Selasa, 31 Maret 2020

Metaphisika : malaikat, jin, gendruwo, setan, dengan segala sebutannya


 Metaphisika : malaikat, jin, gendruwo, setan, dengan segala sebutannya
I.                   Pendahuluan
Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan bagai seorang yang sedang  berpijak di bumi sedang tengadah ke arah bintang-bintang di langit. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seorang yang berdiri di puncak gunung yang tinggi memandang ke ngarai dan lembah di bawahnya. Dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya. Kata filsafat berasal dari kata, philosophia’ (bahasa Yunani), diartikan dengan, mencintai kebijaksanaan‟. Sedangkan dalam bahasa Inggris kata filsafat disebut dengan istilah, philosophy’, dan dalam bahasa Arab disebut dengan istilah ‘falsafah’  , yang biasa diterjemahkan dengan ‘cinta kearifan’. Sumber dari filsafat adalah manusia, dalam hal ini akal dan kalbu manusia yang sehat yang berusaha keras dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran dan akhirnya memperoleh kebenaran
II.                Pembahasan
2.1.Pengertian metaphisika
Metafisika merupakan cabang ilmu yang bersifat keluarbiasa (beyond nature), yang membicarakan karakteristik hal-hal yang sangat mendasar, yang berada di luar pengalaman manusia (immediate  eperience), yang berupaya menyajikan suatu pandangan yang komprehensif tentang segala sesuatu, yang membicarakan persoalan-persoalan seperti; hubungan akal dengan benda, hakikat perubahan, perngertian tentang kemerdekaan, wujud Tuhan, kehidupan setelah mati dan lainnya.[1]
            Metaphisika dimasukkan dalam bagian filsafat yang mengkaji tentang ada (being). Metafisika mengkaji ‘ada’ yang masih disangsikan kehadirannya. Metafisika berhubungan dengan obyek-obyek yang tidak dapat dijangkau secara inderawi karena objek itu melampaui sesuatu yang bersifat fisik. Secara fisik ‘ada’ itu tidak tampak namun oleh sebagian orang dianggap ada, misalnya jiwa, ilusi, eksistensi Tuhan dan sebagainya. Kata metafisika berasal dari kata ta meta dan ta phyisika. Tameta berarti di balik atau dibelakang dan taphisyisika berarti sesuatu yang bersifat fisikal, dapat ditanggap bentuknya oleh indra. Whiteley beranggapan bahwa metafisika adalah teori yang merupakan prinsip umum itu dapat menjelaskan secara benar segala sesuatu yang ada di alam semesta ini.[2]
            Istilah ini juga bisa berarti sebagai usaha untuk menyelidiki alam yang berada di luar pengalaman atau menyelidiki apakah hakikat yang berada di balik realitas. Akan tetapi, secara umum dapat dikatakan bahwa metafisika adalah suatu pembahasan filsafati yang komprehensif mengenai seluruh realitas atau tentang segala sesuatu yang ada.[3] Metafisika diartikan dengan beberapa pengertian:
a.       Secara etimologi metafisika berarti “dibalik atau dibelakang fisika” (meta= dibelakang). Istilah ini terjadi secara kebetulan. Waktu para ahli menyusun untuk membukukan karya Aritoteles, mereka menempatkan bab tentang filsafat sesudah fisika. Artinya berbeda dengan cara mengerti realita dalam arti pengalaman sehari-hari. Sebab metafisika ingin mengerti sedalam-dalamnya.
Metafisika ingin mengerti suatu “Otherworld”, sedangankan pengetahuan biasa ingin mengerti suatu “this wordly”.[4] Metafisika biasanya dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu:
2.1.1.      Metafisika Umum
Metafisika umum membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dan sekaligus. Pembahasan itu dilakukan dengan membedakan dan mengisahkan eksistensi yang sesungguhnya dari penampakan atau penampila eksistensi itu.[5] Christian Wolff mengatakan bahwa metafisika umum mengkaji ada sebagai ada, atau dapat dikatakan mengkaji ada sebagai kenyataan yang terindrai. [6]
2.1.2.      Metafisika Khusus
Metafisika khusus mengkaji yang ‘ada’ dibalik gejala-gejala fisik, ‘ada’ yang tak terinrai, misalnya tentang Tuhan, jiwa dan asal-usul alam semesta.[7]
·         Kosmologi
Kosmos berarti dunia keterlibatanyang merupakan lawan dari Chaos (kacau balau atau tidak tertib) Logos berarti kata atau percakapan atau ilmu. Jadi, kosmologi berarti percakapan tentang dunia atau alam dan ketertiban yang paling fundamental dari seluruh realitas. Kosmologi memandang alam sebagai suatu totalitas dari fenomena berupaya untuk memudahkan spekulasi metafisika dengan evidensi ilmiah dalam suatu kerangka atau koheren. Hal-hal yang biasa disoroti dan dipersoalkan ialah mengenai ruang dan waktu, perubahan, kebutuhan, kemungkinan-kemungkinan dan keabadian. Metode yang digunakan bersifat rasional dan justru hal itulah yang membedakannya dari berbagai-bagai kisah asal mula dan struktur alam.[8]
      Kosmologi memusatkan perhatiannya kepada realitas kosmos, yakni keseluruhan sistem semesta raya. Kosmologi meliputi baik realita yang khusus maupun yang umum, yang universal. Jadi kosmologi terbatas pada realita yang lebih nyata, dalam arti alam fisis yang material. Walaupun kosmologi tak mungkin merangkul alam semesta dalam arti menghayati secara indera, tetapi kosmologi menghayati realita semesta secara intelektual.[9]
      Menurut Thales, yaitu tokoh yang mengembangkan filsafat alam kosmologi yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar, dan struktur komposisi dari alam semesta. Menurut pendapatnya, semua yang berasal dari air sebagaii matero dasar kosmis.[10]
2.2.Latar Belakang Munculnya Metaphisika
Manusia mempunyai beberapa pendapat mengenai tafsiran metafisika. Tafsiran yang pertama yang dikemukakan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat hal-hal gaib (supranatural) dan hal-hal tersebut bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.Pemikiran seperti ini disebut  pemikiran supernaturalisme.Dari sini lahir tafsiran-tafsiran cabang misalnya animisme. Selain faham diatas, ada juga paham yang disebut paham naturalisme.Paham ini amat bertentangan dengan  paham supernaturalisme.Paham naturalisme menganggap bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat gaib, melainkan karena kekuatan yang terdapat dalam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan diketahui.Orang orang yang menganut paham naturalisme ini beranggapan seperti itu karena standar kebenaran yang mereka gunakan hanyalah logika akal semata, sehingga mereka menolak keberadaan hal-hal yang bersifat gaib itu.Dari  paham naturalism ini juga muncul paham materialisme yang menganggap bahwa alam semesta dan manusia berasal dari materi.Salah satu yang menggap bahwa alam semesta dan manusia  berasal dari materi.Salah satu pencetusnya ialah Democritus (460 – 370 SM).[11]
 Namun pada kenyataanya banyak ilmuan besar, terutama albert Einstein yang merasakan perlunya membuat formula konsepsi metafisika sebagai keonsekuensi dari penemuan ilmiahnya, manfaat metafisika bagi pengembangan ilmu dikatakan oleh Thomas Kuhn terletak pada awal terbetnuknya paradigm ilmiah, yakni ketika kumpulan kepercayaan belum lengkap faktanya, maka ia mesti dipasok dari luar, antara lain adalah ilmu  pengetahuan lain, peristiwa sejarah, pengalaman personal, dan metafisika. misalnya adalah upaya-upaya untuk memecahkan masalah yang tak dapat dipecahkan oleh paradigm keilmuan yang lama dan selama ini dianggap mampu memecahkan masalah dan membutuhkan paradigm baru, pemecahan masalah baru, hal ini hanya dapat dipenuhi dari hasil perenungan metafisika yang dalam  banyak hal memang bersifat spekulatif dan intuitif, hingga dengan kedalaman kontemplasi serta imajinasi akan dapat membuka kemungkinan-kemungkinan atau peluang-peluang konsepsi teoritis, asumsi, postulat, tesis dan paradigma baru untuk memecahkan masalah yang ada. Sumbangan metafisika terhadapilmu pengetahuan tidak dapat disangkal lagi adalah pada fundamental ontologisnya, sumbangan metafisika pada ilmu pengetahuan adalah  persinggunggan antara metafisika dan ontology dengan epistimologi. Dalam metafisika yang mempertanyakan apakah hakikat terdalam dari kenyataan yang diantaranya dijawab bahwa hakikat terdalam dari kenyataan adalah materi, maka munculah  paham materialism, sedangkan dalam epistimologi yang dimulai dari pertanyaan bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? yang dijawab salah satunya oleh Descartes, bahwa kita memperoleh pengetahuan melalui akal, maka munculah rasionalisme, John Locke yang menjawab pertanyaan tersebut  bahwa pengetahuan diperoleh dari pengalaman, maka ia telah melahirkan aliran empirisme dan lainya berbagai perdebatan dalam metafisika mengenai realitas, ada tidak dan lainya sebagaimana telah dikemukan di dalamyang telah melahirkan berbagai  pandangan yang berbeda satu sama lain secara otomatis juga melahirkan berbagai aliran pemahaman yang lazim dinyatakan sebagai aliran-aliran filsafat awal, ketika pemahaman-pemahaman aliran-aliran filsafat tersebut dipertemukan dengan ranah epistimologi atau dihadapkan pada fenomena dinamika  perkembanga illmu pengetahuan.[12]






2.3.Aliran-aliran Metafisika
Aliran-Aliran Metafisika Ada empat macam aliran yang timbul dalam filsafat metafisika menurut Hasbullah Bakry, di antaranya:
1.Dualism
Aliran yang berpendapat bahwa wujud terdiri atas dua hakikat sebagai sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, kaitan keduanya yang menciptakan kehidupan dalam ala mini. Salah satu tokohnya adalah Descartes.
2. Materialism
Aliran yang berpendapat bahwa yang ada hanyalah materi. Adapun yang lainnya berupa jiwa atau roh tidak merupakan kenyataan yang berdiri sendiri, karena roh atau jiwa sebagai akibat dari proses gerakan kebendaan dengan salah satu cara tertentu. [13]
3. Idealism
Aliran yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam semua berasal dari roh atau sukma atau sejenisnya, sesuatu yang tidak berbentuk dan materi atau zat hanyalah suatu dari jenis penjelmaan rohani.
4. Agnosticisme
Aliran ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat yang dikehendaki oleh ilmu metafisika, baik hakikat materi maupun hakikat rohani. Aliran ini termasuk kedalam teologi naturalis yaitu filsafat ketuhanan yang  berpangkal pada kejadian alam. Bagiannya dapat dilihat sebagai berikut: [14]
a.       Theism
Aliran yang berpendapat bahwa ada sesuatu kekuatan yang berdiri di luar alam dan menggerakkan alam ini, kekuatan tersebut adalah Tuhan. Karena Tuhan adalah dasar dari segala yang ada dan yang terjadi di ala mini, sehingga mereka mengakui adanya mukjizat.
b.       Pantheisme
Aliran yang berpendapat bahwa seluruh kosmos ini adalah Tuhan. Tuhan yaitu  berada dalam alam ini, bukan di luar karena seluruh kosmos ini adalah satu maka Tuhan mempunyai bagian bagian. Artinya kajian secara umum dari metafisika adalah membahas sesuatu di balik yang tampak.
2.4.Macam-macam Metafisika
2.4.1.       Mailaikat
Adalah menarik bahwa kata yang diterjemahkan “malaikat” di dalam bahasaIbrani (“Malak”) dan Yunani (“Angelos”), keduanya menunjuk pada artiyang sama, yakni “utusan”  atau “pesuruh” , “pembawa berita” , “amessenger”, “perantara”  Dengan demikian, peran utama mereka adalahmembawa maksud Allah sebagai utusan dan kurir.
      Malaikat itu dikategorikan sebagai roh baik, dan bila ada malaikat-malaikat melanggar Tuhan maka makhluk tersebut adalah setan. Secara ekstrim Tuhan memecatnya dari malaikat. Malaikat adalah makhluk roh yang diciptakan oleh Tuhan yang ditugaskan Tuhan untuk beberaoa tujuan khusus sesuai dengan rencanaNya, baik untuk melayani Tuhan maupun untuk menolong orang-orang beriman (Kolose 1:16, Ibr 1:14).
      Istilah “Malaikat” dalam Alkitab “Malakh”, artinya hanya ketika disebutkan bersama-sama dengan pengutusannya, yaitu Allah sendiri, seperti misalnya dalam ‘malaikat Tuhan’ atau ‘malaikat Allah’ (Zak 12:8). Sebutan lainnya yang juga digunakan adalah “anak-anak Allah”, (Kejadian 6:4, Ayub 1:6). Malaikat disebut sebagai “penjaga” (Daniel 4:13). Mereka Yahwe Zebaot, Tuhan dari bala tentara surgawi, mungkin dihubungkan dengan para malaikat. Namun, YHWH membedakan diriNya dari para malaikat dan karena itu orang-orang Ibrani dilarang Musa menyembah “bala tentara surga”
      Sebelum munculnya monoteisme di Israel, gagasan tentang malaikat ditemukan dalam Mal’akh Yahwe, malaikat Tuhan, atau Mal’akh Elohim, malaikat Allah. Mal’akh Yahwe adalah penampakan atau perwujudan Yahwe dalam bentuk manusia. Istilah Mal’akh Yahwe digunakan secara berganti-ganti dengan Yahwe (Band Keluaran 3:2, 3:4, 13:21 dengan 14:19). Mereka yang melihat Mal’akh Yahwe (Elohim) menampakkan diri kepada Abraham, Hagar, Musa, Gideon dan mempin bangsa Israel dalam tiang awan (Kel 3:2). Penyamaan Mal’akh Yahwe dengan Logos, atau pribadi kedua dari Tritunggal, tidak ditunjukkan melalui acuan kepada kitab suci Ibrani, tetapi gagasan tentang pengidentifikasian yang ada dengan Allah. Namun, yang dalam pengertian tertentu berbeda dari padaNya, menggambarkan kecenderungan pemikiran keagamaan Yahudi untuk membedakan pribadi-pribdadi dalam keesaan Allah. Orang Kristen berpendapat bahwa hal ini merupakan gambaran pendahuluan dari doktrin tentang Tritunggal, sementara orang Yahudi kabalis mengatakan bahwa hal ini kemudian berkembang menjadi pemikiran teologis dari gambaran Kabbalah.
      Setelah doktrin mototeisme dinyatakan secara resmi, dalam periode segera sebelum pada masa pembuangan (Ulangan 6:4-5 dan Yes 43:10), kita menemukan banyak gambaran tentang mailaikat dalam kitab Yehezkiel. Nabi Yehezkiel sebagai nabi di pembuangan, mungkin di pengaruhi oleh hierakhi adikodrati di dalam agama Babel, dan mungkin angelogi Zoroastrianisme (namun tidak jelas bahwa doktrin Zoroastrianisme ini sudah berkembang demikian awal). Yehezkiel 9 memberikan gambaran yang terinci mengenai Kerub (Suatu jenis Malaikat). Dalam salah satu penglihatannya Yehezkiel melihat 7 malaikat melaksanakan penghakiman Allah atas Yerusalem. Seperti dalam Keajaiban, mereka digambatrkan sebagai “manusia”, Mal’akh Yahwe tampaknyamenduduiki tempat utama di antara mereka (Zak 1:11). Dalam masa pasca Alkitab, bala tentara Surgawi menjadi semakin terorganisasi (barangkali bahkan sejak Zakharia (3:9, 4:10);dan yang pasti dalam daniel). Malaikat pun menjadi beragamam sebagaian malah juga mempunyai nama.[15]
2.4.2.      Jin
Kekristenan atau Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa jin itu setan seperti yang dimaksudkan dalam Imamat 17:7, 11, Tawarikh 11:15, dan Yesaya 13:21. Menurut ayat-ayat tersebut, setan jenis ini tinggal di padang gurun dan berhasil menipu serta mengintimidasi bangsa-bangsa sehingga mereka takut, takluk dan mempersembahkan hewan atau melakukan ritual penghormatan kepada jin-jin. Namun orang kristen sejati tidak boleh takhluk kepada mereka sama seperti kebanyakan orang yang takluk dan bergaul dengan setan-setan tersebut. Lagi pula para nabi tidak pernah bergantung dan bergaul kepada malaikat apalagi pada jin-jin. Kalau pun para nabi pernah di kunjungi malaikat tapi para nabi maupun orang-oprang kudus tidak pernah berdoa kepada malaikat.
      Salah satu tipu muslihat iblis yang cukup ampuh adalah membohongi manusia tentang hal-hal mistik dan gaib termasuk tentang makhluk jin. Iblis berhasil menipu manusia sehingga manusia bergaul dan takhluk kepada jin-jin. Bahakan tidak sedikit manusia melakukan ritual penyembahan dan mengikatkan diri pada jin-jin. Hal itu ternyata pernah dilakukan juga oleh beberapa orang Israel yang dipimpin Musa. Mereka salah mengartikan apa yang diperintahkan TUHAN melarang keras. Mereka bergaul dan takhluk kepada jin-jin (Imamat 17:7), Alkitab mengatakan orang yang bergaul, takhluk dan menyembah jin-jin sama dengan orang berzinah.[16]
2.4.3.      Gendoruwo
Gendoruwo adalah salah satu makhluk halus yang cukup terkenal dan hanya ada di Indonesia khususnya di pulau Jawa. Hingga saat ini belum ada negara lain yang mengklaim gendoruwo adalah khanzah kepunyaan negara selain Indonesia. Gendoruwo adalah sejenis bangsa jin atau makhluk halus yang berwujud manusia mirip kera yang bertubuh besar dan kekar dengan warna kuliat hitam kemerahan, tubuhnya ditutupi rambut lebat yang tumbuh di sekujur tubbuh. Gendorueo terutama dikenal dalam masyarakat di Pulau Jawa (orang tua, pohon besar yang teduh atau sudut-sudut yang lembab sepi dan gelap. Pusat domisili makhluk ini dipecaya berada di hutan jati Donoloyo, kecamatan Slighimo, sekitar 60 km di sebelah timur Wonogiri dan di wilayah Lemah Putih, Purwosari, Girimulyo, Kulon Progo sekitar 60 Km ke barat Yogyakarta.
Makhluk halus ini dipercaya dapat berkomunikasi dan melakukan kontak langsung dengan manusia. Berbagai legenda menyebutkan kalau gendoruwo dapat mengubah penampakan dirinya mengikuti wujud fisik seseorang untuk menggoda manusia. Gendorowo dipercaya sebagai sosok makhluk iseng dan cabul, karena kegemarannya menggoda manusia terutama kaum perempuan dan anak-anak. Gendoruwo kadang sering menepuk pantat perempuan, mengelus tubuh perempuan ketika sedang tidur, bahkan sampai memindahkan pakaian dalam perempuan ke orang lain. Kadang gendoruwo muncul dalam wujud makhluk kecil berbulu yang bisa tumbuh membesar dalam sekejap, gendoruwo juga gemar melempari rumah orang dengan batu kerikil di malam hari.[17]
2.4.4.      Setan
Pada awalnya istilah ini digunakan sebagai nama julukan untuk berbagai entitas yang menantang kepercayaan iman manusia. Di dalam Alkitab Ibrani. Sejak saat itu agama-agama Samawi menggunakan istilah “Satan” sebagai nama untuk iblis. Di dalam bahasa Indonesia, istilah satan berbeda maknanya dengan setan. “Satan” (huruf besar) lebih condong pada sang Iblis (diabolos), sedangkan “setan” (huruf kecil) lebih condon kepada roh-roh jahat (daemon). Perubahan makna itu terjadii karena setan tidak diterjemahkkan langsung dari bahasa Ibrani, melainkan melalui bahasa Arab, sehingga terjadi pergeseran makna. Menurut doktrin Kristen Trinitarian, pada mulanya, setan adlah malaikat Tuhan yang bernama Lucifer.
Istilah “malaikat” berarti “utusan”. Semua malaikat diciptakan oleh Tuhan. Kolose 1:6 mengatakan: “karena di dalam Dia-lah telah di ciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa: segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. “Lucifer diciptakan dengan keindahan yang semourna sehingga ia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling cantik. Ia dipenuhi hikmat sehingga ia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang terpandai. Dari seluruh Malaikat yang ada di surga, Luciferlah yang paling pintar, cantik dan berkuasa. Yehezkiel 28:12 mencatat “ gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dari maha indah...”. walapun malaikat adalah makhluk yang indah dan berkuasa, namun mereka tidak boleh disembah. Karena malaikat adalah makhluk ciptaan Tuhan. Hanya, Tuhan, sang pencipta saja yang patut disembah. Kata Sata (dengan huruf besar) hanya digunakan dua kali di dalam Alkitab terjemahan baru (Wahyu 12:9, 20:2) untuk akar kata Yunani Satanas yang diterjemahkan menjadi “Iblis” di 34 tempat yang llain di Alkitab. Oleh karena itu sinonim “Satan” yang terdekat di dalam bahasa Indonesia adalah “Iblis”
Lucifer dan Beelzebul adalah dua nama lain yang disebut di dalam Alkitab yang seringkali dikaitkan dengan Satan. Nama, “Lucifer” di dalam teologi Kristen diidentifikasikan dengan “putera Fajar” di dalam Yesaya 14:12 yang dikaitkan dengan “pemfitnah” dalam bagian lain di perjanjian Lama.Beelzebul atau Beelzebub adalah nama dewa orang Filistin (lebih tepatnya sejenis Baal, dari kata Ba’al Zebub, yang artinya “Dewa Lalat”) dan juga digunakan di perjanjian Baru sebagai sinonim untuk Satan. Selain itu Satan juga digambarkan sebagai ular dan naga (ular naga) dan banyak lagi. Di dalam kisah Kejadian, Satan diidentifikasikan sebagai ular yang membujuk Hawa untuk memakan Buah pengetahuan yang bail dan yang benar. Wahyu 20:2 menyebut bahwa “si ular tua itu, yaitu Iblis dan Satan.[18]
III.             Kesimpulan
Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya maka dapat tarik kesimpulan sebagai berikut : 1.Metafisika adalah merupakan cabang filsafat yang bertugas mencari jawaban tentang yang „ada‟ yaitu filsafat yang memburu hakikat
sesuatu yang ada atau menyelidiki prinsip-prinsip utama. 2.Hubungan antara filsafat ilmu dan metafisika adalah bahwa kedudukan metafisika dalam dunia filsafat sangat kuat. Pertama, metafisika merupakan sebuah cabang ilmu tersendiri dalam  pergulatan filosofis. Kedua, telaah filosofis terdapat unsur metafisik merupakan hal yang signifikan dalam kajian filsafat. Ini tentu sejajar dengan signifikannya yang menyebut bahwa filsafat adalah induk dari segala ilmu. 3.Yang menjadi objek kajian dalam metafisika adalah metafisika umum membahas mengenai yang ada sebagai yang ada, artinya  prinsip-prinsip umum yang menata realitas. Sedangkan metafisika khusus membahas penerapan prinsip-prinsip umum ke dalam  bidang-bidang khusus : teologi, kosmologi dan psikologi. Pemilahan tersebut didasarkan pada ada dapat tidaknya diserap melalui perangkat indrawi suatu objek filsafat pertama. Metafisika umum mengkaji realitas sejauh dapat diserap melalui indra sedang metafisika khusus (metafisika) mengkaji realitas yang tidak dapat diserap indra, apakah itu realitas ketuhanan (teologi), semesta sebagai keseluruhan (kosmologi) maupun kejiawan (psikologi).

IV.             Daftar Pustaka
Achamadi, Asmoro, Filsafat Umum, Jakarta: Fajar Interpratama offset, 1995
Zamroni, Mohammad, Filsafat Komunikasi, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009
Noor Syam, Mohammad, Filsafat pendidikan dan DasarDasar Filsafat Pendidikan Pancasila, Surbaya: Penerbit Usaha Nasional, 1986
Rapar, Jan Hendrik, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2002
B,  Delfgaauw, “Ontologi dan Metafisika”. Dalam Soejono Soemargono (Ed) Berpikir Secara Kefilsafatan Yogyakarta : Nur Cahaya, 1988
A, Mustofa, Filsafat, Bandung : Pustaka Setia, 2007
A. Hasbullah Bakry, Sistematika Filsafat, Widjaya, t.th.
Bambang,, Rudianto,  R., dkk,  (Tim Redaksi Driyarkara),  Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja  Ilmu-Ilmu, jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993
Grahal, Donny, Matinya Metafisika Barat, Jakarta KomunitasBambu, 200
Surajoyo, Ilmu Filsafat “suatu pengantar”, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008
https://www.academia.edu/12017755/METAFISIKA diakses pada tanggal, 14 Februari 2019, Jam 19:29



[1] Asmoro Achamadi, Filsafat Umum, (Jakarta: Fajar Interpratama offset, 1995), 13-14
[2] Mohammad Zamroni, Filsafat Komunikasi, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), 80-81
[3] Asmoro Achamadi, Filsafat Umum, 13-14
[4] Mohammad Noor Syam, Filsafat pendidikan dan DasarDasar Filsafat Pendidikan Pancasila, (Surbaya: Penerbit Usaha Nasional, 1986), 28
[5] Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 44-45
[6] Mohammad Zamroni, Filsafat Komunikasi, 83
[7] Mohammad Zamroni, Filsafat Komunikasi, 83
[8] Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, 46-47
[9] Mohammad Noor Syam, Filsafat pendidikan dan DasarDasar Filsafat Pendidikan Pancasila, 31-32
`[10] Asmoro Achamadi, Filsafat Umum, 51                   
[11] Delfgaauw,B, “Ontologi dan Metafisika”. Dalam Soejono Soemargono (Ed) Berpikir Secara Kefilsafatan (Yogyakarta : Nur Cahaya, 1988), 22

[12] Mustofa, A., Filsafat, (bandung : Pustaka Setia, 2007),38
[13] A. Hasbullah Bakry, Sistematika Filsafat, (Widjaya, t.th.,), hal. 45-53
[14] R. Bambang Rudianto, dkk, (Tim Redaksi Driyarkara),  Hakikat Pengetahuan dan Cara Kerja  Ilmu-Ilmu, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993),  36
[15]Donny Grahal,Matinya Metafisika Barat, (jakarta KomunitasBambu, 2001), 12
[16] Surajoyo, Ilmu Filsafat “suatu pengantar”, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008),118
[18] https://www.academia.edu/12017755/METAFISIKA diakses pada tanggal, 14 Februari 2019, Jam 19:29

Tidak ada komentar:

Posting Komentar