
[7] Harry J. Benda, Bulan Sabit dan Matahari Terbit, (Bandung: Dunia Pasukan Jaya, 1980), 154
[8] Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, (Jakarta: BPK-GM, 2004), 210-211
[9] Van den End & J.  Weitjens, Ragi Cerita 2,350-351
[10] Ratna Sukmayani, dkk, Ilmu Pengetahuan Sosial 3, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2004), 6
[11] Th. Van Den End, & J. Weitjens, Ragi Carita 2, (Jakarta: BPK-GM, 2015), 340  
[12] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja  Asia,(Jakarta: Gunung Mulia, 2008) 239-240
[13] Th. Van den End, Ragi Carita 2, 343-345
[14] Van den End & J.  Weitjens, Ragi Cerita 2, 351
[15] Van den End & J.  Weitjens, Ragi Cerita 2, 343-345
[16] Thomas Van Den End, Harta Dalam Bejana, (Jakarta:  BPK-GM, 2015), 293
[17]  F Ukur & F.L.Cooley, Jerih dan Joang, 507
[18] F Ukur & F.L.Cooley, Jerih dan Joang, (Jakarta: Lembaga Pendidikan Studi DGI, 1979), 513  
[19]  Van den End & J.  Weitjens, Ragi Cerita 2, 354
[20]  F Ukur & F.L.Cooley, Jerih dan Joang, 512
[21]  Van den End & J.  Weitjens, Ragi Cerita 2, 353-354
[22]  Jan. S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, 225

Tidak ada komentar:

Posting Komentar