Jumat, 16 April 2021

GBKP Dan Buluh Awar

 


GBKP Dan Buluh Awar

(Suatu tinjauan historis praktis terhadap Perkembangan perkabaran injil pertama di Buluh Awar Dan Relevansinya bagi  pengaruh iman kepercayaan untuk kemajuan GBKP)

I.                   Latar Belakang Masalah

Berbicara masalah GBKP dan Buluh awar tidak terlepas dari sejarah yang sangat berkesinambungan yang dimana GBKP itu berasal dari perjalanan penginjilan di desa buluh Awar. Yang dimana pada penanaman injil yang dilakuakan para zending untuk mendirikan GBKP membutuhkan tenaga, dikarena sulitnya bagi para penduduk saat itu untuk menerima injil ditengah-tengah dunia ini terkhususnya suku karo. Untuk proses masuknya injil ke tengah-tengah suku karo yang dimulai dari desa buluh awar banyak hal yang harus dilakukan para zendeling pada saat itu khusunya pendekatan budaya, karena penduduk pada saat itu sangat kental memakai kepercayaan pada budaya khusunya suku karo, sehingga para zendeling pertama-tama haruslah terjun dan ikut menikmati suasana dan praktek yang dilakukan penduduk pada saat itu terutama pada hal bahasa, adat istiadat dan bahkan dalam segi kebiasaan berpakaian bahkan makanan mereka harus ikut serta untuk mendekatkan diri dan memulai penanaman injil tersebut kepada GBKP pada saat itu. Ada juga banyak tantangan yang harus dilalui oleh para zendeling pada saat itu baik ditolak dan diganggu penduduk itu sendiri sehingga para zendeling harus sangat-sangat sabar dan gigih dalam mengalami hal tersebut. Dan yang menjadi tempat pengijilan pertama untuk perkembagan GBKP adalah desa Buluh Awar ada beberapa latar belakang yang terjadi sehingga mengapa harus desa buluh awar yang menjadi tempat pertama berangkatnya injil keseluh dunia terkhusunya gereja batak karo protestan (GBKP), dan juga apa saja media dan sarana yang dilakukan para zending dalam pemberitaan tersebut. Sehingga dari sejarah perkembagan penginjilan GBKP didesa buluh awar banyak hal yang bisa digunakan atau dilakukan oleh para pelayan saat ini agar hal tersebut menajadi sarana pendekatan tersehadap jemaat GBKP hal tersebut bisa dibagun untuk terciptanya perkembagan iman jemaat di tengah-tengah gereja GBKP saat ini, karena pada saat ini penyeminar melihat kurangnya gereja ambil bagian dalam situasi sulit yang dihadapi jemaat sehingga pandangan beberapa jemaat bahwa kehadiran gereja tidak memberikan sentuhan kekeluargaan bagi jemaat gereja yang sedang dilanda situasi sulit, dari itu dapat kita bangun kembali dengan melihat sejarah perekembagan injil pertama di desa buluh Awar yang dimana terlihat bahwa para zendeling pada saat itu melakukan pendekatan dengan metode kekeluargaan, hal itu bisa kita tiru atau kita lakukan digereja saat ini agar jemaat merasa bahwa kehadiran gereja tersebut menjadi garam yang dapat memberikan rasa bagi kehidupannya dengan metode pendekatan yang dilakukan para zending pertama didesa Buluh Awar tersebut.  

II.                Pembahasan

2.1.Letak Geografis Desa Buluh Awar

Letak Desa buluh awar ini terletak di Kecamatan sibolangit  kabupaten Deli Serdang Sumatra Utara, di perlintasan jalan medan kabanjahe desa buluh awar ini berada di tengah-tengah anatara jalan mendan kabanjahe, dan desa Buluh Awar ini dibagi atas tiga dusun terdiri dari dusun satu dusun dua dan dusun tiga. Dan jumlah penduduk didesa Buluh awar itu terdiri dari 120 keluarga. Dan mayoritas penduduk di desa itu terdiri dari suku karo (Kristen), hanya ada 1-3 keluarga yang beragama Islam dan gereja GKII. [1]

2..1.1. Konteks Ekonomi

Konteks ekonomi yang ada pada Buluh Awar ini rata-rata penkerjaan masing-masing orang yang ada didesa Buluh awar adalah seorang petani, yang menghasilkan padi, daun ubi dan sayuran dari hasil ladang mereka, juga ada air Pola (aren), yang diolah menjadi Gula merah, juga tuak gula tualah gula semut. Juga ada pinang, dan juga coklat, kembiri. Dan juga sebagian penduduk Desa ini membuka warung lontong dan juga warung kopi. Dan juga penduduk desa ada yang membuat kue-kue yang dujual ke kede-kede yang ada. Bahkan Di desa Tersebut tidak ada seorang pun yang PNS dan anak-anak Remaja yang ada di desa itu juga terbatas dalam persolahan hanya ada 2-3 orang yang belanjut di dunia perkuliahan bahkan tidak rata-rata anak-anak tersebut bersekolah ke bangku SMA. Jadi dari segi ekonomi desa ini hanya bisa bertahan dalam kehidupan sehari-hari namun jika biaya untuk persekolahan sangat minim.  [2]

2.2.Mengapa buluh Awar

Permulaan usaha pekabaran injil ke daerah Batak Karo bukan karena munculnya tugas rohani. Usaha itu di mulai oleh karena permohonan J.T. Cremers seorang pemimpin perkebunan yang telah dibuka di Sumatera Timur. Belialu berpendapat bahwa jalan yang paling baik supaya penduduk asli daerah ini jangan menentang dengan menggangu usaha-usaha perkebunan ialah dengan mengabarkan injil dan mengkristenkan mereka. Dengan meyakinkan maskapai perkebunan terhadap pendapatnya, Cremers meminta kepada Nederlandsche Zending Genootsschap (NZG) untuk membuka penginjilan di daerah Sumatera Timur dengan biaya yang dibebankan kepada maskapai-maskapai. Permintaan dan perjanjian itu di terima oleh NZG dan dilaksanakan dari tahun 1890-1930.[3]melalui hasil perjalanan dia menetapkan desa Buluh awar menjadi pos pengijilan sebagai domisilinya mulai 1 juli 1980 dalam sebuah rumah sederhana. Sebab waktu itu desa buluh awar lebih strategis karena melalui desa Buluh Awar itulah desa yang dilalui “perlanja sira” (pedagang garam) yang membelinya dimedan untuk dibawa ke daerah karo tinggi/dataran tinggi karo. Buluh awar adalah desa perlintasan dan persinggahan anatara karo jahe dan medan dengan karo tinggi. Pada zaman itu belum ada jalan tembus melalui sibolangit (seperti sekarang ini). Dan barang-barang diangkut melalui pikulan-pikulan seperti yang dipergunakan “perlanja sira” tersebut, jalan lintas masi merupakan jalan setapak. [4] Didesa Buluh Awar ada 2 rumah sederhana yang tidak jauh dari kampung. Pdt H.C Kruyt tinggal dirumah tersebut Rumah tersebut disewa 16 dollar dubbelltje = 336 cent perbulan.

2.3.Apa saja yang dilakukan Zending Di Buluh Awar dan sumbanghi 

1.      Pdt. H.C.Kruyt

Didesa Buluh awar dia mulai belajar berbahsa karo dan budaya karo, ia mulai memakai ikal kepala ( erbulang ), memakai kain tenunan khas karo ( eruis ), memakai selendang ( cabin ), ikut bergoto royong ( aron ), dan juga merawat orang-orang sakit. Ada sekitar 41 orang yang ia rawat, misalnya ada yang keracunan darah dan ada yang sakit borok. Ia mengunjungi orang-orang sakit dan memberinya obat. Bayarannya biasanya berbentuk ayam, beras dan lain-lain. [5] Dia memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak mengisap candu dan tidak bermain judi. Pada 23 November sampai 3 desember Pdt H.C kruyt pergi menuju dataran tinggi karo. Pada tahun 1891 dia pergi ke manado bersama bersama Nicolas mencari tenaga pembantu untuk penginjilan, kemudian ditemukan tenaga penginjilan dan ditempatkan di 5 pos pelayanan (pada setiap pos pelayanan dubuka rumah sekolah dan poliklinik disamping pelayanan firman),

1.      Guru injil Benyamin Wenas didesa Salabulan

2.      Guru injil Johan Pinotoan di desa Sibolangit

3.      Guru injil Richard Tampanawas di desa Pernengenen

4.      Guru injil Hendrik Pesik didesa Tanjung Beringin[6]

Ia belajar sambil bekerja dan belajar dari pengalaman hidup di tengah-tengah suku bangsa karo, (learning by doing and learning from experience). Cara H.C.Kruyt dalam pendekatan ini tidak bersifat kooperatif, tembak langsung sehingga kurang diterima masyarakat. Ia juga menjelaskan bahwa kedatangan sebagai misi zending (NZG) tidak berbau politik penjajahan dan perusahaan pengelohan tembakau, maksud misi zending adalah memberitakan injil kabar baik dan upaya mencerdaskan masyarakat karo dan menolong orang-orang sakit serta membantu masyarakat agar hidup sehat. [7] Pada masa perjalanan kelaut belawan dipergunakan Kruitj memberikan pengajaran bahasa dan pengenalan sistem kekerabatan “marga si lima tutur siwaluh ras rakut sitelu dalam masyarakat karo”. [8] Rumah baru sebagai pos penginjilan di Buluh Awar sudah selesai di bangun pada bulan agustus 1891, untuk itu maka dilakauakan “adat mengket rumah baru” (acara memasuki rumah baru). Guru injil R. Tampenawes di tahbiskan oleh Pdt Broofer sebagai guru agama di di Pernagenen. Atas motivasi dan penyuluhan Pdt Kruyt agar orang karo menjadi masyarakat maju melalui pendidikan, maka 19 0ktober 1890 sudah dibuka sekolah pertama bagi masyarakat setempat Buluh Awar. Para orang tua dimotivasi agar  mau mendirikan tempat belajar bagi putra-putri mereka. Pada waktu itu sekolah, pengobatan, dan irigasi air untuk persawahan rakyat merupakan pintu komunikasi agar injil didekat bagi masyarkat setempat. Tahun 1892 Kruyt melakuakn perjalanan kedua ia bersama beberapa guru injil dan tokoh masyarakat buluh awar yang memiliki kekerabatan dengan sibayak-sibayak di Dataran tinggi karo.[9] Tapi pengusaha Deli meij mendesak H.C. Kruyt membuka pos pengijilan di dataran tinggi karo sebab pengusahanya tidak hanya memperkerjakan orang karo dari dataran rendah tapi juga ada dataran tinggi karo. Dalam situasi Pdt H.C. Kruyt harus berhati-hati agar ia tetap bebas dari pengaruh kolonial dan para kapitalis. Ditahun kemudian (1892) H. C. Kruyt pulang ke Eropa tanpa membabtis seorang pun dari suku Karo.

2.      Pdt J.K. Wijngaarden

 Kemudian digantikan Pdt.J.K Wijngaarden yang sebelumnya telah bekerja di pulau Sawu dekat pulau Timor. Ia tinggal bersama istrinya. Istrinya mengundang wanita karo agar datang kerumahnya. Dirumah dia sudah menyiapkan kampil yaitu suatu anyaman pandan yang berisi daun sirih, kapur, gambir, pinang, dan tembakau. Sambil makan sirih mereka mengadakan percakapan-percakapan. Pdt.J.K. Winjnjgarden merawat orang sakit, menginjili, memberi pelajaran, dan mengunjungi kampung-kampung sekitarnya dan di Buluh Awar istrinya melahirkan seorang anak laki-laki bernama cornelius dan mengakat seorang anak yang bernama Sangap. [10] Pendeta inilah yang melakukan pembabtisan pertama suku Karo tanggal  20 Agsutsus 1893 sebanyak 6 orang; sampe, ngurapi, pengarapen, nuah, tala, dan tabar. dan pada tanggal 04 Agustus 1894 diadakan babtisan kedua yang dibabtis sebanyak empat orang yang terdiri dari Negel, Lampo, Nesei, Sanggap. Pada 6 maret 1893 guru injil tampanaes mulai mengajar masyarakat di Salabulan untuk sementara mereka harus jalan kaki setiap hari dari desa pergenegen ke desa Salabulan. Dan pada 25 september 1893 di tahbis kan rumah injil Tampanawes di Pergernengen dan pada tanggal 27 september 1893 ditahbiskan rumah guru injil Pinotoan di Sibolangit dan pada tanggal 25 oktober 1893  ditabiskan rumah guru injil Hendrik Pesik di Tanjung Beringin. Setelah empat tahun pelayannanya pendidikan yang dilakukan telah berdiri lima buah rumah sekolah dengan jumlah murid 39 orang yaitu: didesa Buluh Awar sebanyak 12 orang, didesa Salahbuan sebanyak 4 oarang, didesa Sibolangit sebanyak 5 orang, didesa Pernengenen sebanyak 3 oarng dan didesa Tanjung beringin sebanyak 15 orang. [11] Pendeta Wijngaarden meninggal 22 september 1894 karena serangan penyakit disentri. Rumah guru-guru injil minahasa selesai dibangun antara bulan juli dan oktober 1893 dan masing-masing mengadakan pesta masuk rumah baru. Pesta masuk rumah baru ini adalah pesta yang paling banyak dihadiri oleh masyarakat karo dari semua pertemuan yang dilakukan misionaris, alasannya karena ada persamaan antara upacara suku karo dan juga karena misionaris memotong babi untuk menjamu para tamu. Misionaris mempaatkan kesempatan ini untuk mengkhotbahkan renungan singkat atau menceritakan satu cerita dan   menyanyikan satu lagu dan berdoa memohon berkat. Mereka juga menyewa pemusik karo yang dimainkan untuk menari. [12] Pada tanggal 22 september 1894 beliau meninggal dunia dan dimakamkan dijalan pemuda Medan. Kantor pusat NZG menugaskan Dina W.Guittart istri J.K.Wigjgaraden untuk melanjutkan pelayanan suminya di Buluh Awar samapai tiba Pdt yang akan mengamntikan beliau. Dina seorang janda dengan suka rela melakukan pelayanan dan memikul tanggung jawab tersebut, dan beliau juga secara teratur mengadakan orientasi dengan guru-guru Injil dalan jajaran pelayanannya.[13] Pendeta J.K.Wijngaarden dan istrinya juga dating berkunjung melayat orang yang sedang berduka cita itu. Ia juga memberikan kata-kata penghiburan dan sekaligus menerangkan bagaimana pentingnya ilmu kebidanan dan masyarakat juga dianjurkan agar mau menerima pelayanan kebidanan walaupun harus dilakukan oleh pria. Pada saat itu juga J.K Wijngarden juga berhasil mengubah pandangan jemaat buluh awar pada saat itu tentang kematian ibu yang melahirkan bahwa anaknya akan pembawa sial, dengan cara mengasuh anak dari salah satu masyarakat yang meninggal akibat melahirkan anak laki-laki itu dan ia merawat anak tersebut dan memberi namanya dan membesarkannya dengan kasih saying seperti anak kandungnya sendiri, anak itu diberi nama Sangap yang artinya murah rejeki atau si nasib baik, hal tersebut memberikan pandangan baik terhadap hal itu, sehingga hal tersebut dapat mengubah persepsi jemaat pada saat itu. Dan ia juga melakukan bantuan dan dukungan kepada pdt M. Joustra yang akan melayani di Buluh awar dengan mempersiapkan beliau dalam pengetahuan bahasa dan budaya serta menyiapkan kebutuhan nya dan menyediakan makanan sehari-hari dengan makanan ala-ala Eropa yang tidak mungkin diperoleh di Buluh Awar. [14]

3.      Pdt. M. Joustra

Wijngaarden kemudian digantikan oleh Pdt. Joustra, ia menerjemahkan 104 cerita-cerita Alkitab dari PL & PB ke dalam bahasa Karo (104 turi-turin). Ia juga juga menyusun lagu perpisahan kepda nora Dina dengan lagu yang tulidnya dengan judul lagu “Lawes me kam mejuah-juah”. Dan ia juga tinggal di Buluh Awar. Pdt Joustra menanam padi di sawahnya bersama warga gereja dan anak-anak sekolah.  Pada tanggal 3 April 1896 diadakan Perjamuan Kudus pertama di Buluh Awar yang dilayani oleh Pdt. M. Joustra. Perayaan Paskah di Buluh Awar dirayakan dengan pesta besar karena saat itu juga ada pembabtisan 13 pada tanggal 20 Agustus 1993. Pada bulan April 1897 ia lulus ujian sekolah menteri cacar dan kembali ke Buluh Award an beliau memberikan bantuan kepada jemaat dan masyarakat terutama dibidang kesehatan dan konfirmasi sidi pertama diantara orang karo. [15] pada 6 Desember dilakukan Pembabtisan pertamnya dibuluh Awar yaitu kepada dua orang yang bernama djahata dan Badjar Purba.[16] Jamuan Kudus ini dihadiri oleh semua warga jemaat dan para penginjili. Pada saat perayaan paskah dibuluh Awar diadakan pesta besar karena pada saat itu yang bersamaan dengan pembabtisan kepada 13 orang dan sidi kepada 4 orang, ini sidi pengakuan iman pertama oleh masyarakat. Pada tanggal 24 Desember 1899 dilaksanakan penahbisan Gereja Batak Karo Protestan yang pertama di Buluh Awar, semua nyanyikan pujian dinyanyikan dalam bhasa karo yang sudah diterjemahkan dari bahsa Belanda. Keadaan pelayanan pada tahun ini adalah sebagai berikut: anggota jemaat 56 orang yang sudah dibabtis 17 orang, yang sudah sidi 4 orang, rumah sekolah 4 buah dengan jumlah murid 93 orang. Pada tanggal 15 November 1896 dibuka pos penginjilan yang baru di desa bukum, guru injil B. Wenas dan istrinya ditempatkan untuk melayani disini. Dan pada tanggal 1 januari 1898 dilakukan penahbisan rumah pengijil Benyamin Wenas di Bukum, acara penahbisan ini lakukan sesuai dengan budaya Karo,”mengket rumah mbaru’ tamu yang hadir sekitar 300 orang. Pada tanggal 26-31 Agustus 1897 mereka bersama guru injil Tampewanes dan Pontoh melakukan perjalanan kedaerah dataran tinggi Karo. Pada tanggal 19 April 1898 Ptd M. Joustra beserta Gr. Injil Persik, Gr injil Wenas, Bajar Kembaren dan Tambat (Pengulu Buluh Awar), mengadakan kunjungan ke dataran tinggi Karo mereka menempuh rute Buluh Awar-Bukum-Berastagi-Raya. Kaban Jahe-Seberaya-Suka Julu-Barus Jahe-Bukit dan kembali ke Buluh Awar. Pdt M. Joustra menerangkan bahwa jumlah penduduk pada saat itu di Berastagi Kurang lebih 800 orang, Suka Julu kurang lebih 1320 orang, dan Seberaya kurang lebih 2000 orang. Di Kaban jahe M. joustra bertemu dengan pa landas, di desa Seberaya ia bertemu dengan pa Ngendit, di Barus Jahe bertemu dengan Sibayak pa Unjuken dan di Bukit beliau bertemu dengan kepala kampung Suangmin. Pada tanggal 16-22 Oktober 1899 Pdt. M. Joustra mengadakan mengadakan orientasi perjalanan ke Kuta Buluh untuk menemui Sibayak Kuta Buluh Nabung Perangin-angin pa Lantasi. Pada bulan Desember 1896 M.Joustra mengadakan studi perbandingan terhadap keberhasilan NZG ke Tapanuli Ia diantara orang Batak yang didaerahnya berbatasan dengan Tanah karo. Dan pada bulan Desember 1898 Pdt M. Joustra mengadakan kunjungan ke Pantai Barat, daerah pelayanan Rheinische Zending, dalam rangka kerja sama anatara zendeling NZG dengan RZ maka tibalah dua guru Agama dari Tapanuli yaitu gutu Agama Nahum Tampubolon dan guru Agama Martin L Siregar. Pada awal bulan Oktober 1897 ia merintis saran trasportasi Medan-Sibolangit jalan yang sulit bertebing curam, berbeda tinggi 300-400 meter sepanjang 5 km antara Sembahe dan Sibolangit selesai dikerjakan dan pada saat ini sudah dapat dilalui kereta lembu. [17]  Kemudian Gereja Buluhawar ditahbiskan pada tanggal 24 Desember 1899.[18] Tahun 1899 baru 25 orang yang menjadi Kristen di desa Buluhawar, dan pada Perayaan Natal 24 Desember 1899 diadakan Kebaktian Perayaan Natal dengan bahasa Karo untuk pertama kalinya.[19] Pelayanan sudah dilakukan sesuai dengan konteks masyarakat setempat misalnya pelayanan kesehatan dan pendidikan. Pada tahun 1895 tercatat 2154 orang yang menerima pelayanan kesehatan di Buluh Awar sedangkan di Tanjung Beringin tercatat 535 orang. Pos pengijilan di desa Pernengenen, Sibolangit dan Salabulan tidak ada laporan. Salah satu pelayanan Pdt M. Joustra yang perlu dicatat ialah pola pikir, dan kepercayaan orang terhadap penderita penyakit kusta. Masyarakat mengucilkan orang-orang yang menderita sakit kusta, bahkan melarang untuk memakai fasilitas-fasilitas masyarakat, termasuk pancuran, jambur, yang biasanya dipakai masyarakat umumnya tempat berteduh dan bahkan jalan umum pun dilarang dipakai oleh mereka. Tiga orang penderita kusta pelarian dari dataran tinggi Karo dan memohon bantuan pelayanan kepada Pdt. M. Joustra sesuai dengan kebiasaan masyarakat Karo. Maka dibangunlah pondok kecil dihutan untuk tempat tinggal mereka bertiga, setiap lima hari sekali M. Joustra datang menjenguk mereka serta membawa obat dan beras. Suatu hari seorang diantara mereka meninggal dunia Pdt. M. Joustra meminta masyarakat untuk menguburkannya, namun tak seorangpun tidak ada yang mau walaupun diberikan upah yang mahal. Pada tahun 1901 terjadi kemarau panjang sehingga timbul kesulitan bahan makanan, penyakit menular pun menyerang. Banyak yang menderita kekurangan makanan dan perawatan kesehatan, untuk itu Pdt. M. Joustra menggunakan potensi masyarakat Buluh Awar untuk membangun tali air dan mencetak sawah-sawah sepanjang aliran sungai lau Peipei. Pada tahun 1900 ia mencurahkan perhatiannya kepada bidang penelitian dan penulisan budaya Karo. Tulisannya sangat tinggi mutunya sampai saat hasil karyanya itu merupakan salah satu data yang paling akurat dalam bidang bahasa dan kebudayaan Karo. Ia menyusun Tata bahasa karo, dan mengalihbahasakan istilah-istilah teologia, dan menerjemahkan 104 cerita Alkitab dalam bahasa Karo, ia mengarang bahan bacaan anak-anak sekolah dan berbagai-bagai buku cerita yang bernapaskan kebudayaan Karo. Pada tahun 1902 ia menghadiri ucapara ”perkualuh” yaitu upacara penghanyutan abu orang mati di Seberaya dan ia mempelajari dan mengadakan penelitian, sehingga hal tersebut telah dituliskannya di majalah TAAL. Ia juga mendirikan Yayasan penunjang pembangunan masyarakat dan memodernisasikan perekonomian yaitu dalam bidang pertanian yakni penanaman sayur-sayuran dan buah-buahhan yang terkenal dengan ”rimo keling, markisah,alpukal” dan mendirikan rumah sakit yang diberi nama rumah sakit Zending Kaban Jahe dan serah terima langsung dilakuakan oleh Pdt M. Joustra kepada GBKP. Ia juga mendirikan sekolah pertanian di kuta Gadung, dan sekolah pertukangan besi dan sekolah pertenunan untuk wanita di Kaban Jahe. [20]

4.      Pdt. J.H.  Neumann

 Sementara itu Pdt. J.H. Neumann (tanggal 21 April 1900 tiba di Buluhawar) bersama Pdt. H. Guillame yang ditugaskan untuk melakukan pelayanan Ressort. Pada Tahun 1900 kofrensi zending pertama dilakuakan di buluh Awar ketua zending dari NZG adalah DR.Gunning dari negeri belanda. Selain itu Guru Agama Martin L. Siregar tenaga utusan dari Rheinische Missions Gessellschaft (RMG) ditempatkan di desa Bukum.  Sekolah juga didirikan di Pernengenen dan gurunya bernama Kelin, adalah putra daerah setempat. Rumah Sakit Zending juga didirikan di Sibolangit (1901). Ibadah pemberkatan perkawinan pertama diadakan di desa Tanjung Beringin (1902) dilayani oleh Pdt. J.H. Neumann.[21]Pelayanan pendidikan semakin maju. Masyarakat sudah mulai menyadari arti pendidikan. Malap dan Muat mengajar di desa Tanjung Beringin dengan dibantu oleh Guru Injil Hendrik Pesik.

5.      Pdt. Hendrik Guillaume

 Pdt. Hendrik Guillaume lahir pada tahun 1865 di Vlissingen. Kemudia Ia ditempatkan  Buluh Awar pada tanggal 2 Mei 1899. Hal pertama yang Ia lakuakn adalah mengadakan pertemuan dengan pemimpin pemerintahan dan penguasa perkebunan didaerah ini, pos pelayanannya adalah didesa Bukum Guillaume mengadakan pelayanan Firman, pengobatan dan pendidikan serta memberian tamanan berupa bibit jeruk kopi dan lain-lain. Pada saat pertemuannya ia meminta ijin kepada Residen Van Den Steestertan untuk berkunjung ke Dataran Tinggi Karo. Perkunjungan itu direncanakan dilakuakan bersama Pdt .M. Joustra pada akhir bulan Juli tahun ini direncakan melakukan penelitian dalam rangka mendirikan pos perkabaran injil di sana. Pdt H. Guillaume pergi ke daerah Barus Jahe dan mendirikan Pos pengijilan disana dengan menemui Sibayak dan Ia menyetujui hal tersebut dengan berkata tidak berjanji ia tidak mengikuti diri dalam perjanjian tertulis tentang jaminan keselamatan personil NZG karena sewaktu-waktu musuh dapat menyerang mereka. Guillaume meneruskan perjalanannyan ke Kabanjahe dan memusyawarahkan hal yang sama dengan Sibayak Kabanjahe namun mendapat jawaban yang sama dengan Barus Jahe. Sama hal nya dengan Lingga yang tidak menjamin keselamatan, sehingga hal tersebut membuat Ia harus kembali ke Bukum tanpa mendapat hasil apa-apa. Tapi suatu saat Ia mendapat rekomndasi dari salah seorang Sibayak atau pengulu Tanah Karo, Ia berangkat lagi ke Barus Jahe bersama tiga orang guru Injil. Namun kedatangan mereka tidak disambut oleh Kemberahen (Istri) Sibayak yang tidak bersedia memasak nasi mereka karena Sibayak Barus Jahe tidak ada disana, hal hal itu yang menyebabkan mereka kelaparan karena pada saat itu tidak ada yang menjual makanan disana, dengan kesabaran dan perut yang lapar mereka menunggu kedatangan Sibayak hingga malam hari. Saat kedatangan Sibayak itu mereka kecewa karena penolakannya terhadap kehahiran Misi Zending tersebut dan mereka pergi kedesa Bukit bersama salah seorang jemaat Buluh Awar yang berasal dari kota Bukit itu yang dikucilkan dari gereja karena kawin untuk kedua kalinya namun ia tetap menjadi pendukung misi ini. Ia selalu menemani Guillaume ke dataran tinggi dan banyak berbicara menegenai fungsi misi ini kepada masyarakat. Dan kedatangan rombongan ini diterima masyarakat Bukit dengan senang hati, tapi tidak dijinkan oleh pengulu sehingga mereka menutup harapannya ke Barus Jahe dan Bukit, dan mengarahkaan pendekatannya ke pengulu Berastagi, Dokan dan Kabanjahe. Setelah sekian banyak usaha yang dilakukan tokoh-tokoh akhirnya Guillaume mengkhususkan pendekatannya ke Sibayak kabanjahe, Sibayak Kabanjahe bermerga Purba mereka dua bersaudara kedua tokoh yang disegani kawan dan lawan. Mereka bernama Pa Mbelgah dan Pa Pelita yang memiliki enam orang istri dan lima belas orang istri. Dan kedua orang tersebut setuju dibangun sekolah dan rumah untuk misionaris di Kabanjahe, dan memberikan kayu yang Guillaume butuhkan dan menyediakan tukang dan peralatan lainnya. Guillaume menggunakan hal tersebut untuk menyebarkan injil di dataran tinggi Karo. Untuk melaksanakannya Guillaume meminta tenaga guru injil kepada RMG Tapanuli. Tapi akibat serangan musuh mereka terkena kelaparan dan penyakit yang berkepanjagan Guillaume menemui Sibayak untuk melanjutkan suatu usaha yang mungkin dapat dilaksanakan, hingga hal tersebut diberikan injin untuk memakai jambur Kabanjahe sebagai kantor NZG. Sehingga pada waktu itu mereka diberikan ijin untuk membagun irigasi dan pencetakan sawah-sawah dan melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat serta percakapan dengan masyarakat tentang berita suka cita. Dan pada bulan November 1902 ia melanjutkan perjalanan ke desa Purba didaerah simalungun dan memberikan bibit bunga Ros. Namun semua tidak menjadi pengahalang harapannya seakan mulai nyata melalui pembangunan rumah NZG di Kabanjahe, namun ia harus menerima kenyataan pahit karena seluruh bahan-bahan bangunan itu telah diambil orang, tukangnya diuber-uber lari pontang-panting melaui hutang-hutan kembali kemedan. Yang perlu dicatat ialah bahwa Guillaume tidak putus asa melihat keadaan ini Ia berdoa ”Aku berdoa kepadamu ya Tuhan, semoga engkau jadikan bahan-bahan bangunan yang telah hilang dan berserak diseluruh dataran tinggi Karo akan menjadi pemula pembangunan gerejamu di tanah Karo yang berpusat di Kabanjahe ini”. Seratus tahun kemudian tepatnya pada Jubelium 100 tahun GBKP, warga  GBKP mulai mengingat doa Guillaume yang telah dikabulkan oleh Allah.[22]

 

6.      Pdt. E.J.Van Den Berg

Tahun 1903 Pdt. E.J. van den Berg tiba di Buluhawar meneruskan pelayanan Pdt. H. Guillame (habis kontraknya dengan NZG dan kembali ke Rheinische Zending). Tenaga pendeta juga ditambah yaitu Pdt. L. Bodaan (di Buluhawar tahun 1909).[23] hal yang dilakukan mempelajari bahasa Karo dan Budaya Karo[24] Pdt.E.J.Van Den Berg pemula kemajuan didataran tinggi Karo. Masa kerjanya selama 32 tahun (1903-1935). Ia membangun rumah sakit kusta dan pemukiman penderita kusta di Lausimomo, rumah sekolah didirikan di Kota dan Desa-desa. Banyak pemuda yang melanjutkan pendidikannya di luar daerah. Gundalib, Berastagi, didirikan proyek penyuluhan pertanian sayur-sayuran dan buah-buahhan termasuk jeruk. Dan bagaimana cara pendeta melakukan misinya didaerah yang pernah menggagalkanya missi pendahulunya. Pada mulanya ia melakukan hal yang sederhana saja, ia memukul lonceng gereja, walaupun bangunan ada pada saat itu. Suara lonceng bergema jauh ke desa-desa didataran tinggi Karo, masyarakat heran dan saling bertanya akhirnya mereka tahu bahwa suaru itu adalah gema lonveng gereja yang dibunyikan oleh seorang abdi kasih yang senantiasa mau menolong orang yang menderita, anggota masyarakat datang meminta bantuan segera dilayaninya. Pada tahun 1905 ia membagun sekolah kedua di desa Bukit dan mengadakan pesta masuk rumah di kabanjahe yang dihadiri oleh 120 orang. Dan ia juga membuka Poliklinik di Laucimba  yang dinamai Kamar obat Laucimba. Ia juga melakukan katakesasi secara rutin, dan melakukan babtisan pada keluarga Pa Mbelgah pada November 1911 Ia dibabtis bersama istrinya dan anak-anaknya serta keluarga kerajaan lainnya dengan spontan ia mengucapkan pengakuan iman rasulidi hadapan jemaat. Ia juga membentuk kelompok musik menyediakan seperangkat alat music gendang Karo.[25]

2.4.Apa dampak bagi Buluh Awar

1.      Mendidrikan gereja pertama

2.      Pelayanan Pedidikan

3.      Pelayanan kesehatan

4.      Babtisan pertama

5.      Natal pertama

6.      Paskah pertama[26]

2.5. Pelayanan PI Ada Yang Di GBKP

1.      Tahun 2015

a.       Dilakukan join antara bidang marturia dan bidang dana usaha khususnya sektor pertanian dan perternakan dalam pelayanan PI

b.      PI Holistik di ikutsertakan korban damfak erupsi gunung sinabung

c.       Pembekalan Pelayan Tim doa dalam persiapan PI

d.      Pengelayasi Moderamen Ke Runggun-Runggun

e.       Dialok Umat beragama

f.       Wisata Rohani

g.      Penempatan tenaga Detaser[27]

2.      Tahun 2016

a.       PI untuk meningkatkan Kehadiran jemaat

b.      PI keluar negeri seperti Singapura,malaysia, hongkong dan PI kepada jemaat yang ada di indonesia

c.       Peningkatan Tenaga Detaser Kepada Mahasiswa yang telah LULUS Sarjana Teologia yang belum LULUS Vikaris Sebagai Tenaga Pelanan Lintas Budaya (PLB)

d.      Penulisan Buku Pembinaan Misi Terhadap Anak-anak

e.       Moseum GBKP & OMF

f.       Wisata Rohani[28]

3.      Tahun 2017

a.       Penghijaun daerah Papua dan Indonesia Timur

b.      PI Holistik Bekerja sama Dengan Gereja Kristen Jakarta Untuk pelatihan Kelompok Pertanian

c.       Pembentukan BPPI (Badan Penunjang Perkabaran Injil)

d.      Pembentukan TIM Doa Di setiap Runggun

e.       Peningkatan Tenaga detaser ke daerah Palangkaraya

f.       Pengutusan 2 Pendeta jadi misionaris dan bekerja sama dengan OMF

g.      Unit Wisata Rohani[29]

2.6. Relevansinya bagi kemajuan perkabaran injil di GBKP masa Kini

Bagian dari upaya mempertahankan identitas gereja salah satunya adalah memahami sejarah dan proses perjalanan dinamika gereja itu sendiri, dan sejalan dengan itu sangat penting mengingat kisah-kisah awal masuknya injil ke gereja tersebut khususnya GBKP yang akan menciptakan panggilan teologis yang tinggi terkhususnya kepada pelayan gereja saat ini sehingga akan memberi kontribusi dalam hal kemajuan iman.[30] Dari mula-mula masuknya badan zending ke tanah karo tepatnya didesa Buluh Awar banyak sumbangan yang bisa kita lihat bahwa untuk memajuan gereja itu bukanlah hal yang mudah banyak hal yang telah dikorbankan oleh para zending baik dari tenaga materi dan lain sebagainya sehingga hal itu bisa dilihat dan di ikuti kembali oleh para pekabar injil saat itu untuk mengikuti aksi yang lebih dulu dilakukan para zendeling untuk kemajuan iman para jemaat-jemaat yang ada ditengah-tengah dunia ini dari segi perhatian pelayanan pendidikan pelayanan kesehatan dan juga pelayanan ekonomi sehingga kehadiran gereja terkhususnya pelayan Tuhan benar-benar dirasakan oleh setiap umat manusia sehingga iman yang telah ditaman oleh para jemaat yang ada didunia ini bisa bertumbuh dan bahkan lebih maju lagi dengan hadirnya tindakan yang dilakukan oleh para pekabar injil saat ini. Seperti terjun langsung lapangan seperti melakuakn pendekatan langsung kepada jemaat-jemaat yang tidak aktif ke gereja juga membuka les terhadap anak-anak sebagai pendekatan sehingga hal tersebut terasa kepada jemaat tersebut bahwa Tuhan itu hadir ditengah-tengah pelayanan yang kita jalankan, atau juga dengan pelayan pastoral kepada jeemaat yang menderita penyakit. Jadi hal ini perlu dibangkitkan kembali melalui Praktik Pekabaran Injil yang seharusnya menyentuh masyarakat yang belum mengenal Injil secara utuh. Sehingga terjadi seperti ayat Alkitab Matius 20:28 “ sama seperti anak manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang” jadi seorang pelayan adalah seorang yang melayani bukan seorang yang dilayani jadi baiklah seorang pekabar injil tersebut lebih maju dalam hal iman yang menjadi modal dalam hal pelayanan.

2.7. Analisa Penyeminar

Gereja di panggil untuk membuat Allah hadir dalam praktek-praktek yang menentang nilai-nilai kerajaan Allah yang mengarah kepada kehancuran masyarakat, sehingga pada prinsipnya gereja tidak pernah berhenti dalam situasi kemapanan, gereja selalu bergerak maju dalam setiap konteks yang terus mengalami perubahan. Jadi bagian dari upaya mempertahankan identitas gereja salah satunya adalah memahami sejarah dan memahami proses perjalanan dinamika gereja itu sendiri. Sehingga menurut Analisa penyeminar dari sejarah masuknya injil ke tengah-tengah dunia ini khusunya orang karo GBKP memberikan banyak hal yang menjadi pembelajaran berharga bagi pekabar injil yang ditiru dari aspek pendekatan dari para zending yang dilakukan kepada orang karo termasuk juga PI yang dilakukan untuk perluasan pemberitaan injil di tengah-tengah Gereja Batak Karo yang berangkatnya dari desa Buluh Awar yang dimana Badan Zending itu berekerja sama untuk menjawab persoalan yang ada di tengah-tenga masyarakat Khusunya masyarakat karo yang sama sekali belum mengenal apa siapa itu Allah sehingga kehadiran para zending menyatakan hadirnya Allah di tengah-tengah dunia dengan pelayanan yang mereka berikan dari hal pelayanan pendidikan pelayanan kesehatan dan juga pelayanan ekonomi yang menyatakan mereka hadir sebagai garam dan terang ditengah-tengah masyarakat suku karo, sehingga pentingnya bagi penginjil masa kini untuk kemajuan iman GBKP sebagai seorang pelayan khususnya di tengah-tengah Gereja Batak Karo Protestan perlunya untuk meniru pelayanan yang telah lebih dulu dilakukan para zending dengan melakukan PI kedalam dan hadir bersama-sama dengan jemaat adalah salah satu cara pendekatan yang bisa kita praktikan seolah-olah kita sama dengan mereka juga dalam pelayanan peningkatan ekonomi jemaat perlunya gereja adakan kerja sama dengan jemaat tersebut seperti badan zending yang bisa bekerja sama untuk hal peningkatan ekonomi jemaat. Dan semagat-semagat yang dilakukan para zendeling juga bisa dilakukan oleh pelayan GBKP pada saat ini yang dimana pada masa kegegalan mereka tapi mereka tidak menyerah begitu saja, yang dimana peran gereja GBKP saat ini yaitu jika jemaat mereka gagal dalam usaha-usaha yang ia miliki seperti gagal panen, usaha mereka merosot dan mereka pengaguran itu juga terlihat bahwa gereja juga gagal pada saat itu sehingga hal tersebut bisa diambil ahli oleh gereja mengikuti jejak yang dilakukan oleh para zendeling pada saat itu yang membagun perekonomian jemaat, dan juga tentang pendidikan anak-anak jemaat jika mereka gagal maka gereja juga akan terlihat gagal dalam menuntun mereka dalam hal pendidikan dari itu gereja juga perlu peduli tentang pendidikan yang diberikan kepada anak-anak atau jemaat lainya, serta pelayanan perkunjugan rumah tangga juga perlu ditingkatkan agar kehadiran pelayanan yang dilakukan langsung tersebut kepada rumah jemaat mampu membuat mereka merasakan kepedulian yang diberikan gereja dengan peduli terhadap masalah-masalah yang mereka alami, sehingga melalui perkunjungan rumah tangga, PJJ, PA dan kegiatan gereja lainya yang bersifat terjun langsung kepada jemaat tersebut bisa membangun iman jemaat karena mereka merasakan bahwa sentuhan yang diberikan gereja tersebut mampu membantu meraka dalam memberi solusi dari masalah-masalah yang mereka hadapi, dan terlihat juga peranan gereja bagi jemaat yang sedang membutuhan kehadiran Allah ditengah-tengah dunia ini melalui pelayan yang sedang melayani mereka.

2.8. Saran Penyeminar

1.      GBKP perlu mendalami kembali Pekabaran Injil yang sudah ada dahulunya yang di bawa oleh missionaris ke Buluh awar yang di dalam sebagai acuan dalam pertumbuhan Iman Jemaat.

2.      Secara Perkembangan fisik maupun rohani di buluh awar perlu di kembangkan dalam hal bagian pendidikan

3.      Perlunya peningkatan tenaga-tenaga penginjil yang diusulkan oleh GBKP ke suku pendalaman.

4.      Pendekatan kepada warga jemaat yang kurang aktif ke gereja

5.      Melakukan pelayanan Pastoral terhadap jemaat gereja yang mengalami sakit penyakit atau masalah sekeluarga

III.             Kesimpulan

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa injil pertama kali hadir didesa Buluh Awar pada Tahun 1890 dan pendekatan yang dilakukan untuk menanamkan injil di kalangan masyarakat suku karo adalah pendekatan budaya bahasa dan pendekatan sosial lainya dan sumbagan-sumbagan yang diberikan para zending juga terlihat sangat bermampaat dan sangat menolong bagi masyarakat terkhususnya suku karo baik dalam hal pendidikan, kesehatan dan ekonomi dan juga pengutusan para guru inil ke daerah-daerah Karo lainnya membuat injil semakin berekembang pesat  sehingga memberikan pengaruh baik bagi masyarakat suku karo dan relevasinya bagi gereja pada saat ini untuk kemajuan gereja adalah mengikuti pendekatan yang telah dulu dilakukan para zending sebagai praktik PI yang kan dilakukan gereja saat ini untuk kemajuan iman jemaat dengan adanya PI kedalam maka jemaat ditengah-tengah GBKP akan merasakan kehadiran Allah ditengah-tengahnya dengan sentuhan langsung para pelayan Tuhan.

IV.             Daftar Pustaka

 

Beyer, Ulrich Und Viele Wurden Hinzugetan, Verlag UEM Wuppertal, diterjemahkan oleh : Matius Panji Barus, 1982,

Ginting, EP,  sejarah GBKP, Medan: Gerafindo, 2015

Guillaume. H. lahir pada tahun 1865 di Vlissingen. Ia pernah menjadi militer dengan pangkat Sersan. Dia keluar dari militer karena melihat temannya cedera dan meninggal dunia pada suatu peristiwa. Dia masuk sekolah Missionaris di Jerman yaitu Rheinische Missions Gesellschaft (RMG). Setelah menyelesaikan pendidikan dia ditempatkan di Sibolga tahun 1893. Pada tahun1899 dia diutus ke Tanah Karo. Bnd. P. Sinuraya, 

Kruyt,H.C.’’ Berichten van br H.C.Kruijt, te bulo Haur’’ dalam maanberich van het Nederlandsche zendeling Genootcchap daggboeken, varslangen en Brieven uit de zending, diterjemahkan oleh Elisabet br milala & Maagdalena Broun Br Pelawi, medan:stensilan,1855

Moderamen GBKP, Keputusan Didang Majelis Sinode Dan Program Kerja Tahun 2015

Moderamen GBKP, Keputusan Didang Majelis Sinode Dan Program Kerja Tahun 2016

Moderamen GBKP, Keputusan Didang Majelis Sinode Dan Program Kerja Tahun 2017

Sinuraya, P. Cuplikan Sejarah Pengijilan kepada Masyarakat Karo, Medan: berkat jaya,2002

Sinuraya, P. Diakonia GBKP Jilid 6, Medan:Marga Silima,2004

Sinuraya, P.,Bunga Rampai Jilid I, Medan:Marga silima,2004

Sinuraya,P. Sejarah Pelayanan Diakonia NZG Di Tanah Karo 1890-1940, Medan:Marga Silima,1997     

Sumber Lain

Wawancara denga Pendeta Wilson Tarigan Jumat 04 Agustus 2020 Pukul 09:00 WIB

 



[1] Wawancara denga Pendeta Wilson Tarigan Jumat 04 Agustus 2020 Pukul 09:00 WIB

[2] Wawancara denga Pendeta Wilson Tarigan Jumat 04 Agustus 2020 Pukul 09:00 WIB

[3] EP, Ginting, sejarah GBKP, (Medan: Gerafindo, 2015), 18.

[4] EP, Ginting, sejarah GBKP, (Medan: Gerafindo, 2015), 15.

[5] H.C.Kruyt,’’ Berichten van br H.C.Kruijt, te bulo Haur’’ dalam maanberich van het Nederlandsche zendeling Genootcchap daggboeken, varslangen en Brieven uit de zending, diterjemahkan oleh Elisabet br milala & Maagdalena Broun Br Pelawi, (medan:stensilan,1855 ),43-44

[6] P. Sinuraya, Cuplikan Sejarah Pengijilan kepada Masyarakat Karo, (Medan: berkat jaya,2002),4S

[7] EP, Ginting, sejarah GBKP, (Medan: Gerafindo, 2015),19-20   

[8] EP, Ginting, sejarah GBKP, (Medan: Gerafindo, 2015),21

[9] P. Sinuraya,Bunga Rampai Jilid I, (Medan:Marga silima,2004),50

[10] H.C.Kruyt,’’ Berichten van br H.C.Kruijt, te bulo Haur’’ dalam maanberich van het Nederlandsche zendeling Genootcchap daggboeken, varslangen en Brieven uit de zending, diterjemahkan oleh Elisabet br milala & Maagdalena Broun Br Pelawi, 181-183

[11] P. Sinuraya,Bunga Rampai Jilid I, (Medan:Marga silima,2004),62

[12] H.C.Kruyt,’’ Berichten van br H.C.Kruijt, te bulo Haur’’ dalam maanberich van het Nederlandsche zendeling Genootcchap daggboeken, varslangen en Brieven uit de zending, diterjemahkan oleh Elisabet br milala & Maagdalena Broun Br Pelawi,112

[13] Sinuraya,Bunga Rampai Jilid I, (Medan:Marga silima,2004),63

[14] P. Sinuraya, Diakonia GBKP Jilid 6, (Medan:Marga Silima,2004),58-64

[15] EP, Ginting, sejarah GBKP, (Medan: Gerafindo, 2015),29

[16] Sinuraya,Bunga Rampai Jilid I, (Medan:Marga silima,2004),66

[17] P. Sinuraya,Bunga Rampai Jilid I, (Medan:Marga silima,2004),64-69

[18] P. Sinuraya, Op.Cit.Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo, 15.

[19]  Ulrich Beyer, Und Viele Wurden Hinzugetan, Verlag UEM Wuppertal, diterjemahkan oleh : Matius Panji Barus, 1982, hlm. 22-23.

[20] P. Sinuraya, Diakonia GBKP Jilid 6, (Medan:Marga Silima,2004),74-80

[21] P. Sinuraya, Op.Cit.Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo,  hlm.17-18.

[22] P. Sinuraya, Diakonia GBKP Jilid 6, (Medan:Marga Silima,2004),86-92

[23] P. Sinuraya, Op.Cit.Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo, 26.

[24] P. Sinuraya, Sejarah Pelayanan Diakonia NZG Di Tanah Karo 1890-1940, (Medan:Marga Silima,1997),128

[25] P. Sinuraya, Diakonia GBKP Jilid 6, (Medan:Marga Silima,2004),121-127

[26] Ibid 28

[27] Moderamen GBKP, Keputusan Didang Majelis Sinode Dan Program Kerja Tahun 2015,6-7

[28] Moderamen GBKP, Keputusan Didang Majelis Sinode Dan Program Kerja Tahun 2016,16-17

[29] Moderamen GBKP, Keputusan Didang Majelis Sinode Dan Program Kerja Tahun 2017,19-20

[30] EP, Ginting, sejarah GBKP, (Medan: Gerafindo, 2015),1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar