Jumat, 16 April 2021

Terobosan Pelayanan Hendrik Guillaume

 

Terobosan Pelayanan Hendrik Guillaume

(Suatu Tinjauan Historis Praktis tentang Terobosan Pelayanan Hendrik Guillaume dan Implementasinya dengan Terobosan Pelayanan Penatua/Diaken GBKP Runggun Lau Njuhar)

I.                   Latar Belakang

Kehadiran dan semangat pelayanan Penatua Diaken di tengah-tengah gereja tentunya sangat membuka hubungan timbal balik untuk menciptakan suasana saling membangun dan mendorong keaktifan peran serta jemaat untuk memenuhi panggilannya dalam persekutuan guna menghadirkan syalom di tengah-tengah gereja. Dalam kehidupan dan keberadaannya di tengah –tengah dunia, gereja mempunyai tugas dan panggilan yang disebut dengan tri tugas panggilan gereja yaitu marturia (kesaksian), koinonia (persekutuan) dan diakonia (pelayanan). Gereja dalam rangka menggenapi panggilan itu juga sangat terlihat dalam pelaksanaan pelayanan Penatua dan Diaken. Tugas besar Penatua dan Diaken adalah menjalankan tri tugas panggilan gereja tersebut (bersekutu, bersaksi dan melayani). Adapun tugas Penatua dan Diaken adalah menggembalakan jemaat secara perseorangan dan keseluruhan, sehingga dapat melaksanakan tugas persekutuan, pelayanan dan kesaksian sebaik mungkin dimanapun mereka berada. Penatua yaitu mereka yang bertugas untuk memimpin jemaat dan mengatur serta mengadakan perkunjungan jemaat. Diaken yaitu mereka yang bertugas untuk melayani anggota jemaat yang sedang mengalami sakit kesusahan atau kesulitan karena dukacita oleh kematian, kemiskinan dan yatim piatu. Untuk menjalankan tugas dan tanggungjawab Penatua dan Diaken harus mempunyai jiwa yang berani dan tangguh serta semangat sehingga tetap pelayanan yang dilakukan juga memiliki peningkatan.

Namun dilihat di GBKP Runggun Lau Njuhar, tugas dan tanggung jawab Penatua dan Diaken sepertinya banyak yang tidak terpenuhi karena kurang memaknai arti pelayanan dan tidak memiliki semangat pelayanan dalam diri Penatua dan Diaken. Runggun Lau Njuhar memiliki 6 Penatua dan 3 Diaken. Dalam melakukan pelayanan, seorang pelayan dituntut memiliki jiwa yang pemberani dan tetap menjalankan pelayanan walaupun dalam keadaan yang tidak baik, baik dalam hubungan pelayan dengan jemaat yang kurang baik, keadaan pelayanan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan dan keikutsertaan jemaat dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan. Jika dilihat di Runggun Lau Njuhar ini, Penatua dan Diaken masih banyak yang saling menyalahkan dalam melakukan pelayanan padahal jelas sekali tugas Penatua dan Diaken memiliki porsinya masing-masing. Penatua dan Diaken juga tidak ada dukungan satu sama lain. Penatua Diaken juga sering mendapatkan tantangan dalam pelayanan, namun tantangan yang datang itu bukan membuat Penatua Diaken menjadi lebih semangat dan mencari cara supaya pelayanan tetap berjalan tetapi yang dilakukan adalah tidak lagi menjalankan tugas dan tanggung jawabnya layaknya yang sudah ditetapkan di tata gereja GBKP. Pada masa saat ini, seluruh dunia digoncangkan dengan begitu banyak permasalahan terkhususnya dalam situasi Covid-19 seharusnya Penatua dan Diaken harus semakin bersemangat dalam memberitakan Firman Tuhan dan meningkatkan pelayanan karena memang di Runggun Lau Njuhar ini tidak ada pendeta yang melayani jadi segala sesuatunya harus dikerjakan oleh Penatua dan Diaken tapi yang terjadi adalah sebagian besar Penatua dan Diaken malah lepas tangan dan saling menyalahkan satu sama lain, Penatua dan Diaken banyak yang tidur di ladang dengan alasan takut sehingga tidak ada yang memberikan pelayanan baik berupa ibadah minggu ataupun PA. Penatua dan Diaken juga mudah sekali sakit hati dan melampiaskan sakit hatinya ke dalam pelayanan. Banyak juga jemaat yang tidak aktif sehingga menuntut Penatua dan Diaken untuk melakukan perkunjungan tetapi tidak ada yang melakukan perkunjungan tersebut.[1]  Maka dari itu saya sebagai penyeminar akan mengulas bagaimana sebenarnya semangat pelayanan Hendri Guillaume dalam penginjilannya yang tidak mengenal lelah dan tidak putus asa. Hendrik Guillaume menerobos daerah Karo supaya bisa tetap membuka Pos Penginjilan diperhadapkan dengan terobosan pelayanan Penatua dan Diaken di GBKP Runggun Lau Njuhar dan dari tokoh Hendri Guillaume dapat diaplikasikan ke dalam Penatua dan Diaken Runggun Lau Njuhar.

 

 

II.                Pembahasan

2.1. Biografi H. Guillaume

Hendrik Guillaume lahir pada tahun 1865 di Vlissingen. Pada umur tiga belas tahun ia berhenti sekolah dan bekerja pada sebuah toko. Tidak lama kemudian ia memasuki dinas militer dengan pangkat sersan. Pada suatu peristiwa, dua orang temannya cedera dan meninggal dunia. Sejak itu Guillaume merasa dirinya bukan berbakat menjadi militer. Ia meninggalkan dinas militernya dan memasuki sekolah missionaris di Jerman yaitu Rheinishe Missions Gesellschaft (RMG). Setelah selesai mengikuti pendidikan ia ditempatkan di Sibolga pada tahun 1893. Disana ia bertemu dengan seorang gadis Belanda kelahiran Sumatera, seorang putri Missionaris bernama Anna Mohri. Ia menikah dengan Anna, dan anak pertama mereka seorang putra lahir pada tahun 1897.[2] Hendri Guillaume adalah tenaga zendeling RMG yang dipinjamkan kepada NZG selama 5 tahun (1899-1904) untuk membantu pekerjaan NZG di kalangan suku Batak Karo. Sebagai seorang Belanda yang telah dua belas tahun lamanya bekerja dan belajar dilingkungan berbahasa Jerman, maka sangat sulit bagi Guillaume mengadakan laporan dalam bahasa Belanda yang harus dilakukannya sejak ia menjadi salah satu anggota missi NZG di Tanah Karo. Pada tanggal 31 Desember 1904 Pdt. H. Guillaume sudah selesai kontrak perjanjiannya dengan NZG, maka ia kembali ke zending RMG di Simalungun. Pada tanggal 21 Maret 1930 ia meninggal dunia di Zeis dalam usia 65 tahun.[3]

2.2. Terobosan Pelayanan H. Guillaume

2.2.1.      Pelayanan H. Guillaume di Karo (Mei 1899-Desember 1904)

Tahun 1899 NZG membuka kerjasama dengan RMG untuk menambah tenaga misionaris dan RMG meminjamkan misionaris Hendri Guillaume dan guru Batak Toba, Martin Siregar, mereka pindah dari Saribudolok di Simalungun ke Bukum 10 Km sebelah Selatan Buluhawar. Langkah pertama yang dilakukannya ialah mengadakan pertemuan-pertemuan dengan pimpinan pemerintah dan penguasa perkebunan di daerah ini. Pos pelayanannya adalah desa Bukum. Guillaume mengadakan pelayanan Firman, pengobatan, pendidikan dan penyuluhan bibit tanaman seperti jeruk, kopi dan lain-lain. Sebelum kedatangan Guillaume pada tahun 1989 ke Tanah Karo, satu tahun sebelumnya yakni 1988, ia pernah mengunjungi beberapa tempat penting sebagai pusat populasi masyarakat. Setelah membuka kontak dengan dua orang sibayak (orang kaya/kepala suku) Kabanjahe yaitu Pa Pelita dan Pa Mbelgah, Guillaume merasa aman untuk membuka pos pelayanan di Kabanjahe. Namun pada tahun 1902 ketika dia memulai pelayanannya, kepala-kepala suku Karo yang lain menentang usaha-usaha itu bahkan menggagalkan usaha membangun rumah missi Guillaume dan mereka berusaha memecat kedua kepala suku yang memberi izin itu karena Aliansi Karo memandang ancaman bahaya dari pengajaran baru yang dapat menghilangkan adat dan kemudian menghancurkan keseluruhan sendi masyarakat Karo. [4]

Pada saat pertemuannya dengan Residen Van den Steestertan, ia meminta surat izin berkunjung ke dataran Tinggi Karo. Perkunjungan itu direncanakan dilakukan bersama-sama dengan Pdt. M. Joustra. Diduga Guillaume berpandangan luas sehinga besar kemudian permohonan ini akan terkabul. Setelah pertemuan-pertemuan ini Guillaume berangkat ke Buluhawar menemani Pdt. M. Joustra. Keluarganya ditinggalkan di Medan menumpang pada rumah Pdt. Bronders, menunggu kelahiran anak mereka yang kedua pada bulan Agustus 1899. Sebulan kemudian Guillaume memutuskan Bukum sebagai pos pelayanannya, agar ia lebih dekat ke Dataran Tinggi Karo.[5]

Pada bulan Agustus ia kembali ke Medan menjenguk isterinya yang telah melahirkan putrinya yang kedua dengan selamat. Kesempatan ini juga dipergunakan untuk menemui Residen untuk menanyakan apakah permohonannya dikabulkan oleh Gubernur Jenderal di Jakarta. Ternyata Residen tidak mengirim permohonan itu kepada Gubernur Jenderal. Ia memberikan alasan seolah-olah Gubernur menunggu persetujuan Kontroler khusus untuk orang Batak yaitu Westenberg, serta surat pernyataan salah satu dari para raja-raja Karo (Sibayak) di Dataran Tinggi. Mendengar keterangan Residen ini Guillaume memutuskan untuk menjumpai Kotroler Westernberg serta berusaha mendapatkan surat pernyataan salah seorang dari raja-raja Dataran Tinggi Karo. Dalam pertemuannya dengan Kotroler Westenberg ia menyatakan bahwa  Residen mengkehendaki suatu jaminan dari salah seorang raja Karo bahwa keselamatan personil NZG ini dijamin sebagai syarat untuk memproleh izin tersebut.

Pdt. Guillaume berkali-kali mengadakan perjalanan dari Bukum ke Tanah Karo dan sebaliknya. Bahkan jika perlu ia pergi ke Medan untuk menjumpai tuan Residen. Perjalanan ini sangat berat karena melalui lembah dan bukit yang terjal, menyebrangi sungai-sungai yang dalam dan memakan waktu berhari-hari. Perjalanan ini hanya dapat dilakukan dengan berjalan kaki.[6]

a.       Barusjahe

Calon utama Pdt. Guillaume untuk tempat mendirikan pos Pekabaran Injil adalah desa Barusjahe, karena ia tertarik kepada jumlah penduduk, kampung yang bersih serta teratur, bahkan banyak rumah yang telah di cat dengan rapi. Sibayak Barusjahe menyatakan bahwa ia setuju desa Barusjahe dijadikan pos NZG, akan tetapi ia tidak berjanji dan tidak mengikat diri dalam perjanjian tertulis tentang jaminan keselamatan personil NZG, karena sewaktu-waktu musuh dapat menyerang mereka.

b.      Kabanjahe

Guillaume meneruskan perjalanannya ke Kabanjahe dan memusyawarahkan hal yang sama dengan Sibayak Kabanjahe, namun ia mendapat jawaban yang sama dengan di Barusjahe.

c.       Lingga

Sama halnya dengan Barusjahe dan Kabanjahe, Sibayak Lingga pun tidak mau memberikan jaminan keselamatan personil NZG tersebut berarti ia harus kembali ke Bukum tanpa mendapat hasil apa-apa.[7]

Begitulah pelayanan Guillaume dengan berbagai bentuk kegagalan yang di hadapinya. Sampai pada tanggal 31 Desember 1904 kontrak Pdt. Guillaume dengan NZG telah berakhir. Ia mengakhir pelayanannya di Bukit Tinggi Karo walaupun tidak ada membawa hasil apa-apa secara kongkrit.[8]  

2.2.2.      Pelayanan H. Guillaume di Simalungun (1905-1909)

Apabila Guillaume mengikuti rapat pendeta RMG di Tapanuli sekali setahun, beliau sering melintasi sebagian besar daerah Simalungun Barat dan kadang kala singgah serta bergaul dengan penduduk setempat. Beliau juga mengadakan pembicaraan dengan para pembesar Simalungun seperti tuan Nagasaribu dan tuan Kinalang. Dari situlah Guillaume mengenal keberadaan suku Simalungun dan itu mendorongnya melaporkan tentang suku ini. Dalam laporannya dia meminta kepada badan zending RMG agar segera memberitakan Injil kepada suku Simalungun. Laporan Guillaume ini menjadi bahan pertimbangan bagi RMG untuk memperluas pekerjaan zendingnya. Untuk itu diputuskan agar dilakukan peninjauan ke daerah Simalungun. Demikian pada awal tahun 1903, Pdt. G. K. Simon beserta beberapa evangelist Kristen Batak Toba melakukan peninjauan ke Simalungun dengan mengambil lokasi di Pematang Siantar sekitarnya.

Laporan dan permintaan G. K. Simon tersebut kemudian dibicarakan pada rapat pemberitaan Injil RMG tanggal 3-8 Februari 1903 di Laguboti. Rapat kemudian memutuskan: a. Segera dilakukan pemberitaan Injil ke Simalungun, b. Segera dikirim surat kepada Inspektur RMG di Barmen untuk meminta persetujuan, dan c. Segera diatur langkah-langkah penginjilan ke Simalungun. Atas dasar pertimbangan tersebut maka Pematang Raya ditetapkan sebagai pos pekabaran Injil. Pos ini dibuka tahun 1903 dengan menempatkan Pdt. August Theis sebagai tenaga zendeling RMG di Simalungun. Pada tahun 1904 pos PI di buka di Bandar dengan menempatkan Pdt. G. K. Simon beserta dua orang pendeta Batak Toba. Maka pada tahun 1905 pos PI yang baru dibuka di Purbasaribu dan sebagai tenaga zendelingnya adalah Pdt. H. Guillaume.[9]

Guillaume berladang dan menanaminya mangga dan bawang merah. Guillaume juga membuka lahan persawahan. Banyak penduduk yang mendatanginya dan menanyainya tentang tanaman baru itu. Penduduk kemudian tertarik dan ikut menanam mangga di pekarangan masing-masing yang letaknya agak jauh dari perkampungan penduduk. Guillaume melakukan baptisan pertama pada seorang perempuan di Purbasaribu ada 19 September 1909. Perempuan ini menjadi orang Simalungun 68 wilayah ini sekarang disebut Juma Sipisar-pisar. Kemudian Guillaume membaptis keluarga Partuanan Siboro Toean Willem Poerba Tuan Siboro. Guillaume tergolong tidak sukses dalam mengkristenkan Simalungun. Di losd Tiga Langgiung, pada hari senin, Guillaume sering mengadakan makan bersama dan khotbah. Namun strategi itu tak kunjung berhasil. Setelah makanan habis, para penduduk pulang tanpa peduli pada khotbah yang akan disampaikan.[10]

Kontak orang Simalungun berikutnya dengan zendeling H. Guillaume, yang sejak 1899-1904 bekerja di kalangan suku Batak Karo di Bukum (Tanah Karo). Ia memanfaatkan perjalanannya dari Tanah Karo ke Tapanuli, demikian sebaliknya Tapanuli ke Tanah Karo, untuk berkenalan dan menjalin hubungan dengan beberapa penguasa Simalungun seperti tuan Purba, Nagasaribu dan Hinalang. Keramahtamahan dan sifat humoris Guillaume menarik simpati ketiga penguasa tersebut sehingga mereka terbuka menjamu Guillaume di istana mereka. Meskipun dalam pandangan Guillaume para penguasa ini sulit dikristenkan, dalam laporan tahunannya ia berkata “Saya menarik pelajaran yang berharga dan membahagiakan dari sikap tuan Purba dan Kinalang kepada saya. Keterbukaan mereka menjalin hubungan baik dengan saya merupakan isyarat bahwa pintu masuk ke Simalungun sudah terbuka bagi pemberita Injil”. Menerobos Simalungun berarti memulai suatu pekerjaan baru dan berat di tengah-tengah masyarakat tradisional Simalungun yang belum sepenuhnya dikenal oleh para zendeling Batakmission. Para penganut agama suku seperti tuan Nagasaribu, Purba, Raya, dan Dolok Silou menyetujui pembukaan pos PI dan sekolah, tetapi menolak masuk Kristen. Penolakan mereka masuk Kristen lebih merupakan faktor sosio-politis karena berpendapat bahwa agama Kristen membatasi kebiasaan mereka dalam hal poligami dan pemeliharaan budak, dua hal henda diberantas zending.

Bagi Guillaume, meskipun para raja Simalungun menolak masuk Kristen, keterukaan mereka terhadap zendeling merupakan cara Allah membuka pintu bagi pekerjaan zending itu sendiri. [11] Guillaume dalam setiap pelayanannya selalu bersikap terkesan ramah terbuka. Guillaume berpendapat bahwa orang Simalungun tidak sulit untuk didekati dan ditarik ke dalam agama Kristen. Namun, kenyataan berbicara lain. Pengalaman zendeling menunjukkan betapa mereka kecewa melihat sulitnya suku ini dimenangkan bagi Injil Kristus. Kendati pada zendeling berusaha menjalin hubungan baik dengan orang Simalungun, termasuk tentunya dengan golongan bangsawan sulit sekali bagi mereka membawa suku ini menuju pertobatan. Orang Simalungun menunjukkan sikap keramahan dan persahabatan hanya bila zendeling memenuhi keinginan dan permintaan mereka. Sebaliknya, keramahan dan persahabatan itu menjadi pudar tatkala zendeling berusaha menarik mereka dalam kekristenan.[12]

Raja Purba, tuan Rahalim Purba, mengungkapkan sikapnya kepada H. Guillaume sebagai berikut: “Sudah sejak lama kami memiliki adat-istiadat dan kepercayaan kepada penguasa tertinggi dan roh nenek moyang. Sampai sekarang, kami hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan. Kalau Tuan pendeta menganjurkan kami untuk beralih kepercayaan kepada kepercayaan Tuan, bukankah itu mengundang malapetaka bagi kami sebab roh nenek moyang akan marah kepada kami? Meskipun demikian, saya tidak menghalangi kalau ada penduduk yang ingin mengikuti kepercayaan Tuan, tetapi saya tidak bertanggung jawab jika malapetaka menimpa mereka, Allah yang tuan percayai itulah yang bertanggung jawab. Saya sebagai raja, sata tidak mungkin meninggalkan kepercayaan lama yang sudah turun-temurun kami percayai”. Mendengar hal itu Guillaume kecewa melihat para raja Simalungun belum bisa memenangkan bagi Injil karena kekerasan hati mereka.[13]

Demikian juga Guillaume mencatat kisah pelayanan kesehatan yang ia lakukan di rumah seorang kepala desa di Nagasaribu. Pada saat itu juga hadir tiga dati yang berusaha menyembuhkan penyakit kepala desa tersebut. Ketiga datu tersebut berkata kepada Guillaume: “Jika tuan berhasil menyembuhkan penyait bapak ini, kami mengakui keunggulan obat dan Tuhan yang Anda percayai. Namun, jika bapak ini mati, Anda akan kami salahkan karena obat dan Tuhan yang Anda percayai membawa malapetaka kepada kepala desa ini”. Ternyata dalam dua hari, kepala desa itu sembuh. Kenyataan ini menggugah hati ketiga datuk tersebut, dan mereka pun bersedia dibaptis bersama keluarga kepala desa itu. Guillaume menilai peristiwa ini sebagai “kemenangan Injil atas agama suku”.[14] H. Guillume mencatat bahwa “Ternyata masyarakat Simalungun sangat lambat memutuskan untuk menerima suatu perubahan, terutama dalam hal berpindah agama”. Guillaume meyakinkan pemahaman penduduk bahwa malapetaka akan menimpa siapa saja, tetapi orang yang percaya kepada Kristus akan mendapat kekuatan untuk menghadapinya. Hal ini berhasil karena Guillaume melakukan perkunjungan kepada penduduk dengan cara membawa siluah (buah tangan) seperti sarung atau berbagai makanan ringan dan juga obat-obatan. Dan penduduk yang dikunjungi pun sangat senang menerimanya dan mereka pun membalasnya dengan memberikan sayuran, buah-buahan hasil ladang mereka. Pada tahun 1909 Guillaume jatuh sakit dan menjalani cuti dan kembali ke Belanda.[15]

2.3. Karya H. Guillaume

Jika dilihat lebih jauh mengenai karya dari Hendrik Guillaume, maka banyak sekali kegagalan  yang didapatkannya. Namun dalam hal ini, tidak menutup kemungkinan Guillaume banyak memberikan sumbangsih dalam pemberitaan Injil di Karo. Maka dapat penyeminar simpulkan karya yang diperbuat oleh Pdt. Hendrik Guillaume adalah:

·         Pdt. Hendri Guillaume adalah perintis pekabaran Injil ke Dataran Tinggi

Guillaume menyadari semua latar belakang masyarakat Karo dengan mencurigai kedatangan NZG sehingga Guillaume melakukan pendekatan dengan sistem kekerabatan sosiologis. Ia selalu membawa Sampe Bukit, salah seorang warga Gereja di Buluhawar, sebagai pendampingnya, karena Sampe Bukit ini berasal dari desa Bukit di Dataran Tinggi Karo. Pdt. Guillaume berjiwa polos, berbicara terus terang, jujur, Ia sangat rajin, penuh semangat dan sungguh-sungguh melakukan pekerjaannya, dan tidak pernah mundur walaupun ditentang oleh berbagai hambatan. Hambatan alam dan medan yang sukar dijelajahi tidak menjadi alasan untuk menunda aksi pelayanan ini. Namun pada akhirnya ia tidak berhasil mendirikan pos Pekabaran Injil, tidak ada dibaptis barang seorang pun dari masyarakat Dataran Tinggi Karo itu. Sekilas pandang dapat dikatakan Pdt. H. Guillaume ini gagal, akan tetapi jika dikaji lebih luas, maka dapat dikatakan bahwa ia berhasil sebagai Perintis Pekabaran Injil ke Dataran Tinggi Karo.[16] Artinya Guillaume telah membuka pintu masuk pemberitaan Injil di Dataran Tinggi Karo sehingga pada tahun 1905 pos Penginjilan sudah didirikan di Kabanjahe. Dan pada tahun 1906 diadakan pencacahan jiwa di Tanah Karo dan hasilnya didapat jumlah penduduk Karo sebanyak 70.331 orang.

·         Mendapatkan izin mendirikan Pos Pengkabaran Injil di Dataran Tinggi Karo

Dua tahun lamanya memperjuangkan izin melalui jalan yang berliku-liku untuk mengatasi masalah yang dihadapkan oleh pemerintah Belanda, para konglomerat perkebunan, serta para pemimpin masyarakat Karo. Transportasi hanya dapat dilakukan dengan berjalan kaki menuruni lembah yang curam dan mendaki gunung yang terjal pada siang atau malam, menentang segala cuaca. Akhirnya setelah beratus kali Pdt. Guillaume berkunjung ke Dataran Tinggi Karo menemui pemerintah Belanda, akhirnya residen Sumatra Timur pun tibalah. Dengan penuh suka cita Pdt. Guillaume pergi ke Medan untuk menemui tuan Residen dan menerima surat izin tertulis. Surat Izin ini ternyata dibarengi dengan syarat-syarat antara lain adalah:

1.      Guillaume diminta menghadap Residen untuk menerima surat pengantar yang akan ditujukan kepada Sibayak Pa Pelita, untuk menjelaskan arti persetujuan pemerintah ini.

2.      Jika ternyata terjadi peperangan di Dataran Tinggi Karo Guillaume harus meninggalkan Dataran Tinggi Karo untuk sementara.[17]

·         Pembangunan Rumah Zending

Kegagalan merupakan bukan suatu karya. Namun, Guillaume memberikan hal yang menarik dalam kegagalannya. Pembangunan Rumah Zending di Kabanjahe sangat diperjuangkan oleh Guillaume. Setelah izin menetap diperoleh, dan Sibayak Pa Pelita telah memberikan sebuah jambur jadi kantor sementara, maka rencana pembangunan rumah Kabanjahe pun mulai dilakukan. Tukang kayu Cina juga didatangkan oleh Guillaume, serta alat-alat perkayuan mulai diangkut ke Kabanjahe. Akan tetapi pada bulan November1902 ketika Pdt. H. Guillaume bersama kontroler C. Westernberg mengadakan perjalanan meninjau desa Purba di daerah Simalungun, desa Kabanjahe diserang oleh musuh. Pondok pertukangan kayu orang Cina dibakar rata dengan tanah serta tukang-tukangnya dikejar-kejar. Seluruh alat-alat bangunan tersebut dibawakan mereka sebagai barang rampasan. Tanaman percobaan yang dilakukan oleh Yansen di sekeliling bangunan tersebut seperti pembibitan kopi, jeruk, apel, kentang dan babwang telah diporakporandakan oleh mereka. Guillaume mencatat bahwa hanya bibit bunga ros yang tinggal utuh dan berkembang merekah dan cantik. Dalam laporannya Guillaume mengatakan bahwa serangan itu adalah kehendak Tuhan, karena rencana Tuhan selalu tidak dapat dimengerti oleh manusia. Pdt Guillaume mengatakan, “Saya berdoa semoga penyebaran papan-papan dari Kabanjahe ini ke seluruh Dataran Tinggi Karo merupakan awal pekabaran Injil ke seluruh Tanah Karo yang berpusat di Kabanjahe ini”.[18]  

·         Membantu menyejahterakan masyarakat lewat penyediaan bibit buah-buahan dan sayur-sayuran di Dataran Tinggi

Pada tahun 1902, Pdt. Hendrik Guillaume menerima bibit tanaman buah-buahan dan sayur-sayuran khusus jenis tanaman dataran tinggi dari Dr. C. W. Jansen pimpinan Deli Mij. Bibit tersebut akan ditanam oleh masyarakat di Dataran Tinggi Karo. Diharapkan dengan mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran ini, kesehatan masyarakat akan lebih baik.[19] Sehingga kedepan Penginjil seperti J. H. Neumann bisa melanjutkan membangun perekonomian rakyat dengan membuka pekan-pekan (pasar) disebut “tiga” di Daerah Deli Serdang dan Dataran Tinggi Karo.[20]

·         Bidang Pendidikan

Pada masa pelayanannya di Bukum, Guillaume mengadakan pendidikan sekolah di desa-desa sekitarnya.[21] Guillaume juga membuka sekolah sebagaimana strategi penginjilan lainnya. Ia dibantu guru-guru pribumi seperti: Guru Andreas Simangunsong, Guru Johanes Munthe dan Guru Johanes Panggabean. Dengan seijin tuan Rahalim, Guillaume membuka sekolah rakyat di Tiga Langgiung yaitu dengan beratapkan rumbia, berdasarkan papan, bertiang kayu berukur 10  20 meter dengan tinggi 3 meter. Dan didirikannya sekolah zending di Purba Saribu pada tanggal 03 Maret 1906.[22]

2.4.Tugas dan Tanggung Jawab Penatua/Diaken

·                     Tugas dan Tanggung Jawab Penatua

Adapun yang menjadi tugas dan tangung jawab Penatua dalam tata gereja GBKP yaitu:

·         Memimpin dan melayani jemaat, bersama-sama dengan pelayan khusus lainnya.

·         Menjadi pembimbing, pendorong, dan teladan bagi warga gereja dalam pertumbuhan menuju kedewasaan iman dalam kehidupan yang bersekutu, bersaksi dan melayani.

·         Melakukan perkunjungan, memperhatikan kesejahteraan jasmani maupun rohani warga gereja, dan melaporkan kepada Majelis Runggun apabila ada waga yang perlu dibantu secara khusus.

·         Menyelenggarakan pelayanan kebaktian, pemberitaan Firman, persiapan-persiaapan sakramen, persiapan-persiapan pemberkatan perkawinan, persiapan sidi, penyelenggaraan pendidikan agama, menilik isi pengajaran yang tidak sesuai dengan pengajaran GBKP, serta mengembalakan warga gereja.

·         Mendampingi warga gereja yang sedang menghadapi kesulitan di rumah tangga, di lingkungan masyarakat atau di tempat kerja guna membantu mencapai jalan keluar dan menyimpan kerahasiaan yang menyangkut pribadi-pribadi warga gereja dengan sebijaksana mungkin.[23]

·                     Tugas dan Tanggung Jawab Diaken

Adapun tugas dan tanggung jawab diaken dalam tata gereja GBKP yaitu:

·         Memberikan perhatian dan pelayanan kepada jemaat dan masyarakat yang menderita karena: sakit dan kebutuhan khusus, yatim/piatu dan yatim piatu, terpenjara, kemiskinan, bencana alam, dll.

·         Menjadi pembimbing dan pendorong bagi warga gereja dalam pertumbuhan menuju kedewasaan iman dalam kehidupan yang bersekutu, bersaksi dan melayani.

·         Menyelenggarakan pelayanan kebaktian-kebaktian.

·         Menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga Kristen, lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat yang bergerak di bidang masalah-masalah sosial, ekonomi, bantuan hukum atau upaya-upaya hukum dan lain-lain.

·         Melaksanakan pelayanan cinta kasih yang tertuju kepada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan hidup warga gereja dan masyarakat sekitar.

·         Mengusahakan dan mengembangkan bentuk-bentuk baru bagi yang terus menerus berubah dan berkembang.

·         Mendampingi warga gereja yang sedang menghadapi kesulitan di rumah tangga, di lingkungan masyarakat atau di tempat kerja guna membantu mencapai jalan keluar dan menyimpan kerahasiaan yang menyangkut pribadi-pribadi warga gereja dengan sebijaksanaan mungkin.[24]

Jadi dapat disimpulkan bahwa, Penatua dan Diaken memiliki tugas masing-masing. Ditetapkan Penatua sebagai pelayan yang bisa memberi diri seutuhnya untuk Allah dan melakukan pelayanan yang dapat diteladani oleh jemaat. Tetapi jika dilihat tugas dan tanggung jawab Diaken di GBKP merupakan tugas dan tanggungjawab yang sangat mulia, karena seorang Diaken harus bisa memperhatikan jemaat-jemaat yang sangat membutuhkan pelayanan dalam setiap konteks kehidupannya.

Guillaume adalah seorang yang berani dan teguh pada pendiriannya sebagai zendeling, hal itu terlihat ketika Ia telah berulang kali pulang pergi dari Dataran Tinggi Karo melalui jalan yang menjemukan itu. Walaupun belum mendapat hasil apa-apa Guillaume tidak pernah jemu. Dalam masa kerjanya selama lima tahun Pdt. H. Guillaume telah menunjukkan baktinya adengan jujur, tulus, rajin, dan tidak banyak bicara. Ia telah sekian kali bolak-balik ke Dataran Tinggi Karo dan ke kota Medan menelusur lembah yang curam dan bukit yang terjal untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan untuk membuka pos NZG di Dataran Tinggi Karo. Berulang kali pula ia telah dikecewakan oleh penguasa kompeni Belanda dan raja-raja Karo. Ia merasa telah dibola-bolakan selama ini. Ia menerima janji muluk-muluk dan janji-janji kosong dari pihak Belanda maupun dari raja-raja Karo.

Guillaume adalah seorang zendeling yang menjalin relasinya dengan baik. Dengan mengetahui semua latar belakang masyarakat Karo dalam mencurigai NZG, maka Guillaume menggunakan sistem pendekatan yang sosiologis. Guillaume adalah seorang zending yang memperjuangkan dibuka pos Pekabaran Injil. Guillaume memiliki kecakapan dalam berbicara dan melakukan perkunjungan ke berbagai masyarakat dengan tujuan menjalin komunikasi yang baik.

Guillaume adalah seorang yang sangat percaya akan kuasa Tuhan. Demi kelancaran pelaksanaan tugas itu ia telah tega meninggalkan istrinya yang hamil tua menunggu kelahiran putrinya yang kedua di Medan. Ia telah tiba kembali ke rumah setelah putrinya lahir. Anaknya yang ketiga seorang putra lahir di desa Bukum tanpa bantuan bidan yang berpendidikan medis, karena sulit membawa istrinya ke rumah sakit di Medan. Namun itu semua tidak menjadi penghalang harapannya seakan mulai nyata melalui pembangunan rumah NZG di Kabanjahe. Namun ia harus menerima kenyataan pahit karena seluruh bahan-bahan bangunan itu telah diambil orang. Tukangnya dauber-uber lari pontang-panting melalui hutan-hutan kembali ke Medan. Yang perlu dicatat ialah Guillaume tidak putus asa melihat keadaan ini. Ia berdoa: “Aku berdoa kepadamu ya Tuhan, semoga Engkau jadikan bahan-bahan bangunan yang telah hilang dan berserak diseluruh Dataran Tinggi Karo akan menjadi pemula pembangunan gerejaMu di Tanah Karo yang berpusat di Kabanjahe ini”.[25]

2.5. Implementasinya dengan Terobosan Pelayanan Penatua/Diaken GBKP Runggun Lau Njuhar

Guillaume adalah seorang yang berani dan teguh pada pendiriannya sebagai zendeling, hal itu terlihat ketika Ia telah berulang kali pulang pergi dari Dataran Tinggi Karo melalui jalan yang menjemukan itu. Walaupun belum mendapat hasil apa-apa Guillaume tidak pernah jemu. Dalam masa kerjanya selama lima tahun Pdt. H. Guillaume telah menunjukkan baktinya adengan jujur, tulus, rajin, dan tidak banyak bicara. Ia telah sekian kali bolak-balik ke Dataran Tinggi Karo dan ke kota Medan menelusur lembah yang curam dan bukit yang terjal untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan untuk membuka pos NZG di Dataran Tinggi Karo. Berulang kali pula ia telah dikecewakan oleh penguasa kompeni Belanda dan raja-raja Karo. Ia merasa telah dibola-bolakan selama ini. Ia menerima janji muluk-muluk dan janji-janji kosong dari pihak Belanda maupun dari raja-raja Karo.

Guillaume adalah seorang zendeling yang menjalin relasinya dengan baik. Dengan mengetahui semua latar belakang masyarakat Karo dalam mencurigai NZG, maka Guillaume menggunakan sistem pendekatan yang sosiologis. Guillaume adalah seorang zending yang memperjuangkan dibuka pos Pekabaran Injil. Guillaume memiliki kecakapan dalam berbicara dan melakukan perkunjungan ke berbagai masyarakat dengan tujuan menjalin komunikasi yang baik. Guillaume adalah seorang yang sangat percaya akan kuasa Tuhan. Demi kelancaran pelaksanaan tugas itu ia telah tega meninggalkan istrinya yang hamil tua menunggu kelahiran putrinya yang kedua di Medan. Ia telah tiba kembali ke rumah setelah putrinya lahir. Anaknya yang ketiga seorang putra lahir di desa Bukum tanpa bantuan bidan yang berpendidikan medis, karena sulit membawa istrinya ke rumah sakit di Medan. Namun itu semua tidak menjadi penghalang harapannya seakan mulai nyata melalui pembangunan rumah NZG di Kabanjahe. Namun ia harus menerima kenyataan pahit karena seluruh bahan-bahan bangunan itu telah diambil orang. Tukangnya dauber-uber lari pontang-panting melalui hutan-hutan kembali ke Medan. Yang perlu dicatat ialah Guillaume tidak putus asa melihat keadaan ini. Ia berdoa: “Aku berdoa kepadamu ya Tuhan, semoga Engkau jadikan bahan-bahan bangunan yang telah hilang dan berserak diseluruh Dataran Tinggi Karo akan menjadi pemula pembangunan gerejaMu di Tanah Karo yang berpusat di Kabanjahe ini”.[26]

Guillaume dalam pelayanannya memiliki pondasi yang kuat. Guillaume dalam melakukan Pekabaran Injil selalu menemukan masalah dan kegagalan.  Bagi Guillaume kegagalan bukanlah hal yang dapat memberhentikan penginjilannya ke daerah Karo. Hendrik terus menerobos daerah-daerah sampai ke terpencil sekalipun. Kecurigaan masyarakat Karo terhadap masuknya NZG, hambatan alam dan medan yang sukar dijelajahi, kegagalan mendirikan pos Pekabaran Injil di berbagai daerah seperti Barusjahe, Kabanjahe, Lingga. Guilaume juga memperjuangkan surat izin melalui jalan yang berliku-liku, pembangunan rumah zending yang gagal padahal sudah di iming-imingi dengan bahasa manis namun nyata nya selalu gagal dan dibohongi. Dan bahkan Guillaume rela meninggalkan anak isteri demi Pekabaran Injil di Dataran Tinggi Karo. ini semua yang Guilauem lakukan untuk menyatakan pelayanan nya, keberaniannya dalam menerobos setiap kejolak pelayanan yang dilakukannya.

Penatua dan Diaken dapat bercermin dan meneladani sikap Guillaume dalam menjalankan pelayanan untuk memberitakan Injil kepada semua orang. Penyeminar melihat terobosan pelayanan Penatua Diaken di Runggun Lau Njuhar sangat minim sekali.  Beberapa permasalahan yang terjadi dalam pelayanan membuat pelayanan tersebut terbengkalai. Sikap Guillaume yang selalu mengutamakan Tuhan dalam setiap pelayanannya, perlu diteladani Penatua Diaken. Melayani bukan untuk kesenangan jemaat semata namun  melayani adalah untuk menyenangkan hati Tuhan. Banyak yang ingin menjatuhkan pelayanan Tuhan namun jika selalu berfikir positif layaknya seperti Guillaume yang selalu berfikir positif dalam setiap kegagalan yang didapatkannya. Guillaume mengatakan bahwa kegagalan dan ancaman itu datang karena dizinkan oleh Tuhan kepadanya. Itu merupakan sikap dan pemikiran yang harus diteruskan dalam pelayanan saat ini. Sehingga walaupun hampir tidak ada keberhasilan yang diperoleh Guillaume, namun mental dan keyakinan Guillaume patut dimiliki setiap pelayan khususnya Penatua Diaken di Runggun Lau Njuhar. Sikap dari Guillaume harus dilihat dan diikuti oleh Penatua Diaken Runggun Lau Njuhar. Penatua Diaken harus mampu menerobos pelayanan walaupun banyak jemaat yang ingin menjatuhkan semagat dari pelayanan yang dilakukan oleh Penatua Diaken. 

Pada masa Covid-19 ini juga sangat mempengaruhi pelayanan Penatua Diaken di Lau Njuhar. Kekosongan pelayanan yang terjadi karena tidak adanya kemauan dan keinginan untuk melakukan tugas dan tanggung jawabnya. Hal tersebut juga dapat belajar dar Guillaume yang meninggalkan anak dan isterinya demi untuk melanjutkan Pekabaran Injil. Kecakapan dan usaha Guillaume untuk mengunjungi daerah-daerah merupakan satu hal yang patut diteladani sebagai pengayom jemaat. Keaktifan dan kreativitas Penatua dan Diaken akan cenderung mempengaruhi jemaat untuk lebih semangat lagi dalam mengikuti kegiatan gereja. Penatua Diaken harus mampu membuktikan bahwa dalam situasi sesulit pun dapat tetap melayani layaknya sebagai pelayan yang pemberani mampu menerobos semua kalangan jemaat.

III.             Analisa Penyeminar

Analisa yang dapat penyeminar ambil dari seminar ini bahwa seorang pelayan harus memiliki jiwa pelayanan yang sungguh-sungguh yang artinya dalam melayani harus mampu melakukan tanggung jawab dengan penuh keyakinan. Penatua dan Diaken layaknya mampu menerobos segala tantangan yang ada dalam dunia pelayanan dan dengan jemaat itu sendiri. Cara supaya mampu menerobos pelayanan itu adalah dengan pondasi yang kuat kepada Tuhan. Tidak gampang goyah dalam segala hal. Guillaume memberikan bukti bahwa dalam melayani Tuhan tidak ada kata menyerah dan semangat yang membara akan memberikan dampak yang baik. Guillaume dalam segala tantangan yang dihadapinya mampu menerobos dunia pelayanan yang sama sekali bukan lingkungan hidup nya. Seorang yang ditugaskan melayani ke desa-desa, dengan budaya dan bahasa yang sama sekali dia tidak tahu namun dia membuktikan bahwa berkat lindungan Tuhan dia mampu menerobos dan menjadi pembuka jalan bagi penginjil yang lainnya. Kegagalan yang dihadapi Guillaume membuat dia semakin semangat bukan mundur dalam pelayanan. Sehingga penyeminar menganalisa bahwa kekurangan pelayan Tuhan layaknya tidak mampu menerobos permasalahan di pelayanan maka perlu diberikan bimbingan yang lebih lagi khususnya kepada Penatua Diaken di dalam Runggun itu sendiri supaya Penatua dan Diaken lebih kreatif serta termotivasi dari pelayanannya, saling memotivasi satu sama lain dalam melakukan pelayanan, melakukan pertemuan setiap bulannya sesama Penatua Diaken dengan melihat perkembangan pelayanan setiap sektor dan memberikan pengertian kepada penatua diaken mengenai arti pelayanan sesungguhnya.

 

IV.             Kesimpulan

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Pdt. Hendrik Guillaume adalah Pekabar Injil yang ditugaskan di Dataran Tinggi Karo yang banyak sekali mendapatkan kegagalan. Dia dijuluki perintis Pekabaran Injil karena Guillaume berusaha untuk membuka pos-pos Pekabaran Injil di daerah Karo namun alhasil gagal. Namun dibalik itu semua, harapan Guillaume tak pernah hilang untuk terus mencoba dan semangat dalam mencari yang baru lagi. Penatua Diaken perlu menerapkan bibit-bibit dari Guillaume dalam melakukan setiap pelayanannya. Sehingga Penatua dan Diaken mampu menerobos dalam semua bidang pelayanan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab dari masing-masing Penatua dan Diaken. Dalam kisah perjalanan Guillaume dapat menyetakan bahwa keberanian, kesetiaan dan kesabaran dalam menerobos perkampungan daerah Karo supaya dapat melakukan pemberitaan Firman dilakukan dengan begitu banyak proses, layaknya juga pelayan saat ini sehingga tercipta suatu pelayan Tuhan yang tangguh dan mampu menerobos segala yang terjadi dalam jemaat.

V.                Daftar Pustaka  

Sumber Buku:

Damanik Jan J., Kristus Di Tengah-Tengah Suku Simalungun, Medan: CV. Mulya Sari, 2002.

Damanik Jan. J., Dari Ilah Menuju Allah, Yogyakarta: ANDI, 2012.

Ginting E. P., Sejarah Gereja Batak Karo Protestan, Kabanjahe: EL Penampat Grafindo, 2015

Jonathan Meliala S. & Tarigan Berthalina, Presbiterial Sinodal, Jakarta: BPK-GM, 2016.

Moderamen GBKP, Tata Gereja Batak Karo Protestan 2015-2025, Kabanjahe: Moderamen GBKP, 2015.

Sinuraya P., Arsip Diakonia GBKP, Medan: Merga Silima, 1997.

Sinuraya P., Diakonia GBKP, Medan: Merga Silima, 1997.

Sinuraya P., Sejarah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Jilid 1 1890-1941, Medan: Endo, 2004.

Sinuraya, P., Diakonia GBKP, Medan: Merga Silima, 1997.

Sumber Lain:

Wawancara dengan Ramista dilakukan 30 September 2020, pukul 18.00 WIB

https://text-id.123dok.com/document/dzx604dzr-kristenisasi-di-simalungun-1903-1928.html

http://nikennababan.blogspot.com/2012/11/menumbuhkan-semangat-melayani-tuhan.html

https://gbiholyline.wordpress.com/2016/07/25/perspektif-pelayanan-kristen-kolose-323/

https://text-id.123dok.com/document/dzx604dzr-kristenisasi-di-simalungun-1903-1928.html



[1] Wawancara dengan Ramista dilakukan 30 September 2020, pukul 18.00 WIB

[2] P. Sinuraya, Diakonia GBKP, (Medan: Merga Silima, 1997), 81

[3] Jan. J. Damanik, Dari Ilah Menuju Allah, (Yogyakarta: ANDI, 2012), 135

[4] S. Jonathan Meliala & Berthalina Tarigan, Presbiterial Sinodal, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 147-148

[5] E. P. Ginting, Sejarah Gereja Batak Karo Protestan, (Kabanjahe: EL Penampat Grafindo, 2015), 30-31

[6] P. Sinuraya, Diakonia GBKP, (Medan: Merga Silima, 1997), 84-87

[7] P. Sinuraya, Arsip Diakonia GBKP, 105-106

[8] P. Sinuraya, Arsip Diakonia GBKP, 113

[9] Jan J. Damanik, Kristus Di Tengah-Tengah Suku Simalungun, (Medan: CV. Mulya Sari, 2002), 23-25

[11] Jan. J. Damanik, Dari Ilah Menuju Allah, 135

[12] Jan. J. Damanik, Dari Ilah Menuju Allah, 140

[13] Jan. J. Damanik, Dari Ilah Menuju Allah, 148

[14] Jan. J. Damanik, Dari Ilah Menuju Allah, 158-159

[15] Jan. J. Damanik, Dari Ilah Menuju Allah, 173

[16] P. Sinuraya, Arsip Diakonia GBKP, (Medan: Merga Silima, 1997), 101-102

[17] P. Sinuraya, Arsip Diakonia GBKP, 110

[18] P. Sinuraya, Arsip Diakonia GBKP, 111

[19] P. Sinuraya, Sejarah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), (Medan: Endo,2004), 69

[20] P. Sinuraya, Diakonia GBKP, 118

[21] P. Sinuraya, Diakonia GBKP, 85

[23] Moderamen GBKP, Tata Gereja Batak Karo Protestan 2015-2025, (Kabanjahe: Moderamen GBKP, 2015), 101-102

[24] Moderamen GBKP, Tata Gereja Batak Karo Protestan 2015-2025, 103-104

[25] P. Sinuraya, Arsip Diakonia GBKP, 93-97

[26] P. Sinuraya, Arsip Diakonia GBKP, 93-97

Tidak ada komentar:

Posting Komentar