Jumat, 16 April 2021

Kiprah Franciscus dari Asisi

 


Kiprah Franciscus dari Asisi

Suatu Tinjauan Historis Praktis Terhadap Kiprah Franciscus dari Asisi Kepada Kaum Miskin dan Cinta Lingkungan serta Refleksinya terhadap Gereja Masa Kini

I.                   Latar Belakang Masalah

Franciscus dari Asisi adalah seorang tokoh yang luar biasa. Ia adalah pendiri Ordo Fransiskan (O.F.M. = Ordo Fratrum Minorum = Ordo Friars Minor = Ordo Saudara-saudara Hina-dina) yang sampai saat ini masih terus tumbuh dan berkembang. Fransiskus menjadi tokoh yang patut diteladani. Dia menyerahkan seluruh hidupnya untuk membatu orang-orang miskin, melayani orang sakit, berkhotbah di jalan-jalan Ia memandang semua orang baik laki-laki maupun perempuan sebagai saudara kandung. Orang-orang banyak mulai tertarik untuk mengikuti teladan hidupnya. Ordo Fransiskan yang mendasarkan hidup mereka pada kesederhanaan dan kemisikinan; seperti kata Yesus :  "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 19:21). Ia pergi ke Roma dan menukarkan bajunya yang mahal dengan seorang pengemis, setelah itu seharian ia mengemis. Semua hasilnya dimasukkan Fransiskus ke dalam kotak persembahan untuk orang-orang miskin.

Jika kita bertolak dari tugas panggilan gereja, maka kita juga harus paham akan keterlibatan gereja. Gereja juga pada hakekatnya ada di dunia sehingga gereja memiliki dua sisi yaitu sisi Ilahi dan duniawi. Pada umumnya gereja memahami tugas dan panggilannya untuk memberitakan Injil demi penebusan, pembebasan, dan keselamatan. Injil adalah berita untuk manusia dalam keadaan sosialnya (membebaskan) sehingga muncul istilah Comprehensive approach, yaitu suatu pendekatan yang merangkum kehidupan sosial. Kemiskinan yang dimaksud di sini ialah kemiskinan secara materi, yaitu kekurangan dalam sandang, pangan, dan papan, dan juga kurang gizi dan sering sakit-sakitan. Beranjak dari tugas gereja tersebut, melihat pada kenyataannya, pelayanan gereja kepada mereka yang lemah dan miskin masih kurang mendapatkan perhatian yang penuh. Jika kita telusuri, masih ada jemaat gereja tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup pokok. Bahkan masih ada beberapa anak jemaat yang tidak bersekolah. Semua ini karena penghasilan yang rendah. Program dan anggaran dari beberapa gereja untuk pelayanan bagi orang miskin hampir-hampir tidak terlihat dengan jelas. Gereja masih bergerak pada apa yang biasa terjadi, gereja masih terpaku pada rutinitas yang berpusat pada ibadah di dalam gedung gereja. Gereja perlu memikirkan pelayanan yang bersifat holistik yang tertuang dalam suatu pedoman penggembalaan yang lebih lengkap yang di dalamnya memuat arahan pelayanan kepada orang miskin. Seperti Franciscus dari Asisi yang bisa menjadi teladan untuk gereja saat ini. Seorang yang memutuskan menyerahkan diri untuk hidup sebagai pendoa dan pelayan bagi orang-orang miskin. Dia sangat memperhatikan orang-orang miskin. Bahkan ia memberikan seluruh hartanya kepada orang miskin.

Terlihat juga dalam hidup sehari-hari Franciscus dari Asisi juga bersahabat dengan seluruh ciptaan Tuhan yang ada di sekitarnya. Ia begitu mencintai dan menghargai keagungan Allah yang terkandung dalam tiap-tiap ciptaanNya. Pada akhirnya, persahabatan dengan ciptaan tersebut dapat menghantar dirinya dalam relasi yang harmonis dengan Allah Pencipta. Melihat saat ini sudah terjadi krisis lingkungan hidup. Ini disebabkan oleh manusia yang cenderung berusaha menguasai dan mengeksploitasi lingkungan hidup yang ada di sekitarnya, manusia menganggap lingkungan hidup yang ada di sekitarnya hanya sebagai objek kebutuhannya saja, tanpa mempertimbangkan kelestarian dan penghargaan terhadap keagungan nilai ciptaan Allah yang terkandung di dalamnya.

Dari latar belakang masalah di atas, maka dari itu penyeminar mengangkat judul Tinjauan Historis Praktis Terhadap Kiprah Franciscus dari Asisi Kepada Kaum Miskin dan Cinta Lingkungan serta Relevansinya terhadap Gereja Masa Kini.

 

 

II.                Pembahasan

2.1. Biografi Franciscus dari Asisi

Franciscus dari Asisi adalah orang kudus Abad Pertengahan yang paling disayangi. Ia lahir pada tahun 1181 di Asisi, Italia, sebagai anak Pietro Bernardone, seorang saudagar kain yang kaya dari Asisi.[1] Ibunya bernama Pica. Nama Franciscus yang sebenarnya Giovanni, namun ia lebih dikenal dengan nama Franciscus, sebab ketika Giovani dilahirkan, ayahnya sedang berada di Prancis untuk urusan dagang.[2]  Ayah Franciscus seorang pedagang yang cukup cerdik dan ulet. Ia memiliki sebuah toko kain wol di Asisi. Franciscus diberi gelar dari Asisi karena ia berasal dari kota Asisi, dan menutup usianya di situ. Asisi adalah sebuah kota kecil di Italia Tengah. Kota itu terletak di daerah Umbria,  tanah dataran manis permai yang membentang pada kaki Gunung Sabasio. Kota Asisi terletak di lereng gunung itu. [3]

Franciscus adalah seorang anak yang riang dan gembira. Pada  masa kecil sampai dua puluh tahun ia membantu usaha dagang ayahnya.[4] Ia mempunyai watak periang dan peka terhadap keindahan alam dan hal-hal indah lainnya. Ia suka musik, pakaian bagus yang berwarna-warni, bahkan sedikit aneh. Ia sangat spontan, terbuka untuk sesama manusia dan peka terhadap keperluan orang lain. ia suka menghamburkan uang ayahnya bersama kawan-kawannya di Asisi. Franciscus menjadi pemimpin mereka dalam mengadakan pesta-pesta, dan pada malam hari berkeliaran di kota sambil menyanyi dan membuat keributan.[5] Hidupnya biasa-biasa saja sampai ia berumur dua puluhan dan berkali-kali bertemu dengan Allah. Ini menyebabkan ia mengundurkan diri dari kehidupan dunia dan hidup sederhana dalam kemiskinan. Sewaktu ia sedang berdoa di puing-puing sebuah gereja di luar Asisi, ia mendengar suara yang menyuruhnya membangun kembali gereja tersebut. Ia mengerjakannya.[6]

2.2.Pelayanan Franciscus dari Asisi

Memasuki abad ketiga belas, masa depan bagi pemuda Franciscus Bernardone tampak cerah. Sebagai seorang putra pedagang kain di Asisi, Italia, Franciscus tentunya dapat mengharapkan kehidupan seorang kesatria dan kaya.[7] Selagi masih muda ia ingin mengejar kehormatan dan kesenangan duniawi, dan cita-citanya ialah menjadi seorang ksatria yang perkasa.[8] Asisi sedang berperang dengan tetangganya Perugia, jadi Franciscus pun berangkat ke medan perang. Dengan pakaian besi, helm berjambul dan tombak di sisinya, ia tampak bersinar.[9] Tetapi, beliau terpaksa dipulangkan setelah menderita sakit. Dalam kondisi sakit, beliau mengalami pergumulan rohani yang hebat. Pergumulan itulah yang kelak memunculkan rasa iba beliau terhadap kehidupan kaum miskin. Karena itu tidak lama kemudian, Franciscus memutuskan menyerahkan diri untuk hidup sebagai pendoa dan pelayan bagi orang-orang miskin. Pada tahun 1209, tatkala membantu pelaksanaan suatu missa, Firman Tuhan berbicara kepada beliau melalui pembacaan Matius 10:7-19. Franciscus menganggap ayat-ayat itu adalah petunjuk bagi dirinya sendiri. Oleh sebab itu, beliau membuang tongkat dan sepatunya serta mengenakan jubah hitam dengan tali terlilit di pinggang. Beliau hidup dengan cara mengemis semata-mata dengan tujuan untuk mengajarkan tentang kemiskinan, pertobatan, kasih persaudaraan, dan perdamaian. [10]

Suatu hari, ketika ia sedang berkuda, ia melihat seorang penderita lepra di jalanan. Franciscus sebelumnya pernah merasa mual melihat pengemis seperti ini dan mulai melarikan kudanya dengan cepat melewati dia, tetapi orang ini beda adanya. Penderita lepra ini berparaskan wajah Kristus. Diliputi dengan perasaan devosi spiritual, Franciscus turun dari kudanya dan mencium pengemis tersebut, ia memberi uang kepada pengemis itu, dan membawanya ke tujuannya dengan duduk di atas kuda di belakangnya.

Dorongan untuk mempedulikan orang-orang yang sedang membutuhkan bertumbuh dalam diri Franciscus, meskipun ayahnya mengejeknya. Pada taun 1206 Franciscus meninggalkan rumahnya, melepaskan harta ayahnya, kemudian ayahnya memutuskan hubungan dengan dia.[11] Mendadak ia bertobat. Segera ia mulai membetulkan beberapa gedung gereja yang kecil (Kapel) sebagai bukti penyesalannya. Akan tetapi pada suatu kali didengarnya perkataan-perkataan Yesus yang tertulis dalam Matius 10, lalu segera segala kekayaan dilepaskannya untuk dapat menuruti pesan-pesan Yesus (1208).[12] Orang muda ini mengabdikan dirinya dengan kehidupan miskin. Makanan atau pakaian sekecil apapun akan diberikannya kepada mereka yang membutuhkannya. Ia sendiri menjadi seorang pengemis, tanpa malu-malu minta-minta dari orang “berada”, agar ia dapat membagikannya kepada orang yang “tidak berada”.[13]

Franciscus mulai berkhotbah di kapel-kapel dekat Asisi yang telah ditinggalkan. Pesan Injil yang sederhana tentang kasih dan pelayanan telah menghasilkan banyak pengikut setia. Bagi mereka yang ingin bergabung dengannya dengan meninggalkan harta mereka, ia menggariskan sekumpulan peraturan untuk hidup; peratuan-peraturan dasar Ordo Fransiskan. Ia bersama-sama tujuh orang rekannya pergi ke Roma untuk mendapatkan persetujuan Paus bagi ordonya.

Menjelang tahun 1218, sudah ada sekurang-kurangnya 3.000 pengikut Franciscus. Ia telah mengobarkan semangat mereka. Gereja telah menimbunkan harta dan kuasa. Dalam masyarakat Italia yang kaya tambah kaya, dengan restu Gereja, sementara yang miskin mati kelaparan. Namunn, Franciscus menawarkan cara kesederhanaan baru, yang tidak dinodai dengan ketamakan. Banyak yang taat beragaama mengikuti teladannya. Banyak lagi yang tidak ingin mengorbankan hartanya, mengaggumi para pengkhotbah miskin ini dengan mendukung mereka dengan pemberian sedekah.[14]

Karena  Franciscus begitu menghayati hakikat kemiskinan, menjelang saat kematiannya beliau sengaja tidak mengenakan selembar kain pun ditubuhnya, sekedar mengungkapkan kesiapaan beliau untuk bertemu dengan Sang Pencipta di Surga tanpa membawa apapun yang bersifat duniawi.[15] Pada puncak kemahsyurannya, pada bulan Oktober tahun 1226, Franciscus wafat.Dua tahun kemudian diangkat menjadi Santo. Kata-kata terakhirnya ialah, “saya telah menunaikan tuga saya, semoga Kristus sekarang mengajar Saudara, tugas-tugas Saudara.”[16]

2.3. Ordo Fransiscan

Pada tahun 1210 Franciscus pergi ke Roma untuk memohon agar Paus Innocent III merestui pendirian sebuah Ordo baru, pada mulanya, tidak serta merta Sri Paus mengabulkan permohonan Frransiscus. Tetapi setelah Paus bermimpi pada suatu malam, beliau segera mengabulkan permohonan Fransiscus. Paus percaya bahwa dirinya sudah diingatkan oleh Tuhan. Nama ordonya ialah Ordo Franciscan atau “Saudara-saudara dina” (“Ordo Fratrum Minorum”, atau OFM).[17] Anggotanya harus mengucapkan kaul, yaitu kesucian, ketaatan, dan kemiskinan. Kaul yang terakhir inilah yang sangat ditekankan.[18] Kemiskinan itu disebutnya pengantinnya. Dengan berpakaian jubah yang kasar saja dan tidak memakai sepatu atau sandal, Franciscus mulai mengembara serta menasehati orang untuk meniru teladannya. Beberapa kawannya turut-serta. Suatu tata hidup disusunnya, yang disahkan oleh Innocentius III pada tahun 1210. Rahib-rahib Franciscan sangat rajin mengabarkan Injil di antara bangsa-bangsa yang bukan Kristen. Ada yang pergi ke Spanyol, Maroko dan Siria. Franciscus sendiri belajar ke Mesir (1219) untuk menobatkan sultan Alkamil. Tetapi segala percobaan itu tidak berhasil. [19] Ordo Franciscan didirikan dengan peraturan utama bersumber dari tiga bagian Perjanjian Baru. Acuan tersebut berkelindan isu kemiskinan dan soal memikul salib (Mat. 16:24-26; 19:21; Luk. 9:1-6). Tatkala mereka melaksanakan peraturan tersebut, para pengikut Franciscus diutus pergi berkeliling sebagai pengemis. Mereka tidak boleh bekerja, tidak bersepatu, dan mengenakan pakaian yang sangat sederhana. [20] Walaupun Franciscus kurang setuju, tetapi pada tahun 1223 paus membuat ordonya itu mejadi sebuah organisasi yang terjun rapi, dan pencarian nafkah dengan meminta-minta saja diganti dengan kewajiban bekerja untuk penghidupan sehari-hari. Lagipula cara mengembara dihentikan, sehingga kaum Franciscan masih tinggal dalam biara-biara. Oknum dan hidup Franciscus sangat menarik hati kita. Bagi Franciscus menurut Kristus bukanlah berarti menderita sengsara dan menjauhkan diri dari dunia, sebagaimana pendirian Benhard dan Clairvaux, melainkan suatu kegirangan yang sangat besar.

Pada tahun 1224 ia mendapat suatu penglihatan dari Kristus. Setelah itu pada tubuhnya ia mendapat suatu penglihatan dari Kristus. Setelah itu pada tubuhnya yang kurus dan sakit itu tampak tanda luka dari Kristus (stigmata). Pada tahun 1226 Franciscus meninggal. Oleh kesalehannya yang sungguh dan penuh sukacita itu namanya tertera dalam kisah Gereja selaku suatu terang yang permai.

Ordo Franciscan berkembang dengan cepat menjadi ordo yang sangat besar. Lima puluh tahun kemudian jumlah anggotanya sudah sampai 200.000 orang banyaknya. Kaum Franciscan itu sangat dihormati oleh umat Kristen. Mereka mengutamakan soal khotbah dan penggembalaan jemaat. Kemudian menuntut rupa-rupa ilmu pula. Pada tahun 1212 sudah didirikan suatu cabang wanita dar ordo Franciscan itu oleh Clara Sciffi dari Assisi. Aggota-anggota wanita disebut “orang Claris” Ada juga orang awam yang hendak menurut aturan-aturan kaum Franciscan sedapat mungkin. Mereka diorganisasi menjadi “ordo ketiga”.[21]

Sambil berkhotbah keliling, mereka merawat orang sakit, para penderita sakit kusta, dan orang-orang miskin. Franciscus tidak menghendaki mereka sekedar berkhotbah, sebab yang lebih penting ialah mereka yang menghayati Injil itu sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari. Itu jauh lebih berharga daripada berkhotbah, pendidikan tinggi, bahkan kerajinan dalam praktik hidup askese, yang dipraktikkan oleh para biarawan pada masa itu. Karena begitu terdorong untuk menghayati askese, Franciscus mendaki sebuah gunung. Di sanalah beliau mengadakan ritual pernikahan simbolis, dengan menganggap kemiskinan sebagai mempelai beliau. [22]

2.4. Cinta Lingkungan

Alam dipandangnya selaku cermin Allah. Semua makhluk menjadi sahabatnya. Ia bercakap-cakap dengan bunga-bunga dan burng-burung. Ada suatu kidungnya yang termasyhur, kepada “Saudara Suria.”[23] Ada banyak cerita tentang Fransiskus dan perjumpaan-perjumpaannya dengan macam-macam makhluk ciptaan: dengan binatang/hewan seperti burung-burung, ikan, bahkan serangga. Ia melangkah di atas batu-batu dengan penuh hormat; dia merasa gembira bila mendengar suara air yang mengalir atau angin yang bertiup. Fransiskus memang memiliki suatu kecintaan yang istimewa kepada makhluk-makhluk hidup, yang kehadirannya dirasakan olehnya sebagai sesuatu yang indah. Di atas segalanya, ketika Fransiskus berpaling kepada Allah tanpa mengenakan topeng dan dirinya diliputi ketakjuban akan misteri inkarnasi, maka alam ciptaan menjadi kudus baginya. Segala hal yang diciptakan oleh Allah juga telah disentuh oleh kehadiran “Sabda yang menjadi daging” (Yoh 1:14). Dengan demikian, Fransiskus tidak hanya seorang pencinta alam dan seorang penyair yang menyaksikan keindahan dari semua hal yang ada di sekeliling dirinya. Secara lebih mendalam, dia sebenarnya terpesona dengan kehadiran Allah dalam tatanan ciptaan-Nya. Orang kudus ini memang mengawali suatu cara baru bagi umat Kristiani untuk memahami dunia ciptaan.[24]

Bapa kami yang ada di surga. Ketika Fransiskus mendeklarasikan bahwa bapaknya adalah “Bapa kami yang ada di surga”, selagi dia melepaskan pakaiannya di hadapan uskup Assisi (1Cel 15), tentunya dia tidak menyadari segala implikasi dari deklarasinya itu. Apabila Allah adalah Bapa dari semua umat manusia dan tentunya juga dari semua hal yang ada, maka semua makhluk ciptaan Allah juga mempunyai hubungan satu sama lain sebagai saudara karena mempunyai satu Bapa yang sama. Jadi, Fransiskus sampai kepada pemahaman bahwa keluarga Allah termasuk juga burung, semut, batu, dlsb. seperti juga semua manusia, apakah kaya, miskin, perempuan, laki-laki, berwarna kulit putih, kuning, sawo matang, hitam dlsb.[25] Bagaimana tepatnya Fransiskus sampai kepada wawasan seperti ini tidak secara terinci dijelaskan dalam dokumen-dokumen yang ada. Benih-benih dari pandangan tentang alam semesta memang dapat kita temukan dalam bab-bab awal Kitab Kejadian, dan Fransiskus sangat akrab dengan Kitab Suci dan dapat dikatakan merupakan salah seorang penafsir Kitab Suci yang cemerlang. Jadi, kiranya ada peranan Kitab Suci juga dalam hal ini. Ketika Fransiskus berjalan melalui hutan atau mendengarkan siulan seekor burung, hal tersebut bukanlah sekadar suatu perjumpamaan antara dirinya dengan makhluk yang lain; melainkan  ini adalah suatu perjumpaan yang senantiasa dimediasikan oleh apa yang Fransiskus pahami tentang Allah dan alam ciptaan seperti dibaca dan direnungkannya dari Kitab Suci.

Fransiskus bukanlah secara khusus meminati burung-burung dsb, melainkan karena semua itu merepresentasikan kualitas-kualitas moral dan ajaran-ajaran moral, dan semua itu juga menolong membawa Fransiskus kepada suatu pemahaman yang lebih besar akan Bapa surgawi dan pengalaman akan Dia yang disyeringkan olehnya dengan mereka. Fransiskus tidak secara khusus meminati perilaku hewan atau benda-benda tak bernyawa demi hewan atau benda-benda itu. Sebaliknya, dia menemukan dalam alam ciptaan berbagai jawaban atau petunjuk berkaitan dengan kodrat Sang Pencipta dan suatu pemahaman tentang hukum-hukum-Nya. [26]

2.5. Refleksinya terhadap Gereja Masa Kini

Franciscus dari Asisi yang memutuskan menyerahkan diri untuk hidup sebagai pendoa dan pelayan bagi orang-orang miskin dan sikapnya yang sangat memperhatikan orang-orang miskin dapat menjadi teladan bagi gereja masa kini. Manusia yang adalah makhluk sosial, menandakan bahwa kita juga harus ikut merangkul penderitaan sesama manusia. Pengaruhnya sungguh luar biasa. Pada saat ini ada jutaan orang di segala penjuru dunia yang menyatakan diri mereka sebagai para pengikut dari “Si Kecil Miskin dari Assisi” ini, tidak terbatas pada para pemeluk agama Katolik Roma saja, tetapi juga anggota-anggota jemaat Kristen lainnya, antara lain Gereja Anglikan dan Lutheran. Ini jelas menandakan bahwa Franciscus dari Asisi menjadi teladan bagi jemaat Kristen saat ini. Sambil berkhotbah keliling, ia dan kawan-kawan se-ordonya merawat orang sakit, para penderita sakit kusta, dan orang-orang miskin. Franciscus tidak menghendaki mereka sekedar berkhotbah, sebab yang lebih penting ialah mereka yang menghayati Injil itu sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari. Itu jauh lebih berharga daripada berkhotbah, pendidikan tinggi.

Kenyataan saat ini, pelayanan gereja kepada mereka yang lemah dan miskin masih kurang mendapatkan perhatian yang penuh. Jika kita telusuri, masih ada jemaat gereja tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup pokok. Bahkan masih ada beberapa anak jemaat yang tidak bersekolah. Semua ini karena penghasilan yang rendah. Program dan anggaran dari beberapa gereja untuk pelayanan bagi orang miskin hampir-hampir tidak terlihat dengan jelas. Gereja masih bergerak pada apa yang biasa terjadi, gereja masih terpaku pada rutinitas yang berpusat pada ibadah di dalam gedung gereja. Gereja perlu memikirkan pelayanan yang bersifat holistik yang tertuang dalam suatu pedoman penggembalaan yang lebih lengkap yang di dalamnya memuat arahan pelayanan kepada orang miskin. Upaya-upaya untuk menolong orang miskin akan dapat dilakukan dengan lebih baik dan sungguh-sunggu memberdayakan mereka ialah dengan mengikut sertakan mereka sebagai subjek sebab mereka sendiri merupakan suatu kekuatan terbesar untuk melakukan perubahan untuk memperbaiki keadaan mereka. Di samping itu, pelayanan gereja kepada orang miskin harus berbasis pada data, terutama data mengenai potensi atau kekuatan-kekuatan gereja serta melakukan suatu koordinasi yang baik dan terpadu agar semua warga gereja diikut sertakan dalam keprihatinan ini. Untuk maksud tersebut maka gereja perlu membuat keputusan pastoral atau kebijakan kepedulian kepada orang miskin yang dapat dijadikan panduan bagi semua bagian pelayanan bagi gereja.

Gereja dituntut untuk tidak hanya berkiprah di ruang rohaniah saja. Melainkan lebih mendarat kepada kehidupan nyata untuk memberikan pembaharuan-pembaharuan dan perbaikan terhadap ketertinggalan kehidupan jemaat. Dengan kata lain agama bukanlah sekedar obat penenang bagi kehidupan. Gereja haruslah menunjukkan gereja yang hidup di dunia berdasarkan pimpinan dan tuntunan Allah dalam Yesus Kristus. Perintah mendengarkan jeritan kaum miskin mendarah daging dalam diri kita bilamana kita sangat tersentuh oleh penderitaan orang-orang lain. Dengarkanlah apa yang diajarkan oleh Sabda Allah kepada kita tentang kemurahan hati, dan membiarkan Sabda itu menggema dalam hidup Gereja. Injil mengatakan kepada kita: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Mat 5:7).

Fransiskus Asisi juga dikenal sebagai sosok pecinta damai. Kerendahan hati mendorongnya untuk selalu mendoakan hewan-hewan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Alam dipandangnya selaku cermin Allah. Semua makhluk menjadi sahabatnya. Dia terpesona dengan kehadiran Allah dalam tatanan ciptaan-Nya. Orang kudus ini memang mengawali suatu cara baru bagi umat Kristiani untuk memahami dunia ciptaan. Manusia dan alam adalah ciptaan, property dan bait Allah, semua itu berada dalam suatu hubungan perjanjian dengan Allah. Krisis lingkungan hidup yang dialami manusia pada masa sekarang merupakan akibat langsung dari kurang pedulinya manusia terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Sebagai Pencipta, Allah sesuai rencana-Nya yang Agung telah menciptakan segala sesuatu dengan maksud dan fungsinya masing-masing dalam hubungan harmonis yang terintegrasi dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Sebab semua ciptaan berharga di mata Tuhan. menjadi Kristen berarti menjadi bagian dari karya Allah untuk menata kehidupan yang harmonis, keikutsertaan dalam melestarikan alam dilaksanakan sebagai bentuk kesadaran dan tanggung jawab umat Kristen sebagai umat ciptaan Allah.

Doa Franciscus dari Asisi yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:[27]

Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai

Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih

Bila terjadi penghinaan,jadikanlah aku pembawa pengampunan

Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan

Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran

Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian

Bila terjadi keputus asaan, jadikanlah aku pembawa harapan

Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang

Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita

Tuhan, biarlah kami bukan hanya ingin dihibur, Tetapi ingin menghibur

Bukan hanya ingin dimengerti, Tetapi ingin mengerti

Bukan hanya ingin disayangi, tetapi ingin menyayangi

Karena dengan mengabdikan diri, kami menjadi kaya

Dengan mengurbankan diri, kami beroleh selamat

Dengan mengampuni, kami menerima pengampunan

Dengan mati, kami dilahirkan kembali

Di dalam Yesus Kristus, Anak-Mu, ya Tuhan kami selama-lamanya. AMIN

III.             Analisa Penyeminar

Dalam kehidupan ini sebagai makhluk sosial kita harus saling menopang satu dengan yang lainnya. Dalam Galatia 6:2 “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi Kristus”.  Franciscus Asisi sungguh patut jadi teladan untuk kehidupan bergereja saat ini. Dia yang dikenal oleh orang sekitarnya yang adalah anak orang kaya raya, tergugah hatinya untuk membantu orang yang berkekurangan. Awalnya ia adalah pribadi yang suka sekali menghambur-hamburkan uang bersama dengan teman-temannya, berfoya-foya, mengadakan pesta, tetapi pada suatu waktu Allah menyadarkan dia dan akhirnya ia hidup sederhana dan rela melayani orang-orang miskin yang berkekurangan. Ia juga terkagum-kagum atas ciptaan Tuhan yang ada. Berbicara dengan berbagai macam binatang, mengkhotbahinya. Allah adalah Bapa dari semua umat manusia dan tentunya juga dari semua hal yang ada, maka semua makhluk ciptaan Allah juga mempunyai hubungan satu sama lain sebagai saudara karena mempunyai satu Bapa yang sama. Jadi, Fransiskus sampai kepada pemahaman bahwa keluarga Allah termasuk juga segala jenis binatang seperti juga semua manusia, apakah kaya, miskin, perempuan, laki-laki, berwarna kulit putih, kuning, sawo matang, hitam dlsb. Franciscus mengajarkan kepada kita apa itu kesetaraan. Ia mengajarkan gereja agar melimpahkan cinta kasihnya kepada semua yang terkena kelemahan, penderitaan, meringankan kemelaratan mereka.

IV.             Kesimpulan

Kemiskinan yang dimaksud di sini ialah kemiskinan secara materi, yaitu kekurangan dalam sandang, pangan, dan papan, dan juga kurang gizi dan sering sakit-sakitan. Franciscus dari Asisi adalah orang kudus adalah orang kudus Abad Pertengahan yang paling disayangi. Ia lahir pada tahun 1181 di Asisi, Italia, sebagai anak Pietro Bernardone, seorang saudagar kain yang kaya dari Asisi. Asisi sedang berperang dengan tetangganya Perugia, jadi Franciscus pun berangkat ke medan perang. Tetapi, beliau terpaksa dipulangkan setelah menderita sakit. Dalam kondisi sakit, beliau mengalami pergumulan rohani yang hebat. Pergumulan itulah yang kelak memunculkan rasa iba beliau terhadap kehidupan kaum miskin. Ia membuat sebuah ordo, nama ordonya ialah Ordo Franciscan atau “Saudara-saudara dina” (“Ordo Fratrum Minorum”, atau OFM). Anggotanya harus mengucapkan kaul, yaitu kesucian, ketaatan, dan kemiskinan. Kaul yang terakhir inilah yang sangat ditekankan. Dia juga terkenal sangat cinta lingkungan, berbicara dengan binatang, menghkotbahinya, sangat menyayangi alam, sebagai wujud syukur atas apa yang sudah Tuhan ciptakan. Franciscus tidak menghendaki pengikut ordonya sekedar berkhotbah, sebab yang lebih penting ialah mereka yang menghayati Injil itu sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari. Itu jauh lebih berharga daripada berkhotbah, pendidikan tinggi, bahkan kerajinan dalam praktik hidup askese.

V.                Daftar Pustaka

  …….. Encyklopedia of Knowledge Vol. 15, Danbury, Connecticut: Grolier Incorporated, 1993

Curtis, A. Kenneth, 100 Peristiwa Penting dalam sejarah Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2015

OFM, Cletus Groenen, Fransiskus dari Asisi: Riwayat Hidup, (Jakarta: Sekretariat SEKAFI, 2010

Felder, Hilarin, O.M. Cap., THE IDEALS OF ST. FRANCIS OF ASSISI, (translated  by Berchmans Bittle OMCap.),  Chicago, Ill.: Franciscan Herald Press, 1982

Wellem, F. D., Kamus Sejarah Gereja, Jakarta: BOK-GM, 2011

Wellem, F.D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2015

Berkhof, H., & I. H., Enklaar, Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2016

Culver, Jonathan E., Sejarah Gereja Umum, Bandung: Biji Sesawi, 2013

Ali, Lukman, dkk, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi kedua, cetakan ketujuh, Jakarta: Balai Pustaka, 196

Pasaribu, Rudolf, Teologi Pembangunan, Medan: Pieter, 1988

 Lane, Tony, Runtut Pijar, Jakarta: BPK-GM, 2016

Cook, William R., FRANCIS OF ASSISI, Collegeville, Minnesota: A Michael Glazier Press, The Liturgical Press,  1989



[1] Tony Lane, Runtut Pijar, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 100.

[2] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam sejarah Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 2015),  81.

[3] Cletus Groenen OFM, Fransiskus dari Asisi: Riwayat Hidup, (Jakarta:SekretariatSEKAFI, 2010),  5-6.

[4] F.D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam sejarah Gereja,  81.

[5] Cletus Groenen OFM, Fransiskus dari Asisi: Riwayat Hidup, 9.

[6] Tony Lane, Runtut Pijar, 100.

[7] A. Kenneth Curtis, 100 Peristiwa Penting dalam sejarah Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 2015), 60.

[8] H. Berkhof & I. H. Enklaar, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 90-91.

[9] A. Kenneth Curtis, 100 Peristiwa Penting dalam sejarah Kristen, 60.

[10] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, (Bandung: Biji Sesawi, 2013), 234.

[11] A. Kenneth Curtis, 100 Peristiwa Penting dalam sejarah Kristen, 60.

[12] H. Berkhof & I. H. Enklaar, Sejarah Gereja, 90-91.

[13] A. Kenneth Curtis, 100 Peristiwa Penting dalam sejarah Kristen, 60.

[14] A. Kenneth Curtis, 100 Peristiwa Penting dalam sejarah Kristen, 61.

[15] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, 236.

[16] A. Kenneth Curtis, 100 Peristiwa Penting dalam sejarah Kristen, 61.

[17] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, 233.

[18]F. D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, (Jakarta: BOK-GM, 2011), 107.

[19] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, (Bandung: Biji Sesawi, 2013), 233-234.

[20] Ibid, 234.

[21] H. Berkhof & I. H. Enklaar, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 2016), 90-91.

[22] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, (Bandung: Biji Sesawi, 2013), 234.

[23] H. Berkhof & I. H. Enklaar, Sejarah Gereja, 91.

[24] William R. Cook, FRANCIS OF ASSISI, (Collegeville, Minnesota: A Michael Glazier Press, The Liturgical Press,  1989), 52.

[25] Dalam hal ini, bdk. apa yang ditulis oleh Hilarin Felder, O.M. Cap., THE IDEALS OF ST. FRANCIS OF ASSISI, (translated  by Berchmans Bittle OMCap.),  (Chicago, Ill.: Franciscan Herald Press, 1982), 414.

[26] H. Berkhof & I. H. Enklaar, Sejarah Gereja, 91.

[27] Jonathan E. Culver, Sejarah Gereja Umum, 235.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar