Menelaah
Pemikiran Tentang Oikumene Melalui Konferensi Misi Se-Dunia Di Edinburgh 1910
Diperhadapkan Dengan Pikiran (Suara) Orang ASIA Serta Relevansiya Bagi Gerakan
Oikumene Di Indonesia Masa Kini
I.
Pendahuluan
Oikumene adalah suatu gerakan yang
berusaha untuk menyatukan atau membangun kesatuan dalam keberbagaian. Dalam
gerakan oikumene yang menjadi pemersatu gereja-gereja ini juga muncul pendapat
baru untuk menyatukan perpecahan yang sudah terjadi pada masa Reformasi. Untuk
itu diadakan suatu konferensi di Edinburgh untuk membentuk suatu usaha
mempersatukan kembali gereja-gereja di dunia. Dalam konferensi ini banyak
membahas usaha yang dilakukan untuk membangun kembali tongkat kerjasama antara
gereja. Dalam pokok pikiran konfereni itu menghasilkan suatu ide baru yang
diperhadapkan dengan pendapat orang Asia.
II.
Pembahasan
2.1.Sejarah
Terbentuknya Dewan Gereja-gereja se-Dunia (1948) (WCC)
Gerakan
oikumene, bermuara pada pembentukan World Council of Churches (WCC), dalam
bahasa Indonesia dikenal dengan nama Dewan Gereja-gereja se-Dunia, DGD yang
terbentuk di Amsterdam, 23 Agustus 1948.[1] Di
Indonesia gerakan oikumene bermuara pada pembentukan Dewan Gereja Indonesia
(DGI) tanggal 25 Mei 1950. Setelah tahun 1964, kebutuhan akan badan-badan
daerah (Dewan gereja-gereja wilayah) menjadi hangat digumulkan. DGI mulai
memikirkan usaha untuk membantu gereja-gereja kepada keesaan dengan diperkuat
oleh adanya Dewan Gereja-gereja wilayah yang terbesar diberbagai daerah di
Indonesia. [2]
Gerakan
oikumene dapat menjadi salah satu titik tolak bagi gereja-gereja dalam menjawab
kebutuhan tantangan yang ada, seperti masalah kemajemukan, ekologi, kemiskinan
dan sebagainya. Gerakan oikumene ini muncul dari berbagai bidang penginjilan.
Gerakan oikumene dengan konsep penginjilan Liberal adalah WCC.[3]
John R. Mott dan rekan-rekannya sadar bahwa karya misi yang efektif membutuhkan
kerja sama dan kesatuan gereja dan mungkin kesatuan gereja membutuhkan
pekerjaan misi. Ketika menyebarkan Injil Kristus, ketika itulah kita merupakan
suatu badan yang menyatu seperti yang diinginkan Kristus. Pada tahun 1910,
International Missionary Conference (Konferensi Pekabaran Injil Internasional),
bertemu di Edinburgh untuk merencanakan strategi-strategi bagi penginjilan
dunia. Hal ini umumnya dianggap sebagai awal gerakan oikumene. Dengan John R.
Mott sebagai penggerak utama, keseribu delegasi tersebut menggerakkan dua
organisasi Faith and Order Movement (Gerakan Iman dan Tata Ibadah) untuk
isu-isu doktrinal dan Life and Work
Movement (Gerakan Kehidupan dan Karya) bagi misi dan pelayanan.
Life and Work Movement bertemu di
Stockholm pada tahun 1925 untuk mendiskusikan hubungan kekristenan dengan
masyarakat, politik dan ekonomi. Dua tahun kemudian Faith and Order Movement
bertemu di Lausanne, mengupayakan tugas sulit dalam merencanakan kesatuan
ajaran. Pada tahun 1937, dengan pertemuan secara terpisah di Oxford dan
Edinburgh, kedua organisasi ini memilih untuk bergabung. Para pemimpin gereja
bertemu di Utrecht, pada tahun 1938, untuk menyusun sebuah konstitusi.
Pertemuan di Amsterdam pada tahun 1948
akhirnya menyatukan kedua badan terdahulu itu menjadi World Council of Churches
(WCC) [Dewan Gereja-gereja se-Dunia]. Menggambarkan dirinya sebagai
"persekutuan gereja-gereja yang menerima Yesus Kristus Tuhan kita sebagai
Allah dan Juruselamat", WCC mengajak gereja-gereja bekerja sama, belajar bersama,
bersekutu bersama, berbakti bersama, dan bertemu bersama dalam konferensi
khusus dari waktu ke waktu. WCC hanya bertujuan memberi gereja-gereja di
seluruh dunia kesempatan dan sumber untuk bekerja sama satu dengan yang lain.[4]
2.2.Gerakan
Oikumene Edinburgh (1910) “Gereja di lapangan pekabaran injil
Pekabaran Injil Sedunia di Edinburgh 1910, sebagai titik mula
lahirnya gerakan Oikumene Internasional. Pada konferensi Edinburgh baru dapat
dikatakan Internasional, karena terdiri dari berbagai negara di dunia dan
diikuti oleh 1200 delegasi dari 159 Badan Misi. Salah satu yang berhasil
disimpulkan dalam konferensi itu yakni mengenai kerja sama dan pemupukan
keesaan. Hal ini juga membawa gereja yang muda untuk memikirkan ke arah gereja
yang dewasa.[5]
Awalnya bahwa timbul kesadaran untuk memulihkan perpecahan
yang diakibatkan Reformasi harus bertolak dari warisan bersama. Kesadaran ini
hidup khususnya dikalangan kaum humanis, cendikiawan katolik maupun Protestan
yang mengecam keadaan gereja Katolik Roma pada zaman itu karena telah
menyimpang dari ajaran dan praktik gereja kuno. Namun usaha perdamaian mereka
agak bersifat intelektual dan individual, dan kurang berakar dalam gereja.
Sikap terbuka dikalangan Pietis
kemudian sangat mempengaruhi perhimpunan-perhimpunan pekabaran injil.
Perhimpunan-perhimpunan ini juga mengutamakan iman sederhana kepada Yesus
Kristus. Sejak 1854 diadakan konferensi-konferensi pekabaran injil untuk dunia
Anglo-Amerika, tahun 1866 untuk daratan Eropa, tahun 1860 di Liverpool dan 1885
di London diadakan Konferensi Pekabaran Injil International. Tahun 1900 di New
York diadakan Eucumenical Conference on Foreign Missions, yang
diselenggarakan oleh Evangelical Alliance.
Usaha ini bermuara pada konferensi pekabaran injil sedunia
di Edinburgh (14-23 juni 1910), yang dipelopori oleh John Raleigh Mott
(1865-1955). Konferensi ini untuk membahas sejumlah persoalan yang timbul
dilapangan pekabaran injil. Pokok-pokok yang di bahas:
1. Pekabaran injil di seluruh dunia.
2. Gereja di lapangan pekabaran injil.
3. Pendidikan dan pengkristenan.
4. Berita Kristen dan agama-agama bukan
Kristen.
5. Persiapan para pekabar injil.
6. Hubungan dengan pangkal di dalam
negeri.
7. Hubungan dengan pemerintah.
8. Kerjasama dan keesaan.
Keputusan ini kemudian hari, ternyata berarti langkah awal
di sejarah oikumene, sehingga konferensi pekabaran injil sedunia di Edinburgh
1910 dilihat sebagai saat kelahiran gerakan oikumenis.
Baru pada 1921
didirikan International Missionary Council (IMC) yang ketuanya John Mott.
Setelah Edinburg, berdirilah dewan-dewan semacam itu seperti Dewan-dewab
Kristen Nasional (di India, Korea, Jepang, dan Tiongkok). Sejak Tahun 1921
mulai diterbitkan Review of Mission
(IRM), majalah untuk pekabaran Injil dan misiologi yang ada sampai sekarang.[6] Gereja haruslah mengkomuniskasikan dan
mengajak kepada setiap individu untuk
menciptakan suasana pertemanan.[7]
Gerakan
Life and work membuat gereja sadar akan pentingnya tugas pelayanan. Dan Gerakan
Oikumene yang pertama (International Missionary Council) membuat gereja sadar
akan pentingnya sebuah kesaksian untuk menghadirkan perdamaian.[8]
Gerakan oikumene merupakan jawaban gereja untuk menghadapi tantangan dunia.
Dunia saat itu terpecah yang diakibatkan oleh perang. Keesaan dalam gereja
tetap dipertahankan dalam Oikumene. Keesaaan dalam doktrin, tata gereja dan
ajaran dalam gereja merupakan kekayaan dalam oikumene. Bersatu bukanlah berarti
harus memiliki aspek yang sama, tetapi memiliki tujuan akhir yang sama. Arti
kesatuan ialah, supaya umat menjadi sempurna didalam persekutuan dan supaya
dunia mengetahui, bahwa Allah hadir dalam Yesus.[9]
Dalam
pertemuan yang murni untuk PI sedunia ini tanpa adanya pengaruh warna
theologia. Istilah dunia bukan merupakan konsep yang bersifat theologi tetapi
lebih cenderung pada konsep yang bersifat geografis dan historical. Dunia
dibagi menjadi dua struktur yaitu dunia Kristen dan dunia non Kristen. Hubungan
ini disebut Imperalisme Apostal dan konsep ini muncul dengan berbagai macam
istilah yang militer yaitu tentara, penguasa, komisi, perang, stratregi dll.
Walaupun salah imperialism nampak dalam konferensi Edinburgh yaitu
konferensi yang mempunyai tujuan mewujudkan PI sedunia tetapi konferensi
tersebut menjadi suatu fondasi PI sedunia yang akan mendatangkan masa depan
cerah dan yang bisa mewujudkan tujuan oikumene.
Dalam Gerakan Injili terdapat semangat
apostolik, ketika para orang percaya mencari kebenaran didalam Alkitab.
Tanggapan para penginjil terhadap gerakan ekumenis adalah mengkritik gerakan
ekumenis yang individualistik dan mengabaikan aspek spritual.[10]
Pada
tahun 1961 WCC mengambil alih IMC lalu IMC diintegarikn dalam WCC dan muncullah
pemikiran teologi Missio Dei (1950) dan pemikiran Teologia bahwa PI harus
termasuk dalam gereja sebagai fungsi dan alat gereja. Gerakan Oikumene WCC
merupakan gerakan yang lebih cenderung pada hal organisasi dan struktur
daripada hal spiritual, apalagi dikuasai dan dipengaruhi oleh teologia liberal
yang lebih cenderung pada keselamatan sosial dan politik dari keselamatan jiwa.
Tujuan dan jiwa gerakan oikumene yang Alkitabiah sudah kehilangan arah yang
tepat bahwa semakin jauh dan tujuan semula yang bermakud menunjukkan kesatuan
gereja.
Teologi-teologi
yang mengubah konsep gerakan oikumene yang pernah muncul sejak reformasi Edinburgh dan
dalam konferensi WCC juga mempengaruhi keadaan konsep oikumene pada zaman ini.
Khususnya teologi yang menekankan keselamatan sosial yang muncul sejak 1950,
akhirnya mengakibatkan teologi pembebasan berkembang dengan leluasa, hal itu
dengan membahayakan konsep keselamatan dan PI sedunia yang bersifat tradisi.[11]
2.3.Pikiran
Suara Orang Asia
Pilon adalah seorang tokoh oikumene di Asia yang menyebut
empat hal-hal yang menentukan perkembangan oikumene di Asia:
1.
Pengaruh
Nasionalisme di Asia yang mulai berkembang di mana-mana sesudah Jepang mengalahkan
Rusia pada tahun 1905. Timbul perasaan bahwa orang-orang Asia tidak perlu diatur
oleh orang-orang Barat karena mereka sudah mampu mengurus perkara yang ada,
orang Asia mempunyai pendapat bahwa gereja-gereja Asia harus menjadi urusan
orang-orang Asia sendiri.
2.
Pengaruh
pekabaran Injil. Usaha-usaha untuk kerjasama yang memuncak pada konperensi
Edinburgh (1910) sangat berpengaruh di Asia. Kerjasama gerejawi di Asia di
pelopori oleh kerjasama di bidang pekabaran Injil.
3.
Pengaruh
agama-agama lain. Agama Kristen masih sangat berkiblat kedunia Barat. Timbul
kesadaran bahwa orang-orang Kristen Asia harus menghadapi bersama-sama dengan
agama-agama yang bukan Kristen.
4.
Pengaruh
Alkitab, khususnya Yoh 17 : 21 “supaya mereka semua menjadi satu”. Yang
menentukan di sini adalah cara orang-orang Kristen memahami Alkitab dan
ajakan-ajakan didalamnya untuk bersatu.
Setelah John Mott mengunjungi Asia, didirikanlah dewan-dewan
pekabaran Injil nasional di India, Tiongkok dan Jepang. Di India dibentuk
Church South of India (1947). Konperensi kedua IMC diadakan di Parapat, pada
Maret 1957. Di sana diputuskan untuk membentuk suatu dewan, East
Asia Christian Conference (EACC). Pada tahun 1973 nama EACC dirubah menjadi
Christian Conference of Asia (CCA) dan pada tahun berikutnya dibuka kantor CCA
di Singapura. Ada panitia untuk Inter Church Aid (Perkara-perkara International
untuk region Asia, gereja dan masyarakat), Urban and Rural Mission (Kerjasama
dan pertukaran tenaga di bidang pekabaran Injil, kaum awam, literature dan komunikasi
masa). [12]
2.4.Relevansinya Bagi gerakan Oikumene Di Indonesia Masa Kini
Seperti
telah dikatakan bahwa tujuan oikumene yang dikehendaki oleh setiap orang sudah
semakin jauh dari tujuan oikumene yang Alkitabiah
karena perbedaan theologia dalam PI. Kaum
WCC dan Kaum Injili memiliki pandangan berbeda terhadap oikumene. Gereja harus menghadapi dalam dunia sosial,
politik, ekonomi atau gereja harus terwujud menjadi satu dari pandanngan
oikumene itu. Sedangkan di Asia salah satu yang mempengaruhi oikumene salah
satunya adalah Pekabaran Injil maka seharusnya bahwa usaha dalam pekabaran
Injil itu harus didasarkan kerjasama yang baik penginjil untuk mewujudkan
gereja yang satu. Usaha-usaha yang diputuskan dalam konferensi Edinburgh ini sangat memperngaruhi pekembangan
dan penyebaran Injil di Asia. Dengan Konferensi itu maka mulai dibentuk
beberapa lembaga pekabar Injil di Asia untuk bekerja sama dalam pekabaran
Injil.
III.
Kesimpulan
1. Muncul
dan perkembangan Gerakan Oikumene di Indonesia diilhami oleh gerakan oikumene
di bagian dunia lain yang merupakan tempat asal pembawa agama-agama Kristen ke
Indonesia, yakni Eropa.
2. Gerakan
Oikumene di Indonesia sebenarnya diawali oleh kegiatan perorangan Kristen dari
berbagai bidang kehidupan dan baru melibatkan gereja sebagai lembaga. Pada
gerak yang serupa terlihat di Eropa.
3. Gerakan Oikumene Edinburgh, salah satu yang berhasil disimpulkan
dalam konferensi itu yakni mengenai kerja sama dan pemupukan keesaan. Hal ini
juga membawa gereja yang muda untuk memikirkan ke arah gereja yang dewasa.
4. Seperti
telah dikatakan, bahwa tujuan gerakan oikumenis yang dikehendaki oleh semua
kalangan semakin jauh dari tujuan oikumenis yang alkitabiah karena perbedaan
Teologi dalam PI. Sampai sekarang dua gerakan oikumene yaitu kaum WCC dan kaum
Injili masih memiliki pandangan yang berbeda terhadap konsep oikumene. Kaum WCC
terus berusaha untuk mewujudkan oikumene dengan mempertahan konsep PI yang
berhubungan dengan humanism yaitu memulihkan manusia secara jasmani. Kaum WCC
ingin mempersatukan gereja dibumi dengan pandangan sekuler dan gereja Tuhan
dianggap sebagai gereja bagian di dunia.
IV.
Daftar
Pustaka
Curtis, A. Kenneth, Lang, J.
Stephen, & Petersen, Randy, 100
Peristiwa Penting dalam
Sejarah
Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia,1991.
Gairdner, W.H.T..Edinburgh
1910.Edinburgh & London: Oliphant, Anderson &
Ferrier.1910.
Hartono, Chris Th.D, Gerakan Ekumene di Indonesia, Yogyakarta: Pusat Penelitian dan
Inovasi Pendidikan Duta Wacana (PIPP
Duta Wacana), 1984.
Hoekendijk, J. C., “The Call To Evangelism” in
Donald McGavran (ed.), The Conciliar
Evangelical Debate: The Crucial
Documents, 1964-1976 (California: William
Carey Library, 1977.
Jonge, Christian De, Menuju Keesaan Gereja: Sejarah, Dokumen-dokumen dan Tema
tema
gerakan Oikumenis, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.
Sitompul, K., Masalah
Keesaan Gereja(Jakarta: BPK:Gunung Mulia, 2016.
Snaitang, O.L.,A
History of Ecumenical Movement:An Introduction.Bangalore:National
Printing Press.2004.
Ukur & Cooley, F.L., Jerih dan Juang: Laporan Nasional Survei Menyeluruh Gereja di
Indonesia,
Jakarta:
Lembaga Penelitian dan Studi DGI, 1979.
[1] Christian DeJonge, Menuju Keesaan Gereja: Sejarah,
Dokumen-dokumen dan Tema-tema gerakan Oikumenis, (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2011), 17.
[2] Chris Hartono Th.D, Gerakan Ekumene di Indonesia, (Yogyakarta:
Pusat Penelitian dan Inovasi Pendidikan Duta Wacana (PIPP Duta Wacana), 1984),
107.
[3] Christian DeJonge, Menuju Keesaan Gereja: Sejarah,
Dokumen-dokumen dan Tema-tema gerakan Oikumenis,135-142.
[4] A. Kenneth Curtis, J. Stephen
Lang, & Randy Petersen, 100 Peristiwa
Penting dalam Sejarah Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1991), 160-162.
[5]
Ukur & F.L. Cooley, Jerih dan
Juang: Laporan Nasional Survei Menyeluruh Gereja di Indonesia, (Jakarta:
Lembaga Penelitian dan Studi DGI, 1979), 571-572
[6] Christian,De Jonge.Menuju
Keesaan Gereja.(Jakarta:BPK Gunung Mulia.1990), 10.
[7] W.H.T.Gairdner.Edinburgh
1910.(Edinburgh & London: Oliphant, Anderson & Ferrier.1910.), 108
[8] O.L.Snaitang,A History of
Ecumenical Movement:An Introduction.(Bangalore:National Printing
Press.2004),114.
[9] K. Sitompul, Masalah Keesaan Gereja(Jakarta:
BPK:Gunung Mulia, 2016), 33
[10] J. C. Hoekendijk, “The Call To
Evangelism” in Donald McGavran (ed.), The Conciliar-Evangelical Debate: The
Crucial Documents, 1964-1976 (California: William Carey Library, 1977), 41.
[11] Christian DeJonge, Menuju Keesaan Gereja: Sejarah, Dokumen-dokumen
dan Tema-tema gerakan Oikumenis, 135
[12] Christian DeJonge, Menuju Keesaan Gereja: Sejarah,
Dokumen-dokumen dan Tema-tema gerakan Oikumenis, 136
Tidak ada komentar:
Posting Komentar