Selasa, 31 Maret 2020

Mengerti Arti, Makna dan Hakekat Kerajaan Allah Dalam Injil Matius dan Refleksi/ Aksi Dalam Kehidupan Bergereja


Mengerti Arti, Makna dan Hakekat Kerajaan Allah Dalam Injil Matius dan Refleksi/ Aksi Dalam Kehidupan Bergereja
I.              Pendahuluan
Teologi perjanjian baru merupakan kesaksian mengenai tentang Allah, atau menyaksikan tentang karya-karya  Allah, perbuatan-perbuatan Allah, kenyataan Allah dalam diri yesus. Berbicara mengenai kerajaan Allah merupakan pokok pembahasan yang menarik karena pengajaran tentang Allah merupakan salah satu pokok utama misi kristus dibumi. Tuhan sebagai Raja menunjukkan bahwa Allah mempunyai kerajaan di mana Ia sebagai Raja, dalam hal ini Ia yang berkuasa atas alam semesta. Pada saat kristus ada di bumi, Ia memandang pekerjaanya sebagai upaya untuk mengungkapkan kehadiran kerajaan Allah. Untuk lebih jelasnya kami sebagai penyaji akan memaparkan kepada kita semua dengan jelas mengenai Arti, Makna dan Hakekat Kerajaan Allah dalam Injil Matius dan Refleksi/Aksi dalam kehidupan bergereja. Semoga sajian ini bermanfaat dan menambah pemahaman kita bersama.

II.           Pembahasaan
2.1. Arti dan Makna Kerajaan Allah
Kerajaan Allah (basileia tou theou) adalah istilah pokok pemberitaan Yesus. Maka pemerintahan Yesus berarti Allah mulai berkuasa dan mulai melaksanakan pemerintahan-Nya atas segala bangsa. Pemerintahan itu akan membawa keadilan, keselamatan, dan perlindungan bagi mereka yang miskin dan sakit, yang hina, ditindas, janda-janda, yatim piatu. Semua bangsa akan melihat dan mengakui kemuliaan pemerintahan-Nya.[1] Kerajaan Allah adalah pemerintahan tertinggi Allah, namun pemerintah Allah terwujud dalam tahap yang berbeda-beda sepanjang sejarah penebus. Oleh karena itu, manusia dapat masuk ke dalam wilayah pemerintahan Allah dengan mengalami berkat-berkat pemerintahan-Nya yang berbeda-beda. Kerajaan Allah adalah zaman yang akan datang yang lazim disebut sorga. Waktu itu kita akan mengalami berkat-berkat pemerintahan-Nya dalam kepenuhan yang sempurna. Akan tetapi, kerajaan itu ada di sini saat ini dan dapat kita nikmati sebagian dari berkat-berkat pemerintahan Allah itu secara nyata.[2]
Kerajaan Allah merupakan kenyataan masa mendatang dan bersifat adikodrati.[3] Kerajaan itu sungguh-sungguh menuntut ketaatan manusia tetapi pemerinthan itu sudah ada untuk mengerti ungkapan itu dalam injil-injil, haruslah kita ingat bahwa ungkapan itu secara ilmu bahasa, berarti pemerintahan kerajaan Allah dan didalamnya tercakup pengertian Alkitabiah tentang Allah, Allah yang bertidak adalah sejarah yang sedang melaksanakan agung dan rahmani didalamnya karena suatu tujuan yang sudah ditentukan.[4]
Kerajaan Allah dalam Injil Matius kadang-kadang disebut juga Kerajaan Sorga, walaupun kadang-kadang Matius memakai bentuk “Kerajaan Allah” juga. Mungkin istilah “Sorga” dipilih sebagai ungkapan pengganti untuk “Allah” berdasarkan penghormatan khas Yahudi yang enggan menyebut nama Tuhan. Bisa saja terjadi bahwa Yesus sendiri menggunakan istilah yang beraneka ragam, tetapi itu sedikit kemungkinannya meningkat bahwa hanya Matiuslah yang menggunakan istilah “Kerajaan Sorga” itu. Sebab itu cukup beralasan untuk berkesimpulan bahwa Matius tidak membedakan Kerajaan Sorga dari Kerajaan Allah. Kerajaan merupakan ruang lingkup, tempat Allah mencurahkan berkat-berkatnya.[5]

2.2.Aspek Kerjaan Allah
Adapun aspek-aspek mengenai Kerajaan Allah ialah sebagai berikut ini:[6]
a.      Teosentris
Aspek teosentris (berpusat kepada Allah) secara mendasar kerajaan Allah berarti bahwa Allah merupakan penggerak dan pendorong yang utama. Manusia tidak bisa menemukan atau memajukan kerajaan itu. Arti kerajaan lebih sekedar undangan kepada manusia untuk mengasihi sesamanya. Kerajaan itu merupakan tindakan Allah yang berdaulat. Kerajaan Allah berasal dari Allah dan merupakan pernyataan kemulian Allah.
b.      Dinamis
Kerajaan itu bersifat dinamis karena apa yang teosentris dan berasal dari Allah. Kerajaan itu bukan sama sekali pencobaan, hal itu tidak kurang dari kedatangan raja. Ada sesuatu yang bersifat aktif dalam kedatangan kerajaan itu dalam pelayanan Yesus, yang melibatkan keeluruhan pekerjaan-Nya terutama pngusiran setan-setan.
c.       Misianis
Maksud dari kerajaan Allah yang bersifat Mesias adalah bahwa Yesus sang Mesias sebagai wakil Allah bertindak atas nama Allah sendiri. Inilah sebabnya pribadi maupun pekerjaan kristus menjadi amat penting dalam rangka menetapkan batas-batas kerajaan itu.
d.      Keselamatan
Dengan datangnya kerajaan Allah memperlibatkan diri-Nya sebagai raja yang secara aktif menjangkau umat-Nya untuk menyelamatkan dan memberkati mereka. Pengampunan dosa diberikan oleh Yesus sebagai hak istimewa Allah sendiri. Peristiwa ini menunjukkan pekerjaan Allah dengan cara yang penuh kuasa dalam pelayanan Yesus.

2.3. Hakekat Kerajaan Allah
Kerajaan Allah merupakan hal yang sangat penting dalam Teologi PB. Dalam PB dinyatakan bahwa janji Allah digenapi akhir zaman telah tiba (1 Korintus 10:11), ciptaan baru telah datang, hidup kekal telah tiba, dan perjanjian baru menjadi kenyataan. Secara khusus Tuhan menjanjikan negeri keturunan dan berkat universal kepada Abraham. Akan tetapi Allah secara perlahan mengenapi janjinya. Yakub memiliki 12 anak dan janji keturunannya yang tidak terhitung banyaknya mulai menjadi kenyataan dalam kitab suci. Dua janji Allah telah digenapi Israel mewarisi negeri itu dan jumlah keturunan bertambah dengan cepat. Injil Matius menggunakan istilah “Sorga” (heaven) yang merujuk pada Allah karena sikap hormat sebab merujuk kepada Allah lebih dari 50 kali. Dalam Injil Matius sesungguhnya menggunakan kata kerajaan Allah (kingdom of God). Dalam Matius 6:1-21 perintah Yesus tentang kebenaran menunjukkan perbedaan antara langit dan bumi yang di gambarkan oleh Matius 6:19-20 “jangan kamu mengumpulkan harta dibumi, merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Oleh karena itu kerajaan Sorga berfokus kepada kebenaran bahwa kerajaan Allah berasal dari Allah. Kerajaan tidak bersifat duniawi tetapi lebih menggambarkan kedaulatan dan kekuasaannya atas seluruh kerajaannya dan semua yang disebut Allah.[7]

2.4. Kerajaan Allah Menurut Pandangan Para Tokoh
1.      Calvin
Kerajaan Allah berkaitan dengan kemahakuasaan Allah, dalam arti lain kerajaan Allah juga diartikan sebagai hadiah maupun sebagai puncak akhir sejarah dunia.[8]
2.      Donal Guthrie
Kerajaan Allah menunjukkan kepada adanya hubungan antara msa sekarang dan masa yang akan datang. Perwujudan ini akan lengkap hanya dalam kerajaan yang akan datang, tetapi sudah diwakili pada masa sekarang di dalam jemaat.[9]
3.      Yohanes Weis
Dalam bukunya yang berjudul The Preaching Of Jesus Ia membahsa tentang kerajaan Allah. Dimana Ia berpendapat bahwa kerajaan Allah itu seperti kiamat Yahudi, semuanya di masa depan dan bersifat eskatologis. Kemenangan kerajaan Allah atas setan telah dimenangkan disorga . oleh karena itu, Yesus memberikan kerajaan-Nya dibumi.[10]
4.      C. H. Dood
Dia memahami sebagai serangkaian simbol yang berdiri untuk realitas yang tidak dapat dipahami oleh pikiran manusia secara langsung. Kerajaan Allah yang digambarkan dalam bahasa apokaliptik, ternyata merupakan tatanan transenden di luar ruang dan waktu yang telah membelah sejarah dalam misi Yesus.[11]
     Berdasarkan pendapat diatas, Alkitab menjelaskan konsep Kerajaan Allah, merupakan pemerintahan Allah yang mana telah memasuki zaman ini melalui kehadiran Yesus dan akan menjadi sempurna pada saat kedatangan-Nya untuk kedua kalinya.

2.5. Kerajaan Allah dalam Injil Matius
Tentang kerajaan sorga atau kerajaan Allah dalam Injil Matius dimulai oleh kehadiran Yohannes pembaptis yang berkotbah agar orang-orang yahudi bertobat sebab kerajaan Allah sudah dekat (Matius 3:1-2).[12] Sesudah penangkapan Yohannes Pembaptis, barulah Yesus tampil untuk pertama kalinya di Galilea dan berbicara hal yang serupa yang telah disampaikan oleh Yohannes: “Bertobatlah, sebab kerajaan Sorga sudah dekat!”  (Mat 4:12-17). Yesus kemudian mengajarkan tentang konsep kerajaan Allah meskipun dalam injil Matius hal tersebut kebanyakan menggunakan istilah kerajaan sorga. Hala ini merupakan ekspresi Matius sebagai seorang Yahudi yang menulis kitab ini guna menghindari pemakaian kata Allah yang baginya sangat kudus. Itulah sebabnya  dalam inji Matius istilah kerajaaan Allah  hanya dipakai 5 kali, sedangkan istilah kerajaan sorga dipakai sebanyak 32 kali.[13] Namun tidak perlu mempertentangkan kedua istilah tersebut, oleh karena pada dasarnya Matius menunjuk kepada satu hal yang sama yaitu kerajaan Allah. Menarik bahwa yesus memberitakan Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan  dan kelemahan (Mat 4:23; 9:35). Dengan demikian, Yesus sedang menunjukkan bahwa pengusiran setan dan penyembuhan penyakit juga merupakan bagian yang tidak terlepas dari berita Kerajaan Allah tersebut. Yesus sedang mengajarkan kerajaan itu, dan orang-orang yahudi sedang mengalaminya, meskipun tidak secara penuh dan juga tidak sama dengan pemahaman umum bangsa Yahudi (Pengharapan Mesis Yahudi) tentang kerajaan itu. Hal itu akan lebih jelas ketika membaca Matius 12:22-28, dimana Yesus menunjukkan bahwa Dia mengusir setan dengan kuasa Roh Allah dan hal itu berarti kehadiran kerajaan Allah. Yesus juga mengajar murid-murid bahwa Kerajaan Allah yang ia beritakan  merupakan kerajaan yang  sarat nilai-nilai etis. Hal tersebut dikisahkan dalam Matius 5 tentang kelemahan-kelemahan dan kerendahan hati. Leon Morris menegaskan bahwa  “Orang-orang yang mempunyai sifat-sifat itulah yang akan masuk  ke dalam kerajaaan, “miskin dihadapan Allah”(5:3), yang dianiaya (5:10), yang bersifat seperti anak-anak (18:1-4).[14] Oleh sebab itu, ,tuntutan untuk bertobat merupakan sesuatu yang penting.[15]
Hal ini memberi arti terhadap khotbah Yohanes pembaptis agar orang-orang bertobat untuk menyambut kerajaan  sorga yang sudah dekat . ada hal lain yang penting untuk diperhatikan dengan sehubungan dengan kerajaan Allah yang diajarkan oleh Yesus. Yesus banyak mengajarkan konsep kerajaan Allah dalam konsep kerajaan Allah dalam bentuk perumpamaan. Dalam injil Matius setidaknya terdapat 14 perumpamaan yang yesus ajarkan. Hal itu menarik perhatian murid-murid yesus, sehingga suatu kali mereka bertanya kepada yesus: “mengapa engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan? (Matius 13:10). Jawaban yesus kepada murid-murid itu merupakan sesuatu yang juga menarik. Dalam matius 13:11, “ Jawab Yesus, kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia kerajaan sorga, tetapi mereka tidak.” Sehingga tidaklah mengherankan jika Yesus kemudian mengajarkan hal kerajaan Allah melalui perumpamaan-perumpamaan. Leo Morris berkata: “perumpamaan perumpamaan menjadi suatu studi yang hidup dan menarik, dan menampilkan aspek-aspek penting dari kerajaan.[16]
 Oleh sebab itu, memahami setiap perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus merupakan hal yang penting dilakukan untuk mengerti tentang kerajaan Allah. Perumpamaan pertama yang muncul dalam injil Matius adalah perumpamaan tentang seorang penabur yang keluar untuk menabur benih (Matius 13:1-23). Ada benih yang jatuh dipinggir jalan, tanah yang berbatu, ditengah semak duri, dan ditanah yang baik. Dan arti perumpamaan itu dijelaskan sendiri oleh Yesus dalam ayat 19-23 bahwa “ kepada setiap orang yang mendengar firman tentang kerajaan sorga, tetapi tidak mengertinaya, datanglah sijahat dan merampas yang ditaburkan dalam hari orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengarkan firman firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan disemak duri ialah orang yang  mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan ditanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dank arena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” Eldon Ladd menjelaskan rahasia Kerajaan Allah ini,  sebagai berikut: Kerajaan Allah sudah gating diantara manusia, namun manusia bisa menolaknya. Kerajaan itu tidak mengalami  keberhasilan yang sama. Tidak semua orang mau menerimanya. Kerajaan Allah sedang bekerja diantara manusia, tetapi Allah tidak akan memaksa manusia untuk tunduk kepada kerajaan tersebut.  Mereka harus dapat menerima kerajaan itu dengan rela hati dan dengan kehendak yang patuh.[17]  Jadi, jelas bahwa kehadiran kerajaan Allah sudah dimulai sejak kehadiran yesus. Akan tetapi, kehadirannya masih bersifat rahasia; dimana ia tidak hadir dalam kekuasaan penuh melainkan bekerja secara diam-diam dalam kehidupan setiap mereka yang secara terbuka menerimanya dalam kehidupan mereka. Pertanyaan yang penting yang muncul tentang kerajaan itu ialah tentang waktu kapan itu akan hadir dengan kuasa  yang penuh yang akan ditandai dengan kedatang yesus yang kedua kali.[18]

2.6.Refleksi/Aksi Dalam Kehidupan Bergereja Dalam Injil Matius
Kerajaan Allah adalah pemerintah yang nyata dengan kekuasaan yang besar. Ia memiliki kuasa untuk melakukan jauh lebiuh banyak kebaikan dari apapun. Manusia harus taat kepada Allah menunjukkan kasihnya untuk Allah, menerima Yesus sebagai Tuhan dan Jurus Selamat. Kerjaan Allah itu ada dan sudah diperkenalkan didalam Yesus Kristus yang diimanai oleh setiap orang yang percaya. Dalam hal ini Allah menginginkan umatnya untuk menempati kerajaan Allah yang sudah disediakan, dimana manusia memiliki hati yang tulus untuk melayani Tuhan dan memberikan yang terbaik untuk Tuhan adalah ciri-ciri orang yang akan Tuhan ditempatkan ditempat yang terbaik. Kerajaan Allah itu ada dan bisa dirasakan lewat pemberitaan firman, pemyembuhan dan mujizat yang terjadi pada setiap orang. Dengan adanya kerajaan Allah, manusia semakin dapat merasakan kehadirat Allah dan dengan itu juga manusia semakin bersaksi, memperkenalkan kerajaan Allah pada setiap orang, sehingga seiring berjalannya dengan waktu manusia dapat semakin mengenal Allah didalam Yesus Kristus. Dalam Matius 6:33 ditekankan untuk hidup sebagai warga kerjaan Allah, sebagaimana orang percaya secara prinsip adalah warga kerajaan Allah. Hal ini menyatakan bahwa kita layak sebagai warga kerajaan Allah yang menyatakan bahwa kamu layak sebagai warga kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena kerajaan itu (2 Tes 1:5). Oleh Karena itu, setiap orang yang percaya harus hidup sebagai warga kerajaan Allah.  Dengan demikian jelaslah, bahwa dengan keberadaan dan kekuatan kita sendiri, kita tidak dapat menyatakan ketaatan kita yang sempurna kepada Allah. Kita dapat memberikan penghormatan dan ketaatan kita yang sempurna kepada Allah sebagaimana seharusnya, hanya jika anugrah Allah datang kepada kita, menjadikan kita miliknya dan mengubah kita. Melalui yesuslah kita dilahirkan kembali, perubahan didalam diri kita terjadi ketika Ia masuk kedalam kita dan menjadikan hati serta hidup kita milik-Nya sendiri. Dilahirkan kembali adalah berubah sedemikian rupa, sehingga kkeadaaan yang baru itu hanya bisa dilukiskan sebagai keadaan yang lahir kedua kali atau diciptakan kedua kali. Perubahan itu terjadi kalau kita mengasihi Yesus dan membuka diri kita bagi diriNya untuk masuk kedalam hati kita. Dengan begitu kita diampuni dari segala sesuatu yang  lampau, dan diperlengkapi dengan Roh yang menyongsong masa depan. Dengan begitu kita benar-benar dapat menerima kehendak Allah. Lalu kita menjadi warga kerajaan sorga (Kerajaan Allah) menjadi anak-anak Allah, masuk kedalam kehidupan kekal yaitu kehidupan Allah itu sendiri.
Dalam kehidupan bergereja masa kini, perlu dipahami mengenai arti dan makna kerajaan Allah, merupakan sebuah pemahaman yang sangat perlu dipahami oleh setiap orang saat ini, termaksud dalam kehidupan bergereja/berjemat. Gereja sebagai perwujudan dari kerajaan Allah yang nampak dalam dunia ini, memiliki fungsi untuk menyatakan kepada dunia, anugrah atau berkat-berkat yang terkandung dalam kerajaan Allah. Gereja merupakan perwujudan nyata dari kerajaan Allah didalam dunia ini. Menyebarkan berita pengampunan dosa dan keselamatan bagi domba-domba yang hilang, agar mereka kembali kedalam komunitas kerajaan Allah. Membawa umat manusia kembali kepada persekutuan yang benar dengan Allah dan sesama. Sebagai orang yang percaya sudah diselamatkan (hidup dalam kerajaan Allah) berarti kita harus melakukan peraturan dalam koridor hukum dalam kerajaan Allah yaitu berbuat baik. Supaya dapat melihat kerajaan Allah itu, seorang berubah dulu melalui pembaharuan hidup (kelahiran kembali). Melalui pembaharuan hidup, maka seseorang akan melakukan pertobatan, sehingga pembaharuan hidup akan  menghasilkan buah-buah kehidupan yang baru atau menghasilakn perbuatan-perbuatan baik.
Kerajaan Allah yang sudah datang tidak hanya yang trasenden (berhubungan dengan yang akan datang), tetapi juga dengan kerajaan Allah yang berhubungan dengan hidup manusia kini dan disini (imanen). Kerajaan Allah mempunyai hubungan yang sangat penting dengan perbuatan. Allah menawarkan keselamatan (anugrah) lebih dahulu sesudah itu Allah memberikan tuntunan etis. Indikatif dulu baru imperative, dimana kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Hidup dalam kerajaan Allah yang sudah datang saat ini, tidak dapat dipisahkan dengan kerajaan Allah yang akan datang. Pengalaman kerajaan Allah yang sudah datang menjadi pendorong untuk melakukan perbuatan baik (hidup sesuai kehendak Allah). Dan hidup yang demikian (berbuat baik pada kerajaan Allah yang sudah datang) akan mempunyai dampak (konsekuensi) untuk masa yang akan datang (kerajaan Allah yang datang).  Ketaatan orang-orang yang percaya (perbuatan-perbuatan baik yang dilakukannya selama hidupnya) akan mempunyai nilai dan dampak pada hidup yang kekal. Oleh karena ada pengharapan dan keyakinan yang akan diterima pada masa hidup yang kekal, maka hal itu memberi motivasi untuk terus melakukan perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah pada masa ia hidup.

III.        Kesimpulan
Dari pemaparan diatas kami para penyaji dapat menyimpulkan bahwa kerajaan Allah adalah pemerintahan tertinggi Allah, namun pemerintahan Allah terwujud dalam tahap yang berbeda-beda sepanjang sejarah penebusan. Dalam injil Matius banyak berbicara dalam kaitannya pengajara-pengajaran yesus tentang kerajaan Allah. Kerajaan Allah yang dibicarakan dalam Injil Matius tidak terlepas kaitannya dengan misi sotereologi Allah untuk menyelamatkan umatnya dari permukaan dosa, karena kerajaan Allah telah membawa kemenangan dari roh-roh jahat dimana telah mendatangkan keselamatan dari mereka yang telah membuka hati terhadap pemberitaan kerajaan itu. Kerajaan Allah bekerja melalui gereja dimasa sekarang ini untuk mengabarkan kabar baik. Oleh karena itu kerajaan Allah perlu dihidupi oleh warga dalam kehidupan karena Yesus adalah inti pembicaraan injil.
IV.        Daftar Pustaka
Beyer, Ulirch, Garis-Garis Besar Eskhatologi Dalam Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009.
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 2, Jakarta: BPK-GM, 2001.
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 2, Jakarta: BPK-GM, 2012.
Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian, Baru 3, Jakarta: BPK, 1993.
Harvey, Van A., A Handbook of Theological Terms, New York: The Macmilan Company, 1964.
Henry, Matthew, Tafsiran Matthew Henry Injil Matius 15-28, Surabaya: Momemtum, 2008.
Hunter, A.M., Memperkenalkan Teologi Perjanjian Baru, Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2002.
Ladd, George Eldon, A Theology Of The New Testament, America: William B Eerdmans Publishing Company, 1974.
Ladd, George Eldon, Injil Kerajaan Malang: Gandum Mas, 1994.
Legg, John, The King and His Kingdom, New York: Evangelical Press, 2004.
Morris, Leon, Teologi Perjanjian Baru, Malang: Gandum Mas, 2001.
Santoso, David Iman, Theologi Matius dan Aplikasinya, Malang: SAAT, 2009.
Schriner, Thomas R., New Testament Theology, Yogyakarta: Andi, 2015.
Susanto, Hasan, Perjanjian Baru  Interlinear Yunani-Indonesia dan Korkondansi Perjanjian Baru , Jakarta: LAI, 2004.



[1] Ulirch Beyer, Garis-Garis Besar Eskhatologi Dalam Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2009), 7
[2] George Eldon Ladd, Injil Kerajaan (Malang: Gandum Mas, 1994), 7
[3] Ibid, 9
[4] A.M. Hunter, Memperkenalkan Teologi Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2002), 16-17
[5] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 2, (Jakarta: BPK-GM, 2012), 22-23
[6] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 2, (Jakarta: BPK-GM, 2001), 32-34
[7] Thomas R. Schriner, New Testament Theology, (Yogyakarta: Andi, 2015), 15-19
[8] Van A. Harvey, A Handbook of Theological Terms, (New York: The Macmilan Company, 1964), 141
[9] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian, Baru 3, (Jakarta: BPK, 1993), 26
[10] George Eldon Ladd, Injil Kerajaan, (Malang: Gandum Mas, 1994), 58
[11] George Eldon Ladd, A Theology Of The New Testament, (America: William B Eerdmans Publishing Company, 1974), 58
[12] Hasan Susanto, Perjanjian Baru  Interlinear Yunani-Indonesia dan Korkondansi Perjanjian Baru , (Jakarta: LAI, 2004), 9
[13] David Iman Santoso, Theologi Matius dan Aplikasinya, (Malang: SAAT, 2009), 144
[14] Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 2001), 174-175
[15] John Legg, The King and His Kingdom, (New York: Evangelical Press, 2004), 41
[16] Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru, 180
[17] George Eldon Ladd, Injil Kerajaan, 67
[18] Matthew Henry, Tafsiran Matthew Henry Injil Matius 15-28, (Surabaya: Momemtum, 2008), 1220

1 komentar:

  1. Berkat Allah yg kita nikmati sebagai orang percaya yg hidup dalam pemerintahan kerajaan Allah ialah?

    BalasHapus