SYNEDESIS DALAM MENGAMBIL TINDAKAN
BUNUH DIRI
(Suatu Tinjauan Etika Kristen
tentang Peranan Synedesis/ Suara Hati Dalam Mengambil Tindakan Bunuh Diri).
I.
Latar
Belakang Masalah
Manusia memiliki tingkah laku yang
berbeda-beda ada yang postif dan ada juga yang negatif. Dikotomi tingkah laku
manusia yang positif dan yang negatif berorientasi di dalam hati. Shelton
mengatakan bahwa perkembangan kematangan suara hati seseorang bukanlah proses
yang sederhana. Proses tersebut lebih merupakan tugas seumur hidup dalam keterbukaan
dan refleksi diri yang kritis, suatu proses untuk mengaktualisasikan komitmen
pribadi di bidang moral dan pencarian terus menerus terhadap kebenaran dan
makna yang paling dalam yang didasarkan pada pengalaman hidup. Serta manusia
itu dapat bertanggung jawab juga terletak pada hatinya. Tetapi yang kerap
sekali menjadi masalah ialah manusia sering diperhadapkan dengan situasi yang
sangat sulit dan pada saat itu pula manusia itu harus mengambil keputusan untuk
mengambil scbuah tindakan. Dalam situasi yang seperti inilah, maka hati manusia
diuji, apakah tindakan tersebut baik atau tidak? Apakah tindakan yang dilakukan
itu benar atau salah, apakah seturut dengan kehendak Tuhan? Maka salah satu
cara yaitu dengan suara hatinyalah manusia bisa mengambil kepususan dan
mengambil suatu tindakan. Maka sebelum mengambil tindakan, suara hati mencoba
berkomunikasi dengan kita. Suara hati berbicara paling keras setelah suatu
tindakan diselesaikan pada saat dia menyatakan penilaiannya atas tindakan itu.
Hal yang perlu diingat bahwa dalam pengambilan keputusan maka hati kita juga
harus bisa mengikuti kehendak Allah, sebab melalui Allah sendirilah suara hati
kita itu dapat bekerja dengan baik dan mengambil keputusan yang tepat pula
dalam bertindak. Yang menjadi pertanyaan bagaimana hal ini bisa terjadi, apakah
suara hati itu? Bagaimana dia berfungsi? Bagaimana kita seharusnya menanggapi semua
desakannya? apakah suara hati atau suara Tuhan? Oleh karena masalah diatas maka
penyeminar mengangkat judul: SYNEDESIS DALAM MENGAMBIL TINDAKAN BUNUH DIRI
(Suatu Tinjauan Etika Kristen tentang Peranan Synedesis/ Suara Hati Dalam
Mengambil Tindakan Bunuh Diri).
II.
Pembahasan
2.1.Pengertian
Suara Hati
2.1.1.
Secara
Umum
Dalam
bahasa Inggris suara hari disebut conscience dari bahasa Latin con artinya
dengan dan scire artinya tahu, dalam bahasa Yunani disebut symedesis. identik
diartikan dengan "kesadaran", suara hati dibatasi untuk menunjukkan
kesadaran akan benar dan salah dalam batin.[1]
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengatakan: hati nurani adalah hati yang
telah mendapat cahaya atau terang Tuhan. Kata ini juga dapat diartikan:
perasaan hati yang muni dan yang sedalam-dalamnya,[2]
dan "suara hati" juga diartikan dengan "kata hati. Secara
etimologis, kata "hati" dalam bahasa Indonesia pertama-tama dapat
diartikan sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan
pengertian-pengertian (perasaan-perasaan, dsb).[3] Sehingga
suara hati adalah kesadaran moral dalam situasi konkret, artinya kesadaran
bahwa situasi itu kita bisa memilih antara melakukan yang benar dan melakukan
yang tidak benar dan bahwa kita tidak boleh melakukan yangtidak benar.[4]
Dalam
struktur kepribadian menurut teori Sigmund Freud (1856-1939) yang adalah
scorang psikeater Autria yang juga peletak dasar-dasar Psikoanalisis.
Berdasarkan teorinya tentang struktur kepribadian manusia, suara hati adalah
instansi psikis yang otonom dan rasional dalam diri manusia yang disebut superego. Freud menjelaskan struktur
kepribadian manusia terdiri dari tiga instansi yakni ld (Es), Ego (lch) dan Superego
(Uberich). Dalam Id (Es) manusia
diperintah oleh naluri seksual dan hawa nafsu dan Es menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Karena alam sekitar
tidak menerima Es itu mewujudkan
segala nalurinya, sehingga Es itu
menjadi Ich karena ada
perintah-perintah dan larangan (terutama orang tua) yang menghalangi usaha
libido (naluri) untuk menwujudkan diri. Maka Ich (Ego) mulai menyamakan diri dengan zat-zat dari luar. Itu
sebabnya dalam Ich timbul suatu hal yang mengatur kelakukannya yaitu uber-lch yang mengkritik segala kelakuan
dan yang menghukum dengan hati nuran yang baik, ia merupakan lambang dari moral
yang berlaku. Superego berasal dari
pembatinan, perintah-perintah, Iarangan-larangan alau ideologi, superego berkembang menjadi apa yang
disebut nurani (conscience),
pengertia akil balik tentang apa yang benar dan apa yang salah, yang meliputi
kecenderungan untuk merasa bersalah bilamana suara hati dilanggar.[5]
1.
Karl
Barth
Karl
Barth mengatakan syn-eidesis yaitu
pemahaman kita bukan tentang yang sesuai dengan praduga kita melainkan tentang
bahwa Allah sendirilah yang dapat mengetahui apakah manusia itu baik, karena
Dialah pemberi perintah dan hakim tentang pelaksanaan perintah itu, yaitu
tentang tindakan yang baik atau jahat yang aku akan atau telah komitmenkan.
Suara hati kita itu baik jika itu bersumber dari Allah, suara hati yang dapat
mengetahui kehendak Allah adalah suara hati yang taat kepada Firman Allah dan
Roh Allah (I Kor 2:11).
2.
Marthin
Luther
Marthin
Luther dalam memahami suara hati menghubungkannys dengan hukum alam, lex
nature, nahural law dan dapat diterjemahlkan sebagai suara hati (Rom. 2:15)
yang merupakan hukum ilahi yang ditanamkan Allah dalam kesadaran manusia. Ia
menghubungkan suara hati dengan iman, sebab suara hati merupakan suatu
kesadaran akan kewajiban dan permohonan keadilan dalam suatu persetujuan,
termasuk dalam pengambilan keputusan etis. Suara hati muncul karena kita
mengimani sesuatu yang baik dan yang jahat. Imanlah yang membawa kita kepada
kebenaran yang adalah berasal dari Allah.
3.
Johanes
Calvin
Suara
hati adalah pengantara antara Allah dan manusia, melalui suara hati Allah
berbicara kepada manusia tentang kesalahan yang telah diperbuatnya dan
mengajaknya supaya mau mengakui kesalahannya tersebut serta suara hati mengacu
kepada Allah.
2.1.3.
Menurut
Alkitab
2.1.3.1.Perjanjian Lama
Dalam
Perjanjian Lama suara hati diuraikan dan diidentikan dengan kata
"hati". Apa yang diketahui manusia tentang hati tidaklah seakrab dan
seintim apa yang diketahui manusia melalui suara hati. Suara hati berbicara
tentang satu pandangan internal sedangkan hati adalah suatu kesensirifan (Ams
23:7; UI 30:14; 6:8; Mzm 14:1; Mat 5:8; Kej 6:5; Im 26:41; UI 30:6, Yeh 11:19).[7]
Dalam Perjanjian Lama istilah hati dapat mempunyai arti yang lebih luas
daripada istilah suara hati. Dalam 1 Raja-raja 2:44, Raja Salomo berkata kepada
Simei, bahwa hati Simel pun mengetahui (bersama-sama) mengetahui segala
kejahatan yang diperbuatnya kepada Daud.[8]
2.1.3.2.Perjanjian Baru
Istilah
yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk suara hati ialah "synedesis" (Rm 2:15). Kata dasar
adalah "synoida" yaitu
pengetahuan manusia tentang sesuatu dengan kata lain disebut sebagai kesadaran
moral.[9]
Atau yang digunakan dalam susunan khusus "hauto syne idenal" yang
berarti berbagi pengetahuan dengan seseorang (I Kor 4:4).[10]
Istilah suara hati yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani, yaitu "synedesis". Kata ini dibentuk oleh
dua kata yaitu: sym artinya:
bersama-sama dan eidenai artinya:
mengetahui, yang berarti mengetahui bersama, atau mengetahui bersama dengan
seseorang.[11]
Istilah Perjanjian Baru "synedesis"
yang berarti kesadaran manusia tentang kualitas etis dari suatu tindakan. Dalam
Perjanjian Baru kata ini diambil dari terminologi etis Yunani yang juga
berhubungan dengan konsep PL tentang hati dimana kesadaran etis dalam Alkitab
selalu terikat dengan pengetahuan tentang Allah.[12]
Secara struktur "synedesis"
berhubungan dengan suatu perintah yang terdapat dalam diri manusia secara
intristik. Perintah-perintah ini diberikan oleh Allah sebagai pemerintah alam
semesta, itu lebih menunjuk kepada tindakan-tindakan yang lebih khusus dan
tindakan-tindakan pada masa lampau dan akhirnya fungsi suara hati adalah untuk
memberikan suatu penghakiman.[13]
2.2.Fungsi
Suara Hati
2.2.1.
Hati
Nurani Turut Bersaksi
Paulus
berkata ada suatu hukum dalam diri manusia yang mencerminkan hukum Allah dan
bahwa hukum itu "tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut
bersaksi". Hati nurani "turut bersaksi" antara suatu tindakan
lahiriah dan hukum di dalam diri orang tersebut. Seorang saksi adalah orang
yang menceritakan apa yang telah dia lihat dan apa yang dia lihat atau dengar,
dan hati nurani adal ah saksi dari segala tindakan dan fikiran kita. Hati
nurani anda turut bersaksi tentang tindakan-tindakan anda sekarang juga. Bila
anda mengingat kembali semua tindakan anda selama beberapa hari yang lalu, apa
yang dikatakan oleh hati nurani anda? Hati nurani anda sedang mencoba memberi
kesaksian yang tepat tentang bagaimana anda memenuhi standar-standar Allah.[14]
2.2.2.
Hati
nurani Menuduh atau Memaafkan
Paulus
mengatakan bahwa pikiran orang-orang yang tidak percaya "saling menuduh
atau saling membela" (Rm. 2:15). Kebanyakan orang membalas dengan amarah
atau berusaha membela diri mereka bila mereka dituduh. Jadi, wajar kita
berontak melawan tuduhan dari hati nurani kita. Hal ini sungguh tidak enak,
karena amarah kita sebenarmya melawan diri kita sendiri. Tetapi di pihak lain,
hati nurani kita dapat juga memaafkan atau membela apa yang telah kita lakukan.
Orang-orang lain barangkali mempertanyakan tindakan tertentu kita. Tetapi hati
nurani kita kan memberi kita kedamaian dalam hati dan fikiran kita bahwa
tindakan kita benar, apabila tindakan itu memang benar.[15]
2.2.3.
Hati
Nurani Menilai Tindakan-tindakan kita
Hallesby
mengatakan hati nurani tidak dapat bertindak, melainkan hanya dapat
menyampaikan penilaian. Hati nurani itu membandingkan perbuatan kita atau
kata-kata kita atau fikiran kita atau seluruh keberadaan kita dengan hukum
moral, dengan kehendak Allah. Dan kemudian hati nurani itu mengucapkan suatu
penilaian, yaitu dia memutuskan apakah kita seturut atau bertentangan dengan
kehendak Allah.[16]
2.3.
Pengertian Bunuh Diri
Dapat
di definisikan bahwa bunuh diri sebagai sebuah perilaku pemusnahan secara sadar
yang di tujukan pada diri sendiri oleh seorang individu yang memandang bunuh
diri sebagai solusi terbaik dari sebuah isu atau masalah.[17] Bunuh
diri merupakan cara yang di lakukan oleh seseorang untuk mengakhiri hidupnya,
mereka memutuskan bunuh diri dengan berbagai cara misalnya: gantung diri,minum
obat- obatan sampai over dosis, menegak racun, atau dengan senjata. Ada tanda
yang biasanya ditunjukkan seseorang yang akan melakukan percobaan bunuh diri,
beberapa diantaranya adalah cemas, merasa bersalah, atau membuat surat wasiat.[18]
2.3.1.
Pandangan
Alkitab Tentangg Bunuh diri
Dalam
PB juga terdapat seseorang di Alkitab yang memperpendek hidupnya dengan cara
bunuh diri. Dalam Matius 27:1-10 dikatakan bahwa Yudas Iskariot menggantung
dirinya sendiri. Hukuman mati atas Yesus Kristus dan penyerahanNya kepada
Pilatus telah membuka mata Yudas. Yudas telah menjual Yesus Kristus kepada
Pilatus. Ia menyesal ia menyadari bahwa ia telah bersalah namun penyesalan itu
tidak dapat meniadakan atau menghentkan penghukuman atas Yesus. Maka Yudas mengembalikan
uang 30 perak kepada imam- imam tua- tua karena yudas mengharapkan tindakan itu
untuk meniadakan transaksinya untuk menjual Yesus. Yudas mengaku “aku telah
berdosa karena menyerahkan dara orang yang tidak bersalah” namun ia harus
menanggung kesalahannya sendiri, ia melemparkan uang perak itu kedalam Bait
Suci lalu pergi menggantung dirinya sendiri (Mat. 27:5). Ia memilih sendiri
untuk mengakhiri hidupnya di sebuah pohon karena penyesalan, penyesalan disini
bukan dalam arti bertobat tetapi karena marah terhadap dirinya sendiri. Dari
cerita Yudas yang bunuh diri karena penyesalan yang mendalam, Alkitab pun tidak
mengomentarinya. Selain itu Teolog-teolog Kristen juga menghadapi masalah yang
rumit mengenai kisah bunuh dirinya Simson (. Agustinus dan Thomas Aquinas
bergumul dengan kasus ini dan menyimpulkan bahwa bunuh diri Simson dibenarkan
sebagai tindakan kepatuhannya terhadap perintah langsung dari Allah. Gereja
mempunyai sejarah yang panjang tentang bunuh diri. Pendapat yang mengatakan
bunuh diri adalah dosa yang tak terampuni juga agak sulit dilacak kebenarannya.
Di antara pemimpin-pemimpin gereja terdahulu, Agustinus adalah tokoh yang
paling menonjol dan berpengaruh dalam masalah bunuh diri. Sinode gereja
terdahulu menyatakan bahwa warisan dan persembahan dari mereka yang melakukan
bunuh diri atau mencoba bunuh diri tidak boleh diterima; sepanjang periode
pertengahan cara penguburan Kristen yang benar tidak berlaku bagi mereka yang
bunuh diri. Thomas Aquinas yakin bahwa bunuh diri, tanpa pertobatan akhir,
adalah dosa yang berat. Dante menempatkan mereka yang bunuh diri dalam
lingkaran ke-7 neraka.[19]
2.4.Menentukan
Tindakan dengan Suara Hati
Suara
hati perlu dididik. Mengapa suara hati perlu dididik? Suara hati kita sangat
dipengaruhi oleh perasaan moral kita yang terbentuk oleh pengaruh pendidikan
informal dan formal yang telah kita terima, dan itu berarti oleh
pandangan-pandangan moral lingkungan kita, lebih-lebih waktu kita masih muda.
Begitu pula kita dan dengan demikian kita mengembangkan kebijaksanaan-kebijaksanaan
dan sikap-sikap moral mempengaruhi suara hati kita. Dengan mendidik suara hati
kita berusaha untuk membebaskan kita dari prasangka-prasangka kita itu, agar
kita dapat mengambil jarak terhadapnya dan menilainya dengan kritis. Melalui
suara hati manusia memiliki kesadaran tentang apa yang menjadi tanggung jawab
dan kewajibannya. Suara hati adalah kesadaran dalam batin manusia yang
berkewajiban mutlak untuk selalu mengkehendaki apa yang menjadi kewajiban dan
tanggung jawabnya, dan dari kehendak itulah tergantung kebaikannya sebagai
manusia dan bahwa hanya dia sendirilah dapat dan berhak untuk mengetahui apa
yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya itu.[20]
Mendidik
suara hati berarti bahwa kita terus menerus bersikap terbuka, mau belajar, mau
mengerti seluk-beluk masalah-masalah yang kita hadapi, mau memahami
pertimbangan-pertimbangan etis yang tepat dan seperlunya memperbaharui
pandagan- pandangan kita. Dengan demikian kesadaran moral kita akan berkembang
terus, jadi tidak akan membeku pada titik perkembangan tertentu. Usaha mendidik
suara hati menuntut keterbukaan kita dan keinginan kita untuk belajar. Dua
syarat ini memang tidak hanya penting bagi pendidikan suara hati saja,
melainkan bagi perkembangan kepribadian kita pada umumnya. Kita harus terbuka
dalam arti bahwa kita tidak pernah seakan-akan sudah jadi, pasti, tak
terubahkan, mati secara rohani dan intelektual. Tanda keterbukaan adalah
keinginan untuk belajar.[21]
Sampai ke
tingkat ini kita telah melihat beberapa persoalan dalam mengetahui kapan Anda
harus mengikuti hati nurani Anda:
1. Hati
nurani dapat menjadi tidak peka atau hangus dan oleh karena itu tidak mampu
memberikan petunjuk.
2. Dia
dapat menjadi terlalu lembut atau lemah dan oleh karena itu tidak dapat
dipercaya.
3. Dia
bukan pemegang kuasa yang mutlak olch karena dia ditentukan oleh lataar
belakang dan pengajaran.
4. Hati
nurani saja tidak cukup, melainkan harus dilengkapi dengan penganuh dari Firman
Allah, Roh Kudus dan nasihat yang kudus.
Karena hati nurani saja tidak cukup,
kita harus mengambil langkah - langkah lertentu unfuk menguji benar atau
tidaknya desakan-desakannya.



![]() |
![]() |
||||||
1. Mula-mula
kita melakukan suatu tindakan, mengucapkan sepatah kata memikirkan suatu
gagasan, atau menyimpan suatu sikap. Atau kalau tidak begitu, kita hanya
sekedar memikirkan salah satu dari tindakan-tindakan ini.
2. Hati nurani kemudian berbicara, memberikan
penilainnya mengenai apa yang benar atau salah dalam keadaan itu.
3. Pada
tingkat ini barang kali kita tergoda untuk menganalisa keadaan dengan pikiran
kita dan mengambil tindakan dengan kemauan kita. Ini adalah pendekatan yang
salah. Langkah berikutnya ialah, kita harus memeriksa Alkitab untuk mengetahui
apa yang dikatakannya tentang masalah tersebut. Bahkan bila Alkitab tidak
berbicara secara langsung tentang hal tersebut, kita perlu membaca dan
mempelajari Alkitab secara teratur sehingga Roh Kudus dapat menggunakannya
untuk membimbing kita.
4. Kita seharusnya mencari nasihat dari teman
yang saleh jika kita tidak mempunyai bimbingan yang jelas pada tingkat ini.
5. Akhimya,
kita harus bertindak atas dasar iman. "Dan segala sesuatu yang tidak
berdasarkan iman, adalah dosa" (Rm 14:23).
Untuk
menanggapi secara benar apa yang hati nurani kita katakan, barangkali kita
perlu membayar ganti rugi pada seseorang karena apa yang telah kita lakukan,
atau mengaku sesuatu, yakni pertama-tama kepada Allah, kemudian kepada
orang-orang lain. Atau barangkali kita perlu menghentikan atau mulal
mengerjakan sesuatu, seperti misalnya mengendalikan lidah kita atau mulai
membantu lebih banyak di rumah. Barangkali kita perlu mengubah suatu sikap
terhadap sescorang atau situasi, atau mengampuni seseorang untuk apa yang telah
dilakukannya terhadap kita. Walaupun dia tidak minta pengampunan kita.
Bagaimana juga, untuk mempunyai hati nurani yang murni di hadapan Allah dan
manusia. (Kis 24:16), kita harus melakukan apa pun yang perlu.[22]
2.5.Perbedaan
antara Suara Hati dengan Suara Tuhan
Apakah
suara hati sama dengan susra Tuhan? Jawaban mempunyai dua bagian. Pertama,
karena suara hati dapat keliru, sedangkan Allah tidak dapat keliru, maka sudah
jelaslah bahwa suara hati tidak begitu saja boleh disamakan dengan suara Allah.
Suara hati dengan amat jelas mencerminkan segala pengertian dan prasangka kita
sendiri, sehingga jelas merupakan suara kita sendiri. Tetapi dalam pertanyaan
itu termuat sesuatu yang betul. Dalam suara hati memang ada unsur yang tidak
dapat diterangkan dari realitas kita manusia saja, yaitu kemutlakannya. Suara
hati memuat kesadaran bahwa apa yang disadarinya sebagai kewajiban mutlak harus
kita lakukan. Yang mutlak hanya satu yaitu Allah. Jadi kemutlakan suara hati
menunjuk pada Allah.[23]
Suara
hati memang merupakan kesadaran kita. Dengan segala keanchan dan keterbatasan
kita masing-masing Dan oleh karena itu suara hati masing-masing tidak mutlak
benar. Lalu mengapa kita sadar bahwa kita mutlak terikat olehnya? Karena
penilaiannya jadi penilaian kita sendini, seakan-akan diadakan di hadapan takhta
Allah. Seakan-akan dengan Allah sebagai saksi. Sehingga meskipun penilaian kita
barangkali keliru, namun jelas jujur dan sungguh-sungguh. Karena kita
melakukannya dalam kesadaran bahwa Allah menyaksikannya. Jadi dalam fenomena
suara hati kita betul-betul memiliki suatu pengalaman tentang transendensi,
tentang Dia yang mengatasi segala ciptaan.
Kita
tidak melihat Tuhan secara angsung. Itu dalam kehidupan ini tidak mungkin.
Tetapi kita seakan-akan merasakannya. Oleh karena itu Kardinal John Henry Newman
(1801-1890) memandang suara hati sebagai jalan yang paling tepat untuk memahami
bahwa ada Allah. Bahwa suara hati bicara dengan begitu tak tergoyahkan tanpa
menghiraukan segala macam pertimbangan dan kepentingan kita sendiri, jadi
kemutlakan tuntutannya untuk melakukan apa yang disadari sebagai kewajiban
kita, hanya dapat difahami kalau kita menerima adanya Yang Mutlak yang
menyaksikan usaha kita. Kelihatan bahwa manusia pada dasar otonominya terbuka
bagi Yang Mutlak.[24]
Suara
hati itu takkan ada bila Allah tidak ada. Allah berfirman sebagai Pencipta dan
Pembuat undang-undang. Ia mengingatkan kita dijadikan menurut gambar-Nya dan la
mengingatkan kita, bahwa kehendak-nya seharusnya menjadi hukum (perintah) bagi
hidup kita. Menusia menindas suara Allah ini dengan kelaliman (Rm. I:18).
Tetapi suara hati ini dengan sendirinya menjadi bukti bahwa manusia tidak dapat
lepas dari Allah. Suara hati itu menjadi tanda yang mengingatkan kita pada
gambar Allah yang telah rusak dan menjadi suatu gejala pencederaan anatar manusia
menurut yang seharusnya dan manusai menurut kenyataan yang sebenarnya. Mau tak
mau suara hati itu menjadi "saksi utama melawan kemanusiaan kita yang
jahat".[25]
2.6.Tinjauan
Etika Kristen tentang Peranan Synedesis/ Suara Hati/ Hati Nurani Dalam
Mengambil Tindakan Bunuh Diri).
Menurut pandangan
Kristiani bahwa Allah ikut dialami dan kehadirannya ikut disadari dalam suara
hati. Dalam suara hati. orang beriman mencari kehendak Allah. Dalam suara hati,
manusia menentukan hidupnya sendiri dihadapan Allah. Allah mengenal hati
manusia, kehadiran Allah dalam Kristus menjadi nyata bagi orang beriman dalam
suara hati dan dengan suara hati manusia dapat mengambil keputusan dan
mengambil tindakan. Dari sudut pandangan etis, keputusan dan perbuatan yang
dihasilkan olch suara hati seperti kasih, kebaikan ataupun kejahatan merupakan
penampakan iman manusia itu sendiri. Maka dapat kita lihat bahwa suara hati
adalah perwujudan iman Roma 9:1 menjelaskan bahwa suara hati itu ditentukan Roh
Kudus, maka manusia dalam melakukan tindakan harus benar dan sesuai dengan iman
dan suara hatinya (Rom. 14:5) artinya melalui iman maka manusia itu dalam
melakukan kehendak Allah sebab Roh Kudus berdiam dalam hati orang yang beriman.
Suara hati dapat menjadi kesadaran iman akan All ah setelah suara hati mendapat
terang atau cahaya dari Roh Kudus, sebab Roh Kuduslah yang memperbaharui hati
manusia. Dalam teologi moral aspek etis hati nurani yang lebih langsung
membahas keputusan manusia dari sudut pandang tanggung jawab etis, patut
mendapat perhatian istimewa, tak hanya karena setiap tindakan harus kita
pertanggungjawabkan melainkAn juga karena dampaknya pada pihak lain.[26]
Hati nurani bekerja dalam hidup baik orang Kristen maupun bukan Kristen. Dalam
Roma 2:14-15, Paulus mengatakan bahwa bangsa-bangsa yang tidak memiliki Hukum
Taurat (yaitu para orang yang tidak percaya) menjadi hukum bagi diri mereka
sendiri, dan bahwa hukum ini dimengerti oleh hati nurani mereka. Hati nurani
adalah rasa di dalam diri seseorang yang dikaruniakan Allah kepada setiap
manusia. Hati nurani menuduh manusia, bahkan ketika suatu perbuatan kelihatan
tidak salah secara moral. Ketika Raja Daud memerintahkan diadakan sensus di
Israel, tindakannya secara moral tidak salah. "Tetapi berdebar-debarlah
hati Daud, setelah ia menghitung rakyat, lalu berkatalah Daud kepada Tuhan: Aku
telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, Tuhan, jauhkanlah
kiranya kesalahan hambaMu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh" (2 Sam
24:10). Mengapa tindakannya salah? Allah berbicara kepadanya melalui hati
nuraninya. Walaupun suatu tindakan nampaknya diperkenankan secara hukum dan
secara moral, Allah bisa memaksa hati nurani kita untuk memerintahkan kita
tidak melakukan sesuatu.[27] Sama
hal-nya bunuh diri masih menjadi hal yang membingungkan bagi orang Kristen.
Walaupun secara umum Alkitab dengan jelas menentang pembunuhan diri sendiri,
namun Alkitab belum jelas mempertentangkan beberapa kasus bunuh diri. Dan
beberapa orang Kristen yang dianggap teguh imannya mempunyai pertimbangan bahwa
bunuh diri itu suatu "jalan keluar".Dari ayat-ayat Alkitab, kita
dapat berkesimpulan bahwa Allah menghukum kekal orang-orang yang melakukan
bunuh diri. Dari sekian kisah bunuh diri dalam Alkitab yang paling kita kenal
ialah cerita Saul, Simson, dan Yudas.[28]
Dimana Saul membunuh dirinya karena malu dan menderita di tangan bangsa
Filistin. Karena pada saat Filistin berperang melawan orang Israel, mereka
kalah di hadapan Filistin dan mereka banyak terbunuh. Namun orang Filistin
terus menyerang tentara Israel. Orang Filistin ingin membunuh Saul dan ketiga
orang anaknya. Saul di lukai dengan panah dan tidak dapat mempertahankan diri
maka ia meminta kepada pembawa senjata itu untuk menusuknya dengan pedangnya,
tetapi pembawa senjata itu tidak mau. Kemudian Saul putus asa dan ahirnya
menjatuhkan dirinya ke atas pedangnya, dengan demikian ia melakukan bunuh diri
sendiri. Bangsa Israel menguburkannya dengan hormat sebagai pahlawan perang.
Tidak ada pertentangan tentang bunuh diri (1Samuel 31:1-6).[29] Dimana sebelum suatu tindakan yang
direncanakan dimulai, hati nurani mencoba berkomunikasi kepada kita, tentang
apakah tindakan tersebut benar atau salah. Pada tingkat ini pertempuran berada
di pikiran kita. Hati nurani bergulat dalam keadaan yang agak kacau-balau
dengan macam-macam usul, ulasan, desakan hati dan motivasi. Seberapa kuat ia
berbicara sangat dipengaruhi oleh informasi yang telah dimasukkan ke dalam
fikiran kita dan oleh hal-hal tentang mana kita telah berfikir paling banyak
pada waktu itu. Inilah titik dimana pertempuran untuk kemurnian, moral dan
kejujuran harus dilaksanakan dan dimenangkan. Apa yang disimpan dalam pikiran
sescorang akan scgera menjadi tindakan bila suatu kesempatan muncul. Karena
itu, hati nurani memerlukan suatu kesempatan untuk berbicara scbelum terjadi
suatu tindakan. Selama suatu tindakan sedang dilakukan, hati nurani biasanya
berada pada tingkat pengaruhnya yang paling lemah Kita menjadi begitu terlibat
dalam apa yang sedang kita kerjakan, sehingga kita tidak peka terhadap jerita
hati nurani kita. Hati nurani berbicara paling keras setelah suatu tindakan
diselesaikan pada saat dia menyatakan penilaiannya atas tindakan itu. Hati
nurani kita mendesak kita untuk membuat restitusi atas kerugian atau kerusakan
yang discbabkan oleh tindakan tersebut. Kita dapat menanggapi desakan itu dalam
berbagai cara. Keinginan untuk melarikan diri terjadi secara alamiah bila kita
berbuat dosa dan hati nurani kita berbicara. Kita menghindari kehadiran Allah
sampai kita menaati desakan-desakan dari hati nurani kita. Mempertahankan
persekutuan dengan Allah berhubungan erat dengan menjaga supaya hati nurani
tetap jenih.[30] Orang Kristen percaya bahwa manusia
mempunyai nilai tak terhingga karena di ciptakan oleh Allah. bahkan kasih
manusiawi yang terbesar masih kurang di banding kasih Allah bagi setiap orang.
Dimana orang yang tertekan memerlukan bantuan dan pantas menerima belarasa.
Namun hidup itu suci karena berasal dari Allah. itulah sebabnya kebanyakan
orang Kristen akan mengatakan bahwa bunuh diri itu salah. Alkitab mengatakan
bahwa orang- orang pembunuh, berarti termasuk orang yang membunuh dirinya sendiri akan masuk
kepada api yang menyala- nyala (Wahyu 21:8), kemudian dalam 1 Korintus 3:16-17
meskipun tidak secara jelas dikatakan disana bahwa yang bunuh diri itu akan
masuk neraka, namun jelas di katakana disana jika ada yang membinasakan bait
Allah, maka Allah juga akan membinasakan dia, sebab bait Allah itu adalah kudus
dan bait Allah itu adalah kamu. [31]
Suara hati adalah pemberian Allah kepada
manusia, maka manusia dituntut untuk bertanggungjawab secara pribadi. Sebagai
manusia yang memiliki suara hati maka suara hati manusia tetap takluk kepada
Firman Allah sebagai perwujudan tanggung jawab suara hati. Tanggung jawab
manusia kepada Allah haruslah didasari oleh iman kepada Allah. Iman Kristen
yang merasakan atau meyakini adanya Allah dan melalui suara hatinya sanggup
merasakan tanggung jawab kepada Allah.[32] Dengan demikian, Firman Tuhan juga
menolak akan pandangan bahwa manusia memiliki hak secara individu untuk
menentukan nasib hidupnya sendiri termasuk di dalamnya adalah hak untuk mati (the
right to die). Hidup manusia bukanlah milik manusia sendiri (otonom)
tetapi jelas sekali bahwa hidup manusia adalah milik Allah dan Allah sendiri
yang memiliki hak untuk ‘mencabut’nya. Selain itu, walaupun manusia
memiliki kebebasan, Tuhan juga memberikan kepada manusia tanggung jawab yaitu
bagaimana menggunakan kehidupan yang diberikan oleh-Nya dengan baik dan penuh
tanggung jawab.[33]
Bunuh diri melanggar iman kita kepada-Nya, Karena umumnya bunuh diri
dihubungkan dengan penderitaan dan kesusahan, maka dalam ini orang yang
melakukan bunuh diri tidak mempercayai hidupnya pada Tuhan. Mereka sering
kali merasa bahwa sudah tidak ada lagi harapan di dalam dunia ini bagi masa depan
mereka. Di sisi lain, Allah bagi mereka sudah ‘tidak ada lagi’ karena
mereka tidak mendapatkan pertolongan dari Tuhan. Oleh karena itu, di
dalam kedepresian mereka, mereka mengambil keputusan untuk melakukan bunuh
diri. Hanya saja, tampak bahwa mereka yang melakukan tindakan bunuh diri
tidak sepenuhnya menyerahkan hidup mereka kepada pemeliharaan Tuhan yang hidup
dan mahakuasa. Menurut Bonhoeffer, tindakan bunuh diri adalah tindakan
yang berdosa di hadapan Tuhan karena menunjukkan hidup yang kurang beriman
(Roma 8:28).[34]
Ketika
kita dihadapkan dengan situasi yang konkret, suara hati akan memberitahukan apa
yang harus kita lakukan, yang baik dan benar menurut iman kita. Suara hati dan
iman sama-sama memegang peranan yang sangat penting dalam menghasilkan sebuah
tindakan. Tetapi perlu kita ketahui, suara hati tidaklah sama dengan iman.
Namun suara hati bukanlah semata-mata sebagai kesadaran atau pertimbangan moral
saja, tetapi juga kesadaran praktis akan hubungan dengan Allah dalam bertindak.
Kis. 23:1 Paulus mempersaksikan "Hati nurani yang murni di hadapan
Allah", dalam hal ini kesadaran Paulus menyangkut kematangan iman
dihadapan Allah dan usaha kerasulan yang jujur. Dia berusaha memelihara hati
nurani yang mumi di hadapan Allah dan sesama manusia (Kis. 24:16). Namun
manusia bukan menjadi ukuran atas segala sesuatu, tetapi Allah adalah pusat
kesadaran moral yang memanggil manusia dan dalam Yesus Kristus yang
memerdekakannya untuk berhasrat dan berbuat dengan suara hati yang murni.[35]
III.
Analisa
Penyimar
Manusia
pada hakekatnya diciptakan baik adanya, kelanjutannya ia dibentuk oleh dirinya
dan lingkungannya yang berakibat baik dan buruk. Keberadaannya itu harus
dipertanggungjawabkan kepada dirinya sendiri atas segala tindakannya. Tanggung
jawab manusia yang memiliki suara hati haruslah melihat kepada dirinya sendiri,
sebab apa keputusan dan tindakan manusia itu pasti berakibat pada manusia itu
sendiri. Manusia yang bertanggung jawab atas suara hatinya sendin tidak boleh
mengambil keputusan begitu saja atas dasar pendapat saat itu, melainkan harus
mencari informasi dan pertimbangan yang relevan, terbuka. Tetapi keputusan
sendiri selalu diambil sesuai dengan suara hati kita sebab diri kita sendirilah
yang akan mempertanggung jawabkannya.
Dalam
mempertanggung jawabkan segala tindakan dan perbuatan manusia itu, kasih
merupakan hal yang utama yang ada dalam suara hati manusia. Unsur kasih yang
ada dalam diri manusia menumbuhkan tanggung jawab suara hatinya dalam kehidupan
manusia itu sendiri. Namun suara hatinya juga perlu dipertanggungjawabkan atas
orang lain, karena berdasarkan tindakan dan perbuatan kita memiliki dampak juga
bagi orang lain. Kis. 24:16 disebubutkan, "sebab itu aku senantiasa hidup
dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia" ini menjelaskan
bahwa Paulus mempertanggungjawabkan suara hatinya kepada Allah dan juga orang
lain.
Kita
semua tahu bahwa kita mempunyai hati nurani. Dia senantiasa berbicara dengan
menghakimi kita atas perbuatan-perbuatan salah kita atau memuji kita atas tindakan-tindakan
benar kita. Kita semua mendambakan memiliki hati nurani yang jermih di hadapan
Allah dan manusia. Oleh karena itu kita tidak boleh terlepas dari pandangan
Allah dan didikan-Nya. Kita perlu mendidik serta membinanya agar tindakan kita
tidak menyeleweng. Sebab Allah juga menginginkan hati nurani yang baik tersebut,
dalam I Timotius 1:19 dikatakan bahwa "Beberapa orang telah menolak hati
nuraninya yang murni itu dan karena itu kandaslah iman mereka". Ayat ini
menjadi suatu refleksi bagi kita untuk dapat membina dengan baik suara
hati/hati nurani tersebut. Kita butuh tuntunan Roh Kudus agar tidak jatuh ke
dalam pendengaran akan suara hati yang tidak seturut dengan kehendak Tuhan.
Kita membutuhkan pertolongan serta ajaran yang bersumber dari Allah itu sendiri
sehingga perbuatan kita sesuai dengan norma-norma yang Tuhan kehendaki di dalam
kehidupan kita. Kita tahu bahwa manusia bukanlah milik manusia sendiri tetapi
jelas milik Allah yang dimana Allah sendirilah yang memiliki hak untuk
mengakhiri hidup kita. Bunuh diri berarti melanggar iman kita kepada pencipta
kita, maka orang yang melakukan bunuh diri tidak akan diampuni Allah. Seseorang
yang melakukan bunuh diri sebenarnya factor yang paling banyak di alami oleh
beberapa orang yang telah terjadi itu adalah karena hal keputusasaan yang di
akibatkan karena adanya ketertekanan dalam hidup, dan tidak menghargai hidup
yang telah di berikan Allah. Namun tindakan bunuh diri sangat di tentang oleh
Allah, oleh karena itu tindakan bunuh diri tidak seharusnya di lakukan karena
akan merugikan diri sendiri dimana tindakan bunuh diri tidak akan mengurangi
masalah tetapi sebaliknya akan menambah masalah, karena orang yang melakukan
bunuh diri akan mendapat penghukuman yang berat dari Allah karena sudah melawan
kehendak Allah. Tindakan bunuh diri akan mendapat hukuman yang berat dari Allah
karena sudah merusak bait Allah, karena tubuh adalah bait Allah. Tindakan bunuh
diri tidak seharusnya dilakukan karena bunuh diri merupakan penyangkalan
terhadap Allah, karena siapa yang merusak bait Allah akan di binasakan.
IV.
Kesimpulan
Dari
pemaparan diatas maka dapat disimpulkan bahwasanya Hati Nurani merupakan
kesadaran moral ataupun perasaan yang menyelidiki, bersaksi dan berbicara,
memberikan perintah dan peringatan, serta menghakimi. Allah memberikan Hati
Nurani kepada manusia, dan ini adalah salah satu keunikan yang Allah berikan
kepada manusia dibandingkan makhluk ciptaan lainnya. Hati nurani tetap tidak
pernah mutlak, karena hati nurani tetap adalah ciptaan, dan yang mutlak hanyalah
Allah itu sendiri. Ini mengindikasikan bahwasanya suara hati tidak sama dengan
suara Tuhan, sehingga suara hati tidak bisa luput dari kekeliruan dalam
mengambil tindakan. Bunuh diri itu adalah dosa yang tidak berkenan di hadapan Allah karena melakukan
pemberontakan kepada Allah. Kita
mengetahui bahwa Allah yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah,
oleh karena itu Allah sebenarnya mengetahui apa yang terjadi dalam hidup kita,
Allah mengetahui apa yang menjadi pergumulan dalam hidup kita. Namun Allah juga
melihat sejauh mana iman kita tetap berharap kepada Allah, meskipun banyak
masalah yang di hadapi. Oleh karena itu sebenarnya keputusasaan yang terjadi
bagi diri seseorang sebenarnya karena iman yang lemah yang tidak memiliki
pengharapan kepada Allah. Jadi dari sini dapat kita lihat bahwa tindakan bunuh
diri di tolak oleh etika Kristen. Karena tidak menghargai pemberian Allah,
seharusnya Allah yang memberi dan Allah pula yang berhak untuk mengambilnya.
V.
Daftar
Pustaka
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakart PT. Gramedia Pustraka Umum, 2000.
Barth, Karl, Ethics, New York: The
Seabary Press, 1978.
Bonhoeffer Dietrich, Ethics, New York:
Touchston, 1995
Chang, William, Penganiar Teologi Adoral, Yogyakarte: Kanisius, 2001.
Danes, Simon dan
Crhistoper, Masalah- masalah Moral Sosial
Aktual Dalam Perspektif Iman Kristen, Yogyakarta: Kanisius, 2000 .
Douma, J., Kelakuan yang Bertanggung Jawab, Jakarta: BPK Gung Mulia, 1993.
Elwell, Walter A.,
"conscientia" in Evangelical Dictionary of Theology, Grand
Rapids-Michigan: Baker Book House, 1984.
Gibo,
Aiko, Manusia Tidak Mati, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 1996.
GO O.Cam, Piet, Teologi Moral Dasar, Malang: Dioma, 2007.
H. Rothlisberger, tafsiran Alkitab
1 Samuel, Jakarta:BPK-GM,1983.
http//www.aladokter.com/kenali-faktor-pemicu-dantanda-tanda-bunuh-diri,
diakses pada 11 Desember 2019 pukul
18:30 Wib
Kennedy, Thomas D., Sahabat
Gembala, Bandung: Yayasan Kalam Hidup,1994.
Kieser, J. Berbard, Moral Dasar: Kaitan Iman dan Perbuatan, Yogyakarta: Kanisius, 1987.
Lehmann, Paul L., Ethics in A Christiab Context, New York: Harper Row, Publishing,
1963.
Ludeman, G., Exegetical Dictionary Of The New Testaments, W. J. S.
Poerwardarminta, Kamus BesarBahasa
Indonesia, Folume III, Michigan: Publishing Company Grand Rapids, 1994.
McCartney, D.G., "Dictionary
of The Later New Testamend & Its Developments Martin, Ralph P & Peter
H. David (ed)" .
Palmqust, Stephen, Fondasi Psikologi Parkembangan Menyelami Mimpi, Mencapal Kemalangan Diris, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2005.
Pieree, C.A.,
"conscience" in The New Bible Dictionary, J. D. Douglas (ed), Grand Rapid, Michigan: Wm. B.Eerdmans
Publishing Co, 1962
Poerwandarminta, W. J. S., Kamus Besar Bahara Indonesia, Iakarta:
Balai Pustaka, 1976.
Suseno, Franz Magnis, Etika Dasar, Yogyakarta: Kanisius, 1987.
Verkuyl, J., Etika Kristen Bagian Umum, Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1999.
White, Jerry, Kejujuran Maral & Hati Nurani, Jakarta BPK-GM, 2000.
[1]
Lorens Bagus, Kamus Filsafat
(Jakart PT. Gramedia Pustraka Umum, 2000), 1043.
[2]
W. J. S. Poerwandarminta, Kamus
Besar Bahara Indonesia (Iakarta: Balai Pustaka, 1976), 350.
[3]
Dari sudut pandang inl, bahasa lndonesia memberikan sumbangan
tertentu untuk pengertian kata latin "consclentid". Dalam terjemahan
Indonesia, unsur "hati" lebih ditonjolkan daripada
"pengetahuan", kendati di daiam hati juga terdapat tempat untuk
menyimpan pengertian-pengertian (William Chang, Penganiar Teologi Adoral (Yogyakarte: Kanisius, 2001), 130.
[4]
Lorens
Bagus, Kamus Filsafat, 1043.
[5]
Stephen Palmqust, Fondasi
Psikologi Parkembangan Menyelami Mimpi, Mencapal
Kemalangan Diris (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 102-104.
[6]
Karl Barth, Ethics (New York: The Seabary Press, 1978) 475.
[7]
D.G.McCartney, "Dictionary
Of The Later New Testament & Its Developments Martin Ralph P & Peter H.
David (ed) (England: Intervarsity Press Dpwners Grove, 1997), 353.
[8]
J.Verkuryl, Etika Kristen
Bagian Umum (Jakarta: BPK-GM, 1999), 56.
[9]
G.Ludeman, Exegetical
Dictionary Of The New Testaments, W. J. S. Poerwardarminta, Kamus BesarBahasa Indonesia, Folume III
(Michigan: Publishing Company Grand Rapids, 1994), 301.
[10]
C.A. Pieree, "conscience" in The New Bible Dictionary,
J. D. Douglas (ed) ( Grand Rapid, Michigan: Wm. B.Eerdmans Publishing Co,
1962), 248-249.
[11]
Walter A.Elwell,
"conscientia" in Evangelical Dictionary of Theology (Grand
Rapids-Michigan: Baker Book House, 1984), 267.
[12]
D.G. McCartney, "Dictionary
of The Later New Testamend & Its Developments Martin, Ralph P & Peter
H. David (ed)" 241.
[13]
Paul L. Lehmann, Ethics in A
Christiab Context (New York: Harper Row, Publishing, 1963), 329.
[14]
Jerry White, Kejujuran,
Moral &Hati Nurani (Jakarta:BPK-GM, 2000),15.
[15]
Jerry
White, Kejujuran, Moral &Hati Nurani,
15-16.
[16]
Jerry
White, Kejujuran, Moral &Hati Nurani,
16-17.
[17]
Aiko Gibo, Manusia Tidak Mati, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 1996), 132
[18]
http//www.aladokter.com/kenali-faktor-pemicu-dantanda-tanda-bunuh-diri, diakses
pada 11 Desember 2019 pukul 18:30 Wib
[19] Thomas D. Kennedy, Sahabat Gembala, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup,1994),33
[20]
Franz Magnis Suseno, Etika
Dasar (Yogyakarta: Kanisius, 1987), 52-53.
[21] Franz
Magnis Suseno, Etika Dasar, 76-77.
[22]
Jerry White, Kejujuran Maral
& Hati Nurani, (Jakarta BPK-GM, 2000), 29-31.
[23]
Franz
Magnis Suseno, Etika Dasar, 77-78.
[24]
Franz
Magnis Suseno, Etika Dasar, 78.
[25]
J. Verkuyl, Etika Kristen Bagian Umum, (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1999), 58-59.
[26]
Piet GO O.Cam, Teologi Moral
Dasar, (Malang: Dioma, 2007), 221.
[27]
Jerry White, Kejujran, Moral
&Hati Nurani, 17-18
[29]
H. Rothlisberger, tafsiran Alkitab 1
Samuel, (Jakarta:BPK-GM,1983), 265
[30]
Jerry White, Kejujuran Moral
&Hal Nura, 21-22.
[31]
Simon dan Crhistoper Danes, Masalah-
masalah Moral Sosial Aktual Dalam Perspektif Iman Kristen, (Yogyakarta:
Kanisius, 2000 ), 155-158
[32]
J. Douma, Kelakuan yang
Bertanggung Jawab (Jakarta: BPK Gung Mulia, 1993), 99.
[33]J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta
(Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1966),188
[34]Dietrich Bonhoeffer,
Ethics, (New York: Touchston, 1995),166


Tidak ada komentar:
Posting Komentar