Selasa, 31 Maret 2020

SYNEDESIS DALAM MENGAMBIL TINDAKAN BUNUH DIRI (Suatu Tinjauan Etika Kristen tentang Peranan Synedesis/ Suara Hati Dalam Mengambil Tindakan Bunuh Diri).


SYNEDESIS DALAM MENGAMBIL TINDAKAN BUNUH DIRI
(Suatu Tinjauan Etika Kristen tentang Peranan Synedesis/ Suara Hati Dalam Mengambil Tindakan Bunuh Diri).
I.                   Latar Belakang Masalah
Manusia memiliki tingkah laku yang berbeda-beda ada yang postif dan ada juga yang negatif. Dikotomi tingkah laku manusia yang positif dan yang negatif berorientasi di dalam hati. Shelton mengatakan bahwa perkembangan kematangan suara hati seseorang bukanlah proses yang sederhana. Proses tersebut lebih merupakan tugas seumur hidup dalam keterbukaan dan refleksi diri yang kritis, suatu proses untuk mengaktualisasikan komitmen pribadi di bidang moral dan pencarian terus menerus terhadap kebenaran dan makna yang paling dalam yang didasarkan pada pengalaman hidup. Serta manusia itu dapat bertanggung jawab juga terletak pada hatinya. Tetapi yang kerap sekali menjadi masalah ialah manusia sering diperhadapkan dengan situasi yang sangat sulit dan pada saat itu pula manusia itu harus mengambil keputusan untuk mengambil scbuah tindakan. Dalam situasi yang seperti inilah, maka hati manusia diuji, apakah tindakan tersebut baik atau tidak? Apakah tindakan yang dilakukan itu benar atau salah, apakah seturut dengan kehendak Tuhan? Maka salah satu cara yaitu dengan suara hatinyalah manusia bisa mengambil kepususan dan mengambil suatu tindakan. Maka sebelum mengambil tindakan, suara hati mencoba berkomunikasi dengan kita. Suara hati berbicara paling keras setelah suatu tindakan diselesaikan pada saat dia menyatakan penilaiannya atas tindakan itu. Hal yang perlu diingat bahwa dalam pengambilan keputusan maka hati kita juga harus bisa mengikuti kehendak Allah, sebab melalui Allah sendirilah suara hati kita itu dapat bekerja dengan baik dan mengambil keputusan yang tepat pula dalam bertindak. Yang menjadi pertanyaan bagaimana hal ini bisa terjadi, apakah suara hati itu? Bagaimana dia berfungsi? Bagaimana kita seharusnya menanggapi semua desakannya? apakah suara hati atau suara Tuhan? Oleh karena masalah diatas maka penyeminar mengangkat judul: SYNEDESIS DALAM MENGAMBIL TINDAKAN BUNUH DIRI (Suatu Tinjauan Etika Kristen tentang Peranan Synedesis/ Suara Hati Dalam Mengambil Tindakan Bunuh Diri).
II.                Pembahasan
2.1.Pengertian Suara Hati
2.1.1.      Secara Umum
Dalam bahasa Inggris suara hari disebut conscience dari bahasa Latin con artinya dengan dan scire artinya tahu, dalam bahasa Yunani disebut symedesis. identik diartikan dengan "kesadaran", suara hati dibatasi untuk menunjukkan kesadaran akan benar dan salah dalam batin.[1] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengatakan: hati nurani adalah hati yang telah mendapat cahaya atau terang Tuhan. Kata ini juga dapat diartikan: perasaan hati yang muni dan yang sedalam-dalamnya,[2] dan "suara hati" juga diartikan dengan "kata hati. Secara etimologis, kata "hati" dalam bahasa Indonesia pertama-tama dapat diartikan sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian-pengertian (perasaan-perasaan, dsb).[3] Sehingga suara hati adalah kesadaran moral dalam situasi konkret, artinya kesadaran bahwa situasi itu kita bisa memilih antara melakukan yang benar dan melakukan yang tidak benar dan bahwa kita tidak boleh melakukan yangtidak benar.[4]
Dalam struktur kepribadian menurut teori Sigmund Freud (1856-1939) yang adalah scorang psikeater Autria yang juga peletak dasar-dasar Psikoanalisis. Berdasarkan teorinya tentang struktur kepribadian manusia, suara hati adalah instansi psikis yang otonom dan rasional dalam diri manusia yang disebut superego. Freud menjelaskan struktur kepribadian manusia terdiri dari tiga instansi yakni ld (Es), Ego (lch) dan Superego (Uberich). Dalam Id (Es) manusia diperintah oleh naluri seksual dan hawa nafsu dan Es menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Karena alam sekitar tidak menerima Es itu mewujudkan segala nalurinya, sehingga Es itu menjadi Ich karena ada perintah-perintah dan larangan (terutama orang tua) yang menghalangi usaha libido (naluri) untuk menwujudkan diri. Maka Ich (Ego) mulai menyamakan diri dengan zat-zat dari luar. Itu sebabnya dalam Ich timbul suatu hal yang mengatur kelakukannya yaitu uber-lch yang mengkritik segala kelakuan dan yang menghukum dengan hati nuran yang baik, ia merupakan lambang dari moral yang berlaku. Superego berasal dari pembatinan, perintah-perintah, Iarangan-larangan alau ideologi, superego berkembang menjadi apa yang disebut nurani (conscience), pengertia akil balik tentang apa yang benar dan apa yang salah, yang meliputi kecenderungan untuk merasa bersalah bilamana suara hati dilanggar.[5]
2.1.2.      Menurut Tokoh[6]
1.      Karl Barth
Karl Barth mengatakan syn-eidesis yaitu pemahaman kita bukan tentang yang sesuai dengan praduga kita melainkan tentang bahwa Allah sendirilah yang dapat mengetahui apakah manusia itu baik, karena Dialah pemberi perintah dan hakim tentang pelaksanaan perintah itu, yaitu tentang tindakan yang baik atau jahat yang aku akan atau telah komitmenkan. Suara hati kita itu baik jika itu bersumber dari Allah, suara hati yang dapat mengetahui kehendak Allah adalah suara hati yang taat kepada Firman Allah dan Roh Allah (I Kor 2:11).
2.      Marthin Luther
Marthin Luther dalam memahami suara hati menghubungkannys dengan hukum alam, lex nature, nahural law dan dapat diterjemahlkan sebagai suara hati (Rom. 2:15) yang merupakan hukum ilahi yang ditanamkan Allah dalam kesadaran manusia. Ia menghubungkan suara hati dengan iman, sebab suara hati merupakan suatu kesadaran akan kewajiban dan permohonan keadilan dalam suatu persetujuan, termasuk dalam pengambilan keputusan etis. Suara hati muncul karena kita mengimani sesuatu yang baik dan yang jahat. Imanlah yang membawa kita kepada kebenaran yang adalah berasal dari Allah.
3.      Johanes Calvin
Suara hati adalah pengantara antara Allah dan manusia, melalui suara hati Allah berbicara kepada manusia tentang kesalahan yang telah diperbuatnya dan mengajaknya supaya mau mengakui kesalahannya tersebut serta suara hati mengacu kepada Allah.
2.1.3.      Menurut Alkitab
2.1.3.1.Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama suara hati diuraikan dan diidentikan dengan kata "hati". Apa yang diketahui manusia tentang hati tidaklah seakrab dan seintim apa yang diketahui manusia melalui suara hati. Suara hati berbicara tentang satu pandangan internal sedangkan hati adalah suatu kesensirifan (Ams 23:7; UI 30:14; 6:8; Mzm 14:1; Mat 5:8; Kej 6:5; Im 26:41; UI 30:6, Yeh 11:19).[7] Dalam Perjanjian Lama istilah hati dapat mempunyai arti yang lebih luas daripada istilah suara hati. Dalam 1 Raja-raja 2:44, Raja Salomo berkata kepada Simei, bahwa hati Simel pun mengetahui (bersama-sama) mengetahui segala kejahatan yang diperbuatnya kepada Daud.[8]
2.1.3.2.Perjanjian Baru
Istilah yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk suara hati ialah "synedesis" (Rm 2:15). Kata dasar adalah "synoida" yaitu pengetahuan manusia tentang sesuatu dengan kata lain disebut sebagai kesadaran moral.[9] Atau yang digunakan dalam susunan khusus "hauto syne idenal" yang berarti berbagi pengetahuan dengan seseorang (I Kor 4:4).[10] Istilah suara hati yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani, yaitu "synedesis". Kata ini dibentuk oleh dua kata yaitu: sym artinya: bersama-sama dan eidenai artinya: mengetahui, yang berarti mengetahui bersama, atau mengetahui bersama dengan seseorang.[11] Istilah Perjanjian Baru "synedesis" yang berarti kesadaran manusia tentang kualitas etis dari suatu tindakan. Dalam Perjanjian Baru kata ini diambil dari terminologi etis Yunani yang juga berhubungan dengan konsep PL tentang hati dimana kesadaran etis dalam Alkitab selalu terikat dengan pengetahuan tentang Allah.[12] Secara struktur "synedesis" berhubungan dengan suatu perintah yang terdapat dalam diri manusia secara intristik. Perintah-perintah ini diberikan oleh Allah sebagai pemerintah alam semesta, itu lebih menunjuk kepada tindakan-tindakan yang lebih khusus dan tindakan-tindakan pada masa lampau dan akhirnya fungsi suara hati adalah untuk memberikan suatu penghakiman.[13]
2.2.Fungsi Suara Hati
2.2.1.      Hati Nurani Turut Bersaksi
Paulus berkata ada suatu hukum dalam diri manusia yang mencerminkan hukum Allah dan bahwa hukum itu "tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi". Hati nurani "turut bersaksi" antara suatu tindakan lahiriah dan hukum di dalam diri orang tersebut. Seorang saksi adalah orang yang menceritakan apa yang telah dia lihat dan apa yang dia lihat atau dengar, dan hati nurani adal ah saksi dari segala tindakan dan fikiran kita. Hati nurani anda turut bersaksi tentang tindakan-tindakan anda sekarang juga. Bila anda mengingat kembali semua tindakan anda selama beberapa hari yang lalu, apa yang dikatakan oleh hati nurani anda? Hati nurani anda sedang mencoba memberi kesaksian yang tepat tentang bagaimana anda memenuhi standar-standar Allah.[14]
2.2.2.      Hati nurani Menuduh atau Memaafkan
Paulus mengatakan bahwa pikiran orang-orang yang tidak percaya "saling menuduh atau saling membela" (Rm. 2:15). Kebanyakan orang membalas dengan amarah atau berusaha membela diri mereka bila mereka dituduh. Jadi, wajar kita berontak melawan tuduhan dari hati nurani kita. Hal ini sungguh tidak enak, karena amarah kita sebenarmya melawan diri kita sendiri. Tetapi di pihak lain, hati nurani kita dapat juga memaafkan atau membela apa yang telah kita lakukan. Orang-orang lain barangkali mempertanyakan tindakan tertentu kita. Tetapi hati nurani kita kan memberi kita kedamaian dalam hati dan fikiran kita bahwa tindakan kita benar, apabila tindakan itu memang benar.[15]
2.2.3.      Hati Nurani Menilai Tindakan-tindakan kita
Hallesby mengatakan hati nurani tidak dapat bertindak, melainkan hanya dapat menyampaikan penilaian. Hati nurani itu membandingkan perbuatan kita atau kata-kata kita atau fikiran kita atau seluruh keberadaan kita dengan hukum moral, dengan kehendak Allah. Dan kemudian hati nurani itu mengucapkan suatu penilaian, yaitu dia memutuskan apakah kita seturut atau bertentangan dengan kehendak Allah.[16]
2.3. Pengertian Bunuh Diri
Dapat di definisikan bahwa bunuh diri sebagai sebuah perilaku pemusnahan secara sadar yang di tujukan pada diri sendiri oleh seorang individu yang memandang bunuh diri sebagai solusi terbaik dari sebuah isu atau masalah.[17] Bunuh diri merupakan cara yang di lakukan oleh seseorang untuk mengakhiri hidupnya, mereka memutuskan bunuh diri dengan berbagai cara misalnya: gantung diri,minum obat- obatan sampai over dosis, menegak racun, atau dengan senjata. Ada tanda yang biasanya ditunjukkan seseorang yang akan melakukan percobaan bunuh diri, beberapa diantaranya adalah cemas, merasa bersalah, atau membuat surat wasiat.[18]
2.3.1.      Pandangan Alkitab Tentangg Bunuh diri
Dalam PB juga terdapat seseorang di Alkitab yang memperpendek hidupnya dengan cara bunuh diri. Dalam Matius 27:1-10 dikatakan bahwa Yudas Iskariot menggantung dirinya sendiri. Hukuman mati atas Yesus Kristus dan penyerahanNya kepada Pilatus telah membuka mata Yudas. Yudas telah menjual Yesus Kristus kepada Pilatus. Ia menyesal ia menyadari bahwa ia telah bersalah namun penyesalan itu tidak dapat meniadakan atau menghentkan penghukuman atas Yesus. Maka Yudas mengembalikan uang 30 perak kepada imam- imam tua- tua karena yudas mengharapkan tindakan itu untuk meniadakan transaksinya untuk menjual Yesus. Yudas mengaku “aku telah berdosa karena menyerahkan dara orang yang tidak bersalah” namun ia harus menanggung kesalahannya sendiri, ia melemparkan uang perak itu kedalam Bait Suci lalu pergi menggantung dirinya sendiri (Mat. 27:5). Ia memilih sendiri untuk mengakhiri hidupnya di sebuah pohon karena penyesalan, penyesalan disini bukan dalam arti bertobat tetapi karena marah terhadap dirinya sendiri. Dari cerita Yudas yang bunuh diri karena penyesalan yang mendalam, Alkitab pun tidak mengomentarinya. Selain itu Teolog-teolog Kristen juga menghadapi masalah yang rumit mengenai kisah bunuh dirinya Simson (. Agustinus dan Thomas Aquinas bergumul dengan kasus ini dan menyimpulkan bahwa bunuh diri Simson dibenarkan sebagai tindakan kepatuhannya terhadap perintah langsung dari Allah. Gereja mempunyai sejarah yang panjang tentang bunuh diri. Pendapat yang mengatakan bunuh diri adalah dosa yang tak terampuni juga agak sulit dilacak kebenarannya. Di antara pemimpin-pemimpin gereja terdahulu, Agustinus adalah tokoh yang paling menonjol dan berpengaruh dalam masalah bunuh diri. Sinode gereja terdahulu menyatakan bahwa warisan dan persembahan dari mereka yang melakukan bunuh diri atau mencoba bunuh diri tidak boleh diterima; sepanjang periode pertengahan cara penguburan Kristen yang benar tidak berlaku bagi mereka yang bunuh diri. Thomas Aquinas yakin bahwa bunuh diri, tanpa pertobatan akhir, adalah dosa yang berat. Dante menempatkan mereka yang bunuh diri dalam lingkaran ke-7 neraka.[19]
2.4.Menentukan Tindakan dengan Suara Hati
Suara hati perlu dididik. Mengapa suara hati perlu dididik? Suara hati kita sangat dipengaruhi oleh perasaan moral kita yang terbentuk oleh pengaruh pendidikan informal dan formal yang telah kita terima, dan itu berarti oleh pandangan-pandangan moral lingkungan kita, lebih-lebih waktu kita masih muda. Begitu pula kita dan dengan demikian kita mengembangkan kebijaksanaan-kebijaksanaan dan sikap-sikap moral mempengaruhi suara hati kita. Dengan mendidik suara hati kita berusaha untuk membebaskan kita dari prasangka-prasangka kita itu, agar kita dapat mengambil jarak terhadapnya dan menilainya dengan kritis. Melalui suara hati manusia memiliki kesadaran tentang apa yang menjadi tanggung jawab dan kewajibannya. Suara hati adalah kesadaran dalam batin manusia yang berkewajiban mutlak untuk selalu mengkehendaki apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya, dan dari kehendak itulah tergantung kebaikannya sebagai manusia dan bahwa hanya dia sendirilah dapat dan berhak untuk mengetahui apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya itu.[20]
Mendidik suara hati berarti bahwa kita terus menerus bersikap terbuka, mau belajar, mau mengerti seluk-beluk masalah-masalah yang kita hadapi, mau memahami pertimbangan-pertimbangan etis yang tepat dan seperlunya memperbaharui pandagan- pandangan kita. Dengan demikian kesadaran moral kita akan berkembang terus, jadi tidak akan membeku pada titik perkembangan tertentu. Usaha mendidik suara hati menuntut keterbukaan kita dan keinginan kita untuk belajar. Dua syarat ini memang tidak hanya penting bagi pendidikan suara hati saja, melainkan bagi perkembangan kepribadian kita pada umumnya. Kita harus terbuka dalam arti bahwa kita tidak pernah seakan-akan sudah jadi, pasti, tak terubahkan, mati secara rohani dan intelektual. Tanda keterbukaan adalah keinginan untuk belajar.[21]
Sampai ke tingkat ini kita telah melihat beberapa persoalan dalam mengetahui kapan Anda harus mengikuti hati nurani Anda:
1.      Hati nurani dapat menjadi tidak peka atau hangus dan oleh karena itu tidak mampu memberikan petunjuk.
2.      Dia dapat menjadi terlalu lembut atau lemah dan oleh karena itu tidak dapat dipercaya.
3.      Dia bukan pemegang kuasa yang mutlak olch karena dia ditentukan oleh lataar belakang dan pengajaran.
4.      Hati nurani saja tidak cukup, melainkan harus dilengkapi dengan penganuh dari Firman Allah, Roh Kudus dan nasihat yang kudus.
Karena hati nurani saja tidak cukup, kita harus mengambil langkah - langkah lertentu unfuk menguji benar atau tidaknya desakan-desakannya.

Text Box: Atas kemauan sendiriText Box: Salah Analisa pikiranText Box: Hati Nurani/
Suara Hati
Text Box: Tindakan, Perkataan, pikiran                                                                                                                                 











Text Box: Benar periksa Alkitabiah, nasehat
Text Box: Berdasarkan Iman






 




1.      Mula-mula kita melakukan suatu tindakan, mengucapkan sepatah kata memikirkan suatu gagasan, atau menyimpan suatu sikap. Atau kalau tidak begitu, kita hanya sekedar memikirkan salah satu dari tindakan-tindakan ini.
2.       Hati nurani kemudian berbicara, memberikan penilainnya mengenai apa yang benar atau salah dalam keadaan itu.
3.      Pada tingkat ini barang kali kita tergoda untuk menganalisa keadaan dengan pikiran kita dan mengambil tindakan dengan kemauan kita. Ini adalah pendekatan yang salah. Langkah berikutnya ialah, kita harus memeriksa Alkitab untuk mengetahui apa yang dikatakannya tentang masalah tersebut. Bahkan bila Alkitab tidak berbicara secara langsung tentang hal tersebut, kita perlu membaca dan mempelajari Alkitab secara teratur sehingga Roh Kudus dapat menggunakannya untuk membimbing kita.
4.       Kita seharusnya mencari nasihat dari teman yang saleh jika kita tidak mempunyai bimbingan yang jelas pada tingkat ini.
5.      Akhimya, kita harus bertindak atas dasar iman. "Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa" (Rm 14:23).
Untuk menanggapi secara benar apa yang hati nurani kita katakan, barangkali kita perlu membayar ganti rugi pada seseorang karena apa yang telah kita lakukan, atau mengaku sesuatu, yakni pertama-tama kepada Allah, kemudian kepada orang-orang lain. Atau barangkali kita perlu menghentikan atau mulal mengerjakan sesuatu, seperti misalnya mengendalikan lidah kita atau mulai membantu lebih banyak di rumah. Barangkali kita perlu mengubah suatu sikap terhadap sescorang atau situasi, atau mengampuni seseorang untuk apa yang telah dilakukannya terhadap kita. Walaupun dia tidak minta pengampunan kita. Bagaimana juga, untuk mempunyai hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia. (Kis 24:16), kita harus melakukan apa pun yang perlu.[22]
2.5.Perbedaan antara Suara Hati dengan Suara Tuhan
Apakah suara hati sama dengan susra Tuhan? Jawaban mempunyai dua bagian. Pertama, karena suara hati dapat keliru, sedangkan Allah tidak dapat keliru, maka sudah jelaslah bahwa suara hati tidak begitu saja boleh disamakan dengan suara Allah. Suara hati dengan amat jelas mencerminkan segala pengertian dan prasangka kita sendiri, sehingga jelas merupakan suara kita sendiri. Tetapi dalam pertanyaan itu termuat sesuatu yang betul. Dalam suara hati memang ada unsur yang tidak dapat diterangkan dari realitas kita manusia saja, yaitu kemutlakannya. Suara hati memuat kesadaran bahwa apa yang disadarinya sebagai kewajiban mutlak harus kita lakukan. Yang mutlak hanya satu yaitu Allah. Jadi kemutlakan suara hati menunjuk pada Allah.[23]
Suara hati memang merupakan kesadaran kita. Dengan segala keanchan dan keterbatasan kita masing-masing Dan oleh karena itu suara hati masing-masing tidak mutlak benar. Lalu mengapa kita sadar bahwa kita mutlak terikat olehnya? Karena penilaiannya jadi penilaian kita sendini, seakan-akan diadakan di hadapan takhta Allah. Seakan-akan dengan Allah sebagai saksi. Sehingga meskipun penilaian kita barangkali keliru, namun jelas jujur dan sungguh-sungguh. Karena kita melakukannya dalam kesadaran bahwa Allah menyaksikannya. Jadi dalam fenomena suara hati kita betul-betul memiliki suatu pengalaman tentang transendensi, tentang Dia yang mengatasi segala ciptaan.
Kita tidak melihat Tuhan secara angsung. Itu dalam kehidupan ini tidak mungkin. Tetapi kita seakan-akan merasakannya. Oleh karena itu Kardinal John Henry Newman (1801-1890) memandang suara hati sebagai jalan yang paling tepat untuk memahami bahwa ada Allah. Bahwa suara hati bicara dengan begitu tak tergoyahkan tanpa menghiraukan segala macam pertimbangan dan kepentingan kita sendiri, jadi kemutlakan tuntutannya untuk melakukan apa yang disadari sebagai kewajiban kita, hanya dapat difahami kalau kita menerima adanya Yang Mutlak yang menyaksikan usaha kita. Kelihatan bahwa manusia pada dasar otonominya terbuka bagi Yang Mutlak.[24]
Suara hati itu takkan ada bila Allah tidak ada. Allah berfirman sebagai Pencipta dan Pembuat undang-undang. Ia mengingatkan kita dijadikan menurut gambar-Nya dan la mengingatkan kita, bahwa kehendak-nya seharusnya menjadi hukum (perintah) bagi hidup kita. Menusia menindas suara Allah ini dengan kelaliman (Rm. I:18). Tetapi suara hati ini dengan sendirinya menjadi bukti bahwa manusia tidak dapat lepas dari Allah. Suara hati itu menjadi tanda yang mengingatkan kita pada gambar Allah yang telah rusak dan menjadi suatu gejala pencederaan anatar manusia menurut yang seharusnya dan manusai menurut kenyataan yang sebenarnya. Mau tak mau suara hati itu menjadi "saksi utama melawan kemanusiaan kita yang jahat".[25]
2.6.Tinjauan Etika Kristen tentang Peranan Synedesis/ Suara Hati/ Hati Nurani Dalam Mengambil Tindakan Bunuh Diri).
Menurut pandangan Kristiani bahwa Allah ikut dialami dan kehadirannya ikut disadari dalam suara hati. Dalam suara hati. orang beriman mencari kehendak Allah. Dalam suara hati, manusia menentukan hidupnya sendiri dihadapan Allah. Allah mengenal hati manusia, kehadiran Allah dalam Kristus menjadi nyata bagi orang beriman dalam suara hati dan dengan suara hati manusia dapat mengambil keputusan dan mengambil tindakan. Dari sudut pandangan etis, keputusan dan perbuatan yang dihasilkan olch suara hati seperti kasih, kebaikan ataupun kejahatan merupakan penampakan iman manusia itu sendiri. Maka dapat kita lihat bahwa suara hati adalah perwujudan iman Roma 9:1 menjelaskan bahwa suara hati itu ditentukan Roh Kudus, maka manusia dalam melakukan tindakan harus benar dan sesuai dengan iman dan suara hatinya (Rom. 14:5) artinya melalui iman maka manusia itu dalam melakukan kehendak Allah sebab Roh Kudus berdiam dalam hati orang yang beriman. Suara hati dapat menjadi kesadaran iman akan All ah setelah suara hati mendapat terang atau cahaya dari Roh Kudus, sebab Roh Kuduslah yang memperbaharui hati manusia. Dalam teologi moral aspek etis hati nurani yang lebih langsung membahas keputusan manusia dari sudut pandang tanggung jawab etis, patut mendapat perhatian istimewa, tak hanya karena setiap tindakan harus kita pertanggungjawabkan melainkAn juga karena dampaknya pada pihak lain.[26] Hati nurani bekerja dalam hidup baik orang Kristen maupun bukan Kristen. Dalam Roma 2:14-15, Paulus mengatakan bahwa bangsa-bangsa yang tidak memiliki Hukum Taurat (yaitu para orang yang tidak percaya) menjadi hukum bagi diri mereka sendiri, dan bahwa hukum ini dimengerti oleh hati nurani mereka. Hati nurani adalah rasa di dalam diri seseorang yang dikaruniakan Allah kepada setiap manusia. Hati nurani menuduh manusia, bahkan ketika suatu perbuatan kelihatan tidak salah secara moral. Ketika Raja Daud memerintahkan diadakan sensus di Israel, tindakannya secara moral tidak salah. "Tetapi berdebar-debarlah hati Daud, setelah ia menghitung rakyat, lalu berkatalah Daud kepada Tuhan: Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, Tuhan, jauhkanlah kiranya kesalahan hambaMu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh" (2 Sam 24:10). Mengapa tindakannya salah? Allah berbicara kepadanya melalui hati nuraninya. Walaupun suatu tindakan nampaknya diperkenankan secara hukum dan secara moral, Allah bisa memaksa hati nurani kita untuk memerintahkan kita tidak melakukan sesuatu.[27] Sama hal-nya bunuh diri masih menjadi hal yang membingungkan bagi orang Kristen. Walaupun secara umum Alkitab dengan jelas menentang pembunuhan diri sendiri, namun Alkitab belum jelas mempertentangkan beberapa kasus bunuh diri. Dan beberapa orang Kristen yang dianggap teguh imannya mempunyai pertimbangan bahwa bunuh diri itu suatu "jalan keluar".Dari ayat-ayat Alkitab, kita dapat berkesimpulan bahwa Allah menghukum kekal orang-orang yang melakukan bunuh diri. Dari sekian kisah bunuh diri dalam Alkitab yang paling kita kenal ialah cerita Saul, Simson, dan Yudas.[28] Dimana Saul membunuh dirinya karena malu dan menderita di tangan bangsa Filistin. Karena pada saat Filistin berperang melawan orang Israel, mereka kalah di hadapan Filistin dan mereka banyak terbunuh. Namun orang Filistin terus menyerang tentara Israel. Orang Filistin ingin membunuh Saul dan ketiga orang anaknya. Saul di lukai dengan panah dan tidak dapat mempertahankan diri maka ia meminta kepada pembawa senjata itu untuk menusuknya dengan pedangnya, tetapi pembawa senjata itu tidak mau. Kemudian Saul putus asa dan ahirnya menjatuhkan dirinya ke atas pedangnya, dengan demikian ia melakukan bunuh diri sendiri. Bangsa Israel menguburkannya dengan hormat sebagai pahlawan perang. Tidak ada pertentangan tentang bunuh diri (1Samuel 31:1-6).[29] Dimana sebelum suatu tindakan yang direncanakan dimulai, hati nurani mencoba berkomunikasi kepada kita, tentang apakah tindakan tersebut benar atau salah. Pada tingkat ini pertempuran berada di pikiran kita. Hati nurani bergulat dalam keadaan yang agak kacau-balau dengan macam-macam usul, ulasan, desakan hati dan motivasi. Seberapa kuat ia berbicara sangat dipengaruhi oleh informasi yang telah dimasukkan ke dalam fikiran kita dan oleh hal-hal tentang mana kita telah berfikir paling banyak pada waktu itu. Inilah titik dimana pertempuran untuk kemurnian, moral dan kejujuran harus dilaksanakan dan dimenangkan. Apa yang disimpan dalam pikiran sescorang akan scgera menjadi tindakan bila suatu kesempatan muncul. Karena itu, hati nurani memerlukan suatu kesempatan untuk berbicara scbelum terjadi suatu tindakan. Selama suatu tindakan sedang dilakukan, hati nurani biasanya berada pada tingkat pengaruhnya yang paling lemah Kita menjadi begitu terlibat dalam apa yang sedang kita kerjakan, sehingga kita tidak peka terhadap jerita hati nurani kita. Hati nurani berbicara paling keras setelah suatu tindakan diselesaikan pada saat dia menyatakan penilaiannya atas tindakan itu. Hati nurani kita mendesak kita untuk membuat restitusi atas kerugian atau kerusakan yang discbabkan oleh tindakan tersebut. Kita dapat menanggapi desakan itu dalam berbagai cara. Keinginan untuk melarikan diri terjadi secara alamiah bila kita berbuat dosa dan hati nurani kita berbicara. Kita menghindari kehadiran Allah sampai kita menaati desakan-desakan dari hati nurani kita. Mempertahankan persekutuan dengan Allah berhubungan erat dengan menjaga supaya hati nurani tetap jenih.[30] Orang Kristen percaya bahwa manusia mempunyai nilai tak terhingga karena di ciptakan oleh Allah. bahkan kasih manusiawi yang terbesar masih kurang di banding kasih Allah bagi setiap orang. Dimana orang yang tertekan memerlukan bantuan dan pantas menerima belarasa. Namun hidup itu suci karena berasal dari Allah. itulah sebabnya kebanyakan orang Kristen akan mengatakan bahwa bunuh diri itu salah. Alkitab mengatakan bahwa orang- orang pembunuh, berarti termasuk orang  yang membunuh dirinya sendiri akan masuk kepada api yang menyala- nyala (Wahyu 21:8), kemudian dalam 1 Korintus 3:16-17 meskipun tidak secara jelas dikatakan disana bahwa yang bunuh diri itu akan masuk neraka, namun jelas di katakana disana jika ada yang membinasakan bait Allah, maka Allah juga akan membinasakan dia, sebab bait Allah itu adalah kudus dan bait Allah itu adalah kamu. [31]
 Suara hati adalah pemberian Allah kepada manusia, maka manusia dituntut untuk bertanggungjawab secara pribadi. Sebagai manusia yang memiliki suara hati maka suara hati manusia tetap takluk kepada Firman Allah sebagai perwujudan tanggung jawab suara hati. Tanggung jawab manusia kepada Allah haruslah didasari oleh iman kepada Allah. Iman Kristen yang merasakan atau meyakini adanya Allah dan melalui suara hatinya sanggup merasakan tanggung jawab kepada Allah.[32] Dengan demikian, Firman Tuhan juga menolak akan pandangan bahwa manusia memiliki hak secara individu untuk menentukan nasib hidupnya sendiri termasuk di dalamnya adalah hak untuk mati (the right to die).  Hidup manusia bukanlah milik manusia sendiri (otonom) tetapi jelas sekali bahwa hidup manusia adalah milik Allah dan Allah sendiri yang memiliki hak untuk ‘mencabut’nya.  Selain itu, walaupun manusia memiliki kebebasan, Tuhan juga memberikan kepada manusia tanggung jawab yaitu bagaimana menggunakan kehidupan yang diberikan oleh-Nya dengan baik dan penuh tanggung jawab.[33] Bunuh diri melanggar iman kita kepada-Nya, Karena umumnya bunuh diri dihubungkan dengan penderitaan dan kesusahan, maka dalam ini orang yang melakukan bunuh diri tidak mempercayai hidupnya pada Tuhan.  Mereka sering kali merasa bahwa sudah tidak ada lagi harapan di dalam dunia ini bagi masa depan mereka.  Di sisi lain, Allah bagi mereka sudah ‘tidak ada lagi’ karena mereka tidak mendapatkan pertolongan dari Tuhan.  Oleh karena itu, di dalam kedepresian mereka, mereka mengambil keputusan untuk melakukan bunuh diri.  Hanya saja, tampak bahwa mereka yang melakukan tindakan bunuh diri tidak sepenuhnya menyerahkan hidup mereka kepada pemeliharaan Tuhan yang hidup dan mahakuasa.  Menurut Bonhoeffer, tindakan bunuh diri adalah tindakan yang berdosa di hadapan Tuhan karena menunjukkan hidup yang kurang beriman (Roma 8:28).[34]
Ketika kita dihadapkan dengan situasi yang konkret, suara hati akan memberitahukan apa yang harus kita lakukan, yang baik dan benar menurut iman kita. Suara hati dan iman sama-sama memegang peranan yang sangat penting dalam menghasilkan sebuah tindakan. Tetapi perlu kita ketahui, suara hati tidaklah sama dengan iman. Namun suara hati bukanlah semata-mata sebagai kesadaran atau pertimbangan moral saja, tetapi juga kesadaran praktis akan hubungan dengan Allah dalam bertindak. Kis. 23:1 Paulus mempersaksikan "Hati nurani yang murni di hadapan Allah", dalam hal ini kesadaran Paulus menyangkut kematangan iman dihadapan Allah dan usaha kerasulan yang jujur. Dia berusaha memelihara hati nurani yang mumi di hadapan Allah dan sesama manusia (Kis. 24:16). Namun manusia bukan menjadi ukuran atas segala sesuatu, tetapi Allah adalah pusat kesadaran moral yang memanggil manusia dan dalam Yesus Kristus yang memerdekakannya untuk berhasrat dan berbuat dengan suara hati yang murni.[35]
III.             Analisa Penyimar
Manusia pada hakekatnya diciptakan baik adanya, kelanjutannya ia dibentuk oleh dirinya dan lingkungannya yang berakibat baik dan buruk. Keberadaannya itu harus dipertanggungjawabkan kepada dirinya sendiri atas segala tindakannya. Tanggung jawab manusia yang memiliki suara hati haruslah melihat kepada dirinya sendiri, sebab apa keputusan dan tindakan manusia itu pasti berakibat pada manusia itu sendiri. Manusia yang bertanggung jawab atas suara hatinya sendin tidak boleh mengambil keputusan begitu saja atas dasar pendapat saat itu, melainkan harus mencari informasi dan pertimbangan yang relevan, terbuka. Tetapi keputusan sendiri selalu diambil sesuai dengan suara hati kita sebab diri kita sendirilah yang akan mempertanggung jawabkannya.
Dalam mempertanggung jawabkan segala tindakan dan perbuatan manusia itu, kasih merupakan hal yang utama yang ada dalam suara hati manusia. Unsur kasih yang ada dalam diri manusia menumbuhkan tanggung jawab suara hatinya dalam kehidupan manusia itu sendiri. Namun suara hatinya juga perlu dipertanggungjawabkan atas orang lain, karena berdasarkan tindakan dan perbuatan kita memiliki dampak juga bagi orang lain. Kis. 24:16 disebubutkan, "sebab itu aku senantiasa hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia" ini menjelaskan bahwa Paulus mempertanggungjawabkan suara hatinya kepada Allah dan juga orang lain.
Kita semua tahu bahwa kita mempunyai hati nurani. Dia senantiasa berbicara dengan menghakimi kita atas perbuatan-perbuatan salah kita atau memuji kita atas tindakan-tindakan benar kita. Kita semua mendambakan memiliki hati nurani yang jermih di hadapan Allah dan manusia. Oleh karena itu kita tidak boleh terlepas dari pandangan Allah dan didikan-Nya. Kita perlu mendidik serta membinanya agar tindakan kita tidak menyeleweng. Sebab Allah juga menginginkan hati nurani yang baik tersebut, dalam I Timotius 1:19 dikatakan bahwa "Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu dan karena itu kandaslah iman mereka". Ayat ini menjadi suatu refleksi bagi kita untuk dapat membina dengan baik suara hati/hati nurani tersebut. Kita butuh tuntunan Roh Kudus agar tidak jatuh ke dalam pendengaran akan suara hati yang tidak seturut dengan kehendak Tuhan. Kita membutuhkan pertolongan serta ajaran yang bersumber dari Allah itu sendiri sehingga perbuatan kita sesuai dengan norma-norma yang Tuhan kehendaki di dalam kehidupan kita. Kita tahu bahwa manusia bukanlah milik manusia sendiri tetapi jelas milik Allah yang dimana Allah sendirilah yang memiliki hak untuk mengakhiri hidup kita. Bunuh diri berarti melanggar iman kita kepada pencipta kita, maka orang yang melakukan bunuh diri tidak akan diampuni Allah. Seseorang yang melakukan bunuh diri sebenarnya factor yang paling banyak di alami oleh beberapa orang yang telah terjadi itu adalah karena hal keputusasaan yang di akibatkan karena adanya ketertekanan dalam hidup, dan tidak menghargai hidup yang telah di berikan Allah. Namun tindakan bunuh diri sangat di tentang oleh Allah, oleh karena itu tindakan bunuh diri tidak seharusnya di lakukan karena akan merugikan diri sendiri dimana tindakan bunuh diri tidak akan mengurangi masalah tetapi sebaliknya akan menambah masalah, karena orang yang melakukan bunuh diri akan mendapat penghukuman yang berat dari Allah karena sudah melawan kehendak Allah. Tindakan bunuh diri akan mendapat hukuman yang berat dari Allah karena sudah merusak bait Allah, karena tubuh adalah bait Allah. Tindakan bunuh diri tidak seharusnya dilakukan karena bunuh diri merupakan penyangkalan terhadap Allah, karena siapa yang merusak bait Allah akan di binasakan.
IV.             Kesimpulan
Dari pemaparan diatas maka dapat disimpulkan bahwasanya Hati Nurani merupakan kesadaran moral ataupun perasaan yang menyelidiki, bersaksi dan berbicara, memberikan perintah dan peringatan, serta menghakimi. Allah memberikan Hati Nurani kepada manusia, dan ini adalah salah satu keunikan yang Allah berikan kepada manusia dibandingkan makhluk ciptaan lainnya. Hati nurani tetap tidak pernah mutlak, karena hati nurani tetap adalah ciptaan, dan yang mutlak hanyalah Allah itu sendiri. Ini mengindikasikan bahwasanya suara hati tidak sama dengan suara Tuhan, sehingga suara hati tidak bisa luput dari kekeliruan dalam mengambil tindakan. Bunuh diri itu adalah dosa yang tidak  berkenan di hadapan Allah karena melakukan pemberontakan kepada Allah.  Kita mengetahui bahwa Allah yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah, oleh karena itu Allah sebenarnya mengetahui apa yang terjadi dalam hidup kita, Allah mengetahui apa yang menjadi pergumulan dalam hidup kita. Namun Allah juga melihat sejauh mana iman kita tetap berharap kepada Allah, meskipun banyak masalah yang di hadapi. Oleh karena itu sebenarnya keputusasaan yang terjadi bagi diri seseorang sebenarnya karena iman yang lemah yang tidak memiliki pengharapan kepada Allah. Jadi dari sini dapat kita lihat bahwa tindakan bunuh diri di tolak oleh etika Kristen. Karena tidak menghargai pemberian Allah, seharusnya Allah yang memberi dan Allah pula yang berhak untuk mengambilnya.

V.                Daftar Pustaka
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakart PT. Gramedia Pustraka Umum, 2000.
Barth, Karl, Ethics, New York: The Seabary Press, 1978.
Bonhoeffer Dietrich, Ethics, New York: Touchston, 1995
Chang, William, Penganiar Teologi Adoral, Yogyakarte: Kanisius, 2001.
Danes, Simon dan Crhistoper, Masalah- masalah Moral Sosial Aktual Dalam Perspektif Iman Kristen, Yogyakarta: Kanisius, 2000 .
Douma, J., Kelakuan yang Bertanggung Jawab, Jakarta: BPK Gung Mulia, 1993.
Elwell, Walter A., "conscientia" in Evangelical Dictionary of Theology, Grand Rapids-Michigan: Baker Book House, 1984.
Gibo, Aiko, Manusia Tidak Mati, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996.
GO O.Cam, Piet, Teologi Moral Dasar, Malang: Dioma, 2007.
H. Rothlisberger, tafsiran Alkitab 1 Samuel, Jakarta:BPK-GM,1983.
http//www.aladokter.com/kenali-faktor-pemicu-dantanda-tanda-bunuh-diri, diakses pada 11 Desember 2019  pukul 18:30 Wib
Kennedy, Thomas D., Sahabat Gembala, Bandung: Yayasan Kalam Hidup,1994.
Kieser, J. Berbard, Moral Dasar: Kaitan Iman dan Perbuatan,  Yogyakarta: Kanisius, 1987.
Lehmann, Paul L., Ethics in A Christiab Context, New York: Harper Row, Publishing, 1963.
Ludeman, G., Exegetical Dictionary Of The New Testaments, W. J. S. Poerwardarminta, Kamus BesarBahasa Indonesia, Folume III, Michigan: Publishing Company Grand Rapids, 1994.
McCartney, D.G., "Dictionary of The Later New Testamend & Its Developments Martin, Ralph P & Peter H. David (ed)" .
Palmqust, Stephen, Fondasi Psikologi Parkembangan Menyelami Mimpi, Mencapal Kemalangan Diris, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Pieree,  C.A., "conscience" in The New Bible Dictionary, J. D. Douglas (ed),  Grand Rapid, Michigan: Wm. B.Eerdmans Publishing Co, 1962
Poerwandarminta, W. J. S., Kamus Besar Bahara Indonesia, Iakarta: Balai Pustaka, 1976.
Suseno, Franz Magnis, Etika Dasar, Yogyakarta: Kanisius, 1987.
Verkuyl, J., Etika Kristen Bagian Umum, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.
White, Jerry, Kejujuran Maral & Hati Nurani, Jakarta BPK-GM, 2000.




[1] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakart PT. Gramedia Pustraka Umum, 2000), 1043.
[2] W. J. S. Poerwandarminta, Kamus Besar Bahara Indonesia (Iakarta: Balai Pustaka, 1976), 350.
[3] Dari sudut pandang inl, bahasa lndonesia memberikan sumbangan tertentu untuk pengertian kata latin "consclentid". Dalam terjemahan Indonesia, unsur "hati" lebih ditonjolkan daripada "pengetahuan", kendati di daiam hati juga terdapat tempat untuk menyimpan pengertian-pengertian (William Chang, Penganiar Teologi Adoral (Yogyakarte: Kanisius, 2001), 130.
[4] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 1043.
[5] Stephen Palmqust, Fondasi Psikologi Parkembangan Menyelami Mimpi, Mencapal Kemalangan Diris (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 102-104.
[6] Karl Barth, Ethics (New York: The Seabary Press, 1978) 475.

[7] D.G.McCartney, "Dictionary Of The Later New Testament & Its Developments Martin Ralph P & Peter H. David (ed) (England: Intervarsity Press Dpwners Grove, 1997), 353.
[8] J.Verkuryl, Etika Kristen Bagian Umum (Jakarta: BPK-GM, 1999), 56.
[9] G.Ludeman, Exegetical Dictionary Of The New Testaments, W. J. S. Poerwardarminta, Kamus BesarBahasa Indonesia, Folume III (Michigan: Publishing Company Grand Rapids, 1994), 301.
[10] C.A. Pieree, "conscience" in The New Bible Dictionary, J. D. Douglas (ed) ( Grand Rapid, Michigan: Wm. B.Eerdmans Publishing Co, 1962), 248-249.
[11] Walter A.Elwell, "conscientia" in Evangelical Dictionary of Theology (Grand Rapids-Michigan: Baker Book House, 1984), 267.
[12] D.G. McCartney, "Dictionary of The Later New Testamend & Its Developments Martin, Ralph P & Peter H. David (ed)" 241.
[13] Paul L. Lehmann, Ethics in A Christiab Context (New York: Harper Row, Publishing, 1963), 329.
[14] Jerry White, Kejujuran, Moral &Hati Nurani (Jakarta:BPK-GM, 2000),15.
[15] Jerry White, Kejujuran, Moral &Hati Nurani, 15-16.
[16] Jerry White, Kejujuran, Moral &Hati Nurani, 16-17.
[17] Aiko Gibo, Manusia Tidak Mati, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), 132
[18] http//www.aladokter.com/kenali-faktor-pemicu-dantanda-tanda-bunuh-diri, diakses pada 11 Desember 2019  pukul 18:30 Wib
[19]  Thomas D. Kennedy, Sahabat Gembala, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup,1994),33
[20] Franz Magnis Suseno, Etika Dasar (Yogyakarta: Kanisius, 1987), 52-53.
[21] Franz Magnis Suseno, Etika Dasar, 76-77.
[22] Jerry White, Kejujuran Maral & Hati Nurani, (Jakarta BPK-GM, 2000), 29-31.
[23] Franz Magnis Suseno, Etika Dasar, 77-78.
[24] Franz Magnis Suseno, Etika Dasar, 78.
[25] J. Verkuyl, Etika Kristen Bagian Umum, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), 58-59.
[26] Piet GO O.Cam, Teologi Moral Dasar, (Malang: Dioma, 2007), 221.
[27] Jerry White, Kejujran, Moral &Hati Nurani, 17-18
[28] Thomas D. Kennedy, Sahabat Gembala, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup,1994), 32
[29] H. Rothlisberger, tafsiran Alkitab 1 Samuel, (Jakarta:BPK-GM,1983), 265
[30] Jerry White, Kejujuran Moral &Hal Nura, 21-22.
[31] Simon dan Crhistoper Danes, Masalah- masalah Moral Sosial Aktual Dalam Perspektif Iman Kristen, (Yogyakarta: Kanisius, 2000 ), 155-158
[32] J. Douma, Kelakuan yang Bertanggung Jawab (Jakarta: BPK Gung Mulia, 1993), 99.

[33]J. Verkuyl, Etika Kristen Kapita Selekta (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1966),188
[34]Dietrich Bonhoeffer, Ethics, (New York: Touchston, 1995),166
[35] J. Berbard Kieser, Moral Dasar: Kaitan Iman dan Perbuatan ( Yogyakarta: Kanisius, 1987), 127.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar